Anda di halaman 1dari 19

1

REFERAT
TONSILEKTOMI

Disusun oleh :
Hesti Kusmayanti
10310436

Pembimbing :
Dr. Pialanta Barus, Sp.THT.KL

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MALAHAYATI BANDAR LAMPUNG
KEPANITERAAN KLINIK ILMU TELINGA HIDUNG DAN
TENGGOROK
RSU KABANJAHE KABUPATEN KARO SUMATRA UTARA
TAHUN 2014

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat dan bimbingannya sehingga referat ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Referat ini disusun dalam rangka memenuhi tugas dalam Kepaniteraan Departemen
Telinga Hidung dan Tenggorok di Rumah Sakit Umum Kabanjahe.
Pada kesempataan ini penulis juga hendak mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya atas bantuan dari pembimbingan kami yaitu dr. Pialanta Barus,
Sp.THT.KL berupa bimbingannya yang sangat membantu dalam menyelesaikan
referensi ini yang berjudul Tonsilektomi.
Penulis berharap referat ini dapat bermanfaat dalam menambah pengetahuan
tentang tonsilektomi. Dengan menyadari masih banyaknya kekurengan dalam
penyusunan ini. Penulis mengharapkan keritik dan saran yang membangun.

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................................4
BAB II TONSILEKTOMI.................................................................................7-17
Definisi...................................................................................................................
Epidemiologi..........................................................................................................
Anatomi dan Fisiologi Tonsil ...............................................................................
Jenis Tonsilektomi.
Indikasi dan Kontraindikasi ..................................................................................
Persiapan Preoperasi dan Postoperasi ...................................................................
Komplikasi.....................................................................................................
BAB III KESIMPULAN...............................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................19

4
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tonsilektomi merupakan prosedur yang paling sering dilakukan dalam sejarah
operasi.Kontroversi mengenai tonsilektomi dilaporkan lebih banyak bila dibandingkan
dengan prosedur operasi manapun.Konsensus umum yang beredar sekarang
menyatakan bahwa tonsilektomi telah dilakukan dalam jumlah yang tidak tepat
(seharusnya) pada anak-anak pada tahun-tahun yang lalu.Besarnya jumlah ini karena
keyakinan para dokter dan orangtua tentang keuntungan tonsilektomi dan bukan
berdasarkan bukti ilmiah atau studi klinis.Padahal pembesaran tonsil jarang merupakan
indikasi untuk pengakalan kebanyakan anak anak mempunyai tonsil yang besar, yang
ukurannya akan menurun sejalan dengan perlambatan usia. Pada dekade terakhir,
tonsilektomi tidak hanya dilakukan untuk tonsilitis berulang, namun juga untuk
berbagai kondisi yang lebih luas termasuk kesulitan makan, kegagalan penambahan
berat badan, overbite, tounge thrust, halitosis, mendengkur, gangguan bicara dan
enuresis.1 Saat ini walau jumlah operasi tonsilektomi telah mengalami penurunan
bermakna, namun masih menjadi operasi yang paling sering dilakukan.
Pada pertengahan abad 19 yang lalu, mulai terdapat pergeseran dari hampir
tidak adanya kriteria yang jelas untuk melakukan tonsilektomi menjadi adanya kriteria
yang lebih jelas dan tegas.Saat ini indikasi tonsilektomi masih beragam.Di abad ke 20
tonsilektomi dilakukan karena tonsil merupakan fokus infeksi untuk penyakit sistemik
seperti reumatisme.Sampai saat ini telah dikembangkan berbagai studi untuk
menyusun indikasi formal yang ternyata menghasilkan perseteruan dari berbagai pihak
terkait.Dalam penyusunannya ditemukan kesulitan untuk memprediksi kemungkinan
infeksi di kemudian hari sehingga dianjurkan terapi dilakukan dengan pendekatan
personal dan tidak berdasarkan peraturan yang kaku.American Academy of
Otolaryngology-Head and Neck Surgery telah mengeluarkan rekomendasi resmi
mengenai tindakan tonsilektomi yang merupakan kesepakatan para ahli.
Tonsilektomi telah dilakukan oleh dokter THT, dokter bedah umum, dokter
umum dan dokter keluarga selama lebih dari 50 tahun terakhir. Namun, dalam 30 tahun
terakhir, kebutuhan akan adanya standarisasi teknik operasi menyebabkan pergeseran
pola praktek operasi tonsilektomi. Saat ini di Amerika Serikat tonsilektomi secara
ekslusif dilakukan oleh dokter THT.
4

