Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH KONSEP TEKNOLOGI

PRODUKSI MINYAK DAN GAS BUMI


(EKSPLOITASI MIGAS)
Dosen Pembimbing : Muhammad Ariyon, ST. MT

Disusun oleh :

KELOMPOK 4
BURHANUDDIN RABANI
CHOERUL HIDAYAT
DENNY WAHYU PERMANA
HENDRI
OFIELA CLAUDIA
RISKA TETE FITRI

KELAS : I A
JURUSAN PERMINYAKAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
T.A 2012/2013

KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kami Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik dan
lancar. Makalah ini membahas tentang produksi minyak dan gas bumi.
Dalam penyusunan makalah ini, kami banyak mendapat tantangan dan hambatan akan
tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Oleh karena itu, kami
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan
Yang Maha Esa.
Kami juga berharap agar makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan
penulis pada khususnya. Namun demikian, kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Karena itu kami mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun.

Pekanbaru, Desember 2012

Kelompok 4

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.....................................................................................................................I
DAFTAR ISI...................................................................................................................................II
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang...........................................................................................................................1
1.2 Tujuan Penulisan ......................................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................................3
2.1 Pengertian Eksploitasi................................................................................................................3
2.2 Tahap Eksploitasi.......................................................................................................................5
2.3 Hambatan Eksploitasi..
2.4 Dampak Eksploitasi....
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN......................................................................................10
4.1 Kesimpulan..............................................................................................................................10
4.2 Saran........................................................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................11

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dengan berkembangnya jumlah penduduk, perekonomian harus lebih banyak menyediakan
barang dan jasa. Peningkatan produksi barang dan jasa menuntut lebih banyak produksi
barang SDA yang harus digali dan semakin menipisnya SDA dan pencemaran lingkungan
semakin meningkat. Namun, hal tersebut dapat diatasi dengan meningkatkan cadangan
dengan adanya penemuan hasil eksplorasi, eksplorasi akan menghasilkan informasi
tambahan tentang SDA. Tujuan pengelolaan SDA untuk mencapai tingkat penggunaan yang
optimal dan lestari dan tergantung pada pemanfaatannya. Dalam rangka meningkatkan
peranan sub sektor migas dalam upaya memulihkan perekonomian, maka pemerintah
bersama Dewan Perwakilan Rakyat telah menetapkan Undang-undang Nomor 22 Tahun
2001 tentang Minyak dan Gas Bumi yang merupakan landasan hukum bagi penataan atas
penyelenggaraan pembinaan, pengawasan, pengaturan, dan pelaksanaan dari kegiatan
pengusahaan minyak dan gas bumi di Indonesia, sehingga tercipta kegiatan usaha minyak
dan gas bumi yang mandiri, transparan, berdaya saing, efisien dan berwawasan lingkungan,
serta mendorong perkembangan potensi dan peranan nasional. Dalam latar belakang
tersebut, kami mencoba menjabarkan pengelolaan SDA berupa Minyak dan Gas Bumi
(Migas), yaitu eksploitasi.
1.2. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dalam pembuatan makalah ini yaitu untuk mengetahui pengertian
eksploitasi dan tahap-tahap produksi minyak bumi.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Eksploitasi
Eksploitasi adalah rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan Minyak dan
Gas Bumi dari Wilayah Kerja yang ditentukan, yang terdiri atas pengeboran dan
penyelesaian sumur, pembangunan sarana pengangkutan, penyimpanan, dan pengolahan
untuk pemisahan dan pemurnian Minyak dan Gas Bumi di lapangan serta kegiatan lain yang
mendukungnya.
Pengeboran merupakan kegiatan untuk membuat lubang dari permukaan sampai pada
kedalaman tertentu dimana batuan sumber hidrokarbon itu berada. Produksi merupakan
kegiatan mengalirkan hidrokarbon dari reservoir sampai pada permukaan. Setelah
hidrokarbon sampai di permukaan, hidrokarbon ini akan segera dialirkan ke fasilitas
permukaan, diantaranya adalah separator yang akan memisahkan antara minyak, air, dan gas
(minyak yg diproduksi dapat memiliki kandungan air dan gas didalamnya). Setelah itu
masuk kedalam tangki penampungan utama sebelum dibawa ke tempat penyulingan
(kilang).
2.2 Perkembangan Eksploitasi
Penerapan teknologi pada industri minyak dan gas (migas) kini menghadapi tantangan berat
dari soal peningkatan produksi, inefisiensi biaya, meroketnya harga minyak dunia hingga
tuntutan dampak pencemaran lingkungan.
Dalam Acara Offshore Northern Seas (ONS) Conference and Exhibition di Stavanger,
Swedia. Beberapa waktu lalu dipamerkan beberapa teknologi terbaru Eksploitasi Migas.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan DESDM mengatakan, perkembangan
eksploitasi minyak dan gas terutama pada kawasan offshore dan laut dalam sudah sangat
pesat, sehingga dengan teknologi terbaru ini selain dapat meningkatkan produksi dengan
menekan losses hingga 5%, juga dapat menghemat biaya hingga sebesar 30% dalam
penghematan perawatan peralatan.
Selain keuntungan yang dapat diraih seperti disebutkan diatas, juga dapat menekan
kemungkinan dampak buruk terhadap kesehatan, keselamatan dan lingkungan, lanjut
Bambang Dwiyanto.
Teknologi lainnya yang dipamerkan pada acara tersebut yaitu, teknik Total Subsea Solution
dan IOR (increase Oil Recovery). Teknologi ini mengintervensi sumur dan Drilling
Sidetracks, pada sumur existing didasar laut dalam, pada kedalaman lebih dari 3000 meter.
Metode ini menurut Bambang Dwiyanto telah diaplikasikan tanpa menggunakan Jack-up
Rig, tetapi menggunakan Riserless Light well intervention pada kapal yang dilengkapi
dengan sistem Dinamic Position dengan pemboran dilakukan menggunakan sistem

