Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Suatu perusahaan akan tumbuh dan berkembang seiring dengan semakin
meningkatnya aktivitas yang dijalankan oleh perusahaan yang bersangkutan.
Perkembangan suatu perusahaan menuntut kemampuan dan kecakapan dari para
pengelolanya dalam menjalankan kegiatan perusahaan, termasuk didalamnya
kemampuan dalam mengambil keputusan terhadap masalah yang dihadapi oleh
perusahaan. Keputusan-keputusan yang tepat oleh manajer berdasarkan hasil
pengukuran dan penganalisaan terhadap pelaksanaan aktivitas yang dijalankan oleh
perusahaan.
Salah satu tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan adalah untuk
mendapatkan laba atau keuntungan yang optimal sebagai sumber pembiayaan bagi
kelangsungan hidup perusahaan. Kegiatan perusahaan yang umumnya menghasilkan
pendapatan adalah bidang penjualan, baik dalam hal penjualan jasa atau penjualan
barang yang sesuai dengan bidang usaha pokok perusahaan masing-masing.
Agar seluruh kegiatan perusahaan dapat berjalan dengan baik, yang harus
dilakukan perusahaan adalah menyusun sistem perencanaan, koordinasi dan
pengendalian yang memadai bagi perusahaan tersebut. Dengan adanya system
perencanaan, koordinasi dan pengendalian yang baik, maka perusahaan diharapkan
dapat menyusun suatu perencanaan yang baik, sehingga perusahaan dapat
mengkoordinasikan

kegiatan-kegiatan

yang

akan

dilaksanakan

serta

dapat

mengendalikan pelaksanaan kegiatan dalam perusahaan tersebut. Untuk menjabarkan


rencana tersebut diperlukan suatu alat manajemen yang disebut anggaran.
Anggaran dalam suatu perusahaan diperlukan untuk semua jenis usaha, tanpa
anggaran suatu perusahaan akan menghadapi kesulitan dalam menjalankan
operasinya, kesulitan tersebut antara lain dalam hal pengelolaan. Dalam perusahaan
keberadaan anggaran sangat diperlukan sebab perusahaan bertujuan mencari laba
yang optimal. Laba yang optimal dapat ditempuh dengan memperbesar selisih antara

Anggaran Penjualan

Page 1

jumlah pendapatan dengan beban-beban tersebut, yaitu dengan menggunakan sumber


dana yang seminimal mungkin untuk hasil yang maksimal.
Perencanaan dan pengendalian terhadap aktivitas penjualan dapat diwujudkan
dengan cara menyusun anggaran penjualan yang merupakan proyeksi penjualan yang
diharapkan selama suatu periode. Karena anggaran penjualan berkaitan langsung
dengan angaran laba rugi yang mengandung unsur ketidakpastian, maka diperlukan
ketelitian dan kecermatan dalam menyusunnya.
Bila perencanaan dan pengendalian terhadap kegiatan penjualan dapat
dilaksanakan dengan baik maka diharapkan perusahaan memperoleh laba seperti
yang diharapkan, sehingga kontinuitas dan perkembangan perusahaan terjamin dan
diharapkan akan terus menunjukkan perkembangan grafik yang semakin meningkat.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diungkapkan maka dapat dirumuskan sub-sub
masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengertian anggaran penjualan?
2. Apa saja tujuan, fungsi, dan kegunaan anggaran penjualan?
3. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi penyusunan anggaran penjualan?
4. Bagaimana cara-cara melakukan penaksiran penjualan dengan metode trend
moment dan metode trend least square?
5. Bagaimana konsep dan penyusunan anggaran penjualan?
6. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan anggaran penjualan?
C. Tujuan dan Manfaat
Berdasarkan sub-sub masalah yang telah diungkapkan diatas, maka tujuan dari
penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui pengertian anggaran penjualan.
2. Mengetahui kegunaan anggaran penjualan.
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi

penyusunan

anggaran

penjualan.
4. Mengetahui cara- cara melakukan penaksiran penjualan dengan metode trend
moment dan metode trend least square.
5. Mengetahui konsep dan penyusunan anggaran penjualan.
6. Mengetahui beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan anggaran
penjualan.

Anggaran Penjualan

Page 2

Manfaat yang diharapakan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Menambah wawasan dan pengetahuan mengenai masalah yang dibahas.
2. Sebagai latihan dan pengalaman dalam mempraktekkan teori yang diterima
dibangku kuliah.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Anggaran Penjualan


Menurut Tendi Haruman dan Sri Rahayu (2007), anggaran penjualan adalah
budget yang direncanakan secara lebih terperinci penjualan perusahaan selama
periode yang akan datang yang didalamnya meliputi rencana tentang jenis (kualitas)
barang yang akan dijual, jumlah (kuantitas), harga barang, waktu penjualan serta
tempat penjualannya.1

1Tendi haruman dan Sri Rahayu.Penyusunan Anggaran


Perusahaan.Yogyakarta:Graha Ilmu. 2007. Hal.45

Anggaran Penjualan

Page 3

Menurut

Danang

Sunyoto

(2012),

Anggaran

penjualan

adalah

menggambarkan penghasilan yang diterima karena adanya penjualan.2


Dimaksudkan dengan anggaran penjualan (Sales Budget) ialah anggaran yang
merencanakan secara lebih terperinci tentang penjualan perusahan selama periode
yang akan datang, yang di dalamnya meliputi rencana tentang jenis (kualitas) barang
yang akan dijual, jumlah (kuantitas) barang yang akan dijual, harga barang yang akan
dijual, waktu penjualan serta tempat (daerah) penjualannya.
Dari pengetian tersebut, jelaslah bahwa budget penjualan hanyalah
merupakan salah satu bagian saja dari seluruh rencana perusahaan di bidang
pemasaran (sales planning).
Ada beberapa definisi dari anggaran penjualan, diantaranya yaitu3 :
1.

Anggaran yang menerangkan secara terperinci dan teliti tentang penjualan


perusahaan dimasa datang dimana didalamnya ada rencana tentang jenis
barang, jumlah, harga, waktu serta tempat penjualan barang.

2.

