Anda di halaman 1dari 19

BAB 5

MODEL JARINGAN DAN TOPOLOGI JARINGAN SCADA


1. Pendahuluan
1.1 Pengertian Jaringan
Jaringan adalah sistem yang memungkinkan komunikasi terjadi antara dua
orang atau mesin.
1.2 Sistem SCADA
adalah suatu sistem pengolahan data terintegrasi yang berfungsi
mensupervisi, mengendalikan dan mendapatkan data secara real time. (SPLN
109-1-1996 POLA SCADA1)
1.3 Jaringan SCADA
Adalah

suatu

sistem

pengolahan

data

terintegritas

yang

saling

berhubungan sehingga terjadi komunikasi antara data-data tersebut.


Sistem integrasi adalah jaringan tenaga listrik yang terpadu yang meliputi
pembangkit-pembangkit tenaga listrik, jaringan transmisi dan jaringan distribusi
yang saling terhubung. Sistem yang terintegrasi ini dikenal dengan sistem
interkoneksi. Keuntungan adanya interkoneksi adalah diperolehnya produksi yang
ekonomis, karena pusat pembangkit listrik yang berkapasitas besar dan beroperasi
pada sistem yang terinterkoneksi dapat mensuplai daerah lainnya yang
membutuhkan tenaga listrik yang besar, tetapi hanya mempunyai pembangkit
listrik yang berkapasitas kecil.
1.4 Fungsi SCADA
a. Informasi dasar tentang sistem tenaga listrik diperoleh dari pemantauan status
peralatan dan pengukuran besaran listrik pada pusat-pusat listrik dan gardu induk.
b. Informasi yang dikumpulkan oleh Remote Terminal Unit (RTU) dan dikirim ke
Pengatur atau dikirim oleh Pengatur ke RTU disebut Teleinformasi.

c. Teleinformasi ini merupakan fungsi utama SCADA yang terdiri dari telesinyal,
telemeter, dan telekontrol.
d. Telesinyal adalah suatu proses pcngiriman sinyal jarak jauh yang menyatakan
status suatu peralatan melalui media komunikasi data.
e. Telemeter adalah suatu proses pcngiriman besaran ukur jarak jauh melalui media
komunikasi data.
f. Telekontrol adalah suatu proses pengendalian jarak jauh melalui media
komunikasi data.
1.5 Manfaat SCADA
a. Memudahkan operator untuk memantau keseluruhan jaringan tanpa harus melihat
langsung ke lapangan.
b. Memudahkan pemeliharaan, terutama yang memerlukan pemadaman.
c. Mempercepat pemulihan gangguan.
1.6 Bagian-bagian Penting Dalam Sistem SCADA
Suatu sistem SCADA umumnya terdiri dari sejumlah :
a. Remote Terminal Unit (RTU)
Remote Terminal Unit (RTU) atau Outstation Terminal Unit (OTU) atau Unit Terminal
Jarak Jauh adalah suatu peralatan remote station berbasis processor yang berfungsi
menerima, mengolah, dan meneruskan informasi dari master station ke sistem yang diatur
dan sebaliknya, juga kemampuan load shedding yang dilengkapi data base, nama
penyulang, identifikasi, dan beban.
b.

Master Terminal Unit (MTU)

MTU merupakan inti dari sistem SCADA, berlokasi di pusat pengaturan. MTU
mengenali setiap data-data yang dikomunikasikan dari masing-masing RTU. Data-data
tersebut kemudian diproses, disimpan dan dikirim ke stasiun-stasiun yang membutuhkan
data-data tersebut.
c. Jaringan Telekomunikasi Data antara RTU dan Master Station

Pada umumnya jarak antara RTU dengan MTU cukup jauh sehingga diperlukan media
komunikasi antara keduanya. Di sistem SCADA APD WS2JB, media komunikasi yang
digunakan adalah melalui radio dan telepon analog,
1.7 Macam-macam Jaringan Komunikasi SCADA (SPLN 109-3-1996 POLA
SCADA3)
1. Wired/Jaringan Kabel
Adalah jaringan yang menggunkan kabel sebagai media transmisi atau
komunikasinya.
Pemilihan penggunaan jenis media penghubung ini berdasarkan :
1. Jarak hubung antar titik yang dapat dijangkau oleh kabel Fibre Optik tanpa
menyebabkan

kehilangan

data

bisa

mencapai

ratusan

meter bahkan sampai dengan beberapa kilometer. Jika menggunakan kabel


Fibre Optik dengan jenis Single Mode, jarak yang dapat ditempuh bisa
mencapai 10 Km.
2. Media penghantar modulasi data pada kabel Fibre Optik adalah cahaya yang
bebas

dari

gangguan

(Electro Magnetic Interference

interferensi
EMI

sehingga

elektro-magnet
menghilangkan

kemungkinan kerusakan data yang disebabkan oleh EMI. Karakteristik ini


sangat cocok dengan lingkungan sistem Power Substation yang banyak
menimbulkan EMI.

