Anda di halaman 1dari 13

KADAR AIR TANAH

( Laporan Praktikum Ilmu Tanah Hutan )

Oleh
Ferdy Ardiansyah
1314151022

JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut Dokuchnev tanah adalah suatu benda fisis yang berdimensi tiga
terdiri dari panjang, lebar, dan dalam yang merupakan bagian paling atas dari
kulit bumi. Dalam ilmu tanah, terdapat istilah berat kering dan berat
basah. Berat kering adalah berat yang dihasilkan tanah dari lapangan yang
sudah dilakukan pengovenan, sedangkan berat basah adalahberat yang
dihasilkan tanah dari lapangan yang belum dilakukan pengovenan. Tanah
yang memiliki berat basah, didalamnya mengandung kadar air tanah.
Kadar air tanah adalah kapasitas suatu tanah untuk menyerap air sampai
kapasitas lapang terpenuhi. Menurut Hanafiah (2007), kapasitas lapang
adalah kondisi dimana tebal lapisan air dalam pori-pori tanah mulai menipis,
sehingga tegangan antar air-udara meningkat hingga lebih besar dari gaya
gravitasi. Jika kapasitas lapang tidak terpenuhi, maka di dalam tanah dapat
terjadi fase layu permanen kondisi air tanah yang ketersediaannya sudah lebih
rendah ketimbang kebutuhan tanaman untuk aktivitas, dan mempertahankan
turgornya. Dalam hal ini, bisa jadi tumbuhan tidak dapat hidup di tempat
tersebut dan bisa jadi tumbuhan yg berada di tempat tersebut akan layu dan
akhirnya akan mati.
Agar kita dapat memnentukan kadar air yang terkandung dalam tanah dan
faktor apa saja yang memengaruhinya, maka dilakukanlah percobaan ini.

B. Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah


1. Untuk menentukan kadar air yang terkandung di dalam tanah
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kadar air dalam tanah.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Kadar air dalam tanah dapat dinyatakan dalam persen volume yaitu persentase
volume air terhadap volume tanah. Cara ini mempunyai keuntungan karena dapat
memberikan gambaran tentang ketersediaan air bagi tanaman pada volume tanah
tertentu. Cara penetapan kadar air dapat dilakukan dengan sejumlah tanah basah
dikering ovenkan dalam oven pada suhu 1000 C 1100 C untuk waktu tertentu.
Air yang hilang karena pengeringan merupakan sejumlah air yang terkandung
dalam tanah tersebut. Air irigasi yang memasuki tanah mula-mula menggantikan
udara yang terdapat dalam pori makro dan kemudian pori mikro. Jumlah air yang
bergerak melalui tanah berkaitan dengan ukuran pori-pori pada tanah. Air
tambahan berikutnya akan bergerak ke bawah melalui proses penggerakan air
jenuh. Penggerakan air tidak hanya terjadi secara vertikal tetapi juga horizontal.
Gaya gravitasi tidak berpengaruh terhadap penggerakan horizontal (Hakim, dkk,
1986).
Koefisien air tanah yang merupakan koefisien yang menunjukkan potensi
ketersediaan air tanah untuk mensuplai kebutuhan tanaman, terdiri dari :
a.

Jenuh atau retensi maksimum, yaitu kondisi di mana seluruh ruang pori tanah
terisi oleh air.

b.

Kapasitas lapang adalah kondisi dimana tebal lapisan air dalam pori-pori
tanah mulai menipis, sehingga tegangan antarair-udara meningkat hingga
lebih besar dari gaya gravitasi.

c.

Koefisien layu (titik layu permanen) adalah kondisi air tanah yang
ketersediaannya sudah lebih rendah ketimbang kebutuhan tanaman untuk
aktivitas, dan mempertahankan turgornya.

d.

Koefisien Higroskopis adalah kondisi di mana air tanah terikat sangat kuat
oleh gaya matrik tanah.

Kemampuan tanah menahan air dipengaruhi antara lain oleh tekstur tanah. Tanahtanah bertekstur kasar mempunyai daya menahan air lebih kecil daripada tanah
bertekstur halus. Oleh karena itu, tanaman yang ditanam pada tanah pasir
umumnya lebih mudah kekeringan daripada tanah-tanah bertekstur lempung atau
liat. Kondisi kelebihan air ataupun kekurangan air dapat mengganggu
pertumbuhan tanaman. Ketersediaan air dalam tanah dipengaruhi: banyaknya
curah hujan atau air irigasi, kemampuan tanah menahan air, besarnya
evapotranspirasi (penguapan langsung melalui tanah dan melalui vegetasi),
tingginya muka air tanah, kadar bahan organik tanah, senyawa kimiawi atau
kandungan garam-garam, dan kedalaman solum tanah atau lapisan tanah
(Hanafiah, 2007).
Air tersedia biasanya dinyatakan sebagai air yang terikat antara kapasitas
lapangan dan koefisien layu. Kadar air yang diperlukan untuk tanaman juga
bergantung pada pertumbuhan tanaman dan beberapa bagian profil tanah yang
dapat digunakan oleh akar tanaman. Tetapi untuk kebanyakan mendekati titik
layunya, absorpsi air oleh tanaman kurang begitu cepat, dapat mempertahankan
pertumbuhan tanaman. Penyesuaian untuk menjaga kehilangan air di atas titik
layunya telah ditunjukkan dengan baik (Buckman and Brady, 1982).

