Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di era modern seperti ini, kehidupan manusia terasa semakin sibuk, aktivitas-aktivitas
yang dilakukan setiap harinya senantiasa terus bergulir dari pagi hingga malam sebagai
alasan untuk meningkatkan produktifitas dan kelangsungan hidup.
Seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang amat pesat
menyebabkan

kebutuhan

manusia

semakin

bervariatif

dan

kompleks,

sehingga

mempengaruhi pola tatanan kehidupan manusia modern saat ini. Munculnya berbagai macam
teknologi yang diciptakan sebagai penunjung aktivitas manusia ini, memberikan kemudahan
dalam berbagai aktivitas. Tuntutan perkembangan zaman ini selain berdampak positif
terhadap kehidupan manusia, akan tetapi tidak jarang pula menimbulkan dampak negatif
terhadap berbagai aspek kehidupan manusia.
Salah satu penunjang aktifitas manusia adalah transportasi. Aspek transportasi ini
menjadi penting karena dijadikan kebutuhan bagi kebanyakan masyarakat. DKI Jakarta
merupakan kota metropolitan yang menjadi salah satu destinasi favorit bagi para pendatang
dari daerah untuk mencari pekerjaan. Sehingga, banyak sekali para pekerja yang harus
nglaju, dalam artian mereka bertempat tinggal di wilayah lain sekitar Jakarta, namun setiap
harinya mereka berangkat ke ibu kota untuk bekerja. Walau diantaranya menggunakan
transpotasi umum, banyak juga yang lebih memilih membawa kendaraan sendiri untuk
berangkat kerja atau kegiatan distribusi barang/jasa lainnya.
Di DKI Jakarta, jumlah kendaraan dari tahun ke tahun senantiasa menunjukkan
peningkatan yang sangat signifikan. Peningkatan jumlah kendaraan dari 6,2 juta pada tahun
2012 yang didominasi oleh sepeda motor yaitu sebanyak 4,4 juta, menjadi 12,6 juta pada
tahun 2013 yang didominasi oleh sepeda motor yaitu sebanyak 10,8 juta (BPLHD Provinsi
DKI Jakarta,2013). Bertambah banyaknya jumlah sepeda motor ini akan berdampak pada
segala aspek kehidupan masyarakat. Di satu pihak menunjukkan peningkatan kualitas
kehidupan masyarakat di pihak lain akan memperparah terjadinya pencemaraan udara. Besar
kontribusi bahan pencemar di DKI Jakarta yang berasal kendaraan bermotor ke udara adalah
sekitar 70 %.

Bila kendaraan bermotor yang masa pakainya (umurnya) terlalu lama masih
dipergunakan di jalan raya, maka akan membahayakan pengendara dan menyebabkan polusi
udara yang makin parah. Material yang dipergunakan sebagai bahan konstruksi pada sebuah
sepeda motor telah dirancang memiliki umur tertentu agar dapat bekerja sesuai dengan
spesifikasinya. Ditinjau dari emisi gas buang yang dikeluarkan dari proses pembakaran dalam
silinder maka komponen pendukung terjadinya pembakaran merupakan faktor yang sangat
penting dalam mengendalikan gas buang yang berbahaya. Jika komponen tersebut mengalami
perubahan maka gas buang yang berbahaya akan terbentuk semakin banyak.
Gas buang kendaraan bermotor mengandung nitrogen, karbon dioksida dan uap air.
Namun, ada senyawa lain sebagai bahan pencemar yang bila jumlahnya besar dapat
membahayakan kesehatan maupun lingkungan, diantaranya karbon monoksida (CO),
senyawa Hidrokarbon, Nitrogen Oksida, sulfur (SO2) dan partikulat debu termasuk timbel
(Pb). Senyawa-senyawa tersebut bila terlepas ke udara, dapat berubah karena terjadi suatu
reaksi, baik berlangusng cepat maupun lambat serta dapat menghasilkan produk akhir yang
lebih aktif maupun lebih lemah. Reaksi-reaksi kimia tersebut memang cukup rumit, memiliki
proses yang panjang dan kumulatif serta tidak bisa secara sederhana bila dikaitkan dengan
kesehatan dan lingkungan.
Beban pencemaran udara pada jenis kendaraan yang berbahan bakar bensin dan solar
menghasilkan bahan pencemar seperti debu sebanyak 5,2 juta ton pertahun, SO 2 sebanyak 1,4
juta ton pertahun, Nitrogen Oksida sebanyak 26,7 juta ton pertahun, Hidrokarbon 37,5 juta
ton pertahun, CO sebanyak 975,7 juta ton pertahun, CO2 sebanyak 8,2 milyar ton pertahun
(BPS DKI Jakarta, 2013). Bahan-bahan pencemar tersebut berkontribusi pada peningkatan
prevalensi penyakit khususnya penyakit yang berhubungan dengan saluran pernapasan.
Beberapa studi epidemiologi menunjukkan adanya hubungan yang erat antara tingkat
pencemaran udara perkotaan dengan angka kejadian penyakit pernapasan. Akan tetapi, hal ini
memang tidak dapat sepenuhnya dibuktikan karena sulit dipahami dan sifatnya kumulatif.
Artinya, kendaraan bermotor akan mengeluarkan berbagai gas jenis maupun partikulat yg
terdiri dari berbagai senyawa anorganik dan organik dengan berat molekul yang besar yang
dapat langsung terhirup melalui hidung dan mempengaruhi masyarakat di jalan raya dan
sekitarnya.
Gangguan kesehatan lain yang diakibatkan polusi misalnya kanker pada paru-paru
atau organ tubuh lainnya, penyakit pada saluran tenggorokan yang bersifat akut maupun