Anggaran jualan berarti anggaran hasil penjualan atau anggaran hasil proses
menjual. Menjual (sell) berarti menyerahkan sesuatu kepada pembeli dengan
harga tertentu dan pada saat tertentu. Penjualan (selling) berarti proses
kegiatan menjual, yaitu dari kegiatan penetapan harga jual sampai produk
didistribusikan ke tangan konsumen (pembeli). Jualan (sales) adalah hasil
penjualan atau hasil proses menjual. Jadi, penjualan memiliki arti yang
berbeda dengan jualan. Anggaran jualan disusun oleh fungsi penjualan
(manajer pemasaran). Anggaran jualan merupakan rencana tertulis yang
dinyatakan dalam angka dari produk yang akan dijual perusahaan pada periode
tertentu. Jualan merupakan unsur dapatan (revenues) yang disebut dapatan
jualan (sales revenues). Jualan terdiri atas jualan kotor dan jualan bersih.
Jualan bersih diperoleh setelah dikurang dengan potongan dan retur jualan.

3.

Anggaran penjualan yaitu biaya-biaya yang diperlukan untuk menjual


(komisi penjualan, gaji staff penjualan, pengiklanan, dan promosi penjualan)

2Danang Sunyoto.Budgeting Perusahaan.Yogyakarta:CAPS.2012. Hal.77


3 https://sites.google.com/site/penganggaranperusahaan/anggaranpenjualan/tujuan-dan-fungsi-anggaran-penjualan

Anggaran Penjualan

Page 4

dan untuk mendistribusikan barang kepada konsumen (biaya pemrosesan


pesanan, penanganan, penyimpanan, dan pengiriman)

B. Tujuan dan Fungsi Penyusunan Anggaran Penjualan


Menurut Tendi Haruman dan Sri Rahayu (2007) tujuan penyusunan anggaran
penjualan adalah Untuk merencanakan setepat mungkin tingkat penjualan pada
periode yang akan datang dengan memperhatikan data yang merupakan pencerminan
kejadian yang dialami perusahaan di masa lalu, khususnya di bidang penjualan .
Sedangkan kegunaan dari anggaran penjualan adalah Sebagai pedoman kerja,
alat koordinasi dan pengawasan kerja serta sebagai dasar bagi penyusunan budgetbudget lainnya .
Tujuan perencanaan penjualan merupakan langkah awal yang menjadi dasar
keputusan manajamen tentang pemasaran dan keputusan tersebut menjadi dasar
perencanaan penjualan yang komprehensif. Rencana anggaran penjualan dapat
dipergunakan untuk menyusun pembuatan bagian-bagian dari anggaran-anggaran
lainnya.
Adapun tujuan utama dilakukannya perencanaan penjualan adalah sebagai
berikut :
1. Mengurangi ketidakpastian tentang pendapatan dimasa yang akan datang.
2. Memasukkan kebijakan dan keputusan manajamen ke dalam proses
perencanaan.
3. Memberikan informasi penting bagi pembentukan elemen lain dari rencana laba
yang komprehensif.
4. Memudahkan pengendalian manajamen atas kegiatan penjualan yang dilakukan.
5. Dasar penugasan bagi personalia yang bertanggungjawab atas rencana
penjualan.
Fungsi Anggaran Penjualan
Secara umum, semua anggaran termasuk anggaran penjualan, mempunyai tiga
kegunaan pokok, yaitu sebagai pedoman kerja, sebagai alat pengkoordinasian kerja,
dan sebagai alat pengawasan kerja yang membantu manajemen dalam mencapai
tujuan perusahaan. Secara khusus, anggaran penjualan berguna sebagai dasar
penyusunan semua anggaran dalam perusahaan, sebab bagi perusahaan yang
menghadapi pasar yang bersaing, anggaran penjualan harus disusun paling awal dari
semua anggaran yang lain.

Anggaran Penjualan

Page 5

Fungsi dari anggaran penjualan dalam suatu perusahaan dapat disimpulkan


sebagai berikut4 :
1. Anggaran penjualan adalah dasar perencanaan atas kegiatan perusahaan pada
umumnya. Anggaran penjualan terlebih dulu disusun baru kemudian
komponen-komponen anggaran lainnya, sehingga dapat menggambarkan
suatu rencana anggaran komprehensip. Kemudian tahap berikutnya segara
dapat menyusun anggaran produksi untuk memenuhi jumlah barang jadi yang
harus segera diproduksikan untuk memenuhi target penjualan
2. Anggaran penjualan sebagai alat koordinasi dan mengarahkan setiap
pelaksanaan divisi Pemasaran. Anggaran penjualan sebagai alat koordinasi
adalah untuk memantau tugas terhadap divisi produksi supaya jangan
kehabisan persediaan barang jadi dan sebaliknya anggaran produksi
memantau ke bagian pembelian, sehingga terdapat keserasian dalam
membentuk anggaran komprehensip.
3. Anggaran penjualan sebagai alat pengorganisasian. Anggaran penjualan
berarti penetapan target-target penjualan atas setiap anatomi organisasi
pemasaran yang dilakukan oleh para penjual, pengawas penjual, dan manajermanajer pemasaran. Pihak-pihak yang disebutkan tadi perlu diorganisasikan
sesuai dengan daerah-daerah pemasaran guna mencapai target penjualan yang
tertera pada anggaran penjualan.
4. Anggaran penjualan sebagai alat pengawasan bagi manajemen. Keberhasilan
suatu anggaran komprehensif dalam suatu perusahaan tergantung pada
keberhasilan anggaran penjualan. Sebaliknya dengan tersusunnya anggaran
penjualan secara terperinci memungkinkan manajemen lebih mudah untuk
menyusun anggaran lainnya adalah berpedoman pada anggaran penjualan.
C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyusunan Anggaran Penjualan
Dalam proses penyusunan anggaran penjualan perusahaan, pihak penyusun
anggaran

tidak

dapat

menyusun

rencana

kerja

secara

sembarang

4 https://sites.google.com/site/penganggaranperusahaan/anggaranpenjualan/tujuan-dan-fungsi-anggaran-penjualan

