Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH ANALISIS FARMASI

KRIM HIDROKORTISON BUTIRAT

Disusun Oleh :
Kelompok 8
Bagus Adi Prasetyanto

1406524940

Carmelita Dissa Wardhani

1406525016

Evita Irmayanti

1406525211

Max Raymond Jonathan

1406525464

Nike Febrina

1406525552

Tiodinar

1406525905

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2014
KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
keberkahan dan kerahmatan-Nya, sehingga makalah yang berjudul Identifikasi,
Penetapan pH, Penetapan Kadar Kompendial dan Alternatif Krim Hidrokortison
Butirat telah selesai dibuat.
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar kepada semua pihak yang
telah membantu dalam proses penyelesaian makalah ini baik secara langsung
maupun tidak langsung.
Adapun penyusunan makalah ini ditujukan untuk memenuhi tugas
kelompok pada mata kuliah Analisis Farmasi. Di samping itu, penyusunan
makalah ini dimaksudkan pula untuk memperkaya wawasan penulis maupun
pembaca mengenai Analisis Farmasi dalam sediaan krim hidrokortison butirat.
Pada akhirnya, penulis menyadari bahwa penulis memiliki keterbatasan
sehingga makalah ini memiliki kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk kesempurnaan makalah ini.

Depok, Oktober 2014

Tim Penulis

Universitas Indonesia

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................iii
BAB 1......................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang...............................................................................................1
1.3 Tujuan.............................................................................................................1
BAB 2......................................................................................................................3
2.1 Monografi Hidrokortison Butirat...................................................................3
BAB 3......................................................................................................................5
3.1 Identifikasi Krim Hidrokotison Butirat..........................................................5
3.1.1 Reaksi Warna..........................................................................................5
3.1.2 Identifikasi dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi...........................6
3.2 Pelaksanaan pengukuran pH..........................................................................6
3.3 Penetapan Kadar Krim Hidrokortison Butirat...............................................6
3.4 Penetapan Kadar Krim Hidrokortison Butirat Metode Alternatif..................7
3.4.1 Modifikasi Metode Farmakope Indonesia..............................................7
3.4.2 Metode Alternatif dari Jurnal Pharmaceutical Research Vol 8(4) 1991. 8
3.4.3 Metode Alternatif dari Jurnal Membrance Science 30 tahun 1987.......11
BAB 4....................................................................................................................13

Universitas Indonesia

4.1 Diskusi.........................................................................................................13
4.2 Kesimpulan..................................................................................................16
DAFTAR ACUAN.................................................................................................17

Universitas Indonesia

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Krim hidrokortison butirat adalah krim kortikorsteroid sintetis yang
memiliki efek anti inflamatori, anti alergi dan anti pruritik yang diindikasikan
untuk pengobatan topikal pada berbagai penyakit kulit akut dan kronis. Krim
hidrokortison butirat memiliki efek terapeutik terhadap penyakit seperti psoriasis,
eksema dan lichen simplex. Penetrasi secara perkutan antara pasien bervariasi dan
dan dapat ditingkatkan dengan menggunakan perekat agar tidak terkikis oleh
pakaian, meningkatkan konsentrasi kortikosteroid atau menggunakan bahan
pembawa yang lain.
Setelah diabsorbsi melalui kulit, kortikosteroid topikal mengikuti jalur
farmakokinetik yang mirip dengan penghantaran kortikosteroid sistemik.
Hidrokostison 17-butirat akan dimetabolisme terutama oleh hati menjadi
hidrokortison dan metabolit lainnya. Metabolit tersebut akan dieksresikan melalui
urin dan empedu.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana identifikasi hidrokortison butirat pada sediaan krim
2. Bagaimana penetapan pH hidrokortison butirat pada sediaan krim
3. Bagaimana penetapan kadar kompendial hidrokortison butirat pada sediaan
krim
4. Bagaimana penetapan kadar alternatif hidrokortison butirat pada sediaan krim
1.3 Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk membahas lebih dalam mengenai analisis
farmasi pada sediaan hidrokortison butirat krim. Penulis ingin memberikan

Universitas Indonesia

pengetahuan dan wawasan yang lebih dalam mengenai bagaimana prinsip, metode
kompendial dan metode alternatif dalam analisis sediaan tersebut.
1.4
Metode Penulisan
Makalah ini disusun dengan cara melakukan studi pustaka dari beberapa buku
yang berhubungan dengan isi makalah ini.
I.5

