Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kebijakan moneter merupakan salah satu kebijakan ekonomi yang memiliki peran
pennting dalam perekonomian suatu negara. Peranan tersebut tercermin pada kemampuan
kebijakan ini dalam mempengaruhi stabilitas harga, pertumbuhan ekonomi, perluasan
kesempatan kerja, dan keseimbangan pada neraca pembayaran (Balance of Payment). Karena
hal-hal tersebut sering menjadi sebuah sasaran akhir dari kebijakan moneter. Secara ideal,
otoritas moneter menginginkan sarana-sarana akhir diatas dapat dicapai secara bersama. Namun,
tidak jarang proses dalam menuju pencapaian sasaran akhir mengandung unsur-unsur yang
bertentangan satu sama lain. Pengalaman di banyak negara menunjukkan bahwa kondisi
perekonomian yang memiliki multi sasaran akhir ternyata makin menunjukkan keadaan yang
buruk.
Di Indonesia, perekonomian yang berubah cepat dan semakin terbuka sejak langkah
deregulasi di segala bidang pada tahun delapan-puluhan telah menimbulkan inovasi dan invensi
produk-produk keuangan. Hal tersebut adalah bukti yang ditujukan untuk menumbuhkan,
mendorong, dan meningkatkan peran sektor swasta dalam setiap aspek kehidupan ekonomi
masyarakat yang belum atau tidak mampu ditangani pemerintah. Ditambah, kondisi pasar
keuangan dunia yang semakin terintegrasi akibat pesatnya perkembangan teknologi informasi
dan komunikasi, akan makin mempercepat dan memperbesar pergerakan modal antar negara.
Kebijakan moneter juga merupakan salah satu kebijakan ekonomi yang strategis mengingat
kebijakan moneter dapat digunakan oleh pengambil kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat (social welfare) yang umumnya tercermin pada pertumbuhan ekonomi, stabilitas
harga, keseimbangan neraca pembayaran dan perluasan lapangan kerja. Ini tercermin dalam UU
No. 13 tahun 1968 tentang Bank Indonesia, menjelaskan bahwa Bank Indonesia memiliki
beberapa tujuan (multiple target)yang harus dicapai, antara lain :
1.Mengatur, menjaga dan memelihara stabilitas nilai rupiah
2.Mendorong kelancaraan produksi dan pembangunan serta memperluas kesempatan kerja
1

3.Memperluas kesempatan kerja guna meningkatkan taraf hidup rakyat.


Agar pelaksanaan kebijakan moneter dapat berjalan sebagaimana mestinya maka otoritas
moneter harus mempunyai penilaian yang akurat atas pengaruh kebijakan yang dilaksanakan
terhadap perekonomian. Taylor (1995) menyatakan bahwa mekanisme transmisi adalah suatu
proses dimana dampak kebijakan moneter terlihat dalam perubahan tingkat pertumbuhan riil dan
inflasi. Tetapi pada prakteknya, semua sasaran akhir kebijakan moneter tersebut tidak selalu
dapat dicapai secara bersamaan, bahkan kebijakan yang diambil dapat saling kontradiktif.
1.2 Rumusan masalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Apa yang dimaksud dengan kebijakan moneter?


Bagaimana fungsi dan tujuan kebijakan moneter?
Apa yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi?
Bagaimana kebijakan moneter yang pernah diterapkan di Indonesia?
Bagaimana kaitannya kebijakan moneter dengan pertumbuhan ekonomi?
Bagaimana pengaruh kebijakan moneter terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia?
Bagaimana pengaruh kebijakan moneter yang berpengaruh terhadap pertumbuhan
ekonomi Indonesia tersebut terhadap kesejahteraan masyarakat?

1.3
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Tujuan
Mengetahui apa yang dimaksud dengan kebijakan moneter
Mengetahui fungsi dan tujuan kebijakan moneter
Mengetahui apa yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi
Mengetahui bagaimana kebijakan moneter di Indonesia
Mengetahui bagaimana kaitannya kebijakan moneter dengan pertumbuhan ekonomi
Mengetahui bagaimana pengaruh kebijakan moneter terhadap pertumbuhan ekonomi di

Indonesia
7. Mengetahui bagaimana pengaruh kebijakan moneter yang berpengaruh terhadap
pertumbuhan ekonomi Indonesbia terseut terhadap kesejahteraan masyarakat?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Kebijakan Moneter
2

Proses dalam mengatur persediaan uang di suatu negara guna mencapai pada tujuan
tertentu, seperti menahan laju inflai, mencapai pekerja penuh atau lebih sejahtera. Kebijakan
moneter melibatkkan suatu standar bunga pinjaman, margin requirement, kapitalisasi untuk
bank atau sebagai alat peminjam usaha terakhir yang melalui persetujuan atau negosiasi dengan
pemerintah lain. Kebijakan moneter pada dasarnya adalah suatu kebijakan yang tujuan utamanya
untuk mencapai keseimbangan internal (pertumbuhan neraca pembayaran) serta tercapainya
tujuan dalam makro ekonomi, yakni menjaga stabilitas ekonomi yang dapat diukur dengan
kesempatan kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran internasional yang seimbang.
Apabila kestabilan dalam suatu kegiatan perekonomian mengalami gangguan, maka kebijakan
moneter dapat dipakai guna memulihkan (tindakan stabilisasi). Pengaruh kebijakan
moneterpertama kali dirasakan oleh sektor perbankan, yang kemudian ditransfer pada sektor rill.
Kebijakan moneter merupakan sustu bentuk upaya dalam mencapai tingkat pertumbuhan
ekonomi yang tinggi secara berkelanjutan dengan tetap mempertahankan kestabilan harga. Untuk
mencapai tujuan tersebut Bank Sentral atau Otoritas Moneter berusaha dalam mengatur suatu
ebntuk keseimbangan antara perseediaan uang dengan persediaan barang agar inflasi dapat
terkendali, tercapainya kesempatan kerja penuh dan kelancaran dalam pasokan atau distribusi
barang. Salah satu pengeluaran agregat adalah penanaman modal (investasi) oleh perusahaanperusahaan, tingkat bunga yang tinggi akan mengurangi penanaman modal dan jika tingkat
bunga rendah akan menambah penanaman modal. Jadi tujuan dari kebijakan moneter adalah
untuk memengaruhi jumlah uang yang beredar, sehingga dapat menekan laju inflasi (laju
kenaikan harga). Kebijakan moneter bagaikan alat untuk meredam inflasi (kenaikan harga) tetapi
tidak dapat ditekan (didorong) untuk mengatasi resesi.

