Anda di halaman 1dari 22

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI-FITOKIMIA

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

FRAKSINASI DAN IDENTIFIKASI SAMPEL RIMPANG TEMULAWAK


(Curcuma Xanthorriza Roxb.)

SRI RAHAYU

N111 12 007

ASMAWATI

N111 12 350

NUR ISLAMIA ZUBAIDAH

N111 12 357

AFDIL VIQAR VIQHI

N111 12 904

ABDILLAH AMIR

N111 12 335

CHANIFAH PUSPITASARI

N111 12 321

KELOMPOK V (LIMA)
GOLONGAN KAMIS SIANG

MAKASSAR
2014

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah, baik
kekayaan fauna maupun kekayaan floranya. Tidak salah lagi bahwa di
Indonesia terdapat banyak tumbuhan yang beraneka ragam lengkap
dengan ciri khasnya masing-masing. Hal ini disebabkan Indonesia terletak
di garis khatulistiwa dengan iklim tropis sehingga tanahnya subur dan
cocok untuk berbagai macam jenis tanaman.
Berbicara mengenai obat, sumber penggunaannya dapat ditelusuri
dari budaya dan konsep kesehetan dari beberapa prinsip pandang. Di
Indonesia sendiri, landasan ilmiah konsep pengobatan tradisional belum di
dokumentasikan secara sistematis, namun manfaatnya telah dirasakan
terutama oleh masyarakat yang hidupnya jauh dari fasilitas modern.
Di Indonesia penggunaan obat tradisional yang lebih dikenal
sebagai jamu, telah meluas sejak zaman nenek moyang hingga kini dan
terus dilestarikan sebagai warisan budaya. Bangsa Indonesia yang terdiri
dari berbagai suku bangsa, memiliki keanekaragaman obat tradisional
yang dibuat dari bahan-bahan alami bumi Indonesia, termasuk tanaman
obat.
Tidak sedikit

masyarakat mengalihkan

kepercayaan

kepada

produk-produk kecantikan dan kesehatan dari bahan-bahan tradisional

yang banyak diproduksi. Apalagi fenomena ini didukung oleh banyaknya


warisan resep dari nenek moyang kita yang teruji khasiatnya dan
kenyataan bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman hayati jenis
tumbuhan obat.
Oleh karena itu, dilakukanlah percobaan isolasi senyawa bioaktif.
Pada praktikum ini, akan dilakukan pengisolasian senyawa alkaloid dari
rimpang temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.). Percobaan ini dilakukan
atas dasar telah diketahuinya kandungan senyawa alkaloid pada tanaman
ini

dan

tujuan

untuk

menentukan

metode

ekstrasi,

isolasi

dan

pengidentifikasian pada simplisia ini.


I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
I.2.1 Maksud Percobaan
Mengetahui cara fraksinasi senyawa pada ekstrak hasil vakum
rimpang temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.).
1.2.2 Tujuan Percobaan
Untuk memperoleh hasil fraksinasi dan letak dari senyawa curcuminoid
yang nantinya akan diisolasi menjadi senyawa tunggal.
I.3 Prinsip Percobaan
Prinsip dari fraksinasi adalah penggabungan senyawa berdasarkan
bercak noda pada lempeng dengan pengamatan pada UV 254 nm dan
366 nm pada sampel (Curcuma xanthorriza Roxb.).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori Umum


Fraksinasi merupakan prosedur pemisahan yang bertujuan untuk
memisahkan golongan utama kandungan yang satu dari kandungan yang
lain. Senyawa yang bersifat polar akan masuk ke pelarut polar dan
senyawa non polar akan masuk ke pelarut non polar. (2)
Macam macam proses fraksinasi:
a)

Proses Fraksinasi Kering (Winterization)


Fraksinasi kering adalah suatu proses fraksinasi yang didasarkan

pada berat molekul dan komposisi dari suatu material. Proses ini lebih
murah dibandingkan dengan proses yang lain, namun hasil kemurnian
fraksinasinya rendah.
b)

