Anda di halaman 1dari 38

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM


NOMOR 20/PRT/M/2011

TENTANG
PEDOMAN PELAKSANAAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS
DALAM PENYUSUNAN ATAU PENINJAUAN KEMBALI RENCANA TATA RUANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


MENTERI PEKERJAAN UMUM,

Menimbang

: a.

bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 19, Pasal 22 ayat (2), dan
Pasal 25 ayat (2) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 penyusunan
rencana tata ruang wilayah perlu memperhatikan daya dukung dan
daya tampung lingkungan hidup serta Pasal 15 ayat (2) UndangUndang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup yang mewajibkan pemerintah daerah melaksanakan
kajian lingkungan hidup strategis dalam penyusunan rencana tata
ruang wilayah (RTRW) beserta rencana rincinya;

b. bahwa dalam setiap dokumen perencanaan tata ruang harus dilengkapi


dengan dokumen Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) sehingga
dibutuhkan suatu petunjuk bagaimana menyusun KLHS yang sesuai
dengan amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
c. bahwa Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 9 Tahun 2011
Tentang Pedoman Umum Kajian Lingkungan Hidup Strategis dan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2012 Tentang
Pedoman Pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Dalam
Penyusunan atau Evaluasi Rencana Pembangunan Daerah tidak sesuai
dengan kebutuhan perencanaan tata ruang sehingga perlu dibentuk
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Tentang Pedoman Pelaksanaan
Kajian Lingkungan Hidup Strategis Dalam Penyusunan Atau Peninjauan
Kembali Rencana Tata Ruang.

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

Mengingat

: 1. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);
2. Undang-Undang

No.32

Tahun

2009

tentang

Perlindungan

dan

Pengelolaan Lingkungan Hidup;


3. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan
Penataan Ruang (lembar negara Republik Indonesia Tahun 2010
Nomor 21);
4. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 15 Tahun 2009 tentang
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi;
5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16 Tahun 2009 tentang
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten;
6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 17 Tahun 2009 tentang
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota;
7. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 9 Tahun 2011 tentang
Pedoman Umum Kajian Lingkungan Hidup Strategis;
8. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20 Tahun 2011 tentang
Pedoman Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang;
9. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 15 Tahun 2012 tentang
Pedoman umum Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis
Nasional

ii

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

MEMUTUSKAN :

Menetapkan

: PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM TENTANG PEDOMAN


PELAKSANAAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS DALAM
PENYUSUNAN ATAU PENINJAUAN KEMBALI RENCANA TATA RUANG

BAB I
KETENTUAN UMUM

Bagian Kesatu
Pengertian

Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1.

Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang
udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah,
tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan
memelihara kelangsungan hidupnya.

2.

Penataan Ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang,


pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.

3.

Perencanaan Tata Ruang adalah suatu proses untuk menentukan


struktur ruang dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan
penetapan rencana tata ruang.

4.

Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan tata ruang

5.

Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budi
daya.

6.

Kajian Lingkungan Hidup Strategis yang selanjutnya disingkat KLHS


adalah rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh, dan partisipatif
untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah
menjadi dasar dan terintegrasi dalam perencanaan tata ruang.

7.

Menteri adalah Menteri Pekerjaan Umum.

iii

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

Bagian Kedua
Maksud, Tujuan, dan Ruang Lingkup

Pasal 2
(1)

Peraturan

Menteri

ini

dimaksudkan

sebagai

acuan

dalam

pelaksanaan KLHS dalam penyusunan atau peninjauan kembali


rencana tata ruang oleh pemerintah, pemerintah daerah dan para
pemangku kepentingan lainnya.
(2)

Peraturan Menteri ini bertujuan untuk mewujudkan rencana tata ruang


yang sudah mengintegrasikan prinsip berkelanjutan sesuai dengan
peraturan perundangan berlaku.

(3)

Ruang lingkup Peraturan Menteri ini meliputi:


a. ketentuan umum pelaksanaan KLHS dalam penyusunan atau
peninjauan kembali rencana tata ruang; dan
b. ketentuan teknis pelaksanaan KLHS dalam penyusunan atau
peninjauan kembali rencana tata ruang.

BAB II
KETENTUAN UMUM PELAKSANAAN KLHS
DALAM PENYUSUNAN ATAU PENINJAUAN KEMBALI
RENCANA TATA RUANG

Pasal 3
(1)

Ketentuan umum pelaksanaan KLHS dalam penyusunan atau


peninjauan kembali rencana tata ruang merupakan arahan umum
yang harus dipertimbangkan dalam pelaksanaan KLHS.

(2)

Ketentuan umum pelaksanaan KLHS dalam penyusunan atau


peninjauan kembali rencana tata ruang sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) terdiri atas:
a. muatan KLHS;
b. kedudukan KLHS dalam perencanaan tata ruang;
c. prinsip dasar pelaksanaan;
d. pelaksanaan KLHS;
e. persyaratan pelaksanaan; dan
iv

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

f.

integrasi KLHS dalam perencanaan tata ruang.

Pasal 4
Ketentuan

mengenai

ketentuan

umum

pelaksanaan

KLHS

dalam

penyusunan atau peninjauan kembali rencana tata ruang sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 3 secara lebih rinci tercantum dalam lampiran yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

BAB III
KETENTUAN TEKNIS PELAKSANAAN KLHS
DALAM PENYUSUNAN ATAU PENINJAUAN KEMBALI
RENCANA TATA RUANG

Pasal 5
(1)

Ketentuan teknis pelaksanaan KLHS dalam penyusunan atau


peninjauan kembali rencana tata ruang merupakan arahan teknis
yang harus dipertimbangkan dalam pelaksanaan KLHS.

(2)

Ketentuan teknis pelaksanaan KLHS dalam penyusunan atau


peninjauan kembali rencana tata ruang sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) terdiri atas:
a.

tahapan pelaksanaan KLHS;

b.

pelaksanaan KLHS dalam penyusunan rencana tata ruang; dan

c.

pelaksanaan KLHS untuk peninjauan kembali rencana tata


ruang.

Pasal 6
Ketentuan

mengenai

ketentuan

teknis

pelaksanaan

KLHS

dalam

penyusunan atau peninjauan kembali rencana tata ruang sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 5 secara lebih rinci tercantum dalam lampiran yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

BAB IV
DOKUMENTASI DAN AKSES PUBLIK

Pasal 7
Ketentuan mengenai dokumentasi dan akses publik KLHS dalam
penyusunan atau peninjauan kembali rencana tata ruang secara lebih rinci
tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Menteri ini.

BAB V
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 8
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, semua peraturan
perundang-undangan yang terkait dengan pelaksanaan KLHS dalam
penyusunan atau peninjauan kembali rencana tata ruang yang telah ada
tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam
Peraturan Menteri ini.

BAB VI
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 9
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar

setiap

orang

mengetahuinya,

memerintahkan

pengundangan

Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara


Republik Indonesia.

vi

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal20 Desember
MENTERI PEKERJAAN UMUM,

DJOKO KIRMANTO

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
AMIR SYAMSUDIN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2012 NOMOR

vii

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

LAMPIRAN : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM


NOMOR
:
TANGGAL :

PEDOMAN
TENTANG
PEDOMAN PELAKSANAAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS
DALAM PENYUSUNAN ATAU PENINJAUAN KEMBALI RENCANA TATA RUANG

viii

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

DAFTAR ISI
Daftar Isi....................................................................................................................

ix

Daftar Gambar ..........................................................................................................

Daftar Tabel ..............................................................................................................

xi

Daftar Lampiran........................................................................................................

xii

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................

1.1 Latar Belakang..........................................................................................

1.2 Maksud dan Tujuan ..................................................................................

1.3 Ruang Lingkup..........................................................................................

1.4 Istilah dan Definisi ....................................................................................

1.5 Acuan Normatif .........................................................................................

1.6 Kedudukan Pedoman ..............................................................................

1.7 Fungsi dan Manfaat Pedoman ..................................................................

1.8 Pengguna Pedoman .................................................................................

BAB II KETENTUAN UMUM PELAKSANAAN KLHS ...............................................