khronis, dan kondisi yang diakibatkan karena pengaruh bahan pencemar terhadap organ lain
seperti paru, misalnya sistem syaraf. Karena setiap individu akan terpajan oleh banyak
senyawa secara bersamaan, sering kali sangat sulit untuk menentukan senyawa mana atau
kombinasi senyawa yang mana yang paling berperan memberikan pengaruh membahayakan
terhadap kesehatan.
Kualitas udara di DKI Jakarta semakin menurun akibat meningkatnya pencemaran
udara dari emisi gas buang karbon monoksida kendaraan bermotor yang jumlahnya semakin
bertambah. Dari hasil pemantauan kualitas udara DKI Jakarta tahun 2013 di lima wilayah
kota, menunjukkan tiga parameter seperti karbon monoksida, sulfur dioksida dan ozon di
Jakarta sudah berada di atas baku mutu yang distandarkan. Kondisi pencemaran udara di ibu
kota akibat gas buang kendaraan, cukup memprihatinkan. Mungkin beberapa diantaranya
pernah mendengar istilah hujan asam, penipisan lapisan ozon. Hal-hal tersebut secara tidak
langsung merupakan gas buang kendaraan yang bila tidak dikendalikan dapat berdampak
pada pemanasan global.
Dalam laporan yang dikeluarkannya tahun 2001, Intergovernmental Panel on Climate
Change (IPCC) menyimpulkan bahwa temperatur udara global telah meningkat 0,6 derajat
Celsius (1 derajat Fahrenheit) sejak 1861. Pemanasan tersebut terutama disebabkan oleh
aktifitas manusia yang menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfer. IPCC memprediksi
peningkatan temperatur rata-rata global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 0C antara tahun 1990
dan 2100 (BLH,2014)
Hasil pemantauan satelit altimetri yang diterbitkan oleh AVISO Perancis
menunjukkan bahwa kenaikan permukaan laut cukup tinggi, yaitu mencapai sekitar 9
mm/tahun di Indonesia bagian timur menghadap Samudra Pasifik. Data kenaikan permukaan
laut dari hasil pengamatan Jaringan Stasiun Pasang Surut Nasional yang dioperasikan
Bakosurtanal telah membuktikan konsistensinya dengan kenaikan permukaan laut hasil
pengamatan satelit altimetri tersebut. Rekaman data pasang surut yang mengamati secara
permanen sepanjang lebih dari 20 tahun menunjukkan variasi kenaikan permukaan laut
sekitar 38 milimeter per tahun. Bahkan situasi di pantai utara Jawa agak lebih
menghawatirkan, dimana data permukaan laut di kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang
dan Surabaya menunjukkan terjadinya variasi yang lebih besar karena diperburuk oleh
penurunan tanah sehingga kota-kota besar tersebut menjadi semakin rentan terhadap banjir.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mempelajari Analisis Dampak Emisi Gas Buang Kendaraan Terhadap Kesehatan
dan Pemanasan Global.
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Mempelajari dampak emisi gas buang kendaraan di wilayah DKI Jakarta dan
sekitarnya terhadap peningkatan suhu udara (global warming).
b. Memaparkan masalah kesehatan masyarakat yang terkait akibat emisi gas buang
kendaraan di DKI Jakarta dan sekitarnya.
c. Mempelajari dampak lingkungan yang terjadi akibat emisi gas buang kendaraan di
wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.
1.3 Rumusan Masalah
a. Bagaimana dampak emisi gas buang kendaraan terhadap pemanasan global ?
b. Bagaimana pengaruh emisi gas buang kendaraan terhadap kesehatan masyarakat ?
c. Bagaimana dampak emisi gas buang kendaraan terhadap lingkungan ?
d. Bagaimana upaya jangka pendek maupun jangka panjang yang dilakukan dalam
menanggulangi masalah emisi gas buang kendaraan tersebut?