Proses Fraksinasi Basah (Wet Fractination)


Fraksinasi

menggunakan

basah

zat

adalah

pembasah

suatu

proses

(Wetting Agent)

fraksinasi
atau

dengan

disebut

juga

proses Hydrophilization atau detergent proses. Hasil fraksi dari proses ini
sama dengan proses fraksinasi kering.
c)

Proses

Fraksinasi

dengan

menggunakan

Solvent

(pelarut)/ Solvent Fractionation


Ini adalah suatu proses fraksinasi dengan menggunakan pelarut.
Dimana pelarut yang digunakan adalah aseton. Proses fraksinasi ini lebih

mahal

dibandingkan

dengan

proses

fraksinasi

lainnya

karena

menggunakan bahan pelarut.


d)

Proses

Fraksinasi

dengan

Pengembunan

(Fractional

Condentation)
Proses fraksinasi ini merupakan suatu proses fraksinasi yang
didasarkan pada titik didih dari suatu zat / bahan sehingga dihasilkan
suatu produk dengan kemurnian yang tinggi. Fraksinasi pengembunan ini
membutuhkan biaya yang cukup tinggi namun proses produksi lebih cepat
dan kemurniannya lebih tinggi.
Senyawa terpenoida mencakup sejumlah besar senyawa tumbuhan
dan istilah terpenoida digunakan untuk menunjukkan bahwa secara
biosintesis semua senyawa tumbuhan ini berasal dari senyawa yang
sama. Senyawa terpenoida adalah senyawa yang berasal dari unit-unit
isopren CH2=C(CH3)CH2 dan kerangka karbonnya dibangun oleh
persambungan dua atau lebih satuan C5 ini melalui kaidah persambungan
kepala dan ekor. Terpenoida dapat mengandung dua, tiga atau lebih
satuan isopren.Molekul-molekulnya dapat berupa rantai terbuka atau
siklik, dan dapat mengandung gugus hidroksil, gugus karbonil atau gugus
fungsional lainnya.(2)
Terpenoida terdiri atas beberapa macam senyawa berdasarkan
jumlah satuan isoprena yang terdapat dalam senyawa tersebut.Mulai dari
komponen minyak atsiri, yaitu monoterpena dan seskuiterpena (C10 dan
C15), diterpena yang lebih sukar menguap (C20), sampai ke senyawa

yang tidak menguap yaitu triterpenoida (C30), serta pigmen karotenoida


(C40).Golongan senyawa terpenoida tersebut dapat dilihat pada tabel 1.
(2)
Triterpenoida adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal
dari enam satuan isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari
hidrokarbon C-30 asiklik, yaitu skualena, senyawa ini tidak berwarna,
berbentuk kristal, bertitik leleh tinggi dan bersifat optis aktif yang umumnya
sukar dicirikan karena tak ada kereaktifan kimianya. Uji yang banyak
digunakan untuk uji atau identifikasi triterpenoida ialah reaksi LiebermanBurchard (anhidrida asetat H2SO4 pekat) yang biasanya menghasilkan
warna hijau-biru (3).
Sebagian senyawa triterpenoida juga merupakan komponen aktif
dalam tumbuhan dan telah digunakan untuk penyakit termasuk diabetes,
gangguan

menstruasi,

gangguan

kulit,

kerusakan

hati

dan

malaria.Beberapa senyawa menunjukkan aktivitas antibakteri, antifungi


dan ada juga senyawa yang dapat menstimulasi serangga bertelur
(Robinson, 1995).
Triterpenoida dapat dibagi menjadi empat golongan senyawa yaitu
triterpena, steroida, saponin dan glikosida jantung.
a. Triterpena
Triterpena terutama terdapat dalam lapisan malam daun dan dalam
buah yang berfungsi sebagai pelindung untuk menolak serangga dan

