Anda di halaman 1dari 25

REFERAT

MASTITIS

Pembimbing:
dr. Ratna Dewi P S, Sp.OG

Oleh:
Meta Sakina
1018011076

KEPANITERAAN KLINIK ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. H. ABDUL MOELOEK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya ucapkan atas ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyusun referat polihidramnion.
Selanjutnya, referat ini disusun dalam rangka memenuhi tugas kepaniteraan Obstetri
dan Ginekologi. Kepada dokter-dokter yang terlibat, saya ucapkan terima kasih atas segala
pengarahannya sehingga laporan kasus ini dapat saya susun dengan cukup baik.
Saya menyadari banyak kekurangan dalam penulisan laporan kasus ini, baik dari segi
isi, bahasa, dan sebagainya. Oleh karena itu, saya ingin meminta maaf atas segala
kekurangan tersebut, hal ini disebabkan karena masih terbatasnya pengetahuan, wawasan,
dan keterampilan saya. Selain itu, kritik dan saran dari pembaca sangat saya harapkan, guna
untuk kesempurnaan referat ini dan perbaikan untuk kita semua.
Semoga referat ini dapat bermanfaat dan dapat memberikan wawasan berupa ilmu
pengetahuan untuk kita semua.

Bandar Lampung, November 2014

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman
Kata Pengantar .............................................................................................. 2
Daftar Isi ........................................................................................................ 3
BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................

BAB II.TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................


2.1.Payudara.......................................................................................
2.1.1.Definisi...............................................................................
2.1.2.Anatomi dan fisiologi.........................................................
2.1.3.Pertumbuhan payudara.......................................................
2.2. Mastitis
2.2.1. definisi...............................................................................
2.2.2. klasifikasi
2.2.3. patofisiologi
2.2.4. faktor risiko.
2.2.5. penegakan diagnosis
2.2.6. penatalaksanaan..
2.2.7. komplikasi
2.2.8. pencegahan..

6
6
5
5
8

BAB III. KESIMPULAN ..............................................................................

23

9
10
10
11
13
15
18
20

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat
kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama kira-kira
6 minggu. Perubahan payudara terjadi waktu hamil dan menyusui. Pada kehamilan payudara
menjadi besar karena epitel duktus lobul dan duktus alveolus berproliferasi, dan tumbuh

duktus baru.Sekresi hormon prolaktin dari hipofisis anterior memicu laktasi. Air susu
diproduksi oleh sel-sel alveolus, mengisi asinus, kemudian dikeluarkan melalui duktus ke
puting susu.
ASI sebagai makanan alamiah adalah makanan terbaik yang dapat diberikan seorang ibu
pada anak yang dilahirkannya. ASI mengandung zat pelindung yang dapat melindungi bayi
dari berbagai penyakit infeksi. Akhir-akhir ini terbukti bahwa tidak diberikannya ASI
berhubungan dengan penyakit kardio vaskuler dan keganasan pada usia muda. Karena itu,
saat ini usaha meningkatkan penggunaan ASI telah menjadi tujuan global. Setiap tahunnya
pada tanggal 1-7 Agustus adalah pecan ASI sedunia.
Meskipun menyusui dan ASI sangat bermanfaat, namun belum terlaksana sepenuhnya,
diperkirakan 85% ibu-ibu di dunia tidak memberikan ASI secara optimal. Begitu pula yang
terjadi di Indonesia, data dari Sentra laktasi Indonesia mencatat bahwa berdasarkan survei
demografi dan kesehatan Indonesia 2007-2010, hanya 48% ibu yang memberikan ASI
eksklusif. Di Indonesia, rata-rata ibu memberikan ASI eksklusif hanya 2 bulan, sementara
pemberian susu formula meningkat 3 kali lipat. Dan berdasarkan data dari Bappenas tahun
2010 menyatakan bahwa hanya 31% bayi di Indonesia mendapatkan ASI Eksklusif hingga
usia 6 bulan. Terdapat beberapa penyebab rendahnya pemberian ASI Eksklusif yaitu belum
semua rumah sakit menerapkan 10 LMKM (Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui),
belum semua bayi lahir mendapatkan IMD (Inisiasi Menyusui Dini), JUmlah penyuluh ASI
masih sedikit 2.921 penyuluh dari target 9.323 pemyuluh, dan promosi susu Formula yang
tergolong gencar (Bappenas, 2011).
Mastitis adalah infeksi pada payudara yang terjadi pada 1-2 % wanita yang menyusui.
Mastitis umum terjadi pada minggu 1-5 setelah melahirkan terutama pada primipara.
Semakin disadari bahwa pengeluaran ASI yang tidak efisien akibat dari teknik menyusui
yang buruk, merupakan penyebab penting terjadinya mastitis, untuk sebagian orang, mastitis
masih dianggap sama dengan infeksi payudara. Pemikiran tersebut menimbulkan perilaku
untuk berhenti menyusui, yang sebenarnya tidak perlu. Mastitis dan abses payudara terjadi
pada semua populasi, dengan atau tanpa kebiasaan menyusui.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Payudara
2.1.1. Pengertian
Payudara adalah organ reproduksi wanita dan mengeluarkan air susu (pada pria kelenjar ini
rudimeter). Payudara terletak antara iga ketiga dan ketujuh serta terbentang lebarnya dari
linea parasternalis sampai axillaris anterior dan mediana. Berat dan ukuran payudara
berlainan sesuai dengan pertambahan umur, pada masa pubertas membesar, dan bertambah
besar selama hamil dan sesudah melahirkan, dan menjadi atropi pada usia lanjut.
2.1.2. Anatomi dan fisiologi
Payudara adalah alat yang khas untuk kelas hewan yang disebut hewan yang menyusui atau
mamalia. Banyaknya payudara pada hewan umumnya bergantung pada jumlah anak yang
dilahirkan. Kera mempunyai satu pasang dan manusia pun satu pasang. Banyaknya payudara
pada binatang tidak ada hubungannya dengan kemungkinan timbulnya kanker payudara,

