Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penggunaan

hewan

percobaan

dalam penelitian

ilmiah

dibidang

kedokteran/biomedis telah berjalan puluhan tahun yang lalu. Sebagai pola


kebijaksanaan pembangunan keselamatan manusia di dunia adalah adanya
Deklarasi Helsinki,yang dihasilkan oleh Sidang Kesehatan Dunia ke 16 di
Helsinki, Finlandia, pada tahun 1964. Deklarasi tersebut merupakan rekomendasi
kepada penelitian kedokteran, yaitu tentang segi etik penelitian yang melibatkan
manusia sebagai obyek penelitian. Disebutkan, perlunya dilakukan percobaan
pada hewan sebelum percobaan di bidang biomedis maupun riset lainnya
dilakukan atau diperlakukan terhadap manusia.
Hewan sebagai model atau sarana percobaan haruslah memenuhi
persyaratan-persyaratan tertentu, antara lain persyaratan genetis/ keturunan dan
lingkungan yang memadai dalam pengelolaannya, di samping faktor ekonomis,
mudah tidaknya diperoleh, serta mampu memberikan reaksi biologis yang mirip
kejadiannya pada manusia. Pemberian obat pada hewan percobaan bisa dilakukan
dengan berbagai cara tergantung pada bentuk fisiologis dari hewan percobaan.
Hewan coba / hewan uji atau sering disebut hewan laboratorium adalah
hewan yang khusus diternakan untuk keperluan penelitian biologik. Beberapa
jenis hewan dari yang ukurannya terkecil dan sederhana ke ukuran yang besar dan
lebih komplek digunakan untuk keperluan penelitian ini, yaitu: Mencit, tikus,
marmot, kelinci, dan kera. Salah satu yang akan dibahas pada makalah ini adalah
marmot Cavia porcellus. (Hewett and B. T. Bennett. 2002. The Laboratory)
Pemeliharaan marmut sebagai hewan percobaan, mempunyai kriteria
tertentu, sehingga dapat mendukung validitas hasil pengujian yang dilakukan
laboratorium. Pemeliharaan hewan percobaan, termasuk pemeliharaan marmut
sebagai hewan percobaan diatur dalam konverensi internasional yang salah
satunya diatur dalam The Guide for Care and Use Animal Laboratory, yang
prinsipnya harus memperhatikan 3R (replacement, reduce dan refinement) dan
prinsip kesejahteraan hewan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Klasifikasi Hewan Percobaan

Guinea Pig (marmut) adalah binatang cerdas dan pendiam. Sebagai


hewan soliter, dimana saat sudah mempunyai ikatan yang kuat , mereka dapat
melompat di sekitar anda, menyambut Anda dengan berbagai suaranya. Guinea
pig adalah makhluk sosial dan membentuk suatu urutan kekuasaan, sering
didominasi oleh laki-laki. Guinea pig tidak beradaptasi dengan baik terhadap
perubahan dalam lingkungan mereka atau makanan.Hair barbering (mengunyah
bulu) dapat terjadi dalam situasi stres dan berdesak-desakan.
Marmut yang biasanya masyarakat Indonesia kenal sebagai Tikus
Belanda atau dalam bahasa Inggrisnya disebut Guinea Pig, adalah spesies hewan
pengerat yang masuk ke dalam famili Caviidae dan genus Cavia. Tikus belanda
tidak berasal dari Belanda tetapi berasal dari wilayah Andes. Marmot umumnya
hidup di daerah pegunungan, seperti Alpen atau Pirenia di Eropa, Pegunungan
Rocky atau Sierra Nevada di Amerika Serikat dan Kanada bagian utara. Hewan
ini banyak dijadikan hewan peliharaan oleh manusia. Tikus belanda sering kali
salah disebut sebagai marmut / marmot, hewan lain yang mirip tetapi berukuran
lebih besar.
Klasifikasi Ilmiah dari Tikus Belanda (Guinea Pig)
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Mammal

