Anda di halaman 1dari 19

Veijonen et all. Biomass Co-firing: An Efficient Way to Reduce Greenhouse Gas Emissions.

European Bioenergy Network (EUBIONET).


Biomass Co-firing: A Renewable Alternative for Utilities. National Renewable Energy
Laboratory, U.S. Department of Energy (DOE). 2000.
Abirama dan Mandolang. Torefaksi Jerami Padi dan Tandan Kosong Kelapa Sawit. Program
Studi Teknik Kimia, Institut Teknologi Bandung. 2009.

Simulasi Sistem Reaktor Torefaksi Gambut Kontinyu Skala ...


digilib.polban.ac.id ... Haryadi

25 Mei 2012 - Torefaksi adalah proses termal diaplikasikan pada material organik dioperasikan
pada suhu sedang dalam ketiadaan oksigen dan pada waktu ...

Pengembangan Sistem Reaktor Torefaksi Gambut Kontinu ...


digilib.polban.ac.id ... Haryadi

7 Agt 2012 - Torefaksi adalah proses termal diaplikasikan pada material organik dioperasikan
pada suhu sedang dalam ketiadaan oksigen dan pada waktu ...

Simulasi Perangkat Lunak Aspen Sistem Torefaksi Gambut ...


digilib.polban.ac.id ... Haryadi

7 Agt 2012 - Torefaksi adalah proses termal diaplikasikan pada material organik ...
sedang dalam ketiadaan oksigen dan pada waktu tinggal yang relatif lama, ... Sistem ini terdiri
dari pengering, sebuah reaktor torefaksi, pendingin dan ...

Aryadi Suwono, Amrul, Toto Hardianto, Ari Darmawan Pasek, Solid Fuel
from Torrefied Municipial Solid Waste, Renewable Energy 2010
Proceedings, Advanced Technology Paths to Global Sustainability,
Yokohama, Jepang, 27 June - 2 July 2010., Yokohama, Jepang, 2010
Haryadi, Aryadi Suwono, Toto Hardianto, Ari Darmawan Pasek, Desain
Dasar Sistem Reaktor Torefaksi Tandan Kosong Kelapa Sawit Skala
Industri Kecil (4600 kg/jam), Seminar Nasional 2009, Ketahanan
Lingkungan Hidup dengan Penggunaan Energi Alternatif, Polban,
Bandung, 5 Desember 2009., Bandung, Indonesia, 2009
Haryadi, Aryadi Suwono, Toto Hardianto, Ari Darmawan
Pasek, Peningkatan Nilai Kalor Gambut sebagai Bahan Bakar Padat
melalui Proses Torefaksi, Proceeding Seminar Nasional Dies Emas,
Pengembangan Kebijakan, Manajemen, dan Teknologi di Bidang Energi
dan Lingkungan, Bandung, 4-5 Maret 2009., Bandung, Indonesia,
2009

Haryadi, Toto Hardianto, Ari Darmawan Pasek, Aryadi Suwono, Riza


Azhari, Willy Adriansyah, The AspenTM Software Simulation of a Peat
Torrefaction System Using RYield and SSplit Block as Reactor Model,
Proceedings of International Symposium on Sustainable Energy and
Environmental Protection (ISSEEP) 2009., Yogyakarta, Indonesia,
2009

Haryadi, Aryadi Suwono, Toto Hardianto, Ari Darmawan


Pasek, Pemodelan Kinetika Reaksi Dekomposisi pada Proses Torefaksi
Gambut, Jurnal Ilmiah Sains dan Teknologi, ISSN : 1410-2919, Vol 9
No.1 : 35-43, Terakredtasi Dikti No : 83/DIKTI/Kep/2009, ITS,,
Surabaya, Indonesia, 2011
M.I.A. Abidin, Zaki Suud, Ari Darmawan Pasek, Source Term Analysis of
Small Long-Life without Refueling 420 MWt PWR during Loss of
Coolant Accident (LOCA) , Indonesian Journal of Physics (IJP) Vol. 21
No.3,Page 89-92, July 2010, Bandung, Indonesia, 2010
Yuli Setyo Indartono, Aryadi Suwono, Ari Darmawan Pasek, Didin
Mujahidin, Irfansyah Rizal, Thermal Characteristics Evaluation of
Vegetables Oil to be Used as Phase Change Material in Air Conditioning
System, Proceedings of the 5th International Conference on Cooling and
Heating Technologies, 9-11 Desember ICCHT 2010, Bandung,
Indonesia, 2010

Mengapa Melakukan Optimasi?


