Anda di halaman 1dari 18

Tugas Reseptir Interaksi Obat

PENDAHULUAN
Interaksi obat didefinisikan oleh Committee for Proprietary Medicine Product
(CPMP) sebagai suatu keadaan bilamana suatu obat dipengaruhi oleh penambahan
obat lain dan menimbulkan pengaruh klinis. Biasanya, pengaruh ini terlihat sebagai
suatu efek samping, tetapi terkadang pula terjadi perubahan yang
menguntungkan.Obat yang memengaruhi disebut sebagai precipitant drug, sedangkan
obat yang dipengaruhi disebut sebagai object drug.
Interaksi obat adalah peristiwa dimana aksi suatu obat diubah atau
dipengaruhi oleh obat lain yang diberikan bersamaan. Interaksi obat terjadi jika suatu
obat mengubah efek obat lainnya.Kerja obat yang diubah dapat menjadi lebih atau
kurang aktif.Menurut Piscitelli dan Rodvold (2005), Sebuah interaksi obat terjadi
ketika farmakokinetika atau farmakodinamika obat dalam tubuh diubah oleh
kehadiran satu atau lebih zat yang berinteraksi.Obat yang diberikan dapat bersaing
satu dengan yang lainnya, atau apa yang terjadi ketika obat hadir bersama satu
dengan yang lainnya sehingga interaksi obat menjadi penting untuk dipertimbangkan
(Stockley 2008).Interaksi obat dapat terjadi pada manusia maupun pada hewan yang
mengonsumsi obat.
Beberapa studi menyebutkan proporsi interaksi obat dengan obat lain (antar
obat) berkisar antara 2,2% sampai 30% terjadi pada pasien rawat-inap dan 9,2%
sampai 70,3% terjadi pada pasien-pasien rawat jalan, walaupun kadang-kadang
evaluasi interaksi obat tersebutmemasukkan pula interaksi secara teoretik selain
interaksi obat sesungguhnya yang ditemukan dan terdokumentasi.Di Amerika Serikat,
insidensi interaksi obat yang mengakibatkan reaksi efeksamping sebanyak 7,3%
terjadi di rumah sakitlebih dari 88% terjadi pada pasien geriatrik di rumah sakit.
Orang mengalami resiko efek samping karenainteraksi obat, dan seberapa jauh risiko
efeksamping dapat dikurangi diperlukan jika akanmengganti obat yang berinteraksi
dengan obatalternatif. Dengan mengetahui bagaimanamekanisme interaksi antar obat,
dapatdiperkirakan kemungkinan efek samping yangakan terjadi dan melakukan
antisipasi. Makalahini bermaksud menguraikan beberapa mekanismeinteraksi antar
obat yang terjadi karena interaksitersebut (Gitawati 2008).

TINJAUAN PUSTAKA
Interaksi obat yang terjadi di dalam tubuh dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
interaksi farmakodinamik dan interaksi farmakokinetik. Interaksi farmakodinamik
adalah interaksi antar obat (yang diberikan berasamaan) yang bekerja pada reseptor
yang sama sehingga menimbulkan efek sinergis, antagonis ataupun

Tugas Reseptir Interaksi Obat


potensiasi.Sedangkan interaksi farmakokinetik terjadi pada proses-proses peredaran
obat di dalam tubuh.
Interaksi obat antagonis merupakan interaksi yang bersifat saling manurunkan
bahkan meniadakan khasiat dari masing-masing obat. Kegiatan obat pertama
dikurangi atau bahkan ditiadakan sama sekali oleh obat kedua yang memiliki khasiat
farmakologis yang bertentangan. Penurunan efek satu obat oleh obat yang lain atau
antagonis antar obat pada umumnya tidak diinginkan, tetapi kadang-kadang juga
diinginkan. Pada kasus penurunan efek obat yang tidak diinginkan, kombinasi obat
dikatakan tidak sesuai (incompatible).Bila senyawa antagonis diberikan sesudah
agonis, yang dimaksudkan untuk menghilangkan efek agonis atau efek sampingnya,
maka disebut efekkuratif, misal untuk pengobatan keracunan obat, senyawa antagonis
berfungsi sebagai antidotum(Stockley 2008).Beberapa obat yang memberikan
interaksi antagonis antara lainobat yang bersifat beta agonis yaitu Salbutamol untuk
pengobatan asma dengan obat yang bersifat pemblok beta yaitu propanolol untuk
pengobatan hipertensi, dapat menyebabkan bronkospasme, vitamin K dan derivat
kumarin (warfarin), Simetidin dan propanolol, atropin terhadap asetilkolin.
Efek obat sinergisme adalah interaksi antara 2 atau lebih bahan yang
menghasilkan suatu peningkatan kuantitatif dari efeknya dibandingkan bila diberikan
bahan secara sendiri (Tatro 2006).Efek obat sinergis dapat bermanfaat tapi dapat pula
merugikan bagi tubuh. Efek sinergis bermanfaat, jika penggunaan obat tunggal tidak
memberikan efek terapi yang memadai, perlu penggunaan kombinasi obat yang
memiliki efek terapi yang sinergis sehingga efek terapi lebih kuat dan memberikan
efek bagi penderita sedangkan efek sinergis yang merugikan dimana penggunaan dua
obat atau lebih dengan efek yang sama dapat menimbulkan efek yang berlebihan
sehingga membahayakan bagi pasien. Contoh kombinasi obat yang memiliki efek
sinergis
diantaranya:
amoxicillin-erytromisin,
sulfonamide-trimetroprim,
aminoglikosida-metronidazol, beta blocker-procainamide, beta blocker dengan antiangina, dan lain-lain (Lacy et all 2006).
Kadang-kadang efek sinergis suatu obat terhadap obat yang lain lebih besar
daripada efek gabungan dua obat dari golongan yang sama (Kee dan Hayes 1996).
Kerja sama saling memperkuat yang secara matematis terjadi efek melebihi jumlah a
+ b disebut potensiasi atau peningkatan potensi (Tjay dan Rahardja 2007). Jika obat a
dan b dikombinasi misalnya, maka obat a yang dibutuhkan akan menjadi lebih sedikit
dengan kekuatan akhir yang sama (Kee dan Hayes 1996).
Interaksi farmakokinetik adalah interaksi antar 2 atau lebih obat yang diberikan
bersamaan dan saling mempengaruhi dalam proses ADME (absorpsi, distribusi,
metabolisme, dan eliminasi) sehingga dapat meningkatkan atau menurunkan salah
satu kadar obat dalam darah. Interaksi dalam proses farmakokinetik yaitu absorpsi,
distribusi, metabolisme dan ekskresi (ADME) dapat meningkatkan ataupun