Ordo

: Rodent

Famili

: Caviidae

Subfamili

: Caviinae

Genus

: Cavia

Spesies

: Cavia porcellus

Marmut Sebagai Hewan Laboratorium


Marmut dapat digunakan pada uji toksisitas abnormal dalam pengujian
vaksin Infeksi Hepatitis dan vaksin Distemper, penelitian produksi antibodi,
tumorigenesis, gizi, genetika, penelitian radiasi, dan studi gigi termasuk tindakan
antibakteri dan produksi air liur. Marmut digunakan secara luas dalam studistudi laboratorium penyakit, gizi dan keturunan. Banyak penelitian yang
berkaitan dengan penemuan Vitamin, diagnosis Tuberculosis, dan penelitian
anafilaksis telah dilakukan juga dengan menggunakan spesies ini. (Suryanto.
2012: 3)
B. Karakter Dan Teknik Penanganan
Marmut adalah hewan percobaan yang paling mudah dihandling dan
restrainnya untuk penggunaan dilaboratorium. Karakter marmut lebih penakut
dibandingkan mencit dan kelinci. Marmut banyak mengeluarkan suara, terutama
terdiri dari dengkingan, siulan, dan suara mendengus sesuai kondisinya. Cara
memegang marmut, adalah dengan memegang di sekitar dada dari atas dengan
ibu jari dan jari telunjuk kanan di belakang kaki depan. Sisi lain tangan harus
ditem- patkan di bawah bagian belakang untuk mendukung badan marmut.
Kesalahan da- lam cara memegang marmut dan kealpaan dalam menahan tubuh
bagian bawah dapat mengakibatkan cedera pada marmut serta luka-luka

pada

operator karena garukan kuku marmut.


Marmut

jarang menggigit, marmut memiliki proporsi berat badan dan

kaki yang tidak sebanding, sehingga marmut umumnya tidak dapat melompat

atau memanjat, oleh karena itu dalam pemeliharaannya secara berkelompok sering
ditempatkan di kandang terbuka bagian atas karena ketidakmampuannya untuk
melarikan diri.

Injeksi intraperitoneal pada marmut dilakukan dengan memegang marmut


seperti yang ditunjukkan di atas dan menyuntik di salah satu kuadran bawah
perut. Injeksi sub kutan dapat dilakukan dengan mengangkat kulit longgar pada
bagian punggung, ter- utama di leher dan bahu, dan injeksi dilakukan di
bawah lipatan kulit. Injeksi intravena dapat dilakukan pada marmut jantan pada
vena lateral penis.
Cara Pengambilan Darah
Pengambilan darah marmut dilakukan umumnya dari jantung, namun
dapat juga pada vena kava anterior, atau untuk sample dengan jumlah kecil dapat
diperoleh dari canthus

medicus

mata.

Pengambilan sampel darah dengan

jumlah sedikit mengguna- kan hematokrit, dilakukan berulang dengan periode


berselang dua atau tiga hari, dapat menggunakan metode dari mata ini,.
Jumlah darah yang diambil dibatasi 1% dari berat badan dengan periode
pengambilan berikutnya 14 hari setelah pengambilan se- belumnya. Pengambilan
darah dari jantung hendaknya menggunakan anestesi, sesuai norma kesejahteraan
hewan.

C. Tempat Pemeliharaan

Pemeliharaan

marmut

untuk

tujuan

pembiakan tidak memerlukan

dinding yang tinggi karena marmut tidak dapat melompat. Perkandangan marmut
terbuat dari papan dengan tinggi 40 cm, terdapat tempat untuk bersembunyi dan
sudah ada pengkayaan lingkungan untuk bermain marmot. Ruangan kandang
untuk pemeliharaan marmut hendaknya tertutup dan terjaga dari rodensia liar
dan predator serta serangga. Standart suhu ruang pemeliharaan marmut rata-rata
26C. Perbandingan antara jantan betina: 1 jantan dan 3 betina dalam satu
kandang perkawinan.
Marmut disapih saat berat badan 160 gram kemudian dipisah pada
kandang pembesaran dengan dibedakan kandang jantan dan betina. Ruang untuk
hewan yang ditempatkan berkelompok sebaiknya didasarkan pada keperluan
masing-masing spesies, perilaku, kecocokan hewan, jumlah hewan dan tujuan dari
situasi penempatan.

