Anda di halaman 1dari 6

Cranioplasty

A. Definisi
Cranioplasty adalah prosedur bedah saraf yang dirancang untuk memperbaiki atau
membentuk kembali penyimpangan atau ketidaksempurnaan dalam tengkorak. Untuk
memperbaiki cacat atau celah dalam tengkorak, dapat digunakan cangkok tulang dari temoat
lain di dalam tubuh atau bahan sintesis.

B.

Indikasi

Beberapa faktor yang dapat ditangani dengan tindakan cranioplasty adalah:


-

Premature closing dari sutura tengkorak atau craniosynostosis


Tengkorak yang tidak berkembang
Faktor genetik yang mengakibatikan cacat lahir
Trauma
Cacat tengkorak lain yang mengakibatkan lubang atau daerah sensitif pada tengkorak
Kelainan tengkorak yang tidak diketahui penyebabnya yang mempengaruhi
penampilan

Cranioplasty umumnya dilakukan terhadap pasien yang mengalami cedera traumatis. Dengan
anak berusia kurang dari 3 tahun, growing skull fractures dan anomali kongenital adalah
penyebab umum. Pada semua kelompok umur, pengangkatan tumor atau craniectomies
decompressive adalah

penyebab cacat tengkorak yang paling sering terjadi. Tujuan

cranioplasty bukan hanya masalah kosmetik tetapi juga perbaikan dari cacat tengkorak
memberikan bantuan kepada kelemahan psikologis dan meningkatkan kinerja sosial. Selain
itu, kejadian epilepsi terbukti menurun setelah cranioplasty. [2] Di sisi lain, kontraindikasi
untuk cranioplasty adalah adanya hidrosefalus, infeksi, dan pembengkakan otak. Pada anakanak di bawah usia 4 tahun, jika dura mater utuh, tengkorak dapat menutup dengan
sendirinya. Saat menunggu untuk melakukan cranioplasty, penting untuk mencegah
perkembangan autograft devitalized atau allograft infeksi. Biasanya operasi rekosntruktif
dilakukan setelah 3 samapai 6 bulan. Namun, jika ada daerah yang mengalami infeksi, masa
tunggu ini bisa selama satu tahun.
Beberapa alasan yang menyebabkan seseorang untuk melakukan cranioplasty antara lain :
Kosmetik : akibat terdapat lubang di kepala yang menggangu penampilan

Protection : Untuk melindungi otak yang terekspose sehingga mengurangi kerusakan


berlanjut pada bagian otak tersebut.
Nyeri Kepala : Nyeri kepala dapat timbul jika tulang tengkorak yang telah di angkat
tidak digantikan dengan tulang baru.

Fungsi Neurologis: Pada beberapa pasien dapat mengalami perbaikan yang nyata dalam
fungsi neurologis jika tulang di ganti.

C. Teknik dan Material pada Cranioplasty


Beberapa material yang berbeda telah digunakan dalam berbagai tindakan cranioplasty,
seiring dengan berkembangnya teknik biomedical telah ditemukan material baru yang saat ini
tersedia dan dapat digunakan oleh para spesialis bedah..
Secara idealnya, material yang digunakan pada cranioplasty harus meliputi :
Ukuran harus sesuai dengan kerusakan pada tenggkorak sehingga dapat menutupi
kerusakan dengan sempurna
Radiolucency
Tahan terhadap infeksi
Tidak berdilatasi saat terkena panas
Mudah dibentuk, menyesuaikan defek
Tidak mahal
Mudah digunakan
Namun, sampai saat ini tidak ditemukan material yang dapat memenuhi kriteria tersebut
diatas.
Secara umum, graft pengganti tulang berdasarkan asalnya dikategorikan sebagai berikut :
1. Autograft

Autograft adalah graft yang berasal dari donor sendiri yang hanya di pindah dari satu tempat
ketempat lainnya.7 Secara fisiologis paling unggul karena berasal dari jaringan tubuh sendiri,
tetapi mempunyai beberapa kekurangan; jumlahnya terbatas, sulit mengambil material graft,
meningkatkan resiko infeksi, meningkatkan risiko kehilangan darah dan menambah waktu
anestesi, menyebabkan morbiditas serta kemungkinan resorbsi akar pada daerah donor.
Beberapa bagian tubuh pasien yang dapat digunakan sebagain pengganti tulang tengkorak
antara lain:
- Cranium

