Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, maka dengan rahmat dan
karunia-Nya tersusunlah makalah ini, atas usaha penyusunan guna memenuhi tugas yang
berjudul Penelitian Budaya Toraja.
Namun demikian, di dalam penulisan makalah ini masih terdapat kekurangankekurangan atau kesalahan-kesalahan, hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan penyusun
atau masih dangkalnya ilmu pengetahuan yang penyusun miliki. Oleh karena itu, kepada para
pembaca sudilah kiranya memaklumi, disamping itu pula penyusun mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun.
Penyusun berharap semoga dengan tersusunnya makalah yang masih sederhana ini
dapat bermanfaat bagi segenap pembaca yang budiman dalam upaya peningkatan dan
penambah wawasan nasionalisme dan bentuk-bentuknya yang ada di Indonesia.
Akhirnya penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.
Amin.
Wassalam
Manimpahoi, 30 Januari 2015
Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................ i
DAFTAR ISI............................................................................................................. ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ..................................................................................... 4
1.2 Perumusan Masalah ........................................................................................... 4
1.3 Tujuan ................................................................................................................ 5
BAB II GAMBARAN UMUM KEBUDAYAAN WILAYAH TORAJA
2.1 Kondisi Geografis .............................................................................................. 6
2.2 Kondisi Demografis ........................................................................................... 7
2.3 Sosial-Ekonomi ...................................................................................................8
BAB III KEBUDAYAAN MASYARAKAT TORAJA
3.1 Sejarah .................................................................................................................
3.2 Sistem Kekerabatan ............................................................................................ 10
3.3 Sistem Perkawinan............................................................................................... 11
3.4 Sistem Perkampungan ..........................................................................................11
BAB IV OBYEK WISATA DAN ATRAKSI WISATA
4.1 Obyek Wisata Alam...............................................................................................14
4.2 Obyek Wisata Budaya..........................................................................................14
4.3 Seni Tradisional Toraja........................................................................................ 15
BAB V KESIMPULAN ...........................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 17

10

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Indonesia terkenal dengan penghasil rempah-rempah terbesar di dunia yang banyak
diminati oleh bangsa-bangsa lain. Selain itu juga mempunyai banyak berbagai macam
kebudayaan baik yang sudah tercampur oleh kebudayaan lain maupun kebudayaan aslinya
yang mana masih dipertahankan oleh masyarakatnya yang tersebar luas di seluruh pelosok
tanah air mulai dari sabang sampai merauke, salah satunya kebudayaan yang berada di Tana
Toraja.
Tana Toraja, disamping terkenal sebagai kawasan wisata juga merupakan penghasil
produksi pertanian di provinsi Sulawesi Selatan dan juga masyarakatnya terkenal sebagai
pemegang teguh adat seperti masih adanya upacara kematian yang di sebut Rambu Solok dan
upacara kegembiraan yang disebut Rambu Tuka.
Oleh karena itu, kami sangat tertarik dengan kebudayaan dan kepercayaan yang ada di
Tana Toraja dimana masyarakatnya masih mempertahankan kebudayaan aslinya.

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan
sebagai berikut:
1. Bagaimana gambaran umum kebudayaan dilihat dari segi geografi, demografi, dan
sosial ekonomi?
2. Bagaimana sejarah kebudayaan masyarakat Toraja?
3. Bagaimana karakteristik kebudayaan dilihat dari sistem kekerabatan dan sistem
perkampungan atau organisasi?

1.3 Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:


1. Mengidentifikasi gambaran umum tentang kebudayaan Tana Toraja.
2. Mengkaji perkembangan sejarah kebudayaan suku bangsa tana toraja
3.Mengkaji sistem kekerabatan, sistem perkampungan/ organisasi sosial.