Tugas Reseptir Interaksi Obat


menurunkan kadar plasma obat (May 1997). Interaksi obat secara farmakokinetik
yang terjadi pada suatu obat tidak dapat diekstrapolasikan untuk obat lainnya
meskipun cakupannya masih dalam satu kelas terapi.Hal ini disebabkan karena
adanya perbedaan sifat fisikokimia yang menghasilkan sifat farmakokinetik yang
berbeda.Contohnya adalah interaksi farmakokinetik yang terjadi pada simetidin tidak
dimiliki oleh H2-blocker lainnya.Selain itu interaksi oleh terfenadin yang tidak
dimiliki oleh antihistamin non-sedatif lainnya (Retno 2008).

Gambar 1 Interaksi beberapa obat penting. (1) A memperkuat B, (2) A memperlemah


B, (3) B memperkuat A, (4) B memperlemah A (sumber: Tjay dan Rahardja
2007)

Tugas Reseptir Interaksi Obat


PEMBAHASAN
A. Interaksi Farmakodinamik
1. Interaksi yang bersifat antagonis
a. Salbutamol dengan Propanolol
Salbutamol merupakan obat agonis reseptor beta 2 adrenergik yang
digunakan sebagai bronko dilatator pada penderita asthma. Nama paten:
Salbutamol (Tablet 4 mg).
Propanolol merupakan obat antagonis reseptor beta 2 adrenergik yang
digunakna untuk terapi bermacam penyakit kardiovaskular seperti obat
antiaritmia. Nama paten: Farmadral (tablet 10 mg), Inderal (tablet 10
mg, 40 mg).
Mekanisme interaksi: interaksi yang terjadi antara kedua obat ini akibat
dari blokade reseptor. Antagonis -adrenergik atau beta bloker mampu
berikatan dengan reseptor adrenergik-, sehingga dapat menggeser ikatan
reseptor ini. Interaksi ini menyebabkan bronkospasmus atau penyempitan
bronkus.

Gambar 1.Mekanisme kerja dari reseptor beta.

Tugas Reseptir Interaksi Obat

Gambar 2. Mekanisme kerja agonis dan antagonis


b. Derivat Kumarin (Warfarin) dan vitamin K
Warfarin digunakan sebagai antikoagulan sebagai pencegahan terjadinya
tromboemboli seperti trombosis vena dan emboli paru, katup jantung
mekanis dan kecelakaan serebrovaskular. Ada juga peran warfarin dalam
pencegahan sekunder penyakit jantung. Nama paten: Warfarin Eisai.
Vitamin K merupakan vitamin yang membantu proses pembekuan darah
untuk menghentikan pendarahan. Nama paten: Kaywan (tablet 5 mg).
Mekanisme interaksi: Warfarin sebagai antagonis vitamin K bekerja
dengan cara menghambat sintesis vitamin K tergantung faktor pembekuan
II, VII, IX dan X, serta antikoagulan alami, protein C dan protein S
(Patriquin dan Crowther 2011). Warfarin dapat memperpanjang waktu
pembekuan darah yang secara kompetitif menghambat efek vitamin K. Jika
asupan vitamin K bertambah, efek dari antikoagulan oral dihambat dan
waktu protrombin dapat kembali normal, sehingga menggagalkan manfaat
terapi pengobatan antikoagulan (Stockley 2008).
c. Cimetidin dan Propanolol
Cimetidin merupakan salah satu obat untuk gastritis dan ulcer, yang
bekerja sebagai histamin H2 sehingga memblokade stimulasi histamin
pada sel parietal untuk menurunkan sekresi asam lambung. Nama paten:
Tagamet (tablet 200 mg, injeksi 200 mg/2 ml).
Propanolol merupakan obat pada beberapa penyakit jantung. Nama
paten: Farmadral (tablet 10 mg), Inderal (tablet 10 mg, 40 mg).

