Anda di halaman 1dari 38

1

A. Latar Belakang
Negara Indonesia merupakan negara dengan perekonomian yang sedang
berkembang. Berkembangnya perekonomian Indonesia tidak lepas dari dua faktor,
yaitu sektor keuangan dan sektor riil. Sektor keuangan (financial sector) adalah
sektor yang terdiri dari perusahaan-perusahaan yang menyediakan jasa keuangan
kepada nasabah komersial dan ritel, termasuk perusahaan dana investasi, bank,
dan asuransi. Sedangkan sektor riil adalah sektor yang memproduksi barang atau
jasa baru di mana dalam prosesnya akan tercipta transaksi produktif yang
memanfaatkan sumber daya baik mempekerjakan sumber daya manusia (SDM)
dan memberdayakan serta mengolah sumber daya alam (SDA). Di antara kedua
sektor tersebut, sektor yang berperan besar terhadap perkembangan perekonomian
Indonesia adalah sektor riil.
Perekonomian Indonesia secara berangsur keluar dari keterpurukan yang
disebabkan oleh krisis tahun 1997. Hal ini tidak terlepas dari peran Usaha Mikro,
Kecil, dan Menengah yang tetap beroperasi pada saat usaha skala besar
mengalami kemunduran (Putra, 2010). Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah
dianggap telah mampu membuktikan eksistensinya dalam perekonomian di
Indonesia. Ketika Indonesia mengalami krisis moneter di tahun 1998, banyak
investor dan pengusaha besar yang mengalihkan modalnya ke negara-negara lain.
Sehingga perekonomian Indonesia pada saat itu semakin terpuruk. Meskipun
demikian, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah mampu bertahan dan perlahan
dapat menopang perekonomian bangsa Indonesia. Situasi tersebut terus bertahan
hingga perekonomian Indonesia mampu untuk berkembang meninggalkan masa
krisis (Ari Wu, 2013). Kemudian, berdasarkan data BPS tahun 2003, populasi
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah jumlahnya mencapai 42,5 juta unit atau

99,9% dari keseluruhan pelaku bisnis di tanah air. Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penyerapan
tenaga kerja, yaitu sebesar 99,6%. Sedangkan kontribusi Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 56,7%. Selain itu,
pada tahun 2003 kategori Usaha Kecil saja sudah dapat memberikan kontribusi
terhadap perekonomian sebesar Rp815.140.000.000 dan meningkat menjadi
Rp1.257.760.000.000 pada tahun 2006 (Sri Hartini Rachmad, 2009). Peningkatan
kontribusi PDB inilah yang mampu menggerakkan dan memacu percepatan
pertumbuhan perekonomian dalam negeri. Hingga pada beberapa tahun terakhir
peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah terhadap perekonomian nasional
semakin meningkat.
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah juga mempunyai peran bagi
pemerintah. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah berperan dalam hal penciptaan
lapangan kerja yang baru. Sehingga pemerintah memberikan apresiasi terhadap
kelangsungan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dengan mendirikan Pusat
Layanan Usaha Terpadu (PLUT) melalui Kementerian Koperasi dan UMKM
untuk mengakomodasi para pengusaha-pengusaha Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah maupun orang-orang yang ingin memulai usaha. Maka dari itu, peran
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah menjadi sangat penting dalam mewujudkan
struktur perekonomian nasional yang seimbang berdasarkan demokrasi ekonomi.
Pertumbuhan UMKM berdasarkan jumlah unit UMKM dan jumlah tenaga
kerja di Indonesia periode 2007-2012 dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel A.1
Perkembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) 2007-2012

NO
.
(1)
1
2

INDIKATOR

SATUAN

2007

2008

2009

2010

2011

2012

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(UNIT)

50.145.800

51.409.612

52.764.750

54.114.821

55.206.444

56.534.592

(ORANG
)

90.491.930

94.024.278

96.193.623

98.238.913

101.722.458

107.657.50
9

UNIT
USAHA
TENAGA
KERJA

Sumber: Kementerian Koperasi dan UMKM


Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu dari
sektor riil yang dijalani oleh banyak pengusaha di Indonesia. Alasannya adalah
karena UMKM tidak terlalu sulit untuk dikelola meskipun oleh seorang pemula
dalam dunia bisnis. Alasan lain bagi pelaku usaha di Indonesia dalam menjalani
UMKM adalah mereka tidak perlu lagi untuk mengeluarkan banyak uang untuk
keperluan biaya operasional usaha karena tidak memerluk memakmurkan
kesejahteraan anggota pada khususnya dan biaya yang besar untuk menjalani
bisnis ini.
Meskipun mudah dalam pengoperasiannya, para pengusaha tentunya tidak
boleh mengabaikan prospektif usaha yang dijalaninya. Suatu Usaha Mikro, Kecil,
dan Menengah memerlukan pengembangan terhadap usaha, yaitu pengembangan
dari aspek sumber daya manusia (SDM), aspek pemasaran, aspek operasional,
aspek lingkungan, dan aspek keuangan. Kelima aspek tersebutlah yang dapat
mempengaruhi prospektif suatu usaha. Selain itu, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah perlu menerapkan informasi akuntansi untuk mendukung kelima aspek
tersebut. Setiap pelaku bisnis tentunya juga memerlukan informasi akuntansi.
Karena seperti yang diketahui bahwa informasi akuntansi merupakan media
komunikasi antara kegiatan usaha dengan pihak-pihak yang berkepentingan atas
posisi keuangan dan perkembangan usaha perusahaan seperti kreditor atau calon
kreditor, supplier, calon investor, dan pemerintah. Pihak internal organisasi juga

berkepentingan atas informasi tersebut untuk menilai, mengevaluasi, dan


berupaya untuk mengelola perusahaan.
Jika suatu entitas tidak memiliki data dan informasi yang memadai dan
akurat, setiap orang yang memerlukan informasi keuangan dari suatu badan usaha
akan mengambil keputusan yang salah dan tanpa arah. Setiap pelaku usaha
memerlukan informasi yang komprehensif dan akurat tentang badan usaha yang
dikelola atau yang diamatinya. Karena itu, informasi keuangan merupakan
kebutuhan mutlak bagi setiap pelaku usaha. Mengingat peran vital informasi
keuangan bagi suatu entitas dan berbagai pihak yang berkaitan dengan entitas
tersebut, maka proses menyediakan informasi keuangan tersebut harus dilakukan
secara baik, sistematis, dan hati-hati. Agar mampu menyediakan informasi
keuangan yang lengkap dan akurat, diperlukan penguasaan ilmu akuntansi secara
komprehensif (Rudianto, 2009).
Secara singkat dapat dijelaskan bahwa tujuan pokok dari akuntansi adalah
menyediakan informasi dalam bentuk laporan keuangan yang berguna bagi
pimpinan perusahaan, serta pihak-pihak lain yang membutuhkan informasiinformasi tersebut, baik dari dalam perusahaan (internal) maupun dari luar
perusahaan (eksternal). Akuntansi menyediakan cara-cara untuk mengumpulkan
dan melaporkan data ekonomis kepada bermacam-macam pihak yang
membutuhkan. Pemilik dan calon pemilik dapat mengetahui bagaimana posisi
keuangan dan prospek perusahaan di masa yang akan datang. Pihak bank atau
pemberi kredit dapat menilai kemampuan perusahaan dalam beroperasi.
Selanjutnya pihak-pihak tersebut mempertimbangkan risiko yang mungkin terjadi

sebelum memberi pinjaman. Badan pemerintah berkepentingan terhadap kegiatan


perusahaan dalam kaitannya dengan penyusunan peraturan pemerintah seperti
peraturan perpajakan. Bahkan, karyawan berkepentingan terhadap jalannya
operasi perusahaan untuk mempertimbangkan stabilitas usaha perusahaan dan
keuntungan yang mungkin dapat dinikmati oleh karyawan tersebut.
Suatu entitas diwajibkan untuk menyelenggarakan pembukuan atau
pencatatan akuntansi. Seperti yang telah diatur dalam Undang-Undang Pajak
Penghasilan No. 36 tahun 2008, bahwa wajib pajak orang pribadi yang melakukan
kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang peredaran bruto dalam satu tahun
kurang dari Rp4.800.000.000,- diperbolehkan untuk menghitung penghasilan neto
dengan syarat memberitahukan kepada direktur jenderal pajak dalam jangka
waktu tiga bulan pertama dari tahun bersangkutan. Sehingga bagi wajib pajak
yang penghasilan neto menggunakan norma perhitungan penghasilan neto wajib
menylenggarakan pencatatan. Jika wajib pajak tidak memberitahu tentang
penyelenggaraan norma perhitungan penghasilan neto maka dianggap memilih
menyelenggarakan pembukuan. Begitu juga dengan sanksi yang harus ditanggung
oleh wajib pajak yang tidak menyelengarakan pembukuan adalah membayar
denda. Jika tidak dipenuhi maka akan mendapat sanksi pidana.
Pada awalnya, standar pencatatan akuntansi Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah adalah PSAK No. 27. Standar tersebut diterapkan sejak standar
tersebut diterbitkan tahun 2007. Namun, seiring dengan pesatnya perkembangan
usaha-usaha di Indonesia, pada tanggal 23 Oktober 2010 telah terbitdan disahkan
oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan tentang exposure Draft Pernyataan

