Anda di halaman 1dari 14

STRATEGI PEMASARAN SEBAGAI USAHA MENGEMBANGKAN

EKOWISATA REGIONAL (Studi Kasus pada objek wisata Goa Pindul)


ABSTRAK
Dhian Tyas Untari*
Maria Wikantari*
Dhona Shahreza*
Novita Delimaputri*
*Lecturers of Economics Education of FIPPS of Universitas Indraprasta PGRI
e-mail: tyas_un@yahoo.co.id; mwikantari@gmail.com; 2reza@yahoo.com
Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor penyumbang devisa terbesar setelah migas. Sektor
pariwisata juga merupakan salah satu sektor pembangunan yang mempunyai manfaat ganda atau
multiplier effect secara ekonomi bagi pemerintah daerah melalui peningkatan Pendapatan Asli.
Daerah (PAD) dan ekonomi masyarakat melalui perluasan kesempatan kerja dan peningkatan
pendapatan masyarakat. Kegiatan mass tourism memberikan dampak yang sangat luas, bahkan
seringkali kerusakan lingkungan dan degradasi nilai nilai sosial budaya masyarakat
mendominasi dampak dari kegiatan mass tourism. Oleh sebab itu dalam perkembangannya mulai
banyak dikenalkan kegiatan wisata yang berwawasan lingkungan. Konsep ekowisata sendiri
merupakan refleksi dari sebuah tanggungjawab bukan hanya tanggungjawab untuk melindungani
lingkungan, tetapi tanggungjawab kepada ekonomi masyarakat dan perlindungan pada nilai
nilai sosial budaya masyarakat. Selain itu kegiatan ekowisata mengandung nilai nilai
konservasi, edukasi dan peningkatan kepuasan pengunjung melalui kegiatan wisata yang
disuguhkan. Tulian ini merupakan sebuah conceptual paper tentang bagaimana kegiatan
ekowisata, mengapa ekowisata menjadi sebuah jenis wisata masa depan yang menjunjung tinggi
konsep keberlanjutan dan bagaimana strategi pemasaran ekowisata sebagai salah satu usaha
mengembangkan ekowisata regional.
Keyword

: Strategi pemasaran, pengembangan ekowisata, ekowisata regional.

1. PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang

Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor penyumbang devisa terbesar setelah
migas. Sektor pariwisata juga merupakan salah satu sektor pembangunan yang mempunyai
manfaat ganda atau multiplier effect secara ekonomi bagi pemerintah daerah melalui
peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan ekonomi masyarakat melalui

perluasan

kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan. Di Indonesia sektor wisata merupakan salah satu
penyumbang devisa yang signifikan bagi Indonesia. Secara keseluruhan, sektor pariwisata
menjadi penyumbang no 5 pada tahun 2008, no 4 pada tahun 2009 dan no 5 pada tahun 2010.
1

Jika dilihat sumbangan sektor non migas, sektor pariwisata menempati urutan 2 dan 3 (Dewi ,
2011; 4).
Permintaan wisata semakin meningkat dari waktu kewaktu. Permintaan wisata meningkat
seiring dengan kemajuan teknologi transportasi sehingga memudahnya mobilitas dari satu
wilayah ke wilayah yang lain, kemajuan teknologi informasi yang memungkinkan terbukanya
informasi tentang daerah tujuan wisata, semakin panjang waktu senggang yang tersedia dan
dapat digunakan untuk berlibur (Yoeti, 2008; 10 -12), meningkatnya pendapatan masyarakat,
kebijakan pemerintah dan aspek psikografis wisatawan (Pitana dan Gayatri, 2005) . Secara
umum permintaan pariwisata juga akan meningkat seiring dengan semakin tingginya aktifitas
masyarakat yang diiringi dengan semakin tingginya tingkat stress sehingga kegiatan rekreasi dan
wisata semakin dibutuhkan. Bahkan WTO meyakini bahwa prospek pariwisata ke depan pun
sangat menjanjikan bahkan sangat memberikan peluang besar, terutama apabila menyimak
angka-angka perkiraan jumlah wisatawan internasional (inbound tourism) berdasarkan perkiraan
WTO yakni 1,046 milyar orang (tahun 2010) dan 1,602 milyar orang (tahun 2020), diantaranya
masing-masing 231 juta dan 438 juta orang berada di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Dan akan
mampu menciptakan pendapatan dunia sebesar USD 2 triliun pada tahun 2020.
Akan tetapi kegiatan mass tourism yang banyak dikembangkan saat ini memberikan
dampak yang sangat luas, bahkan seringkali berdampak negatif terhadap lingkungan dan sosial
budaya masyarakat seperti, kerusakan lingkungan dan degradasi nilai nilai sosial budaya
masyarakat. Oleh sebab itu dalam perkembangannya mulai banyak dikenalkan kegiatan wisata
yang berwawasan lingkungan. Dengan memperhatikan daya tampung dan daya dukung sebuah
tempat wisata diharapkan dapat meminimalis dampak kerusakan ekologi yang sebabkan oleh
mass tourism, selain itu konsep co-management yang berpihak kepada pemberdayaan
masyarakat lokal yang dihapatkan masyarakat lokal medapatkan manfaat ekonomi yang lebih
banyak sehingga dapat memperbaiki keadaan sosial suatu wilayah.
Konsep ekowisata sendiri merupakan refleksi dari sebuah tanggungjawab bukan hanya
tanggungjawab untuk melindungani lingkungan, tetapi tanggungjawab kepada ekonomi
masyarakat dan perlindungan pada nilai nilai sosial budaya masyarakat. Selain itu kegiatan
ekowisata mengandung nilai nilai konservasi, edukasi dan peningkatan kepuasan pengunjung
memalui kegiatan wisata yang disuguhkan
2

