Anda di halaman 1dari 32

Praktikum Akuisisi dan Pengolahan

Data Seismik Refleksi


Program Studi Teknik Geofisika
Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan

Processing ProMAX

Nama
NIM
Shift
Asisten

: Fadli Al Baihaqi
: 12311046
: Rabu, 14.00-16.00
: Argand Bimantara
Monique Alxari

12310016
12310044

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG


2014

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Permasalahan mengenai cadangan hidrokarbon dunia, Metode Seismik digunakan oleh para
ahli geofisika yang hingga saat ini masih digunakan sebagai metode utama dalam eksplorasi
hidrokarbon. Sedangkan, metode-metode lain masih dalam tahap perkembangan agar eksplorasi
hidrokarbon efisien dan efektif.
Metode Seismik adalah suatu metode geofisika yang digunakan untuk mempelajari struktur
dan strata dibawah permukaan bumi. Pada metode ini memanfaatkan perambatan, pembiasan, dan
pemantulan gelombang. Penggunaan metode ini akan mempermudah pekerjaan eksplorasi
hidrokarbon karena metode ini dapat menyelidiki dan memperkirakan batuan yang mengandung
hidrokarbon dari tampilan struktur geologi pada penampang seismik.
Secara umum dalam melakukan eksplorasi hidrokarbon, urutan penggunaan metode seismik :

1. Pengambilan Data Seismik


2. Pengolahan Data Seismik
3. Interpretasi Data Seismik

(Seismic Data Acquisition)


(Seismic Processing Data)
(Seismic Data Interpretation)

Pengambilan data seismik pada kegiatan akuisisi dimulai dengan dibuat sumber getar buatan
menggunakan vibroseis, dinamit, atau air gun, kemudian mendeteksi dan merekam pada suatu alat
penerima seperti geophone atau hidrophone. Getaran akibat sumber getaran buatan akan
menembus bawah permukaan bumi, gelombang tersebut dapat diteruskan dan/atau sebagian akan
dipantulkan kembali oleh reflektor. Gelombang yang dipantulkan kembali akan direkam oleh alat
perekam di permukaan. Sedangkan, gelombang yang menembus permukaan bumi akan dipantulkan
kembali oleh bidang refleksi yang kedua, gelombang akan diterima kembali oleh alat perekam dan
seterusnya hingga alat perekam yang terakhir. Alat perekam akan menghasilkan data berupa trace
seismik.
Pengolahan data seismik meliputi tahap persiapan data, Pre-Processing, Processing dan PostProcessing.

Pre-Processing
Proses yang dilakukan pada tahapan pre-processing adalah meliputi:
1. True Amplitude Recovery
Tahapan ini memulihkan besaran amplitudo karena kehilangan energi yang disebabkan oleh efek
geometrical spreading yaitu berkurangnya energi akibat jarak tempuh gelombang.

2. Edit Trace
Prinsip dari proses editing adalah membuang atau menghapus sinyal-sinyal yang tidak diperlukan
seperti (noise) dalam processing data seismik. Ada dua macam jenis editing yang dilakukan, yaitu
proses killing trace (penghapusan seluruh trace) dan muting (penghapusan sebagian trace).
3. Filtering
Pada prinsipnya, frekuensi sinyal seismik di lapangan mempunyai bandwith yang cukup lebar. Bandpass filter adalah metoda yang mudah untuk menekan noise yang ada di luar spektrum frekuensi
sinyal.
4. Dekonvolusi
Dekonvolusi dilakukan sepanjang sumbu waktu (time axis) yang bertujuan untuk meningkatkan
resolusi temporal dengan mengkompresi wavelet seismik asal sampai mendekati bentuk spike dan
meminimalkan reverberasi gelombang.
5. Koreksi Statik
Tujuan dari koreksi statik ini adalah untuk menghilangkan pengaruh topografi terhadap sinyal-sinyal
seismik yang berasal dari reflektor.

