Anda di halaman 1dari 39

PROPOSAL

UJI AKTIVITAS PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH


KOMBINASI GLIBENKLAMID DAN EKSTRAK DAUN SALAM
(Syzygium polyanthum Wight.) TERHADAP MENCIT (Mus musculus)
DIABETES YANG DIINDUKSI ALOKSAN
DISUSUN OLEH :
STEFFI LIEM
G 701 11 031

PROGRAM STUDI FARMASI JURUSAN KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO
SEPTEMBER, 2014
A. LATAR BELAKANG
Diabetes melitus (DM) atau kencing manis adalah penyakit
metabolisme yang merupakan suatu kumpulan gejala yang timbul pada
seseorang karena adanya peningkatan kadar glukosa darah di atas nilai
normal. Penyakit ini disebabkan gangguan metabolisme glukosa akibat
kekurangan insulin baik secara absolut maupun relatif (Anonim a, 2013).

Diabetes dapat dibagi menjadi dua grup berdasarkan kebutuhan atas insulin,
yakni diabetes melitus tergantung insulin (IDDM atau Tipe 1) dan diabetes
melitus tidak tergantung insulin (NIDDM atau Tipe 2) (Mycek, M. J., 2001).
Global status report on NCD World Health Organization (WHO)
tahun 2010 melaporkan bahwa 60% penyebab kematian semua umur di dunia
adalah karena Penyakit Tidak Menular (PTM), salah satunya adalah diabetes
melitus. Diabetes melitus menduduki peringkat ke-6 sebagai penyebab
kematian. Sekitar 1,3 juta orang meninggal akibat diabetes dan 4% meninggal
sebelum usia 70 tahun. Pada tahun 2030, Indonesia diperkirakan akan
memiliki penyandang diabetes melitus sebanyak 21,3 juta jiwa. Indonesia
merupakan negara urutan ke-7 dengan prevalensi diabetes tertinggi, di bawah
Cina, India, USA, Brazil, Rusia dan Mexico (Anonimb, 2013).
Menurut data morbiditas pada pasien rawat inap Rumah Sakit (RS) di
seluruh Indonesia pada tahun 2009, jumlah penderita DM tertinggi terdapat
pada kelompok umur 45-64 tahun, diikuti kelompok umur 65 tahun ke atas
dan kelompok umur 25-44 tahun. Sedangkan data mortalitas DM di RS
menggambarkan 74,3% merupakan pasien DM yang tidak bergantung pada
insulin dan 25,7% selebihnya merupakan pasien DM yang bergantung pada
insulin (Anonimc, 2013). Prevalensi diabetes yang terdiagnosis dokter atau
gejala, tertinggi terdapat di Sulawesi Tengah (3,7%), Sulawesi Utara (3,6%),
Sulawesi Selatan (3,4%) dan Nusa Tenggara Timur (3,3%) (Anonima, 2013).
Tindakan umum yang dilakukan dalam penanganan diabetes melitus
tipe 2 adalah diet, gerak badan dan penurunan berat badan. Jika tindakan ini
tidak atau kurang efektif untuk menormalkan glukosa darah, perlu digunakan
antidiabetika oral (ADO) (Tjay, T. H., 2007). Selain antidiabetika oral, pasien

diabetes melitus tipe 2 ini juga banyak menggunakan obat herbal sebagai
alternatif penyembuhan. Selama kurun waktu 2000-2006 terjadi peningkatan
penggunaan obat tradisional, yang dilakukan untuk pengobatan sendiri
(swamedikasi), dari 15,2% menjadi 38,3% (Adhitia, 2012).
Terapi diabetes melitus yang memakan waktu lama memungkinkan
terjadinya pemakaian bersama obat herbal dan antidiabetika oral. Berdasarkan
penelitian di 11 Puskesmas Kota Depok 2012, dari 101 orang responden,
sebanyak

52,47%

menggunakan

antidiabetes

herbal

dan

47,53%

menggunakan ADO saja. Dari 52,47% pengguna antidibetes herbal, sebanyak


71,70% menggunakan kombinasi ADO dan antidiabetes herbal, sedangkan
28,30% menggunakan antidiabetes herbal saja. Salah satu antidibetes herbal
yang digunakan adalah daun salam (Adhitia, 2012).
Penderita diabetes seringkali menggunakan obat herbal berkhasiat
antidiabetes

bersamaan

dengan

ADO

yang

diresepkan

tanpa

menginformasikan terlebih dahulu kepada praktisi kesehatan. Mereka


berasumsi bahwa kombinasi tersebut aman, dapat mengurangi efek samping
atau toksisitas, dan menghasilkan efek sinergis (Pekthong, et al, 2007).
Kombinasi ini bertujuan untuk mencapai kadar glukosa darah yang lebih baik
(Wibudi, et al, 2008).
Secara turun-temurun daun salam digunakan sebagai bumbu masakan
dan obat tradisional dalam mengobati diabetes. Pada penelitian sebelumnya,
telah terbukti bahwa ekstrak etanol daun salam dapat menurunkan kadar
glukosa darah mencit yang diinduksi aloksan pada dosis 2,64 mg/20 g BB
dan 5,24 mg/20 g BB (Studiawan, H. & Santosa, H., 2005). Selain itu,
terdapat juga penelitian yang menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun salam

pada dosis 249,6 mg/kg BB dan 499,2 mg/kg BB dapat menurunkan kadar
glukosa darah mencit yang diinduksi aloksan sebanding dengan glibenklamid
(Carolina, R., 2007).
Penggunaan bersama antidiabetes herbal dengan obat antidiabetes oral
(ADO) menimbulkan kekhawatiran munculnya efek hipoglikemik yang
berlebihan atau bahkan mengurangi efek hipoglikemik obat tersebut bila
digunakan secara terus-menerus. Hal ini terbukti dari hasil penelitian terapi
kombinasi ekstrak etanol buah pare (Momordica charantia) 250 mg/kgBB
dengan glibenklamid 0,45 mg/kgBB lebih efektif dalam menurunkan kadar
glukosa darah mencit Wistar yang diinduksi aloksan dibandingkan dengan
terapi tunggal ekstrak etanol buah pare atau terapi tunggal glibenklamid
(Abadi, M. F. N., 2014).

Sedangkan pengujian kombinasi ekstrak

terpurifikasi herba sambiloto 434,6 mg/kgBB dengan metformin dosis 45


mg/kgBB dan 22,5 mg/kgBB menunjukkan bahwa persen daya hipoglikemik
yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan dengan pemberian metformin atau
ekstrak terpurifikasi secara tunggal (Syamsul E. S., dkk., 2011). Senyawa
yang terkandung dalam herbal dapat menyebabkan interaksi farmakokinetika
saat diberikan dengan obat sintetis secara bersamaan (Pekthong, dkk., 2007).
Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui aktivitas penurunan kadar
glukosa darah kombinasi glibenklamid dan ekstrak daun salam (Syzygium
polyanthum Wight.) terhadap mencit (Mus musculus) diabetes yang diinduksi
aloksan untuk melihat efektivitas pemberian terapi kombinasi apakah
semakin baik dengan berdaya secara sinergis yang akan berefek potensiasi,

yaitu kedua obat saling memperkuat khasiatnya atau efek semakin berkurang
karena terjadi interaksi obat.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah kombinasi glibenklamid dan ekstrak daun salam dapat
menurunkan kadar glukosa darah mencit diabetes yang diinduksi aloksan?
2. Berapakah dosis kombinasi glibenklamid dan ekstrak daun salam yang
efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah mencit diabetes yang
diinduksi aloksan?