Anggaran Penjualan

Page 6

tanpa

memperhatikan faktor-faktor yang terkait. Perusahaan harus membuat ramalan


penjualan. Ramalan penjualan tersebut berupa prediksi volume barang yang akan
dijual pada suatu periode tertentu di waktu mendatang. Dalam menetapkan volume
produk yang diharapkan dapat dijual dalam suatu periode tertentu, perusahaan dapat
membuatnya berdasarkan beberapa faktor, seperti:
1. Faktor internal
a. Penjualan tahun-tahun sebelumnya
Data hisoris mengenai kemampuan perusahaan menjual
produk dalam beberapa tahun terakhir dapat dijadikan dasar
untuk menentukan volume penjualan produk perusahaan di
tahun-tahun mendatang.5
1) Pertumbuhan rata-rata
Jika pertumbuhan volume penjualan dijadikan dasar untuk
menyusun volume penjualan yang dianggarkan di tahun
berikutnya,

maka

rata-rata

pertumbuhan

volume

penjualan didalam beberapa periode, ditambahkan pada


volume penualan actual di tahun sebelumnya.
Misalnya, data volume penjualan selama beberapa tahun
terakhir dari PT. XXX terlihat seperti berikut :
Tahu
n
2005

220.000

2006

244.200

2007

280.830

Pertumbuhan
Volume
Persentase

Volume Unit

2008

308.913

2009

355.250
Pertumbuhan

Volume

penjualan

24.200

11%

36.630

15%

28.083

10%

46.337

15%

33.813

12,75%

tahun

2010

dianggarkan

sebesar

volume penjualan tahun 2009 ditambah dengan volume


pertumbuhan rata-ratanya, yaitu sebesar = 355.250 +
33.813 = 389.063 unit.
5 Rudianto. Penganggaran Konsep dan Teknik Penyusunan Anggaran.
Jakarta:Erlangga2009.. Hlm. 53

Anggaran Penjualan

Page 7

Dari data tersebut, terlihat bahwa pertumbuhan rata-rata


selama 5 tahun adalah 12.75%, maka perusahaan dapat
menetapkan target volume penjualan untuk tahun 2010
sebesar volume penjualan tahun 2009 dikalikan dengan
100% ditambah dengan persentase pertumbuhan ratarata, yaitu sebesar = 355.250 x (100% + 12,75%) =
400.544 unit.
2) Least Square (kuadrat terkecil)
Metode least square adalah alah satu metode didalam
ilmu statistik yang biasanya digunakan untuk membuat
taksiran dari suatu tren tertentu. Tren tersebut tercermin
didalam sekumpulan data berupa time series yang
merupakan sekumpulan data yang mewakili beberapa
tahun secara berurutan, misalnya data penjualan historis
suatu perusahaan selama beberapa tahun terakhir.
Didalam metode least square persamaan suatu tren
dinyatakan sebagai berikut :

Y = a + bx

Y= nilai proyeksi Y untuk suatu nilai x


a = konstanta, nilai Y seandainya x = 0
b = slope, menunjukkan berapa satuan Y akan berubah
seandainya x
berubah satu-satuan.
Dengan menggunakan data penjualan PT. XXX seperti
contoh sebelumnya, maka nilai a dan b persamaan tren

linear dapat dicari sebagai berikut :

b=

Y
n

XY
X2
= Jumlah penjualan aktual

= Jumlah tahun dalam data

Anggaran Penjualan

Page 8

a =

Y
n

XY
X2
Tahu
n
2005
2006
2007
2008
2009

= Jumlah perkalian X dan Y


= Jumlah kuadrat dari variable X
Tahun
Ke
0
1
2
3
4
Total

Volume
Penjualan
220.000
244.200
280.830
308.913
355.250
1.409.193

Xi

Xi . Yi

Xi

-2
-1
0
1
2

(440.000)
(244.200)
0
308.913
710.500
335.213

4
1
0
1
4
10

a = 1.409.193 : 5 = 281.838,6
b = 335.213 : 10 = 33.521,3
X = 3 (koding untuk tahun 2010 menggunakan coded
method)
Penjualan tahun 2010 Y = a + bx
= 281.838,6 + 33.521, 3 (3)
= 382.402,5 unit
Dengan menggunakan metode least square, pada tahun
2010 perusahaan tersebut diramalkan akan mencapai volume
penjualan sebesar 382.402,5 unit.
b. Kebijakan perusahaan yang berhubungan dengan masalah
penjualan, seperti tentang pemilihan saluran distribusi, pemilihan mediamedia promosi, cara penetapan harga jual dan sebagainya.
c. Kapasitas
produksi
yang
dimiliki
perusahaan

serta

kemungkinan perluasannya di waktu yang akan datang.


d. Tenaga kerja yang tersedia baik jumlah maupun keterampilan dan
keahliannya, serta kemungkinan pengembangannya di waktu yang akan
datang.
e. Modal kerja yang dimiliki perusahaan
f. Fasilitas lain yang menunjang, serta kemungkinan perluasannya di waktu
yang akan datang.
2. Faktor eksternal
a. Keadaan persaingan pasar
b. Posisi perusahaan dalam persaingan
c. Demografi
Perkembangan pnduduk didalam suatu Negara dapat mempengaruhi secara
langsung jumlah produk yang diharapkan dapat dijual di dalam suatu periode
Anggaran Penjualan

Page 9

tertentu. Perubahan jumlah penduduk tersebut dapat dibagi lagi berdasarkan


kelompok yang lebih spesifik, seperti6 :
1) Perubahan kelompok usia tertentu, dapat berpengaruh terhadap penjualan
perusahaan. Misalnya, pertambahan jumlah bayi yang dilahirkan dan
jumlah balita pada suatu waktu tertentu akan mempengaruhi secara
langsung volume penjualan perusahaan produsen pakaian bayi dan anak,
produsen makanan dan susu anak-anak, dan sebagainya.
2) Perubahan komposisi dan jumlah jenis kelamin tertentu, dapat
mempengaruhi volume penjualan suatu perusahaan. Misalnya, perubahan
jumlah wanita di suatu Negara akan berpengaruh secara langsung terhadap
volume penjualan perusahaan kosmetika, pakaian wanita, sepatu wanita,
dan sebagainya.
3) Perubahan penduduk berdasarkan kelompok tertentu, dapat berpengaruh
pula terhadap penjualan suatu industry tertentu. Misalnya, perubahan
selera kelompok umur tertentu, perubahan selera kelompok pendapatan
tertentu, perubahan jumlah penduduk yang beragama tertentu, perubahan
jumlah etnis tertentu di suatu wilayah, dan sebagainya.
d. Elastistisitas permintaan terhadap harga barang yang dihasilkan perusahaan,
yang terutama akan mempengaruhi dalam merencanakan harga jual dalam
budget penjualan yang akan disusun.
e. Kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah yang berpengaruh, baik dibidang
politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun keamanan.
D. Konsep Anggaran Penjualan
Anggaran penjualan merupakan dasar dilakukannya aktivitas-aktivitas yang
lain, dan pada umumnya anggaran penjualan disusun paling dahulu dari anggarananggaran lainnya. Tujuan utama perusahaan adalah memperoleh keuntungan.
Keuntungan akan diperoleh jika perusahaan mnejual barang/jasa dengan harga yang
lebih tinggi dari harga pokoknya. Masalah-masalah utama yang dihadapi pada saat
akan menjual suatu barang/jasa, yakni7 :
1. Barang/jasa apa yang akan dijual
6Rudianto. Penganggaran Konsep dan Teknik Penyusunan Anggaran.
Jakarta:Erlangga 2009. hlm. 56-57
7 Dra. Justine T. Sirait, M.B.A.-T. Anggaran sebagai Alat Bantu bagi
Manajemen. Jakarta: Grasindo. Hlm. 65