Processing
Pada awalnya data seismik direkam dalam common-shot gather. Common-shot gather merupakan
kumpulan trace yang mempunyai atau berasal dari satu source point yang sama. CMP gather adalah
sekumpulan trace yang memiliki titik tengah (midpoint) yang sama. Sebelum masuk pada tahap
proses stacking, masing-masing CDP gather dikoreksi dari efek perbedaan jarak offset yang disebut
Normal Move-Out (NMO). Sebuah fungsi kecepatan yang disebut stacking velocity dibutuhkan dalam
koreksi NMO. Stacking Velocity didapat dari sebuah proses yang disebut Velocity Analysis.
Velocity Analysis adalah perhitungan dan penentuan fungsi kecepatan (stacking velocity) dari
pengukuran fungsi kecepatan Normal Move-Out. Perhitungan dibuat dengan mengasumsikan fungsi
Velocity Normal Move-Out (VNMO), menerapkannya ke CDP gather, mengukur koherensi pada
fungsi VNMO tersebut, dan mengubah fungsi VNMO untuk mencari koherensi maksimal. Nilai-nilai
koherensi ini diukur, dipetakan dan diberi skala warna untuk proses velocity picking. Nilai-nilai
koherensi yang telah dikontur disebut juga dengan semblance.
Agar didapatkan nilai kecepatan yang tepat, maka picking velocity harus berdasarkan pada tampilan
beberapa panel yang muncul ketika melakukan picking velocity seperti panel Semblance, panel CDP
gather, panel Velocity Function Stack (VFS) dan panel Dynamic Function dimana keempat panel
tersebut mempunyai fungsi masing-masing yang dapat mempengaruhi hasil pemilihan kecepatan.
Semblance panel menampilkan nilai-nilai koherensi dari berbagai trace dalam kontur skala warna
sebagai fungsi waktu dan kecepatan. Warna kontur merah melambangkan nilai semblance
maksimum, sehingga melambangkan juga fungsi kecepatan NMO yang paling tepat untuk

mengkoreksi event seismik yang menghasilkan koherensi. Semblance panel digunakan untuk
menentukan fungsi stacking velocity, dengan cara memilih nilai-nilai semblance yang paling tepat.
Gather panel juga digunakan dalam menentukan fungsi kecepatan. Gather panel menampilkan super
gather dari sejumlah CDP yang telah ditentukan. Super gather didapat dari sejumlah CDP yang
masing-masing tracenya di-stack secara common-offset, sehingga menghasilkan hanya satu CDP
gather, yaitu super gather. Data dari velocity analysis tersebut digunakan sebagai acuan atau
patokan dalam menentukan NMO velocity yang paling tepat untuk digunakan dalam proses stacking.
Hasil akhir dari flow ini adalah suatu penampang stack, yang biasa disebut brute stack. Penampang
ini pada dasarnya merupakan penampang stack yang pertama kali dihasilkan dari suatu pengolahan
data seismik dan disebut sebagai stack kasar (brute stack) karena belum mendapat efek-efek lain
dari pengolahan data seismik. Selain itu, parameter kecepatan yang digunakan dalam brute stack ini
juga belum sepenuhnya tepat. Brute stack ini dihasilkan hanya untuk melihat gambaran awal dari
suatu event seismik.

Post-Processing
Proses yang dilakukan pada tahap post-processing meliputi:
1. Koreksi Residual Statik
2. Migrasi

TUJUAN
Praktikum Pengolahan Data Seismik mempunyai tujuan yaitu sebagai berikut:
1. Mengetahui dan mengerti tahapan-tahapan dalam pengolahan data seismik umumnya, 2D Land
khususnya.
2. Memiliki kemampuan untuk melakukan pengolahan data seismik dari raw data menjadi sebuah
penampang stack migrasi.
3. Memiliki pengetahuan dasar sistem operasi UNIX.
4. Memiliki kemampuan untuk menjalankan perangkat lunak ProMAX.
Pada Praktikum Pengolahan Data Seismik dengan menggunakan ProMAX kali ini, praktikan memberi
nama Area/Line/Flow sebagai berikut:
Area : Shift Rabu 14-16
Line : 12311046 (sesuai dengan NIM praktikan)
Flow : terlampir (dilampirkan pada Bab III Pengolahan Data)

BAB II
DATA DAN PARAMETER AKUISISI
Pada Pengolahan Data Seismik, perangkat lunak yang biasa dipergunakan adalah ProMAX. ProMAX
adalah software yang paling umum digunakan dalam pengolahan awal data seismik baik seismik 2D,
3D, ataupun 4D. ProMAX sendiri juga mengalami evolusi menjadi software yang lebih canggih lagi.
Seri ProMAX yang pernah ada yaitu ProMAX version 3.2, ProMAX version 7.2, ProMAX version
R5000, ProMAX version 2011.
ProMAX dibuat dalam sebuah model tiga level terorganisasi yang merujuk pada Area/Line/Flow. Line
adalah sebuah subdirektori dari Area yang berisi sebuah daftar lintasan-lintasan 2D dari sebuah area,
atau nama sebuah survei 3D. Setelah memiliki sebuah lintasan dari menu Line atau menambah
sebuah lintasan baru, jendela Flow akan muncul. Setiap flow akan memiliki nama yang sesuai
dengan prosesnya.
Data seismik direkam dalam bentuk multiplex. Dalam bentuk ini susunan kolom matriks menyatakan
urutan data dari masing masing stasion penerima. Sedangkan barisnya menyatakan urutan data
dari perekaman seismik. Untuk itu yang harus pertama kali dilakukan adalah demultiplexing data,
yaitu mengurutkan kembali data seismik untuk masing-masing stasion penerima sehingga berupa
trace seismik.
Data yang diperoleh untuk praktikum kali ini berasal dari Folder /data/praktikum/* yang berisi
data-data berbentuk segy, rps, sps, dan xps yang kemudian diolah melalui Flow 2D Land
Geometry Spreadsheet.

