Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN KASUS

ABORTUS INKOMPLITUS

Disusun Oleh:
FELLA NOPRITA MUQHNY
NIM : 081001083

Dokter Pembimbing:
dr. Anwar Affandi Harahap, Sp.OG

FAKULTAS KEDOKTERAN ISLAM


SUMATERA UTARA
2013

Fella Noprita Muqhny/ FK UISU/ 081001083

Page 1

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadiran Allah SWT, sehingga penulis telah dapat
menyelesaikan paper ini guna memenuhi persyaratan Kepaniteraan Kinik di Bagian Ilmu
Obstetri dan Ginekologi di RSUD. DR.RM Djoelham Binjai Laporan Kasus yang berjudul
Abortus Inkomplitus
Pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya
kepada dokter pembimbing yaity dr. Anwar Affandi Harahap, Sp. OG serta dr. H. Sugianto,
Sp.OG, dr. Herizal,Sp.OG, dr. Arusta Tarigan Sp.OG atas bimbingan dan arahannya kepada
penulis selama mengikuti Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Obstetri dan Ginekologi di RSUD.
DR.RM Djoelham Binjai dalam penyusunan paper ini.
Penulis menyadari bahwa hasil penyusunan paper ini masih banyak kekurangan, oleh
karena keterbatasan pengetahuan yang dimiliki penulis. Kritik dan saran yang sifatnya
membangun sangat diharapkan untuk menjadikan paper ini lebih baik lagi.
Besar harapan semoga paper ini dapat bermanfaat dalam menambah pengetahuan kita
semua.

Medan , juli 2013

Penulis

Fella Noprita Muqhny/ FK UISU/ 081001083

Page 2

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................ i
DAFTAR ISI ...............................................................................................

ii

BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................... 1


1.1 Latar Belakang...................................................................................... 1
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .................................................................. 3
2.1 Defenisi.......................................................................................3
2.2. Histopatologi.............................................................................. 3
2.3 Klasifikasi Abortus...................................................................... 3
2.4 Patofisiologi............................................................................... 7
2.5 Diagnosa..................................................................................... 8
2.6 Diagnosa Banding..................................................................... 9
2.7 Komplikasi................................................................................ 9
2.8 Penatalaksanaan Abortus Inkomplit.......................................... 10
2.9 Pemantauan Pasca Abortus.........11

LAPORAN KASUS..................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................16

BAB 1

Fella Noprita Muqhny/ FK UISU/ 081001083

Page 3

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Istilah abortus dipakai untuk menunjukan pengeluaran hasil konsepsi sebelum
janin dapat hidup di luar kandungan dan berusia kurang dari 20 minggu dengan berat
badan kurang dari 500 gr. Insiden abortus spontan secara umum pernah disebutkan
sebesar 10% dari seluruh kehamilan. Abortus ini dibedakan antara lain abortus imminens,
abortus insipiens, abortus inkomplitus, dan abortus komplitus, selain itu juga dikenal
adanya abortus habitualis, missed abortion dan abortus infeksious selama kehamilan
Insiden aborsi dipengarui oleh umur ibu dan riwayat obstetriknya seperti
kelahiran normal sebelumnya, riwayat abortus spontan, dan kelahiran dengan anak
memiliki kelainan genetik. Frekuensi abortus diperkirakan sekitar 10-15 % dari semua
kehamilan. . Delapan puluh persen kejadian abortus terjadi pada usia kehamilan sebelum
12 minggu. Hal ini banyak disebabkan karena kelainan pada kromosom. Dari 1.000
kejadian abortus spontan, setengahnya merupakan blighted ovum dan 50-60 %
dikarenakan abnormalitas kromosom. Disamping kelainan kromosom, abortus spontan
juga disebabkan oleh penggunaan obat dan faktor lingkungan, seperti konsumsi kafein
selama kehamilan.
Abnormalitas dari kromosom adalah etiologi yang paling sering menyebabkan
abortus. Penyebab yang lain dari aborsi dengan persentasi yang kecil adalah infeksi,
kelainan anatomi, factor endokrin, factor immunologi, dan penyakit sistemik pada ibu.
Mekanisme awal terjadinya abortus adalah lepasnya sebagian atau seluruh bagian embrio
akibat adanya perdarahan minimal pada desidua. Kegagalan fungsi plasenta yang terjadi
akibat perdarahan subdesidua tersebut menyebabkan terjadinya kontraksi uterus dan
mengawali adanya proses abortus.