2.1 Muatan KLHS ...........................................................................................

2.2 Kedudukan KLHS dalam Perencanaan Tata Ruang .................................

2.3 Prinsip Dasar Pelaksanaan .......................................................................

2.4 Pelaksanaan KLHS ..................................................................................

2.4.1 Mekanisme Pelaksanaan KLHS Secara Umum...............................

2.4.2 Mekanisme Pelaksanaan KLHS dalam Perencanaan Tata Ruang ..

2.5 Persyaratan Pelaksanaan .........................................................................

10

2.6 Integrasi KLHS dalam Perencanaan Tata Ruang ......................................

10

BAB III KETENTUAN TEKNIS PELAKSANAAN KLHS ............................................

12

3.1 Tahapan Pelaksanaan KLHS ..............................................................

12

3.1.1 Tahap Persiapan...................................................................

12

3.1.2 Tahap Pra-Pelingkupan ........................................................

12

3.1.3 Tahap Pelingkupan ...............................................................

14

3.1.4 Tahap Kajian Pengaruh ........................................................

16

3.1.5 Tahap Perumusan Alternatif dan Rekomendasi ....................

17

3.2 Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan RTR .....................................

17

3.3 Pelaksanaan KLHS untuk Peninjauan Kembali RTR ........................

23

BAB IV DOKUMENTASI DAN AKSES PUBLIK ................................................

25

4.1 Substansi KLHS untuk Penyusunan RTR ...........................................

25

4.2 Substansi KLHS untuk Peninjauan Kembali RTR ...............................

25

BAB V PENUTUP................................................................................................

26

ix

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Kedudukan Pedoman terhadap Peraturan Perundangan Terkait Lainnya

Gambar 2.1 Kedudukan KLHS Dalam Penyusunan RTR........................................

Gambar 2.2 Kedudukan KLHS Dalam Peninjauan Kembali RTR ............................

Gambar 2.3 Tipologi Pendekatan Integrasi KLHS dalam Perencanaan Tata Ruang

11

Gambar 3.1 Ilustrasi Definisi Isu Lingkungan Strategis ............................................

15

Gambar 3.2 Penjabaran Proses dan Integrasi KLHS dalam Penyusunan RTR........

18

Gambar 3.3 Pelaksanaan KLHS untuk Peninjauan Kembali RTR..............................

22

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Masukan KLHS untuk Rencana Tata Ruang .............................................

18

Table 3.2 Proses Pelaksanaan KLHS untuk Beberapa Dokumen Perencanaan .......

19

xi

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

DAFTAR LAMPIRAN
Tabel 1. Informasi Dasar KLHS...............................................................................

25

Tabel 2. Contoh Isu-isu Per Tema .........................................................................

26

Tabel 3 Contoh Pra Pelingkupan..............................................................................

27

Tabel 4. Contoh Matriks Pelingkupan Isu .................................................................

29

Tabel 5. Contoh Format Identifikasi Pemangku Kepentingan ..................................

31

Tabel 6. Perancangan Pelibatan Masyarakat dan Pemangku Kepentingan Lainnya

31

Tabel 7. Hasil Pelingkupan Isu Strategis Pembangunan Berkelanjutan....................

32

Tabel 8. Telaahan Kausalitas dan Signifikansi Isu ...................................................

32

Tabel 9. Alternatif Penyempurnaan RTR ..................................................................

32

Tabel 10. Rekomendasi Pebaikan RTR ...................................................................

33

Gambar 1. Pemetaan Isu-isu Strategis.....................................................................

34

Gambar 2.Contoh Peta Kajian (Analisis) Pengaruh..................................................

35

Gambar 3.Peta Overlay Isu-isu Strategis .................................................................

36

xii

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, tujuan
dari penataan ruang adalah untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman,
nyaman, produktif, dan berkelanjutan berlandaskan wawasan nusantara dan ketahanan
nasional dengan:
a. terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan;
b. terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya
buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia; dan
c. terwujudnya perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap
lingkungan akibat pemanfaatan ruang.
Untuk memastikan bahwa pertimbangan lingkungan dan prinsip berkelanjutan menjadi
dasar dan terintegrasi dalam perencanaan tata ruang wilayah, maka pemerintah pusat
dan pemerintah daerah sebagai penanggungjawab penyusunan rencana tata ruang
(RTR) perlu melaksanakan kajian lingkungan hidup strategis (KLHS). Hal ini dimaksudkan
agar produk RTR yang dikeluarkan telah memadukan aspek lingkungan hidup, sosial dan
ekonomi.
KLHS adalah serangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh, dan partisipatif, untuk
memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan
terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana, program.
KLHS merupakan tindakan strategis dalam menuntun dan mengarahkan tidak terjadinya
dampak negatif dari RTR terhadap lingkungan dan keberlanjutan. Kemampuan untuk
melaksanakan KLHS dalam penyusunan RTR menjadi suatu hal yang penting dalam
meningkatkan kualitas RTR.
Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, perlu adanya pedoman pelaksanaan KLHS
dalam perencanaan tata ruang baik rencana umum maupun rencana rinci. Pedoman
tersebut diharapkan dapat memberikan petunjuk bagi yang akan melaksanakan KLHS di
dalam penyusunan atau peninjauan kembali RTR.
1.2 Maksud dan Tujuan
a.

Maksud
Pedoman ini dimaksudkan sebagai acuan dalam pelaksanaan KLHS dalam
penyusunan atau peninjauan kembali RTR oleh Pemerintah, pemerintah daerah
dan/atau para pemangku kepentingan lainnya.

b.

Tujuan
Pedoman ini bertujuan mewujudkan RTR yang sudah mengintegrasikan prinsip
pembangunan berkelanjutan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
1

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

1.3 Ruang Lingkup


Pedoman ini memuat ketentuan umum dan ketentuan teknis pelaksanaan KLHS dalam
penyusunan atau peninjauan kembali rencana umum dan rencana rinci tata ruang.
Rencana umum tata ruang terdiri atas Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) provinsi,
kabupaten, dan kota. Sedangkan rencana rinci tata ruang meliputi RTR pulau/kepulauan,
kawasan

strategis

nasional,

kawasan

strategis

provinsi,

kawasan

strategis

kabupaten/kota, dan rencana detail tata ruang (RDTR) kabupaten/kota.


1.4 Istilah dan Definisi
a. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk
ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain
hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya.
b. Penataan Ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan
ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
c. Perencanaan Tata Ruang adalah suatu proses untuk menentukan struktur ruang dan
pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang.
d. Rencana Tata Ruang yang selanjutnya disingkat RTR adalah hasil perencanaan tata
ruang
e. Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budi daya.
f.

Kajian Lingkungan Hidup Strategis yang selanjutnya disingkat KLHS adalah rangkaian
analisis yang sistematis, menyeluruh, dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip
pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan
suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana dan/atau program.

g. Daya Dukung Lingkungan Hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk


mendukung perikehidupan manusia, makhluk hidup lain, dan keseimbangan
antarkeduanya.
h. Daya Tampung Lingkungan Hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk
menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke
dalamnya.
i.

Dampak Lingkungan Hidup adalah pengaruh perubahan pada lingkungan hidup yang
diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan.

j.

Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuhmenyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas,
dan produktivitas lingkungan hidup.

k. Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan


prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi
masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional.
l.

Pola Ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi
peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya.
2

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

m. Sumber Daya Alam adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya
hayati dan nonhayati yang secara keseluruhan membentuk kesatuan ekosistem.
n. Pembangunan Berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan
tiga pilar yaitu sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup yang menjamin kemampuan,
kesejahteraan, serta mutu hidup generasi masa kini dan masa depan.
o. Prinsip-prinsip Pembangunan Berkelanjutan adalah prinsip-prinsip yang harus
diterapkan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian pembangunan untuk
mencapai kondisi keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan,
kesejahteraan, dan mutu hidup manusia.
p. Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan
makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu
sendiri, kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup
lain.
q. Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah upaya sistematis dan terpadu
yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya
pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan,
pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum.
r.

Pra pelingkupan adalah rangkaian persiapan sebelum dilakukan proses pelingkupan,


antara lain dilakukan dengan mempersiapkan daftar isu-isu strategis lingkungan, isuisu sosial budaya, isu-isu ekonomi (isu-isu yang memenuhi tiga pilar pembangunan
berkelanjutan).

