Anda di halaman 1dari 6

PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH

1. Definisi
Menurut PKBI (1981) pengertian perilaku seksual adalah segala bentuk kegiatan yang
dapat memberikan penyaluran pada dorongan seksual yang dilakukan oleh dua orang yang
berjenis kelamin berbedamulai dari bermesraan, bercumbu, sampai dengan berhubungan
kelamin
Sarwono (2000) mengatakan bahwa perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang
didorong olehhasrat seksual dengan lawan jenis mulai dari perasaan tertarik sampai dengan
tingkah laku berkencan,bercumbu sampai bersenggama. Lebih lanjut, perilaku seksual
merupakan perilaku yang bersifat alami ataumanusiawi karena setiap manusia memiliki
dorongan seksual dan hal tersebut normal jika dilakukan sesuaidengan norma yang berlaku.
Ditambahkan oleh Knox (dalam Aryani, 2005) bahwa perilaku seksual tidakhanya
sebagai peristiwa menyatunya alat kelamin laki-laki dengan alat kelamin perempuan saja
tetapi jugadiartikan sebagai komunikasi yang terjadi untuk berbagai macam alasan dan
dalam konteks yang berbeda;sebelum menikah; selama menikah; di luar menikah; dan
setelah menikah, tergantung pada kualitas pernikahan.Lebih lanjut, perilaku seksual
merupakan salah satu media berkomunikasi yang terjadi antara laki-laki danperempuan
sebagai manifestasi dari dorongan seksual. Perilaku seksual dimulai dari perasaan tertarik
sampaipada akhirnya keduanya terlibat dalam hubungan seksual .
Sementara itu, dalam website e-psikologi (2007) dikatakan bahwa perilaku seksual
merupakan perilaku yang melibatkan sentuhan secara fisik anggota badan antara pria dan
wanita yang telah mencapai pada tahaphubungan intim, yang biasanya dilakukan oleh
pasangan suami istri, sedangkan perilaku seks pranikahmerupakan perilaku seks yang
dilakukan tanpa melalui proses pernikahan yang resmi menurut hukum maupun menurut
agama dan kepercayaan masing-masing individu.
Menurut Kartono (1992) perilaku seksual pranikah adalah perilaku seksual yang
dilakukan sebelumadanya ikatan perkawinan yang sah. Perilaku ini dapat dikategorikan
sebagai perilaku yang menyimpang, sebabperilaku seksual yang dilakukan di luar
perkawinan tersebut merupakan perbuatan berzina. Norma-norma yangberlaku hanya
membenarkan perilaku seksual jika sudah ada ikatan perkawinan yang sah antara dua orang
yangberlawanan jenis kelamin.

Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan
perilaku seksual pranikah adalah suatu perbuatan yang dapat diobservasi baik secara
lansung maupun tidak langsung, yangdilakukan oleh dua individu berjenis kelamin berbeda,
mulai dari berkencan, bercumbu sampai bersenggama, tetapi belum ada ikatan yang sah
menurut norma, hukum, ataupun agama.
2. Aspek-aspek Perilaku Seksual Pranikah
Menurut PKBI (1998) aspek-aspek perilaku seksual pranikah adalah:
a. Bermesraan
Aspek ini mengungkap aktivitas psikologis dua individu yang berlainan jenis dalam
kesamaan tujuan untuksaling berbagi rasa yang diungkap dalam kata-kata manis,
pandangan mata yang mesra, namun belumsampai pada aktivitas bercumbu. Bermesraan
di sini dilakukan oleh dua orang, yaitu pemuda dan pemudiyang ditandai dengan adanya
ketertarikan afeksional (saling mencintai) yang telah dinyatakan di antarakeduanya, tetapi
belum sampai pada tingkat pertunangan.
b. Bercumbu
Aspek ini mengungkap pendekatan-pendekatan jasmaniah yang dilakukan, seperti saling
memegang,berciuman, berpelukan atau berangkulan, saling tempel alat kelamin, yang
dapat membangkitkan gairahseksual, tetapi belum sampai pada hubungan kelamim.
c. Hubungan kelamin
Hubungan kelamin berarti melakukan kegiatan senggama. Hubungan kelamin adalah
hubungan yangdilakukan oleh dua orang yang berbeda jenis kelamin, dengan kegiatan
memasukkan penis ke dalam vaginadan masing-masing orang akan memperoleh
kepuasan.
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Seksual Pranikah
Faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap perilaku reproduksi remaja
diantaranya adalah faktor keluarga. Remaja yang melakukan hubungan seksual sebelum
menikah banyak diantara berasal dari keluarga yang bercerai atau pernah cerai, keluarga
dengan banyak konflik dan perpecahan (Kinnaird, 2003). Hubungan orang-tua yang
harmonis akan menumbuhkan kehidupan emosional yang optimal terhadap perkembangan
kepribadiananak sebaliknya. Orang tua yang sering bertengkar akan menghambat
komunikasi dalam keluarga, dan anak akan melarikan diri dari keluarga. Keluarga yang