Fella Noprita Muqhny/ FK UISU/ 081001083

Page 4

Abortus dapat dibagi menjadi abortus spontan dan abortus provokatus. Abortus
spontan merupakan abortus yang berlangsung tanpa tindakan atau terjadi secara spontan.
Abortus provokatus adalah pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu akibat tindakan
baik menggunakan alat maupun obat-obatan. Dan abortus imminens termasuk abortus
spontan.
Abortus habitualis adalah abortus yang terjadi berulang tiga kali secara berturutturut. Kejadiannya sekitar 3-5%. Data dari beberapa studi menunjukkan bahwa setelah 1
kali abortus spontan, pasangan punya resiko 15% untuk mengalami keguguran lagi,
sedangkan bila pernah 2 kali, risikonya akan meningkat 25%. Beberapa studi
meramalkan bahwa risiko setelah 3 abortus berurutan adalah 30-45 %.

Fella Noprita Muqhny/ FK UISU/ 081001083

Page 5

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Defenisi
Defenisi abortus (aborsi) adalah berakhirnya kehamilan melalui cara apapun
sebelum janin bertahan hidup. Defenisi lain yang sering digunakan adalah keluarnya
janin neonatus yang beratnya kurang dari 500 mg.
Abortus inkomplitus adalah sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri
dan masih ada yang tertinggal.
2.2 Etiologi
Lebih dari 80 persen abortus terjadi pada 12 minggu pertama. Penyebab abortus
bervariasi dan sering diperdebatkan. Umumnya lebih dari satu penyebab. Penyebab
terbanyak diantaranya adalah sebagai berikut:
-

Faktor Genetik.

Kelainan kongenital uterus.

Autoimun

Defek fase luteal

Infeksi

Hematologic

Lingkungan

2.3 Klasifikasi Abortus

1. ABORTUS SPONTAN
Apabila abortus terjadi tanpa tindakan mekanis atau medis untuk mengosongkan
uterus, maka abortus tersebu dinamai abortus spontan. Kata lain yang digunakan adalah
keguguran (miscarriage).
Abortus spontan adalah abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor
mekanis ataupun medialis, semata-mata disebabkan oleh faktor-faktor alamiah. Biasanya
disebabkan karena kurang baiknya kualitas sel telur dan sel sperma.
Fella Noprita Muqhny/ FK UISU/ 081001083

Page 6

Aspek klinis abortus spontan dibagi menjadi enam subkelompok :


1. Abortus Iminens
Pengertian abortus imminens adalah perdarahan yang berasal dari intra
uterine sebelum usia kehamilan kurang dari 20 minggu dengan atau tanpa
kontraksi, tanpa dilatasi serviks, dan tanpa ekspulsi hasil konsepsi. Abortus
imminens sifatnya adalah mengancam, tetapi masih ada kemungkinan untuk
mempertahankan hasil konsepsi. Abortus imminens ditegakan pada wanita
yang hamil dengan gejala perdarahan pervaginam yang timbul dalam waktu
kehamilan trimester pertama.
Perdarahan pada abortus imminens lebih ringan , namun dapat menetap
dalam beberapa hari sampai dengan beberapa minggu. Hal ini akan
mengakitkan gangguan terhadap hasil konsepsi berupa persalinan preterm,
berat badan lahir rendah serta kematian prenatal
Ostium uteri masih tertutup besarnya uterus masih sesuai dengan umur
kehamilan dan tes kehamilan urin masih positif. Untuk menentukan prognosis
abortus iminens dapat dilakukan dengan melihat kadar hCG pada urin dengan
cara melakukan tes urin kehamilan
2. Abortus insipiens (inivitable)
Merupakan suatu abortus yang sedang berlangsung, ditandai dengan
perdarahan pervaginam <20 minggu dengan adanya pembukaan serviks,
namun tanpa pengeluaran hasil konsepsi. Pada keadaan ini didapatkan juga
nyeri perut bagian bawah atau nyeri kolik uterus yang hebat.
Penderita akan merasa mulas karena kontraksi yang sering dan
kuat,perdarahannya bertambah sesuai dengan pembukaan serviks uterus dan
kehamilan. Besar uterus masih sesuai dengan umur kehamilan dengan tes urin
kehamilan masih positif.
Pemeriksaan vagina pada kelainan ini memperlihatkan dilatasi ostium
serviks dengan bagian kantong konsepsi menonjol. Hasil pemeriksaan USG
mungkin didapatkan jantung janin masih berdenyut, kantong gestasi kosong
Fella Noprita Muqhny/ FK UISU/ 081001083

