Anda di halaman 1dari 29

1.1.

Definisi Sinusitis
Sinusitis adalah radang pada mukosa sinus paranasal. Peradangan ini meliputi
sinus maksila (sinusitis maksila), sinus etmoid (sinusitis etmoid), sinus frontal
(sinusitis frontal) dan sinus sphenoid (sinusitis sphenoid). Peradangan yang mengenai
mukosa beberapa sinus paranasal disebut multisinusitis. Peradangan yang mengenai
mukosa semua sinus paranasal disebut pansinusitis.
1.2. Anatomi Sinus
Sinus paranasal merupakan salah satu organ tubuh manusia yang sulit
dideskripsikan karena bentuknya yang sangat bervariasi. Ada empat pasang sinus
paranasal mulai dari yang terbesar yaitu sinus maksilaris, sinus frontal, sinus etmoid,
dan sinus sphenoid kanan dan kiri. Semua sinus mempunyai muara (ostium) kedalam
rongga hidung.
Sinus paranasal dilapisi oleh epitel torak berlapis semu bersilia dan
diantaranya terdapat sel-sel goblet. Dibawahnya terdapat tunika propria yang
mengandung kelenjer mukosa dan serosa yang salurannya bermuara dipermukaan
epitel. Sekresi kelenjer ini membentuk palut lendir (mucous blanket) yang menutupi
epitel.

Gambar 1.1 Sinus Paranasal


Komplek osteomeatal
Pada sepertiga tengah dinding lateral hidung yaitu dimeatus medius, ada muara
saluran dari sinus maksilaris, sinus frontal, sinus sphenoid, dan sinus etmoid. Daerah
ini rumit dan sempit, dinamakan kompleks osteomeatal (KOM), terdiri dari
infudibulum etmoid yang terdapat dibelakang prosesus unsinatus, resesus frontalis,

bula etmoid, sel-sel etmoid anterior dengan ostiumnya dan ostium sinus maksilaris.

Gambar 1.2 Komplek Osteomeata


1.3. Epidemiologi
Sinusitis merupakan penyakit yang sering ditemukan dalam praktek seharihari, bahkan dianggap sebagai salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering di
seluruh dunia. Sinusitis menyerang 1 dari 7 orang dewasa di United States, dengan
lebih dari 30 juta individu yang didiagnosis tiap tahunnya. Individu dengan riwayat
alergi atau asma berisiko tinggi terjadinya rhinosinusitis.
Prevalensi sinusitis tertinggi pada usia dewasa 18-75 tahun dan kemudian anak-anak
berusia 15 tahun. Pada anak-anak berusia 5-10 tahun. Infeksi saluran pernafasan
dihubungkan dengan sinusitis akut. Sinusitis jarang pada anak-anak berusia kurang
dari 1 tahun karena sinus belum berkembang dengan baik sebelum usia tersebut.1
Sinusitis maksila paling sering terjadi daripada sinusitis paranasal lainnya karena :
1. Ukuran. Sinus paranasal yang terbesar.
2. Posisi ostium. Posisi ostium sinus maksila lebih tinggi daripada dasarnya
sehingga aliran sekret / drainasenya hanya tergantung dari gerakan silia.
3. Letak ostium. Letak ostium sinus maksila berada pada meatus nasi medius di
sekitar hiatus semilunaris yang sempit sehingga mudah tersumbat.
4. Letak dasar. Letak dasar sinus maksila berbatasan langsung dengan dasar akar
gigi (prosesus alveolaris) sehingga infeksi gigi dapat menyebabkan sinusitis
maksila.1
1.4. Etiologi dan Faktor Resiko

Sinusitis dapat disebabkan oleh:


1. Bakteri : Streptococcus pneumoniae, Haemophillus influenza, Streptococcus
group A, Staphylococcus aureus, Neisseria, Klebsiella, Basil gram -,
Pseudomonas.
2. Virus : Rhinovirus, influenza virus, parainfluenza virus
3. Bakteri anaerob: fusobakteria
4. Jamur
Sinusitis akut dapat disebabkan oleh :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Rinitis akut.
Faringitis.
Adenoiditis.
Tonsilitis akut.
Dentogen. Infeksi dari gigi rahang atas seperti M1, M2, M3, P1 & P2.
Berenang.
Menyelam.
Trauma. Menyebabkan perdarahan mukosa sinus paranasal.
Barotrauma. Menyebabkan nekrosis mukosa sinus paranasal.

Infeksi kronis pada sinusitis kronis disebabkan :


1. Gangguan drainase. Gangguan drainase dapat disebabkan obstruksi mekanik
dan kerusakan silia.
2. Perubahan mukosa. Perubahan mukosa dapat disebabkan alergi, defisiensi
imunologik, dan kerusakan silia.
3. Pengobatan. Pengobatan infeksi akut yang tidak sempurna. Sebaliknya,
kerusakan silia dapat disebabkan oleh gangguan drainase, perubahan mukosa,
dan polusi bahan kimia.
Faktor predisposisi terjadinya sinusitis antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Obstruksi mekanik. Misalnya deviasi septum nasi.


Hipertrofi konka nasi media.
Benda asing dalam rongga hidung.
Polip nasi.
Tumor dalam rongga hidung.
Rinitis. Rinitis kronis dan rinitis alergi menyebabkan obstruksi ostium sinus
dan menghasilkan lendir yang banyak sehingga menjadi media yang baik bagi

pertumbuhan bakteri.
7. Lingkungan. Lingkungan yang berpolusi dan udara dingin & kering dapat
menyebabkan perubahan mukosa dan kerusakan silia.

