Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hematoma septum nasi adalah akumulasi darah pada kompartemen
subperikondrial septum nasi sebagai akibat dari trauma. Ini sering terjadi
disebabkan oleh trauma pada hidung dan muka. Hematoma septum nasal
harus segera dicurigai pada anak atau dewasa ketika terjadi trauma nasal.
Barrs dan Kern melaporkan 50 % dari 100 anak yang datang ke emergensi
setelah terjadi trauma nasal mempunyai gambaran radiografi pada hidung
sedangkan dengan pemeriksaan fisik intranasal hanya ditemukan 20 anak.
Pada penelitian lainya menyatakan terhadap 57 anak-anak berumur
kurang dari 10 tahun yang mengalami fraktur nasal, tidak dilaporkan adanya
hematoma septum atau abses septum. Blahova melaporkan hanya didapatkan
2 abses septum dari 241 anak-anak yang mengalami fraktur tulang nasal, dan
Chukuezi melaporkan hanya terdapat 4 kasus abses septum dari 46 anak-anak
Nigeria yang mengalami hematoma septum dan yang dirujuk ke Rumah sakit
setelah orang yang mengalami trauma nasal di daerah desa terpencil. Pada
insiden hematoma septum nasi yang terinfeksi dilakukan biakan yang mana
Staphylococus aureus merupakan bakteri pathogen primer yang diisolasi dari
kebanyakan laporan kasus, tanpa memperhatikan umur; Strains Haemophilus
Influenza dan Streptococcus pneumonia juga diisolasi dari beberapa anakanak dari penelitian tersebut. Absennya kuman anaerobic pada beberapa kasus
sangat menyolok. Meskipun hematoma septum nasi dari kartilago nasi
merupakan komplikasi yang jarang pada trauma nasal, mekanisme yang persis
mengenai mekanisme terbentuknya hematoma

akibat trauma nasal belum

diketahui, dapat dipikirkan saat trauma terjadi mekanik pada kartilago nasal,
menyebabkan ruptur atau

kebocoran pada pembuluh darah perikondrial

septum nasi.
Hematoma septum unilateral sering sembuh menyebabkan fibrosis yang
terjadi antara kartilago septum dan perikondrium. Hematoma septum bilateral
yang disebabkan oleh obstruksi aliran darah pada septum nasi menyebabkan
nekrosis pada kartilago septal. Adanya kumpulan darah di sub-perikondrium

akan mengancam vitalitas tulang rawan yang hidupnya tergantung dari nutrisi
perikondrium.
Hematoma septum nasi ditandai dengan nyeri hidung hebat yang
terlokalisasi, nyeri tekan pada ujung hidung, dan pembekakan seperti buah
cheri (cherry-like swelling) pada mukosa nasal berasal dari obstruksi total atau
sebagian dari aliran darah nasal. Gejala yang sering dirasakan yaitu adanya
rasa hidung tersumbat dan nyeri , Pada pemeriksan ditemukan pembengkakan
unilateral atau bilateral pada septum bagian depan, berbentuk bulat, licin dan
berwarna merah dan bias menyebabkan obstruksi total yang biasanya terjadi
saat 24 -27 jam pertama.
Tatalaksana pada hematoma septum nasi segera dapat di lakukan drenase
yang mana telah terbukti mengurangi resiko nekrosis kartilago. Penilaian
segera kartilago apabila terjadi defek dapat di lakukan tindakan homograft
kartilago yang mana efektif mencegah terjadinya deformitas saddle nose.
Pemberian antibiotic juga diperlukan untuk mencegah terjadinya infeksi
sekunder dari trauma.
Komplikasi akut yang paling sering pada kasus hematoma septum nasi
adalah abses septum nasi. Abses septum nasi merupakan komplikasi yang
jarang pada hematoma septum nasi yang diikuti oleh trauma nasal. Abses
septum nasi dapat menyebabkan deformitas nasal yang parah terutama pada
anak kecil pada umur 3-5 tahun. Hal ini dapat menyebabkan infeksi
intracranial yang dapat mengancam jiwa yang disebabkan oleh penyebaran
langsung oleh bakteri menuju ke sinus cavernous melalui vena emissary yang
memperdarahi septum nasi. Serta komplikasi yang sering terjadi deformitas
hidung luar seperti hidung pelana ( saddle nose ).
1.2 Rumusan Masalah
Referat ini membahas tentang definisi, etiologi, insidensi, patogenesis,
diagnosis, manifestasi klinis, dan penatalaksanaan dari hematoma septum nasi.
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan referat ini yaitu untuk memahami definisi,
etiologi,