1.4 Manfaat
a. Sebagai bahan masukan bagi Para Cendikiawan terutam dalam bidang kesehatan
lingkungan untuk upaya problem solving dalam menghadapi masalah emisi gas
buang.
b. Sebagai bahan evaluasi bagi pemerintah atau dinas perhubungan serta lembaga
lembaga terkait untuk mewujudkan sistem transportasi yang mengutamakan
keselamatan dan kesehatan lingkungan.
c. Sebagai bahan masukan dan evaluasi bagi pemerinta dalam menetapkan dan
menentukan kebijakan penggunaan kendaraan bermotor di DKI Jakarta.
d. Agar masyarakat lebih menyadari dan ikut serta dalam mewujudkan sistem
transportasi yang sehat bagi lingkungan sekitar.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Emisi Gas Buang


2.1.1 Definisi
Emisi gas buang merupakan sisa hasil pembakaran mesin kendaraanbaik itu kendaraan berroda,
perahu/kapal dan pesawat terbang. Biasanya emisi gas buang ini terjadi karena pembakaran yang tidaksempurna dari
sistem pembuangan dan pembakaran mesin sertalepasnya partikel-partikel karena kurang tercukupinya oksigen
dalamproses pembakaran tersebut.
2.1.2

Kandungan Emisi Gas Buang

2.1.3

Dampak Emisi Gas Buang

2.2 Kesehatan Manusia


Kesehatan merupakan aspek terpenting dalam kehidupan manusia. Kesehatan
dipandang sebagai tolak ukur tingkat keberhasilan pembangunan suatu Negara,

2.3 Global Warming


2.3.1 Definisi Global Warming
Pemanasan global (global warming) adalah suatu proses meningkatnya suhu rata-rata
atmosfer, laut, dan daratan Bumi.
Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 0.18 C (1.33
0.32 F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)
menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan
abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah
kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah
dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains

nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak
setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan
global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 C (2.0 hingga 11.5 F) antara tahun 1990 dan 2100.[1]
Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda
mengenai emisi gas-gas rumah kaca pada masa mendatang, serta model-model sensitivitas
iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100,
pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari
seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan besarnya
kapasitas kalor lautan.
Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan
yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang
ekstrem, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang
lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis
hewan.
Beberapa hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah
pemanasan yang diperkirakan akan terjadi pada masa depan, dan bagaimana pemanasan serta
perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang
lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika
ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih
lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar
pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto,
yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.

2.3.2 Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Pemanasan Global


Pemanasan global yang terjadi saat ini, disebabkan oleh beberapa faktor, sehingga
berdampak pada perubahan iklim yang ekstrem. Selain itu, berbagai aktivitas manusia
modern saat ini berkontribusi besar terhadap masalah global warming ini. Berikut diduga
sebagai penyebab pemanasan global :

