Anda di halaman 1dari 25

REFARAT

ANEMIA PADA IBU HAMIL

Disusun Oleh:
FELLA NOPRITA MUQHNY
NIM : 081001083

Dokter Pembimbing:
dr. Anwar Affandi Harahap, Sp.OG

FAKULTAS KEDOKTERAN ISLAM


SUMATERA UTARA
2013

KATA PENGANTAR
ii

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadiran Allah SWT, sehingga penulis telah dapat
menyelesaikan paper ini guna memenuhi persyaratan Kepaniteraan Kinik di Bagian Ilmu
Obstetri dan Ginekologi di RSUD. DR.RM Djoelham Binjai refarat yang berjudul Anemia
Pada Ibu Hamil
Pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya
kepada dokter pembimbing yaity dr. Anwar Affandi Harahap, Sp. OG serta dr. H. Sugianto,
Sp.OG, dr. Herizal,Sp.OG, dr. Arusta Tarigan Sp.OG atas bimbingan dan arahannya kepada
penulis selama mengikuti Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Obstetri dan Ginekologi di
RSUD. DR.RM Djoelham Binjai dalam penyusunan paper ini.
Penulis menyadari bahwa hasil penyusunan paper ini masih banyak kekurangan, oleh
karena keterbatasan pengetahuan yang dimiliki penulis. Kritik dan saran yang sifatnya
membangun sangat diharapkan untuk menjadikan paper ini lebih baik lagi.
Besar harapan semoga paper ini dapat bermanfaat dalam menambah pengetahuan kita
semua.

Medan , juli 2013

Penulis

DAFTAR ISI
ii

KATA PENGANTAR ................................................................................ i


DAFTAR ISI ...............................................................................................

ii

DAFTAR TABEL....................................................................................... iii


DAFTAR GAMBAR.................................................................................. iv
BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................... 1
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .................................................................. 4
2.1.1 Anemia Pada Ibu Hamil...........................................................4
2.1.2 Defenisi................................................................................... 4
2.1.3 Etiologi ................................................................................... 5
2.1.4 Tanda dan Gejala Klinis.......................................................... 5
2.1.5 Patogenesis............................................................................. 6
2.1.6 Patofisiologi........................................................................... 8
2.1.7 Jenis Anemia Pada Masa Kehamilan..................................... 9
2.1.8 Transfer Zat Besi Ke Janin..................................................... 15
2.1.9 Pengaruh Anemia Terhadap Kehamilan................................. 16
2.1.10 Pemeriksaan Untuk Anemia................................................. 18
2.1.11 Penegakan Diagnosis........................................................... 19
2.1.12 Prognosis.............................................................................. 19
2.1.13 Komplikasi............................................................................ 20

BAB III KESIMPULAN............................................................................. 21


DAFTAR PUSTAKA...................................................................................22

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Nilai Batas Untuk Anemia Pada Perempuan.................... 4


Tabel 2.2 Lokasi Simpanan Zat Besi di dalam Tubuh...7
ii

BAB I
PENDAHULUAN

Kehamilan memicu perubahan-perubahan fisiologis yang sering mengaburkan


diagnosis sejumlah kelainan hematologis serta pengkajian pengobatannya. Hal ini
terutama berlaku pada anemia. Salah satu perubahan paling bermakna adalah ekspansi
volume darah dengan peningkatan volume plasma yang tidak sepadan sehingga
hematokrit biasanya menurun.
Wanita hamil atau dalam masa nifas dinyatakkan menderita anemia bila kadar
hemoglobinnya dibawah 10 g/dl. Wanita hamil rentan terhadap berbagai kelainan
darah yang mungkin mengenai setiap wanita usia subur. Kelainan-kelainan tersebut
mencakup penyakit kronik yang didiagnosis sebelum hamil, misalnya anemia

ii

herediter, trombositopenia imunologis,dan bahkan keganasan seperti seperti leukemia


dan limfoma.. 1
Pada kehamilan kebutuhan oksigen lebih tinggi sehingga memicu peningkatan
produksi eritropoietin. Akibatnya, volume plasma bertambah dan sel darah merah
(eritrosit) meningkat. Namun, peningkatkan volume plasma terjadi dalam proporsi
yang lebih besar jika dibandingkan dalam peningkatan eritrosit sehingga terjadi
penurunan konsentrasi hemoglobin (Hb) akibat hemodilusi.
Ekspansi volume plasma merupakan penyebab anemia fisiologik pada
kehamilan. Volume plasma yang terekspansi menurunkan hematokrit (Ht), konsentrasi
hemoglobin darah (Hb), dan hitung eritrosit, tetapi tidak menurunkan jumlah absolut
Hb atau eritrosit dalam sirkulasi.
Ekspansi volume plasma mulai pada minggu ke-6 kehamilan dan mencapai
maksimum pada minggu ke -24 kehamilan, tetapi dapat terus meningkat sampai
minggu ke- 37. Pada titik puncaknya, volume plasma sekitar 40 % lebih tinggi pada
ibu hamil dibandingkan perempuan yang tidak hamil. Penurunan hematokrit,
konsentrasi hemoglobin, dan hitung eritrosit biasanya tampak pada minggu ke -7
sampai ke-8 kehamilan dan terus menurun sampai minggu ke-16 sampai ke-22 ketika
titik keseimbangan tercapai.
Suatu penelitian memperlihatkan perubahan konsentrasi Hb sesuai dengan
bertambahnya usia kehamilan. Pada trimester pertama, konsentrasi Hb tampak
menurun, kecuali pada perembpuan yang telah memiliki kadar Hb rendah (<11,5 g/dl).
Konsentrasi paling rendah didapatkan pada trimester kedua, yaitu pada usia kehamilan
sekitar 30 minggu. Pada trimester ketiga terjadi sedikit peningkatan Hb, kecuali pada
perempuan yang sudah memiliki kadar Hb tinggi (>14,6 g/dl) pada pemeriksaan
pertama.
Anemia secara praktis didefenisikan sebagai kadar Ht, konsentrasi Hb, atau
hitung eritrosit dibawah batas normal. Umumnya ibu hamil dianggap anemic jika
kadar hemoglobin dibawah 11 g/dl atau hematokrit kurang dari 33 %. Konsentrasi Hb
kurang dari 11 g/dl pada akhir trimester pertama dan <10 g/dl pada trimester kedua
dan ketiga menjadi batas bawah untuk mencari penyebab anemia dalam kehamilan.
Nilai-nilai ini kurang lebih sama nilai Hb terendah pada ibu-ibu hamil yang mendapat
suplementasi zat besi yaitu 11.0 g/dl pada trimester pertama dan 10,5 g/dl pada
trimester kedua dan ketiga2.
Anemia yang terjadi pada ibu hamil yang tidak segera ditangani dapat
menimbulkan berbagai komplikasi, karena itulah kejadian ini harus selalu diwaspadai.
ii

