Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PRAKTIKUM SEMI SOLIDA

Krim Difenhidramin Hidroklorida


DOSEN: BUDIPRATIWI W. S.Farm., M.Sc., Apt.
Disusun oleh
Kelompok C1
1.
2.
3.
4.
5.
6.

LINTANG AYU P
112210101002
ZAINAH RAJAB
112210101010
NURHIDAYATI F
112210101016
FITRIANA YUNUS A
112210101018
ELISA NUR AFRIDA D
112210101020
KADEK CAHYA K. D.
112210101022

BAGIAN FARMASETIKA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JEMBER
2014

I.TUJUAN PRAKTIKUM
Mahasiswa mampu memformulasikan sediaan semisolida dan mengetahui tujuan dan
sasaran penggunaan sediaan tersebut serta mengetahui evaluasi yang dilakukan terhadap
sediaan semisolida agar memenuhi semua spesifikasi mutu yaitu aman, efektif, stabil
( secara fisika, kimia, mikrobiologi, farmakologi dan toksikologi) dan dapat diterima oleh
konsumen.
II. DASAR TEORI
2.1. Kulit
Kulit merupakan organ tubuh terbesar dan memiliki banyak fungsi penting, di antaranya
adalah fungsi proteksi, termoregulasi, respons imun, sintesis senyawa biokimia, dan peran

sebagai organ sensoris. Terapi untuk mengkoreksi berbagai kelainan fungsi tersebut dapat
dilakukan secara topikal, sistemik, intralesi, atau menggunakan radiasi ultraviolet (Asmara,
2012).
Terapi topikal didefinisikan sebagai aplikasi obat dengan formulasi tertentu pada kulit
yang bertujuan mengobati penyakit kulit atau penyakit sistemik yang bermanifestasi pada kulit.
namun keberhasilannya bergantung pada pemahaman kita mengenai fungsi sawar kulit.
Keuntungan utamanya adalah tidak melewati jalur metabolisme obat pertama (first-pass
metabolism) di hati. Terapi topikal juga dapat menghindari risiko dan ketidaknyamanan seperti
pada terapi yang diberikan secara intravena, serta berbagai hal yang mempengaruhi penyerapan
obat pada terapi peroral, misalnya perubahan pH, aktivitas enzim, dan pengosongan lambung.
Keuntungan lain, yaitu karena penyerapan sistemik pada terapi topikal dapat diabaikan maka
efek samping maupun interaksi obat pada terapi topikal jarang terjadi (Asmara, 2012).
Meskipun demikian, pengobatan topikal juga memiliki berbagai kelemahan misalnya: 1)
dapat menimbulkan iritasi dan alergi (dermatitis kontak), 2) permeabilitas beberapa obat melalui
kulit yang relatif rendah, sehingga tidak semua obat dapat diberikan secara topikal, dan 3)
terjadinya denaturasi obat oleh enzim pada kulit (Asmara, 2012).
Kulit terdiri atas lapisan epidermis dan dermis. Kulit, terutama epidermis, berperan
penting dalam penyerapan obat melalui kulit. Epidermis tersusun oleh keratinosit, melanosit, sel
Langerhans, dan sel Merkel. Keratinosit, merupakan sel yang memiliki kemampuan
berproliferasi dan mengandung keratin yang diperlukan sebagai penunjang struktur internal
epidermis. Tiap lapisan pada epidermis mengekspresikan keratin yang berbeda. Keratinosit yang
matang dan mengalami diferensiasi hingga bentuknya semakin pipih dan inti selnya menghilang.
Hasil akhir dari proses diferensiasi ini adalah terbentuknya stratum korneum (Asmara, 2012).
Pembentukan stratum korneum merupakan fungsi yang sangat penting dari epidermis.
Stratum korneum, atau sering disebut sebagai lapisan tanduk berfungsi mencegah terjadinya
kehilangan air, dan mencegah penyerapan zat / agen infeksi yang berbahaya bagi tubuh.
Strukturnya dapat disamakan dengan susunan batu bata dan campuran semen, dengan korneosit
sebagai batu bata dan lamela lipid bilayer sebagai campuran semennya. Korneosit tersusun di
bagian atas epidermis dan mengandung protein (Asmara, 2012).
Dermis merupakan lapisan yang berfungsi menyokong epidermis. Ketebalannya 2-3 mm.
Pada lapisan tersebut terdapat pembuluh darah, saraf dan struktur lain, yaitu folikel rambut,
kelenjar keringat, dan kelenjar sebum yang juga berperan penting dalam proses penyerapan obat
melalui kulit (Asmara, 2012).
2.2 Macam bentuk sediaan semi solid
1. Salep

Salep adalah obat-obatan yang diperuntukkan pemakaian diluar, sering kali


dipakai pada kulit dan mempunyai konsistensi yang padat ( Van Duin ). Menurut FI III
pengertian salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan
sebagai obat luar. Bahkan obatnya harus larut atau tedispersi homogen dalam dasar salep
yang cocok. Sedangkan menurut FI IV, salep adalah sediaan semi padat ditujukan untuk
pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. Menurut CDER data standart, salep adalah
sediaan yang mengandung kurang dari 20% air dan minyak minyak dan lebih dari 50%
nilai hidrokarbon, lilin, atau basis yang sesuai dan biasanya dipakai pada permukaan kulit/
topikal dan selaput lendir.(Anief,1996)
Suatu salep, dimana setengah atau lebih terdiri dari zat zat padat , dinamakan
pasta, jadi konsistensinya lebih keras. Sebaliknya jika salep berbentuk cairan kental
dinamakan linimentum. Salep-salep yang banyak mengandung air disebut krim dan dapat
digosokkan pada seluruh kilit. Salep tidak boleh bau tengik. Kecuali dinyatakan lain kadar
bahan obat dalm salep yang mengandung obat keras atau obat narkotik adalah 10%
(Anief,1996).
Salep merupakan bentuk sediaan dengan konsistensi semisolida yang berminyak
dan pada umumnya tidak mengandung air dan mengandung bahan aktif yang dilarutkan
atau didispersikan ke dalam suatu pembawa. Pembawa atau basis salep digolongkan
menjadi 4 kelompok, yaitu :
1. Dasar salep hidrokarbon
Dasar salep ini dikenal sebagai dasar salep berlemak, misalnya vaselin putih
dan salep putih. Salep ini dimaksudkan untuk memperpanjang kontak bahan obat
dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup. Dasar salep hidrokarbon sebagai
emollient dan sukar dicuci.
2. Dasar salep serap
Dasar salep ini dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok pertama terdiri atas
dasar salep yang dapat bercampur dengan air membentuk emulsi air dalam minyak.
Misalnya : parafin hidrofilik dan lanolin anhidrat. Kelompok kedua terdiri atas emulsi
air dalam minyak yang dapt bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan, misalnya
lanolin.
3. Dasar salep yang dapat dicuci dengan air
Dasar salep ini emulsi minyak dalam air antara lain, salep hidrofilik dan lebih
tepat disebut dengan krim. Keuntungan dari dasar salep ini adalah dapat diencerkan
dengan air dan mudah menyerap cairan yang terjadi pada kelainan dermatologi.
4. Dasar salep larut dalam air

Basis ini juga disebut dasar salep tak berlemak. Keuntungan dasar salep ini
adalah dapat dicuci dengan air dan tidak mengandung bahan tak larut dalam air seperti,
parafin, lanolin anhidrat atau malam.
Dalam pemilihan basis salep untuk memformulasi suatu bahan aktif menjadi
sediaan semisolida, harue mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut :
1.
Sifat pelepasan yang diinginkan dari bahan obat yang ada dalam sediaan salep
2.
Sifat pelembaban yang diinginkan
3.
Tingkat stabilitas bahan obat
4.
Faktor lain yang berhubungan dengan pencapaian tujuan pengobatan
Meskipun pembuatan salep kelihatannya sangat sederhana, namun sering
dijumpai kesukaran-kesukaran pada pembuatan salep yang homogen tanpa bintik- bintik
atau butir- butir.
Pada pembuatan