1) Polusi Karbondioksida dari pembangkit listrik bahan bakar fosil


Ketergantungan kita yang semakin meningkat pada listrik dari pembangkit
listrik bahan bakar fosil membuat semakin meningkatnya pelepasan gas
karbondioksida sisa pembakaran ke atmosfer. Sekitar 40% dari polusi karbondioksida
dunia, berasal dari produksi listrik Amerika Serikat. Kebutuhan ini akan terus
meningkat setiap harinya. Sepertinya, usaha penggunaan energi alternatif selain fosil
harus segera dilaksanakan. Tetapi, masih banyak dari kita yang enggan untuk
melakukan ini.
2) Polusi Karbondioksida dari pembakaran bensin untuk transportasi
Sumber polusi karbondioksida lainnya berasal dari mesin kendaraan bermotor.
Apalagi, keadaan semakin diperparah oleh adanya fakta bahwa permintaan kendaraan
bermotor setiap tahunnya terus meningkat seiring dengan populasi manusia yang juga
tumbuh sangat pesat. Sayangnya, semua peningkataan ini tidak diimbangi dengan
usaha untuk mengurangi dampak.
3) Gas Metana dari peternakan dan pertanian.
Gas metana menempati urutan kedua setelah karbondioksida yang menjadi
penyebab terdinya efek rumah kaca. Gas metana dapat bersal dari bahan organik yang
dipecah oleh bakteri dalam kondisi kekurangan oksigen, misalnya dipersawahan.
Proses ini juga dapat terjadi pada usus hewan ternak, dan dengan meningkatnya
jumlah populasi ternak, mengakibatkan peningkatan produksi gas metana yang
dilepaskan ke atmosfer bumi.
4) Aktivitas penebangan pohon
Seringnya penggunaan kayu dari pohon sebagai bahan baku membuat jumlah
pohon kita makin berkurang. Apalagi, hutan sebagai tempat pohon kita tumbuh
semakin sempit akibat beralih fungsi menjadi lahan perkebunan seperti kelapa sawit.
Padahal, fungsi hutan sangat penting sebagai paru-paru dunia dan dapat digunakan
untuk mendaur ulang karbondioksida yang terlepas di atmosfer bumi.
5) Penggunaan pupuk kimia yang berlebihan

Pada kurun waktu paruh terakhir abad ke-20, penggunaan pupuk kimia dunia
untuk pertanian meningkat pesat. Kebanyakan pupuk kimia ini berbahan
nitrogenoksida yang 300 kali lebih kuat dari karbondioksida sebagai perangkap panas,
sehingga ikut memanaskan bumi. Akibat lainnya adalah pupuk kimia yang meresap
masuk ke dalam tanah dapat mencemari sumber-sumber air minum kita.

2.3.3 Akibat Pemanasan Global


Jelas bahwa fenomena pemanasan global cukup mencuri perhatian dunia pada saat ini.
Karena efeknya tidak hanya dirasakan hanya oleh sebagain orang saja, namun oleh hampir
seluruh penduduk dunia. Hal-hal yang terjadi maupun yang mungkin saja terjadi di masa
yang akan datang akibat pemanasan global diantaranya :
1) Kenaikan permukaan air laut seluruh dunia
Para ilmuwan memprediksi peningkatan tinggi air laut di seluruh dunia karena
mencairnya dua lapisan es raksasa di Antartika dan Greenland. Banyak negara di
seluruh dunia akan mengalami efek berbahaya dari kenaikan air laut ini. Inilah
mungkin yang faktor penyebab tenggelamnya Ibu Kota Jakarta beberapa tahun
mendatang sesuai dengan yang diprediksi ilmuwan.
2) Peningkatan intensitas terjadinya badai
Tingkat terjadinya badai dan siklon semakin meningkat. Di dukung oleh bukti
yang telah ditemukan oleh para ilmuwan bahwa pemanasan global secara signifikan
akan menyebabkan terjadinya kenaikan temperatur udara dan lautan. Hal ini
mengakibatkan terjadinya peningkatan kecepatan angin yang dapat memicu terjadinya
badai kuat.
3) Menurunnya produksi pertanian akibat gagal panen

Diyakini bahwa, milyaran penduduk di seluruh dunia akan mengalami


bencana kelaparan karena faktor menurunnya produksi pangan pertanian akibat
kegagalan panen. Ini disebabkan oleh pemanasan global yang memicu terjadinya
perubahan iklim yang kurang kondusif bagi tanaman pangan.
4) Makhluk hidup terancam kepunahan
Berdasarkan penelitian yang dipublikasin di Nature, pada tahun 2050
mendatang, peningkatan suhu dapat menyebakan terjadinya kepunahan jutaan spesies.
Artinya, di tahun-tahun mendatang keragaman spesies bumi akan jauh berkurang.
Namun, semoga saja tidak termasuk di dalamnya spesies manusia.