III. METODE PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah sekop, penggaris,
timbangan, oven, dan kertas. Sedangkan bahan yang digunakan dalam
percobaan ini adalah sampel tanah yang akan diamati.

B. Cara Kerja

Adapun cara kerja yang dilakukan dalam percobaan ini adalah


1. Menggali tanah dengan sekop sedalam 30cm.
2. Mengambil sempel tanah kira-kira 5 gram setiap kedalaman 0-10 cm, 1020 cm, dan 20-30 cm.
3. Meletakkan tanah pada sehelai kertas.
4. Menimbang tanah dan mencatat beratnya sebagai berat basah.
5. Mengeringkan tanah dengan oven selama 24 jam.
6. Mengeluarkan sampel tanah dari oven.
7. Menimbang sampel tanah dan mencatat beratnya sebagai berat kering.
8. Menghitung kadar air dari data yang diperoleh.

IV.

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil pengamatan

Adapun hasil pengamatan yang diperoleh adalah sebagai berikut.


Tabel 1. Hasil berat sampel tanah dengan kertas
No

Kedalaman

Berat kertas

Berat tanah

Berat tanah

(cm)

(gr)

+kertas (gr)

(berat kotorberat kertas)


(gr)

0-10

2,08

17,09

15,01

10-20

2,12

18,04

15,92

20-30

2,01

18,02

16,01

Tabel 2. Hasil berat sampel tanah


No Kedalaman

Berat basah (gr)

Berat kering (gr)

0-10

15,01

15,01

15,01

10,77

10,77

10,77

10-20

15,92

15,92

15,92

20-30

16,01

16,01

16,01

8,89

8,89

8,89

Tabel 3. Hasil perhitungan kadar air


No

Kedalaman (cm)

Kadar air (berat basah-berat kering)

0-10

4,24

10-20

6,92

20-30

7,03

B. Pembahasan

Dari pengamatan yang dilakukan oleh kelompok kami, kadar air yang
terkandung di dalam tanah sampel yang diambil dan berlokasi di lapangan
sepak bola, didapatkan kadar air pada kedalaman 0-10 adalah 4,24; 10-20
adalah 6,92; 20-30 adalah 7,03. Untuk dapat menentukan angka di atas,kita
harus menentukan berat basah dan berat kering terlebih dahulu. Berat besah
didapat dari tanah yang ditimbang sebelum dilakukan pengovenan, sedang
kan berat kering didapat dari penimbangan setelah dilakukanlah
pengovenan.pengovenan berfungsi agar air yang terkandung di dalam tanah
tersebut dapat mengering. Hal ini sesuai dengan Hakim dkk (1986) yaitu cara
penetapan kadar air dapat dilakukan dengan sejumlah tanah basah dikering
ovenkan dalam oven pada suhu 1000 C 1100 C untuk waktu tertentu. Air
yang hilang karena pengeringan merupakan sejumlah air yang terkandung
dalam tanah tersebut.
Faktor yang memengaruhi angka tersebut salah satunya adalah kedalaman
solum tanah atau lapisan tanah. hal ini sesuai dengan pendapat Hanafiah
(2007), yaitu ketersediaan air dalam tanah dipengaruhi: banyaknya curah
hujan atau air irigasi, kemampuan tanah menahan air, besarnya
evapotranspirasi (penguapan langsung melalui tanah dan melalui vegetasi),
tingginya muka air tanah, kadar bahan organik tanah, senyawa kimiawi atau
kandungan garam-garam, dan kedalaman solum tanah atau lapisan tanah.

V.

KESIMPULAN

Kesimpulan yang didapat dari praktikum ini adalah


1.

Untuk menentukan kadar air, kita harus menentukan berat basah dan berat
kering terlebih dahulu. Berat besah didapat dari tanah yang ditimbang
sebelum dilakukan pengovenan, sedang kan berat kering didapat dari
penimbangan setelah dilakukanlah pengovenan. Angka kadar air dapat kita
tentukan dengan cara berat basah dikurang berat kering.

2.

Faktor-faktor yang memengaruhi kadar air dalam tanah adalah banyaknya


curah hujan atau air irigasi, kemampuan tanah menahan air, besarnya
evapotranspirasi (penguapan langsung melalui tanah dan melalui vegetasi),
tingginya muka air tanah, kadar bahan organik tanah, senyawa kimiawi atau
kandungan garam-garam, dan kedalaman solum tanah atau lapisan tanah.

DAFTAR PUSTAKA

Buckman, H. O., and Brady. 1982. Ilmu Tanah. Bharata Karya Aksara : Jakarta.
Hakim. N., dkk. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung :
Lampung.
Hanafiah, K., A. 2007. Dasar-Dasar ILmu Tanah. Rajawali Pers : Jakarta.
www.sumberajaran.com/2012/11/laporan-praktikum-ddit-kadar-air.html

LAMPIRAN

Gambar 1. Penggalian

Gambar 3. Pengambilan sampel tanah

Gambar 2. Pengukuran