Sistematika Penulisan Makalah

Sistematika penulisan makalah ini dibagi menjadi tiga bab, yaitu :


BAB

PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang

I.2

Rumusan Masalah

I.3

Tujuan Penulisan

I.4

Metode Penulisan

I.5

Sistematika Penulisan

BAB II
II.1
BAB III
III.1

Monografi Krim Hidrokortison Butirat


Monografi Hidrokortison Butirat Menurut USP 32
Penatalaksanaan Prosedur
Identifikasi Krim Hidrokortison Butirat

III.1.1 Reaksi Warna


III.1.2 Identifikasi dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
III.2

Penatalaksanaan Pengukuran pH

III.3

Penetapan Kadar Krim Hidrokortison Butirat

III.4

Penetapan Kadar Krim Hidrokortison Butirat Metode


Alternatif

III.4.1 Modifikasi Metode Farmakope Indonesia edisi 4


III.4.2 Metode Penetapan Kadar Jurnal Pharmaceutical Research
III.4.3 Metode Penetapan Kadar Jurnal Membrane Science
BAB IV

Penutup

IV.1

Diskusi

IV.2

Kesimpulan

Daftar Acuan

Universitas Indonesia

BAB 2
MONOGRAFI KRIM HIDROKORTISON BUTIRAT
2.1 Monografi Hidrokortison Butirat

Gambar 2. 1 Rumus bangun hidrokortison butirat


Krim Hidrokortison Butirat mengandung tidak kurang dari 90,0% dan
tidak lebih dari 110,0% hidrokortison butirat (C 25H36O6) dari jumlah yang
tercantum dalam label. Hidrokortison butirat memiliki bobot molekul sebesar
432,6. Penyimpanan krim hidrokortison butirat dilakukan pada wadah yang
tertutup dengan rapat.
Sesuai dengan ketentuan pada USP 32, Krim hidrokortison butirat
mengandung hidrokortison butirat tidak kurang dari 90% dan tidak lebih dari
110% dari label yang dicantumkan. Langkah pertama yang dilakukan dalam
penetapan kadar krim hidrokortison butirat adalah pembuatan stok larutan uji dan
larutan sampel serta larutan kesesuaian sistem. Fase gerak yang digunakan dalam
proses penetapan kadar krim hidrokortison butirat adalah asetonitril : asam asetat
glasial : air (76 : 1 : 124). Pelarut yang digunakan adalah tetrahidrofuran dan asam
asetat glasial (1000: 1). Pengencer yang digunakan adalah metanol : air : asam
asetat glasial (500:500:1).
Larutan Kesesuaian Sistem dibuat dengan cara melarutkan hidrokortison
butirat dan 4-hidroksibenzoat dalam pelarut hingga dicapai konsentrasi 0,1
mg/mL lalu ambil 10,0 mL dan masukkan ke dalam labu ukur 50,0 mL dan
encerkan secara kuantitatif dengan pengencer hingga batas.

Universitas Indonesia

Persiapan Larutan Baku Standar dilakukan dengan cara melarutkan


Hidrokortison Butirat RS dalam pelarut (tetrahidrofuran : asam asetat glasial)
hingga diperoleh konsentrasi sebesar 0,1 mg/mL. Kemudian Pipet 10,0 mL larutan
tersebut, masukan ke dalam labu ukur 50 mL dan encerkan dengan metanol-airasam asetat glacial hingga batas.
Setelah itu dilakukan juga persiapan larutan uji dengan penimbangan krim
setara dengan 1 mg hidrokortison butirat dimasukan ke dalam 50 mL labu ukur
kemudian larutkan di dalam 10 ml pelarut tetrahidrofuran asam asetat glasial,
diaduk selama 30 menit dan cukupkan larutan sampel hingga batas
Penetapan kadar dilakukan dengan menggunakan alat kromatografi cair
kinerja tinggi dengan detektor UV pada 254 nm. Kolom yang digunakan memiliki
ukuran 3 mm x 10 cm dari packing L1 (oktadesilsilan). Laju alir diatur menjadi 1
mL/ menit. Volume yang diinjeksikan baik dari larutan uji dan sampel adalah
sebesar 5L. Perbandingan waktu retensi dari zat uji adalah 0,7 untuk propil-4hidroksi benzoate dan 1 untuk hidrokortison butirat. Resolusi antara propil-4hidroksi benzoate dengan hidrokortison butirat tidak lebih dari 4. Efisiensi kolom
(N) tidak kurang dari 4000 pelat teoritis. Faktor ikutan tidak lebih dari 1,6 dan
simpangan baku relatif untuk pengulangan penyuntikan tidak lebih dari 5%.
Prosedur penetapan kadar krim hidrokortison butirat secara terpisah
disuntikkan larutan standar dan larutan uji dalam jumlah yang sama yaitu 5 L ke
alat KCKT, kemudian amati dan ukur luas area kromatogram lalu hitung kuantitas
hidrokortison butirat dengan rumus
Perolehan kadar =
(ru/rs) x (Cs/Cu) x 100
ru = luas area larutan sampel
rs = luas area larutan standar
Cs = Konsentrasi hidrokortison butirat RS dalam larutan standar (mg/mL)
Cu = Konsentrasi hidrokortison butirat dalam larutan sampel (mg/mL)