Pencabutan Standar Akuntansi Keuangan yaitu pencabutan Pernyataan Standar


Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 27 tentang akuntansi perkoperasian.
Pencabutan PSAK No. 27 dilandasi alasan sebagai dampak dari konvergensi IFRS
yang mengakibatkan SAK berbasis industri harus dicabut karena sudah diatur
dalam SAK lain. Sebagai pengganti PSAK No. 27, kini telah terbit Standar
Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) yang
digunakan untuk entitas tanpa akuntabilitas publik (Mulyani, 2014). Usaha Mikro,
Kecil, dan Menengah merupakan entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik
signifikan. Hal ini juga dijelaskan dalam surat edaran Deputi Bidang
Kelembagaan KUKM No. 200/SE/Dep.I/XII/2012 yang menyatakan sejak 20
Desember 2011 disampaikan ke seluruh dinas yang membidangi urusan koperasi
dan UKM provinsi tentang pencabutan PSAK No. 27 dan penggunaan Standar
Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP). Maka dari
itu, Dewan Standar Akuntansi Internasional (IASB) memutuskan bahwa dalam
pembuatan laporan keuangan sebuah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah haruslah
menerapkan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik
(SAK ETAP) yang menggunakan acuan IFRS. Maksud IASB memutuskan hal
tersebut adalah untuk membantu entitas tanpa akuntabilitas publik dalam
penerapan standar pada praktek akuntansi. Kandungan dari SAK IFRS lengkap
sulit untuk diterapkan dan dianggap terlalu kompleks untuk kebutuhan banyak
entitas. SAK ETAP memang sudah dirancang untuk kebutuhan dan kemampuan
bisnis yang lebih kecil serta lebih mudah dipahami karena SAK ETAP telah ditulis
dengan jelas dan mudah untuk diterjemahkan ke bahasa lain. Topik-topik dari

PSAK IFRS lengkap yang dianggap tidak relevan dengan Usaha Mikro, Kecil,
dan Menengah dihilangkan seperti laba per saham (earnings per share), pelaporan
keuangan sementara atau interim, dan pelaporan segmen. (Mackenzie et al, 2012).
Terciptanya SAK ETAP menjadi solusi tersendiri bagi entitas tanpa akuntabilitas
publik seperti Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.
Tujuan laporan keuangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yaitu
menghasilkan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja, dan arus kas dari
entitas secara wajar dan dapat berguna untuk pengambilan keputusan ekonomi
oleh berbagai pengguna. Penyajian wajar didefinisikan sebagai representasi yang
jujur atas pengaruh transaksi, peristiwa, dan kondisi lain yang sesuai dengan
kriteria definisi dan kriteria pengakuan atas aset, liabilitas, penghasilan,
penghasilan (income), dan beban (expense) yang sejalan dengan Konsep dan
Prinsip Pervasif. Tujuan lainnya dari laporan keuangan Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah adalah memperlihatkan bagaimana manajemen telah mengelola sumber
daya milik entitas. Penerapan SAK ETAP yang sangat sederhana dan ringkas
untuk entitas mikro dengan prinsip akuntansi umum, pengakuan tertentu, prinsip
pengukuran hanya untuk transaksi yang paling mendasar, dan ketentuan
pengungkapan yang terbatas, akan menghasilkan rendahnya biaya secara relatif
bagi entitas mikro dalam rangka penyusunan laporan keuangan. dapat
disimpulkan bahwa pelaporan keuangan sesuai SAK ETAP lebih sederhana
apabila dibandingkan pelaporan yang berdasarkan SAK Umum. Sehingga entitas
dapat menyelenggarakan laporan keuangan dengan mudah dan entitas mampu
memahami laporan keuangannya sendiri dengan mudah.

Tabel berikut menjelaskan perbedaan antara SAK Umum dengan SAK


ETAP.
Tabel A.2
Perbedaan SAK Umum dengan SAK ETAP
NO
1

SAK UMUM

SAK ETAP

Tanggung jawab atas laporan keuangan

Tidak ada

NERACA
2

Pos minimal yang disajikan

Pos minimal yang disajikan lebih sedikit

Pengungkapan penuh

Pengungkapan lebih sederhana


LAPORAN LABA RUGI

Laporan laba rugi dan pendapatan komprehensif

Hanya laporan laba rugi biasa

Pos minimal yang disajikan

Pos minimal yang disajikan lebih sedikit

Pengungkapan distribusi dividen dan dividen per


saham

Tidak ada

Tidak diperkenankan

Laporan perubahan ekuitas dan saldo laba dapat


menggantikan laporan laba rugi dan laporan
perubahan ekuitas

Pos minimal yang disajikan

Pos minimal yang disajikan lebih sedikit

LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS

LAPORAN ARUS KAS


Arus kas operasi disajikan dengan metode
langsung atau tidak langsung

Arus kas operasi disajikan dengan metode tidak


langsung

10

Arus kas valas, bunga & dividen, pajak


penghasilan, investasi pada entitas anak, ventura
bersama & entitas asosiasi, perubahan
kepemilikan, dan transaksi nonkas

Arus kas bunga & dividen, pajak


penghasilan, dan transaksi nonkas

11

Menyajikan penjelasan atask kebijakan akuntansi,


sumber estimasi ketidakpastian, modal, dividen
dan informasi umum entitas

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN


Hanya menyajikan penjelasan atas kebijakan
akuntansi dan sumber estimasi ketidakpastian

Sumber: Martani 2011


Dalam proses menghasilkan informasi yang dibutuhkan oleh berbagai
pihak yang berkepentingan, akuntansi harus melewati beberapa tahapan proses.
Proses tersebut dimulai dari mengumpulkan dokumen dasar transaksi,
mengklasifikasikan jenis transaksi, menganalisis, meringkasnya dalam catatan,
sampai dengan melaporkannya dalam bentuk laporan keuangan yang dibutuhkan
(siklus akuntansi). Bentuk laporan keuangan yang dimaksud adalah laporan

keuangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang sesuai dengan SAK ETAP.
Laporan keuangan yang sesuai SAK ETAP terdiri dari laporan posisi keuangan,
laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas
laporan keuangan. Standar memperbolehkan laporan laba rugi komprehensif
dikombinasikan dengan laporan perubahan ekuitas yang kemudian akan menjadi
laporan laba-rugi dan saldo laba. Hal tersebut diperbolehkan jika perubahan
terhadap ekuitas hanya merupakan laba atau rugi, pembayaran dividen, koreksi
atas kesalahan periode masa lalu, dan perubahan di dalam kebijakan akuntansi.
Namun, menurut Furqan sebagaimana yang dikutip oleh Musyafaah
(2014), praktek akuntansi pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di Indonesia
masih rendah sehingga menyebabkan belum optimalnya pemanfaatan informasi
akuntansi dalam pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Pada
umumnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah hanya memiliki informasi
akuntansi yang masih sangat sederhana. Bahkan beberapa usaha mikro tidak
mempedulikan informasi akuntansi seperti pencatatan operasional atau pencatatan
beban-beban yang mempengaruhi harga jual suatu barang yang diproduksi
sehingga kualitas laporan keuangannya terbilang rendah. Maka, dampak yang
terjadi dari tidak adanya informasi akuntansi adalah tidak dapat mengukur kinerja
perusahaan. Selain itu, jika pelaku usaha Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah
berniat untuk menjalin mitra dengan lembaga keuangan maka akan mengalami
kesulitan. Jika hal ini terjadi pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah maka besar
kemungkinannya bahwa tidak akan ada perkembangan yang signifikan pada
usaha.