Gambar 1.7.1 Jaringan Scada dengan media kabel


2. Wireless/nirkabel

Adalah jaringan dengan media transfer data tanpa kabel atau menggunkan udara
sebagai media transmisi atau komunikasinya. Wireless ini sama halnya seperti
fungsi ethernet tanpa kabel dimana user berhubungan dengan server melalui
modem.
Pemilihan penggunaan jenis media penghubung ini berdasarkan :
a. Jarak hubung antar titik yang tidak dapat terjangkau lagi atau tidak
memungkinkan media kabel untuk digunakan sebagai penghubung
antar titik tersebut.
b. Jangkauan hubung antar titiknya bisa sangat jauh dengan biaya yang
lebih

murah

dibandingkan

penggunaan

kabel

sebagai

media

penghubung antar titik tersebut.

Gambar 1.7.2 Jaringan Scada dengan Wireless


3. Wired dan Wireless
Adalah jaringan yang memanfaatkan atau mengkombinasikan kedua
jaringan sebelumnya yaitu wired dan wireless sebagai media transmisi atau
komunikasinya. Dengan menggabungkan keduanya kita bisa meningkatkan
kualitas informasi data yang akan kita kelolah.

Gambar 1.7.3 Jaringan scada dengan wired dan wireless

2. Topologi Jaringan Scada


Topologi jaringan adalah sebuah pola interkoneksi dari beberapa terminal komputer.
Topologi jaringan merupakan representasi geometri dari hubungan antar perangkat (terminal
komputer, repeaters, bridges) satu dengan lainnya.
Jaringan Pada Sistem Distribusi tegangan menengah (Primer 20kV) dapat dikelompokkan
menjadi lima model, yaitu Jaringan Radial, Jaringan Spindel, Jaringan Lingkaran (Loop),
Jaringan hantaran penghubung (Tie Line), , dan Sistem Gugus atau Kluster.
Jaringan Distribusi berdasarkan SPLN 109-3-1996 POLA SCADA3
2.1 Sistem radial (SPLN 52-3) dan (SPLN 72)
2.2 Sistem spindel ( SPLN 52-3) dan (SPLN 72)
2.3 Sistem loop ( sebagai variasi sistem 2 dan 4 ) (SPLN 59)
2.4 Tie line ( sebagai variasi sistem 2 dan 4 ) (SPLN 59)
2.5 Gugus ( sebagai variasi dari sistem 3 ) (SPLN 59)

2.1 Sistem Radial


Sistem distribusi dengan pola Radial seperti Gambar 3.3. Adalah sistem distribusi
yang paling sederhana dan ekonomis. Pada sistem ini terdapat beberapa penyulang
yang menyuplai beberapa gardu distribusi secara radial.

Gambar 2.1.1. Konfigurasi Jaringan Radial


Dalam penyulang tersebut dipasang gardu-gardu distribusi untuk konsumen.
Gardu distribusi adalah tempat dimana trafo untuk konsumen dipasang. Bisa dalam
bangunan beton atau diletakan diatas tiang. Keuntungan dari sistem ini adalah sistem ini
tidak rumit dan lebih murah dibanding dengan sistem yang lain.
Namun keandalan sistem ini lebih rendah dibanding dengan sistem lainnya.
Kurangnya keandalan disebabkan karena hanya terdapat satu jalur utama yang menyuplai
gardu distribusi, sehingga apabila jalur utama tersebut mengalami gangguan, maka
seluruh gardu akan ikut padam.
Kerugian lain yaitu mutu tegangan pada gardu distribusi yang paling ujung kurang
baik, hal ini dikarenakan jatuh tegangan terbesar ada diujung saluran.

