Anda di halaman 1dari 21

EVALUASI

PROGRAM KEDOKTERAN/KESEHATAN
Berdasarkan Pendekatan Sistem.
Prof DR.Dr. Azrul Azwar MPH.
Prof. DR. Dr. Endang Basuki, MPH
Dr. Resna A.Soerawidjaja, MPH

Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI,


Sub-departemen Manajemen Kedokteran,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Jakarta, 2009.

DAFTAR ISI

Hal

I.

Definisi, Tujuan dan Manfaat

II.

Evaluasi Program Fasilitas Kesehatan

III.

Langkah-langkah Membuat Evaluasi Program

IV.

Format Laporan Evaluasi Program

12

V.

Daftar Pustaka

13

Lampiran

14

I.

DEFINISI, TUJUAN DAN MANFAAT

I.1. Evaluasi
Evaluasi menurut The American Public Association adalah suatu proses untuk menentukan nilai atau
jumlah keberhasilan dari pelaksanaan suatu program dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Sedaqngkan menurut The International Clearing House on Adolescent Fertility Control for Population
Options 1 , evaluasi adalah suatu proses yang teratur dan sistematis dalam membandingkan hasil yang
dicapai dengan tolok ukur atau standar yang telah ditetapkan, dilanjutkan dengan pengambilan kesimpulan
serta penyusunan saran-saran, yang dapat dilakukan pada setiap tahap dari pelaksanaan program
I.2. Pendekatan sistem
Terdapat beberapa macam pengertian dari sistem yang dikemukakan oleh berbagai ahli, antara lain
sebagai berikut :
1. Sistem adalah gabungan dari elemen-elemen yang saling dihubungkan oleh suatu proses atau struktur
dan berfungsi sebagai satu kesatuan organisasi dalam upaya menghasilkan sesuatu yang telah
ditetapkan
2. Sistem adalah suatu struktur konseptual yang terdiri dari fungsi-fungsi yang saling berhubungan yang
bekerja sebagai satu unit organik untuk mencapai keluaran yang diinginkan secara efektif dan efisien
3. Sistem adalah kumpulan dari bagian-bagian yang berhubungan dan membentuk satu kesatuan yang
majemuk, dimana masing-masing bagian bekerja sama secara bebas dan terkait untuk mencapai
sasaran kesatuan dalam suatu situasi yang majemuk pula
4. Sistem adalah suatu kesatuan yang utuh dan terpadu dari berbagai elemen yang berhubungan serta
saling mempengaruhi yang dengan sadar dipersiapkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan

I.3. Unsur sistem


1.

Masukan
Yang dimaksud dengan masukan (input) adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam
sistem dan yang diperlukan untuk dapat berfungsinya sistem tersebut. Dalam sistem pelayanan
kesehatan, masukan terdiri dari tenaga, dana, metoda, sarana/material.

2.

Proses

Yang dimaksud dengan proses adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem dan
yang berfungsi untuk mengubah masukan menjadi keluaran yang direncanakan. Dalam sistem
pelayanan kesehatan terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan penilaian.
3. Keluaran
Yang dimaksud dengan keluaran (output) adalah kumpulan bagian atau elemen yang dihasilkan dari
berlangsungnya proses dalam sistem. Contohnya dalam program BIAS Campak adalah berupa
cakupan program di suatu wilayah.
4. Umpan Balik
Yang dimaksud dengan umpan balik (feed back) adalah kumpulan dari bagian atau elemen yang
merupakan keluaran dari sistem dan sekaligus sebagai masukan bagi sistem tersebut
5. Dampak
Yang dimaksud dengan dampak (impact) adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran suatu sistem
6. Lingkungan
Yang dimaksud dengan lingkungan (environment) adalah dunia di luar sistem yang tidak dikelola oleh
sistem tetapi mempunyai pengaruh besar terhadap sistem
Keenam unsur sistem ini saling berhubungan dan mempengaruhi yang secara sederhana dapat
digambarkan seperti berikut :
Lingkungan

Masukan

Proses

Keluaran

Dampak

Umpan balik

Suatu sistem pada dasarnya dibentuk untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang telah
ditetapkan/disepakati bersama. Dan untuk terbentuknya sistem tersebut, perlu dirangkai berbagai unsur
4

atau elemen sedemikian rupa sehingga secara keseluruhan membentuk suatu kesatuan dan secara
bersama-sama berfungsi untuk mencapai tujuan. Apabila prinsip pokok atau cara kerja sistem ini
diterapkan ketika menyelenggarakan pekerjaan administrasi, maka prinsip pokok atau cara kerja ini dikenal
dengan nama pendekatan sistem (system approach).
I.4. Evaluasi berdasarkan pendekatan sistem
Evaluasi Program berdasarkan pendekatan sistem adalah suatu proses yang teratur dan sistematis dalam
membandingkan hasil yang dicapai dengan tolok ukur atau standar dari masing-masing indikator yang
telah ditetapkan dari unsur keluaran (output), dilanjutkan dengan menemukan kausa (penyebab), pada
unsur lain dari sistem tersebut, kemudian dilakukan pengambilan kesimpulan serta penyusunan saransaran yang akan memperbaiki pencapaian sistem itu.
I.5. Tujuan melakukan evaluasi berdasarkan pendekatan sistem
Tujuan Umum
Mengetahui pelaksanaan dan tingkat keberhasilan pengelolaan suatu program kesehatan, di suatu tempat
tertentu, pada waktu tertentu.
Tujuan Khusus
1.