insidensi,

patogenesis,

manifestasi

penatalaksanaan dari hematoma septum nasi.

klinis,

diagnosis,

dan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Hidung
Hidungluardibentukolehtulangdantulangrawanyangdilapisioleh
kulit,jaringanikat,danbeberapaototkecilyangberfungsiuntukmelebarkan
ataumenyempitkanlubanghidung.Kerangkatulangterdiridaritulanghidung
(os nasal), prosesus frontalis os maksila, dan prosesus nasalis os frontal.
Kerangka tulang rawan terdiri dari sepasang kartilago nasalis lateralis
superior, sepasang kartilago nasalis lateralis inferior yang disebut juga
kartilagoalarmayor,beberapapasangkartilagoalarminordantepianterior
kartilagoseptum.

Gambar1.Anatomihidungbagianluartampakanterolateraldaninferior 9

Bagian hidung dalam terdiri atas struktur yang membentang dari


os.internumdisebelahanteriorhinggakoanadiposterior,yangmemisahkan
rongga hidung dari nasofaring. Kavum nasi dibagi oleh septum, dinding
lateralterdapatkonkasuperior,konkamedia,dankonkainferior.Celahantara
konkainferiordengandasarhidungdinamakanmeatusinferior,berikutnya
celahantarakonkamediadaninferiordisebutmeatusmediadansebelahatas
konkamediadisebutmeatussuperior.
2.2 Anatomi Septum Nasi
Septumnasimerupakandindingmedialronggahidung.Septumdibentuk
olehtulangdantulangrawan.Bagiantulangadalahlaminaperpendikularisos
etmoid, vomer, krista nasalis os maksila dan krista nasalis os palatine.
Sedangkan bagian tulang rawan adalah kartilago septum (lamina
kuadrangularis) dan kolumela. Septum dilapisi oleh perikondrium pada
bagiantulangrawandanperiosteumpadabagiantulang,sedangkandiluarnya
dilapisiolehmukosahidung.

Gambar2.Dindinglateralhidung9

Septumnasiadalahbagianpalingmenonjolpadawajah,palingmudah
danseringterkenatrauma.Septumnasidiperdarahioleha.etmodalisanterior
dan posterior, a.sfenopalatina, a.palatina mayor dan a.labialis superior.
A.sfenopalatinamendarahibagianposteriorseptumnasidandindinglateral
hidungbagianposterior.A.ethmoidalisanteriordanposterioradalahcabang
daria.oftalmikayangberasaldaria.karotisinterna.A.ethmoidalisanterior
adalahpembuluhdarahterbesarkeduayangmendarahihidungbagiandalam,
yangmendarahikeduabagiananterosuperiordariseptumdandindinglateral
hidung. Venavena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan
berdampingandenganarteri.8,10

Gambar3.AnatomiSeptumNasi9

Pada bagian kaudal septum nasi terdapat pleksus Kiesselbach yang


terletaktepatdibelakangvestibulum.Pleksusinimerupakananastomosisdari
arterisfenopalatina,arterietmoidalisanterior,arteripalatinemayor.Areaini
seringmenjadisumberperdarahanatauepitaksis.8