Pengaturan jumlah uang yang beredar pada masyarakat akan diatur dengan cara menambah
atau mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan moneter digolongkan menjadi dua, yaitu:
3

a. Kebijakan Moneter Ekspansif/Monetary Expansive Policy


Adalah suatu bentuk kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang tengah
beredar.
b. Kebijakan Moneter Kontraktif/Monetary Contractive Policy
Adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang edar. Disebut juga
dengan kebijakan uang ketat (tight money policy)
Kebijakan moneter dapat dilakukan dengan menjalankan instrumen kebijakan moneter, yaitu
antara lain :
a. Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation)
Operasi pasar terbuka adalah cara mengendalikan uang yang beredar dengan menjual
atau membeli surat berharga pemerintah (government securities). Jika ingin menambah
jumlah uang beredar, pemerintah akan membeli surat berharga pemerintah. Namun, bila
ingin jumlah uang yang beredar berkurang, maka pemerintah akan menjual surat berharga
pemerintah kepada masyarakat. Surat berharga pemerintah antara lain diantaranya adalah
SBI atau singkatan dari Sertifikat Bank Indonesia dan SBPU atau singkatan atas Surat
Berharga Pasar Uang.
b. Fasilitas Diskonto (Discount Rate)
Fasilitas diskonto adalah pengaturan jumlah duit yang beredar dengan memainkan tingkat
bunga bank sentral pada bank umum. Bank umum kadang-kadang mengalami
kekurangan uang sehingga harus meminjam ke bank sentral. Untuk membuat jumlah
uang bertambah, pemerintah menurunkan tingkat bunga bank sentral, serta sebaliknya
menaikkan tingkat bunga demi membuat uang yang beredar berkurang.
c. Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio)
Rasio cadangan wajib adalah mengatur jumlah uang yang beredar dengan memainkan
jumlah dana cadangan perbankan yang harus disimpan pada pemerintah. Untuk
menambah jumlah uang, pemerintah menurunkan rasio cadangan wajib. Untuk
menurunkan jumlah uang beredar, pemerintah menaikkan rasio.
d. Himbauan Moral (Moral Persuasion)
Himbauan moral adalah kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar dengan
jalan memberi imbauan kepada pelaku ekonomi. Contohnya seperti menghimbau
perbankan pemberi kredit untuk berhati-hati dalam mengeluarkan kredit untuk
mengurangi jumlah uang beredar dan menghimbau agar bank meminjam uang lebih ke
bank sentral untuk memperbanyak jumlah uang beredar pada perekonomian.
4

e. Kredit selektif
Politik bank sentral untuk mengurangi jumlah uang yang beredar dengan cara
memperketat pemberian kredit.
f. Politik Sanering
Adalah tindakan yang dilakukan bila telah terjadi Hiper Inflasi, hal seperti ini sudah
pernah terjadi dan telah dilakukan BI pada tanggal 13 Desember 1965 yang melakukan
pemotongan nilai mata uang dari Rp. 1.000,00 menjadi Rp. 1.
2.2 Fungsi dan Tujuan Kebijakan Moneter
Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa suatu keberhasilan dari kebijakan moneter
diantaranya adalah dapat menciptakan peningkatan kesempatan kerja dan semakin meningkatnya
iklim usaha yang bergairah di masyarakat. Dengan demikian fungsi dan tujuan dari kebijakan
moneter adalah sebagai berikut:
Fungsi Kebijakan Moneter:
Kebijakan moneter berfungsi untuk memacu pembangunan, yaitu melalui:

a. Mempengaruhi ongkos dan pengadaan kredit


b. Pengendalian inflasi
c. Mempertahankan keseimbangan neraca pembayaran
Dengan jalan meningkatkan ekspor dan mengurangi impor dari luar negeri yang masuk ke dalam
negeri atau sebaliknya.

2.2.1 Tujuan Kebijakan Moneter:


a. Menjaga kestabilan keadaan ekonomi yang artinya pertumbuhan arus barang dan jasa harus
seimbang dengan pertumbuhan arus barang dan jasa yang tersedia.
b. Menjaga kestabilan harga yaitu harga suatu barang adalah hasil interaksi antara jumlah
uang beredar dengan jumlah uang di pasar.
c. Meningkatkan kesempatan kerja yaitu pada saat perekonomian stabil pengusaha akan
mengadakan investasi untuk menambah jumlah barang dan jasa sehingga ada investasi
yang akan membuka lapangan kerja baru sehingga memperlua kesempatan kerja bagi
masyarakat.
5

d. Memperbaiki neraca perdagangan kerja masyarakat dengan jalan meningkatkan ekspor dan
mengurangi impor, nilai impor harus lebih besar dari ekspor.
Segala hal yang harus diperhatikan dalam kebijakan moneter adalah sebagai berikut:
a. Inflasi Penargetan
Pendekatan kebijakan target adalah untuk menjaga inflasi. Target inflasi dicapai dengan
penyesuaian berkala kepada Bank Sentral suku bunga target. Tingkat bunga yang
digunakan adalah tingkat antar bank di mana bank meminjamkan kepada
satu sama lain semalam untuk keperluan arus kas. Target suku bunga
dipertahankan untuk jangka waktu tertentu menggunakan operasi pasar
terbuka. Durasi bahwa target suku bunga dipertahankan konstan akan
bervariasi antara bulan dan tahun. Target suku bunga biasanya ditinjau
secara bulanan atau kuartalan oleh komite kebijakan. Perubahan target suku
bunga dibuat sebagai tanggapan terhadap berbagai indikator pasar dalam
upaya untuk memperkirakan tren ekonomi dan dengan demikian pasar tetap
pada jalur untuk mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan.
b. Harga Penargetan Tingkat
Harga penargetan tingkat kurang lebih mirip dengan inflation targeting
hanya saja yang membedakan bahwa pertumbuhan CPI dalam satu tahun
atas atau di bawah target tingkat harga jangka panjang adalah offset pada
tahun-tahun berikutnya sehingga tingkat harga yang ditargetkan tercapai
dari waktu ke waktu, misalnya lima tahun, memberikan kepastian lebih lanjut
tentang masa depan kenaikan harga kepada konsumen. Dalam inflation
targeting

apa

yang

terjadi

pada

tahun-tahun

terakhir

segera

tidak

diperhitungkan atau disesuaikan dalam tahun berjalan dan masa depan.


c. Agregat Moneter
Pendekatan agregat moneter ini juga kadang-kadang disebut monetarisme .
Sementara kebijakan yang paling moneter berfokus pada sinyal harga satu
bentuk atau lain, pendekatan ini difokuskan pada jumlah moneter.
d. Nilai Tukar Tetap
Kebijakan nilai tukar tetap didasarkan pada mempertahankan nilai tukar
tetap dengan mata uang asing. Di bawah sistem nilai fiat tetap, pemerintah
6

daerah atau otoritas moneter menyatakan nilai tukar tetap tetapi tidak aktif
membeli

atau

menjual

mata

uang

untuk

mempertahankan

tingkat.

Sebaliknya, tingkat dipaksakan oleh-konvertibilitas tindakan-tindakan non


(misalnya kontrol modal , impor / lisensi ekspor, dll). Dalam hal ini ada
tingkat pasar gelap tukar dimana perdagangan mata uang pada pasar / nilai
tidak resmi.
2.3 Definisi Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi ( Economic Growth ) adalah perkembangan kegiatan dalam
perekonomian yang menyebabkan barang danjasa yang diproduksikan dalam masyarakat
bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat. Masalah pertumbuhan ekonomi dapat
dipandang sebagai masalah makro ekonomi dalam jangka panjang. Perkembangan kemampuan
memproduksi barang dan jasa sebagai akibat pertambahan faktor-faktor produksi pada umumnya
tidak selalu diikuti oleh pertambahan produksi barang dan jasa yang sama besarnya.
Pertambahan potensi memproduksi seringkali lebih besar dari pertambahan produksi yang
sebenarnya.
Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai proses kenaikan kapasitas produksi
suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional.
Perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan apabila jumlah balas jasa riil terhadap
penggunaan faktor-faktor produksi pada tahun tertentu lebih besar daripada tahun sebelumnya.
Berkelanjutan pertumbuhan ekonomi harus mengarah standar hidup yang lebih tinggi nyata dan
kerja meningkat. Indikator yang digunakan untuk menghitung tingkat pertumbuhan ekonomi
adalah dengan menggunakan tingkat pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) dan tingkat
pertumbuhan PNB (Produk Nasional Bruto).
Pertumbuhan ekonomi umumnya didefinisikan sebagai kenaikan GDP riil per kapita.
Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product, GDP) adalah nilai pasar keluaran total sebuah
negara, yang merupakan nilai pasar semua barang jadi dan jasa akhir yang diproduksi selama
periode waktu tertentu oleh faktor-faktor produksi yang berlokasi di dalam sebuah negara.
Kenaikan GDP dapat muncul melalui:
7

a.