Bila antara titik sumber dan titik bebannya hanya terdapat satu saluran (line), tidak ada
alternatif saluran lainnya. Bentuk Jaringan ini merupakan bentuk dasar, paling sederhana
dan paling banyak digunakan. Dinamakan radial karena saluran ini ditarik secara radial
dari suatu titik yang merupakan sumber dari jaringan itu,dan dicabang-cabang ke titiktitik beban yang dilayani.
Catu daya berasal dari satu titik sumber dan karena adanya pencabanganpencabangan tersebut, maka arus beban yang mengalir sepanjang saluran menjadi tidak
sama besar. Oleh karena kerapatan arus (beban) pada setiap titik sepanjang saluran tidak
sama besar, maka luas penampang konduktor pada jaringan bentuk radial ini ukurannya
tidak harus sama. Maksudnya, saluran utama (dekat sumber) yang menanggung arus
beban besar, ukuran penampangnya relatip besar, dan saluran cabang-cabangnya makin
ke ujung dengan arus beban yang lebih kecil, ukurannya lebih kecil pula. Spesifikasi dari
jaringan bentuk radial ini adalah:
o Kelebihan:

Bentuknya sederhana.

Ekonomis

Mudah untuk dikembangkan

Instalasinya lebih mudah

Biaya investasinya relatip murah

o Kelemahan

Kualitas pelayanan dayanya relatip jelek, karena rugi tegangan dan rugi
daya yang terjadi pada saluran relatip besar

Sulit meminimalisir gangguan

Keandalan rendah

Kontinyuitas pelayanan daya tidak terjamin, sebab antara titik sumber dan
titik beban hanya ada satu alternatif saluran sehingga bila saluran tersebut
mengalami gangguan, maka seluruh rangkaian sesudah titik gangguan akan
mengalami "black out" secara total.

Untuk melokalisir gangguan, pada bentuk radial ini biasanya diperlengkapi dengan
peralatan pengaman berupa fuse, sectionaliser, recloser, atau alat pemutus beban
lainnya, tetapi fungsinya hanya membatasi daerah yang mengalami pemadaman total,
yaitu daerah saluran sesudah/dibelakang titik gangguan, selama gangguan belum
teratasi. Jadi, misalkan gangguan terjadi di titik F, maka daerah beban K, L dan M
akan mengalami pemadaman total.
2.2 Jaringan Spindel
Sistem Spindel seperti pada Gambar 3.6. adalah suatu pola kombinasi jaringan
dari pola Radial dan Ring. Spindel terdiri dari beberapa penyulang (feeder) yang
tegangannya diberikan dari Gardu Induk dan tegangan tersebut berakhir pada sebuah
Gardu Hubung (GH).

Gambar 2.2.1. Konfigurasi Jaringan Spindel

Pada sebuah spindel biasanya terdiri dari beberapa penyulang aktif dan sebuah
penyulang cadangan (express) yang akan dihubungkan melalui gardu hubung. Pola
Spindel biasanya digunakan pada jaringan tegangan menengah (JTM) yang menggunakan
kabel tanah/saluran kabel tanah tegangan menengah (SKTM).
Namun pada pengoperasiannya, sistem Spindel berfungsi sebagai sistem Radial.
Di dalam sebuah penyulang aktif terdiri dari gardu distribusi yang berfungsi untuk
mendistribusikan tegangan kepada konsumen baik konsumen tegangan rendah (TR) atau
tegangan menengah (TM).
Selain bentuk-bentuk dasar dari jaringan distribusi yang telah ada, maka
dikembangkan pula bentuk-bentuk modifikasi, yang bertujuan meningkatkan keandalan
dan kualitas sistem. Salah satu bentuk modifikasi yang populer adalah bentuk spindle,
yang biasanya terdiri atas maksimum 6 penyulang dalam keadaan dibebani, dan satu
penyulang dalam keadaan kerja tanpa beban. Saluran 6 penyulang yang beroperasi dalam
keadaan berbeban dinamakan "working feeder" atau saluran kerja, dan satu saluran yang
dioperasikan tanpa beban dinamakan "express feeder". Fungsi "express feeder" dalam hal
ini selain sebagai cadangan pada saat terjadi gangguan pada salah satu "working feeder",
juga berfungsi untuk memperkecil terjadinya drop tegangan pada sistem distribusi
bersangkutan pada keadaan operasi normal. Dalam keadaan normal memang "express
feeder" ini sengaja dioperasikan tanpa beban. Perlu diingat di sini, bahwa bentuk-bentuk
jaringan beserta modifikasinya seperti yang telah diuraikan di muka, terutama
dikembangkan pada sistem jaringan arus bolak-balik (AC).

