Anda di halaman 1dari 11

Disharmoni Dento Maksiler terkait Pencabutan Seri

Disharmoni dentomaksiler adalah ketidakseimbangan antara dimensi


mesiodistal gigi permanen dengan perimeter lengkungan alveolar,
kelangsungan lengkung gigi pada permukaan proksimal tidak lagi sesuai.
Tanda yang paling jelas adalah ukuran lengkung gigi. Disharmoni
dentomaksiler membedakan :

DDM oleh kelebihan ketika gigi lebih besar dari rata-rata


DDM adalah ketika gigi lebih kecil dari rata-rata untuk volume
rahang normal. Lokasi ketidakharmonisan tersebut dapat di
antreior, lateral, atau posterior ( ANAES, 2002).

Menurut Anggaraini (1975) etiologi Disharmoni dentomaksiler adalah


faktor herediter. Karena tidak adanya harmoni antara besar gigi dan
lengkung gigi maka keadaan klinis yang dapat dilihat adalah adanya
lengkung geligi dengan diastema yang menyeluruh pada lengkung geligi
bila gigi-gigi kecil dan geligi normal, meskipun hal ini jarang dijumpai.
Keadaan yang sering dijumpai adalah gigi-gigi besar pada lengkung gigi
yang normal atau gigi-gigi yang normal pada lengkung geligi yang yang
kecil sehingga menyebabkan gigi berdesakan. Meskipun pada disharmoni
dentomaksiler didapatkan gigi-gigi berdesakan tetapi tidak semua gigi
yang berdesakan disebabkan karena disharmoni dentomaksiler.
Disharmoni dentomaksiler mempunyai tanda-tanda klinis yang khas.
Gambaran maloklusi seperti ini bisa terjadi di rahang atas maupun di
rahang bawah (Pambudi,2012).
Selain itu ada beberapa faktor lain yang juga mendukung timbulnya
kelainan ini, yaitu faktor lokal seperti gaya hidup, misalnyaanak tersebut
kurang mengkonsumsi makanan keras sehingga pertumbuhan rahang
kurangmaksimal, dan ukuran rahang menjadi lebih kecil dari ukuran yang
seharusnya. Hal ini menyebabkan disharmoni dentomaksiler tipe transitoir.
Pada disharmoni dento maksiler tidak harus terjadi pada kedua rahang
ataupun pada kedua sisi, namun bisa terjadi hanya pada salah satu sisi

ataupun pada salah satu rahang. Namun pada umumnya disharmoni


dentomaksiler lebih sering terlihat pada rahang atas karena lengkung
rahang untuk tempat erupsi gigi permanen pada rahang atas hanya
terbatas pada tuberositas maksila saja, sedangkan pada rahang bawah
sampai pada ramus ascenden (Buku Ajar Orthodonsi 2. 2003. 54-55).
Adapun etiologi disharmoni dento maksiler yang lain menurut tulisan
Bassigny F. adalah :
1. Faktor Patologis : Gigi sulung tanggal prematur atau gigi terdorong
ke mesial secara berlebihan dapat menjadi penyebab dari DDM
tertentu selama erupsi gigi taring dan geraham kedua dan ketiga .
2. Persistensi Gigi Sulung
3. Trauma
4. Kebiasaan buruk (menghisap ibu jari, mengisap bibir bawah)
5. Faktor keturunan : Seorang individu dapat mewarisi gigi besar
salah satu orang tua dan basis tulang kecil yang lain.
6. Ketidaksinkronan pertumbuhan gigi dan rahang
7. Ketidakseimbangan antara kekuatan konsentris (pipi dan otot
orofacial) dan kekuatan eksentrik.

Diagnosis

1. DDM positif : ketika pada keadaan terdapat gigi microdontia. Keadaan


klinisnya adanya diastema tanpa kurva spee yang meningkat.
2. DDM negatif : ketika pada keadaan terdapat gigi macrodontia.
Keadaan klinisnya salah satunya adalah terlihat gummy smile dan kurva

of

spee

yang

berlebihan.

(Flaggada,

2013)

DDM dibagi menjadi tiga tipe :

1.Tipe berdesakan,

merupakan keadaan yang sering dijumpai yaitu ukuran gigi-gigi


yang berukuran besar pada lengkung geligi yang normal, atau
ukuran gigi normal pada lengkung geligi yang kecil sehingga

menyebabkan letak gigi berdesakan.