BAB II GAMBARAN UMUM KEBUDAYAAN

2.1 Kondisi Geografis


Secara administratif, saat ini Tana Toraja yang biasa disingkat Tator merupakan kabupaten
yang dipimpin oleh seorang bupati. Luasnya3.205,77 Km2. Terletak antara 2o dan 3o LS,
serta 119o dan 120o BT, dengan batas wilayah di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten
Luwu dan Mamuju, di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Luwu, di sebelah selatan
berbatasan dengan Kabupaten Enrekang dan Pinrang, dan di sebelah barat berbatasan dengan
Kabupaten Polmas. Topografinya merupakan pegunungan dan dataran tinggi, dengan
ketinggian 300 289 meter di atas permukaan laut.Secara administratif, saat ini Tana Toraja
yang biasa disingkat Tator merupakan kabupaten yang dipimpin oleh seorang bupati.
Luasnya Kabupaten Tana Toraja dengan ibu kota Kabupaten Makale, terbagi dalam 9
kecamatan yaitu : Rinding Allo, Sesean, Rantepo, Sanggalangi, Saluputti, Bonggakaradeng,
Makale, Sangalla, dan Mengkendek.
2.2 Kondisi Demografis
Menurut hasil penelitian, suku bangsa Toraja dapat digolongkan kedalam ras melayu
tua (proto melayu) yang diperkirakan berasal dari India Belakang, dan merupakan gelombang
imigrasi Asia yang pertama bersama-sama dengan orang Dayak di Kalimantan dan Batak di
Sumatera Utara. Sewaktu masuk ke Indonesia, mereka sudah mengenal kebudayaan
perunggudari Dongson (Vietnam Utara) atau Tiongkok barat. Hal ini dilihat dari cara hidup
dan hiasan-hiasan yang banyak terdapat di Tana Toraja juga ditemukan dalam kebudayaan
Dongson, antara lain hiasan yang berupa spiral bertolak belakang yang diukirkan pada kayu
dan tanah bakar (Sampurno.S, 1980: 75)
Berdasarkan hasil pencatatan penduduk akhir tahun 1989, jumlah penduduk
Kabupaten Tana Toraja sebanyak 346.929 jiwa, terdiri dari pria 171.932 jiwa dan wanita
174.997 jiwa. Dari jumlah penduduk tersebut tercatat bahwa jumlah penduduk usia dewasa

lebih besar daripada penduduk usia anak-anak. Demikian pula, persebaran penduduk tidak
merata pada semua kecamatan di Tana Toraja. (Said, 2004:7)
Adapun bahasa yang digunakan oleh masyarakat Toraja yaitu bahasa Toraja itu
sendiri. Bahasa Toraja adalah bahasa yang dominan di Tana Toraja, dengan Sa'dan Toraja
sebagai dialek bahasa yang utama. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional adalah bahasa
resmi dan digunakan oleh masyarakat, akan tetapi bahasa Toraja pun diajarkan di semua
sekolah dasar di Tana Toraja.
Ragam bahasa di Toraja antara lain Kalumpang, Mamasa, Tae' , Talondo' , Toala' , dan
Toraja-Sa'dan, dan termasuk dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia dari bahasa
Austronesia. Pada mulanya, sifat geografis Tana Toraja yang terisolasi membentuk banyak
dialek dalam bahasa Toraja itu sendiri. Setelah adanya pemerintahan resmi di Tana Toraja,
beberapa dialek Toraja menjadi terpengaruh oleh bahasa lain melalui proses transmigrasi,
yang diperkenalkan sejak masa penjajahan. Hal itu adalah penyebab utama dari keragaman
dalam bahasa Toraja.
Ciri yang menonjol dalam bahasa Toraja adalah gagasan tentang duka cita kematian.
Pentingnya upacara kematian di Toraja telah membuat bahasa mereka dapat mengekspresikan
perasaan duka cita dan proses berkabung dalam beberapa tingkatan yang rumit. Bahasa
Toraja mempunyai banyak istilah untuk menunjukkan kesedihan, kerinduan, depresi, dan
tekanan mental. Merupakan suatu katarsis bagi orang Toraja apabila dapat secara jelas
menunjukkan pengaruh dari peristiwa kehilangan seseorang; hal tersebut terkadang juga
ditujukan untuk mengurangi penderitaan karena duka cita itu sendiri. Wikipedia (2010)