5
Tingkat komplikasi, seperti perdarahan pascaoperasi berkisar antara 0,1-8,1%
dari jumlah kasus.Kematian pada operasi sangat jarang.Kematian dapat terjadi akibat
komplikasi bedah maupun anestesi.Tantangan terbesar selain operasinya sendiri adalah
pengambilan keputusan dan teknik yang dilakukan dalam pelaksanaannya.
Permasalahan
Dalam praktek sehari-hari, terdapat beberapa masalah utama seputar
tonsilektomi, yaitu penentuan indikasi tonsilektomi baik bagi anak maupun dewasa dan
belum adanya koordinasi antara masing-masing cabang ilmu kedokteran spesialis
dalam hal ini.Selain itu, ditinjau dari segi keamanan, hingga kini belum ada acuan
mengenai teknik terpilih dalam melakukan tindakan tonsilektomi.
Tujuan
Terwujudnya kajian ilmiah sebagai dasar kebijakan penerapan teknologi
tonsilektomi pada pasien-pasien THT di Indonesia.

6
BAB II
TONSILEKTOMI
Definisi
Tonsilektomi adalah operasi pengangkatan tonsil palatina baik unilateral
maupun bilateral. Tonsiloadenoidektomi adalah pengangkatan tonsil palatina dan
jaringan limfoid di nasofaring yang dikenal sebagai adenoid atau tonsil faringeal. 2
Adapun pengertian lain yang menyebutkan bahwa tonsilektomi adalah pembedahan
eksisi tonsil palatina untuk mencegah tonsilitis yang berulang. Tonsilektomi
merupakan prosedur operasi yang praktis dan aman, namun hal ini bukan berarti
tonsilektomi merupakan operasi minor karena tetap memerlukan keterampilan dan
ketelitian yang tinggi dari operator dalam pelaksanaannya.Di AS karena kekhawatiran
komplikasi, tonsilektomi digolongkan pada operasi mayor.Di Indonesia, tonsilektomi
digolongkan pada operasi sedang karena durasi operasi pendek dan teknik tidak sulit.
Epidemiologi
Tonsilektomi pertama kali diperkenalkan 2000 tahun yang lalu oleh Celcus
dengan cara diseksi digital radikal.Menjerat dan menggunting tonsil (tonsilektomi)
diperkenalkan sekitar abad 19, begitu juga alat pengungkit tonsil (tonsil elevator). Pada
awal tahun 1960 dan 1970-an, telah dilakukan 1 sampai 2 juta tonsilektomi,
adenoidektomi atau gabungan keduanya setiap tahunnya di Amerika Serikat. 3 Pada saat
itu tonsilektomi dilakukan dengan anestesi lokal dan pasien dalam keadaan duduk.
Namun dari waktu ke waktu angka ini mengalami penurunan, diperkirakan 278.000
anak-anak dibawah 15 tahun dilakukan tonsilektomi dengan atau tanpa adenoidektomi.
Di

Indonesia,

data

nasional

mengenai

jumlah

operasi

tonsilektomi

atau

tonsiloadenoidektomi belum ada. Namun, data yang didapatkan dari RSUPNCM


selama 5 tahun terakhir (1999-2003) menunjukkan kecenderungan penurunan jumlah
operasi tonsilektomi.4 Sedangkan data dari rumah sakit Fatmawati dalam 3 tahun
terakhir

(2002-2004)

menunjukkan

kecenderungan

kenaikan

jumlah

operasi

tonsilektomi dan penurunan jumlah operasi tonsiloadenoidektomi.5


Anatomi dan Fisiologi Tonsil
Tonsil terdiri dari jaringan limfoid yang dilapisi oleh epitel respiratori.Tonsil
berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-masing tonsil mempunyai 10-30