Kenaikan penawaran tenaga kerja


Penawaran tenaga kerja yang meningkat dapat menghasilkan keluaran yang lebih banyak. Jika
stok modal tetap sementara tenaga kerja naik, tenaga kerja baru cenderung akan kurang

produktif dibandingkan tenaga kerja lama.


b. Kenaikan modal fisik atau sumber daya manusia
Kenaikan stok modal dapat juga menaikkan keluaran, bahkan jika tidak disertai oleh kenaikan
angkatan kerja. Modal fisik menaikkan baik produktivitas tenaga kerja maupun menyediakan
secara langsung jasa yang bernilai. Investasi dalam modal sumber daya manusia merupakan
sumber lain dari pertumbuhan ekonomi.
c. Kenaikan Produktivitas
Kenaikan produktivitas masukan menunjukkan setiap unit masukan tertentu memproduksi
lebih banyak keluaran. Produktivitas masukan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor termasuk
perubahan teknologi, kemajuan pengetahuan lain, dan ekonomisnya skala produksi.
2.3.1 Manfaat dari Pertumbuhan Ekonomi
Laju pertumbuhannya untuk mengukur kemajuan ekonomi sebagai hasil pembangunan
nasional Pendapatan perkapitanya dipergunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran
penduduk, sebab semakin meningkat pendapatan perkapita dengan kerja konstan semakin tinggi
tingkat kemakmuran penduduk dan juga produktivitasnya. Sebagai dasar pembuatan proyeksi
atau perkiraan penerimaan negara untuk perencanaan pembangunan nasional atau sektoral dan
regional. Sebagai dasar penentuan prioritas pemberian bantuan luar negari oleh Bank Dunia atau
lembaga internasional lainnya. Sebagai dasar pembuatan prakiraan bisnis, khususnya persamaan
penjualan bagi perusahaan untuk dasar penyusunan perencanaan produk dan perkembangan
sumbur daya (tenaga kerja dan modal).
Pertumbuhan ekonomi telah diartikan sebagai suatu proses kenaikan output per kapita
dalam jangka panjang. Terdapat tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam definisi tersebut, yaitu:
(1) proses, (2) output per kapita, dan (3) jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi seperti yang
telah diungkapkan merupakan suatu proses, bukan suatu gambaran ekonomi pada suatu saat.
Kuznet mendefinisikan pertumbuhan ekonomi di suatu negara sebagai suatu kemampuan negara
tersebut untuk menyediakan barang-barang ekonomi yang terus meningkat bagi penduduknya,
pertumbuhan kemampuan ini berdasarkan pada kemajuan teknologi dan kelembagaan serta
penyesuaian ideologi yang dibutuhkan.
8

Dalam analisisnya yang mendalam, Kuznet memisahkan enam karakteristik yang terjadi
dalam proses pertumbuhan pada hampir semua negara dan dari pendapatannya tersebut dibawah
ini terlihat bahwa suatu faktor yang sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi
yaitu perdagangan (ekspor).
a. Dua variabel ekonomi agregatif: tingginya tingkat pertumbuhan output per kapita dan
populasi dan tingginya tingkat kenaikan produktivitas faktor produksi secara keseluruhan
atau terutama produktivitas tenaga kerja.
b. Dua transformasi struktural: tingginya tingkat transformasi struktur ekonomi dan tingginya
tingkat transformasi sosial dan ideologi.
c. Dua faktor yang mempengaruhi meluasnya pertumbuhan ekonomi internasional:
kecendurungan negara-negara maju secara ekonomi untuk menjangkau seluruh dunia untuk
mendapatkan pasar (ekspor) dan bahan baku dan pertumbuhan ekonomi ini hanya
dinikmati oleh sepertiga populasi dunia.
2.3.2 Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Indonesia
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak terlepas dari
permasalahan kesenjangan dalam pengelolahan perekonomian, dimana para pemilik modal besar
selalu mendapatkan kesempatan yang lebih luas dibandingkan dengan para pengusaha kecil dan
menengah yang serba kekurangan modal. Disamping itu, akses untuk mendapatkan bantuan
modal perbankan juga lebih memihak pada para pengusaha besar dibandingkan dengan
pengusaha ekonomi lemah. Disamping dari pada hal itu pertumbuhan ekonomi perdagangan
internaisonal juga memberikan dampak yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Ketidakpastian keadaan perekonomian dan perdagangan dunia yang semakin meningkat,
semakin menyababkan kemungkinan-kemungkinan pertumbuhan ekonomi yang kurang
membanggakan bagi Indonesia.
Adapu faktor-faktor yang telah mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia, secara umum
adalah:
a. Faktor produksi, yaitu harus mampu memanfaatkan tenaga kerja yang ada, dan penggunaan
bahan baku industri dalam negeri sekaksimal mungkin.

b. Faktor infestasi, yaitu dengan membuat kebijakan investasi yang tidak rumit dan berpihak
pada pasar.
c. Faktor perdagangan Luar Negari dan Neraca Pembayaran, harus surplus sehingga mampu
meningkatkan cadangan devisa dan mestabilkan nilai rupiah.
d. Faktor kebijakan Moneter dan Inflasi, yaitu kebijakan terhadap nilai tukar rupiah dan
tingkat suku bunga ini juga harus antisipasif dan dapat diterima pasar.
e. Faktor Keuangan Negara, yaitu barupa kebijakan fiskal yang kontruktif dan mampu untuk
membiayai pengeluaran pemerintah ( tidak defisit ).
2.4 Bagaimana kebijakan moneter di Indonesia?
Pemerintah telah mengambil keputusan untuk melakukan likuidasi terhadap 38 bank pada
Maret 1999 ini. Keputusan pemerintah pada 13 Maret 1999 tersebut juga menetapkan 9 bank
yang tetap beroperasi dengan mengikuti rekapitalisasi dan 7 bank yang diambil alih pemerintah
serta 73 bank yang tetap beroperasi tanpa rekapitalisasi. Langkah mendasar dalam rangka
penyehatan perbankan tersebut masih menghadapi iklim usaha yang kurang sehat seperti tingkat
suku bunga deposito yang lebih tinggi dari pada suku bunga kredit (negative spread). Suku
bunga antar - bank juga relatif tinggi sekitar 37 persen untuk overnite pada akhir Maret 1999,
yang mengindikasikan ketatnya kondisi likuiditas perbankan.
Berdasarkan laporan mingguan dari Bank Indonesia (BI), menurunnya jumlah uang kartal
pada minggu III Maret 1999 sebesar Rp 1,4 triliun dari posisi minggu II Maret 1999
mengindikasikan kembali tenangnya masyarakat setelah proses restrukturisasi perbankan
diumumkan pemerintah. Sementara itu, perkembangan besaran moneter yang lain hingga akhir
Maret 1999 menunjukkan posisi aktiva domestik bersih maupun cadangan devisa bersih berada
pada tingkat memenuhi adjusted target yang ditetapkan oleh IMF. Sedangkan dari laporan harian
BI, transaksi devisa bank Indonesia menunjukkan surplus sebesar 9,3 juta USD dalam bulan
Maret 1999. Posisi surplus ini tercapai berkat penerimaan devisa dari ekspor sebesar 134,8 juta
USD, sementara penjualan devisa tercatat sebesar 125,5 juta USD. Dengan perkembangan ini
diperkirakan cadangan devisanetto di akhir bulan Maret akan sedikit di atas 14,51 milliar USD
yang tercatat pada minggu III Maret 1999.
Kemudian pada tahun 2009, Perkembangan berbagai indikator ekonomi ditandai oleh
terus berlanjutnya perbaikan kondisi makroekonomi Indonesia. Perbaikan tersebut ditopang oleh
10

