Anda di halaman 1dari 25

Skenario 4

GERIATRI
Menurut PBB, Indonesia diperkirakan mengalami kenaikan jumlah warga
lansia tertinggi di dunia dalam tempo 35 tahun (1990-2025). Konsekuensinya
adalah terjadi pergeseran pola penyakit dari penyakit infeksi dan gangguan gizi
menjadi penyakit degeneratif yang meyebabkan peningkatan pasien geriatrik,
dimana karakteristiknya adalah multipatologi yang membutuhkan berbagai displin
ilmu untuk dapat melakukan penganganan secara paripurna.

Step 1

Warga lansia

: orang yang telah berusia lebih dari 60 tahun (UU

no.13 tahun 1998)


Penyakit infeksi

: penyakit yang disebabkan oleh agen biologi (virus,

bakteri, atau parasit), bukan disebabkan oleh oleh faktor fisik atau kimia.
Penyakit degeneratif : suatu kondisi penyakit yang muncul akibat proses
kemunduran sel-sel tubuh yaitu dari normal menjadi lebih buruk dan

berlangsung secara kronik.


Pasien geriatrik
: pasien usia lanjut (lebih dari 60 tahun) dengan
beberapa masalah kesehatan (multipatologi) akibat gangguan fungsi
jasmani dan rohani dan atau kondisi sosial.

Step 2
1. Penyebab kenaikan jumlah lansia di Indonesia.
2. Pergesaran pola penyakit menjadi penyakit degeneratif.
3. Karakteristik pasien geriatri dan penanganannya.

Step 3

1. Peningkatan jumlah warga di Indonesia berkaitan dengan peningkatan usia


harapan hidup penduduk. Pada 2002, menurut PBB, usia harapan hidup
untuk perempuan di Indonesia adalah 69.3 tahun dan untuk laki-laki 65,3
tahun. Ini merupakan konsekuensi dari berhasilnya program pembangunan
nasional yang menyebabkan bertambahnya usia harapan hidup dan
kualitas hidup. Sebab-sebab lain yang berkaitan adalah :
Penurunan angka kematian bayi dan anak
Metode persalinan yang lebih baik
Menurunnya kematian karena penyakit infeksi

dengan

ditemukannya obat atau antibiotik baru


Kemajuan teknologi dalam bidang diagnosis dan terapi
Kemajuan pengetahuan dalam bidang gizi
Kemajuan pengetahuan dalam bidang imunisasi
Kemajuan iptek dalam bidang rehabilitasi penyakit
2. Pergeseran pola penyakit
Menua (aging) adalah suatu proses hilangnya secara perlahan kemampuan
jaringan untuk memperbaiki diri dan mempertahankan struktur dan fungsi
normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi)
dan memperbaiki kerusakan yang terjadi. Sehingga manusia secara
progresif akan kehilangan daya tahan tubuh dan akan menumpuk makin
banyak distorsi metabolik dan struktural yang disebut sebagai Penyakit
degeneratif.
Proses menua sendiri merupakan kombinasi dari :
Proses yang telah ditentukan secara genetik (genetic clock)
Mutasi somatik karena faktor lingkungan (eror catastrophe)
Kerusakan sistem imun
Proses menua akibat kalori yang berlebih atau aktivitas yang

kurang (akibat metabolik)


Kerusakan sel, jaringan, organ karena radikal bebas

Faktor resiko terkena penyakit degeneratif :

Tekanan darah tinggi


Merokok, minum alkohol
Dislipidemia
Inproper food
Glukosa >>

Stress
Aktifitas fisik <<
Lingkungan buruk
Oral hygiene <<
3. Karakteristik pasien geriatri dan penanganannya
Karakteristik penyakit pada lansia :
Endogenik, tersembunyi
Kumulatif (multiple)
Kronik progresif
Rentan terhadap penyakit lain karena imunitas yang telah menurun
Penanganan pasien geriatri
Diagnosis : menggunakan assesment geriatri yaitu suatu analisis
multidimensional dan sebaiknya dilakukan oleh suatu tim geriatri.
Diagnosis tersebut meliputi :
a. AHS (aktifitas hidup sehari-hari)
b. Sindroma geriatri
c. Penyakit yang ada pada pasien
Terapi, dilaksanakan oleh tim multidisipliner yang bekerja secara
interdisipliner dan yang diperhatikan adalah :
a. Aspek penyakit (fisik-psikis)
b. Sosial ekonomi pasien
c. Lingkungan sekitar pasien
Pelayanan kesehatan vertikal dan horisontal yaitu pelayanan yang
diberikan mulai dari puskesmas ampai dengan rujukan tertinggi
dan juga pelayanan kesehatan yang meyeluruh untuk pasien.
Jenis pelayanan kesehatan, meliputi aspek promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif dengan memperhatikan aspek psiko-sosial
dan lingkungan.
Step 4
Suksesnya pembangunan nasional

Harapan hidup meningkat

Jumlah lansia bertambah

Penyakit degeneratif

Healthy aging

proses menua

dengan kondisi patologis

Pasien geriatri meningkat

Penanganan pasien geriatri secara paripurna dan berkesinambungan

Step 5 ( sasaran belajar)


Penangan paripurna pasien geriatri
Kegawata daruratan pada pasien geriatri

Step 7
1. Penanganan Paripurna Pasien Geriatri
A. Definisi
P3G merupakan sebuah prosedur evaluasi multi dimensi dimana berbagai
masalah pada pasien geriatric diungkap, diuraikan (described & explainer),
semua asset pasien ditemu kenali, jenis pelayanan yang dibutuhkan
diidentifikasi, rencana asuhan dikembangkan.
B. Tujuan P3G