salep,

untuk

menghindari

kesukaran-kesukaran

dalam

pembuatannnya biasanya mengikuti peraturan pembuatan salep yaitu,


1. Zat-zat yang larut dalam campuran lemak yang tersedia, dilarutkan didalamnya dan jika
perlu dilakukan dengan penghangatan.
2. Zat-zat yang mudah larut dalam air jika tidak ditentukan lain lebih dahulu dilarutkan
dalam air, asal air yang dibutuhkan untuk melarutkannya dapat diserap oleh campuran
lemak yang ditentukan, banyaknya air yang dipakai dikurangkan dari jumlah camputan
lemak yang telah ditentukan.
3. Zat-zat yang cukup sukar larut dalam lemak dalam air, mula-mula diserbuk dan
diayakan dengan ayakan B-40. Zat padat dicampur dengan setengah bobot lemak, yang
jika perlu dicairkan terlebih dahulu, kemudian sisa lemak yang lain ditambahkan sedikit
demi sedikit.
4. Bahan-bahan salep yang dibuat dengan cara dilelehkan atau dicairkan, maka campuran
bahan-bahan tersebut harus diaduk sampai dingin (Anief,1996).
2. Krim
Menurut FI III krim adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi mengandung air tidak
kurang dari 60 % dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. Ada 2 tipe krim, tipe A/M dan tipe
M/A. Stabilitas krim rusak jika terganggu sistem campurannya terutama disebabkan perubahan
suhu dan perubahan komposisi disebabkan penambahan salah satu fase secara berlebihan
ataupun campuran 2 tipe krim jika zat pengemulsinya tidak tercampurkan satu sama lain.
Pengenceran krim hanya dapat dilakukan jika diketahui pengencer yang cocok yang harus
dilakukan teknik aseptik. Krim yang sudah diencerkan harus digunakan dalam waktu 1 bulan
(Anief,1996).
Menurut FI IV, krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung 1 atau lebih
bahan obat terlarut atau terdispersi bahan dasar yang sesuai. Istilah ini secara tradisional telah
digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai konsistensi relatif cair diformulasi

sebagai emulsi air dalam minyak atau minyak dalam air. Sekarang ini batasan tersebut lebih
diarahkan untuk produk yang terdiri dari emulsi minyak dalam air atau disperse mikro kristal
asam-asam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air, yang dapat dicuci dengan air dan
lebih ditujukan untuk penggunaan kosmetika dan estetika. Krim dapat juga digunakan untuk
pemberian melalui vagina (Anief,1996).
Krim merupakan obat yang digunakan sebagai obat luar yang dioleskan ke bagian kulit badan.
Obat luar adalah obat yang pemakaiannya tidak melalui mulut, kerongkongan, dan ke arah
lambung. Menurut definisi tersebut yang termasuk obat luar adalah obat luka, obat kulit, obat
hidung, obat mata, obat tetes telinga, obat wasir, injeksi, dan lainnya (Anief,1996).
Kualitas dasar krim, yaitu:
1. Stabil, selama masih dipakai mengobati. Maka krim harus bebas dari inkopatibilitas,
stabil pada suhu kamar, dan kelembaban yang ada dalam kamar.
2. Lunak, yaitu semua zat dalam keadaan halus dan seluruh produk menjadi lunak dan
homogen.
3. Mudah dipakai, umumnya krim tipe emulsi adalah yang paling mudah dipakai dan
dihilangkan dari kulit.
4. Terdistribusi merata, obat harus terdispersi merata melalui dasar krim padat atau cair
pada penggunaan (Anief, 1996).
Penggolongan Krim
Krim terdiri dari emulsi minyak dalam air atau dispersi mikrokristal asam-asam lemak atau
alkohol berantai panjang dalam air yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditujukan untuk
pemakaian kosmetika dan estetika. Ada dua tipe krim, yaitu:
1. Tipe a/m, yaitu air terdispersi dalam minyak
Contoh : cold cream
Cold cream adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud memberikan rasa
dingin dan nyaman pada kulit, sebagai krim pembersih, berwarna putih dan bebas dari
butiran. Cold cream mengandung mineral oil dalam jumlah besar.
2. Tipe m/a, yaitu minyak terdispersi dalam air
Contoh: vanishing cream
Vanishing cream adalah sediaan kosmetika yang digunakan

untuk

maksud

membersihkan, melembabkan dan sebagai alas bedak. Vanishing cream sebagai pelembab
(moisturizing) meninggalkan lapisan berminyak/film pada kulit (Anief,1996).
Pemilihan bahan tambahan untuk krim harus sesuai dengan syarat-syarat yaitu harus
inert, stabil secara fisik dan kimia, tidak mempengaruhi biovailabilitas dari obat, tidak menjadi
media pertumbuhan dari mikroorganisme patigenis serta memiliki harga yang ekonomis.
Pemilihan zat pengemulsi harus disesuaikan dengan jenis dan sifat krim yang dikehendaki
sebagai zat pengemulsi dapat digunakan emulgid, lemak bulu domba, setasium, cetil alcohol,

trietanolaminil sterarat dan golongan sorbitol, polysorbate, polyethilen alcohol, sabun


(Anief,1996) .
Penggunaan krim yaitu :
Sebagai sediaan pembawa untuk melindungi kulit.
Kemungkinan digunakan sebagai barier fisika atau kimia pada sedaiaan krim.
Pertolongan pertama pada bahan pelembab khususnya air dalam minyak.
Pembersih.
Mempunyai efek emolien.
Sebagai pembawa untuk bahan-bahan obat seperti anastesi local, anti inflamasi (NASID
atau kortikosteroid ), hormon anti biotik, anti fungi, atau anti iritasi.
Kelebihan dan kekurangan sediaan krim
Kelebihan sediaan krim, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Mudah menyebar rata


Praktis
Mudah dibersihkan atau dicuci
Cara kerja berlangsung pada jaringan setempat
Tidak lengket terutama tipe m/a
Memberikan rasa dingin (cold cream) berupa tipe a/m
Digunakan sebagai kosmetik
Bahan untuk pemakaian topikal jumlah yang diabsorpsi tidak cukup beracun.

Kekurangan sediaan krim, yaitu:


1. Susah dalam pembuatannya karena pembuatan krim harus dalam keadaan panas.
2. Gampang pecah disebabkan dalam pembuatan formula tidak pas.
3. Mudah kering dan mudah rusak khususnya tipe a/m karena terganggu sistem
campuran terutama disebabkan oleh perubahan suhu dan perubahan komposisi
disebabkan penambahan salah satu fase secara berlebihan (Anief,1996)
3. Gel
Gel merupakan system semi padat yang terdidi dari suspense yang dibuat dari
partikel anorganik yang kecil atau molekul organic yang besar, terpenetrasi oleh suasana
cairan (Depkes RI, 1995).
Gel merupakan formula semisolid tidak berminyak yang diguanakan untuk
pemakaian kulit bagian luar dan umumnya tembus cahaya. Sediaan gel dibuat dengan
menggunakan gelling agent, yang merupakan polimer yang dibentuk dari matrik tiga
dimensi karena adanya derajat cross-linking yang tinggi atau berhubungan dengan adanya
hidrasi dan dispersi atau kelarutan dalam pelarut. Gelling agent umumnya digunakan
dengan konsentrasi 0.5-10%. Gelling agent membatasi pergerakan pelarut dengan
memerangkap pelarut sehingga menghasilkan peningkatan viskositas. Gel mengandung
lebih banyak air daripada sediaan salep atau krim. Beberapa sediaan gel mengandung
alcohol dalam formulanya. Adanya kombinasi 2 pelarut (air dan alkohol) sehingga
meningkatkan kelarutan obat. Alcohol juga berfungsi sebagai enhancer yang membantu
meningkatkan penetrasi obat kedalam kulit. Gel yang mengnadung alcohol dalam

presentasi yang besar dapat mongering secara spontan ketika sediaan gel diaplikasikan ke
kulit serta memberikan sensasi dingin (Gibaldi et al, 2007).
Gel dapat berwarna jernih jika seluruh partikel penyusunnya terlarut dalam
pelarut yang disebut juga dengan gel fase tunggal sedangkan gel yang keruh dan adanya
perbedaan dispersi partikel penyusun dalam matrik disebut dengan gel dua fase, tetapi
umumnya gel dengan warna jernih (gel fase tunggal) lebih banyak digunakan (Gibaldi et
al, 2007).
Gelling agent terdiri dari carbomer (dengan nama dagang caropols), derivate
selulose, poloxamers (dengan nama dagang pluronics) dan gum alami seperti acacia atau
sodium alginate, xanthan, atau tragacanth (Gibaldi et al, 2007).
Gel juga dapat dikelompokkan menjadi gel lipofilik dan gel hidrofilik. Gel
lipofilik (oleogel) merupakan gel dengan basis yang terdiri dari paraffin cair, polietilen
atau minyak lemak yang ditambahkan dengan silica koloid atau sabun-sabun aluminium
atau seng. Sedangkan gel hidrifilik, basisnya terbuat dari air, gliserol atau propilen glikol
yang ditambahkan dengan gelling agent seperti amilum, turunan selulosa, carbomer dan
turunan magnesium-aluminium silikat (Gaur et al, 2008).
4. Pasta
Pasta merupakan sediaan semipadat (massa lembek) yang mengandung satu atau
lebih bahan obat yang ditujukan untuk pemakaian topical. Biasanya dibuat dengan
mencampur bahan obat yang berbentuk serbuk dalam jumlah besar dengan vaselin atau
paraffin cair atau dengan bahan dasar tidak berlemak yang dibuat dengan gliserol,
mucilage atau sabun. Digunakan sebagai antiseptic atau pelindung kulit. (Soeosilo,1995)
Sediaan pasta sama dengan sediaan salep dimaksudkan untuk pemakaian luar
pada kulit. Tetapi juga memiliki perbedaan dengan sediaan salep, yaitu pada sediaan salep
kandungan secara umum persentase bahan padat lebih sedikit, sedangkan pada pasta
persentase kandungan bahan padat lebih banyak. Selain itu pasta lebih kental dan lebih
kaku dibanding sediaan salep. Karena persentase bahan padat lebih tinggi, maka secara
umum daya absorbsi pasta lebih besar.
Beberapa pasta yang digunakan saat ini adalah Pasta Gigi Triamsinilon Asetonid.
Preparat anti inflamasi dipakai secara topical pada mukosa di selaput mulut dan Pasta Zink
Oksida.
Pasta Zinc Oksida dibuat dengan cara menggerus dan mencampurkan 25% masing
masing zink, amilum dan vaselin putih. Pasta ini mampu mengabsorbsi air jauh lebih
baik daripada Salep Zink Oksida dan digunakan sebagai astringen dan pelindung. (Ansel,
1989)
.
2.4 Histamin