10

Berdasarkan uraian permasalahan di atas, maka penulis memutuskan untuk


meneliti salah satu UMKM yang terdapat di Kota Pontianak yaitu CV. Menara
Square. CV. Menara Square didirikan pada tanggal 8 Agustus 2008. CV. Menara
Square berada di Jl. HOS Cokroaminoto No. 294 Merdeka Timur, Kota Pontianak.
Bergerak di bidang perdagangan dan jasa seperti service dan maintenance. CV.
Menara Square bekerja sama dengan berbagai mitra kerja seperti DATACOM dan
METRO COMPUTER sebagai upaya dalam mengelola usaha.
Dalam hal ini, CV. Menara Square menggunakan aplikasi Accurate
Accounting Software untuk laporan keuangannya. Accurate Accounting Software
merupakan software pertama yang dikembangkan oleh CPSSoft (PT. Cipta Piranti
Sejahtera). Pada aplikasi tersebut, penyajian laporan keuangan bisa dikatakan
tersusun dengan sangat baik karena penyajian laporan keuangannya sudah tersaji
dengan sistematika yang benar. Selain itu, penyajian laporan keuangan dilakukan
setiap bulannya oleh CV. Menara Square. Hal tersebut bisa dilihat dari salah satu
laporan keuangannya yaitu laporan laba rugi CV. Menara Square seperti berikut
ini.
Tabel A.3
Laporan Laba Rugi
CV. Menara Square
Untuk Periode Bulan Agustus 2014
Keterangan

Pendapatan
Pendapatan
Penjualan
Potongan Penjualan

Agustus 2014

2.219.112.495,27
2.223.397.635,27
-4.285.140,00

11

Sales Term Discount IDR


Jumlah Pendapatan
Harga Pokok Penjualan
COGS
Jumlah Harga Pokok Penjualan
LABA KOTOR
Beban Operasi
Biaya Umum & Administrasi
Beban Utiliti, Adm, Sewa & Lainnya
Biaya Umum & Adm Lainnya
Jumlah Beban Operasi
PENDAPATAN OPERASI
Pendapatan dan Beban Lain
Pendapatan lain
Jumlah Pendapatan lain
Beban lain-lain
Jumlah Beban lain-lain
Jumlah Pendapatan dan Beban Lain
LABA(RUGI) BERSIH (Before Tax)
LABA(RUGI) BERSIH (After Tax)
Sumber: CV. Menara Square, Agustus 2014

-3.886.480,27
2.215.226.015,00
1.947.118.344,99
1.947.118.344,99
268.107.670,01
78.926.360,00
78.926.360,00
78.926.360,00
78.926.360,00
189.181.310,01
0,00
0,00
0,00
189.181.310,01
189.181.310,01

Namun jika ditinjau dari kelengkapan laporan keuangannya, CV. Menara


Square tidak memaparkan semua jenis pendapatan yang mereka peroleh. Jenis
pendapatan yang penulis maksud adalah pendapatan atas penjualan dan
pendapatan atas jasa. Pada laporan keuangan tersebut, dapat dilihat bahwa CV.
Menara Square hanya mencantumkan pendapatan atas penjualan saja tanpa
mencantumkan pendapatan atas jasa yang mereka peroleh. Sedangkan CV.
Menara Square bergerak di bidang Perdagangan dan Jasa. Seharusnya pendapatan
tersebut haruslah dibedakan berdasarkan jenisnya. Jika pendapatan yang diperoleh
bersumber dari penjualan, maka pendapatan tersebut merupakan pendapatan atas
penjualan barang dagang. Jika pendapatan yang diperoleh bersumber dari jasa
terhadap konsumen, maka pendapatan tersebut merupakan pendapatan atas jasa.

12

Selain itu, CV. Menara Square tidak membuat Catatan Atas Laporan
Keuangan. Alasan mengenai hal tersebut adalah pada aplikasi Accurate
Accounting Software tidak terdapat fitur yang menyajikan Catatan Atas Laporan
Keuangan. Alasan lainnya adalah laporan keuangan CV. Menara Square dikelola
sendiri oleh pemiliknya dan tidak mempekerjakan seseorang untuk menangani
laporan keuangannya. Padahal seperti yang kita ketahui bahwa Catatan Atas
Laporan Keuangan membantu menjelaskan perhitungan item tertentu dalam
laporan keuangan serta memberikan penilaian yang lebih komprehensif mengenai
kondisi keuangan perusahaan. Namun hal yang terpenting adalah melalui Catatan
Atas Laporan Keuangan pengguna laporan keuangan baik internal maupun
eksternal dapat mengetahui apakah sebuah entitas telah menerapkan SAK ETAP
atau tidak.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, penulis merumuskan
masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah penerapan SAK ETAP dalam penyajian laporan keuangan CV.
Menara Square?
2. Faktor apa sajakah yang menyebabkan CV. Menara Square tidak
menggunakan SAK ETAP pada laporan keuangannya?
C. Batasan Penelitian
Pemaparan batasan masalah pada penelitian ini bertujuan untuk
mengarahkan pembahasan masalah pada topik penelitian yang ingin dibahas oleh
penulis dan supaya pembahasan tidak menyimpang dari topik penelitian yang

13

ingin dibahas oleh penulis. Adapun batasan penelitian yang dimaksud oleh penulis
pada penelitian ini adalah laporan keuangan CV. Menara Square untuk periode
bulan Agustus, September, dan Oktober 2014.
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusah masalah tersebut, maka tujuan dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui penerapan SAK ETAP dalam penyajian laporan keuangan
CV. Menara Square.
2. Untuk mengetahui faktor penyebab CV. Menara Square tidak menerapkan
SAK ETAP pada laporan keuangannya.

E. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Bagi Penulis.
a. Menambah pengetahuan tentang SAK ETAP, penerapannya pada laporan
keuangan UMKM, dan peranan pencatatan akuntansi sesuai SAK ETAP
pada UMKM.
b. Memperoleh gambaran tentang praktek di lapangan secara langsung
berdasarkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan.
2. Bagi Dunia Akademisi.
a. Sebagai pengembangan teori dan pengetahuan di bidang akuntansi
mengenai permasalahan yang diusung oleh penulis.
3. Bagi UMKM yang Diteliti dan UMKM yang Lainnya.
a. Dapat menjadi acuan mengenai penerapan SAK ETAP pada UMKM
sehingga dapat memperbaiki laporan keuangan dan kinerja entitas untuk
masa yang akan datang terutama pada CV. Menara Square.
F. Landasan Teori dan Kajian Empiris
1.
Gambaran Umum Perusahaan
CV. Menara Square didirikan pada tanggal 8 Agustus 2008. CV. Menara
Square berada di Jl. HOS Cokroaminoto No. 294 Merdeka Timur, Kota Pontianak.

14

Bergerak di bidang perdagangan dan jasa seperti service dan maintenance. CV.
Menara Square bekerja sama dengan berbagai mitra kerja seperti DATACOM dan
METRO COMPUTER sebagai upaya dalam mengelola usaha.
CV. Menara Square dipimpin oleh Hervant Hasaid. Pada struktur
organisasi tersebut, pimpinan membawahi langsung empat bidang. Masingmasing bidang yang dibawahi langsung adalah bidang Teknisi, Marketing, Kasir,
dan Kolektor. Bidang teknisi terdiri dari 3 orang yaitu Robiansyah, Rdiwansyah
dan Rendy. Bidang marketing terdiri dari Elias dan Umi. Bagian kasir ditempati
oleh Neni. Bagian kolektor ditempati oleh Awaludin. Berikut ini adalah struktur
organisasi CV. Menara Square.