serangan mikroba. Pembagian triterpena berdasarkan jumlah cincin yang


terdapat dalam struktur molekulnya adalah:
1. Triterpena asiklik yaitu triterpenoida yang tidak mempunyai cincin tertutup
dalam struktur molekulnya, misalnya skualena.
2. Triterpena trisiklik yaitu triterpenoida yang mempunyai tiga cincin tertutup
dalam struktur molekulnya, misalnya ambrein.
3. Triterpena tetrasiklik yaitu triterpenoida yang mempunyai lima cincin
tertutup pada struktur molekulnya, misalnya lanosterol.
4. Triterpena pentasiklik yaitu triterpenoida yang mempunyai lima cincin
tertutup pada struktur molekulnya, misalnya -amirin pada buah apel (3).
Struktur dari senyawa triterpenoida tersebut dapat dilihat pada
gambar 1 berikut ini.

Skualena

Lanosterol

Ambrein

-amirin

b. Steroida
Steroida adalah triterpenoida yang kerangka dasarnya adalah
cincin siklopentana perhidrofenantren (3).Kerangka dasar dan sistem
penomoran steroida (Robinson, 1995) dapat dilihat pada gambar berikut
ini.

Gambar 2.Struktur dasar steroida dan sistem penomorannya


Dahulu steroida dianggap sebagai senyawa satwa tetapi makin
banyak senyawa steroida yang ditemukan dalam jaringan tumbuhan
(fitosterol). Tiga senyawa yang biasa disebut fitosterol terdapat pada
hampir setiap tumbuhan tinggi yaitu: sitosterol, stigmasterol, dan
kampesterol (3).
Struktur senyawa fitosterol tersebut dapat dilihat pada gambar
dibawah ini.

Sitosterol

Stigmasterol

Kampesterol
Gambar 3.Struktur beberapa senyawa fitosterol
c. Saponin
Saponin adalah senyawa aktif permukaan yang kuat, menimbulkan
busa jika dikocok dalam air dan pada konsentrasi yang rendah sering
menyebabkan hemolisis daram merah. Mula-mula disebut saponin karena
sifatnya yang khas menyerupai sabun (bahasa latin, sapo : sabun). Dalam
larutan yang sangat encer saponin sangat beracun untuk ikan dan
beberapa saponin bekerja sebagai anti mikroba.
Dikenal dua jenis saponin yaitu glikosida triterpenoida alkohol dan
glikosida steroida yang mempunyai rantai samping spiroketal. Aglikonnya
disebut sapogenin, diperoleh dengan hidrolisis dalam suasana asam atau
hidrolisis memakai enzim (3)

Inti steroida spiroketal mempunyai struktur berikut:

Gambar 4.Struktur dasar spiroketal


d. Glikosida Jantung
Glikosida

jantung

merupakan

senyawa

yang

mempunyai

kemampuan sebagai pemacu jantung (mempunyai efek menambah daya


kontraksi otot jantung).Struktur dari glikosida jantung ini menyerupai
struktur saponin steroida (3).
Aglikon dari glikosida jantung merupakan golongan triterpena
steroida yang mempunyai inti siklopentano perhidrofenantrena dan cincin
lakton yang jenuh pada atom C-17 dan mengandung gugus hidroksil pada
atom C-14 (3).
Aglikon yang mempunyai cincin lakton tersebut ada 2 macam yaitu:
1. Kardenolida, berupa steroida dengan atom karbon 23 yang mempunyai
rantai samping cincin lakton pentasiklik dengan sati ikatan rangkap dan
satu buah gugus hidroksil pada C-14 (butirolakton, -lakton).
2. Bufadienolida, merupakan steroida dengan atom karbon 24 dengan rantai
samping cincin lakton dan satu buah gugus hidroksil pada C-14
(valerolakton, -lakton) (3).

Tipe-tipe aglikon dari glikosida jantung dapat dilihat pada gambar 5


dibawah ini.

