Anda di halaman 1dari 13

EKSTENSIFIKASI BARANG KENA CUKAI PADA

MINUMAN RINGAN BERKARBONASI: SEBUAH KAJIAN


Melza Nofa
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Tangerang Selatan
melza.melfia@gmail.com
Abstrak Dalam rangka mewujudkan tujuan bernegara, pemerintah terus berusaha untuk memaksimalkan
pendapatan negara di segala bidang, baik melalui sektor penerimaan perpajakan maupun sektor penerimaan
lainnya. Namun, penerimaan yang sudah ada tidak cukup untuk membiayai semua pengeluaran pemerintah.
Oleh karena itu, diperlukan alternatif solusi lain untuk mengoptimalkan penerimaan negara, salah satu
kebijakan yang direncanakan pemerintah adalah penambahan barang kena cukai baru, yaitu terhadap
minuman berkarbonasi. Pemerintah memilih cukai karena cukai dapat menyumbang penerimaan yang cukup
besar karena adanya keunggulan karakteristik dasar cukai, yaitu adanya administrasi yang relatif sangat
mudah dan sistem pengawasan yang efektif, baik dengan cara physical control maupun audit pembukuan,
sehingga kebocoran penerimaan negara dapat ditekan sekecil mungkin. Selain itu, dibandingkan dengan
negara-negara lainnya, dalam pengenaan cukai Indonesia masih tergolong dalam negara yang extremely
narrow coverage, karena hanya mengenakan cukai pada tiga jenis barang, yaitu etil alkohol, Minuman
Mengandung Etil Alkohol (MMEA), dan hasil tembakau. Pilihan ekstensifikasi terhadapminuman berkarbonasi
dikarenakan minuman berkarbonasi saat ini sudah berkembang bahkan cenderung berlebihan sehingga
diajukan sebagai barang yang konsumsinya perlu dikendalikan dan menimbulkan dampak negatif khususnya
terhadap kesehatan. Selain itu, pemerintah memperkirakan, jika minuman bersoda jadi dikenai cukai,
pemerintah berpotensi menerima pendapatan tambahan sebesar Rp 2,7 triliun. Walaupun demikian, rencana ini
banyak menimbulkan kontra baik oleh pelaku industri, pengamat ekonomi, bahkan oleh pihak Kemenperin
sebagai pembina kelompok industri Indonesia. Secara umum, diperkirakan sebanyak kurang lebih 2,5 juta
pelaku usaha terancam kehilangan omzet penjualannya karena volume penjualan berkurang terkait dengan
rencana pemerintah yang akan menerapkan cukai untuk minuman berkarbonasi karena dianggap
membahayakan bagi kesehatan. Dari pengalaman negara lain, diketahui bahwa pemerintah Denmark sudah
menerapkan cukai terhadap minuman ringan berkarbonasi sejak tahun 1930. Namun kebijakan tersebut
dihapuskan 83 tahun kemudian karena dinilai merugikan ekonomi nasional. Di negara bagian Amerika Serikat,
cukai bukanlah kebijakan yang ditetapkan pemerintah untuk melakukan pembatasan terhadap minuman
berkarbonasi, namun kebijakan yang diterapkan adalah pajak untuk minuman berkarbonasi serta larangan
konsumsi minuman berkarbonasi dalam jumlah tertentu. Oleh karena itu banyak pihak menyarankan agar
rencana kebijakan pengenaan cukai terhadap minuman berkarbonasi masih harus ditinjau kembali oleh
pemerintah.
Kata Kunci : Pendapatan Negara, Kebijakan Pemerintah, Ekstensifikasi, Cukai, Minuman Berkarbonasi
1
1

PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Usaha-usaha untuk mewujudkan tujuan bernegara terus dilaksanakan pemerintah secara
berkesinambungan. Investasi terus digalakkan pemerintah, baik di sektor industri maupun di sektor jasa, yang
kesemuanya itu tentu saja memerlukan dana yang tidak sedikit. Dilain pihak, tabungan pemerintah yang berasal
dari surplus anggaran sebagai andalan pembiayaan pembangunan dari dalam negeri, sampai saat ini masih
belum mampu menutup keseluruhan dana yang diperlukan dalam investasi tersebut. Hal itulah yang
menyebabkan pemerintah berusaha untuk meningkatkan penerimaan negara, terutama penerimaan yang berasal
dari dalam negeri baik dari sektor perpajakan maupun dari sektor penerimaan lain.
Dibidang perpajakan, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP) telah melaksanakan
ekstensifikasi dan intensifikasi guna meningkatkan penerimaan perpajakan tersebut. Namun harus diakui, bahwa
penerimaan perpajakan melalui DJP, sampai saat ini masih belum mampu menutup seluruh biaya yang
diperlukan untuk membiayai semua pengeluaran pemerintah. Oleh karena itu diperlukan alternatif solusi lain
untuk mengoptimalkan penerimaan negara.
Salah satu rencana yang sedang dibahas oleh pemerintah adalah mengenai peningkatan penerimaan negara
dari ekstensifikasi sektor cukai yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJPB). Hal ini
sebenarnya sudah pernah menjadi pembahasan pemerintah sejak tahun 2001-2002 yang lalu, namun gagal
diimplementasikan karena dianggap tidak relevan dengan tujuan cukai yang sebenarnya. Beberapa komoditas
yang menjadi target saat itu adalah mobil mewah, semen, ban, minuman soda, sabun, detergen, air mineral,
sodium siklamat dan sakarin, gas alam, metanol, kayu lapis, bahan bakar minyak (BBM) dan baterai kering,
termasuk aki. Dari kajian yang telah dilakukan terhadap barang tersebut, dengan pertimbangan potensi, stabilitas

dan fleksibelitas penerimaan cukainya pemerintah menetapkan tiga jenis barang yang diprioritaskan untuk
dikenakan cukai yaitu semen, minuman ringan, dan ban. Namun saat ini, rencana tersebut kembali muncul ke
permukaan, terutama mengenai cukai terhadap minuman berkarbonasi. Selain untuk membatasi pemakaian oleh
masyarakat, kebijakan ini tentu memiliki tujuan untuk meningkatkan penerimaan negara.
2

Maksud dan Tujuan Penelitian


Adapun maksud dan tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran cukai di Indonesia, dasar
pertimbangan ekstensifikasi barang kena cukai minuman berkarbonasi, serta potensi peningkatan penerimaan
negara dari ekstensifikasi barang kena cukai minuman berkarbonasi. Selain itu penelitian ini juga akan
membahas mengenai kontra ekstensifikasi barang kena cukai minuman berkarbonasi di tengah-tengah
masyarakat pelaku industri dan pakar ekonomi, serta tinjauan pelaksanaan cukai terhadap minuman
berkarbonasi di beberapa negara lain.
2
1