Tugas Reseptir Interaksi Obat


Mekanisme: pemberian secara bersamaan dapat menurunkan efek dari
propanolol akibat simetidin. Hal ini dapat terjadi karena simetidin
menghambat enzim sitokrom sehingga menurunkan metabolisme
propanolol.Obat-obat lain yang poten menghambat enzim ini sehingga
menghambat metabolisme propanolol adalah kuinidin, propafenon,
klorpromazin, flekainid, fluoksetin dan antidepresan trisiklik.
2. Interaksi yang bersifat sinergis
a. Contoh kombinasi obat sinergis yang bermanfaat diantaranya:
Kombinasi Sulfonamide dan Trimethoprim
Nama paten: Sulfonamide: sulfamoxol
Trimethoprim: Triminex
Mekanisme interaksi: sulfonamide mencegah bakteri untuk mensintesa
dihidrofolat sedangkan trimetropim menghambat reduksi dihidrofolat
menjadi tetrahidrofolat. Kedua obat ini bila diberikan bersama-sama akan
memiliki efek sinergis yang kuat sebagai obat anti bakteri. Cara kerja
menghambat enzim dihidrofolat reduktase yang kuat dan selektif.Enzim ini
berfungsi mereduksi asam dihidrofolat menjadi asam tetrahidrofolat, jadi
pemberian sulfonamid bersama trimetropim menyebabkan hambatan
berangkai dalam reaksi pembentukan asam tetrahidrofolat (Rahmawati
2013).
Kombinasi Aminoglikosida dengan Metronidazol
Nama paten: Aminoglikosida: Erysanbe
Metronidazole: Flagyl
Mekanisme
interaksi:
Kombinasi
Aminoglikosida
dengan
Metronidazol menunjukkan efek sinergis yaitu biasanya digunakan untuk
pengobatan infeksi campuran, Metronidazol efektif untuk bakteri anaerob
sedangkan Aminoglikosida efektif untuk bakteri aerob. Cara kerja
amiglikosida yaitu memperlambat sintesa protein bakterisidal sedangkan
metronidazole menghambat sintesa dan fungsi asam nukleat bakteri.
(Rahmawati 2013).
b. Contoh kombinasi obat sinergis yang dapat merugikan diantaranya:
Propranolol dengan Procainamide
Nama paten: Propranolol: Inderal
Procainamide: Procan
Mekanisme interaksi: Pemberian procainamide sebagai antiarrhythmia dapat menimbulkan penurunan tekanan darah yang sangat
cepat terutama bila diberikan secara intravena. Pemberian bersama-sama
dengan beta-blocker akan menyebabkan effek yang berbahaya karena
bekerja sinergistik. Farmakodinamik dari sediaan propranolol adalah
menghambat adrenergic beta menghambat perangsangan simpatik,
sehingga menurunkan denyut jantung dan tekanan darah sedangkan

Tugas Reseptir Interaksi Obat


farmakodinamik procainamidepada kerja jantung menghambat kanal
natrium yang sensitif voltase oleh mekanisme yang sama dengan kerja
anestesi lokal (Darmansjah 2000).
Atenolol dengan Verapamil
Nama paten: Atenolol: Betablok
Verapamil: Isoptin
Mekanisme interaksi: Gabungan kedua obat ini menghasilkan
sinergisme. Atenolol mengurangi kerja jantung dengan mengurangi heart
rate demikian pulaVerapamil berbuat hal yang sama dengan mengurangi
Venous return dan volume serta tekanan dalam ventrikel kiri. Kerja
fisiologi utama atenolol adalah dengan secara kompetitif menghambat
stimulasi adrenergik dari reseptor beta-adrenergik dalam miokardium dan
otot halus vaskular.Pada dosis kecil, atenolol secara selektif menghambat
reseptor jantung dan reseptor lipolitik 1-adrenergik dan hanya sedikit
efek pada reseptor 2-adrenergik bronki dan otot halus vaskular. Pada
dosis tinggi (>100 mg/hari), selektivitas atenolol untuk reseptor 1adrenergik biasanya hilang, dan akan secara kompetitif menghambat
reseptor 1- dan 2-adrenergik. Dengan menghambat reseptor 1adrenergik miokardium, atenolol menghasilkan aktivitas kronotropik dan
inotropik yang negative dengan berkurangnya kontraktilitas miokardium
dan denyut jantung, dan dengan turunnya tekanan darah akan
mengakibatkan berkurangnya konsumsi oksigen oleh miokardium.
Mekanisme aksi verapamil yaitu menghambat masuknya ion kalsium
ke dalam slow channel atau daerah sensitif tegangan pada pembuluh
darah otot polos dan miokardium. Pada saat depolarisasi, menghasilkan
relaksasi otot polos pembuluh darah koroner dan vasodilatasi coroner,
meningkatkan oksigenasi miokardial pada pasien dengan angina
vasospasti, dan memperlambat otomatisitas dan konduksi nodus AV
(Darmansjah 2000).
3. Interaksi yang bersifat potensiasi
Kadang-kadang efek sinergis suatu obat terhadap obat yang lain lebih besar
daripada efek gabungan dua obat dari golongan yang sama (Kee dan Hayes 1996).
Kerja sama saling memperkuat yang secara matematis terjadi efek melebihi jumlah a
+ b disebut potensiasi atau peningkatan potensi (Tjay dan Rahardja 2007). Jika obat a
dan b dikombinasi misalnya, maka obat a yang dibutuhkan akan menjadi lebih sedikit
dengan kekuatan akhir yang sama (Kee dan Hayes 1996).
a. Sulfadoxine dengan Trimethoprim