Kardenolida

Bufadienolida

Gambar 5. Tipe aglikon dari glikosida jantung


II.2

Uraian Sampel
Temulawak merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun

berbatang semu. Di daerah Jawa Barat temulawak disebut sebagai


koneng gede sedangkan di Madura disebut sebagai temu lobak. Kawasan
Indo-Malaysia merupakan tempat dari mana temulawak ini menyebar ke
seluruh dunia. Saat ini tanaman ini selain di Asia Tenggara dapat ditemui
pula di Cina, IndoCina, Bardabos, India, Jepang, Korea, di Amerika
Serikat dan beberapa Negara Eropa (5).
Klasifikasi ilmiah tanaman temulawak adalah sebagai berikut: (5).
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Keluarga : Zingiberaceae
Genus : Curcuma
Spesies : Curcuma xanthorrhiza Roxb.

II.2.1 Deskripsi Temulawak


Tanaman temulawak berbatang semu dengan tinggi hingga lebih
dari 1m tetapi kurang dari 2m, berwarna hijau atau coklat gelap. Akar
rimpang terbentuk dengan sempurna dan bercabang kuat, berwarna hijau
gelap. Tiap batang mempunyai daun 2 9 helai dengan bentuk bundar
memanjang sampai bangun lanset, warna daun hijau atau coklat
keunguan terang sampai gelap, panjang daun 31 84 cm dan lebar 10
18 cm, panjang tangkai daun termasuk helaian 43 80 cm. Perbungaan
lateral, tangkai ramping dan sisik berbentuk garis, panjang tangkai 9 23
cm dan lebar 4 6 cm, berdaun pelindung banyak yang panjangnya
melebihi atau sebanding dengan mahkota bunga. Kelopak bunga
berwarna putih berbulu, panjang 8 13 mm, mahkota bunga berbentuk
tabung dengan panjang keseluruhan 4.5 cm, helaian bunga berbentuk
bundar memanjang berwarna putih dengan ujung yang berwarna merah
dadu atau merah, panjang 1.25 2 cm dan lebar 1cm (5).

Gambar. Tanaman Temulawak

II.2.2 Manfaat Tanaman


Di Indonesia satu satunya bagian yang dimanfaatkan adalah
rimpang temulawak untuk dibuat jamu godog. Rimpang ini mengandung
48-59, 64 % zat tepung, 1,6-2,2 % kurkumin dan 1,48-1,63 % minyak asiri
dan dipercaya dapat meningkatkan kerja ginjal serta anti inflamasi.
Manfaat lain dari rimpang tanaman ini adalah sebagai laktagoga,
kolagoga, antiinflamasi, tonikum, dan diuretika. Minyak atsiri temulawak,
juga berkhasiat fungistatik pada beberapa jenis jamur dan bakteriostatik
pada mikroba Staphylococcus sp. Dan Salmonella sp. Temulawak
digunakan untuk mengobati hepatitis, radang hati, radang empedu,
radang ginjal, batu empedu, kurang nafsu makan, diare, wasir, dan
kolesterok tinggi. Ramuan temulawak yang dikonsumsi secara teratur bisa
menjaga kesehatan organ hati. Penelitian ilmiah yang telah dilakukan
berbagai universitas membuktikan bahwa tumbuhan temulawak juga
berkhasiat

sebagai

antistroke,

agen

antioksidan,

penghambat

osteoporosis, efek hipotermik, antiplasmodial, anti plak dan pertahanan


gigi (5).
II.2.3 Kandungan Kimia Temulawak
Komponen komponen yang terkandung dalam temulawak dapat
digolongkan menjadi 2 golongan, yaitu minyak atsiri dan golongan
kurkuminoid. Minyak atsiri atau minyak menguap merupakan komponen
dalam