Macewen (1885) and Burrell (1888) used the remaining calvarial bone after trepanation.[4] In
1890, Muller developed the sliding flaps technique of the external tabula, which was
applied in the late postoperative period.[4] The first example of bone transplantation is the
technique of Shr, in which he used only the external tabula of cranium without periosteum.
[4,5] Although the use of external tabula is a considerable way of cranioplasty, the use of
internal tabula is rather new.[6] Split-thickness skull cranioplasty are biocompatible, which
are easy harvested and with less infection and reaction risks. For this reason, it is considered a
good option for cases with high risk of infection.[7] In pediatric patients whom skull growth
is continuing, split-thickness skull grafts showed integration and cooperated with the
remolding skull, in contrast to fixed nonbiologic materials which resulted in restricted growth
of the skull and deformities in adult ages.[8]

- Tibia
Rekonstruksi kepala pertama dalam aspek estetika dilakukan dengan potongan-potongan tibia
diletakkan diantara periosteum dan duramater. Percobaan ini dilakukan pertama kali oleh
Exhausen terhadap 27 pasien. Namun, saat ini penggunaan tibia dalam rekonstruksi cranium
jarang dilakukan, karena pertumbuhannya sulit dan menyebabkan tramaumatis bagi

pasiennya. Selain itu, kontut cranium tidak dapat dihasilkan dengan mudah dengan graft dari
tulang tibia

- Tulang rusuk
Metode ini mulai dipopulerkan pada awal abad ke 20. Bagaimanapun juga, beberapa ahli
bedah kurang meganjurkan untuk menggunkan tulang rusuk karena komplikasi yang
ditimbulkan selama dan setelah operasi, seperti deformitas dan gangguan dalam respirasi.

- Fasia
Penggunaan Sof tissue seperti otot temporal atau fasia hanya dapat digunakan untuk
menutupi defek

jika area tersebut berukuran kecil. Disisi lain, kegunaan fasia dalam

duraplasty sangat disenangi. Perbaikan dura dengan graft yang memiliki vaskularisasi lebih
disukai para spesialis bedah saraf karena kemampuan peyembuhan dan penutupan defek yang
efektif. Otot dan omental grafts dianggap sebagai graft yang kaya akan vaskularisasi, dan
penggunaannya dalam rekonstruksi operasi dasar tengkorak dan revaskularisasi otak telah
dilaporkan. Pedicled local flaps termasuk pericranial dan galeal flaps tidak cukup tebal untuk
mencegah erosi dan tidak dapat digunakan pada pasien yang telah menjalani craniotomy
berkali-kali seperti pada kasus komplikasi.10. Non-pedicled fascia memiliki proteksi yang
rendah terhadap infeksi dan tidak cocok setelah tindakan craniotomy ulang dengan risiko
tinggi untuk terjadinya meningitis. Beberapa faktor yang yang menentukan keberhasilan
dalam duraplasty antara lain yaitu tekanan intrakranial yang normal atau rendah, viabilitas
dari graft dan duramater, dan pasien dengan usia muda.

- Sternum
Sternum adalah mixed cortical cancellous graft. Graft ini tidak banyak digunakan karena
memiliki banyak kekurangan, seperti kurangnya volum yang cukup untuk menutupi defek
dari cranium dan komplikasi dalam pertumbuhan tulang. Selain itu, sternum memiliki lebih
banyak pori-pori sehingga megalami revaskularisasi yang lebih cepat dan lebih cepat
diabsorbsi. 11