Anemia yang terjadi saat ibu hamil Trimester I akan dapat mengakibatkan abortus,
missed abortus dan kelainan kongenital. Anemia pada kehamilan trimester II dapat
menyebabkan persalinan prematur, perdarahan antepartum, gangguan pertumbuhan
janin dalam rahim, asfiksia intrauterin sampai kematian, BBLR, gestosis dan mudah
terkena infeksi, IQ rendah dan bahkan kematian. Saat inpartu, anemia dapat
menimbulkan gangguan his, baik primer maupun sekunder, janin akan lahir dengan
anemia, dan persalinan dengan tindakan yang disebabkan karena ibu cepat lelah. Saat
post partum anemia dapat menyebabkan tonia uteri, tensio placenta, perlukaan sukar
sembuh, mudah terjadi febris puerpuralis dan gangguan involusio uteri 4
Anemia akibat defisiensi besi perlu dibedakan dengan anemia akibat
perubahan fisiologis. Caranya adalah dengan memeriksakan kadar simpanan besi yaitu
ferritin dan kadar besi dalam darah yaitu serum iron. Kadar serum iron dan ferritin
yang rendah jelas menggambarkan keadaan defisiensi besi. Namun terkadang,
defisiensi besi belum sampai menyebabkan simpanan besi tubuh berkurang sehingga
yang terlihat dalam pemeriksaan adalah kadar serum iron yang turun. Jika pasien
minum suplementasi besi beberapa hari sebelum pemeriksaan pun, kadar serum iron
dapat terlihat normal4.
Sebagian besar perempuan mengalami anemia selama kehamilan, baik
dinegara maju maupun Negara berkembang. Badan Kesehatan Dunia atau World
Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa 35-75 % ibu hamil dinegara
berkembang dan 18 % ibu hamil dinegara maju mengalami anemia. Namun, banyak
diantara mereka yang telah menderita anemia pada saat konsepsi,dengan pekiraraan
prevalensi sebesar 43% pada perempuan yang tidak hamil dinegara berkembang dan
12 % dinegara yang lebih maju.
Penyebab anemia tersering adalah defisiensi zat-zat nutrisi. Seringkali
defisiensinya bersifat multiple dengan manifestasi klinik disertai infeksi, gizi buruk,
atau kelainan herediter seperti hemoglobinopati. Namun penyebab mendasar anemia
nutrisioanl meliputi asupan yang tidak cukup, absorbsi yang tidak adekuat,
bertambahnya zat gizi yang hilang, kebutuhan yang berlebih, dan kurangnya utilisasi
nutrisi hemopoietik. Sekitar 75% anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi
besi yang memperlihatkan gambaran eritrosit mikrositik hipokrom pada apusan darah
tepi. Penyebab tersering kedua adalah anemia megaloblastik yang dapat disebabkan
oleh defisiensi asam folat dan defisiensi vitamin B 12 . penyebab anemia lainnya yang

ii

jarang ditemukan antara lain adalah hemoglobinopati, proses inflamasi, toksisitas zat
kimia dan keganasan2.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anemia Pada Ibu Hamil
2.1.1 Defenisi
Anemia adalah kondisi dengan kadar haemoglobin (Hb) dalam darahnya
kurang dari 12 gr% (Wiknjosastro, 2002). Anemia dalam kehamilan adalah kondisi
ibu dengan kadar hemoglobin di bawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar
hemoglobin < 10,5 gr% pada trimester II ( Depkes RI, 2009 ). Anemia adalah kondisi
dimana sel darah merah menurun atau menurunnya hemoglobin, sehingga kapasitas
daya angkut oksigen untuk kebutuhan organ-organ vital pada ibu dan janin menjadi
berkurang. Selama kehamilan, indikasi anemia adalah jika konsentrasi hemoglobin
kurang dari 10,50 sampai dengan 11,00 gr/dl (Varney, 2006 ).
Pada awal kehamilan dan kembali menjelang aterm, kadar hemoglobin pada
sebagian besar wanita sehat yang memiliki cadangan besi adalah 11 g/dl atau lebih.
Atas alas an tersebut, Centers for Disease Control (1990) mendefenisikan anemia
sebagai kadar hemoglobin kurang dari 11 g/dl pada trimester pertama dan ketiga, dan
kurang dari 10,5 g/dl pada trimester kedua.
Tabel 2-1.
Nilai batas untuk anemia pada perempuan
Status Kehamilan
Tidak hamil