Tampilan awal yang akan muncul pada saat kita memasuki ProMAX, adalah
Ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan Mouse,

MB1, memilih proses untuk digunakan.


MB2, melihat option yang tersedia.
MB3, aktif/non-aktif flow yang digunakan.

Area merupakan menu awal ketika Anda memasuki ProMAX ini, lalu Anda akan masuk menuju Shift
Rabu 14-16 LINE sesuai dengan SHIFT PRAKTIKUM Anda, langkah yang dilakukan adalah

Klik MB1, pada Shift Rabu 14-16.

LINE, pada tahap ini Anda akan membuat Folder Anda sendiri untuk masuk ke tahap selanjutnya
FLOW, langkah yang dilakukan adalah
1. Klik MB1, pada Add,
2. Masukkan NIM Anda, 12311046,
3. Klik MB1, pada 12311046.

FLOWS merupakan tahap Anda memasukkan data-data untuk dilakukan Processing Data.
Akan dijelaskan proses yang harus dilakukan untuk membuat Flow dari 1 Data Input hingga 11
Brute Stack.

01 DATA INPUT
1. Klik MB1, pada Add, lalu tulis 01 Data Input,
2. Klik MB1, pada 01 Data Input, lalu masukkan SEG-Y Input menggunakan MB1, bisa
dilakukan dengan cara Anda mencari pada tempat ProMAX 2D Processes atau Anda
arahkan Mouse diantara kotak tersebut lalu ketik menggunakan keyboard untuk
mempermudah pencarian.

SEG-Y Input dipilih karena data yang diberikan untuk melakukan pengolahan data ini dalam
format SEG-Y. SEG-Y merupakan format dari SEG yang banyak digunakan untuk data lapangan
ataupun data olahan.

3. Klik MB2, pada SEG-Y Input, lalu ubah pada Type of Storage to use dari Tape
Disk menggunakan MB1, lalu klik BROWSE menggunakan MB1 pada Browse for DISK
file path name (s) akan muncul tampilan filter seperti yang ada dibawah ini, lalu klik
MB1 pada tempat Filter masukkan /data/praktikum/* lalu pilih 00_dgp_09raw.sgy
klik MB1, Add klik MB1, Done
4. Klik MB2, pada SEG-Y Input, lihat MAX Traces per Ensemble itu 120, hal ini dilakukan
agar data yang kita ambil dalam setiap trace itu sejumlah 120 data saja.

5. Pada Flow, Klik MB1, pada Disk Data Output, pada tahap ini digunakan Disk Data
Output untuk menyimpan data yang telah dimasukkan, agar dapat digunakan pada tahaptahap selanjutnya. Langkah-langkahnya adalah
o Setelah diinput, klik MB2 pada Disk Data Output, lalu klik MB1 pada Output
Dataset Filename lalu klik MB1, pada Add, tulis raw OK

Disk Data Output berfungsi untuk membuat keluaran data.

02 Shot Display
Shot Display merupakan langkah yang digunakan untuk melihat tampilan shot dari data yang kita
telah masukkan. Untuk melakukan proses pada Flow ini, langkahnya sebagai berikut :
1. Klik MB1, pada Add, lalu tulis 02 Shot Display,
2. Klik MB1, pada 02 Shot Display, lalu masukkan Disk Data Input menggunakan MB1, lalu
Anda klik MB2, ganti Select Dataset dari INVALID menjadi raw, lalu pada option Disk
Data Input, Anda dapat memilih Trace read option dalam bentuk Get All atau Sort
[jika dalam Sort, kita dapat memilih primary trace header entry dapat berupa FFID(Field File
ID Number), CDP(Common Depth Point) atau secondary trace header entry dapat berupa
Channel, AOFFSET(Absolute Offset)], dan Anda dapat menentukan data mana yang ingin
ditampilkan dengan klik sort order list for dataset dimana * menandakan semua data.
Disk Data Input Input data yang ingin ditampilkan.
3. Klik MB1, pada 02 Shot Display, lalu masukkan Trace Display, klik MB2, hal yang harus
diperhatikan :
Number of ENSEMBLES (line segments/screen), ini berpengaruh terhadap tampilan
pada layar yang ingin Anda lihat, dan tergantung tingkat kebutuhan data yang dianalisis,
Trace Display MODE, Anda dapat menentukan hasil warna yang ditampilkan berupa
hitam putih, berwarna, dan lainnya.
Trace Display fungsi untuk menampilkan efek hasil pada flow Anda lakukan.