Diketahuinya pelaksanaan pengelolaan suatu program kesehatan

2.

Diketahuinya berbagai masalah pelaksanaan pengelolaan program kesehatan ersebut

3.

Diketahuinya prioritas masalah

4.

Diketahuinya berbagai penyebab dari masalah yang diprioritaskan tsb

5.

Diketahuinya prioritas penyebab masalah

6.

Dirumuskannya pemecahan masalah bagi pelaksanaan pengelolaan

I.6. Manfaat
Bagi mahasiswa: Mahasiswa dapat melakukan evaluasi program di setiap jenis fasilitas kesehatan, baik di
rumah sakit, puskesmas, balai kesehatan masyarakat, klinik dokter keluarga atau di manapun dia bekerja.
Bagi fasilitas kesehatan: Fasilitas kesehatan dapat melakukan perbaikan program berdasarkan asupan dari
mahasiswa.

II. EVALUASI PROGRAM FASILITAS KESEHATAN


Jenis evaluasi yang akan dilakukan adalah evaluasi summatif. Evaluasi program yang akan dilaksanakan
oleh mahasiswa dilakukan dengan menggunakan pendekatan sistem (system approach). Prinsip pokok
pendekatan sistem dalam pekerjaan administrasi dapat dimanfaatkan untuk 2 tujuan. Pertama untuk
membentuk sesuatu sebagai hasil dari pekerjaan administrasi. Kedua, untuk menguraikan sesuatu yang
telah ada dalam administrasi. Tujuan kedua ini yang akan dipakai dalam mengevaluasi program di suatu
fasilitas kesehatan. Contoh program yang akan dievaluasi adalah program di puskesmas. 1
III. LANGKAH-LANGKAH MEMBUAT EVALUASI PROGRAM
III.1. Metode evaluasi
1.1.1.

Menetapkan indikator dari unsur keluaran.

Langkah awal untuk dapat menentukan adanya masalah dari pencapaian hasil keluaran (output) atau
dampak (impact) adalah dengan menetapkan indikator yang akan dipakai untuk mengukur keluaran atau
dampak sebagai keberhasilan dari suatu program kesehatan. Sebenarnya dampak merupakan hasil akhir
dari suatu program kesehatan, tetapi sering sekali hasilnya belum dapat diukur bila program baru berjalan
beberapa bulan atau satu tahun. Misalnya keberhasilan program pemberantasan diare atau program KB,
baru akan menunjukkan dampak yang signifikan setelah program berjalan beberapa tahun. Karena itu
biasanya yang dipakai sebagai ukuran keberhasilan suatu program kesehatan adalah keluaran.
Menetapkan indikator dari keluaran dapat dilakukan dengan mempelajari berbagai sumber rujukan. Bila
dari satu sumber ditemukan beberapa indikator dan menurut pandangan kita salah satu atau beberapa
indikator tersebut tidak realistis, kita dapat menghilangkannya kemudian menambahkan atau
menggunakan indikator keluaran dari sumber yang lain yang dirasakan lebih sesuai. Kita juga boleh
memodifikasi indikator tersebut sesuai dengan logika serta referensi yang lebih masuk akal.

III.2. Menentukan tolok ukur tiap-tiap indikator keluaran yang telah ditetapkan.
Biasanya di dalam sumber rujukan tersebut selain ada indikator keluaran yang akan dinilai juga ada tolok
ukur keberhasilan dari masing-masing indikator tersebut. Bila tolok ukur tersebut dinilai kurang sesuai atau
tidak realistis, misalnya karena sudah kadaluwarsa atau tidak cocok dengan kondisi lapangan yang kita
nilai maka bisa saja penilai menggunakan tolok ukur lainnya yang diyakini lebih masuk akal. Tidak tertutup

kemungkinan tolok ukur yang ingin dicapai ditetapkan sendiri oleh penilai beserta timnya, dengan
pembenaran yang dapat diterima atau berdasarkan pengalaman orang lain yang diunduh dari referensi
yang ada. Sebagai contoh untuk penilaian terhadap Program Kesehatan Jiwa, nilai tolok ukur antara lain
dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti misalnya Buku Standar Manajemen Mutu Pelayanan
Kesehatan Jiwa dari Dinas Kesehatan, Stratifikasi Puskesmas tahun 2000, Buku Pedoman Kerja
Puskesmas dan sebagainya. 2

Internet merupakan salah satu sumber untuk memperoleh indikator dan

tolok ukurnya masing-masing.


