Anda di halaman 1dari 12

A.

DEFINISI
Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah kehilangan fungsi otak yang
diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak sering ini adalah kulminasi
penyakit serebrovaskuler selama beberapa tahun. (Smeltzer C. Suzanne, 2002 dalam
ekspresiku-blogspot 2008)
Stroke adalah keadaan yang timbul karena terjadi gangguan peredaran darah di
otak yang menyebabkan kematian jaringan otak sehingga mengakibatkan seseorang
menderita

kelumpuhan

atau

kematian

(batticaca,

2008

dalam

asuhankeperawatanstrokehemoragik.blogspot.com).
Stroke adalah gangguan peredaran darah otak yang menyebabkan deficit
neurologis mendadak sebagai akibat iskemia atau hemoragi sirkulasi syaraf otak
(Sudoyo, 2009; dalam aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan diagnose medis &
NANDA NIC-NOC).
B. ETIOLOGI
Faktor-faktor yang menyebabkan stroke antara lain :
1. Faktor yang tidak dapat dirubah (non reversible)
a. Jenis kelamin pria lebih sering mengalami stroke dari pada wanita,
b. Usia penurunan fungsi tubuh,
c. Keturunan adanya riwayat keluarga yang terkena stroke.
2. Faktor yang dapat dirubah (Reversible)
a. Hipertensi,
b. Penyakit jantung,
c. Kolesterol tinggi,
d. Obesitas,
e. Diabetes mellitus,
f. Stress emosional.

3. Kebiasaan hidup
a. Merokok : rokok mengandung zat seperti nikotin dan tar yang lamakelamaan bisa menyebabkan plak pada pembuluh darah otak sehingga
mengganggu suplay darah ke otak, yang akhirnya akan menyebabkan
gangguan pada fungsi otak,
b. Peminum alkohol : alkohol dapat menyebabkan penurunan fungsi
pembuluh darah,
1

c. Obat obatan terlarang,


d. Aktivitas yang kurang sehat ( kurang olahraga, makanan berkolesterol,
obesitas, ).
(Kusuma, 2013)
C. MANIFESTASI KLINIS
1. Mengalami kelumpuhan atau kelemahan separo badan atau semuanya,
2. Hilangnya rasa peka terhadaap sesuatu karena gangguan sensorik
3. Gangguan komunikasi verbal
a. Cedal/cello
b. Disatria ( kesulitan bicara)
c. Disfasia atau afasia (bicara defektif atau kehilangan bicara)
d. Gangguan penglihatan
e. Ketidaksimetrisan bentuk wajah (gangguan fungsi syaraf cranialis ke
f.
g.
h.
i.
j.

VII)
Gangguan daya ingat
Nyeri kepala
Vertigo
Penurunan kesadaran
Proses kencing terganggu

(Kusuma, 2013)
D. PATOFISIOLOGIS
Trombosis (penyakit trombo - oklusif) merupakan penyebab stroke yang paling
sering. Arteriosclerosis selebral dan perlambatan sirkulasi selebral adalah penyebab
utama trombosis selebral, yang adalah penyebab umum dari stroke. Tanda-tanda
trombosis selebral bervariasi. Sakit kepala adalah awitan yang tidak umum. Beberapa
pasien mengalami pusing, perubahan kognitif atau kejang dan beberapa awitan umum
lainnya. Secara umum trombosis selebral tidak terjadi secara tiba-tiba, dan kehilangan
bicara sementara, hemiplegia atau parestesia pada setengah tubuh dapat mendahului
awitan paralysis berat pada beberapa jam atau hari. Trombosis terjadi biasanya ada
kaitannya dengan kerusakan local dinding pembuluh darah akibat atrosklerosis. Proses
aterosklerosis ditandai oleh plak berlemak pada pada lapisan intima arteria besar.
Bagian intima arteria sereberi menjadi tipis dan berserabut , sedangkan sel sel
ototnya menghilang. Lamina elastika interna robek dan berjumbai, sehingga lumen
pembuluh sebagian terisi oleh materi sklerotik tersebut. Plak cenderung terbentuk pada
percabangan atau tempat tempat yang melengkung. Trombi juga dikaitkan dengan
tempat tempat khusus tersebut. Pembuluh pembuluh darah yang mempunyai resiko
dalam urutan yang makin jarang adalah sebagai berikut : arteria karotis interna,
vertebralis bagian atas dan basilaris bawah. Hilangnya intima akan membuat jaringan
ikat terpapar. Trombosit menempel pada permukaan yang terbuka sehingga permukaan
dinding pembuluh darah menjadi kasar. Trombosit akan melepasakan enzim, adenosin
2