Pelingkupan adalah rangkaian langkah-langkah untuk menetapkan

nilai penting KLHS, tujuan KLHS, isu pokok, ruang lingkup KLHS, kedalaman kajian
dan kerincian penulisan dokumen, pengenalan kondisi awal, dan telaah awal kapasitas
kelembagaan. Kegiatan ini dilakukan melalui pendekatan sistematis dan metodologis
yang memenuhi kaidah ilmiah dan disertai konsultasi publik.
s. Mitigasi dan Adaptasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko atau
dampak negatif atas pelaksanaan program pembangunan.
t.

Pemangku

Kepentingan

adalah

para

perencana,

pengambil keputusan,

dan

masyarakat.

1.5 Acuan Normatif


Pedoman ini disusun dengan memperhatikan antara lain:
a. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
b. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan
Ruang (lembar negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21);
d. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis
Analisis Aspek Fisik dan Lingkungan, Ekonomi, Serta Sosial Budaya Dalam
Penyusunan Rencana Tata Ruang.
3

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

e. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 15/PRT/M/2009 tentang Pedoman


Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi;
f. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16/PRT/M/2009 tentang Pedoman
Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten;
g. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 17/PRT/M/2009 tentang Pedoman
Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota;
h. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 9 Tahun 2011 tentang Pedoman Umum
Kajian Lingkungan Hidup Strategis;
i. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20/PRT/M/2011 tentang Pedoman
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi Kabupaten/Kota;
j. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 15/PRT/M/2012 tentang Pedoman
Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional.
1.6 Kedudukan Pedoman
Pedoman ini berkaitan dengan pedoman lainnya yaitu pedoman umum pelaksanaan
KLHS dan pedoman penyusunan RTR baik RTRW provinsi/kabupaten/kota maupun
rencana rinci tata ruang yang telah ditetapkan. Secara diagramatis, keterkaitan pedoman
ini dengan peraturan perundang-undangan bidang penataan ruang ditunjukkan pada
Gambar 1.1 berikut:
Gambar 1.1
Kedudukan Pedoman terhadap Peraturan Perundangan Terkait Lainnya
UU Nomor 26 Tahun 2007 Tentang
Penataan Ruang

UU Nomor 32 Tahun 2009


Tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup

PP Nomor 15 Tahun 2010 Tentang


Penyelenggaraan Penataan Ruang

Permen PU No. 15/PRT/M/2009 tentang


Pedoman Penyusunan RTRW Provinsi

Permen PU No. 16/PRT/M/2009 tentang


Pedoman Penyusunan RTRW Kabupaten

Permen PU No. 17/PRT/M/2009 tentang


Pedoman Penyusunan RTRW Kota

Permen PU No. 20/PRT/M/2011 tentang


Pedoman
Penyusunan
RDTR
dan
Peraturan Zonasi Kabupaten/Kota

Permen PU No. 15/PRT/M/2012 tentang


Pedoman Umum Penyusunan RTR KSN

Permen LH Nomor 9 Tahun 2011


Tentang Pedoman Umum KLHS

Pedoman Pelaksanaan Kajian Lingkungan


Hidup Strategis
dalam Penyusunan atau Peninjauan
Kembali Rencana Tata Ruang
Menjadi dasar bagi
Menjadi acuan bagi penyusunan RTR

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

1.7 Fungsi dan Manfaat Pedoman


a.

Fungsi
Fungsi pedoman ini yaitu sebagai acuan dalam pelaksanaan KLHS oleh Pemerintah,
pemerintah daerah dan/atau para pemangku kepentingan lainnya.

b.

Manfaat
Manfaat pedoman ini yaitu untuk dapat melaksanakan KLHS dengan benar sehingga
dapat mewujudkan RTR yang mengintegrasikan prinsip pembangunan berkelanjutan
sesuai dengan peraturan perundangan berlaku.

1.8 Pengguna Pedoman


Pengguna pedoman ini adalah Pemerintah maupun pemerintah daerah, masyarakat
dan/atau pemangku kepentingan lainnya dalam rangka pelaksanaan KLHS sebagai
dokumen pelengkap perencanaan tata ruang.

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

BAB II
KETENTUAN UMUM PELAKSANAAN KLHS

2.1 Muatan KLHS


Isu lingkungan yang berkaitan dengan perencanaan tata ruang memiliki ruang lingkup
yang luas. Pelaksanaan KLHS pada perencanaan tata ruang harus dimulai dengan
menetapkan sasaran keberlanjutan lingkungan yang akan mengarahkan keseluruhan
proses dan muatannya. Untuk efektivitas dan efisiensi KLHS terhadap proses
perencanaan tata ruang, perlu memfokuskan pada isu-isu keberlanjutan aktual yang
terkait langsung terhadap RTR yang dikaji.
Berdasarkan Pasal 16, UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup, KLHS memuat kajian antara lain:
a. kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup untuk pembangunan;
b. perkiraan mengenai dampak dan risiko lingkungan hidup;
c. kinerja layanan/jasa ekosistem;
d. efisiensi pemanfaatan sumber daya alam;
e. tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim; dan
f. tingkat ketahanan dan potensi keanekaragaman hayati.
Muatan KLHS ini berbeda dengan muatan analisis aspek fisik dan lingkungan dalam
penyusunan RTR. Berdasarkan

Permen PU No.20/PRT/M/2007 tentang Pedoman

Teknik Analisis Fisik dan Lingkungan, Ekonomi, serta Sosial Budaya dalam Penyusunan
Rencana Tata Ruang, menyebutkan bahwa analisis aspek fisik dan lingkungan adalah
analisis untuk mengenali karakteristik sumber daya alam dengan menelaah kemampuan
dan kesesuaian lahan agar pemanfaatan lahan dapat dilakukan secara optimal dengan
tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem. Sementara KLHS dalam penyusunan
RTR lebih memfokuskan pada kajian pengaruh kebijakan, rencana, dan/atau program
terhadap keberlangsungan lingkungan hidup yang tidak hanya menyangkut ketersediaan
sumber daya lahan. KLHS juga meliputi kajian pengaruh terhadap kinerja ekosistem dan
keanekaragaman hayati.
2.2 Kedudukan KLHS dalam Perencanaan Tata Ruang
Sesuai dengan tujuan pelaksanaan KLHS untuk mencapai kinerja pembangunan
berkelanjutan, maka kedudukan pelaksanaan KLHS adalah:
a. Kedudukan KLHS dalam penyusunan RTR, sebagai:
1)

masukan pertimbangan lingkungan hidup pada tahap analisis penyusunan RTR;

2)

masukan untuk perumusan kebijakan dan strategi RTR; dan

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

3)

pemberi rekomendasi alternatif rencana dan indikasi program, dan/atau upaya


pencegahan atau mitigasi dari rencana dan indikasi program setelah kebijakan
dan strategi penataan ruang, rencana jaringan infrastruktur dan arahan pola
ruang dirumuskan.
Gambar 2.1
Kedudukan KLHS dalam Penyusunan RTR

Proses Penyusunan RTR

KLHS

Persiapan

Sebagai
masukan
pertimbangan
lingkungan
hidup pada tahap analisis.

Pengumpulan Data

Sebagai masukan untuk


perumusan kebijakan dan
strategi penataan ruang

Pengolahan dan Analisis

Perumusan Konsepsi RTR

Perumusan Rancangan
Peraturan Perundangundangan

sebagai pemberi rekomendasi


alternatif rencana dan indikasi
program, dan/atau upaya
pencegahan atau mitigasi dari
rencana dan indikasi program
setelah kebijakan dan strategi
penataan
ruang,
rencana
jaringan infrastruktur dan
arahan pola ruang dirumuskan.

Sumber: PP No.15 Tahun 2010

b. Kedudukan KLHS dalam peninjauan kembali RTR, sebagai:


1)

masukan pertimbangan lingkungan hidup untuk menilai apakah kondisi


lingkungan sudah berubah secara signifikan (terkait daya dukung dan daya
tampung) sehingga dapat menentukan apakah RTR perlu direvisi atau tidak;

2)

masukan untuk perumusan kebijakan dan strategi, apabila RTR perlu direvisi;
dan

3)

pemberi rekomendasi alternatif rencana dan indikasi program dan/atau upaya


pencegahan atau mitigasi dari rencana dan indikasi program setelah kebijakan
dan strategi penataan ruang, rencana jaringan infrastruktur, dan arahan pola
ruang dirumuskan.