temulawak

yang

memberikan

bau

karateristik,

sedangkan

kurkuminuid terdiri dari beberapa zat warna kuning. Beberapa penelitian

mengidentifikasi kandungan kimia minyak atsiri yang terkandung dalam


rimpang temulawak. Adanya empat senyawa seskuiterpenoid bisabolan
yaitu: -kurkumen, ar-turmeron, -atlanto dan xantorizol. Selanjutnya
dibuktikan bahwa ketiga senyawa tersebut yaitu : -kurkumen, arturmeron dan xantorizol, mempunyai khasiat anti-tumor (5).
Ada tujuh senyawa seskuiterpenoid bisabolon dari fraksi larutan
klorofom rimpang temulawak, setelah dideterminasi berdasarkan data
spektral, konversi kimia, dan kristalografi sinar-X. Ketujuh senyawa
tersebut adalah bisacuron, bisacumol, bisacurol, bisacuron epoksida,
bisacuron A, bisacuron B, dan bisacuron (5).

BAB III
METODE KERJA
IIII.1

Alat dan Bahan

III.1.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah botol coklat,
chamber, gegep, lempeng, mistar, oven, penutup chamber, pensil, pipet
tetes, pinset, semprotan H2SO4
III.1.2 Bahan
Bahan-bahan yang di gunakan dalam percobaan ini adalah ekstrak
hasil kromatografi vakum rimpang temulawak (Curcuma xanthorriza R.),
etil asetat, heksan, H2SO4, Reagen LB.
III.2

Cara Kerja

a. Penyiapan lempeng dan Ekstrak, serta Elusi


1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dibuat lempeng dengan ukuran 20 x 20 cm lalu diaktifkan didalam oven
selama 1 jam lalu diberikan titik untuk tempat penotolan masing-masing
ekstrak.
3. Disiapkan ekstrak hasil kromatografi vakum kemudian di masukkan
dalam vial dan di larutkan dalam beberapa tetes metanol untuk ekstrak
non minyak sedangkan ekstrak minyak, dilarutkan dengan kloroform.
4. Dijenuhkan chamber dengan eluen hexan : etil (5 : 1) dan dibuat batas
atas pada lempeng sebesar 0,5 cm dan batas bawah 1 cm.
5. Ditotol masing-masing ekstrak pada titik-titik yang terdapat pada
lempeng.
6. Dielusi hingga batas atas lempeng.
7. Dilihat hasilnya pada sinar UV 254 nm dan UV 366 nm.
b. Uji pendahuluan
1. Disiapkan alat dan bahan