Universitas Indonesia

BAB 3
PENATALAKSANAAN UJI

3.1 Identifikasi Krim Hidrokotison Butirat


3.1.1 Reaksi Warna
Preparasi sampel : Timbang sejumlah krim yang setara dengan 0,10 gram
hidrokortison butirat kemudian tambahkan 30 mL metanol, panaskan
diatas water bath dan dinginkan pada suhu ruang. Lakukan kembali
pemanasan. Dinginkan dalam es selama 30 menit dan kemudian saring.
Filtrat yang diperoleh diuapkan hingga kering dan gunakan residu untuk
identifikasi (WHO, 1998).
a. Reaksi Naftol-Asam Sulfat (Clarke, 2005)
Reagen : Campurkan 1 gram -naftol dalam 40 mL asam sulfat dan
panaskan diatas water-bath pada suhu 1000C, dengan pengadukan sesekali,
hingga -naftol larut.
Metode : Campurkan sampel dengan 1 mL reagen, panaskan diatas
water-bath suhu 1000C selama 2 menit dan catat warna yang timbul.
Dinginkan dan tambahkan 1 mL air dan lihat perubahan warna.
Hasil : Warna kuning setelah dipanaskan dan coklat setelah ditambah
air.
b. Reaksi dengan Asam Sulfat (Clarke, 2005)
Metode : Tambahkan asam sulfat kedalam sampel pada tabung reaksi.
Tunggu beberapa menit.
Hasil : Hijau, orens dichroism (fluoresensi hijau di bawah sinar
ultraviolet).
c. Reaksi dengan Antimoni pentaklorida (Clarke, 2005)
Metode : Keringkan sejumlah antimoni klorida dan fosfor pentoksida.
Lelehkan (suhu 730) dan lewatkan gas Cl2 hingga terbentuk cairan kuning
berasap. Tambahkan kloroform, dan saring larutan kedalam botol gelap
dan simpan di desikator.

Universitas Indonesia

Metode : Teteskan 1 tetes larutan sampel dalam etanol ke atas kertas


saring, tambahkan 1 tetes pereaksi dan keringkan.
Hasil : orens.
3.1.2 Identifikasi dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
Waktu retensi dari puncak utama pada larutan sampel, hampir sama
dengan puncak pada larutan standar yang didapatkan pada penetapan
kadar.
Dilakukan kesesuaian sistem dengan perbandingan waktu retensi
relatif untuk propil 4-hidroksibenzoat dan hidrokortison butirat adalah 0,7
dan 1,0.
3.2 Pelaksanaan pengukuran pH
Instrumen pH meter terlebih dahulu dikalibrasi dengan larutan dapar
standar netral (pH 7,01) dan larutan dapar pH asam (pH 4,01) hingga alat
menunjukkan harga pH tersebut. Kemudian elektroda dicuci dengan air, lalu
dikeringkan. Sampel dibuat dalam konsentrasi 10% yaitu ditimbang 10 g sediaan
dan dilarutkan dalam 100 ml aquadest bebas CO 2. Kemudian elektroda dicelupkan
dalam larutan tersebut. Angka yang ditunjukkan pH meter merupakan pH sediaan.
pH sediaan hidrokortison butirat menurut USP adalah 3,5-4,5.
3.3 Penetapan Kadar Krim Hidrokortison Butirat
Teknik Analisa