_PIMPINAN_
Hervant Hasaid
Sumber: Data Olahan Sendiri 2014
Gambar F.1 Struktur Organisasi CV. Menara Square
__TEKNISI__
MARKETING
_ _ KASIR _ _
_KOLEKTOR_
Robiansyah
Awaludin
Elias
Neni
2. Ridwansyah
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah
Umi
Rendy
Menurut Arizali Aufar (2013), Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah adalah
usaha ekonomi produktif yang digerakkan oleh orang-perorangan atau badan
usaha dengan modal tertentu dan keterbatasannya dalam mengembangkan usaha.
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan kegiatan usaha
yang mampu memperluas lapangan kerja dan memberikan pelayanan ekonomi
secara luas kepada masyarakat, dan dapat berperan dalam proses pemerataan dan
peningkatan pendapatan masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan
berperan dalam mewujudkan stabilitas nasional. Selain itu, Usaha Mikro, Kecil,
dan Menengah (UMKM) adalah salah satu pilar utama ekonomi nasional yang
harus memperoleh kesempatan utama, dukungan, perlindungan, dan

15

pengembangan seluas-luasnya sebagai wujud keberpihakan yang tegas kepada


kelompok usaha ekonomi rakyat, tanpa mengabaikan peranan Usaha Besar dan
Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki kriteria masingmasing. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro,
Kecil, dan Menengah (UMKM), kriteria UMKM di antaranya adalah sebagai
berikut:
a. Usaha Mikro
Usaha Mikro adalah usaha ekonomi produktif milik orang perorangan
dan/atau badan usaha perorangan. Adapun kriteria dari Usaha Mikro yang telah
diatur dalam UU No. 20 Tahun 2008 adalah sebagai berikut:
1) Memiliki kekayaan bersih paling banyak RP50.000.000,00 (lima puluh
juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
2) Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga
ratus juta rupiah).
b. Usaha Kecil
Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak
perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi
bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha
Besar. Adapun kriteria dari Usaha Kecil yang telah diatur dalam UU No. 20 Tahun
2008 adalah sebagai berikut:
1) Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah) sampai dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
2) Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus
juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua milyar
lima ratus juta rupiah).

16

c. Usaha Menengah
Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri,
yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan
anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi
bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha
Besar. Adapun kriteria dari Usaha Menengah yang telah diatur dalam UU No. 20
Tahun 2008 adalah sebagai berikut:
1) Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah) sampai dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh
milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
2) Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua
milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak
Rp50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).
Namun, sebagaimana yang telah diatur dalam pasal 6 ayat (4) UU No. 20
Tahun 2008, nilai nominal dari masing-masing kriteria UMKM dapat berubah
sesuai dengan perkembangan perekonomian yang diatur dengan peraturan
presiden.

3.

Definisi Akuntansi
Definisi akuntansi seperti yang diberikan oleh Komite Terminologi dai

American Institute of Certified Public Accountant (AICPA) adalah sebagai berikut:


Akuntansi adalah suatu seni pencatatan, pengklasifikasian, dan
pengikhtisaran dalam cara yang signifikan dan satuan mata uang
transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian yang paling tidak
sebagian di antaranya memiliki sifat keuangan dan selanjutnya
menginterpretasikan hasilnya.

17

Ahmed Riahi dan Belkaoui (2006) berangapan bahwa ruang lingkup


akuntansi sebagaimana yang dijelaskan oleh definisi di atas tampak seperti
terbatas. Mereka membuat perspektif yang lebih luas dinyatakan dalam definisi
yang menggambarkan akuntansi. Adapun perspektif yang dimaksud adalah
sebagai berikut:
Akuntansi adalah proses pengidentifikasian, pengukuran, dan
pengomunikasian informasi ekonomi sehingga memungkinkan
adanya pertimbangan dan pengambilan keputusan berdasarkan
informasi oleh pengguna informasi tersebut.
Rudianto (2010) mengemukakan definisi akuntansi sebagai berikut:
Akuntansi adalah sebuah sistem informasi yang menghasilkan
informasi keuangan kepada pihak-pihak yang berkepentingan
mengenai aktivitas ekonomi dan kondisi suatu perusahaan.
4.

Siklus Akuntansi
Menurut Rudianto (2009), pengertian siklus akuntansi adalah sebagai

berikut:
Siklus akuntansi adalah urutan kerja yang harus dibuat oleh
akuntan sejak awal hingga menghasilkan laporan keuangan suatu
perusahaan.
Sedangkan Manahan Nasution (2010) mengartikan siklus akuntansi
sebagai berikut:
Siklus akuntansi adalah suatu proses penyediaan laporan
keuangan perusahaan untuk suatu periode waktu tertentu yang
dimulai dari terjadinya transaksi, sampai penyiapan laporan
keuangan pada akhir suatu periode.
Michell Suharli (2006) mendefinisikan siklus akuntansi sebagai rangkaian
urutan tahapan proses dari suatu transaksi dan peristiwa sampai dengan pelaporan

18

pada akhir periode dan berlanjut dari analisa transaksi sampai pelaporan periode
Neraca Lajur
berikutnya
dan begitu seterusnya.
ini adalah siklus akuntansi menurut Michell Suharli.
LaporanBerikut
Keuangan
Jurnal Penutup
Dokumen Transaksi Jurnal

Jurnal Pembalik

Buku Besar Neraca Saldo


Jurnal Penyesuaian

Sumber: Suharli 2006

Gambar F.2 Bagan Siklus Akuntansi Menurut Michell Suharli


Siklus akuntansi terdiri dari tahap pencatatan dan tahap pengikhtisaran.
Pada tahap pencatatan meliputi pembuatan atau penerimaan bukti transaksi,
pencatatan dalam jurnal, dan pemindah bukuan ke buku besar. Sedangkan pada
tahap pengikhtisaran meliputi pembuatan neraca saldo, pembuatan neraca lajur
dan neraca penyesuaian, penyusunan laporan keuangan, pembuatan jurnal
penutup, pembuatan neraca saldo penutup, dan pembuatan jurnal pembalik.
Pencatatan adalah pengumpulan data secara teratur tentang peredaran
bruto atau penghasilan bruto sebagai dasar untuk menghitung jumlah pajak yang
terutang termasuk penghasilan yang bukan objek pajak dan yang dikenakan pajak
yang bersifat final. Sedangkan pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang
dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang
meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan, biaya, dan jumlah harga perolehan
serta penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan
keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi pada setiap tahun pajak berakhir
(Waluyo, 2010).

19

5.

Laporan Keuangan
Pengertian laporan keuangan menurut Harahap (2007) adalah sebagai

berikut:
Laporan keuangan merupakan laporan yang menggambarkan
kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat
tertentu atau jangka waktu tertentu.
Menurut Kasmir (2010), laporan keuangan adalah laporan yang
menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode
tertentu.
Sedangkan Munawir (2010) mendefinisikan laporan keuangan sebagai
laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam
suatu periode tertentu.
Laporan keuangan yang dihasilkan oleh setiap organisasi memiliki suatu
tujuan tertentu. Walaupun satu badan usaha memiliki bidang usaha dan
karakteristik yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, tetapi secara
umum laporan keuangan disusun dengan tujuan sebagai berikut:
a. Untuk memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai sumbersumber ekonomi, dan kewajiban serta modal suatu perusahaan.
b. Untuk memberikan informasi yang dapat dipercaya mengenai perubahan dalam
sumber-sumber ekonomi suatu perusahaan yang timbul dalam aktivitas usaha
dalam rangka memperoleh laba.
c. Untuk memberikan informasi keuangan yang membantu para pemakai laporan
dalam mengestimasi potenssi perusahaan guna menghasilkan laba di masa
mendatang.
d. Untuk memberikan informasi penting lainnya mengenai perubahan dalam sumbersumber ekonomi dan kewajiban, seperti informasi mengenai aktivitas
pembelanjaan dan investasi.