Gambar4.VaskularisasiHidung9

Bagiananterosuperiorhidungbagiandalamdipersarafiolehn.etmoidalis
anterior dan posterior, sedangkan cabang dari n.maksilaris dan ganglion
pterigopalatina mempersarafi bagian posterior dan sensasi pada bagian
anteroinferior septum nasi dan dinding lateral. Rongga hidung lainnya,
sebagianbesarmendapatpersarafansensorisdarin.maksilamelaluiganglion
sfenopalatinum.Ganglion sfenopalatinum, selain memberikan persarafan
sensoris,jugamemberikanpersarafanvasomotoratauotonomuntukmukosa

hidung. Ganglion ini menerima serabut sensoris dari n.maksila (n. V2),
serabutparasimpatisdarin.petrosusprofundus.Disampingmensarafihidung,
ganglionsfenopalatinamempersarafikelenjarlakrimasidanpalatum.8

Gambar5.PersarafanHidung9

2.3 Hematoma Septum Nasi


2.3.1 Definisi
Hematomaseptumnasiadalahterkumpulnyadarahdiantaratulang
rawan septum nasi (kondrium) dan perikondrium septum nasi.
Hematomaseptumnasidapatterjadiunilateralataupunbilateralyang
biasanyadiakibatkanolehtraumapadadaerahhidung.1,4,5,7

Hematomaseptumlebihseringterkenapadaanakanakdandapatterjadi

bahkan pada trauma yang ringan. Hidung pada anakanak sebagian besar
merupakantulangrawandanmemilikitulanghidungkecilyanglunakdan
lebihlentur,dandayaserapterhadapsuatugayakecil,sehinggaanakanak
lebihrentanterjadinyafrakturhidung.Padaorangdewasa,hematomaseptum
umumnyatimbulpadatraumawajahyangsignifikandanpadafrakturnasal.
Hematomaseptumbisasajamuncultanpatandatandatraumaeksternal. 2,4,6

Hidungmemilikisuplaidarahyangbanyakdariinternalmaupun
eksternal arteri karotis. Plexus Kisselbach menyuplai darah untuk
daerah anteroinferior dari septum nasi, yang merupakan lokasi
terjadinya epistaksis paling sering. Ketika hidung terkena trauma,
pembuluhpembuluh darah mungkin ada yang robek, sehingga darah

akanterkumpuldironggaantarakartilagodanperikondrium.Jikadarah
initerusmenerustertimbunmakasuplaidarahkekartilagohidungakan
tersumbat. Hal ini menimbulkan nekrosis avaskular kartilago hidung
akibattekanan.1,5,8

Gambar6.SeptumNasinormal
Gambar7.Hematoma Septum Nasi

2.3.2 Etiologi dan Patofisiologi


Penyebabutamaterjadinyahematomaseptumnasiadalahkarena
trauma pada daerah hidung. Hematoma septum nasi muncul secara
langsungataubahkanbeberapaharisetelahcederaawal.Dalamsebuah
studi,waktuyangdibutuhkansuatucederauntukmenjadi hematoma
septum nasi adalah 114 hari (ratarata 5,9hari). Cedera yang biasa

terjadi dikarenakan perkelahian, tejatuh, terkena lemparan bola di


wajah,ataupunbenturandenganobjek.Padaanakkecildengancedera
lebihkompleks,perludipikirkanchildabuse.
Penyebab lainnya seperti karena adanya gangguan perdarahan,
violentsneezing(bersinyangkuatsekali)dandikarenakanobatseperti
aspirindanwarfarin.
Penyakitpenyakit kolagen vaskular juga diperkirakan dapat
menjadi penyebab hematoma septum. Penyakit ini menyebabkan
gangguandimanadindingarterimenjadilemahsehinggalebihmudah
terjadi perdarahan. Mengorek hidung secara kasar, meniup melalui
hidung secara keras, riwayat penggunaan obatobatan dimana obat
tersebutharusdihirupmelaluitumorpadahidungjugadapatmenjadi
faktorpenyebabhematomaseptum.10
Hematoma septum nasi terjadi akibat trauma pada septum nasi
yangmerobekpembuluhdarahyangberbatasandengantulangrawan
septumnasi.Darahakanterkumpulpadaruangdiantaratulangrawan
danmukoperikondrium.Hematomainiakanmemisahkantulangrawan
dari mukoperikondrium, sehingga aliran darah sebagai nutrisi bagi
jaringantulangrawanterputus,makaterjadilahnekrosis.4,10,11
Tulang rawanseptum nasiyangtidak mendapatkan aliran darah
masihdapatbertahanhidupselama3hari,setelahitukondrositakan
mati dan resorpsi tulang rawan akan terjadi. Bila tidak segera
ditanggulangi,makatulangseptumnasidantriangularkartilagodapat
ikut terlibat dan perforasi septum nasi dapat terjadi. Pada akhirnya
sedikitataubanyakakanterjadiparutdanhilangnyapenyanggapada
2/3 kaudal septum, ini akan menghasilkan hidung pelana, retraksi
kolumella,danpelebarandasarhidung.2,4,10
Jikaadafrakturtulangrawan,makadarahakanmengalirkesisi
kontralateraldanterjadilahhematomseptumbilateral.Hematomyang
terjadi dapat besar sehingga dapat menyumbat kedua nares. Akibat
keadaanyangrelatifkurangsterildibagiananteriorhidung,hematoma