Tujuan utama pelayanan kesehatan usia lanjut adalah mempertahankan


kualitas hidup sehingga seseorang dapat menjalani kehidupan di usia lanjut
dengan bahagia dan sejahtera.Kualitas hidup yang baik akan menjadikan
seorang usia lanjut tetap dapat menjalankan aktivitas hidup sehari secara
normal baik dari segi fisik, kejiwaan/ mental, sosial, dan spritual.
C. Spectrum model kerja sama antar disiplin
- Model Undisiplin Pada model ini setiap disisplin membuat rencana,
kerja (praktik) dan mendapatkan pengalaman secara sendiri-sendiri. Tampa
memperhatikan bahwa ada disiplin lain yang juga bisa berkembang
bersama. Pada model ini dokter atau tenaga kerja yang bekerja bahkan
kerap tidak memahami

keberadaan disiplin lain yang bisa berperan

perkembangan profesionalisme terjadi masing masing dalam disiplin


terkait. Perkembangan individu baik dalam hal kompetensi, minaar
maupun hubugan profesi diluar bidangnya dianggap sesuatu yang aneh
-

dan tidak professional.


Model Paradisiplin Setiap disiplin membuat rencana, praktek, dan
memperoleh pengalamansecara sendiri sendiri walau mengetahui bahwa
terdapat disiplin ilmu yang lain

yang turut berperan. Pengakuan

keberadaan disiplin ilmu yang lain tidak diakui sebagai kompetensi dan
peran profesi. Berbagai data dan laporan yang masuk boleh saja dipelajari
atau dibaca oleh disiplin ilmu yang lain, namun tidak ddirasakan perlu
kekut sertaaan disiplin ilmu yang lain tersebut secatra professional.
Model ini lazim terdapat pada fasilitas kesehatan yang multispesialistik
dimana pasein bisa dirujuk ke berbagai departemen hanya dengan surat
-

rujukan dan catatan medic.


Model Multidisiplin Model ini paling sering keliru diinterprestasikan
sebagai model interdisiplin. Berbagai disiplin atau bidang ilmu berupaya
untuk menintegrasikan pelayanan demi kepentingan pasien. Mereka
bertemu, saling memberikan informasi, merencanakan dan menetapkan
siapa yang akan ikut berperan

dan jenis ekspertisi apa yang akan

dilakukan. Namun demikian setiap disiplin ilmu mengembangkan


pengalaman masing masing

di bidang masing masing kecuali pada

ekspertisi pada area abu-abu pada saat mereka melakukan koordinasi.


Tugas dan tanggung jawab diterapka pada setiap ilmu dengan batasan yang
tegas sesuai disiplin masing-masing. Setiap bidang malaksanankan
pekerjaan secara independen, sangat berhati hati untuk tidak memasuki
wilayah bidang yang lain. pengembangan profesionalisme tterjadi pada
-

masing masing disiplin ilmu.


Model Interdisiplin Perencanaan, pengembangan pengalaman dan
pelaksanaan layanan dikerjakan dengan penuh pemahaman

bahwa

terdapat tumpang tindih dalam hal kompetensi dan bahwasanya masalah


masalah pasien bisa terkait satu sama lain.
Setiap bidang mampu mengembangkan diri secara bersama, mereka
bertemu

untuk

mengevaluasi

masalah

yang

sedang

dihadapi.

Membicarakan tujuan spesifik yang harus dicapai serta berbagai intervensi


yang harus diambil untuk mencapai tujuan tadi.

Pekerjaan tugas dan

tanggung jawab diterapkan semata mata tidak berdasarkan kompetensi


atau kemempuan individu maupun atsa dasar kebutuhan dan situasi
masalah yang dihadapi.
Peran dan tanggung jawab setiap disiplin tidaklah kaku namun dapat
beralih sesuai dengan perkembangan masalah yang ada saat itu. Pada
model ini, idenditas dan praktik masing masing tidak terkait pada disiplin
terkait, melainkan bisa tumbuh dan berkembang sesuai denga paparan
dengan disiplin lain saat bekerja. Juga denga pengalaman yang didapat
serta sejalan dengan perkembangan kebutuhan professional yang semakin
mendalam, yang lebih penting adalah sesuai pula denag kemampuan dan
-

ketertarikan untuk mengembangkan profesinya masing-masing.


Model Pandisiplin Sebagai geriatrisien melihat geriatric / gerontology
sebagai sebuah ilmu yang terpisah dari ilmu yang lain (sebagai satu
kesatuan tersendiri). Dan tidak dilihat sebagai subspesialisasi tertentu.
Mereka melihat ilmu geriatri sebagai ilmu yang meliputi pula kompetensi
dibidang sosiologi, pendidikan, advokasi, selain dibidang intervensi
pengobatan dan evaluasi. Implikasinya adalah seorang geriatrisien melihat
dirinya mempuyai kompetensi primer disemua ranah proses penuaan. Ia

menganggap dirinya paling kompeten sebagai konsultan, praktisi maupun


pendidikan sekaligus.
D. Manfaat P3G
Keluaran yang di ukur tentang manfaat P3G antara lain : lama rawat,
perubahan status fungsional , perubahan kualitas hidup, biaya perawatan ,
geriatric dan keluarga
Manfaatnya :

mendapatkan perbaikan dalam status fungsional, memendeknya lama


rawat serta jumlah yang harus masuk ke panti werdha makin kecil dalam
kelompok intervensi , biaya langsung rawat inap juga lebih rendah

daripada kelompok intervensi


pada pendekatan paripurna, sejak awal pasien dan keluarganya diajak
berperan serta melaksanakan berbagai program yang menunjang
tercapainya fase pemulihan yang lebih optimal, keluarga di ajari untuk
memahami dan bersedia turut serta dalm program rehabilitasi di rumah