LANDASAN TEORI
Pendapatan Negara
Pendapatan Negara adalah jumlah seluruh pendapatan yang diterima yang akan digunakan negara untuk
membiayai semua kebutuhannya. Pendapatan Negara juga disebut sebagai Pendapatan Pemerintah, pendapatan
ini sangat berpengaruh bagi keberhasilan proses pembangunan nasional. Di Indonesia, Pendapatan Negara
berasal dari dalam negeri maupun luar negeri baik dari penerimaan pajak dan penerimaan bukan pajak.
Pengertian pajak secara umum adalah iuran wajib dari penduduk kepada negara berdasarkan undangundang yang pelaksanaannya dapat dipaksakan tanpa mendapat imbalan secara langsung yang hasilnya
digunakan untuk menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan nasional. Menurut Mardiasmo (2002:1),
pajak adalah iuran rakyat kepada negara berdasarkan Undang-Undang (yang dapat di paksakan) dengan tiada
mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar
pengeluaran umum. Sedangkan menurut Remsky K. Judisseno (1997:5), pajak adalah suatu kewajiban
kenegaraan dan pengabdiaan peran aktif warga negara dan anggota masyarakat lainnya untuk membiayai
berbagai keperluan negara berupa pembangunan nasional yang pelaksanaannya diatur dalam Undang-Undang
dan peraturan-peraturan untuk tujuan kesejahteraan dan negara. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
pajak ialah iuran rakyat kepada negara (peralihan kekayaan dari sektor swasta ke sektor publik) berdasarkan
undang-undang yang dapat dipaksakan dengan tidak mendapat imbalan yang secara langsung dapat ditunjukan,
yang digunakan sebagai alat pendorong, penghambat atau pencegah untuk mencapai tujuan yang ada dalam
bidang keuangan negara.
Adapun penerimaan pajak yang merupakan pendapatan pajak dalam negeri terdiri dari: pendapatan pajak
penghasilan; pendapatan pajak pertambahan nilai dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah; pendapatan
pajak bumi dan bangunan; pendapatan cukai; dan pendapatan pajak lainnya. Sedangkan pendapatan pajak
internasional terdiri dari pendapatan bea masuk dan pendapatan bea keluar.
Menurut UU Nomor 20 tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak, PNBP adalah seluruh
penerimaan Pemerintah Pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. Dari sektor PNBP ini, pendapatan
negara bersumber dari: penerimaan Sumber Daya Alam (SDA); penerimaan SDA minyak bumi dan gas bumi;
pendapatan bagian laba BUMN; PNBP lainnya; pendapatan Badan Layanan Umum; dan Pemanfaatan SDA.
2

Kebijakan Pendapatan Negara


Kebijakan pendapatan negara merupakan langkah dan cara yang dilakukan oleh pemerintah untuk
mengatur sumber-sumber pendapatan negara agar dapat digunakan untuk memenuhi semua kebutuhannya. Di
Indonesia, kebijakan pendapatan negara disesuaikan setiap tahun bertolak ukur dari ketetapan penerimaan yang
tercakup dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Secara umum, kebijakan pendapatan negara
dibagi atas kebijakan pendapatan pajak yang juga meliputi kebijakan penerimaan bea dan cukai dan kebijakan
pendapatan non pajak. Dalam pelaksanaannya, kebijakan pendapatan pajak meliputi kebijakan administratif
perpajakan dan kebijakan optimalisasi penerimaan pajak, sedangkan kebijakan penerimaan non pajak meliputi
kebijakan administratif PNBP dan kebijakan optimalisasi penerimaan PNBP.
Dalam periode 2008-2012, kebijakan umum penerimaan perpajakan lebih diarahkan kepada
penyempurnaan kebijakan dan administrasi perpajakan (tax policy and administration reform) melalui reformasi
administrasi perpajakan, reformasi peraturan dan perundang-undangan, dan reformasi pengawasan dan
penggalian potensi. Sedangkan untuk penerimaan non pajak, pemerintah terus berupaya untuk mengoptimalkan
PNBP yang berasal dari SDA, optimalisasi PNBP lainnya, dan pendapatan BLU.
3

Cukai dan Barang Kena Cukai


Pajak yang dikenakan pada barang-barang tertentu, atau yang kita kenal sebagai cukai, merupakan salah
satu bentuk pajak yang tertua di dunia. Menurut Sijbren Cnossen, pakar cukai dunia, pada masa pemerintahan
Maurya (321-185 SM) di India, sudah ada cukai yang dikenakan pada garam dan arak. Dinasti Han (206 SM-

220) di Cina juga telah mengenakan cukai pada teh, arak, dan ikan. Pada abad pertengahan (abad ke-5 sampai
ke-15), Eropa juga memberlakukan cukai untuk emas putih pada saat itu, yaitu garam.
Sedangkan sejarah cukai modern bermula dari negeri Belanda. Dimulai pada abad ke-16, saat pemerintah
Kerajaan Belanda memberlakukan cukai pada bir, alkohol, gula, garam, dan beberapa barang lain. Karena
banyaknya cukai di Belanda saat itu, seorang pengamat Inggris bahkan mengatakan bahwa sebuah hidangan
ikan yang dimakan di Belanda telah membayar 30 cukai. Cukai di Belanda saat itu dikenal sebagai excijsen atau
kemudian accijnzen. Kata excise atau cukai dalam Bahasa Inggris sendiri berasal dari bahasa Belanda
pertengahan excijs yang kemungkinan turunan dari istilah Perancis kuno assise yang berarti settlement,
assessment, atau pembebanan.
Di Indonesia, ketentuan mengenai cukai diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang
Cukai yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007. Menurut Pasal 1 undang-undang ini,
cukai adalah pungutan negara yang dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang mempunyai sifat atau
karakteristik yang ditetapkan dalam undang-undang ini. Maksud dari barang-barang tertentu yang mempunyai
sifat atau karakteristik tersebut adalah barang yang memenuhi syarat sebagai berikut: konsumsinya perlu
dikendalikan; peredarannya perlu diawasi; pemakaiannya dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat
atau lingkungan hidup; atau pemakaiannya perlu pembebanan pungutan negara demi keadilan dan
keseimbangan. Barang barang yang mempunyai sifat dan karakteristik tersebut diatas dinamakan Barang Kena
Cukai.
Sampai saat ini, barang kena cukai yang dipungut cukainya terdiri atas: (i) etil alkohol atau etanol, dengan
tidak mengindahkan bahan yang digunakan dan proses pembuatannya; (ii) minuman yang mengandung etil
alkohol dalam kadar berapa pun, dengan tidak mengindahkan bahan yang digunakan dan proses pembuatannya,
termasuk konsentrat yang mengandung etil alkohol; (iii) hasil tembakau, yang meliputi sigaret, cerutu, rokok
daun, tembakau iris, dan hasil pengolahan tembakau lainnya, dengan tidak mengindahkan digunakan atau tidak
bahan pengganti atau bahan pembantu dalam pembuatannya.
4

Cukai Sebagai Pendapatan Negara


Dalam hal pendapatan negara, cukai dapat menyumbang penerimaan yang cukup besar karena adanya
keunggulan karakteristik dasar cukai, yaitu adanya administrasi yang relatif sangat mudah dan sistem
pengawasan yang efektif, baik dengan cara physical control maupun audit pembukuan, sehingga kebocoran
penerimaan negara dapat ditekan sekecil mungkin. Untuk mencegah adanya kebocoran penerimaan cukai maka
pemerintah melakukan evaluasi dan menyempurnakan kebijakan.
Besarnya kontribusi cukai terhadap penerimaan negara dapat dilihat dari kebijakan tarif cukai yang diatur
dalam Peraturan Menteri Keuangan. Adapun tarif untuk barang kena cukai berupa hasil tembakau dikenai cukai
berdasarkan tarif paling tinggi sesuai dengan yang disajikan pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Tarif Barang Kena Cukai Hasil Tembakau

Kategori
Dibuat di Indonesia

Persentase
275%
57%

Impor

275%
57%

Dasar Pengenaan
harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah harga jual
pabrik
harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah harga jual
eceran
harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah nilai pabean
ditambah bea masuk
harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah harga jual
eceran