III.3. Membandingkan

pencapaian masing-masing indikator keluaran program dengan tolok

ukurnya.
Langkah selanjutnya adalah membandingkan hasil pencapaian tiap-tiap indikator keluaran program
dengan tolok ukur masing-masing. Bila ada kesenjangan antara pencapaian indikator keluaran program
dengan tolok ukurnya, maka ditetapkan sebagai masalah. Masalah bisa lebih dari 1, tergantung dari
banyaknya indikator yang dipakai untuk mengukur keberhasilan keluaran program.
III.4. Menetapkan prioritas masalah
Masalah-masalah pada komponen keluaran belum tentu semuanya dapat di atasi secara bersamaan
mengingat keterbatasan kemampuan fasilitas kesehatan. Selain itu adanya kemungkinan masalahmasalah tersebut berkaitan satu dengan yang lainnya dimana bila diselesaikan salah satu masalah yang
dianggap paling penting, maka masalah lainnya dapat teratasi pula. Oleh sebab itu, perlu ditetapkan
prioritas masalah yang akan dicari pemecahannya.
Penetapan prioritas masalah dilakukan dengan menggunakan teknik kriteria matriks (criteria matrix
technique). Pada teknik ini terdapat variabel pentingnya masalah/I (Importancy) yang diukur berdasarkan
besarnya masalah/P (Prevalence), akibat yang ditimbulkan masalah/S (Severity), kenaikan besarnya
masalah/RI (Rate of Increase), derajat keinginan masyarakat yang tidak terpenuhi/DU (Degree of Unmet
Need), keuntungan sosial karena selesainya masalah/SB (Social Benefit), kepedulian masyarakat/PB
(Public Concern), dan suasana politik/PC (Political Climate). Selain itu juga digunakan kriteria kelayakan
teknologi/T (Technical feasibility). Makin layak teknologi yang tersedia dan yang dapat dipakai untuk
mengatasi masalah, makin diprioritaskan masalah tersebut. Begitu juga dengan sumber daya yang
tersedia/R (Resources availability). Makin tersedia sumber daya yang dapat dipakai untuk mengatasi

masalah, maka makin diprioritaskan masalah tersebut. Beri nilai antara 1 (tidak penting) sampai dengan 5
(sangat penting) pada tiap kotak dalam matriks sesuai dengan jenis masalah masing-masing. Dalam
proses pemberian nilai, misalnya untuk prevalensi, tentunya harus dipertimbangkan prevalensi dari
masing-masing masalah yang akan diprioritaskan tersebut. Prevalensi yang paling tinggi tentunya diberi
nilai yang tertinggi, sedangkan prevalensi yang terendah diberi niai 1. Masalah yang dipilih sebagai
prioritas adalah yang memiliki nilai I x T x R tertinggi.
Dalam penetapan prioritas masalah, dapat dilibatkan petugas fasilitas kesehatan atau sesama mahasiswa.
Dalam proses penetapan masalah ini tentunya setiap orang yang terlibat dalam kegiatan ini harus
memahami benar masalah yang dihadapi dan akan dipilih prioritasnya. Untuk mendapatkan pemahaman
yang baik, penilai harus memaparkan masalah ini kepada semua anggota tim penilai yang terlibat.
Pembobotan pada masing-masing indikator keluaran harus disertai dengan pembenaran yang dapat
diterima. Dalam makalah alasan pemberian bobot untuk tiap-tiap variabel pada matriks untuk setiap
masalah harus dituliskan dengan jelas. Misalnya untuk masalah A, mengapa diberikan nilai tinggi (5) untuk
prevalensinya, sedangkan untuk rate of increasenya hanya diberikan nilai sedang (3) dstnya. Contoh dapat
dilihat di lampiran 1.
Dalam melakukan pembobotan, prosesnya dimulai dari prevalensi, severity, dan seterusnya. Dilakukan
pembobotan prevalensi tiap-tiap masalah, kemudian selanjutnya dilakukan pembobotan severity tiap
masalah, dan seterusnya. Dalam melakukan pembobotan, harus dipakai data yang akurat, dan mutakhir.
III.5. Membuat kerangka konsep dari masalah yang diprioritaskan.
Untuk menentukan penyebab masalah yang telah diprioritaskan tersebut, perlu dibuat kerangka konsep
prioritas masalah. Hal ini bertujuan untuk menentukan faktor-faktor penyebab masalah yang berasal dari
komponen sistem yang lainnya, yaitu komponen input, proses, lingkungan dan umpan balik. Dengan
menggunakan kerangka konsep diharapkan semua faktor penyebab masalah dapat diketahui dan
diidentifikasi sehingga tidak ada yang tertinggal. Jelaskan hubungan antara faktor-faktor dalam kerangka
konsep tersebut. Kadang-kadang ada faktor yang mempengaruhi prioritas masalah melalui faktor lain.
Perhatikan benar-benar hubungan antar faktor tersebut. Dalam membuat kerangka konsep dapat dipakai
diagram pohon atau diagram tulang ikan. Semua variabel yang ada di dalam kerangka konsep, ditulis
dalam bentuk netral. Contoh diagram pohon dan tulang ikan dapat dilihat di lampiran 2 dan 3.3,4

III.6. Identifikasi penyebab masalah.