C. TUJUAN PENELITIAN
1. Mengetahui efektivitas kombinasi glibenklamid dan ekstrak daun salam
dalam menurunkan kadar glukosa darah mencit diabetes yang diinduksi
aloksan.
2. Menentukan dosis kombinasi glibenklamid dan ekstrak daun salam yang
efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah mencit diabetes diinduksi
aloksan.
D. MANFAAT PENELITIAN
1. Peneliti dapat memperkaya ilmu pengetahuan, khususnya yang berkaitan
dengan adanya interaksi antidiabetika oral dan ekstrak tanaman dalam
menurunkan kadar glukosa darah.
2. Memajukan dan mengembangkan Ilmu Sains dan Ilmu Kesehatan di
Indonesia.
E. TINJAUAN PUSTAKA
1. Uraian Tentang Tumbuhan Salam

a. Gambaran Umum
Salam mempunyai nama lokal dan asing yang berbeda-beda.
Nama lokal salam yakni salam (Madura), manting (Jawa), gowok
(Sunda), dan meselangan (Sumatera). Sedangkan nama asing salam
adalah ubar serai (Malaysia), indonesia bay leaf, indonesian laurel,
indian bay leaf (Inggris), dan indonesische lorbeerblatt (Belanda)
(Trubus, 2012).
Tanaman salam bisa mencapai tinggi 25 meter, berakar
tunggang, dan berbatang bulat dengan permukaan licin (Redaksi
AgroMedia, 2008). Daun bila diremas berbau harum, berbentuk
lonjong sampai elips atau bundar telur sungsang, pangkal lancip
sedangkan ujung lancip sampai tumpul, panjang 5 cm sampai 15 cm,
lebar 35 mm sampai 65 mm, terdapat 6 sampai 10 urat daun lateral,
panjang tangkai daun 5 mm sampai 12 mm (Anonim, 1980).
Perbungaan berupa malai, keluar dari ranting, berbau harum.
Bila musim berbunga, pohon akan dipenuhi oleh bunga-bunganya.
Kelopak bunga berbentuk cangkir yang lebar, ukuran 1 mm.
Mahkota bunga berwarna putih, panjang 2,5 mm sampai 3,5 mm.
Benang sari terbagi 4 kelompok panjang 3 mm berwarna kuning
lembayung. Buah buni, berwarna gelap, berbentuk bulat dengan
garis tengah 8 mm sampai 9 mm pada bagian tepi berakar lembaga
yang sangat pendek (Anonim, 1980).
Menurut Ramadhanil & Sahlan (2014), klasifikasi salam
adalah sebagai berikut.
Kingdom
: Plantae
Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Myrtales

Famili

: Myrtaceae

Genus
Spesies

: Syzygium
: Syzygium polyanthum (Wight.) Walp.
(Sin. Eugenia polyantha)
b. Kandungan Kimia
Daun salam mengandung saponin, triterpen, flavonoid, tanin,
polifenol, dan alkaloid. Minyak atsiri daun salam terdiri dari sitral,
seskuiterpen, lakton, eugenol, dan fenol (Trubus, 2012).
c. Khasiat
Daun salam dipakai untuk mengobati asam urat, diare,
kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, kencing manis, dan maag.
Buahnya untuk mengobati mabuk akibat alkohol. Tanaman ini
berkhasiat analgesik, antibakteri dan anti inflamasi (Trubus, 2012).

2. Definisi Diabetes
Menurut American Diabetes Association (ADA) 2005, diabetes
melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,
kerja insulin atau kedua-duanya. Sedangkan menurut WHO 1980
dikatakan bahwa diabetes melitus merupakan sesuatu yang tidak dapat
dituangkan dalam satu jawaban yang jelas dan singkat tapi secara umum
dapat dikatakan sebagai suatu kumpulan problema anatomik dan kimiawi
yang merupakan akibat dari sejumlah faktor di mana didapat defisiensi

insulin absolut atau relatif dan gangguan fungsi insulin (Perkumpulan


Endokrinologi Indonesia, 2006).

3. Etiologi
Penyebab diabetes adalah kekurangan hormon insulin, dimana
insulin memudahkan penyerapan glukosa melalui membran dan masuk
ke dalam sel untuk dimetabolisme dan dimanfaatkan sebagai sumber
energi.

Akibatnya

ialah

glukosa

bertumpuk

di

dalam

darah

(hiperglikemia) dan akhirnya dieksresikan lewat kemih tanpa digunakan.


Karena itu, produksi kemih sangat meningkat dan penderita sering
berkemih, merasa amat haus, berat badan menurun dan merasa lelah.
Penyebab lain adalah menurunnya kepekaan reseptor sel bagi insulin
(resistensi insulin) yang diakibatkan oleh makan terlalu banyak dan
kegemukan. Rata-rata 1,5-2% dari seluruh penduduk dunia menderita
diabetes yang bersifat menurun (familial). (Tjay, T. H., 2001).

4. Patofisiologi
DM Tipe 2 terjadi pada 90% dari semua kasus diabetes dan
biasanya ditandai dengan resistensi insulin dan defisiensi insulin relatif.
Resistensi insulin ditandai dengan peningkatan lipolisis dan produksi
asam lemak bebas, peningkatan produksi glukosa hepatik, dan penurunan
pengambilan glukosa pada otot skelet. Disfungsi sel mengakibatkan
gangguan pada pengontrolan glukosa darah. DM tipe 2 lebih disebabkan
karena gaya hidup penderita diabetes (kelebihan kalori, kurangnya

olahraga, dan obesitas) dibandingkan pengaruh genetik (Sukandar, E. Y.,


dkk., 2009).
Diabetes yang disebabkan oleh faktor lain (1-2% dari semua kasus
diabetes) termasuk gangguan endokrin (misalnya akromegali, sindrom
Cushing), diabetes melitus gestational (DMG), penyakit pankreas
eksokrin (pankreatitis), dan karena obat (glukokortikoid, pentamidin,
niasin, dan -interferon). Gangguan glukosa puasa dan gangguan
toleransi glukosa terjadi pada pasien dengan kadar glukosa plasma lebih
tinggi dari normal tetapi tidak termasuk dalam DM. Gangguan ini
merupakan faktor resiko untuk berkembang menjadi penyakit DM dan
kardiovaskular yang berhubungan dengan sindrom resistensi insulin.
Komplikasi mikrovaskular berupa neuropati, retinopati, dan nefropati
sedangkan komplikasi makrovaskular berupa penyakit jantung koroner,
stroke, dan penyakit vaskular periferal (Sukandar, E. Y., dkk., 2009).

5. Gejala
Penyakit diabetes melitus ditandai gejala 3P, yaitu poliuria (banyak
bekemih), polidipsia (banyak minum) dan polifagia (banyak makan)
(Tjay, T. H., 2001). Gejala lain dapat berupa lemah badan, kesemutan,
gatal, mata kabur dan disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulvae
pada wanita (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, 2006).
Disamping naiknya kadar gula darah, gejala kencing manis
bercirikan adanya gula dalam kemih dan banyak berkemih karena
glukosa yang dieksresikan mengikat banyak air. Akibatnya timbul rasa

sangat haus, kehilangan banyak energi dan turunnya berat badan serta
rasa letih. Tubuh mulai membakar lemak untuk memenuhi kebutuhan
energinya, yang disertai pembentukan zat-zat perombakan, antara lain
aseton, asam hidroksibutirat dan diasetat, yang membuat darah menjadi
asam. Keadaan ini, yang disebut ketoasisdosis, amat bebahaya, karena
akhirnya dapat menyebabkan pingsan. Napas penderita yang sudah
menjadi kurus seringkali juga berbau aseton (Tjay, T. H., 2001).