D. Pakan Marmut
Di habitat aslinya, marmut memakan rerumputan, biji-bijian, rumput

liar, serangga kecil, tempanyak dan buah-buahan. Marmut bukanlah hewan


herbivora, karena mereka adalah pemakan segala atau sering kita sebut sebagai
hewan omnivora. Untuk tetap sehat, Marmut tidak membutuhkan protein
dalam mengatur pola makan.
Marmut memerlukan makan dua kali sehari, setiap hari (pagi dan sore).
Tentunya dengan makanan yang berkualitas, mangkuk makanan yang terbuat
dari tembikar (tanah liat) akan sangat penting untuk menjaga mutu makanan
marmut agar tetap bersih dan kering, dan mencegah marmut memungut
makanan yang jatuh dilantai kandangnya yang terbuat dari kawat. Yang perlu
diperhatikan adalah mangkuk makanan harus selalu dibersihkan setelah
digunakan.
Marmut memerlukan keseimbangan dalam pola makannya, terutama
pada formula pakan yang diberikan. Pakan haruslah sayuran yang segar dan
juga rumput setiap harinya. Mereka tidak akan dapat meneruskan generasinya
tanpa mendapatkan gizi yang baik dan marmut akan sakit tanpa makanan yang
teratur dan seimbang. Rerumputan yang menjadi makanan mereka harus
mengandung serat yang cukup, untuk mencegah gangguan pencernaan dan
dapat membantu pertumbuhan gigi marmut.
Berikut ini makanan yang baik untuk marmut:

Jika tersedia, beri makan marmut dengan timothy hay. Tanyakan


ketersediaan pakan ini di toko hewan peliharaan. Timothy hay ideal
dijadikan makanan pokok bagi marmut. Umumnya, semakin hijau warna

timothy hay akan semakin baik bagi marmut.


Pastikan marmut mendapatkan setidaknya 10 mg vitamin C setiap hari.
Kebutuhan vitamin C bisa dipenuhi dari suplemen atau dari makanan
seperti kubis, blewah, kembang kol, atau jeruk .Vitamin C yang cukup

akan membuat marmut tetap sehat.


Tambahkan dedak pada makanan marmut. Dedak menawarkan serat dan

nutrisi lain yang bermanfaat bagi marmut.


Beri makan marmut dengan sayuran hijau. Pilih peterseli segar, sawi,
lobak, bayam, selada air, atau rumput-rumputan. Sayuran hijau bisa

bertindak sebagai pencahar. Jika setelah diberi sayuran hijau marmut


mengalami diare atau masalah pencernaan, kurangi atau hentikan

memberikan makanan tersebut.


Berhati-hati ketika memberikan marmut kacang-kacangan atau biji-bijian.
Saat memberikan kacang, pastikan untuk mengupasnya terlebih dahulu.
Kulit kacang bisa mneyebabkan tersedak dan sulit dicerna oleh marmut.
Meskipun kacang-kacangan dan biji-bijian baik untuk marmut, terlalu
banyak makanan ini bisa menyebabkan masalah kesehatan dan membuat

marmut mengalami kenaikan berat badan berlebih.


Beri makan marmut dengan mentimun, brokoli, dan wortel. Sayuran
tersebut memiliki kandungan air tinggi yang bisa membantu mencegah
dehidrasi. Buah-buahan seperti apel (diberikan tanpa biji) atau aprikot

akan baik pula dijadikan makanan selingan bagi marmut.


Jangan beri makan marmut biji apel, kentang, atau buncis karena bisa

menyebabkan marmut keracunan.


Jangan beri makan marmut kacang atau biji yang masih ada kulitnya atau
seledri utuh karena dapat menyebabkan tersedak.
Marmut secara alami tidak dapat mensintesa vitamin C didalam

tubuhnya, oleh karena itu penambahan vitamin C dalam pakan merupakan


hal sangat penting. Pakan

marmut

dilaboratorium

umumnya adalah

berbentuk pellet, agar dapat di autoclave, sehingga mencegah kontaminasi


lewat pakan. Marmut dilaboratorium memakan pellet dengan cara
mematahkan pellet, tidak seperti mencit yang mengerat, hal ini juga harus
menjadi pertimbangan terhadap bentuk dan tingkat kekerasan pellet yang
diberikan pada marmut.