Ditandai dengan exostem gigi caninus permanen . PadaDDM
crowded terjadi ketidakseimbangan antara volumerahang dan gigi,
karena faktor herediter. Misalnyavolume rahang kecil tetapi ukuran
gigi normal atau dapat juga volume rahang normal tetapi ukuran gigi
besar.
Ada patokan range mesial distal secara umum untuk m e n e n t u k a
n u k u r a n s u a t u g i g i a p a k a h g i g i t e r s e b u t masuk kedalam
kategori berukuran besar atau kecil.
Urutan erupsi gigi RA : 6-1-2-4-5-3-7-8
Urutan erupsi gigi RB : 6-1-2-3-4-5-7-8
Gigi yang mengalami erupsi pertama kali adalah gigi I1RA dan gigi
tersebut berukuran cukup besar sehinggamembutuhkan tempat
yang luas. Karena volume gigi I1yang sangat besar, gigi ini tidak cukup
hanya meresorbsigigi I1 sulung, tetapi jugan meresorbsi I2 sulung
yang pada akhirnya menyebabkan I2 sulung tanggal
prematur.Selanjutnya gigi I2 permanen erupsi namun gigi ini
tidak memiliki tempat yang
cukup, sehingga I2 permanenmeresorbsi gigi C sulung sehi
ngga C sulung
tanggal prematur. Yang nantinya berakibat C permanen tidak mend
apatkan tempat sehingga terjadi exostem.
Jika ada kondisi dimana terdapat gigi I2 di palatal, makagigi tsb akan erupsi ke
arah incisal dengan cara bergerak ke labial sehingga sesuai dengan lengkung
gigi.
I2 permanen atas palatoversi : karena gigi tersebut
gagalmeresorbsi gigi C sulung sehingga sehingga C
sulungtidak tanggal prematur dan gigi tsb juga tidak punya
tempat hingga akhirnya gigi itu tumbuh di tempat benihitu tertanam.

Gejala DDM jarang nampak di RB karena urutan erupsiRB tumbuh


secara berurutan. Jadi kebanyakan pada RB
DDM tidak menunjukkan gejala klinis.
Gejala klinisDDM:
1.Ke 4 insisiv tumbuh di lengkung gigi yang benar danC exostem.
2.I2 permanen palatoversi dengan C normal pad
a lengkungnya atau C exostem, sedangkan I2 permanennormal.
Penyebab erupsi tidak sesuai dengan urutan adalahk
arena multifaktor, diantaranya karena adanya dorongand a r i g i g i g i g i y a n g a k a n e r u p s i d a n a k a r n y a s u d a h terbentuk.
Persistensi gigi sulung : gigi permanen yang senamadengan
gigi sulung sudah erupsi tetapi gigi sulung
tsbtidak teresorbsi oleh gigi permanen tsb. Karena gigi perm
anen tsb bergerak ke incisal dan labial.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi gerak gigi:
-Tidak punya daya erupsi.
-Impacted.
Klasifikasi maloklusi menurut Angle, menyatakan
relasiR A d a n R B d e n g a n m e n g g u n a k a n p a t o
k a n M 1 permenen RA dan RB.
1. Angle Klas 1 (Neutroklusi):
Cusp mesio bukal M1RA berkontak dengan bukal groove M1 RB.
2. Angle Klas 2 (Distoklusi):
Cusp mesio bukal M1 RAsaat oklusi berada diantara P2 dan M1 RB.
3.Angle Klas 3 (Mesioklusi):
Cusp mesio bukal M1 RA berada diantara M1 dan M2 RB.
2. Multiple Diastema

Merupakan space antara dua gigi (dimana terlih


a t gingiva) yang bersebelahan. Jika ada diantara gigi I1 per
manen disebut diatema sentral. Diastema terjadi karena :
1.Volume rahang normal tapi gigi kecil.
2.Volume gigi normal tapi volume rahang kecil.
Untuk mendeteksi DDM Diastema dapat dilihat dari jumlah gi
gi yang hilang, gigi tanggal prematur, ukurangigi, dan ukuran rahang.
Tidak semua diastema multipledikarenakan oleh DDM. Jadi harus
dilihat dari berbagaimacam faktor.

3.Tipe transitoir, ketidakharmonisan erupsi gigi dengan pertumbuhan


tulang, yang menyebabkan gigi berdesakan. DDM tipe transitoir ini bisa
terkoreksi seiring bertambahnya usia karena pertumbuhan tulang rahang
dan ukuran gigi tetap, sehingga keterlambatan pertumbuhan, maka tidak
dianjurkan melakukan pencabutan karena dapat menyebabkan diastema.

Untuk mendiagnosa DDM tipe transitoir bisa dilakukan perbandingan


antara gambaran normal gigi geligi saat itu dengan gambaran dari gigi
pasien. (Buku Ajar Orthodonsi 2. 2003. 54-55)
Tanda-tanda klinis suatu disharmoni dentomaksiler di regio anterior yang
mudah diamati antara lain sebagai berikut :
Fase Geligi Sulung

Tidak ada diastema fisiologis pada fase geligi sulung yang secara
umum dapatdikatakan bahwa bila pada fase geligi sulung tidak ada
diastema fisiologis dapatdiduga bahwa kemungkinan besar akan
terjadi gigi berdesakan bila gigi-gigi permanennya erupsi.