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

Gambar 2.2
Kedudukan KLHS dalam Peninjauan Kembali RTR

2.3 Prinsip Dasar Pelaksanaan KLHS


Pelaksanaan KLHS dalam penyusunan atau peninjauan kembali RTR perlu merujuk
pada prinsip dasar berikut:
a. KLHS dilakukan untuk satu dokumen RTR;
b. untuk penyusunan RTR, pelaksanaan KLHS dilakukan setelah delineasinya
ditetapkan dan setidaknya telah memiliki arahan kebijakan penataan ruang yang akan
dituangkan ke dalam RTR;
c. lingkup wilayah yang menjadi objek KLHS adalah minimal sama dengan lingkup
perencanaan;
d. ruang lingkup pelaksanaan KLHS dalam penyusunan atau peninjauan kembali RTR
paling sedikit meliputi penyusunan rona awal lingkungan, perumusan isu strategis,
perumusan rekomendasi bagi RTR, dan pelaporan;
e. kriteria kinerja pelaksanaan KLHS adalah terintegrasi, berkelanjutan, terfokus, dan
iteratif sesuai dengan tahapan dan kedalaman penyusunan RTR;
f. pelaku pelaksanaan KLHS dalam penyusunan RTR diutamakan adalah penyusun
RTR dengan ahli lingkungan sebagai tim penyusun KLHS, agar ada interaksi
8

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

menerus antara penyusun KLHS dengan tim penyusun RTR dalam setiap tahapan
pelaksanaan KLHS;
g. analisis yang dilakukan dalam KLHS memiliki masa perkiraan kajian yang sama
dengan analisis dalam RTR yaitu 20 tahun;
h. kedetilan KLHS disesuaikan dengan kedetilan RTR;
i. analisis KLHS lebih difokuskan pada isu-isu strategis lingkungan hidup dan fokus
pada agenda keberlanjutan yang bergerak dari sumber persoalan dampak
lingkungan;
j. analisis KLHS yang dilaksanakan mampu memberikan gambaran menyeluruh
mengenai dampak RTR terhadap kondisi fisik lingkungan hidup dan implikasi sosial;
k. pelaksanaan KLHS untuk peninjauan kembali RTR yang belum melakukan KLHS
sebelumnya dilakukan seperti pelaksanaan KLHS dalam penyusunan RTR;
l. pelaksanaan KLHS untuk peninjauan kembali RTR yang telah melakukan KLHS
sebelumnya dilakukan dengan memperhatikan hasil KLHS sebelumnya;
m. pelaksanaan KLHS bersifat partisipatif dengan melibatkan masyarakat dan pemangku
kepentingan lainnya dalam penentuan isu strategis dan dalam pengambilan
keputusan rekomendasi; dan
n. konsultasi publik dilakukan minimum 2 (dua) kali pada saat tahap pelingkupan dan
setelah dirumuskan rekomendasi (seminar akhir).
2.4 Pelaksanaan KLHS
2.4.1 Mekanisme Pelaksanaan KLHS Secara Umum
Berdasarkan UU Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup dan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.9 Tahun 2011
tentang Pedoman Umum Pelaksanaan KLHS, mekanisme pelaksanaan KLHS meliputi:
a. Pengkajian Pengaruh Kebijakan, Rencana, dan/atau Program
Pengkajian pengaruh terhadap kebijakan, rencana, dan/atau program terhadap
kondisi lingkungan hidup di wilayah perencanaan dilaksanakan melalui 4 (empat)
tahapan sebagai berikut:
1) identifikasi masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya;
2) identifikasi isu pembangunan berkelanjutan;
3) identifikasi kebijakan, rencana, dan/atau program; dan
4) telaah pengaruh kebijakan, rencana, dan/atau program terhadap kondisi
lingkungan hidup di suatu wilayah.
b. Perumusan Alternatif Penyempurnaan Kebijakan, Rencana, dan/atau Program
Perumusan alternatif penyempurnaan kebijakan, rencana, dan/atau program
bertujuan untuk mengembangkan berbagai alternatif perbaikan muatan kebijakan,
rencana, dan/atau program dan menjamin pembangunan berkelanjutan. Bentuk
alternatif penyempurnaan tersebut antara lain:
9

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

1) kebutuhan pembangunan;
2) lokasi;
3) proses, metode dan teknologi; dan
4) jangka waktu dan tahapan pembangunan.
c. Rekomendasi Perbaikan Kebijakan,

Rencana,

dan/atau Program dan

Pengintegrasian Hasil KLHS


Rekomendasi perbaikan dari kebijakan, rencana, dan/atau program yang dapat
diberikan dan diintegrasikan ke dalam RTR yaitu:
1) perbaikan rumusan kebijakan;
2) perbaikan muatan rencana; dan/atau
3) perbaikan materi program.
2.4.2

Mekanisme Pelaksanaan KLHS dalam Perencanaan Tata Ruang


Pelaksanaan KLHS dalam perencanaan tata ruang dibagi menjadi beberapa tahap
yang meliputi:
a. Tahap Persiapan
b. Tahap Pra-pelingkupan
c. Tahap Pelingkupan
d. Tahap Kajian Pengaruh
e. Tahap Perumusan Alternatif dan Rekomendasi

2.5 Persyaratan Pelaksanaan


Persyaratan dalam penerapan panduan pelaksanaan KLHS dalam penyusunan atau
peninjauan kembali RTR adalah sebagai berikut:
a. pelaksana KLHS adalah ahli yang memiliki kemampuan dan keahlian kajian
lingkungan;
b. pemangku kepentingan mulai dari Pemerintah, pemerintah daerah setempat, swasta
hingga masyarakat lokal perlu dilibatkan aktif dalam pelaksanaan KLHS;
c. dokumen RTR sedang dalam proses penyusunan dan telah memiliki deliniasi wilayah
yang tetap atau akan dilakukan peninjauan kembali;
d. melakukan penyusunan informasi dasar lingkungan yang meliputi aspek fisik
lingkungan, keanekaragaman hayati, sosial, dan ekonomi; dan
e. menggunakan peta kerja untuk melakukan kajian yang berbasis pada peta rencana
struktur ruang dan pola ruang dengan skala sesuai RTR yang sedang disusun.
2.6 Integrasi KLHS dalam Perencanaan Tata Ruang
Pelaksanaan KLHS harus terintegrasi di dalam perencanaan tata ruang. Terdapat 3
(tiga) tipe pendekatan integrasi pelaksanaan KLHS dalam perencanaan tata ruang,
yaitu:
10

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

a. satu-kesatuan (embedded), dimana proses pelaksanaan KLHS berlangsung secara


menyatu di dalam proses penyusunan RTR. Pada tipe ini, ahli lingkungan berada
dalam satu tim dengan perencana tata ruang. kelemahan metode ini berpotensi
mengandung konflik kepentingan karena berada dalam tim yang sama. Kelebihan
metode ini adalah memungkinkan integrasi menyeluruh aspek lingkungan pada
proses penyusunan RTR.
b. paralel, dimana proses KLHS berlangsung secara bersamaan dengan proses
penyusunan RTR. Tim perencana tata ruang dan ahli lingkungan bekerja pada tim
yang berbeda. Komunikasi dengan menggunakan rapat, diskusi, dan kerja bersama
untuk mengintegrasikan KLHS dalam penyusunan RTR. Kelemahan tipe ini adalah
kurang efisien ditinjau dari waktu, biaya, dan tenaga.
c. setelah (post), dimana pelaksanaan KLHS dilakukan setelah selesainya penyusunan
RTR. Tim perencana tata ruang dan ahli lingkungan bekerja pada tim yang berbeda.
Kelemahan tipe ini, keluaran KLHS yang dapat dipergunakan hanya terbatas pada
aspek mitigasi isu-isu strategis. Kelebihannya adalah efisien dari waktu, biaya, dan
tenaga.
Pelaksanaan KLHS untuk penyusunan RTR dilakukan dengan pendekatan integrasi
satu-kesatuan (embedded), paralel, dan setelah (post). Sedangkan pelaksanaan KLHS
untuk peninjauan kembali RTR dilakukan dengan pendekatan integrasi satu-kesatuan
(embedded) dan paralel.
Ketiga tipe pendekatan pelaksanaan KLHS dalam perencanaan tata ruang dapat dilihat
pada Gambar 2.3 berikut:
Gambar 2.3
Tipologi Pendekatan Integrasi KLHS dalam Perencanaan Tata Ruang