Anggaran Penjualan

Page 10

2. Biaya-biaya apa saja yang perlu dikeluarkan agar barang/jasa tersebut dapat
dijual
3. Berapa harga barang/jasa agar mendatangkan keuntungan bagi perusahaan dan
terjangkau oleh konsumen.
Penyusunan konsep angaran penjualan dapat dikatakan mencakup segala
kegiatan dalam bidang penjualan. Komponen-komponen pokok konsep anggaran
penjualan adalah dasar-dasar penyusunan anggaran dan menyusun anggaran
penjualan.
1. Dasar-dasar penyusunan anggaran, sebagai berikut :
a. Menyusun tujuan perusahaan
b. Menyusun strategi perusahaan
c. Menyusun peramalan penjualan
2. Menyusun anggaran penjualan, yakni :
a. Anggaran promosi dan advertensi
b. Anggaran biaya-biaya penjualan
c. Rencana pemasaran
E. Penyusunan anggaran penjualan
Untuk menyusun budget penjualan diperlukan penaksiran-penaksiran
(forecasting) khususnya penaksiran tentang jumlah produk yang diperkirakan akan
mampu dijual beserta harga jualnya, yang masing-masing dikaitkan dengan jenis
produk yang akan dijual, dengan waktu serta tempat penjualannya.
Menurut sifatnya cara untuk melakukan penaksiran-penaksiran tersebut dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Penaksiran yang bersifat kualitatif
Merupakan cara penaksiran yang menitik beratkan pada pendapat
seseorang. Cara penaksiran ini mempunyai kelemahan yang menonjol, yaitu
bahwa pendapat seseorang seringkali banyak diwarnai oleh hal-hal yang bersifat
subyektif dari pada bersifat obyektif. Dengan demikian ketepatan hasil
taksirannya menjadi diragukan. Adapun beberapa cara penaksiran yang bersifat
kualitatif ini antara lain:
a. Pendapat pimpinan bagian pemasaran
b. Pendapat para petugas penjualan.
c. Pendapat lembaga-lembaga penyalur.
d. Pendapat konsumen.
e. Pendapat para ahli yang dipandang memahami ( konsultan).

Anggaran Penjualan

Page 11

2. Penaksiran yang bersifat kuantitatif


Ialah cara penaksiran yang menitik beratkan pada perhitungan-perhitungan
angka dengan menggunakan berbagai metode statistika. Cara penaksiran ini juga
mempunyai kelemahan yaitu adanya hal-hal yang tidak dapat diukur secara
kuantitatif misalnya selera konsumen, kebiasaan konsumen, tingkat pendidikan,
dan cara berfikir masyarakat, struktur masyarakat dan sebagainya. Adapun
beberapa cara penaksiran yang bersifat kuantitatif antara lain:
a. Cara yang mendasarkan diri pada data historis dari suatu variabel saja, yaitu
variabel yang akan ditaksir itu sendiri. Misalnya dengan metode trend
bebas, trend setengah rata-rata, trand moment, trend least-square, dan
kuadrik.
b. Cara yang mendasarkan diri pada data historis dari variabel yang akan
ditaksir serta hubungannya dengan data historis dari variabel lain yang
diduga mempunyai pengaruh yang cukup kuat terhadap perkembangan
variabel yang akan di taksir tersebut. Misalnya dengan metode regresi
tunggal dan regresi berganda.
c. Cara penaksiran yang menggunakan metode-metode statistik yang
diterapkan pada berbagai analisa khusus. Misalnya analisa industri, analisa
jenis-jenis produk yang dihasilkan perusahaan, dan analisa pemakai akhir
dari produk.
Dengan menggunakan berbagai cara penaksiran yang berbeda, akan diperoleh
angka taksiran yang berbeda pula. Angka-angka taksiran ini tidak dengan sendirinya
menjadi angka yang dimuat dalam budget penjualan melainkan merupakan bahan
pertimbangan yang masih akan dibahas lebih lanjut dalam panitia budget.

Penetapan Harga Jual Produk


Secara umum terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk
menentukan harga jual produk perusahaan, yaitu8 :
8Rudianto. Penganggaran Konsep dan Teknik Penyusunan Anggaran.
Jakarta:Erlangga 2009. hlm. 57-62

Anggaran Penjualan

Page 12

1. Metode harga pasar.


Metode penetapan harga jual produk berdasarkan harga pasar ditentukan
oleh mekanisme harga produk yang berlaku dipasar. Didalam suatu industri
tertentu, masyarakat telah mengetahui harga yang dianggap pantas untuk suatu
jenis produk. Besarnya harga tersebut dipengaruhi oleh harga jual produk sejenis
yang beredar sebelumnya. Maka dari itu perusahaan tidak dapat menetapkan
harga sekehendak perusahaan, namun perusahaan harus mengikuti harga pasar
yang berlaku.
2. Metode biaya Plus.
Penentuan harga jual produk dengan metode biaya plus didasarkan pada
besarnya biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk tersebut, ditambah
dengan suatu prersentase tertentu dari biaya tersebut. Persentase penambahan
tersebut merupakan laba (laba kotor/laba bersih) yang diinginkan perusahaan.
Penentuan besarnya laba yang ingin diraih dipengaruhi oleh banyak hal, mulai
dari

perolehan

laba

tahun-tahun

sebelumnya,

laba

rata-rata

industri,

pertumbuhan laba perusahaan dsb.


