Anda di halaman 1dari 15

TUGAS II

METODE PENELITIAN
TEORI VARIABEL PENELITIAN

Oleh:
DODI MUHAMMAD ZAIR
FAUZI HIDAYAT
DERI FITRAH SARI
AFRINALDI
IRAWATI
RENI SUSIKA
SILFIA ANGREINI
YOHANA SILIA HIA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK INFORMATIKA DAN


KOMPUTER
JURUSAN TEKNIK ELEKTRONIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2013

PEMBAHASAN TEORI PENELITIAN VARIABEL


A. Variabel
Variabel adalah apa pun yang dapat membedakan atau membawa variasi pada nilai. Nilai bisa
berbeda pada berbagai waktu untuk objek atau orang yang sama, atau pada waktu yang sama
untuk objek atau orang yang berbeda. Contoh variabel adalah unit produksi, absensi, dan
motivasi.
Secara leksikal, istilah variabel dapat diartikan sebagai sesuatu yang
dapat

beragam

(bervariasi).

Arti

kata

ini

menunjukkan

bahwa

variabel

merupakan sesuatu yang di dalamnya terdapat atribut-atribut, unit-unit,


dimensi-dimensi atau nilai-nilai yang beragam. Kerlinger mendefinisikan variabel
sebagai suatu sifat yang dapat memiliki bermacam nilai, atau simbol/lambang
yang padanya dilekatkan bilangan atau nilai.
Pada hakikatnya, setiap variabel adalah suatu konsep, yaitu konsep yang
bersifat khusus yang mengandung variasi nilai. Banyak ahli yang menyebutnya
dengan konsep variabel. Yang dimaksud dengan konsep variabel di sini adalah
konsep yang bersifat observatible, maksudnya konsep yang sudah sangat dekat
dengan fenomena-fenomena atau obyek-obyek yang teramati. Jadi konsep
variabel itu merupakan sebutan umum yang mewakili semua atribut, dimensi
atau nilai yang perlu diamati. Karena itu tidak semua konsep disebut variabel,
karena masih terdapat konsep-konsep yang tidak mengandung memenuhi ciri
seperti itu.
B. Variabel Kategori dan Dimensi
Sebagai konsep yang mengandung nilai, variabel dapat dikelompokkan
pada variabel kategori dan variabel dimensi. Kedua jenis variabel ini dapat
dijelaskan sebagai berikut;
1. Variabel kategori adalah konsep yang memiliki beberapa gejala yang
dapat dibedakan satu sama lain berdasarkan label, atribut atau unsur
formal dari gejala itu. Variabel kategori adalah variabel mengandung nilainilai yang tidak dapat diutarakan dalam bentuk angka, tetapi dalam
bentuk kategori-kategori. Karena itu, variabel ini disebut juga variabel
kualatitatif. Included terms atau idividu-individu yang terdapat pada
konsep itu dikelompokkan berdasarkan ciri tertentu, tanpa melihat

peringkatnya. Jadi, pada dasarnya tidak ada kelebihan peringkat nilai satu
sub-himpunan dari sub-himpunan lainnya. Mengkategorisasikan berarti
menempatkan suatu obyek ke dalam sub-himpunan, sebagai bagian dari
himpunan. Karena itu, individu-individu yang termasuk dalam sub-kategori
hanya mungkin dihitung secara nominal, dan perbedaan antara satu sama
lain hanya karena ciri atributnya (bukan harganya). Contoh variabel
kategori ini adalah jenis kelamin (memiliki dua gejala; laki-laki dan
perempuan).
Pembuatan kategori yang terbaik adalah dengan merujuk teori yang
sudah ada. Tetapi jika sistem kategori yang baku belum ditemukan, maka
seorang peneliti dapat membentuk kategori sendiri. Ada dua ketentuan
dalam membentuk kategori dari suatu variabel; 1) bersifat exhaustive;
artinya semua unsur dari variabel tersebut harus dapat dimasukkan ke
dalam salah satu kategori, dan 2) bersifat mutually exlusive, artinya satu
unsur hanya dapat dimasukkan ke dalam salah satu kategori.
Pada era perkembangan ilmu yang pesat belakangan ini, para
peneliti telah berusaha untuk mengkuantifikasi variabel-variabel kualitatif.
Menurut para ahli ini, terdapat beberapa jenis variabel kualitatif yang
dapat dihitung dengan angka-angka, sekalipun tetap menyadari bahwa
tidak semuanya dapat diangkakan. Cara yang lazim digunakan untuk
mengkuantifikasi vaiabel kualitatif adalah dengan membentuk indeks dan
skala.
2. Variabel

