Anda di halaman 1dari 39

WATER DAN GAS CONING PADA SUMUR

HORISONTAL DAN VERTIKAL

Suatu Sumur yang belum diproduksikan maka fluida yang terdapat


didalam reservoir yang bersangkutan berada dalam keadaan kesetimbangan statik.
Perbedaan densitas antara air, minyak dan gas menyebabkan gas tetap berada
diatas zona minyak dan air tetap berada dibawah zona minyak. Pada kondisi statik
ini, dalam suatu reservoir homogen, bidang antar fasa minyak-air dan minyak-gas
(oil-water interface dan gas-oil interface) berada dalam keadaan horisontal.
Apabila sumur tersebut, yang diselesaikan secara perforasi, diproduksikan maka
tekanan disekitar lubang sumur akan turun sehingga gradient alir (flowing
gradient) yang ditimbulkan cendrung untuk menurunkan bidang batas gas minyak
dan menaikan bidang batas minyak air disekitar lubang bor sampai dicapai
kondisi kesetimbang. Pada kndisi ini dua gradient yang berlawanan, yaitu gradien
tekan alir dan gradien hidrostatis (gaya gravitasi) menjadi seimbang. Jika laju
produksi terlalu besar menyebabkan gradien alir yang tinggi disekitar lubang bor
mengalahkan gaya gravitasi, sehingga kerucut air dan gas menjadi tidak stabil dan
memasuki sumur.
Suatu kerucut akan stabil bila :
Sumur diproduksikan pada laju yang tetap
Gradien tekanan pada daerah pengurasan adalah tetap
Gradien tekanan alir lebih kecil dari gaya gravitasi
Water dan gas coning merupakan masalah yang serius dalam produksi
minyak dilapangan baik pada sumur horisontal dan sumur vertikal. Produksi
minyak yang mengalami water dan gas coning dapat mengurangi produksi minyak
yang cukup berarti, sehingga perlu untuk meminimalkan atau paling tidak
menunda atau mencagah terjadinya coning terlalu dini. Pada reservoir dengan
dasar air, bila tidak ada gas cap, sumur vertikal secara normal casing produksi
diletakan pada bagian atas formasi produktif untuk meminimalkan atau menunda
water coning. Pada reservoir gas cap, jika tidak ada air didasar reservoir, sumur

vertikal di perforasi serendah mungkin sehingga interval perforasi jauh dari gas
cap untuk menunda terjadinya gas coning. Untuk reservoir yang mempunyai
kedua kondisi ini yaitu reservoir dengan dasar air dan gas cap, sumur vertikal
diperforasi di dekat pusat dari tinggi formasi produktif atau dibawah pusat dekat
formasi yang terisi air. Hal ini disebabkan karena kecendrungan coning adalah
berbanding terbalik dengan perbedaan densitas dan berbanding lurus dengan
viscositas. Perbedaan densitas antara gas dengan minyak lebih besar daripada
perbedaan densitas antara air dan minyak. Karena itu, gas lebih mempunyai
kecendrungan untuk terjadinya coning dari pada air. Viscositas gas lebih rendah
daripada viscositas air dan untuk tekanan drawdown yang sama direservoir, laju
alir gas akan lebih tinggi daripada laju alir air.
Salah satu sebab utama terjadinya coning adalah tekanan drawdown. Pada
Gambar 4.1, sumur vertikal memperlihatkan tekanan drawdown yang besar
didekat lubang sumur. Tekanan drawdown yang besar disekitar lubang sumur
yang menyebabkan terjadinya coning. Kebalikan dari itu, tekanan drawdown yang
rendah menunjukan terjadinya coning cendrung minimum. Untuk mencapai aliran
produksi yang sesuai, harus memberikan tekanan drawdown yang lebih besar
pada reservoir dengan permeabilitas rendah daripada reservoir dengan
permeabilitas tinggi. Dengan demikian reservoir dengan permeabilitas tinggi
kurang memperlihatkan kecendrungan terjadinya coning daripada reservoir
dengan permeabilitas rendah. Pada tekanan drawdown, besarnya pressure drop di
dasar sumur dengan reservoir permeabilitas tinggi lebih kecil dibandingkan
dengan reservoir dengan permeabilitas rendah. Dengan demikian reservoir dengan
permeabilitas tinggi menunjukan kecendrungan terjadinya masalah coning rendah
karena tekanan drawdown di sekitar lubang sumur kecil.
Coning dapat dikurangi dengan meminimalkan tekanan drawdown. Laju
produksi

minyak

sebanding

dengan

tekanan

drawdown,

dan

dengan

meminimalkan tekanan drawdown untuk mencegah terjadinya coning maka hal


ini akan mengurangi laju produksi. Dengan sumur horisontal, tekanan drawdown
yang dicapai minimum. Produksi per unit panjang sumur mungkin kecil tetapi
karena pengaruh dari panjang bagian horisontalnya hal ini tidak mengurangi laju

produksi minyak. Dengan demikian sumur horisontal memberikan produksi yang


optimum dimana tekanan drawdown dan kecendrungan terjadinya coning dapat
diminimalkan dan laju produksi yang tinggi dapat diperoleh.

Gambar 4.1.
Perbandingan Tekanan Drawdown di Lubang Sumur 16)
Horisontal dan Vertikal

4.1. Laju Alir Kritis


Beberapa eksperimen dan analisis matematika telah dilakukan untuk
menyelesaikan problem coning. Salah satu ananlisis adalah jika minyak
diproduksikan pada laju produksi rendah atau jika tekanan drawdown dikurangi
sehingga water dan gas coning dapat dihindari dan hanya minyak yang
diproduksikan. Laju produksi rendah ini disebut laju alir kritis. Dengan demikian,
laju alir kritis didefinisikan sebagai laju produksi maksimum dimana hanya
minyak yang diproduksikan (air dan atau gas tidak ikut terproduksi).