meningkatnya optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi domestik dan global, serta terjaganya
kestabilan makroekonomi domestik. Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 diprakirakan tumbuh
4,3%, inflasi tercatat sebesar 2,78%, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatat surplus, dan
nilai tukar secara point-to-point menguat sebesar 15,65% dibandingkan dengan tahun lalu. Di
tengah-tengah krisis global, berbagai kinerja yang cukup positif tersebut tidak terlepas dari daya
tahan permintaan domestik yang kuat, sektor perbankan yang tetap sehat dan stabil, ekspektasi
pemulihan ekonomi global yang semakin optimis, serta respons kebijakan fiskal dan moneter
yang akomodatif dalam mendukung terjaganya perekonomian domestik.
Kondisi

tersebut

memungkinkan

sejumlah

negara

maju

untuk

cenderung

mempertahankan kebijakan moneter yang akomodatif. Sampai saat ini, sebagian besar bank
sentral Negara maju seperti AS, Inggris, dan Jepang masih menahan kenaikan suku bunganya
pada bulan Desember sebagai upaya mendorong pemulihan ekonomi.
Di sisi domestik, perbaikan ekonomi global mendukung kinerja ekspor dan peningkatan
investasi. Kinerja ekspor yang anjlok sangat signifikan di semester I-2009, mulai membaik pada
pertengahan tahun sejalan dengan pemulihan perekonomian global yang kian membaik dan
peningkatan harga komoditas. Beberapa sektor yang berorientasi ekspor seperti sektor industri
pengolahan diperkirakan menunjukkan kinerja yang lebih baik pada kuartal IV-2009 seiring
dengan membaiknya permintaan eksternal. Di sisi domestik, konsumsi rumah tangga masih
tumbuh pada level tinggi, didorong oleh stabilnya daya beli masyarakat serta keyakinan
konsumen yang masih terjaga. Membaiknya ekspor dan tetap tingginya konsumsi mendorong
optimisme pelaku usaha untuk meningkatkan investasi, terutama sejak pertengahan tahun 2009.
Pada triwulan IV-2009, investasi diperkirakan tumbuh lebih tinggi yang tercermin antara lain
pada peningkatan konsumsi semen dan perbaikan pertumbuhan impor barang modal. Dengan
semakin membaiknya kondisi perekonomian tersebut, pertumbuhan ekonomi secara tahunan di
kuartal IV-2009 diperkirakan akan mencapai sebesar 4,4%. Secara keseluruhan tahun 2009,
perekonomian diperkirakan akan tumbuh sebesar 4,3%.
Ketahanan perekonomian domestik juga dibarengi penurunan tekanan inflasi. Inflasi pada
bulan Desember tercatat sebesar 0,33% (mtm), jauh lebih rendah dari rata-rata historisnya.
Secara tahunan, inflasi IHK mencapai 2,78% (yoy), sementara inflasi inti tercatatsebesar 4,28%
11

(yoy) pada tahun 2009. Rendahnya realisasi inflasi tidak terlepas dari perkembangan eksternal
dan berbagai kebijakan yang ditempuh Pemerintah. Kontraksi ekonomi global yang cukup dalam
mengakibatkan turunnya harga komoditas dunia di tahun 2009. Kondisi tersebut juga
menyebabkan perlambatan kinerja ekonomi domestik. Selain dari sisi eksternal, rendahnya
realisasi inflasi antara lain juga terkait dengan kecenderungan apresiasi nilai tukar rupiah di
tahun 2009. Derasnya aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik telah mendorong
penguatan nilai tukar rupiah, terutama sejak akhir triwulan I-2009. Selain itu rendahnya realisasi
inflasi selama tahun 2009 juga tidak terlepas dari berbagai kebijakan yang ditempuh oleh
Pemerintah. Penurunan harga komoditas internasional, termasuk minyak mentah, memberi ruang
bagi Pemerintah untuk kembali menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) pada awal tahun.
Sementara itu, upaya Pemerintah untuk menjaga pasokan dan distribusi komoditas bahan
pangan, terutama beras, menyebabkan inflasi volatile food tercatat cukup rendah dibandingkan
dengan pola historisnya. Dengan berbagai perkembangan tersebut, realisasi inflasi berada di
bawah kisaran sasaran inflasi tahun 2009 sebesar 4,5% 1%.
Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatat surplus mendukung penguatan
nilai tukar rupiah. Pada tahun 2009, NPI mencatat surplus dengan posisi cadangan devisa
mencapai USD66,1 miliar atau setara 6,6 bulan pembayaran impor dan utang luar negeri (ULN)
Pemerintah. Surplus NPI terutama dipengaruhi oleh menurunnya impor secara signifikan searah
dengan menurunnya kebutuhan bahan baku impor untuk industri yang berorientasi ekspor
maupun menurunnya impor barang-barang konsumsi. Kinerja ekspor, walaupun masih mencatat
pertumbuhan negatif, namun masih lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan impor. Hal ini
terutama disebabkan oleh menguatnya permintaan ekspor komoditas sumber daya alam terutama
dari negara-negara emerging Asia, yang mengalami proses pemulihan yang lebih cepat. Di
samping itu, surplus NPI didukung oleh derasnya arus modal masuk ke dalam negeri yang
didorong oleh prospek makroekonomi yang membaik, imbal hasil rupiah yang relatif tinggi, serta
semakin membaiknya tingkat kepercayaan internasional terhadap korporasi domestik. Sejalan
dengan perkembangan NPI tersebut, perkembangan nilai tukar Rupiah cenderung menguat sejak
akhir triwulan I-2009. Dibandingkan dengan tahun 2008, rupiah secara point-to-point menguat
sebesar 15,65% menjadi Rp9.425/USD.