Semua potensi pengembangan ekowisata yang dimiliki oleh sebuah wilayah


membutuhkan sebuah pengelolaan yang baik sehingga dapat memberikan manfaat bagi
masyarakat. Dengan menciptakan keunikan dan keistimewaan sebuah produk wisata yang
merupakan identitas dan ciri khas dari sebuah wilayah atau destinasi dapat menciptakan sebuah
pembeda bagi wilayah atau destinasi lain. Dan diharapkankan strategi diffrensiasi dalam
penciptaan nilai produk wisata dapat memberikan sesuatu yang lebih bagi konsumen, dan lebih
baik dari komputiter yang lain (Reilly, 2010; 12). Dan usaha pengembangan ekowisata disuatu
wilayah tidak akan terlepas dari bagimana wilayah tersebut dapat mengembangkan strategi
pemasaran produk wisatanya dengan efektif dan efisien.
Dengan merujuk pada pernyataan pernyataan diatas yang menyatakan pentingnya
pengembangan sektor pariwisata dan potensi pengembangan ekowisata maka tulisan ini mencoba
menggambarkan bagaimana strategi pemasaran untuk dapat mengembangkan ekowisata disuatu
wilayah. Dimulai dari pengertian wisata dan ekowisata, aspek aspek yang terkait dengan
strategi pemasaran, stakeholder dalam kegiatan ekowisata, model pengembangan ekowisata
skala regional dengan studi kasus pada wira wisata goa Pindul, Gunung Kidul.

1.2.

Perkembangan Objek Wisata Goa Pindul


Gua Pindul adalah gua alam di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten

Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Gua ini pada dasarnya merupakan tempat aliran
sungai bawah tanah yang cukup banyak di kawasan pegunungan kapur di Gunung Kidul. Goa
Pindul termasuk objek wisata yang baru, sekitar tahun 2010 baru dibuka untuk umum.
Perkembangan wisata Goa Pindul maju dengan sangat pesat dari segi permintaan jumlah
pengunjung dalam 1 tahun mencapai dari 25 ribu pengunjung bahkan dalam momen lebaran lalu
setiap hari rata-rata dikunjungi 2 ribu orang per minggu. Selain itu berdirinya desa wisata
bejiharjo mampu memberdayakan masyarakat seperti jumlah pemandu tetap ada 47 orang dan
cadangan ada 37 orang, bahkan pada hari-hari besar mencapai 100 orang , jumlah Homestay
dirumah rumah penduduk mencapai 17 unit. Pedagang kaki lima yang semula 2 orang menjadi
20 orang, belum lagi petugas parkir dan penjual jasa lainya

2. TINJAUAN AKADEMIS

2.1.

Wisata dan Ekowisata


Wisata mengandung arti bepergian bersama untuk bersenang- senang. Dalam Webstars

Dictionary, 1996 dalam Avenzora; 2008 dinyatakan bahwa Tourism is a trip of excursion
usually ending at the point of beginning.