Page 7

(5-6,5 minggu), uterus kosong (3-5 minggu) atau perdarahan subkhorionik


banyak di bagian bawah. Kehamilan biasanya tidak dapat dipertahankan lagi
dan pengeluaran hasil konsepsi dapat dilaksanakan dengan kuret vakum atau
dengan cunam ovum disusul dengan kerokan.
3. Abortus Komplit
Adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum usia kehamilan kurang dari 20
mingguatau berat badan kurang dari 500 gram dan masih terdapat hasil
konsepsi yang tertinggal di dalam uterus.
Semua hasil konsepsi telah dikeluarkan, osteum uteri telah menutup,
uterus sudah mengecil sehingga perdarahan sedikit. Besar uterus tidak sesuai
dengan kehamilan. Pemeriksaaan tes urin kehamilan biasanya masih positif
sampai 7-10 hari setelah abortus.
Pengelolaan penderita tidak memerlukan tindakkan khusus ataupun
pengobatan. Biasanya hanya diberi roboransia atau hematenik bila keadaan
pasien memerlukan. Uterotonika tidak perlu diberikan.
4.

Abortus Inkomplet
Pada abortus yang terjadi pada umur kurang dari 20 minggu atau berat
janin kurang dari 500 gram, sebagian hasil konsepsi telah keluar dari
kavum uteri dan masih ada yang tertinggal. Kanalis servikalis masih
terbuka dan teraba jaringan dalam kavum uteri atau menonjol pada ostium
uteri eksternum. Perdarahannya biasanya masih banyak atau sedikit
bergantung pada jaringan yang tersisa, yang menyebabkan sebagian
placental site masih terbuka sehingga perdarahan masih terus berjalan.
Pengelolaan pasien harus diawali dengan perhatian terhadap keadaan
umum dan mengatasi gangguan hemodinamik yang terjadi kemudian
dilakukkan tindakan kuretase. Pemeriksaan USG hanya dilakukkan bila
kita ragu dengan diagnosis secara klinis.

Fella Noprita Muqhny/ FK UISU/ 081001083

Page 8

5. Missed Abortion
Abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus telah meninggal
dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu dan hasil konsepsi
seluruhnya masih tertahan dalam kandungan.
Penderita missed abortion biasanya tidak merasakan keluhan apa
pun kecuali merasakan pertumbuhan kehamilannya tidak seperti yang
diharapkan. Bila kehamilan diatas 14 minggu sampai 20 minggu penderita
justru merasakan rahimnya semakin mengecil dengan tanda-tanda
kehamilan sekunder pada payudara mulai menghilang.
Pada pemeriksaan USG akan didapatkan uterus mengecil, kantong
gestasi yang mengecil, dan bentuknya tidak beraturan disertai gambaran
fetus yang tidak ada tanda tanda kehidupan.
Pengelolaan missed abortion perlu diutarakan kepada pasien dan
keluarga pasien secara baik karena resiko tindakan operasi dan kuretase ini
dapat menimbulkan komplikasi perdarahan atau tidak bersihnya kuretase
dalam sekali tindakan. Pada kehamilan kurang dari 12 minggu tindakan
evakuasi dapat dilakukan secara langsung dengan melakukan dilatasi dan
kuretase bila serviks uterus memungkinkan. Bila umur kehamilan diatas
12 minggu atau kurang dari 20 minggu dengan keadaan serviks uterus
yang masih kaku dianjurkan untuk melakukan induksi terlebih dahulu
untuk mengeluarkan janin atau mematangkan kanalis servikalis.
6. Abortus Rekuren(Habitualis)
Abortus spontan berturut-turut selama tiga kali atau lebih.
Penyebab abortus rekuren selain faktor anatomis banyak mengkaitkan
dengan reaksi imunologik yaitu kegagalan reaksi terhadap antigen
lymphocyte trophoblast cross reactive (TLX). Bila reaksi terhadap antigen
ini rendah atau tidak ada akan terjadi abortus.
Salah satu penyebab yang sering dijumpai ialah inkompetensia
serviks yaitu keadaan dimana serviks uterus tidak dapat menerima beban
untuk tetap bertahan menutup setelah kehamilan melewati trimester
Fella Noprita Muqhny/ FK UISU/ 081001083

