Anda di halaman 1dari 20

Metode Penambangan

Open Pit/Open Cast

Disusun oleh:
Muhammad Hanif Patiroi
Muh. Iqbal Wattimena
Abdurrahman Jauhari
Ramlan Dwi Ahmad
Asta Arjuno Arwan
Siti Hartina

Teknik Pertambangan
Fakultas Teknik
Universitas Hasanuddin
Gowa
1

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha
Esa, karena atas berkat dan limpahan rahmatnyalah maka kami boleh
menyelesaikan sebuah makalah dengan tepat waktu.
Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan
judul Metode Penambangan Opet pit/Open Cast, yang menurut kami
dapat memberikan manfaat yang besar bagi kita untuk mempelajari
tentang Metode Penambangan berupa Open Pit/Open Cast
Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan
memohon permakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan
ada tulisan yang kami buat kurang tepat atau menyinggu perasaan
pembaca.
Dengan ini kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh
rasa terima kasih dan semoga allah SWT memberkahi makalah ini
sehingga dapat memberikan manfaat

Gowa, 9 September 2014

Penulis,

DAFTAR ISI
Halaman Sampul...................................................................................i
Kata Pengantar ....................................................................................ii
Daftar Isi ...............................................................................................iii
Bab I Pendahuluan ...............................................................................1
I.1 Latar Belakang ................................................................................1
I.2 Rumusan Masalah...........................................................................1
I.3 Tujuan dan Manfaat..........................................................................2
Bab II Pembahasan...............................................................................3
II. 1 Pengertian Open Pit.......................................................................3
II. 2 Aktifitas Pertambangan Pada Tambang Terbuka Open Pit.............5
II. 3 Alat Yang Digunakan Pada Penambangan Metode Open Pit.........11
II. 4 Reklamasi pada Open Pit...............................................................11
II. 5 Keuntungan dan kerugian metode penambangan open pit...........14
Bab III Penutup......................................................................................16
III.1 Kesimpulan.....................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................17

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Pertambangan merupakan salah satu sektor industri yang fokus
pada eksplorasi dan eksploitasi mineral serta batubara. Pertambangan
bertujuan untuk mengambil dan mengolah mineral dan batubara dalam
bumi agara memiliki nilai jual yang ekonomis.
Dalam dunia pertambangan, ada beberapa metode dalam
menambang (ekploitasi) mineral maupun batubara. Secara garis besar
metode penambangan dibagi menjadi 3 yaitu, tambang permukaan,
tambang bawah tanah dan tambang bawah air.
Metode-metode ini digunakan berdasarkan letak bijih. Dari semua
jenis metode penambangan, yang umumnya digunakan adalah open pit.
Open pit adalah salah satu jenis tambang permukaan yang
digunakan untuk menambang bijih. Open pit umumnya dipergunakan
pada bijih yang letaknya tidak terlalu dalam dari permukaan bumi.
Oleh karena itu melalui makalah ini kami menyajikan informasi
tentang hal di atas. Jika dalam penyusunannya terdapat kesalahan
mohon kritik dan saran yang membangun sehingga kedepannya kami
dapat menjadi lebih baik lagi.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan open pit ?
2. Bagaimana proses pembuatan dan penambangan pada open
pit ?
3. Alat berat apa saja yang umum digunakan pada tambang open
pit ?
4. Apa saja kelebihan dan kekurangan open pit ?
1

1.3 Tujuan dan Manfaat


1. 3.1 Tujuan
1. Menjelaskan pengertian open pit
2. Menjelaskan proses pembuatan dan penambangan pada open
pit
3. Menjelaskan Alat berat yang umum digunakan pada tambang
open pit
4. Menjelaskan kelebihan dan kekurangan dari open pit

1.3.2 Manfaat
1.Untuk mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan metode
penambangan open pit
2. Meningkatkan kemampuan penulis dalam menyusun makalah

BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Pengertian Open Pit
Penambangan dengan metode tambang terbuka adalah suatu
kegiatan penggalian bahan galian seperti batubara, ore (bijih), batu dan
sebagainya di mana para pekerja berhubungan langsung dengan udara
luar dan iklim.
Tambang terbuka (open pit mining) juga disebut dengan open cast
mining; adalah metoda penambangan yang dipakai untuk menggali
mineral deposit yang ada pada suatu batuan yang berada atau dekat
dengan permukaan.
Metoda ini cocok dipakai untuk ore bodies yang berbentuk
horizontal yang memungkinkan produksi tinggi dengan ongkos rendah.
Walaupun stripping dan quarrying termasuk ke dalam open pit
mining, namun strip mining biasanya dipakai untuk penambangan
batubara dan quarry mining yang berhubungan dengan produksi nonmetallic minerals seperti dimension stone, rock aggregates, dll.
Kegiatan penambangan ini terkadang berada di bawah permukaan
tanah, bahkan kedalamannya dapat mencapai ratusan meter seperti
pada tambang terbuka tembaga (copper mine) di Bingham Canyon Utah
(USA).
Apabila diyakini keberadaan endapan mineral dekat dengan
permukaan,
hingga
dapat
dipastikan
pemilihan
metoda
penambangannya adalah tambang terbuka (open pit); hanya perlu
dipertanyakan tentang economic cut off limitnya, hingga dimungkinkan
adanya perubahan metoda penambangan ke arah underground
(tambang bawah tanah) bila penyebaran endapan mineral dapat
menjamin.
Kebanyakan tambang batubara di Indonesia menggunakan
metoda tambang terbuka, oleh karena sebagian besar cadangan
3

batubara terdapat pada dataran rendah atau pada daerah pegunungan


dengan topografi yang landai dengan kemiringan lapisan batubara yang
kecil (<30). Untuk cebakan yang berada di bawah permukaan tetapi
relatif masih dangkal, maka metoda penambangan terbuka umumnya
akan lebih ekonomis dibandingkan dengan tambang dalam(bawah
permukaan). Dan bila cebakan itu berada jauh di bawah permukaan
dengan bentuk yang tidak beraturan, maka mungkin penambangan
dengan cara tambang bawah tanah yang masih dianggap ekonomis.
Ada kriteria yang dapat digunakan sebagai dasar untuk penentuan
pemilihan apakah suatu cadangan (lapisan batubara) akan ditambang
dengan metoda tambang terbuka atau tambang dalam yaitu dengan
membandingkan besarnya nilai tanah penutup (waste) yang harus digali
dengan volume atau tonase batubara yang dapat ditambang.
Perbandingan ini dikenal dengan istilah stripping ratio. Apabila nilai
perbandingan ini (stripping ratio) masih dalam batas-batas keuntungan,
maka metoda tambang terbuka dianggap masih ekonomis. Sebaliknya
apabila nilainya di luar batas keuntungan, maka metoda penambangan
tambang dalam yang dipilih.
Untuk dapat menentukan metoda penambangan apa yang cocok
untuk diterapkan maka perlu untuk membandingkan efisiensi ekonomi
dari open mining dan underground mining , terkecuali keuntungan dari
salah satu metode sudah terlihat jelas.
Karakteristik dasar yang digunakan dalam evaluasi ekonomi dari
tambang terbuka adalah stripping ratio , yaitu besarnya volume dari
over burden yang digali per unit ore yang diperoleh.
Dalam penambangan open pit , perlu dihitung ongkos untuk
pembuangan waste over burden dan waste dari country rock.(lihat
gambar1)

Perbandingan antara waste dan ore oleh karenanya merupakan


faktor kontrol dalam membandingkan ongkos penambangan ore
berdasar open pit dengan metode underground