Kurt Morgenroth dalam Warpani (2007)

menungkapkan bahwa dalam arti sempit wisata adalah lalu lintas orang orang yang
meninggalkan tempat kediamannya untuk sementara waktu, untuk berpesiar di tempat lain
semata mata sebagai konsumen dari buah hasil perekonomian dan kebudayaan, guna
memenuhi kebutuhan hidup, budaya atau keinginan yang beraneka ragam dari pribadinya.
Dari definisi definisi diatas dapat dapat disimpulkan bahwa saat kita berbicara tentang
wisata maka ada perpindahan manusia dari tempat tinggalnya ke tempat lain untuk sementara.
Terjadinya perpindahan manusia tersebut karena adanya perbedaan, perbedaan tersebut dapat
berupa perbedaan iklim, perbedaan budaya, perbedaan geografis dan lain lain.
Perkembangan sektor wisata saat ini, sangat dipengaruhi oleh ketersediaan waktu luang,
kemudahan akses informasi, dan semakin baiknya akses transportasi serta semakin
berkembangnya pendidikan yang didukung dengan pengetahuan yang baik tentang teknologi
membuat operator maupun pengelola wisata dapat memberikan layanan wisata yang baik.
Bahkan saat ini wisata merupakan sebuah kebutuhan mengingat aktivitas masyarakat yang
semakin padat, sedangkan mobilitas semakin terbatas Paradox peningkataan aktifitas yang
berbanding terbalik dengan keterbatasan mobilitas menyebabkan tingkat stress masyarakat. Hal
ini menyebabkan kebutuhan masyarakat untuk berwisata semakin meningkat.
Perkembangan sektor wisata yang mengarahkan pada mass tourism dimana kegiatan
wisatanya berorientasi kepada kuantiti atau jumlah kunjungan menyebabkan dampak yang
negatif. Kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan wisata yang melebihi daya
tampung, konfersi lahan menjadi area perhotelan, polusi yang disebabkan oleh limbah buangan
dari kegiatan wisata merupakan beberapa dampak negatif kegiatan mass tourism terhadap
lingkungan. Selain itu kegiatan mass tourism juga dapat mengikis kebudayaan lokal. Lebih
parahnya lagi perkembangan wisata secara umum mengundang investor investor asing untuk
mengembangkan usaha. Efeknya orang asing yang mendapatkan buah manis dari hasil
peningkatan sektor wisata tersebut. Masyarakat sekitar hanya menjadi penonton tanpa
mendapatkan mafaat yang signifikan dari pengembangan wisata di daerahnya.
4

Keprihatinan ini yang menyebabkan bergersernya kegiatan mass tourism kearah


ecotourism atau ekowisata. The Ecotourism Association of Australia mendefinisikan ekowisata
sebagai kegiatan wisata yang secara ekologis berkelanjutan dan mendorong perkembangan
pemahaman, penghargaan dan tindakan konservasi.
Menurut Form (2004) dalam Damanik dan Weber (2006:38) ekowisata merupakan
perjalanan outdoor dikawasan alam yang tidak menimbulkan kerusakan lingkungan serta
memberikan perhatian besar pada lingkungan alam dan budaya lokal. Sejalan dengan pengetian
diatas The Internasional Ecotourism Society dalam Nugroho (2011; 11) mendefinisikan
ekowisata sebagai perjalanan wisata ke wilayah wilayah alami dalam rangka mengkonservasi
dan menyelamatkan lingkungan dan memberi penghidupan terhadap penduduk lokal.
Banyak yang beranggapan bahwa ekowisata adalah wisata yang dilakukan di alam
terbuka, sehingga saat berbicara tentang muatan konservasi dalam kegiatan ekowisata maka yang
terbersit adalah bagaimana mengkonservasi flora dan fauna. Itu bukan suatu hal yang salah,
hanya saja ekowisata memiliki muatan yang lebih luas lagi. Ekowisata merupakan gabungan dari
dua kata yaitu ekologi dan wisata. Ekologi merupakan cabang ilmu pengetahuan yang
mempelajari tentang hubungan makluk hidup dan lingkungannya. Lingkungan dimana
didalamnya terdapat interaksi manusia dengan alam, manusia dengan manusia lain ataupun
dengan kelompok lain. Lingkungan yang membentuk sebuah budaya pada masyarakat. Sehingga
budaya dengan hasil hasil kebudayaan baik yang tangible maupun yang intangible merupakan
sesuatu yang perlu di konservasi.
Kegiatan ekowisata berusaha untuk meningkatkan awareness masyarakat baik sebagai
konsumen atau wisatawan maupun masyarakat lokal. Dengan demikian muatan edukasi sangat
lekat dengan kegiatan ekowisata, sehingga peran interpretasi yang baik yang dapat
menggambarkan objek wisata dengan baik dan dapat mendorong masyarakat untuk mencintai
serta melindungi lingkungannya maupun bentuk bentuk budayanya. Hal ini juga sesuai dengan
definisi yang diberikan oleh The Office of National Tourism Australia dalam Avenzora (2008;
10), bahwa ekowisata merupakan wisata berbasis alam yang didalamnya mengandung
interpretasi terhadap lingkungan alam dan budaya serta pengelolaan sumber daya alamnya secara
ekologis bersifat lestari.