dimensi

adalah

konsep

yang

menunjukkan

suatu

gejala

berdasarkan nilai atau tingkatan. Ini berarti bahwa variabel dimensi itu
mengandung dimensi-dimensi yang dapat diukur dan diberi skore dengan
angka. Karena itu variabel dimensi ini disebut juga variabel kuantitatif.
Pada penelitian kuantitatif, umumnya yang dipilih sebagai variabel
adalah

konsep

berdimensi

tunggal.

Konsep

berdimensi

tunggal

(unidimensional) adalah konsep yang spesifik (bukan bersifat general)


yang hanya mengandung satu jenis gejala. Sebagai contoh, pelaksanaan
shalat fardhu. Konsep ini sudah spesifik, karena tidak bercampur aduk
dengan shalat sunat, zikir dan sebagainya. Jika variabel penelitian adalah
seperti

pengamalan

agama,

maka

konsep

ini

termasuk

kategori

berdimensi majemuk (multidimensional). Konsep pengamalan agama


mengandung banyak jenis gejala, seperti pelaksanaan shalat fardhu,
pelaksanaan

shalat

sunat,

pelaksanan

puasa,

pelaksanaan

zakat,

kepatuhan kepada orangtua, hubungan antara sesama dan banyak lagi


yang lain. Setiap jenis gejala pada pengamalan agama adalah satu
variabel, karena itu sangat kompleks dan sulit untuk diuji dengan metoda
statistik. Karena itu, konsep multidimensional hanya mungkin dijadikan
variabel dalam penelitian yang berskala besar dan bermaksud untuk
menperoleh hasil yang mendalam.
Variabel dimensi dapat dibedakan pada dua jenis; diskret dan
kontinu. Secara umum, perbedaan antara kedua jenis variabel ini adalah
bahwa, variabel diskret merupakan hasil perhitungan sedangkan variabel
kontinu merupakan hasil pengukuran. Secara literal, diskret berarti tidak
mempunyai pecahan (utuh). Maksudnya, dalam variabel kuantitatif diskret
(discrete quantitative variables), tiap nilai variabel dipisahkan oleh satu
kesatuan tententu. Jadi, variabel diskret hanya dapat dinyatakan dalam
satuan-satuan (satu, dua, enam), dan satuan-satuan itu tidak dapat dibagi
lagi ke dalam satuan yang lebih kecil. Dengan demikian, data yang
diperoleh dari variabel ini adalah data nominal. Sedangkan variabel
kuantitatif kontinu (continuous quantitative variables) adalah variabel
yang bersambungan, artinya di antara dua unit ukuran masih terdapat
unit-unit ukuran lain yang secara teoritik tidak terhingga banyaknya.
Contohnya, di antara 1,5 meter dan 1,6 meter masih terdapat ukuran
1,51, 1,52 dan seterusnya. Data yang diperoleh dari variabel kontinu ini
terdiri dari data skala rasio, skala interval, dan skala ordinal. Kerlinger
menyatakan; bahwa variabel kontinu itu memiliki sehimpunan harga yang
teratur dalam suatu cakupan (range) tertentu. Ini menunjukkan; pertama,
harga-harga suatu variabel kontinu mencerminkan suatu urutan peringkat
(rank order). Harga yang lebih besar menunjukkan lebih banyak sifat
tertentu yang dimilikinya dibanding dengan harga yang lebih kecil, dan
kedua, ukuran-ukuran kontinu termuat dalam suatu range dan setiap
individu mendapat skor yang ada dalam range itu.
Dalam penelitian kuantitatif, variabel yang paling baik adalah
konsep dimensi. Alasannya, adalah karena a) konsep dimensi dapat
diterapkan

untuk

semua

budaya,

dan

b)