difosfat yang mengawali mekanisme koagulasi. Sumbat fibrinotrombosit dapat


terlepas dan membentuk emboli, atau dapat tetap tinggal di tempat dan akhirnya
seluruh arteria itu akan tersumbat dengan sempurna.
Embolisme: embolisme sereberi termasuk urutan kedua dari berbagai penyebab
utama stroke. Penderita embolisme biasanya lebih muda dibanding dengan penderita
trombosis. Kebanyakan emboli sereberi berasal dari suatu trombus dalam jantung,
sehingga masalah yang dihadapi sebenarnya adalah perwujudan dari penyakit jantung.
Meskipun lebih jarang terjadi, embolus juga mungkin berasal dari plak ateromatosa
sinus karotikus atau arteria karotis interna. Setiap bagian otak dapat mengalami
embolisme, tetapi embolus biasanya embolus akan menyumbat bagian bagian yang
sempit.. tempat yang paling sering terserang embolus sereberi adalah arteria sereberi
media, terutama bagian atas.
Perdarahan serebri : perdarahan serebri termasuk urutan ketiga dari semua
penyebab utama kasus GPDO (Gangguan Pembuluh Darah Otak) dan merupakan
sepersepuluh dari semua kasus penyakit ini. Perdarahan intrakranial biasanya
disebabkan oleh ruptura arteri serebri. Ekstravasasi darah terjadi di daerah otak dan
/atau subaraknoid, sehingga jaringan yang terletakdi dekatnya akan tergeser dan
tertekan. Darah ini sangat mengiritasi jaringan otak, sehingga mengakibatkan
vasospasme pada arteria di sekitar perdarahan. Spasme ini dapat menyebar ke seluruh
hemisper otak dan sirkulus wilisi. Bekuan darah yang semula lunak menyerupai selai
merah akhirnya akan larut dan mengecil. Dipandang dari sudut histologis otak yang
terletak di sekitar tempat bekuan dapat membengkak dan mengalami nekrosis. Karena
kerja enzim enzim akan terjadi proses pencairan, sehingga terbentuk suatu rongga.
Sesudah beberapa bulan semua jaringan nekrotik akan terganti oleh astrosit dan
kapiler kapiler baru sehingga terbentuk jalinan di sekitar rongga tadi. Akhirnya
rongga terisi oleh serabut serabut astroglia yang mengalami proliferasi. Perdarahan
subaraknoid sering dikaitkan dengan pecahnya suatu aneurisme. Kebanyakan
aneurisme

mengenai sirkulus

mempermudah

kemungkinan

wilisi.

Hipertensi

atau

ruptur.

Sering

terdapat

gangguan perdarahan
lebih

dari

satu

aneurisme (Smeltzer C. Suzanne, 2002) (http://askepsnh.blogspot.com/2013/03/askepsnh.html).


E. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan umum 5 B dengan penurunan kesadaran :
1. Breathing (Pernapasan)
a. Usahakan jalan napas lancar.
3

b. Lakukan penghisapan lendir jika sesak.


c. Posisi kepala harus baik, jangan sampai saluran napas tertekuk.
d. Oksigenisasi terutama pada pasien tidak sadar.

2. Bood (Tekanan Darah)


a. Usahakan otak mendapat cukup darah.
b. Jangan terlalu cepat menurunkan tekanan darah pada masa akut.3.
3. Brain (Fungsi otak)
a. Atasi kejang yang timbul.
b. Kurangi edema otak dan tekanan intra cranial yang tinggi.
4. Bladder (Kandung Kemih)
Pasang katheter bila terjadi retensi urine
5. Bowel (Pencernaan)
a. Defekasi supaya lancar.
b. Bila tidak bisa makan per-oral pasang NGT/Sonde.