: KCKT

Detektor : UV pada 254 nm

Kolom : 3mm x 10 cm dari packing L1 (oktadesilsilan)

Fase Gerak = Asetonitril : asam asetat glasial : air (76:1:124)

Pelarut = tetrahidrofuran : asam asetat glasial (1000:1)

Pengencer = metanol : air : asam asetat glasial (500:500:1)

Lajualir 1 mL/ menit

Volume injeksi : 5L

Waktu retensi : (0,7:1)untuk propil-4-hidroksi benzoat dan hidrokortison


butirat

10

Universitas Indonesia

Resolusi antara propil-4-hidroksi benzoat dengan hidrokortison butirat


tidak lebih dari 4

Efisiensi kolom (N) tidak kurang dari 4000 pelat teoritis

Faktor ikutan tidak lebih dari 1,6

Simpangan baku relatif untuk pengulangan penyuntikan tidak lebih dari


5%

3.4 Penetapan Kadar Krim Hidrokortison Butirat Metode Alternatif


3.4.1 Modifikasi Metode Farmakope Indonesia
Fase Gerak

: Campuran air asetonitril P- asam asetat glasil P


(550:450:5), saring dan awaudarakan. Jika perlu lakukan
penyesuaian sistem menurut Kesesuaian sistem seperti
yang tertera pada Kromatografi <931>.

Larutan Baku

: Timbang seksama Hidrokortison Butirat BPFI, larutkan


dalam campuran metanol P asam asetat glasial P
(1000:1) sehingga kadar 40g/mL.

Larutan Uji

: Larutan uji dibuat dengan cara menimbang sejumlah


krim setara dengan 1,0 mg hidrokortison butirat
kemudian masukkan ke dalam labu ukur 50 mL, setelah
itu tambahakan 10 mL pelarut, kocok selama 30 menit,
encerkan dengan larutan pengenceran sampai batas.

Sistem Kromatografi : Lakukan seperti yang tertera pada Kromatografi <931>.


KCKT dilengkapi dengan detektor 254 nm dan kolom 3,9
mm x 30 cm, berisi bahan pengisi L1. Laju aliran
2mL/menit. Lakukan kromatografi terhadap larutan baku,
rekam respons puncak seperti yang tertera pada prosedur.
Efisiensi kolom yang ditetapkan dari puncak analit tidak
kurang dari 3000 lempeng teoritis dan simpangan baku
relatif pada penyuntikan tidak lebih dari 2,0%.
Prosedur

: Suntikkan secara terpisah sejumlah volume sama


(antara 15L 30 L) larutan uji dan larutan baku ke
dalam kromatografi, pada suhu kamar. Atur parameter

11

Universitas Indonesia

kromatografi sedemikian rupa sehingga respon puncak


yang diperoleh dari larutan baku 60% dari skala penuh.
Tetapkan respon puncak yang diperoleh dari larutan uji
dan larutan baku dengan waktu retensi yang sama.
Hitung jumlah dalam mg, C25H36O6, dengan rumus :

1,25C (

ru
)
rs

C adalah kadar hidrokortison Butirat BPFI dalam g/mL larutan baku;


ru dan rs berturut turut adalah respon puncak dari larutan uji dan
larutan baku.
3.4.2 Metode Alternatif dari Jurnal Pharmaceutical Research Vol 8(4)
1991
Mode
Detektor
Kolom
Laju Alir
Volume Injeksi
Fase Gerak
Larutan standar

:
:
:
:
:
:
:

LC
UV 240 nm
15 cm x 4,6 mm C18
1,0 ml/menit
20 m
Asetonitril : Metanol : Air (5:55:40)
Campuran krim dengan 5% (b/v) larutan hidrokortison butirat dalam
metanol

Prosedur Kerja
1.

Sekitar 5 g krim dipanaskan dalam waterbath pada suhu 75oC selama 15


menit hingga krim meleleh semua.

2.

1 ml dari lelehan krim diambil dan dimasukkan ke dalam tabung uji


sebesar 10 cm.

3.

Tambahkan 0,2 ml dari 0,3% (w/v) dari larutan standar internal


(Hidrokortison asetat yang dilarutkan dalam metanol)

4.

Tambahkan 5 ml metanol lalu panaskan di dalam waterbath pada suhu


75oC selama 10 menit

5.