20

e. Untuk mengungkapkan sejauh mungkin informasi lain yang berhubungan dengan


laporan keuangan yang relevan untuk kebutuhan pengguna laporan, seperti
informasi mengenai kebijaksanaan akuntansi yang dianut perusahaan.
Walaupun setiap perusahaan memiliki bidang usaha dan karakteristik yang
berbeda satu sama lain sehingga rincian laporan keuangan satu perusahaan dengan
perusahaan lainnya dapat berbeda, tetapi setiap laporan keuangan yang dihasilkan
oleh setiap institusi harus memenuhi beberapa standar kualitas berikut ini agar
bermanfaat:
a. Relevan. Setiap jenis laporan yang dihasilkan oleh perusahaan harus sesuai
dengan maksud penggunanya sehingga dapat bermanfaat. Oleh karena itu, dalam
proses penyusunan laporan keuangan akuntan harus memfokuskan pada tujuan
umum pemakai laporan keuangan.
b. Dapat dimengerti. Laporan keuangan harus disusun dengan istilah dan bahasa
yang sesederhana mungkin sehingga dapat dimengerti oleh pihak yang
membutuhkannya. Laporan keuangan yang tidak dapat dimengerti tidak aka nada
manfaatnya sama sekali.
c. Daya uji. Informasi keuangan yang dihasilkan suatu perusahaan harus dapat diuji
kebenarannya oleh seorang pengukur yang independen dengan menggunakan
metode pengukuran yang sama.
d. Netral. Informasi keuangan harus ditujukan kepada tujuan umum pengguna,
bukan ditujukan kepada pihak tertentu saja. Laporan keuangan tidak boleh
berpihak pada salah satu pengguna laporan keuangan tersebut.
e. Tepat waktu. Laporan keuangan harus dapat disajikan sedini mungkin agar dapat
digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan perusahaan. Laporan keuangan
yang terlambat penyampaiannya akan membuat pengambilan keputusan

21

perusahaan menjadi tertunda dan tidak relevan lagi dengan waktu dibutuhkannya
informasi tersebut.
f. Daya banding. Laporan keuangan suatu perusahaan harus dapat dibandingkan
dengan laporan keuangan perusahaan itu sendiri pada periode-periode
sebelumnya, atau dengan perusahaan lain yang sejenis pada periode yang sama.
g. Lengkap. Informasi keuangan harus menyajikan semua fakta keuangan yang
penting sekaligus menyajikan fakta-fakta tersebut sedemikian rupa sehingga tidak
akan menyesatkan pembacanya. Maka harus terdapat klasifikasi, susunan serta
istilah yang layak dalam laoran keuangan. Demikian pula fakta atau informasi
tambahan yang dapat mempengaruhi perilaku dalam pengambilan keputusan,
harus diungkapkan dengan jelas.
6.

Penyajian Laporan Keuangan Sesuai SAK ETAP


Laporan keuangan menyajikan dengan wajar posisi keuangan, kinerja

keuangan, dan arus kas suatu entitas. Penyajian wajar dengan syarat penyajian
jujur atas pengaruh transaksi, peristiwa, dan kondisi lain yang sesuai dengan
definisi dan kriteria pengakuan aset, kewajiban, penghasilan, dan beban dengan
pengungkapan tambahan jika diperlukan, menghasilkan laporan keuangan yang
wajar atas posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas. Pengungkapan
tambahan diperlukan ketika kepatuhan atas persyaratan tertentu dalam SAK ETAP
tidak memadai bagi pemakai untuk memahami pengaruh dari transaksi tertentu,
peristiwa dan kondisi lain atas posisi keuangan dan kinerja keuangan entitas.
Perangkat laporan keuangan yang sesuai dengan SAK ETAP terdiri dari:
a.

Laporan Posisi Keuangan (Neraca)

22

Seperti yang tertera pada SAK ETAP, laporan posisi keuangan (neraca),
menyajikan aset, liabilitas, ekuitas suatu entitas pada tanggal pelaporan tertentu.
Informasi yang minimal harus tersaji pada neraca adalah sebagai berikut:
1) Kas dan Setara Kas
2) Piutang Usaha dan Piutang Lainnya
3) Persediaan
4) Properti Investasi
5) Aset Tetap
6) Aset Tidak Berwujud
7) Utang Usaha dan Utang Lainnya
8) Aset dan Kewajiban Pajak
9) Kewajiban yang Telah Diestimasi
10) Ekuitas
Entitas menyajikan pos, judul, dan sub jumlah lainnya dalam neraca jika
penyajian yang seperti itu relevan terhadap pemahaman tentang posisi keuangan
entitas. SAK ETAP tidak menentukan format atau urutan terhadap pos-pos yang
disajikan.
Pada laporan posisi keuangan (neraca), entitas harus menyajikan aset
lancar, aset tidak lancar, kewajiban jangka pendek, dan kewajiban jangka panjang
sebagai suatu klasifikasi yang terpisah dalam neraca. Kecuali jika penyajian
berdasarkan likuiditas memberikan informasi yang andal dan lebih relevan. Jika
pengecualian tersebut diterapkan, maka semua aset dan kewajiban harus disajikan
berdasarkan likuiditasnya. Semua aset dan liabilitas disajikan menurut
likuiditasnya dari yang paling likuid atau dari yang tidak likuid.
Suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar apabila:
1) Akan direalisasikan dalam siklus operasi normal entitas.
2) Dipertahankan terutama untuk tujuan diperdagangkan.
3) Akan direalisasikan dalam jangka waktu 12 bulan setelah tanggal
pelaporan.
4) Menjadi kas atau menjadi setara kas yang direalisasikan, jika dibatasi
untuk suatu periode yang lebih lama dari 12 bulan setelah tanggal
pelaporan.

23

Suatu liabilitas diklasifikasikan sebagai lancar apabila:


1)
2)
3)
4)

Akan diselesaikan dalam siklus operasi normal entitas.


Dipertahankan terutama untuk tujuan diperdagangkan.
Akan direalisasikan dalam 12 bulan setelah tanggal pelaporan.
Tidak mempunyai hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian liabilitas,
setidaknya 12 bulan setelah tanggal pelaporan.
Semua aset dan liabilitas lain yang tidak memenuhi salah satu dari kriteria

di atas, diklasifikasikan sebagai tidak lancar. Apabila suatu siklus operasi normal
entitas tidak dapat diidentifikasikan secara jelas, oleh karena itu terdapat asumsi
rebuttable (dapat disangkali) yang berdurasi 12 bulan, dan dengan demikian
kriteria pertama yang ditetapkan menurut aset maupun menurut liabilitas
diabaikan.
b.
Laporan Laba Rugi
SAK ETAP mewajibkan entitas untuk menyajikan laporan laba rugi untuk
suatu periode yang merupakan kinerja keuangannya selama periode tersebut dan
mengatur informasi yang disajikan dalam laporan laba rugi serta cara
penyajiannya. Laporan laba rugi menyajikan penghasilan dan beban entitas untuk
suatu periode.
Laporan laba rugi memasukkan semua pos penghasilan dan beban yang
diakuidalam suatu periode kecuali SAK ETAP mensyaratkan lain. SAK ETAP
mengatur perlakuan berbeda terhadap dampak koreksi atas kesalahan dan
perubahan kebijakan akuntansi yang disajikan sebagai penyesuaian terhadap
periode yang lalu dan bukan sebagai bagian dari laba atau rugi dalam periode
terjadinya perubahan.
Laporan laba rugi minimal mencakup pos-pos sebagai berikut:
1) Pendapatan.
2) Beban Keuangan.
3) Bagian Laba atau Rugi Dari Investasi yang Menggunakan Metode Ekuitas.
4) Beban Pajak.
5) Laba atau Rugi Neto.

24

Entitas menyajikan pos, judul, dan sub jumlah lainnya pada laporan laba
rugi jika penyajian tersebut relevan untuk memahami kinerja keuangan entitas.
Entitas tidak boleh menyajikan atau mengungkapkan pos pendapatan dan beban
sebagai pos luar biasa, baik dalam laporan laba rugi maupun dalam catatan atas
laporan keuangan.
c.