6. Diagnosis
Menurut Sudoyo, A. W., dkk., (2009), kriteria diagnosis DM adalah
sebagai berikut:
a. Gejala klasik DM + glukosa plasma sewaktu 200 mg/dL (11,1
mmol/L). Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil pemeriksaan
sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir.
b. Gejala klasik DM + glukosa plasma puasa 126 mg/dL (7,0
mmol/L). Puasa diartikan pasien tidak mendapat kalori tambahan
sedikitnya 8 jam.
c. Glukosa plasma 2 jam pada TTGO 200 mg/dL (11,1 mmol/L).
TTGO dilakukan dengan standar WHO, menggunakan beban glukosa
yang setara dengan 75 gram glukosa anhidrat yang dilarutkan ke
dalam air.

7. Klasifikasi Diabetes Melitus


a. Diabetes Tipe 1

10

Diabetes tipe 1 terjadi karena adanya gangguan produksi


insulin akibat penyakit autoimun atau idiopatik. Tipe ini sering
disebut insulin dependent diabetes mellitus atau IDDM karena
pasien mutlak membutuhkan insulin (Tanu, I., 2009). Pada tipe ini
terdapat destruksi dari sel-sel beta pankreas, sehingga tidak
memproduksi insulin lagi dengan akibat sel-sel tidak bisa menyerap
glukosa dari darah. Penyebabnya belum jelas, tetapi terdapat indikasi
kuat bahwa jenis ini disebabkan oleh suatu infeksi virus atau agen
toksik yang menyebabkan reaksi autoimun. Akibatnya sel-sel
pertahanan tubuh tidak hanya membasmi zat asing tersebut,
melainkan

juga

turut

merusak

atau

memusnahkan

sel-sel

Langerhans. Pada tipe ini faktor keturunan juga memegang peranan.


Virus yang dicurigai adalah virus Coxsackie-B, Epstein-Barr,
morbilli dan virus parotitis (Tjay, T. H., 2007).
b. Diabetes Tipe 2
Diabetes tipe 2 merupakan kelompok heterogen yang terdiri
dari bentuk diabetes yang lebih ringan yang terutama terjadi pada
orang dewasa tetapi kadang-kadang juga terjadi pada remaja.
Sirkulasi insulin endogen cukup untuk mencegah terjadinya
ketoasidosis tetapi insulin tersebut sering dalam kadar kurang dari
normal atau secara relatif tidak mencukupi karena kurang pekanya
jaringan. Obesitas, yang pada umumnya menyebabkan gangguan
pada kerja insulin, merupakan faktor resiko yang biasa terjadi pada

11

diabetes tipe 2 ini, dan sebagian besar pasien dengan diabetes tipe 2
bertubuh gemuk (Katzung, B. G. B. G., 2002).
Selain terjadinya penurunan kepekaan jaringan pada insulin,
yang telah terbukti terjadi pada sebagian besar pasien dengan
diabetes tipe 2 terlepas dari berat badan, adalah terjadi pula suatu
defisiensi respon sel pankreas terhadap glukosa. Baik resistensi
jaringan terhadap insulin maupun kerusakan respon sel terhadap
glukosa dapat lebih diperparah dengan meningkatnya hiperglikemia,
dan kedua kerusakan tersebut dapat diperbaiki melalui terapeutik
yang mengurangi hiperglikemia tersebut (Katzung, B. G. B. G.,
2002).
c. Diabetes Melitus Tipe Lain (Sudoyo A. W., dkk., 2009)
1) Defek genetik fungsi sel beta: kromosom 12, HNF- (dahulu
MODY 3); kromosom 7, glukokinase (dahulu MODY 2);
kromosom 20, HNF- (dahulu MODY 1); kromosom 13, insulin
promoter factor (IPF dahulu MODY 4); kromosom 17, HNF-1
(dahulu MODY 5); kromosom 2, Neuro D1 (dahulu MODY 6)
DNA mitokondria; lainnya
2) Defek genetik kerja insulin: resistensi insulin tipe A, I
eprechaunism, sindrom Rabson Mendenhall diabetes lipoatrofik,
lainnya.
3) Penyakit

eksokrin

trauma/pankreatektomi,

pankreas:
neoplasma,

pankreatitis,
fibrosis

kistik

hemokromatosis, pankreatopati fibro kalkulus, lainnya.

12

4) Endokrinopati: akromegali, sindrom cushing, feokromositoma,


hipertiroidisme somatostatinoma, aldosteronoma, lainnya.
5) Karena obat/ zat kimia: vacor, pentamidin, asam nikotinat,
glukokortikoid,

hormon

tiroid,

diazoxid,

aldosteronoma,

lainnya.
6) Infeksi: rubella congenital, CMV, lainnya.
7) Imunologi (jarang): sindrom Stiffman, antibodi anti reseptor
insulin, lainnya.
8) Sindrom genetik lain: sindrom Down, sindrom Klinefelter,
sindrom Turner, sindrom Wolframs, ataksia Friedreichs, chorea
Huntington, sindrom Laurence Moon Biedl distrofi miotonik,
porfiria, sindrom Prader Willi, lainnya.
d. Diabetes Gestasional
Secara umum, DM pada kehamilan dibagi menjadi dua
kelompok, yaitu 1) DM yang memang sudah diketahui sebelumnya
atau kemudian menjadi hamil (Diabetes Melitus Hamil/DMH/ DM
Pragestasional) dan 2) DM yang baru ditemukan saat hamil
(Diabetes Melitus Gestasional/ DMG). Diabetes melitus gestasional
didefinisikan sebagai suatu intoleransi glukosa yang terjadi atau
pertama kali ditemukan pada saat hamil. Ini meliputi 2-5% dari
seluruh diabetes (Sudoyo, A. W., dkk., 2009).
Tabel 1. Klasifikasi Diabetes Melitus (Sudoyo, A. W., dkk., 2009)
I. DM Tipe 1
Dekstruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin
absolut
a. Melalui proses autoimun
b. Idiopatik
II. DM Tipe 2
Bervariasi, mulai yang dominan resistensi insulin disertai dengan
defisiensi insulin relatif sampai yang dominan defek sekresi

13

III.

IV.

insulin disertai dengan resistensi insulin


DM Tipe lain
a. Defek genetik fungsi sel beta
b. Defek genetik kerja insulin
c. Penyakit eksokrin pankreas
d. Endokrinopati
e. Karena obat/ zat kimia
f. Infeksi
g. Imunologi (jarang)
h. Sindrom genetik lain
DM Kehamilan

Sumber: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam (Sudoyo, A. W., dkk., 2009).