Penetapan harga jual dengan metode biaya plus dapat menggunakan
biaya yang bervariasi sebagai dasar penghitungan harga jual produk. Dasar biaya
yang digunakan dapat mempergunakan : biaya produksi dan biaya total.
Contoh :
Kapasitas produksi normal PT Lima Pilar pertahun adalah sebesar 120.000
unit. Tetapi perusahaan berencana hanya memperroduksi produk sebanyak
100.000 unit untuk tahun 2010. Untuk pembuatan anggaran tahun 2010, pada
akhir tahun 2009 perusahaan membuat proyeksi biaya yang diperlukan untuk
memproduksi 100.000 unit produk tersebut, seperti yang terlihat berikut :
-

Biaya bahan langsung

Rp. 200.000.000

Biaya tenaga kerja langsung

Rp. 350.000.000

Biaya overhead variabel

Rp. 150.000.000

Biaya overhead tetap

Rp. 240.000.000

Biaya pemasaran variabel

Rp. 100.000.000

Anggaran Penjualan

Page 13

Biaya pemasaran tetap

Rp. 50.000.000

Biaya administrasi dan umum

Rp. 110.000.000

Biaya Total

Rp.1.200.000.000

Manajemen PT Lima Pilar sedang mempertimbangkan untuk menetapkan


harga jual produk dengan metode biaya plus.
Jika perusahaan merencanakan menetapkan harga jual produknya dengan
metode baiya total plus 20%, maka akan menghasilkan harga jual produk
sebesar :
# penjualan total = biaya total + 20%
= Rp. 1.200.000.000 + (20% x 1.200.000.000)
= Rp. 1.200.000.000 + 240.000.000
= Rp. 1.440.000.000
# harga jual/unit
= Rp. 1.440.000.000 : 100.000 unit
= Rp. 14.400 per unit
-

Biaya bahan langsung

Rp 200.000.000

Biaya tenaga kerja langsung

Rp 350.000.000

Biaya overhead variabel

Rp 150.000.000

Biaya overhead tetap

Rp 240.000.000

Biaya produksi

Rp 940.000.000

Jika perusahaan merencanakan menetapkan harga jual produknya dengan


metode biaya produksi plus 40%, maka akan menghasilkan perhitungan
sebagai berikut:
Karena untuk menghasilkan 100.000 unit produk, perusahaan menganggarkan
biaya produksi total sebesar Rp 940.000.000 maka harga jual produk
perusahaan ditetapkan sebesar:
# Penjualan Total
= Biaya Total + 40%
= Rp 940.000.000 + ( 40% x 940.000.000)
= Rp 940.000.000 + 376.000.000
= Rp 1.316.000.000
# Harga jual/unit
= Rp 1.316.000.000 : 100.000 unit
= Rp 13.160 per unit
Jadi, dengan menggunakan metode biaya totak plus dan metode biaya
produksi plus akan menghasilkan harga jual produk yang berbeda.
3. Metode Margin Kontribusi
Metode Margin Kontribusi adalah selisih antara harga jual dengan biaya
variabel suatu produk. Berarti, jika perusahaan merencanakan untuk

Anggaran Penjualan

Page 14

menggunakan metode margin kontribusi, maka harga jual produk ditentukan


dengan menjumlahkan seluruh biaya variabel yang dikeluarkan suatu perusahaan
ditambah dengan persentase tertentu sebagai margin kontribusi yang diinginkan
perusahaan.
Contoh :
PT. Lima Pilar di dalam kasus sebelumnya, memiliki kapasitas produksi
normal sebesar 120.000 unit per tahun. Sedangkan untuk tahun 2010
perusahaan hanya berencana menghasilkan produk sebanyak 100.000 unit
produk. Tetapi perusahaan memiliki peluang untuk membuat produksi
tambahan dan menjual sebanyak 20.000 unit jika ada pesanan tambahan dari
pelanggan di Malaysia.
Untuk kemungkinan pesanan tambahan sebanyak 20.000 unit ini, perusahaan
membuat taksiran biaya sebagai berikut:
-

Biaya bahan langsung

Rp 40.000.000

Biaya tenaga kerja langsung

Rp 70.000.000

Biaya overhead variabel

Rp 30.000.000

Karena

Biaya pemasaran variabel

Rp 20.000.000

menghasilkan 20.000

Rp160.000.000

unit produk tambahan,

Biaya variabel total

untuk

perusahaan menganggarkan biaya variabel total sebesar Rp 160.000.000 maka harga


jual produk perusahaan ditetapkan sebesar:
# Penjualan Total
= Biaya Variabel Total + 25%
= Rp 160.000.000 + ( 25% x 160.000.000)
= Rp 160.000.000 + 40.000.000
= Rp 200.000.000
# Harga jual/unit
= Rp 200.000.000 : 20.000
= Rp 10.000 per unit
Karena margin kontribusi berbeda dengan laba usaha, di mana mergin
kontribusi merupakan selisih antara harga jual dengan biaya variabel total,
sedangkan laba usaha merupakan selisih antara harga jual dengan biaya total,
maka metode margin kontribusi ini tidak bisa digunakan untuk selurug produk
yang dihasilkan suatu perusahaan, karena akan menyebabkan kerugian usaha
bagi perusahaan. Metode ini hanya dapat diterapkan untuk produksi tambahan
saja.
4. Metode Laba Maksimal

Anggaran Penjualan

Page 15

Adakalanya produk suatu perusahaan memiliki sifat yang sangat elastis.