tidak lengkap misalnya karena perceraian, kematian dan keluarga dengan keadaan ekonomi
yang kurang, dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak (Rohmahwati, 2008).
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual pranikah pada remaja paling tinggi
hubungan antara orang tua dengan remaja, diikuti karena tekanan teman sebaya, religiusitas,
dan eksposur media pornografi (Soetjiningsih, 2006).
Beberapa faktor lain yang mempengaruhi perilaku seksual pada remaja adalah
perubahan hormonal, penundaan usia perkawinan, penyebaran informasi melalui media
massa, tabu-larangan, norma-norma di masyarakat, serta pergaulan yang makin bebas antara
laki-laki dan perempuan (Sarwono, 2003)
Menurut para ahli, faktor-faktor yang mempengaruhi remaja untuk berperilaku seksual
pranikah yaitu:
a. Faktor fisik
Sarwono (2000) menyatakan bahwa mulai berfungsinya horrperilaku seksual semakin
kuat.
b. Pengaruh orangtua
PKBI (2000) mengemukakan bahwa kurangnya komunikasi secara terbuka antara
orangtua dengan remajadalam masalah seputar seksual dapat mengakibatkan munculnya
perilaku seksual menyimpang. Markum(1997) menambahkan, bahwa pendidikan seks
pasif (tanpa komunikasi dua arah) bisa mempengaruhi sikapserta perilaku seseorang,
karena dalam pendidikan seks anak tidak cukup hanya melihat dan mendengarsekali
atau dua kali, tapi harus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Orangtua wajib
meluruskaninformasi yang tidak benar disertai penjelasan risiko perilaku seks yang
salah.
c. Pengaruh alat kontrasepsi
Menurut Sarwono (1981) dengan banyak beredarnya alat kontrasepsi secara bebas di
pasaran serta mudahdiperoleh oleh siapa saja tanpa adanya batasan yang tegas,
seringkali disalahgunakan oleh para remajaterutama untuk melakukan hubungan seksual
dengan pasangannya.
d. Pergaulan bebas
Sarwono (2000) mengatakan bahwa para remaja mempunyai banyak kebebasan dalam
bergaul denganteman sebaya terutama pergaulan dengan lawan jenis. Pergaulan yang

semakin bebas tanpa adanya suatupengendalian pada diri remaja dapat menimbulkan
perilaku seksual pranikah.
e. Pengaruh media
Penyebaran informasi tentang masalah seksual melalui media cetak atau elektronik yang
menyuguhkangambar porno, film porno, dan semua hal yang berbau pornografi, dapat
menyebabkan perilaku seksual pranikah pada remaja semakin meningkat (Sarwono,
2000).
4. Dampak dari Perilaku Seks Pranikah
Perilaku seksual pranikah dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada remaja,
diantaranya sebagai berikut :
a. Dampak psikologis
Dampak psikologis dari perilaku seksual pranikah pada remaja diantaranya perasaan
marah, takut, cemas, depresi, rendah diri, bersalah dan berdosa.
b. Dampak Fisiologis
Dampak fisiologis dari perilaku seksual pranikah tersebut diantaranya dapat
menimbulkan kehamilan tidak diinginkan dan aborsi. Kehamilan pada remaja sering
disebabkan ketidaktahuan dan tidak sadarnya remaja terhadap proses kehamilan. Bahaya
kehamilan pada remaja:
- Hancurnya masa depan remaja tersebut.
- Remaja wanita yang terlanjur hamil akan mengalami kesulitan selama kehamilan karena
jiwa dan fisiknya belum siap.
- Pasangan pengantin remaja, sebagian besar diakhiri oleh perceraian (umumnya karena
terpaksa kawin karena nafsu, bukan karena cinta).
- Pasangan pengantin remaja sering menjadi cemoohan lingkungan sekitarnya.
- Remaja wanita yang berusaha menggugurkan kandungan pada tenaga non medis
(dukun, tenaga tradisional) sering mengalami kematian strategis.
- Pengguguran kandungan oleh tenaga medis dilarang oleh undang-undang, kecuali
indikasi medis (misalnya si ibu sakit jantung berat, sehingga kalau ia meneruskan
kehamilan dapat timbul kematian). Baik yang meminta, pelakunya maupun yang
mengantar dapat dihukum.
- Bayi yang dilahirkan dari perkawinan remaja, sering mengalami gangguan kejiwaan
saat ia dewasa.