Tugas Reseptir Interaksi Obat

Sulfadoxine (nama paten: Interprim LA) Dosis untuk sapi, kambing, dan
domba 1 ml/10-15 kg BB IM.Sediaan vial 100 ml.
Mekanisme interaksi: sulfadoxine dan trimethoprim memiliki masa kerja
yang lama dan bekerja dengan menghambat sintesis asam folat dengan cara
yang berbeda sehingga menghasilkan hambatan ganda. Sulfadoxine
menghambat PABA atau enzim yang digunakan untuk sintesis asam hidrolik
bakteri.Trimethoprim bekerja secara potensiasi dengan mekanisme
ini.Kombinasi bersifat bakterisidal dengan aktivitas spectrum termasuk
bakteri gram negative dan positif juga mencakup parasit darah.
b. Sulfadiazine dan Trimethoprim

Nama paten: Bactrim, Sanprima

Dosis: 100mg/kg PO diikuti dengan 50mg/kg s12j PO


Nama paten: COLIBACT Inj. (Vial 20ml, 50ml, 100ml)
Dosis: Anjing, kucing. 2-10 kg. 1ml dilarutkan dalam 2ml aquades.
0.4-2ml Im atau Sc.

Nama paten: COLIBACT Bolus

Dosis: Sapi 2-4 bolus post partus PO


non-ruminansia 1 bolus/40kg PO
Mekanisme interaksi: mekanisme golongan sulfonamide adalah dengan
cara menghambat PABA. Interaksi s sulfadiazine dengan trimethoprim
bersifat sinergis potensiasi.Spektrum gabungan obat ini luas dan berguna
sebagai bakteriostatik serta mencakup protozoa.
Selain kombinasi dengan efek yang sengaja ingin dicapai, ada juga efek
potensiasi yang tidak diinginkan.Contoh dari efek obat yang tidak diinginkan
misalnya kombinasi dari alkohol dan obat hipnotik-sedatif seperti klordiazepoksid
atau diazepam. Kombinasi tersebut akan meningkatkan penekanan susunan saraf
pusat (Kee dan Hayes 1996).

B. Interaksi Farmakokinetik
1. Interaksi pada Proses Adsorbsi
a. Efek perubahan pH gastrointestinal
Obat yang melalui membran mukosa dengan difusi pasif tergantung apakah
obat tersebut dalam bentuk terlarut lemak yang terionisasi. Absorbsi ditentukan

Tugas Reseptir Interaksi Obat


dengan nilai pKa obat, kelarutannya dalam lemak, pH isi usus dan beberapa
parameter terkait dengan formulasi obat. Sebagai contoh adalah asam salisilat oleh
lambung lebih optimal pada pH rendah daripada pH tinggi (Stockley 2008).
(1) Asam asetil salisilat (Aspirin) dengan antasid (Antasida DOEN).
Mekanisme interaksi: Antasid akan menyebabkan kondisi cairan
saluran cerna bersifat alkalis sehingga akan meningkatkan daya kelarutan
aspirin yang sukar larut dalam saluran cerna.
(2) Tetrasiklin (Cetacycline) dengan lingkungan alkalis di saluran cerna
Mekanisme interaksi: Suasana alkalis yang terjadi pada saluran
pencernaanakan mengurangi kelarutan obat yang bersifat basa (misalnya
tetrasiklin) dalam cairan saluran cerna, sehingga mengurangi absorpsinya.
(3) Ketokonazol (Mycoral) pada lingkungan asam di saluran pencernaan.
Mekanisme interaksi: Ketokonazol yang diberikan secara per oral
akanmembutuhkan suasana lumen yang asam untuk melarutkan sejumlah obat
yang dibutuhkan sehingga tidak memungkinkan diberikan bersama antasida,
obat antikolinergik, penghambatan H2, atau inhibitor pompa proton (misalnya
omeprazol). Jika memang dibutuhkan, sebaiknya abat-obat ini diberikan
sedikitnya 2 jam setelah pemberian ketokonazol.
b. Adsorpsi, kelasi dan mekanisme pembentukan ion kompleks
Arang aktif (C) bertindak sebagai agen penyerap di dalam usus untuk
pengobatan overdosis obat atau untuk menghilangkan bahan beracun lainnya, tetapi
dapat mempengaruhi penyerapan obat yang diberikan dalam dosis terapeutik.
Antasida juga dapat menyerap sejumlah besar obat-obatan.
(1) Tetrasiklin (Cetacycline) dengan ion logam divalen dan trivalen (Ca, Bi,
Al dan Fe).
Mekanisme interaksi: Antibiotik ini akan membentuk kelasi dengan ion
logam tersebut. Hal ini terjadi karena dengan ikatan ion tersebut akan
membentuk ikatan ion kompleks yang kurang diserap serta berkurangnya
efek bioavailabilitas karena besarnya struktur molekul dari ikatan ion
logam beserta obat tersebut.
(2) Fluorokuinolon (ciprofloxasin) dengan ion-ion bivalen dan trivalen (Ca,
Mg, dal Al)
Mekanisme interaksi: Ikatan terserbut dapat menurunkan absorbsi,
bioavailabilitas dan efek terapetik obat. Ikatan tersebut akan membentuk
ion kompleks yang kurang diserap serta efek antibakterinya berkurang.
(Stockley 2008).
Efek interaksi dari kedua contoh diatas dapat secara signifikan
dikurangi dengan memberikan antasida beberapa jam sebelum atau setelah
pemberian obat. Jika antasida benar-benar dibutuhkan, penyesuaian terapi,
misalnya penggantian dengan obat obat antagonis reseptor H2 atau