Fase Geligi Pergantian

Pada saat gigi 1 permanen akan erupsi, gigi ini meresorpsi akar
gigi 1 sulung dan 2 sulung secara bersamaan sehingga gigi 2
sulung tanggal prematur.

Gigi 1permanen tumbuh dalam posisi normal oleh karena


mendapat tempat yangcukup. Bila letak gigi 1 permanen tidak
normal berarti penyebabnya bukan DDM murni tapi ada penyebab
lain.

Pada saat gigi 2 permanen akan erupsi dapat terjadi dua


kemungkinan.
Kemungkinan pertama gigi 2 permanen akan meresorpsi akar gigi
3 sulung

sehingga gigi 3 sulungtanggal

prematur

dan

gigi

permanen tumbuh dalam letak yang normal karenatempatnya


cukup. Selanjutnya gigi 3 permanen akan tumbuh di luar lengkung
geligi(biasanya di bukal) karena tidak mendapat tempat yang
sebagian telah ditempati giig2 permanen. Pada kasus kekurangan

tempat yang besar, sisi distal gigi 2 permanen berkontak dengan


sisi mesial gigi 4 sulung.

Kemungkinan kedua adalah gigi 2 permanen tidak meresorpsi akar


gigi 3 sulungtetapi tumbuh di palatal sesuai dengan letak
benihnya. Selanjutnya

gigi

3 permanentumbuh

normal

pada

tempatnya karena mendapatkan tempat yang cukup.

Fase Geligi Permanen

Gigi 2 atas dan 2 bawah mengalami palatoversi.

Gigi 3 atas mengalami eksostem.

Gigi 5 bawah mengalami infraposisi.

Perawatan pada kasus DDM adalah sangat sederhana bahkan bisa


dikatakan apabiladiagnosa dilakukan sejak dini oleh seorang dokter gigi
dapat

merencanakan

serial

ekstraksi

pada penderita DDM. Dimana apabila ekstraksinya dilakukan secara tepat


maka tidak akan terjadimaloklusi pada rongga mulut. Namun jika diagnosa
dilakukan terlambat (umur 11-12 tahun). maka perawatan DDM tidak
hanya

cukup

dengan

ekstraksi

seri

saja,

terapinya

perlu

dilanjutkandengan penggunaan alat orthodonsi untuk menaroik gigi canius


ke distal dan dan meletakkaninsisivus lateral dalam lengkung gigi yang
baik dan benar.
(Buku Ajar Orthodonsi 2. 2003. 54-55)
PENCABUTAN SERI

Ekstraksi seri merupakan suatu metode untuk melakukan perawatan


orthodonti

dalam

periodegeligi

campuran

(mixed

dentition)

untuk

mencegah terjadinya maloklusi pada gigi - gigi tetap(permanent dentition)


dengan jalan melakukan pencabutan gigi - gigi yang dipilih pada
intervalwaktu yang tertentu serta menurut cara - cara yang telah
dilaksanakan dengan observasi dandiagnosa yang tepat dan teliti
sehingga merupakan suatu prosedur yang memerlukan kesabarandan
penelitian yang lama tanpa memakai alat orthodonti. Jadi, merupakan
suatu cara untuk mendapatkan koereksi sendiri (self correction).
(Buku Ajar Orthodonsi 2. 2003. 67)
Tujuan Ekstraksi Seri
Menuntun dan mengontrol erupsi gigi-gigi permanen dalamlengkung
rahang

dan

untuk

mencegah

agar

tidak

terjadi

maloklusi pada

gigi permanen. Hal ini dilakukan dengan jalan mencabut baik gigi-gigi
sulung maupun gigi permanen secara berurutan dalaminterval waktu
tertentu
Indikasi dan kontraindikasi Ekstraksi Seri
Indikasi :

Adanya Disharmony Dento-Maksiler.


Pada fase geligi pergantian.
Perawatan hanya dapat dilakukan bila diyakini bahwa basis apikal

terlalu kecil untuk memuatsemua geligi dalam lengkung yang rata.


Protrusi bimaksilar.
Pada maloklusi kelas I.
Pada maloklusi kelas II divisi 1.
Tanggal gigi sulung satu atau lebih yang mengakibatkan lengkung
gigi menjadi pendek.

Kontraindikasi :

Maloklusi klas I angle dengan kekurangan tempat yang kecil

(sedikit berdesakan).
Ada mutilasi.
Deep overbite atau open bite.
Maloklusi kelas II divisi 2 dan kelas III.