PT.Freefort open pit

II.2 Aktifitas Pertambangan Pada Tambang Terbuka


Open Pit
A. Tahap Persiapan
Kegiatan kegiatan yang dilakukan pada awal proses
pengambilan atau penambangan bahan galian terdiri dari tahap
persiapan (pra penambangan), Kegiatan tersebut meliputi :
1. Pembuatan Jalan Rintasan

Jalan rintasan berfungsi sebagai jalur lewatnya alat alat berat


ke lokasi tambang, kemudian dikembangkan sebagai jalan
angkut material dari front penambangan ke lokasi pabrik
peremukan. Pembuatan jalan diguna-kan dengan memakai
Bulldozer yang nantinya digunakan pula sebagai pengupasan
lapisan penutup.
2. Pembersihan Lahan
Pekerjaan ini dilakukan sebelum tahap pengupasan lapisan tanah
penutup dimulai. Pekerjaan ini meliputi pembabatan dan pengumpulan
pohon yang tumbuh pada permukaan daerah yang akan ditambang
dengan tujuan untuk membersihkan daerah tambang tersebut sehingga
kegiatan penambangan dapat dilakukan dengan mudah tanpa harus
terganggu dengan adanya gangguan tetumbuhan yang ada didaerah
penambangan.

Kegiatan pembersihan ini dilakukan dengan menggunakan Bulldozer.


Pembersihan dilakukan pada daerah yang akan ditambang yang
mempunyai
ketebalan
overburden
beberapa
meter
dengan
menggunakan Bulldozer dan dilakukan secara bertahap sesuai dengan
pengupasan lapisan tanah penutup.Dalam pembabatan, pohon didorong
kearah bawah lereng untuk dikumpulkan, dimana penanganan
selanjutnya diserahkan pada penduduk setempat.
3. Pengupasan Tanah Penutup

Pembuangan lapisan tanah penutup dimaksudkan untuk


membersihkan endapan batu gamping yang akan digali dari semua
macam pengotor yang menutupi permukaanya, sehingga akan
mempermudah pekerjaan penggaliannya disamping juga hasilnya akan
relatif lebih bersih.
Lapisan tanah penutup pada daerah proyek terdiri atas dua jenis yaitu
top soil dan lapisan overburden sehingga lapisan dilakukan terhadap
lapisan top soil terlebih dahulu dan ditempatkan pada suatu daerah
tertentu untuk tujuan reklamasi nantinya.
Setelah lapisan top soil terkupas, selanjutnya dilakukan pengupasan
pada lapisan overburden lalu didorong dan ditempatkan pada daerah
tertentu dan sebagian lagi digunakan sebagai pengeras jalan. Kegiatan
pengupasan dilakukan secara bertahap dengan menggunakan
bulldozer, dimana tahap pengupasan awal dilakukan untuk menyiapkan
jenjang pertama dan pengupasan berikutnya dapat dilakukan
bersamaan dengan tahap produksi, sehingga pola yang diterapkan
adalah seri dan paralel yang bertujuan untuk :
Menghemat investasi dan biaya persiapan.
Menghindari pengotoran endapan batu gamping dari lapisan penutup,
sehingga mempermudah dalam pekerjaan penggalian.
Menghindari terjadinya longsoran dan bahaya angin.
4. Persiapan Peralatan Penambangan
Penambangan yang akan dilakukan difokuskan dengan
menggunakan peralatan mekanis. Adapun alat yang digunakan
diperlukan untuk menunjang kegiatan penambangan, yaitu :
7