7
kriptus yang meluas ke dalam jaringan tonsil. Cincin Waldeyer merupakan jaringan
limfoid yang membentuk lingkaran di faring yang terdiri dari tonsil palatina, tonsil
faringeal (adenoid), tonsil lingual, dan tonsil tubal. Walaupun tonsil terletak di
6 tonsil dapat meluas kearah nasofaring
orofaring karena perkembangan yang berlebih
sehingga dapat menimbulkan insufisiensi velofaring atau obstruksi hidung walau
jarang ditemukan.Arah perkembangan tonsil tersering adalah kearah hipofaring,
sehingga sering menyebabkan sering terjaganya anak saat tidur karena gangguan pada
jalan nafas.
Tonsil mendapat pendarahan dari cabang-cabang arteri karotis eksterna, yaitu 1)
arteri maksilaris eksterna (arteri fasialis) dengan cabangnya arteri tonsilaris dan arteri
palatina asenden
2) arteri maksilaris interna dengan cabangnya arteri palatina desenden
3) arteri lingualis dengan cabangnya arteri lingualis dorsal
4) arteri faringeal asenden.
Kutub bawah tonsil bagian anterior diperdarahi oleh arteri lingualis dorsal dan bagian
posterior oleh arteri palatina asenden, diantara kedua daerah tersebut diperdarahi oleh
arteri tonsilaris.
Kutub atas tonsil diperdarahi oleh arteri faringeal asenden dan arteri palatina
desenden.Aliran balik melalui vena-vena tonsil membentuk pleksus yang bergabung
dengan pleksus faring disekitar kapsul tonsil dan vena lidah.
Aliran getah bening dari daerah tonsil akan menuju rangkaian getah bening
servikal profunda (deep jugular node) bagian superior di bawah muskulus
sternokleidomastoideus, selanjutnya ke kelenjar toraks dan akhirnya menuju duktus
torasikus. Tonsil hanya mempunyai pembuluh getah bening eferan sedangkan
pembuluh getah bening aferen tidak ada.
Tonsil bagian bawah mendapat sensasi dari cabang serabut saraf ke IX (nervus
glosofaringeal) dan juga dari cabang desenden lesser palatine nerves.
A. Tonsil Palatina
Tonsil palatina merupakan suatu massa jaringan limfoid yang terletak di dalam
fossa tonsilaris diantara sudut orofaring antara arcus faring anterior dan arcus
faring posterior. Tonsil palatina tidak selalu mengisi seluruh fossa tonsilaris,
daerah kosong diatasnya dikenal sebagai fossa supratonsilar. Tonsil palatina
terletak di lateral orofaring dibatasi oleh :
Lateral : muskulus konstriktor faring superior

Anterior : muskulus palatoglossus


Posterior : muskulus palatofaringeus
Superior : palatum molle
Inferior : tonsil lingual

Permukaan tonsil palatina ditutupi epitel berlapis gepeng yang juga melapisi
invaginasi atau kripti tonsila.Banyak limfanodulus terletak di bawah jaringan ikat
dan tersebar sepanjang kriptus.Limfonoduli terbenam di dalam stroma jaringan
ikat retikular dan jaringan limfatik difus.Limfonoduli merupakan bagian penting
mekanisme pertahanan tubuh yang tersebar di seluruh tubuh sepanjang jalur
pembuluh limfatik.Noduli sering saling menyatu dan umumnya memperlihatkan
pusat germinal.
B. Tonsil Faringeal (adenoid)
Adenoid merupakan masa limfoid yang berlobus dan terdiri dari jaringan limfoid
yang sama dengan yang terdapat pada tonsil. Lobus atau segmen tersebut tersusun
teratur seperti suatu segmen terpisah dari sebuah ceruk dengan celah atau kantong
diantaranya.Lobus ini tersusun mengelilingi daerah yang lebih rendah di bagian
tengah, dikenal sebagai bursa faringeus. Adenoid tidak mempunyai kriptus.
Adenoid terletak di dinding belakang nasofaring. Jaringan adenoid di nasofaring
terutama ditemukan pada dinding atas dan posterior, walaupun dapat meluas ke
fosa Rosenmuller dan orifisium tuba eustachius.Ukuran adenoid bervariasi pada
masing-masing anak. Pada umumnya adenoid akan mencapai ukuran maksimal
antara usia 3-7 tahun kemudian akan mengalami regresi dan menghilang pada
umur 14 tahun.

C. Tonsil Lingual
Tonsil lingual terletak di dasar lidah dan dibagi menjadi dua oleh ligamentum
glosoepiglotika. Di garis tengah, di sebelah anterior massa ini terdapat foramen
sekum pada apeks, yaitu sudut yang terbentuk oleh papilla sirkumvalata.