1.5. Klasifikasi
Klasifikasi sinusitis yang tepat berdasarkan pemeriksaan histopatologik tetapi
masalahnya pemeriksaan ini tidak rutin dikerjakan. Secara klinis, sinusitis dibedakan
atas:
1. Sinusitis akut. Sinusitis yang berlangsung sampai 4 minggu.
2. Sinusitis subakut. Sinusitis yang berlangsung antara 4 minggu sampai 3 bulan.
3. Sinusitis kronis. Sinusitis yang berlangsung lebih 3 bulan.
Berdasarkan gejalanya, sinusitis juga dibedakan atas:2
1. Sinusitis akut. Sinusitis yang memiliki tanda-tanda peradangan akut.
2. Sinusitis subakut. Sinusitis yang memiliki tanda-tanda peradangan akut yang
telah mereda. Perubahan histologik mukosa sinus paranasal masih reversibel.
3. Sinusitis kronis. Perubahan histologik mukosa sinus paranasal sudah
ireversibel. Misalnya berubah menjadi jaringan granulasi dan polipoid.

1.6. Patofisiologi
Edema pada kompleks osteomeatal menyebabkan mukosa sinus paranasal
yang saling berhadapan akan bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak. Akibatnya
lendir tidak dapat dialirkan. Gangguan drainase ini juga diiringi oleh gangguan
ventilasi dalam sinus paranasal. Selain kurang aktifnya silia, lendir yang dihasilkan
oleh mukosa sinus paranasal menjadi lebih kental.6
Keadaan ini menjadi media yang baik bagi pertumbuhan bakteri patogen. Bila
sumbatan ini berlangsung terus-menerus maka dapat terjadi hipoksia jaringan, retensi
lendir dan perubahan jaringan. Retensi lendir menimbulkan infesksi bakteri anaerob.
Jaringan dapat berubah menjadi hipertrofi, polipoid, polip, atau kista.
1.7. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinis sinusitis dapat dinilai melalui gejala subjektif dan gejala
objektif. Gejala subjektif sinusitis akut dapat bersifat sistemik dan lokal. Gejala
sistemik berupa demam dan rasa lesu. Gejala lokal dapat kita temukan pada hidung,
sinus paranasal dan tempat lainnya sebagai nyeri alih (referred pain). Gejala pada
hidung dapat terasa adanya ingus yang kental & berbau mengalir ke nasofaring.
Selain itu, hidung terasa tersumbat. Gejala pada sinus paranasal berupa rasa nyeri dan
nyeri alih (referred pain).

Gejala subjektif yang bersifat lokal pada sinusitis maksila berupa rasa nyeri
dibawah kelopak mata dan kadang tersebar ke alveolus sehingga terasa nyeri di gigi.
Nyeri alih (referred pain) dapat terasa di dahi dan depan telinga. Gejala sinusitis
etmoid berupa rasa nyeri pada pangkal hidung, kantus medius, kadang-kadang pada
bola mata atau dibelakang bola mata. Akan terasa makin sakit bila pasien
menggerakkan bola matanya. Nyeri alih dapat terasa pada pelipis (parietal). Gejala
sinusitis frontal berupa rasa nyeri yang terlokalisir pada dahi atau seluruh kepala.
Gejala sinusitis sphenoid berupa rasa nyeri pada verteks, oksipital, belakang bola
mata atau daerah mastoid.
Gejala objektif sinusitis akut yaitu tampak bengkak pada muka pasien. Gejala
sinusitis maksila berupa pembengkakan pada pipi dan kelopak mata bawah. Gejala
sinusitis frontal berupa pembengkakan pada dahi dan kelopak mata atas.
Pembengkakan jarang terjadi pada sinusitis etmoid kecuali ada komplikasi.
Secara subjektif, sinusitis kronis memberikan gejala :
1. Hidung. Terasa ada sekret dalam hidung.
2. Nasofaring. Terasa ada sekret pasca nasal (post nasal drip). Sekret ini memicu
terjadinya batuk kronis.
3. Faring. Rasa gatal dan tidak nyaman di tenggorok.
4. Telinga. Gangguan pendengaran karena sumbatan tuba Eustachius.
5. Kepala. Nyeri kepala / sakit kepala yang biasanya terasa pada pagi hari dan
berkurang atau menghilang setelah siang hari. Penyebabnya belum diketahui
pasti. Mungkin karena malam hari terjadi penimbunan ingus dalam sinus
paranasal dan rongga hidung serta terjadi stasis vena.
6. Mata. Terjadi infeksi mata melalui penjalaran duktus nasolakrimalis.
7. Saluran napas. Terjadi batuk dan kadang-kadang terjadi komplikasi pada paru
seperti bronkitis, bronkiektasis, dan asma bronkial.
8. Saluran cerna. Terjadi gastroenteritis akibat tertelannya mukopus. Sering
terjadi pada anak-anak.
Secara objektif, gejala sinusitis kronis tidak seberat sinusitis akut. Tidak terjadi
pembengkakan wajah pada sinusitis kronis. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior
ditemukan sekret kental purulen di meatus nasi medius dan meatus nasi superior.
Sekret purulen juga ditemukan di nasofaring dan dapat turun ke tenggorok pada
pemeriksaan rinoskopi posterior.

1.8. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan fisik dengan rinoskopi anterior dan posterior,
pemeriksaan nasoendoskopi dianjurkan untuk diagnosis yang lebih tepat dan dini.1,7
Pada sinusitis akut, pemeriksaan rinoskopi anterior menampakkan mukosa konka nasi
hiperemis dan edema. Terdapat mukopus (nanah) di meatus nasi medius pada sinusitis
maksila, sinusitis forntal, dan sinusitis etmoid anterior. Nanah tampak keluar dari
meatus nasi superior pada sinusitis etmoid posterior dan sinusitis sfenoid.
Pemeriksaan rinoskopi posterior menampakkan adanya mukopus (nanah) di
nasofaring (post nasal drip).
Pemeriksaan penunjang berupa transiluminasi dan radiologik dapat kita
gunakan untuk membantu diagnosa sinusitis akut. Pemeriksaan transiluminasi
menampakkan sinus paranasal yang sakit lebih suram / lebih gelap daripada sinus
paranasal yang sehat. Pemeriksaan radiologik dapat menggunakan posisi Waters, PA,
atau lateral. Akan tampak adanya perselubungan, penebalan mukosa, atau batas
cairan-udara (air fluid level). Sebaiknya kita mengambil sekret dari meatus nasi
medius atau meatus nasi superior pada pemeriksaan mikrobiologik. Mikrobiologi
yang mungkin kita temukan yaitu bakteri, virus atau jamur. Bakteri yang berfungsi
sebagai flora normal di hidung maupun bakteri patogen keduanya bisa kita dapatkan.
Bakteri