E. Perilaku Dan Gejala Kesakitan, Nyeri Dan Stres Pada Marmut


Guarding, melindungi daerah yang sakit Vocalizing, mengeluarkan suara

khususnya ketika marmut bergerak atau daerah yang sakit dipalpasi.


Menggigit, menjilat, berteriak atau mengelilingi area tertentu, marmut tidak
pernah menggigit kecuali saat merasa nyeri atau sakit

Lemah dan malas, berulang kali berbaring-bangun.


Tidak bergerak, biasanya berhubungan dengan kesakitan pada perut.
Kerusakan pada bulu dan kulit, ditandai dengan menggaruk dan

kerontokan bulu yang abnormal.


Posisi berbaring atau tidur yang tidak normal.
Kerusakan gigi dan struktur gigi yang tidak normal menunjukkan ada
kelainan.
Point-point tersebut diatas menjadi point penilaian terhadap kontrol rutin

kondisi marmut secara fisik, yang dilakukan setiap hari.


Perilaku marmut sehat dikandang menunjukkan aktif dan enerjik, ketika
dapat menggunakan keempat kakinya dengan baik. Secara fisik kondisi marmut
harus proporsional antara berat badan, umur dan jenis kelamin sebagaimana
standart normal.
Kegemukan atau kerontokan bulu, luka pada kulit menunjukkan marmut
sedang sakit. Suara dan irama pernapasan pada koloni yang sehat menunjukkan
keseragaman. Dengkingan atau suara dengkur pernapasan menun- jukkan gejala
yang abnormal. Discharge pada hidung dan mata menunjukkan gejala abnormal
pada saluran pernapasan atau mata. Warna kulit (telapak kaki,telinga,bibir)
berwarna pink Warna pink pada kulit tersebut menunjukkan sirkulasi perdaran
darah baik.
F. Siklus Esterus Marmut
Mamalia mempunyai aktivitas seksual sepanjang hidupnya. Aktivitas
seksual tersebut selalu berubah-ubah, kadang tinggi dan kadang rendah. Periode
yang menunjukkan bahwa hewan betina sedang mengalami aktivitas seksual
tinggi yang ditunjukkan dengan tanda-tanda seperti gelisah dan berteriak-teriak
memanggil pejantan disebut dengan istilah estrus. Istilah estrus semula hanya
menunjukkan kehadiran periode keinginan seksual yang tinggi, yang diwujudkan
melalui tingkah laku hewan tersebut, tetapi dengan diperolehnya data melalui
percobaan, diketahui bahwa pada saat terjadi estrus juga terjadi perubahan-

perubahan yang penting dalam hewan tersebut, yang sangat erat kaitannya dengan
saat ovulasi, yang biasanya bersamaan dengan fase estrus.
Setiap hewan mempunyai siklus estrus yang berbeda-beda, ada golongan
hewan monoestrus (estrus sekali dalam satu tahun), golongan hewan poliestrus
(estrus beberapa kali dalam satu tahun), dan golongan hewan poliestrus bermusim
(estrus hanya selama musim tertentu dalam setahun). Daur atau siklus estrus
terdiri dari empat fase, yaitu proestrus, estrus, metestrus, dan diestrus. Marmut
memiliki siklus estrus yang pendek, oleh karena itu hewan ini dirasa paling cocok
digunakan untuk percobaan.
Menurut Yatim (1982), genitalia atau alat kelamin betina terdiri dari alat
kelamin primer (utama) yaitu ovarium, dan alat kelamin sekunder (tambahan)
yaitu