Sumber: Diolah dari www.beacukai.go.id

Sedangkan untuk barang kena cukai lainnya dikenai cukai berdasarkan tarif paling tinggi sesuai dengan
yang disajikan pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2 Tarif Barang Kena Cukai Lainnya

Kategori
Dibuat di Indonesia

Persentase
1.150%
80%

Impor

1.150%
80%

Dasar Pengenaan
harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah harga jual
pabrik
harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah harga jual
eceran
harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah nilai pabean
ditambah bea masuk
harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah harga jual
eceran

Sumber: Diolah dari www.beacukai.go.id

Tarif cukai sebagaimana dimaksud diatas dapat diubah dari persentase harga dasar menjadi jumlah
dalam rupiah untuk setiap satuan barang kena cukai atau sebaliknya atau penggabungan dari keduanya.
Penerimaan negara dari cukai hasil tembakau yang dibuat di Indonesia dibagikan kepada provinsi
penghasil cukai hasil tembakau sebesar 2% (dua persen) yang digunakan untuk mendanai peningkatan kualitas
bahan baku, pembinaan industri, pembinaan lingkungan sosial, sosialisasi ketentuan di bidang cukai, dan/atau
pemberantasan barang kena cukai ilegal. Alokasi dana bagi hasil cukai hasil tembakau ditetapkan berdasarkan
realisasi penerimaan cukai hasil tembakau pada tahun berjalan. Selanjutnyaa gubernur mengelola dan
menggunakan dana bagi hasil cukai hasil tembakau dan mengatur pembagian dana bagi hasil cukai hasil
tembakau kepada bupati/walikota di daerahnya masing-masing berdasarkan besaran kontribusi penerimaan
cukai hasil tembakaunya.
Sebagai sarana pengawasan terhadap penggunaan cukai sebagai pendapatan negara, Menteri Keuangan
melakukan pemantauan dan evaluasi atas penggunaan anggaran peningkatan kualitas bahan baku, pembinaan
industri, pembinaan lingkungan sosial, sosialisasi ketentuan di bidang cukai, dan/atau pemberantasan barang
kena cukai ilegal yang berasal dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau yang dibuat di Indonesia.
5

Ekstensifikasi Barang Kena Cukai


Sejalan dengan semakin meningkatnya kebutuhan dana untuk kegiatan pemerintahan dan semakin
berfluktuasinya penerimaan negara dari sektor migas, serta semakin sulitnya memperoleh pinjaman luar negeri,
maka diperlukan upaya peningkatan dana yang berasal dari dalam negeri termasuk penerimaan cukai. Di
samping itu, masih rendahnya rasio antara penerimaan cukai dan PDB di Indonesia juga mengindikasikan
bahwa penerimaan cukai masih mungkin untuk terus dikembangkan, salah satunya melalui usaha ekstensifikasi.
Ekstensifikasi barang kena cukai adalah upaya untuk meperluas atau menambah objek barang kena cukai yang
saat ini barang kena cukai meliputi tiga jenis, yaitu rokok, MMEA (Minuman Mengandung Etil Alkohol), dan
EA (Etil Alkohol). Ekstensifikasi barang kena cukai ini didasarkan pada Pasal 2 Ayat (1) UU Nomor 39 Tahun
2007 tentang Cukai yang menyebutkan bahwa sebuah komoditas bisa dikenai cukai jika memiliki sifat atau
karakteristik, seperti konsumsinya perlu dikendalikan, peredarannya perlu diawasi, pemakaiannya dapat
menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup, serta pemakaiannya perlu pembebanan
pungutan negara demi keadilan dan keseimbangan.
Ekstensifikasi barang kena cukai ini dilakukan dalam rangka menghimpun cukai untuk menutup
penerimaan negara dalam APBN dari sektor cukai sehingga pemerintah tidak terus menerus bergantung pada
tiga jenis barang kena cukai yang telah ada. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah melalui Badan
Kebijakan Fiskal (BKF) telah berencana untuk melakukan perluasan barang kena cukai. Beberapa komoditas
yang menjadi target adalah mobil mewah, semen, ban, minuman soda, sabun, detergen, air mineral, sodium
siklamat dan sakarin, gas alam, metanol, kayu lapis, bahan bakar minyak (BBM) dan baterai kering, termasuk
aki. Dari kajian yang telah dilakukan terhadap barang tersebut, dengan pertimbangan potensi, stabilitas dan
fleksibelitas penerimaan cukainya pemerintah menetaokan tiga jenis barang yang diprioritaskan untuk
dikenakan cukai yaitu semen, minuman ringan, dan ban. Namun sampai saat ini, hal ini masih menjadi
pembahasan.
6

Minuman Ringan Berkarbonasi


Minuman ringan berkarbonasi adalah minuman ringan yang telah melalui suatu proses penginjeksian gasgas CO2 (karbondioksida). Komposisinya terdiri dari 90% air dan 10% lainnya adalah kombinasi antara gas
CO2, penyedap rasa, asam sitrat, asam fosfat, kafein, dan beberapa mineral. Minuman berkarbonasi tidak
memiliki kandungan alkohol. Di seluruh belahan bumi, minuman berkarbonasi memiliki beberapa nama populer
yang berbeda-beda, sebagai contoh, di Amerika Serikat, dikenal dengan nama soda, soda pop, pop atau tonik, di
Inggris dikenal dengan fizzy drinks, di Kanada dikenal dengan Soda atau Pop saja. Sedangkan di daerah Ireland,
mereka menyebutnya Minerals.
Sejarah minuman berkarbonasi dimulai pada tahun 1770an. Seorang ilmuwan asal Inggris bernama Joseph
Priestley berhasil menciptakan suatu proses untuk menghasilkan air mineral berkarbonasi. Priestley berhasil
memproses air hasil destilasi dan mencampurnya dengan CO2. Kemudian ilmuwan Inggris yang lain bernama
John Mervin Nooth berhasil memperbaiki hasil penemuan Priestley yang kemudian menciptakan alat untuk
memproduksi air soda pertama untuk digunakan di bidang farmasi dan menjualnya secara komersial. Pada tahun
1830, sebuah pabrik minuman berkarbonasi pertama kali berdiri di Amerika Serikat.
Proses pembuatan minuman ringan berkarbonasi dapat dibagi dalam sub-proses: penyiapan larutan gula;
pembuangan udara dari air (deaeration); mengaduk dan mencampur perasa dan konsentrat, karbonasi; dan
kemudian dikemas. Karbonasi terjadi ketika gas CO2 terlarut secara sempurna dalam air. Proses ini akan
menghasilkan sensasi karbonasi "Fizz" pada air berkarbonasi dan sparkling mineral water. Hal tersebut diikuti
gengan reaksi keluarnya buih (foaming) pada minuman soda yang tidak lain adalah proses pelepasan kandungan

CO2 terlarut di dalam air. Air dibuang udaranya untuk menghindari reaksi yang menghancurkan zat aromatik
(oksidasi). Jika minuman akan dikarbonasi, maka air diisi dengan karbondioksida. Air menjadi dingin dan
karbondioksida menjadi larut dalam air di bawah tekanan tinggi. Penting untuk memastikan bahwa semua udara
sudah dibuang, karena jika tidak minuman akan berbuih saat kemasan dibuka.
3
1