2.2.

Stakeholder dalam kegiatan ekowisata


Menurut Wibisono (2007 ; 96), stakeholder adalah pihak atau kelompok yang

mempunyai kepentingan baik langsung maupun tidak langsung terhadap eksistensi dan aktivitas
perusahaan.
Dalam pariwisata stakeholder yang berperan dalam pengembangan ekowisata regional
adalah pemerintah, investor, tour oprator, karyawan, masyarakat, NGO, pemasok kebutuhan
wisata, akademisi dan wisatawan sebagai user dari kegiatan wisata. Dalam usaha pembangunan
wisata berbasis masyarakat lokal, keterlibatan masyarakat lokal menjadi penting selain investor
dan tour oprator. Dan untuk mengintegrasikan fungsi dan peranan masing masing stakeholder
perlu peranan pemerintah dengan perundangan dan kebijakan yang dapat dibuat untuk
mendukung pembangunan wisata tersebut.

2.3.

Model pengembangan ekowisata skala regional

Pengembangan ekowisata skala regional merupakan bagian integral dari semua produk
hospitality, oleh karena itu pendekatan untuk pembangunan produk dan layanan harus sama
(Waller, 1996; 193). Micheal Porter dalam Kotler (2009; 37), menciptakan model rantai nilai
sebuah produk bagi pelanggan. Model ini terdiri dari 9 kegiatan, 5 adalah kegiatan primer dan 4
adalah kegiatan pendukung. Kegiatan primer terdiri dari logistik ke dalam, pengubahan bentuk
menjadi produk, pengiriman keluar, pemasaran dan pelayanan. Sedangkan kegiatan pendukung
meliputi pengadaan, pengembangan teknologi, manajemen SDM dan insfratruktur perusahaan.
Model lain dalam pemasaran dikenal Model Gronross, berkaitan dengan pengembangan
ekowisata skala regional, selain eksternal marketing keberhasilan pembangunan ekowisata skala
regional juga ditentukan oleh faktor- faktor lain yaitu kemampuan internal (internal marketing)
yaitu kemampuan untuk menciptakan sumber daya yang kompeten untuk memberikan layanan
yang baik bagi wisatawan dan interaksi antara wisatawan dan penyedia layanan (interactive
marketing).
Dalam pengembangan ekowisata skala regional, terdapat dua aspek yang menjadi
perhatian yaitu aspek makro dan aspek mikro. Pada aspek makro lebih menitik beratkan kepada
tanggungjawab pemerintah dalam mengkoordinasi semua stakeholder internal sehingga semua
stakeholder dapat berperan secara maksimal dalam menyediakan layanan termasuk didalamnya
bagaimana pemerintah pengatur pola investasi serta kebijakan yang terkait dengan
6

ketenagakerjaan. Selain itu aspek makro juga menyangkut bagaimana pemerintah menyediakan
sarana fisik seperti akses transportasi dan akomodasi serta aspek non fisik seperti kebijakan dan
perundangan sebagi pendukung dalam pengembangan ekowisata skala regional sehingga
stakeholder internal secara maksimal dapat memanfaatkan peluang yang ada dalam pasar wisata
(Untari, 2013).
Sedangkan dalam aspek mikro lebih menekankan kepada bagaimana stakeholder internal
nonpemerintah sebagai penyedia jasa wisata dapat meningkatkan produktifitas dan kinerja
sumber daya yang dimiliki termasuk dapat memberikan layanan yang baik bagi pengunjung,
selain itu dalam aspek mikro juga menyangkut bagaimana stakeholder internal nonpemerintah
dapat mengembangkan strategi pemasaran untuk meningkatkan kuantitas dari pengunjung dan
kualitas produk dan layanan wisata.