Mengapa engineer tertarik pada optimasi? Apa manfaat menggunakan metode optimasi
dibandingkan membuat keputusan secara intuitif? Engineer bekerja untuk meningkatkan desain
awal peralatan dan berusaha untuk meningkatkan operasi peralatan yang telah diinstal sehingga
dapat mewujudkan produktivitas yang terbesar, keuntungan terbesar, biaya yang minimal,
penggunaan energi yang paling sedikit, dan seterusnya. Nilai keuangan memberikan ukuran yang
nyaman bagi tujuan yang berbeda tetapi sebaliknya tidak kompatibel, tetapi tidak semua
masalah harus dipertimbangkan dalam kerangka (biaya versus pendapatan) keuangan.

Pada operasi pabrik, manfaat timbul dari kinerja pabrik yang meningkat, seperti meningkatkan
hasil dari produk yang berharga (atau mengurangi kontaminan produk), pemakaian energi yang
menurun, laju produksi yang lebih tinggi, dan waktu yang lebih lama dantara shutdowns.
Optimasi juga dapat mengarah ke biaya pemeliharaan yang dapat berkurang, pemakaian alat
yang berkurang, dan pemanfaatan/pemberdayaan staf yang lebih baik. Selain itu, manfaat tak
berwujud timbul dari interaksi antar operator pabrik, insinyur, dan manajemen. Hal ini sangat
membantu untuk secara sistematis mengidentifikasi tujuan, kendala, dan derajat kebebasan
dalam proses atau pabrik, yang mengarah pada manfaat seperti peningkatan kualitas desain, dan
pemecahan masalah yang lebih tepat dan dapat lebih diandalkan, dan pengambilan keputusan
yang lebih cepat.
Ruang Lingkup dan Hirarki Optimisasi
Optimasi dapat dilakukan pada berbagai tingkatan dalam sebuah perusahaan, mulai dari
kombinasi pabrik yang kompleks dan fasilitas distribusinya, turun menjadi pabrik tunggal dari
kombinasi unit proses, peralatan tunggal, subsistem dalam sebuah masalah, optimasi dapat
ditemukan di semua tingkatan ini. Dengan demikian, ruang lingkup masalah optimasi bisa
seluruh perusahaan, pabrik, proses, sebuah unit operasi tunggal, peralatan tunggal dalam operasi,
atau sistem intermediate diantaranya. Kompleksitas analisis mungkin hanya melibatkan fitur
sementara atau mungkin memeriksa secara detail, tergantung pada penggunaan yang hasilnya
akan dimasukkan, ketersediaan data yang akurat, dan waktu yang tersedia untuk melaksanakan
optimasi. Dalam perusahaan industri yang khas optimasi dapat digunakan di tiga wilayah
(tingkat): (1) manajemen, (2) desain proses dan spesifikasi peralatan, dan (3) operasi pabrik
(Lihat gambar di bawah).
Gambar 1. Hirarki level Optimasi
Manajemen membuat keputusan evaluasi proyek mengenai pemilihan produk, anggaran
perusahaan, investasi dalam penjualan dibandingkan penelitian dan pengembangan, dan
konstruksi pabrik baru (yaitu, kapan dan di mana harus dibangun pabrik baru). Pada tingkat ini
banyaknya informasi yang tersedia mungkin kualitatif atau memiliki derajat ketidakpastian
tinggi. Banyak keputusan manajemen untuk mengoptimalkan beberapa fitur perusahaan besar
yang karena itu perusahaan memiliki potensi kesalahan secara signifikan ketika dimasukkan ke