Kemungkinan tindakan dalam Ekstraksi Seri

Pelaksanaan ekstraksi seri yang mungkin dilakukan sebagai berikut

:Kaninus sulung > m1 > P1


Kaninus sulung > P1

Pencabutan kaninus sulung :

Memberi tempat bagi insisif permanen agar dapat terletak baik

dalam lengkung.
Perlu dipikirkan untuk tempat C permanen > setelah + 1 th, I
permanen terletak baik, perlu dilakukan foto lokal, bila semua benih
ada dan letaknya baik > tentukan rencana perawatan selanjutnya.

Pencabutan m1 & P1 :

Di RA tidak dilakukan pencabutan m1, karena biasanya P1 lebih

dulu dari caninus > biarkan erupsi sendiri dengan meresopsi m1.
Di RB > kaninus sering erupsi lebih dahulu dari P1.

Pencabutan P1 :

Dilakukan bila kaninus permanen sudah waktunya erupsi, sebab


kalau terlalu cepatdicabut kemungkinan besar M1 dan m2 akan
bergeser ke mesial sehingga tempat untuk kaninus permanen
menjadi berkurang.

Keuntungan perawatan ini adalah sebagai berikut.

Dapat meratakan gigi berjejal.


Dapat digunakan sebagai preventif sehingga perawatan untuk memperbaiki

maloklusi tidak memerlukan waktu yang lama.


Mengurangi resiko karies oleh karena gigi yang berjejal.
Memungkinkan pergerakan secara fisiologis dari gigiinsisivus setelah ada
ruangan dengan jalan pencabutandecidui.

(http://repository.usu.ac.id.pdf)
Kekurangan :

Mungkin dapat merintangi pertumbuhan:

Terjadinya pergerakan ke distal gigi kaninus dan insisivus karena

kurangnyatekanan kea rah mesial dari premolar.


Mengurangi prognatisme alveolar.
Merintangi pertumbuhan ke depan rahang atas.
Bertambahnya overbite.
Miringnya gigi insisivus ke bawah kea rah lingual.
Terbentuknya banyak jaringan parut yang akan merintangiatau

menghambat erupsi gigi permanen.


Masuknya atau menonjolnya lidah ke ruangan pencabutan.Hal ini
akan mengganggu erupsi dan susunan yang baik gigi-gigi tetap yang telah
bererupsi.

Sering terjadi setelah pencabutan suatu gigi, ruangannyatid


ak dapat tertutup seluruhnya. Penutupan ruangan yangdise
babkan oleh gigi-gigi belakang migrasi ke mesial
danketidakharmonisan intergiditasi atau hubungan antar tonjolgigi-

geligi, dapat menyebabkan traumatik oklusi.


Bila ruangan yang terjadi akibat suatu pencabutan te
t a p terbuka maka pada saat mulut dibuka akan terlihat. Hal ini
akan mengganggu penampilan wajah yang berhubunganden
gan faktor estetik. (Amirudin. 2002)

3 Kemungkinan Tindakan dalam Ekstraksi Seri :


K a l a u g i g i P 1 a k a n e r u p s i l e b i h d u l u d a r i g i g i C ( R A ) > dibiar
kan gigi m1 tanggal sendiri dan gigi P1 tumbuh.
Atau gigi C dan gigi P1 akan erupsi bersama-sama > perlu pencabutan
gigi m1 agar gigi P1 erupsi lebih dulu dari gigi
C> > k a l a u g i g i P 1 s u d a h e r u p s i > d i c a b u t u n t u k m e m b e r i te
mpat bagi gigi C.
Kalau gigi C erupsi lebih dulu dari gigi P1, maka seharusnya gigi m1 dan
benih gigi P1 diambil bersama-sama untuk memberi tempat bagi gigi C.
Untuk menghindari operasi pada anak-anak, dilakukan cara lain:

Mencabut m1, setelah 6 bulan m2 dicabut, supaya P1 erupsiagak ke distal


diatas benih P2, bila P1 telah erupsi >
harusdicabut >> perlu pemakaian space maintainer supaya M1tida
k bergerak ke mesial

DAFTAR PUSTAKA
1. Amirudin. 2002. Hal-Hal Yang Harus Dipertimbangkan Dalam
Melakukan Ekstraksi Seri Pada Gigi Berjejal Anterior. Sumatera
Utara: USU e-Repository.
2. Foster T.D. 1997.Buku Ajar Ortodonsi Edisi III. Jakarta: EGC
3. Herniyati, drg, dkk. 2003.Buku Ajar Ortodonsia 2. Percetakan
Fakultas KedokteranGigi Jember, Jember.

4. Rahardjo, Pambudi. 2009.Ortodonti Dasar. Surabaya : Airlangga


UniversityPress
5. (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/8454/1/930600003.
pdf)
6. http://www.orthodontie-fr.com/articles.item.46/la-dysharmoniedento-maxillaire-ddm.html
7. http://www.orthofree.com/fr/default.asp?contentID=41