Composite Cable yang terhubung dengan Trought Tubin Rotary Drilling. Selanjutnya
menurut beliau, hal lain yang menjadi unggulan teknologi sub-sea ini ialah meningkatkan
laju produksi migas dengan cara Subsea Produced Water Removed, yaitu memisahkan air
dan menginjeksikannya kembali pada lubang bor lainnya. Teknologi IOR ini telah berhasil
mengekstrak 19 juta barrel di sumur-sumur North Sea.
Teknologi tersebut merupakan teknologi masa depan yang dapat diterapkan pada lapangan
minyak dan gas bumi di Laut Sulawesi, Selat Makasar, Laut Aru dan di Force Arc Basin
dimana kedalaman lautnya melebihi 3000 meter, ujar Kepala Badan Litbang.
2.3 Proses Produksi Minyak atau Gas

Proses produksi adalah proses penurasan minyak dimana Minyak yang ada di rongga antar
butir batuan didorong/dipindahkan/digeser oleh air formasi (air tanah).
Adapun cara memproduksi minyak yaitu :

Merencanakan produksi suatu cadangan

Luas dan besar cadangan

Jumlah sumur produksi yang diperlukan dan

Ukuran pompa yang diperlukan

Produksi (hulu) dari migas cukup sederhana, inti proses adalah :


1. Adanya kepala sumur
Suatu alat/equipment yang digunakan sebagai penghubung sumur dengan peralatan
produksi
2. Tanki atau Bejana Pemisah
Tempat untuk memisahkan komponen dari minyak, gas bumi, air, gas beracun apakah
untuk digunakan selanjutnya atau didispose.