c. Dampak sosial
Dampak sosial yang timbul akibat perilaku seksual yang dilakukan sebelum saatnya
antara lain dikucilkan, putus sekolah pada remaja perempuan yang hamil, dan perubahan
peran menjadi ibu. Belum lagi tekanan dari masyarakat yang mencela dan
menolak keadaan tersebut (Sarwono, 2003).
d. Dampak fisik
Dampak fisik lainnya sendiri menurut Sarwono (2003) adalah berkembangnya penyakit
menular seksual di kalangan remaja, dengan frekuensi penderita penyakit menular
seksual (PMS) yang tertinggi antara usia 15-24 tahun. Infeksi penyakit menular seksual
dapat menyebabkan kemandulan dan rasa sakit kronis serta meningkatkan risiko terkena
PMS dan HIV/AIDS.
5. Upaya untuk Menanggulangi Seks Bebas di Kalangan Remaja
Orangtua sebagai penanggung jawab utama terhadap perilaku anak, harus menciptakan
lingkungan keluarga yang harmonis dalam keluarganya. Orang tua sejak usia dini harus
menanamkan dasar yang kuat pada diri anak bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk
beribadah kepada-Nya. Jika konsep hidup yang benar telah tertanam maka remaja akan
memahami jati dirinya, menyadari akan tugas dan tanggung jawabnya, mengerti hubungan
dirinya dengan lingkungaanya. Kualitas akhlak akan terus terpupuk dengan memahami
batas-batas nilai, komitmen dengan tanggung jawab bersama dalam masyarakat. Remaja
akan merasa damai di rumah yang terbangun dari keterbukaan, cinta kasih, saling
memahami di antara sesama keluarga. Pengawasan dan bimbingan dari orang tua dan
pendidik akan menghindarkan dari pergaulan bebas. Orang tua harus terus mengawasi dan
mengontrol perkembangan perilaku remaja.
Serta pendidikan seks harus diberikan sejak dini agar mereka sadar bagaimana
menjaga supaya organ-organ reproduksinya tetap sehat. Sebenarnya dalam masalah
reproduksi ini, peran orang tua dan guru diharapkan lebih menonjol karena bagaimanapun
juga mereka juga berperan sebagai filter atau penyaring bagi informasi yang akan diberikan
kepada remaja, berbeda bila informasi diperoleh dari media masa yang sering kali tanpa
penyaringan terlebih dahulu. Dalam upaya pemberian informasi mengenai masalah
reproduksi bagi remaja, khususnya di sekolah, perlu peran guru ditingkatkan. Untuk itu
ingin diketahui seberapa jauh pengetahuan guru, khususnya guru bimbingan dan konseling.
Diharapkan guru Bimbingan dan Konseling nantinya dapat berperan sebagai nara sumber di

sekolah (tempat kerja) dan memberikan informasi yang benar mengenai hal-hal tersebut.
Serta diadakan konseling seksualitas remaja.
Ada beberapa solusi, di antaranya, pertama, membuat regulasi yang dapat melindungi
anak-anak dari tontonan yang tidak mendidik. Perlu dibuat aturan perfilman yang memihak
kepada pembinaan moral bangsa. Oleh karena itu Rancangan Undang-Undang Anti
Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) harus segera disahkan.
Kedua, orangtua sebagai penanggung jawab utama terhadap kemuliaan perilaku anak,
harus menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dalam keluarganya. Kondisi rumah
tangga harus dibenahi sedemikian rupa supaya anak betah dan kerasan di rumah.
Berikut petunjuk-petunjuk praktis yang diberikan Stanley Coopersmith (peneliti
pendidikan anak), kepada orangtua dalam mendidik dan membina anak. Pertama,
kembangkan komunikasi dengan anak yang bersifat suportif. Komunikasi ini ditandai lima
kualitas; openness, empathy, supportiveness, positivenes, dan equality. Kedua, tunjukkanlah
penghargaan secara terbuka. Hindari kritik. Jika terpaksa, kritik itu harus disampaikan tanpa
mempermalukan anak dan harus ditunjang dengan argumentasi yang masuk akal.
Ketiga, latihlah anak-anak untuk mengekspresikan dirinya. Orangtua harus
membiasakan diri bernegosiasi dengan anak-anaknya tentang ekspektasi perilaku dari kedua
belah pihak. Keempat, ketahuilah bahwa walaupun saran-saran di sini berkenaan dengan
pengembangan harga diri, semuanya mempunyai kaitan erat dengan pengembangan
intelektual. Proses belajar biasa efektif dalam lingkungan yang mengembangkan harga diri.
Intinya, hanya apabila harga diri anak-anak dihargai, potensi intelektual dan kemandirian
mereka dapat dikembangkan.
Selain petunjuk yang diberikan Stanley di atas, keteladanan orangtua juga merupakan
faktor penting dalam menyelamatkan moral anak. Orangtua yang gagal memberikan teladan
yang baik kepada anaknya, umumnya akan menjumpai anaknya dalam kemerosotan moral
dalam berperilaku