wilayah praktek, terutama jika waktu yang salah. Secara umum, besarnya fungsi tujuan, yang
diukur dalam satuan uang, jauh lebih besar di tingkat manajemen dari pada dua tingkat lainnya.
Individu-individu yang terlibat dalam desain proses dan spesifikasi peralatan memberikan
perhatian pada pilihan proses dan kondisi operasi nominal. Mereka menjawab pertanyaan
seperti: Apakah kita merancang sebuah proses batch atau proses kontinyu? Berapa banyak
reaktor yang digunakan dalam memproduksi produk-produk kimia? Harus seperti apa
konfigurasi pabrik, dan bagaimana kita mengatur proses sehingga efisiensi operasi pabrik berada
pada kondisi maksimum? Apa ukuran optimal dari unit atau kombinasi unit? Pertanyaan tersebut
dapat diselesaikan dengan bantuan dengan apa yang disebut simulator proses desain atau
program flowsheeting. Program-program komputer yang besar ini dapat melaksanakan
perhitungan neraca massa dan energi dari peralatan tunggal dan menggabungkan mereka ke
dalam sebuah unit produksi secara keseluruhan. Penggunaan secara berulang simulator tersebut
sering diperlukan untuk sampai pada flowsheet proses diinginkan. Hal lainnya, keputusan yang
lebih spesifik dapat dibuat dalam desain proses, termasuk pilihan peralatan yang sebenarnya
(misalnya, lebih dari sepuluh jenis alat penukar panas tersedia) dan pemilihan bahan kontruksi
unit berbagai peralatan proses.
Pekerjaan optimasi bagian ketiga beroperasi pada skala waktu yang sama sekali berbeda
dibandingkan dengan dua lainnya. Desain proses dan spesifikasi peralatan biasanya dilakukan
sebelum pelaksanaan proses, dan keputusan manajemen untuk menerapkan desain biasanya
dibuat jauh sebelum langkah desain proses. Di sisi lain, optimasi kondisi operasi dilakukan
secara bulanan, mingguan, harian, jam, atau bahkan pada setiap menit. Operasi pabrik
memberikan perhatian pada kontrol operasi untuk unit tertentu pada suhu tertentu, tekanan, atau
flowrates yang terbaik. Sebagai contoh, seleksi persentase udara berlebih dalam suatu pemanas
adalah proses kritis dan melibatkan keseimbangan rasio bahan bakar-udara untuk menjamin
pembakaran sempurna yang membuat penggunaan potensi pemanasan bahan bakar yang
maksimal.
https://herirustamaji.wordpress.com/2012/01/07/mengapa-melakukan-optimasi/#more-234
Hukum Dasar Termodinamika
1. Temperatur

Seperti diketahui bahwa temperatur merupakan salah satu properti sistem yang telah dikenal luas
penggunaannya, akan tetapi agak sukar untuk mendefinisikannya, oleh karenanya definisi
tentang temperatur akan lebih baik diberikan dalam suatu fenomena saja. pertama kita menyadari
adanya temperatur (suhu) sebagai perasaan panas atau dingin bila kita menyentuh suatu benda.
Demikian juga apabila dua buah benda, yang satu panas dan yang satu dingin, disentuhkan satu
sama lain, maka benda yang panas akan mendingin, dan yang dingin akan menjadi panas,
sehingga pada suatu waktu, keduanya akan memiliki rasa panas atau dingin yang sama.
Sebenarnya yang terjadi adalah kedua benda tersebut mengalami perubahan sifat, dan pada
waktu proses perubahan ini berhenti, kedua benda berada dalam keadaan kesetimbangan thermal.
Jadi dua sistem yang berada dalam kesetimbangan thermal mempunyai sifat yang sama, sifat ini
disebut temperatur (suhu). Dengan kata lain, temperatur dari suatu benda adalah suatu indikator
dari keadaan panas yang dimiliki-nya didasari kepada kemampuan benda tersebut untuk
mentransfer panas ke benda lain. Hukum dasar yang mendasari pengukuran suhu dikenal
dengan hukum thermodinamika ke-nol. Hukum thermodinamika ke-nol menyatakan bahwa
apabila dua buah benda masing-masing berada dalam keadaan kesetimbangan thermal dengan
benda yang ketiga, maka kedua benda ini berada dalam kesetimbangan termal satu sama lain,
artinya, suhu kedua benda tersebut adalah sama. Skala untuk menentukan besar kecilnya
temperatur yang sudah dikenal adalah Fahrenheit, Celcius, Kelvin dan Rankine. Untuk melihat
perbedaan skala dari ke empat skala tersebut, bisa dilihat pada gambar berikut
ini

Gambar 1. Skema Perbandingan Temperatur


Jelas terlihat bahwa satu satuan derajat (satuan perbedaan temperatur) adalah tidak sama untuk
Kelvin-Celcius dengan Rankine-Fahrenheit, atau dengan kata lain bisa di buat :
(1)
(2)
dan dari nilai skala seperti pada Gambar 1, diperoleh perbandingan :

dan

(3)

dari penjelasan tersebut, maka dapat diperoleh relasi antara Rankine dengan Fahrenheit dan
relasi antara Celcius dengan Kelvin seperti berikut ini.