8. Pembentukan Insulin
Menurut Tjay, T. H. (2007), insulin dihasilkan dalam pankreas.
Dalam pankreas terdapat empat jenis sel endokrin, yakni :
a. Sel-alfa, yang memprodusik hormon glukagon;
b. Sel beta dengan banyak granula berdekatan membran selnya, yang
berisi insulin. Setiap hari sekitar 2 mg insulin, yang dengan aliran
darah diangkat ke hati. Kira-kira 50% dari hormon ini dirombak di
sini, sisanya diuraikan dalam ginjal.
c. Sel-D memproduksi somatostatin (antagonis somatropin, hormon
hipofisis).
d. Sel-PP memproduksi PP (pancreatic polypeptide), yang mungkin
berperan pada penghambatan sekresi endokrin dan empedu.
Hati merupakan organ utama yang menstabilkan keseimbangan
glukosa (homeostatis) antara absorpsi dan penimbunannya sebagai
glikogen. Glikogen ini sesudah makan dilepaskan ke dalam sirkulasi
untuk menyesuaikan kecepatan pembakaran glukosa oleh jaringan
perifer. Hati juga dapat mensintesis glukosa dari molekul-molekul

14

beratom 3C yang berasal dari perombakan lemak dan protein (Tjay, T. H.,
2001).
Setelah karbohidrat dari makanan dirombak dalam usus, glukosa
lalu diserap ke dalam darah dan diangkut ke sel-sel tubuh. Untuk
penyerapannya ke dalam sel-sel tubuh diperlukan insulin. Sesudah masuk
ke dalam sel, glukosa lantas diubah menjadi energi atau ditimbun sebagai
cadangan. Cadangan ini digunakan bila tubuh kekurangan energi karena
misalnya berpuasa beberapa waktu (Tjay, T. H., 2001).
Setiap kali kita makan hidrat arang (gula), maka kadar glukosa
darah akan naik. Sebagai reaksi, pankreas memproduksi dan melepaskan
insulin guna memungkinkan absorpsi glukosa oleh sel, sehingga kadar
glukosa turun lagi dan pankreas menurunkan produksi insulinnya.
Dengan demikian kadar glukosa darah dapat bervariasi antara batas-batas
normal dari 4-8 mmol/liter (1 mmol/l = 180 mg glukosa/l darah) (Tjay, T.
H., 2001).
Yang paling banyak menggunakan glukosa adalah saraf dan otak,
pemasukkannya adalah obligat dan tidak tergantung dari insulin. Di
dalam sel glukosa dioksidasi menjadi karbondioksida dan air dengan
menghasilkan energi. Jaringan otot dan lemak menyerap glukosa hanya
bila diperlukan, karena kebutuhan energi dapat pula dicapai dengan jalan
oksidasi asam lemak. Glukosa diserap di otot ditimbun sebagai glikogen
atau dirombak menjadi asam laktat, yang dengan darah diangkut ke hati
dan menjadi bahan pangkal untuk glukoneogenesis. Jaringan lemak

15

menggunakan glukosa sebagai sumber energi dan sebagai substrat untuk


sintesis

trigliserida.

Zat-zat

ini

mengalami

lypolysis

dengan

menghasilkan asam lemak dan gliserol, yang juga merupakan bahan


pangkal untuk glukoneogenesis (Tjay, T. H., 2001).

9. Antidiabetika Oral
a. Sulfonilurea
Golongan obat ini sering disebut sebagai insulin secretagogues,
kerjanya merangsang sekresi insulin dari granul sel-sel Langerhans
pancreas. Ransangannya melalui interaksinya dengan ATP-sensitive K
channel pada membrane sel-sel yang menimbulkan depolarisasi
membran dan keadaan ini akan membuka kanal Ca. Dengan
terbukanya kanal Ca maka ion Ca++ akan masuk sel-, merangsang
granula yang berisi insulin akan terjadi sekresi insulin dengan jumlah
yang ekuivalen dengan peptida-C. kecuali itu sulfonilurea dapat
mengurangi klirens insulin di hepar (Tanu, I., 2009).
Dikenal 2 generasi sulfonilurea, generasi 1 terdiri dari
tolbutamid, tolazamid, adetoheksimid dan klorpropamid. Generasi II
yang

potensi

hipoglikemik

lebih

besar,

misalnya

gliburid

(glibenklamid), glipizid, gliklazid dan glimepirid (Tanu, I., 2009).


b. Kalium-channel blockers (Penghambat Kanal Kalium)
Repaglinid dan Nateglinid merupakan golongan meglitinid,
mekanisme kerjanya sama dengan sulfonilurea tetapi struktur
kimianya sangat berbeda. Golongan ADO ini merangsang insulin
dengan menutup kanal K yang ATP-independent di sel pankreas
(Tanu, I., 2009).

16

c. Biguanida
Biguanida sebenarnya bukan obat hipoglikemik tetapi suatu
antihiperglikemik, tidak menyebabkan rangsangan sekresi insulin dan
umumnya tidak menyebabkan hipoglikemia. Metformin menurunkan
produksi glukosa dihepar dan meningkatkan sensitivitas jaringan otot
dan adiposa terhadap insulin. Efek ini terjadi karena adanya aktivitasi
kinase di sel (AMP-activated protein kinase) (Tanu, I., 2009).
Sebenarnya dikenal 3 jenis ADO dari golongan biguanida:
fenformin, buformin dan metformin, tetapi yang pertama telah ditarik
dari peredaran karena sering menyebabkan asidosis laktat. Sekarang
yang banyak digunakan adalah metformin (Tanu, I., 2009).
d. Tiazolidindion
Senyawa tiazolidindion memperbaiki sensitivitas insulin di
dalam jaringan lemak, otot kerangka dan dalam hati. Juga penyerapan
glukosa

perifer.

Zat

ini

tidak

mendorong

pankreas

untuk

meningkatkan pelepasan insulin, seperti sulfonilurea. Zat ini adalah


agonis PPAR-gamma (peroxisome proliferator activated receptor).
PPAR adalah suatu kelompok faktor transkripsi (alfa, beta dan
gamma), yang memegang peran pada pemasakan adiposit (sel lemak)
dan ekspresi dari gen-gen yang bertalian dengan metaboliseme
intermedier. Efeknya adalah peningkatan sensitivitas adiposit bagi
insulin, sehingga kapasitas penimbunannya bagi glukosa dan lipida
diperbesar, dengan kenaikan HDL. PPAR-gamma terutama terdapat di

17

adiposit, lebih sedikit di sel-sel hati dan jaringan otot. Contoh obat
yang termasuk golongan ini adalah Rosiglitazon, Pioglitazon, dan
Troglitazon (Tjay, T. H., 2001).
e. Glukosidase-inhibitor
Zat-zat ini bekerja atas dasar persaingan merintangi enzim alfaglukosidase di mukosa duodenum, sehingga reaksi penguraian
polisakarida monosakarida terhambat. Dengan demikian glukosa
dilepaskan lebih lambat dan absorsinya kedalam darah juga kurang
cepat, lebih rendah dan merata, sehinggga puncak pada gula darah
dihindarkan. Kerja ini mirip dengan efek dari makanan yang kaya
akan serat gizi. Contoh obatnya yaitu akarbose dan miglitol inhibitor
mengurangi penyerapan glukosa dari usus kecil (Tjay, T. H., 2001).
f. Penghambat DPP-4 (DPP-4 blockers)
Obat-obat kelompok terbaru ini bekerja berdasarkan penurunan
efek hormon incretin. Incretin berperan utama terhadap produksi
insulin di pankreas dan yang terpenting adalah GLPI dan GIP, yaitu
glukagon-like

peptide

dan

glucose-dependent

insulin

tropic

polypeptide. Incretin ini diuraikan oleh suatu enzim khas DPP-4


(dipeptidylpeptidase). Dengan penghambatan enzim ini, senyawa
gliptin mengurangi penguraian dan inaktivasi incretin, sehingga kadar
insulin akan meningkat. Contoh obatnya yaitu sitaglitin dan
vildagliptin (Tjay, T. H., 2001).

