Anda di halaman 1dari 13

INTERAKSI SIMBOLIK

INTERAKSI SIMBOLIK
Interaksionisme simbolik merupakan salah satu model metodologi penelitian
kualitatif berdasarkan pendekatan fenomenologis atau persepektif interpretif.
Bogdan dan Taylor mengemukakan bahwa dua pendekatan utama dalam tradisi
fenomenologis adalah interaksionisme simbolik dan etnometodologi. Interaksi
simbolik memiliki perspektif teoritik dan orientasi metodologi tertentu. Pada awal
perkembangannya interaksi simbolik lebih menekankan studinya tentang perilaku
manusia pada hubungan interpersonal, bukan pada keseluruhan masyarakat atau
kelompok. Aliran-aliran interaksionisme simbolik tersebut adalah Mahzab Chicago,
Mahzab Lowa, Pendekatan Dramaturgis dan Etnometodologi. Sebagian pakar
berpendapat, teori interaksi simbolik, khususnya dari George Herbert Mead, seperti
teori etnometodologi dari Harold Garfinkel, serta teori fenomenologi dari Afred
Schutz berada di bawah payung teori tindakan sosial yang dikemukakan oleh filosof
dan sekaligus sosiolog Jerman Max Weber (1864-1920), meskipun Weber sendiri
sebenarnya bukanlah seorang interpretivis murni. Proposisi paling mendasar dari
interaksi simbolik adalah perilaku dan interaksi manusia itu dapat dibedakan karena
ditampilkan lewat simbol dan maknanya.
AKAR TEORI INTERAKSI SIMBOLIK.
Menurut banyak pakar pemikiran George Herbert Mead, sebagai tokoh sentral teori
ini, berlandaskan pada beberapa cabang filsafat antara lain pragmatisme, dan
behaviorisme.
v Pragmatisme
Dirumuskan oleh John Dewey, Wiliam James, Charles Peirce, Josiah Royce, aliran
filsafat ini memiliki beberapa pandangan yaitu :
Realitas yang sejati tidak pernah ada di dunia nyata, melainkan secara aktif
diciptakan ketika kita bertindak di dan terhadap dunia.
Percaya bahwa manusia mengingat dan melandaskan pengetahuan mereka tentang
dunia pada apa yang terbukti berguna bagi mereka.
Manusia mendefinisikan objek fisik dan objek sosial yang mereka temui berdasarkan
kegunaannya bagi mereka, termasuk tujuan mereka.
Bila kita ingin memahami orang yang melakukan tindakan (aktor), kita harus
mendasarkan pemahaman itu pada apa yang sebenarnya mereka lakukan di dunia.
v Behaviorisme

Menurut Mead, manusia harus dipahami berdasarkan pada apa yang mereka
lakukan. Namun, manusia punya kualitas lain yang membedakannya dengan hewan
lain. Kaum behavioris berkilah bahwa satu-satunya cara sah secara ilmiah untuk
memahami semua hewan, termasuk manusia, adalah dengan mengamati perilaku
mereka secara langsung dan seksama. Mead menolak gagasan itu, menurutnya
pengamatan atas perilaku luar manusia semata menafikan kualitas penting
manusia yang berbeda dengan kualitas alam. Pandangan behavirisme terbagi
menjadi dua yaitu :
Behaviorisme Radikal John Watson.
a. Behaviorisme radikal mereduksi perilaku manusia kepada mekanisme yang sama
dengan yang ditemukan pada tingkat hewan lebih rendah (inframanusia).
b. Manusia sebagai makhluk yang pasif, tidak berfikir, yang perilakunya ditentukan
oleh rangsangan di luar dirinya.
c. Menolak gagasan bahwa manusia memiliki kesadaran, bahwa terjadi suatu
proses mental tersembunyi yang berlangsung pada diri individu di antara
datangnya stimulus dan bangkitnya perilaku.
2. Behaviorisme Sosial George Herbert Mead.
a. Behaviorisme sosial merujuk pada deskripsi perilaku pada tingkat yang khas
manusia.
b.
Konsep dasarnya ialah tindakan sosial (social act), yang juga
mempertimbangkan aspek tersembunyi, yang membedakan perilaku manusia
dengan perilaku hewan.
c. Menganggap perilaku manusia sebagai perilaku sosial., sebab substansi dan
eksistensi perilaku manusia hanya dapat dijelaskan dengan mempertimbangkan
basis sosialnya.
Dapat disimpulkan, bahwa Mead telah memperluas teori behavioristik ini dengan
memasukkan apa yang terjadi antara stimulus dan respon itu. Ia berhutang budi
pada behaviorisme tetapi sekaligus juga memisahkan diri darinya, karena bagi
Mead, manusia jauh lebih dinamis dan kreatif.
v Teori Evolusi Darwin
Teori Darwin menekankan pandangan bahwa semua perilaku organisme, termasuk
perilaku manusia, bukanlah perilaku acak, melainkan dilakukan untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungan mereka masing-masing. Organisme juga
dapat mempengaruhi lingkungan, sehingga juga mengubah pengaruh lingkungan
2