Histamin adalah senyawa normal yang ada di dalam jaringan tubuh, yaitu pada jaringan
sel mast dan peredaran basofil, yang bberperan terhadap beberapa fisiologis penting. Histamine
dikelurakan dari tempat pengikatan ion pada pengikatan komplek heparin-protein dalam sel
mast, sebagai hasil reaksi antigen-antibodi, bila ada rangsangan senyawa allergen. Senyawa ini
dapat berupa spora, debu rumah, sinar ultraviolet, cuaca, racun, tripsin, dan enzim, zat makanan,
obat, dan beberapa turunan amin. Histamine dapat dimetabolisis melalui reaksi oksidasi, Nmetilasi, dan aseilasi.
Histamin menimbulkan efek yang bervariasi pada beberapa organ, antara lain yaitu :
1. Vasodilatasi kapiler sehingga permeable terhadap permeable terhadap cincin dan plasma
2.
3.
4.
5.
6.

protein sehingga menyebabkan sembab, rasa gatal, dermatitis, urtikaria.


Merangsang sekresiasam lambung sehingga menyebabkan tukak lambung.
Meningkatkan sekresi kelenjar
Meningkatkan sekresi otot polos bronkus dan usus
Mempercepat kerja jantung
Menghambat kontraksi uterus
Histamin adalah mediator kimia yang dikelurakan pada fenomena alergi, penderita yang

sensitive terhadap histamine atau mudah terkena alergi dikarenakan jumlah enzim-enzim yang
dapat merusak histamine di tubuh, seperti histaminases dan aminooksidase, lebih rendah dari
normal. Histamine tidak digunakan untuk pengobatan, garam fosfatnya digunakan untuk
mengetahui berkurangnya sekresi asam lambung, untuk diagnosis karsinoma lambung dan untuk
control positif pada uji alergi kulit.
Mekanisme kerja :
Histamin dapat menimbulkan efek bila berinteraksi dengan reseptor, histaminergik yaitu
reseptor H1, H2, dn H3. Interaksi histamine dengan reseptor H1 menyebabkan kontraksi pada
otot polos usus dan bronki, meningkatkan permeabilitas vaskuler dan meningkatkan sekresi
muskus, yang dihubungkan dengan peningkatan cGMP dalam sel. Interaksi dengan reseptor H1
juga dapat menyebabkan vasodilatasi arteri sehingga permeable terhadap cairan dan plasma
protein, yang menyebabkan sembab, dermatitis dan urtikaria. Efek ini di blok oleh antagonis H1.
Interaksi histamin dengan reseptor H2 dapat meningkatkan sekresi asam lambung dan
kecepatan kerja jantung. Produksi asam lambung disebabkan penurunan cGMP dalam sel dan
peningkatan cAMP. Peningkatan sekresi asam lambung dapat menyebabkan efek tukak lambung.
Efek ini di blok oleh antagonis H2.
Reseptor H3 adalah reseptor histamine yang baru ditemukan pada tahun 1987 oleh
Arrang dan kawan-kawan, terletak pada ujung saraf aringan ottak dan jaringan perifer, yang

mengontrol sintesis dan pelepasan histamine, mediator alergi lain, peradangan. Efek ini di blok
oleh antagonis H3
Difenhidramin HCl (benadryl),merupakan antihistamin kuat yang mempunyai efek
sedatif dan antikolinergik,Senyawa ini digunakan untuk pengobatan berbagaia reaksi alergi
seperti pruritik, urtikaria, ekzem, dermatitis atopik, rhinitis, untuk antipasmodik (antikolinergik),
antiemetik dan obat batuk. Difenhidramin diikat oleh plasma protein 80 -98%,kadar plasma
tertinggi dicapai 2 4 jam setelah pemberian oral,dengan waktu paro plasma 9 jam.
Difenhidramin merupakan turunan eter aminoalkil yang pertama kali digunakan sebagai
antagonis-H1. Studi hubungan kuantitatif turunan difenhidramin oleh Kutter dan Hansch
menunjukkan bahwa sifat lipofilik dan sterik mempengaruhi aktivitas antihistamin dan pengaruh
sifat sterk lebih dominan dibanding sifat lipofilik.
Antihistamin adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan kerja histamin
dalam tubuh melalui mekanisme penghambatan bersaing pada sisi reseptor H1, H2, dan H3.
Berdasarkan hambatan pada reseptor khas, antihistamin dibagi menjadi 3 kelompok yaitu
antagonis-H1, antagonis-H2, dan antagonis-H3. Antagonis-H1 digunakan untuk pengobatan gejalagejala akibat reaksi alergi. Antagonis-H2 digunakan untuk mengurangi sekresi asam lambung
pada pengobatan penderita tukak lambung. Antagonis-H3 sampai sekarang belum digunakan
untuk pengobatan, masih dalam penelitianlebih lanjutdan kemungkinan berguna dalam
pengaturan sistem kardiovaskular, pengobatan alergi dan kelainan mental.
Antagonis H1 sering pula disebut antihistamin klasik atau antihistamin H1,adalah
senyawa yang dalam kadar rendah da[at menghambat secara bersaing kerja histamine pada
jaringan yang mengandung reseptor H1. Penggunaan mengurangi gejala alergi karena musim
atau cuaca,misalnya radang selaput lender hidung, bersin, gatal pada mata, hidung dan
tenggorokan, dan gejala alergi pada kulit, seperti pruritik, urtikaria, ekzem, dan dermatitis. Selain
itu antagonis H1 juga digunakan sebagai antiemetik, antimabuk, antiparkinson, antibatuk,
sedative, antipisikotif dan anastesi setempat. Antagonis H1 kurang efektif untuk pengobatan
asma bronchial dan syok anafilatik. Kelompok ini menimbulkan efek potensial dengan alcohol
dan obat penekan system saraf pusat lain.
Hubungan struktur dan aktifitas antagonis H1
a) Gugus aril yang bersifat lipofil kemungkinan membentuk ikatan hidrofob dengan ikatan
reseptor H1.
b) Secara umum untuk mencapai aktivitas optimal, atom pada N pada ujung amin tersier.
c) Kuartenerisasi dari nitrogen rantai samping tidak selalu menghasilkan senyawa yang kurang
efektif.
d) Rantai alkil antara atom X dan N mempunyai aktifitas antihistamin optimal bila jumlah atom
C = 2 dan jarak antara pusat cincin aromatic dan N alifatik = 5 -6 A
e) Factor sterik juga mempengaruhi aktifitas antagonis H1

f) Efek antihistamin akan maksimal jika kedua cincin aromatic pada struktur difenhidramin tidak
terletak pada bidang yang sama
a. Turunan eter amino alkil
Rumus : Ar(Ar-CH2) CH-O-CH2-CH2-N(CH3)2
Hubungan struktur dan aktifitas
1. Pemasukan gugus Cl, Br dan OCH3 pada posisi pada cincin aromatic akan meningkatkan
aktivitas dan menurunkan efek samping.
2. Pemasukan gugus CH3 pada posisi p-cincin aromatic juga dapat meningkatkan aktivitas tetapi
pemasukan pada posisi o- akan menghilangkan efek antagonis H1 dan akan meningkatkan
aktifitas antikolinergik
3. Senyawa turunan eter aminoalkil mempunyai aktivitas antikolinergik yang cukup bermakna
karena mempunyai struktur mirip dengan eter aminoalkohol, suatu senyawa pemblok kolinergik.
Hubungan struktur antagonis H1 turunan ester aminoalkohol
1. Difenhidramin HCl, merupakan antihistamin kuat yang mempunyai efek sedative dan
antikolonergik
2. Dimenhidrinat, adalah garam yang terbentuk dari difenhidramin dan 8-kloroteofilin.
3. Karbinoksamin maleat, mengandung satu atom C asimetrik yang mengikat 2 cincin aromatik.
4. Klemasetin fumarat, merupakan antagonis H1 kuat dengan masa kerja panjang.
5. Pipirinhidrinat
b. Turunan etilendiamin
Rumus umum ; Ar(Ar)N-CH2-CH2-N(CH3)2
Merupakan antagonis H1 dengan keefektifan yang cukup tinggi, meskipun penekan system saraf
dan iritasi lambung cukup besar.
Hubungan struktur antagonis H1 turunan etilen diamin
1. Tripelnamain HCl, mempunyaiefek antihistamin sebanding dengan dufenhidramin dengan
efek samping lebih rendah.
2. Antazolin HCl, mempunyai aktivitas antihistamin lebih rendah dibanding turuan etilendiamin
lain.
3. Mebhidrolin nafadisilat, strukturnya mengandung rantai samping amiopropil dalam system
heterosiklik karbolin dan bersifat kaku.