Genitalia dalam : Saluran terdiri dari tuba, uterus, vagina, Kelenjar lender

kelenjar susu
Genitalia luar : Kelenjar susu, permukaan lubang keluar
Organ reproduksi betina pada mamalia berupa ovarium yang berbetuk

pipih dalam keadaan istirahat, tetapi berbentuk bulat, panjang, benjolan-benjolan


pada tepinya pada fase reproduksi. Ovarium berada sangat dekat pada suatu
lubang berbentuk seperti corong (oesteum) di ujung distal tbae uterina (oviductus
= saluran telur) pada tepi lubang oesteum terdapat jumbai yang disebut fimbria.
Oviductus di dekat ujung oesteum yang agak mengalami dilatasi disebut ampula,
setelah melewati bagian ini, apalagi setelah mencapai uterus, telur sudah tidak
dapat dibuahi oleh spermatozoa lagi. Oviductus mamalia selain sebagai jalan sel
telur menuju ke uterus juga berfungsi sebagai tempat berlangsungnya proses
pembuahan. Uterus ini berfungsi sebagai tempat berlangsungnya perkembangan
embrio (memberi tempat, melindungi dan memberi nutrisi serta membantu ekresi)
(Soeminto, 2000).
Fertilisasi
Fase reproduksi marmot antara lain adalah:

Siklus uterus
Siklus uterus adalah siklus yang menyebabkan terjadinya perubahan

perubahan pada uterus selama siklus estrus.

Siklus menstruasi
Siklus menstruasi adalah meregenerasinya korpus luteum yang diikuti oleh
penghancuran endometrium dengan pendarahan, pada manusia dan kera

hal
ini kira kira terjadi dua minggu setelah terjadinya ovulasi.

Siklus anovulatoir
Kadang kadang folikel tidak pecah sehingga tidak terbentuk korpus luteum
dan tidak ada fase sekresi endometrium, tetapi menstruasi terjadi pada

akhir
fase proliferasi, fase ini disebut dengan siklus anovulatoir.

Siklus vagina
Epitel pada vagina juga mengalami siklus yang disebut siklus vagina.

Siklus mamae.
Siklus mamae yang terjadi pada mamalia rendah memiliki koordinasi
pertumbuhan dan regresi glandula mamae dengan siklus ovarium manusia
sebelum mensis, buah dada cenderung untuk menjadi besar dan tegang
(Syahrum et al, 1994)
Siklus estrus adalah waktu antara periode estrus. Betina memiliki waktu

sekitar 25-40 hari pada estrus pertama. Mencit merupakan poliestrus dan ovulasi
terjadi secara spontan.durasi siklus estrus 4-5 hari dan fase estrus sendiri
membutuhkan waktu. Tahapan pada siklus estrus dapat dilihat pada vulva.
Fase-fase pada siklus estrus diantaranya adalah estrus, metestrus, diestrus,
dan proestrus. Periode tersebut terjadi dalam satu siklus dan serangkaian, kecuali
pada saat fase anestrus yang terjadi pada saat musim kawin (Nongae, 2008)
Fase proestrus dimulai dengan regresi corpus luteum dan berhentinya
progesteron dan memperluas untuk memulai estrus. Pada fase ini terjadi
pertumbuhan folikel yang sangat cepat. Akhir periode ini adalah efek estrogen
pada sistem saluran dan gejala perilaku perkembangan estrus yang dapat diamati