3. KONSEP PEMASARAN PADA OBJEK WISATA GOA PINDUL


3.1.

Strategi Pemasaran Objek wisata Goa Pindul, Gunung Kidul

Saat ini wira wisata Goa Pindul sudah banyak dikenal diseluruh Indonesia. Hal tersebut tidak
lepas dari strategi pemasaran yang telah dilakukan oleh pengelola wira wisata tersebut agar dapat
mencapai tujuan yang diharapkan. Strategi pemasaran dapat dibagi kedalam empat jenis yaitu:
(1) Merangsang kebutuhan primer dengan menambah jumlah pemakai; (2) Merangsang
kebutuhan primer dengan memperbesar tingkat pembelian; (3) Merangsang kebutuhan selektif
dengan mempertahankan pelanggan yang ada; dan (4) Merangsang kebutuhgan selektif dengan
menjaring pelanggan baru. Beberapa hal terkait strategi pemasaran yang teridentifikasikan
sebagai berikut :
1) Strategi promosi
Dengan keterbatasan dana awal yang dimiliki, maka pengelola wira wisata Goa
Pindul mengundang setiap wartawan baik media cetak maupun media massa yang sedang
meliput khususnya di kota Jokja untuk berkunjung ke Goa Pindul, dengan harapkan
wartawan media cetak maupun media massa tersebut dapat mempublikasi Goa Pindul
sebagai alternatif kunjungan wisata.
2) Strategi pengembangan produk
Produk wisata Goa pindul adalah salah satu dari goa di daerah Gunungkidul yang
dialiri aliran sungai dibawah tanah. Panjang Totalnya 300 m dan lebar rata-ratanya 5-6 m,
7

kedalam air antara 4-7 m, tinggi permukaan air kelangit-langit gua sekitar 4,5 m, waktu
tempuh sekitar 20-40 menit. Produk wisata cave tubing ini dikombinasikan dengan kegiatan
wisata river tubing. Pengelola wira wisata dapat meningkatkan nilai produk wisatanya
dengan mempertahankan kesederhanaan dan kelokalan sarana dalam melayani wisatawan.
Selain itu pengelola wira wisata Goa Pindul akan mengembangkan produk wisata
lain yaitu outbound, mengingat potensi alam yang dimiliki dan belum secara keseluruhan
termanfaatkan secara maksimal. Pengembangan produk outbound ini harus dilaksanakan
untuk menghindari kejenuhan konsumen kepada produk yang sudah ada, sehingga produk
tersebut tidak mengalami tahap decline yang dapat berpengaruh terhadap kelangsungan
hidup pengelola wisata Goa Pindul.
3) Strategi distribusi.
Mengingat letaknya yang cukup jauh dari jalan utama, pengelola wira wisata Goa
Pindul menyediakan papan informasi yang cukup banyak, selain itu pengelola wira wisata
Goa Pindul memberdayakan masyarakat sekitar sebagai pemandu atau penunjuk jalan
menuju lokasi wisata dengan jasa antar gratis dari para pengelola Goa Pindul agar
mendapatkan pengunjung. Hal ini sangat terkait dengan tujuan awal pengembangan wira
wisata Goa Pindul yaitu semaksimal memberdayakan masyarakat lokal, agar masyarakat
lokal secara ekonomi dan sosial mendapatkan manfaat dari pengembangan kegiatan wisata
tersebut.
Potensi pendukung daya tarik objek yang dapat mendukung keputusan saluran
distribusi wisata ini antara lain: prasarana jalan yang memadai, sarana akomodasi dengan
fasilitas pemandu, pelampung bodyrafting, ban tubing, sepatu air, wedang (minuman)
pindul, sarana transportasi, dan perilaku masyarakat yang ramah. Walaupun pendukung
sudah cukup tetapi perlu adanya program bagi pengelola wisata Goa Pindul yaitu kegiatan
peningkatan kapasitas jasa pemanduan.
Dalam jasa ekowisata, konsumen harus mendatangi lokasi, maka saluran distribusi
langsung menjual produk jasa ekowisata kepada konsumen. Menjual langsung berarti
penyedia jasa ekowisata menemui langsung konsumen melalui iklan, brosur-brosur yang
dikirimkan, dan juga dapat menggunakan situs di internet. Dalam hal ini perlu dijelaskan
kepada konsumen secara rinci bagaimana wisatawan dapat mencapai lokasi termasuk
perkiraan biaya.
8