Page 9

pertama, dimana ostium serviksakan membuka(inkompeten) tanpa disertai


rasa mules/ kontraksi rahim dan akhirnya terjadi pengeluaran janin.
2. ABORTUS PROVOKATUS
Abortus provokatus adalah pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu akibat
tindakan baik menggunakan alat maupun obat-obatan. Jenis abortus provokatus
dibagi berdasarkan alasan melakukan abortus adalah :
- Abortus terapeutik adalah abortus provokatus yang dilakukan atas indikasi
medis
- Abortus kriminalis adalah abortus provokatus yang dilakukan bukan karena
indikasi medis tetapi perbuatan yang tidak legal atau melanggar hukum.
Abortus complete dan abortus incomplete :

Fella Noprita Muqhny/ FK UISU/ 081001083

Page 10

2.4. Patofisiologi
Mekanisme awal terjadinya abortus adalah lepasnya sebagian atau seluruh bagian
embrio akibat adanya perdarahan minimal pada desidua. Kegagalan fungsi plasenta yang
terjadi akibat perdarahan subdesidua tersebut menyebabkan terjadinya kontraksi uterus
dan mengawali adanya proses abortus.

Pada kehamilan kurang dari 8 minggu


Embrio rusak atau cacat yang masih terbungkus dengan sebagian desidua dan villi
chorialis cenderung dikeluarkan secara in toto, meskipun sebagian dari hasil
konsepsi masih tertahan dalam cavum uteri atau di canalis servikalis. Perdarahan
pervaginam terjadi saat proses pengeluaran hasil konsepsi.

Pada kehamilan 8-14 minggu


Mekanisme di atas juga terjadi dan diawali dengan pecahnya selaput ketuban
telebih dahulu dan diikuti dengan pengeluaran janin yang cacat namun plasenta
masih tertinggal dalam cavum uteri. Jenis ini sering menimbulkan perdarahan
pervaginam banyak.

Pada kehamilan minggu ke 14-22 :


Janin biasanya sudah dikeluarkan dan diikuti dengan keluarnya plasenta beberapa
saat kemudian. Kadang-kadang plasenta masih tertinggal dalam uterus sehingga
menimbulkan gangguan kontraksi uterus dan terjadi perdarahan pervaginam

Fella Noprita Muqhny/ FK UISU/ 081001083

Page 11

banyak. Perdarahan pervaginam umumnya lebih sedikit namun rasa sakit lebih
menonjol .
2.5 Diagnosa
Diagnosis abortus inkomplit ditegakkan berdasarkan :
a.

Anamnesa:
-

Adanya amenore pada masa reproduksi

Perdarahan pervagina disertai jaringan hasil konsepsi

Rasa sakit atau keram perut di daerah atas simpisis

b.

Pemeriksaan Fisis :
-

Abdomen biasanya lembek dan tidak nyeri tekan

Pada pemeriksaan pelvis, sisa hasil konsepsi ditemukan di dalam uterus,


dapat juga menonjol keluar, atau didapatkan di liang vagina.

c.

Serviks terlihat dilatasi dan tidak menonjol.

Pada pemeriksaan bimanual didapatkan uterus membesar dan lunak.


Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium berupa tes kehamilan, hemoglobin, leukosit,
waktu bekuan, waktu perdarahan, dan trombosit.
2. Pemeriksaan USG ditemukan kantung gestasi tidak utuh, ada sisa hasil
konsepsi.