karena kanker payudara biasa ditemukan pada mencit, anjing, dan manusia, akan tetapi
sangat jarang pada binatang-binatang lain.
Payudara manusia pada wanita berbentuk seperti kuncup. Bentuk kuncup ini terutama pada
nulipara terjadi karena konsistensinya kenyal. Dengan bertambahnya umur, payudara
menjadi picak, lembek, dan menggantung. Pendapat umum mengatakan, hal ini terjadi
karena wanita menyusui anaknya sendiri, namun masalahnya belum ditelaah secara ilmiah.
Haagenson sendiri, seorang ahli dalam hal-hal penyakit payudara, tidak dapat memastikan
kolerasi

antara

menyusui

bayi

dan

bentuk

payudara.

Ada kalanya payudara wanita tidak sama besar. Ini sesuatu yang lumrah, akan tetapi kita
harus waspada dan harus membedakan asimetris yang disebabkan pembentukannya dari
asimetri yang disebabkan pertumbuhan tumor.
Payudara lazimnya mulai pada kosta ke 2 atau ke 3 sampai ke tulang rawan iga ke 7, dan dari
garis aksila depan sampai ke pinggir sternum, akan tetapi tidak jarang sampai ke m.
latissimus dorsi. Ini penting di ketahui oleh ahli bedah yang mengoperasi payudara pada
kanker payudara. Ada kalanya kelenjar payudara sampai ke ketiak seolah-olah sebagai tumor
tersendiri, akan tetapi pada hakekatnya berhubungan dengan kelenjar payudara unilateral
yang di sebut mamma aberrans. Keadaan ini menyebabkan kesulitan dalam masa laktasi
karena mamma aberrans dalam masa laktasi memproduksi air susu, dan waktu air susu naik
terasa nyeri di ketiak dan tidak jarang menimbulkan abses di ketiak
Secara fisiologi anatomi payudara terdiri dari alveolusi, duktus laktiferus, sinus laktiferus,
ampulla, pori pailla, dan tepi alveolan. Pengaliran limfa dari payudara kurang lebih 75% ke
aksila. Sebagian lagi ke kelenjar parasternal terutama dari bagian yang sentral dan medial
dan ada pula pengaliran yang ke kelenjar interpektoralis.
Bentuk payudara cembung ke depan dengan puting di tengahnya, yang terdiri atas kulit dan
jaringan erektil dan berwarna tua. Puting ini dilingkari daerah berwarna coklat yang disebut
dengan areola. Dekat dasar puting terdapat kelenjar sebaseus, yaitu kelenjar Montgomery,
yang mengeluarkan zat lemak supaya puting tetap lemas.Payudara terdiri atas bahan kelenjar
susu atau jaringan alveolar, tersusun atas lobus-lobus yang saling terpisah oleh jaringan ikat
dan jaringan lemak. Setiap lobules terdiri atas sekelompok alveolus yang bermuara ke dalam
ductus laktiferus (saluran air susu ) yang bergabung dengan duktus-duktus lainnya untuk
membentuk wadah penampungan air susu, yang disebut sinus laktiferus; kemudian saluransaluran itu menyempit lagi dan menembus puting dan bermuara diatas permukaanya.
Terdapat 15 sampai 20 kantung panghasil susu pada setiap payudara, yang dihubungkan
6

dengan saluran susu yang terkumpul dalam puting. Sisa bagian dalam payudara terdiri dari
jaringan lemak dan jaringan berserat yang saling berhubungan, yangmengikat payudara dan
mempengaruhi bentuk dan ukuran. Terdapat juga pembuluh darah dan kelenjar getah bening
pada payudara.
Ukuran payudara berkolerasi dengan pengaruh genetika, diet dan hormon. Payudara pasca
menopause tetap memperlihatkan hilangnya lemak parenkim dan involusi komponen kelenjar
proliferatif berat antara 150-225 gram, sedang payudara laktasi beratnya lebih 500 gram.
Pada wanita perkembangan payudara aktif, pada pria kelenjar dan duktus mammae tetap
rudimeter dan kurang berkembang dengan ductus pendek dan asinus berkembang tidak
sempurna.
Payudara adalah organ tubuh wanita yang paling peka terhadap gangguan keseimbangan
hormonal. Payudara juga merupakan organ tubuh yang labil dan sangat sensitif terhadap
pengaruh hormonal. Akibatnya payudara menjadi bagian organ tubuh yang paling sering
terpengaruh berbagai kondisi patologis yang ada hubungannya dengan hormon, terutama
estrogen. Akibat pengaruh hormonal inilah payudara cenderung untuk mengalami
pertumbuhan neoplastik baik yang bersifat jinak (benigna) maupun yang ganas (maligna).
Neoplastik yang ganas banyak dijumpai pada wanita dalam kurun reproduksi aktif dan jarang
ditemui pada wanita sebelum adolesensi.