patogen

seperti

Pneumococcus,

Streptococcus,

Staphyloccus,

dan

Haemophilus influenzae.
Sinusitis kronis didiagnosa berdasarkan anamnesis, pemeriksaan rinoskopi
(anterior & posterior) dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang
dapat kita gunakan antara lain pemeriksaan radiologik, pungsi sinus maksila,
sinoskopi sinus maksila, pemeriksaan histopatologik (dari jaringan yang diambil saat
melakukan sinoskopi), nasoendoskopi (meatus nasi medius & superior) dan CT scan.
1.9. Komplikasi
Sinusitis kronis dapat menyebabkan:
1. Osteomielitis.
2. Abses subperiosteal.

3. Kelainan orbita.
4. Kelainan intrakranial.
5. Kelainan paru-paru.
Osteomielitis dan abses subperiosteal biasanya akibat sinusitis frontal dan lebih
banyak terjadi pada usia anak-anak. Osteomielitis akibat sinusitis maksila dapat
menyebabkan fistula oroantral.
Kelainan orbita paling banyak disebabkan oleh sinusitis etmoid kemudian
berturut-turut akibat sinusitis frontal dan sinusitis maksila. Penyebaran infeksinya
melalui tromboflebitis dan perkontinuitatum.
Kelainan orbita tersebut meliputi:
1.
2.
3.
4.

Edema palpebra.
Selulitis orbita.
Abses subperiosteal.
Abses orbita.

1.10. Penatalaksanaan
Tujuan utama penatalaksanaan sinusitis adalah:
1. Mempercepat penyembuhan
2. Mencegah komplikasi
3. Mencegah perubahan menjadi kronik.
Sinusitis akut dapat diterapi dengan pengobatan (medikamentosa) dan
pembedahan (operasi). Ada 3 jenis obat yang dapat diberikan pada pasien sinusitis
akut, yaitu:
1. Antibiotik. Berikan golongan penisilin selama 10-14 hari meskipun gejala
klinik sinusitis akut telah hilang.
2. Dekongestan lokal. Berupa obat tetes hidung untuk memperlancar drainase
hidung.
3. Analgetik. Untuk menghilangkan rasa sakit.
4. Irigasi Antrum. Indikasinya adalah apabila terapi diatas gagal dan ostium sinus
sedemikian edematosa sehingga terbentuk abses sejati. Irigasi antrum
maksilaris dilakukan dengan mengalirkan larutan salin hangat melalui fossa
incisivus ke dalam antrum maksilaris. Cairan ini kemudian akan mendorong

pus untuk keluar melalui ostium normal.


5. Menghilangkan faktor predisposisi
Pembedahan (operasi) pada pasien sinusitis akut jarang dilakukan kecuali
telah terjadi komplikasi ke orbita atau intrakranial. Selain itu nyeri yang hebat
akibat sekret yang tertahan oleh sumbatan dapat menjadi indikasi untuk
melakukan pembedahan.
Sinusitis kronis dapat ditangani dengan cara :
1. Medikamentosa. Pemberian antibiotik selama minimal 2 minggu dan obat
simptomatik lainnya.
2. Tindakan. Meliputi diatermi, pungsi & irigasi sinus (sinusitis maksila),
pencucian Proetz (sinusitis etmoid, sinusitis frontal & sinusitis sfenoid),
pembedahan radikal & tidak radikal. Diatermi menggunakan gelombang
pendek di daerah sinus paranasal yang sakit selama 10 hari.
Pungsi & irigasi sinus dan pencucian Proetz dilakukan 2 kali seminggu. Jika
tindakan ini telah kita lakukan lebih 5-6 kali namun masih belum ada
perbaikan dimana sekret purulen masih tetap banyak maka keadaan ini kita
anggap telah irreversibel. Artinya mukosa sinus paranasal tidak dapat lagi
kembali normal. Hal ini dapat diketahui dengan pemeriksaan sinoskopi dan
dapat diatasi dengan tindakan operasi radikal. Pemeriksaan sinoskopi melihat
langsung antrum (sinus maksila) menggunakan bantuan endoskopi.
Operasi radikal dilakukan setelah pengobatan konservatif tidak berhasil.
Tindakan ini bertujuan mengangkat mukosa sinus paranasal yang patologis
atau melakukan drainase sinus paranasal yang sakit. Ada beberapa jenis
operasi radikal pada sinusitis paranasal, yaitu:
1. Operasi Caldwell-Luc. Pembedahan untuk sinusitis maksila.
2. Etmoidektomi. Pembedahan untuk sinusitis etmoid.
3. Operasi Killian. Pembedahan untuk sinusitis frontal.
Belakangan ini, para ahli mengembangkan tindakan pembedahan sinus paranasal
yang bukan radikal dengan menggunakan bantuan endoskopi. Prinsipnya membuka
dan membersihkan daerah kompleks osteomeatal sebagai sumber sumbatan dan
infeksi sehingga ventilasi dan drainase sinus paranasal lancar kembali melalui ostium
alami. Akhirnya sinus paranasal diharapkan dapat normal kembali. Tindakan ini
disebut Bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BSEF).

LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. F

Umur

: 35 tahun

Jenis kelamin : Perempuan


Suku bangsa : Sunda
Alamat

: Serang

ANAMNESIS
Seorang pasien perempuan berumur 35 tahun datang ke Poliklinik THT RSUD
SERANG pada tanggal 18 november 2013 dengan :
Keluhan Utama:
Pilek terus menerus sejak 5 bulan yang lalu

Riwayat Penyakit Sekarang :


1. Pilek terus menerus sejak 5 bulan yang lalu, kental, berbau busuk dan
berwarna putih kekuningan.
2. Riwayat nyeri dan terasa penuh dipipi kanan dan kiri sejak 5 bulan yang lalu.
Nyeri biasanya dirasakan lebih pada pagi hari dan berkurang pada siang hari.
Nyeri terasa menjalar ke kepala. Nyeri dirasakan lebih hebat jika pasien
menunduk atau menggoyangkan kepala.
3. Riwayat bengkak pada kelopak mata kiri dan kanan setiap nyeri yang hebat
sejak 5 bulan yang lalu
4. Riwayat cairan terasa mengalir ditenggorkan ada sejak 3 bulan yang lalu
5. Pendengaran berkurang tidak ada
6. Gigi bagian atas yang sakit dan berlubang tidak ada
7. Riwayat keluar cairan dari telinga tidak ada
8. Rasa pusing berputar tidak ada
9. Telinga berdenging tidak ada
10. Bersin-bersin ada
11. Perdarahan dari hidung tidak ada
12. Gangguan penciuman tidak ada
13. Batuk tidak ada
14. Nyeri tenggorok tidak ada
15. Nyeri menelan tidak ada
16. Sulit menelan tidak ada
17. Rasa sumbatan di leher tidak ada
18. Suara serak tidak ada
Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada keluarga pasien yang menderita penyakit seperti ini

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalisata
Keadaan Umum : Sedang
Kesadaran : Compos mentis kooperatif
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Frekuensi Nafas : 28 x/ menit
Frekuensi Nadi : 84x/menit
Suhu : 36,2C
Pemeriksaan Sistemik
Kepala

: tidak ada kelainan

Mata

: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Thorak

: Jantung dan paru diharapkan dalam batas normal

Abdomen

: Hepar dan lien tidak teraba, bising usus (+) normal, distensi tidak ada

Ekstremitas

: akral hangat, perfusi jaringan baik

STATUS LOKALIS THT

pemeriksaan

Kelainan

dekstra

Sinistra

Daun telinga

Kelainan congenital

Tidak ada

Tidak ada

Trauma

Tidak ada

Tidak ada

Radang

Tidak ada

Tidak ada

Kelainan metabolic

Tidak ada

Tidak ada

Nyeri tarik

Tidak ada

Tidak ada

Nyeri tekan tragus

Tidak ada

Tidak ada

Cukup lapang

Cukup lapang

Cukup lapang

Sempit

tidak

tidak

Hiperemi

Tidak ada

Tidak ada

Edema

Tidak ada

Tidak ada

Massa

Tidak ada

Tidak ada

Bau

Tidak ada

Tidak ada

Warna

Tidak ada

Tidak ada

Jumlah

Tidak ada

Tidak ada

Jenis

Tidak ada

Tidak ada

Warna

putih

Abu-abu(suram)

Refleks cahaya

ada

Ada, memendek

Bulging

Tidak ada

Tidak ada

Retraksi

Tidak ada

Tidak ada

Atrofi

Tidak ada

Tidak ada

Dinding liang
telinga

Sekret/serume
n

Membran timpani
Utuh

Perforasi: Tidak ada


Gambar :

mastoid

Tes garpu tala

Tanda radang

Tidak ada

Tidak ada

Fistel

Tidak ada

Tidak ada

Sikatrik

Tidak ada

Tidak ada

Nyeri tekan

Tidak ada

Tidak ada

Nyeri ketok

Tidak ada

Tidak ada

Rinne

Schwabach

Sama dengan pemeriksa

Weber

Tidak ada lateralisasi

Kesimpulan

normal

normal

HIDUNG

Pemeriksaan

Kelainan

Dekstra

Sinistra

Hidung luar

Deformitas

Tidak ada

Tidak ada

Kelainan congenital

Tidak ada

Tidak ada

Trauma

Tidak ada

Tidak ada

Radang

Tidak ada

Tidak ada

Massa

Tidak ada

Tidak Ada

Sinus Paranasal
pemeriksaan

dekstra

Sinistra

Nyeri tekan

Tidak ada

ada

Nyeri ketok

Tidak ada

ada

RHINOSKOPI ANTERIOR
vestibulum

Cavum nasi

Sekret

Vibrise

Ada

Ada

Radang

Tidak ada

Tidak ada

Cukup lapang

Cukup lapang

Cukup lapang

Sempit

Tidak ada

Tidak ada

Lapang

Tidak ada

Tidak ada

Lokasi

Tidak ada

ada

Jenis

Tidak ada

mukous

Jumlah

Tidak ada

sedikit

Konkha inferior

Konkha media

Septum

Bau

Tidak ada

Tidak ada

Ukuran

Eutrofi

Eutrofi

Warna

Merah muda

Merah muda

Permukaan

Licin

Licin

Edema

Tidak ada

Tdak ada

Ukuran

Eutrofi

Eutrofi

Warna

Merah muda

Merah muda

Permukaan

Licin

Licin

Edema

Tidak ada

Tidak ada

Cukup lurus/deviasi

Cukup lurus

Cukup lurus

Permukaan

Licin

Licin

Warna

Merah muda

Merah muda

Spina

Tidak ada

Tidak ada

Krista

Tidak ada

Tidak ada

Abses

Tidak ada

Tidak ada

Perforasi

Tidak ada

Tidak ada

Massa: tidak ada


RHINOSKOPI POSTERIOR (NASOFARING):