10

Jenis Teknik Tonsilektomi


Ada beberapa teknik untuk melakukan tonsilektomi. Pada dasarnya, teknikteknik ini memiliki prinsip yang sama, hanya alat yang digunakan dan cara mengatasi
komplikasi yang berbeda. Teknik-teknik yang biasa digunakan untuk melakukan
tonsilektomi, antara lain:
1. Cara Guillotine Diperkenalkan pertama kali oleh Philip Physick (1828) dari
Philadelphia, sedangkan cara yang masih digunakan sampai sekarang adalah
modifikasi Sluder. Di negara-negara maju cara ini sudah jarang digunakan dan
di Indonesia cara ini hanya digunakan pada anak-anak dalam anestesi umum.
Posisi pasien telentang dalam anestesi umum. Operator di sisi kanan

berhadapan dengan pasien.


Setelah relaksasi sempurna otot faring dan mulut, mulut difiksasi dengan
pembuka mulut. Lidah ditekan dengan spatula.

11

Untuk tonsil kanan, alat guillotine dimasukkan ke dalam mulut melalui sudut

kiri.
Ujung alat diletakkan diantara tonsil dan pilar posterior, kemudian kutub
bawah tonsil dimasukkan ke dalam Iubang guillotine. Dengan jari telunjuk
tangan kiri pilar anterior ditekan sehingga seluruh jaringan tonsil masuk ke

dalam Iubang guillotine.


Picu alat ditekan, pisau akan menutup lubang hingga tonsil terjepit.
Setelah diyakini seluruh tonsil masuk dan terjepit dalam lubang guillotine,
dengan bantuan jari, tonsil dilepaskan dari jaringan sekitarnya dan diangkat

keluar. Perdarahan ditangani.


2. Cara diseksi Cara ini diperkenalkan pertama kali oleh Waugh (1909). Cara ini
digunakan pada pembedahan tonsil orang dewasa, baik dalam anestesi umum
maupun lokal. Teknik :
Bila menggunakan anestesi umum, posisi pasien terlentang dengan kepala

sedikit ekstensi. Posisi operator di proksimal pasien.


Dipasang alat pembuka mulut Boyle-Davis gag.
Tonsil dijepit dengan cunam tonsil dan ditarik ke medial
Dengan menggunakan respatorium/enukleator tonsil, tonsil dilepaskan dari
fosanya secara tumpul sampai kutub bawah dan selanjutnya dengan

menggunakan jerat tonsil, tonsil diangkat. Perdarahan ditangani.


3. Cryogenic tonsillectomy Tindakan pembedahan tonsil dapat menggunakan
cara cryosurgery yaitu proses pendinginan jaringan tubuh sehingga terjadi
nekrosis. Bahan pendingin yang dipakai adalah freon dan cairan nitrogen.
4. Electrosterilization of tonsil Merupakan suatu pembedahan dengan cara
koagulasi listrik pada jaringan tonsil (bedah listrik). Alat yang biasanya digunakan
adalah monopolar blade, monopolar suction, dan monopolar/bipolar diathermy.
Pada bedah listrik transfer energi berupa radiasi elektromagnetik (energi
radiofrekuensi) untuk menghasilkan efek pada jaringan. Frekuensi radio yang
digunakan dalam spektrum elektromagnetik berkisar pada 0.1 hingga 4 MHz.
Penggunaan gelombang pada frekuensi ini mencegah terjadinya gangguan
konduksi saraf atau jantung. Pada teknik ini elektroda tidak menjadi panas, panas
dalam jaringan terbentuk karena adanya aliran baru yang dibuat dari teknik ini.
Teknik ini menggunakan listrik 2 arah (AC) dan pasien termasuk dalam jalur
listrik (electrical pathway). Tenaga listrik dipasang pada kisaran 10 sampai 40 W
untuk memotong, menyatukan atau untuk koagulasi. Bedah listrik merupakan satu-