Gambar 2.1.Anatomi Payudara Normal


Keterangan Gambar
1.Chest wall (dinding dada)
2.Pectoralis muscles (otot pektoralis)
3.Lobules
4. Nipple surface
5.Areola

6.Lactiferus duct
7.Fatty Tissue (jaringan lemak)
8.Skin (kulit)

2.1.3.Pertumbuhan Payudara
Perubahan fisiologik payudara dibagi atas tiga macam yaitu : Pertumbuhan dan involusi
kelenjar payudara yang berhubungan rapat dengan umur, perubahan kelenjar payudara yang
berhubungan dengan haid dan perubahan kelenjar payudara waktu hamil dan laktasi.
a) Pertumbuhan dan Involusi Payudara
Buah dada bayi yang baru lahir sering mengeluarkan susu, yang dalam bahasa Inggris
disebut Witches milk pada laki-laki maupun perempuan. Pada perempuan, perubahan
dalam perkembangan terjadi pada masa pubertas ketika terdapat penambahan jaringan
kelenjar. Pada waktu seorang anak gadis mulai mendapat menstruasi pertama terjadi sedikit
pembesaran pada buah dada. Pembesaran ini disebabkan oleh kegiatan hormon estrogen dan
progesteron yang dihasilkan oleh ovarium dan beberapa hari sebelum masa menstruasi
terdapat penambahan persediaan darah.
b) Perubahan kelenjar payudara yang berhubungan dengan haid
Pada waktu haid payudara makin membesar, tegang dan pada beberapa wanita timbul rasa
nyeri, perubahan ini ada hubungannya dengan perubahan vaskuler dan limfogen.
c) Perubahan Payudara pada waktu hamil dan masa laktasi
Beberapa minggu sesudah konsepsi timbul perubahan-perubahan pada kelenjar payudara.
Payudara jadi penuh, tegang, areolla lebih banyak mengandung pigmen dan puting sedikit
membesar. Awal trimester kedua mulai timbul system alveolar. Ductus-ductus dan asinusasinus menjadi hipertropis di bawah pengaruh estrogen dan progesteron yang kadarnya
meningkat. Alveolus-alveolus mulai terisi cairan yakni kolostrum, dibawah pengaruh
prolaktin. Pada bulan-bulan terakhir kolostrum dapat dikeluarkan beberapa tetes. Sesudah
persalinan kolostrum keluar dalam jumlah yang besar dan lambat laun diganti dengan air
susu, jikalau bayi disusui dengan teratur. Biasanya sesudah 24 jam mulai dikeluarkan air susu
biasa dan sesudah 3-5 hari produksinya teratur. Pengecilan payudara sesudah menopause
adalah berdasarkan kurangnya produksi estrogen.

2.2. Mastitis
2.2.1 Definisi
Mastitis adalah radang pada payudara yang terjadi biasanya pada masa nifas atau sampai 3
minggu setelah persalinan penyebabnya adalah sumbatan saluran susu dan pengeluaran ASI
kurang sempurna. Peradangan payudara adalah suatu hal yang sangat biasa pada wanita yang
pernah hamil ,malahan dalam praktek sehari-hari yang tidak hamil pun kadang-kadang kita
temukan dengan mastitis. Bilamana pembesaran payudara hampir terjadi pada semua wanita
pada dua sampai tiga hari pertama setelah kelahiran,tetapi jarang akan menetap dan biasanya
tidak disertai dengan peningkatan temperature yang lebih tinggi.Kongesti cenderung terjadi
menyeluruh dengan pembesaran vena superficial. Mastitis adalah infeksi payudara yang
kebanyakan terjadi pada ibu yang baru pertama kali menyusui bayinya. Mastitis hampir
selalu unilateral dan berkembang setelah terjadi aliran susu.
Mastitis adalah peradangan pada payudara yang dapat disertai infeksi atau tidak, yang
disebabkan oleh kuman terutama Staphylococcus aureus melalui luka pada puting susu atau
melalui peredaran darah. Penyakit ini biasanya menyertai laktasi, sehingga disebut juga
mastitis laktasional atau mastitis puerperalis. Infeksi terjadi melalui luka pada puting susu,
tetapi mungkin juga melalui peredaran darah. Kadang-kadang keadaan ini bisa menjadi fatal
bila tidak diberi tindakan yang adekuat.

Gambar 2.2.Payudara yang mengalami mastitis

2.2.2. Klasifikasi mastitis

Mastitis lazim dibagi dalam (1) mastitis gravidarum, dan (2) mastitis puerperalis, karena
memang penyakit ini boleh dikatakan hampir selalu timbul pada waktu hamil dan laktasi
Berdasarkan tempatnya dapat dibedakan:
1. Mastitis yang menyebabkan abses di bawah areola mammae.
2. Mastitis di tengah-tengah mamma yang menyebabkan abses di tempat itu.
3. Mastitis pada jaringan di bawah dorsal dari kelenjar-kelenjar yang menyebabkan
abses antara mamma dan otot-otot di bawahnya.

Gambar 2.3. lokasi abses pada mastitis

Klasifikasi mastitis menurut penyebab dan kondisinya dibagi menjadi 3, yaitu :


1.
Mastitis periductal
Mastitis periductal biasanya muncul pada wanita di usia menjelang menopause, penyebab
utamanya tidak jelas diketahui. Keadaan ini dikenal juga dengan sebutan mammary duct
ectasia, yang berarti peleburan saluran karena adanya penyumbatan pada saluran di
payudara.
2.
Mastitis puerperalis/lactational
Mastitis puerperalis banyak dialami oleh wanita hamil atau menyusui. Penyebab utama
mastitis puerperalis yaitu kuman yang menginfeksi payudara ibu, yang ditransmisi ke puting
ibu melalui kontak langsung.
3.
Mastitis supurativa/ abses