Pemeriksaan

Kelainan

Dekstra

Sinistra

Koana

Cukup lapang

Cukup lapang

Cukup lapang

Sempit

Tidak ada

Tidak ada

Lapang

Tidak ada

Tidak ada

Warna

Merah muda

Merah muda

Edema

Tidak ada

Tidak ada

Jaringan granulasi

Tidak ada

Tidak ada

Ukuran

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Mukosa

Konkha inferior

Warna
Permukaan
Edema

Adenoid

Ada/tidak

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Muara tuba eustachius

Tertutup sekret

Tidak ada

Tidak ada

Edema mukosa

ada

ada

Lokasi

Tidak ada

Tidak ada

Ukuran

Tidak ada

Tidak ada

Bentuk

Tidak ada

Tidak ada

Permukaan

Tidak ada

Tidak ada

Ada/tidak

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Massa

Post nasal drip

Jenis
OROFARING DAN MULUT

Pemeriksaan

Kelainan

Dekstra

Sinistra

Palatum mole + arkus


faring

Simetris/tidak

Simetris

simetris

Warna

Merah muda

Merah muda

Edema

Tidak ada

Tidak ada

Bercak/eksudat

Tidak ada

Tidak ada

Warna

Merah muda

Merah muda

Permukaan

licin

licin

Ukuran

T1

T1

Warna

Merah muda

Merah muda

Permukaan

Rata

Rata

Muara kripti

Tidak melebar

Tidak melebar

Detritus

Tidak ada

Tidak ada

Eksudat

Tidak ada

Tidak ada

Perlengketan dengan pilar

Tidak ada

Tidak ada

Warna

Merah muda

Merah muda

Edema

Tidak ada

Tidak ada

Abses

Tidak ada

Tidak ada

Gigi:

Karies

Tidak ada

Tidak ada

Lidah

Warna

Merah muda

Merah muda

Dinding faring

Tonsil

peritonsil

Tumor: tidak ada

Bentuk

Normal

Normal

Deviasi

Tidak ada

Tidak ada

Massa

Tidak ada

Tidak ada

LARINGOSKOPI INDIREK

Pemeriksaan

Kelainan

Dekstra

Sinistra

Epiglotis

Bentuk

kubah

Kubah

Warna

Merah muda

Merah muda

Edema

Tidak ada

Tidak ada

Pinggir rata/tidak

rata

Rata

Massa

Tidak ada

Tidak ada

Warna

Merah muda

Merah muda

Edema

Tidak ada

Tidak ada

Massa

Tidak ada

Tidak ada

Gerakan

simetris

Simetris

Warna

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Massa

Tidak ada

Tidak ada

Sekret (jenisnya)

Tidak ada

Tidak ada

Aritenoid

Ventricular band

Edema
Massa
Plica vocalis

Warna
Gerakan
Massa

Subglotis/trakea

Massa
Sekret ada/tidak

Sinus piriformis

Massa
Sekret

Valekula

Pemeriksaan Kelenjar Getah Bening Leher


Inspeksi : Tidak terlihat pembesaran kelenjar getah bening

Palpasi : Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening


RESUME
Anamnesis :
1. Pilek terus menerus sejak 5 bulan yang lalu, kental, berbau busuk dan
berwarna putih kekuningan.
2. Riwayat nyeri dan terasa penuh dipipi kanan dan kiri sejak 5 bulan yang lalu.
Nyeri biasanya dirasakan lebih pada pagi hari dan berkurang pada siang hari.
Nyeri terasa menjalar ke kepala. Nyeri dirasakan lebih hebat jika pasien
menunduk atau menggoyangkan kepala.
3. Riwayat bengkak pada kelopak mata kiri dan kanan setiap nyeri yang hebat
sejak 5 bulan yang lalu
4. Riwayat cairan terasa mengalir ditenggorkan ada sejak tiga tahun yang lalu
5. Riwayat bersin-bersin ada
Pemeriksaan fisik :
1. Sinus maxilaris kiri, nyeri tekan ada, nyeri ketok ada
2. Telinga kiri, membran timpani utuh, warna suram, refleks cahaya ada,
memendek.
Diagnosis Kerja : Sinusitis Maxilaris Bilateral
Pemeriksaan Anjuran :
1. Foto sinus paranasal posisis waters , Lateral
2. CT scan
3. Tes sensitivitas bakteri

Terapi :
1.
2.
3.
4.

Antibiotik oral
Kortikosteroid oral
Dekongestan oral
Analgetik Oral

Terapi anjuran :
Operasi

Prognosis :
Quo ad vitam : bonam
Quo ad sanam : bonam

DAFTAR PUSTAKA
1.

Endang Mangunkusumo, Damajanti Soetjipto. Sinusitis. Dalam Buku Ajar Ilmu

Kesehatan Hidung dan Telinga editor AS, Nurbaiti. Edisi ke 6 tahun 2007. Hal 150153.
2.

Endang Mangunkusumo, Damajanti Soetjipto. Sinusitis. Dalam Buku Ajar Ilmu

Kesehatan Hidung dan Telinga editor AS, Nurbaiti. Edisi ke 3 tahun 1998.
3.

Ballenger JJ, Snow JB. Anatomy and Physiology of The Nose and Paranasal

Sinuses. Dalam: Ballengers Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 16th


Edition. Spain: 2003; 569

4.

Lalwani AK, 2007. Current Diagnosis and Treatment in Otolaryngology-Head

and Neck Surgery, 2nd Edition: http://www.accessmedicine.com


5.

Brook I, 2006. Infection Causes of Sinusitis. In Sinusitis. London: Taylor and

Francis Group pg 145-169


6.

Jackman AH, Kennedy Y DW. Patophysiology of Sinusitis. Dalam: Brook I.

Sinusitis from Microbiology to Management. New York: 2006; 109-113.


7.

Pletcher SD, Golderg AN. The Diagnosis and Treatment of Sinusitis. Dalam

Advanced Studies in Medicine. Vol. 3 no. 9: 2003; 495-505.


8.

Umar F, Dkk. 2005. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Infeksi Pernapasan.

Diakses

dari

http://125.160.76.194/bidang/yanmed/farmasi/Pharmaceutical

pada

tanggal 29 Mei 2009

POLIP NASI
I.