Campuran larutan kemudian di vorteks selama 30 detik dan disentrifugasi


pada kecepatan 2500 rpm selama 10 menit pada suhu kamar.

12

Universitas Indonesia

6.

Terbentuk lapisan ekstrak metanol (lapisan atas),diambil lalu dilarutkan


dengan metanol 1:4

7.

Lalu 20 m diinjeksikan ke dalam kolom HPL

Kromatogram yang dihasilkan:

Gambar 3. 1 Kromatogram baku dari zat yang ada di dalam krim


Keterangan: 1. metilparaben; 2. hidrokortison; 3. Propilparaben; 4. Hidrokortison asetat
(standar internal); 5. Hidrokortison-17-butirat; 6. Hidrokortison-21-butirat

13

Universitas Indonesia

Gambar 3. 2 Kromatogram dari sediaan krim hidrokortison butirat


Keterangan: 1. metilparaben; 2. hidrokortison; 3. Propilparaben; 4. Hidrokortison asetat
(standar internal); 5. Hidrokortison-17-butirat

14

Universitas Indonesia

Gambar 3. 3 Kromatogram dari sediaan krim hidrokortison butirat setelah


penyimpanan selama 12 bulan
Keterangan: 1. metilparaben; 2. hidrokortison; 3. Propilparaben; 4. Hidrokortison asetat
(standar internal); 5. Hidrokortison-17-butirat; 6. Hidrokortison-21-butirat

3.4.3 Metode Alternatif dari Jurnal Membrance Science 30 tahun 1987


Kromatografi Cair Kinerja Tinggi dengan fase terbalik dipilih sebagai
prosedur analisis karena menghasilkan pemisahan yang cukup baik. Sistem
kromatografi cair disiapkan dengan menggunakan detektor UV-Vis. Pelarut yang
digunakan merupakan campuran methanol:air (80:20 hingga 60:40) sebagai fase
gerak. Kolom menggunakan Bondapak C-18. Absorbansi diukur pada panjang
gelombang 254 nm.
Larutan standar hidrokortison dan ester disiapkan dalam methanol untuk
kalibrasi puncak kromatogram. Sebagai standar internal digunakan hidrokortisonn-alkil-21-ester. Rentang sensitivitas pada sistem kromatografi diatur sekitar
0.01g/sampel hingga 10 g/sampel untuk semua analog. Kurva standar

15

Universitas Indonesia

menunjukkan linieritas yang sangat baik pada semua rentang sensitivitas. Secara
kuantitatif, kesalahan dalam puncak kromatogram standar di bawah 2%.

Gambar 3. 4 Hasil kromatogram hidrokortison dan keenam ester


Keterangan : Puncak dari kanan ke kiri, hidrokortison (waktu retensi ~2.5 menit),
hidrokortison 21-asetat (~3 menit), hidrokortison 21-propionate (~3.7 menit),
hidrokortison 21-butirat (~4.6 menit), hidrokortison 21-valerat (~6.2 menit),
hidrokortison 21-heksanoat (~8.6 menit) dan hidrokortison 21-heptanoat (~13 menit).
Pelarut methanol:air (70:30), laju alir 1 ml/menit dan menggunakan kolom Bondapak C18

16

Universitas Indonesia

BAB 4
PENUTUP

4.1 Diskusi
Perbedaan analisis farmasi pada bahan baku dengan sediaan adalah
terdapatnya eksipien dalam sediaan yang dapat mengganggu analisi termasuk
identifikasi dan penetapan kadar. Identifikasi pada USP 32 adalah identifikasi
menggunakan instrumen KCKT. Identifikasi tambahan lain untuk sediaan krim
hidrokortison butirat adalah dengan melakukan identifikasi kualitatif. Sebelum
diidentifikasi, krim harus dipecah terlebih dahulu dengan penambahan metanol
dan pemanasan. Setelah krim pecah, dilakukan pendinginan dalam es yang
bertujuan agar fase minyak memadat dan kemudian disaring. Hidrokortison
butirat pada formulasi krim pada umumnya berada dalam fase air yaitu dengan
dilarutkan dalam propilenglikol. Oleh sebab itu, identifikasi dilakukan pada fase
air. Filtrat yang diperoleh diuapkan hingga kering. Residu yang diperoleh
digunakan untuk identifikasi kualitatif.
Salah satu uji yang dilakukan adalah reaksi dengan -naftol dalam asam
sulfat. Reaksi ini memberikan hasil positif yaitu warna kuning setelah dipanaskan
dan coklat setelah ditambah air. Uji positif untuk zat yang mengandung gugus
steroid. Demikian halnya dengan uji menggunakan asam sulfat yang dimasukkan
kedalam sampel juga untuk mengidentikasi adanya gugus steroid. Warna yang
dihasilkan dari uji ini adalah hijau dan orens (bersifat discroism). Sedangkan
reaksi warna dengan antimoni pentaklorida menunjukkan positif untuk obat
golongan kortikosteroid.
Prinsip pengukuran pH adalah untuk mengetahui pH sediaan sesuai
dengan pH yang tertera pada monografi sediaan. Pengukuran pH pada sediaan
krim hidrokortison butirat merupakan salah satu uji spesifik berdasarkan
monografi sediaan pada USP 32. Pengukuran pH dapat dilakukan dengan
menggunakan pH meter. Untuk pengukuran pH sediaan krim, krim terlebih dahulu