Selanjutnya dilakukan identifikasi berbagai penyebab masalah yang terdapat pada kerangka konsep.
Identifikasi penyebab masalah dilakukan dengan: 1) Mengelompokkan faktor-faktor yang diperkirakan
berpengaruh terhadap prioritas masalah dalam unsur masukan, proses, umpan balik dan lingkungan, 2)
menentukan indikator-indikator serta tolok ukurnya masing-masing dari faktor-faktor tersebut 3) Mengukur
besarnya nilai indikator-indikator tersebut di lapangan, 4) Membandingkan nilai dari tiap-tiap indikator
tersebut dengan tolok ukurnya. Bila terdapat kesenjangan, maka ditetapkan sebagai penyebab dari
masalah yang diprioritaskan tadi. Tentu saja penyebabnya bisa lebih dari satu. Pada waktu mengukur
besarnya nilai indikator di lapangan tersebut diperlukan pengumpulan data baik data yang ada dalam
dokumen atau data yang diperoleh dari wawancara atau kuesioner. Bisa juga data diperoleh dari laporan
tahunan, triwulan dsbnya. Wawancara atau pemberian kuesioner dapat dilakukan terhadap petugas atau
pengunjung fasilitas yang dinilai, tergantung kebutuhannya. Indikator yang tolok ukurnya sering tidak dibuat
oleh mahasiswa adalah indikator dana. Tolok ukur dana harus dibuat, dengan memperkirakan besarnya
biaya yang harus disediakan oleh program yang dievaluasi tersebut agar menghasilkan keluaran yang
baik. Tolok ukur dana dinyatakan dalam bentuk rupiah.
III.7. Memprioritaskan penyebab masalah
Bila penyebab masalah telah diketahui, teliti kembali apakah semua penyebab tersebut saling berkaitan.
Bila saling berkaitan, tidak perlu dibuat prioritas penyebab masalah. Bila ternyata penyebab masalah amat
bervariasi, usahakan untuk mengelompokkan berdasarkan keterkaitan masing-masing penyebab tersebut.
Bisa saja dari 10 penyebab masalah dikelompokkan menjadi 3 kelompok besar. Tiga kelompok penyebab
masalah ini yang perlu dicari prioritasnya.
Prioritas penyebab masalah dapat diperoleh dengan cara melakukan teknik kriteria matriks yang telah
dipelajari, bisa juga dengan metode lainnya seperti misalnya teknik kelompok nominal (Nominal Group
Technique), yakni metode untuk memperoleh beberapa prioritas utama dari sedemikian banyak pilihan.
Biasanya dilakukan dalam kelompok. terdiri dari 2 bagian: 1. Formalisasi sumbang saran, 2. Membuat
pilihan. Caranya adalah sebagai berikut: Dengan memperlihatkan kerangka konsep, pemimpin diskusi
memaparkan semua penyebab masalah yang diperkirakan, serta data yang berhubungan dengan
kemungkinan penyebab masalah tersebut. Minta tiap anggota tim mengemukakan ide-idenya tentang
penyebab masalah tersebut. Ketua tim menuliskan penyebab-penyebab masalah yang dipaparkan
anggotanya. Langkah kedua dilaksanakan dengan membuang penyebab-penyebab yang dirasakan tidak

terlalu penting. Anggota boleh membuang idenya, tetapi tidak boleh membuang ide orang lain. Selanjutnya
kepada masing-masing anggota dibagikan kartu. Banyaknya kartu sesuai dengan banyaknya ide yang
dituliskan. Bila ide kurang dari 20, cukup dibagikan 4 kartu. Tiap anggota menuliskan ide yang dipilihnya
serta peringkatnya. Jadi bila ada 4 kartu, seorang anggota akan menulis, misalnya Ide A perngkat 1, Ide
nomer 4 peringkat 2. Ide nomer 6, peringkat 3. Ide nomer 10, peringkat 4. Di akhir sesi, dilihat ide mana
yang mempunyai peringkat tertinggi. Itu yang ditentukan sebagai penyebab masalah utama. 5
III.8. Membuat alternatif pemecahan masalah.
Setelah kita mengetahui prioritas penyebab masalah, tindakan selanjutnya yang perlu dilakukan adalah
membuat 2 sampai 3 alternatif pemecahan masalah yang diperkirakan dapat mengatasi penyebab
masalah tersebut. Alternatif pemecahan masalah ini dibuat dengan memperhatikan kemampuan serta
situasi dan kondisi fasilitas kesehatan. Berarti diperlukan wawancara dengan petugas di fasilitas kesehatan
tersebut yang diperkirakan akan melaksanakan program tersebut. Sumber rujukan lain yang sangat
penting adalah referensi yang dapat diperoleh dari jurnal atau pengalaman orang lain yang telah
didokumentasikan. Komunikasi personal dengan seorang yang berpengalaman juga sangat dianjurkan.
Alternatif penyebab masalah hendaknya dibuat secara rinci, sehingga jelas sekali tujuan umumnya, tujuan
khusus, sasaran, metode, jadwal kegiatan, serta rincian dananya. Dana sering tidak ditulis secara rinci.
Padahal dana sangat penting dalam menentukan apakah suatu alternatif pemecahan masalah nantinya
akan terpilih pada waktu melakukan pemilihan prioritas masalah. Rincian dana ini harus dikembangkan
oleh penilai.
III.9. Menentukan prioritas cara pemecahan masalah
Dari berbagai alternatif cara pemecahan masalah yang telah dibuat, dipilih satu cara pemecahan masalah
yang dianggap paling baik dan memungkinkan. Pemilihan/penentuan prioritas cara pemecahan masalah ini
dengan memakai teknik kriteria matriks. Dua kriteria yang lazim digunakan adalah :
a. Efektivitas Jalan keluar
Tetapkan nilai efektivitas (effectiveness) untuk setiap alternatif jalan keluar, yakni dengan memberikan
angka 1 (paling tidak efektif) sampai dengan angka 5 (paling efektif). Prioritas jalan keluar adalah yang nilai
efektivitasnya paling tinggi. Untuk menentukan efektivitas jalan keluar, dipergunakan kriteria tambahan
sebagai berikut :