E. Peran paripurna pasien geriatric


1. pelayanan medis berupa konsultasi pemeriksaan dan pengobatan pasien
geriatric secara paripurna lewat pengkajian tim assessment geriatric
2. kunjungan teratur pemeriksa tim geriatric di ruang perawatan
3. pelayanan poliklinik lansia
4. pelayanan klinik siang antara lain di kerjakan assessment ulang, program
rehabilitasi dan terapi okupasi serta rekreasi
5. pelayanan konsultasi gizi pada penderita dan keluarga
6. assessment kesehatan pada lansia dip anti
7. poliklinik lansia di proyek non-panti
8. pelayanan kunjungan rumah untuk home visit sesuai kebutuhan pasien
9. penyuluhan di masyarakat
10. mengobati pasien geriatric
2. Kegawatandaruratan Pada Pasien Geriatri
A. Pendahuluan
Pada usia lanjut proses menua secara struktur anatomi maupun fungsiologi
terjadi kemunduran, yaitu terjadi proses degenerasi. Pada usia 80-90 tahun

terjadi penurunan fungsi pada banyak organ dan system, sehingga yang

tersisa adalah sebagai berikut :


Kecepatan konduksi saraf tinggal 85%
Laju basal metabolit menjadi 80%
Volume cairan tubuh juga menjadi 80%, sehingga mudah terjadi dehidrasi

bila ada infeksi


Indeks kardiak menurun, tinggal 70%, sehingga mudah terjadi sesak bila

beraktivitas
Kapasitas vital paru pun menurun, menjadi 68%
Laju filtrasi glomerulus turun menjadi 67%
Aliran plasma ginjal tinggal 40-47%

Pada pasien geriatric kegawatdaruratan yang sering terjadi meliputi :

Di bidang kardiovaskuler
Di bidang pernafasan
Di bidang neurologis
Di bidang saluran cerna ; acute abdomen
Di bidang saluran kemih
Di bidang endokrin dan merabolik
Trauma

PENYAKIT INFEKSI PADA USIA LANJUT


Infeksi yang sering pada lansia adalah infeksi saluran kemih (ISK),
pneumonia,sepsis, meningitis, endokarditis, mortalitasnya meningkat beberapa
kali lipat dibandingkan dengan pada dewasa muda. Sumber bakteriemia infeksi
yang berasal dari masyarakat pada umumnya adalah :
-

ISK (55%)

Paru (10%)

Infeksikulit (10%)

Infeksi GI (5%)

ETIOLOGI
o ISK gram negatif, enterococcus
o GI gram negative, anaerob
o ISPA H.Influenzae, S.pneumonia,group B streptococcusenteric gram
negatif

o Kulit S.aureus. S.epidermidis,gram negatifdananaerob


FAKTOR MEMUDAHKAN TERJADINYA infeksi lansia (lanjut usia)
o Kurang gizi, multipatologi, mekanisme pertahanantubuh , faktor lingkungan.
o Kulit menjadi tipis dan jaringan lemak yang berkurangmenyebabkan barier
mekanik menjadi berkurangsehingga kuman menjadi lebih mudah menembus
kulit dan menyebabkan infeksi seperti selulitis.
o Tekanan - tekanan yang lebih sering pada kulit akibat

imobilisasi

memudahkan terjadinya dekubitus, osteomielitis bahkan bakteriemia.


MORTALITAS
Pada lansia, didapati kenaikan mortalitas infeksi dibandingkan dengan
pada dewasa muda, karena gambaran penyakit infeksi pada lansia yang tidak khas
yang menyebabkan keterlambatan di dalam menegakkan diagnosis dan batan di
dalam menegakkan diagnosis dan pengobatan, ketidaktahuan terhadap penyakit
yang berat, masalah keuangan dan transportasi, lansia yang sangat rentan terhadap
tindakan yang bersifat invasif baik dalam rangka tindakan diagnostik maupun
terapeutik, dan lain-lain.
PREDISPOSISI INFEKSI PADA PREDISPOSISI INFEKSI PADA
LANSIA
o Faktor penderita lansia : keadaan nutrisi, imunitas tubuh, penurunan fisiologik
berbagai organ, proses patologik (komorbid).
o Faktor kuman : jumlah dan virulensi kuman.
o Faktor lingkungan : infeksi didapat di masyarakat, rumah sakit atau di panti
werdha.
MANIFESTASI KLINIK PADA LANSIA
1. Gejala Tidak Khas
o Gejala demam gejala utama dari infeksi seringkali tidak jelas bahkan tidak
ada sama sekali pada lansia.