2.3 Kondisi Sosial Ekonomi


Sebagian besar penduduk Tana Toraja adalah petani, sementara tenaga kerja lainnya
bergerak di berbagai bidang antara lain di sektor sektor : pemerintahan, perdagangan, hotel

dan restoran, industri pengolahan, bangunan, angkutan dan komunikasi, bank dan lembaga
keuangan, dan industri kerajinan.
Sistem mata pencaharian hidup masyarakat Tana Toraja disebut Undaka Katuan , yang
bergerak di sektor pertanian. Hal ini disebabkan masih tersedianya lahan pertanian/
perkebunan yang cukup luas, sedangkan sektor lapangan kerja lain yang memungkinkan
untuk menyerap tenaga kerja yang banyak dengan latar belakang pendidikan relatif
rendah dapat dikatan masih sedikit. Mata pencaharian hidup di bidang pertanian tersebut
dikenal dengan istilah Mukhun Dilitak, yang dapat dibedakan atas mapalak (berkebun) dan
mauma (bertani).
Selain mata pencaharian di bidang pertanian, banyak penduduk yang mengusahakan
jenis mata pencaharian yang lain seperti peternakan, industri kerajinan rakyat, perdagangan
dan karyawan (pemerintah atau swasta). Dalam sektor peternakan jenis hewan ternak yang
dipelihara antara kerbau, babi, itik, dan ayam serta ikan mas. Sedangkan kerajinan rakyat,
menghasilkan kerajinanukiran pada kayu dan bambu anyaman dari bambu dan daun lontar,
tenun, pandai besi, dan lain-lain. Hasil produksi kerajinan rakyat setempat umumnya dijual
dalam bentuk souvenir untuk wisatawan, yang kebanyakan dijajakan di sekitar kawasan objek
wisata.

BAB III
KEBUDAYAAN MASYARAKAT
3.1 Sejarah
Pengertian sejarah itu sendiri yaitu ilmu yang mempelajari kejadian-kejadian atau
peristiwa-peristiwa di masa lampau yang memiliki nilai social politik bagi masyarakat,
dipergunakan untuk analisis pada masa kini dan digunakan untuk memprediksi peristiwaperistiwa yang akan datang.
Berdasarkan pengertian tersebut, dapat dihubungkan dengan sejarah yang ada di Tana
Toraja. Nama suku Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sindengreng dan Luwu. Orang
Sidengreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung arti
Orang yang berdiam di pegunungan sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang
artinya Orang yang berdiam di sebelah barat
Adapun agama dan kepercayaan yang dianut oleh suku bangsa Tana Toraja yaitu
masyarakatnya telah banyak menganut agama nenek moyang secara turun temurun yaitu
kepercayaan Aluk Todolo, atau Alukta yang berarti Orang dari Toraja berasal dari langit.
Orang Toraja beranggapan bahwa Alukta ini, sama tuanya dengan diciptakannya nenek
manusia yang pertama, yakni Datu Laukku.
Kepercayaan Alukta ini merupakan ajaran yang diwariskan secara turun menurun oleh
Datu Laukku yang mengemukakan, bahwa di luar diri manusia terdapat tiga unsur kekuatan
yang wajib dipercayai kebenaran dan kekuasaannyan oleh para penganutnya. Kepercayaan ini
digolongkan oleh pemerintah kedalam kelompok agama Hindu. (Depdikbud Dirjen
Kebudayaan, 25)
Akan tetapi, setelah datangnya agama Samawi kepercayaan yang dianut oleh
masyarakat Toraja didominasi oleh agama Kristen (Protestan atau Katolik) yang berjumlah