10

Besarnya masalah yang dapat diselesaikan (Magnitude)


Makin besar masalah yang dapat di atasi, makin tinggi prioritas jalan keluar tersebut.
Pentingnya jalan keluar (Importancy)
Pentingnya jalan keluar dikaitkan dengan kelanggengan penyelesaian masalah. Makin lama masa
bebas masalah, makin penting jalan keluar tersebut.
Sensitivitas jalan keluar (Vulnerability)
Sensitivitas dikaitkan dengan kecepatan jalan keluar mengatasi masalah. Makin cepat masalah
teratasi, makin sensitif jalan keluar tersebut.
b. Efisiensi Jalan Keluar (C)
Tetapkan nilai efisiensi (Efficiency) untuk setiap alternatif jalan keluar. Nilai efisiensi ini biasanya dikaitkan
dengan biaya (cost) yang diperlukan untuk melaksanakan jalan keluar. Makin besar biaya yang diperlukan,
makin tidak efisien jalan keluar tersebut. Berikan angka 1 (biaya paling sedikit) sampai dengan angka 5
(biaya paling besar).
Nilai prioritas (P) untuk setiap alternatif jalan keluar dihitung dengan membagi hasil perkalian nilai M x I x V
dengan C. Jalan keluar dengan nilai P tertinggi, adalah prioritas jalan keluar terpilih. Lihat contoh di
lampiran 4.4
III.10. Pengumpulan Data.
Data yang akan diambil meliputi semua data yang berkaitan dengan indikator dari masing-masing variabel
yang ada di dalam kerangka konsep, baik variabel prioritas masalah maupun semua variabel kemungkinan
penyebab masalah. Selain itu juga diperlukan data untuk dapat menentukan berbagai alternatif pemecahan
masalah.

Data primer bisa berasal dari wawancara, diskusi kelompok terarah (FGD), atau kuesioner
yang mungkin dipakai untuk mengumpulkan data, atau dari status pasien yang
pengisiannya dilakukan sendiri oleh penilai beserta timnya sesuai tujuan penelitian.

Data sekunder adalah data yang berasal dari laporan bulanan dan tahunan, serta rekam
medik

Data tertier adalah data yang berasal dari suatu publikasi.

11

III.11. Membuat kesimpulan dan saran


Kesimpulan adalah penyampaian singkat semua hasil yang diperoleh sesuai dengan tujuan-tujuan yang
ingin dicapai. Sebagai hasil akhir dari penilaian adalah terpilihnya prioritas pemecahan masalah.
Saran merupakan kondisi atau prasyarat yang diharapkan dapat disediakan oleh fasilitas kesehatan agar
pemecahan masalah yang diprioritaskan tersebut dapat terlaksana dengan baik. Jadi harus ada keterkaitan
antara saran yang diajukan dengan prioritas pemecahan masalah.
IV. FORMAT LAPORAN EVALUASI PROGRAM
Format laporan evaluasi (penilaian) program kesehatan adalah sebagai berikut.
Isi:
1. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
1.2. Permasalahan
1.3. Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
1.3.2. Tujuan Khusus
1.4. Manfaat
2. Tinjauan Pustaka
3. Metode Evaluasi
4. Penyajian Data
1.1. Gambaran Umum Wilayah Kerja
1.2. Data Khusus (data yang berhubungan dengan program yang dinilai)
5. Hasil Penilaian dan Pembahasan
1.1. Indikator dan Tolok Ukur Keluaran
1.2. Identifikasi Masalah
1.3. Prioritas Masalah
1.4. Kerangka Konsep Masalah
1.5. Identifikasi Penyebab Masalah
1.6. Alternatif Pemecahan Masalah
1.7. Prioritas Pemecahan Masalah

12

6. Kesimpulan dan Saran


1. Kesimpulan
2. Saran
7. Daftar Pustaka
DAFTAR PUSTAKA
1. Azwar, Azrul. Pengantar Administrasi Kesehatan. Edisi 3, Binarupa Aksara, Jakarta;
1996.p.181-210, p.329-347.
2. Arief, M.R. Penilaian Program Kesehatan Jiwa Periode 2003, di Puskesmas
Cengkareng, Jakarta Barat. Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas, FKUI 2004.
3. Hassarief, M.I. Penilaian Program Pengelolaan Obat di Puskesmas Kecamatan
Pulogadung Periode Januari-Juli 2006. Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI,
2006.
4. Maselia. Penilaian Program BIAS Campak Periode April 2006 di Puskesmas
Kelurahan Pulogadung, Jakarta Timur. Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas,
FKUI, 2006.
5. Pyzdek, T. The Six Sigma Handbook. Penerbit Salemba Empat, 2002.