11

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

BAB III
KETENTUAN TEKNIS PELAKSANAAN KLHS

3.1 Tahapan Pelaksanaan KLHS


3.1.1 Tahap Persiapan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap persiapan meliputi:
a. Penyiapan dokumen rancangan rencana yang akan dikaji jika sedang dalam
proses penyusunan;
b. Penyusunan format data dan informasi yang akan dikumpulkan, berupa daftar
informasi dasar dengan muatan seperti ditunjukkan pada lampiran Tabel 1;
c. Penyiapan peta dasar guna lahan dengan skala sesuai dengan RTR; dan
d. Penyusunan jadwal kegiatan pengumpulan data serta penyiapan tim survey ke
lapangan.
3.1.2 Tahap Pra-pelingkupan
Tahap pra-pelingkupan (pre-scooping) bertujuan untuk menyusun informasi dasar
(baseline), melakukan kajian terhadap RTR, dan perumusan isu strategis
lingkungan hidup awal.
Persyaratan untuk melakukan tahap ini adalah:
a. deliniasi wilayah kajian sudah ditentukan;
b. konsep pengembangan sudah ditentukan; dan
c. informasi dasar sudah tersusun.
Kegiatan yang dilakukan pada tahap pra-pelingkupan adalah:
1)

Kegiatan Penyusunan dan Penyajian Informasi Dasar


Pemahaman kondisi lingkungan serta kecenderungannya dibutuhkan baik
bagi perencanaan tata ruang dan pelaksanaan KLHS. Pada umumnya KLHS
bergantung pada efektivitas investigasi dan organisasi data sekunder,
namun data primer dapat dibutuhkan untuk isu yang sensitif dan/atau
informasi yang jumlahnya sedikit.
Kegiatan yang dilakukan pada tahap penyusunan informasi dasar meliputi:
a)

menguraikan tentang informasi dasar meliputi aspek fisik lingkungan


(eksisting) dan lingkungan hidup, ekologis dan sosial ekonomi, yang
disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik masing-masing wilayah.
(1) informasi fisik lingkungan dan lingkungan hidup pada area yang
terpengaruh dari kawasan perencanaan tata ruang, antara lain
meliputi:

kawasan yang terdapat permasalahan kualitas lingkungan;


12

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

kawasan-kawasan alami ataupun buatan yang berisiko dari


kawasan industri eksisting, tsunami, gempa bumi, letusan
gunung berapi;

kualitas air.

(2) informasi ekologis:

habitat darat atau laut sensitif seperti mangrove, koral, rawa,


hutan lindung;

kawasan konservasi atau perlindungan.

(3) informasi sosial ekonomi:

b)

kegiatan ekonomi utama (industri/pertanian/pariwisata/dll);

struktur budaya;

permasalahan sosial-ekonomi eksisting

infrastruktur dan guna lahan eksisting;

memetakan kelompok informasi tersebut menggunakan pemetaan sistem


informasi geografis (peta SIG). Data yang dibutuhkan antara lain:
(1) informasi spasial dari lembaga pemerintah terkait (misal: pemerintah
provinsi/kabupaten/kota, kementerian/lembaga, dan lainnya) yang
diperoleh dengan cara bekerjasama dengan perencana tata ruang;
(2) database spasial dari LSM, perguruan tinggi atau asosiasi lokal;
(3) informasi sekunder yang diterjemahkan kepada peta;
(4) peta hasil survey lokasi.

Peta SIG harus cukup jelas, sederhana dan fokus untuk memastikan bahwa
data yang relevan tersajikan dengan baik. Sebagai contoh, simbol yang
menunjukkan lokasi dari spesies sensitif atau habitat, kawasan konfilik guna
lahan, atau melingkari kawasan terjadinya penurunan kualitas udara. Contoh
dari peta disajikan dalam lampiran.
2)

Kajian konsep pengembangan


Kegiatan yang dilakukan pada tahap kajian konsep pengembangan meliputi:
a)

mengidentifikasi tujuan dan sasaran dari RTR yang disusun; dan

b)

mengidentifikasi

arahan

rencana

pengembangan

infrastruktur dan

rencana guna lahan kawasan, yang terdiri atas:


(1) guna lahan (permukiman baru, kawasan pertanian, agroforestry,
kawasan konservasi, dll);
(2) rencana infrastruktur (jaringan jalan baru, jaringan rel kereta,
pembangkit listrik, pengelolaan limbah, dll).
3)

Perumusan Isu Lingkungan Hidup Awal


13

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

Keluaran dari kegiatan ini adalah data dan informasi dasar pada wilayah
yang direncanakan serta potensi konflik dan masalah yang akan menjadi
kendala terkait dengan RTR kawasan tersebut. Contoh pra-pelingkupan
terdapat dalam lampiran Tabel 3.
3.1.3 Tahap Pelingkupan
Tahap pelingkupan (scooping) bertujuan untuk memantapkan isu-isu strategis
lingkungan hidup dengan melakukan penilaian terhadap isu-isu lingkungan hidup
awal dan menetapkan isu strategis yang disepakati oleh semua pemangku
kepentingan (stakeholders).
Persyaratan untuk melakukan tahap ini adalah:
a. tahap pra-pelingkupan telah selesai dilakukan;
b. isu lingkungan hidup awal telah dirumuskan; dan
c. melibatkan pemangku kepentingan (stakeholder).
Persiapan untuk melakukan pelingkupan meliputi:
a. persiapan peta-peta overlay antara peta rencana dengan kondisi eksisting;
b. pengkajian hasil pra-pelingkupan dan peta-peta overlay oleh tim KLHS; dan
c. persiapan material untuk sesi pelingkupan oleh kelompok keahlian (misal:
matriks pelingkupan).
Pada tahap perumusan isu strategis ini kegiatan yang dilakukan adalah menetapkan
isu-isu strategis yang potensial sebagai akibat dari dampak perencanaan tata ruang
yang disusun serta konflik lingkungan yang diperkirakan muncul.
Kegiatan yang dilakukan pada tahap pelingkupan adalah:
1)

Penilaian dan Penetapan Isu Strategis


a) Penilaian isu strategis dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
(1) penilaian dari para ahli dengan merujuk pada pandangan para
pakar sesuai dengan bidang keahlian yang difokuskan pada kajian
isu strategis lingkungan pada kawasan yang direncanakan.
(2) konsultasi publik yang dilakukan dengan melibatkan para pemangku
b)

kepentingan dalam menetapkan isu-isu strategis.


Penetapan isu strategis didasarkan pada kriteria:
(1) menjadi fokus perhatian utama di wilayah perencanaan dan memiliki
relevansi tinggi terhadap kepentingan wilayah perencanaan.
(2) skala dampak dari rencana tata ruang, yaitu dampak yang
berpotensi berskala regional, nasional, atau bahkan internasional;
(3) interaksi antar dampak, yaitu ketika terjadi konflik antar unsur-unsur
RTR; dan

14

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

(4) dampak sinergis dari beberapa proyek/rencana, yaitu dampak yang


ditimbulkan akibat gabungan beberapa aspek dari RTR jika tidak
ditangani.
(5) berpotensi mengganggu pelaksanaan pembangunan berkelanjutan.
Definisi isu strategis dapat dilihat pada Gambar 3.1 berikut:
Gambar 3.1
Ilustrasi Definisi Isu Lingkungan Strategis

Berdasarkan gambar ilustrasi di atas, terlihat bahwa suatu isu lingkungan


dikatakan sebagai isu strategis apabila suatu kegiatan pembangunan
menimbulkan dampak terhadap aspek-aspek fisik lingkungan dan lingkungan
hidup, ekologis dan sosial-ekonomi. Masing-masing dampak tersebut saling
terkait sehingga menghasilkan akumulasi dampak yang besar.
Untuk melakukan pelingkupan ini dapat digunakan berbagai metoda seperti:
matriks, pohon analisis, pemodelan dan simulasi, analisis multi-kriteria,
analisis skenario dan kecenderungan, analisis hirarki (analytical hierarchy
process), analisis hubungan (kausalitas atau keterkaitan), model analisis
Delphi atau model analisis lainnya. Selain itu hasil pelingkupan isu-isu
strategis perlu dipresentasikan dalam bentuk peta isu-isu strategis. Contoh
untuk peta isu-isu strategis sebagaimana tampak pada lampiran Gambar 1.