49.523 jiwa memeluk agama Kristen Katolik dan 233.919 jiwa memeluk agama Kristen
Protestan. Namun, dapat dikatakan bahwa masyarakat setempat masih memegang teguh adat
istiadat berdasarkan Aluk Todolo yang terdiri dari 7.777 Aluk yang memuat 7 azas, yang
terdiri tiga azas ketuhanan dan empat azas persekutuan hidup, yaitu:
1. Percaya dan menyembah kepada Puang Matua (sang Pencipta).
2. Deata-deata dewa pemeliharaan
3. Tomembali puang atau Todolo(leluhur yang mengawasi dan memperhatikan perikehidupan
keturunannya.
4. Persekutan hidup manusia yanga disebut Aluk MaqloloTau keturunan.
5. Persekutuan hidup hewan ternak yang disebut Aluk Petuoon (ternak).
6. Persekutuan hidup tanaman dan tanah pertanian yang disebut Aluk Tanaman.
7. Persekutuan hidup bangunan rumah yang disebut Aluk Bangunan Banua. (Depdikbud
Dirjen Kebudayaan, 27)
3.2 Sistem Kekerabatan
Siulu (keluarga batih) merupakan unsur terkecil dalam sistem kekerabatan masyarakat Toraja.
Di samping itu di kenal pula keluarga luas extended yang terdiri dari beberapa keluarga batih,
yang masih seketurunan. Hubungan kekerabatan dapat terbentuk berdasarkan
dua hal, yaitu:
a. adanya pertalian darah (kandappi)
b. Melalui perkawinan (rampean)
Untuk menjaga kelangsungan hubungan kekerabatan dilakukan dengan cara menjamin hak
dan kewajiban setiap kelompok kekerabatan. Misalnya hak penguasaan atas tanah, harta,
kedudukan, dan sebagainya. Di samping itu kewajiban-kewajiban dari setiap kelompok
kekearabatan harus dilaksanakan, misalnya yang dapat diketahui pada saat pembuatan rumah
tongkonan secara bergotong royong, saling bantu dalam penyelenggaraan upacara-upacara

adat terutama upacara rambu solo, mengerjakan sawah, panen, dan lain-lain. Dalam hal ini
fungsi utama suatu keluarga adalah menanamkan nilai-nilai budaya yang berlaku kepada para
anggotanya untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan sosial budaya.
3.3 Sistem Perkawinan
Sistem perkawinan yang berorientasi pada lapisan sosial masyarakat. Seorang wanita dari
golongan Tana Bulaan tidak diperkenankan kawin dengan pria yang berasal dari golongan
lebih rendah. Apabila perkawinan itu tetap berlangsung, mereka akan dikenakan sanksi adat.
Peristiwa demikian disebut Untekaq Palandian atau Untekaq Layuk (melangkahi turunan).
Sedangkan bagi seorang pria boleh saja beristri seorang wanita yang golongannya lebih
rendah, akan tetapi mereka tidak bisa dinikahkan secara adat dan keturunan mereka tidak
berhak mendapat warisan atau gelar Tana Bulaan.
3.4 Sistem Perkampungan/ Organisasi Sosial
Dalam kehidupan masyarakat Toraja, dikenal adanya pelapisan sosial
yang disebut dengan Tana (kasta) yang sangat mempengaruhi perkembangan masyarakat dan
kebudayaan Toraja . Menurut L.T. Tangdilintin (1974, 75) mengatakan bahwa pelapisan
sosial membedakan masyrakat atas empat golongan masyarakat, yaitu:
a. Tana Bulaan, adalha lapisan masyarakat atas atau bangsawan tinggi sebagai pewaris
sekurang aluk, yaitu dipercayakan untuk membuat aturan hidup dan memimpin agama,
dengan jabatan puang, maqdika, dan Sokkong bayu (siambeq).
b. Tana bassi, adalah lapisan bangsawan menengah sebagai pewaris yang dapat menerima
maluangan batang(pembantu pemerintahan adat) yang ditugaskan mengatur masalah
kepemimpinan dan pendidikan.
c. Tana Karurunge adalah lapisan masyarakat kebanyakan yang merdeka, tidak pernah
diperintah langsung. Golongan ini sebagai pewaris yang menerima Pande, yakni ketrampilan
pertukangan, dan menjadi Pembina aluk todolo untuk urusan aluk petuoan, aluk tanaman

yang dinamakan Toindoq padang (pemimpin upacara pemujaan kesuburan).