konsep

dimensi

akan

menghasilkan data berbentuk skala sehingga lebih mungkin untuk


dianalisis dengan metode-metode statistik yang lebih akurat. Hal ini bukan
berarti konsep kategori tidak berguna, sebab konsep ini juga masih dapat
dianalisis dengan statistik non-prametrik dengan hasil perhitungan kasar

atau dapat juga diubah dengan cara-cara tertentu menjadi konsep


dimensi.
C. Variabel Independen dan Variabel Dependen
Secara umum, jenis variabel (dilihat dari sifat hubungan antar variabel)
dapat dibedakan pada variabel indenpenden dan variabel dependen. Istilah
variabel independen dan variabel dependen berasal dari logika matematika, di
mana X dinyatakan sebagai yang mempengaruhi atau sebab dan Y sebagai
yang dipengaruhi atau akibat. Namun pengertian ini tentu tidak selalu
menggambarkan hakikat yang sebenarnya dari konsep variabel independen dan
dependen. Sebab dalam kenyataan, khususnya dalam penelitian ilmu-ilmu sosial,
hubungan antar variabel tidak selalu merupakan hubungan kausal. Yang dapat
dipastikan adalah, bahwa terdapat variabel yang saling berhubungan, di satu
pihak ada yang disebut variabel independen dan di pihak lain ada yang disebut
variabel dependen. Kedua variabel ini diperlukan oleh setiap penelitian
kuantitatif. Adapun sifat hubungan itu ada yang bersifat kausal, dan ada yang
tidak demikian.
Selain itu ada beberapa catatan yang perlu dipahami dalam mempelajari
dua variabel, independen dan dependen. Dalam suatu hubungan antar kedua
variabel itu, keberadaan variabel independen adalah sesuatu yang harus
diterima, tanpa mempersoalkan mengapa variabel independen itu demikian. Ini
dapat dinyatakan sebagai suatu kepastian, sebab jika suatu variabel masih
dicaritahu hal-ihwal pembentuknya, maka ia akan berubah posisi menjadi
variabel antara (intervening variabel), yaitu suatu variabel yang menghubungkan
antara variabel independen dengan variabel dependen.
1. Variabel independen, khususnya dalam eksperimen, dapat dimanipulasi
oleh peneliti. Di sini dianut keyakinan, bahwa variabel dependen akan
diketahui tingkat perubahannya bila variabel terlebih dahulu dipersiapkan.
Bila seorang ahli farmakologi, misalnya, ingin tahu dosis pemakaian dan
khasiat suatu obat yang baru diraciknya, maka ia harus terlebih dahulu
menakar obat yang akan diberikannya kepada kelinci percobaannya.
Karena itu dapat pula dikatakan, bahwa variabel independen adalah
variabel yang meramalkan, sedangkan variabel dependen adalah variabel
yang diramalkan. Dalam penelitian yang menggunakan tiga variabel atau
lebih (multivariat), selain variabel independen dan dependen masih ada lagi
sejumlah variabel lainnya yang menempati posisi tertentu dalam hubungan

antar variabel. Secara umum, variabel-variabel itu disebut variabel kontrol.


Disebut

variabel

kontrol,

karena

variabel

tersebut

berfungsi

untuk

mengontrol variabel independen dan atau variabel dependen.


Tujuan dari pemunculan variabel kontrol yang paling penting adalah,
untuk; a) menetralisir pengaruh variabel-variabel luar yang tidak perlu, dan
atau b) menjembatani hubungan antara variabel independen dengan
variabel dependen. Karena itu variabel kontrol dapat menempati posisiposisi tertentu dalam hubungan antar variabel; ada yang ditempatkan
sebelum variabel independen dan ada yang berada di antara variabel
independen-dependen. Variabel kontrol yang ditempatkan sebelum variabel
independen adalah variabel penekan (suppressor variable) atau variabel
pengganggu (distorter variable), sedangkan variabel kontrol yang berada di
antara variabel independen-dependen adalah variabel antara (intervening
variable).
2. Variabel Penekan atau pengganggu;
Ketika peneliti mengasumsikan bahwa selain variabel X dan Y masih ada
faktor