Laporan Perubahan Ekuitas dan Laporan Laba Rugi dan Saldo Laba
SAK ETAP mengatur persyaratan untuk penyajian perubahan dalam

ekuitas entitas selama suatu periode, baik dalam laporan perubahan ekuitas dan
laporan laba rugi dan saldo laba jika memenuhi kondisi tertentu.
Laporan perubahan ekuitas menyajikan laba atau rugi entitas untuk suatu
perode, pos pendapatan dan beban yang diakui secara langsung dalam ekuitas
untuk periode tersebut, pengaruh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi
kesalahan yang diakui dalam periode tersebut, jumlah investasi oleh pemilik dan
dividen serta distribusi lain ke pemilik ekuitas selama periode tersebut.
Entitas menyajikan laporan perubahan ekuitas yang menunjukkan:
1) Laba atau rugi untuk periode.
2) Pendapatan dan beban yang diakui langsung dalam ekuitas.
3) Untuk setiap komponen ekuitas, pengaruh perubahan kebijakan akuntansi,
dan koreksi kesalahan yang diakui.
4) Untuk setiap komponen ekuitas, suatu rekonsiliasi antara jumlah tercatat
awal dan akhir periode, diungkapkan secara terpisah perubahan yang
berasal dari:
a) Laba atau rugi.
b) Pendapatan dan beban yang diakui langsung dalam ekuitas.
c) Jumlah investasi, dividen, dan distribusi lainnya ke pemilik ekuitas,
yang menunjukkan secara terpisah modal saham, transaksi saham
treasuri, dan dividen serta distribusi lainnya ke pemilik ekuitas, dan

25

perubahan kepemilikan dalam entitas anak yang tidak mengakibatkan


kehilangan pengendalian.
Laporan laba rugi dan saldo laba menyajikan laba atau rugi entitas dan
perubahan saldo laba untuk suatu periode pelaporan. Sebagai tambahan atas
informasi yang disyaratkan dalam laporan laba rugi, entitas menyajikan di laporan
laba rugi dan saldo laba pos-pos berikut:
1) Saldo laba pada awal periode pelaporan.
2) Dividen yang diumumkan dan dibayarkan atau terutang selama periode.
3) Penyajian kembali saldo laba setelah koreksi kesalahan periode lalu.
4) Penyajian kembali saldo laba setelah perubahan kebijakan akuntansi.
5) Saldo laba pada akhir periode pelaporan.
d.
Laporan Arus Kas
SAK ETAP mengatur informasi yang disajikan dalam laporan arus kas dan
bagaimana penyajiannya. Laporan arus kas menyajikan informasi perubahan
historis atas kas dan setara kas entitas, yang menunjukkan secara terpisah
perubahan yang terjadi selama satu periode dari aktivitas operasi, investasi, dan
pendanaan.
Setara kas adalah investasi jangka pendek dan sangat likuid yang dimiliki
untuk memenuhi komitmen kas jangka pendek, bukan untuk tujuan investasi atau
lainnya. Oleh karena itu, investasi umumnya diklasifikasikan sebagai setara kas
hanya jika akan segera jatuh tempo dalam waktu tuga bulan atau kurang sejak
tanggal perolehan. Cerukan bank pada umumnya termasuk aktivitas pendanaan
sejenis dengan pinjaman. Namun, jika cerukan bank dapat ditarik sewaktu-waktu
dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pengelolaan kas entitas, maka
cerukan tersebut termasuk komponen kas dan setara kas.
Entitas menyajikan laporan arus kas yang melaporkan arus kas untuk suatu
periode dan mengklasifikasikan menurut aktivitas operasi, aktivitas investasi, dan
aktivitas pendanaan.

26

Arus kas dari aktivitas operasi terutama diperoleh dari aktivitas penghasil
utama pendapatan entitas. Oleh karena itu, arus kas tersebut pada umumnya
berasal dari transaksi dan peristiwa serta kondisi lain yang mempengaruhi
pendapatan laba atau rugi. Contoh arus kas dari aktivitas operasi adalah:
1) Penerimaan kas dari penjualan barang dan jasa.
2) Penerimaan kas dari royalti, fees, komisi, dan pendapatan lain.
3) Pembayaran kas kepada pemasok barang dan jasa.
4) Pembayaran kas kepada dan atas nama karyawan.
5) Pembayaran kas atau restitusi pajak penghasilan kecuali jika dapat
diidentifikasikan secara khusus sebagai bagian dari aktivitas pendanaan
dan investasi.
6) Penerimaan dan pembayaran kas dari investasi, pinjaman, dan kontrak
lainnya yang dimiliki untuk tujuan perdagangan, yang sejenis dengan
persediaan yang dimaksudkan untuk dijual kembali.
Beberapa transaksi, seperti penjualan peralatan pabrik, dapat menimbulkan
keuntungan atau kerugian yang dimasukkan dalam perhitungan laba atau rugi.
Tetapi, arus kas yang menyangkut transaksi tersebut merupakan arus kas dari
aktivitas investasi.
Arus kas dari aktivitas investasi mencerminkan pengeluaran kas
sehubungan dengan sumber daya yang bertujuan untuk menghasilkan pendapatan
dan arus kas masa depan. Contoh arus kas yang berasal dari aktivitas investasi
adalah:
1) Pembayaran kas untuk memperoleh aset tetap (termasuk aset tetap yang
dibangun sendiri), aset tidak berwujud, dan aset jangka panjang lainnya.
2) Penerimaan kas dari penjualan aset tetap, aset tidak berwujud, dan aset
jangka panjang lainnya.
3) Pembayaran kas untuk perolehan efek ekuitas atau efek utang entitas lain
dan bunga dalam joint venture (selain pembayaran untuk efek yang

27

diklasifikasikan sebagai kas atau setara kas atau dimiliki untuk


diperdagangkan).
4) Penerimaan kas dari penjualan efek ekuitas atau efek utang dari entitas lain
dan bunga dari joint venture (selain penerimaan dari efek yang
diklasifikasikan sebagai setara kas atau dimiliki untuk diperdagangkan).
5) Uang muka dari pinjaman yang diberikan kepada pihak-pihak lain.
6) Penerimaan kas dari pembayaran kebali uang muka dan pinjaman yang
diberikan kepada pihak lain
Contoh arus kas yang berasal dari aktivitas pendanaan adalah:
1) Penerimaan kas dari penerbitan saham atau efek ekuitas lain.
2) Pembayaran kas kepada para pemegang saham untuk menarik atau
menebus saham entitas.
3) Penerimaan kas dari penerbitan pinjaman, wesel, dan pinjaman jangka
pendek atau jangka panjang lainnya.
4) Pelunasan pinjaman.
5) Pembayaran kas oleh lessee untuk mengurangi saldo kewajiban yang
e.

berkaitan dengan sewa pembiayaan.


Catatan Atas Laporan Keuangan
SAK ETAP mengatur prinsip yang mendasari informasi yang disajikan

dalam catatan atas laporan keuangan dan cara penyajiannnya. Catatan atas laporan
keuangan berisi informasi sebagai tambahan informasi yang disajikan dalam
laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan memberikan penjelasan naratif
atau rincian jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan dan informasi pos-pos
yang tidak memenuhi kriteria pengakuan dalam laporan keuangan.
Catatan laporan keuangan harus memenuhi kriteria berikut:
1) Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan
kebijakan akuntansi.
2) Mengungkapkan informasi yang disyaratkan dalam SAK ETAP tetapi
tidak disajikan dalam laporan keuangan.
3) Memberikan informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan
keuangan, tetapi relevan untuk memahami laporan keuangan.