o Temperatur tubuh dalam keadaan basal pada lansia memang sudah rendah,
sehingga dalam keadaan infeksi kenaikan temperatur tubuh tidak akan
melebihi 38,3OC).
o Penderita dengan sepsis sering tidak demam, bahkan hipotermia, dan
terjadi pada 20 % penderita.
o Tidak adanya demam selain memperlambat diagnosis juga menurunkan
efek fisiologis dari leukosit dalam melawan infeksi, sehingga akan lebih
berbahaya.
o Gejala tdk khas; Gejala infeksi yang biasa didapati pada orang dewasa
sering tidak didapati bahkan berubah pada lansia.Gejala nyeri yang khas
pada apendisitis akut, kolesistitis akut, meningitis dan lain-lain sering
tidak didapati.
o Batuk pada pneumonia hanya berupa keluhan ringansaja, sehingga oleh
penderita dianggap sebagai batuk biasa. Gejala pneumonia yang sering
didapati berupa penurunan kesadaran/konfusio, inkontinensia, jatuh,
anoreksia dan kelemahan umum2.
2. Gejala akibat penyakit penyerta (komorbid).
Sering menutupi, mengacaukan bahkan menghilangkan gejala khas
akibat infeksi, padahal penyakit komormid ini sering didapati pada lansia.
DIAGNOSIS
-

gejala tidak khas biasanya berdasarkan adanya kecurigaan atas adanya infeksi.
Penurunan kecurigaan atas adanya infeksi. Penurunan kemampuan fisik dan
nafsu makan yang cepat,takhipnu, perubahan status mental dan kegelisahan

dapat merupakan kecurigaan akan adanya tanda infeksi


Diagnosa infeksi merupakan masalah, karena tanda-tanda klasik dari infeksi

sering tidak didapati, seperti demam dan lekositosis.


Kelainan fisik dan laboratorium sering sulit untuk menginterpretasikannya,
karena banyak lansia telah mengalami kelainan pada paru dan saluran kemih,
seperti ronkhi, bakteriuria, piuria

Penurunan kemampuan fisik dan nafsu makan yang cepat,takhipnu, perubahan


status mental dan kegelisahan dapat merupakan kecurigaan akan adanya tanda

infeksi.
Cara yang paling baik mendeteksi infeksi yaitu dengan melakukan asesmen
geriatri yang pada dasarnya mengadakan analisa atas semua aspek, antara lain
: fisik, psikis, kognitif, aspek, antara lain : fisik, psikis, kognitif, lingkungan,
dikonfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium yang diperlukan misalnya
pemeriksaan kultur dan tes sensitivitas dari sekret/darah/urine, yang harus
segera dilakukan.

I. Anamnesis
-

identitas
Tentang obat
Penilaian sistem
Kebiasaan buruk : alkohol, merokok
Gangguan fungsi : mengunyah, membaca
kepribadian,perasaan hati, kesadaran
Sindroma geriatrik : Stroke, TIA/RIND, DM, fraktur, jatuh, dementia,
inkontinentia, dekubitus

II. Pemeriksaan fisik


-

Pemeriksaan Syaraf Kepala


pemeriksaan panca indera, Saluran napas atas, gigi,mulut
Pemeriksaan leher, tiroid, bising carotis
Pemeriksaan dada, paru, jantung, ektremitas

III. Pemeriksaan Tambahan


-

Pemeriksaan Rutin pada Usia lanjut:


* Darah/urine, feses rutin
* Lab: Thorax, rontgen, EKG
* GD I/II, lipid, fungsi hati, fungsi ginjal, fungsi tiroid, serum B6, B12

IV. Pemeriksaan Fungsi


-

Aktivitas Hidup Sehari-hari (AHS dasar)


Aktivitas Hidup Sehari-hari instrumental (AHS instrumental)
Kemampuan mental dan kognitif

Dapat ditentukan kriteria:


a.

Mampu melaksanakan kegiatan tanpa bantuan orang lain

b.

Mampu melaksanakan kegiatan dengan sedikit bantuan

c.

Tidak melaksanakan kegiatan.

Pneumonia
Diagnosis pneumonia pada lansia ditegakkan jika terdapat 1 kriteria mayor + 2
kriteria minor, didukung oleh adanya infiltrat baru atau perubahan infiltrat
yang progresif pada foto thorax.
- Kriteria mayor : batuk-batuk, sputum produktif, demam (>37,8O C).
- Kriteria minor : sesak nafas, nyeri dada, konsolidasi paru pada Kriteria
minor : sesak nafas, nyeri dada, konsolidasi paru pada pemeriksaan fisik,
lekositosis (> 12.000/mm3).
ISK
Diagnosa sering tidak spesifik, pada kebanyakan penderita hanya merupakan
perubahan mental berupa konfusio. Oleh karena itu, perlu dibantu dengan
pemeriksaan mikroskopik, pewarnaan Gram dan kultur dari urine. Gram dan
kultur dari urine. ISK merupakan penyebab infeksi yang paling sering pada
lansia.
Infeksi jaringan lunak
Dekubitus sering didapati pada lansia oleh karena penyakit kronik dan
keadaannya lemah, dengan komplikasi osteomielitis. Diagnosis dengan irigasi
saline setelah disingkirkan jaringan nekrotik dan luka dimasase serta cairan
dikultur. Kuman aerobik yang paling sering didapati adalah stafilokoki,
enterokoki, P.mirabilis, E.coli, dan P.aeruginosa.

P.aeruginosa. Bakteri

anaerob berupa peptostreptokoki, bakteroides fragilis, dan klostridium sp.