12
satunya teknik yang dapat melakukan tindakan memotong dan hemostase dalam
satu prosedur. Dapat pula digunakan sebagai tambahan pada prosedur operasi lain.
Indikasi Tonsilektomi
Indikasi tonsilektomi dulu dan sekarang tidak berbeda, namun terdapat
perbedaan prioritas relatif dalam menentukan indikasi tonsilektomi pada saat ini.Dulu
tonsilektomi diindikasikan untuk terapi tonsilitis kronik dan berulang. Saat ini, indikasi
yang lebih utama adalah obstruksi saluran napas dan hipertrofi tonsil.3 Indikasi
tonsilektomi dibagi atas 2 kategori berdasarkan America Academy of OtolaryngologyHead and Neck Surgery (AAO-HNS), indikasi absolut dan indikasi relatif.
Indikasi absolut
a) Pembengkakan tonsil yang menyebabkan obstruksi saluran napas, disfagia berat,
gangguan tidur dan komplikasi kardiopulmoner.
b) Abses peritonsil yang tidak membaik dengan pengobatan medis dan drainase.
c) Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam.
d) Tonsilitis yang membutuhkan biopsi untuk menentukan patologi anatomi.
Indikasi relatif
a) Terjadi 3 episode atau lebih infeksi tonsil per tahun dengan terapi antibiotik
adekuat.
b) Halitosis akibat tonsilitis kronik yang tidak membaik dengan pemberian terapi
medis.
c) Tonsilitis kronik atau berulang pada karier streptokokus yang tidak membaik
dengan pemberian antibiotik -laktamase resisten.
d) Perbesaran tonsil unilateral yang diduga keganasan
Pada keadaan tertentu seperti pada keadaan abses peritonsil (quincy), tonsilektomi
dapat dilakukan bersamaan dengan insisi abses.
Kontraindikasi
Terdapat beberapa keadaan yang disebutkan sebagai kontraindikasi atau
keadaan dimana operasi tonsilektomi sulit untuk dilakukan pada pasien tersebut,
namun bila sebelumnya dapat diatasi, operasi dapat dilaksanakan dengan tetap
memperhitungkan imbang manfaat dan risiko. Keadaan tersebut adalah:
Gangguan perdarahan
Risiko anestesi yang besar atau penyakit berat

13
Anemia
Infeksi akut yang berat
Persiapan Praoperasi
Keputusan untuk melakukan operasi tonsilektomi pada seorang pasien terletak
di tangan dokter ahli di bidang ini, yaitu dokter spesialis telinga, hidung dan tenggorok
(THT).Mengingat tonsilektomi umumnya dilakukan di bawah anestesi umum, maka
kondisi kesehatan pasien terlebih dahulu harus dievaluasi untuk menyatakan
kelayakannya menjalani operasi tersebut. Karena sebagian besar pasien yang menjalani
tonsilektomi adalah anak-anak dan sisanya orang dewasa, diperlukan keterlibatan dan
kerjasama dokter spesialis anak dan dokter spesialis penyakit dalam untuk memberikan
penilaian preoperasi terhadap pasien.6 Konsultasi ini dapat dilakukan baik oleh dokter
spesialis THT maupun spesialis anestesi. Penilaian preoperasi secara umum terdiri dari
penilaian klinis yang diperoleh dari anamsesis, rekam medik dan pemeriksaan
fisik.Penilaian laboratoris dan radiologik kadang dibutuhkan.Sampai saat ini masih
terdapat perbedaan baik di kalangan klinisi maupun institusi pelayanan kesehatan
dalam memilih pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan secara rutin atau atas indikasi
tertentu.Hal ini memiliki dampak pada keselamatan pasien selain meningkatnya biaya
kesehatan yang harus dikeluarkan pasien, pemerintah atau pihak ketiga.

14

Informed consent perlu diberikan pada pasien sehubung dengan tindakan,


komplikasi, dan risiko yang potensial dialami oleh pasien.Selain itu puasa harus
dilakukan sebelum operasi.Lamanya puasa tergantung pada umur pasien.

Perawatan Postoperasi
Antibiotika postoperasi diberikan oleh kebanyakan dokter bedah. Sebuah studi
randomized oleh Grandis dkk. Menyatakan terdapat hubungan antara berkurangnya