DEFINISI
Polip nasi adalah massa lunak yang tumbuh di dalam rongga hidung.
Kebanyakan polip berwarna putih bening atau keabu abuan, mengkilat,
lunak karena banyak mengandung cairan (polip edematosa). Polip yang
sudah lama dapat berubah menjadi kekuning kuningan atau kemerah
merahan, suram dan lebih kenyal (polip fibrosa).

Polip kebanyakan berasal dari mukosa sinus etmoid, biasanya multipel


dan dapat bilateral. Polip yang berasal dari sinus maksila sering tunggal dan
tumbuh ke arah belakang, muncul di nasofaring dan disebut polip koanal.
II.

ANATOMI DAN FISIOLOGI


Hidung Luar
Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian bagiannya dari atas ke
bawah :
1. Pangkal hidung (bridge)
2. Dorsum nasi
3. Puncak hidung
4. Ala nasi
5. Kolumela
6. Lubang hidung (nares anterior)
Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi
kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yaitu M. Nasalis pars transversa
dan M. Nasalis pars allaris. Kerja otot otot tersebut menyebabkan nares
dapat melebar dan menyempit. Batas atas nasi eksternus melekat pada os
frontal sebagai radiks (akar), antara radiks sampai apeks (puncak) disebut
dorsum nasi. Lubang yang terdapat pada bagian inferior disebut nares, yang
dibatasi oleh :
-

Superior : os frontal, os nasal, os maksila

Inferior : kartilago septi nasi, kartilago nasi lateralis, kartilago


alaris mayor dan kartilago alaris minor

Dengan adanya kartilago tersebut maka nasi eksternus bagian inferior


menjadi fleksibel.
Perdarahan :
1. A. Nasalis anterior (cabang A. Etmoidalis yang merupakan cabang dari A.
Oftalmika, cabang dari a. Karotis interna).
2. A. Nasalis posterior (cabang A.Sfenopalatinum, cabang dari A. Maksilaris
interna, cabang dari A. Karotis interna)
3. A. Angularis (cabang dari A. Fasialis)
Persarafan :

1. Cabang dari N. Oftalmikus (N. Supratroklearis, N. Infratroklearis)


2. Cabang dari N. Maksilaris (ramus eksternus N. Etmoidalis anterior)
Kavum Nasi
Dengan adanya septum nasi maka kavum nasi dibagi menjadi dua
ruangan yang membentang dari nares sampai koana (apertura posterior).
Kavum nasi ini berhubungan dengan sinus frontal, sinus sfenoid, fossa kranial
anterior dan fossa kranial media. Batas batas kavum nasi :
Posterior

: berhubungan dengan nasofaring

Atap

: os nasal, os frontal, lamina kribriformis etmoidale, korpus

sfenoidale dan sebagian os vomer


Lantai

: merupakan bagian yang lunak, kedudukannya hampir

horisontal, bentuknya konkaf dan bagian dasar ini lebih lebar daripada bagian
atap. Bagian ini dipisahnkan dengan kavum oris oleh palatum durum.
Medial

: septum nasi yang membagi kavum nasi menjadi dua ruangan

(dekstra dan sinistra), pada bagian bawah apeks nasi, septum nasi dilapisi oleh
kulit, jaringan subkutan dan kartilago alaris mayor. Bagian dari septum yang
terdiri dari kartilago ini disebut sebagai septum pars membranosa = kolumna =
kolumela.
Lateral

: dibentuk oleh bagian dari os medial, os maksila, os lakrima,

os etmoid, konka nasalis inferior, palatum dan os sfenoid.


Konka nasalis suprema, superior dan media merupakan tonjolan dari
tulang etmoid. Sedangkan konka nasalis inferior merupakan tulang yang
terpisah. Ruangan di atas dan belakang konka nasalis superior adalah resesus
sfeno-etmoid yang berhubungan dengan sinis sfenoid. Kadang kadang konka
nasalis suprema dan meatus nasi suprema terletak di bagian ini.
Perdarahan :
Arteri yang paling penting pada perdarahan kavum nasi adalah A.sfenopalatina
yang merupakan cabang dari A.maksilaris dan A. Etmoidale anterior yang
merupakan cabang dari A. Oftalmika. Vena tampak sebagai pleksus yang
terletak submukosa yang berjalan bersama sama arteri.

Persarafan :

1. Anterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari N. Trigeminus


yaitu N. Etmoidalis anterior
2. Posterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari ganglion
pterigopalatinum masuk melalui foramen sfenopalatina kemudian menjadi
N. Palatina mayor menjadi N. Sfenopalatinus.
Mukosa Hidung
Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan
fungsional dibagi atas mukosa pernafasan dan mukosa penghidu. Mukosa
pernafasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya
dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang mempunyai silia dan diantaranya
terdapat sel sel goblet. Pada bagian yang lebih terkena aliran udara
mukosanya lebih tebal dan kadang kadang terjadi metaplasia menjadi sel
epital skuamosa. Dalam keadaan normal mukosa berwarna merah muda dan
selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous blanket) pada
permukaannya. Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar mukosa dan sel goblet.
Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai fungsi yang
penting. Dengan gerakan silia yang teratur, palut lendir di dalam kavum nasi
akan didorong ke arah nasofaring. Dengan demikian mukosa mempunyai daya
untuk membersihkan dirinya sendiri dan juga untuk mengeluarkan benda asing
yang masuk ke dalam rongga hidung. Gangguan pada fungsi silia akan
menyebabkan banyak sekret terkumpul dan menimbulkan keluhan hidung
tersumbat. Gangguan gerakan silia dapat disebabkan oleh pengeringan udara
yang berlebihan, radang, sekret kental dan obat obatan.
Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior
dan sepertiga bagian atas septum. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis
semu dan tidak bersilia (pseudostratified columnar non ciliated epithelium).
Epitelnya dibentuk oleh tiga macam sel, yaitu sel penunjang, sel basal dan sel
reseptor penghidu. Daerah mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan.
Fisiologi hidung
1. Sebagai jalan nafas
Pada inspirasi, udara masuk melalui nares anterior, lalu naik ke atas
setinggi konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring,