03 View Header
View Header merupakan langkah yang digunakan untuk melihat data-data yang terkandung pada
data seismik yang telah tampilkan sehingga informasi-informasi penting dapat diketahui. Untuk
melakukan proses pada Flow ini, langkahnya sebagai berikut :
1. Klik MB1, pada Add, lalu tulis 03 View Header,
2. Klik MB1, pada 02 Shot Display, lalu masukkan Disk Data Input menggunakan MB1, lalu
Anda klik MB2, ganti Select Dataset dari INVALID menjadi raw, lalu pada option Disk
Data Input,
Disk Data Input Input data yang ingin ditampilkan.

3. Klik MB1, pada Add, lalu tulis Header Value Range Scan,

Header Value Range Scan berfungsi untuk mengatur range header yang akan
ditampilkan
4. Klik MB1, pada Execute,
5. Klik MB1, pada View dan Anda akan dapat melihat informasi-informasi yang terkandung
didalam data seismik raw tersebut.

04 Geometry
Geomtry merupakan langkah yang digunakan untuk memasukkan posisi reciever dan source, hal ini
digunakan untuk menempatkan data seismik pada posisi reciever dan source yang seharusnya.
Untuk melakukan proses pada Flow ini, langkahnya sebagai berikut :
1. Klik MB1, pada Add, lalu tulis 04 Geometry,
2. Klik MB1, pada 04 Geometry, lalu masukkan 2D Land Geometry Spreadsheet
menggunakan MB1, lalu Anda klik MB1, pada Execute,
2D Land Geometry Spreadsheet berfungsi sebagai file geometri yang akan ditampilkan.

3. Setelah Anda klik MB1 pada Execute, akan tampil ProMAX 2D Land Geometry
Assignment 5000.0.2.0,

4. Klik MB1, pada Recievers, lalu klik MB1, pada File klik MB1, pada Import pada
Filter, diganti dengan /data/praktikum/* lalu pilih 00_dgp_09.rps klik MB1, pada
Ok
*.rps merupakan format data yang mengandung informasi recievers
Nanti dipilih dari data yang muncul kita tentukan data stasiun, X,Y, elevasi, dan static, nanti akan
tampil pada SRF Ordered Parameter File data-data recievers-nya.

Hapus bagian informasi kolom agar informasi ini diabaikan dan tidak ikut terproses kedalam data
processing dengan cara klik di bagian awal informasi dan klik tengah di bagian akhir lalu tekan
CTRL+D

Setelah terhapus, window akan tampil seperti ini. Dan klik MB1 pada Apply

5. Klik MB1, pada Sources, lalu klik MB1, pada File klik MB1, pada Import pada
Filter, diganti dengan /data/praktikum/* lalu pilih 00_dgp_09.sps klik MB1, pada
Ok. Nanti dipilih dari data yang muncul kita tentukan data stasiun, X,Y, elevasi, dan static,
nanti akan tampil pada SIN Ordered Parameter File data-data source-nya.
*.sps merupakan format data yang mengandung informasi sources

Masukkan letak kolom dari parameter-parameter yang ada sesuai dengan letak yang telah ada di
window informasi dan hapus bagian informasi kolom agar informasi ini diabaikan dan tidak ikut
terproses kedalam data processing dengan cara klik di bagian awal informasi dan klik tengah di
bagian akhir lalu tekan CTRL+D

Setelah terhapus, window akan tampil seperti ini. Dan klik MB1 pada Apply

Klik MB1, pada File lalu Import. Pilih file dengan format .xps

Hapus bagian informasi kolom agar informasi ini diabaikan dan tidak ikut terproses kedalam data
processing dengan cara klik di bagian awal informasi dan klik tengah di bagian akhir lalu tekan
CTRL+D dan klik MB1 pada Apply

6. Klik MB1, pada Pattern, lalu akan muncul window yang meminta Anda untuk mengisi
jumlah Channel untuk memproses data-data tersebut. Setelah itu, akan tampil window
seperti pada gambar dibawah ini.
Pattern merupakan informasi yang digunakan untuk membatasi daerah yang akan
digunakan.

7. Klik MB1, pada Binning, lalu akan muncul window yang meminta Anda untuk melakukan
perintah yang tertera pada window, klik Ok untuk 3 tahap Assign Midpoint by : Matching
pattern numbers using first live chan and station Binning Finalize Database
Binning merupakan proses yang digunakan untuk menggabungkan data-data yang telah
diinput pada flow ini pada proses-proses sebelumnya.

8. Anda dapat melihat tampilan FOLD pada setiap titik receivers, hal yang dilakukan adalah
pada tampilan Flow, klik MB1 pada Dataset View Predefined 2D Stacking
Chart
FOLD merupakan pengambilan sampel pada titik yang sama.