4.1.1. Laju Alir Kritis Pada Sumur Vertikal


Laju alir kritis tergantung pada permeabilitas minyak effektif, viscositas
minyak, perbedaan densitas antara munyak dan air atau minyak dan gas,
perbandingan penembusan sumur (hp/h), dan permeabilitas vertikal (kv). Untuk
formasi produktif dengan water-oil-contact (WOR) dan atau gas-oil-contact
(GOR), laju alir kritisnya didapat dari persamaan berikut ini :
4.1.1.1. Metode Craft dan Hawkins
Craft dan Hawkins memberikan dua persamaan, yaitu persamaan laju alir
kritis dan productivity ratio seperti berikut ini :
qo

'
0,007078 k o h ( Pws
Pwf )

o Bo ln ( re / rw )

PR ..(4-

1)

PR b' 1 7

rw
cos (b' 90 o ) ..
2 b' h

(4-2)
dimana :
qo

= laju alir kritis (laju produksi minyak maksimum tanpa terjadi coning),
STB/hari

PR

= productivity ratio

Pws = tekanan statik sumur terkoreksi pada setengah interval produksi, psi
Pwf = tekanan alir dasar sumur pada setengah interval produksi, psi
b

= rasio penembusan, hp/h

hp

= ketebalan interval perforasi, ft

= ketebalan kolom minyak, ft

re

= jari-jari pengurasan, ft

rw

= jari-jari sumur, ft

= viscositas minyak, cp

Bo

= faktor volume formasi minyak, RB/stb

4.1.1.2. Metode Meyer, Gardner dan Pirson

Pada metode ini,

Metode Meyer, Gardner dan Pirson memberikan

persamaan-persamaan untuk gas coning, water coning dan gas-water coning,


persaman-persamaan itu adalah sebagai berikut :
1.

Persamaan untuk menghitung laju produksi bila terjadi gas coning


q o 0,001535

o g ko
2
2

h ( h h p ) (4-3)
ln ( re / rw ) o Bo

dimana :
qo

= laju alir kritis (laju produksi minyak maksimum tanpa terjadi gas
coning), STB/hari

2.

= densitas minyak, gm/cc

= densitas gas, gm/cc

= viscositas minyak, cp

Bo

= faktor volume formasi minyak, RB/stb

ko

= permeabilitas efektif minyak, md

hp

= ketebalan interval perforasi, ft

= ketebalan kolom minyak, ft

re

= jari-jari pengurasan, ft

rw

= jari-jari sumur, ft
Persamaan untuk menghitung laju produksi bila terjadi water coning

q o 0,001535

3.

w o
ko
2
h 2 h p (4-4)
ln (re / rw ) o Bo

Persamaan untuk menghitung laju produksi bila terjadi gas dan water
coning
q o 0,001535

ko h 2 hp

o g

( w o )

o Bo ln (re / rw )

w g

2
o g

( o g ) 1

w g

............................

(4-5)

4.1.1.3. Metode Chaperon


Chaperon mengembangkan persamaan laju alir kritis pada reservoir yang
terjadi gas coning, persamaannya sebagai berikut :
3,486 10 5 k h h 2
qo
qc* ...(4-6)
Bo
o

dimana :
qo

= laju alir kritis (laju produksi minyak maksimum tanpa terjadi coning),
STB/hari

= viscositas minyak, cp

Bo

= faktor volume formasi minyak, RB/stb

= densitas minyak, gm/cc

= densitas air, gm/cc

kh

= permeabilitas horisontal, md

kv

= permeabilitas vertikal

= ketebalan kolom minyak, ft

re

= jari-jari pengurasan, ft

rw

= jari-jari sumur, ft

= w o, perbedaan densitas, ft

Untuk U.S. oil field units persamaan diatas menjadi :


4,888 10 4 k h h 2
qo
qc* .(4Bo
o

7)
variasi laju alir kritis metode chaperon untuk sumur vertikal dapt dilihat pada
*
Gambar 4.2. Untuk menghitung q c dapat dilihat pada Tabel IV-1.

Harga qc* dapat dicari dengan persamaan berikut :

q 0,7311 (1,943 / )
dimana :

"

...

(4-8)

" ( re / h) ( k v / k h )

Tabel IV.1
*
Hubungan antara dan q c

7)

qc*

1,2133

13

0,8962

40

0,7676

Gambar 4.2.
Variasi Laju Alir Kritis Sumur Vertikal dengan Metode Chaperon 16)

4.1.1.4. Metode Schols


Pada metode ini, Schols mengembangkan persamaan laju produksi minyak
dimana reservoir terjadi water coning, persamaannya adalah sebagai berikut :
( w o ) k o (h 2 h p2 )

qo

2049 o Bo

0,432

0 ,14
h / re . (4-9)
ln (re / rw )

dimana :
qo

= laju alir kritis (laju produksi minyak maksimum tanpa terjadi coning),
STB/hari

= densitas minyak, gm/cc

= densitas air, gm/cc

= viscositas minyak, cp

Bo

= faktor volume formasi minyak, RB/stb

re

= jari-jari pengurasan, ft

rw

= jari-jari sumur, ft

= ketebalan kolom minyak, ft


Variasi laju alir kritis sumur vertikal dengan menggunakan Metode Schols

dapat dilihat pada Gambar 4.3.

Gambar 4.3.
Variasi Laju Alir Kritis Sumur Vertikal dengan Metode Schols

16)

4.1.1.5. Metode Hoyland, Papatzacos dan Skjaeveland


Dalam metode ini Metode Hoyland, Papatzacos dan Skjaeveland
mengembangkan persamaan laju produksi kritis pada reservoir isotropic dan
anisotropic, persamaanna adalah sebagai berikut :
1. Reservoir Isotropic
qo

k o ( w o )
1 ( h p / h) 2
173,35 Bo o

1, 325

h 2, 238 ln(re )

1, 990

.. (4-

10)
2. Reservoir anisotropic
Untuk reservoir anisotropic, laju alir kritis didapat dengan mencari laju alir
tanpa dimensi (qoD), yang diplot versus jari-jari tanpa dimensi (reD), seperti
yang terlihat pada Gambar 4.4.