(4)

(5)
2. Tekanan

Tekanan secara matematis dapat diefinisikan seperti berikut ini :


P=Fn/A

(6)

Fn = Komponen Gaya Normal tegak lurus A


A

= Luas penampang Lintang

Agar lebih mudah dipahami, perhatikan Gambar 2 berikut ini.

Untuk gas dan cairan, istilah tekanan sering digunakan, tetapi untuk zat
padat, lebih sering digunakan istilah tegangan. Tekanan pada tiap titik dalam fluida yang diam
besarnya sama ke segala arah dan tekanan didefinisikan sebagai komponen gaya yang tegak
lurus pada suatu bidang per satuan luas. Tekanan P pada suatu titik di dalam fluida yang berada
dalam kesetimbangan besarnya sama ke segala arah, akan tetapi untuk zat cair yang pekat dan
dalam keadaan bergerak, variasi tekanan terhadap kedudukan bidang datumnya merupakan suatu
hal yang penting dan perlu pembahasan khusus di luar thermodinamika. Dalam thermodinamika
klasik, umumnya diperhatikan tekanan fluida dalam keadaan setimbang.
Dalam berbagai penggunaan, umumnya digunakan istilah tekanan absolut, yaitu tekanan yang
dimiliki oleh sistem pada batas sistem. Istilah absolut digunakan untuk membedakannya dari
tekanan relatif (pressure gauge), karena dalam praktek, pengukur tekanan dan pegukur
kevakuman menyatakan perbedaan antara tekanan absolut dan tekanan atmosfer. Untuk

memperoleh tekanan absolut, maka tekanan atmosfer harus ditambahkan pada pembacaan
tekanan relatif, jadi :
Pabsolut = Prelatif + Patmosfer

(7)

Persamaan (7) ini digunakan untuk tekanan di atas tekanan atmosfer. Untuk tekanan di bawah
tekanan atmosfer, maka tekanan relatif menjadi negatif, dan umumnya disebut tekanan vakum
sebesar harga tekanan relatif tersebut. Jadi tekanan relatif sebesar 10 atm disebut vakum sebesar
10 atm. Hubungan antara tekanan absolut, tekanan relatif, tekanan atmosfer, dan vakum
dinyatakan secara grafis dalam Gambar 3 berikut ini

Gambar 3. Skema Perbandingan Tekanan


3. Hukum-Hukum Dasar Thermodinamika
Di dalam mempelajari thermodinamika akan selalu megacu kepada hukum-hukum dasar
thermodinamika yang ada. Ada tiga hukum yang sangat penting, yaitu hukum thermodinamika
pertama, kedua dan ketiga. Ketiga hukum ini bersama-sama dengan hukum thermodinamika ke
nol membentuk suatu dasar yang membangun pengetahuan thermodinamika. Hukum-hukum ini
bukanlah dalil (teorema) dalam pengertian dapat dibuktikan, tetapi sebenarnya adalah postulat
yang berdasarkan kenyataan eksperimental. Seperti halnya hukum thermodinamika pertama,
suatu eksperimental telah dilakukan Joule (1840-1878) sebagai suatu perwujudan dan

pembuktian dari hukum pertama tersebut. Dalam buku thermodinamika bagian pertama ini hanya
dibahas hukum pertama dan kedua saja.
3.1 Hukum Thermodinamika I dan Formulasinya
Hukum I Thermodinamika menerangkan tentang prinsip konservasi energi yang menyatakan
bahwa, energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, namun demikian energi tersebut dapat
diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain menjadi kerja misalnya. Dari konsep ini, dapat
dikatakan bahwa energi dapat diubah menjadi kerja dan juga kerja dapat diubah menjadi energi.
Dalam kaitan dengan Thermodinamika salah satu bentuk dari energi yang dimaksud adalah
Panas (Heat), dan kerja (Work).
Ditinjau suatu sistem tertutup, persamaan energi di peroleh dari penyusunan Neraca Energi untuk
sistem tertutup tersebut, yaitu seperti berikut :