Bulldozer, yang digunakan untuk pembersihan lahan dan pengupasan


lapisan tanah penutup.
Loader, yang digunakan untuk memuat bongkahan batu gamping hasil
dari pembongkaran keatas alat angkut.
Truck, yang digunakan sebagai alat angkut hasil front penambangan ke
tempat pabrik peremukan/penggerusan.
Crushing Plant, yaitu suatu unit pengolahan yang berfungsi sebagai alat
preparasi batu gamping dari front penambangan guna mendapatkan
ukuran butiran yang diinginkan oleh pasar.
Pembangkit Listrik, berfungsi sebagai sumber tenaga listrik yang akan
dipakai sebagai penerangan, untuk alat pengolahan dan menggerakkan
alat alat yang bekerja didalam pabrik.
Pompa Air, digunakan untuk memompa atau mengambil air guna
memenuhi kebutuhan peralatan dan karyawan.
5. Persiapan Pabrik Peremukan
Pabrik peremukan ini harus dibuat cukup luas agar dapat
menampung material hasil penambangan sebelum proses peremukan.
B. Operasi Penambangan
Tujuan utama dari kegiatan penambangan adalah pengambilan
endapan dari batuan induknya, sehingga mudah untuk diangkut dan di
proses pada proses selanjutnya selanjutnya. Setelah operasi persiapan
penambangan selesai dan pengupasan lapisan tanah penutup pada
bagian atas cadangan batugamping terlaksana (arah kemajuan
penambangan dari kontur atas ke bawah). Maka dapat dimulai kegiatan
operasi penambangan.
Kegiatan penambangan terbagi atas tiga kegiatan, yaitu pembongkaran,
pemuatan dan pengangkutan. Adapun rincian dari ketiga kegiatan
tersebut adalah:

1. Pembongkaran

Pembongkaran merupakan kegiatan untuk memisahkan antara


endapan bahan galian dengan batuan induk yang dilakukan setelah
pengupasan lapisan tanah penutup endapan batugamping tersebut
selesai. Pembongkaran dapat dilakukan dengan menggunakan
peledakan, peralatan mekanis maupun peralatan non mekanis.
Untuk kegiatan pembongkaran batugamping menggunakan pemboran
yang kemudian dilakukan peledakan. setelah batuan diledakkan
kemudian digusur menggunakan alat bulldozer, yang kemudian
dikumpulkan di tepi batas penambangan atau tepi jalan tambang tiap
blok. Banyaknya batugamping yang dibongkar tiap-tiap blok tidak sama,
tergantung persyaratan kualitas yang diminta oleh konsumen.

2. Pemuatan

Pemuatan adalah kegiatan yang dilakukan untuk memasukkan


atau mengisikan material atau endapan bahan galian hasil
pembongkaran ke dalam alat angkut. Kegiatan pemuatan dilakukan
setelah kegiatan penggusuran, pemuatan dilakukan dengan
menggunakan alat muat Wheel Loader dan diisikan ke dalam alat
angkut.
Kegiatan pemuatan bertujuan untuk memindahkan batugamping
hasil pembongkaran kedalam alat angkut. Pengangkutan dilakukan
dengan sistem siklus, artinya truck yang telah dimuati langsung
berangkat tanpa harus menunggu truck yang lain dan setelah
membongkar muatan langsung kembali ke lokasi penambangan untuk
dimuati kembali.
3. Pengangkutan

Pengangkutan adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengangkut


atau membawa material atau endapan bahan galian dari front
penambangan dibawa ke tempat pengolahan untuk proses lebih lanjut.
Kegiatan pengangkutan menggunakan Dump Truck yang kemudian
dibawa ke tempat pengolahan untuk dilakukan proses peremukan
(crushing), jumlah truk yang akan digunakan tergantung dari banyaknya
material batugamping hasil peledakan yang akan diangkut.