18

10. Definisi Hipoglikemia


Hipoglikemia secara harfiah berarti kadar glukosa darah di bawah
harga normal. Pada individu normal, sesudah puasa semalam kadar
glukosa darah jarang lebih rendah dari 4 mmol/L, tetapi kadar kurang
dari 50 mg% (2,8 mmol/L) pernah dilaporkan dijumpai sesudah puasa
yang berlangsung lebih lama (Sudoyo, A. W., Setiyohati dkk., 2009).
Hipoglikemia spontan yang patologis mungkin terjadi pada tumor
yang mensekresi insulin atau insulin-like growth factor (IGF). Dalam hal
ini diagnosis hipoglikemia ditegakkan bila kadar glukosa < 50 mg% (2,8
mmol/L) atau bahkan < 40 mg% (2,2 mmol/L). Walaupun demikian
berbagai studi fisiologis menunjukkan bahwa gangguan fungsi otak
sudah dapat terjadi pada kadar glukosa darah 55 mg% (3 mmol/L). lebih
lanjut diketahui bahwa kadar glukosa darah 55 mg% ( 3 mmol/L) yang
terjadi berulang kali merusak mekanisme proteksi endogen terhadap
hipoglikemia yang lebih berat (Sudoyo, A. W., dkk., 2009).
Respon regulasi non-pankreas terhadap hipoglikemia dimulai
pada kadar glukosa darah 63-65 mg% (3,5-3,6 mmol/L). Oleh sebab itu,
dalam konteks terapi diabetes, diagnosis hipoglikemia ditegakkan bila
kadar glukosa plasma 63 mg% (3,5 mmol/L) (Sudoyo, A. W., dkk.,
2009).

11. Aloksan
Aloksan merupakan senyawa yang tidak stabil dan bersifat
hidrofilik, waktu paruhnya hanya 1,5 menit pada pH netral dan temperatur

19

37C, dalam suhu lebih rendah waktu paruhnya menjadi lama. Mekanisme
kerja aloksan pada prinsipnya terjadi melalui beberapa proses yang secara
simultan menghasilkan efek kerusakan pada sel-sel pankreas. Proses
yang dimaksud diantaranya pembentukan senyawa radikal bebas,
terjadinya oksidasi gugus SH, penghambatan glukokinase serta adanya
gangguan homeostatis kalsium intraseluler (Szkudelski, 2001).
Mekanisme kerja aloksan diawali dengan ambilan aloksan ke dalam
sel-sel beta pankreas dan kecepatan ambilan ini akan menentukan sifat
diabetogenik aloksan. Ambilan ini juga dapat terjadi pada hati atau
jaringan lain, tetapi jaringan tersebut relatif lebih resisten dibanding pada
sel-sel pankreas. Sifat inilah yang melindungi jaringan terhadap
toksisitas aloksan (Szkudelski, 2001).
Faktor lain yang sangat dominan menghasilkan sifat diabetogenik
aloksan adalah pembentukan senyawa oksigen reaktif yang terjadi dalam
sel-sel pankreas. Beberapa penelitian melaporkan bahwa aloksan
meningkatkan konsentrasi kalsium bebas sitosolik dalam sel-sel pankreas
akibat dari beberapa proses antara lain peningkatan infulk kalsium dari
cairan ekstraseluler, mobilisasi intraseluler, maupun berkurangnya kalsium
yang hilang dalam sitoplasma (Gambar 1). Aloksan lebih umum digunakan
untuk menghasilkan model DM tipe-1. Kemampuan aloksan untuk dapat
menimbulkan diabetes juga tergantung pada jalur penginduksian, dosis,
senyawa, hewan percobaan dan status gizinya (Szkudelski, 2001).

20

Gambar 1: Mekanisme pembentukan senyawa oksigen reaktif dalam sel pankreas mencit
yang diinduksi aloksan (Szkudelski, 2001).

12. Glibenklamid

Gambar 2. Struktur kimia glibenklamid (Martindale, 2007).

a. Farmakokinetik
Glibenklamid diabsorbsi di saluran cerna, konstransi plasma
puncak dicapai setelah 2-4 jam setelah pemberian, dan secara luas
terikat pada protein plasma. Penyerapan menjadi lebih lambat pada
pasien hiperglikemik dan mungkin berbeda sesuai dengan ukuran
partikel sediaan. Glibenklamid dimetabolisme hampir seluruhnya di
dalam hati, metabolit utamanya menjadi sangat lemah aktif. Sekitar
50% dari dosis diekskresikan dalam urin dan 50% melalui empedu ke
tinja (Martindale, 2007).
b. Farmakodinamik
Golongan obat ini sering disebut sebagai insulin secretagogues,
kerjanya merangsang sekresi insulin dari granul sel-sel Langerhans
pankreas. Rangsangannya melalui interaksinya dengan ATP-sensitive

21

K channel pada membran sel-sel yang menimbulkan depolarisasi


membran dan keadaan ini akan membuka kanal Ca. Dengan
membukanya kanal Ca maka ion Ca++ akan masuk sel- , merangsang
granula yang berisi insulin dan akan terjadi sekresi insulin dengan
jumlah yang ekuivalen dengan peptida-C (Tanu, I., 2009).
c. Efek Samping
Hipoglikemia, bahkan sampai koma tentu dapat timbul. Reaksi
ini lebih sering terjadi pada pasien usia lanjut dengan gangguan fungsi
hepar atau ginjal, terutama menggunakan sediaan dengan masa kerja
panjang. Efek samping lain, reaksi alergi jarang sekali terjadi, mual,
muntah, diare, gejala hematologik, susunan saraf pusat, mata dan
sebagainya (Tanu, I., 2009).
d. Interaksi
Obat yang dapat meningkatkan risiko hipoglikemia sewaktu
penggunaan sulfonilurea ialah insulin, alkohol, fenformin, sulfonamid,
salisilat dosis besar, fenilbutazon, oksifenbutazon, probenezid,
dikumarol, kloramfenikol, penghambat MAO, guanetidin, anabolic
steroid, fenfluramin dan klofibrat. Popanolol dan penghambat
adrenoseptor lainnya menghambat reaksi takikardia, berkeringat dan
tremor pada hipoglikemia oleh berbagai sebab termasuk oleh ADO,
sehingga keadaan hipoglikemik menjadi hebat tanpa diketahui (Tanu,
I., 2009).
e. Dosis
Dosis awal yang biasa digunakan pada penderita diabetes tipe 2
adalah 2,5-5mg/hari pada sarapan pagi, dapat dinaikkan setiap 7 hari
sampai 15 mg/hari (Martindale, 2007).
13. Hewan Uji

22

Hewan uji adalah hewan yang khusus dipelihara dan diternak untuk
tujuan sebagai hewan uji yang dilakukan untuk mempelajari dan
mengembangkan berbagai macam bidang ilmu dalam skala penelitian atau
pengamatan laboratorik (Malole, M.B.M., & Pramono C.S.U., 1989).
Hewan uji harus memenuhi kriteria tertentu, antara lain kemiripan fungsi
fisiologis dengan manusia, perkembangbiakan cepat, cenderung mudah
diperoleh dan dipelihara, memiliki galur genetis murni serta murah secara
ekonomis (Mangkoewidjojo, S., 1988).
Mencit liar atau mencit rumah adalah hewan semarga dengan mencit
laboratorium. Klasifikasi mencit menurut Schwiebert, R. (2007) yaitu :
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Subfilum

: Vertebrata

Kelas

: Mamalia

Ordo

: Rodentia

Genus

: Mus

Spesies

: Mus musculus

Tabel 2. Data biologis mencit


Karakteristik mencit
Lama hidup
Berat
dewasa
Berat lahir

Karakteristik mencit

: 1-2 tahun, bisa Trombosit


sampai 3 tahun
: 20-40 g jantan
Hb
18-35 g betina

: 0,5-1,0 g

Tekanan
darah

150-400 x
103/mm3
13-16 g/100 mL

130-160
sistol,
102-110 diastol

23

Volume
darah

: 75-80 mL/Kg

Sel
darah : 7,7-12,5 x
merah
106/mm3

Kolesterol
serum

Protein
plasma

26,0-82,4 mg/100
mL
4,0-6,8 g/100 mL

Sumber: Pemeliharaan, Pembiakan dan Penggunaan Hewan Percobaan di Daerah Tropis


(John B. Smith, 1998)