Tugas Reseptir Interaksi Obat


inhibitor pompa proton dapat dilakukan. Beberapa obat antidiare (yang
mengandung atapulgit) menyerap obat-obat lain, sehingga menurunkan
absorpsi.
c. Obat terikat sekuestran asam empedu (BAS : bile acid sequestrant)
(1) Kolestiramin (Questran)dan asam empedu
Mekanisme interaksi: Kedua jenis obat tersebut dapat berikatan dengan
asam empedu dan mencegah reabsorpsinya, akibatnya dapat terjadi ikatan
dengan obat-obat lain terutama yang bersifat asam (misalnya warfarin).
Sebaiknya interval pemakaian kolestiramin atau kolestipol dengan obat lain
selama mungkin (minimal 4 jam).
d. Perubahan motilitas usus
(1) Propentelin (pharpros) dan Parasetamol
Mekanisme interaksi: Akibat sebagian besar obat diserap di bagian atas
usus kecil, obat-obatan yang mengubah laju pengosongan lambung dapat
mempengaruhi absorpsi. Propantelin misalnya, menghambat pengosongan
lambung dan mengurangi penyerapan parasetamol (asetaminofen),
sedangkan metoklopramid memiliki efek sebaliknya (Stockley, 2008).

2. Interaksi Obat pada Proses Distribusi


a. Interaksi ikatan lemak
Setelah obat diabsorpsi ke dalam sistem sirkulasi, selanjutnya adalah obat
dibawa menuju tempat kerja akan bereaksi dengan berbagai jaringan tubuh dan atau
reseptor. Selama di aliran darah, obat dapat terikat pada berbagai komponen darah
yang ada terutama albumin.
(1) Fenotiazin (decantona), benzodiazepin (Temazepam) dan barbiturate
(Luminal)dengan jaringan adiposa.
Mekanisme interaksi: Obat-obat larut lemak mempunyai daya ikat
yang lebih tinggi pada jaringan adiposa, sehingga obat-obat dapat
tersimpan pada jaringan ini. Aliran darah yang rendah menuju jaringan
lemak akan mengakibatkan jaringan ini menjadi tempat deposisi untuk
obat-obat yang larut lemak. Hal ini akan mengakibatkan semakin
panjangnya efek obat yang akan berakibat racun pada tubuh. Obat-obat
yang sangat larut lemak misalnya golongan fenotiazin, benzodiazepin dan
barbiturat.
b. Interaksi ikatan protein
(1) Obat asam dengan albumin

10

Tugas Reseptir Interaksi Obat


Mekanisme interaksi: Beberapa obat yang bersifat asam mempunyai
daya ikat terhadap protein darah terutama albumin. Obat yang terikat
albumin secara farmakologi tidak aktif sehingga dengan mudah masuk ke
sistem sirkulasi dan terdistribusi ke jaringan secara optimal. 2.
(2) Obat basa dengan basa dengan asam -glikoprotein
Mekanisme interaksi: Obat yang bersifat basa mempunyai afinitas
untuk berikatan dengan asam alfa glikoprotein. Ikatan protein plasma
dinyatakan sebagai persen yang menunjukkan obat tersebut berekaksi.
Apabila terdapat dua atau lebih obat yang terikat protein digunakan
bersama-sama, akan terjadi kompetisi pengikatan pada tempat yang sama
yang akan mengakibatkan terjadi penggeseran salah satu obat dari ikatan
dengan protein tersebut, sehingga terjadi peningkatan kadar obat bebas
dalam darah. Apabila satu obat berggeser dari ikatannya dengan protein
oleh obat lain, akan terjadi peningkatan kadar obat bebas dalam jaringan.
Pasien yang menderita hipoalbuminemia kadar obat bebas atau bentuk aktif
akan lebih tinggi. Ikatan obat dengan protein plasma bersifat reversibel,
kesetimbangan dibentuk antara molekul-molekul yang terikat dan yang
tidak.(Stockley 2008).