10

II.3 Alat Yang Digunakan Pada Penambangan


Metode Open Pit
Penambangan yang akan dilakukan difokuskan dengan menggunakan
peralatan mekanis. Adapun alat yang digunakan diperlukan untuk
menunjang kegiatan penambangan, yaitu :

Bulldozer, yang digunakan untuk pembersihan lahan dan


pengupasan lapisan tanah penutup.
Loader, yang digunakan untuk memuat bongkahan batu gamping
hasil dari pembongkaran keatas alat angkut.
Dump Truck, yang digunakan sebagai alat angkut hasil front
penambangan ke tempat pabrik peremukan/penggerusan.
Crushing Plant, yaitu suatu unit pengolahan yang berfungsi
sebagai alat preparasi batuan dari front penambangan guna
mendapatkan ukuran butiran yang diinginkan oleh pasar.
Pembangkit Listrik, berfungsi sebagai sumber tenaga listrik yang
akan dipakai sebagai penerangan, untuk alat pengolahan dan
menggerakkan alat alat yang bekerja didalam pabrik.
Pompa Air, digunakan untuk memompa atau mengambil air guna
memenuhi kebutuhan peralatan dan karyawan.
Power shovel, digunakan untuk menggali bahan tambang dengan
sekop ke arah depan
Back hoe, digunakan untuk menggali bahan tambang ke arah
belakang.

II. 4 Reklamasi pada Open Pit


Dengan metode tambang terbuka (open pit) yang dilakukan PT.
Berau Coal sampai sekarang, lahan bekas penambangan yang sudah
selesai di tambang segera dilakukan reklamasi dan revegetasi.
Reklamasi merupakan kegiatan untuk merehabilitasi kembali lingkungan
yang telah rusak baik itu akibat penambangan atau kegiatan yang
lainnya. Rehabilitasi ini dilakukan dengan cara penanaman kembali atau
penghijauan suatu kawasan yang rusak akibat kegiatan penambangan
11

tersebut. Pelaksanaan reklamasi dan revegetasi , dapat dilakukan pula


secara bersamaan sejauh dengan kemajuan aktifitas penambangan.
Untuk bekas tambang yang tidak dapat ditutup kembali, pemanfaatan
dapat dilakukan dengan berbagai cara serta tetap memperhatikan aspek
lingkungan, seperti untuk pemanfaatan sebagai kolam cadangan air,
pengembangan ke sektor wisata air, pembudidayaan ikan.
Kegiatan pengelolaan pengupasan tanah dan penimbunan tanah, tidak
dapat dilepaskan dari proses bagaimana tanah yang diangkut dibawa ke
lokasi penimbunan tanah (soil stockpile).

Penyelamatan Soil

Kadang tanah hasil pengupasan segera digunakan sebagai


pelapis tanah yang telah ditentukan elevasi dan kemiringannya.
Selanjutnya, dilakukan proses perapian dan pembuatan drainase serta
jalan untuk memudahkan penanaman dan pemeliharaan tanaman
reklamasi. Untuk mengurangi proses terjadinya erosi dan untuk
meningkatkan kesuburan tanah di daerah penimbunan dan reklamasi
permanen, lapisan tanah penutup ini diperlukan penanaman dengan
menggunakan tanaman penutup tanah (cover crops) jenis polongan.
Untuk keperluan tanaman reklamasi, pembibitan menjadi bagian yang
sangat penting. Fasilitas pembibitan untuk memproduksi semai atau
bibit yang diperluan untuk revegetasi, diperlukan beberapa jenis
tanaman yang menjadi pilihan antara lain sengon, kaliandra, johar,

12

trembesi, ketapang, angsana, mahoni, meranti, gaharu, sungkei, sawit,


dan kakao.
PT KEM, Kaltim 2013

Tambang emas di urug, Halmahera Utara

13

II.5 Keuntungan dan kerugian metode


penambangan open pit
A. Beberapa keuntungan yang diperroleh bila menggunakan
tambang terbuka diantaranya yaitu:
1. Produksi tinggi
2. Relatif lebih aman
3.Ongkos penambangan per
ton
atau per
bcm endapan
mineral/bijh lebi murah karena tidak perlu adanya penyanggaan,
ventilasi dan penerangan.
4.Kondisi kerjanya baik, karena
udara luar dan sinar matahari.