13

LAMPIRAN 1. Contoh
Tabel penetapan prioritas masalah
Daftar Masalah
No
P
1
2

3
4

Importance
S

Jumlah
(I x T x R)

80

Tidak diperolehnya data


mengenai keakuratan
pencatatan
Kurangnya
pengendalian
ketersediaan obat di
puskesmas
kecamatan pulogadun
g

RI DU SB PB PC
4
2
4
3
1
2

144

Belum adanya evaluasi


penggunaan obat yang
rasional dan tepat
Ketersediaan obat di
puskesmas kelurahan
tidak merata

126

120

1. Prevalensi
Pencatatan dan pelaporan merupakan salah satu aspek penting dari pengelolaan obat yang
ikut menentukan keberhasilan seluruh rangkaian pengelolaan obat / perbekalan farmasi. Di
puskesmas kecamatan pulogadung, pencatatan dan pelaporan tiap bulan sudah
dilaksanakan tepat waktu, namun data mengenai keakuratan tidak ada. Pencatatan dan
pelaporan data obat yang akurat dapat memberikan perbaikan dalam efisiensi dan
efektifitas manajemen obat. Oleh karena itu besarnya masalah (prevalence) mendapat poin
yang cukup besar. Kami berikan nilai 4. Pengendalian ketersediaan obat di puskesmas
merupakan suatu hal yang sangat penting dalam pengelolaan obat. Apabila terjadi masalah dalam
aspek ini, maka dapat menimbulkan masalah lain dalam rangkaian proses pengelolaan obat. Bila
keadaan ini tidak teratasi dapat menyebabkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat menjadi
buruk. Masalah ini prevalensinya cukup besar karena tidak dapat mencapai 100% dari tolok ukur.
Pembobotan yang diberikan 3. Masalah ke 3, juga cukup besar (prevalence) mengingat evaluasi
dalam pemakaian obat yang rasional dan tepat terhadap pasien akan mempengaruhi masalahmasalah lain dalam manajemen obat. Diberikan nilai 4. Ketersediaan obat di puskesmas kelurahan

14

tidak merata, masalah ini memiliki nilai prevalensi yang cukup besar karena ketersedian obat yang
tidak merata akan mengurangi ketepatan dalam pengobatan pasien secara langsung.
2. Severity
Pelaporan dan pencatatan pemakaian obat yang tidak akurat dapat mengakibatkan buruknya
laporan dan tingkat kepercayaan yang rendah terhadap pihak pengelola. Oleh karenanya untuk
severity diberikan nilai yang juga cukup besar. Untuk masalah ke dua, akibat yang ditimbulkan oleh
masalah ini cukup besar karena Puskesmas Kecamatan Pulogadung tidak melakukan pengendalian
ketersediaan obat dengan baik. Dampak yang dapat terjadi adalah terbatasnya pemberian resep obat
yang terbatas pada ketersediaan obat. Masalah ke tiga, bila keadaan ini tidak teratasi, pada akhirnya
dapat menyebabkan penyakit pasien tidak terobati secara benar. Sehingga memberikan nilai
severity yang sedikit besar. Pada masalah ke empat, keparahan penyakit pasien penyakit tidak
langsung menjadi buruk dengan pengobatan yang kurang tepat, sehingga akibat yang ditimbulkan
dari masalah (severity) tidak besar.
3. Rate of increase, selanjutnya lakukan seperti prevalensi dan severity.

15

LAMPIRAN 2
Gambar . Kerangka Konsep dengan model diagram pohon

16

LAMPIRAN 3 Gambar . Kerangka Konsep dengan model diagram tulang ikan


Cakupan BIAS Campak
di Kelurahan Pulo
Gadung

Dana
Kuantitas
Tenaga
kesehatan di
Puskesmas

Perencanaan

kualitas
Sarana
medis dan
non medis

Pengorganisasian
Pembagian
tugas dan
tanggung
jawab

Pencatatan
dan pelaporan

Input

Metode non
medis
Pengetahuan,
sikap, dan
perilaku orangtua
dan guru terhadap
BIAS