c. Induksi dan inhibisi protein transport obat


Distribusi obat menuju ke otak, dan beberapa organ reproduksi seperti testis,
dibatasi aksi protein transporttasi obat seperti P-glikoprotein. Protein ini secara aktif
membawa obat keluar dari sel-sel ketika obat berdifusi secara pasif.Obat yang
termasuk inhibitor transporter dapat meningkatkan penyerapan substrat obat ke dalam
otak, yang dapat meningkatkan efek samping CNS (Stockley, 2008).
(1) Asam valproate (Amicain)dan Fenitoin (Kutoin)
Mekanisme interaksi: Asam valproat dapat menggeser fenitoin dari
ikatannya dengan protein dan menghambat metabolisme fenitoin. Apabila
pasien mengkonsumsi kedua obat ini, kadar fenitoin tak terikat akan
meningkat secara signifikan, menyebabkan efek samping yang lebih besar.
Sebaliknya, fenitoin dapat menurunkan kadar plasma asam valproat. Terapi
kombinasi kedua obat ini harus diawasi dengan ketat dan dilakukan
penyesuaian dosis secara bertahap. Syarat-syarat obat yang berinteraksi di
proses distribusi:
a. persen terikat protein tinggi ( lebih dari 90%)
b. terikat pada jaringan
c. mempunyai volume distribusi yang kecil
d. mempunyai rasio eksresi hepatic yang rendah
e. mempunyai rentang terapetik yang sempit

11

Tugas Reseptir Interaksi Obat


f. mempunyai onset aksi yang cepat
g. digunakan secara intravena.

3. Interaksi Obat pada ProsesMetabolisme


Interaksi obat pada proses ini dapat terjadi akibatmetabolismeobject drug
dirangsang atau dihambat oleh precipitant drug. Perangsangan atau penghambatan
tersebut melibatkan enzim metabolisme yang ada di hati.Perangsangan atau induction
ini terjadi karena reticulum endoplasmik di hepatosit dan sitokrom P450 yang
merupakan enzim metabolik obat bertambah.Hasil induksi ini mengakibatkan
metabolisme salah satu obat kian aktif sehingga memengaruhi efektivitas dari obat
tersebut.Begitu pula sebaliknya.
Mekanisme interaksi dapat berupa penghambatan (inhibisi) metabolisme dan
induksi metabolisme (Ito et al. 1998).Hambatan ataupun induksi enzim pada proses
metabolisme obat terutama berlaku terhadap obat-obat atau zat-zat yang merupakan
substrat enzim mikrosom hati sitokrom P450 (CYP) (Pelkonen et al. 1998). Ada
beberapa jenis isoenzim CYP yang berperan penting dalam proses metabolisme obat,
antara lain yaitu CYP2D6, CYP3A, dan CYP1A2. CYP2D6 atau dikenal juga dengan
debrisoquin hidroksilase merupakan CYP pertama yang diketahui dan aktivitasnya
dihambat oleh obat-obat seperti kuinidin, paroxetine, dan terbinafine.Isoenzim CYP
selanjutnya adalah CYP3A yang mampu memetabolisme lebih dari 50% obat-obat
yang banyak digunakan dan enzim ini terdapat selain di hati juga di usus halus dan
ginjal.Isoenzim CYP3A ini dapat dihambat oleh ketokonazol, itrakonazol,
eritromisin, klaritromisin.Isoenzim yang ketiga yaitu CYP1A2 merupakan enzim
pemetabolis yang berperan penting di hati untuk obat teofilin, kofein, klozapin dan Rwarfarin.Isoenzim CYP1A2 ini dapat dihambat oleh obat-obat seperti siprofloksasin
dan fluvoksamin (Walsky dan Obach 2004).
a. Penghambatanmetabolisme
Interaksi inhibitor atau penghambat CYP dengan substrat dari CYP akan
menyebabkan peningkatan kadar plasma atau peningkatan bioavailabilitas substrat
sehingga memungkinkan terjadinya aktivitas substrat meningkat sampai terjadi efek
samping yang tidak dikehendaki. Interaksi tersebut menghambat metabolisme
substrat yang seharusnya terjadi oleh enzim dari hati. Berikut ini adalah contoh
interaksi yang melibatkan inhibitor CYP dengan substratnya:
(1) Interaksi Terfenadin dengan Ketokonazol, Itrakonazol.
Terfenadin (nama paten: Claritin)
Ketokonazol (nama paten: Mycoral) Dosis untuk anjing 10-15 mg/kg
BB tiap 8 jam.

12

Tugas Reseptir Interaksi Obat

Itrakonazol (nama paten: Sporanox) Dosis untuk anjing 5 mg/kg BB


tiap 24 jam dan untuk kucing 5 mg/kg BB tiap 12 jam.
Mekanisme interaksi: Interaksi terfenadin (substrat CYP3A4/5)
dengan ketokonazol, itrakonazol dan eritromisin sebagai inhibitor poten
CYP3A4/5 akan meningkatkan kadar terfenadin (substrat) akibat enzim
metabolismenya dihambat oleh kedua obat tersebut. Halini dapat
menyebabkan toksisitas berupa perpanjangan QT yang berakibat
terjadinya aritmia ventrikel (cardiac infarct).
(2) Interaksi Triazolamdengan Eritromisin.
Triazolam (nama paten: Halcion)
Eritromisin (nama paten: Cemoxin) Dosis untuk anjing dan kucing
adalah 10-20 mg/kg BB setiap 8 jam.
Mekanisme interaksi: Interaksi antara triazolam, midazolam yang
merupakan substrat enzim dengan ketokonazol ataupun eritromisin yang
bertindak sebagai inhibitorakan meningkatkan kadar substrat dan
bioavailabilitasnya sehingga berakibat efek sedasi obat-obat sedatif di atas
meningkat.
(3) Ciprofloksasindengan Teofilin
Ciprofloksasin (nama paten: Baquinor) Dosis untuk anjing dan kucing
5 mg/kg BB.
Teofilin (nama paten: Bronsolvant) Dosis untuk anjing 9 mg/kg BB
tiap 8 jam dan kucing 4 mg/kg BB tiap 8 jam.
Mekanisme interaksi: Apabila ciprofloksasin yang merupakan salah
satu derivat quinolon (inhibitor enzim) berinteraksi dengan teofilin
(substrat enzim) maka ciprofloksasin akan menghambat sistem enzim
CYP450 di hati. Sistem enzim CYP450 yang terhambat mengakibatkan
metabolisme teofilin menjadi berkurang dan kadar teofilin meningkat di
dalam tubuh. Bila kadar teofilin berada diatas ambang batas maka dapat
menyebabkan takhikardia hingga tremor.