15
nyeri dan bau mulut pada pasien yang diberikan antibiotika postoperasi.Antibiotika
yang dipilih haruslah antibiotika yang aktif terhadap flora rongga mulut, biasanya
penisilin yang diberikan per oral.Pasien yang menjalani tonsilektomi untuk infeksi akut
atau abses peritonsil atau memiliki riwayat faringitis berulang akibat streptokokus
harus diterapi dengan antibiotika.Penggunaan antibiotika profilaksis perioperatif harus
dilakukan secara rutin pada pasien dengan kelainan jantung.
Pemberian obat antinyeri berdasarkan keperluan, bagaimanapun juga, analgesia
yang berlebihan bisa menyebabkan berkurangnya intake oral karena letargi.Selain itu
juga bisa menyebabkan bertambahnya pembengkakan di faring.Sebelum operasi,
pasien harus dimotivasi untuk minum secepatnya setelah operasi selesai untuk
mengurangi keluhan pembengkakan faring dan pada akhinya rasa nyeri.
Dalam hal ini terjadi kontroversi mengenai diet. Belum ada bukti ilmiah yang
secara jelas menyatakan bahwa memberikan pasien diet biasa akan menyebabkan
perdarahan postoperatif. Bagaimanapun juga, pemberian cairan secara rutin saat pasien
bangun dan secara bertahap pindah ke makanan lunak merupakan standar perawatan.
Komplikasi
Tonsilektomi merupakan tindakan bedah yang dilakukan dengan anestesi umum
maupun lokal, sehingga komplikasi yang ditimbulkannya merupakan gabungan
komplikasi tindakan bedah dan anestesi. Sekitar 1:15.000 pasien yang menjalani
tonsilektomi meninggal baik akibat perdarahan maupun komplikasi anestesi dalam 5-7
hari setelah operasi.7
1) Komplikasi anestesi
Komplikasi terkait anestesi terjadi pada 1:10.000 pasien yang menjalani
tonsilektomi dan adenoidektomi (brookwood ent associates).Komplikasi ini terkait
dengan keadaan status kesehatan pasien. Adapun komplikasi yang dapat
ditemukan berupa:8,9
o Laringospasme
o Gelisah pasca operasi
o Mual muntah
o Kematian saat induksi pada pasien dengan hipovolemi
o Induksi intravena dengan pentotal bisa menyebabkan hippotensi dan henti
jantung
o Hipersensitif terhadap obat anestesi
2) Komplikasi bedah10

16

Perdarahan Merupakan komplikasi tersering (0,1-8,1% dari jumlah


kasus).11Perdarahan dapat terjadi selama operasi, segera sesudah operasi atau
di rumah. Kematian akibat perdarahan terjadi pada 1:35.000 pasien. Sebanyak
1 dari 100 pasien kembali karena masalah perdarahan dan dalam jumlah yang
sama membutuhkan transfusi darah. Perdarahan yang terjadi dalam 24 jam
pertama dikenal sebagai early bleeding, perdarahan primer atau reactionary
haemorrage dengan kemungkinan penyebabnya adalah hemostasis yang tidak
adekuat selama operasi. Umumnya terjadi dalam 8 jam pertama. Perdarahan
primer ini sangat berbahaya, karena terjadi sewaktu pasien masih dalam
pengaruh anestesi dan refleks batuk belum sempurna. Darah dapat menyumbat
jalan napas sehingga terjadi asfiksia. Perdarahan dapat menyebabkan keadaan
hipovolemik bahkan syok. Perdarahan yang terjadi setelah 24 jam disebut
dengan late/delayed bleeding atau perdarahan sekunder. Umumnya terjadi
pada hari ke 5-10 pascabedah. Perdarahan sekunder ini jarang terjadi, hanya
sekitar 1%. Penyebabnya belum dapat diketahui secara pasti, bisa karena
infeksi sekunder pada fosa tonsilar yang menyebabkan kerusakan pembuluh

darah dan perdarahan dan trauma makanan yang keras.


Nyeri Nyeri pascaoperasi muncul karena kerusakan mukosa dan serabut
saraf glosofaringeus atau vagal, inflamasi dan spasme otot faringeus yang
menyebabkan iskemia dan siklus nyeri berlanjut sampai otot diliputi kembali
oleh mukosa, biasanya 14-21 hari setelah operasi. Nyeri tenggorok muncul
pada hampir semua pasien pascatonsilektomi. Penggunaan elektrokauter
menimbulkan nyeri lebih berat dibandingkan teknik cold diseksi dan teknik
jerat. Nyeri pascabedah bisa dikontrol dengan pemberian analgesik. Jika
pasien mengalami nyeri saat menelan, maka akan terdapat kesulitan dalam
asupan oral yang meningkatkan risiko terjadinya dehidrasi. Bila hal ini tidak
dapat ditangani di rumah, perawatan di rumah sakit untuk pemberian cairan

intravena dibutuhkan.
3) Komplikasi lain
Dehidrasi, demam, kesulitan bernapas, gangguan terhadap suara (1:10.000),
aspirasi, otalgia, pembengkakan uvula, insufisiensi velopharingeal, stenosis faring,
lesi di bibir, lidah, gigi dan pneumonia.