c. Turunan alkil amin


Rumus umum ; Ar (Ar)CH-CH2-CH2-N(CH3)2
Merupakan antihistamin dengan indeks terapetik cukup baik dengan efek samping dan
toksisitasnya sangat rendah.
Hubungan struktur antagonis H1 dengan turunan alkil amin
1. Feniramin maleat, merupakan turunan alkil amin yang memunyai efek antihistamin H1
terendah.
2. CTM, merupakan antihistamin H1 yang popular dan banyak digunakan dalam sediaan
kombinasi.
3. Dimetinden maleat, aktif dalam bentuk isomer levo.
d. Turunan piperazin
Turunan ini memunyai efek antihistamin sedang dengan awal kerja lambat dan masa kerjanya
relativ panjang
Hubungan struktur antagonis H1 turunan piperazin
1. Homoklorsiklizin, mempunyai spectrum kerja luas, merupakan antagonis yang kuat terhadap
histamine serta dapat memblok kerja bradkinin dan SRS-a
2. Hidroksizin, dapat menekan aktivitas tertntu subkortikal system saraf pusat.
3. Oksatomid, merupakan antialergi baru yang efektif terhadap berbagai reaksi alerhi,
mekanismenya menekan pengeluaran mediator kimia dari sel mast, sehingga dapat menghambat
efeknya.
e. Turunan fenotiazin
Selain mempunyai efek antihistamin, golongan ini juga mempunyai aktivitas tranquilizer, serta
dapat mengadakan potensiasi dengan obat analgesic dan sedativ.
Hubugan struktur antagonis H1 turunan fenontiazin
1. Prometazin, merupakan antihistamin H1 dengan aktivitas cukupan dengan masa kerja panjang.
2. Metdilazin
3. Mekuitazin. Antagonis H1 yang kuat dengan masa kerja panjang dan digunakan untuk
memperbaiki gejala alergi
4. Oksomemazin, mekanismenya sama seperti mekuitazin
5. Pizotifen hydrogen fumarat, sering digunakan sebagai perangsang nafsu makan.

2) Antagonis H2
Adalah senyawa yang secara bersaing menghambat interaksi histamine dengan reseptor h2
sehingga dapat menhambat asam lambung.
Mekanisme kerja ;
Memunyai struktur serupa dengan histamine yaitu mengandung cincin imidazol, tetapi yang
membedakan adalah panjang gugus rantai sampingnya.
Sekresi asam lambung dipengaruhi oleh histamine, gastrin, dan asetilkolin, antagonis H2
menghambat secara langsung kerja hstamin pada sekresi asam lambung dan menghambat kerja
potensial histamine pada sekresi asam yang dirangsang oleh gastrin atau asetilkolin, sehingga
histamine mempunyai efikasi intrinsic dan efikasi potensial, sedang gastrin dan aetilkolin hanya
mempunyai efikasi potensial
Hubungan struktur dan aktivitas
a. Modifikasi pada cincin
Cincin imidazol dapat membentuk 2 tautomer yaitu ; N-H dan N-H. bentuk N-H lebih
dominan dan diperlukan untuk aktivitas antagonis H2 dan mempunyai aktifitas 5 kali lebih kuat
daripada N-H
b. Modifikasi pada rntai samping
Untuk aktivitas optimal cincin harus terpisah dari gugus N oleh 4 atom C atau ekivalennya.
Pemendekan rantai dapat menurunkan aktivitas antagonis H2, sedangkan penambahan panjang
pada metilen dapt meningkatkan antagonis H2. Pengantian 1 gugus metilen pada rantai samping
dengan isosteriktioeter maka dapat meningkatkan aktivitas antagonis.
c. Modifikasi pada gugus N
Penggantian gugus amino rantai samping dengan gugus guanidine yang bersifat basa kuat maka
akan menghasilkan efek antagonis H2 lemah dan masih bersifat parsial agonis. Penggantian
gugus guanidine yang bermuatan positif dengan gugus tiorurea yang tidak bermuatan atau tidak
terionisasi pada pH tubuh dan bersifat polar serta maih membentuk ikatan hydrogen maka akan
menghilangkan efek agonis dan memberikan efek antagonis h2 100 x lebih kuat dibanding N-H.
Berikut adalah makro rute obat berpenetrasi ke dalam kulit beserta pengobatannya (Barry,1983)
Rute Penetrasi

Bagian Kulit
Permukaan

Stratum
Korneum
Viable
Epidermis
Appendages
Sirkulasi
Dermis

Obat larut, berdifusi dan lepas


dari basis
Transepidermal

Partisi/difusi

Transa apendageal

stratum korneum
Terjadi partisi/difusi di
Viable epidermis
Perpindahan
Partisi
Unit / difusikedisirkulasi
dermis Kelenjar

Pengobatan
1. Repelan
2. Antimikroba/a
ntifungi
3. Kosmetik
4.
1. Pelindung
Emolien
2. Keratosis
Kulit
1. Depilatori
2. Antiprespir
an
3. Exfolien
4. Antibiotik/
Antifungi

1. Antiinflam
asi
2. Anestesi
3. Antipruritis
4. Antihistam
1. Patch
in
2. Nitrogliser
5. PUVA &
in
PPT

Difenhidramin yang merupakan obat antihistamin ditujukan untuk bekerja di dermis.


Difenhidramin yang dibuat bersifat minyak dalam air, sehingga kandungan airnya banyak. Untuk
itu mekanismenya adalah intraseluler (menembus sel). Ketika krim dioleskan pada kulit, maka
akan menyebabkan corneosyte swelling sehingga obatnya akan mudah menembs corneosyte dan
sampai ke dermis sehingga menimbulkan efek.

2.4. Persyaratan Mutu Sediaan Farmasi


Sediaan harus memenuhi persyaratan mutu yang setara dengan ketentuan USP dan
memperhatikan pendaftaran kriteria obat-obat jadi Departemen Kesehatan RI.
1. Aman
Aman merupakan salah satu persyaratan mutu suatu sediaan yang tidak toksik dan tidak
terkontaminasi atau dapat diartikan sediaan yang kita buat harus aman sediaan fisiologis
maupun psikologis dan dapat meminimalisir suatu efek samping hingga tidak lebih toksik
baik dari bahan aktif maupun bahan tambahan yang belum diformulasi. Bahan sediaan
farmasi merupakan suatu senyawa kimia yamg mempunyai karakteristik fisika, kimia
yang mempunyai karakteristik fisika, kimia yang berhubungan dengan efek
farmakologis.Perubahan sedikit saja pada karakteristik tersebut, dapat menyebabkan
perubahan farmakokinetik suatu senyawa. Suatu sediaan dapat dikatakan aman bila kadar
bahan aktif dalam batas yang ditetapkan.
2. Efektif
Efektif dapat diartikan sebagai dalam jumlah kecil mempunyai efek yang
optimal. Jumlah atau dosis pemakaian sekali pakai, sehari dan selama pengobatan (1
kurun waktu) harus mampu untuk mencapai reseptor dan memiliki efek yang
dikehendaki

Sediaan efektif adalah sediaan bila digunakan menurut aturan yang disarankan
dengan aturan pakai menghasilkan efek farmakologi yang optimal untuk tiap tiap
bentuk sediaan dengan efek samping yang minimal (USP XII, p.34)
3. Stabilitas Fisika
Sifat sifat fisika seperti organoleptis, keseragaman, kelarutan dan viskositas
tidak berubah (USP XII, p.1703)
BJ > 1 g/mL.
4. Stabilitas Kimia
Secara kimia inert sehingga tidak menimbulkan perubahan warna, pH, dan
bentuk sediaan (USP XXII : 1703)
5. Stabilitas Mikrobiologi
Tidak ditemukan pertumbuhan mikroorganisme selama waktu edar. Jika
mengandung preservatif harus tetap efektif selama waktu edar
Mikroorganisme yang tidak boleh ditemukan pada sediaan : Salmonella spp,
E. Coli, Entrobacter spp., P. aeruginosa, Clostridium spp., Candida albicans (
Lachman, p 468).
Tidak ditemukan pertumbuhan mikroorganisme selama waktu edar.
Mikroorganisme yang tidak boleh ditemukan pada sediaan : Salmonella spp.; E.coli;
Enterobacter spp.; P.aureginosa; Clostridium spp.; Candida albicans
6. Stabilitas Toksikologi
Pada penyimpanan maupun pemakaian tidak boleh ada kenaikan toksisitas
(USP XXII, p.1703)
7. Stabilitas Farmakologi
Selama penyimpanan dan pemakaian efek terapeutiknya harus tetap sama
(USP XII, p. 1703).
8. Dapat Diterima
Mempunyai estetika, penampilan, bentuk yang baik serta menarik sehingga menciptakan
rasa nyaman pada saat penggunaan ( USP XII, p. 1346 1347)

III. STUDI PRAFORMULASI BAHAN AKTIF


Tabel 1, Hasil Studi Pustaka Bahan Aktif

NO.