12

Di sektor keuangan, stabilitas sistem perbankan tetap terjaga, namun penyesuaian suku
bunga kredit belum seperti yang diharapkan. Penurunan suku bunga, khususnya suku bunga
deposito perbankan, masih terus berlangsung. Namun demikian, transmisi kebijakan moneter
melalui suku bunga sebagaimana tercermin pada penurunan suku bunga kredit masih relatif
terbatas. Tingkat suku bunga kredit yang belum turun secara signifikan, kegiatan ekonomi yang
belum meningkat secara pesat, serta persepsi risiko dari perbankan yang masih tinggi
mengakibatkan kredit perbankan sejak Januari hingga November 2009 baru tumbuh 5,7% (ytd).
Di jalur harga aset, stance kebijakan yang cenderung longgar direspons secara baik di pasar
saham maupun SUN. Indeks harga di bursa saham meningkat sejalan dengan derasnya arus
masuk modal asing dan perkembangan positif di pasar keuangan global. Di pasar obligasi, yield
SUN terus menurun sejalan dengan optimism pemulihan ekonomi dunia, membaiknya persepsi
risiko global terhadap Indonesia, disertai terjaganya inflasi dan sustainabilitas fiskal. Di sisi
mikro perbankan, stabilitas sistem perbankan nasional tetap stabil. Hal itu diindikasikan oleh
masih terjaganya rasio kecukupan modal (CAR) per November 2009 sebesar 17%. Sementara
itu, rasio gross Non Performing Loan (NPL) tetap terkendali pada 4,4% dengan rasio net sebesar
1,4%. Likuiditas Perbankan, termasuk likuiditas di pasar uang antar bank makin membaik dan
pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat.
Ke depan, prospek perekonomian Indonesia diperkirakan akan membaik, meskipun
berbagai faktor risiko dan ketidakpastian perlu terus dicermati. Bank Indonesia memperkirakan
pertumbuhan ekonomi mencapai 5,0-5,5% pada tahun 2010. Inflasi ditargetkan mencapai kisaran
51% pada tahun 2010. Upaya percepatan momentum untuk akselerasi pertumbuhan ekonomi
dengan tetap menjaga inflasi yang rendah masih dihadapkan pada berbagai tantangan-tantangan
mikro dan struktural dalam perekonomian seperti kelemahan daya saing sektor industri, struktur
pasar komoditas bahan pokok yang cenderung oligopolistik dan berbagai permasalahan terkait
lokasi sentra produksi, distribusi, dan tata niaga. Belum optimalnya transmisi kebijakan moneter
melalui jalur kredit merupakan tantangan yang akan menjadi prioritas untuk segera dipecahkan.
Mempertimbangkan permasalahan dan tantangan tersebut, kebijakan moneter Bank
Indonesia untuk mencapai sasaran inflasi sebesar 51% di tahun 2010 akan didukung oleh
implementasi serangkai langkah kebijakan. Di sisi operasional, fokus kebijakan diarahkan untuk
meningkatkan efektifitas transmisi kebijakan moneter, mengelola ekses likuiditas perbankan, dan
13

menjaga volatilitas nilai tukar dalam rangka terjaganya ekspektasi inflasi masyarakat. Di sisi
struktural, upaya koordinasi dengan Pemerintah akan ditingkatkan untuk memitigasi dampak
struktural inflasi yang bersumber dari masalah distribusi, tata niaga, dan struktur pasar komoditas
bahan pokok. Untuk itu, Tim Pengendalian Inflasi yang merupakan tim lintas departemen yang
terkait dengan pengendalian inflasi akan terus diefektifkan baik di pusat maupun di daerah.
Dengan mempertimbangkan bahwa tingkat BI Rate 6,5% masih konsisten dengan sasaran
inflasi tahun 2010 sebesar 5% 1% dan arah kebijakan moneter saat ini juga dipandang masih
kondusif bagi proses pemulihan perekonomian dan berlangsungnya intermediasi perbankan,
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 6 Januari 2010 memutuskan untuk
mempertahankan BI Rate pada level 6,5% dengan koridor suku bunga yang juga tetap sebesar
+/-50 bps di sekitar BI Rate, yaitu suku bunga repo sebesar 7% dan suku bunga FASBI sebesar
6%.
2.5 Bagaimana kaitannya kebijakan moneter dengan pertumbuhan ekonomi?
Nilai tukar yang stabil tentu akan lebih memberi iklim kepastian bagi semua pelaku usaha,
termasuk sektor perbankan, dunia usaha dan masyarakat. Nilai tukar rupiah yang rendah saat ini
dapat dijadikan saat yang baik dunia usaha yang beorientasi ekspor, dan ini dapat memicu
peningkatan permintaan kredit dari dunia usaha untuk melanjutkan dan meningkatkan produk
ekspornya. Dengan kejadian ini tentu akan menguntungkan dunia perbankan. Penyesuaian nilai
tukar yang terlalu cepat akan sangat merugikan karena hal ini dapat mendorong bergeraknya
aliran dana masyarakat ke luar negeri. Dengan demikian antara nilai tukar dan inikator kebijakan
moneter lainnya memiliki hubungan yang sangat erat, khususnya bagi kebijakan pemerintah
yang sedang ditempuh untuk menstabilkan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Kebijakan moneter merupakan salah satu ilustrasi kebijakan yang digunakan untuk
mengatasi pennasalahan ekonoini dengan tujuan utama adalah memelihara kestabilan nilai
rupiah. Kebijakan moneter ini juga sebagai senjata untuk mengatur lajunya perekonomian dan
khususnya mengendalikan ekonomi makro agar dapat berjalan sesuai dengan yang dinginkan
yaitu dengan beberapa instrumen- instrumen kebijakan moneter yang sudah ditentukan oleh
pembuat kebijakan.

14

Namun dalam hal instrumen kebijakan moneter yang digunakan oleh Bank Indonesia
untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi ini banyak menimbulkan perdebatan. Diantaranya
adalah perdebatan yang terjadi pada para ekonom antara menggunakan kebijakan rules atau
kebijakan discretion. Dalam pendekatan rules (rules- base money), maka implementasi kebijakan
moneter mengacu pada kebijakan moneter didasarkan pada pemunbuhan jiunlah uang beredar
yang konstan (the constcmt-money- groHth rule). Sedangkan pendekatan discretion mengacu
pada otoritas moneter memiliki kebebasan dalam menjalankan kebijakan moneter sesuai dengan
kondisi aktual yang dihadapi oleh suatu perekononiian (Natsir. 2008).
Berbagai penelitian telah banyak dilakukan untuk membuktikan instrumen kebijakan
moneter tersebut dalam mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Di Indonesia penelitian yang
dilakukan oleh Julaihah dan Insukindro (2004) menyimpulkan bahwa instrumen jumlah uang
beredar tidak dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. sedangkan instrumen suku bunga SBI
mampu mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Tak hanya penelitian di
Indonesia/ Nouri dan Samimi (2011) juga meneliti tentang dampak kebijakan moneter terhadap
pertumbuhan ekonomi di negara lain. Hasilnya adalah instrument kebijakan moneter yang
diproyeksikan dengan jumlah uang beredar dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang
terjadi di negara Iran.
Maka dapat dikatakan bahwa kebijakan moneter dengan menggunakan instrumen jumlah
uang beredar dan suku bunga SBI mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di
Indonesia.
Instrumen jumlah uang beredar dan suku bunga SBI dalam jangka pendek dan jangka
panjang sama-sama mempengaruhi pertumbuhan ekonomi namun memiliki pengaruh yang
berbeda. Untuk instrumen jumlah uang beredar terhadap pertumbuhan ekonomi dalam jangka
pendek mempunyai pengaruh yang positif. sedangkan dalam jangka panjang instrument jumlah
uang beredar direspon negatif oleh pertumbuhsn ekonomi. Sedangkan untuk instrumen suku
bunga SBI dalam jangka pendek memberikan pengaruh negatif terhadap pertumbuhsn ekonomi
sedangkan untuk jangka panjang memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi. .
Dari kedua instrumen kebijakan moneter tersebut. Instrument kebijakan suku bunga SBI
lebih efektif dalam mempengaruhi peitumbuhan ekonomi dengan kecepatan waktu tiga (3)
15