14. Ekstraksi
Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan
kelarutannya terhadap dua cairan tidak saling larut yang berbeda. Prinsip
ekstraksi adalah melarutkan senyawa polar dalam pelarut polar dan
senyawa non polar dalam pelarut nonpolar. Secara umum ekstraksi
dilakukan secara berturut-turut mulai dengan pelarut nonpolar (n-heksan)
lalu pelarut yang kepolarannya menengah (diklormetan atau etil asetat)
kemudian pelarut yang bersifat semipolar (metanol atau etanol)
(Harborne, 1987). Ekstrak merupakan sediaan sari pekat tumbuhtumbuhan yang diperoleh dengan cara melepaskan zat aktif dari masingmasing bahan obat menggunakan menstrum yang sesuai (Ansel, H.C.,
1989).
Metode ekstraksi dipilih berdasarkan beberapa faktor seperti sifat
dari bahan mentah obat, daya penyesuaian dengan tiap macam metode
ekstraksi dan kepentingan dalam memperoleh ekstrak yang sempurna
atau mendekati sempurna (Ansel, H.C., 1989). Salah satu metode
ekstraksi yang paling sederhana dilakukan yaitu maserasi.
Maserasi adalah proses penyarian simplisia dengan menggunakan
pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada

24

temperatur kamar. Simplisia dihaluskan sesuai dengan persyaratan


Farmakope (umumnya terpotong-potong atau diserbuk kasar) disatukan
dengan bahan ekstraksi, disimpan di tempat terlindung dari cahaya
langsung untuk mencegah reaksi yang dikatalisis cahaya atau perubahan
warna lalu dikocok kembali. Waktu maserasi adalah berbeda-beda,
masing-masing Farmakope mencantumkan 4-10 hari, kira-kira 5 hari
menurut pengalaman sudah memadai, diperas dengan kain pemeras
(Voigt. R, 1994).

F. METODE PENELITIAN
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah eksperimen laboratorium dimana
kelompok perlakuan dibagi menjadi 6 kelompok uji, masing-masing
terdiri dari 5 ekor mencit. Kemudian dilakukan pengukuran kadar glukosa
darah mencit sebelum dan setelah disuntikkan aloksan untuk membuat
model hewan diabetes. Lalu diberikan perlakuan sesuai kelompok uji.

2. Waktu dan Lokasi Penelitian


a. Waktu Penelitian
Penelitian ini akan berlangsung selama 2 bulan, yakni dari bulan
September sampai Oktober 2014.
b. Lokasi Penelitian
Pembuatan ekstrak daun salam di Laboratorium FarmakognosiFitokimia dan pemberian perlakuan dilakukan di Laboratorium
Farmakologi-Biofarmasi Program Studi Farmasi, FMIPA, Universitas
Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah.

25

3. Variabel Penelitian
Variabel bebas adalah dosis kombinasi glibenklamid dan ekstrak
daun salam. Variabel terikat adalah kadar glukosa darah mencit. Variabel
terkontrol adalah berat badan mencit (20-30 g), umur mencit (2-3 bulan),
jenis kelamin mencit (jantan), pakan dan minuman yang diberikan.

4. Alat dan Bahan Penelitian


a. Alat Penelitian
Alat-alat yang digunakan

dalam

penelitian

ini

adalah,

glukometer Nesco, kandang, strip Nesco, gunting steril, sonde oral,


gelas kimia (Pyrex), gelas ukur (Pyrex), labu ukur (Pyrex), neraca
Ohaus (PioneerTM), neraca ohaus (Triple Beam), hotplate, batang
pengaduk, rotavapor (Eyela OSB 2100), corong kaca (Pyrex ), wadah
maserasi, gunting, mortir, stamper, cawan porselin, batang pengaduk,
blender, masker, handskun, kertas saring dan spoit.
b. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun
salam, glibenklamid, Na CMC, akuades, etanol 96%, etanol 70%,
aloksan, serbuk Mg, asam klorida, FeCl3, eter, reagen Dragedorff,
Wagner, Mayer, dan Lieberman Buchard.
c. Hewan Percobaan
Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini yaitu hewan
mencit putih jantan dengan berat badan 20-30 gram yang berumur 2-3
bulan sebanyak 30 ekor.
1) Kriteria Inklusi
a) Mencit dengan berat badan 20-30 gram.

26

b) Mencit normal dengan kadar glukosa darah puasa 80-125


mg/dL.
c) Mencit hiperglikemia dengan kadar glukosa darah puasa 126
mg/dL.
2) Kriteria Eksklusi
a) Mencit yang mati.
b) Mencit yang sakit.

5. Tahapan Penelitian
a. Penyiapan Sampel
1) Pengumpulan dan Identifikasi Daun Salam
Daun salam (Syzygium polyanthum ) yang segar diperoleh
dari

Kecamatan Biromaru Kabupaten Sigi dan dilakukan

identifikasi di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Sumber Daya Hayati


Sulawesi Universitas Tadulako Palu untuk memastikan bahwa
daun salam adalah benar jenis Syzygium polyanthum . Bagian dari
tanaman ini yang digunakan adalah daun yang berwarna hijau.
2) Pengolahan Sampel Daun Salam
Daun salam dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran yang
menempel, kemudian dicuci dengan air mengalir sampai bersih
dan ditiriskan, lalu dirajang kecil-kecil dan dikeringkan dengan
cara diangin-anginkan pada suhu ruang. Setelah kering kemudian
dibersihkan kembali dari kotoran yang mungkin tertinggal saat
pengeringan dan diperoleh simplisia kering daun salam.

27

b. Pembuatan Ekstrak Daun Salam Dengan Metode Maserasi


Daun salam 2 kg yang sudah kering diblender hingga halus.
Kemudian dimasukkan serbuk ke dalam wadah maserasi dan
ditambahkan etanol 96% sehingga serbuk terendam. Diaduk dan
didiamkan selama 3 x 24 jam lalu disaring untuk mendapatkan filtrat.
Lalu filtrat yang diperoleh dipekatkan dengan rotary evaporator
hingga didapatkan ekstrak kental dan ditimbang untuk menghitung
rendamennya.

c. Penapisan Fitokimia
1) Uji Flavonoid
Ditimbang 0,1 g ekstrak ditambahkan 0,2 g serbuk Mg, lalu
ditambahkan 5 mL asam klorida pekat. Apabila terbentuk warna
orange, merah atau kuning menunjukkan adanya flavonoid
(Harborne, 1987).
2) Uji Fenolik
Ditimbang 0,5 g ekstrak dilarutkan dengan 5 mL air. Kemudian
ditambahkan beberapa tetes larutan FeCl3 5%, jika terjadi
perubahan warna hijau tua menunjukkan adanya senyawa fenolik
(Raaman, N., 2006).
3) Uji Saponin

28

Saponin dapat dideteksi dengan uji busa dalam air panas. Busa
yang stabil akan terus terlihat selama 5 menit dan tidak hilang
pada penambahan 1 tetes HCl 2 N menunjukkan adanya saponin.
(Harborne, 1987).
4) Uji Steroid/ Terpenoid
Sebanyak 2 gram ekstrak ditambahkan 25 mL etanol lalu
dipanaskan dan disaring. Filtrat diuapkan lalu ditambahkan eter.
Lapisan eter dipipet dan diuji pada spote plate. Jika ditambahkan
pereaksi Lieberman Buchard sebanyak 3 tetes dan terbentuk warna
merah/ungu, positif mengandung triterpenoid. Jika terbentuk
warna hijau, maka positif mengandung steroid (Harborne, 1987).
5) Uji Alkaloid
Larutkan 50 mg ekstrak dengan beberapa mL HCl dan saring.
Kemudian filtrat diuji dengan menambahkan satu atau dua tetes
pereaksi Mayer, Wagner dan Dragendorff dalam tabung reaksi
yang berbeda. Reaksi positif ditandai dengan adanya endapan
putih atau kekuningan pada pereaksi Mayer, munculnya warna
merah-kehitaman

pada pereaksi Wagner, dan adanya endapan

orange pada pereaksi Dragendorff (Raaman, N., 2006).