Hemoglobin (g/dl)
12,0

Hematokrit (%)
36

Hamil

Trimester 1

11,0

33

Trimester 2

10,5

32

Trimester 3

11,0

33

Penurunan sedang kadar hemoglobin yang dijumpai selama kehamilan pada


wanita sehat yang tidak mengalami defisiensi besi atau folat disebabkan oleh
penambahan volume plasma yang relative lebih besar daripada penambahan massa
ii

hemoglobin dan volume sel darah merah. Ketidakseimbangan antara kecepatan


penambahan plasma dan penambahan eritrosit ke dalam sirkulasi ibu biasanya
memuncak pada trimester kedua.
Frekuensi Anemia selama kehamilan sangat bervariasi, terutama bergantung
pada apakah selama hamil wanita yang bersangnkutan mendapat suplemen besi.
Sebagai contoh, Taylor dkk.(1982) melaporkan bahwa kadar hemoglobin pada aterm
rata-rata mencapai 12,7 g/dl pada wanita yang mendapat tambahan zat besi
dibandingkan 11,2 g/dl pada mereka yang tidak mendapatkan suplemen tersebut1.
2.1.2 Etiologi
Semua kelainan yang menyebabkan anemia yang dijumpai pada wanita subur
dapat menjadi penyulit kehamilan. Penyebab yang menyebabkan anemia dalam
kehamilan :
Yang didapat : anemia zat besi, anemia akibat perdarahan, anemia akibat
radang atau keganasan, anemia megaloblastik, anemia hemolitik didapat,

anemia aplastk atau hipoplastik.


Yang diturunkan / herediter : talasemia, hemoglobinopati sel sabit,

hemoglobinopati lain, anemia hemolitik herditer.


Dua penyebab yang paling sering ditemukan adalah anemia akibat defisiensi zat
besi dan akibat perdarahan3.
2.1.3 Tanda dan gejala Klinis
Manifestasi klinis dari anemia defisiensi besi sangat bervariasi, bisa hampir
tanpa gejala, bisa juga gejala-gejala penyakit dasarnya yang menonjol, ataupun bisa
ditemukan gejala anemia bersama-sama dengan gejala penyakit dasarnya. Gejalagejala dapat berupa kepala pusing, palpitasi, berkunang-kunang, perubahan jaringan
epitel kuku, gangguan sistem neurumuskular, lesu, lemah, lelah, disphagia dan
pembesaran kelenjar limpa5.
Berkurangnya hemoglobin menyebabkan gejala-gejala urnum sepertikeletihan,
palpitasi, pucat, tinitus, dan mata berkunang-kunang disamping itu jugadijurnpai
gejala tambahan yang diduga disebabkan oleh kekurangan enzim sitokrom,sitikrom C
oksidase dan hemeritin dalam jaringan-jaringan, yang bersifat khasseperti pusing
kepala, parastesia, ujung jari dingin, atropi papil lidah. Pada umumnya sudah
disepakati bahwa bila kadar hemoglobin < 7 gr/dl maka gejala-gejala dan tanda-tanda
anemia akan jelas5.

ii

2.1.4 Patogenesis
Anemia adalah berkurangnya kadar hemoglobin (Hb) dalam darah. Hb adalah
komponen di dalam sel darah merah (eritrosit) yang berfungsi menyalurkan oksigen
ke seluruh tubuh. Jika Hb berkurang, jaringan tubuh kekurangan oksigen. Oksigen
diperlukan tubuh untuk bahan bakar proses metabolism. Zat besi merupakan bahan
baku pembuat sel darah merah, jika jumlah sel darah banyak, jumlah Hb pun banyak.
Begitupula sebaliknya jika kekurangan5.
Tubuh manusia membutuhkan zat besi untuk sintesis protein yang membawa
oksigen, yaitu hemoglobin serta mioglobin dalam tubuh, dan untuk sintesis enzim
yang mengandung zat besi dan turut serta dalam reaksi perpindahan electron suatu
reaksi oksidasi-reduksi. Di dalam tubuh manusia, zat besi didistribusikan dalam enam
lokasi seperti pada gambar 2.2. Total besi tubuh pada manusia adalah sekitar 8,3 g
sementara pada wanita adalah 2,3 g. Pada wanita, simpanan zat besi tersebut hanya
membentuk seperdelapan dari total zat besi dalam tubuh. Lebih kurang dua per tiga
dari total zat besi merupakan bentuk fungsional, yang melaksanakan fungsi metabolik
atau fungsi enzim. Hampir semua zat besi ini berbentuk hemoglobin yang beredar di
dalam sel darah merah.

Lokasi Simpanan Zat Besi didalam Tubuh


Hemoglobin (2-2.5 g besi)

Simpanan besi sebagai feritin dan hemosiderin (1 g pada laki-laki dan 600mg pada
wanita)

Mioglobin pada otot skeletal dan jantung (130 transpmg besi)

Sumber gabungan zat besi yang labil (80-90 mg besi)

Zat besi dalam jaringan yang terdiri atas heme dan flavoprotein(6-8 mg besi)

Transportasi pada pembentukan zat besi (3 mg besi)


Tabel 2.2 Lokasi Simpanan Zat Besi di dalam Tubuh (Gibney et al. 2008).

Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi daripada laki-laki karena terjadi
menstruasi dengan perdarahan sebanyak 50 sampai 80 cc setiap bulan dan kehilangan
zat besi sebesar 30 sampai 40 mg. Di samping itu kehamilan memerlukan tambahan zat
besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan membentuk sel darah merah janin
ii

dan plasenta. Selain itu, ibu hamil memiliki tingkat metabolisme tinggi. Misalnya ,
untuk membuat jaringan tubuh janin, membentuknya menjadi organ, dan juga untuk
memproduksi energi agar ibu hamil bisa tetap beraktivitas normal sehari-hari. Karena
itu, ibu hamil lebih banyak memerlukan zat besi dibanding ibu yang tidak hamil.
Kebutuhan zat besi pada setiap kehamilan yaitu 900 mg dengan rincian
kebutuhan seperti pada gambar 2.1