Dimana perubahan harga jual produk tersebut akan langsung mempengaruhi
volume penjualan produk tersebut. Jika harga jual dinaikkan maka volume
penjualan akan langsung berkurang. Jika harga jual produk diturunkan, volume
penjualan produk langsunng bertambah. Kemungkinan

terjadinya gejolak

volume penjualan produk akibat perubahan harga jual produk tersebut akan
berpengaruh langsung terhadap besarnya laba usaha yang dianggarkan.
Berdasarkan prediksi fluktiasi perolehan laba usaha akibat perubahan harga jual
tersebut, perusahaan menetapkan harga jual produk yang akan memberikan laba
usaha terbesar bagi perusahaan.
Contoh :
PT. Jaya Makmur memproduksi suatu barang dengan kapasitas sebesar
140.000 unit per tahun. Jumlah biaya total yang akan dikeluarkan untuk
menghasilkan seluruh produk tersebut adalah sebesar Rp 300.000.000.
sedangkan biaya variabe yang diperlukan untuk menghasilkan produk
tersebut diperkirakan sebesar Rp 7.000 per unit. Manajemen perusahaan
sedang mempertimbangkan harga jual yang tepat untul produk tersebut,
agar laba usaha total yang akan diperoleh perusahaan optimal.
Bagian pemasaran perusahaan memperkirakan perubahan harga jual
produk akan mempengaruhi secara langsung jumlah produk yang akan
terjual. Taksiran bagian pemasaran sebagai berikut:

Harga

Anggaran Penjualan

Volume

16.000

60.000

14.000

80.000

12.000

100.000

10.000

120.000

8.000

140.000

Page 16

Jika perusahaan menetapkan harga jual dengan metode laba maksimal, maka
akan menghasilkan perhitungan sebagai berikut:
Harga

Penjualan
Volume

Nilai

Biaya
Variabel

Tetap

Laba/Rugi

20.000

20.000

400.000.000

140.000.00
0

300.000.00
0

(40.000.000)

18.000

40.000

720.000.000

280.000.00
0

300.000.00
0

140.000.000

16.000

60.000

960.000.000

420.000.00
0

300.000.00
0

240.000.000

14.000

80.000

1.120.000.000

560.000.00
0

300.000.00
0

260.000.000

12.000

100.00
0

1.200.000.000

700.000.00
0

300.000.00
0

200.000.000

10.000

120.00
0

1.200.000.000

840.000.00
0

300.000.00
0

60.000.000

8.000

140.00
0

1.120.000.000

980.000.00
0

300.000.00
0

(160.000.000)

Nilai penjualan

= harga jual x volume


= Rp 20.000 x 20.000 = Rp 400.000.000
Biaya Variabel = variabel x volume
= Rp 7.000x 20.000= Rp 140.000.000
5. Metode Tingkat Pengembalian Atas Modal
Terkadang perusahaan menetapkan terlebih dahulu besarnya tingkat
pengembalian atas modal yang ditanamkan di dalam suatu bidang usaha, sebagai
dasar untuk menentukan harga jual produk yang dihasilkan perusahaan tersebut.
Tingkat pengembalian yang diharapkan oleh para penanam modal perusahaan
mengharuskan perusahaan menggunakannya sebagai dasar untuk menetapkan
harga jual produk pada kapasitas produksi yang dimiliki perusahaan.
Contoh :
PT. Prima Niaga adalah sebuah perusahaan produsen pemanas air listrik.
Total modal yang digunakan oleh perusahaan ini adalah sebesar Rp
500.000.000 dengan tingkat pengembalian investasi atas modal sebesar 20%.
Volume produksi dan volume penjualan yang direncanakan adalah sebesar
50.000 unit produk. Sedangkan biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi

Anggaran Penjualan

Page 17

seluruh produk tersebut adalah sebesar Rp 320.000.000. berdasarkan tingkat


pengembalian investasi atas modal tersebut, maka harga jual per unit
pemanas air listrik tersebut adalah sebesar:
Total Biaya +(Tingkat Pengembalian Modal x Modal)
Harga jual
=
Volume Penjualan

320.000 .000+(20 x 500.000 .000)


50.000

= Rp 8.400 per unit


Pembuktian
Penjualan= 50.000 unit x Rp 8.400 per unit
Total Biaya
Laba

= Rp 420.000.000
= Rp 320.000.000= Rp 100.000.000

F. Beberapa Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Penyusunan Anggaran


Penjualan
a.

Rincian jumlah dan jenis produk perusahaan.


Anggaran penjualan hendaknya menyebutkan dengan jelas jenis produk
yang akan dijual serta jumlah unit dari masing-masing produk tersebut.
Walaupun nantinya seluruh penjualan akan dijumlahkan, namun untuk keperluan
pengawasan perlu masing-masing jenis peroduk yang dijual tersebut diketahui

b.

jumlahnya.
Rincian daerah pemasaran.
Dewasa ini merupakan hal yang umum apabila suatu perusahaan
mempunyai daerah pemasaran yang cukup luas. Bagi perusahaan-perusahaan
seperti ini di dalam penyusunan anggaran penjualannya perlu untuk
memperlihatkan kemana saja produk perusahaan tersebut akan dijual. Hal ini
sangat membantu para pelaksana penjualan serta memudahkan pengawasan
penjualan. Pada umumnya daerah pemasaran yang luas ini akan dibagi menjadi
beberapa daerah pemasaran dengan dasar-dasar tertentu yang sesuai dengan
kondisi perusahaan. Dasar yang paling umum digunakan adalah letak geografis
dan tidak jarang pula yang mempergunakan pembagian atas dasar kota tujuan

atau kelompok kota tujuan pemasaran.


c.
Diskriminasi harga

Anggaran Penjualan

Page 18

Didalam penentuan harga jual produk, terdapat beberapa perusahaan


yang menetapkan harga yang sama bagi penjualan produknya untuk seluruh
daerah pemasaran yang ada. Namun demikian tidak disangkal pula bahwa
terdapat beberapa perusahaan yang menerapkan kebijakan diskriminasi harga
untuk daerah yang berbeda. Untuk perusahaan-perusahaan semacam ini harga
yang dapat ditentukan untuk masing-masing daerah pemasaran tersebut harus
jelas sehingga dapat diketahui dan diawasi pelakksanaannya dengan mudah. Jika
harga untuk masing-masing daerah pemasaran ini tidak dijelaskan maka
penjualan produk perusahaan tersebut akan mengalami beberapa kesulitan
didalam pemantauannya, karena terdapat beberapa harga yang berbeda antara
d.

satu daerah dengan daerah pemasaran yang lainnya.