2.6 Diagnosa Banding


- Abortus komplit
- Kehamilan ektopik
Pada kasus abortus, selain menghentikan perdarahannya, perlu dicari
penyebab terjadinya abortus dan menentukan sikap dalam penanganannya
selanjutnya. Pemeriksaan penunjang yang dapat kita lakukan antara lain :
1. - HCG
2. Pemeriksaan kadar Hb dan Ht
3. Pemeriksaan golongan darah dan skrining antibodi
Fella Noprita Muqhny/ FK UISU/ 081001083

Page 12

4. Pemeriksaan kadar progesteron serum


5. USG (Saifudin, 2002)
2.7 Komplikasi
Komplikasi yang berbahaya pada abortus
a. Perdarahan
Dapat di atasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika
perlu pemberian transfuse darah, kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila
pertolongan tidak di berikan pada waktunya.
b. Perforasi uterus
Dapat terjadi perforasi pada kerokan terutama pada uterus dalam posisi
retrofleksi, jika terjadi perforasi harus segera di lakukan laparatomi.
c. Infeksi
Infeksi dalam uterus atau sekitarnya dapat terjadi pada tiap abortus. Lebih sering
di temukan pada abortus inkompletus dan abortus buatan yang tanpa
memperhatikan aseptik dan aniseptik.
d. Syok
Keadaan syok dapat di timbulkan oleh bermacam-macam sebab yang terbanyak
adalah syok hipovolemik yaitu adanya kekurangan volume darah yang beredar
akibat perdarahan atau dehidrasi.
2.8 Penatalaksanaan Abortus Inkomplit :
- Perbaikan keadaan umum jika diperlukan
- Kuretase
- Uterotonika dan antibiotika
Penanganan abortus inkomplit :
1. Jika perdarahan tidak seberapa banyak dan kehamilan kurang 16 minggu,
evaluasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk
mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks. Jika perdarahan

Fella Noprita Muqhny/ FK UISU/ 081001083

Page 13

berhenti, beri ergometrin 0,2 mg intramuskuler atau misoprostol 400 mcg per
oral.
2. Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan kurang 16
minggu, evaluasi sisa hasil konsepsi dengan :

Aspirasi vakum manual merupakan metode evaluasi yang terpilih. Evakuas


dengan kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak

tersedia.
Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera, beri ergometrin 0,2 mg
intramuskuler (diulang setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 mcg per
oral (dapat diulang setelah 4 jam bila perlu).

3. Jika kehamilan lebih 16 minggu:

Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik
atau ringer laktat) dengan kecepatan 40 tetes per menit sampai terjadi ekspulsi

hasil konsepsi.
Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg per vaginam setiap 4 jam sampai terjadi

ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg).


Evaluasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus.

4. Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan.


Penyulit :
1. Syok hemoragik anemia
2. Perforasi uterus.
3. Infeksi sebelum /sesudah tindakan kuret
Informed Concent :
Tertulis untuk tindakan kuretase
Lama Perawatan :
Pasca kuretase pasien tidak perlu dirawat kecuali ada komplikasi.
2.9 Pemantauan Pasca Abortus
Fella Noprita Muqhny/ FK UISU/ 081001083

Page 14

Syarat-syarat memulai metode kontrasepsi dalam waktu 7 hari pada kehamilan yang
tidak diinginkan:
1. Tidak terdapat komplikasi berat yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
2. Ibu menerima konseling dan bantuan secukupnya dalam memilih metode
kontrasepsi yang paling sesuai.
Beberapa wanita mungkin membutuhkan:
1. Jika klien pernah diimunisasi, berikan booster tetanus toksoid 0,5 ml atau jika
dinding vagina atau kanalis servikalis tampak luka terkontaminasi.
2. Jika riwayat imunisasi tidak jelas, berikan serum anti tetanus 1500 unit
intramuskuler diikuti dengan tetanus toksoid 0,5 ml setelah 4 minggu
3. Penatalaksanaan untuk penyakit menular seksual.
4. Penapisan kanker serviks.

LAPORAN KASUS
1. Identitas Pasien
Nama
Jenis kelamin
Umur
Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Alamat

: Eli Maryati
: Perempuan
: 37 tahun
: Islam
: SMP
: Petani
: Jln. Dokter Wahid Binjai Utara

Fella Noprita Muqhny/ FK UISU/ 081001083

Page 15

Suku/ Bangsa
Tanggal Masuk RS
No. RM

: Karo / Indonesia
: 26 mei 2013
: 090241

2. Anamsesis
Keluhan Utama
Perjalanan Penyakit

: Perdarahan dari vagina


: os datang ke rumah sakit dengan keluhan keluar

darah

dari vagina. Hal ini sudah dialami os sejak 1 minggu


yang lalu, sebanyak 100 cc. os juga mengeluh nyeri pada
daerah perutnya.
Riwayat Haid

: Menarche pada usia 11 tahun dan siklus haid teratur 28


hari lamanya 7 hari.