HASIL DAN PEMBAHASAN


Gambaran Cukai di Indonesia
Pada saat ini pemerintah Indonesia hanya mengenakan cukai terhadap tiga jenis barang yaitu hasil
tembakau, etil alkohol, dan minuman mengandung etil alkohol. Tidak semua barang dapat dikenakan cukai,
hanya barang-barang tertentu atau selektif. Barang kena cukai sifatnya selektif sehingga dapat disebutkan secara
spesifik dalam Undang-Undang dan peraturan yang lebih rendah derajatnya.
Dari tujuan pemungutan dan peranannya terhadap pembangunan, cukai merupakan salah satu jenis
penerimaan negara yang mendapat perhatian dari masyarakat luas, khususnya para pakar, pengusaha barang
kena cukai dan para pejabat eksekutif maupun legislatif. Dalam kaitannya dengan keuangan negara, pemerintah
dapat melakukan intervensi atau campur tangan (Rahardja, 1999), dalam kerangka fungsi-fungsi ekonomi
(Arsyad, 1992) yang disebut sebagai Fiscal Function (Richard. A Musgrave dan Peggy B. Musgrave, 1989).
Dalam usaha meningkatkan pendapatan negara, salah satu kebijakan yang dilakukan pemerintah adalah
melakukan amandemen Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai. Hal ini mendapat tanggapan dan
dukungan positif dari pihak legislatif yaitu Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). DPR mendukung amandemen ini
dengan alasan sudah saatnya UU Cukai disesuaikan dengan perkembangan. Oleh karena itu, lahirlah UndangUndang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai.
Dalam amandemen ini, pemerintah ingin meningkatkan peranan cukai sebagai alat pengawasan dan
pengendalian yang pada akhirnya dapat meningkatkan penerimaan negara. Salah satu upaya yang dilakukan
untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan mempertegas sifat dan karakteristik Barang Kena
Cukai dalam Pasal 2 ayat (1) huruf a-d UU No 39 Tahun 2007 yaitu: barang-barang yang
konsumsinya harus dibatasi; barang-barang yang distribusinya harus diawasi; barangbarang yang konsumsinya berdampak pada rusaknya lingkungan hidup; dan sebagai
sarana untuk memenuhi rasa kebersamaan dan keadilan di masyarakat.
Dalam penerimaan, cukai menyumbang penerimaan yang cukup besar. Berdasarkan APBN tahun
2007-2014, penerimaan cukai selalu meningkat dari tahun ke tahun. Grafik 1
memperlihatkan penerimaan cukai meningkat dari tahun 2007 sebesar 44.679 miliar
rupiah hingga pada tahun 2014 sebesar 114.284 miliar rupiah. Penerimaan terbesar
cukai berasal dari hasil tembakau (HT) yang berkontribusi 95,95%, diikuti oleh MMEA
3,88%, dan EA 0,017%.
Grafik 1. Penerimaan Cukai Tahun Anggaran 2007-2014

Sumber: Diolah dari www.bps.go.id

Namun demikian, Dibandingkan dengan negara-negara lainnya, dalam pengenaan


cukai Indonesia masih tergolong dalam negara yang extremely narrow coverage, karena
hanya mengenakan cukai pada tiga jenis barang yaitu etil alkohol, Minuman
Mengandung Etil Alkohol (MMEA), dan hasil tembakau. Negara lain mengenakan cukai
pada berbagai variasi jenis barang, Finlandia (www.tulli.fi), Perancis, Jerman, India
(http://siadipp.nic.in), Jepang, dan Singapura (Agung, 2001).
2

Dasar Pertimbangan Ekstensifikasi Barang Kena Cukai pada Minuman Berkarbonasi

Gagasan untuk menambah jenis Barang Kena Cukai telah diawali sejak evaluasi komprehensif nasional
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) bulan Oktober 1998 yang menjadi salah satu topik strategis dari
subbidang sistem dan prosedur cukai (Karim, 2001). Dalam evaluasi tersebut berdasarkan kemungkinan potensi
penerimaan cukainya telah dipilih dua belas jenis barang untuk dikenakan cukai, yaitu sabun, deterjen, air
mineral, semen, sodium cyclamate dan sacharine, gas alam, metanol, ban, minuman ringan, kayu lapis, bahan
bakar minyak, dan baterai kering/accu. Kemudian akhir bulan Maret 2008, DPR membuka kembali wacana
untuk mengenakan cukai terhadap ban dan minuman ringan. Adapun alasan penerapan cukai minuman ringan
dikarenakan produk ini mengandung bahan kimia, bila konsumen meminumnya dalam jangka panjang dapat
merusak kesehatan. Oleh karena itu, diusulkan ektensifikasi Barang Kena Cukai pada minuman ringan
berkarbonasi seperti pada gambar 1. Selanjutnya jenis minuman ringan yang akan kena cukai adalah minuman
ringan bersoda (minuman ringan berkarbonasi), sari buah, serta minuman beralkohol berkadar dibawah 1%.
Gambar 1. Skema Usulan Ekstensifikasi Barang Kena Cukai

Sumber: Chandra, 2008.

Dasar pertimbangan pertama mengapa minuman ringan berkarbonasi diajukan menjadi objek cukai baru
karena konsumsi minuman ringan berkarbonasi saat ini sudah berkembang bahkan cenderung berlebihan
sehingga diajukan sebagai barang yang konsumsinya perlu dikendalikan. Untuk mengendalikan konsumsi yang
berlebihan tersebut dapat dengan mengenakan cukai. Permana Agung menjelaskan bahwa pengendalian
konsumsi bukanlah untuk melarang masyarakat mengkonsumsi minuman berkarbonasi, melainkan masyarakat
boleh mengkonsumsi dengan konsekuensi biaya yang lebih besar dibandingkan minuman biasa atau air mineral.
Kemudian untuk melihat apakah minuman ringan berkarbonasi telah memenuhi karakteristik barang yang
konsumsinya harus dibatasi, peneliti berupaya melihat argumentasi dari pihak Asosiasi Industri Minuman
Ringan (ASRIM). Triyono mengakui bahwa minuman ringan berkarbonasi merupakan pilihan atau alternatif
minuman beralkohol. Komposisinya hampir menyerupai minuman beralkohol, yaitu adanya air soda yang
terbentuk dari pencampuran air dengangas CO2. Ini berarti minuman ringan berkarbonasi memang bagian dari
minuman beralkohol namun tidak mengalami proses fermentasi yang menghasilkan alkohol. Selain itu, peneliti
mengamati tata letak produk minuman ringan berkarbonasi yang ada di pasar-pasar modern. Hasilnya pada
beberapa pasar modern didapati penempatan produk minuman ringan berkarbonasi selalu berdekatan dengan
minuman beralkohol.
Dasar pertimbangan yang kedua yang dipikirkan pemerintah mengenai perluasan barang kena cukai pada
minuman ringan berkarbonasi yaitu menimbulkan dampak negatif khususnya terhadap kesehatan, sehingga
peredarannya perlu diawasi. Andi Rahmat sependapat dengan menjelaskan adanya dampak negatif yang
ditimbulkan dari mengkonsumsi minuman ringan berkarbonasi menjadi dasar pertimbangan pemerintah untuk
melakukan pengawasan terhadap produk melalui mengenakan cukai. Peneliti menilai bahwa standar kesehatan
yang diatur oleh pemerintah ada jangka waktu tertentu sehingga perlu adanya kajian dan penelitian dari
pemerintah, khususnya Departemen Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan. Adanya dampak
negatif terhadap kesehatan dan adanya pengawasan yang cukup ketat terhadap produk, mengindikasikan bahwa
minuman ringan berkarbonasi merupakan barang tertentu yang peredarannya harus diawasi.
Dari studi literatur yang peneliti lakukan, ditemukan beberapa dampak negatif yang disebabkan oleh
konsumsi minuman berkarbonasi. Dampak negatif yang utama adalah kegemukan atau obesitas. Kandungan
terbesar dalam minuman bersoda adalah kadar gula. Sebuah penelitian yang dipublikasi di the Journal of
Clinical Endocrinology and Metabolism menunjukkan kandungan fruktosa atau rasa manis yang biasa
ditemukan pada buah-buahan namun digunakan dalam jumlah yang terkonsentrasi tinggi pada minuman bersoda
diketahui dapat merangsang respon hormonal di dalam tubuh yang kemudian memicu naiknya berat badan. Hal
ini didukung oleh penelitian Marion Nestle, seorang professor di New York Univeristy yang menunjukkan
bahwa anak-anak yang memiliki berat berlebih mengonsumsi 1.000 hingga 2.000 kalori per hari yang berasal
dari minuman bersoda.
Selain itu konsumsi minuman bersoda juga dapat menyebabkan diabetes. Tingginya kadar gula yang
terkandung di dalam minuman bersoda meningkatkan resiko seseorang mengidap diabetes. Sebuah hasil