Pada tampilan Fold ini ada gradasi warna dimana warna biru paling sedikit dibandingkan warna putih
dan warna merah, dan warna merah itu memiliki nilai Fold paling banyak, itu berarti titik tersebut
paling sering dilewati oleh gelombang.

05 Geometry Header Load


Merupakan flow yang berfungsi untuk menggabungkan informasi data seismik dengan data geometri
yang akan dibuat dalam 1 keluaran output baru. Untuk membuat flow ini, langkah yang dilakukan :

1. Klik MB1, pada Add, lalu tulis 05 Geometry Header Load,


2. Klik MB1, pada 05 Geometry Header Load, lalu masukkan Disk Data Input
menggunakan MB1, lalu Anda klik MB2, ganti Select Dataset dari INVALID menjadi
raw, lalu pada option Disk Data Input,
Disk Data Input Input data yang ingin ditampilkan.
3. Klik Inline Geom Header Load menggunakan MB1,
Inline Geom Header Load Data yang berisikan posisi geometri data-data seismik.
4. Klik MB1, pada Disk Data Output, digunakan Disk Data Output untuk menyimpan data
seismik dan data geometri yang telah dimasukkan, agar dapat digunakan pada tahap-tahap
selanjutnya. Langkah yang telah dilakukan :
o Setelah diinput, klik MB2 pada Disk Data Output, lalu klik MB1 pada Output
Dataset Filename lalu klik MB1, pada Add, tulis Geom OK

Disk Data Output berfungsi untuk membuat keluaran data.

06 Trace Display
Untuk menampilkan hasil yang telah digabung, dimasukkan disk data inputnya geom lalu untuk
meningkatkan ketebalan data tersebut digunakan Automatic Gain Control lalu digunakan trace
display. Langkah yang dilakukan adalah
1. Klik MB1, pada Add, lalu tulis 06 Trace Display,
2. Klik MB1, pada 06 Trace Display, lalu masukkan Disk Data Input menggunakan MB1,
lalu Anda klik MB2, ganti Select Dataset dari INVALID menjadi geom, lalu pada option
Disk Data Input,
Disk Data Input Input data yang ingin ditampilkan.
3. Klik MB1, pada Automatic Gain Control,
Automatic Gain Control merupakan proses untuk meningkatkan skala tebalnya sinyal yang
ada tanpa mengubah Amplitudo itu sendiri.

4. Klik MB1, pada 06 Trace Display, lalu masukkan Trace Display, klik MB2, hal yang harus
diperhatikan :
Number of ENSEMBLES (line segments/screen), ini berpengaruh terhadap tampilan
pada layar yang ingin Anda lihat, dan tergantung tingkat kebutuhan data yang dianalisis,
Trace Display MODE, Anda dapat menentukan hasil warna yang ditampilkan berupa
hitam putih, berwarna, dan lainnya.
Trace Display fungsi untuk menampilkan efek hasil pada flow Anda lakukan.

07 Filter
Merupakan flow yang berfungsi untuk menyaring beberapa data yang tidak diperlukan dalam
Processing Data Seismic. Untuk melakukan ini, langkah yang digunakan adalah
1. Klik MB1, pada Add, lalu tulis 07 Filter,
2. Klik MB1, pada 07 Filter, lalu masukkan Disk Data Input menggunakan MB1, lalu Anda
klik MB2, ganti Select Dataset dari INVALID menjadi geom, lalu pada option Disk
Data Input,
Disk Data Input Input data yang ingin ditampilkan.

3. Klik MB1, pada 07 Filter, lalu masukkan Bandpass FIlter menggunakan MB1, Bandpass
Filter yang akan dipilih pada rentang frekuensi 8-12-70-90, hal ini dengan cara klik MB2
pada Bandpass Filter lalu pada Ormsby Filter Frequency Values ganti frekuensi yang
Anda inginkan.
Bandpass Filter proses filter dimana Anda menentukan batas frekuensi yang akan dipilih
untuk dimasukkan sebagai data dan membuang (dengan mengasumsikan menjadi 0) pada
rentang yang tidak digunakan.

08 CDP Stack
Merupakan flow yang berfungsi untuk menggabungkan (stack) trace setelah dilakukan koreksi
Normal Move-Out, langkah yang harus dilakukan adalah
1. Klik MB1, pada Add, lalu tulis 08 CDP Stack,
2. Klik MB1, pada 08 CDP Stack, lalu masukkan Disk Data Input menggunakan MB1, lalu
Anda klik MB2, ganti Select Dataset dari INVALID menjadi geom, lalu pada option
Disk Data Input,
Disk Data Input Input data yang ingin ditampilkan.
3. Klik MB1, pada 08 CDP Stack, lalu masukkan Normal Move-Out menggunakan MB1, lalu
Anda klik MB2, jika Anda belum memiliki nilai kecepatan, klik MB2 pada Normal MoveOut lalu ubah Get velocities from the database dari Yes menjadi No, agar
kecepatannya menggunakan default velocity dari ProMAX.
Normal Move Out berfungsi untuk mengkoreksi data dengan mengembalikan travel time
ke zero offset.
4. Klik MB1, pada 08 CDP Stack, lalu masukkan CDP/Ensemble Stack, apabila Anda belum
memiliki nilai datum final, klik MB2 pada CDP/Ensemble Stack, lalu ubah Apply final
datum statics after stack dari Yes menjadi No.
CDP/Ensemble Stack berfungsi untuk menggabungkan beberapa trace menjadi 1 bentuk
tampilan.