Gambar 2.1 Rincian Kebutuhan Zat Besi Ibu Hamil pada Setiap Kehamilan

Proses kekurangan zat besi sampai menjadi anemia melalui beberapa tahap.
Awalnya, terjadi penurunan simpanan cadangan zat besi. Lambat laun hal tersebut
mempengaruhi kadar Hb dalam darah. Di dalam tubuh sebagian zat besi dalam bentuk
ferritin di hati. Saat konsumsi zat besi dari makanan tidak cukup, ferritin akan
diambil. Daya serap zat besi dari makanan sangat rendah.
Jika persediaan cadangan Fe sedikit, maka setiap kehamilan akan menguras
persediaan Fe tubuh dan akhirnya menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya.
Pada kehamilan relative terjadi anemia karena darah ibu hamil mengalami hemodilusi
dengan

peningkatan

puncaknya
minggu.
sampai

pada

kehamilan

32

sampai

34

Jumlah

peningkatan sel darah 18%

dan

hemoglobin sekitar 19%. Bila

ibu

sebelum hamil sekitar 11gr%

30%,

hemoglobin
maka

volume 30% sampai 40% yang

dengan

terjadinya

hemodilusi

akan

mengakibatkan anemia

hamil fisiologis, dan Hb ibu

akan

sampai 10 gr% .

menjadi

9,5

ii

Gambar 2.2 Anemia Pada Ibu Hamil

2.1.5 Patofisiologi
Anemia adalah berkurangnya kadar hemoglobin (Hb) dalam darah. Hb adalah
komponen dalam sel darah merah (eritrosit) yang berfungsi menyalurkan oksigen ke
seluruh tubuh. Jika Hb berkurang, jaringan tubuh kekurangan oksigen. Oksigen
diperlukan tubuh untuk bahan bakar proses metabolism. Nah, zat besi merupakan
bahan baku pembuat sel darah merah. Jika jumlah sel darah banyak, jumlah Hb pun
banyak. Begitupula sebaliknya jika kekurangan5
Ibu hamil mempunyai tingkat metabolism yang tinggi. Misalnya, untuk
membuat jaringan tubuh janin, membentuknya menjadi organ, dan juga untuk
memproduksi energi agar ibu hamil tetap beraktivitas normal sehari-hari. Karena itu,
ibu hamil lebih banyak memerlukan zat besi disbanding ibu yang tidak hamil.
Proses kekurangan zat besi sampai menjadi anemia melalui beberapa tahap.
Awalnya, terjadi penurunan simpanan cadangan zat besi. Lambat laun hal tersebut
mempengaruhi kadah Hb dalam darah. Di dalam tubuh sebagian zat besi dalam bentuk
ferritin di hati. Saat konsumsi zat besi dari makanan tidak cukup, ferritin inilah yang
diambil. Sayangnya daya serap zat besi dari makanan sangatlah rendah.
2.1.6 Jenis Anemia Pada Masa Kehamilan
ANEMIA DEFISIENSI BESI
Defisiensi besi merupakan defisiensi nutrisi yang paling sering ditemukan baik
dinegara maju maupun Negara berkembang. Risikonya meningkat pada kehamilan
dan berkaitan dengan asupan besi yang tidak adekuat dibandingkan dengan kebutuhan
pertumbuhan janin yang cepat.
ii

Anemia defisiensi besi merupakan tahap defisiensi besi yang paling parah,
yang ditandai dengan penurunan cadangan besi, konsentrasi besi serum, dan saturasi
transferin yang rendah, dan konsentrasi hemoglobin atau nilai hematokrit yang
menurun. Pada kehamilan, kehilangan zat besi terjadi akibat pengalihan besi maternal
ke janin untuk eritropoiesis, kehilangan darah pada saat persalinan, dan laktasi yang
jumlah keseluruhannya mencappai 900mg atau setara dengan 2 liter darah.oleh karena
sebagian besar perempuan mengawali kehamilan dengan cadangan besi yang rendah,
maka kebutuhan tambahan ini berakibat pada anemia defisiensi besi2.
DIAGNOSIS
Bukti morfologis klasik anemia defisiensi besi- hopokromia dan mikrositosis
eritrosit- tidak begitu menonjol pada wanita hamil dibandingkan pada wanita tidak
hamil dengan konsentrasi hemoglobin yang sama. Anemia defisiensi besi tingkat
sedang selama kehamilan contohnya konsentrasi Hb 9 g/dl biasanya disertai
perubahan morfologis eritrosit yang nyata. Namun, dengan derajat anemia defisiensi
besi sebesar ini, kadar feritin serum lebih rendah daripada normal, dan pewarnaan besi
pada sumsum tulang memberi hasil negatif. Anemia defisiensi besi pada kehamilan
terutama merupakan konsekuensi dari ekspansi volume darah tanpa ekspansi normal
massa hemoglobin ibu1.
Evaluasi awal pada wanita hamil dengan anemia sedang adalah pengukuran
hemoglobin, hematokrit, dan indeks sel darah merah, pemeriksaan sediaan apusan
darah tepi, preparat sel sabit, pengukuran konsentrasi besi atau ferritin serum. Kadar
ferritin serum normalnya menurun selama kehamilan. Kadar yang kurang dari 15 /l
memastikan anemia defisiensi besi (Centers for Disease Control and Prevention)1
Pencegahan anemia defisiensi besi dapat dilakukan dengan suplementasi besi
dan asam folat. WHO menganjurkan untuk memberikan 60mg besi selama 6 bulan
untuk memenuhi kebutuhan fisologik selama kehamilan. Namun, banyak literature
menganjurkan dosis 100 mg besi setiap hari selama 16 minggu atau lebih pada
kehamilan2.
Penatalaksaannya merupakan berupa pemberian Fe sulfat, fumarat, atau
glukonat secara oral dengan dosis 1 x 200 mg. tidak perlu diberikan asam askorbat