d. Tana Kua-kua adalah golongan yang berasal dari lapisan hamba sahaya, sebagai pewaris
tanggung jawab pengabdi kepada tana bulaan dan tana bassi. Golongan ini disebut juga
tana matuqtu inaa (pekerja), juga bertindak sebagai petugas pemakan yang disebut
tomebalun atau tomekayu (pembuat balun orang mati). Lapisan tana kua-kua ini dihapuskan
oleh pemerintah Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan karena tidak sesuai dengan
harkat dan martabat manusia. Namun kenyataannya dalam pelaksaaan upacara-upacara adat
golongan ini masih terlihat.
Keempat golongan lapisan sosial tersebut merupakan dasar atau pedoman yang dijadikan
sendi bagi kebudayaan kehidupan sosial masyarakat Toraja, terutama dalam interaksi dan
aktifitas masyarakat, seperti pada saat diselenggarakan upacara perkawinan, pemakaman,
pengangkatan ketua atau pemimpin adat dan sebagainya. Misalnya dalam upacara
pengangkatan seorang pemimpin, yang menjadi penilaian utama adalah dari golongan apa
orang yang bersangkutanberasal. Kedudukan dalam sistem kepemimpinan tradisional
berkaitan dengan sistem pelapisan sosial yang berlaku dalam serta kepemilikan tongkonan
(rumah adat).
Demikian pula Dalam sistem perkawinan, dan pembagian warisan juga berorientasi pada
lapisan sosial masyarakat. Seorang wanita dari golongan tana bulaan tidak diperkenankan
kawin dengan pria yang berasal dari golongan lebih rendah. Apabila perkawinan itu tetap
berlangsung, mereka akan dikenakan sanksi adat. Peristiwa demikian disebut unteqaq
palansian atau untekaq layuq (melangkahi turunan). Sedangkan bagi seorang pria boleh saja
beristeri seorang wanita yang golongannya lebih rendah, akan tetapi mereka tidak bisa
dinikahkan secara adat, dan keturunan mereka tidak berhak mendapat warisan atau gelar
sebagai tana bulaan.

Dalam pelasanaan upacara pemakaman (rambu solo) banyaknya hewan yang akan dipotong
sebagai korban bergantung disesuaikan dengan golongan sosial yang menyelenggarakan
upacara. Misalnya golongan tana bulaan, sebagai lapisan sosial tertinggi, harus
mengorbankan lebih banyak hewan dibandingkan golonagan sosial lainnya. Hewan yang
akan dipotong harus dalam keadaan sehat, tubuhnya besar/gemuk, dan tanduknya panjang.

BAB IV
OBYEK WISATA DAN ATRAKSI WISATA
4.1 Obyek Wisata Alam
Tana Toraja sebagai salah satu primadona daerah tujuan wisata di Propinsi Sulawesi Selatan,
memiliki kekayaan obyek dan atraksi wisata yang menonjol serta menarik untuk dikunjungi
oleh wisatawan.
Kabupaten Tana Toraja merupakan daerah pegunungan yang indah dan menarik dikelilingi
oleh lembah dan jurang serta dialiri sungai.Beberapa jenis obyek wisata yang terdapat di Tana
Toraja diantaranya:
1. Sumber air panas
Sumber air panas yang terletak di kabupaten Tana Toraja terdapat sembilan sumber air panas
yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai suatu Health Resort dengan berbagai
macam pasilitas.
2. Pemandian Alam Tilangunga
Pemandian ini memperoleh air dari mata air yang berbentuk khas, sangat jernih, dan tidak
pernah kering sepanjang tahun.
3. Perkebunan
Objek wisata ini berupa areal perkebunan yang biasa disebut wisata agro, yaitu yang
menyangkut tumbuh-tumbuhan seperti jenis tumbuhan cengkeh, kopi, pala, vanili, lada,
coklat, dll.
4.2. Obyek Wisata Budaya
Umumnya objek wisata budaya di Tana Toraja berupa bangunan-bangunan tua, patung, dll,
seperti:
1. Tongkonan (Rumah Adat)
2. Alang (Lumbung)