lain

yang

sangat

menentukan

untuk

mengetahui

hubungan

antarvaribel yang sebenarnya, maka di sini perlu menyertakan faktor itu


sebagai variabel penekan atau

pengganggu dalam pengujian. Tujuan

penyertaan variabel penekan ini adalah untuk mengeleminir kemungkinan


kesalahan dalam pengambilan kesimpulan. Penelitian mengenai hubungan
antara lama waktu senggang (di rumah) dengan lama menonton televisi,
misalnya, diasumiskan akan berbeda antara suami dengan isteri. Karena itu,
variabel

jenis

kelamin

dapat

dijadikan

sebagai

variabel

penekan/pengganggu. Berikut adalah gambaran penyebaran data tanpa dan


dengan menggunakan variabel penekan/pengganngu;
Contoh penyebaran data tanpa variabel penekan/pengganggu;
No Lama waktu senggang

Rata-rata lama menonton TV

Dalam Jam/minggu

Dalam menit/minggu

>61

600

51-60

534

41-50

340

31-40

287

<30

210

Contoh

penyebaran

data

dengan

variabel

Jenis

Kelamin

sebagai

penekan/pengganngu;
No Lama waktu senggang
Dalam jam/minggu

Rata-rata lama menonton tv


Dalam menit/minggu
Laki-laki

Peremp.

>61

450

150

51-60

412

122

41-50

223

117

31-40

175

112

<30

109

101

Ada beberapa informasi baru yang dapat diperoleh dari hubungan variabel
yang dimasuki oleh variabel kontrol pada contoh kedua ini;

Bahwa hubungan antarvariabel tetap sama, yaitu menunjukkan relasi;


Lama waktu senggang berhubungan secara signifikan dengan lama
menonton

tv

bagi

laki-laki,

dan

sedikit

sekali

hubungannya

bagi

perempuan.
Rank lama penontonan tv sangat berbeda antara laki-laki dengan
perempuan, yaitu antara 109-450 (=341) dengan 101-150 (=49).
3. Variabel Antara;
Pada dasarnya ide pemunculan variabel antara berawal dari asumsi bahwa
variabel independen memiliki hubungan kausal dengan variabel dependen.
Karena itu variabel ini diperlukan bilamana; 1) secara logika tidak mungkin
kedua variabel berhubungan secara langsung, 2) tidak ada teori yang
mendukung adanya hubungan antar keduanya, dan 3) diasumsikan ada
variabel lain yang dapat digunakan untuk menghubungkan kedua variabel itu.

D. Hubungan antar Variabel


Pada hakikatnya inti dari setiap kegiatan penelitian ilmiah adalah mencari
hubungan antar variabel. Hubungan yang paling dasar adalah hubungan antara
variabel independen dengan variabel dependen (X dengan Y).
Berdasarkan

penjelasan

terakhir,

Dr. Zamari

mencatat

sejumlah pola

hubungan variabel independen-dependen dalam penelitian sosial;


1. Pola linear dan posisitf; hubungan yang menunjukkan perubahan pada
kedua variabel dengan arah semakin membesar dan intensitas
perubahan bersifat konstan.
2. Pola linear dan negatif; hubungan yang menunjukkan perubahan pada
kedua variabel dengan arah yang berbeda, yang satu bertambah dan
yang lain berkurang atau sebaliknya.
3. Pola kurva linear dan positif; hubungan yang menunjukkan perubahan
pada kedua variabel dengan arah semakin membesar dan tetapi
intensitas perubahan tidak bersifat konstan, bahkan bila sampai titik
tertentu bisa berubah ke arah berlawanan.
4. Pola kurva linear dan negatif; hubungan yang menunjukkan perubahan
pada kedua variabel dengan arah yang berbeda, yang satu bertambah
yang lain berkurang, namun tidak bersifat konstan dan bahkan bila
sampai pada titik tertentu perubahan kedua variabel menuju arah yang
sama.
5. Pola posisitf power; dikatakan hubungan posisitf power apabila
perubahan kedua variabel ke arah yang lebih besar dengan intensitas
yang semakin lama semakin kuat atau besar.
6. Pola negatif power; suatu hubungan bersifat negatif power apabila
perubahan kedua variabel ke arah yang berlawanan dan intensitas
perubahan tidak konstan.
Sedikit berbeda dari

pendekatan

di atas,

Zetterberg mengungkap

beberapa pola hubungan antar variabel, yaitu;