Gambar 4.4.
Hubungan Laju Produksi Minyak tak Berdimensi (qoD) 16)
Dengan Jari-jari tak Berdimensi (reD)
Laju alir tanpa dimensi (qoD) dan jari-jari tanpa dimensi (reD) didefinisikan
sebagai berikut :

q oD

651,4 o Bo q o
. (4-11)
h 2 ( w o ) k h

reD ( re / h) ( k v / k h ) 0 ,5 (4-12)

dimana :
qo

= laju alir kritis (laju produksi minyak maksimum tanpa terjadi coning),
STB/hari

= viscositas minyak, cp

Bo

= faktor volume formasi minyak, RB/stb

= densitas minyak, gm/cc

= densitas air, gm/cc

hp

= ketebalan interval perforasi, ft

= ketebalan kolom minyak, ft

reD

= jari-jari tak berdemensi, ft

re

= jari-jari pengurasan, ft

4.1.2. Laju Alir Kritis Pada Sumur Horisontal


Pada sumur vertikal tekanan drawdown terjadi disekitar lubang sumur,
dimana tekanan drawdown yang tinggi dapat terjadi. Pada sumur horisontal,
presurre drop relatif seragam di seluruh reservoir dan bagian kecil disekitar lubang
sumur. Pressure drop ini relatif sangat kecil dibandingkan dengan sumur vertikal.
Untuk sumur horisontal dengan tekanan drawdown rendah, diharapkan
dapt memproduksi minyak yang tinggi tanpa terjadi coning. Pada reservoir
dengan dasar air dan gas pada bagian atas, kenaikan air dan pergerakan downward
gas harus dikontrol untuk mendapatkan penyapuan atau pengurasan reservoir
yang cukup baik.
4.1.2.1. Metode Chaperon
Chaperon mengembangkan persamaan laju alir kritis sumur horisontal
untuk mencegah terjadi coning sebagai berikut :
q o 4,888 10 4

13)

k h2
L
h
F .. (4ye
o Bo

untuk 1 < 70 dan 2ye < 4L


dimana :
qo

= laju alir kritis, STB/hari

= panjang sumur horisontal, ft

ye

= setengah jari-jari pengurasan, ft

= viscositas minyak, cp

Bo

= faktor volume formasi minyak, RB/stb

= ketebalan kolom minyak, ft

= w o, perbedaan densitas, ft

= densitas air, gm/cc

= densitas minyak, gm/cc

= (ye/h) (kv/kh)0,5

= fungsi takberdimensi,
Pada reservoir dengan tenaga pendorong air, secara normal tekanan

reservoir dipertahankan pada tekanan konstan, sehingga pseudo-steady state atau


pressure depletion state tidak terjadi. Jika reservoir mempunyai dasar air tetapi
tidak mempunyai tekanan yang cukup, tekanan reservoir akan berkurang atau
menurun sejalan dengan waktu ketika fluida mulai diproduksikan dari reservoir.
Fungsi tak berdimensi F dapat dilihat pada Tabel IV-2 berikut ini :
Tabel IV-2
Hubungan antara dan F

4,003

4,026

4,083

4,160

4,245

4,417

10

4,640

13

4,80

20

5,08

30

5,31

40

5,48

70

5,74

7)

Harga F diatas didapat dengan persamaan sebagai berikut :


F = 3,9624955 + 0,0616438 () 0,00054 ()2
4.1.2.2. Metode Efros
Efros mengembangkan persamaan laju produksi kritis sumur horisontal
sebagai berikut :

qo

4,888 10 4 k h h 2 L

o Bo 2 y e (2 y e ) 2 (h 2 / 3)

qo

= laju alir kritis, STB/hari

= panjang sumur horisontal, ft

2ye

= spasi sumur horisontal, ft

= ketebalan formasi produktif, ft

.. (4-14)

4.1.2.3. Metode Giger dan Karcher


Giger dan Karcher mengembangkan persamaan laju kritis untuk sumur
horisontal, sebagai berikut :
q o 4,888 10

k h h

o Bo 2 y e

15)
qo

= laju alir kritis, STB/hari

= panjang sumur horisontal, ft

2ye

= spasi sumur horisontal, ft

= ketebalan formasi produktif, ft

4.1.2.3. Metode Joshi

h
2 ye

1 (1 / 6)

L ... (4-

Joshi mengembangkan persamaan laju alir kritis untuk sumur horisontal


sebagai berikut :
q o ,v

1,535 10 3 ( o g ) k h h 2 (h I v ) 2
Bo o ln (re rw )

.. (4-

16)
dimanan :
qo,v

= laju alir kritis sumur vertikal, STB/hari

= densitas minyak, gm/cc

= densitas gas, gm/cc

Iv

= jarak antara permukaan minyak-gas dan perforasi atas dari sumur


vertikal, ft

kh

=permeabilitas horisontal, ft

= ketebalan kolom minyak, ft


Laju alir kritis untuk sumur horisontal, qo,h, dapat dihitung dengan

persamaan sebagai berikut ;

q o,h
q o ,v

2
2

(h I h ) 2 ln (re / rw )
.. (4 (h I v ) 2 ln (re / rw' )

17)
Ih

= jarak antara sumur horisontal dan permukaan minyak-gas, ft

rw'

= jari-jari effektif radius sumur

rw'

reh ( L / 2)

a 1 1 ( L / 2a ) 2

h / 2r

h/L

(4-

18)
Perhitungan laju alir kritis untuk sumur horisontal mempunyai beberapa
metode yang berbeda, karena asumsi-asumsi yang digunakan berbeda tiap-tiap
metode. Metode Chaperon dan metode Joshi memperlihatkan peningkatan laju
produksi minyak kritis yang berarti pada sumur horisontal dibandingkan dengan
sumur vertikal, disamping mengurangi kecendrungan water coning. Ketuntungan

semur horisontal dibanding sumur vertikal adalah coning yang menjadi kurang
berati saat permeabilitas vertikal berkurang.
Produksi minyak pada sumur horisontal dengan laju alir kritis akan
mengakibatkan berkurangnya laju produksi minyak ketika tinggi kolom minyak
berkurang selama diproduksikan. Decline curve analisis sumur horisontal yang
diproduksikan pada laju alir kritis dapat dilihat pada Gambar 4.5.
Dalam reservoir water drive, baik sumur horisontal maupun sumur vertikal
memberikan indeks dicline sebesar b = 0,5 saat dioperasikan pada aliran kritis.
Pada sumur horisontal laju produksi kritis lebih besar dibanding sumur vertikal,
yang mengakibatkan pengurasan minyak di tempat lebih cepat tanpa terjadi water
coning. Dengan demikian sumur horisontal tidak hanya memungkinkan untuk
diproduksikan pada laju produksi yang tinggi tetapi juga memungkinkan untuk
pengurasan minyak yang maksimum dalam waktu yang lebih cepat, seperti
terlihat pada Gambar 4.6.