10

Mastitis supurativa paling banyak dijumpai. Penyebabnya bisa dari kuman Staphylococcus,
jamur, kuman TBC dan juga sifilis. Infeksi kuman TBC memerlukan penanganan yang ekstra
intensif dan drainage yang adekuat. Bila penanganannya tidak tuntas, bisa menyebabkan
pengangkatan payudara/mastektomi.
2.2.3. Patofisiologi mastitis
Pada umumnya yang dianggap porte dentre dari kuman penyebab ialah puting susu yang
luka atau lecet, dan kuman per kontinuitatum menjalar ke duktulus-duktulus dan sinus.
Sebagian besar yang ditemukan pada pembiakan pus ialah Staphylococcus aureus
Penyebab utama mastitis adalah statis ASI dan infeksi. Statis ASI biasanya merupakan
penyebab primer yang dapat disertai atau menyebabkan infeksi. Statis ASI terjadi jika ASI
tidak dikeluarkan dengan efisien dari payudara. Hal ini terjadi jika payudara terbendung
segera setelah melahirkan, atau setiap saat jika bayi tidak mengisap ASI, kenyutan bayi yang
buruk pada payudara, pengisapan yang tidak efektif, pembatasan frekuensi/durasi menyusui,
sumbatan pada saluran ASI, suplai ASI yang sangat berlebihan dan menyusui untuk kembar
dua/lebih.
Organisme yang paling sering ditemukan pada mastitis dan abses payudara adalah organisme
koagulase-positif Staphylococcus aureus dan Staphylococcus albus. Escherichia coli dan
Streptococcus kadang-kadang juga ditemukan. Mastitis jarang ditemukan sebagai komplikasi
demam tifoid.
Terjadinya mastitis diawali dengan peningkatan tekanan di dalam duktus (saluran ASI) akibat
stasis ASI. Bila ASI tidak segera dikeluarkan maka terjadi tegangan alveoli yang berlebihan
dan mengakibatkan sel epitel yang memproduksi ASI menjadi datar dan tertekan, sehingga
permeabilitas jaringan ikat meningkat. Beberapa komponen (terutama protein kekebalan
tubuh dan natrium) dari plasma masuk ke dalam ASI dan selanjutnya ke jaringan sekitar sel
sehingga memicu respons imun. Stasis ASI, adanya respons inflamasi, dan kerusakan
jaringan memudahkan terjadinya infeksi.
Terdapat beberapa cara masuknya kuman yaitu melalui duktus laktiferus ke lobus sekresi,
melalui puting yang retak ke kelenjar limfe sekitar duktus (periduktal) atau melalui
penyebaran hematogen

pembuluh darah). Kadang- kadang ditemukan pula mastitis

tuberkulosis yang menyebabkan bayi dapat menderita tuberkulosa tonsil. Pada daerah
endemis tuberkulosa kejadian mastitis tuberkulosis mencapai 1%.
2.2.4. Faktor risiko
Beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko mastitis, yaitu :
11

1. Umur
Wanita berumur 21-35 tahun lebih sering menderita mastitis dari pada wanita di bawah usia
21 tahun atau di atas 35 tahun.
2. Paritas
Mastitis lebih banyak diderita oleh primipara.
3. Serangan sebelumnya
Serangan mastitis pertama cenderung berulang, hal ini merupakan akibat teknik menyusui
yang buruk yang tidak diperbaiki.
4. Melahirkan
Komplikasi melahirkan dapat meningkatkan risiko mastitis.
5. Gizi
Asupan garam dan lemak tinggi serta anemia menjadi faktor predisposisi terjadinya mastitis.
Antioksidan dari vitamin E, vitamin A dan selenium dapat mengurangi resiko mastitis.
6. Faktor kekebalan dalam ASI
Faktor kekebalan dalam ASI dapat memberikan mekanisme pertahanan dalam payudara.
7. Stres dan kelelahan
Wanita yang merasa nyeri dan demam sering merasa lelah dan ingin istirahat, tetapi tidak
jelas apakah kelelahan dapat menyebabkan keadaan ini atau tidak.
8. Pekerjaan di luar rumah
Ini diakibatkan oleh statis ASI karena interval antar menyusui yang panjang dan kekurangan
waktu dalam pengeluaran ASI yang adekuat.
9. Trauma
Trauma pada payudara karena dapat merusak jaringan kelenjar dan saluran susu dan hal ini
dapat menyebabkan mastitis.
Faktor risiko lainnya untuk terjadinya mastitis antara lain:
1. Terdapat riwayat mastitis pada anak sebelumnya.

12

2. Puting

lecet.

Puting lecet menyebabkan timbulnya rasa nyeri yang membuat kebanyakan ibu
menghindari pengosongan payudara secara sempurna.
3. Frekuensi

menyusui

yang

jarang

atau

waktu

menyusui

yang

pendek.

Biasanya mulai terjadi pada malam hari saat ibu tidak memberikan bayinya minum
sepanjang malam atau pada ibu yang menyusui dengan tergesa-gesa.
4. Pengosongan payudara yang tidak sempurna
5. Pelekatan

bayi

pada

payudara

yang

kurang

baik.

Bayi yang hanya mengisap puting (tidak termasuk areola) menyebabkan puting terhimpit
diantara gusi atau bibir sehingga aliran ASI tidak sempurna.
6. Ibu atau bayi sakit.
7. Frenulum pendek.
8. Produksi ASI yang terlalu banyak.
9. Berhenti menyusu secara cepat/ mendadak, misalnya saat bepergian.
10. Penekanan payudara misalnya oleh bra yang terlalu ketat atau sabuk pengaman pada
mobil.
11. Sumbatan pada saluran atau muara saluran oleh gumpalan ASI, jamur,serpihan kulit, dan
lain-lain.
12. Penggunaan krim pada puting.
13. Ibu stres atau kelelahan.
2.2.5. Penegakan Diagnosis
Anamnesis
1. Mastitis akut, Pada peradangan dalam taraf permulaan penderita hanya merasa nyeri
setempat pada salah satu lobus payudara yang diperberat jika bayi menyusu.
2. Mastitis lanjut, Hampir selalu orang datang sudah dalam tingkat abses.Dari tingkat
radang ke abses berlangsung sangat cepat karena oleh radang duktulus-duktulus
menjadi edematous,air susu terbendung,dan air susu yang terbendung itu segera
bercampur dengan nanah. Gejala nyeri dapat diikuti gejala lain seperti flu, demam,
nyeri otot, sakit kepala, keputihan.
13

Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan anda-tanda vital ibu dengan mastitis biasanya mengalami peningkatan
suhu badan hingga lebih dari 38oC, Keadaan payudara pada ibu dengan mastitis biasanya
berwarna kemerahan, bengkak, nyeri tekan, lecet pada putting susu, dan terdapat nanah jika
terjadi abses.
Pada abses, nyeri bertambah hebat di payudara, kulit diatas abses mengkilat dan bayi dengan
sendirinya tidak mau minum pada payudara yang sakit, seolah-olah dia tahu bahwa susu
disebelah itu bercampur dengan nanah.
Tanda
1.

dan

gejala

Peningkatan

2.

lain

suhu

yang

cepat

Peningkatan

mastitis

meliputi

dari

39,5

:
40

kecepatan

nadi.

3.

Menggigil

4.

Malaise

5.

Nyeri

umum,

hebat,

bengkak,

6..

Kemerahan

7.

Biasanya

inflamasi,

sakit
area

dengan

kepala.
payudara

keras.

batas

hanya

jelas

satu

payudara

8. Terjadi antara 3-4 minggu pasca persalinan


9. Peningkatan kadar natrium dalam ASI yang membuat bayi menolak menyusu karena ASI
terasa asin
10.

Timbul

garis-garis

merah

ke

arah

ketiak.

Mastitis yang tidak ditangani memiliki hampir 10 % resiko terbentuknya abses. Tanda dan
gejala

abses

1.

Discharge

2.

Demam

remiten

meliputi

susu

purulenta

putting
(suhu

naik

turun)

disertai

menggigil.

3. Pembengkakan payudara dan sangat nyeri; massa besar dank eras dengan area kulit
berwarna berfluktuasi kemerahan dan kebiruan mengindikasikan lokasi abses berisi pus.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan lain untuk menunjang diagnosis tidak selalu
diperlukan. World Health Organization (WHO) menganjurkan pemeriksaan kultur dan uji
sensitivitas pada beberapa keadaan yaitu bila:

pengobatan dengan antibiotik tidak memperlihatkan respons yang baik dalam 2


hari

terjadi mastitis berulang


14

mastitis terjadi di rumah sakit

penderita alergi terhadap antibiotik atau pada kasus yang berat.

Bahan kultur diambil dari ASI pancar tengah hasil dari perahan tangan yang langsung
ditampung menggunakan penampung urin steril. Puting harus dibersihkan terlebih dulu dan
bibir penampung diusahakan tidak menyentuh puting untuk mengurangi kontaminasi dari
kuman yang terdapat di kulit yang dapat memberikan hasil positif palsu dari kultur. Beberapa
penelitian memperlihatkan beratnya gejala yang muncul berhubungan erat dengan tingginya
jumlah bakteri atau patogenitas bakteri. Pada ibu dengan abses payudara dilakukan
pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui ada tidaknya bakteri Stapylococcus aureus pada
pus.
2.2.6 Penatalaksanaan Mastitis
Tujuan dari penatalaksanaan mastitis adalah pencegahan terhadap infeksi dan komplikasi
lanjut. Penatalaksanaan berupa non medikamentosa berupa tindakan suportif dan
medikamentosa pemberian antibiotik dan pemberian analgesik.
Non medikamentosa
Jika diduga mastitis, intervensi dini berupa tindakan suportif dapat mencegah perburukan.
Intervensi
1.
2.

meliputi

Bra

yang

Perhatian

3.

beberapa

yang

tindakan

cukup
cermat

Kompres

saat

hygienitas

menyangga
mencuci

hangat

pada

dan

kenyamanan

tetapi

tangan

dan

area

tidak

ketat

perawatan

payudara

yang

terkena

4. Masase area saat menyusui untuk memfasilitasi aliran air susu, Jangan lakukan pemijatan
jika dikhawatirkan justru membuat kuman tersebar ke seluruh bagian payudara dan
menambah
5.
6.

risiko
Peningkatan

asupan
Edukasi

infeksi.
gizi

dan

cairan

ibu.

Bayi sebaiknya terus menyusu, dan jika menyusui tidak memungkinkan karena nyeri
payudara atau penolakan bayi pada payudara yang terinfeksi, pemompaan teratur harus terus
dilakukan. Pengosongan payudara dengan sering akan mencegah statis air susu.
Tetap berikan ASI kepada bayi, terutama gunakan payudara yang sakit sesering dan selama
mungkin sehingga sumbatan tersebut lama-kelamaan akan menghilang, Bayi masih boleh
menyusu kecuali bila terjadi abses. Kalau demikian keadaannya, untuk mengurangi bengkak,
ASI harus tetap dipompa keluar. Bayi sebaiknya tetap menyusu pada payudara yang tak
terinfeksi.

15

Medikamentosa

Antibiotik, Terapi antibiotik diberikan jika antara 12-24 jam tidak terdapat perbaikan,
terapi
1.

antibiotik
penicillin

resistan-penisilinase

meliputi
atau

:
sepalosporin.

2. Eritromisin mungkin digunakan jika wanita alergi terhadap penicillin.


3. Terapi awal yang paling umum adalah dikloksasilin 500 mg peroral 4 kali sehari
untuk 10- 14 hari. Amoxicillin-clavulanate 500mg atau 875mg untuk 10-14 hari atau
Clindamycin 300mg untuk 10 14 hari atau Trimethoprim-sulfamethoxazole dosis
tunggal untuk 10-14 hari. Pada setiap kasus, penting untuk dilakukan tindak lanjut
dalam 72 jam untuk mengevaluasi kemajuan. Jika infeksi tidak hilang hilang kultur
air susu harus dilakukan.