Bakteriemia yang berasal dari dekubitus disebabkan oleh P.mirabilis, E.coli,
P.aeruginosa, klebsiela sp, st.aureus, atau B.fragilis.
Endokarditis

Sering terjadi pada lansia akibat kelainan dan pemasangan katub jantung, alat
prostetik, intravaskuler, yang sebahagian besar disebabkan streptokokus dan
stafilokokus.
Diare infeksi
Faktor yang memudahkan terjadinya diare pada lansia karena aklorhidria,
menurunnya motilitas, penggunaan antibiotik yang terlalu sering atau terlalu
lama (clindamisin dan beta laktam). Pada umumnya disebabkan virus,
klostridium. Penyebab lain: shigela, salmonela
PENGOBATAN
Pengobatan infeksi pada lansia juga merupakan masalah karena meningkatnya
bahaya toksisitas obat antimikroba pada bahaya toksisitas obat antimikroba
pada lansia.
Terapi Antibiotik
Pemberian antibiotik tergantung pada kuman patogen yang didapati. Regimen
pengobatan di bawah ini merupakan terapi empirik sampai

bawah ini

merupakan terapi empirik sampai diagnosis mikrobiologik diperoleh.


Antibiotik diberikan secara empirik dan pertimbangan Ada tidaknya reaksia
lergi, fungsi hati, fungsi ginjal. Pilihan terapi empiric meliputi cephalosporin
generasi Generasi ke 3 karena spektrumnya meliputi gram positif Dan gram
negatif. Bila ada kecurigaan infeksi legionella dapat diberikan Golongan
makrolide.
Infeksi Jaringan lunak
Terapi antimikroba dianjurkan jika didapati bakteriemia, selulitis,
osteomielitis atau jika demam dipikirkan disebabkan oleh dekubitus yang
mengalami infeksi. Regimen pengobatan yang efektif adalah piperasilintazobaktam, atau karbapenem, trovafloksasin sebagai obat tunggal, atau
siprofloksasin maupun seftazidim dalam kombinasi dengan metronidazol atau
obat tunggal, atau siprofloksasin maupun seftazidim dalam kombinasi dengan
metronidazol atau clindamisin.
Endokarditis

Terapi empirik dengan ampisilin, atau sefalosporin, aminoglikosida, dan


vankomisin jika alergi penisilin. Lama pemberian 4-6 minggu.
Diare infeksi
Metronidazol merupakan pilihan obat yang disebabkan klostridium, diberikan
7-10 hari atau vankomisin.
o Terapi suportif.
Memperbaiki status gizi dengan pengaturan diet Memperbaiki status gizi
dengan pengaturan diet yang baik, hidrasi yang cukup, pemberian vitamin
(A,C,D,E) dan mineral (Fe,Cu,Zn) seringkali mempercepat penyembuhan
penderita.

TRAUMA
Penyebab utama biasanya karena jatuh (fall). Jatuh dengan trauma berat perlu
ditelusuri lebih lanjut dan biasanya terjadi karena kombinasi dari perubahan yang
terjadi dalam proses menua. Misal turunnya daya propriosepsi dan kelemahan
otot yang sudah terjadi, dengan penyakit Parkinson, strok dan penglihatan kabur.
Begitu juga efek obat obatan seperti vasodilator, antidepresi. Pengaruh lingkungan
seperti, kurang cahaya, licin, yang juga dipertanyakan.
Dalam ananmesis perlu ditanyakan :

Aktivitas pasien saat kejadian, misal kencing malam


Apakah ada simtom prodromal: dizziness, nausea
Kesadaran menurun atau menghilang
Timbul nyeri dada dan berdebar karena serangan jantung
Rasa sesak
Riwayat pernah sakit dada
Strok
Ataksia, Parkinson dan arthritis
Obat obatan yang diminum
Pernah mengalami hipotensi postural
Tiba tiba menjadi lemah
Lingkungan mengenai cahaya, licin dan sebagainya.

Pada pemeriksaan fisik selain pemeriksaan rutin, perlu dilihat tanda tanda trauma.
Seperti tekanan darah turun karana ruptur, syok yang terjadi karena tekanan darah
turun. Perlu di uji penglihatan, pendenganran dan keseimbangan. Status neurologi
juga harus dilihat apakah ada stroke.
Kegawatan Genitourinarius
Biasanya terjadi infeksi saluran kencing (ISK) dan retensi Urin. Retensi urin
biasanya karena pembesaran kelenjar prostat. Pada pasien usia lanjut wanita, ISK
sering terjadi karena secara anatomis uretra lebih pendek, mukosa sudah menipis
disamping masalah higine genital yang kurang diperhatikan.
Selain itu ISK bisa disebabkan karena :

Penggunaan obat anti kolinergik


Struktur uretra
Ca prostat
Fecal impaction
Strok
Kompresi medula spinalis
Trauma uretra / pelvis

Gejala klinis dapat berupa : disuria, panas, nyeri, menggigil, kandung kemih
teraba penuh, agitasi, gejala non spesifik : inkomtinensia urin, malaise, weakness
dan confusion. Kadang pasien datang tanpa gejala panas, tetapi gelisah, delirium,
dimana dicurigai infeksi.
Etiologi karena daya tahan menurun, dengan pencetus misal penggunaan kateter
urin. Selain itu juga terjadi perubahan mukosa genitalia dan uretra yang menipis.
Disamping itu Benign Prostate Hypertrophy (BPH) dan juga pada keadaan strok
dan DM sering komorbid ISK.
Kuman yang sering ditemukan : E.coli, Proteus Sp, Enterococcus, dan
Staphylococcus.
Kegawatan Neurologis

Delirium
Terjadi pada cerebro vascular accident (CVA) akut, dan selain itu dapat terjadi
juga karena efek samping obat, infeksi, penyakit kardiovaskuler, dan trauma non
system saraf pusat (SSP).
Penyebab delirium pada lansia :

Obat anti kolinergik, antidepresi, psikotropik, sedative, antikonvulsan, anti

Parkinson, anti hipertensi dan anti aritmia.