Bahan Aktif

1. Azelastine
hidroklorida

Efek Utama

Efek

Sebagai

Samping
k Fisik
k Kimia
Iritasi kulit, Larut dlm 40% dosis

antihisamin

h1 menyebabk

bloker.

an

digunakan

kemerahan

secara

topikal

untuk

terapi

rhinitis

568)
Sebagai

diklorometa

jika

na
(martindale,

secara
intranasal.
p 568)

non- Iritasi kulit, Serbuk

antihistamin,

an

kulit

memiliki kemerahan,

efek sedatif dan gatal gatal.


antimuskarinik.
digunakan untuk

diberi

(martindale,

menyebabk

rhinitis,

air, dehidrat berada

p 568)

sedasi
tidak

Karakteristi

kulit alkohol dan disistemik

dan

konjngtivitis
(martindale,
2. Astemizole

Karakteristi

putih,
Kelarutan:
tidak

larut

air,

larut

dalam
alkohol,
mudah larut
dalam metil

Sifat lain

urtikaria.
Metabolit

alkohol dan
aktif

diklorometa

dari astemizole

na
(martindale,

digunakan
sebagai

H1-

p 567)

3. Diphenhidra

bloker
(martidle,p 567)
Sebagai

min
4. Bromazine

antihistamin
Sebagai

Iritasi kulit, Kelarutan:

anthihistamin

menyebabk

Hydrochlorid
e
Nama

dan
lain

bromodiphen
hidramin
hidroklorida

an

antimuskarinik
dengan

kulit air(1:1),

kemerahan

efek

dalam

digunakan untuk

Preparasinya

Analysis of
Drugs

alkoholdan

sedatif.
Biasanya

and

Poisons)

tidak

boleh

terlalu

lama

karena baunya
dapat

klorofrom(1

menyebabkan

:2), 1:3500

pingsan
(martindale, p

dalam eter,

mengatasi batuk
dan demam
(martindale,

larut dalam

pka 8,6
(Clarke's

569)

1:31
isopropil

alkohol,

569)

tidak

larut

dalam
pertoleum
(martindale,
5

Difenhidrami

Sebagai

n HCl

anthihistamin

gatal-gatal,
(martindale,

dan
antimuskarinik.
digunakan untuk
mengatsi gejala
alergi termasuk
urtikaria

dan
dan

konjungtivitis,
dan

p 577)

pH 4- 6

Diphenhydram

putih tidak

pada 5%

ine

berbau, rasa

larutan air.
T1/2 = 2,4-

menghambat

pait, disertai
rasa tebal
Kelarutan :
Mudah larut
dalam air,
dalam

angioedema,
rhinitis

Iritasi kulit,
ruam-ruam,

p 569)
Pemerian:

gangguan

etanol
(95%)P, dan
kloroform P,

9,3 jam
Absorbsiny
a
dipengaruhi
oleh firstpass
metabolism
ae.
BM :

sitokrom P450
isoenzim
CYP2D6 yang
ikut
bertanggung
jawab atas
metabolisme
beberapa obat
beta blockers

kulit pruritus.

sangat sukar 291,82

termasuk

juga digunakan

larut dalam

metoprolol dan

sebagai

eter P, agak

antiemetik

sukar larut

venlafaxine

dalam

dalam

pengobatan

aseton P.

antidepresan.
(martindale, p

mual
muntah.
(martindale,

(martindale,
p 577)

577)

dan

Kelarutan
Larut 1:1

dalam air,

577)

1:2 dalam
ethanol,
1:50 aseton,
1:2
kloroform
(Clarke's
Analysis of
Drugs and

Sebagai

in Teoclas

antihistamin

serbuk

yaitu bloker- H2

halus putih,

reseptor

tidak

(martindale,
576)

Iritasi kulit,

Poisons)
Pemerian:

Dipnenydram

berbau, rasa
pait diikuti
rasa tebal.
Kelarutan :
sukar larut
dalam air,
mudah larut
dalam
etanol
(96%)p dan
kloroform
p, agak
sukar larut
dalam eter p

pH 7.1-7.6
(brithis
phramacopo
iea, p 1979)

()
Larut dalam
1:2 etanol,
1:2
kloroform,
larut dalam
benzene
(Clarke's
Analysis of
Drugs and
Poisons)

Bahan aktif yang terpilih yaitu Diphenhidramin Hidroklorida


Indikasi terapetik yang diinginkan yaitu mengatasi gatal-gatal pada kulit, biang keringat, gigitan
serangga,
a. Alasan pemilihan bahan aktif diphenhidramin hidoklorida
Bahan aktif yang digunakan adalah difenhidramin Hidroklorida dengan alasan sebagai
berikut:
1. Dhiphenhidramin

hidroklorida

memiliki

indikasi

yang

sesuai

sebagai

anthihistamin bloker h1-reseptor (mengatasi gatal-gatal pada kulit, biang keringat,


gigitan serangga) di bandingkan dengan antihistamin lainnya.
Anthihistamin lainya yaitu:
Astemizol tidak dapat digunakan karena metabolit aktifnya yaitu norastemizol
sebagai bloker H1-reseptor.
Bromazin hidroklorida sebagai anthihistamin untuk batuk dan demam
Diphendramin teoclas turunan dari dhiphenhidramin yang menghambat reseptor
H2 bloker
2. Efek samping yang ditimbulkan dari difenhidramin hidroklorida paling kecil
dibanding golongan difenhidramin lainnya yaitu hanya sensitisasi yang hanya
dialami oleh pasien yang memiliki tingkat kesensitifitasan kulit yang tinggi
terhadap difenhidramin hidroklorida.
3. Difenhidramin hidroklorida memiliki efek terapeutik yang lebih poten terhadap
anti alergi dibandingkan golongan difenhidramin yang lain karena mempunyai
aktifitas anti alergi yang lebih banyak dibanding golongan anthihistamin lainya
b. Target organ yang dituju

Difenhidramin hidroklorida bekerja sebagai antihistamin (H1 blocker) sehingga zat ini
akan bekerja pada reseptor H1 yang ada di kulit. Oleh karena itu, organ yang dituju untuk
sediaan ini adalah dermis dimana sel mast dan reseptor H1 ada di dermis kulit.
c. Tujuan terapi: lokal
d. Bentuk sediaan yang dipilih : krim (tipe o/w)
e. Alasan:
- kelarutan difenhidramin hidroklorida paling besar dalam air sehingga sediaan yang
dipilih adalah krim yang bertipe o/w, dimana terdiri dari sebagian besar air.
- dipilih krim karena selain terdiri dari air yang merupakan fase luar, juga terdiri dari fase
minyak yang berfungsi sebagai oklusif karena akan menutupi kulit dan menghambat air
untuk menguap, membuat sel epidermis melunak sehingga obat dapat masuk ke dalam
hingga menembus epidermis dan mencapai organ target yaitu reseptor histamin yang
ada di dermis.
- krim memiliki viskositas yang tidak terlalu kental dan bentuknya pun tidak terlalu keras
dan padat seperti salep,sehingga krim lebih mudah dioleskan dan memiliki daya sebar
yang lebih baik. Hal ini menyebabkan obat tersebar lebih merata pada permukaan kulit.
- sediaan krim lebih banyak digunakan sehingga akan lebih familiar dengan masyarakat.
- sediaan krim memiliki sifat sebagai emollient dibanding dengan gel dan salep
f. Dosis dan perhitungannya
Takaran /dosis zat aktif
Diambil dari pustaka:
1) Han/dbook of Pharmaceutical Manufacturing Formulation: Semisolid Product (hal 56)
Salep difenhidramin hidroklorida dan Zinc asetat mengandung difenhidramin
hidroklorida 1% dan zinc asetat 0,1% untuk formulasi ekstra difenhidramin
hidroklorida 2% dan zinc asetat 0,1%.
2) Martindale The Complete Drug Reference 36th Edition (hal 577-578)
Pada sediaan topikal biasanya mengandung 1-2%
3) International Journal of Development of New Topical Diphenhydramin
Hydrochlorida: In Vitro Preliminary Studies by Vanna Sanna, et al. Penggunaan
difenhidramin hidroklorida untuk topikal sebagai antialergi dengan konsentrasi sebesar
2%.
Sehingga dipakai konsentrasi difenhidramin hidroklorida sebesar 1%.