5. Klik MB1, pada Automatic Gain Control,


Automatic Gain Control merupakan proses untuk meningkatkan skala tebalnya sinyal yang
ada tanpa mengubah Amplitudo itu sendiri.
6. Klik MB1, pada 06 Trace Display, lalu masukkan Trace Display, klik MB2, hal yang harus
diperhatikan :
Number of ENSEMBLES (line segments/screen), ini berpengaruh terhadap tampilan
pada layar yang ingin Anda lihat, dan tergantung tingkat kebutuhan data yang dianalisis,

Trace Display MODE, Anda dapat menentukan hasil warna yang ditampilkan berupa
hitam putih, berwarna, dan lainnya.
Trace Display fungsi untuk menampilkan efek hasil pada flow Anda lakukan.

09 Trace Editing
Merupakan Flow yang berfungsi melihat trace yang buruk. Hal yang dilakukan adalah
1. Klik MB1, pada Add, lalu tulis 09 Trace Editing,
2. Klik MB1, pada 09 Trace Editing, lalu masukkan Disk Data Input menggunakan MB1, lalu
Anda klik MB2, ganti Select Dataset dari INVALID menjadi geom, lalu pada option
Disk Data Input, Anda dapat memilih Trace read option dalam bentuk Get All atau
Sort *jika dalam Sort, kita dapat memilih primary trace header entry dapat berupa
FFID(Field File ID Number), CDP(Common Depth Point) atau secondary trace header entry
dapat berupa Channel, AOFFSET(Absolute Offset)], dan Anda dapat menentukan data mana
yang ingin ditampilkan dengan klik sort order list for dataset dimana * menandakan
semua data.
Disk Data Input Input data yang ingin ditampilkan.
3. Klik MB1, pada 09 Trace Editing, lalu masukkan Trace Display,klik MB1 pada Execute
dan apabila ada hal yang mau diubah klik MB2, hal yang harus diperhatikan :
Number of ENSEMBLES (line segments/screen), ini berpengaruh terhadap tampilan
pada layar yang ingin Anda lihat, dan tergantung tingkat kebutuhan data yang dianalisis,

Trace Display MODE, Anda dapat menentukan hasil warna yang ditampilkan berupa
hitam putih, berwarna, dan lainnya.
Trace Display fungsi untuk menampilkan efek hasil pada flow Anda lakukan.

09a Test Parameter


Flow yang berfungsi untuk mengetes parameter numeric dengan membuat beberapa salinan dari
trace input dan mengganti parameter kunci dalam proses yang akan di tes dengan harga tertentu.
Langkah yang dilakukan untuk menjalankan flow ini adalah
1. Klik MB1, pada Add, lalu tulis 09a Parameter Test,
2. Klik MB1, pada 09a Parameter Test, lalu masukkan Disk Data Input menggunakan MB1,
lalu Anda klik MB2, ganti Select Dataset dari INVALID menjadi geom, lalu pada option
Disk Data Input, Anda dapat memilih Trace read option dalam bentuk Get All atau
Sort *jika dalam Sort, kita dapat memilih primary trace header entry dapat berupa
FFID(Field File ID Number), CDP(Common Depth Point) atau secondary trace header entry
dapat berupa Channel, AOFFSET(Absolute Offset)], dan Anda dapat menentukan data mana
yang ingin ditampilkan dengan klik sort order list for dataset dimana * menandakan
semua data.
Disk Data Input Input data yang ingin ditampilkan.
3. Klik MB1, pada 09a Parameter Test, lalu masukkan Parameter Test dengan klik MB1 ,
lalu klik MB2 pada Parameter Test, lalu klik MB1 pada Enter parameter VALUES diubah
2|4|6
Parameter Test berfungsi untuk mengetes dengan harga tertentu. Harga yang
dimasukkan adalah koreksi dB/s, yang dipisahkan dengann tanda I
4. Klik MB1, pada 09a Parameter Test, lalu masukkan True Amplitude Recovery dengan
klik MB1, klik MB2 pada True Amplitude Recovery, lalu jika ingin menggunakan koreksi
spherical divergence gunakan Yes, lalu jika Anda belum memiliki nilai kecepatan
gunakan saja 1/dist, dan jika Anda belum memiliki nilai kecepatan klik No pada Get TAR
velocity function from the database

True Amplitude Recovery berfungsi untuk test parameter dengan koreksi dB/s tertentu,
sehingga amplitude tertentu akan terkoreksi, dan untuk menghilangkan efek atenuasi.