10

septum nasi dapat terinfeksi dan akan cepat berubah menjadi abses
septumnasiyangmempercepatresorpsitulangrawanyangnekrotik.
Staphylococcus aureus merupakan organisme yang paling sering
ditemukan pada hasil kultur abses septum nasi. Begitu pula
Streptococcus pneumoniae, streptococcus milleri, Streptococcus
viridians, Staphylococcus epidermis, Haemophillus influenza dan
kumananaerobjugaditemukanpadaabsesseptumnasi.2,7,10
Komplikasi intrakranial dapat terjadi dikarenakan penyebaran
infeksi secara langsung melalui vena menuju ke sinus cavernous. 4,7
Tidak semua hematom septum nasi berkembang menjadi abses, bila
sembuhdenganterapiantibiotikakanterbentukjaringanikat,sehingga
akanterjadipenebalanjaringanseptumnasiyangdapatmenyebabkan
obstruksi saluran nafas dan retraksi yang menimbulkan kontraktur
septum nasi. Bila keadaan ini terjadi pada masa anakanak, akan
mempengaruhipertumbuhan2/3bagianwajah.10
2.3.3 Gejala Klinis
Hematomaseptummemilikigejalayangkhas,sepertiadanyanyeri
hebatyangterlokalisasi,palpasipadaujunghidungakanterasalebih
lunak, dan pembengkakan seperti buah ceri pada mukosa hidung di
daerahseptumyangmenyumbatseluruhlubanghidung.4,7,10Gejalakhas
pada hematoma septum ialah hidung tersumbat (95%), nyeri (50%),
rhinorrhea (25%),dandemam(25%).Gejalagejalainidapatmuncul
segeraatauumumnyadalam2472jamsetelahtrauma.Padaanakanak,
gejalayangumumterjadiialahhidungtersumbat,nyeridanrhinorrhea.
Hiposmia dan demam dengan temperatur yang bervariasi juga dapat
muncul.