sehingga aliran udara ini berbentuk lengkungan atau arkus. Pada ekspirasi,
udara masuk melalui koana dan kemudian mengikuti jalan yang sama
seperti udara inspirasi. Akan tetapi di bagian depan aliran udara memecah,
sebagian lain kembali ke belakang membentuk pusaran dan bergabung
dengan aliran dari nasofaring.
2. Pengatur kondisi udara (air conditioning)
Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan
udara yang akan masuk ke dalam alveolus. Fungsi ini dilakukan dengan
cara :
a. Mengatur kelembaban udara. Fungsi ini dilakukan oleh palut lendir.
Pada musim panas, udara hampir jenuh oleh uap air, penguapan dari
lapisan ini sedikit, sedangkan pada musim dingin akan terjadi
sebaliknya.
b. Mengatur suhu. Fungsi ini dimungkinkan karena banyaknya
pembuluh darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan
septum yang luas, sehingga radiasi dapat berlangsung secara optimal.
Dengan demikian suhu udara setelah melalui hidung kurang lebih 37o
C.
3. Sebagai penyaring dan pelindung
Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan
bakteri dan dilakukan oleh :
a. Rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi
b. Silia
c. Palut lendir (mucous blanket). Debu dan bakteri akan melekat pada
palut lendir dan partikel partikel yang besar akan dikeluarkan
dengan refleks bersin. Palut lendir ini akan dialirkan ke nasofaring
oleh gerakan silia.
d. Enzim yang dapat menghancurkan beberapa jenis bakteri, disebut
lysozime.
4. Indra penghidu
Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dengan adanya mukosa
olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian

atas septum. Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi
dengan palut lendir atau bila menarik nafas dengan kuat.
5. Resonansi suara
Penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. Sumbatan
hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang, sehingga
terdengar suara sengau.
6. Proses bicara
Membantu proses pembentukan kata dengan konsonan nasal (m,n,ng)
dimana rongga mulut tertutup dan rongga hidung terbuka, palatum molle
turun untuk aliran udara.
7. Refleks nasal
Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan
saluran cerna, kardiovaskuler dan pernafasan. Contoh : iritasi mukosa
hidung menyebabkan refleks bersin dan nafas terhenti. Rangsang bau
tertentu menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung dan pankreas.
III.

ETIOLOGI
Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat reaksi hipersensitif atau
reaksi alergi pada mukosa hidung. Peranan infeksi pada pembentukan polip
hidung belum diketahui dengan pasti tetapi ada keragu raguan bahwa
infeksi dalam hidung atau sinus paranasal seringkali ditemukan bersamaan
dengan adanya polip. Polip berasal dari pembengkakan lapisan permukaan
mukosa hidung atau sinus, yang kemudian menonjol dan turun ke dalam
rongga hidung oleh gaya berat. Polip banyak mengandung cairan interseluler
dan sel radang (neutrofil dan eosinofil) dan tidak mempunyai ujung saraf
atau pembuluh darah. Polip biasanya ditemukan pada orang dewasa dan
jarang pada anak anak. Pada anak anak, polip mungkin merupakan gejala
dari kistik fibrosis.
Yang dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya polip antara lain :
1. Alergi terutama rinitis alergi.
2. Sinusitis kronik.
3. Iritasi.

4. Sumbatan hidung oleh kelainan anatomi seperti deviasi septum dan


hipertrofi konka.
IV.

PATOFISIOLOGI
Pada tingkat permulaan ditemukan edema mukosa yang kebanyakan
terdapat di daerah meatus medius. Kemudian stroma akan terisi oleh cairan
interseluler, sehingga mukosa yang sembab menjadi polipoid. Bila proses
terus berlanjut, mukosa yang sembab makin membesar dan kemudian akan
turun ke dalam rongga hidung sambil membentuk tangkai, sehingga
terbentuk polip.
Polip di kavum nasi terbentuk akibat proses radang yang lama.
Penyebab tersering adalah sinusitis kronik dan rinitis alergi. Dalam jangka
waktu yang lama, vasodilatasi lama dari pembuluh darah submukosa
menyebabkan edema mukosa. Mukosa akan menjadi ireguler dan terdorong
ke sinus dan pada akhirnya membentuk suatu struktur bernama polip.
Biasanya terjadi di sinus maksila, kemudian sinus etmoid. Setelah polip
terrus membesar di antrum, akan turun ke kavum nasi. Hal ini terjadi karena
bersin dan pengeluaran sekret yang berulang yang sering dialami oleh orang
yang mempunyai riwayat rinitis alergi karena pada rinitis alergi terutama
rinitis alergi perennial yang banyak terdapat di Indonesia karena tidak
adanya variasi musim sehingga alergen terdapat sepanjang tahun. Begitu
sampai dalam kavum nasi, polip akan terus membesar dan bisa
menyebabkan obstruksi di meatus media.

V.

GEJALA KLINIS
Gejala utama yang ditimbulkan oleh polip hidung adalah rasa
sumbatan di hidung. Sumbatan ini tidak hilang timbul dan makin lama
semakin berat keluhannya. Pada sumbatan yang hebat dapat menyebabkan
gejala hiposmia atau anosmia. Bila polip ini menyumbat sinus paranasal,
maka sebagai komplikasinya akan terjadi sinusitis dengan keluhan nyeri
kepala dan rinore.
Bila penyebabnya adalah alergi, maka gejala yang utama ialah bersin
dan iritasi di hidung.

Pada rinoskopi anterior polip hidung seringkali harus dibedakan dari


konka hidung yang menyerupai polip (konka polipoid). Perbedaan antara
polip dan konka polipoid ialah :
Polip :

VI.

Bertangkai

Mudah digerakkan

Konsistensi lunak

Tidak nyeri bila ditekan

Tidak mudah berdarah

Pada pemakaian vasokonstriktor (kapas adrenalin) tidak mengecil.