1. hubungan determinasi, yaitu hubungan yang mengandung konotasi
bahwa sesuatu akan selalu terjadi apabila ada sesuatu yang lain;
2. hubungan kesetaraan, yaitu hubungan yang apabila sesuatu konsep
variabel mengandung keumungkinan setara atau tidak setara antara
satu sama lain;
3. hubungan berurutan, yaitu hubungan yang menunjukkan bahwa
sesuatu pasti terjadi setelah sesuatu yang lain terjadi;

4. hubungan kebersamaan, yaitu hubungan yang tidak menunjukkan


dimensi waktu, sehingga dua kejadian bisa terjadi dalam waktu yang
sama;
5. hubungan kecukupan, yaitu hubungan yang menunjukkan bahwa jika
sesuatu terjadi maka sesuatu yang lain akan mengikuti;
6. hubungan gabungan, yaitu hubungan yang menunjukkan bahwa
sesuatu akan terjadi apa ada sesuatu yang mendahului dan ditambah
dengan adanya kejadian lain;
7. hubungan keharusan, yaitu hubungan yang menunjukkan bahwa untuk
terjadinya sesuatu perlu adanya sesuatu yang lain muncul terlebih
dahulu;
8. hubungan tambahan, yaitu hubungan yang menunjukkan perlunya
beberapa alternatif untuk terjadinya sesuatu yang lain.
Dari sudut pandang yang lain masih ada jenis hubungan antar variabel
yang perlu dikteahui, yaitu simetris, timbal-balik (reciprocal), dan asimetris. Dua
dari tiga jenis hubungan ini masih dapat dibedakan pada beberapa kategori.
1. Hubungan Simetrik, terdiri dari:
Kedua variabel merupakan indikator untuk konsep yang sama.
Kedua variabel merupakan akibat dari faktor yang sama.
Kedua variabel berkaitan secara fungsional.
Hubungan yang kebetulan semata-mata.
2. Hubungan Asimetrik, terdiri dari:
Hubungan antara stimulus dan respons.
Hubungan antra disposisi dan respons.
Hubungan antara ciri individu dan disposisi atau tingkah laku.
Hubungan yang imanen.
Hubungan antara tujuan dan cara.
3. Hubungan timbal-balik (korelasi)
Seperti yang sudah dikemukakan, hubungan antara variabel X dan Y cukup
banyak ragamnya, namun untuk mensinkronkan dengan kebutuhan pengujian
secara statistik, pola-pola hubungan itu perlu disederhanakan. Secara garis
besar, jenis-jenis hubungan dimaksud ada tiga kategori; korelasi, regresi dan
variasi. Penjelasan mengenai ketiga jenis variabel ini akan dikemukakan pada
pembahasan tentang Uji Statistik Inferensial.
E. Pengukuran Variabel

Pengukuran merupakan keniscayaan dalam penelitian ilmiah, karena


pengukuran itu merupakan jembatan untuk sampai pada observasi. Penelitian
selalu mengharuskan pengukuran variabel dalam relasi yang dipelajarinya.
Pengukuran variabel itu ada yang mudah, seperti konsep jenis kelamin, dan ada
yang sulit, seperti konsep inteligensi.
Pengukuran variabel merupakan tahap awal dari kegiatan pengukuran
dalam penelitian. Tujuan pengukuran variabel ini baru pada tahap menjawab
pertanyaan bagaimana cara untuk mengukur variabel tersebut? Selanjutnya
muncul pertanyaan lanjutan; apa yang diukur atau bagaimana cara merubah
konsep, dan apa alat ukurnya.
Mengukur adalah sebuah proses kuantifikasi, karena itu setiap kegiatan
pengukuran

berkaitan

dengan

jumlah,

dimensi

atau

taraf

dari

sesuatu

obyek/gejala yang diukur. Hasil dari pengukuran itu biasanya dilambangkan


dalam bentuk bilangan.
Posedur pengukuran variabel dimulai dari pembuatan definisi operasional
konsep variabel. Kerlinger mengungkapkan, bahwa definisi operasional itu
melekatkan arti pada suatu konsep variabel dengan cara menetapkan kegiatankegiatan atau tindakan-tindakan yang perlu untuk mengukur suatu konsep
variabel itu. Atau dengan ungkapan lain, definisi operasional merupakan
spesifikasi