Perhitungan dan alasan bobot tiap kemasan


Dalam sekali pakai krim kurang lebih digunakan 200-300mg
Dalam sehari digunakan 3 kali sehari,jadi dalam sehari dibutuhkan
200mg-300mg x 3 = 600mg-900mg
200mg-300mg x 4 = 800mg-1200mg
Jika pemakaiannya dalam 2 minggu dibutuhkan krim sebanyak
600mg-1200mg x 14 hari = 8400mg-16800mg
Dipilih penggunaan krim 4 x sehari, sehingga dibuat krim 20 g dalam tiap kemasan.

IV. EVALUASI PRODUK REFEREN

Benadryl Cream
- Komposisi
: Difenhidramin hidroklorida 2% b/b,alkohol, paraben, polietilen
-

glikol,air,
Indikasi

serangga,terbakar sinar matahari ringan,poison ivy , atau iritasi kulit ringan .


Kontraindikasi
: cacar, campak, kulit terluka,area kulit yang luas.
Dosis
: oleskan pada kulit yang sakit 3 kali sehari
Kemasan
: 30 gram

: efektif untuk mengobati gatal kulit karena reaksi alergi, gigitan

(http://www.benadryl.ca/topical-relief-medicine/itch-cream)
caladry krim (pfizer)
- Komposisi
: Difenhirdamin hidroklorida 1%,kalamin 8%
- Indikasi
: Mengatasi gatal-gatal disebabkan gigitan
-

serangga,biang

keringat, alat kosmetik atau iritasi lainnya


Dosis
: Oleskan 3-4 kali sehari pada bagian kulit yang sakit
Kemasan
: 115ml

(ISO Indonesia vol 45,hal 381)


Anti itch cream (Difenhidramin HCl, zink asetat) cream

[NeoPharm Co., Ltd.]


-

Komposisi

: Difenhidramin HCl 2%, zink asetat 0.1%, karbomer 940, cetyl

alcohol, gliserin, gliseril monostearat, parafin,metilparaben, miristoil/palmitoil


oxostearamide/

arachamide

MEA,

PEG-15

gliseril

stearat,

asam

stearat,propilparaben, aquadest.
Indikasi
: Mengurangi gatal dan rasa sakit yang disebabkan gigitan

serangga, iritasi kulit ringan dan ruam akibat alergi tanaman beracun seperti oak.
Kontraindikasi
: Tidak boleh digunakan untuk penderita cacar air atau campak,
tidak boleh digunakan disekitar mulut, pada daerah yang luas dari tubuh yang
mengalami poison ivy, kulit terbakar sinar matahari,kulit rusak, kulit melepuh berair.

Kemasan

: 100 gram

(http://dailymed.nlm.nih.gov)
Calamec
- Komposisi
- Indikasi

: Difenhidramin HCL 1%, calamin 8%, kamfer 0,1%, alkohol 2%


: Mengobati gangguan pada kulit karena terik matahari, biang

keringat, gatal karena gigitan serangga,pemakaian kosmetika,alergi dan gangguan


-

kecil lain pada kulit.


Dosis
: Oleskan pada permukaan kulit yang bersih dan kering 3-4 kali

sehari
Kemasan
: botol 100 ml
(ISO vol 45, hal 381)
Calarex
- Komposisi
: difenhidramin HCL 1%,calamin 8%,kamfer 0,1%
- Indikasi
: alergi kulit,biang keringat
(ISO vol 45, hal 381)
-

Caladin Lotion
- Komposisi : Difenhidramin HCl 2%, Calamine 5%, Zinc Oxyde 10%, Gliserin 10%,

dan champora q.s


: Mengobati rasa gatal karena biang keringat, udara panas, gigitan

Indikasi

serangga.
Dosis
:Oleskan pada daerah yang terkena alergi atau gatal gatal dua kali
sehari.
Kemasan : Lotion 60 ml
(ISO vol 45, hal 381)

V. Susunan Formula dan Komposisi Bahan yang Direncanakan


R/
Difenhidramin HCl
0,4
g
Nipagin
0,002 g
Nipasol
0,002 g
Propilen glikol
1,9
g
Aqua rosae
0,4
ml
asam stearat
2,73 g
Cera alba
0,36 g
Vaselin alba
1,46 g
TEA
0,27
g
Aquades
12,5 ml

No.
1
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Bahan
Difenhidramin HCl
Nipagin
Nipasol
Propilen glikol
Aqua rosae
Asam stearat
Cera alba

Fungsi
Bahan aktif
Pengawet
Pengawet
Pelarut
Corigen odoris
Emulsifying agent
Meningkatkan

Jumlah (%)
2
0,1
0,1
9,5
2
13,65
1,8

Skala 20 g
0,4 g
0,002 g
0,002 g
1,9 g
0,4 ml
2,73 g
0,36 g

Vaselin alba
TEA
Aquadest

konsistensi krim
Emolient
Emulsifying agent
pelarut

7,3
1,35
62,5

1,46 g
0,27 g
12,5 ml

Standar

vanishing

Jumlah dalam

cream
Asam stearat
Cera albi
Vaselin albi
TEA
Propilen glikol
aquadest
PERHITUNGAN :

Difenhidramin HCl

100 g (g)
15
2
8
1,5
8
65,5

Nipagin

Nipasol

Propilen glikol

Aqua rosae

Cera alba

Vaselin alba

TEA

Aquades

VI. Jenis dan Bahan Tambahan dalam Formula


a. Asam Stearat (HPE, 697)
Pemerian
:zat padat, keras mengkilat, menunjukkan susunan hablur putih atau
kuning pucat, mirip lemak lilin.
Titik Lebur

:69-70

Kelarutan

: Larut dalam benzena, karbon tetraklorida, kloroform dan eter, larut

Penggunaan

dalam ethanol, heksana dan propilen glikol, tak larut air.


: Emulsifying agent; solubilizing agent; asam stearat dengan konsentrasi 1-

20% digunakan untuk salep dan krim,


Inkompatibilitas: Asam stearat tidak kompatibel dengan kebanyakan logam hidroksida dan
mungkin kompatibel dengan basa, reduktor, dan oksidator.
b. Cera Alba (HPE, 779)

Pemerian

: tidak berasa, putih atau agak kuning, berupa butiran halus, rasanya

Titik lebur

hampir sama dengan cera flava tapi intensitasnya lebih rendah.


: 61-65oC

Kelarutan

: Larut dalam kloroform, eter, minyak, minyak volatile, dan karbon


disulfida hangat; sedikit larut dalam etanol (95%), praktis tidak larut dalam

air.
Penggunaan : untuk meningkatkan konsistensi krim dan salep.
Inkompatibilitas : inkompatibel dengan oksidator.
c. Vaselin album (FI III, 633)
Pemerian
: massa lunak, lengket, bening, putih ; sifat ini tetap setelah zat dileburkan
dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk. Berfluororesensi lemah, juga
jika dicairkan ; tidak berbau ; hampir tidak berasa.
: praktis tidak larut dalam air dan etanol (95%) p ; larut dalam kloroform

Kelarutan

p, dalam eter p dan dalam eter minyak tanah p, larutan kadang-kadang


Titik lebur
Penggunaan

berpotensi lemah.
: 38-60oC
: emolient krim topikal (10-30%), ointment topikal (sampai 100%).

d. TEA (HPE, 754)


HO

OH
N

HO

triethanolamine
Pemerian
: bersih, agak berwarna kekuningan, terdiri dari 2,2,2-nitrilotriethanol
2,2-iminobisethanol

(diethanolamine)

dan

sedikit

2-aminortanol

(monoethanolamin).
: Larut dalam aseton, karbontetraklorida, methanol, dan air. Larut dalam 24

Kelarutan

bagian benzene dan 63 bagian etileter.