b. Peningkatan metabolisme
(1) Warfarin dengan Phenobarbital.
Warfarin (nama paten: Coumadin) Dosis untuk anjing 0.1-0.2 mg/kg
BB setiap 24 jam dan kucing 0.5 mg/kg BB setiap 24 jam.
Phenobarbital (nama paten: Luminal) Dosis untuk anjing 1 mg/kg BB
setiap 12 jam dan untuk kucing 2 mg/kg BB setiap 12 jam.

13

Tugas Reseptir Interaksi Obat


Mekanisme interaksi: akibat interaksi antara warfarin dengan
phenobarbital, maka enzim yang berguna memetabolisme antikoagulan
kumarin yaitu warfarin terinduksi oleh adanya phenobarbital. Hal tersebut
menyebabkan metabolisme warfarin meningkat dan responnya sebagai
antikoagulan menurun.Resiko pembentukan thrombus pun menjadi tinggi
akibat kerja warfarin sebagai antikoagulan rendah.
(2) Asetaminofen dengan Phenobarbital.
Asetaminofen (nama paten: Sanmol) Dosis untuk anjing 15 mg/kg BB
tiap 8 jam.
Phenobarbital (nama paten: Luminal) Dosis untuk anjing 1 mg/kg BB
setiap 12 jam dan untuk kucing 2 mg/kg BB setiap 12 jam.
Mekanisme interaksi: Asetaminofen merupakan substrat CYP2E1,
dengan adanya induktor enzim seperti phenobarbital yang diberikan secara
kronik dapat meyebabkan metabolisme asetaminofen meningkat.
Metabolisme asetaminofen yang meningkat menyebabkan asetaminofen
berubah menjadi metabolit reaktif dan berakibat resiko terjadinya
hepatotoksisitas meningkat.
(3) Teofilin berinteraksi dengan Karbamazepin.
Teofilin (nama paten: Bronsolvant) Dosis untuk anjing 9 mg/kg BB
tiap 8 jam dan kucing 4 mg/kg BB tiap 8 jam.
Karbamazepin (nama paten: Tegretol)
Mekanisme interaksi: Teofilin (substrat CYP1A2) bila diberikan
bersama karbamazepim (induktor) akan meningkatkan metabolisme
teofilin sehingga dosis teofilin yang dibutuhkan meningkat.Selain itu,
metabolisme yang meningkat menyebabkan efikasi dan bioavailabilitas
teofilin menurun.
4. Interaksi Obat pada Proses Ekskresi
Mekanisme interaksi obat dapat terjadi pada proses ekskresi yaitu melalui
empedu dan pada sirkulasi enterohepatik, sekresi tubuli ginjal, dan akibat adanya
perubahan pH urin (Retno 2008).
a. Interaksi melalui empedu
(1) Interaksi Kuinidin dengan Digoksin
Kuinidin (nama paten: Quinidex)
Digoksin (nama paten: Lanoksin, Lanitop) Dosis untuk anjing 0.01
mg/kg BB setiap 12 jam dan untuk kucing 0.08 mg/kg BB setiap 48
jam.

14

Tugas Reseptir Interaksi Obat


Mekanisme interaksi: Salah satu gangguan dalam proses ekskresi
melalui empedu terjadi akibat kompetisi antara obat dan metabolit obat
untuk sistem transport yang sama. Salah satu contohnya adalah kuinidin
yang dapat menurunkan ekskresi empedu digoksin.Kedua obat tersebut
memiliki sistem transporter protein yang sama yaitu P-glikoprotein. Obat
yang menghambat P-glikoprotein di intestine akan meningkatkan
bioavailabilitas substrat P-glikoprotein, sedangkan hambatan Pglikoprotein di ginjal dapat menurunkan ekskresi ginjal substrat.