(8)

(9)
Keterangan :

= Panas yang berpindah dari atau ke sistem ( Qin Qout )


W

= Kerja dalam berbagai bentuk ( Wout Win )


= Perubahan Energi total dari sistem, ( E2 E1 )

Perubahan Energi total


potensial

dinyatakan sebagai jumlah dari perubahan energi dalam

, dan energi kinetik

, energi

pada suatu sistem, maka persamaan (9) dapat ditulis

dalam bentuk :
(10)

Keterangan :

kebanyakan sistem tertutup adalah stasioner sehingga perubahan energi kinetik dan potensial
dapat diabaikan, persamaan (10) menjadi :
(11)
Telah menjadi suatu kesepakatan umum, bahwa tanda + dan dari nilai Q dan W adalah
seperti berikut ini.

Gambar 4. Sistem tertutup dan notasi kerja dan panas


Untuk menghitung nilai Kerja (W) dari suatu proses pada sistem tertutup ini, akan diilustrasikan
dari pergerakan piston di dalam sebuah silinder, seperti gambar berikut ini.

Gambar 5. Silinder Piston

Menurut Hukum thermodinamika pertama, energi dalam

dari sistem akan berubah bila

sistem akan berubah bila sistem tersebut menerima kerja atau melepaskan panas. Dari gambar
diatas dapat dikatakan bahwa bila piston ditekan dengan tekanan tertentu secara konstan, maka
volume cairan akan berubah sampai suatu saat sistem tersebut diberikan sejumlah kalor (panas)
sehingga cairan tersebut kembali mengekspansi sampai ke keadaan semula. Akhirnya satu siklus
proses tadi dapat dikatakan reversibel pada tekanan tetap dan volume tetap. Dalam bentuk
formulasi matematisnya dapat dinyatakan sebagai berikut.
Kerja (W) = Gaya (F) x Jarak perpindahan (L)

(12)

Untuk Gambar 5 tersebut, Gaya (F) = P x A, dimana A adalah luas penampang lintang piston
yang bekerja pada cairan, dengan demikian kerja (W) dapat ditulis sebagai :
(13)
Atau

(14)

Untuk perubahan volume yang sangat kecil (dV), maka persamaan (14) dapat ditulis sebagai :
dW = P dV

(15)

integrasi persamaan (15) akan menghasilkan :

(16)
Contoh (1):
Sebuah tangki berisi air panas yang akan didinginkan dengan cara mengaduk-aduk air panas
tersebut dengan pengaduk. Mula-mula energi dalam dari fluida adalah 800 kJ. Selama proses
pendinginan, fluida kehilangan panas sebesar 500 kJ, dan pengaduk melakukan kerja terhadap
fluida sebesar 100 kJ.Tentukan nilai energi dalam akhir.
Penyelesaian :

Persoalan tersebut digambarkan seperti berikut ini :

Gambar 6. Ilustrasi sistem


Analisis :
Terlihat bahwa tidak ada massa yang berpindah, sehingga sistem yang dimaksud adalah sistem
tertutup atau non flow system. Tidak ada pergerakan sistem dan sistem dianggap stasioner,
sehingga DEp dan DEk sama dengan nol, maka digunakan persamaan (2-11) :

= U2 U1
dengan mengacu pada tanda + dan terhadap sistem, maka diperoleh :
-500 kJ (-100 kJ) = U2 800 kJ
U2 = 400 kJ
2.3.2

Enthalpi

Secara eksplisit, enthalpi didefinisikan dalam bentuk persamaan matematis seperti berikut ;
H = U + PV
keterangan : H = enthalpi

(17)

P = tekanan absolut
V = volume
semua variabel yang ada dipersamaan (17) harus mempunyai satuan yang sama. Hasil kali P
dengan V mempunyai satuan energi, demikian juga dengan U. Oleh karena U, P dan V adalah
fungsi keadaan (state functions), bentuk differensial dari persamaan (17) dapat ditulis sebagai :
dH = dU + d(PV)