penelitian oleh American Diabetes Association menunjukkan wanita yang minum lebih dari satu kaleng
minuman bersoda dalam sehari beresiko terkena diabetes tipe 2 dalam kurun waktu empat tahun daripada wanita
yang mengonsumsi tidak lebih dari satu minuman bersoda setiap harinya. Selanjutnya penelitian juga
menemukan fakta bahwa konsumsi minuman bersoda menyebabkan kerusakan pada gigi dan memperburuk
osteoarthritis (radang sendi) lutut pada pria. Berdasarkan hasil uji tes laboratorium, minuman bersoda,
khususnya minuman bersoda yang memiliki berbagai macam warna yang dihasilkan dari zat pewarna buatan
terbukti dapat mengikis lapisan enamel gigi sehingga gigi menjadi lebih mudah berlubang. Para peneliti asal
Harvard Medical School meneliti 2.149 wanita dan pria penderita osteoarthritis lulut yang dideteksi melalui
sinar X. Responden diminta untuk mengisi kuesioner mengenai minuman yang dikonsumsi selama satu minggu.
Setiap tahunnya selama empat tahun, para peneliti mencatat perkembangan osteoartritis. Ditemukan bahwa
hampir dua kali lipat terjadi penyempitan tulang sendi pada pria yang dalam satu minggu mengonsumsi lebih
dari lima kaleng minuman bersoda. Hal ini diduga karena kandungan asam fosfat, kafein, serta zat pewarna dan
pemanis buatan yang ada pada minuman bersoda.
Dasar pertimbangan ketiga yaitu minuman ringan berkarbonasi dapat menimbulkan dampak negatif bagi
masyarakat atau lingkungan hidup. Dampak negatif bagi lingkungan hidup yang disebabkan oleh kemasan
minuman ringan berkarbonasi yang sulit untuk di daur ulang. Walaupun ada beberapa kemasan minuman ringan
berkarbonasi yang dapat digunakan kembali namun harus melalui proses pencucian dengan deterjen atau larutan
soda kaustik. Proses pencucian inilah yang menurut peneliti dapat merusak lingkungan hidup. Untuk
memulihkan lingkungan hidup yang telah tercemar akibat proses pencucian kemasan minuman ringan
berkarbonasi dengan bahan-bahan kimia maka dapat dilakukan dengan mengenakan cukai pada minuman ringan
berkarbonasi. Namun di sisi lain pihak asosiasi menolak pengenaan cukai pada minuman ringan berkarbonasi
apabila alasannya merusak lingkungan hidup.
Dasar pertimbangan yang terakhir yang digunakan pemerintah dalam memperluas barang kena cukai pada
minuman ringan berkarbonasi yaitu pemakaiannya perlu pembebanan pungutan negara demi keadilan dan
keseimbangan. Ayat (1) huruf a merupakan ayat tambahan dalam Pasal 2. Yang dimaksud dengan
pemakaiannya perlu pembebanan pungutan negara dalam rangka keadilan dan keseimbangan adalah pungutan
cukai dapat dikenakan terhadap barang mewah dan atau bernilai tinggi, namun bukan merupakan kebutuhan
pokok sehingga tetap terjaga keseimbangan pembebanan pungutan antara konsumen yang berpenghasilan tinggi
dengan konsumen yang berpenghasilan rendah. Minuman ringan berkarbonasi memang bukan termasuk
kebutuhan pokok. Oleh karena itu, apabila akan dikenakan cukai tidak akan mempengaruhi konsumen.
Walaupun demikian, pihak asosiasi menolak pengenaan cukai minuman ringan berkarbonasi apabila dasar
pertimbangannya adalah pemakaiannya perlu pungutan negara demi keadilan dan keseimbangan.
Dasar pertimbangan lainnya yang dapat memperkuat adalah bahwa minuman ringan berkarbonasi
termasuk jenis barang mewah dan bukan barang kebutuhan pokok sehingga atas konsumsi minuman ringan
berkarbonasi perlu dibebankan pungutan negara demi keadilan dan keseimbangan yaitu perbandingan dengan
negara lain yang telah mengenakan cukai pada minuman ringan berkarbonasi seperti Thailand. Di Thailand,
minuman ringan disebut sebagai minuman nonalkohol. Minuman nonalkohol tidak termasuk barang kebutuhan
primer yang harus dikonsumsi sehingga minuman ringan dimasukkan dalam kelompok barang mewah. Dengan
argumentasi bahwa minuman ringan merupakan barang mewah maka minuman ringan dikenakan cukai, selain
dari argumentasi melindungi kesehatan masyarakat. Sedangkan di India, lebih difokuskan bahwa minuman
ringan digolongkan sebagai barang mewah sehingga tarif yang dikenakan terhadap minuman ringan masuk
dalam tarif tertinggi sebesar 32% sama dengan barang mewah lainnya seperti mobil.
3

Potensi Peningkatan Pendapatan Negara Melalui Ekstensifikasi pada Minuman Berkarbonasi


Potensi peningkatan pendapatan negara melalui ekstensifikasi pada minuman berkarbonasi tidak dapat
dilepaskan dari dampak dalam bidang sosial yang akan ditimbulkan. Hal ini dikarenakan minuman berkarbonasi
yang berperan sebagai objek merupakan barang konsumsi yang secara umum banyak dikonsumsi oleh
masyarakat luas dari berbagai kalangan. Hal ini juga berkaitan dengan penerimaan para pelaku industri sebagai
produsen dan distributor minuman berkarbonasi tersebut.
Dalam menganalisis potensi peningkatan penerimaan negara dari ekstensifikasi Barang Kena Cukai pada
minuman ringan berkarbonasi tidak terlepas dari skema tarif dan dasar pengenaan yang akan digunakan dalam
menghitung besarnya peningkatan penerimaan cukai. Pada dasarnya kebijakan tarif cukai yang ditetapkan
selama ini menganut prinsip-prinsip: (1) pencapaian dan pengamanan target penerimaan negara; (2) prinsip
adanya unifikasi (penyeragaman) dan simplifikasi (penyederhanaan) struktur cukai yang ada, yang pada
akhirnya menuju pada tarif tunggal; (3) melindungi pengusaha Barang Kena Cukai kecil supaya dapat bersaing
dan berkembang secara wajar; (4) menciptakan kepastian berusaha bagi seluruh pengusaha BKC; (5)
menciptakan rasa keadilan dalam distribusi beban kena cukai antara pengusaha besar dan pengusaha kecil sesuai
kemampuannya; dan (6) memberikan perlakuan khusus terhadap pabrik yang bersifat padat karya yang
membutuhkan banyak tenaga kerja (employment creation) pada umumnya pabrik-pabrik yang sebagian besar
tidak menggunakan mesin-mesin (Purwito, 2001).