Gambar 4.5.
Decline Curve Sumur Horisontal di Operasikan pada Laju Kritis 16)

Gambar 4.6
Pebandingan Laju Produksi Kritis Sumur Vertikal dan Horisontal 16)
Menggunakan Metode Chaperon
Laju produksi kritis pada sumur horisontal selama sumur diproduksikan
dapat dicari dengan prosedur sebagai berikut:
1. Mencari laju produksi kritis sumur vertikal
q o ,v 4,888 10 4 k h 2 q c* /( o Bo ) .. (4-

19)
2. Laju produksi kritis sumur horisontal dapat dicari dengan persamaan
q o , h q o ,v F L /( y e q c* )

(4-

20)
Dimana F dapat dicari dengan persamaan di depan atau dapat diambil harga
F = 4 dan q c* 1
3. Persamaan material balance digunakan untuk menghitung perubahan tinggi
kolom minyak jika sumur diproduksikan pada laju konstan (qo), untuk periode
waktu t. Tinggi kolom minyak yang baru sampai akhir periode waktu adalah
sebagai berikut :
h Ho

q o t (5,615 Bo )
.(4 1 S wc S or ) A 43560

21)
dimana :
Ho

= tinggi kolom minyak mula-mula, ft

= waktu produksi, hari

qo

= laju minyak, STB/hari

Bo

= Faktor folume formasi, RB/STB

Swc

= saturasi water connate, takberdimensi

Sor = saturasi minyak residual, takberdimensi


A

= luas daerah pengurasan

= tinggi kolom minyak baru pada akhir periode waktu (t), ft

4.2. Waktu Terjadinya Water Breakthrough


Water breakthrough adalah mulai terproduksinya air di dalam reservoir
akibat diproduksikannya minyak. Minyak yang diproduksikan akan digantikan
oleh air yang ada dibawahnya, semakin lama minyak diproduksikan maka
semakin banyak daerah yang ditempati air, dan suatu saat air tersebut akan mulai
terproduksikan bersama dengan minyak. Breaktrough time adalah waktu yang
diperlukan dari awal diproduksikannya sumur sampai mulai terproduksinya air
formasi.
4.2.1. Water Breakthrough Pada Sumur Vertikal.
Untuk menghindari terjadinya coning biasanya sumur diproduksikan pada
laju produmsi kritis, tetapi untuk alasan ekonomi, sumur biasanya diproduksikan
pada laju produksi diatas laju produksi kritis. Ini mengakibatkan cepat
terproduksinya air. Sabocinski dan Cornelius serta Bournazel dan Jeanson
melaporkan hasil penelitian mengenai waktu terjadinya water breaktrough.
Mereka mengukur waktu yang diperlukan sampai air terproduksi (terjadinya
kerucut air) dalam sumur vertikal pada laju produksi total. Dalam percobaannya,
mereka menemukan bahwa jika tinggi kerucut vertikal tak berdimensi bernilai
rendah maka water breakthrough akan semakin cepat. Tinggi kerucut tak
berdimensi dapat dicari dengan persamaan yang telah mereka kembangkan yang
dapat dilihat pada persamaan dibawah ini.
4.2.1.1. Metode Sobocinski dan Cornelius
Metode yang mereka kembangkan adalah sebagai berikut :

0,00307 ( w o ) k h h ( h h p )

o q o Bo

(4-22)

dimana :
kh

= permeabilitas horisontal, ft

qo

= laju produksi minyak, STB/hari

= viscositas minyak, cp

Bo

= faktor volume formasi minyak, RB/STB

= densitas minyak, gm/cc

= densita sair, gm/cc

hp

= interval perforasi, ft

= ketebalan kolom minyak, ft

BT
dan dimensionless breakthrough time (t D ) SC , adalah sebagai berikut :

BT
(t D ) SC

0,00307 ( w o ) k v (1 M ) t BT
(4-23)
o h

dimana :
tBT

= breakthrough time, hari

= porositas, fraksi

= rasio monilitas minyak air


= o (k w ) or / w (k o ) wc , dimana (kw)or adalah permeabilitas efektif
untuk air pada saturasi minyak residual dan (ko)wc adalah permeabilitas
efektif untuk minyak pada saturasi air conate.

= 0,5 untuk M < 1 ; 0,6 untuk 1 < M < 10

= ketebalan kolom minyak, ft


Pada persamaan Sobocinski dan Cornelius, hubungan anatara tinggi

kerucut tak berdimensi dengan waktu breakthrough tak berdimensi (dimensionless


breakthrough time), dapat dilihat pada persamaan berikut ini :

z 16 7 z 3 z 2

(44
7 2z

BT
(t D ) SC

24)
Persamaan tersebut menjelaskan bahwa waktu yang diperlukan untuk
terjadinya water breakthrough akan tak terhinggga jika angka-angkanya berharga
nol, sehingga tidak akan terjadi breakthrough. Pada persamaan di atas, bila z = 3,5
atau lebih, maka tidak akan terjadi water breakthrough, yang digambarkan
sebagai:
3,5 z

0,00307 ( w o ) k h h ( h h p )

o q o Bo

(4-

25)
Prosedur perhitungan breakthrough time menggunakan metode Sobocinski
dan Cornelius adalah sebagai berikut :
1.

Menghitung tinggi kerucut tak berdimensi, z.

2.

BT
Menghitung dimensionless breakthrough time, (t D ) SC .

3.