6. Menurunkan kerusakan sistemik.


Dengan infark serebral terdapat kehilangan irreversible inti sentral
jaringan otak. Di sekitar zona jaringan yang mati mungkin ada jaringan yang
masih harus diselamatkan. Tindakan awal yang harus difokuskan untuk
menyelamatkan sebanyak mungkin area iskemik. Tiga unsur yang paling
penting untuk area tersebut adalah oksigen, glukosa dan aliran darah yang
adekuat. Kadar oksigen dapat dipantau melalui gas-gas arteri dan oksigen
dapat diberikan pada pasien jika ada indikasi. Hypoglikemia dapat dievaluasi
dengan serangkaian pemeriksaan glukosa darah.
7. Mengendalikan Hypertensi dan Peningkatan Tekanan Intra Kranial
Kontrol hypertensi, TIK dan perfusi serebral dapat membutuhkan
upaya dokter maupun perawat. Perawat harus mengkaji masalah-masalah ini,
mengenalinya dan memastikan bahwa tindakan medis telah dilakukan. Pasien
dengan hypertensi sedang biasanya tidak ditangani secara akut. Jika tekanan
darah lebih rendah setelah otak terbiasa dengan hypertensi karena perfusi yang
adekuat, maka tekanan perfusi otak akan turun sejalan dengan tekanan darah.
Jika tekanan darah diastolic diatas kira-kira 105 mmHg, maka tekanan tersebut
harus diturunkan secara bertahap. Tindakan ini harus disesuaikan dengan
efektif menggunakan nitropusid. ika TIK meningkat pada pasien stroke, maka
hal tersebut biasanya terjadi setelah hari pertama. Meskipun ini merupakan
respons alamiah otak terhadap beberapa lesi serebrovaskular, namun hal ini
merusak otak. Metoda yang lazim dalam mengontrol PTIK mungkin dilakukan
seperti hyperventilasi, retensi cairan, meninggikan kepala, menghindari fleksi
4

kepala, dan rotasi kepala yang berlebihan yang dapat membahayakan aliran
balik vena ke kepala. Gunakan diuretik osmotik seperti manitol dan mungkin
pemberian deksamethasone meskipun penggunaannya masih merupakan
kontroversial.
8. Terapi Farmakologi
Antikoagulasi dapat diberikan pada stroke non haemoragik, meskipun
heparinisasi pada pasien stroke iskemik akut mempunyai potensi untuk
menyebabkan komplikasi haemoragik. Heparinoid dengan berat molekul
rendah (HBMR) menawarkan alternatif pada penggunaan heparin dan dapat
menurunkan kecendrungan perdarahan pada penggunaannya. Jika pasien tidak
mengalami stroke, sebaliknya mengalami TIA, maka dapat diberikan obat anti
platelet. Obat-obat untuk mengurangi perlekatan platelet dapat diberikan
dengan harapan dapat mencegah peristiwa trombotik atau embolitik di masa
mendatang. Obat-obat antiplatelet merupakan kontraindikasi dalam keadaan
adanya stroke hemoragi seperti pada halnya heparin.
(http://askepsnh.blogspot.com/2013/03/askep-snh.html)
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Radiologi
a. CT Scan
Memperlihatkan adanya edema , hematoma, iskemia dan adanya infark
b. Angiografi serebral
membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti
c.
d.
e.
f.

perdarahan atau obstruksi arteri


MRI : Menunjukan daerah yang mengalami infark, hemoragik
EEG: Memperlihatkan daerah lesi yang spesifik
Ultrasonografi Dopler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena
Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng

pineal
2. Pemeriksaan Laboratorium
a. Pungsi lumbal : pemeriksaan likuor yang merah biasanya dijumpai
pada perdarahan yang masif, sedangkan perdarahan yang kecil biasanya
warna likuor masih normal (xantokhrom) sewaktu hari-hari pertama.
b. Pemeriksaan darah rutin.
c. Pemeriksaan kimia darah : pada stroke akut dapat terjadi hiperglikemia.
Gula darah dapat mencapai 250 mg dalam serum dan kemudian
d.

berangsur-angsur turun kembali.


Pemeriksaan darah lengkap : unutk mencari kelainan pada darah itu
sendiri (Hudak, 2000).
5

(http://askepsnh.blogspot.com/2013/03/askep-snh.html)

G. KOMPLIKASI
Komplikasi stroke menurut Smeltzer (2002):
1. Komplikasi Dini (0-48 jam pertama)
a. Edema serebri: defisit neurologis cenderung memberat, dapat
mengakibatkan peningkatan tekanan intrakranial, herniasi, dan
akhirnya menimbulkan kematian.
b. Infark miokard: penyebab kematian mendadak pada stroke stadium
awal.
2. Komplikasi Jangka pendek (1-14 hari pertama)
a. Pneumonia: Akibat immobilisasi lama
b. Infark miokard
c. Emboli paru: Cenderung terjadi 7 -14 hari pasca stroke, seringkali pada
saat penderita mulai mobilisasi.
d. Stroke rekuren: Dapat terjadi pada setiap saat.
3. Komplikasi Jangka panjang
Stroke rekuren, infark miokard, gangguan vaskular lain: penyakit vaskular
perifer.
(http://askepsnh.blogspot.com/2013/03/askep-snh.html).
H. MASALAH KEPERAWATAN YANG SERING MUNCUL
1. Hambatan mobilitas fisik b.d hemiparesis, kehilangan keseimbangan dan
2.
3.
4.
5.
6.
7.