6) Uji Tanin
Ditimbang 0,1 g ekstrak ditambahkan 10 mL akuades, disaring
dan filtratnya ditambahkan reagen FeCl3 1% sebanyak 5 mL.

29

Warna biru tua atau hitam menunjukkan adanya tanin (Harborne,


1987).

d. Penyiapan Pengujian Aktivitas Penurunan Kadar Glukosa Darah


Kombinasi Glibenklamid dan Ekstrak Daun Salam (Syzygium
polyanthum Wight.) Terhadap Mencit Diabetes yang Diinduksi
Aloksan
1) Aklimatisasi Terhadap Hewan Uji (Malole & Pramono, 1989)
Mencit diaklimatisasi dengan lingkungan kandang selama 7
hari. Mencit ditempatkan dalam kandangan

yang diberi alas

sekam yang berfungsi untuk menyerap kotoran dari mencit.


Masing-masing kandang berisi 5 ekor mencit yang diberi makan
dan minum. Tiap ekor mencit ditimbang dan dikelompokkan
secara acak (kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif,
dan kelompok bahan uji). Kandang diletakkan di dalam
Laboratorium Farmakologi-Biofarmasi Program Studi Farmasi
Universitas Tadulako.

2) Pengujian Aktivitas Penurunan Kadar Glukosa Darah


Kombinasi Glibenklamid dan Ekstrak Daun Salam (Syzygium
polyanthum Wight.) Terhadap Mencit Diabetes yang Diinduksi
Aloksan (Studiawan, H. & Santosa M. H., 2005)
Hewan uji yang digunakan berjumlah 30 ekor, kemudian
dibagi menjadi 6 kelompok uji, dengan masing-masing kelompok
berjumlah 5 ekor. Pengambilan darah dilakukan pada ekor
masing-masing mencit untuk pemeriksaan kadar glukosa darah
awal (baseline) untuk memastikan mencit yang digunakan normal

30

sebelum hewan uji diberi perlakuan. Semua hewan uji diberi


aloksan 100 mg/kgBB pada hari ke-4 dan ke-8 (dikondisikan)
untuk menaikkan kadar glukosa darahnya. Kemudian dilakukan
pengambilan darah ke-2 pada tiap mencit untuk pemeriksaan
kadar glukosa darahnya. Apabila kadar glukosa darah puasa 126
mg/dL maka mencit dianggap sudah mengalami hiperglikemia.
Selanjutnya diberikan perlakuan pada hewan uji selama 2 minggu
berikutnya:
a) Kelompok 1 sebagai kontrol negatif, diberikan larutan NaCMC 0,5%
b) Kelompok 2 sebagai kontrol positif glibenklamid 0,65
mg/kgBB.
c) Kelompok 3 sebagai kelompok uji, diberikan ekstrak daun
salam 250 mg/kgBB dan glibenklamid 0,65 mg/kgBB.
d) Kelompok 4 sebagai kelompok uji, diberikan ekstrak daun
salam 500 mg/kgBB dan glibenklamid 0,65 mg/kgBB.
e) Kelompok 5 sebagai kelompok uji, diberikan ekstrak daun
salam 250 mg/kgBB.
f) Kelompok 6 sebagai kelompok uji, diberikan ekstrak daun
salam 500 mg/kgBB.
Dilakukan pengambilan darah ke-3 dan ke-4 pada tiap mencit
untuk melihat kadar glukosa darah pada hari ke-15 dan ke-21
setelah perlakuan.

6. Analisis Data
a. Pengolahan Data

31

Data hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabulasi, grafik dan


diagram.
b. Analisis Data
Kadar glukosa darah diuji normalitasnya dengan uji Saphiro
Wilk. Data dikatakan terdistribusi normal jika p > 0,05. Kemudian
dilanjutkan dengan uji homogenitas (uji Levene), nilai p > 0,05 berarti
data yang didapatkan homogen. Selanjutnya dilakukan uji statistik
One Way Anova pada taraf kepercayaan 95%. Apabila ada perbedaan
antar kelompok dilanjutkan dengan uji analisis Post Hoc Duncan.

32

DAFTAR PUSTAKA

Abadi, M. F. N., 2014, Perbandingan Kombinasi Ekstrak Etanol Pare


(Momordica charantia) Dengan Glibenklamid Terhadap Kadar Glukosa
Darah Mencit Wistar yang Diinduksi Aloksan, Skripsi Mahasiswa Fakultas
Kedokteran Universitas Jember.
Adhitia, 2012, Efek Perseptif Penggunaan Antidiabetes Herbal Bersamaan
Dengan Penggunaan Obat Antidiabetes Oral Pada Pasien Diabetes Melitus
Tipe 2 Di Puskesmas Kotamadya Depok, Skripsi Mahasiswa pada Prodi
Farmasi FMIPA Universitas Indonesia.
Anonim, 1980, Materi Medika Indonesia Jilid IV, Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, Jakarta.
a

, 2013, Hasil Riset Dasar 2013, Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.


b

, 2013, Diabetes Melitus Penyebab Kematian Nomor 6 Di Dunia:


Kemenkes
Tawarkan
Solusi
Cerdik
Melalui
PosBind,
http://www.depkes.go.id/article/view/2383/diabetes-melitus-penyebabkematian-nomor-6-di-dunia-kemenkes-tawarkan-solusi-cerdik-melaluiposbindu.htmL (diakses pada tanggal 27 Agustus 2014, Pukul 10.12 WITA).
c

, 2013, Profil Kesehatan Indonesia 2012, Kementerian Kesehatan RI,


Jakarta.
Ansel H.C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, UI Press, Jakarta.
Carolina, R., 2007, Pengaruh Ekstrak Etanol Daun Salam (Polyanthi Folium)
Terhadap Kadar Glukosa Darah Mencit Jantan Galur BALB/C Yang
Diinduksi Aloksan, Skripsi Mahasiswa pada Fakultas Farmasi Universitas
Surabaya.
Harbone, 1987, Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid III, Badan Litbang Kehutanan
Jakarta.
Katzung B. G., 2002, Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 8, Salemba Medika,
Jakarta.
Malole, M.B.M., Pramono, C.S.U., 1989, Penggunaan Hewan-Hewan Percobaan
dalam Laboratorium, Ditelaah oleh Masduki Partadiredja, Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Antar
Universitas, Bioteknologi, IPB, Bogor.
Mangkoewidjojo, S., 1988, Bioetik dan Kesejahteraan Hewan dalam Penelitian
Biomedik, Yogyakarta: Fakultas Kedokteran Hewan UGM.