5. Klik MB1, pada 09a Parameter Test, lalu masukkan Trace Display,klik MB1 pada
Execute dan apabila ada hal yang mau diubah klik MB2, hal yang harus diperhatikan :
Number of ENSEMBLES (line segments/screen), ini berpengaruh terhadap tampilan
pada layar yang ingin Anda lihat, dan tergantung tingkat kebutuhan data yang dianalisis,
Trace Display MODE, Anda dapat menentukan hasil warna yang ditampilkan berupa
hitam putih, berwarna, dan lainnya.
Trace Display fungsi untuk menampilkan efek hasil pada flow Anda lakukan.

10 Pre-Processing
Merupakan proses yang digunakan untuk melakukan tahapan pre-processing data input setelah
Anda melakukan koreksi yang Anda lakukan pada Flow sebelum ini. Untuk melakukan flow ini, hal
yang dilakukan adalah
1. Klik MB1, pada Add, lalu tulis 10 Pre-processing,
2. Klik MB1, pada 10 Pre-processing, lalu masukkan Disk Data Input menggunakan MB1,
lalu Anda klik MB2, ganti Select Dataset dari INVALID menjadi geom, lalu pada option
Disk Data Input, Anda dapat memilih Trace read option dalam bentuk Get All atau
Sort *jika dalam Sort, kita dapat memilih primary trace header entry dapat berupa
FFID(Field File ID Number), CDP(Common Depth Point) atau secondary trace header entry
dapat berupa Channel, AOFFSET(Absolute Offset)], dan Anda dapat menentukan data mana
yang ingin ditampilkan dengan klik sort order list for dataset dimana * menandakan
semua data.

Disk Data Input Input data yang ingin ditampilkan.


3. Klik MB1, pada 10 Pre-processing, lalu masukkan Trace Kill/Reverse dengan klik MB1 ,
Trace Kill/reverse berfungsi untuk menghilangkan data pada trace tertentu yang
berpotensi untuk memperburuk data. Biasanya dilakukan untuk offset yang memiliki
amplitude besar dan travel time yang besar.
4. Klik MB1, pada 10 Pre-processing, lalu masukkan True Amplitude Recovery dengan klik
MB1, klik MB2 pada True Amplitude Recovery, lalu jika ingin menggunakan koreksi
spherical divergence gunakan Yes, lalu jika Anda belum memiliki nilai kecepatan
gunakan saja 1/dist, dan jika Anda belum memiliki nilai kecepatan klik No pada Get TAR
velocity function from the database

True Amplitude Recovery berfungsi untuk test parameter dengan koreksi dB/s tertentu,
sehingga amplitude tertentu akan terkoreksi, dan untuk menghilangkan efek atenuasi.
5. Klik MB1, pada 10 Pre-processing, lalu masukkan Spiking/Predictive decon dengan klik
MB1 , lalu klik MB2 pada Spiking/Predictive Decon, lalu klik MB1 pada Decon Operator
Length menjadi 120, dan klik MB1 pada Apply a Bandpass Filter after decon 8-1260-70, dan Anda dapat memilih juga tipe dekonvolusi yang diinginkan dapat berupa
Minimum Phase spiking, Zero Phase spiking, atau Maximum Phase spiking
Spiking/predictive decon berfungsi untuk melakukan proses deconvolusi berjenis
spiking, sehingga resolusi yang dihasilkann akan lebih baik.
6. Klik MB1, pada 10 Pre-processing, lalu masukkan Apply elevation Statics dengan klik
MB1 , masukkan nilai pada Replacement Velocity dengan klik MB1, lalu isi dengan 1700,
dan karena Anda belum memiliki nilai Datum final jadi pada pengolahan Datum digunakan
NMO Datum
Apply elevation statics berfungsi sebagai koreksi statik, yaitu untuk menghilangkan efek
ketinggian, kedalaman, kecepatan, dan efek tanah lapuk.
7. Klik MB1, pada Disk Data Output, digunakan Disk Data Output untuk menyimpan data
seismik dan data geometri yang telah dimasukkan, agar dapat digunakan pada tahap-tahap
selanjutnya. Langkah yang telah dilakukan :
o Setelah diinput, klik MB2 pada Disk Data Output, lalu klik MB1 pada Output
Dataset Filename lalu klik MB1, pada Add, tulis prep OK
Disk Data Output berfungsi untuk membuat keluaran data.