Menghitung tBT (waktu terjadinya breakthrough dalam hari), dengan


menggunakan persamaan berikut :

t BT

BT
o h (t D ) SC
(40,00137 ( w o ) k v (1 M )

26)
4.2.1.2. Metode Bournazel dan Jeanson
Bournazel dan Jeanson dari hasil penelitian dilaboratorium, menghitung
BT
tinggi kerucut tak berdimensi (z) dan waktu breakthrough tak berdimensi (t D ) SC ,

sebagai berikut :
(t D ) BT
BJ

z
3 0,7 z

. (4-27)

Prosedur penghitungan breakthrough time menggunakan metode Bournel


dan Jeanson adalah sebagai berikut :
1.

Menghitung tinggi kerucut tak berdimensi, z.

2.

BT
Menghitunga dimensionless breakthrough time, (t D ) BJ .

3.

Menghitung tBT (waktu terjadinya breakthrough dalam hari), dengan


menggunakan persamaan berikut :

t BT

o h (t D ) BT
BJ
.. (4-28)
0,00137 ( w o ) k v (1 M )

Pada metode Bournel dan Jeanson agar tidak terjadi breakthrough maka
harga z yang diambil adalah sebagai berikut :
4,29 z

0,00307 ( w o ) k h h ( h h p )

o q o Bo

.. (4-

29)
Breakthrough time dapat digunakan untuk menghitung permeabilitas
efektif vertikal. Hal ini penting untuk penggembangan lapangan baru. Di lapangan
log sumur dapat mengggambarkan apakah di dalam resevoir terdapat air di dasar
formasi atau gas cap. Log sumur biasanya memperlihatkan adanya zone minyak
dan beberapa zone shale di antara minyak dan air, seperti ditunjukkan dalam
Gambar 4.7.
Pada sumur-sumur baru, kadang-kadang sulit untuk memperkirakan
komunikasi antara zone minyak dan air, sehingga sulit untuk memperkirakan
permeabilitas vertikal. Permeabilitas vertikal dapat dihitung dari data core yang
dapat membantu, tetapi permeabilitas vertikal aktual dapat berbeda dari yang
diperkirakan dari data core. Dalam hal ini, sumur dapat diproduksikan pada laju
produksi tertentu untuk jangka waktu tertentu. Jika water breakthrough tidak
muncul, laju produksi minyak dapat ditingkatkan dan memperkirakan waktu
terjadinya. Jika water breakthrough tidak muncul lagi, kemudian laju produksi
juga ditingkatkan sampai terjadi breakthrough. Berdasarkan waktu breakthrough
ini, permeabilitas vertikal reservoir dapat diperkirakan.

Gambar 4.7.
Log Sumur yang Memperlihatkan Zone Minyak dan Zone Shale 16)

4.2.2. Water Breakthrough Pada Sumur Horisontal


4.2.2.1. Water Breakthrough Sumur Horizontal Dengan Tenaga Pendorong
Air
Untuk reservoir dengan tenaga pendorong air, Ozkan dan Raghavan
mengembangkan teori untuk menghitung waktu terjadinya water breakthrough
untuk sumur horisontal. Mereka mengasumsikan bahwa reservoir dengan tenaga
pendorong air dapat digambarkan sebagai batas tekan konstan, misalnya tekanan
konstan pada permukaan minyak dan air. Waktu terjadinya water breakthrough
dapat dicari dengan persamaan berikut ini :

t BT f d h 3 E s / (5,615 q o Bo ) (k h / k v ) (430)
dimana:
= (1 - Swc - Soir )

fd

= efesiensi displacement mikroskopik, tak berdimensi


qo

= laju minyak, STB/hari

Es

= effesiensi penyapuan, tak berdimensi

Bo

= Faktor folume formasi, RB/STB

Swc

= saturasi water connate, takberdimensi

Soir = saturasi minyak residual, fraksi


h

= ketebakan kolom minyak, ft


Grafik dari fungsi efisiensi pengurasan (Es), untuk sumur vertikal dan

horizontal dapat dilihat pada Gambar 4.8, Gambar 4.9 dan Gambar 4.10. Dalam
ketiga gambar ini, spasi sumur efektif (aD), panjang sumur tak berdimensi (LD),
rasio penembusan (b), jarak vertikal tak berdimensi (zwD), dan jari-jari sumur tak
berdimensi (rwD) didefinisikan sebagai berikut :
kv / kh

aD

= (2xe/h)

.. (4-31)

LD

= L/(2h)

= hp/h . (4-33)

zwD

= zw/h . (4-34)

rwD

= rw/h . (4-35)

k v / k h . (4-32)

dimana :
xe

= setengah spasi sumur, ft

= panjang sumur, ft

hp

= interval perforasi, ft

zw

= jarak vertikal sumur horisontal dari oil-water contact saat t = 0

rw

= radius sumur, ft
Untuk sumur horisontal pada Gambar 4.9 menggambarkan bahwa fungsi

efisiensi pengurasan meningkat dengan bertambahnya panjang sumur untuk spasi

sumur tetap. Ini menunjukkan bahwa penambahan panjang sumur untuk spasi
sumur tetap akan mengakibatkan penundaan terjadinya water breakthrough pada
sumur horisontal. Dengan demikian sumur yang lebih panjang akan memproduksi
lebih banyak minyak tanpa terproduksinya air untuk spasi sumur tertentu. Gambar
tersebut juga memperlihatkan bahwa jika panjang sumur tetap, dengan
peningkatan spasi sumur, dapat menunda water breakthrough. Tetapi jika telah
melebihi nilai tertentu, penambahan spasi sumur tidak akan meningkatkan waktu
terjadinya breakthrough selama panjang sumur tetap.