2. Lempeng hasil fraksinasi, disemprot oleh reagen LB


3. Diamati warna yang terbentuk ( Ungu : (+ Terpen), Hijau : (+Steroid) )

BAB IV
HASIL PENGAMATAN
Laboratorium Fitokimia

Laboratorium Fitokimia

Fakultas Farmasi

Fakultas Farmasi

Universitas Hasanuddin

Universitas Hasanuddin

Hasil

fraksinasi

sampel

temulawak Hasil

fraksinasi

sampel

temulawak

dengan eluen heksan : etil (5:1) dilihat

dengan eluen heksan : etil (5:1) dilihat

dibawah sinar UV 366 nm

dibawah sinar UV 254 nm

IV.1

Gambar Pengamatan

Laboratorium Fitokimia

Laboratorium Fitokimia

Fakultas Farmasi

Fakultas Farmasi

Universitas Hasanuddin

Universitas Hasanuddin

Hasil

fraksinasi

sampel

temulawak

Hasil

fraksinasi

sampel

temulawak

dengan eluen heksan : etil (5:1) setelah

dengan eluen heksan : etil (5:1) setelah

disemprot H2SO4

disemprot pereaksi LB

BAB V
PEMBAHASAN

Fraksinasi adalah suatu metode pemisahan dengan prinsip


perbedaan tingkat kepolaran. Cara fraksinasi ini hamper sma dengan
prinsip dari KLT yaitu adsorbs dan partisi. Namun, pada fraksinasi,
digunakan ukuran lempeng yang lebih besar.
Pada percobaan ini dilakukan pengidentifikasian senyawa dengan
metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) pada ekstrak hasil kromatografi
vakum rimpang temulawak (Curcuma xanthorriza R.). Langkah awal yang
dilakukan yaitu membuat lempeng dengan ukuran 20 x 20 cm. Hal ini
dilakukan karena akan ada banyak ekstrak yang harus ditotolkan pada
lempeng. Langkah selanjutnya yaitu pelarutan masing-masing ekstrak ke
dalam vial untuk nantinya ditotolkan pada lempeng. Ekstrak yang berupa
minyak dilarutkan dengan kloroform sedangkan yang non lemak dengan
methanol. Digunakan kloroform karena merupakan pelerut nono polar
sehingga dapat melarutkan ekstrak minyak.
KLT dilakukan dengan menggunakan eluen non polar dengan
perbandingan Heksan : Etil (5:1). Perbandingan ini dapat memisahkan
ekstrak dengan baik. Setelah chamber dijenuhkan, dimasukkan lempeng
yang telah ditotolkan dengan masing-masing ekstrak hasil vakum pada
chamber kemudian dielusi, lalu lempeng di sinari dengan sinar UV 256 nm
dan 366 nm, selanjutnya adalah dilakukan penyemprotan H 2SO4 dan
dikeringkan dalam oven selama beberapa menit hingga noda pada
lempeng tampak berwarna hitam.

Langkah

selanjutnya

yaitu

menentukan

ekstrak

yang

akan

digabungkan. Namun, kelompok kami memiliki perbandingan yang


berbeda jauh sehingga tidak ada ekstrak yang digabungkan. Selanjutnya,
dilakukan uji pendahuluan. Hasil uji pendahuluan yang dilakukan, tidak di
peroleh hasil yang positif. Senyawa yang ingin ditarik yaitu swenyawa
yang berada pada fraksi D.
Faktor-faktor kesalahan dalam praktikum KLT adalah peralatan
yang di gunakan mungkin kurang steril, dalam artian masih banyak
kotoran yang melekat pada alat seperti chamber, penutup chamber yang
tidak nampak pada mata. Serta penotolan yang dilakukan kurang bagus
sehingga noda yang terbentuk menyebar kemana-mana.

BAB VI
PENUTUP
VI.1 Kesimpulan
Dari hasil pengamatan, tidak diperoleh noda-noda yang akan
digabungkan karena noda yang terbentuk karena perbandingan yang
digunakan jauh selain itu, hasil uji pendahuluan adalah negatif.
VI.2 Saran
Di harapkan agar asisten bisa selalu mendampingi praktikan pada
saat praktikum berlangsung atau paling tidak sudah ada asisten lain yang
ditunjuk terlebih dahulu untuk bisa menggantikan sementara agar
praktikan tidak bekerja asal-asalan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Alam, Gemini, dkk. 2011. Penuntun Pratikum Senyawa Bioaktif.


Makassar: Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin
2. K. Hostettmann, M. Hostettmann, A. Marston. 1995. Cara
Kromatografi Preparatif. Penerbit ITB. Bandung.
3. Harborne, J. B. 1987. Metode Fitokimia. Terbitan Kedua. Bandung:
Penerbit ITB
4. Proksch, P. 2005. Isolation and Structure Elucidation of Secondary
Metabolites from Marine Spons and a Marine-derived Fungus.
Dusseldorf.
5. Anonim. http://www. Wikipedia//Lengkuas. Diakses tanggal 29
maret 2014.

LAMPIRAN
Skema Kerja
Dibuat Eluen Hexan : Etil (5:1) dan Buat lempeng 20 x 20 cm

Jenuhkan chamber dan buat batas atas dan bawah pada lempeng

Ditotolkan masing-masing ekstrak hasil vakum

Dimasukkan ke dalam chamber yang jenuh

Tunggu hingga sampai batas atas

Angkat, keringkan, amati di UV 254 dan 366

Disemprot dengan LB

Amati hasil positif


( Ungu : Terpen, Hijau : Steroid)