koordinasi, spastisitas dan cedera otak


Deficit perawatan diri mandi b.d imobilisasi stroke
Deficit perawatan diri berpakaian b.d imobilisasi stroke
Deficit perawatan diri eliminasi b.d imobilisasi stroke
Deficit perawatan diri makan b.d imobilisasi stroke
Kerusakan integritas kulit b.d penurunan imobilitas fisik
Ketidakefektifan perfusi jaringan otak b.d penurunan suplai darak ke jaringan
otak karena masalah vaskularisasi
(Kusuma, 2013)

I. DISCHARGE PLANNING
1. Mencegah terjadinya luka kulit akibat tekanan
2. Mencegah terjadinya kekakuan sendi dan otot
3. Memulai latihan ringan untuk mengaktifkan batang tubuh
4. Mengontrol fakter resiko terjadinya stroke rukuren
6

5. Diet rendah lemak, garam, berhenti merokok


6. Kelola stress dengan baik
7. Mengetahui tanda dan gejala stroke
(Kusuma, 2013)
J. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Primer
a. Airway
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret
akibat kelemahan reflek batuk
b. Breathing
Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan
yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi
c. Circulation
TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut,
takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan
membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut
2. Pengkajian Sekunder
a. Aktivitas dan istirahat
Data Subyektif:
1) kesulitan dalam beraktivitas ; kelemahan, kehilangan sensasi atau
paralysis.
2) mudah lelah, kesulitan istirahat ( nyeri atau kejang otot )
Data obyektif:
1) Perubahan tingkat kesadaran
2) Perubahan tonus otot ( flaksid atau spastic), paraliysis ( hemiplegia ) ,
kelemahan umum.
3) gangguan penglihatan
b. Sirkulasi
Data Subyektif:
Riwayat penyakit jantung (

penyakit katup jantung, disritmia, gagal

jantung , endokarditis bacterial ), polisitemia.


Data obyektif:
1) Hipertensi arterial
2) Disritmia, perubahan EKG
3) Pulsasi : kemungkinan bervariasi
4) Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal
c. Integritas ego
Data Subyektif:
Perasaan tidak berdaya, hilang harapan
Data obyektif:
1) Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat, kesedihan , kegembiraan
2) kesulitan berekspresi diri
d. Eliminasi
7

Data Subyektif:
1) Inkontinensia, anuria
2) distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh ), tidak adanya suara
usus( ileus paralitik )
e. Makan/ minum
Data Subyektif:
1) Nafsu makan hilang
2) Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK
3) Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan, disfagia
4) Riwayat DM, Peningkatan lemak dalam darah
Data obyektif:
1) Problem dalam mengunyah ( menurunnya reflek palatum dan faring )
2) Obesitas ( factor resiko )

f. Sensori neural
Data Subyektif:
1) Pusing / syncope ( sebelum CVA / sementara selama TIA )
2) nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub
arachnoid.
3) Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat seperti
lumpuh/mati
4) Penglihatan berkurang
5) Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas dan
pada muka ipsilateral ( sisi yang sama )
6) Gangguan rasa pengecapan dan penciuman
Data obyektif:
1) Status mental ; koma biasanya menandai stadium perdarahan ,
gangguan tingkah laku (seperti: letergi, apatis, menyerang) dan
gangguan fungsi kognitif
2) Ekstremitas : kelemahan / paraliysis ( kontralateral pada semua jenis
stroke, genggaman tangan tidak imbang, berkurangnya reflek tendon
dalam ( kontralateral )
3) Wajah: paralisis / parese ( ipsilateral )
4) Afasia ( kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa, kemungkinan
ekspresif/ kesulitan berkata kata, reseptif / kesulitan berkata kata
komprehensif, global / kombinasi dari keduanya.
5) Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat, pendengaran, stimuli
taktil
6) Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik
8

7) Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak bereaksi pada sisi
ipsi lateral
g. Nyeri / kenyamanan
Data Subyektif:
Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya
Data obyektif:
Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan otot / fasial
h. Respirasi
Data Subyektif:
Perokok ( factor resiko )
i. Keamanan
Data obyektif:
1) Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan
2) Perubahan persepsi terhadap tubuh, kesulitan untuk melihat objek,
hilang kewasadaan terhadap bagian tubuh yang sakit
3) Tidak mampu mengenali objek, warna, kata, dan wajah yang pernah
dikenali
4) Gangguan berespon terhadap panas, dan dingin/gangguan regulasi suhu
tubuh
5) Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap keamanan,
berkurang kesadaran diri
j. Interaksi social
Data obyektif:
Problem berbicara, ketidakmampuan

berkomunikasi

(Doenges

E,

Marilynn,2000 hal 292)


3. Diagnosa keperawatan
(NANDA 2002-2014) Tujuan dan kriteria hasil (NOC) Rencana (NIC)
a. Gangguan perfusi jaringan otak berhubungan dengan sirkulasi darah ke otak
tidak adekuat Setelah dilakukan tindakan keperawatan, perfusi jaringan
serebral adekuatKriteria hasil :
1) Warna kulit normal
2) Suhu kulit hangat
3) Kekuatan fungsi otot
4) Tidak ada nyeri pada ekstremitas
5) Tekanan darah dalam rentang yang normal
6) Tidak mengalami nyeri kepala
NIC : perawatan sirkulasi
Peningkatan perfusi serebral
a) Kaji kesadaran klien
b) Monitor status respiratori
c) Kolaborasi obat-obatan untuk
hemodinamik
d) Monitor TTV
9

mempertahanka

status

e)
f)
g)
h)
b. Gangguan

Monitor tonus otot pergerakan


Monitor tekanan intrakranial dan respon neurologis
Catat perubahan pasien dalam merespon stimulus
Monitor status cairan
mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan fungsi motorik

sekunder akibat kerusakan neuron


NOC
1) Joint movement : active
2) Mobility level
3) Self care: ADL
4) Transfer performance
Setelah dilakukan tindakan keperawatan,gangguan mobilitas fisik
dapat teratasi
Kriteria Hasil :
1) Klien meningkat dalam aktivitas fisik
2) Mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas
3) Memperagakan penggunaan alat bantu untuk mobilisasi
NIC :
1) Exercise therapy: ambulation
2) Monitor TTV sebelum dan sesudah latihan dan lihat respon pasien
saat latihan
3) Konsultasikan dengan terapi fisik tentang rencana ambulasi sesuai
kebutuhan
4) Bantu klien untuk menggunakan tongkat saat berjalan dan cegah
terhadap cedera
5) Ajarkan pasien atau keluarga tentang teknikambulasi
6) Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
7) Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADL secara mandiri
sesuai kemampuan
8) Dampingi dan bantu pasien saat mobilisasidan batu penuhi
kebutuhan ADL pasien
9) Ajarkan pasien dalam bagaimana merubah posisi
c. Kurang pengetahuan b/d keterbatasan pengetahuan penyakitnya, tindakan
yang dilakukan, obat obatan yang diberikan, komplikasi yang mungkin
muncul dan perubahan gaya hidup
NOC :
1) Kowlwdge : disease process
2) Kowledge : health Behavior
Kriteria Hasil :
a) Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang
penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan
b) Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang
dijelaskan secara benar
10

c) Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang


dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya.
NIC :
Teaching : disease Process
1) Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses
penyakit yang spesifik
2) Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini
berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.
3) Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit,
dengan cara yang tepat
4) Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
5) Identifikasi kemungkinan penyebab, dengna cara yang tepat
6) Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang
tepat
7) Hindari harapan yang kosong
8) Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk
mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau proses
pengontrolan penyakit
9) Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
10) Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second
opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan
11) Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara yang
tepat
12) Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan
pada pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat

11

DAFTAR PUSTAKA

Batticaca, F. B. (2008). Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem


Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.
Elix. 2013. Askep SNH. http://askepsnh.blogspot.com/2013/03/askep-snh.html. (Diakses
tanggal 30/09/2014 jam 05.00).
Herdman, T.H. 2012. NANDA Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-2014.
Jakarta: EGC.
Kusuma, H. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA
NIC-NOC; Jilid 2. Yogyakarta:Mediaction.
Taisir.

2012.
Asuhan
Keperawatan
stroke
non
Hemoragik.
http://asuhankeperawatanstrokenonhemoragik.blogspot.com/2012/12/askep-strokenon-hemoragiksnh.html. (diakses tanggal 30/09/2014 jam 04.15 WIB).

Yayuk.

2013.
Asuhan
Keperawatan
Stroke
hemoragik.
http://asuhankeperawatanstrokehemoragik.blogspot.com/.
(Diakses
tanggal
30/09/2014 jam 04.00 WIB).

12