terhadap organisme. Aspek pandangan lain Darwin yang dianggap berpengaruh


tersebut adalah :
Sebagaimana alam yang harus dipelajari dalam keadaan alami, manusia pun harus
dipelajari dalam keadaan alami (naturalistik).
Bila manusia memang punya kualitas-kualitas khas yang membedakan mereka
dengan hewan, seperti punya kebebasan dan berfikir, mereka harus dipelajari dan
diidentifikasi dalam keadaan seperti itu.
Keunikan manusia itu bukan hanya otaknya yang jauh lebih berkembang daripada
otak hewan lainnya, pita suaranya dan otot wajahnya yang memungkinkannya
menciptakan berbagai macam suara, melainkan juga implikasi dari kemajuan
fisiknya tersebut yaitu kemampuan mereka untuk berbahasa dan berfikir.
ASUMSI-ASUMSI INTERAKSI SIMBOLIK
Rumusan yang paling ekonomis dari asumsi-asumsi interaksionisme simbolik
datang dari karya Herbert Blumer yaitu :
Manusia bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna yang dimiliki benda-benda
itu bagi mereka.
Makna-makna itu merupakan hasil dari interaksi sosial dalam masyarakat manusia.
Makna-makna dimodifikasikan dan ditangani melalui suatu proses penafsiran yang
digunakan oleh setiap individu dalam keterlibatannya dengan tanda-tanda yang
dihadapinya.
INTI TEORI INTERAKSI SIMBOLIK
Esensi interaksi simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia,
yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna. Interaksionisme
simbolik juga telah mengilhami perspektif-perspektif lain, seperti teori penjulukan
(labeling theory) dalam studi tentang penyimpangan perilaku (deviance), perspektif
dramaturgis dari Erving Goffman, dan etnometodologi dari Harold Garfinkel.
Perspektif interaksi simbolik berusaha memahami perilaku manusia dari sudut
pandang subjek. Perspektif ini menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat
sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku
mereka dengan mempertimbangkan ekspektasi orang lain yang menjadi mitra
mereka. Definisi yang mereka berikan kepada orang lain, situasi, objek, dan bahkan
diri mereka sendirilah menentukan perilaku mereka. Perilaku mereka tidak dapat
digolongkan sebagai kebutuhan, dorongan impuls, tuntutan budaya, atau tuntutan
peran. Manusia bertindak hanya berdasarkan definisi atau penafsiran mereka atas
objek-objek di sekeliling mereka. Tidak mengherankan bila frase-frase definisi
situasi, realitas terletak pada mata yang melihat, dan bila manusia
mendefinisikan situasi sebagai riil, situasi tersebut riil dalam konsekuensinya
sering dihubungkan dengan interaksionisme simbolik.
Dalam pandangan interaksi simbolik, sebagaimana ditegaskan Blumer, proses sosial
dalam kehidupan kelompoklah yang menciptakan dan menegakkan kehidupan

kelompok. Menurut teoritisi interaksi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya


adalah interaksi manusia dengan
menggunakan simbol-simbol. Mereka tertarik pada cara manusia menggunakan
simbol-simbol yang mempresentasikan apa yang mereka maksudkan untuk
berkomunikasi dengan sesamanya, dan juga pengaruh yang ditimbulkan penafsiran
atas simbol-simbol ini terhadap perilaku pihak-pihak yang terlibat dalam interaksi
sosial. Penganut interaksi simbolik berpandangan, perilaku manusia pada dasarnya
adalah produk dari interpretasi mereka atas dunia disekeliling mereka, jadi tidak
mengakui bahwa perilaku itu dipelajari atau ditentukan, sebagaimana dianut oleh
teori behavioristik atau teori struktural. Alih-alih, perilaku dipilih sebagai hal yang
layak dilakukan berdasarkan cara individu mendefinisikan situasi yang ada.
PREMIS-PREMIS INTERAKSIONISME SIMBOLIK
Individu merespons suatu situasi simbolik.
Individu dipandang aktif untuk menentukan lingkungan mereka sendiri.
2. Makna adalah produk interaksi sosial. Oleh karena itu, makna tidak melekat pada
objek, melainkan dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa.
3. Makna
yang diiterpretasikan individu dapat berubah dari waktu ke waktu,
sejalan dengan perubahan situasi yang ditemukan dalam interaksi sosial.
Perubahan interpretasi dimungkinkan karena individu dapat melakukan proses
mental, yakni berkomunikasi dengan dirinya.
PRINSIP-PRINSIP TEORI INTERAKSI SIMBOLIK
Manusia, tidak seperti hewan lebih rendah, diberkahi dengan kemampuan berfikir.
Kemampuan berfikir itu dibentuk oleh interaksi sosial.
Dalam interaksi sosial, orang belajar makna dan simbol yang memungkinkan
mereka menerapkan kemampuan khas mereka sebagai manusia, yakni berfikir.
Makna dan simbol memungkinkan orang melanjutkan tindakan dan interaksi yang
khas manusia.
Orang mampu memodifikasi atau mengubah makna dan simbol yang mereka
gunakan dalam tindakan dan interaksi berdasarkan interpretasi mereka atas situasi.
Orang mampu melakukan modifikasi dan perubahan ini karena kemampuan mereka
berinteraksi dengan diri sendiri, yang memungkinkan mereka memeriksa tahapantahapan tindakan, menilai keuntungan dan kerugian relatif, dan kemudian memilih
salah satunya.
Pola-pola tindakan dan interaksi yang jalin-menjalin ini membentuk kelompok dan
masyarakat.
TEORI TENTANG DIRI DARI GEORGE HERBERT MEAD
Inti dari teori interaksi simbolik adalah teori tentang diri (self) dari George Herbert
Mead, yang juga dilacak hingga definisi diri dari Charles Horton Cooley. Mead,
seperti juga Cooley, menganggap bahwa konsepsi-diri adalah suatu proses yang
berasal dari interaksi sosial individu dengan orang lain. Cooley berpendapat dalam
4

teorinya the looking-glass self


bahwa konsep diri individu secara signifikan
ditentukan oleh apa yang ia pikirkan tentang pikiran orang lain mengenai dirinya,
jadi menekankan pentingnya respon orang lain yang ditafsirkan secara subjektif
sebagai sumber primer data mengenai diri. Ringkasnya, apa yang diinternalisasikan
sebagai milik individu berasal dari informasi yang ia terima dari orang lain.
Sementara itu, pandangan Mead tentang diri terletak pada konep pengambilan
peran orang lain (taking the role of the other). Konsep Mead tentang diri
merupakan penjabaran diri sosial yang dikemukakan Wiliam James dan
pengembangan dari teori Cooley tentang diri. Bagi Mead dan pengikutnya, individu
bersifat aktif, inovatif yang tidak saja tercipta secara sosial, namun tidak dapat
diramalkan. Ia memandang tindakan manusia sebagai meliputi bukan saja tindakan
terbuka, namun juga tindakan tertutup, jadi mengkonseptualisasikan perilaku dalam
pengertian yang lebih luas.
v Pentingnya Simbol dan Komunikasi
Bagi Cooley dan Mead, diri muncul karena komunikasi. Tanpa bahasa, diri tidak akan
berkembang. Manusia unik karena mereka memiliki kemampuan memanipulasi
simbol-simbol berdasarkan kesadaran. Mead menekankan pentingnya komunikasi,
khususnya melalui mekanisme isyarat vokal (bahasa), meskipun teorinya bersifat
umum. Isyarat vokallah yang potensial menjadi seperangkat simbol membentuk
bahasa. Simbol adalah suatu rangakaian yang mengandung makna dan nilai yang
dipelajari bagi manusia, dan respon manusia terhadap simbol adalah dalam
pengertian makna dan nilainya, alih-alih dalam pengertian stimulasi fisik dari alatalat indranya. Suatu simbol disebut signifikan atau memiliki makna bila simbol itu
membangkitkan pada individu yang menyampaikannya respons yang sama seperti
yang juga muncul pada individu yang dituju. Menurut Mead, hanya apabila kita
memiliki simbol-simbol yang bermakna, kita berkomunikasi dalam arti yang
sesungguhnya. Ringkasnya, dalam pandangan Mead isyarat yang dikuasai manusia
berfungsi bagi manusia itu untuk membuat penyesuaian yang mungkin diantara
individu-individu yang terlihat dalam setiap tindakan sosial dengan merujuk pada
objek atau objek-objek yang berkaitan dengan tindakan tersebut.
v Pikiran
Bagi Mead, tindakan verbal merupakan mekanisme utama interaksi manusia.
Penggunaan bahasa atau isyarat simbolik oleh manusia dalam interaksi sosial
mereka pada gilirannya memunculkan pikiran (mind) dan diri (self). Hanya melalui
penggunaan simbol yang signifikan, khususnya bahasa, pikiran itu muncul,
sementara hewan lebih rendah tidak berfikir, karena mereka tidak berbahasa
seperti bahasa manusia. Mead mendefinisikan berfikir (thinking) sebgai suatu
percakapan terinternalisasikan atau implisit antara individu dengan dirinya sendiri
menggunakan isyarat-isyarat demikian. Menurut teori interaksi simbolik, pikiran
mensyaratkan adanya masyarakat, dengan kata lain, masyarakat harus lebih dulu
5