Potongan harga
Didalam pelaksanaan penjualan produk perusahaan sangat sering
dijumpai adanya potongan harga. Bagi pembeli atau distributor yang membeli
dalam jumlah tertentu, atau pembayarannya dengan jangka waktu tertentu
seringkali mendapatkan perlakuan harga yang berbeda. Untuk memudahkan
pengawasan penjualan produk perusahaan ini, maka didalam anggaran yang
disusun seharusnya disebutkan seberapa banyak potongan yang akan diberikan
oleh perusahaan sehubungan dengan pembelian dengan persyaratan-persyaratan
khusus tersebut. Pengawasan pemberian potongan pembelian ini akan lebih
mudah apabila perusahaan telah mempersiapkan didalam anggaran yang
ddisusun tersebut. Bagi perusahaan-perusahaan dimana potongan pembelian ini
merupakan hal yang rutin, misalnya dihubungkan dengan waktu pembayaran,
maka lebih baik bila anggaran penjualan yang disusun tersebut dilengkapi
dengan anggaran potongan pembelian. Pelaksanaan penyusunan anggaran ini
dapat disusun sendiri atau berdiri sendiri, namun tidak jarang pula yang

langsung digabungkan dengan anggaran penjualan yang ada.


e.
Pada umumnya anggaran penjualan ini disusun untuk satu periode atau satu
tahun. Namun untuk keperluan perencanaan, koordinasi dan pengawasan dalam
perusahaan tersebut selayaknya anggaran penjualan yang disusun ini juga
dilengkapi dengan rincian penjualan bulanan. Bahkan beberapa perusahaan yang
mendasarkan penyusunan anggaran penjualan dari pada pengecer, agen dan
distributor, tidak jarang disusun perencanaan penjualan produk perusahaan
Anggaran Penjualan

Page 19

perbulan dahulu baru kemudian dijadikan perencanaan tahunan dengan jalan


menjumlahkan seluruh penjualan bulanan yang ada. Namun bagi perusahaan
yang menyusun peramalan penjualan tahunan, pada umumnya pemecahan
perencanaan penjualan bulanan ini akan dilaksanakan atas dasar pola penjualan
bulanan yang telah ada dari beberapa periode yang telah lalu. Atas dasar pola ini
ditentukan berapa besarnya jumlah penjualan perbulan pada periode yang
bersangkutan.
Dengan mempertimbangkan kepada beberapa hal tersebut diatas, maka
anggaran penjualan produk perusahaan dapat disusun. Semakin jelas anggaran
penjualan dalam perusahaan tersebut disajikan, semakin mudah pula manajemen
perusahaan yang bersangkutan melaksanakan koordinasi dan pengawasan
kegiatan penjualan perusahaan ini.

Contoh Soal (1) :


Diketahui informasi penjualan Keripik Balado SITI NURBAYA dari tahun 2001
sampai dengan 2005 dalam satuan unit adalah sebagai berikut :

Tahun
Penjualan (Y)
2001
110.000
2002
125.000
2003
120.000
2004
155.000
2005
165.000
Penjualan tersebut adalah penjualan dari dua macam produk yang dihasilkan usaha
keripik baladao ini yaitu keripik balado pedas dan keripik balado manis. Berdasarkan
data diatas susunlah anggaran penjualan tahun 2006 jika:
a. Menggunakan trend atau metode least square
b. Perbandingan jumlah produk A dan B adalah 2 : 3
c. Harga jual produk keripik balado pedas = Rp. 150/unit dan keripik balado manis =
Rp. 200/unit
d. Anggaran penjualan tahun 2006 berdasarkan triwulan

Anggaran Penjualan

Page 20

Langkah-langkah Penyelesaian :
Diketahui Jumlah tahun ....n=5
1) Menentukan tingkat penjualan tahun 2006 dengan melakukan peramalan
menggunakan metode trend least square
Penjualan
X
(Y)
2001
110.000
-2
2002
125.000
-1
2003
120.000
0
2004
155.000
1
2005
165.000
2
Y= 675.000
a = Y/n = 675.000/5 = 135.000
Tahun

XY
-220.000
-125.000
0
155.000
330.000
XY = 140.000

X
4
1
0
1
4
X=10

b= XY/X = 140.000/10 = 14.000


Maka Y = a + bX
Y = 135.000 + 14.000X

Jadi tingkat penjualan tahun 2006 adalah


Y 2006 = 135.000+14.000(3)
= 177.000 unit
2) Menentukan jumlah untuk masing-masing produk keripik pedas dan produk
keripik balado manis dengan menggunakan perbandingan yang ada.
Perbandingan produk adalah 2:3.
Produk keripik balado pedas = 2/5 X 177.000 = 70.800
Produk keripik balado manis = 3/5 X 177.000 = 106.200
3) Jual masing-masing produk keripik balado pedas dan produk keripik balado manis
masing-masing nya per bungkus adalah Rp. 150 dan Rp. 200
4) Menentukan jumlah penjualan dalam satu tahun dan kwartal untuk menyusun
anggaran penjualan dalam kwartalan.

Anggaran Penjualan

Page 21

1 tahun = 12 bulan, artinya 4 kali dalam setahun, sedangkan 1 triwulan = 3 bulan

Jumlah per triwulan pada produk keripik balado pedas = 70.800/4= 17.700
unit, maka per bulannya menjadi 17.700/3 =5.900 unit

Jumlah per triwulan pada produk keripik balado manis = 106.200/4 =


26.550 unit, maka per bulannya menjadi 26.550/3 = 8.850 unit.
USAHA KERIPIK BALADO SITI NURBAYA
Anggaran Penjualan
Tahun 2006

Triwulan

Unit

Produk A
Harga/
Jumlah
unit

Unit

Produk B
Harga/
Jumlah
unit

Triwulan I
-Januari
-Pebruari
-Maret

5.900
5.900
5.900

150
150
150

885.000
885.000
885.000

8.850
8.850
8.850

200
200
200

1.770.000
1.770.000
1.770.000

Triwulan II

17.700

150

2.655.000

26.950

200

5.310.000

Triwulan III

17.700

150

2.655,000

26.950

200

5.310.000

Triwulan IV

17.700

150

2.655,000
10.620.000

26.950

200

5.310.000
21.240.000

Note :
Anggaran Penjualan disusun berdasarkan triwulan, tetapi pada triwulan I diuraikan
per bulannya, dimana bulan Januari, Pebruari dan Maret termasuk dalam triwulan I.