(Nongae, 2008). Menurut Shearer (2008), fase proestrus berlangsung sekitar 2-3
hari dan dicirikan dengan pertumbuhan folikel dan produksi estrogen.
Peningkatan jumlah estrogen menyebabkan pemasokan darah ke sistem
reproduksi untuk meningkatkan pembengkakan sistem dalam. Kelenjar cervix dan
vagina dirangsang untuk meningkatkan aktifitas sekretori membangun muatan
vagina yang tebal. Pada fase proestrus, jaringan vagina berwarna pink kemerahan
dan lembut.
Fase estrus merupakan periode waktu ketika betina reseptif terhadap jantan
dan akan melakukan perkawinan. Ovulasi berhubungan dengan fase estrus, yaitu
setelah selesai fase estrus (Nongae, 2008). Pada fase ini estrogen bertindak
terhadap sistem saraf pusat. Selama fase ini sapi menjadi sangat kurang istirahat
yang kemungkinan dapat kehilangan dalam memperoduksi susu selama fase ini
berlangsung. Pasokan darah ke dalam sistem reproduksi meningkat dan sekresi
kelenjar dirangsang dengan membangun viscid mucus yang dapat diamati pada
vulva. Kira-kira setelah 14-18 jam, fase estrus mulai berhenti. Selanjutnya betina
tidak mengalami ovulasi hingga setelah fase estrus (Shearer,2008). Pada fase
estrus, vagina mirip dengan pada saat fase proestrus, namun jaringannya berwarna
pink lebih terang dan agak kasar. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan,
dapat diketahui dari sel yang tampak yaitu epitel mengalami penandukkan
(terkornifikasi) menunjukkan bahwa marmut sedang mengalami fase estrus.
Pertumbuhan yang cepat dan kornifikasi epitelium vagina selama dan pada akhir
estrus disebabkan oleh estrogen. Naiknya kadar estrogen pada marmut juga
memberikan kontribusi pada menurunnya kadar kalori pada marmut ( Frisch,
1975).
Fase metestrus diawali dengan penghentian fase estrus Umumnya pada
fase ini merupakan fase terbentuknya corpus luteum sehingga ovulasi terjadi
selama fase ini. Selain itu pada fase ini juga terjadi peristiwa dikenal sebagai
metestrus bleeding (Nongae,2008). Pada fase metestrus 1, jaringan vagina kering
dan pucat. Pada metestrus II, vagina mirip metestrus 1 namun bibir vagina
edematous (Hill, 2006).

Fase diestrus merupakan fase corpus luteum bekerja secara optimal. Pada
sapi hal ini di mulai ketika konsentrasi progresteron darah meningkat dapat
dideteksi dan diakhiri dengan regresi corpus luteum. Fase ini disebut juga fase
persiapan uterus untuk kehamilan (Nongae, 2008). Fase ini merupakan fase yang
terpanjang di dalam siklus estrus. Terjadinya kehamilan atau tidak, CL akan
berkembang dengan sendirinya menjadi organ yang fungsional yang menhasilkan
sejumlah progesterone. Jika telur yang dibuahi mencapai uterus, maka CL akan
dijaga dari kehamilan. Jika telur yang tidak dibuahi sampai ke uterus maka CL
akan berfungsi hanya beberapa hari setelah itu maka CL akan meluruh dan akan
masuk siklus estrus yang baru (Shearer,2008). Pada fase diestrus, vagina terbuka
kecil dan jaringan berwarna ungu kebiruan dan sangat lembut.
Peristiwa penting dalam daur estrus mamalia tingkat rendah dan daur
menstruasi primata adalah ovulasi, yaitu pelepasan sebuah telur yang matang dari
folikel dalam ovarium. Telur ini harus dilepaskan jika ada kemungkinan telah
terdapat sperma dalam oviduk dan jika lapisan uterus, endometrium berada dalam
keadaan yang baik untuk memungkinkan implantasi telur yang telah dibuahi.
Ovulasi disebabkan oleh sentakan LH yang disekresi oleh pituitary sebagai respon
terhadap GnRH yang disekresi oleh hipotalamus (Ville et al., 1988).
Ovulasi didefinisikan sebagai melewatinya sel telur dari folikel graft.
Ovulasi pada semua spesies mamalia ternak terjadi pada periode estrus atau
sebelum estrus berakhir. Ovulasi secara umum diinduksi oleh hormon LH
(Lituinizing Hormon), tetapi mekanismenya secara pasti belum diketahui. Ovulasi
dimulai dengan membesarnya folikel ovari, terutama oleh banyak jumlah cairan
yang dihasilkan, kemudian tunik albuginea ovari tertekan dan menimbulkan
penonjolan, serta penipisan permukaan ovari yang hampir sama dengan titik abses
yang menonjol pada permukaan tubuh dan akhirnya pecah. Cairan folikel serta
ovum terlempar ke rongga peritonial di sekitar infendibulum ovduk atau tuba
uterin (Hafez, 1968).
Masa Kehamilan