11

Gambar8.HematomaSeptumNasibilateral

Pada pemeriksaan ditemukan pembengkakan unilateral atau


bilateral pada septum bagian depan, berbentuk bulat, licin, dan
berwarnamerah,perubahanletakdaridorsumhidung,nyeritekanpada
ujunghidung,danakanterlihatgambaranseptumnasalyangasimetris
dan berwarna kebiruan atau kemerahan pada mukosa hidung.
Pembengkakandapatmeluassampaikedindinglateralhidungsehingga
menyebabkanobstruksitotal.Selanjutnya,fluktuasiyangsangatbesar
padabagianyangmembengkakharusdicurigai telahterjadinekrosis
darikartilagoseptal.Ukuranbengkaktidakberubahdenganpemberian
vasokonstriksitopical.4,5,10,12
2.3.4 Diagnosis
Diagnosis umumnya ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
temuantemuan klinis. Otoskop dapat digunakan sebagai alat bantu
dalam melakukan pemeriksaan rinoskopi anterior. Ketika melakukan
evaluasiterhadappasienyangmengalamitraumapadahidung,harus
selalu diperhatikan apakah adanya tandatanda hematoma septum
walaupun tidak didapati adanya pembengkakan saat dilakukan
pemeriksaanrinoskopianterior.
Septumnasinormalnyamemilikiketebalan24mm.Jikakartilago
fraktur,darahdapatmelewaticelahtersebutdanmembentukhematoma
bilateral,sehinggakeduasisiharusdiperiksa.
Terkadangdilakukanpemeriksaanradiografiuntukmelihattulang
tulanghidungdanstrukturwajahmemastikantidakadanyafraktur.CT
scankranialdanMRIkranialdapatdilakukanuntukmendeteksiadanya
traumayanglebihserius.10
2.3.5 Penatalaksanaan
Penatalaksanaanpadahematomaseptumnasiadalahdrainasedan
insisi.Alatyangdibutuhkanadalahlampukepala,spekulumhidung,
Fraziertipsuction,handscoen,jarum1820G,spuit5cc,scalpelno.11,

12

nasaltampon,analgesiktopikal,dan Penrosedrain.Untukanalgesik
topikal,dapatdiberikanLidokaintopikalatauPontocaineataulidokain
injeksitanpaepinefrin,tidakmelebihidosis5mg/kgatautotal300
mg.

Drainase yang segera dilakukan dapat mencegah terjadinya

nekrosis tulang rawan. Dilakukan pungsi dan kemudian dilanjutkan


dengan insisi pada bagian hematoma yang paling menonjol tanpa
menginsisi kartilago.Bila tulang rawan masih utuh dilakukan insisi
bilateral. Setelah insisi, darah dapat di suction lalu diirigasi dengan
normalsaline.Irisankecildapatdibuatpadamukoperikondriumuntuk
mencegah penutupan prematur dari insisi sebelumnya. Lalu pasang
Penrosedrainuntukmengalirkandarah. Setelahnya,dapat dipasang
tamponuntukmenekanperikondriumkearahtulangrawandibawahnya.
Tampon dan Penrose drain dipertahankan hingga 24 jam bebas
perdarahan,biasanyadipasang23haridanberfungsiinijugaberfungsi
untukmencegahterjadinyaakumulasidarahkembali.Pasienharusdi
followup adanya kemungkinan akumulasi kembali atau untuk tanda
infeksi.
Padaanakanakdrainasedilakukandibawahanestesiumumdengan
menggunakanintubasiorotrakheal.Pasiendalamposisi supinedengan
kepala sedikit elevasi untuk memudahkan pengeluaran darah dari
hidung.Aspirasidilakukandenganmenggunakansuntikdenganjarum
ukuran1820G.4

13

Gambar 9. (A) Hematoma septum, menunjukkan adanya


akumulasi darah antar septum dan perikondrium, (B) Insisi
hematoma,(C)Drainasehematoma,(D)Inserikassasteriluntuk
mencegahreakumulasidarah

Pasienharusdifollowupadanyakemungkinanakumulasikembali
atau untuk tanda infeksi. Rekonstruksi dan perbaikan struktur dapat
dimulaipalingcepat6bulansetelahpenyakitterkontrol.Pasienjuga
sebaiknya di followup tanda destruksi kartilago ataupun perubahan
struktur wajah untuk 1218 bulan kedepan. Pada pasien baru yang
mengalami trauma hidung ataupun trauma wajah tapi belum
memberikangejalaklinis,orangtuasebaiknyadiedukasiuntuksegera
membawaanakkedokterbilaterdapattandatandahematomaseptum
nasi.
2.3.6 Komplikasi
Jika pembengkakan yang terjadi tidak segera diredakan, akan
terjadi obstruksijalan nafas didaerah hidung,perforasi septum, dan
deformitas hidung. Pada anakanak, kartilago dibutuhkan dalam
pertumbuhan hidung dan wajah. Kolaps pada kartilago dapat
mengakibatkandeformitasseperti saddlenose.Padatipe2,3,4akan
mengalamigangguanjalannafas.