3. Kabongo (Patung Kepala Kerbau)


4. Katik (Patung Kepala Burung/Ayam yang berleher panjang)
5. Liang (Kuburan Adat Toraja) (Said, 2004:71-83)
4.3. Seni Tradisional Toraja
Dalam tradisi khas Toraja, karya seni yang sangat menonjol adalah dalam bentuk arsitektur
yaitu berupa bangunan Rumah Adat (Tongkonan) dan Lumbung Padi (Alang). Dinding
Tongkonan dan Alang diukir dengan ragam hiasan yang disebut Tongkonan Sura (Banua
Sura), namun ukiran-ukiran tersebut tidak semua rumah dan lumbung padi dengan ukiran
tersebut karena beberapa motif ukiran merupakan simbol status sosial bagi orang-orang
tertentu dalam masyarakat Toraja.
Seni tradisional di Toraja meliputi:
1. Ukiran dan Tenunan
Keterampilan tersebut diwarisi secara turun menurun dan telah membudaya dalam
masyarakat Toraja.
2. Seni pertunjukannya yaitu seni tari dan musik
Kesenian tersebut diselenggarakan pada upacara-upacara adat Rambu Tuka dan Rambu Solo.
Tarian yang biasa digelar pada upacara Rambu Tuka antara lain Tari Pagellu, Tari Pa, Tari
Dao Bulan, Tari Ma Dandan, dan Tari Manimbong. Sedangkan pada upacara Rambu Solo
tarian yang digelar antara lain: tari Ma Bodong, tari Ma Katia, tari Passailo, dan tari
Papangan.
Adapun musik tradisional Toraja meliputi Passuling, Papelle, dan Papompang. Musik
tersebut pada umumnya terbuat dari bahan baku alam, seperti bambu, batang padi, daun enau,
dan tempurung kelapa yang dimainkan pada upacara adat. (Said, 2004:41-45)

BAB V
KESIMPULAN
Dilihat dari gambaran umum, berdasarkan kondisi geografisnya, Tana Toraja memiliki
luas3.205,77 km2 dan terletak antara 2o dan 3o LS, serta 119o dan 120o BT, dengan batas
wilayah di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Luwu dan Mamuju, di sebelah Timur
berbatasan dengan Kabupaten Luwu, di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten
Enrekang dan Pinrang, dan di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Polmas.
Topografinya merupakan pegunungan dan dataran tinggi, dengan ketinggian 300 289 meter
di atas permukaan laut. Berdasarkan kondisi demmografis, suku bangsa Toraja dapat
digolongkan kedalam ras melayu tua (proto melayu) yang diperkirakan berasal dari India
Belakang, dan merupakan gelombang imigrasi Asia yang pertama bersama-sama dengan
orang Dayak di Kalimantan dan Batak di Sumatera Utara. Jumlah penduduk kabupaten Tana
Toraja sebanyak 346.929 jiwa, terdiri dari pria 171.932 jiwa dan wanita 174.997 jiwa. Bahasa
yang dimiliki pun beranekaragam, tapi hanya Saadan Toraja yang menjadi dialek utama dan
menjadi bahasa yang dominant bagi masyarakat tersebut. Bertani adalah salah satu sektor
ekonomi yang dominan bagi masyarakat Toraja.Dilihat dari gambaran umum, berdasarkan
kondisi geografisnya, Tana Toraja memiliki luas
Dilihat dari sejarahnya, nama suku Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sindengreng
dan Luwu. Orang Sidengreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang
mengandung arti Orang yang berdiam di pegunungan sedang orang Luwu menyebutnya To
Riajang yang artinya Orang yang berdiam di sebelah barat.

DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Aminah, Siti PH., Faisal dkk. 1993. Dampak Pengembangan Pariwisata Terhadap Kehidupan
Budaya Daerah Sulawesi Selatan. Jakarta: Depdikbud.
Said, Abdul Azis. 2004. Simbolisme Unsur Visual Rumah Tradisional Toraja. Yogyakarta:
Ombak.
Internet:
Wikipedia. Suku Toraja. (http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Toraja)
UKDW. Kebudayaan Toraja. (http://students.ukdw.ac.id/~23050034/kebudayaan.htm)
Wordpress. Ketegangan Budaya Nenek Moyang dan Agama Dalam Masyarakat Toraja.
(http://maulanusantara.wordpress.com/2007/11/13/ketegangan-budaya-nenek- moyang-danagama-dalam-masyarakat-toraja/)
Wikipedia. Tana Toraja Andalan Wisata Sulawesi Selatan. (http://www.wikipedia.org/tanatoraja-andalan-wisata-sulawesi-selatan), diakses 25 April 2010.

Anda mungkin juga menyukai