Marmut bisa mulai hamil ketika baru berusia 4 minggu, sementara marmut
jantan bisa menghamili marmut betina pada usia 3 minggu. Marmut betina
memiliki siklus estrus setiap 15 sampai 17 hari. Bayi marmut akan dilahirkan
setelah berada dalam rahim antara 59-73 hari. Marmut betina yang hamil saat
berusia terlalu muda akan kesulitan selama periode kehamilan akibat tubuh yang
masih tumbuh. Marmut betina sebaiknya mulai hamil setelah usianya lebih dari 8
bulan.
Ukuran
Marmut bisa melahirkan antara satu hingga tujuh anak, namun kebanyakan
induk melahirkan antara dua hingga lima bayi. Berat lahir normal, bayi marmut
berkisar antara 70 hingga 100 gram.
Risiko Induk Marmut
Kehamilan sangat berisiko bagi marmut betina. Terdapat peluang sekitar
20 persen marmut betina akan mati akibat komplikasi kehamilan. Bayi yang
dilahirkan telah memiliki bulu dan anggota tubuh sempurna sehingga induk
marmut memerlukan energi besar selama proses kelahiran.
Resiko Lahir Cacat
Anak marmut dapat mengalami kematian atau mengalami kelainan
bawaan jika kedua induk memiliki tipe warna roan dan dalmatian. Pasangan
induk yang seperti ini dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk
kebutaan, kerusakan gigi, dan masalah pencernaan pada anak yang dilahirkannya.
Karena risiko yang tinggi, disarankan agar tidak mengembangbiakkan marmut
jika tidak siap melakukannya. Cara paling mudah agar tidak terjadi kehamilan
adalah dengan tidak menempatkan marmut jantan dan betina dalam satu kandang.
Upaya sterilisasi juga bisa dilakukan namun harus dilakukan dengan rutin.

Pemeriksaan terhadap penyakit yang dilakukan secara periodik dalam


pemeliharaan marmut sangat diperlukan untuk menjamin kualitas

marmut

sebagai hewan laboratorium karena kesehatan dan kondisi kesejahteraan hewan


sangat mempengaruhi validitas hasil pengujian atau penelitian.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan dan Saran
Pemeliharaan marmut sebagai hewan labo- ratorium berbeda dengan
pemeliharaan kon- vensional atau pemeliharaan marmut untuk komersial.
Marmut

sebagai

hewan

laboratorium

seharusnya

dipelihara

dengan

memperhatikan kebutuhan normalnya, terhidar dari kesakitan, kelaparan dan


kehausan, nyeri dan stress serta memperhatikan ke- sejahteraan hewan.
Pemeliharaan

marmut

sebagai

hewan

laboratorium

memerlukan

penanganan, pakan, ruang dan perkandangan, pengaturan suhu dan kelembaban


yang tertentu.
Teknik penanganan, karakter serta perilaku marmut, jumlah dan metode
pengambilan darah, lokasi injeksi dan pentingnya anes- tesi saat penanganan
harus sangat diper- hatikan untuk menjauhkan hewan dari rasa sakit, nyeri dan
sress serta menjamin kesejahteraan hewan dalam proses pengujian.

DAFTAR PUSTAKA
Basuki Rochmat Suryanto. Pemeliharaan Dan Penggunaan Marmut Sebagai
Hewan Percobaan.Vol : 12 No : 3 Tahun Juli 2012
DLAR Training Series Investigating The Guinea Pig. Presented by: The Division
Of Laboratory Animal Resources And The Institutional Animal Care And Use
Committee Wayne State University 2010.

Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian. Petunjuk Teknis Pengujian


Mutu Obat Hewan Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan.
2001
http://www.ahc.umn.edu/rar/blood.html diakses 15 Desember 2009
http://netvet.wustl.edu/species/guinea/gpmodel.txt diakses 28 November 2010
http://www.fau.edu/research/ovs/VetData/guineapig.phpspacer diakses 2013
http://www.batan.go.id/etik_hewan_lampiran.php. Pedoman Etik Penggunaan
Dan Pemeliharaan Hewan Percobaan. Oktober 2013
The Ufaw Handbook On The Care And Management Of Laboratory And Other
Research Animals. Eighth Edition Edited by Robert Hubrecht And James
Kirkwood. The Universities Federation For Animal Welfare United Kingdom
2010