Analgesik,Rasa nyeri merupakan faktor penghambat produksi hormon oksitosin yang


berguna dalam proses pengeluaran ASI. Analgesik diberikan untuk mengurangi rasa
nyeri pada mastitis. Analgesik yang dianjurkan adalah obat anti inflamasi seperti
ibuprofen. Ibuprofen lebih efektif dalam menurunkan gejala yang berhubungan
dengan peradangan dibandingkan parasetamol atau asetaminofen. Ibuprofen sampai
dosis 1,6 gram per hari tidak terdeteksi pada ASI sehingga direkomendasikan untuk
ibu menyusui yang mengalami mastitis.

Penanganan abses
Dalam keadaan abses mamae perlu dilakukan insisi agar nanahnya dapat dikeluarkan untuk
mempercepat kesembuhan. Sesudah itu dipasang pipa ke tengah abses, agar nanah bisa
keluar terus. Untuk mencegah kerusakan pada duktus laktiferus sayatan dibuat sejajar dengan
jalannya duktus-duktus itu. Pengalaman menunjukkan bahwa drainase ini sesudah 72 jam
bertukar sifat menjadi kebocoran air susu yang tidak sedikit melalui luka insisi. Dianjurkan
memakai perban elastic yang ketat pada payudara, untuk menghentikan laktasi.
Pada persiapan insisi, kulit di atas abses akan dibersihkan oleh swabbing lembut dengan
larutan antiseptik. Pada tahap rehabilitasi, sebagian besar sakit di sekitar abses akan lenyap
sesudah pembedahan. Penyembuhan biasanya sangat cepat. Setelah tabung diambil keluar,
antibiotik dapat dilanjutkan untuk beberapa hari. Menerapkan panas dan menjaga wilayah
yang terkena dampak ditinggikan dapat membantu meringankan peradangan.
Pemantauan

16

Respon klinik terhadap penatalaksanaan di atas dibagi atas respon klinik cepat dan respon
klinik dramatis. Jika gejalanya tidak berkurang dalam beberapa hari dengan terapi yang
adekuat termasuk antibiotik, harus dipertimbangkan diagnosis banding. Pemeriksaan lebih
lanjut mungkin diperlukan untuk mengidentifikasi kuman-kuman yang resisten, adanya abses
atau massa padat yang mendasari terjadinya mastitis seperti karsinoma duktal atau limfoma
non Hodgkin. Berulangnya kejadian mastitis lebih dari dua kali pada tempat yang sama juga
menjadi alasan dilakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk menyingkirkan
kemungkinan adanya massa tumor, kista atau galaktokel.

Gambar 2.4. Inflamasi pada kanker


2.2.7. Komplikasi
1. Penghentian menyusui dini
Mastitis dapat menimbulkan berbagai gejala akut yang membuat seorang ibu memutuskan
untuk berhenti menyusui. Penghentian menyusui secara mendadak dapat meningkatkan
risiko terjadinya abses. Selain itu ibu juga khawatir kalau obat yang mereka konsumsi tidak
aman untuk bayi mereka. Oleh karena itu penatalaksanaan yang efektif, informasi yang jelas
dan dukungan tenaga kesehatan dan keluarga sangat diperlukan saat ini.
2. Abses

17

Abses merupakan komplikasi mastitis yang biasanya terjadi karena pengobatan terlambat
atau tidak adekuat. Bila terdapat daerah payudara teraba keras , merah dan tegang walaupun
ibu telah diterapi, maka kita harus pikirkan kemungkinan terjadinya abses. Kurang lebih 3%
dari kejadian mastitis berlanjut menjadi abses. Pemeriksaan USG payudara diperlukan untuk
mengidentifikasi adanya cairan yang terkumpul. Cairan ini dapat dikeluarkan dengan aspirasi
jarum halus yang berfungsi sebagai diagnostik sekaligus terapi, bahkan mungkin diperlukan
aspirasi jarum secara serial. Pada abses yang sangat besar terkadang diperlukan tindakan
bedah. Selama tindakan ini dilakukan ibu harus mendapat antibiotik. ASI dari sekitar tempat
abses juga perlu dikultur agar antibiotik yang diberikan sesuai dengan jenis kumannya.

Gambar 2.5. abses


3. Mastitis berulang/kronis
Mastitis berulang biasanya disebabkan karena pengobatan terlambat atau tidak adekuat. Ibu
harus benar-benar beristirahat, banyak minum, makanan dengan gizi berimbang, serta
mengatasi stress. Pada kasus mastitis berulang karena infeksi bakteri diberikan antibiotik
dosis rendah (eritromisin 500 mg sekali sehari) selama masa menyusui
4. Infeksi jamur
Komplikasi sekunder pada mastitis berulang adalah infeksi oleh jamur seperti candida
albicans. Keadaan ini sering ditemukan setelah ibu mendapat terapi antibiotik. Infeksi jamur
biasanya didiagnosis berdasarkan nyeri berupa rasa terbakar yang menjalar di sepanjang
18

saluran ASI. Di antara waktu menyusu permukaan payudara terasa gatal. Puting mungkin
tidak nampak kelainan. Ibu dan bayi perlu diobati. Pengobatan terbaik adalah mengoles
nistatin krem yang juga mengandung kortison ke puting dan areola setiap selesai bayi
menyusu dan bayi juga harus diberi nistatin oral pada saat yang sama.