ii

atau sari buah. Jika tidak dapat secara oral, berikan secara parenteral. Untuk
memenuhi cadangan besi, berikan terapi sampai 3 bulan anemia diperbaiki.
Jarang dilakukan tranfusi kecuali terdapat juga hipovolemi atau harus
dilakukan operasi darurat pada wanita dengan anemia berat3.
ANEMIA AKIBAT PERDARAHAN AKUT
Anemia akibat perdarahan yang baru terjadi lebih mungkin bermanifestasi
pada masa nifas. Solusio plasenta dan plasenta previa dapat menjadi sumber
perdarahan serius dan anemia sebelum atau setelah pelahiran. Pada awal
kehamilan,anemia akibat perdarahan sering terjadi pada kasus-kasus abortus,
kehamilan ektopik, dan mola hidatidosa.
Perdarahan

masif membutuhkan terapi segera untuk memulihkan dan

mempertahankan perfusi ke organ-organ vital. Walaupun jumlah darah yang diganti


umumnya tidak mengatasi defisit hemoglobin akibat perdarahan secara tuntas, secara
umum apabila hipovolemi yang berbahaya telah tearatasi dan hemostatis tercapai,
anemia yang tersisa diterapi dengan besi. Untuk wanita dengan anemia sedang yang
hemoglobinnya lebih dari 7 g/dl, kondisinya stabil, tidak lagi menghadapi
kemungkinan perdarahan serius, dapat berobat jalan tanpa memperlihatkan keluhan,
dan tidak demam, terapi besi selama setidaknya 3 bulan merupakan terapi terbaik
dibandingkan dengan transfusi darah.
ANEMIA MEGALOBLASTIK
Anemia megaloblastik adalah kelompok penyakit darah yang ditandai oleh kelainan
darah dan sumsum tulang akibat gangguan sintesis DNA. Prevalensi anemia
megaloblastik selama kehamilan cukup bervariasi di seluruh dunia. Biasanya
disebabkan oleh defisiensi asam folat dan defisiensi vitamin B12 (Kobalamin).1
Defisiensi Asam Folat
Pada kehamilan, kebutuhan folat meningkat 5-10 kali lipat karena transfer
folat dari ibu ke janin yang menyebabkan dilepasnya cadangan folat maternal.
Peningkatan lebih besar dapat terjadi karena kehamilan multiple, diet yang buruk,
infeksi, adanya anemia hemolitik atau pengobatan antikonvulsi. Kadar estrogen dan
progesterone yang tinggi selama kehamilan tampaknya memiliki efek penghambat
ii

terhadap absorbs folat. Defisiensi asam folat oleh karenanya sangat umum terjadipada
kehamilan dan merupakan penyebab utama anemia megaloblastik pada kehamilan.
Anemia ini biasanya dijumpai pada wanita yang tidak mengkonsumsi sayuran
berdaun hijau, polong-polongan, dan protein hewani.wanita dengan anemia
megaloblastik mungkin mengalami mual, muntah, dan anoreksia selama kehamilan.
Seiring dengan memburuknya defisiensi asam folat dan anemia, anoreksia semakin
parah sehingga defisiensi gizi juga semakin parah. Pada wanita tidak hamil kebutuhan
asam folat harian adalah 50-100 g/hari. Selama kehamilan, kebutuhan akan asam
folat meningkat1.
Pada pemeriksaan sediaan apus darah, ditemukan tanda awal berupa
hipersegmentasi neutrofil. Sesuai perkembangan anemia, produksi eritrosit menurun,
makrositik, meskipun bila sebelumnya terdapat mikrositik karena anemia defisiensi
besi. Dalam keadaan demikian, makrositik yang baru terbentuk tidak dapat terdeteksi
dengan pengukuran HER, tapi melalui pemeriksaan sediaan apus darah tepi. Pada
sumsum tulang terjadi eritropoesis megaloblastik dan bila anemia bertambah berat,
dapat terjadi trombositopenia dan leukopenia. Fetus tidak terpengaruh oleh anemia
yang diderita ibu, namun dapat menderita cacat bawaan.3
Terapi anemia megaloblastik yang dipicu oleh kehamilan harus mencakup
asam folat, makanan bergizi dan zat besi. Bahkan hanya 1 mg asam folat yang
diberikan peroral setiap hari sudah dapat menimbulkan respon hematologis yang
nyata. Dalam 4 samapi 7 hari setelah awal pengobatan, hitung retikulosit akan
meningkat secara bermakna, sedangkan leukpenia dan trombositopenia akan segera
terkoreksi. Kadang-kadang laju peningkatan konsentrasi hemoglobin atau hematokrit
tidak terlalu besar, terutama apabila dibandingkan dengan retikulositosis yang
biasanya mencolok segera setlah terapi dimulai.
Pencegahan dengan memberikan makanan yang cukup mengandung asam
folat 4 mg/hari sebelum dan selama kehamilan untuk mencegah anemia megaloblastik.
Defisiensi Vitamin B12
Anemia megaloblastik yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B12 selama
kehamilan sangat jarang terjadi. Anemia pernisiosa Addisonian ditandai oleh
kegagalan tubuh menyerap vitamin B12 karena tidak adanya faktor intrinsic. Ini adalah
ii