28

Catatan atas laporan keuangan disajikan secara sistematis sepanjang hal


tersebut praktis. Setiap pos dalam laporan keuangan merujuk-silang ke informasi
terkait dalam catatan atas laporan keuangan.
Secara normal, urutan penyajian catatan atas laporan keuangan adalah
sebagai berikut:
1) Suatu pernyataan bahwa laporan keuangan telah disusun sesuai dengan
SAK ETAP.
2) Ringkasan kebijakan akuntansi signifikan yang diterapkan.
3) Informasi yang mendukung pos-pos laporan keuangan, sesuai dengan
urutan penyajian setiap komponen laporan keuangan dan urutan penyajian
pos-pos tersebut.
4) Pengungkapan lain.
Dalam ringkasan kebijakan akuntansi yang signifikan harus diungkapkan:
1) Dasar pengukuran yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan.
2) Kebijakan akuntansi lain yang digunakan yang relevan untuk memahami
laporan keuangan.
Jika entitas hanya mengalami perubahan ekuitas yang muncul dari laba
atau rugi, pembayaran dividen, koreksi kesalahan periode lalu, dan perubahan
kebijakan akuntansi selama periode laporan keuangan disajikan maka entitas
dapat menyajikan laporan laba rugi dan saldo laba sebagai pengganti laporan laba
rugi dan laporan perubahan ekuitas.
7. Konsep Sistem Informasi Akuntansi
Sistem informasi manajemen berkepentingan dengan penyediaan
informasi yang menyeluruh dan terintegrasi untuk membantu pengambilan
keputusan bagi berbagai tingkatan manajemen dalam suatu organisasi atau
perusahaan. Ditinjau dari hal tersebut, maka sistem informasi merupakan
subsistem dari sistem informasi manajemen. Suatu subsistem yang menghasilkan

29

informasi keuangan baik untuk kepentingan manajerial maupun eksternal berbasis


data akuntansi biasanya disebut sistem informasi akuntansi (Riasetiawan, 2005).
Menurut Mardhani Riasetiawan (2005), Sistem Informasi Akuntansi
adalah proses mengumpulkan, menggolongkan, mengolah data transaksi, lalu
menganalisis, dan dikomunikasikan hasilnya dalam bentuk laporan keuangan
perusahaan.
Setiap sistem informasi akuntansi melaksanakan lima fungsi, yaitu
pengumpulan data, pemrosesan data, manajemen data, pengendalian data, dan
penghasil informasi.
a.
Pengumpulan Data
Fungsi pengumpulan data terdiri atas memasukkan data transaksi melalui
bukti-bukti transaksi kemudian data tersebut diperiksa untuk memastikan
ketepatan dan kelengkapannya.
b.
Pemrosesan Data
Pemrosesan data terdiri dari proses pengubahan input menjadi output.
Fungsi pemrosesan data terdiri dari langkah-langkah berikut:
1) Pengklasifikasian atau menetapkan data berdasarkan kategori yang telah
2)
3)
4)
5)
6)
7)
c.

ditetapkan.
Menyalin data ke dokumen atau media lain.
Mengurutkan, atau menyusun data menurut karakteristiknya.
Mengelompokkan atau mengumpulkan transaksi sejenis.
Menggabungkan atau mengkombinasikan dua atau lebih data atau arsip.
Melakukan peringkasan terhadap data.
Membandingkan data untuk mendapatkan persamaan atau perbedaan yang
ada.
Manajemen Data
Fungsi manajemen data terdiri atas tiga tahap yaitu penyimpanan,

pemutakhiran, dan pemunculan kembali (retrieving). Tahap penyimpanan


merupakan penempatan data dalam penyimpanan atau basis data yang disebut
arsip. Pada tahap pemutakhiran, data yang tersimpan diperbaharui dan disesuaikan

30

dengan peristiwa terbaru. Kemudian pada tahap retrieving, data yang tersimpan
diakses dan diringkas kembali untuk diproses lebih lanjut atau untuk keperluan
pembuatan laporan.
Manajemen data akan menunjang pencapaian efisiensi aktivitas dalam
proses menghasilkan informasi dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen
terutama mengenai informasi aktivitas dan informasi kebijakan manajemen.
d.

Pengendalian Data
Fungsi pengendalian data mempunyai dua tujuan dasar, yaitu untuk

menjaga serta menjamin keamanan aset perusahaan, dan untuk menjamin bahwa
data yang diperoleh akurat dan lengkap serta diproses dengan benar.
e.
Penghasil Informasi
Fungsi penghasil infromasi terdiri dari tahapan pemrosesan informasi
seperti penginterpretasian, pelaporan, dan pengkomunikasian informasi.
Menurut Romney dan Steinbart (2009), komponen-komponen sistem
informasi akuntansi adalah sebagai berikut:
a.
Orang (people) yang mengoperasikan sistem dan melakukan berbagai
b.
c.
d.
e.

macam fungsi
Prosedur-prosedur dan instruksi-instruksi.
Data tentang organisasi dan proses-proses bisnis.
Perangkat lunak yang digunakan untuk memroses data.
Infrastruktur teknologi informasi, termasuk komputer, peripheral devices,
dan perangkat jaringan komunikasi yang digunakan untuk mengumpulkan,
menyimpan, dan memindahkan data dan informasi.
G. Kerangka Pemikiran
Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK

ETAP) merupakan standar yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia untuk
entitas tanpa akuntabilitas publik seperti Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.
SAK ETAP diciptakan agar semua unit usaha menyusun laporan keuangan sesuai

31

dengan standar yang telah ditetapkan. Manfaat penerapan SAK ETAP pada Usaha
Mikro, Kecil, dan Menengah adalah untuk mengembangkan usaha dalam upaya
meyakinkan publik bahwa usaha yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan.
Salah satu cara dalam mempertanggungjawabkan perusahaan yaitu melakukan
penyajian laporan keuangan sesuai standar yang telah ditentukan. Karena dalam
penyajian laporan keuangan yang sesuai standar akan membantu manajemen
perusahaan untuk memperoleh berbagai kemudahan, misalnya untuk menentukan
kebijakan perusahaan di masa yang akan datang. Sehingga dengan adanya SAK
ETAP diharapkan laporan yang dimiliki oleh setiap entitas memiliki laporan
keuangan yang telah sesuai dengan standar pelaporan keuangan seperti yang
dijelaskan pada SAK ETAP dan berguna untuk pihak eksternal perusahaan
(Musyafaah, 2014).
Entitas seperti CV. Menara Square merupakan entitas yang tidak memiliki
akuntabilitas publik. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis
penerapan SAK ETAP dalam laporan keuangan pada CV. Menara Square dan
kelengkapan elemen-elemen laporan keuangan yang sesuai dengan SAK ETAP.
Kerangka pemikiran pada penelitian ini diilustrasikan pada gambar
berikut:

Laporan Keuangan yang Sesuai dengan SAK ETAP


Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik

Penerapan
SAK ETAP pada
CV. Menara Square

Laporan Keuangan CV. Menara Square


Sumber: Data Olahan Penulis 2014
Gambar G.1 Bagan Kerangka Pemikiran

32

H. Metode Penelitian
H.1. Jenis Penelitian
Metode penelitian merupakan salah satu komponen yang penting dalam
penelitian. Metode merupakan keseluruhan langkah ilmiah yang digunakan untuk
menemukan solusi atas suatu masalah (Ulber Silalahi, 2009). Metode penelitian
didefinisikan sebagai suatu setiap prosedur yang digunakan untuk mencapai
tujuan akhir (Sulistyo dan Basuki, 2006).
Permasalahan yang akan dibahas oleh penulis merupakan masalah yang
bersifat sosial dan dinamis. Untuk memahami gejala sosial, penulis harus dapat
mengetahui dan menyelesaikan masalah dengan melakukan pencarian,
pengelolaan, pengolahan, dan menganalisis masalah yang akan diteliti. Oleh
karena itu, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif.
Menurut I Wayan Koyan (2012), pengertian metodologi kualitatif adalah
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata
tertulis/lisan dari orang-orang atau perilaku yang dapat diamati. Penelitian
kualitatif merupakan suatu proses penyelidikan untuk memahami masalah sosial
berdasarkan pada penciptaan gambaran holistic lengkap yang dibentuk dengan
kata-kata, melaporkan pandangan informan secara terperinci, dan disusun-susun
dalam sebuah latar ilmiah (Ulber Silalahi, 2009). Penelitian kualitatif
berhubungan dengan ide, persepsi, pendapat, atau kepercayaan orang yang diteliti
dan kesemuanya yang tidak dapat diukur dengan angka (Sulistyo dan Basuki,
2006). Penelitian kualitatif bertujuan untuk memperoleh seutuhnya mengenai
suatu hal yang diteliti menurut pandangan manusia.

33

Dari pendapat di atas, maka dapat diketahui bahwa penelitian kualitatif


merupakan penelitian yang digunakan apabila faktor penelitian tidak dapat
dikuantitatifkan atau tidak dapat dihitung sehingga variabel tidak dapat
diungkapkan dengan angka seperti persepsi, pendapat, anggapan, dan sebagainya.
Pada penelitian ini penulis menggunakan metodologi penelitian deskriptif
kualitatif. Menurut Sugiyono (2008), penelitian deskriptif kualitatif adalah metode
penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivism yang biasanya
digunakan untuk meneliti pada kondisi objektif yang alamiah di mana penulis
berperan sebagai instrument kunci. Sedangkan Syaodih Nana Sukmadinata (2007)
mengartikan penelitian deskriptif kualitatif sebagai cara untuk mendeskripsikan
dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap kepercayaan,
persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok.
Metode yang penulis terapkan pada penelitian ini digunakan untuk
membandingkan antara laporan keuangan sesuai SAK ETAP dengan pencatatan
CV. Menara Square. Unit analisis dalam penelitian ini adalah laporan keuangan
yang dimiliki CV. Menara Square.
H.2.