kuartal. Hal ini disebabkan jika menggunakan respon dari instrumen jumlah uang beredar
terhadap pertumbuhan ekonomi akan memerlukan waktu yang lebih lama yakni dengan
kecepatan waktu empat (4) kuartal.
Perbedaan efektivitas instrumen jumlah uang beredar dan suku bunga SBI dalam
mempengaruhi pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh kemampuan respon dari sektor perbankan
dan sektor nil yang menjadi jembatan untuk mempengaruhi pertumbuhan ekonomi lebih
cenderung lebih cepat merespon kebijakan suku bunga SBI daripada melihat kondisi dari jumlah
uang beredarnya. Ketika melihat kondisi jumlah uang beredar yang meningkat dalam jangka
panjang belum tentu sektor perbankan melakukan intenensi kebijakannya dengan memperhatikan
harga
Perbedaan efektivitas instrumen jumlah uang beredar dan suku bunga SBI dalam
mempengaruhi pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh kemampuan respon dari sektor perbaikan
dan sektor riil yang menjadi jembatan untuk mempengaruhi pertumbuhan ekonomi lebih
cenderung lebih cepat merespon kebijakan suku bunga SBI daripada melihat kondisi dari jumlah
uang beredamya. Ketika melihat kondisi jumlah uang beredar yang meningkat dalam jangka
panjang belum tentu sektor perbaikan melakukan intervensi kebijakannya dengan menentukan
harga atau suku bunga pada sektor perbaikan dengan keputusan akan dinaikkan atau diturunkan.
Sehingga pertumbuhan ekonomi lebih cepat ditingkatkan ketika otoritas moneter menggunakan
instrumen suku bunga SBI sebagai intense kebijakannya.
Namun hal ini tidak dapat dijadikan sebuali patokan oleh Bank Indonesia dalam
mengintervensi kebijakan moneternya. BI hanya tetap melihat kondisi perekonomian Indonesia
pada saat itu, jika terdapat keadaan perekonomian setelah reses maka untuk memulihkan
pertumbuhan ekonomi sebaiknya menggunakan kebijakan moneter yang ekspansif yaitu
menaikkan jumlah uang beredar sehingga yang terjadi adalah suku bunga yang dapat
meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Hal ini tepat untuk digunakan oleh BI dalam intense
kebijakannya. Dan tidak menutup kemingkinan bahwa dua instrument kebijakan moneter
tersebut dapat digunakan dalam mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara bersama-sama.

16

2.6 Bagaimana pengaruh kebijakan moneter terhadap pertumbuhan


ekonomi di Indonesia?
Kebijakan moneter adalah proses mengatur persediaan uang sebuah
negara untuk mencapai tujuan tertentu; seperti menahan inflasi, mencapai
pekerja penuh atau lebih sejahtera. Kebijakan moneter meliputi kebijakan
Bank Indonesia dalam menetapkan suku bunga, kebijakan Bank Indonesia
dalam menstabilkan nilai tukar rupiah, kebijakan Bank Indonesia dalam
mendorong penyaluran kredit dan sejenisnya. Kebijakan-kebijakan ini akan
mempengaruhi

perekonomian

di

negara

yang

menjalankan

kebijakan

tersebut. Fenomena yang terjadi akibat kebijakan moneter yaitu perubahan


jumlah uang beredar, berubahnya tingkat suku bunga, kesulitan kredit,
fluktuasi nilai tukar dan sejenisnya.
Kebijakan moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan yang
bertujuan untuk mencapai keseimbangan internal (pertumbuhan ekonomi
yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan) serta tercapainya
tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi ekonomi yang dapat diukur
dengan kesempatan kerja, kesetabilan harga serta neraca pembayaran
internasional yang seimbang. Kebijakan moneter dapat dipakai untuk
memulihkan perekonomian jika kesetabilan dalam kegiatan perekonomian
terganggu. Pengaruh kebijakan moneter pertama kali akan dirasakan oleh
sector perbankan, yang kemudian ditransfer pada sektor riil.
Tujuan kebijakan moneter Bank Indonesia yaitu untuk mencapai dan
memelihara kestabilan nilai rupiah. Sebagaimana yang tercantum dalam UU
No. 3 tahun 2004 pasal 7 tentang Bank Indonesia. Kestabilan nilai rupiah
yang dimaksud adalah kestabilan terhadap harga-harga barang dan jasa
yang tercemin pada inflasi. Pada tahun 2005 Bank Indonesia menerapkan
kerangka kebijakan moneter dengan inflasi sebagai sasaran utama kebijakan
moneter (Inflation Targeting Framework) dengan menganut sistem nilai tukar
yang

mengembang

(free

flooting).

Kestabilan

nilai

tukar

dapat

mempengaruhi kestabilan harga dan sistem keuangan. Oleh karena itu, Bank
17

Indonesia

juga

menjalankan

kebijakan

nilai

tukar

untuk

mengurangi

valutalitas nilai tukar yang berlebihan, bukan untuk mengarahkan nilai tukar
pada level tertentu.
Dalam melaksanakan kebijakan moneter, Bank Indonesia menganut
sebuah kerangka kerja yang dinamakan Inflation Targeting Framework (ITF).
Kerangka ini diterapkan secara formal sejak juli 2015, setelah sebelumnya
menggunakan kebijakan moneter yang menerapkan uang primer (base
money) sebagai sasaran kebijakan moneter. Dengan kerangka ini, Bank
Indonesia secara eksplisit mengumumkan sasaran inflasi kepada publik dan
kebijakan

moneter

diarahkan

untuk

mencapai

sasaran

inflasi

yang

ditetapkan oleh Pemerintah tersebut. Untuk mencapai sasaran inflasi,


kebijakan moneter dilakukan secara forward looking, artinya perubahan
stance kebijakan moneter dilakukan melaui evaluasi apakah perkembangan
inflasi

ke

depan

masih

sesuai

dengan

sasaran

inflasi

yang

telah

dicanangkan. Dalam kerangka kerja ini, kebijakan moneter juga ditandai


oleh transparansi dan akuntabilitas kebijakan kepada publik.

Secara

operasional, stance kebijakan moneter dicerminkan oleh penetapan suku


bunga kebijakan (BI Rate) yang diharapkan akan memengaruhi suku bunga
pasar uang dan suku bunga deposito dan suku bunga kredit perbankan.
Perubahan suku bunga ini pada akhirnya akan memengaruhi output dan
inflasi.
a. Mengapa Inflation Targeting Framework (ITF)
Dengan telah dilepaskannya sistem nilai tukar dengan band intervensi nilai
tukar (crawling band) di tahun 1997, Bank Indonesia memerlukan jangkar
nominal (nominal anchor)

baru dalam rangka menjalankan kebijakan

moneter. Jangkar nominal adalah variabel nominal (seperti indeks harga,


nilai tukar, atau uang beredar) yang ditargetkan secara eksplisit oleh bank
sentral sebagai dasar/patokan bagi pembentukan harga lainnya. Misalnya

18

kalau nilai tukar dijadikan target, maka inflasi luar negeri akan menjadi
inflasi domestik.
Mengapa kebijakan moneter memerlukan jangkar nominal? Karena
tanpa adanya jangkar nominal, tidak ada kejelasan kemana kebijakan
moneter akan diarahkan sehingga masyarakat tidak memiliki pedoman
dalam membuat ekspektasi inflasi. Ibarat kapal yang mengapung di lautan
tanpa kejelasan kearah mana kapal dilabuhkan. Sebaliknya, dengan adanya
jangkar

nominal

masyarakat

akan

membuat

ekspektasi

inflasi

yang

diperlukan dalam kalkulasi usahanya sesuai dengan jangkar nominal


tersebut. Dengan mengumumkan sasaran inflasi dan Bank Indonesia secara
konsisten dapat mencapainya akan meningkatkan kredibilitas kebijaan
moneter yang pada gilirannya ekspektasi inflasi masyarakat sesuai dengan
sasaran yang ditetapkan BI.
Ada sejumlah alasan mengapa menggunakan jangkar nominal dengan ITF.