Gambar 4.8.
Efisiensi Pengurasan untuk Sumur Vertikal 16)

Gambar 4.9.
Efisiensi Pengurasan untuk Sumur Horisontal 16)

Gambar 4.10.
Efisiensi Pengurasan untuk Sumur Horisontal dan Vertikal 16)
4.2.2.2. Breakthrough Sumur Horisontal Pada Reservoir Dengan Gas Cap
Atau Bottom Water
Papatzacos meneliti breakthrough time sumur horisontal yang ditempatkan
pada reservoir dengan bottom water atau gas cap. Papatzacos menyelesaikan
masalah ini dengan menggunakan metode semi analitik dengan asumsi bahwa
sumur horisontal ditempatkan pada bagian atas atau bawah dari formasi produktif
untuk meminimalkan terjadinya gas dan water coning. Penyelesaian dilakukan
dengan dua metode. Metode pertama diasumsikan bahwa gas cap atau bottom
water dapat digambarkan senagai batas tekanan konstan. Denga asumsi ini,
perhitungan breakthrough time adalah sebagai berikut :
tDBT = 1/(6qD) .. (4-36)
dimana :
qD

325,86 o q o Bo
L kv kh h ( o g )

.. (4-37)

antara tDBT dan tBT mempunyai hubungan sebagai berikut :


t DBT

kv ( o g )
364,72 h o

t BT (4-

38)
Papatzacos juga telah memberikan penyelesaian semi analisis dengan
memperhatikan kesetimbangan gravity pada kerucut sebagai pengganti batas

tekanan konstan, dengan menghitung besarnya breaktrough time (tak berdimensi)


untuk qD > 0,4 adalah sebagai berikut :

3q D

3q D 1

t DBT 1 (3q D 1) ln

(4-

39)
Untuk qD > 1, Persamaan 4-36 dan 4-39 akan memberikan hasil yang sama.
Dengan demikian breakthrough time dihitung dengan mengasumsikan
tekanan konstan pada kontak minyak-air atau dengan kesetimbangan gravity pada
kerucut akan sama. Bottom-water drive dapat disimulasikan sebagai batas tekanan
konstan untuk produksi pada laju tinggi. Papatzacos juga telah membandingkan
penyelesaian semi analitisnya dengan penyelesaian secara numerik. Perbandingan
breakthrough pada metode analitik dan numerik dapat dilihat pada Gambar 4.11
dan persentase kesalahan dua penyelesaian tersebut diperlihatkan pada Gambar
4.12. Persentase kesalahan antara dua penyelesaian ini adalah, lebih kecil pada
vikositas gas yang besar daripada vikositas gas yang rendah. Dengan demikian
penyelesaian analitik dapat digunakan pada setiap vikositas dengan qD 0,3.
untuk vikositas gas diatas 0,15 cp digunakan qD 0,6.

Gambar 4.11.
Perbandingan Breakthrough Time dengan Numerik dan Analitik 19)
untuk Single-Cone Gas

Gambar 4.12
Persentase Kesalahan antara Penyelesaian Numerik dan Analitik 19)
untuk Single-Cone Gas
4.2.2.3. Brekathrough Time Sumur Horisontal Pada Reservoir Dengan Gas
Cap Dan Bottom Water
Papatzacos juga memberikan penyelesaian untuk menghitung waktu
terjadinya breaktrough untuk sumur horisontal pada reservoir dengan bagian atas
terdapat gas dan air pada bagian bawah terdapat air. Prosedurnya juga dapat
digunakan untuk menentukan penempatan sumur yang optimum. Penempatan
sumur yang optimum pada bidang vertikal adalah elevasi sumur, dimana
breaktrouh minyak dan gas terjadi bersamaan.

Saat breaktrough tak berdimensi (tDBT) dan penempatan sumur yang optimum
(opt) dapt dicari dengan Gambar 4.13 dan Gambar 4.14. Harga tDBT dan opt dapat
juga dihitung dengan persamaan berikut :

opt

= Co + C1U + C2U2 + C3U3

. (4-40)

ln(tDBT) = Co + C1U + C2U2 + C3U3

.. (4-41)

dimana :
U = ln(qD)
dan qD dapt dicari dengan persamaan 4-37. Tabel IV-3 dan Tabel IV-4 memberikan
daftar koefisien yang digunakan pada Persamaan 4-40 dan Persamaan 4-41.
Seperti terlihat pada Gambar 4.13 dan Gambar 4.14, tDBT dan opt tergantung dari
variabel , yang menunjukan perbedaan perbandingan densitas antara minyak, air
dan gas. Variabel , dicari dengan persamaan berikut :
=

w o
o g

(4-42)

dan

opt = c/h (4-43)


Penampang vertikal dari pengembangan gas dan water cone pada sumur
horisontal dapt dilihat pada Gambar 4.15, dimana :
c

= jarak dari sumur ke water-oil contact, ft

= jarak dari sumur ke gas-oil contact, ft

= ketebalan kolom minyak, (c + d), ft

Gambar 4.13.
Penempatan Sumur yang Optimum sebagai Fungsi 19)
Laju tak Berderdimensi (Two-Cone Case)

Gambar 4.14.
Waktu tak Berdimensi untuk Breaktrough yang Simultan 19)
Pada Gas dan Water Coning (Two-Cone Case)

Tabel IV-3
Koefisien untuk Penampang Sumur yang Optimum 19)

Co
C1
C2
C3
0.2
0.4
0.6
0.8
1.0
1.2
1.4
1.6
1.8
2.0

0.507
0.504
0.503
0.502
0.500
0.497
0.495
0.493
0.490
0.488

- 0.0126
- 0.0159
- 0.0095
- 0.0048
- 0.0001
0.0042
0.0116
0.0178
0.0231
0.0277

0.01055
0.01015
0.00624
0.00292
0.00004
- 0.00260
- 0.00557
- 0.00811
- 0.01020
- 0.01189

- 0.002483
- 0.000096
- 0.000424
- 0.000148
0.000009
0.000384
- 0.000405
- 0.000921
- 0.001242
- 0.001467

Koefisien untuk Persamaan 4-40

Tabel IV-4
Koefisien Breaktrough Time, tDBT

Co

C1

0.2
0.4
0.6
0.8
1.0
1.2
1.4
1.6
1.8
2.0

- 2.9494
- 2.9473
- 2.9484
- 2.9447
- 2.9351
- 2.9218
- 2.9162
- 2.9017
- 2.8917
- 2.8826

- 0.94654
- 0.93007
- 0.9805
- 1.0332
- 1.0678
- 1.0718
- 1.0716
- 1.0731
- 1.0856
- 1.1103