14

Gambar 10. (1) Hidung normal, (2)Tipe 1, dengan depresi bagian atas puncak
hidung atau dorsum nasi minimal, dan 1/3 hidung bawah normal, (3) depresi
dorsum nasi (sedang-berat) dengan 1/3 hidung bawah relatif menonjol, (4)
depresi dorsum nasi (sedang-berat) dengan hilangnya puncak hidung dan
defisit 1/3 hidung bawah, (5) Catastrophic (berat) hilangnya dorsum nasi
dengan kehilangan signifikan dari struktur bagian bawah dan 1/3 atas hidung.

Pasien juga berisiko untuk mengalami infeksi. Staphylococcus


aureus, Streptococcus pneumoniae, group A betahemolytic
Streptococcus,Haemophilusinfluenzae, danbakterianaeroblainjuga
menjadiagenpatogenpotensialterjadinyaabsesseptum.Pembentukan
abses akan berdampak menjadi komplikasi lain, seperti meningitisi,
absesserebral,empiemasubarakhnoid,dantrombosissinuskavernosus.

BAB III

15

KESIMPULAN
Hematomaseptumnasiadalahterkumpulnyadarahdiantaratulangrawan
septumnasi(kondrium)danperikondriumseptumnasi.Hematomaseptumnasi
dapatterjadiunilateralataupunbilateralyangbiasanyadiakibatkanolehtrauma
padadaerahhidung.
Hematomaseptumlebihseringterkenapadaanakanakdandapatterjadi
bahkan pada trauma yang ringan. Hidung pada anakanak sebagian besar
merupakantulangrawandanmemilikitulanghidungkecilyanglunakdanlebih
lentur,dandayaserapterhadapsuatugayakecil,sehinggaanakanaklebihrentan
terjadinya fraktur hidung. Pada orang dewasa, hematoma septum umumnya
timbul pada trauma wajah yang signifikan dan pada fraktur nasal. Hematoma
septumbisasajamuncultanpatandatandatraumaeksternal.
Penyebabutamaterjadinyahematomaseptumnasiadalahkarenatrauma
pada daerah hidung. Penyebab lainnya seperti karena adanya gangguan
perdarahan, violent sneezing (bersin yang kuat sekali) dan dikarenakan obat
sepertiaspirindanwarfarin.Penyakitpenyakitkolagenvaskularjugadiperkirakan
dapatmenjadipenyebabhematomaseptum.
Hematomaseptummemilikigejalayangkhas,sepertiadanyanyerihebat
yang terlokalisasi, palpasi pada ujung hidung akan terasa lebih lunak, dan
pembengkakan seperti buah ceri pada mukosa hidung di daerah septum yang
menyumbatseluruhlubanghidung. Padaanakanak,gejalayangumumterjadi
ialah hidung tersumbat, nyeri dan rhinorrhea. Hiposmia dan demam dengan
temperaturyangbervariasijugadapatmuncul.
Diagnosis umumnya ditegakkan berdasarkan anamnesis dan temuan
temuan klinis. Otoskop dapat digunakan sebagai alat bantu dalam melakukan
pemeriksaanrinoskopianterior.Ketikamelakukanevaluasiterhadappasienyang
mengalamitraumapadahidung,harusselaludiperhatikanapakahadanyatanda
tanda hematoma septum walaupun tidak didapati adanya pembengkakan saat
dilakukan pemeriksaan rinoskopi anterior. Terkadang dilakukan pemeriksaan
radiografi untuk melihat tulangtulang hidung dan struktur wajah memastikan