ITF lebih mudah dipahami oleh masyarakat. Dengan sasaran inflasi


secara eksplisit masyarakat akan memahami arah inflasi. Sebaliknya
dengan sasaran base money, apalagi jika hubungannya dengan inflasi
tidak jelas, masyarakat lebih sulit mengetahui arah inflasi kedepan.

ITF yang memfokuskan pada inflasi sebagai prioritas kebijakan


moneter

sesuai

dengan

mandat

yang

diberikan

kepada

Bank

Indonesia.

ITF bersifat forward looking sesuai dengan dampak kebijakan pada


inflasi yang memerlukan time lag.

ITF meningkatkan trasparansi dan akuntabilitas kebijakan moneter


mendorong kredibilitas kebijakan moneter.

Aspek transparansi dan

akuntabilitas serta kejelasan akan tujuan ini merupakan aspek-aspek


19

good

governance

dari

sebuah

bank

yang

telah

diberikan

independensi.

ITF tidak memerlukan asumsi kestabilan hubungan antara uang


beredar, output dan inflasi. Sebaliknya, ITF merupakan pendekatan
yang

lebih

komprehensif

dengan

mempertimbangkan

sejumlah

variabel informasi tentang kondisi perekonomian.

b. Penerapan Inflation Targeting Framework (ITF)


Dalam kerangka ITF, Bank Indonesia mengumumkan sasaran inflasi ke depan
pada periode tertentu. Setiap periode Bank Indonesia mengevaluasi apakah
proyeksi inflasi ke depan masih sesuai dengan sasaran yang ditetapkan.
Proyeksi ini dilakukan dengan sejumlah model dan sejumlah informasi yang
dapat menggambarkan kondisi inflasi ke depan. Jika proyeksi inflasi sudah
tidak kompatibel dengan sasaran, Bank Indonesia melakukan respon dengan
menggunakan instrumen yang dimiliki. Misalnya jika proyeksi inflasi telah
melampaui sasaran, maka Bank Indonesia akan cenderung melakukan
pengetatan moneter.
Secara reguler, Bank Indonesia menjelaskan kepada publik mengenai
asesmen terhadap kondisi inflasi dan outlook ke depan serta keputusan yang
diambil. Jika sasaran inflasi tidak tercapai maka diperlukan penjelasan
kepada publik dan langkah-langkah yang akan diambil untuk mengembalikan
inflasi sesuai dengan sasarannya.
2.6 Bagaimana pengaruh kebijakan moneter yang berpengaruh
terhadap variabel makroekonomi di Indonesia?

20

Kebijakan moneter yang dilakukan Bank Indonesia dilihat melalui BI rate


serta jumlah uang beredar yang dinyatakan dengan M1 dan M2, sedangkan
untuk variabel makroekonomi digunakan data mengenai tingkat inflasi.
Pengaruh tingkat BI rate yang ditetapkan Bank Indonesia, jumlah uang
beredar M1, serta jumlah uang beredar M2

terhadap

tingkat inflasi di

Indonesia.
Bank sentral adalah lembaga yang berwenang mengambil langkah
kebijakan moneter untuk mempengaruhi jumlah uang beredar. Pengaturan
jumlah uang yang beredar pada masyarakat diatur dengan cara menambah
atau mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan moneter dapat
digolongkan menjadi dua, yaitu:

Kebijakan Moneter Ekspansif / Monetary Expansive Policy, adalah suatu


kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang beredar.

Kebijakan Moneter Kontraktif / Monetary Contractive Policy, adalah


suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang edar.
Disebut juga dengan kebijakan uang ketat (tight money pol

2.7.1 Pelaksanaan Kebijakan Moneter di Indonesia


Kebijakan moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia dalam mewujudkan
stabilitas ekonomi makro terdiri dari kerangka strategis dan kerangka operasional.
Kerangka strategis umumnya terkait dengan pencapaian tujuan akhir kebijakan
moneter (stabilitas harga, pertumbuhan ekonomi, dan perluasan kesempatan kerja)
serta strategi untuk mencapainya (exchange Rate targeting, monetary targeting,
Inflation targeting, implicit but not explicit anchor) (Warjiyo dan Solikin, 2004).
Kerangka

operasional

kebijakan

moneter

terdiri

dari

instrumen,

sasaran-

operasional, dan sasaran-antara yang digunakan untuk mencapai sasaran akhir.


Sasaran-antara diperlukan karena adanya time lag antara pelaksanaan kebijakan
moneter dengan hasil pencapaian sasaran akhir, sehingga untuk meninjau
keefektifan suatu kebijakan maka diperlukan adanya kebijakan yang dapat dilihat
21

dengan segera. Untuk mencapai sasaran antara ini, diperlukan adanya sasaran
operasional agar proses transmisi dapat berjalan sesuai rencana. Kriteria dari
sasaran-operasional ini adalah memiliki kestabilan hubungan dengan sasaran
antara, dapat dikendalikan oleh bank sentral, dan informasi tersedia lebih awal dari
pada sasaran-antara. Sedangkan instrumen moneter merupakan instrumen yang
dimiliki bank sentral yang dapat mempengaruhi sasaran operasional yang telah
ditetapkan.

Indikator kebijakan moneter dilakukan dengan berbagai pertimbangan


sebagai berikut:
1. Dalam merumuskan kebijakan moneter, Bank Indonesia akan selalu
melakukan analisis dan mempertimbangkan berbagai indikator ekonomi,
khususnya
moneter

prakiraan
dan

inflasi,

perkembangan

pertumbuhan
sektor

ekonomi,

ekonomi

dan

besaran-besaran
keuangan

secara

keseluruhan.
2. Demikian pula, Bank Indonesia akan selalu dan terus memperhatikan
langkah-langkah kebijakan ekonomi yang ditempuh pemerintah. Langkahlangkah koordinasi kebijakan yang selama ini telah berlangsung baik akan
terus diperkuat dan ditingkatkan.
3.

Analisis

dan

prakiraan

berbagai

variabel

ekonomi

tersebut

dipertimbangkan untuk mengarahkan agar prakiraan inflasi ke depan sejalan


dengan kisaran sasaran inflasi yang telah ditetapkan.

2.7.2 Inflasi
Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya hargaharga secara umum dan terus-menerus berkaitan dengan mekanisme pasar
yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti peningkatan konsumsi
masyarakat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau
22

bahkan spekulasi, termasuk akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang.


Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata
uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggirendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum
tentu menunjukan inflasi. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat
perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung
secara terus-menerus dan saling pengaruh-memengaruhi. Istilah inflasi juga
digunakan

untuk

mengartikan

peningkatan

persediaan

uang

yang

kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara


untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah CPI
dan GDP Deflator.
2.7.3 Penyebab Inflasi
Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan (kelebihan
likuiditas/uang/alat tukar) dan yang kedua adalah desakan (tekanan)
produksi dan/atau distribusi (kurangnya produksi (product or service)
dan/atau juga termasuk kurangnya distribusi). Untuk sebab pertama lebih
dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan moneter (Bank Sentral),
sedangkan untuk sebab kedua lebih dipengaruhi dari peran negara dalam
kebijakan

eksekutor

(Government)

yang

seperti

dalam

fiscal

hal

ini

dipegang

oleh

Pemerintah

(perpajakan/pungutan/insentif/disinsentif),

kebijakan pembangunan infrastruktur, regulasi, dll.