berhubungan langsung

dengan

5.Penggunaan alat-alat mekanis dengan ukuran besar dapat lebih


leluasa, se hingga produksi bisa lebih besar.
6.Pemakaian bahan peledak bisa lebih efisien, leluasa dan hasilnya
lebih baik, karena di daerah yang terbuka.
B. Kerugian metode penambangan open pit :
1.Para pekerja langsung dipengaruhi oleh keadaan cuaca, dimana
hujan yang lebat atau suhu yang tinggi mengakibatkan efisiensi
kerja menurun, sehingga hasil kerja juga menurun.
2.Kedalaman
penggalian terbatas, karena semakin
dalam
penggalian akan semakin banyak tanah penutup (overburden)
yang harus digali.
3.Timbul masalah dalam mencari tempat pembuangan tanah yang
jumlahnya cukup banyak.
4.Alat-alat mekanis letaknya menyebar.
14

5.Pencemaran lingkungan hidup relatif lebih besar.


Perbedaan antara open pit dengan open cut/open mine/open cast
dicirikan oleh arah penggalian/arah penambangan. Disebut open pit
apabila penambangannya dilakukan dari permukaan yang relatif
mendatar menuju ke arah bawah dimana endapan bijih tersebut
berada. Disebut open cut/open cast/open mine apabila penggalian
endapan bijih dilakukan pada suatu lereng bukit. Jadi penerapan
open pit atau open cut sangat tergantung pada letak atau bentuk
endapan bijih yang akan ditambang. Salah satu contoh metode
open pit/open cast adalah seperti yang diterapkan di PT. Freeport
Indonesia dan PT. Kelian Equatorial Mining . Perbedaan open pit
dan open cast juga dilihat dari pemindahan tanah penutupnya.
Pada open pit tanah penutup dikupas dan dipindahkan ke suatu
daerah pembuangan yang tidak ada endapan di bawahnya,
sedangkan pada open cast tanah penutup tidak dibuang ke daerah
pembuangan, tetapi dibuang ke daerah bekas tambang yang
berbatasan.

15

BAB III
PENUTUP
III.1 kesimpulan
1.Tambang terbuka (open pit mining) juga disebut dengan open
cast mining; adalah metoda penambangan yang dipakai untuk
menggali mineral deposit yang ada pada suatu batuan yang
berada atau dekat dengan permukaan.
2. Alat berat digunakan berdasarkan medan dan jarak tempuh
serta fungsi dari masing-masing alat
3. proses pembentukan open pit hingga reklamasi hanya
mengubah bentang alam dan memiliki nilay yang positif

16

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kehutanan, Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan
Perhutanan Sosial. 1997. Pedoman Reklamasi Lahan Tambang.
Jakarta : Dephut.
Departement of Industry Tourism and Resources, Australian
Government.2006.
Mine
Rehabilitation:
Leading
Practice
Sustainable Development Program for The Mining Industry.
Commonwhealth of Australia.
Hardjowigeno S. 1995. Ilmu Tanah (Edisi Revisi). Akademika Pressindo.
Jakarta.
http://gandaa.blogspot.com/2013/04/reklamasi-lahan-tambang.html
diakses pada tanggal 8 september
http://duniatambang2012.blogspot.com/2012/04/prinsip-reklamasi.html
diakses pada tanggal 8 september
http://psdg.bgl.esdm.go.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=609&It diakses pada tanggal
8 september
http://dynosidiq.blogspot.com/p/tambang-terbuka.htm diakses pada
tanggal 8 september
Mueller-Dombois D, Ellenberg H. 1974. Aims and Method of Vegetation
Ecology (Wiley International Edition). John Wiley and Sons, Inc.
United States of America.
Sutisna U, Karlina T, Purnadjaja. 1998. Pedoman Pengenalan Pohon
Hutan Indonesia. Yayasan PROSEA, Bogor dan Pusdiklat Pegawai
& SDM Departemen Kehutanan. Bogor. IPB.

17