b. Interaksi pada sirkulasi tubuli ginjal


(2) Interaksi Fenilbutazon dengan furosemide
Fenilbutazon (nama paten: Akrofen)
Furosemide (nama paten: Lasix) Dosis untuk anjing 2-6 mg/kg BB
setiap 12 jam IV, IM, SC, PO dan kucing 1-4 mg/kg BB setiap 24 jam
IV, IM, SC, PO.
Mekanisme interaksi: Selanjutnya adalah penghambatan sekresi di
tubuli ginjal yang terjadi akibat interaksi kompetisi antara obat dan
metabolit obat untuk sistem transport yang sama. Contoh obatnya adalah
fenilbutazon dengan indometasin yang dapat menghambat sekresi ke
tubuli ginjal obat-obat diuretikseperti tiazid dan furosemide sehingga efek
diuretiknya menurun.
c. Interaksi akibat perubahan pH
(3) Interaksi basa dan asam lemah dengan asam dan basa kuat
Amfetamin (nama paten: Dexedrine)
Efedrin (nama paten: Mudrane) Dosis untuk anjing 12.5-50 mg/anjing
setiap 8-12 jam dan kucing 2-4 mg/kg BB.
Phenobarbital (nama paten: Luminal) Dosis untuk anjing 1 mg/kg BB
setiap 12 jam dan untuk kucing 2 mg/kg BB setiap 12 jam.
Antasida (nama paten: Antasida DOEN)
Mekanisme interaksi: Interaksi obat pada proses ekskresi yang terakhir
dapat menyebabkan perubahan pH urin sehingga menyebabkan perubahan
klirens ginjal melalui perubahan jumlah reasorbsi pasif di tubuli
ginjal.Contoh obatnya antara lain amfetamin, efedrin dan kuinidin yang
bersifat basa lemah bila berinteraksi dengan obat yang mengasamkan urin
(NH4Cl) dapat menyebabkan klirens obat-obat basa lemah meningkat,
sehingga efeknya menurun. Contoh lainnya adalah obat-obat yang bersifat
asam seperti fenobarbital bila berinteraksi dengan obat-obat yang

15

Tugas Reseptir Interaksi Obat


membasakan urin seperti antasida (mengandung NaHCO 3, Al(OH)3,
Mg(OH)2) akan meningkatkan klirens obat-obat asam sehingga efeknya
menurun.

DAFTAR PUSTAKA
Darmansjah I et al. 2000.Informasi Obat Nasional Indonesia (IONI). CV. Sagung
Seto: Jakarta.

16

Tugas Reseptir Interaksi Obat


Gitawati R. 2008. Interaksi Obat dan Beberapa Implikasinya.Puslitbang Biomedis
dan Farmasi: Media Litbang Kes. 18(4): 175-183.
Ito K, Iwatsubo T, Kanamitsu S et al.1998. Prediction of pharmacokinetics alterations
caused by drug-drug interactions: Metabolic interaction in the liver. J. Pharm
Rev. 50(3):387-411.
Kee Joyce L, Hayes Evelyn R. 1996. Farmakologi: Pendekatan Proses Keperawatan.
Anugerah Peter, penerjemah; Asih Yasmin, editor. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Terjemahan dari: Pharmacology: A Nursing Approach.
Lacy et al. 2006.Drug Information Hanbook 14th edition. Lexi Company: USA
May RJ. 1997. In: pharmacotherapy a pathophysiologic approach. Adverse drug
reactions and interactions.101-116.
Patriquin C, Crowther M. 2011. Treatment of Warfarin-Associated Coagulopathy
with Vitamin K. Expert Reviews Ltd.:Rev Hematol. 4(5):657-667.
Pelkonen O, Maenpaa J, Taavitsainen P, Rautio A, Raunio H. 1998. Inhibition and
induction of human cytochrome P450 (CYP) enzymes.J. Xenobiotica.
28:1203-1253.
Piscitelli SC, Rodvold KA. 2005. Drug Interaction in Infection Disease. Edisi kedua.
New Jersey (US): Humana Press.
Rahmawati Min et al. 2013. Diktat Kuliah Farmakologi Veteriner II. Fakultas
Kedokteran Hewan IPB: Bogor.
Retno G. 2008. Interaksi obat dan beberapa implikasinya.Artikel Media Litbang
Kesehatan.18(4):175-184.
Stockley Ivan and B. Pharm. 1974. Drug Interactions and their mechanisms.
Phannaceutical Journal.
Stockley IH. 2008. Stockleys Drug Interaction. Edisi kedelapan. Great Britain (UK):
Pharmaceutical Press.
Tatro D.S. 2006. Drug Interaction Facts.Fifth Edition.Factor and Comparisons.
Colifornia: a Walter Klower Company.
Tjay Tan Hoan, Rahardja Kirana. 2007. Obat-obat Penting: Kasiat, Penggunaan dan
Efek-efek Sampingnya. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Walsky RL dan Obach RS. 2004. Validated assays for human Cytochrome P450
activities. Drug Metab Dispos.32:647-660.

LAMPIRAN

Bamgnkihespobtludran?Bekhosijg-ucdarm(AlM.)

17

Tugas Reseptir Interaksi Obat


pAirnsbekjacmldghin,skajberpotlmyungsabekit.Hlmdnryaspegkh,itdrmnpua.Dosk gji-dclh102m/.
Apakhonrlmdigute ah?S(yJ)
Apakhefutnyrdislb?Bmgkajunthperi(MlsL.)
Jikadonsygutrep,lbiajdnkumgrteh.pPliasdnkugroe.

MengapdtsimbukR?l()
KnaredtsiMgOHykumojndah.Sie trsbukngoadimlvebyktrunas.Teli mbyko-udnjaihlesrgmbykotdalsiehfu.
kEobfeatpdilunrscmgeybZa?l()
kMipuesnobatdr,mfygskaenbrtudip mjehanktbolisgrumenkdtja ilsrobpeyangdt.

18