Gambar 2.7. gambar payudara yang terinfeksi Candida


2.2.8. Pencegahan Mastitis
Penanganan terbaik mastitis adalah dengan pencegahan. Perawatan puting susu pada waktu
laktasi merupakan usaha penting untuk mencegah mastitis. Perawatan terdiri atas
membersihkan putting susu sebelum dan sesudah menyusui untuk menghilangkan kerak dan
susu yang sudah mengering. Selain itu, yang memberi pertolongan kepada ibu yang
menyusui bayinya harus bebasa dari infeksi staphylococcus.
Pencegahan terhadap kejadian mastitis dapat dilakukan dengan memperhatikan faktor risiko
di atas. Bila payudara penuh dan bengkak (engorgement), bayi biasanya menjadi sulit
melekat dengan baik, karena permukaan payudara menjadi sangat tegang. Ibu dibantu untuk
mengeluarkan sebagian ASI setiap 3 4 jam dengan cara memerah dengan tangan atau
pompa ASI yang direkomendasikan. Sebelum memerah ASI pijatan di leher dan punggung
dapat merangsang pengeluaran hormon oksitosin yang menyebabkan ASI mengalir dan rasa
nyeri berkurang. Teknik memerah dengan tangan yang benar perlu diperlihatkan dan
diajarkan kepada ibu agar perahan tersebut efektif. ASI hasil perahan dapat diminumkan ke
19

bayi dengan menggunakan cangkir atau sendok. Pembengkakan payudara ini perlu segera
ditangani untuk mencegah terjadinya feedback inhibitor of lactin (FIL) yang menghambat
penyaluran ASI.
Pengosongan yang tidak sempurna atau tertekannya duktus akibat pakaian yang ketat dapat
menyebabkan ASI terbendung. Ibu dianjurkan untuk segera memeriksa payudaranya bila
teraba benjolan, terasa nyeri dan kemerahan. Selain itu ibu juga perlu beristirahat,
meningkatkan frekuensi menyusui terutama pada sisi payudara yang bermasalah serta
melakukan pijatan dan kompres hangat di daerah benjolan.
Pada kasus puting lecet, bayi yang tidak tenang saat menetek, dan ibu-ibu yang merasa
ASInya kurang, perlu dibantu untuk mengatasi masalahnya. Pada peradangan puting dapat
diterapi dengan suatu bahan penyembuh luka seperti atau lanolin, yang segera meresap ke
jaringan sebelum bayi menyusu. Pada tahap awal pengobatan dapat dilakukan dengan
mengoleskan ASI akhir (hind milk) setelah menyusui pada puting dan areola dan dibiarkan
mengering. Tidak ada bukti dari literatur yang mendukung penggunaan bahan topikal
lainnya.
Kelelahan sering menjadi pencetus terjadinya mastitis. Seorang tenaga kesehatan harus selalu
menganjurkan ibu menyusui cukup beristirahat dan juga mengingatkan anggota keluarga
lainnya bahwa seorang ibu menyusui membutuhkan lebih banyak bantuan.
Ibu harus senantiasa memperhatikan kebersihan tangannya karena Staphylococcus aureus
adalah kuman komensal yang paling banyak terdapat di rumah sakit maupun masyarakat.
Penting sekali untuk tenaga kesehatan rumah sakit, ibu yang baru pertama kali menyusui dan
keluarganya untuk mengetahui teknik mencuci tangan yang baik. Alat pompa ASI juga
biasanya menjadi sumber kontaminasi sehingga perlu dicuci dengan sabun dan air panas
setelah digunakan
Tatalaksana keberhasilan menyusui
Keberhasilan menyusui bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya, tetapi
merupakan keterampilan yang perlu diajarkan. Agar ibu berhasil menyusui, perlu
dilakukan berbagai kegiatan dan penyuluhan saat antenatal, internal dan postnatal

Masa antenatal
Selama masa antenatal ibu dipersiapkan secara fisik dan psikologis. Untuk
persiapan fisik ibu perlu diberi penyuluhan tentang kesehatan dan gizi ibu selama
hmil. Untuk persiapan psikologis, ibu diberi penyuluhan agar termotivasi untuk
memberikan ASI karena keinginan untuk member ASI adalah factor yang sangat
20

penting untuk keberhasilan menyusui. Adapun penyuluhan yang dianjurkan


adalah :3,5
1. Penyuluhan mengenai fisiologis laktasi
2. Penyuluhan mengenai pemberian ASI Eksklusif
3. Penyuluhan mengenai perlunya inisiasi menyusui dini
4. Penyuluhan ibu menganai manfaat ASI dan kerugian susu formula
5. Penyuluhan ibu mengenai maanfaat rawat gabung
6. Penyuluhan ibu mengenai gizi ibu hamil dan menyusui
7. Bimbingan ibu mengenai cara memposisikan dan melekatkan bayi pada

payudara dengan cara demonstrasi menggunakan boneka


8. Menjelaskan mitos seputar menyusui
Masa Persalinan
1. Berusaha menolong persalinan tanpa trauma
2. Segera setelah bayi stabil (dalam waktu <30 menit) lakukan inisisasi
menyusui dini. Bayi diletakkan dalam keadaan telanjang diatas perut ibunya
(apabila lahir pervaginam) atau diatas dada ibunya ( apabila lahir secara
seksio sesarea) untuk mencari putting susu dan menghisapnya (diperlukan
waktu 45-75 menit). Penelitian membuktikn bahwa bila bayi disusukan pada
jam pertama, kematian neonatal dapat dikurangi sebanyak 22% dan disusukan
pada hari pertama akan mengurangi kematian neonatal sebanyak 16%.
Menurut penelitian ini, inisiasi dini pemberian ASI dapat mencegah kematian
neonatal melalui 4 cara :5
1. Penghisapan oleh bayi segera setelah lahir dapat membantu memercepat
pengeluaran ASI dan memastikan kelangsungan pengeluaran ASI.
2. Menyusu sedini mungkin dapat mencegah paparan terhadap substansi/zat
dan makanan atau minuman yang dapat menganggu fungsi normal saluran
pencernaan.
3. Komponen dari ASI awal (kolostrum) dapat memicu pematangan dari
saluran cerna dan member perlindungan terhadap infeksi karena kaya akan
zat kekebalan.
4. Kehangatan tubuh ibu saat proses menyusui dapat mencegah kematian