kegiatan

peneliti

dalam

mengukur

suatu

variabel

atau

memanipulasaikannya. Suatu contoh definisi operasional yang sederhana (kasar)


dari konsep inteligensi adalah skor yan dicapai pada tes intelegensi X.
Ada dua cara pembuatan definisi operasional, terukur dan eksprimental.
Definisi operasional terukur memaparkan cara pengukuran suatu variabel,
sedangkan definisi operasional eksperimental menyebutkan rincian-rincian hal
yang dilakukan peneliti dalam memanipulasi sesuatu variabel. Contoh di atas
adalah definisi oprerasional terukur, sedangkan contoh definisi eksperimental
untuk konsep penguatan (reinforcement),dapat diberikan dengan menyatakan
secara rinci bagaimana subyek-subyek diberi penguat (imbalan) dan tidak diberi
penguat (tidak diberi imbalan) karena melaksanakan tingkah laku tertentu.
Adalah konsep yang bervariasi atau konsep yang memiliki nilai ganda atau
suatu factor yang jika diukur akan menghasilkan nilai yang bervariasi. Variabel
juga dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang yang atau objek yang
mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau suatu objek dengan
objek yang lain.

F. MACAM-MACAM VARIABEL
1.

Variabel Prediktor atau Antiseden, variable Bebas atau variable Stimulus.

2.

Adalah variable yang menyebabkan timbulnya variable terikat.


Variabel Terikat atau Dependent atau variable Output atau Kriteria atau
Konsekuen.
Adalah variable yang mempengaruhi atau yang menjadi akibat karena

3.

4.

adanya variable bebas.


Variabel Moderator
Adalah variable yang

mempengaruhi

(bisa

memperkuat

atau

memperlemah) hubungan antara variable bebas dan variable terikat.


Variabel Kontrol
Adalah variable yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga
pengaruh variable bebas terhadap variable terikat tidak dipengaruhi oleh

5.

6.

factor luar yang tidak diteliti.


Variabel Intervening / Antara
Adalah variable yang dipengaruhi

leh

mempengaruhi

terikat,

variable

variable

variable
jadi

bebas

kemudian

variable

mempengaruhi variable terikat melalui variable antara


Variabel Anteseden
Variabel ini mempunyai persamaan dengan variable

antar

bebas

yaitu

mempunyai hasil yang lebih mendalam dari penelusuran.


Berdasarkan dari hasil pengukuran terdapat 4 tingkat variable, yaitu :
1. Variabel Nominal :
Yaitu variable yang hanya mampu membedakan ciri atau sifat antara unit
yang satu dengan yang lainnya, dalam variable ini tidak mengenal jenjang
atau bertingkat. Variabel Nominal dapat di kategorikan : Var. Nominal
Dikotomus, dan Var. Non Dikotomus (non kategori)
2. Variabel Ordinal :
Yaitu variable yang tersusun menurut jenjang dalam atribut tertentu . Pada
variable ini menunjukkan urutan atau bertingkat, ada gradasi atau
peringkat.
3. Variabel Interval :
Untuk data interval angka yang digunakan adalah nilai yang dapat di
dentikkan dengan bilangan riil, oleh karena itu maka angka dalam data
4.

interval dapat dioperasikan dengan operasi hitung.


Variabel Rasio :
Variabel yang dalam kuantifikasinya mempunyai nilai nol mutlak.