4) Strategi harga.
Harga tiket untuk cave tubing adalah Rp 30.000, sedangkan river tubing Rp 45.000.
Harga tersebut sudah termasuk perlengkapan (ban dan jaket pelampung), asuransi dan jasa
pemandu (untuk Kali Oyo sudah termasuk transportasi). Harga yang di tetapkan oleh
pengelola cukup murah mengingat segmen peminat wisata Goa Pindul adalah wisatawan
yang berasal dari kota bahkan luar negri yang memiliki kemampuan membayar cukup
tinggi.
5) Strategi layanan dan co-management
Saat ini dimana objek wisata Goa Pindul sudah sangat berkembang atas dukungan
dari semua stakeholder baik pemerintah sampai masyarakat sangat tinggi, bahkan banyak
perusahaan yang mengalokasikan dana CSRnya untuk pengembangan wira wisata Goa
Pindul tersebut. Dan semua layanan semaksimal mungkin mengacu pada nilai nilai
kesederhanaan dan kelokalan. Baik dari menu makanan yang disediakan, sarana dan
prasarana, suasana sampai penyedia layanan adalah masyarakat sekitar.

3.2. Tantangan Dalam Pengembangan Strategi Pemasaran Wira Wisata Goa Pindul,
Gunung Kidul
Keberhasilan strategi pemasaran yang telah dilakukan oleh pengelola wira wisata Goa
Pindul telah mampu mengangkat perekonomian masyarakat Gunung Kidul khususnya warga
desa Bejiharjo, dimana sebelumnya Kabupaten Gunung Kidul terkenal dengan kemiskinannya
kini cukup maju dengan keberhasilannya mengembangkan wisata alamnya. Tetapi berkaitan
dengan pengembangan ekowisata dimana terdapat prinsip keberlanjutan didalamnya maka
sebuah tantangan muncul, yaitu bagaimana dapat mempertahankan permintaan wisata dan
kunjungan wisata ke Goa Pindul, saat ini dengan konsep mass tourism yang dilakukan oleh
pengelola objek wisata Goa Pindul, berakibat buruk bagi sumber daya alam yang merupakan
produk wisatanya, selain itu jumlah wisatawan yang banyak akan mengurangi kualitas layanan
yang dapat diberikan hal ini berakibat pada berkurangnya kepuasan pengunjung. Saat kepuasan
pengunjung berkurang, maka dikhawatirkan akan mengurangi demand dan kunjungan
wisatawan.
Untuk menjaga keberlanjutan produk ekowisata yang umumnya sangat rentan terhadap
kerusakan maka perlu mempertimbangkan carring capacity dari sebuah objek wisata. Dengan
9