Penggunaan : emulsifying agent ( 2-4 % v/v).
pH
: 10.5 (0.1 N solution)
titik lebur
: 20-21 oC
Inkompatibilitas : asam mineral membentuk Kristal garam dan ester. Dengan asam lemak
tinggi akan membentuk garam yang larut dalam air. Bereaksi dengan tembaga
membentuk kompleks garam.
e. Propilen Glikol (HPE, 592)
Sinonim:1,2-propanediol, propane- 1,2-diol, methyl glycol, methyl ethylene glycol, 1,2dihidroxypropane.
Rumus struktur :

OH

OH

Pemerian

: tidak berwarna, kental, praktis tidak berbau, rasa manis, rasa sedikit

Titik lebur
Kelarutan

tajam menyerupai gliserin.


: 99 C
: Larut dalam air, aseton, alkohol, glycerin, dan kloroform, larut dalam
eter dengan perbandingan 1: 6, tidak larut dengan minyak mineral, dengan

fixed oil, tetapi dapat bercampur dengan beberapa minyak essensial.


Penggunaan : Propilenglikol berfungsi sebagai kosolven dapat meningkatkan kelarutan
bahan obat. Sehingga meningkatkan penetrasinya melalui membran kulit
untuk mencapai tempat aksinya. Penggunaan untuk sediaan topical 15%,
untuk sediaan semisolida 15%-30%
Inkompatibilitas : inkompatibel dengan reagen oksidator seperti kalium permanganate.
f. Aquadest
Pemerian

: cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa.

g. Nipagin (FI III, 378, HPE 442)

C8H8O3 (BM : 152,15)


Pemerian
: serbuk hablur halus ; putih ; hampir tidak berbau ; tidak mempunyai
Kelarutan

rasa ; kemudian agak membakar diikuti rasa tebal.


: larut dalam 400 bagian air; 2 bagian etanol; 3,5 bagian etanol (95%); 6
bagian etanol 50%; 10 bagian eter; 60 bagian gliserin; 200 bagian minyak

kacang; dan 5 bagian propilen glikol.


BJ
: 1,352 g/cm3
Konsentrasi : 0,02-0,3 %
Penggunaan : zat pengawet.
Inkompatibilitas : aktivitas antimikroba nipasol akan berkurang dengan adanya surfaktan
nonionik. Propilen glikol akan memiliki efek potensiasi antimikroba dari
paraben saaat digunakan surfaktan nonionic. Inkompatibilitas dengan
bentonit, magnesium trisilikat, talk, tragakan, natrium alginate, minyak
esensial, sorbitol, dan atropine. Bereaksi dengan berbagai gula dan gula
alkohol
h. Nipasol ( HPE, 596)

C10H12O3 (BM : 180,21)


Pemerian
: serbuk hablur putih ; tidak berbau ; tidak berasa.
Kelarutan
: sangat larut dalam aseton dan eter, larut dalam 1,1 bagian etanol 95%;
5,6 bagian etanol 50%; 250 bagian gliserin; 3330 bagian minyak mineral;
70 bagian minyak kacang; 3,9 bagian propilen glikol; 110 bagian
propilen glikol 50%; dan 2500 bagian air.
BJ
: 1,038 g/cm3 pada 200 C
Konsentrasi : 0,01-0,6%
Penggunaan : zat pengawet.

Inkompatibilitas : aktivitas antimikroba nipasol akan berkurang dengan adanya surfaktan


nonionic. Magnesium alumunium silikat, magnesium trisilikat mengabsorbsi
nipasol sehingga kan mngurangi efikasi pengawetnya. Nipasol akan tidak
berwarna dengan adanya besi dan akan terhidrolisis oleh basa lemah dan
asam kuat.
VII.METODE
Alat:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Mortir
Stamper
Timbangan analitik
Beaker glass
Gelas ukur
Batang pengaduk
Sudip

Bahan:
1. Difenhidramin HCl
2. Asam askorbat
3. Nipagin
4. Nipasol
5. Propilen glikol
6. Aqua rosae
7. Vanishing krim base
Vanishing krim base ;yang terdiri dari
8. asam stearat
9. Cera albi
10. Vaselin albi
11. TEA
12. Propilen glikol
13. Aquades

Cara Kerja
Fase Minyak
Cera albi 2gram, vaselin albi 8 gram , Asam stearat 15
gram
Dimasukkan kedalam cawan, dilebur
diatas water bath suhu 70oC

Masa yang melebur (lelehan) (1)

Fase Air
Nipagin 0,004 g

Nipasol 0,002 g

dilarutkan dalam 0,0278


ml propilen glikol

dilarutkan dalam 0,0278


ml propilen glikol

(b)Larutan nipasol dan propilen

(a)Larutan nipagin dan propilen glikol

glikol

(a) Dan (b) dicampur, diaduk ad


larut dan homogen

0.29ml TEA + 1.52 g


propilenglikol

Campuran homogen

Ditambah air panas suhu diatas


70OC

Campuran II

Difenhidramin HCl 0.4g, Asam


askorbat 0.2g

Campuran II

Digerus dalam mortir hangat ad


halus + air ad larut

Campuran diaduk ad
homogen
Campuran III
Pembuatan Krim
Campuran I
(Fase Minyak)

Campuran III
(Fase Air)

Campuran no 1 dan no. 2 dalam


mortir hangat, aduk

Krim jadi

Evaluasi Sedian Krim


1. Uji organoleptis

Pengamatan organoleptis meliputi warna, bau, dan bentuk sediaan. Evaluasi pertama
yang dilakukan adalah mengamati warna, bau dan bentuk sediaan
2. Uji pH sediaan (Juwita, 2013)

Dilakukan dengan memasukan kertas indicator pH meter ke dalam sediaan lalu


membandingkan dengan pH warna standar yang ada, sehingga didapat nilai pH 6-6,5.
3. Uji Viskositas krim (Shovyana,2013)

4. Uji daya sebar (Shovyana, 2013), menggunakan Ekstensiometer.

5. Uji Daya Lekat (Shovyana, 2013)

6. Uji tipe emulsi (Shovyana, 2013).

7.

Uji stabilitas sediaan

Uji stabilitas sediaan dapat dilihat berdasarkan ada atau tidaknya flokulasi, creaming, dan
coalescent. Pengujian ini dilakukan selama 1 minggu dengan menyimpan sediaan krim
pada wadahnya. Kemudian diamati selama 1 minggu apaakah terjadi perubahan atau
tidak. Misalnya terpisahnya fase minyak dengan fase air, mengendapnya bahan-bahan di
bagian bawah.

VIII. Hasil Percobaan


No

Metode Uji

Spesifikasi yang direncanakan

Hasil percobaan

Uji Organoleptis

2.

Uji Viskositas

Warna
: putih
Aroma
: mawar
Bentuk sediaan : krimtipe o/w
5 150 Dpas

Warna
: putih
Aroma
: mawar
Bentuk sediaan : krimtipe o/w
130 Dpas

3
4.

5.

UJi pH
Uji tipe krim

Uji daya sebar

7 0,5
Jika sediaan larut air, maka

7
Sediaan yang dibuat dapat larut

disebut krim tipe o/w


Jika sediaan tidak larut air, maka

air, maka disebut larut air

disebut krim tipe w/o


Daya sebar baik memiliki

6, 5 cm dengan beban 50 g

diameter antara 5- 7 cm

Perhitungan Daya sebar


Beban 5 g memiliki diameter =

= 5,25 cm

Beban 10 g memiliki diameter

Beban 20 g memiliki diameter

Beban 40 g memilik diameter =


Beban 50 g memiliki diameter

= 5,95 cm
= 6, 15 cm
= 6,5 cm

= 6,5 cm

GRAFIK

Daya
sebar
(cm)

X. Pembahasan

Beban
(g)

Pada praktikum kali ini akan dibuat sediaan antihistamin khususnya untuk mengatasi
gejala alergi meliputi urtikaria dan angioedema, rhinitis dan konjungtivitis, dan gangguan kulit
pruritus. Bahan aktif yang digunakan untuk sediaan kami adalah difenhidramin hidoklorida.
Diphenhidramin hidroklorida memiliki indikasi yang sesuai sebagai anthihistamin bloker h1reseptor (mengatasi gatal-gatal pada kulit, biang keringat, gigitan serangga) di bandingkan
dengan antihistamin lainnya. Anthihistamin lainya seperti astemizol tidak dapat digunakan
karena metabolit aktifnya yaitu norastemizol sebagai bloker reseptor H1, Bromazin hidroklorida
sebagai anthihistamin untuk batuk dan demam, diphendramin teoclas turunan dari