ada, sebelum adanya pikiran. Dengan demikian pikiran adalah bagian dari proses
sosial, bukan malah sebaliknya, proses sosial adalah produk pikiran.
v Perkembangan diri
Diri merujuk kepada kapasitas dan pengalaman yang memungkinkan manusia
menjadi objek bagi diri mereka. Kemunculannya bergantung pada kemampuan
individu untuk mengambil peran orang lain dalam lingkungan sosialnya. Menurut
Mead, perkembangan diri terdiri dari dua tahap umum yang ia sebut sebagai tahap
permainan (play stage) ialah perkembangan pengambilan peran bersifat elemenr
yang memungkinkan anak-anak melihat diri mereka sendiri dari perspektif orang
lain yang dianggap penting (significant others). Dan tahap pertandingan (game
stage) berasal dari proses pengambilan peran dan sikap orang lain secara umum
(generalized others), yaitu masyarakat umumnya. Menurut Mead, sebagai suatu
proses sosial, diri terdiri dari dua fase yaitu Aku (I) dan Daku (Me). Aku adalah
diri yang subyektif, diri yang refleksif yang mendefinisikan situasi dan merupakan
kecenderungan impulsif individu untuk bertindak dalam suatu cara yang tidak
terorganisasikan, tidak terarah, dan sponta. Sementara Daku adalah pengambilan
peran dan sikap orang lain, termasuk suatu kelompok tertentu. Karena itu diri
sebagai objeklah yang meliputi diri sosial, yang dipandang dan direspon oleh orang
lain. Prinsip bahwa diri merefleksikan masyarakat membutuhkan suatu pandangan
atas diri yang sesuai dengan realitas mengenai masyarakat kontemporer yang
rumit. Artinya, bila hubungan sosial itu rumit, pastilah ada suatu kerumitan yang
pararel dalam diri.
METODOLOGI PENELITIAN INTERAKSI SIMBOLIK
Interaksi simbolik termasuk ke dalam salah satu dari sejumlah tradisi penelitian
kualitatif yang berasumsi bahwa penelitian sistematik harus dilakukan dalam suatu
lingkungan yang alamiah dan bukan lingkungan artifisial seperti eksperimen. Secara
lebih jelas Denzin mengemukakan tujuh prinsip metodologis berdasarkan teori
interaksi simbolik, yaitu :
Simbol dan interaksi harus dipadukan sebelum penelitian tuntas.
Peneliti harus mengambil perspektif atau peran orang lain yng bertindak (the acting
other) dan memandang dunia dari sudut pandang subjek, namun dalam berbuat
demikian peneliti harus membedakan antara konsepsi realitas kehidupan sehari-hari
dengan konsepsi ilmiah mengenai realitas tersebut.
Peneliti harus mengaitkan simbol dan definisi subjek hubungan sosial dan
kelompok-kelompok yang memberikan konsepsi demikian.
Setting perilaku dalam interaksi tersebut dan pengamatan ilmiah harus dicatat.
Metode penelitian harus mampu mencerminkan proses atau perubaha, juga bentuk
perilaku yang yang statis.
Pelaksanan penelitian paling baik dipandang sebagai suatu tindakan interaksi
simbolik.
6