17

Universitas Indonesia

dilarutkan dalam aquadest hingga diperoleh konsentrasi 10%. pH sediaan


hidrokortison butirat menurut USP adalah 3,5-4,5.
Pada Farmakope Indonesia Edisi IV, penetapan kadar sediaan krim banyak
menggunakan sistem Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). KCKT
merupakan suatu metode analisis obat yang paling cepat berkembang. Cara ini
ideal untuk analisis beragam obat dalam sediaan dan cairan biologi karena
sederhana dan kepekaannya tinggi. KCKT biasanya dilakukan pada suhu kamar,
jadi senyawa yang tidak tahan panas dapat ditangani dengan mudah. Peralatan
KCKT memiliki kepekaan yamg sangat tinggi sehingga menghasilkan data yang
lebih akurat dan membutuhkan waktu yang tidak lama.
Pada penetapan kadar sediaan hal yang pertama dilakukan adalah
memisahkan zat aktif dengan basisnya. Apabila zat aktif dan basisnya berhasil
dipisahkan, maka penetapan kadar dengan KCKT dapat dilakukan.
Pada Farmakope Indonesia Edisi 4, penetapan kadar krim hidrokortison
asetat juga dilakukan dengan metode KCKT sedangkan untuk penetapan kadar
krim hidrokortison butirat tidak dijelaskan motodenya. Oleh sebab itu dilakukan
metode modifikasi penetapan kadar krim hidrokortison butirat yang mengacu
pada Farmakope Indonesia Edisi 4 dan juga USP 32.
Pada metode modifikasi ini, fase gerak yang digunakan adalah campuran
air asetonitril P- asam asetat glasil P (550:450:5), saring dan awaudarakan. Jika
perlu lakukan penyesuaian sistem menurut Kesesuaian sistem seperti yang tertera
pada Kromatografi <931>.
Dalam sediaan krim terdapat beberapa eksipien yang terdapat di dalamya.
Eksipien yang umum digunakan dalam sediaan krim adalah seperti zat pengawet.
Untuk itu perlu dicari metode yang cocok dan selektif untuk memisahkan zat aktif
dengan eksipien yang ada di dalam sediaan krim. Zat aktif krim hidrokortison
butirat adalah hidrokortison-17-butirat yang dapat terdekomposisi menjadi
hidrokortison-21-butirat dan hidrokortison. Hal tersebut harus menjadi perhatian
karena akan bertambah zat yang perlu dideteksi dalam penetapan kadar krim
hidrokortison butirat agar didapatkan kadar hidrokortison butirat yang sebenarnya.
Untuk memisahkan zat-zat yang terdapat di dalam krim perlu dilakukan uji
coba dengan menggunakan fase gerak yang ada. Campuran fase gerak metanol