(18)

persamaan (18) ini digunakan apabila adanya suatu perubahan differensial pada suatu sistem.
Integrasi persamaan (18) akan menghasilkan :
(19)
enthalpi sebagai salah satu properti thermodinamika, sangat berguna dalam banyak pemakaian,
terutama pada persoalan-persoalan yang melibatkan proses alir yang seringkali memunculkan
suku-suku U dan PV.
Contoh (2) :
Hitunglah

dan

untuk 1 kg air, apabila aitr tersebut diuapkan pada temperatur konstan

100 oC dan tekanan konstan 101.325 kPa. Volume spesifik air dalam fasa cair dan volume
spesifik air dalam fasa uapnya masing-masing adalah 0.00104 dan 1.673 m3/kg. Pada proses ini,
panas sebesar 2256 kJ diberikan kepada air sehingga penguapan dapat berlangsung.
Penyelesaian :
Analisis : air sebanyak satu kilogram ditetapkan sebagai sistem. Dimisalkan air tersebut
ditempatkan di dalam sebuah silinder tabung yang bertekanan 101.325 kPa. Begitu panas
diberikan, air akan mengekspansi dari volume mula-mula ke volume akhir, kerja yang diberikan
oleh air kepada piston, dihitung menurut persamaan (2-16), yang hasil integrasinya adalah :
W = P (V2 V1)
V2 adalah volume uap air di dalam silinder, besarnya :

(A)

= Massa air didalam tangki (volume spesifik cairan air)


= 1 kg (1.673 m3/kg)
= 1.673 m3.
V1 adalah volume air di dalam silinder, besarnya :
= Massa air didalam tangki (volume spesifik uap air)
= 1 kg (0.00104 m3/kg)
= 0.00104 m3.
Substitusikan harga-harga tersebut ke dalam persamaan (A), sehingga diperoleh :
W = (101.325 kPa) (1.673 0.00104) m3
W = 169.4 kPa = 169.4 kJ.
Selanjutnya nilai

dapat dihitung dari persamaan (11).

= 2256.9 169.4 = 2087.5 kJ


sedangkan

, dihitung dari persamaan (19), dengan catatan bahwa tekanan selama proses

berlangsung adalah tetap, hasilnya adalah :

+W

= 2087.5 kJ + 169.4 kJ = 2256.9 kJ


3.3

Proses Alir ( Flow-System) Steady-state

Untuk kebanyakan proses dalam industri, analisis terhadap proses alir steady-state sering
dijumpai, terutama pada peristiwa mengalirnya fluida di dalam suatu peralatan. Analisis dan
perhitungan yang dilakukan terhadap peristiwa demikian tetap akan didasari pada hukum
thermodinamika pertama dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan yang ada. Istilah steadystate dalam hal ini berkaitan dengan berlangsungnya suatu proses tidak tergantung kepada waktu
atau dengan kata lain, tidak terjadi akumulasi massa dan energi dari suatu sistem yang ditinjau.
Sebagai dasar dari perhitungan proses alir ini, disusunlah suatu persamaan kontinuitas.
Persamaan kontinuitas menggambarkan suatu hubungan tekanan, kecepatan aliran, dan luas
penampang aliran dari titik inlet ke titik outlet tanpa melalui suatu sistem peralatan proses.
Berikut ini akan diturunkan persamaan kontinuitas untuk suatu aliran satu dimensi. Sebagai
Illustrasi perhatikan

Gambar 7.

Gambar 7. Aliran melalui Potongan Tabung


Apabila proses mengalirnya fluida di dalam tabung tersebut berlangsung secara steady-state,
maka massa fluida yang mengalir melalui tiap penampang harus sama, dengan kata lain :
(20)
atau

(21)

Persamaan (21) dikenal sebagai Persamaan Kontinuitas untuk aliran satu dimensi. Dengan
menggunakan differensial Logaritmik, diperoleh bentuk :

(22)

Persamaan kontinuitas adalah pernyataan matematik dari prinsip kekekalan massa, dan bersamasama dengan persamaan energi sebelumnya, sangat membantu penyelesaian soal-soal
keteknikan.
Untuk memudahkan dalam mendapatkan bentuk umum dari persamaan energi proses alir,
Pertimbangkan suatu proses alir seperti pada Gambar 8 berikut.