1)

Inflasi tarikan permintaan (demand pull inflation) terjadi akibat adanya

permintaan

total

yang

berlebihan

dimana

biasanya

dipicu

oleh

membanjirnya likuiditas di pasar sehingga terjadi permintaan yang tinggi


dan memicu perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya volume alat
tukar atau likuiditas yang terkait dengan permintaan terhadap barang dan
jasa

mengakibatkan

bertambahnya

permintaan

terhadap

faktor-faktor

produksi tersebut yang kemudian menyebabkan harga faktor produksi


meningkat. Membanjirnya likuiditas di pasar juga disebabkan oleh banyak
23

faktor selain yang utama tentunya kemampuan bank sentral dalam


mengatur peredaran jumlah uang, kebijakan suku bunga bank sentral,
sampai dengan aksi spekulasi yang terjadi di sektor industri keuangan.
2)

Inflasi desakan biaya (cost push inflation) terjadi akibat adanya

kelangkaan produksi dan/atau juga termasuk adanya kelangkaan distribusi


meskipun permintaan secara umum tidak ada perubahan yang meningkat
secara

signifikan.

Adanya

ketidaklancaran

aliran

distribusi

ini

atau

berkurangnya produksi yang tersedia dari rata-rata permintaan normal dapat


memicu kenaikan harga sesuai dengan berlakunya hukum permintaanpenawaran. Berkurangnya produksi sendiri bisa terjadi akibat berbagai hal
seperti adanya masalah teknis di sumber produksi (pabrik, perkebunan, dan
lain-lain), bencana alam, cuaca, atau kelangkaan bahan baku untuk
menghasilkan produksi, aksi spekulasi (penimbunan), dan sebagainya
sehingga memicu kelangkaan produksi di pasaran. Begitu juga hal yang
sama dapat terjadi pada distribusi, dimana dalam hal ini faktor infrastruktur
memainkan peranan yang sangat penting. Meningkatnya biaya produksi
dapat disebabkan 2 hal, yaitu kenaikan harga, misalnya bahan baku dan
kenaikan upah/gaji, misalnya kenaikan gaji PNS akan mengakibatkan usahausaha swasta menaikkan harga barang-barang.
2.7.4 Penggolongan Inflasi
Berdasarkan asalnya, inflasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu inflasi yang berasal
dari dalam negeri dan inflasi yang berasal dari luar negeri. Inflasi berasal dari dalam negeri
misalnya terjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak
uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal. Sementara
itu, inflasi dari luar negeri adalah inflasi yang terjadi sebagai akibat naiknya harga barang impor.
Hal ini bisa terjadi akibat biaya produksi barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif
impor barang.

24

Inflasi juga dapat dibagi berdasarkan besarnya cakupan pengaruh terhadap harga. Jika
kenaikan harga yang terjadi hanya berkaitan dengan satu atau dua barang tertentu, inflasi itu
disebut inflasi tertutup (Closed Inflation). Namun, apabila kenaikan harga terjadi pada semua
barang secara umum, maka inflasi itu disebut sebagai inflasi terbuka (Open Inflation).
Sedangkan apabila serangan inflasi demikian hebatnya sehingga setiap saat harga-harga terus
berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih lama disebabkan nilai
uang terus merosot disebut inflasi yang tidak terkendali (Hiperinflasi).
Berdasarkan keparahannya inflasi juga dapat dibedakan :
1)

Inflasi ringan (kurang dari 10% / tahun)

2)

Inflasi sedang (antara 10% sampai 30% / tahun)

3)

Inflasi berat (antara 30% sampai 100% / tahun)

4)

Hiperinflasi (lebih dari 100% / tahun)

2.7.Kaitan Antara Kebijakan Moneter dan Inflasi


Bank sentral memainkan peranan penting dalam mengendalikan inflasi. Bank sentral
suatu negara pada umumnya berusaha mengendalikan tingkat inflasi pada tingkat yang wajar.
Beberapa bank sentral bahkan memiliki kewenangan yang independen dalam artian bahwa
kebijakannya tidak boleh diintervensi oleh pihak di luar bank sentral, termasuk pemerintah. Hal
ini disebabkan karena sejumlah studi menunjukkan bahwa bank sentral yang kurang independen
(salah satunya disebabkan intervensi pemerintah yang bertujuan menggunakan kebijakan
moneter untuk mendorong perekonomian) akan mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi.
Bank sentral umumnya mengandalkan jumlah uang beredar dan/atau tingkat suku bunga
sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain itu, bank sentral juga berkewajiban
mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah
mata uang dapat bersifat internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal (kurs).
25

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas , maka diperoleh kesimpulan bahwa kebijakan moneter
berdampak secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Semakin tinggi tingkat SBI maka
output total (PDB) yang dihasilkan semakin turun. Hal ini dikarenakan uang yang berputar di
masyarakat semakin sedikit, masyarakat lebih suka menabung daripada membelanjakan
uangnya. Sehingga pola konsumsi masyarakat juga ikut menurun, akibatnya pendapatan output
total (PDB) juga ikut menurun. Sedangkan tingkat inflasi mengalami kenaikkan karena terjadi
price puzzle. Secara subtansial dapat dikatakan bahwa adanya kebijakan moneter yang
diterapkan oleh pemerintah melalui otoritas moneter dapat meningkatkan laju pertumbuhan
ekonomi Nasional.
Kebijakan yang paling tepat untuk menstabilkan perekonomian adalah kebijakan
moneter. stabilitas ekonomi dapat dilihat dari dampak guncangan suatu variabel makroekonomi
terhadap variabel makroekonomi yang lainnya. Apabila dampak suatu guncangan menyebabkan
fluktuasi yang besar pada variabel ekonomi dan diperlukan waktu yang relatif lama untuk
mencapai keseimbangan jangka panjang, maka dapat dikatakan bahwa stabilitas makroekonomi
rentan terhadap perubahan. Jika sebaliknya, dampak guncangan menunjukan fluktusi yang kecil
dan waktu untuk mencapai keseimbangan jangka panjang relatif tidak lama maka dapat
26

dikatakan bahwa kondisi makroekonomi masih stabil. Pertumbuhan ekonomi lebih cepat
ditingkatkan ketika otoritas moneter menggunakan instrument suku bunga SBI sebagai intervensi
kebijakannya

3.2 Saran

Jumlah uang beredar memberikan pengaruh yang paling dominan terhadap pertumbuhan
ekonomi Indonesia, oleh karena itu disarankan kepada otoritas moneter untuk mengendalikan
jumlah uang beredar hingga tingkat yang tidak memberikan pengaruh negatif terhadap
pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sesuai dengan hasil penelitian ini, bahwa jumlah uang beredar
masih dapat ditingkatkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Literatur:
http://nahdlaatika.wordpress.com/2013/04/24/analisis-dampak-kebijakanmoneter-terhadap-pengendalian-inflasi-dalam-pembangunan-ekonomiindonesia/
http://www.bi.go.id/id/moneter/kerangka-kebijakan/Contents/Default.aspx
http://www.erwinnomic.com/2010/08/tinjauan-sejarah-sistem-moneter.html
Naury, Sanny, 2005, Analisis Jumlah Uang Beredar, Suku Bunga dan Pertumbuhan
Ekonomi di Indonesia Tahun 1970 2002, Tesis Magister Sains, Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, Medan.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kebijakan_moneter

Julaihah, Umi. Analisis Dampak Kebijakan Moneter Terhadap variabel


Makroekonomi Di Indonesia.: Fakultas Tanbiyah UIN Malang
Sholeh, Maimun.Kebijakan Moneter Dan Inflation Targetting : Suatu Tinjauan
Teori.:Univesitas Negeri Yogyakarta

27

28