Penggunaaan konsep-konsep yang layak adalah pertama-tama mengarahkan


(sensitizing) dan kemudian operasional, teori yang layakmenjadi teori formal, bukan
teori agung (grand theory) atau teori menegah (middle-range theory), dan proposisi
yang dibangun menjadi interaksional dan universal.
Prinsip bahwa teori atau proposisi yang dihasilkan penelitian berdasarkan
interaksionisme simbolik menjadi universal, sebagaimana diikemukakan Denzin
diatas sejalan dengan pandangan Glaser dan Strauss yang upayanya untuk
membangun teori berdasarkan data (grounded theory) dapat dianggap sebagai
salah satu upaya serius untuk mengembangkan metodologi interaksionis simbolik.
Hanya saja, meskipun bersifat induktif, pandangan Glaser dan Strauss mugkin
terlalu idealis bagi sebagian penganut interaksionisme simbolik.
KRITIK-KRITIK ATAS TEORI INTERAKSI SIMBOLIK MENURUT PARA AHLI:
Beberapa kritik utama yang yang ditujukan terhadap perspektif ini yaitu :
Aliran utama interaksionisme simbolik dituduh terlalu mudah membuang teknik
ilmiah konvensional. Eugene Weinstein daan Judith Tanur dengan tepat menyatakan
hal ini: Hanya karena kadar kesadaran itu kualitatif, tak berarti pengungkapan
keluarnya tak dapat dikodekan, diklasifikasi, atau bahkan dihitung (1976:105). Ilmu
dan subjektivisme tidaklah saling terpisah satu sama lain.
M. Kuhn (1964), W. Kolb (1944), B. Meitzer, J. Petras dan L. Reynolds (1975), dan
banyak lagi lainnya yang mengkritik ketidakjelasan konsep-konsep esensial Meadian
seperti : pikiran, diri, I, dan Me. Lebih umum lagi Kuhn (1964) berbicara tentang
ambiguitas dan kontradiksi dalam teori Mead. Di luar teori Meadin, mereka
mengkritik berbagai konsep dasar teoritisi interaksionisme simbolik yang dinilai
keliru, tidak tepat, dan karena itu tak mampu menyediakan basis yang kuat untuk
membangun teori dan riset. Karena konsep-konsep itu tak tepat, maka sulit
mengoperasionalisasikannya, akibatnya adalah tak dapat dihasilkan proposiproposisi yang dapat diuji (Stryker, 1980).
Interaksionisme simbolik dikritik karena karena meremehkan atau mengabaikan
peran struktur berkala luas. Kritik ini diekspresikan dengan berbagai cara. Misalnya,
Weinstein dan tanur mengatakan bahwa interaksionisme simbolik mengabaikan
keterkaitan (connectedness) dari hasil-hasil (1976:106). Sheldon Stryker
menyatakan bahwa pemusatan perhatian interaksionisme simbolik terhadap
interaksi ditingkat mikro berfungsi meminimalkan atau menyangkal fakta struktur
sosial dan mempengaruhi gambaran kontrol masyarakat atas perilaku (1980:146).
Interaksionisme simbolik tak cukup mikroskopik, mengabaikan peran penting faktor
seperti ketidaksadaran dan emosi (Meltzer, Petras, Reynolds, 1975, Stryker, 1980).
Begitu pula, interaksionisme simbolik dikritik karena mengabaikan faktor psikologis
seperti kebutuhan, motif, tujuan, dan aspirasi. Dalam upaya mereka untuk
menyangkal adanya kekuatan abadi yang memaksa aktor bertindak, teoritisi
interaksionisme simbolik malahan memusatkan perhatian pada arti, simbol,
tindakan, dan interaksi. Mereka mengabaikan faktor psikologis yang mungkin
membatasi atau menekan aktor. Dalam kedua kasus ini, teoritisi interaksionisme
7

simbolik dituduh membuat pemujaan mutlak terhadap kehidupan sehari-hari


(Meltzer, Petras, dan Reynolds, 1975:85). Pemusatan perhatian terhadap kehidupan
sehari-hari ini selanjutnya menandai penekanan berlebihan terhadap situasi
langsung dan perhatian yang obsesif terhadap situasi sementara, episodik, dan
singkat (Meltzer, Petras, dan Reynolds, 1975:85)
DAFTAR PUSTAKA
Moleong, Lexy J. 1995.
Bandung.