Variabel Terikat
Variabel terikat merupakan variabel yang menjadi perhatian utama peneliti. Tujuan peneliti
adalah memahami dan membuat variabel terikat, menjelaskan variabilitasnya, atau
memprediksinya. Dengan kata lain, variabel terikat merupakan variabel utama yang menjadi
faktor yang berlaku dalam investigasi. Melalui analisis terhadap terikat (yaitu, menemukan
variabel yang mempengaruhinya), adalah mungkin untuk menemukan jawaban atau solusi
atas masalah. Untuk tujuan tersebut, peneliti akan tertarik untuk menguantifikasi dan
mengukur variabel terikat, sama sepert variabel lain yang mempengaruhi variabel tersebut.
Contoh:
Seorang manajer merasa prihatin bahwa penjualan sebuah produk yang baru saja
diluncurkan setelah dilakukan uji pemasaran tidak memenuhi harapannya. Variabel
terikat di sini adalah penjualan. Karena penjualan produk dapat bervariasi, bisa
rendah, sedang atau tinggi sehingga hal tersebut adalah variabel bebas sedangkan
penjualan merupakan fokus utama manajer, hal tersebut adalah variabel terikat.
Seorang peneliti dasar berminat untuk menyelidiki rasio utang terhadap modal (debt
to equity ratio) perusahaan manufaktur di selatan California, disini variabel terikat
adalah rasio utang terhadap modal.
Seorang wakil direktur merasa prihatin bahwa karyawannya tidak loyal terhada
organisasi, dan tampaknya mereka mengalihkan loyalitas pada intitusi lain. Variabel
terikat dalam kasus ini kemungkinan adalah loyalitas organisasi.
Dalam hal ini, terdapat varians (perbedaan) yang ditemukan dalam tingkat loyalitas
karyawan terhadap organisasi. Direktur tersebut mungkin ingin mengetahui apa saja
yang menyebabkankan varians dalam loyalitas anggota organisasi dengan tujuan
untuk mengendalikannya. Bila ia menemukan bahwa kenaikan gaji akan memastikan
loyalitas dan retensi mereka, ia kemudian dapat menawarkan insentif bagi karyawan
sebagai kenaikan gaji, yang akan berperan mengendalikan variabilitas dalam loyalitas
organisasi dan untuk mempertahankan karyawan dalam organisasi.
Adalah mungkin untuk mempunyai lebih dari satu variabel terikat dalam sebuah studi.
Misalnya, selalu ada pergesekan antara kualitas dan volume keluaran, produksi berbiaya

rendah dan kepuasan pelanggan, dan seterusnya. Dalam kasus semacam itu, manajer ingin
mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi semua variabel terikat yang diminati dan
bagaimana sebagian dari mereka mungkin berbeda dalam kaitannya dengan variabel terikat
yang lain. Investigasi tersebut bisa menggunakan analisis statistik multivariat (multivariat
statistical analysis).
Variabel bebas
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi variabel terikat, entah secara positif atau
negatif. Yaitu jika terdapat variabel bebas, variabel terikat juga hadir, dan dengan setiap unit
kenaikan dalam variabel bebas, terdapat pula kenaikan atau penurunan variabel terikat.
Dengan kata lain, varians variabel terikat ditentu kan oleh variabel bebas. Untuk membangun
hubungan sebab akibat, variabel bebas dimanipulasi (manipulated) sebagaimana dijelaskan
dalam bab 7 mengenai Desain Eksperimen.
Contoh:
Penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan pengembangan produk baru berpengaruh
terhadap harga saham perusahaan. Yaitu, semakin sukses peluncuran produk baru,
semakin tinggi pula harga saham perusahaan. Karena itu, kesuksesan produk baru
(success of the new product) adalah variabel bebas, dan harga saham perusahaan
(stock market price) merupakan variabel terikat. Tingkat keberhasilan pengembangan
produk baru yang dirasakan akan menjelaskan varians dalam harga saham perusahaan.
Hubungan tersebut dan penamaan terhadap variabel diperlihatkan dalam diagram
berikut ini:
Diagram hubungan antara variabel bebas (kesuksesan produk baru) dan variabel
terikat (harga saham perusahaan).
Kesuksesan produk baru
Variabel bebas

Harga saham
perusahaan
Variabel terikat

DAFTAR PUSTAKA
Fred N. Kerlinger, Foundation of Behavioral Research, terjemahan Drs. Landung
R. Simatupang, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1998).
Koentjaraningrat (ed), Metode-metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta:
Gramedia, 1981).
Masri Singarimbun dan Sofian Effendi (ed), Metode Penelitian Survai, (Jakarta:
LP3ES, 1989).
Moh. Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988).
Suharsini Arikunto, Manjemen Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990)

Suharsini Arikunto,

Prosedur

Penelitian:

Suatu

Pendekatan

Praktek,

(Jakarta: Rineka Cipta, 1993)


Zamari, Pengantar Pengembangan Teori Sosial, (Yogyakarta: Tiara Wacana,
1992).