memahami jumlah carring capacity dari sebuah produk ekowisata dan mempertimbangkan
demand dari kunjungan wisata maka pengelola dapat menententukan strategi harga, tentunya
strategi penentuan harga tersebut dikaitkan dengan besaran biaya oprasional yang dibutuhkan.
Dengan teridentifikasikanya demand wisatawan dari kegiatan ekowisata dan dengan
ditetapkanya harga semakin mengerucut pertanyaan pada siapa target pasar dari kegiatan
ekowisata tersebut. Saat target pasar kegiatan ekowisata telah teridentifikasi maka lebih mudah
untuk menentukan strategi promosi, strategi disribusi dan strategi layanan yang akan diberikan
kepada wisatawan. Mengingat setiap segmen wisatawan mempunyai preferensi dan harapan
yang berbeda dalam menikmati wisata.
Sistem pemasaran ekowisata tidak bisa dilakukan dengan cara menunggu bola, maka
pengelola harus menjemput bola. Artinya, setiap informasi mengenai produk harus bisa sampai
pada calon konsumen. Berbagai media selain yang telah disebutkan diatas, dapat dimanfaatkan
untuk memasarkan produk wisata Goa Pindul antara lain melalui pameran dan pasar wisata di
dalam maupun luar negeri. Strategi pemasaran dapat dilakukan dengan menjalin kemitraan
dengan operator-operator yang sudah eksis di pasaran dalam maupun luar negeri, misalnya:
Asosiasi Pekerja Pariwisata Indonesia (ASPPI), Gabungan Industri Pariwasat Indonesia (GIPI),
Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI). Strategi lain yaitu dengan memanfaatkan jaringan
informasi dan pemasaran yang ada seperti Masyarakat Ekowisata Indonesia (MEI), Asita
(Association of The Indonesia Tours and Travel Agencies) Home Page dan lain-lain.
Kegiatan pemasaran dapat juga dilaksanakan dengan promosi dua arah seperti membuat
acara-acara interaktif atau sistem direct promotion dengan metode visit Indonesia year dimana
bisa dibuat promosi gencar ke luar dan dalam negeri dengan membuat beberapa event pendukung
yang menarik atau memilih duta-duta wisata untuk memperkenalkan daerah dan lokasi
pariwisata. Hal yang sebaiknya dilakukan oleh pemerintah adalah mengingat objek wisata yang
dijual ini masih baru adalah membuat promosinya seatraktif mungkin baik promosi langsung
maupun promosi satu arah (melalui iklan saja).
Banwell dan Duggan (2004) menyatakan bahwa terdapat tiga faktor yang harus
diperhatikan dalam menyelenggarakan suatu penyebaran informasi yang efektif, yaitu:
a. Kemauan dari audiens untuk menerima pengetahuan atau informasi baru.

Dalam kaitannya dengan wisata Goa Pindul, dapat dikatakan bahwa sebagian
besar audiens (publik) berkeinginan untuk mengetahui lebih mendalam
10

mengenai wisata ini sehingga sangat membantu dalam efektifitas penyebaran


informasi.
b. Informasi yang disampaikan harus spesifik berkaitan dengan audiens. Dalam

hal wisata Goa Pindul, informasi sudah cukup spesifik hanya perlu lebih detil.
c. Pengaruh opinion leaders terhadap publik atas sesuatu hal. Secara umum dapat

dikatakan bahwa wisata Goa Pindul bernada positif baik dari segi lokasi
maupun biaya. Hal ini sudah dapat dikategorikan efektif penyebaran
informasinyal.
Berkaitan dengan pengembangan layanan wisata, semua layanan yang maksimal dapat
diukur dengan metode Service Quality atau Servqual yaitu alat ukur kualitas layanan yang
merupakan skala multi item terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dapat digunakan
untuk mengukur persepsi pelanggan atas kualitas layanan meliputi 5 dimensi kualitas jasa
(Tjiptono, 2005:223). Lima dimensi kualitas jasa merupakan proses pemberian layanan
pelanggan yang maksimal, antara lain:
a) Reliabilitas

Aspek ini mencerminkan kemampuan untuk memberikan apa yang dijanjikan


dengan andal dan tepat serta akurat karena dimensi ini paling kritis. Dalam
kasus pengelola wisata Goa Pindul harus mampu memberikan layanan sesuai
dengan yang diiklankan yaitu: sarana transportasi yang mudah, murah dan
pemandangan alam yang indah. Untuk mampu memberikan reliabilitas maka
langkah yang harus dilakukan pengelola adalah mengidentifikasi kebutuhan
pelanggan dengan benar; menjanjikan hanya apa yang dapat berikan;
menindaklanjuti untuk memastikan bahwa produk dan layanan telah diberikan
sesuai dengan janji.
b) Assurance

Aspek ini mencerminkan kemampuan untuk memberikan sesuatu yang dapat


dipercaya (terjamin keandalannya). Strategi dapat dilakukan dengan
memberikan layanan yang asertif dengan menggunakan teknik komunikasi
yang positif dan menjelaskan produk serta layanan secara tepat.

11

c) Tangibel

Aspek ini berkaitan dengan aspek fasilitas fisik atau peralatan serta
penampilan personal dari pengelola wisata. Strategi tindakan yang dilakukan
oleh pengelola wisata Goa Pindul telah layak antara lain prasarana jalan yang
memadai,

sarana

akomodasi

dengan

fasilitas

pemandu,

pelampung

bodyrafting, ban tubing, sepatu air, sarana transportasi serta perilaku yang
ramah.
d) Empati.