Metodologi Penelitian Kualitatif.

Remaja Rosdakarya.

Muhadjir, Noeng. 1996. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Ke-3. Rake Sarasin.
Yogyakarta.
Mulyana , Dedy. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu
Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Remaja Rosdakarya. Bandung.
(http://sinaukomunikasi.wordpress.com/2011/08/20/interaksi-simbolik/
10:12pm 30Oktober2014)

>>akses

INTERAKSI SIMBOLIK OLEH GEORGE HERBERT MEAD


Laode Iman Toffani Noviardhi
1111003047
Communication11
Communication Theory Summary
CHAP. 5: SYMBOLIC INTERACTION of GEORGE HERBERT MENDEL
(Based On Book Introduction To Communication Theory By Em Griffin

George Herbert Mead adalah salah seorang Pelopor Konstruksi Sosial didunia
komunikasi. Dia pulalah yang pertama kali memperkenalkan konsep InteraksiSimbolik, dimana pola pikir, konsep diri, dan komunitas sosial yang kita miliki
dibentuk melalui komunikasi. Interaksi simbolik itu sendiri memiliki makna sebagai
sebuah proses berkelanjutan baik berupa bahasa maupun tingkah laku(nonverbal)
sebagai antisipasi dari reaksi yang diberikan oleh orang lain. Salah seorang murid
Herbert, Herbert Blummer mengembangkan teori sebelumnya dan menambahkan 3
prinsip dasar dari interaksi simbolik yang berhubungan dengan pesan, bahasa, dan
pola pikir dan mengarah pada pembentukan konsep diri yang dimiliki individu
serta pola sosialisasi (pengenalan nilai dan norma) dalam masyarakat.

Pesan: Dasar Dari Realitas Sosial (Meaning: The Construction Of Social


Reality)
Blummer berpendapat bahwa setiap individu berperilaku kepada masyarakat atau
objek berdasarkan apa yang mereka pahami secara mendasar
mengenai
masyarakat atau objek tersebut (human act toward people or things on the basis of
the meaning they assign to those people or things). individu bertindak sesuai
dengan apa yang dia maknai di situasi/ moment tersebut. Dalam hal ini interpretasi
yang kita hasilkan mengenai seseorang ,situasi dan objek-lah yang membentuk pola
perilaku kita.

Bahasa: Sumber Dari Makna/Pesan (Language: The Source Of Meaning)


Teori kedua yang diangkat oleh blumer adalah makna tumbuh melalui interaksi
sosial diantara individu. Dengan kata lain, makna tersebut tidak terbentuk dari
satu pihak komunikasi, malainkan hasil dari negosiasi antar individu dalam bahasa.
Bahasa merupakan sesuatu yang kita kembangkan untuk memberikan penamaan,
baik orang, benda, situasi, dll. lebih jauh lagi, bahasa juga memiliki kemampuan
menggambarkan makna dari sesuatu sebagi contoh: bagaimana kata anak
kucing memberikan kesan manis, lucu atau kecil. Walupun tidak dapat
menggambarkan persis sama dengan realitas yang ada, bahasa merupakan
perwakilan dari realitas itu sendiri. Contoh yang lain, dalam konteks pembentukan
konsep diri, kata normal merupakan sesuatu yang mabigu dimana setiap individu
memiliki standar yang berbeda-beda.

Berpikir Proses Pengambilan Peran Orang Lain. (Thinking: The Process Of


Taking The Role Of Other)

Teori ketiga yang diangkat Blummer aalah interpretasi individu mengenai symbol
(nonverbal signs) dibentuk oleh pemikirannya sendiri .dalam hal ini, konsep minding
yaitu proses dialog dalam diri individu untuk memilah, melatih ,dan
mengantisipasi tindakan (verbal dan nonverbal) Yang akan dilakukan sebelum
memberikan respon terhadap individu laIn atau situasi dan objek.
Blumer dalam teorinya yang ketiga menggambarkan manusia sebagai individu yang
memiliki kapasitas untuk mengambil peran dari orang lain yang berarti proses
dimana kita secara sadar menilai diri sendiri melalui pandangan orang lain. Kita
menciptakan sebuah standar yang harus dicapai oleh diri kita- ksuksesan,
kebahagiaan, dll- dan dalam tahap tertentu kita berusaha membayangkan apa yang
orang lain pikirkan jika melihat diri kita- sukseskah kita dimata mereka? Bahagiakah
kita?, normalkah? Dll-. Proses tersebut ikut membentuk konsep mengenai diri
individu .