Gambar 2.2.2 Jaringan Distribusi Spindle


o Kelebihan

Memperkecil drop tegangan

Keandalan baik

Kemampuan meminimalisir gangguan baik

o Kekurangan

Biaya investasinya mahal

Instalasinya lebih sulit

Memerlukan tambahan gardu hubung

2.3 Jaringan Lingkar (Loop)


Pada Jaringan Tegangan Menengah Struktur Lingkaran (Loop) seperti Gambar 3.5.
dimungkinkan pemasokannya dari beberapa gardu induk, sehingga dengan demikian tingkat
keandalannya relatif lebih baik.

Gambar 2.3.1. Konfigurasi Jaringan Loop


Bila pada titik beban terdapat dua alternatip saluran berasal lebih dari satu
sumber. Jaringan ini merupakan bentuk tertutup, disebut juga bentuk jaringan "loop".
Susunan rangkaian penyulang membentuk ring, yang memungkinkan titik beban dilayani
dari dua arah penyulang, sehingga kontinyuitas pelayanan lebih terjamin, serta kualitas
dayanya menjadi lebih baik, karena rugi tegangan dan rugi daya pada saluran menjadi
lebih kecil.

Gambar 2.3.2 Jaringan Distribusi Tipe Ring

Bentuk loop ini ada 2 macam, yaitu:


2.3.1 Bentuk Open Loop
Bila diperlengkapi dengan normally-open switch, dalam keadaan normal
rangkaian selalu terbuka.

Gambar 2.3.3 Jaringan Distribusi Ring Terbuka


2.3.2

Bentuk Close Loop

Bila diperlengkapi dengan normally-close switch, yang dalam keadaan


normal rangkaian selalu tertutup

Gambar 2.3.4 Jaringan Distribusi Ring Tertutup


Pada tipe ini, kualitas dan kontinyuitas pelayanan daya memang lebih
baik, tetapi biaya investasinya lebih mahal, karena memerlukan pemutus beban
yang lebih banyak. Bila digunakan dengan pemutus beban yang otomatis

(dilengkapi dengan recloser atau AVS), maka pengamanan dapat berlangsung


cepat dan praktis, dengan cepat pula daerah gangguan segera beroperasi kembali
bila gangguan telah teratasi. Dengan cara ini berarti dapat mengurangi tenaga
operator. Bentuk ini cocok untuk digunakan pada daerah beban yang padat dan
memerlukan keandalan tinggi.

Gambar 2.3.5 Rangkaian Gardu Induk Tipe Ring


o Kelebihan

Keandalan baik
Dapat meminimalisir daerah ganguan dengan baik
Kontiyuitas penyaluran tenaga lebih baik

o Kekurangan

Lebih sulit instalasinya


Biayanya lebih mahal
Memerlukan switch tambahan

2.4 Jaringan Hantaran Penghubung (Tie Line)


Sistem distribusi Tie Line seperti Gambar 3.4. digunakan untuk pelanggan
penting yang tidak boleh padam (Bandar Udara, Rumah Sakit, dan lainlain).

Gambar 2.4.1. Konfigurasi Jaringan Hantaran Penghubung


Sistem ini memiliki minimal dua penyulang sekaligus dengan tambahan
Automatic Change Over Switch / Automatic Transfer Switch, setiap penyulang
terkoneksi ke gardu pelanggan khusus tersebut sehingga bila salah satu penyulang
mengalami gangguan maka pasokan listrik akan di pindah ke penyulang lain.
Merupakan gabungan dari beberapa saluran mesh, dimana terdapat lebih dari satu
sumber sehingga berbentuk saluran interkoneksi. Jaringan ini berbentuk jaringjaring, kombinasi antara radial dan loop.

Gambar 3.11 Jaringan Distribusi Tie Line

Titik beban memiliki lebih banyak alternatip saluran/penyulang, sehingga bila


salah satu penyulang terganggu, dengan segera dapat digantikan oleh penyulang yang
lain. Dengan demikian kontinyuitas penyaluran daya sangat terjamin.

Gambar 2.4.2 Jaringan Distribusi NET Dengan Tiga Penyulang Gardu Hubung
Spesifikasi Jaringan Distribusi Jaring-Jaring (NET) ini adalah:
o Kelebihan:

Kontinyuitas penyaluran daya paling terjamin.