Koefisien untuk Persamaan 4-41

C2
- 0.0028369
0.016244
0.050875
0.075238
0.088277
0.091371
0.093986
0.094943
0.096654
0.10094

19)

C3
- 0.029879
- 0.049687
- 0.046258
- 0.038897
- 0.034931
- 0.040743
- 0.042933
- 0.048212
- 0.046621
- 0.040963

Gambar 4.15
Skema Penampang Vertikal dari Pengembangan 19)
Gas dan Water Cone pada Sumur Horisontal
Dari Gambar 4.13, penempang sumur optimum (opt) bergerak mendekati water
oil contact sejalan dengan meningkatnya . Gambar 4.13 juga mejelaskan bahwa
penempatan sumur optimum(opt) adalah ditengah dari zona minyak untuk semua
harga pada qD > 1. Pada Gambar 4.14, saat terjadinya breaktrouh juga sama
untuk semua harga pada qD > 1.
4.3. Pengaruh Coning Pada Sumur Vertikal dan Horisontal
Masalah coning ini sering dialami pada lapangan-lapangan diamana
reservoirnya merupakan gas yang dibawahnya terdapat pula air, reservoir minyak
yang memiliki gas cap dan atau dibagian bawahnya terdapat air. Pada umumnya
reservoir minyak yang diproduksikan baik oleh sumur vertikal maupun sumur
horisontal pada laju alir kritis agar fluida yang tidak diinginkan tidak ikut
diproduksikan.
Produksi air dan gas dari suatu sumur minyak adalah peristiwa yang akan
menambah ongkos operasi produksi dan mengurangi effesiensi pendorong minyak
sehinggga akan menurunkan produktivitas sumur itu sendiri. Fenomena ini
disebabkan oleh adanya coning (cresting pada sumur horisontal). Pada sumur
konvensionsal,

besarnya

produktivitasnya

sebanding

dengan

hasil

kali

permeabilitas dengan ketebalan formasi produktifnya. Produktivitas yang rendah


berarti disebabkan oleh rendahnya nilai permeabilitas atau tipisnya formasi
produktif, atau kedua-duanya. Konsep ini juga berlaku untuk sumur horisontal,
dimana hasil kali antara permeabilitas dan panjang sumur horisontal merupakan
petunjuk besarnya produktivitas. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa sumur
horisontal mempunyai keuntungan yaitu panjang sumur horisontal merupakan

variabel yang dapat berubah atau diatur besar kecilnya tidak seperti ketebalan
formasi produktif yang tetap pada sumur vertikal. Jadi untuk mengatasi ketebalan
formasi produktif

yang rendah untuk sumur horisontal dilakukan dengan

menambah panjang bagian (bidang) horisontalnya yang menembus formasi


tersebut. Hal ini berlaku juga berpengaruh terhadap coning pada terhadap sumur
vertikal dan sumur horisontal.
Sumur dalam keadaan awal atau belum diproduksi, kondisi fluida didalam
reservoir dalam keadaan kesetimbangan statik. Pada saat sumur mulai
diproduksikan maka keadaan kesetimbangan ini terganggu, yaitu tekanan disekitar
lubang sumur akan turun dan gradient alir yang ditimbulkan akan menurunkan
batas minyak-gas dan menaikan batas minyak-air. Jika laju produksi sumur
sebagai akibat penurunan tekanan dilubang sumur (pressure drawdown) lebih
besar dari gaya gravitasi maka coning akan terjadi. Gradien tekan disebabkan oleh
aliran fluida dan gaya gravitasi disebabkan oleh perbedaan densitas antara gas,
minyak dan air. Secara matematis hal tersebur diatas dapat dinyatakan dalam
persamaan berikut :

Pada kondisi setimbang :


P (w - g hc . (4-44)

Pada kondisi coning


P (w - g hc . (4-45)

Dalam satuan lapangan


P 0,433 (w - o ) hc .. (4-46)

dimana :
P

= Pres Pwell , pressure drawdown, psi

hc

= tinggi kolom minyak, ft

= spesific gravity air,

= spesific gravity minyak

Pada kondisi dinamik, yaitu pada saat sumur berproduksi, parameter yang
juga berpengaruh untuk terjadinya conning adalah sifat mobilitas dari fluida
reservoir. Coning akan terjadi dengan cepat jika mobilitas air terhadapa mobilitas
minyak semakain semakin besar dimana air memiliki mobilitas yang lebih besar
akan bergerak menembus zona minyak menuju lubang sumur. Hal ini
menyebabkan waktu tembus air (breakthrough) air lebih cepat / terlalu dini.
Parameter-parameter yang mempengaruhi coning pada sumur vertikal dan
horisontal adalah sebagai berikut :
Ketinggian batas minyak-air (WOC) dan minyak-gas (GOC) awal.

Dengan laju produksi yang sama, reservoir yang memiliki jarak batas
minyak-air dan batas minyak-gas terhadap lubang sumur yang semakin besar akan
menghasilkan pergerakan batas minyak-air dan batas minyak-gas yang semakin
stabil. Hal ini disebabkan oleh tekan fluida yang diakibatkan gaya gravitasi akan
semakin besar sebanding dengan tinggi kolom minyak, disamping itu semakin
jauh batas minyak-air dan batas minyak-gas terhadap lubang bor pengaruh gaya
hisap sumur pada batas minyak-air dan batas minyak-gas semakin kecil. Untuk
sumur horisontal dan vertikal hal tersebut diatas juga berlaku. Joshi
membandingkan secara matematis pengaruh tinggi WOC dan GOC terhadap
posisi sumur horisontal dan interval perforasi sumur vertikal dengan
kecendrungan terjadinya coning, yaitu membandingkan laju produksi maksimum
antara sumur horisontal dan sumur vertikal dengan asumsi rev = reh .
Kecendrungan terjadinya gas coning

Persamaan sebagai berikut :

q o,h
q o ,v

h
h

2
2

(h I h ) 2 ln (re / rw )
. (4-47)
(h I v ) 2 ln (re / rw' )
Menggangap sumur horisontal terletak pada puncak

perforasi sumur vertikal atau Ih = Iv . Dengan mensubsitusikan ke


Persamaan (4-47) didapat :

qo ,h
q o ,v

ln (re / rw )
. (4-48)
ln (re / rw' )