DIAGNOSIS BANDING
Polip didiagnosabandingkan dengan konka polipoid, yang ciri cirinya
sebagai berikut :
-

Tidak bertangkai

Sukar digerakkan

Nyeri bila ditekan dengan pinset

Mudah berdarah

Dapat mengecil pada pemakaian vasokonstriktor (kapas


adrenalin).

Pada pemeriksaan rinoskopi anterior cukup mudah untuk membedakan


polip dan konka polipoid, terutama dengan pemberian vasokonstriktor yang
juga harus hati hati pemberiannya pada pasien dengan penyakit
kardiovaskuler

karena

bisa

menyebabkan

vasokonstriksi

sistemik,

maningkatkan tekanan darah yang berbahaya pada pasien dengan hipertensi


dan dengan penyakit jantung lainnya.
VII.

PENATALAKSANAAN
Untuk polip edematosa, dapat diberikan pengobatan kortikosteroid :
1. Oral, misalnya prednison 50 mg/hari atau deksametason selama 10 hari,
kemudian dosis diturunkan perlahan lahan (tappering off).
2. Suntikan intrapolip, misalnya triamsinolon asetonid atau prednisolon 0,5
cc, tiap 5 7 hari sekali, sampai polipnya hilang.

3. Obat semprot hidung yang mengandung kortikosteroid, merupakan obat


untuk rinitis alergi, sering digunakan bersama atau sebagai lanjutan
pengobatn kortikosteroid per oral. Efek sistemik obat ini sangat kecil,
sehingga lebih aman.
Untuk polip yang ukurannya sudah besar dilakukan ektraksi polip
(polipektomi) dengan menggunakan senar polip. Selain itu bila terdapat
sinusitis, perlu dilakukan drenase sinus. Oleh karena itu sebelum operasi
polipektomi perlu dibuat foto sinus paranasal untuk melihat adanya sinusitis
yang menyertai polip ini atau tidak. Selain itu, pada pasien polip dengan
keluhan sakit kepala, nyeri di daerah sinus dan adanya perdarahan
pembuatan foto sinus paranasal tidak boleh dilupakan.
Prosedur polipektomi dapat mudah dilakukan dengan senar polip setelah
pemberian dekongestan dan anestesi lokal.
Pada kasus polip yang berulang ulang, perlu dilakukan operasi
etmoidektomi oleh karena umumnya polip berasal dari sinus etmoid.
Etmoidektomi ada dua cara, yakni :
1. Intranasal
2. Ekstranasal
VIII. PROGNOSIS
Polip hidung sering tumbuh kembali, oleh karena itu pengobatannya
juga perlu ditujukan kepada penyebabnya, misalnya alergi. Terapi yang
paling ideal pada rinitis alergi adalah menghindari kontak dengan alergen
penyebab dan eliminasi.
Secara medikamentosa, dapat diberikan antihistamin dengan atau tanpa
dekongestan yang berbentuk tetes hidung yang bisa mengandung
kortikosteroid atau tidak. Dan untuk alergi inhalan dengan gejala yang berat
dan sudah berlangsung lama dapat dilakukan imunoterapi dengan cara
desensitisasi dan hiposensitisasi, yang menjadi pilihan apabila pengobatan
cara lain tidak memberikan hasil yang memuaskan.
IX.

KESIMPULAN

1. Polip nasi merupakan salah satu penyakit THT yang memberikan


keluhan sumbatan pada hidung yang menetap dan semakin lama semakin
berat dirasakan.
2. Etiologi polip di literatur terbanyak merupakan akibat reaksi
hipersensitivitas yaitu pada proses alergi, sehingga banyak didapatkan
bersamaan dengan adanya rinitis alergi.
3. Pada anamnesis pasien, didapatkan keluhan obstruksi hidung, anosmia,
adanya riwayat rinitis alergi, keluhan sakit kepala daerah frontal atau
sekitar mata, adanya sekret hidung.
4. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior ditemukan massa yang lunak,
bertangkai, mudah digerakkan, tidak ada nteri tekan dan tidak mengecil
pada pemberian vasokonstriktor lokal.
5. Penatalaksanaan untuk polip nasi ini bisa secara konservatif maupun
operatif, yang biasanya dipilih dengan melihat ukuran polip itu sendiri
dan keluhan dari pasien sendiri.
6. Pada pasien dengan riwayat rinitis alergi, polip nasi mempunyai
kemungkinan yang lebih besar untuk rekuren. Sehingga kemungkinan
pasien harus menjalani polipektomi beberapa kali dalam hidupnya.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Soepardi, Efiaty. Iskandar, Nurbaiti. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga


Hidung Tenggorok edisi IV cetakan I. Balai Penerbit FK-UI, Jakarta 2000

2.

Soepardi, Efiaty. Hadjat, Fachri. Iskandar, Nurbaiti. Penatalaksanaan dan


Kelainan Telinga Hidung Tenggorok edisi II. Balai Penerbit FK-UI,
Jakarta 2000

3.

Kapita Selekta Kedokteran edisi III jilid I hal. 113 114. Penerbit Media
Aesculapius FK-UI 2000

4.

Diktat Anatomi Hidung FK Usakti hal. 1 12

5.

Adams, George. Boies, Lawrence. Higler, Peter. Buku Ajar Penyakit


Telinga Hidung Tenggorok. W.B. Saunders, Philadelphia 1989

6.

Ballenger, John Jacob. Diseaes of The Nose Throat Ear Head and Neck.
Lea & Febiger 14th edition. Philadelphia 1991

Case

SINUSITIS MAXILLARIS BILATERAL


DAN POLIP NASI

Disusun oleh :
Novita Intan Sari 110.2008.180
Novia Ardiani 110.2008.179

Pembimbing :
Dr. Yose Rizal, Sp.THT

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI

SMF THT
NOVEMBER 2013