Aspek ini berkaitan dengan tingkat kepedulian dan perhatian individu yang
diberikan kepada pelanggan. Strategi tindakan yang dapat dilakukan antara
lain adalah mendengarkan secara aktif pesan yang disampaikan pelanggan;
menempatkan diri dalam posisi sebagai pelangan dan merespon secara tepat
guna menjawab keinginan yang menjadi perhatian mereka
e) Responsif

Aspek ini mencerminkan kemampuan untuk membantu pelanggan dan


memberikan layanan yang cepat dan responsif. Agar mampu bersikap
responsif, maka pengelola wisata perlu menampilkan sikap positif serta
mengambil langkah dengan segera untuk membantu dan memenuhi kebutuhan
pelanggan.

4.

PENUTUP
Wisata merupakan sektor yang sangat menjanjikan baik bagi pemerintah melalui

pendapatan dari sektor pajak dan retribusinya, bagi masyarakat dapat dilihat dari peningkatan
pendapatan, serapan tenaga kerja dan peningkatan kesejahteraannya. Kegiatan wisata dapat
meningkatkan produktifitas sektor sektor yang lain. Oleh sebab itu sektor pariwisata menjadi
salah satu sektor yang seharusnya menjadi perhatian bagi pemerintah.
Berkaitan dengan otonomi daerah, dimana semua kewenangan untuk mengatur
kapariwisataan daerah menjadi tanggungjawab pemerintah daerah maka konsekuensinya adalah
pemerintah daeerah harus dapat secara lebih kreatif dan lebih inovatif dalam menggali potensi di

12

daerah masing masing. Mengingat potensi wisata banyak terdapat di daerah maka tidak ada
alasan untuk tidak mengembangkan wisata daerah untuk meningkatkan PAD.
Mengembangkan kegiatan ekowisata bukan suatu hal yang mudah, karena didalamnya
terdapat beberapa stakeholder yang mempunyai fungsi dan peranan yang berbeda dan
membutuhkan kesinergian antar stakeholder tersebut. Oleh sebab itu perlu sebuah koordinasi
antar stakeholder agar dapat memaksimalkan fungsi dan peranannya dalam mengembangkan
ekowisata dalam skala regional. Selain aspek koordinasi, aspek pemasaran juga merupakan
aspek yang penting dalam pengembangan ekowisata skala regional. Konsep keberlanjutan
produk wisata serta peningkatan nilai produk dan peningkatan kepuasan wisatawan melalui
layanan yang berkualitas merupakan konsep yang menjadi fokus dalam pengembangan strategi
pemasaran ekowisata.

DAFTAR PUSTAKA
Avenzora, Ricky, 2008, Ekoturisme Teori dan Praktek, BRR NAD dan Nias. Banda Aceh.
Damanik Janianton dan Weber Helmut F. 2006. Perencanaan Ekowisata Dari
Teori ke Aplikasi. Pusat Studi Pariwisata (PUSPAR) UGM dan Penerbit
ANDI Yogyakarta.
Dewi, Ike Juwita,2011, Implementasi dan Implikasi Kelembagaan Pemasaana Pariwisata yang
Bertanggujawab (Responsible Tourism Marketing), Kementrian Kebudayaan dan
Pariwisata Republik Indonesia.
Kotler, Philip dan Kevin L. Keller, 2009, Marketing Management. Pearson. International Edition
; New Jersey
Nugroho, Iwan. 2011. Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan, Pustaka Pelajar,Yogyakarta.
Pitana, Gayatri, 2005, Sosiologi Pariwisata, Penerbit ANDI, Yokjakarta
Untari. Dhian Tyas, 2013, Meningkatkan Produk Indigenous Kuliner Melalui Kegiatan Wisata;
Tantangan dan Peluang, Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional FKPTPI, 1
September 2013.
Warpani, Suwardjoko. P dan Warpani, Indira P, 2007, Pariwisata dalam Tata Ruang Wilayah,
ITB, Bandung.
Yoeti, Oka A, 2008, Ekonomi Pariwisata; Introduksi, Informasi dan Implementasi, Kompas
Media Indonesia, Jakarta.
Tjiptono, Fandy.2005. Pemasaran Jasa. Penerbit: Bayumedia, Malang.
Banwell, Linda dan Duggan, Fiona.2004. Constructing a Model of Effective Information
Dissemination in a Crisis vol. 9 no. 3 April 2004. http://informationr.net/ir/93/paper178.html (April 2007).
13

14

Anda mungkin juga menyukai