HPHT

: 09- 03 2013

TTP

: 16-12-2013

R. Perkawinan

: menikah 1 kali

R. Persalinan

: G4P3A0

R. ANC

: Perawatan 1 kali ke bidan setempat

R. Kontrasepsi

: (-)

R. Penyakit yang diderita

: (-)

R. Penyakit keluarga

: (-)

3. Pemeriksaan Fisik
Status present
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: compos mentis

TD

: 110/70 mmHg

HR

: 80 x/i

RR

: 24 x/i

: 36,4 0c

Status General :
Kepala

: Normochepali

Mata

: Anemis -/- , Ikterik -/-

Fella Noprita Muqhny/ FK UISU/ 081001083

Page 16

Telinga

: TAK

Hidung

: TAK

Leher

: TAK

Thorax

: - Cor : Regular, BJ1 = BJ2


- Pulmo : vesikuler +/+, Ronki -/- , wheezing -/-

Abdomen

: Datar, supel , BU (+)

Ekstremitas

: Edema superior/ inferior: -/-

Status Ginekologi:
- Palpasi
: Belum teraba
- VT
: Tidak dilakukan
- DJJ
: (-)
- HIS
: (-)
Pemeriksaan Penunjang

4.

HB

: 13,2 %

Leukosit

: 12,2

USG

: Pada tanggal 27- 05-2013 dr. Herizal Sp.OG


Hasil : Abortus Inkomplit

5. Diagnosa kerja

Abortus Inkomplit
6. Penatalaksanaan:
Rencana Kuretase
Medikamentosa
*Sebelum kuretase : - RL 30 gtt/i
- Ceftriaxone / 12 jam
- inj. Gentamycin/8 jam
- inj. Kalnex/ 8jam

* Sesudah Kuretase: - Ciprofloxacin 500mg 3x1


- metronidazole 3x1
- As. Mefenamat 500mg 3x1
Diet MB
Dilakukan Kuretase :
o Kesan bersih
o Evaluasi Perdarahan

Fella Noprita Muqhny/ FK UISU/ 081001083

Page 17

o Keadaan umum ibu post kuretase : baik


7. Perjalanan Penyakit (Observasi harian)
26 mei 2013 :
o Keadaan umum : perdarahan pervaginam, lemas (+)
o TD
: 110/70 mmHG
o HR
: 120 x/ i reguler
o RR
: 24 x/ i
o T
: 36,4 0C
o HPHT
: 15-05-2013
-

27 mei 2013
Keadaan umum : lemas (+)
TD
: 110/80 mmHG
HR
: 88 x/ i reguler
RR
: 20x/ i
T
: 36,5 0C

28 mei 2013
-

Keadaan umum : perdarahan berkurang


TD
: 100/70 mmHG
HR
: 92 x/ i reguler
RR
: 20x/ i
T
: 36 0C

29 mei 2013
-

Keadaan umum : perdarahan berkurang


TD
: 110/70 mmHG
HR
: 90 x/ i reguler
RR
: 22x/ i
T
: 36,1 0C
Rencana kuretase dilaksanakan pada esok hari tanggal 30 mei 2013 pukul 10.00 wib.

Post Kuretase
30 mei 2013
-

Keadaan umum
Kesadaran
TD
HR
RR
T

: baik
: Compos Mentis
: 100/70 mmHG
: 72 x/ i reguler
: 20 x/ i
: 36 0C

Fella Noprita Muqhny/ FK UISU/ 081001083

Page 18

Perdarahan sedikit 10cc


Assesment
:G4 P3 A0 10 mg dengan abortus Inkomplitus
Planning
: Boleh Pulang

DAFTAR PUSTAKA

1. Leveno, K. J. (2009). Obstetri Williams: Panduan Ringkas. Jakarta: EGC.


2. Sarwono, Prawirohardjo, 2002. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC
3.

Mansjoer A, dkk, 2008, Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta : Media Acsulapius

Fella Noprita Muqhny/ FK UISU/ 081001083

Page 19