suatu autoimun yang sangat jarang terjadi pada wanita usia subur, dan biasanya
muncul pada wanita berusia lebih dari 40 tahun1.
Tubuh membutuhkan vitamin B12 untuk membentuk sel darah merah yang
sehat. Ketika seorang wanita hamil tidak mendapatkan cukup vitamin B12 dari
makanan, tubuhnya tidak dapat memproduksi cukup sel darah merah yang sehat.
Wanita yang tidak mengkonsumsi daging, unggas, produk susu, dan telur memiliki
risiko lebih besar terkena kekurangan vitamin B12, yang dapat berkontribusi untuk
cacat lahir. Kehilangan darah selama dan setelah melahirkan juga dapat menyebabkan
anemia5.
Kadar vitamin B12 serum diukur dengan radioimmunoassay. Selama
kehamilan, kadar ini normalnya lebih rendah daripada kadar non hamil karena
berkurangnya konsentrasi protein pengangkut B12, transkobalamin. Tidak ada alasan
menunda pemberian asam folat selama kehamilan hanya karena kekhawatiran bahwa
akan terjadi gangguan integritas saraf pada wanita yang mungkin hamil dan secara
bersamaan mengidap anemia pernisiosa Addisonian yang tidak terdeteksi (sehingga
tidak terobati)1.
ANEMIA APLASTIK
Walaupun jarang dijumpai pada kehamilan, anemia aplastik adalah suatu
penyulit yang parah. Diagnosis ditegakkan apabila dijumpai anemia, biasanya disertai
trombositopenia, leucopenia dan sumsum tulang yang sangat hiposeluler. Pada
sepertiga kasus, anemia dipicu oleh obat atau zat kimia lain, infeksi, radiasi, leukemia
dan gangguan imunologis. Kelainan fungsional mendasar tampaknya adalah
penurunan mencolok sel induk yang terikat di sumsum tulang1.
Ada beberapa laporan mengenai anemia aplastik yang terkait dengan
kehamilan, tetapi hubungan antara keduanya tidak jelas. Pada beberapa kasus, yang
terjadi adalah eksaserbasi anemia aplastik yang telah ada sebelumnya oleh kehamilan
dan hanya membaik setelah terminasi kehamilan. Pada kasu lainnya, aplasia terjadi
selama kehamilan dan dapat kambuh pada kehamilan berikutnya. Terminasi kehamilan
atau persalinan dapat memperbaiki fungsi sumsum tulang, tetapi penyakit dapat
memburuk bahkan menjadi fatal setelah persalinan. Terapi meliputi terminasi

ii

kehamilan elektif, terapi suportif, imunosupresi atau transplantasi sumsum tulang


setelah persalinan.2
ANEMIA PENYAKIT SEL SABIT
Kehamilan pada perempuan penderita anemia sel sabit (sickle cell anemia)
disertai dengan peningkatan insidens pielonefritis, infark pulmonal, pneumonia,
perdarahan antepartum, prematuritas, dan kematian janin. Peningkatan anemia
megaloblastik yang responsive dengan asam folat, terutama pada akhir masa
kehamilan juga meningkatkan frekuensinya. Berat lahir bayi dari ibu yang menderita
sel sabit di bawah rata-rata, dan kematian janin tinggi. Penyebab kematian neonatal
tidak jelas, tetapi kadang-kadang disebabkan oleh vasooklusi plasenta, dengan temuan
postmortem yang menggambarkan anoksia intrapartum. belum Masa kehamilan
postpartum masih berpotensi berbahaya bagi ibu dengan penyakit sel sabit, sehingga
harus dipanau ketat selama kehamilan. Pemberian transfusi darah profilaktik belum
terbukti efektivitasnya walau beberapa pasien tampaknya memberika hasil yang
memuaskan2.
ANEMIA PADA PENYAKIT KRONIK
Berbagai penyakit terutama infeksi kronik dan neoplasma menyebabkan
anemia derajat sedang dan kada-kadang berat, biasanya dengan eritrosit yang sedikit
hipokromik dan mikrositik. Saat ini, gagal ginjal kronik, kanker dan kemoterapi,
infeksi virus imunodefisiensi manusia (HIV) dan peradangan kronik merupakan kausa
tersering anemia bentuk ini. Denominator bersama adalah meningkatkan produksi
sitokin yang memperantarai respons imun atau peradangan.
Pada pasien tidak hamil dengan penyakit kronik, konsentrasi Hb jarang kurang
dari 7 g/dl. Biasanya morfologi sel sumsum tulang tidak terlalu berubah. Konsentrasi
besi serum menurun, dan kapasitas serum mengikat besi, walaupun lebih rendah
daripada kehamilan normal tidak jauh dibawah rentang normal yang tidak hamil.
Kadar feritin serum biasanya meningkat. Karena itu walaupun mekanismenya sedikit
berbeda, anemia anemia ini sama sama memperlihatkan perubahan fungsi
retikuloendotelial, metabolisme besi dan penurunan eritropoiesis dengan derajat
kombinasi yang berbeda.

ii

Selama kehamilan, sejumlah penyakit kronik dapat menyebabkan anemia.


Beberapa diantaranya adalah penyakit ginjal kronik, supurasi, penyakit peradangan
usus

(inflammatory

bowel

disease),

lupus

eritematosus

sistemik,

infeksi

granulomatosa, keganasan, dan rematoid arthritis. Anemia biasanya semakin berat


seiring dengan meningkatnya volume plasma melebihi ekspansi massa sel darah
merah. Wanita dengan pielonefritis akut berat sering mengalami anemia, hal ini
tampak terjadi akibat meningkatnya destruksi eritrosit dengan produksi eritropoiten
normal1.
2.1.7 Transfer zat besi ke janin
Menrut Allen ( 2007) Transfer zat besi dari ibu ke janin di dukung oleh
peningkatan substansial dalam penyerapan zat besi ibu selama kehamilan dan diatur
oleh plasenta. Serum fertin meningkat pada umur kehamilan 12 25 minggu,
Kebanyakan zat besi ditransfer ke janin setelah umur kehamilan 30 minggu yang
sesuai dengan waktu puncak efisiensi penyerapan zat besi ibu. Serum transferin
membawa zat besi dari sirkulasi ibu untuk transferin reseptor yang terletak pada
permukaan apikal dan sinsitiotropoblas plasenta, holotransferin adalah endocytosied ;
besi dilepaskan dan apotransferin dikembalikan ke sirkulasi ibu. Zat besi kemudian
bebas mengikat fertin dalam sel sel plasenta yang akan dipindahkan ke
apotransferrin yang masuk dari sisi plasenta dan keluar sebagai holotransferrin ke
dalam sirkulasi janin. Plasenta sebagai transfortasi zat besi dari ibu ke janin. Ketika
status gizi ibu yang kurang, jumlah reseptor transferrin plasenta meningkat sehingga
zat besi lebih banyak diambil oleh plasenta dan ditransfortasi untuk janin serta zat besi
yang berlebihan untuk janin dapat dicegah oleh sintesis plasenta fertin.
2.1.8 Pengaruh anemia terhadap kehamilan
Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi ibu, baik dalam
kehamilan, persalinan, maupun nifas dan masa selanjutnya. Penyulit-penyulit yang
dapat timbul akibat anemia adalah : keguguran (abortus), kelahiran prematurs,
persalinan yang lama akibat kelelahan otot rahim di dalam berkontraksi (inersia uteri),
perdarahan pasca melahirkan karena tidak adanya kontraksi otot rahim (atonia uteri),
syok, infeksi baik saat bersalin maupun pasca bersalin, serta anemia yang berat (<4 gr
%) dapat menyebabkan dekompensasi kordis. Hipoksia akibat anemia dapat
menyebabkan syok dan kematian ibu pada persalinan7.
ii