15

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

2)

Konsultasi Publik (Pelibatan Pemangku Kepentingan)


Tujuan dari pelaksanaan konsultasi publik adalah:
a)

untuk

menyampaikan temuan isu-isu strategis lingkungan terkait

kawasan yang direncanakan;


b)

untuk memperoleh informasi tambahan yang dapat mendukung tahapan


analisis KLHS lebih lanjut;

c)

untuk menanggapi masukan dan tanggapan serta menyepakati isu


strategis lingkungan hidup yang akan dikaji lebih lanjut; dan

d)

untuk mendokumentasikan hasil diskusi dan kesepakatan pada forum


FGD tahap pelingkupan sebagai bahan pertimbangan pada tahap
analisis.

Pelibatan pemangku kepentingan dalam tahap pelingkupan ini diawali


dengan pemetaan pemangku kepentingan. Pemetaan ini untuk membantu
pemilihan pemangku kepentingan yang tidak tidak saja berpengaruh, tetapi
juga mempunyai tingkat kepentingan yang tinggi terhadap rencana tata
ruang yang akan disusun.
Secara umum pemangku kepentingan dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a)

Pembuat

keputusan,

yaitu

Kementerian,

pemerintah

provinsi,

pemerintah kabupaten/kota;
b)

Penyusun rencana tata ruang, baik pemerintah pusat dan pemerintah


daerah;

c)

Instansi lain yang terkait yang membidangi lingkungan hidup serta


instansi sektor lain seperti:

kehutanan, pertanian, pertambangan,

pariwisata dan sektor lain sesuai dengan kekhususan rencana tata


ruang yang disusun;
d)

Masyarakat yang memiliki informasi dan/atau keahlian, baik berasal dari


perguruan tinggi, asosiasi profesi, lembaga swadaya masyarakat, tokoh
masyarakat, dan unsur pemerhati lingkungan hidup;

e)

Masyarakat yang terkena dampak, meliputi: lembaga adat, organisasi


masyarakat, tokoh masyarakat, dan unsur masyarakat lainnya.

Untuk mempermudah proses pelingkupan isu strategis dapat melihat Tabel


4. Sedangkan untuk membantu mengidentifikasi stakeholder dapat melihat
contoh format Tabel 5 dan Tabel 6.
3.1.4 Tahap Kajian Pengaruh
Tahap kajian pengaruh merupakan tahap analisis lanjutan setelah isu-isu strategis
disepakati. Hal ini bertujuan untuk memperkirakan dan menghitung besaran dampak
dari isu strategis. Pada tahap ini dapat menggunakan beragam metode yang
digunakan untuk analisis dan prediksi konsekuensi lingkungan, baik berupa model16

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

model deskriptif internal, model black-box empiris (statistik), model skenario


kebijakan dan analisis kualitatif dll. Tahap ini pada akhirnya akan menghasilkan
masukan alternatif perbaikan muatan rencana tata ruang, termasuk mencegah atau
mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan hidup.
Telaah pengaruh sudah dapat dilakukan sejak dibuat:
a. rancangan/konsep kebijakan (dan strategi);
b. rancangan/konsep rencana struktur dan pola ruang; dan/atau
c. rancangan/konsep indikasi program.
Metoda untuk kajian pengaruh ini disesuaikan dengan aspek kajian. Alat analisis
yang dapat digunakan untuk pengkajian pengaruh antara lain:
a. model statistik;
b. penggunaan standar dan kriteria (seperti: baku mutu pencemaran);
c. analisis sistem informasi geografis (SIG);
d. Threshold analysis dan footprint analysis; atau
e. metode lainnya
Keluaran kegiatan ini adalah hasil penilaian yang bersifat komprehensif terhadap
kajian perkiraan pengaruh dari (rancangan) rencana tata ruang terhadap aspek kajian
sesuai dengan ketentuan muatan KLHS yang meliputi: daya dukung lingkungan,
dampak lingkungan hidup, sumber daya alam, keanekaragaman hayati, jasa
lingkungan dan perubahan iklim. Kajian pengaruh ini meliputi skala, periode dan/atau
lokasi implementasi rencana yang akan berpengaruh terhadap kondisi lingkungan
hidup.
Sebagai contoh gambaran cara melakukan telaah terhadap isu strategis lingkungan
dapat melihat Tabel 7 dan Tabel 8.
3.1.5 Tahap Perumusan Alternatif dan Rekomendasi
Tahap perumusan alternatif dan rekomendasi dilakukan terhadap rencana yang
disusun dengan pertimbangan hasil analisis dampak lingkungan setelah tahap kajian
pengaruh dilakukan. Rekomendasi KLHS dapat bersifat spasial dan non-spasial,
namun yang diintegrasikan dalam RTR adalah rekomendasi yang bersifat spasial.
Sedangkan rekomendasi yang bersifat non-spasial diakomodir dalam dokumen
sebagai catatan untuk dapat ditindaklanjuti oleh pihak lain yang terkait. Rekomendasirekomendasi tersebut dapat berupa:
a. alternatif skenario perencanaan guna lahan dan infrastruktur; atau
b. mitigasi terhadap dampak lingkungan yang potensial ditimbulkan dari suatu
rencana yang ditetapkan.

17

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

3.2 Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan RTR


Secara umum tahap tahap pelaksanaan KLHS untuk penyusunan semua jenis
rencana sama yakni persiapan, pra-pelingkupan, pelingkupan, kajian pengaruh, dan
perumusan alternatif rekomendasi. Namun kedetilan informasi dasarnya dan muatan
KLHS akan berbeda tergantung jenis rencana dan skala rencana yang akan disusun.
Untuk rencana rinci, terutama RTR KSN berbasis objek dan RDTR kedalaman
informasinya akan lebih detil sehingga dalam rangka konsultasi publik sebaiknya
melibatkan hingga lapisan masyarakat yang merasakan dampak pembangunan secara
langsung.
Seperti dijelaskan dalam bab sebelumnya, proses pelaksanaan KLHS untuk semua
jenis rencana tata ruang dapat dilakukan dengan 3 (tiga) tipe pendekatan yang
terintegrasi yakni satu-kesatuan (embedded), paralel, dan setelah (Post). Dalam
pelaksanaannya dapat dilakukan variasi dari ketiga pendekatan ini yang disesuaikan
dengan jadwal, anggaran dan karakter dari RTR.
Untuk lebih jelasnya, penjabaran masing-masing proses dan integrasinya dapat
melihat pada Gambar 3.2.
Gambar 3.2
Penjabaran Proses dan Integrasi KLHS dalam Penyusunan RTR

KLHS akan memberikan masukan terhadap kebijakan, rencana, dan program (KRP)
pada dokumen perencanaan tata ruang. KRP yang dimaksud dapat dilihat pada Tabel
3.1.

18

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

Tabel 3.1
Masukan KLHS untuk Rencana Tata Ruang
KLHS

Rencana Umum Tata Ruang dan

RDTR

Rencana Rinci selain RDTR


Kebijakan

Tujuan, kebijakan, dan strategi


(Raperpres/Raperda)

Tujuan penataan BWP

Rencana

Rencana struktur ruang dan rencana pola


ruang (Raperpres/Raperda)

Rencana pola ruang;


Rencana jaringan prasarana;
Penetapan sub BWP prioritas

Program

Indikasi program (dokumen teknis RTRW)

Program prioritas periode 5


tahun

Pelaksanaan KLHS untuk rencana rinci, khususnya untuk kawasan strategis nasional
berbasis objek dan RDTR, memiliki perbedaan dengan KLHS untuk rencana umum tata
ruang dan rencana rinci lainnya. Namun perbedaan ini tidak terlalu mendasar secara
proses maupun prosedur, hanya pada skala kedalaman informasi dasar, muatan, dan
pengintegrasian rekomendasi KLHS. Untuk lebih jelasnya dapat melihat Tabel 3.2

19

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

Tabel 3.2
Proses Pelaksanaan KLHS untuk Beberapa Dokumen Perencanaan
RENCANA UMUM TATA RUANG
KLHS
RTRW Provinsi/Kabupaten/Kota