Kualitas tegangannya baik, rugi daya pada saluran amat kecil.

Dibanding dengan bentuk lain, paling flexible (luwes) dalam mengikuti


pertumbuhan dan perkembangan beban.

o Kelemahan:

Sebelum pelaksanaannya, memerlukan koordinasi perencanaan yang teliti


dan rumit.

Perawatan sulit

Memerlukan tambahan penyulang tambahan

Memerlukan biaya investasi yang besar (mahal)

Memerlukan tenaga-tenaga terampil dalam pengoperasian nya

Dengan spesifikasi tersebut, bentuk ini hanya layak (feasible) untuk melayani
daerah beban yang benar-benar memerlukan tingkat keandalan dan kontinyuitas yang
tinggi, antara lain: instalasi militer, pusat sarana komunikasi dan perhubungan, rumah
sakit, dan sebagainya. Karena bentuk ini merupakan jaringan yang menghubungkan
beberapa sumber, maka bentuk jaringan NET atau jaring-jaring disebut juga jaringan
"interkoneksi".

Gambar 2.4.3 Jaringan Distribusi Tie Line

2.5 Sistem Gugus atau Sistem Kluster


Konfigurasi Gugus seperti pada Gambar 3.7. banyak digunakan untuk kota
besar yang mempunyai kerapatan beban yang tinggi. Dalam sistem ini terdapat Saklar
Pemutus Beban, dan penyulang cadangan.

Gambar 2.5.1. Konfigurasi Sistem Kluster


Dimana penyulang ini berfungsi bila ada gangguan yang terjadi pada salah satu
penyulang konsumen maka penyulang cadangan inilah yang menggantikan fungsi suplai
kekonsumen.
o Kelebihan

Keandalan baik

Kemampuan minimalisir daerah ganguan baik

Dapat suplai tambahan saat terjadi gangguan

o Kekurangan

Mahal biaya investasi

Memerlukan penyulang cadangan

Memerlukan tambahan pemutus beban

3.1 Karakteristik system penyaluran dan distribusi tenaga listrik


Secara umum, baik buruknya sistem penyaluran dan distribusi tenaga listrik terutama
adalah ditinjau dari hal-hal berikut ini:
a) Kontinyuitas Pelayanan yang baik, tidak sering terjadi pemutusan, baik karena
gangguan maupun karena hal-hal yang direncanakan. Biasanya, kontinyuitas
pelayanan terbaik diprioritaskan pada beban-beban yang dianggap vital dan sama
sekali tidak dikehendaki mengalami pemadaman, misalnya: instalasi militer, pusat
pelayanan komunikasi, rumah sakit, dll.
b) Kualitas Daya yang baik, antara lain meliputi:

kapasitas daya yang memenuhi.

tegangan yang selalu konstan dan nominal.

frekuensi yang selalu konstan (untuk sistem AC).

Catatan: Tegangan nominal di sini dapat pula diartikan kerugian tegangan yang terjadi
pada saluran relatif kecil sekali.
c) Perluasan dan Penyebaran daerah beban yang dilayani seimbang. Khususnya untuk
sistem tegangan AC 3 fasa, faktor keseimbangan/ kesimetrisan beban pada masingmasing fasa perlu diperhatikan. Bagaimana pengaruh pembebanan yang tidak
simetris pada suatu sistem distribusi, akan dibicarakan lebih lanjut dalam bagian
lain.
d) Fleksibel dalam pengembangan dan perluaan daerah beban. Perencanaan sistem
distribusi yang baik, tidak hanya bertitik tolak pada kebutuhan beban sesaat, tetapi
perlu diperhatikan pula secara teliti mengenai pengembangan beban yang harus

dilayani, bukan saja dalam hal penambahah kapasitas dayanya, tetapi juga dalam hal
perluasan daerah beban yang harus dilayani.
e) Kondisi dan Situasi Lingkungan. Faktor ini merupakan pertimbangan dalam
perencanaan untuk menentukan tipetipe atau macam system distribusi mana yang
sesuai

untuk

lingkungan

bersangkutan,

misalnya

tentang

konduktornya,

konfigurasinya, tata letaknya, dan sebagainya. Termasuk pertimbangan segi estetika


(keindahan) nya.
f) Pertimbangan Ekonomis. Faktor ini menyangkut perhitungan untung rugi ditinjau
dari segi ekonomis, baik secara komersiil maupun dalam rangka penghematan
anggaran yang tersedia.