Pengaruh anemia pada kehamilan. Risiko pada masa antenatal: berat badan
kurang, plasenta previa, eklamsia, ketuban pecah dini, anemia pada masa intranatal
dapat terjadi tenaga untuk mengedan lemah, perdarahan intranatal, shock, dan masa
pascanatal dapat terjadi subinvolusi. Sedangkan komplikasi yang dapat terjadi pada
neonatus : premature, apgar scor rendah, gawat janin. Bahaya pada Trimester II dan
trimester III, anemia dapat menyebabkan terjadinya partus premature, perdarahan ante
partum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia intrapartum sampai
kematian, gestosis dan mudah terkena infeksi, dan dekompensasi kordis hingga
kematian ibu3.
Bahaya anemia pada ibu hamil saat persalinan, dapat menyebabkan gangguan
his primer, sekunder, janin lahir dengan anemia, persalinan dengan tindakan-tindakan
tinggi karena ibu cepat lelah dan gangguan perjalanan persalinan perlu tindakan
operatif 3. Anemia kehamilan dapat menyebabkan kelemahan dan kelelahan sehingga
akan mempengaruhi ibu saat mengedan untuk melahirkan bayi.
Bahaya anemia pada ibu hamil saat persalinan: gangguan his-kekuatan
mengejan, Kala I dapat berlangsung lama dan terjadi partus terlantar, Kala II
berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan operasi
kebidanan, Kala III dapat diikuti retensio plasenta, dan perdarahan post partum akibat
atonia uteri, Kala IV dapat terjadi perdarahan post partum sekunder dan atonia uteri.
Pada kala nifas : Terjadi subinvolusi uteri yang menimbulkan perdarahan post partum,
memudahkan infeksi puerperium, pengeluaran ASI berkurang, dekompensasi kosrdis
mendadak setelah persalinan, anemia kala nifas, mudah terjadi infeksi mammae 8,9
Hasil penelitian oleh Indriyani dan Amirudin ( 2006) di RS Siti Fatimah
Makasar menunjukkan bahwa faktor risiko anema ibu hamil < 11 gr % mempunyai
hubungan yang bermakna dengan kejadian partus lama. Ibu yang mengalami kejadian
anemia memiliki risiko mengalami partus lama 1,681 kali lebih besar dibandingkan
dengan ibu yang tidak anemia tapi tidak bermakna secara statistik. Ini diduga karena
terjadi ketidakseragaman pengambilan kadar Hb dan pada kontrolnya ada yang kadar
Hb nya diambil pada trimester 1 dan bisa saja pada saat itu ibu sedang anemia. Ibu
hamil yang anemia bisa mengalami gangguan his/gangguan mengejan yang
mengakibatkan partus lama. Kavle et al, (2008) pada penelitianya menyatakan bahwa
perdarahan pada ibu setelah melahirkan berhubungan dengan anemia pada kehamilan
32 minggu. Kehilangan darah lebih banyak pada anemia berat dan kehilangan

ii

meningkat sedikit pada wanita anemia ringan dibandingkan dengan ibu yang tidak
anemia .
Pertumbuhan plasenta dan janin terganggu disebabkan karena terjadinya
penurunan Hb yang diakibatkan karena selama hamil volume darah 50 % meningkat
dari 4 ke 6 L, volume plasma meningkat sedikit yang menyebabkan penurunan
konsentrasi Hb dan nilai hematokrit. Penurunan ini akan lebih kecil pada ibu hamil
yang mengkonsumsi zat besi. Kenaikan volume darah berfungsi untuk memenuhi
kebutuhan perfusi dari plasenta dan untuk penyediaan cadangan saat kehilangan darah
waktu melahirkan. Selama kehamilan rahim, plasenta dan janin memerlukan aliran
darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Pertumbuhan janin yang
lambat, kekurangan gizi pada janin, kelahiran prematur dan berat badan bayi lahir
yang rendah, yaitu sebesar 38,85%, merupakan penyebab kematian bayi. Sedangkan
penyebab lainnya yang cukup banyak terjadi adalah kejadian kurangnya oksigen
dalam rahim (hipoksia intrauterus) dan kegagalan nafas secara spontan dan teratur
pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir (asfiksia lahir), yaitu 27,97%. Hal ini
menunjukkan bahwa 66,82% kematian perinatal dipengaruhi pada kondisi ibu saat
melahirkan.10
2.1.9 Pemeriksaan untuk Anemia
Selama pemeriksaan kehamilan yang pertama, sang ibu akan mendapatkan
pemeriksaan darah yang dapat membantu dokter atau bidan memeriksa apakah ia
mengalami anemia atau tidak. Pemeriksaan darah biasanya meliputi:
Pemeriksaan Hemoglobin. Pemeriksaan ini bertujuan mengukur jumlah
hemoglobin - protein kaya zat besi dalam sel darah merah yang membawa oksigen
dari paru ke jaringan tubuh.