33

Martindale, 2007, The Complete Drug Reference, The Pharmaceutical Press,


London.
Mycek, M. J., 2001, Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi 2, Widya Medika,
Jakarta.
Pekthong, D., et al, 2007, Differential Inhibition of Rat and Human Hepatic
Cytochrome p450 by Andrographis paniculata Extract and
Andrographolide. Journal Ethnopharmacology, Elsevier Inc, Missouri.
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, 2006, Konsensus Pengelolaan dan
Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia, PB. PERKENI, Jakarta.
Priambodo, S., 1995, Pengendalian Mencit Terpadu, Seri PHT, Penebar Swadaya,
Jakarta.
Raaman, N., 2006, Phytochemical Techniques, New India Publishing Agency,
India.
Ramadhanil, Sahlan, 2014, Hasil Identifikasi Tanaman Salam (Syzygium
polyanthum), UPT. Sumber Daya Hayati Sulawesi, Universitas Tadulako,
Palu.
Ratimanjari, D. A., 2011, Pengaruh Pemberian Infusa Herba Sambiloto
(Andrographis paniculata Nees) terhadap Glibenklamid dalam Menurunkan
Kadar Glukosa Darah Mencit Putih Jantan yang Dibuat Diabetes, Skripsi
Mahasiswa FMIPA Universitas Indonesia.
Redaksi AgroMedia, 2008, Buku Pintar Tanaman Obat, PT Agromedia Pustaka,
Jakarta.
Studiawan, H., Santosa H., 2005, Uji Aktivitas Penurun Kadar Glukosa Darah
Ekstrak Daun Syzygium polyanthum pada Mencit yang Diinduksi Aloksan,
Media Kedokteran Hewan, 21, (2).
Schwiebert, R., 2007, The Laboratory Mouse, Administered by Laboratory
Animals Centre National University of Singapore, Singapore.
Smith, John. B., 1998, Pemeliharaan, Pembiakan, dan Penggunaan Hewan
Percobaan di Daerah Tropis, UI-Press, Jakarta.
Sudoyo, A. W., Setiyohati, B., Alwi, I., Semadibrata, M., Setiati, S., 2009, Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam, InternaPublishing, Jakarta.
Sukandar, E. Y., Andrajati, R., Sigit, J. I, Adnyana, I K., Setiadi, A. A. P.,
Kusnandar, 2009, ISO Farmakoterapi, PT. ISFI Penerbitan, Jakarta.
Syamsul E. S., Nugroho, A. E., Pramono, S., 2011, Aktifitas Antidiabetes
Kombinasi Ekstrak Terpurifikasi Herba Sambiloto (Andrographis

34

panuculata) dan Metformin pada Mencit DM Tipe 2 Resisten Insulin,


Majalah Obat Tradisional, 16 (3).
Szkudelski, 2001., The Mechanism of Alloxan and Streptozotocin Action in B
Cells of the Rat Pancreas, Department of Animal Physiology and
Biochemistry, University of Agriculture, Poznan, Poland.
Tanu, I., 2009, Farmakologi dan Terapi Edisi 5 (Cetak Ulang dengan Perbaikan),
Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
Tjay, T. H., 2007, Obat-Obat Penting, PT Elex Media Komputindo, Jakarta.
Trubus, 2012, Herbal Indonesia Berkhasiat Vol. 10, PT. Trubus Swadaya, Depok.
Voigt, R., 1994, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Penerbit UGM Press,
Yogyakarta.
Wibudi, et al, 2008, The Taditional Plant, andrographis paniculata Ness),
Universitas Sumatra Utara: Majalah Kedokteran Nusantara 40 (3).

35

LAMPIRAN 1
Skema Kerja Pembuatan Ekstrak Daun Salam

Sampel
-Disortasi basah
-Dicuci
-Dirajang
-Dikeringkan
-Disortasi kering
-Diserbukkan
Simplisia
-

Diekstraksi dengan metode maserasi


menggunakan pelarut etanol 95% selama
3x24 jam
Disaring

Ekstrak Cair
Diuapkan filtrat menggunakan rotavapor
Ekstrak Kental

Kontrol
Suspensi
Na CMC
0,5%

Kontrol +
Suspensi
Glibenklamid
0,65
mg/kgBB

Dosis 1
Suspensi uji
dosis 250
mg/Kg BB +
Suspensi
Glibenklamid
0,65
mg/kgBB

Dosis 2
Suspensi uji
dosis 500
mg/Kg BB +
Suspensi
Glibenklamid
0,65
mg/kgBB

Dosis 3
Suspensi
uji dosis
250
mg/Kg BB

Dosis 4
Suspensi
uji dosis
500
mg/Kg BB

36

LAMPIRAN 2
Skema Kerja Pengujian Aktivitas Penurunan Kadar Glukosa Darah

Hewan Uji
-

Mencit jantan berumur 2-3 bulan


BB 20-30 g
Diadaptasi selama 1 minggu

Metode Induksi Aloksan


-

K-

K+

D1

Diukur kadar glukosa darah awal


Diinduksi aloksan 100 mg/kgBB pada hari
ke-4 dan ke-8
Diukur kadar glukosa darah mencit hingga
126 mg/dL

D2

D3

D4

Diukur kadar glukosa darah pada hari ke-15


dan ke-21
Diperoleh data dan dievaluasi menggunakan ANOVA

LAMPIRAN 3
37

Perhitungan Konversi Dosis


1. Kontrol Negatif (Na CMC 0,5%)
0,5 g 5 mg
=
=125 mg/25 ml
Stok = 0,5% = 100 ml
ml
Volume pemberian =

20 g
x 0,5 ml=0,33 ml
30 g

2. Kontrol Positif (Glibenklamid 0,65 mg/Kg BB)


Dosis untuk manusia = 5 mg/70 Kg BB
Konversi dosis= 5 mg/70 Kg x 0,0026= 0,013 mg/20 g BB = 0,65 mg/kg BB
Stok =

Dosis x BBmax
=
1
Vp
2

mg
BB x 30 g
20 g
=0,078mg /mL=0,78 mg/10 mL
1
x 0,5 ml
2

0,0013

Banyaknya glibenklamid yang ditimbang:


Bobot rata-rata 10 tablet = 200 mg
Dosis glibenklamid

= 5 mg

Stok

= 0,78 mg/10 ml

Glibenklamid yang ditimbang


=
stok
0,78 mg
xbobot ratarata tablet =
x 200 mg=31,2 mg
dosis glibenklamid
5 mg

Volume pemberian =

Dosis x BB
=
Stok

mg
BB x 30 g
20 g
=0,25 ml
0,078 mg/ml

0,013

3. Suspensi Uji
Perkiraan dosis uji = 250 mg/Kg BB, 500 mg/Kg BB, dan 750 mg/Kg BB
Dosis 250 mg/kg BB

38

mg
BB x 30 g
Dosis x BB max
20 g
=
=30 mg/ml=300 mg /10 ml
1
1
Vp
x 0,5 ml
2
2
5

Stok =

mg
BB x 30 g
Dosis x BB
20 g
=
=0,25 ml
Stok
30 mg/ml
5

Volume pemberian =

Dosis 500 mg/kg BB

Stok =

Dosis x BBmax
=
1
Vp
2

Volume pemberian =

10

mg
BB x 300 g
200 g
=60 mg/mL=600 mg/ 10 ml
1
x 0,5 ml
2

Dosis x BB
=
Stok

10

mg
BBx 30 g
20 g
=0,25 ml
60 mg /ml

4. Aloksan
Dosis 100 mg/Kg BB = 2 mg/20 g BB
Dosis x BBmaks 2 mg/20 gBB x 30 g
=
=6 mg/mL=300 mg/50 mL
1
1
Stok =
x Vp
x 1ml
2
2
Volume pemberian =

2 mg/20 g BB x 30 g
=0,5 ml
6 mg/ml

39