E-Self: Bayangan Di Cermin (E-Self, Reflection In The Mirror)


Kembali ke konsep mead mengenai diri, Mead berpendapat bahwa konsep diri
dibentuk ole apa yang kita bayangkan/ we are what we want to be dan
dikembangkan melalui bayangan bagaimana diri kita dari sudut pandang orang lain
atau oleh Cooley (2002) dikenal sebagai Looking Glass-Self.
Mead menegaskan bahwa konsep diri dibentuk oleh masyarakat sosial serta
merupakan hasil dari Asimilasi Pandangan Kelompok Inti/ Significant Others.
Dengan kata lain, Self/ diri individu tidak muncul dari lahir, malainkan hasil dari
interaksi dengan orang lain. Sebagai contoh,seorang anak yang selalu dibesarkan
secara positif oleh orang tuanya, selalu beri kata-kata positif bahwa ia disayangi,
dicintai, dll akan tumbuh menjadi individu positif yang memiliki konsep diri yang
baik pula.
Mead sendiri mengembangkan konsep bahwa diri/Self
yang dimiliki individu
merupakan kombinasi dari I dan Me . I adalah bagian diri yang punya sifat
spontan,kreatif, indivudalis dimana berpusat pada keinginan dan kebutuhan diri
sendiri dan cnderung impulsive.
I merupakan bagian dari diri kita yang ingin melakukan balas dendam terhadap
orang yang berbuat jahat pada kita, atau marah terhadaap sopir bus yang
memberikan kembalian kurang. Sedang me merupakan bagian diri yang lebih
kearah sosial-is dimana berusaha mengibangi I dengan konsekuansi orang lain
terhadap apa yang kita lakukan. Me adalah bagian diri kita yang mengingatkan
untuk bersabar dan jangan memulai pertengkaran, atau bersikap seenaknya.
Laode Iman Toffani Noviardhi
1111003047
Communication11
Communication Theory Summary
CHAP. 5: SYMBOLIC INTERACTION of GEORGE HERBERT MENDEL
(Based On Book Introduction To Communication Theory By Em Griffin

10

Masyarakat: Mensosialisasikan Efek Dari Harapan Orang Lain


Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita tidak hanya terhubung dengan orang tuaayah, ibu, adik, kaka, nenek, dll- atau Significant Other. Namun, kehidupan
menuntut kita untuk menjelajahi dunia-dunia lain- dunia akademik, professional, dlldimana kita ditekan untuk bisa berinteraksi dengan rekan sejawat, teman kelas,
rekan kerja, dll. Semua hal tersebut merupakan Generalized Other. Generalized
Other sendiri memiliki pengertian sebagai pandangan kedua yang mempengaruhi
bagaimana kita melihat diri sendiri. Generalized other dapat berupa sekelompok
aturan, peran-peran sosial, perilaku yang ditekankan oleh kelompok masyarakat,
serta komunitas sosial dimana kita berada. Sebagai contoh, masyarakat Tibet
merupakan salah satu kelompok masyarakat yang diaggap memiliki tingkat
kebahagiaan tertinggi didunia pandangan yang diberikan orang lain tersebut tentu
memberikan pengaruh kepada masyarakat Tibet itu sendiri khusunya mengenai
bagaimana ia melihat diri sendiri. Maysrakat Tibet berdasarkan penilaian tersebut
meniali bahwa kehidupan mereka mapan, dan mereka secara individu lebih postitf
terhadap bagaimana melihat diri mereka sendiri .
Penggunaan Interaksi Simbolik
Mead memisahkan 6 penggunaa interaksi simbolik, yaitu:

Membentuk Realitas/Creating Reality..


Berdasar pada teori dramaturgi oleh erving goffmanndimana kehidupan sosial
merupakan panggung sandiwara, setiap individu memiliki ikatan untuk dapat
menampilkan kesan positif dan berperilaku sesuai dengan tuntutan peran sosial
serta situasi dimana ia berada. Jadi, apa yang kita anggap realitas dari individu
sebagai diri mereka belum tentu benar.