Pemeriksaan Hematokrit. Pemeriksaan ini mengukur persentase sel darah


merah dalam sampel darah.

Jika ibu hamil memiliki kadar hemoglobin atau hematokrit lebih rendah dari
tingkat normal, ia mungkin mengalami anemia kekurangan zat besi. Dokter
juga mungkin akan memeriksa tes darah lainnya untuk menentukan apakah ia
mengalami anemia karena kekurangan zat besi atau penyebab lain.

Bahkan jika seorang ibu hamil tidak menderita anemia pada awal kehamilan,
dokter atau bidan kemungkinan besar akan tetap merekomendasikan untuk
ii

melakukan pemeriksaan darah pada trimester kedua atau ketiga untuk


mendeteksi anemia di tahap kehamilan selanjutnya.
2.1.10 Penegakan Diagnosis
Penegakan diagnosis anemia pada kehamilan berdasarkan gambaran klinis
pada saat anamnesis dan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan darah dan sumsum tulang. Pada anamnesis akan didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata
berkunang-kunang, dan keluhan mual dan muntah yang parah pada kehamilan muda
(Trimester 1) 5.
Untuk memudahkan dan keseragaman Diagnosa Anemia defisiensi Besi,
WHO,2001 menetapkan kriteria sebagai berikut:
No.
Pe
me
rik
saa
n

Anemia defisiensi
besi

Kad
ar
no
rm
al

1 Hemoglobin Wanita dewasa hamil

< 11

12 gr/dl

2. MCHC

< 31

32-35%

3. Serum Iron

< 50

80-160 ugr%

4. TIBC

>400

250-400 ugr%

5. Jenuh Transferin

<15

30-35%

6. Feritin Serum

<12

12-200 ugr/dl

WHO, 2001 juga membuat derajat keparahan Anemia pada kehamilan yaitu :
A
B
C
D

Hb 11 g/dl
Hb 9-10 g/dl
Hb 7-8 g/dl
Hb < 7 g/dl

Tidak anemia
Anemia ringan
Anemia sedang
Anemia berat

2.1.11 Prognosis

ii

Prognosis anemia defisiensi besi dalam kehamilan umumnya baik bagi ibu dan
anak. Persalinan dapat berlangsung seperti biasa tanpa perdarahan banyak atau
komplikasi lain. Anemia berat yang tidak terobati dalam kehamilan muda dapat
menyebabkan abortus, dan dalam kehamilan tua dapat menyebabkan partus lama,
perdarahan postpartum, dan infeksi7
2.1.12 Komplikasi
Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi ibu, baik dalam
kehamilan, persalinan maupun masa nifas.
1. Komplikasi selama kehamilan
a. Ancaman timbulnya abortus
b. Mudah lelah dan turunnya immature dan premature
c. Ancaman timbulnya persalinan immature dan premature
2. Komplikasi selama persalinan
a. Partus lama karena inertia uteri
b. Pendarahan pasca persalinan
c. Atonia uteri
d.Hipoksia yang dapat menyebabkan syok dan kematian ibu pada persalinan
e. Infeksi persalinan dan setelah persalinan.
3. Komplikasi terhadap janin
a. Kematian prenatal
b. Prematuritas
c. Cacat bawaan

ii

BAB III
KESIMPULAN

1. Penegakan diagnosis untuk anemia pada ibu hamil didapatkan dari anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
2. Pemeriksaan penunjang yang diperlukan antara lain pemeriksaan laboratorium
darah yang meliputi Hb, indeks eritrosit, serum ferritin, EDW, dan pemeriksaan
sumsum tulang.
3. Terapi untuk anemia pada ibu hamil yang disebabkan oleh defisiensi besi adalah
dengan pemberian preparat besi secara oral dan intravena.
4. Teori barunya yaitu (pemberian ferro sulfat 60 mg / hari secara oral dan parenteral
(pemberian ferrum dextran sebanyak 1000 mg (20 ml) intravena serta
peningkatan asupan makanan tinggi zat besi.
5 Kejadian anemia pada ibu hamil harus selalu diwaspadai mengingat anemia dapat
meningkatkan risiko kematian ibu, angka prematuritas, BBLR dan angka
kematian bayi. Untuk mengenali kejadian anemia pada kehamilan, seorang ibu
ii

harus mengetahui gejala anemia pada ibu hamil, yaitu cepat lelah, sering pusing,
mata berkunang-kunang, malaise, lidah luka, nafsu makan turun (anoreksia),
konsentrasi hilang, napas pendek (pada anemia parah) dan keluhan mual muntah
lebih hebat pada kehamilan muda.

DAFTAR PUSTAKA

1. Leveno, K. J. (2009). Obstetri Williams: Panduan Ringkas. Jakarta: EGC.


2. Sarwono, Prawirohardjo, 2002. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC
3.

Mansjoer A, dkk, 2008, Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta : Media Acsulapius

4. Sohimah, 2006. Anemia Dalam Kehamilan dan Penanggulangannya. Jakarta:


Gramedia
5. Nur Astuti Haraha, 2012, ANEMIA PADA IBU HAMIL; Purwokerto,
Universitas Jenderal Soedirman
6. http://www.info-kes.com/search?q=anemia+pada+kehamilan
7. Wiknjosastro, Hanifa.2007. Ilmu Kebidanan.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka
8. Shafa,

2010,

Anemia

pada

Ibu

Hamil

Available

from

http://drshafa.wordpress.com/2010/11/16/anemia-pada-bumil

ii

9. Saifudin, 2006, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan


Neonatal , Edisi I Cetakan Keempat, Jakarta ; Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo,2006.
10. Depkes RI., 2009. Profil Kesehatan Indonesia tahun 2008, Jakarta : Depkes RI

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Rincian Kebutuhan Zat Besi Ibu Hamil .7
Gambar 2.2 nemia Pada Ibu Hamil.8

ii

ii