dhiphenhidramin yang menghambat reseptor H2 bloker. Selain itu efek samping yang
ditimbulkan dari difenhidramin hidroklorida paling kecil dibanding golongan difenhidramin
lainnya yaitu hanya sensitisasi yang hanya dialami oleh pasien yang memiliki tingkat
kesensitifitasan kulit yang tinggi terhadap difenhidramin hidroklorida, dan difenhidramin
hidroklorida memiliki efek terapeutik yang lebih poten terhadap anti alergi dibandingkan
golongan difenhidramin yang lain karena mempunyai aktifitas anti alergi yang lebih banyak
dibanding golongan anthihistamin lainya. Difenhidramin merupakan antagonis reseptor H1.
Blokade reseptor oleh antagonis H1 akan menghambat terikatnya histamin pada reseptor
sehingga menghambat dampak akibat histamin, misalnya kontraksi otot polos dan peningkatan
permeabilitas pembuluh darah.
Sediaan yang kami pilih adalah krim tipe o/w. Dipilih bentuk sediaan krim tipe o/w karena
kelarutan difenhidramin hidroklorida paling besar dalam air. Selain karena itu, krim o/w terdiri
dari air yang merupakan fase luar dan minyak yang merupakan fase dalam sehingga faase air
tersebut akan menghidrasi kulit yang akan membuat korneosite yang ada di dalam stratum
korneum akan swelling sehingga akan terbentuk pori-pori yang memudahkan obat untuk
menembus stratum korneum dan menuju sel target yaitu di dermis. Dari segi aseptabilitas, krim
memiliki viskositas yang tidak terlalu kental dan bentuknya pun tidak terlalu keras dan padat
seperti salep, sehingga krim lebih mudah dioleskan dan memiliki daya sebar yang lebih baik. Hal
ini menyebabkan obat tersebar lebih merata pada permukaan kulit. Dibandingkan dengan gel,
sediaan krim memiliki sifat sebagai emollient sedangkan gel tidak.
Sediaan krim difenhidramin menggunakan basis vanishing cream yang mengandung fase
air antara lain TEA dan propilen glikol serta bahan pengawet yaitu, nipagin dan nipasol. TEA
berfungsi sebagai emulsifying agent, propilenglikol sebagai pelarut nipagin dan nipasol karena
kelarutan nipagin dan nipasol di dalam propilenglikol lebih baik dibanding air, dimana
perbandingan kelarutan nipagin dalam propilenglikol 1:5 sedangkan dalam air 1:400 dan
perbandingan nipasol dalam propilenglikol 1:3,9 sedangkan dalam air 1:2000.
Penggunaan bahan pengawet nipagin dan nipasol, secara kombinasi untuk meningkatkan
aktivitas antimikroba yang mempunyai spectrum antibakteri yang luas dalam range pH 4-8 dan
akan menurun efikasinya saat pH lebih dari 8 karena jika digunakan secara tunggal daya
antimikrobanya lebih kecil. Pada formula ini tidak menggunakan asam benzoat dan natrium
benzoat dikarenakan pHnya tidak cocok dengan pH kulit yaitu asam benzoate memiliki pH 2,54,5 dannatrium benzoate memiliki pH 2-5.
Fase minyak yang digunakan yaitu , cera albi, vaselin albi, dan asam stearat.Cera albi
berfungsi sebagai peningkat konsistensi krim, vaselin albi berfungsi sebagai emollient dan asam
stearate untuk emulsifying agent.

Pada proses pembuatan skala laboratorium yang pertama, krim tidak berhasil untuk
dibuat. Fase minyak dan fase cair tidak dapat bercampur dan sangat jelas pemisahannya. Pada
proses pembuatan ini terjadi perubahan suhu yang sangat signifikan terutama ketika fase cair dan
fase minyak dituang pada mortir yang kurang panas. Selain itu juga terdapat perbedaan suhu
antara fase cair dan fase minyaknya. Fase minyak yang baru diangkat dari water bath lebih panas
dari pada fase cair sehingga keduanya tidak dapat saling campur.
Proses pembuatan yang kedua didapatkan hasil krim seperti yang diinginkan. Pada proses
ini suhu antara fase cair, fase minyak, dan tempat pembuatan benar-benar dijaga. Selanjutnya
diaduk pelan-pelan dan konstan hingga terbentuk masa krim yang bagus. Dari pembuatan yang
kedua ini didapat hasil krim yang berwarna putih susu, lembut, dan tidak memisah. Setelah
pembuatan skala lab yang kedua ini selesai dan berhasil dilanjutkan ke pembuatan skala besar
yaitu 200 gram.
Setelah didapat sediaan dengan skala besar, dalam praktikum ini dibuat sebanyak 200
gram, kemudian dilakukan uj evaluasi terhadap sediaan yang meliputi uji organoleptis, uji
viskositas, uji pH, uji tipe krim, dan uji daya sebar. Hasil dari evaluasi sediaan krim
Definhidramin yang telah dilakukan sebagai berikut :
No

Metode Uji

Spesifikasi yang direncanakan

Hasil percobaan

Uji Organoleptis

2.
3
4.

Uji Viskositas
UJi pH
Uji tipe krim

Warna
: putih
Aroma
: mawar
Bentuk sediaan : krimtipe o/w
5 150 Dpas
7 0,5
Jika sediaan larut air, maka

Warna
: putih
Aroma
: mawar
Bentuk sediaan : krimtipe o/w
130 Dpas
7
Sediaan yang dibuat dapat larut

disebut krim tipe o/w


Jika sediaan tidak larut air, maka

air, maka disebut larut air

5.

Uji daya sebar

disebut krim tipe w/o


Daya sebar baik memiliki

6, 5 cm dengan beban 50 g

diameter antara 5- 7 cm
Dari lima macam evaluasi yang telah dilakuan, hampir semua hasil evaluasi memenuhi
spesifikasi yang telah direncanakan. Setelah melalui berbagai uji dan dinyatakan sesuai dengan
spesifikasi yang telah ditentuka, maka krim dikemas sebagai krim antihistamin yang digunakan

untuk mengurangi rasa gatal akibat alergi pada kulit.

IX.

Kesimpulan
1. Saat pembuatan krim dengan cara peleburan, keadaan suhu yang sama antara kedua fase
sangatlah penting, hal ini dapat menjadi salah satu alasan kegagalan pembentukan emulsi

2. Sediaan krim anti alergi yang dibuat kali ini menggunakan basis vanishing cream
3. Krim yang dibuat memenuhi spesifikasi yang diinginkan.

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Anief, Moh.1996. Ilmu Meracik Obat, Teori dan Praktik. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press
Anief, Moh.2002. Formulasi Obat Topikal dengan Dasar Penyakit Kulit. Yogyakarta:
Gajah Mada University Press
Anonim. http://www.benadryl.ca/topical-relief-medicine/itch-cream (diakses tanggal 5
Maret 2014)
Anonim.http://dailymed.nlm.nih.gov. (diakses tanggal 5 Maret 2014)
Anonim. http://www.drugs.com/cdi/benadryl-cream.html. (diakses tanggal 5 Maret 2014)
Anonim. 2002. United States Pharmacopeia Book 2. United Stated Pharmacopeia
Convention Inc. Rockville.
Anonim. 2002. Britis Pharmacopeia Volume II Book 2. London : The stationery Office.
Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi,Edisi ke 4. Jakarta:
Universitas Indonesia Press
Asmara, A., Sjaiful F. D., Tantien N., Ida Z. 2012. Vehikulum Dalam Dermatoterapi
Topikal. MDVI. Vol 39 (1).
Ganiswarna, Sulistia G., dkk. 2005. Farmakologi dan Terapi EDISI 4. Jakarta: Bagian
Farmakologi Falkutas Kedokteran Universitas Indonesia
Gaur, R., Aziz, M., Gan, J., Hansal, P., Harper, K., Mannan, R., Panchal, A., Patel, K.,
Patel, M., Patel, N., Rana, J., Rogowska, A. 2008. British Pharmacopeia 2009. (electronic
version)
Gibaldi, Milo, Archana Desai, dan Mary Lee. 2007. Gibaldis Drug Delivery Systems in
Pharmaceutical care. American publication of health-system pharmacist, Inc

Kibbe. 2000. Handboox Of Pharmaceutical Excipient third edition. USA : American


Pharmaceutical Association.
Martin, A. et all. 1993. Farmasi Fisik II Edisi Ketiga. Jakarta: Universitas Inonesia Press
Niazi,Sarfaraz K. 2004. Handbook of Pharmaceutical Manufacturing Formulation:
Semisolid Product Volume 4. CRC press
Reynolds, James E.F. 1982. Martindale the Extra Pharmacopoeia 28th Edition. London:
The Pharmaceutical Press
Sanna, Vanna,dkk.2010. Development of New Topical Diphenhydramin Hydrochlorida: In
Vitro Preliminary Studies. International Journal of PharmTech Research
Sirait, Midian, dkk. 1979. Farmakope Indonesia III. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia
Sirait, Midian, dkk. 2010. ISO Indonesia volume 45. Jakarta : PT. ISFI.
Siswandono dan Bambang, S. 2000. Kimia Medisinal Organik II, Surabaya : Airlangga
University Press
Soeosilo, Slamet, dkk. 1995. Farmakope Indonesia IV. Jakarta: Departmen Kesehatan
Republik Indonesia