Meaningfull Research.
Menekankan pada observasi langsung yang dikenal dengan participant observation
yaitu metode dengan mengambil beberapa orang untuk menyelami kehidupan
orang lain melalui studi rinci mengenai apa yang mereka katakana dan lakukan
yang kemudian diinterpretasikan oleh orang-orang tersebut melalui sudut pandang
mereka. Interaksionis berpendapat bahwa untuk dapat memahami individu secara
utuh, maka kita harus mnejalani kehidupan yang dimiliki individu tersebut secara
keseluruhan

Generalized Other.
We are what people think who we are. Perumpamaan yang paling tepat untuk
menggambarkan Generalize Others adalah cerita Cipher In The Snow, dimana
seorang anak yang diiperlakukan seperti dia tidak pernah ada oleh gurunya,
orang tuanya, bahkan teman-temannya, yang akhirnya membentuk dirinya seperti
bagaimana ia diperlakukan, -bukan siapa-siapa. Anak tersebut kemudian meninggal
tanpa alasan yang jelas. Yang kemudian oleh para interaksionis disimbolkan sebagai

11

pembunuhan secara tidak sengaja dan menegaskan kembali bahwa theres no


me without us(society).

Penamaan/Naming .
Stick and stones can break bones, but names can actually hurt me merupakan
pepatah yang tepat menggambarkan efek dari penamaan itu sendiri .memberikan
penamaan seperti betty la fea/ betty jelek, nancy bodoh, dll merupakan salah satu
hal yang dapat berpengaruh besar terhadap konsep diri.

Self-Fulfilling Prophecy.
Self-fulfilling prophecy adalah ekspektasi/ harapan, serta penilaian orang lain
terhadap diri kita yang berusaha kitawujudkan dalam perilaku/tindakan.seperti
seorang anak yang diberikan semangat oleh para gurunya bahwa ia memiliki
kemampuan untuk memenangkan olimpiade, anak tersebut pasti akan merasakan
tekanan lebih pada dirinya untuk menang dan belajar keras.

Manipulasi Symbol/ Symbol Manipulation.


makna Sebuah symbol juga dapat dibentuk melalui proses manipulasi, dimana
makna sebuah symbol tidak lagi berdasarkan makna dasar yang dimiliki symbol
tersebut, melainkan apa yang dapat diwakili oleh symbol tersebut. sebagai contoh
adalah bagaimana symbol tikus digabarkan sebagai sebuah gerakan sederhana di
amreika untuk menggambrakan aktifitas pembangunan rumah/sarang untuk para
masyarakat miskin didaerah tersebut.

Kritik: Menyusun Standar Instimewa Untuk Tiga Kriteria Interpretif


Banyak kritik yang berhubungan dengan mead dan pendekatan yang ia lakukan
dalam penggambraan interaksionalitas serta konsep diri. Salah satunya oleh
sosiologis Sheldon Stryker, dari University Of Indiana, yang menyanggah pandangan
mead bahwa sebuah teori dapat diuji melalui observasi langsung dan tidak
langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Kembali pada sudut pandang yang digunakan oleh mead, jika teori interaksi
simbolik menggunakan pndekatan objektif, seharusnya terappat standar saintifik
dari pengujian serta prediksi yang dilakukan tersebut.
Walaupun Mead telah memberikan banyak kontribusi melalui teori konsep dirinya
dimana individu dibentuk oleh kedua pihak, dirinya sendiri dan kelompok sosial
masyarakat, namun pandangan bahwa kemampuan kita untuk Dapat
menginterpretasikan symbol, dan menggunakannya merupakan hal yang
membedakan kita dengan makhluk lainnya. Mead menyampingkan beragai
kemungkinan dimana individu tidak dapt menerima symbol dengan baik baik
karena disabilitas organ (cacat:kebutaan, kurangnya pendengaran, ddl) dan
genetika (Penyakit Pheriperal Nerve Disorder- tidak dapat memproses pesan
simbolik )
12

(http://reviewkomunikasi.blogspot.com/2013/04/interaksi-simbolik-oleh-georgeherbert.html >> akses : 10:15pm 30Oktober2014)

13

Anda mungkin juga menyukai