-Illeum
Ileum merupakan salah satu pilihan autologous bone graft karena memiliki kesamaan kontur
dengan cranium. Namun, mengingat komplikasi seperti perdaraham, perforasi usus dan
kerusakan saraf mengakibatkan penggunaan ielum dalam cranioplasty menjadi tidak banyak
digunakan.
Terdapat beberapa teknik untuk menjaga autograft ketika graft tersebut tidak sesuai untuk
digunakan sebagai penutup tulang setelah craniotomy. Pertimbangan yang paling utama
adalah dengan menggunakan tulang pasien tersebut untuk menutup tulang dan untuk menjaga
agar tulang penutup ersebut tetap hidup selama masa menunggu untuk digunakan. PAda
awalnya, beberapa ahli menggunakan material craniotomy setelah direbus dalam air, namun
dengan meningkatnya risiko infeksi, tindakan ini mulai ditinggalkan. Cara lain yaitu dengan
menyimpan graft dalam autoclav untuk mencegah infeksi, tetapi pada beberapa kasus,
viabilitas tulang tidak dapat terjaga. Teknik yang saat ini paling banyak digunakan untuk
melindungi autograft adalah dengan membekukan tulang tersebut. Dry freeze dalam -70o C
dapat menjaga tulang tetap steril dan siap digunakan. Teknik tersebut menjaga arsitekture
matriks tulang tetap intak dan siap digunakan. Tapi teknik ini tidak dapat menjaga viabilitas
tulang. Menyimpan penutup craniotomy dalam jaringan lemak abdomen pertama kali
dideskripsikan oleh Kreider pada tahun 190. Metode ini tidak lebih popular dari teknik yang
disbeutkan diatas karena membutuhkan operasi kedua dan menimbulkan scar pada abdomen,
serta kapasitas osteogenik dari tulang tidak dapat diekspektasikan. Tapi, menyimpa graft
dalam lemak abdomen tetap menjadi pilihan dari beberap ahli bedah dan menjadi pilihan
utama dalam institusi kami.
2. Allograft
Allograft (graf alogenik) adalah jaringan yang ditransplantasikan dari seseorang kepada yang
lain baik dalam spesies yang sama maupun spesies yang berbeda. Walaupun allograft
mungkin memiliki kemampuan menginduksi regenerasi tulang, bahan ini juga dapat
membangkitkan respons jaringan yang merugikan dan respons penolakan hospes, kecuali
diproses secara khusus.2 Graft diambil dari tulang cadaver dan disterilkan untuk mencegah
penularan penyakit.4

Keuntungan menggunakan allograft dibandingkan autograft adalah pasien tidak perlu


mengalami luka bedah tambahan untuk pengambilan donor dari tubuhnya sendiri sementara
potensi perbaikan tulangnya tetap sama.2
Allograft pertama digunakan oleh Morestin pada tahun 1915 dengan kartilago dari cadaver.
Kartilago cadaver mulai banyak digunakan selama perang dunia I karena memiliki resistansi
tinggi terhadap infeksi. Namun, seiring berjalannya waktu, penggunannya mula berkurang
karena tidak menunjukkan proses pengapuran seperti yang diharapkan dan tidak cukup
mmberikan perlindungan mekanik. Cranium cadaver telah digunakan dalam cranioplasty
namun, saat ini penggunaanya telah jarang karena setelah dilakuakn sterilisasi penggunaanya
tetap saja menimbulkan reaksi tubuh sebagai respon atas benda asing tersebut.
3. Xenograft
Xenograft (xenogenik) adalah bahan graft yang diambil dari spesies yang berbeda, biasanya
berasal dari lembu atau babi, untuk digunakan pada manusia. Menurut sejarah, tulang
binatang telah digunakan secara luas untuk menutup defek pada tulang kepala. Meereken
menggunakan tulang kepala anjing untuk menutup defek pada tulang kepala manusia pada
tahun 1682. Pada tahun 1917, tulang skapula dari sapi digunakan pada cranioplasti dengan
diberi nama soup bone. Walaupun dari beberapa kasus mendapatkan hasil yang baik,
penggunaannya sudah sangat jarang.
Selain tulang pengganti tersebut diatas, terdapat pula substitusi graft tulang yang berasalah
dari sampuran satu atau lebih tipe materil antara lain:
- methyl ......
Teknik Cranioplasty