Karena rw sumur horisontal selalu lebih besar dari rw sumur vertikal,


maka selalu didapatkan hubungan sebagai berikut : qo,h > qo,v .
Jadi jika kedua sumur diperforasi pada jarak yang sama (Ih = Iv) dari batas
GOC maka tanpa terjadinya gas coning, sumur horisontal selalu
memberikan rate produksi yang lebih tinggi dibanding sumur vertikal
Menganggap sumur horisontal diproduksikan pada laju

yang sama dengan sumur verikal (qo,h = qo,v). Dengan mensubsitusikan ke


Persamaan (4-47) akan diperoleh :

(h I h ) h
2

(h I v ) 2 ln (re / rw' )
.. (4-49)
ln (re / rw )

karena rw > rw dan h > Iv dan Ih maka persamaan tersebut memberikan


hubungan Ih < Iv. Hal ini berarti, untuk memproduksikan rate yang sama
dengan sumur vertikal , sumur horisontal dapat diletakan pada jarak yang
lebih dekat dengan GOC dibandingkan dengan puncak perforasi sumur
vertikal. Jadi meskipun sumur horisontal diletakan lebih dekat dengan
GOC

dibanding

sumur

vertikal,

tetapi

sumur

horisontal

tetap

mengeliminasi terjadinya gas coning.


Kecendrungan terjadinya water coning

Dengan persamaan sebagai berikut :

qo ,h
q o ,v

ln (r / r ) . (4-50)

I h ln (re / rw )

Iv

'
w

Identik dengan analisa pada problem gas coning, maka diperoleh :


Untuk sumur horisontal terletak pada puncak perforasi

sumur vertikal atau Ih = Iv maka dari Persamaan 4-60 diperoleh hubungan


sebagai berikut :
qo ,h
q o ,v

ln (re / rw )
. (4-51)
ln (re / rw' )

Hubungan antara qo,h dan qo,v selalu memberikan qo,h > qo,v , sehinnga
dapat dikatakan bahwa sumur horisontal memberikan laju produksi yang
lebih besar daripada sumur vertikal tanpa terjadinya water coning
mesikupun jarak perforasi (posisi sumur) dari kedua sumur dengan WOC
adalah sama (Ih = Iv).
Untuk laju produksi sumur horisontak sama dengan laju

produksi sumur vertikal (qo,h = qo,v), dengan mensubsitusikan ke


Persamaan (4-50) di dapat:
2

h Ih h Iv
2

ln (re / rw' )
..(4-52)
ln (re / rw )

persamaan diatas dapat dibuat hubangan sebagai berikut :


2

h 2 I h h 2 I v atau Ih < Iv
dari persamaan tersebut terlihat bahwa untuk memproduksikan dengan
rate yang sama tanpa menyebabkan water coning, posisi sumur horisontal
dapat diletakan pada jarak yang lebih dekatat denga WOC dibandingkan
dasar perforasi sumur vertikal.

Panjang sumur horisontal dan tinggi interval perforasi.


Kelebihan sumur horisontal daripada sumur vertikal adalah panjang sumur

horisontal yang merupakan variabel yang dapat diatur besar kecilnya dan
menentukan besar kecilnya produktivitas sumur tersebut, tidak seperti sumur
vertikal yang sangat tergantung dari tebal formasi produktif. Panjang sumur
horisontal juga memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap pergerakan batas
minyak-air atau minyak-gas. Untuk laju produksi yang sama, semakin panjang
sumur horisontal akan menghasilkan penurunan tekanan (pressure drowdown)
yang semakin kecil disepanjang lubang sumur. Dengan semakin kecilnya
penurunan tekanan di sepanjang lubang sumur maka batas minyak-gas dan
minyak-air akan semakin stabil. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar
4.16.a,b. Dari gambar tersebut terlihat bahwa semakin panjang sumur horisontal

semakin kecil kecendrungan terjadinya water dan gas coning dibandingkan


dengan sumur vetikal dan meningkatkan recovery factor (Gambar 4.17).

(a)

(b)
Gambar 4.16.
Pengaruh Panjang Sumur Horisontal terhadap 23)
(a) Gas Coning dan (b) Water Coning, di bandingkan dengan
Sumur Vertikal

Gambar 4.17.
Perbandingan Pengaruh Panjang Sumur Horisontal 23)
terhadap Recovery Factor dan Coning

Laju produksi kritis


Suatu sumur jika diproduksikan melebihi laju produksi kritisnya maka

sumur tersebut cendrung terjadinya coning. Sumur horisontal mempunyai laju


produksi yang lebih besar dari sumur vertikal, hal ini disebabkan pajang sumur
horisontal mempengaruhi luas daerah pengurasan yang dapat dilihat pada Gambar
4.18. dimana sumur vertikal sebagai pembanding.
Sumur horisontal tidak hanya meningkatkan laju produksi tetapi juga
meminimalkan pengaruh coning (water dan gas). Dengan persamaan laju alir
kritis yang telah diberikan sebelumnya bahwa panjang sumur horisontal
sebanding dengan laju kritis minyak. Ini berarti semakin panjang sumur semakin
besar laju kritisnya. Hal inilah yang membuat sumur horisontal mempunyai
perbedaan yang menyolok dari sumur vertikal. Dengan berkurangnya pengaruh
coning pada sumur horisontal hal ini juga berpengaruh terhadap oil recovery
factor (ER), dapat dilihat pada Gambar 4.19. dan Gambar 4.20. dimana sumur
vertikal dan horisontal diproduksikan dengan laju yang sama (tetap).

Gambar 4.18.
Daerah Pengurasan Sumur Vertikal dan Horisontal 23)

(a)

(b)

Gambar 4.19.
Perbandingan Pengaruh Gas Coning pada Sumur Vertikal dan Horisontal 23)
terhadap (a) GOR dan (b) Recovery Factor
(a)

(b)

Gambar 4.20.
Perbandingan Pengaruh Water Coning pada Sumur Vertikal dan Horisontal 23)
terhadap (a) WC dan (b) Recovery Factor