Sumber Data
Data merupakan bahan penting yang digunakan oleh penulis untuk

menjawab pertanyaan dan mencapai tujuan penelitian. Oleh karena itu, data dan
kualitas data merupakan pokok penting dalam penelitian karena akan menentukan
kualitas hasil penelitian.
Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dan data
sekunder. Menurut teori penelitian kualitatif, agar penelitiannya dapat benar-benar

34

berkualitas maka data yang dikumpulkan harus lengkap, yaitu data primer dan
sekunder (Sulistyo dan Basuki, 2006).
Data primer merupakan data yang diperoleh langsung melalui wawancara.
Adapun data primer yang dimaksud adalah hasil wawancara terhadap pihak CV.
Menara Square mengenai laporan keuangan CV. Menara Square. Sedangkan data
sekunder adalah data yang diperoleh berdasarkan sumber yang telah dikumpulkan
dari pihak lain atau literatur yang mendukung. Adapun data sekunder yang
dimaksud adalah data laporan keuangan CV. Menara Square.
H.2.1. Cara Pengumpulan Data
Menurut Ulber Silalahi (2009), pengumpulan data adalah satu proses
mendapatkan data empiris melalui responden dengan menggunakan metode
tertentu.
Pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara berikut:
1.
Observasi Partisipan
Penulis mengamati peristiwa, kejadian, pose, dan sejenisnya disertai
dengan daftar yang perlu diobservasi. Penulis melakukan pengamatan langsung
terhadap objek penelitian yaitu CV. Menara Square dengan membawa data
observasi yang telah disusun sebelumnya untuk melakukan pengecekan kemudian
peristiwa yang diamati akan dicocokkan dengan data observasi (Sulistyo dan
Basuki, 2006).
2.
Wawancara Terstruktur
Menurut Sulistyo dan Basuki (2006), wawancara terstruktur adalah
wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah disiapkan
sebelumnya.
Penulis harus mengajukan pertanyaan yang sama dengan urutas yang sama
kepada semua responden agar menimbulkan tanggapan yang sama sehingga tidak
menimbulkan kesulitan pengolahan karena interpretasi yang berbeda. Wawancara

35

terstruktur dirancang sama dengan kuesioner. Wawancara dilakukan tidak dengan


tertulis seperti dengan mengajukan kuesioner tetapi dengan pertanyaan lisan.
Namun, wawancara dapat juga dilakukan dengan menggunakan kuesioner
sehingga dalam pelaksanaannya tidak perlu lagi untuk merekam percakapan.
Wawancara terstruktur dilakukan oleh penulis bila penulis mengetahui
secara jelas dan terperinci mengenai informasi yang dibutuhkan dan memiliki satu
daftar pertanyaan yang sudah ditentukan atau disusun sebelumnya yang akan
disampaikan kepada responden (Ulber Silalahi, 2009). Pewawancara memiliki
sejumlah pertanyaan yang telah disusun dan mengadakan wawancara atas dasar
atau panduan pertanyaan tersebut. Ketika responden memberikan pernyataan,
pewawancara mencatat jawaban tersebut. Kemudian pewawancara melanjutkan
pertanyaan lain yang sudah disusun atau disediakan. Keuntungan wawancara
terstruktur adalah mampu memperoleh jawaban yang cukup berkualifikasi.
Proses wawancara dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu Probing dan
Promping. Probing adalah pewawancara meminta responden menjelaskan
jawabannya secara rinci atau mendalam. Sedangkan Promping adalah upaya untuk
menjamin responden telah memilih sejumlah kemungkinan sebelum menjawab
pertanyaan (Sulistyo dan Basuki, 2006). Pada penelitian ini, penulis menggunakan
Probing. Penulis akan meminta jawaban dari responden berdasarkan pilihan
jawaban yang sudah disediakan di dalam kuesioner dan penulis juga meminta
kepada responden untuk menjelaskan jawabannya dalam kolom keterangan
supaya responden dapat menjelaskan pilihan jawaban pada kuesioner yang dia
pilih.
3.
Dokumentasi

36

Penulis melakukan kegiatan penelitian dengan pengambilan data yang


mendukung seperti foto dan dokumen sebagai bukti fisik atas pelaksanaan
penelitian. Pada penelitian ini, data yang akan digunakan untuk diteliti adalah
dokumen berupa laporan keuangan CV. Menara Square.
4.
Tinjauan Literatur
Penulis membaca buku-buku ataupun bahan referensi lainnya yang dapat
membantu penulis melakukan penelitian untuk memperoleh data yang relevan.
Tinjauan literatur merupakan sebagian dari teknik pengumpulan data. Adapun
literatur yang digunakan oleh penulis tertera pada daftar pustaka.

H.2.2. Lokasi Penelitian


Penulis menentukan lokasi penelitian ini di Kota Pontianak karena sesuai
dengan permasalahan yang penulis sampaikan sebelumnya pada latar belakang
bahwa penelitian akan dilakukan CV. Menara Square. Lokasi CV. Menara Square
berada di Jl. HOS Cokroaminoto No. 294 Merdeka Timur, Kota Pontianak.
H.3.

Tahapan Penelitian
Adapun tahap-tahap penelitian adalah sebagai berikut:

1. Pengolahan Data.
a.
Editing
Editing merupakan proses mengolah ulang data yang telah diperoleh.
Editing dilakukan agar dapat menghindari kesalahan akan data yang akan
diolah. Contohnya adalah pembuatan gambar-gambar yang penulis cantumkan
pada penelitian ini, pemilihan kata-kata redaksi yang sebelumnya diperoleh
dari sumber pustaka yang masih rancu dalam pengertiannya, dan penginputan
angka-angka dalam data yang penulis cantumkan.
b.
Verifikasi

37

Verifikasi merupakan pembandingan dan peninjauan kembali terhadap


data-data sesuai dengan landasan dan teori yang menjadi bahan penelitian.
Penulis melakukan verifikasi terhadap data-data yang diperoleh agar data yang
digunakan pada penelitian ini menjadi relevan sehingga hasilnya benar-benar
tidak meragukan lagi.
2. Analisis Data
Pada tahapan ini, penulis menggunakan teori dan pengetahuan yang
dimiliki untuk menganalisis dan menarik kesimpulan dari permasalahan yang
diteliti. Adapun pelaksanaannya adalah sebagai berikut:
a.

Mempelajari penerapan SAK ETAP dalam penyajian laporan keuangan

b.

entitas.
Mempelajari data yang telah didapatkan yaitu berupa laporan keuangan
yang disajikan oleh entitas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang
diteliti yaitu laporan keuangan CV. Menara Square.

H.4.

Alat Analisis Data


Adapun alat analisis yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Agar dapat mengetahui tentang bagaimana penerapan SAK ETAP pada laporan
keuangan CV. Menara Square, maka alat analisis data yang digunakan adalah
sebagai berikut:
a.
SAK ETAP
SAK ETAP merupakan standar bagi entitas tanpa akuntabilitas publik
b.

dalam penyusunan laporan keuangan.


Laporan Keuangan CV. Menara Square.
Pada penelitian ini, laporan keuangan CV. Menara Square akan
dibandingkan dengan laporan keuangan yang sesuai SAK ETAP.

38

2. Agar dapat mengetahui tentang apa saja faktor yang menyebabkan CV. Menara
Square tidak menggunakan SAK ETAP pada penyusunan laporan keuangannya,
maka alat analisis data yang digunakan adalah sebagai berikut:
a. Kuesioner
Pada penelitian ini, kuesioner digunakan untuk mengetahui faktor yang
menyebabkan CV. Menara Square tidak menggunakan SAK ETAP pada
penyusunan laporan keuangannya.