Gambar 8. Proses Alir Steady-state


Suatu fluida mengalir melalui peralatan-peralatan seperti tersebut pada gambar, dari titik inlet
(1) ke titik outlet (2). Pada titik inlet (1) kondisi fluida ditandai dengan subskrip 1. Pada
titik ini pula fluida berada pada ketinggian z1 dari bidang datumnya, dengan kecepatan v1,
memiliki volume spesifik v1, tekanan P1 dan energi dalam (U1). Dengan cara yang sama, untuk
titik outlet ditandai dengan subskrip 2. Sistem dianalisis dalam besaran per satuan massa fluida.
Perubahan energi per satuan massa untuk sistem tersebut melibatkan perubahan energi kinetik,
potensial dan energi dalamnya seperti pada persamaan (10).

Keterangan :

sehingga secara umum, persamaan energi untuk proses alir steady-state dapat ditulis sebagai :
m(u2 u1) + 1/2 m(u22 u12)+ mg(z2 z1) = Q W

(23)

W pada persamaan (23) menyatakan semua kerja yang dilakukan oleh fluida, dan nila kerja (W)
tesebut merupakan jumlah dari Kerja Poros (Shaft Work, Ws) dan Kerja hasil kali PV dari fluida
yang mengalir. Yang dimaksud dengan kerja poros (Ws) adalah kerja yang yang dilakukan atau
diterima oleh fluida yang mengalir melalui suatu peralatan sehingga dihasilkan suatu kerja
mekanik (misalnya dapat memutar suatu poros atau menggerakan baling-baling pada turbin dan
banyak lagi lainnya). Secara matematis dapat dituliskan :
W = Ws + P2V2 P1V1

(24)

selanjutnya substitusikan persamaan (24) ke dalam persamaan (23), sehingga diperoleh :


m(u2 u1) + 1/2 m(u22 u12)+ mg(z2 z1) = Q [Ws + P2V2 P1V1]

(25)

diketahui bahwa, V2 = mv2 dan V1 = mv1, dengan menyusun kembali persamaan (2-23) akan
diperoleh :
m[(u2 + P2V2) (U1 + P1V1)] + mg(z2 z1) = Q Ws

(26)

oleh karena h = u + P V, maka persamaan (24) menjadi :


m(h2 h1) + 1/2 m(u22 u12)+ mg(z2 z1) = Q Ws

atau

(27)

(28)

Persamaan (28) merupakan persamaan umum proses alir steady-state.


Untuk kebanyakan pemakaian di dalam thermodinamika, perubahan energi kinetik dan
energi potensial aliran relatif lebih kecil (sering diabaikan) jika dibandingkan dengan energi
bentuk lainnya, sehingga persamaan (28) menjadi :
,
atau
(29)
dalam hal ini, diketahui bahwa enthapi (h) adalah fungsi keadaan, sehingga ia punyai nilai
tertentu pada kondisi P dan T tertentu pula, untuk itu sering juga nilai enthalpi ini dapat dilihat
pada Tabel-tabel data thermodinamika untuk zat-zat murni tertentu.
Contoh 3 :
Udara pada tekanan 1 bar dan 25 oC memasuki sebuah kompressor dengan kecepatan rendah,
tekanan keluar kompressor adalah 3 bar, untuk selanjutnya melewati sebuah nozel, dimana udara
tersebut akan terekspansi sehingga kecepatannya menjadi 600 m/det dimana udara kembali pada
tekanan 1 bar dan 25 oC seperti semula. Jika pada saat kompressi terjadi adalah 240 kJ per
kilogram udara, berapa banyak panas yang dipindahkankan selama proses kompressi tersebut
berlangsung ?
Penyelesaian :
Analisis : oleh karena kondisi udara keluar sama dengan kondisi udara masuk,
maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perubahan enthalpi dari udara. Selanjut perubahan
energi kinetik mula-mula (pada titik inlet) dapat dianggap kecil sekali. Abaikan juga perubahan
energi potensial baik pada titik inlet maupun titik outletnya, sehingga persamaan (28) menjadi :
Q = 1/2 m(u22 )+ Ws

(A)

Karena m tidak diketahui, maka persamaan (A) dinyatakan dalam bentuk per
satuan massa.

Q = 180 kJ/kg 240 kJ/kg = -60 kJ/kg.