Gangguan keseimbangan metabolic : hipo/hipertermia,

hipo/hiperkalsemia, hipo/hiperglikemia, alkalosis, dehidrasi, uremia


Infeksi : pneumonia, ISK
Kelainan neurologis : strok
Kelainan kardiopulmoner : CHF, aritmia, IMA, emboli paru
Penyalah gunaan alcohol

Pengobatan delirium dapat dicoba dengan haloperidol


Koma
Penyebab : konsumsi alcohol berlebihan, infeksi seperti meningitis, gangguan
metabolic berupa hipo/hiperglikemik dan adanya masa di otak.
Keadaan lain seperti koma hepatikum, strok, dan adam stokes attack dengan
kehilangan kasedaran singkat. Koma harus dibedakan dengan kolaps akibat
perubahan hemodinamik dimana kesadarannya hanya terganggu sementara.
Kegawatan Akut Abdomen
Keluhan yang dirasa nyeri, yang mungkin bias disebabkan karena : inflamasi,
perforasi, ischemic vascular disease, obstuksi kolon (kanker), obstuksi usus halus
(adhesi, ileus, batu empedu), kelainan hepato bilier, pancreatitis, kelaian genitor
urinarius, peritonitis, katastrofal vascular, infrak usus, rupture aneurisma aorta
abdominalis.

Tanda klinis sering atipikalis, karena peradangan GI tract dapat keliru dengan
CHF, sehingga datangnya pun terlambat. Untuk diagnostic dilakukan foto polos
abdomen 3 posisi dan kalau perlu dilanjutkan pemeriksaan CT scan abdomen.
Terapi dengan mengatasi syok dan atas indikasi misal kecurigaan perforasi usus,
dilakukan laparotomi.

Kegawatan Pernafasan
Pada usia lanjut terjadi penurunan compliance dinding dada, tekanan maksimal
inspirasi dan ekspirasi menurun dan elastisitas jaringan paru juga menurun.
Penyebab kegawatan napas :

Obstruksi jalan napas atas


Hipoksia : misal karena penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)
Tension pneumotoraks
Pneumonia aspirasi
Rasa nyeri
Bronkopneumonia berat
Pneumonia
Emboli paru
Asidosis metabolic

Pneumonia
Tanda klasik : demam, batuk produktif dan sesak. Tetapi pada usia lanjut menjadi
atipikal seperti suhu normal atau rendah, tidak ada batuk, status mental terganggu,
nafsu makan menurun aktivitas menurun / berkurang.
Pada pemeriksaan fisik : ronki, bronkofoni, suara nafas menurun, leukosit naik
dan pada rontgen thoraks terlihat infiltrate.
Emboli Paru
Gejala klinis :

Sesak nafas mendadak, nyeri dada (pleuritik), takipnea


Takikardia, hipoksemia
Subfebril, batuk, hemoptisis

Pada ananmesis didapat riwaya ortopedik dan urologi, trauma selain itu juga bila
pasien imbilisasi yang dapat berkomplikasi menjadi deep vein thrombose (DVT)
Kegawatan Kardiovaskuler
Seperti : henti jantung, syok/hipotensi, nyeri dada, penyakit jantung koroner,
Congestive Heart Failure (CHF), aritmia berat, krisis hipertensi.
Pada system kardiovaskular, proses menua menyebabkan :

Basal heart rate menurun


Respon terhadap stres menurun
Left ventricle (LV) compliance menurun karena terjadi hipertrofi dan juga

karena senile amyloidosis


Pada dun daun katup terjadi skleroisis dan kalsifikasi yang menyebabkan
disfungsi katup, sehingga sering terdengar bising sistolik dengan intensitas

rendah.
Pada AV node dan system konduksi terjadi fibrosis, sehingga pada usia

lanjut sering didapat fibrilasi atrial ataupun atrial flutter


Compliance pembuluh darah perifer menurun, karena proses aterosklerosis
sehingga afterloand meningkat dan didapatkan peninggian tekanan

sistolik.
Terjadi proses aterosklerotik pada pembuluh darah koroner dan terjadi
penyekit jantung koroner (PJK).

Kegawatan Endokrin dan Metabolik


Dapat didapatkan dalam keadaan :

Hipernatremia dan dehidrasi

Koma diabetikum dimana terjadi pernafasan kusmaul yang dalam dan

cepat, kesadaran dalam keadaan koma


Hiponatremia

Dehidrasi akibat diare dan muntah dengan tanda : mukosa kering, turgor menurun,
hipotensi dan takikardia.
Pengobatan dengan subsitusi cairan