Potensi peningkatan pendapatan negara secara tidak langsung dapat dilihat dari perkembangan industri
minuman ringan berkarbonasi. Berdasarkan Tabel 3 terlihat perkembangan industri minuman ringan secara
umum dari tahun 2006 sampai 2010. Dari tabel dapat dilihat bahwa nilai produksi dan jumlah tenaga kerja untuk
industri minuman ringan terus mengalami peningkatan walaupun jumlah unit usaha memiliki tren negatif atau
mengalami penurunan.
Tabel 3. Perkembangan Industri Minuman Ringan

Sumber: www.kemenperin.go.id

Dari data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), untuk industri minuman ringan berkarbonasi
diprediksi tumbuh 2,6% pada tahun 2014. Level pertumbuhan itu sama seperti 2013. Direktur Industri Minuman
dan Tembakau Ditjen Industri Agro Kemenperin, Enny Ratnaningtyas mengatakan, pertumbuhan itu lebih
rendah dibanding industri minuman secara keseluruhan yang tahun lalu mencapai 11%, namun jumlah tersebut
lebih tinggi dibanding 2012 sebesar 8%. Oleh karena itu, ada secara garis besar ada kemungkinan bahwa
pendapatan negara dari cukai akan meningkat seiring dengan tumbuhnya industri minuman berkarbonasi.
Selanjutnya potensi peningkatan pendapatan negara juga dapat dilihat dari konsumsi minuman ringan
berkarbonasi. Menurut Kemenperin, konsumsi per kapita minuman ringan berkarbonasi nasional terus
mengalami peningkatan rata-rata mencapai 2,4 liter per tahun sesuai dengan data yang disajikan pada Grafik 2.
Namun konsumsi tersebut lebih rendah dibanding negara-negara Asean lainnya, yakni Philipina sebesar 34,13
liter per tahun, Thailand 32,23 liter per tahun, Singapura 31,36 liter per tahun, dan Malaysia 18,96 liter per
tahun.
Grafik 2. Pertumbuhan Konsumsi Minuman Ringan Siap Saji

Sumber: Consumedia Indonesia Blogsite

Sementara itu, impor minuman ringan berkarbonasi mencapai US$ 20,03 juta pada 2012 dan naik menjadi
US$ 24,98 juta pada 2013. Berdasarkan data Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM), sepanjang 20062011, pertumbuhan industri minuman berkarbonasi terendah dibandingkan subsektor minuman ringan lainnya,
yakni, 2,1% dengan pangsa pasar 2,2%. Pertumbuhan tertinggi dinikmati oleh industri minuman jus, sedangkan
pangsa pasar terbesar oleh air minum dalam kemasan (AMDK) yakni sebesar 80%. Data itu juga menyebutkan,
saat ini, terdapat 34 produsen minuman berkarbonasi di Indonesia. Pada 2010, produksi minuman jenis ini
mencapai 534,9 juta liter, kemudian meningkat menjadi 559 juta liter pada 2011.
Secara umum, penerimaan cukai selama ini masih didominasi oleh penerimaan cukai hasil tembakau dan
sisanya adalah penerimaan cukai lainnya yang terdiri dari penerimaan cukai etil alkohol dan cukai MMEA.

Berdasarkan tabel 4 dan gambar 2 terlihat bahwa dalam lima tahun terakhir, lebih dari 95% penerimaan cukai
berasal dari cukai hasil tembakau, tetapi secara persentase memiliki tren menurun. Sedangkan MMEA yang
pada tahun 2007 hanya 1,6% naik menjadi 4,7% atau sekitar Rp3,6 triliun per tahun lalu. Peningkatan tersebut
menunjukkan bahwa walau dikenai cukai, MMEA tetap tumbuh. Hal ini disebabkan cukai MMEA tidak terlalu
digenjot oleh pemerintah karena tingkat konsumsinya tidak setinggi hasil tembakau. Demikian juga dengan
persentase penerimaannya, naik tetapi secara keseluruhan penerimaan cukai dari MMEA dirasa belum
signifikan. Peningkatan porsi penerimaan cukai tembakau ditujukan untuk keseimbangan fungsi penerimaan dan
mengatur dari cukai tembakau sehingga perlu dikendalikan. Pengendalian porsi ini memberikan peluang untuk
pemerintah melakukan upaya perluasan objek Barang Kena Cukai, salah satunya pengenaan cukai pada produk
minuman ringan berkarbonasi.
Tabel 4. Perkembangan Realisasi Pendapatan Cukai

Sumber: Nota Keuangan 2014


Gambar 2. Persentase Penerimaan Cukai Berdasarkan Jenis Barang

Sumber: www.marketing.co.id

Jika minuman bersoda jadi dikenai cukai, pemerintah berpotensi menerima pendapatan tambahan sebesar
Rp 2,7 triliun. Dengan target penerimaan cukai pada tahun 2013 sebesar Rp 104,7 triliun, potensi penerimaan
dari cukai minuman bersoda hanya sekitar 3%, suatu angka yang kecil jika berkaca pada alasan tidak
digenjotnya cukai MMEA. Diasumsikan minuman bersoda dikenai cukai, tarifnya diperkirakan tidak akan
melonjak dengan drastis tiap tahunnya karena pemerintah lebih suka menggenjot penerimaan cukai dari hasil
tembakau yang nilainya jelas lebih besar dan walaupun tarifnya naik yang otomatis harganya ikut naik, jumlah
penggunanya selama ini terus meningkat.
4

Kontra Terhadap Ekstensifikasi Barang Kena Cukai pada Minuman Berkarbonasi


Berdasarkan proses kajian internal tidak dapat dihindari adanya pendapat pro dan kontra mengenai
ekstensifikasi barang kena cukai pada minuman ringan berkarbonasi. Argumentasi pendapat pro lebih mengarah
pada pemikiran bahwa sudah saatnya hak konsumen dilindungi, jangan sampai konsumsi terhadap barangbarang yang sifatnya bukan kebutuhan pokok dan menimbulkan efek negatif terhadap kesehatan akibat bahan
tambahan yang terkandung dalam minuman ringan berkarbonasi yang lebih banyak bahan kimia terabaikan.
Sedangkan pendapat kontra lebih banyak berasal dari pihak industri minuman ringan berkarbonasi sendiri.
Apabila suatu saat minuman ringan berkarbonasi dikenakan cukai karena konsumsi minuman ringan
berkarbonasi terlalu banyak tidak baik untuk kesehatan, maka perlu proses bagi industri untuk menerimanya