Persiapan

Pra Pelingkupan

RENCANA RINCI TATA RUANG


RTR Pulau, RTR KSN Berbasis
Kawasan, RTR Kawasan Strategis
Provinsi

penentuan
lingkup
kegiatan
penyusunan
RTR
dan
pelaksanaan KLHS.
penyiapan rencana anggaran dan
biaya.
penyusunan Kerangka Acuan
Kerja

Pengkajian aspek lingkungan


hidup yang ada dalam RTR.
Pengumpulan data dan informasi
lingkungan hidup (desk study).
Baseline, memuat informasi:

fisik dan lingkungan hidup

Informasi ekologis

sosial ekonomi
Pemetaan kelompok informasi
dasar.
Sintesis data dan informasi
lingkungan hidup yang tersedia.
Identifikasi awal isu strategis
lingkungan hidup.
Contoh isu strategis lingkungan
hidup:
a. RTRW Provinsi: Alih fungsi
kawasan suaka alam menjadi
kawasan budi daya, sehingga
mengakibatkan menurunnya
tingkat
keanekaragaman
hayati pada kawasan suaka

RTR Kawasan Strategis


Kab/Kota, RTR KSN Berbasis
Objek

penentuan lingkup kegiatan


penyusunan
RTR
dan
pelaksanaan KLHS.
penyiapan rencana anggaran
dan biaya.
penyusunan Kerangka Acuan
Kerja

Pengkajian aspek lingkungan


hidup yang ada dalam RTR.
Pengumpulan
data
dan
informasi
lingkungan hidup
(desk study).
Baseline, memuat informasi:

fisik dan lingkungan hidup

Informasi ekologis

sosial ekonomi
Pemetaan kelompok informasi
dasar.
Sintesis data dan informasi
lingkungan hidup yang tersedia.
Identifikasi awal isu strategis
lingkungan hidup.
Contoh isu strategis lingkungan
hidup:
a. RTR
Pulau:
tekanan
penduduk,
meluasnya
jumlah
lahan
kritis,
degradasi dan deforestasi
hutan (Studi Kasus Pulau

RDTR

penentuan lingkup kegiatan


penyusunan
RTR
dan
pelaksanaan KLHS.
penyiapan rencana anggaran
dan biaya.
penyusunan Kerangka Acuan
Kerja

penentuan lingkup kegiatan


penyusunan
RTR
dan
pelaksanaan KLHS.
penyiapan rencana anggaran
dan biaya.
penyusunan Kerangka Acuan
Kerja

Pengkajian aspek lingkungan


hidup yang ada dalam RTR.
Pengumpulan
data
dan
informasi lingkungan hidup
(desk study).
Baseline, memuat informasi:

fisik dan lingkungan


hidup

Informasi ekologis

sosial ekonomi

data pendukung lainnya


sesuai
karakteristik
masing-masing wilayah.
Pemetaan
kelompok
informasi dasar.
Sintesis data dan informasi
lingkungan
hidup
yang
tersedia.
Penyiapan
peta
kerja
menggunakan peta dasar
sesuai dengan skala peta
masing-masing rencana rinci.

Pengkajian aspek lingkungan


hidup yang ada dalam RTR.
Pengumpulan
data
dan
informasi lingkungan hidup
(desk study).
Baseline, memuat informasi:

fisik dan lingkungan


hidup

Informasi ekologis

sosial ekonomi

data pendukung lainnya


sesuai
karakteristik
masing-masing wilayah.
Pemetaan kelompok informasi
dasar.
Sintesis data dan informasi
lingkungan
hidup
yang
tersedia.
Penyiapan
peta
kerja
menggunakan peta dasar
sesuai dengan skala peta
masing-masing rencana rinci.

20

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

alam.
b. RTRW Kabupaten: Bencana
banjir dan genangan yang
mengakibatkan
kerusakan
kawasan
pertanian
dan
penurunan produksi pangan.
c. RTRW
Kota:
Penurunan
prosentase ruang terbuka
hijau
secara
signifikan,
sehingga penyediaan ruang
terbuka hijau kota tidak
memenuhi kebutuhan untuk
fungsi ekologis dan sosial.

b.

Jawa).

RTR
KSN
berbasis
kawasan: Konflik antara
peningkatan
aktivitas
tambang di area penting
yang
mengandung
keragaman hayati berupa
sejumlah spesies endemik
(Studi
Kasus
KSN
Sorowako).

Pada
tahap
pengkajian
konsep pengembangan, perlu
mengidentifikasi
rencana
pengembangan yang tertuang
dalam RTR dan KLHS
kabupaten/kota.
Identifikasi awal isu strategis lingkungan
hidup
perlu
melihat/mengacu
materi
teknis
dan KLHS RTR
provinsi, kabupaten, dan kota.
Contoh
isu
strategis
lingkungan hidup: sanitasi
lingkungan
kurang
baik,
dicirikan
dengan
air
permukaan dan air tanah
tercemar limbah domestik
(studi
kasus:
KSN
Prambanan)
dan
potensi
gangguan suara terhadap
masyarakat sekitar dari alatalat (studi kasus: KSN
Teknologi
Tinggi
Stasiun
Pengamat
Dirgantara
di
Kotababang).
Review aspek lingkungan
hidup dalam RTR yang ada
dan kebijakan lainnya.
Review data dan informasi
lingkungan
hidup
yang
tersedia.

Pelingkupan

Penilaian daftar isu lingkungan hidup awal oleh para ahli.

Penilaian daftar isu lingkungan hidup awal oleh para ahli.

Penilaian
daftar
isu lingkungan hidup awal oleh

Pada
tahap
pengkajian
konsep
pengembangan,
perlu
mengidentifikasi
rencana
pengembangan
yang tertuang dalam RTR
dan KLHS kabupaten/kota.
Identifikasi awal isu strategis
perlu
melihat/mengacu
materi teknis dan KLHS RTR
provinsi, kabupaten, dan
kota.
Contoh
isu
strategis
lingkungan
hidup:
BWP
Waibakul bertujuan untuk
mewujudkan
kawasan
Perkotaan Waibakul sebagai
kota transit yang didukung
oleh perdagangan dan jasa
serta berbasis agropolitan,
akan
memunculkan
isu
strategis berupa penanganan
kota transit agar tidak
menghilangkan fungsi yang
mendukung agropolitan.
Pra
pelingkupan
dapat
dilakukan apabila:
Delineasi wilayah kajian
sudah ditentukan;
Pengenalan kondisi fisik
dan sosial ekonomi BWP
sudah dilakukan; dan
Informasi dasar sudah
tersusun
Review aspek lingkungan
hidup dalam RTR yang ada
dan kebijakan lainnya.
Review data dan informasi
lingkungan
hidup
yang
tersedia.
Penilaian
daftar
isu
lingkungan hidup awal oleh

21

Pedoman Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan atau Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang

Kajian Pengaruh

Perumusan alternatif/
Rekomendasi

Identifikasi
pemangku kepentingan.
Penetapan dan penyepakatan isu strategis lingkungan hidup.

Identifikasi
pemangku
kepentingan.
Penetapan dan penyepakatan
isu strategis lingkungan hidup.
-

- Analisis lanjutan terhadap isu Analisis

para ahli.
Identifikasi
pemangku kepentingan.
Penetapan dan penyepakatan isu strategis lingkungan hidup
yang dampaknya berskala
regional atau nasional.

strategis lingkungan hidup yang


telah disepakati

lanjutan terhadap isu


strategis lingkungan hidup yang
telah disepakati

Analisis lanjutan terhadap isu


strategis lingkungan hidup yang
telah disepakati

Rekomendasi
KLHS
yang
diitegrasikan dalam RTR bersifat
spasial, dapat berupa:
alternatif skenario perencanaan
guna lahan dan infrastruktur;
atau
mitigasi
terhadap
dampak
lingkungan
yang
potensial
ditimbulkan dari suatu rencana
yang ditetapkan.

Rekomendasi
KLHS
yang
diitegrasikan dalam RTR bersifat
spasial, dapat berupa:
alternatif skenario perencanaan
guna lahan dan infrastruktur;
atau
mitigasi terhadap dampak
lingkungan
yang
potensial
ditimbulkan dari suatu rencana
yang ditetapkan.