17

BAB III
KESIMPULAN
Tonsilektomi adalah operasi pengangkatan tonsil palatina baik unilateral
maupun bilateral. Tonsiloadenoidektomi adalah pengangkatan tonsil palatina dan
jaringan limfoid di nasofaring yang dikenal sebagai adenoid atau tonsil faringeal. 2
Tonsilektomi merupakan prosedur yang paling sering dilakukan dalam sejarah operasi.
Dari pembahasan yang telah dilakukan mengenai tonsilektomi, telah dikatakan
banyak sekali kontroversi yang dilaporkan mengenai tonsilektomi.Hal ini dikarenakan
pelaksanaan tonsilektomi dalam jumlah yang tidak tepat (seharusnya) pada anak-anak
pada tahun-tahun yang lalu.Besarnya jumlah ini karena keyakinan para dokter dan
orangtua tentang keuntungan tonsilektomi dan bukan berdasarkan bukti ilmiah atau
studi klinis.Sering kali pembesaran tonsil jarang merupakan indikasi untuk
pengangkatan tonsil. Kebanyakan anak-anak mempunyai tonsil yang besar, yang
ukurannya akan menurun sejalan dengan pertumbuhan usia.Saat ini walau jumlah
operasi tonsilektomi telah mengalami penurunan bermakna, namun masih menjadi

18
operasi

yang

paling

sering

dilakukan.

Sehingga

American

Academy

of

Otolaryngology-Head and Neck Surgery telah mengeluarkan rekomendasi resmi


mengenai tindakan tonsilektomi yang merupakan kesepakatan para ahli.Berdasarkan
indikasi dan kontraindikasi serta mempertimbangkan komplikasi yang dapat terjadi,
diharapkan dokter spesialis THT yang melakukan tonsilektomi dapat lebih selektif
dalam memilih pasien.

DAFTAR PUSTAKA
18
1. Eibling DE. Tonsillectomy. In: Myers EN, editor. Operative Otolaryngology Head
and Neck Surgery. Philadelphia: WB Saunders Company 1997.p.186-97
2. Bailey BJ. Tonsillectomy. In: Bailey BJ, Calhour KH, Friedman NR, Newlands
SD, Vrabec JT, editors. Atlas of Head and Neck Surgery- Otolaryngology.
Philadelphia:Lippincott Williams & Wilkins 2001.2nd edition.p.327-2- 327-6
3. Younis RT, Lazar RH. History and current practice of tonsillectomy. Laryngoscope
2002;112:3-5
4. Data operasi Tonsiloadenoidektomi tahun 1999-2003 Bagian THT FKUIRSUPNCM.
5. Data operasi Tonsiloadenoidektomi tahun 2002-2004 RS Fatmawati.
6. Rahardjo E, Sunatrio H, Mustafa I, Umbas R, Thayeb U, Windiastuti E, dkk.
Persiapan rutin prabedah elektif. HTA Indonesia 2003
7. Frey RJ. Gale Encyclopedia of Medicine. Published December, 2002 by the Gale
Group
8. Ferrari LR, Vassalo SA. Anesthesia for otolaryngology procedures. In: Cote CJ,
Todres ID, Ryan JF, Goudsouzian NG, editors. A Practice of anesthesia for infants
and children. Philadelphia: WB Saunders Company 2001. 3rd ed.p.461-67.

19
9. Joseph MM. Anesthesia for ear, nose, and throat surgery. In: Longnecker DE,
Tinker JH, Morgan GE,editors. Principles and practice of anesthesiology. London:
Mosby 1998.2nd ed.p.2208-10.
10. Adams GL,Penyakit-penyakit nasofaring dan orofaring. Dalam: Adams GL,Boies
buku ajar penyakit THT,Jakarta, Penerbit buku kedokteran EGC edisi 6, 2008 :
337-40
11. Randal DA, Hoffer ME. Complication of tonsillectomy and adenoidectomy.
Otolaryngol Head Neck Surg 1998;118:61-8

Anda mungkin juga menyukai