Koordinasi

Sosialisasi/
Penyuluhan

Pelaksanaan

Sosial ekonomi
dan pendidikan

Lingkungan

Pencatatan dan pelaporan


Umpan Balik

Keterangan:
Komponen yang dievaluasi
Komponen yang tidak dievaluasi

17

LAMPIRAN 4
Penentuan Prioritas Pemecahan Masalah
Pemilihan/penentuan prioritas cara pemecahan masalah ini dilakukan dengan memakai teknik kriteria
matriks. Dari berbagai alternatif cara pemecahan masalah yang telah dibuat maka akan dipilih satu cara
pemecahan masalah yang dianggap paling baik dan memungkinkan.
Pemecahan masalah dengan koordinasi lintas sektor dan sosialisasi atau penyuluhan paling besar dapat
mengatasi masalah. Banyak penyebab masalah yang dapat diatasi oleh kedua alternatif jalan keluar
tersebut.
Koordinasi lintas sektoral berikut pembagian tugas dan tanggung jawab antara Puskesmas dan pihak SD
penting dilakukan karena hal ini dapat mengatasi penyebab masalah yang berupa kurangnya tenaga
kesehatan Puskesmas dalam pelaksanaan program BIAS dan tidak adanya koordinasi berikut pembagian
tugas dan tanggung jawab antara Puskesmas, Sudin Dikdas, dan pihak SD. Dengan koordinasi tersebut,
pihak SD dapat mengetahui seberapa pentingnya BIAS Campak dilaksanakan dan peranan mereka dalam
pelaksanaan BIAS Campak ini. Peran pihak sekolah dalam hal ini adalah dalam pendaftaran siswa yang
ikut serta, penginformasian kepada orangtua dan guru, penyediaan waktu dan tempat untuk BIAS Campak
dan dapat memberikan sumbangan tenaga dalam pelaksanaan program. Koordinasi tidak cukup hanya
Puskesmas dengan pihak SD tetapi juga diperlukan koordinasi antara Puskesmas dengan Sudin Dikdas
(Suku Dinas Pendidikan Dasar) Jakarta Timur serta antara pihak SD dan Sudin Dikdas. Hal ini penting
karena jika tidak ada instruksi atau pemberitahuan dari Sudin Dikdas (Suku Dinas Pendidikan Dasar),
maka tidak ada tenaga yang mampu mendorong pihak SD agar lebih proaktif menyukseskan program
BIAS ini.
Pertemuan koordinasi berikut pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas antara Puskesmas
Kelurahan Pulo Gadung, Sudin Dikdas Jakarta Timur, dan pihak SD se-Kelurahan Pulo Gadung
membutuhkan banyak waktu dan persiapan yang baik karena melibatkan anggota yang cukup banyak,
yaitu minimal 14 orang. Persiapan meliputi persiapan alat, waktu, tempat, menghubungi semua pihak dan
menyusun jadwal. Akan tetapi masalah dapat terselesaikan sesegera mungkin jika pelaksanaan berhasil
dilakukan. Biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan ini juga paling mahal, yaitu Rp. 3.602.500,00 (rincian
pada lampiran 2).
Sosialisasi/penyuluhan tentang program BIAS kepada orangtua siswa dan guru dapat mengatasi penyebab
masalah berupa kurangnya sosialisasi/penyuluhan mengenai program BIAS kepada orangtua siswa dan
guru serta pengetahuan, sikap, dan perilaku orangtua dan guru terhadap program BIAS yang masih

18

kurang. Hal tersebut tercermin dari banyaknya siswa yang tidak mendapat persetujuan dari orangtuanya
untuk diimunisasi atas dasar alasan-alasan yang keliru yang telah dijelaskan pada penjelasan sebelumnya.
Banyaknya alasan ini menyebabkan tidak tercapainya cakupan 100 % untuk program BIAS Campak.
Penyuluhan langsung kepada orangtua siswa dapat mengubah pandangan yang salah. Peran guru dalam
hal ini juga penting karena guru dapat membantu menginformasikan hal-hal yang perlu diketahui kepada
para siswa dan orangtua mereka jika ada orangtua yang tidak hadir dalam penyuluhan. Yang perlu
diperhatikan adalah penyuluhan tidak menjamin pandangan orangtua akan berubah. Hal ini dipengaruhi
oleh faktor-faktor berupa keterbukaan orangtua, fleksibilitas (tidak bersikeras mempertahankan pendapat),
dan pengetahuan orangtua.
Penyuluhan membutuhkan persiapan baik alat, waktu dan tempat serta penginformasian kepada pihak
orangtua dan guru. Karena kegiatan langsung ditujukan pada orangtua dan guru, masalah dapat
terselesaikan sesegera mungkin jika kegiatan berhasil dilaksanakan. Biaya yang dibutuhkan untuk kegiatan
ini cukup besar tetapi tidak sebesar kegiatan pertemuan koordinasi berikut pembagian tugas dan tanggung
jawab yang jelas antara Puskesmas Kelurahan Pulo Gadung, Sudin Dikdas Jakarta Timur, dan pihak SD
se-Kelurahan Pulo Gadung, yaitu Rp. 850.000,00.
Pembuatan dan penyebaran media promosi kesehatan hanya mengatasi masalah pengetahuan, sikap, dan
perilaku orangtua dan guru terhadap program BIAS yang masih kurang. Penyebaran media ini tidak terlalu
banyak berperan dalam mengatasi masalah karena tergantung dari beberapa faktor, yaitu pengetahuan
orangtua dan guru, keingintahuan orangtua dan guru, serta kepedulian dari orangtua dan guru. Masalah
juga tidak cepat teratasi dengan hanya menggunakan alternatif jalan keluar ini. Jalan keluar ini hanya
mendukung jalan keluar lain yang dilaksanakan. Namun, biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan ini tidak
terlalu besar dibandingkan kegiatan sebelumnya, yaitu Rp.517.000,00.
Dari penjelasan di atas, untuk besarnya masalah yang dapat diselesaikan (Magnitude), penulis
memberikan angka 5 pada alternatif pemecahan masalah koordinasi lintas sektoral dan
sosialisasi/penyuluhan karena keduanya dapat mengatasi masalah paling besar. Hal ini disebabkan karena
kedua alternatif pemecahan masalah ini masing-masing dapat menyelesaikan 2 penyebab masalah
dibandingkan dengan alternatif pemecahan masalah pembuatan dan penyebaran media promosi
kesehatan yang hanya dapat menyelesaikan 1 penyebab masalah. Makin banyak penyebab masalah yang
diselesaikan, maka makin besar masalah yang dapat terselesaikan. Penulis memberikan angka 2 pada
alternatif pemecahan masalah pembuatan dan penyebaran media promosi kesehatan karena besarnya