10a Velocity Analysis


Berfungsi untuk menghasilkan profil kecepatan dengan cara picking pada kecepatan yang tepat pada
CDP dengan increment tertentu sehingga mendapat hasil yang lebih baik dan noise yang berkurang.
Untuk melakukan flow ini, hal yang dilakukan adalah
1. Klik MB1, pada Add, lalu tulis 10a Velan,
2. Klik MB1, pada Automatic Gain Control,
Automatic Gain Control merupakan proses untuk meningkatkan skala tebalnya sinyal yang
ada tanpa mengubah Amplitudo itu sendiri.
3. Klik MB1, pada 10a Velan, lalu masukkan 2D Supergather Formation menggunakan
MB1, lalu Anda klik MB2 pada 2D Supergather Formation, lalu pada Select dataset klik
MB1, lalu Anda pilih data prep, setelah itu Anda dapat memilih CDP yang akan digunakan

pada Minimum Center CDP Number (contoh isi dengan 2100) dan Maximum center CDP
Number (contoh isi dengan 3100) dengan klik MB1, dan Anda dapat tentukan increment
yang akan digunakan pada CDP increment dengan klik MB1, lalu isi dengan 100, yang
artinya kecepatan pada setiap 100 CDP diwakili oleh satu kecepatan pada CDP 2100 yang
memiliki rentang 100.
2D Supergather Formation merupakan fungsi yang menggabungkan beberapa CDP untuk
offset yang sama.
4. Klik MB1, pada 10a Velan, lalu masukkan Bandpass FIlter menggunakan MB1, Bandpass
Filter yang akan dipilih pada rentang frekuensi 8-12-70-90, hal ini dengan cara klik MB2
pada Bandpass Filter lalu pada Ormsby Filter Frequency Values ganti frekuensi yang
Anda inginkan.
Bandpass Filter proses filter dimana Anda menentukan batas frekuensi yang akan dipilih
untuk dimasukkan sebagai data dan membuang (dengan mengasumsikan menjadi 0) pada
rentang yang tidak digunakan.
5. Klik MB1, pada 10a Velan, lalu masukkan Velocity Analysis menggunakan MB1, jika
Anda baru pertama kali menggunakan ini klik MB1 pada Table to store velocity picks lalu
klik MB1 pada Add Vel1, lalu klik MB1 dan masukkan No pada Is the data
precomputed?, setelah itu masukkan 1500 dan 6000 pada Minimum Semblence
Analysis Value dan Maximum Semblence Analysis Value dan jika Anda belum memiliki
nilai kecepatan yang telah Anda plot, klik MB1 No pada Get guide function from an
existing parameter table? ini berarti Anda dapat menggunakan default velocity dari
ProMAX. Jika Anda telah memiliki data kecepatan setelah di-pick, Anda dapat klik MB1 pada
Table to store velocity picks lalu klik MB1 pada Add Vel1, lalu klik MB1 Yes pada
Get guide function from an existing parameter table? dan klik MB1 pada Velocity guide
function table name Vel1
Velocity Analysis berfungsi untuk melakukan proses velocity analysis. Dilakukan untuk
minimum dan maximum ensemblance tertentu.

11. Brute Stack


Merupakan flow yang berfungsi untuk melakukan stacking pada semua trace untuk offset yang
sama, sehingga dihasilkan bentuk penampang seismic 2D. Untuk melakukan hal ini, langkah yang
digunakan adalah

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan

Tahap pre-processing digunakan untuk merubah raw menjadi data yang siap untuk dilakukan
processing.
Tahapan pre-processing ini mencakup mengubah format data dari *.segy menjadi data yang
compatible dengan program, melakukan koreksi-koreksi, menggabungkan data seismik
dengan data geometri, filtering, True Amplitude Recovery, dan dekonvolusi.
Tahap processing yang dilakukan meliputi brutestack dan velocity analysis.
Hasil brutestack dengan kecepatan awal (default program) menghasilkan trace seismic yang
tidak cukup baik, sehingga dibutuhkan velocity analysis untuk menentukan nilai velocity
yang sesuai dengan kecepatan gelombang seismik sehingga tampilan yang muncul dapat
menjadi lebih baik sehingga proses yang akan dilakukan setelahnya lebih mudah dan hasil
yang didapat bisa diinterpretasikan dengan baik.

Pustaka
http://duniaseismik.blogspot.com/2008/07/data-processing.html (dilihat tanggal 23 April 2014
pukul 19.40)
http://duniaseismik.blogspot.com/2008/06/survey-seismik-dilakukan-untuk.html (dilihat tanggal 24
April 2014 pukul 22.20)
http://duniaseismik.blogspot.com/2008/06/tahapan-seismik.html (dilihat tanggal 25 April 2014
pukul 15.25)
http://www.scribd.com/doc/37750607/3/Akuisisi-Data-Seismik (dilihat tanggal 26 April 2014 pukul
16.30)