dengan syarat penerimaan cukai dari minuman ringan berkarbonasi dapat dialokasikan pada sektor yang tepat
seperti peningkatan kesehatan masyarakat dan mendukung produksi serta distribusi minuman ringan
berkarbonasi.
Penulis menilai, pro dan kontra yang muncul mengenai wacana ekstensifikasi barang kena cukai pada
minuman ringan berkarbonasi disebabkan pada kondisi perekonomian masyarakat yang terus mengalami
penurunan di samping mulai pudarnya kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan, khususnya yang
menyangkut kesejahteraan masyarakat. Penulis memahami fenomena tersebut sebagai dinamika sosial yang
muncul pada masyarakat di negara-negara berkembang seperti Indonesia yang sedang mengalami krisis
ekonomi dan moneter yang berkepanjangan.
Kontra terhadap rencana ekstensifikasi cukai minuman berkarbonasi muncul dari berbagai pihak dimulai
dari pelaku industri, pakar ekonomi, bahkan dari pihak Kemenperin sebagai pembina kelompok industri
Indonesia. Secara umum, diperkirakan sebanyak kurang lebih 2,5 juta pelaku usaha terancam kehilangan omzet
penjualannya karena volume penjualan berkurang terkait dengan rencana pemerintah yang akan menerapkan
cukai untuk minuman berkarbonasi karena dianggap membahayakan bagi kesehatan. Para pelaku usaha yang
terdampak apabila aturan tersebut dijalankan bukan hanya pelaku usaha besar yang melakukan industri, namun
juga distributor pertokoan, grosir, warung-warung dan bahkan para pedagang asongan.
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) memprediksi
pengenaan cukai pada minuman bersoda akan menyebabkan kenaikan harga soda sekira Rp 3.000 atau setara
dengan 37,8 persen. Berdasarkan riset, elastisitas harga minuman bersoda dan berpemanis sebesar minus 1,72
persen. Artinya, jika harga mengalami kenaikan 1 persen, maka permintaannya akan menurun hingga 1,72
persen. Penurunan penjualan akan memperkecil pendapatan produsen dan akibatnya pemasukan dari pajak
berkurang, seperti PPN dan Pajak Perusahaan. Diperkirakan permintaan minuman berkarbonasi diperkirakan
turun 64,9 persen, isotonik 14,7 persen, jus 2,5 persen, dan minuman berpemanis 18,6 persen.
Oleh karena itu pengenaan tarif cukai pada minuman bersoda diperkirakan akan mengakibatkan kerugian
meskipun pemerintah tetap mendapatkan penerimaan tambahan sebesar Rp 590 miliar melalui kebijakan ini,
namun di sisi lain, penerimaan dari PPN akan berkurang hingga Rp 562,7 miliar dan penerimaan dari pajak
perusahaan akan menurun hingga Rp 736,1 miliar. Bahkan, Pemerintah akan menanggung beban biaya pungutan
pajak sebesar Rp 74,7 miliar. Akibatnya, pemerintah akan menanggung kerugian sebesar Rp 783,4 miliar. Data
tersebut didapat dari riset yang dilakukan oleh LPEM UI untuk mengevaluasi dampak potensial dari pengenaan
pajak terhadap minuman bersoda dan berkarbonasi dengan teknik analisa ekonometrika dan tabel input output.
Tabel dan data tersebut mengukur dampak potensial terhadap tingkat konsusmsi setelah kenaikan harga yang
telah diperhitungkan serta efek-efek sampingan terhadap kegiatan ekonomi secara keseluruhan.
Sejalan dengan LPEM UI, Asosiasi Industri Makanan dan Minuman (AIMM) juga memutuskan untuk
kontra terhadap rencana pemerintah melakukan ekstensifikasi barang kena cukai terhadap minuma berkarbonasi.
Pihak AIMM mengatakan kebijakan tersebut tidak sesuai dengan kriteria yang dijelaskan di dalam UU No. 39
Tahun 2007 tentang Cukai yang mendasari pemerintah membuat rencana ekstensifikasi tersebut menurut AIMM
minuman bersoda ringan dan berpemanis bukan merupakan barang yang penggunaannya harus dikendalikan dan
berbahaya bagi kesehatan seperti yang ditetapkan dalam undang-undang.
Selain itu Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) juga menyatakan kontra
terhadap rencana tersebut. Menurut Gapmmi 5 tahun lalu dilakukan riset terhadap kebijakan cukai tersebut dan
hasilnya menunjukan terjadi penurunan permintaan dan produksi. Pengenaan cukai terhadap minuman ringan
bersoda dan bumbu penyedap sendiri pernah diterapkan pada 2001-2002. Namun, setelah mendapat penolakan
dan dikaji ulang, kebijakan itu akhirnya dicabut. Gapmmi berpendapat bahwa permintaan akan turun dan
produksi anjlok, daya saing melemah dan penerimaan negara juga akan mengalami penurunan. Selain itu
rencana tersebut juga dianggap keliru jika menggunakan cukai sebagai instrumen penggenjot penerimaan negara
karena peruntukan sebenarnya untuk melindungi konsumen.
Selanjutnya dari pihak Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sebagai pelaku pembina industri
Indonesia menganggap bahwa rencana pengenaan cukai terhadap minuman bersoda atau berkarbonat adalah
salah sasaran. Pasalnya, minuman bersoda tidak membahayakan kesehatan. Direktur Jenderal Industri Agro
Kementerian Perindustrian, Benny Wahyudi menjelaskan regulasi cukai yang akan dikenakan terhadap
minuman bersoda adalah tanpa alasan dan akan memberatkan pelaku usaha. Dia menampik adanya dugaan
bahwa minuman berkarbonat atau bersoda berbahaya bagi kesehatan, sehingga harus dikenakan cukai terhadap
jenis minuman ini.
5 Tinjauan Barang Kena Cukai pada Minuman Berkarbonasi di Negara Lain
1 Denmark
Pemerintah Denmark sudah menerapkan cukai terhadap minuman ringan berkarbonasi sejak tahun 1930.
Namun kebijakan tersebut dihapuskan 83 tahun kemudian karena dinilai merugikan ekonomi nasional.
Penghentian cukai itu akan efektif mulai tahun 2014. Keputusan pemerintah Denmark tersebut merupakan
bagian dari kebijakan pemerintah dalam mengembangkan ekonomi nasional yang juga terkena dampak dari