Rekomendasi
KLHS
yang
diitegrasikan dalam RTR bersifat
spasial, dapat berupa:
alternatif
skenario
perencanaan zona, jaringan,
serta sarana dan prasarana;
atau
alternatif tema penanganan
(program
utama)
kawasan/objek
yang
diprioritaskan.

para ahli.
Identifikasi
pemangku
kepentingan.
Penetapan
dan
penyepakatan isu strategis
lingkungan
hidup
yang
dampaknya berskala regional
atau nasional.
Analisis lanjutan terhadap isu
strategis lingkungan hidup
yang telah disepakati
Kajian
pengaruh
dapat
dilakukan jika sudah terdapat
rancangan/konsep:
tujuan penataan BWP
rencana pola ruang dan
jaringan prasarana
sub
BWP
yang
diprioritaskan
penanganannya
Rekomendasi
KLHS
yang
diitegrasikan dalam RTR bersifat
spasial, dapat berupa:
alternatif
skenario
perencanaan zona, jaringan,
serta sarana dan prasarana;
atau
alternatif tema penanganan
(program utama) sub BWP
yang diprioritaskan.

22

Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional

3.3 Pelaksanaan KLHS untuk Peninjauan Kembali RTR


KLHS perlu dilaksanakan pada proses peninjauan kembali RTR untuk memberikan
masukan dari sisi lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi agar dapat mendukung
keputusan RTR perlu direvisi atau tidak. Tahapan pelaksanaan KLHS sama seperti
tahapan yang telah dijelaskan dalam bab-bab sebelumnya dan dilakukan sejak awal
dilaksanakan peninjauan kembali dengan pendekatan satu-kesatuan (embedded) atau
paralel.

Untuk

lebih

jelasnya,

penjabaran

proses

penijauan

kembali

dan

pengintegrasian KLHS dapat melihat pada Gambar 3.3.


Gambar 3.3
Pelaksanaan KLHS Untuk Peninjauan Kembali RTR

Pada tahap persiapan tim pelaksana KLHS perlu menyiapkan data-data dasar terkait
capaian implementasi RTR. Informasi dasar (baseline data) yang dimaksud memuat
kelompok informasi sama seperti dalam pelaksanaan KLHS dalam penyusunan RTR
namun berisi data sebelum implementasi RTR dan sesudah RTR dilaksanakan.
Pada tahap pra-pelingkupan selain menggunakan baseline data, dengan melihat
KLHS sebelumnya akan dapat diketahui hasil kajian terdahulu dan bagaimana jika
dibandingkan dengan kondisi eksisiting saat peninjauan kembali. Hasil desk study
akan menunjukkan rumusan perubahan-perubahan signifikan dari implementasi RTR
dan isu lingkungan awal yang perlu dikaji lebih lanjut dampaknya sehingga dari sini
pula dapat diketahui apakah RTR yang sudah ada perlu direvisi atau tidak.
23

Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional

Hasil keluaran tahap ini memperkuat keputusan perlunya RTR direvisi atau tidak.
Apabila RTR perlu direvisi maka proses KLHS akan berlanjut, sehingga pada saat
merumuskan KRP revisi RTR dapat menggunakan hasil KLHS ini sebagai bahan
pertimbangan.
Jika menurut kajian dan masukan KLHS menyatakan bahwa RTR tidak perlu direvisi,
maka proses KLHS untuk peninjauan kembali telah selesai. Namun apabila RTR
perlu direvisi maka proses KLHS untuk revisi RTR berlanjut dimulai pada tahap
pelingkupan.
Pada tahap pra-pelingkupan dalam rangka peninjauan kembali, telah dihasilkan
masukan perubahan penting dari implementasi RTR terhadap kondisi fisik lingkungan
dan sosial di suatu wilayah perencanaan dan wilayah sekitarnya sehingga pada tahap
pelingkupan difokuskan pada analisis lebih mendalam berbagai dampak penting
tersebut untuk disarikan menjadi isu strategis yang perlu dikaji lebih lanjut.
Tahap pelingkupan juga dilakukan dengan melihat kembali hasil KLHS sebelumnya
karena pada dokumen KLHS sebelumnya terdapat rumusan isu-isu strategis hasil
dari konsultasi publik. Jika selama 5 (lima) tahun isu yang berkembang masih sama
maka tim pelaksana hanya perlu meng-update datanya. Jika berbeda, maka dapat
melaksanakan konsultasi publik kembali untuk menyepakati isu strategis yang perlu
dianalisis.
Dalam hal revisi RTR, selain menentukan dampak potensial maka penetapan isu
strategis ini dapat didasarkan pada dampak besar yang timbul dari implementasi RTR
sehingga melalui RTR yang baru kebijakan, rencana, atau program yang dihasilkan
dapat memberikan solusi dari timbulnya dampak negatif atau lebih mengembangkan
dampak yang positif. Selanjutnya tahapan KLHS dalam proses revisi mengikuti
tahapan KLHS dalam penyusunan RTRW.

24

Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional

BAB IV
DOKUMENTASI DAN AKSES PUBLIK
Dokumentasi pelaksanaan KLHS meliputi pelaporan hasil KLHS maupun prosedur
dalam pelaksanaan KLHS. Sistematika isi laporan KLHS baik dalam penyusunan atau
peninjauan kembali RTR tidak ada standar baku, tetapi terdapat muatan minimum
sebagaimana dijabarkan pada subbab berikut.
4.1

Substansi KLHS untuk Penyusunan RTR


Laporan KLHS untuk penyusunan RTR setidaknya memuat:
a. gambaran tentang rencana tata ruang;
b. penjelasan tentang informasi lingkungan;
c. peraturan terkait dan sasaran lingkungan yang ditetapkan (terkait dengan rencana
tata ruang);
d. hasil KLHS pada isu strategis, meliputi: kapasitas daya dukung dan daya tampung
lingkungan hidup untuk pembangunan, perkiraan mengenai dampak dan risiko
lingkungan hidup, kinerja layanan/jasa ekosistem, efisiensi pemanfaatan sumber
daya alam, tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim, dan
tingkat ketahanan dan potensi keanekaragaman hayati.
e. rumusan alternatif penyempurnaan rencana tata ruang; dan
f. rekomendasi perbaikan untuk pengambilan keputusan.

4.2

Substansi KLHS untuk Peninjauan Kembali RTR


a. Untuk proses peninjauan kembali yang hasilnya tidak perlu revisi, laporan KLHS
setidaknya memuat:
1) gambaran tentang rencana tata ruang;
2) penjelasan tentang informasi lingkungan sebelum dan sesudah implementasi;
3) rumusan perubahan signifikan yang menyatakan perlu atau tidaknya revisi RTR.
b. Untuk proses peninjauan kembali yang hasilnya perlu revisi, laporan KLHS
setidaknya memuat:
1) gambaran tentang rencana tata ruang;
2) penjelasan tentang informasi lingkungan sebelum dan sesudah implementasi;
3) rumusan perubahan signifikan yang menyatakan perlu atau tidaknya revisi RTR;
4) isu-isu strategis lingkungan hidup mengacu pada KLHS sebelumnya atau isu
strategis lingkungan hidup baru sesuai hasil konsultasi publik;
5) rumusan alternatif penyempurnaan rencana tata ruang;dan
6) rekomendasi perbaikan untuk pengambilan keputusan.
Seluruh tahapan penyelenggaraan KLHS dalam perencanaan dan peninjauan kembali
rencana tata ruang perlu didokumentasikan dan dapat diakses oleh masyarakat.
Dokumentasi

penyelenggaraan

KLHS

memuat

seluruh

proses

dan

hasil
25

Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional

penyelenggaraan KLHS dalam penyusunan serta peninjauan kembali rencana tata


ruang, termasuk dokumentasi rangkaian urutan tahapan pelaksanaan KLHS yang
dikerjakan dan laporan pelaksanaan dan kesimpulan dari setiap pembahasan dan
konsultasi publik.
Dokumentasi penyelenggaraan KLHS disiapkan oleh pemrakarsa rencana tata ruang
dan menjadi lampiran dokumen rencana tata ruang dan dibuat salinannya bagi instansi
lingkungan hidup. Dokumen publik ini dapat diakses oleh masyarakat. Dalam kasuskasus tertentu, pemrakarsa rencana tata ruang dapat mengadakan konferensi pers
atau pengumuman publik untuk mensosialisasikan penyelenggaraan KLHS dalam
rangka penyusunan dan peninjauan kembali rencana tata ruang.

26