Contoh Soal (2) :


Perusahaan Duta Abadi meminta saudara untuk membuat anggaran penjualan. Data
yang tersedia adalah sebagai berikut:
1) Data penjualan dari tahun 2001-2005
Tahun

Barang A(unit)

Barang B (unit)

2001

40.000

50.000

2002

50.000

55.000

Anggaran Penjualan

Page 22

2003

52.000

60.000

2004

55.000

65.000

2005

65.000

70.000

2) Harga jual kedua jenis barang tersebut tahun 2005 masing-masing untuk barang
A dan barang B adalah Rp. 1,500/unit dan Rp. 2.000/unit
Pada tahun 2006 perusahaan menaikkan harga 10 % dari tahun sebelumnya,
sementara tahun 2007 perusahaan merencanakan untuk menaikkan harga jual 10
% dari harga tahun 2006 yang disebabkan meningkatnya baiaya operasional
perusahaan.
3) Kedua barang tersebut di jual di dua daerah yaitu Indonesia Timur dan Indonesia
Barat. Perbandingan penjualan 2:3 dan hal ini diperkirakan sama untuk tahun
2007.
4) Penjualan per triwulan ditetapkan dalan %, dimana

Triwulan I sebesar 20 %

Triwulan II sebesar 25 %

Triwulan III sebesar 25 %

Triwulan IV sebesar 30 %

Dari data diatas hitunglah :


a. Taksiran tingkat penjualan untuk tahun 2007
b. Berapa harga jual tahun 2007 jika pada kedua daerah harganya sama
c. Susunlah anggaran penjualan tahun 2007 secara terperinci

Penyelesaian :
Penjualan untuk barang A
Tahun
2001
2002
2003
2004

Penjualan (Y)
40.000
50.000
52.000
55.000

Anggaran Penjualan

X
-2
-1
0
1

XY
-80.000
-50.000
0
55.000

Page 23

X
4
1
0
1

2005

65.000
Y=262.000

130.000
XY=55.000

=Y/n =262.000/5= 52.400

= XY/X= 55.000/10=5500

= a+bX

4
X=1
0

Ramalan penjualan tahun 2007 adalah...................


Y 2007 = 52.400 + 5500(4)
= 74.400

Penjualan untuk barang B


Tahun
2001
2002
2003
2004
2005

Penjualan
50.000
55.000
60.000
65.000
70.000
Y=300.00
0

X
-2
-1
0
1
2

XY
-100.000
-55.000
0
65.000
140.000
XY=50.00
0

X
4
1
0
1
4
X=1
0

a=300.000/5 = 60,000

b-50.000/10=5.000

Ramalan penjualan tahun 2007......................... Y = 60.000 + 5000 (4)


= 80.000
Perbandingan harga barang A:B = 2:3
Barang A

Untuk Indonesia Timur : 2/5x74.400 = 29.760

Untuk Indonesia Barat : 3/5x74.400 = 44.640

Barang B

Untuk Indonesia Timur : 2/5x80.000 = 32.000

Anggaran Penjualan

Page 24

Untuk Indonesia Barat : 3/5x80.000 = 48.000


Harga Jual
Barang

2005

2006(10%
)

2007(10%
)

Barang A

1500

1650

1815

Barang B

2000

2200

2420

Penjualan per triwulan


Tiwula
n

Barang A

Barang B

Indo Timur

Indo Barat

Indo Timur

Indo Barat

20%29760=5.95
2

20%44640=8928

20%32000=640
0

20%48000=9600

II

25%29760=7.44
0

25%44640=11160 25%32000=800
0

25%48000=1200
0

III

25%29760=7440

25%44640=11160 25%32000=800
0

25%48000=1200
0

IV

30%29760=8928

30%44640=1339
2

30%48000=1440
0

Anggaran Penjualan

30%32000=960
0

Page 25

Perusahaan Duta Abadi


Anggaran Penjualan
Tahun 2007
Indonesia Timur
Keterangan

Unit

Harga
/
unit

Indonesia Barat

Jumlah

Unit

Harga
/
unit

Jumlah

Barang A
Triwulan I

5952

1815

10.802.88
0

8928

1815

16.204.320

Triwulan II

7440

1815

13.503.60
0

11160

1815

20.255.400

Triwulan III

7440

1815

13.503.60
0

11160

1815

20.255.400

Triwulan IV

8928

1815

16.204.32
0

13392

1815

24.306.480

Jumlah

29.76
0

54.014.40
0

44.64
0

81.031.600

Barang B
Triwulan I

6400

2420

15.488.00
0

9600

2420

23.232.000

Triwulan II

8000

2420

19.360.00
0

12000

2420

29.040.000

Triwulan III

8000

2420

19.360.00
0

12000

2420

29.040.000

Triwulan IV

9600

2420

23.232.00
0

14400

2420

34.844.000

Jumlah

32.00
0

77.440.00
0

48.00
0

Anggaran Penjualan

Page 26

116.160.000

BAB III
PENUTUP
Anggaran penjualan merupakan budget yang direncanakan secara lebih
terperinci tentang penjualan perusahan selama periode yang akan datang, yang
meliputi rencana tentang jenis (kualitas) barang, jumlah (kuantitas), harga barang
yang akan dijual, waktu penjualan serta tempat (daerah) penjualannya. Anggaran
penjualan dibuat dengan tujuan untuk merencanakan tingkat penjualan tertentu pada
periode yang akan datang dengan mempertimbangkan data tahun sebelumnya.
Penyusunan anggaran penjualan dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor
internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi penjualan tahun-tahun
sebelumnya, kebijakan perusahaan, kapasitas produksi, tenaga
kerja, modal dan fasilitas lain. Sementara faktor eksternal meliputi
keadaan persaingan pasar, posisi perusahaan dalam persaingan, demografi, elastisitas
permintaan dan pengaruh kebijakan pemerintah. Penyusunan anggaran penjualan
harus dibuat oleh perusahaan karena mempunyai kegunaan yang sangat penting
seperti berfungsi sebagai pedoman kerja, alat pengkoordinasian, serta sebagai alat
pengawasan kerja yang membantu manajemen dalam mencapai tujuan perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA
Anggaran Penjualan

Page 27

Haruman,Tendi dan Sri Rahayu. 2007.Penyusunan Anggaran


Perusahaan.Yogyakarta:Graha Ilmu
Rudianto.2009.Penganggaran Konsep dan Teknik Penyusunan
Anggaran.Jakarta:Erlangga.
Sirait,Justine.Anggaran Sebagai Alat Bantu bagi
Manajamen.Jakarta:Grasindo
Sunyoto,Danang. 2012. Budgeting Perusahaan.Yogyakarta:CAPS
https://sites.google.com/site/penganggaranperusahaan/anggaranpenjualan/tujuan-dan-fungsi-anggaran-penjualan

Anggaran Penjualan

Page 28