GANGGUAN GINJAL PADA USIA LANJUT


1. Infeksi Saluran Kencing pada Usia Lanjut
Prevalensi ISK yang tinggi pada usia lanjut antara lain disebabkan karena :
- Sisa urin dalam kandung kemih meningkat akibat pengosongan kandung
kemih kurang efektif
- Mobilitas menurun
- Pada usia lanjut, nutrisi sering kurang baik
- Sistem imunitas menurun, baik selular maupun humoral
- Adanya hambatan pada aliran urin
- Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat
ISK pada usia lanjut berdasar penatalaksanaan sering dibedakan atas :
a. ISK uncomplicated (simple)
ISK sederhana yang terjadi pada penderita dgn anatomik saluran kencing
tak baik walaupun fungsional normal. Terutama mengenai wanita dan
infeksi hanya mengenai mukosa superfisial kandung kemih. Penyebab
kuman tersering adalah E.Coli.
b. ISK complicated
Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kuman penyebab sulit
diberantas, kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam
antibiotika, sering terjadi bakteriemia, sepsis dan shock. Penyebabnya
adalah Pseudomonas, Proteus, klebsiella.
ISK complicated terjadi bila terdapat keadaan keadaan seperti berikut :
Kelainan abnormal saluran kencing, misalnya batu, reflek
vesikouretral obstruksi, paraplegia,atoni kandung kemih, kateter
kandung kemih menetap serta prostatitis menahun.

Kelainan faal ginjal, baik Gagal Ginjal Akut (GGA), maupun Gagal

Ginjal Kronik (GGK)


Gangguan daya tahan tubuh misalnya DM, neutropenia, penderita

dengan terapi imunosupresi


Infeksi yang disebabkan karena organisme virulen sperti Proteus ssp
yang memproduksi urease.

2. Usia Lanjut dan Pemakaian Obat


Pemakaian obat pada usia lanjut perlu dipikirkan kemungkinan adanya :
- Gangguan absorbsi dalam alat pencernaan
- Interansi obat
- Efek samping obat
- Gangguan akumulasi obat terutama obat-obat yang ekskresinya melalui
ginjal
Risiko pemberian obat pada usia lanjut kaitannya dengan faal ginjal adalah :
a. Efek nefrotoksik obat
Lebih sering dijumpai pada usia lanjut karena :
Usia lanjut lebih mudah terjadi dehidrasi dan gangguan elektrolit yang
akan memberikan potensiasi efek nefrotoksik. Ini katrena menurunnya

faal ginjal dan kurangnya masukan air dan elektrolit.


Usia lanjut sering harus menggunakan obat dalam jangka lama dan

sering multipel
b. Efek toksisitas obat
Efek toksisitas obat akan meningkat pada usia lanjut, maka hal-hal
dibawah ini perlu diperhatika n :
Ototoksisitas dan nefroktosisitas pemakaian aminoglycoside
Neuropati perifer pemakaian nitrofurantoin
Hipoglikemia pada pemakaian chlorpropamide
Asidosis laktat pada pemakaian biguanide
Intosikasi pada pemakaian digitalis/digoxin
Obat-obat yang sering digunakan yang bersifat toksin dan ekskresinya
sebagian atau sleuruhnya melalui ginjal antara lain digoxin, insulin,
aminoglycoside, chlorpopamide, penisiline, cephalosporin, cimetidine dan
lain-lain.
3. Gagal Ginjal pada Usia Lanjut
Gagal ginjal akut pada usia lanjut
Penyebab GGA pada usia lanjut sebagai berikut :
- Sebagian besar dehidrasi atau gangguan elektrolit
- Obstruksi merupakan 40% penyebab GGA, terutma hipertrofi prostat

- Kelainan ginjal primer hanya sebagian kecil dari GGA pada usia lanjut
Fase oliguria pada usia lanjut pada umumnya lebih lama, sehingga
memungkinkan terjadinya komplikasi lebih banyak. Prognosa GGA
dipengaruhi oleh usia penderita, makin usia lanjut makin kurang baik
prognosanya.
Gagal ginjal kronik pada usia lanjut
Penyebab GGK paling sering pada usia lanjut :
- Progressive renal sclerosis
- Pielonefritis kronik
Prognosis GGK pada usia lanjut kurang begitu baik. Pilihan terapi pengganti
pada gagal ginjal terminal yang merupakan fase akhir setipa penderita GGK
pada usia lanjut adalah CAPD (Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis).
Pada saat ini transplantasi ginjal sebagai alternatif terbaik penanganan gagal
ginjal terminal, faktornusia tidak dianggap lagi sebagai faktor risiko.
Anamnesis
Awal anamnesis serupa dengan semua anamnesis yang lain, yaitu berupa
identitas penderita. Tetapi, pertanyaan-pertanyaan berikutnya dilakukan dengan
lebih terinci dan terarah sebagai berikut:

Identitas penderita:
nama,
alamat,
umur,
perkawinan,

anak (jumlah, jenis kelamin dan berapa yang masih tinggal

bersama penderita),
pekerjaan,
keadaan sosial ekonomi.
Anamnesis mengenai faktor risiko sakit,
usia sangat lanjut (> 70 tahun),
duda hidup sendiri,
baru mengalami kematian orang terdekat,
baru sembuh dari sakit/pulang opname,
gangguan mental nyata,
menderita penyakit progresif,
gangguan mobilitas, dll.

Anamnesis tentang obat baik sebelum sakit ini maupun yang masih
diminum di rumah, baik yang berasal dari resep dokter maupun yang dibeli
bebas (termasuk jamu-jamuan).