19

masalah yang dapat diselesaikan sangat kecil. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor yang mempengaruhi
alternatif pemecahan masalah ini yang telah disebutkan di atas.
Dilihat dari besarnya masalah yang dapat diselesaikan, penulis menyatakan bahwa alternatif pemecahan
masalah koordinasi lintas sektoral dan sosialisasi/penyuluhan merupakan jalan keluar yang penting
(importancy). Penulis memberikan angka 5 untuk alternatif pemecahan masalah koordinasi lintas sektoral
dan angka 4 untuk alternatif pemecahan masalah sosialisasi/penyuluhan karena walaupun keduanya sama
penting, jika hanya sosialisasi/penyuluhan tanpa adanya koordinasi lintas sektoral, masalah tidak akan
terselesaikan. Di pihak lain, koordinasi lintas sektoral saja dapat menyelesaikan masalah walaupun
hasilnya tidak maksimal tanpa adanya sosialisasi/penyuluhan. Dengan demikian, koordinasi lintas sektoral
lebih penting daripada sosialiasi/penyuluhan. Alternatif pemecahan masalah pembuatan dan penyebaran
media promosi kesehatan dilihat dari besarnya masalah yang dapat diselesaikan merupakan alternatif
pemecahan masalah yang tidak terlalu penting tetapi mendukung alternatif pemecahan lainnya sehingga
diberikan angka 3.
Dilihat dari kecepatan terselesaikannya masalah (vulnerability), alternatif pemecahan masalah koordinasi
lintas sektoral dan sosialisasi/penyuluhan diberikan angka 4. Kedua alternatif pemecahan masalah tersebut
tidak diberikan angka 5 karena meskipun keduanya dapat sesegera mungkin menyelesaikan masalah
tetapi tidak sempurna dan memerlukan dukungan alternatif pemecahan masalah yang lain agar lebih cepat
menyelesaikan masalah. Di pihak lain, alternatif pemecahan masalah pembuatan dan penyebaran media
promosi kesehatan lambat menyelesaikan masalah karena besarnya masalah yang dapat diselesaikan
sangat kecil dengan adanya banyak faktor yang disebutkan di atas yang menghambat terselesaikannya
masalah. Dengan demikian, alternatif pemecahan masalah ini diberikan angka 2.
Dengan mempertimbangkan biaya yang dibutuhkan untuk pelaksanaan alternatif pemecahan masalah
(cost), penulis memberikan nilai 5 pada alternatif pemecahan masalah pembuatan dan penyebaran media
promosi kesehatan, nilai 4 untuk alternatif pemecahan masalah sosialisasi/penyuluhan, dan nilai 3 untuk
alternatif pemecahan masalah koordinasi lintas sektoral. Hal ini disebabkan biaya yang dibutuhkan untuk
pembuatan dan penyebaran media promosi kesehatan adalah yang paling murah (Rp. 517.000,00)
dibandingkan dengan biaya sosialisasi/penyuluhan (Rp. 850.000,00) dan koordinasi lintas sektoral (Rp.
3.602.500,00).

20

Tabel Penentuan Prioritas Pemecahan Masalah


No.

Alternatif jalan keluar

Efektivitas
M

Efisiensi

Jumlah

M x I x V/
C

1.

Koordinasi lintas sektoral

33

2.

Sosialisasi/penyuluhan

20

3.

Pembuatan dan penyebaran 2

2,4

media promosi kesehatan

Dari tabel di atas diketahui bahwa yang mendapat nilai terbesar adalah alternatif jalan keluar pertama,
yaitu Pertemuan koordinasi berikut pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas antara Puskesmas
Kelurahan Pulo Gadung, Sudin Dikdas Jakarta Timur, dan pihak SD se-Kelurahan Pulo Gadung.

21