18

Universitas Indonesia

dan air (60:40, v/v) dapat memisahkan eksipien dalam sediaan krim dengan zat
aktif hidrokortison-17-butirat maupun hasul dekomposisinya. Akan tetapi waktu
retensi untuk hidrokortison-17-butirat cukup lama yaitu 16,6 menit dan waktu
retensi hidrokortison-21-butirat yaitu 21,0 menit. Sedangkan eksipien lainnya
diamana metilparaben tR= 3,7 menit; hidrokortison tR= 5,6 menit; propilparaben
tR = 3,7 menit; hidrokortison asetat (standar internal) tR= 8,9 menit
(Wanwimolruk, 1991).
Dengan pertimbangan waktu retensi, maka dilakukan pergantian fase
gerak yaitu menjadi asetonitril, metanol dan air (5:55:40, v/v). Kombinasi tiga
fase gerak juga dapat memisahkan zat-zat yang berada dalam krim dengan baik
dan waktu retensi juga dapat dipersingkat. Dan urutannya adalah metilparaben
tR= 3,2 menit; hidrokortison tR= 4,7 menit; propilparaben tR= 6,0 menit;
hidrokortison asetat (standar internal) tR= 7,0 menit; hidrokortison-17-butirat tR
13,0 menit; dan hidrkortison-21-butirat tR= 14,3 menit (Wanwimolruk, 1991).
Panjang gelombang maksimum dari zat golongan kortikosteroid berada
pada 240 nm (Watson, 2010). Hidrokortison butirat memiliki gugus steroid pada
strukturnya sehingga pada panjang gelombang 240 nm dapat dideteksi.
Penggunaan detektor UV dikarenakan struktur dari hidrokortison butirat memilki
gugus kromofor. Oleh karena hal tersebutlah metode alternatif penetapan kadar
hidrokortison butirat memakai panjang gelombang maksimum di 240 nm.
Pada penelitian lain, zat aktif krim yang ditunjukkan merupakan hasil yang telah
terdekomposisi yaitu hidrokortison 21-butirat, oleh karena itu harus menjadi
perhatian karena akan bertambah zat yang perlu dideteksi dalam penetapan kadar
krim hidrokortison butirat agar didapatkan kadar hidrokortison butirat yang
sebenarnya.
Untuk memisahkan zat-zat yang terdapat di dalam krim perlu dilakukan uji
coba dengan menggunakan fase gerak yang ada. Campuran fase gerak metanol
dan air (70:30), merupakan kombinasi 2 fase gerak yang dapat memisahkan zatzat dengan waktu retensi yang relatif singkat dimana hidrokortison waktu retensi
~2.5 menit, hidrokortison 21-asetat ~3 menit, hidrokortison 21-propionate ~3.7
menit, hidrokortison 21-butirat ~4.6 menit, hidrokortison 21-valerat ~6.2 menit,

19

Universitas Indonesia

hidrokortison 21-heksanoat ~8.6 menitdanhidrokortison 21-heptanoat (~13


menit).
Dari gambar kromatogram yang dihasilkan pada gambar yang bisa dilihat
di atas dapat dilihat identifikasi dari tiap homolog. Hal yang menarik dapat dilihat
dari rentang waktu antara puncak kromatogram yang satu dengan yang lain.
Karena kromatografi fase terbalik menyangkut pemisahan larutan antara kolom C18 dengan system pelarut methanol:air, dapat dilihat bahwa pemisahannya
bergantung pada panjangnya rantai.

4.2 Kesimpulan
1. Identifikasi sediaan krim hidrokortison butirat dapat menggunakan reaksi
warna dan waktu retensi sampel yang diperoleh dari alat KCKT dengan
dibandingkan terhadap waktu retensi standar.
2. Penetapan kadar yang dapat digunakan menggunakan metode KCKT dengan
fase gerak asetonitril : asam asetat glasial : air (76 : 1 : 124) dan
menggunakan detector UV pada panjang gelombang 254 nm.

20

Universitas Indonesia

DAFTAR ACUAN

Clarke, E. G. C. (2005). Clarkes Analysis of Drugs and Poisons. Pharmaceutical


Press.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1995). Farmakope Indonesia edisi
IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Harmita. (2006). Buku Ajar Analisis Fisikokimia. Depok : Departemen Farmasi
FMIPA UI
The

United

States

Pharmacopeial

Convention.

(2008).

United

States

Pharmacopeia ed: 32th.


Wanwimolruk, Sompon. (1991). Rapid high performance liquid chromatographic
analysis and stability study of hydrocortisone 17-butyrate in cream
solutions. Pharm Res. Vol 8 No.4: 546-549
Watson, David G. (2010). Analisis Farmasi Buku Ajar Untuk Mahasiswa Farmasi
dan Praktisi Kimia Farmasi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
World Health Organization. (1998). Basic Test for Drugs. Inggris : WHO
Graphics.

21

Universitas Indonesia

Anda mungkin juga menyukai