Penilaian sistem bagian ini berbeda dengan anamnesis penderita


golongan umur lain, karena tidak berdasarkan "model medik" (tergantung
pada keluhan utama). Harus selalu diingat bahwa pada usia lanjut, keluhan
tidak selalu menggambarkan penyakit yang diderita, seringkali justru
memberikan keluhan yang tidak khas. Penilaian sistem dilaksanakan
secara urut, misalnya dari sistem syaraf pusat saluran napas atas dan
bawah, seterusnya sampai kulit integumen dan lain-lain.
Untuk mendapatkan jawaban yang baik, seringkali diperlukan aloanamnesis dari orang/keluarga yang merawatnya sehari-hari.

Anamnesis tentang kebiasaan yang merugikan kesehatan merokok,


mengunyah tembakau, minum alkohol, dll.

Anamnesis tentang berbagai gangguan menelan, masalah gigi, gigi


palsu, gangguan komunikasi/bicara, nyeri/gerak yang terbatas pada
anggota badan, dll.

Riwayat sindrom geriatrik

stroke, TIA/RIND,
hipotensi ortostatik,
jatuh,
inkontinensia urin/alvi,
dementia,
dekubitus,
patah tulang.

Perlu digarisbawahi bahwa anamnesis pada lansia harus meliputi auto-dan


alloanamnesis. Pada akhir anamnesis harus dicatat derajat kepercayaan informasi
yang diperoleh.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dimulai dengan pemeriksaan tanda vital, walaupun rinciannya
mungkin terdapat beberapa perbedaan, antara lain:

Pemeriksaan tekanan darah, harus dilaksanakan dalam keadaan tidur,


duduk, dan berdiri, masing-masing dengan selang 1--2 menit, untuk
melihat kemungkinan adanya hipotensi ortostatik. Kemungkinan hipertensi
palsu juga harus dicari (dengan perasat Osler).

Pemeriksaan fisik untuk menilai sistem. Yang penting adalah bahwa


pemeriksaan dengan sistem ini menghasilkan ada/tidaknya gangguan organ
atau sistem.
Pemeriksaan panca indera, saluran napas atas, gigi-mulut
Pemeriksaan leher, kelenjar tiroid, bising arteri karotis
Pemeriksaan dada, paru-paru, jantung, dan seterusnya sampai pada
pemeriksaan ekstremitas, refleks-refleks, kulit-integumen.

Pemeriksaan Tambahan
Pemeriksaan tambahan disesuaikan dengan kemampuan ekonomi penderita,
tetapi minimal harus mencakup pemeriksaan rutin usia lanjut. Pemeriksaan
laboratorium rutin di sini meliputi:

Pemeriksaan darah, urin, feces rutin, gula darah, lipid, fungsi hepar/renal,
albumin/globulin,

elektrolit

(terutama

FE,

Ca,

P,

sedang trace

elements bila ada indikasi saja).

Perlu pula pemeriksan X-foto thorax dan EKG.

EEG, EMG, CT-scan, Echo-c, dan sebagainya hanya dilakukan bila perlu.

Apabila terdapat kecurigaan adanya kelainan yang belum jelas atau diperlukan
tindakan diagnostik/terapeutik lain, dapat dilakukan konsultasi/rujukan kepada
disiplin lain, yang hasilnya dapat dievaluasi oleh tim.
Pemeriksaan Fungsi
Hal ini dianggap merupakan fokus sentral. Pelaksanaan asesmen fungsi fisik dan
psikis penderita dapat dibagi dalam beberapa jenis, yaitu:

Aktivitas hidup sehari-hari (AHS fisik) hanya memerlukan kemampuan


tubuh untuk berfungsi sederhana, misalnya bangun dari tempat tidur,
berpakaian, ke kamar mandi/WC.

Aktivitas hidup sehari-hari instrumental (AHS instrumental), selain


memerlukan kemampuan dasar juga memerlukan berbagai koordinasi
kemampuan otot, susunan syaraf yang lebih rumit, juga kemampuan
berbagai organ kognitif lain.

Kemampuan mental dan kognitif, terutama menyangkut fungsi intelek,


memori lama, dan memori tentang hal-hal yang baru saja terjadi.

PEMERIKSAAN FISIK DAN PENUNJANG PADA PASIEN GERIATRI


a. Pemeriksaan fisik pasien geriatri:
Pemeriksaan syaraf kepala
Pemeriksaan panca indera, saluran napas atas, gigi dan mulut
Pemeriksaan leher, tiroid, bising carotis
Pemeriksaan dada, paru, jantung dan ekstremitas
b. Pemeriksaan tambahan
Pemeriksaan rutin pada usia lanjut:
Darah/urin, feses rutin
Lab: Thorax, rontgen, EKG
GD I/II, lipid, fungsi hati, fungsi ginjal, fungsi tiroid, serum B6, B12
c. Pemeriksaan Fungsi
Aktivitas hidup sehari-hari
Aktivitas hidup sehari-hari instrumental
Kemampuan mental dan kognitif
Dapat ditentukan kriteria :
Mampu melaksanakan kegiatan tanpa bantuan orang lain
Mampu melaksanakan kegiatan dengan bantuan orang lain
Tidak mampu melaksanakan kegiatan

Daftar pustaka
1. Sudoyo, Aru W. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Hal 1416, Jilid III,
Ed IV. FKUI. Jakarta.
2. Soejono CH. 2006. Pengkajian Paripurna pada Pasien Geriatri. Dalam :
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Editor: Sudoyo, Setiyohadi,
Alwi, Simadibrata, Setiati. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit
Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta.
3. Tim penyusun. 2012. Panduan skill lab FK UNIMUS