krisis ekonomi Eropa. Isu tenaga kerja merupakan hal yang sensitif di Denmark mengingat angka pengangguran
mulai menunjukkan peningkatan pascakrisis.
Kebijakan Denmark untuk menghapus cukai pada minuman bersoda, yang sebelumnya menghapus cukai
lemak jenuh dan menghentikan cukai gula, jelas menunjukkan bahwa biaya dan efek negatif lain dari cukai
semacam itu lebih tinggi daripada manfaat yang diharapkan. Menurut seorang pejabat pemerintahan setempat,
karena cukai terhadap minuman bersoda, Denmark kehilangan 5.000 tenaga kerja, dan kerugian ekonomi di
daerah perbatasan karena para konsumen soda kemudian pergi ke Jerman dan Swedia untuk mendapatkan
minuman bersoda dengan harga yang jauh lebih ringan.
Menanggapi langkah pemerintah Denmark, peneliti Lembaga Katalog Indonesia mengemukakan bahwa
sikap pemerintah Denmark tersebut patut diapresiasi. Denmark adalah negara pelopor percukaian minuman
ringan, dengan salah satu cukai tertinggi pada minuman ringan di Eropa. Menurut meraka, pemerintah Indonesia
sebaiknya belajar dari pengalaman Denmark yang menghapus kebijakan cukai minuman ringan, karena jelas
mer ugikan ekonomi nasional terkait ketenagakerjaan. Namun, sampai saat ini pemerintah Indonesia masih
berencana untuk merampungkan aturan pengenaaan cukai bagi minuman ringan bersoda untuk menggenjot
penerimaan negara.
2 Amerika Serikat
Di Amerika Serikat, cukai bukanlah kebijakan yang ditetapkan pemerintah untuk melakukan pembatasan
terhadap minuman berkarbonasi, namun kebijakan yang diterapkan adalah pajak untuk minuman berkarbonasi.
Saat ini sudah ada dua negara bagian yang telah menetapkan pajak untuk minuman berkarbonasi dengan
persentase pajak yang berbeda, yaitu 6% dan 1,5% dari harga. Selain pajak, ada juga dalam bentuk pembatasan
seperti di New York yang berupa larangan menjual minuman berpemanis gula dengan berat lebih dari 16 ons
atau sekitar 453 gram di tempat umum seperti restoran, stadion, dan bioskop. Larangan ini tidak berlaku untuk
minuman jus yang kadar buahnya lebih dari 70% atau minuman susu dengan kadar susu lebih dari 50% karena
kandungan gizinya dinilai masih cukup tinggi. Pemberian pajak khusus di Amerika dengan alasan kesehatan
masih masuk akal karena tingkat konsumsi minuman bersoda yang sebagian besar berpemanis gula yang tinggi,
yaitu hampir 50% penduduknya mengonsumsi tiap hari dengan rata-rata konsumsi 2,6 gelas per hari.
Di sisi lain, pemerintah dalam membuat keputusan dapat mengacu pada kebijakan negara lain yang telah
memberikan pajak khusus pada minuman berpemanis gula jika alasan yang digunakan adalah kesehatan. Karena
bila hanya minuman bersoda yang dikenai cukai, muncul potensi konsumen pindah ke minuman ringan lainnya,
seperti teh cepat saji, minuman energi, sari dan jus buah, yang kandungan gulanya tidak kalah tinggi yang tentu
tidak baik untuk kesehatan. Meski begitu, sejauh ini juga belum ada bukti penurunan konsumsi pada negara lain
karena diterapkannya pajak tambahan, baik pada minuman bersoda atau berkadar gula tinggi.
4

KESIMPULAN
Dalam hal penerimaan negara, cukai menyumbang penerimaan yang cukup besar. Berdasarkan APBN
tahun 2007-2014, penerimaan cukai selalu meningkat dari tahun ke tahun, yaitu dari
tahun 2007 sebesar 44.679 miliar rupiah hingga pada tahun 2014 sebesar 114.284 miliar
rupiah. Namun demikian, dibandingkan dengan negara-negara lainnya, dalam
pengenaan cukai Indonesia masih tergolong dalam negara yang extremely narrow
coverage, karena hanya mengenakan cukai pada tiga jenis barang tersebut. Oleh karena
itu, pemerintah berencana untuk meningkatkan penerimaan negara dari sisi cukai, yaitu
melalui ekstensifikasi barang kena pajak terhadap minuman berkarbonasi. Dasar
pertimbangan pertama mengapa minuman ringan berkarbonasi diajukan menjadi objek cukai baru karena
konsumsi minuman ringan berkarbonasi saat ini sudah berkembang bahkan cenderung berlebihan sehingga
diajukan sebagai barang yang konsumsinya perlu dikendalikan. Dasar pertimbangan yang kedua yang dipikirkan
pemerintah mengenai perluasan barang kena cukai pada minuman ringan berkarbonasi yaitu menimbulkan
dampak negatif khususnya terhadap kesehatan, sehingga peredarannya perlu diawasi. Jika minuman bersoda jadi
dikenai cukai, pemerintah berpotensi menerima pendapatan tambahan sebesar Rp 2,7 triliun. Walaupun
demikian, kontra terhadap rencana ekstensifikasi cukai minuman berkarbonasi muncul dari berbagai pihak
dimulai dari pelaku industri, pakar ekonomi, bahkan dari pihak Kemenperin sebagai pembina kelompok industri
Indonesia. Secara umum, diperkirakan sebanyak kurang lebih 2,5 juta pelaku usaha terancam kehilangan omzet
penjualannya karena volume penjualan berkurang terkait dengan rencana pemerintah yang akan menerapkan
cukai untuk minuman berkarbonasi. Dari riset yang dilakukan oleh LPEM UI untuk mengevaluasi dampak
potensial dari pengenaan pajak terhadap minuman bersoda dan berkarbonasi diketahui bahwa pemerintah akan
menanggung kerugian sebesar Rp 783,4 miliar. Selain itu, berkaca dari pengalaman negara-negara lain seperti
Denmark dan Amerika Serikat, sebaiknya pemerintah melakukan tinjauan ulang untuk menerapkan kebijakan
baru berhubungan dengan cukai minuman berkarbonasi tersebut.

DAFTAR REFERENSI
[1]
[2]
[3]
[4]
[5]
[6]
[7]

[8]
[9]
[10]

[11]
[12]
[13]
[14]
[15]
[16]
[17]

Badan Kebijakan Fiskal. 2014. http://www.tarif.depkeu.go.id/Bidang/?bid=cukai&cat=prog


BPS. 2014. Realisasi Penerimaan Negara, 2007-2014.
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=13
DJBC. 2014. Cukai. http://www.beacukai.go.id/index.html?page=faq/cukai.html
Esther Maria Chandra dan Rini Gufraeni. 2009. Kajian Ekstensifikasi Barang Kena Cukai pada Minuman
Ringan Berkarbonasi. Jurnal Ilmu Administrasi dan Organisasi, SeptDes 2009, hlm. 170-179.
Fajar. 2010. Barang Kena Cukai Bakal Diperluas. http://news.fajar.co.id/read/89937/45/iklan/index.php
Febrianto, Vicky. 2014. Cukai Minuman Berkarbonasi Ancam 2,5 Juta Pelaku Usaha.
http://www.antaranews.com/berita/424061/cukai-minuman-berkarbonasi-ancam-25-juta-pelaku-usaha
FNH. 2013. Penggunaan Cukai Minuman Bersoda Picu Kenaikan Harga.
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt510f83250b97f/pengenaan-cukai-minuman-bersoda-picukenaikan-harga
Kemenperin. 2014. Cukai Minuman Bersoda Dinilai Langkah Mundur.
http://www.kemenperin.go.id/artikel/4688/Cukai-Minuman-Bersoda-Dinilai-Langkah-Mundur
Kemenperin. 2014. Industri Minuman Ringan Ditaksir Tumbuh 2,6%.
http://www.kemenperin.go.id/artikel/8411/Industri-Minuman-Ringan-Ditaksir-Tumbuh-2,6
Kusuma, Hedra. 2013. Kena Cukai, Harga Minuman Bersoda Diperkirakan Naik Rp 3000.
http://economy.okezone.com/read/2013/02/04/20/756174/kena-cukai-harga-minuman-bersodadiperkirakan-naik-rp3-000
Sigit. 2012. Sejarah Cukai. http://beacukai.net/2012/11/sejarah-cukai/
Silviani. http://dokita.co/blog/bahaya-minuman-bersoda/
Tetra Pak. 2012. Minuman Ringan Berkarbonasi. http://www.tetrapak.com/id/food-categories/minumanringan/minuman-ringan-berkarbonasi
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 Tentang Cukai, LN 1995 No. 75 TLN 3613
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995
Tentang Cukai, LN 2007 No. 105 TLN 4755
Wajah Dunia. 2012. http://www.wajahdunia.com/2012/10/ekstensifikasi-cukai-untuk-meningkatkan.html
Wikipedia. 2012. Minuman Berkarbonasi. http://id.wikipedia.org/wiki/Minuman_berkarbonasi