16

tidak adanyafraktur.CTscankranialdanMRIkranial dapatdilakukan untuk


mendeteksiadanyatraumayanglebihserius.
Penatalaksanaanpadahematomaseptumnasiadalahdrainasedaninsisi.
Drainaseyangsegeradilakukandapatmencegahterjadinyanekrosistulangrawan.
Pasienharusdifollowupadanyakemungkinan akumulasi kembali atauuntuk
tandainfeksi.Pasienharusdifollowupadanyakemungkinanakumulasikembali
atau untuk tanda infeksi. Rekonstruksi dan perbaikan struktur dapat dimulai
palingcepat6bulansetelahpenyakitterkontrol.Pasienjugasebaiknyadifollow
uptandadestruksikartilagoataupunperubahanstrukturwajahuntuk1218bulan
kedepan.Padapasienbaruyangmengalamitraumahidungataupuntraumawajah
tapibelummemberikangejalaklinis,orangtuasebaiknyadiedukasiuntuksegera
membawaanakkedokterbilaterdapattandatandahematomaseptumnasi.
Pada umumnya makin cepat diberikan pengobatan makin besar
kemungkinan untuk sembuh. Jika pembengkakan yang terjadi tidak segera
diredakan,akanterjadiobstruksijalannafasdidaerahhidung,perforasiseptum,
dandeformitashidung.Padaanakanak,kartilagodibutuhkandalampertumbuhan
hidungdanwajah.Kolapspadakartilagodapatmengakibatkandeformitasseperti
saddlenose. Pasien juga berisiko untuk mengalami infeksi dan membentuk
abses septum. Pembentukan abses akan berdampak menjadi komplikasi lain,
sepertimeningitisi,absesserebral,empiemasubarakhnoid,dantrombosissinus
kavernosus.

17

DAFTAR PUSTAKA

1.

Soepardi EA. 2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan: Telinga Hidung Tenggorok
Kepala dan Leher. Balai penerbit FKUI. Jakarta. Hal 127.

2.

Perkins SW, Dayan SH. 2002. Management of nasal trauma. Aesthetic plastic
surgery
.www.drdayan.com/pdf/.../Management-of-Nasal-Trauma.pdf
.
(diakses pada tanggal 16 September 2014).

3.

Ibrahim SH. Haematoma and abscess of nasal septum, clinical features and
surgical treatment outcomes. Department of surgery. www.iasj.net/iasj?
func=fulltext&aId=30916. (diakses pada tanggal 16 September 2014).

4.

Umana AN, Offiong ME, Francis P, Akpan U, Edethekhe T. Nasal septal


hematoma: Using tubular nasal packs to achieve immediate nasal breathing
after drainage. International journal of medicine and medical sciences. 2011;
Vol. 3(7), pp. 233-235.

5.

Savage RR, Valvich C. Haematoma of the nasal septum. American Academy


of Pediatrics. 2006; 27; 478.

6.

Kucik CJ, Clenney T, Phelan J. Management of acute nasal fractures.


American Family Physician. 2004; Volume 70; Number 7.

7.

Ginsburg CM. Nasal septal hematoma. American Academy of Pediatrics.


1998;19;142

8.

Snell RS. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran edisi 6. EGC. 2006: 2:
Hal 803-805.

9.

Netter, Frank H. Athlas of human anatomy. 4th Ed. USA : Elsevier,s health
sciene department. 2006: 37-49.

10. Menger DJ, Tabink IC, Trenite GJN. Nasal septal abscess in children.
American Medical Association. Arch otolaryngol head neck surg. 2008; vol
134.
11. Lopez MA, Liu JH, Hartley BEJ, Myer CM. Septal hematoma and abscess
after nasal trauma. 2000;39:609-61.
12. Roytesa R. Savage, Christina Valvich and Janet R. Serwint. Hematoma of the
Nasal Septum.,Pediatr. Rev. 2006;27;478-479 DOI: 10.1542/pir.27-12-478
13. Vartanian,

A.

Jhon.

Saddle

Nose

Rhinoplasty,

(diakses

dari

18

http://emedicine.medscape.com/article/840910-overview#showall
28
september 2014)
14. Kucik, Corry dkk. Management of Acute Nasal Fractures. Naval Hospital
Jacksonville,
Florida
(diakses
dari
http://www.aafp.org/afp/2004/1001/p1315.html tanggal 28 September 2014)
15. Meyers, Arlen. Nasal Septal Hematoma Drainage, (diakses dari
http://emedicine.medscape.com/article/149280-overview#showall tanggal 28
September 2014)