bayi akibat kedinginan ( terutama bagi bayi dengan berat lahir rendah)
Masa Pasca Persalinan
1. Merawat ibu bersama bayinya (Rawat Gabung)
Rawat gabung adalah satu cara perawatan dimana ibu dan bayi yang
baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan bersama dalam
sebuah ruang selama 24 jam penuh. Bahkan bila mungkin bayi setempat tidur
dengan ibunya.
Sebuah penelitian membuktikan bahwa bila bayi tidur bersama ibunya maka
ibu akan memberikan ASI nya 3 kali lebih lama pada waktu malam, 2 kali
lebih sering dan 39% menyusui lebih lama dibandingkan dengan bayi yang
dipisahkan.5

21

Kontak antara ibu dan bayi yang telah dibina sejak dari kamar bersalin
seharusnya tetap dipertahankan dengan merawat bayi bersama ibunya (rawat
gabung). Keuntungan dari rawat gabung adalah : 5
a. Aspek psikologis
Antara ibu dan bayi akan terjalin proses lekat ( bonding ). Hal ini akan
sangat mempengaruhi perkembangan psikologis bayi selanjutnya.
Kehangatan tubuh ibu merupakan stimulasi mental yang

mutlak

diperlukan untuk bayi. Rasa aman, terlindung, dan percaya pada orang
lain (basic trust) merupakan dasar terbentuknya rasa percaya diri pada
bayi. Ibu akan merasa bangga karena dapat memberikan yang terbaik
bagi bayinya.
b. Apek fisik
Ibu dengan mudah dapat menyusui kapan saja bayi menginginkannya.
Dengan demikian ASI juga dengan mudah keluar.
c. Aspek fisiologis
Bayi dapat disusui dengan frekuensi yang lebih sering dan
menimbulkan reflex prolaktin yang memacu proses produksi ASI dan
reflex oksitosin yang membantu pengeluaran ASI dan mempercepat
involusi rahim. Pemberian ASI Eksklusif dapat juga dipergunakan
sebagai metode keluarga berencana (metode amenorea laktasi/) asal
memenuhi syarat yaitu usia bayi belum berusia 6 bulan, ibu belum
haid lagi, dan bayi masih diberikan ASI secara eksklusif.
d. Aspek edukatif
Pada ibu primipara, akan mempunyai pengalaman menyusui dan
merawat bayinya. Juga member kesempatan bagi perawat untuk tugas
penyuluhan, antara lain posisi dan perlekatan bayi untuk menyusui dan
tanda-tanda bahaya pada bayi. Ibu juga segera dapat mengenali
perubahan fisik atau prilaku bayi dan menanyakan pada petugas halhal yang dianggap tidak wajar. Sarana ini dapat juga dipakai sebagai
sarana pendidikan bagi keluarga.
e. Aspek medis
Dengan ibu merawat bayinya sendiri, bayi juga tidak terpapar dengan
banyak

petugas

sehingga

infeksi

nosokomial

dapat

dicegah.

Disamping itu, kolostrum yang banyak mengandung berbagai zat


protektif akan cepat keluar dan memberikan daya tahan bagi bayi.
f. Aspek ekonomi
Pemberian asi dapat dilakukan sedini mungkin sehingga anggaran
pengeluaran untuk membeli susu formula dan peralatan untuk
membuatnya dapat dihemat. Ruang bayi juga tidak perlu ada dan

22

ruang dapat digunakan untuk hal yang lain. Lama rawat juga bias
dikurangi sehingga pergantian pasien juga bias lebih cepat.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Mastitis adalah peradangan pada payudara yang dapat disertai infeksi atau tanpa infeksi,
Organisme penyebab utama adalah Staphylococcus aureus.
2. Mastitis terjadi akibat adanya stasis ASI dan infeksi
3. Mastitis adalah infeksi pada payudara yang terjadi pada 1-2 % wanita yang menyusui.
Mastitis umum terjadi pada minggu 1-5 setelah melahirkan terutama pada primipara.
Factor resiko lainnya seperti usia 21- 35,Serangan sebelumnya, Melahirkan dengan
komplikasi,, kurang asupan Gizi, Faktor kekebalan dalam ASI,Stres dan kelelahan dan
trauma.
4. Penegakan diagnosis mastitis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan bila terdapat
abses dapat dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu kultur dan USG untuk memperkuat
atau menyingkirkan diagnosis banding penyebab mastitis.
5. Secara umum, mastitis ditangani dengan tindakan suportif, dan medikamentosa berupa
antibiotika dan analgesik. jika tidak segera diobati bisa terjadi abses
6. Penanganan mastitis yang terbaik adalah pencegahan berupa perawatan puting susu saat
proses laktasi

23

24

DAFTAR PUSTAKA

Manuaba. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk
Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC..
Prawiroharjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.
Prawiroharjo, Sarwono. 2007. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
Prawiroharjo, Sarwono. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.
Pusdiknakes WHO, JHPIEGO, 2003. Asuhan Ante Natal.
Varney, H dkk. 1997. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta: EGC.
http://www.idai.or.id/asi/artikel.asp?q=20123219283
http://www.idai.or.id/public-articles/klinik/asi/mastitis-pencegahan-dan-penanganan.html

25