3. Pipa penyalur
Rangkaian pipa didalam perut bumi dari reservoir ke kepala sumur dan jika
dipermukaan bumi untuk menyalurkan migas dari suatu peralatan/tempat ke
peralatan/tempat lainnya.
2.4 Tahapan Produksi
Tahapan Produksi (Perolehan Minyak) ada 3 macam, yaitu :
1. Produksi Tahap Awal (Primary)
2. Produksi Tahap Ke Dua (Secondary)
3. Produksi Tahap Lanjut (Enhanced Oil Recovery)
1. Produksi Tahap Awal :
Secara alamiah, produksi yang terjadi karena daya dorong tenaga reservoir
mampu mengangkat fluida ke permukaan.
Artificial Lift (Pengangkatan buatan), produksi yang terjad masih menggunakan
tenaga reservoir tsb tetapi ditambah dengan tenaga dari luar, misalnya (pompa angguk
(SRP), pompa reda (ESP) maupun menggunakan gas lift
2. Produksi Tahap Kedua :
Menjaga kestabilan atau menambah tenaga reservoir secara langsung yaitu
dengan menginjeksikan air atau gas pada suatu sumur dan produksi dilakukan pada sumur
lainnya.
3. Produksi Tahap Lanjut :
Dimana saat minyak tidak dapat diproduksikan lagi dengan primary recovery
maupun secondary recovery maka dilakukan produksi secara enhanced oil recovery
(tersier recovery). Beberapa metode produksi yang dilakukan pada tahap enhanced oil
recovery diantaranya :

Injeksi panas : Huff & Puff, Steam, In situ combustion

Injeksi bahan kimia : surfactant, polymer

Injeksi gas terlarut : Gas Co2

Artificial Lift (Pengangkatan Buatan)


Artificial Lift adalah metode yang digunakan untuk mengangkat HC dan umumnya
minyak bumi dari dalam sumur ke permukaan. Hal ini dilakukan biasanya disebabkan
tekanan reservoir tidak cukup untuk mendorong minyak sampai ke permukaan.

Artificial Lift umumnya terdiri dari 6 macam yang digolongkan menurut jenis
peralatannya :
1. Sub Surface Electric Pumping
2. Gas Lift
3. Pompa Elektrikal Mekanikal (permukaan)
4. Reciprocating Rod Lift System
5. Jet Pump
6. Progresive Cavity Pump
1) SUB SURFACE ELECTRIC PUMPING
Menggunakan pompa sentrifugal bertingkat
yang digerakan oleh motor listrik dan dipasang
jauh didalam sumur.

2) GAS LIFT :
Gas lift adalah suatu metoda pengangkatan
fluida dari dalam sumur ke permukaan dengan
menginjeksikan gas kedalam kolom minyak
yang ada dalam sumur sehingga berat minyak
menjadi lebih ringan dan lebih mampu mengalir
ke permukaan.

3) BEAM TYPE PUMPING UNIT (BTPU) / Sucker Rod Pump (SRP)


Pompa ini disebut juga sebagai rod pump
atau beam pump, menggunakan prinsip
katup searah (check valve). Karena
pergerakan naik turun seperti mengangguk
pompa ini juga dikenal sebagai pompa
angguk.

Tipe pumping unit


Conventional Crank Balanced Pumping Unit (code C)
Low Torque/Profile Pumping Unit (codeLP)
Mark II Unitorque Pumping Unit (code M)
Air Balanced Pumping Unit (codeA)
Beam Balanced Pumping Unit (codeB)
Conventional crank balanced pumping unit :
Biasa dipergunakan pada sumur dengan
kedalaman pompa mulai dari 600 ft sampai
dengan 3000 ft. Tipe pompa ini mempunyai
populasi yang tinggi pada operasi CPI.
Dengan tipe pemasangan two point
foundation pompa ini sangat mudah
dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lain.

Low torque/Profile pumping unit :


Sangat cocok dipergunakan pada daerah yang
lembab. Dengan bentuk yang relatif rendah, tipe
pompa ini sangat mudah dikirim dalam kondisi
terpasang.

Mark II unitorque pumping unit :


Sangat cocok dipergunakan pada daerah yang
lembab. Dengan bentuk yang relatif rendah, tipe
pompa ini sangat mudah dikirim dalam kondisi
terpasang.

Air balanced pumping unit

Tipe pumping unit ini mempunyai keunikan


tersendiri karena tidak mempunyai
counterweight. Sebagai gantinya, digunakan air
balanced cylinder sehingga keseimbangan well
load akan diatur pada silinder ini. Keuntungan
dari tipe ini dapat di-set pada stroke length yang
tinggi (25 ft), dapat dipasang diatas trailer untuk
well testing, ringan, dan biaya pemasangan
relatif rendah.

Beam balanced pumping unit :


Tipe pumping unit ini dirancang untuk
permukaan tanah yang kasar dan khusus
digunakan untuk sumur dangkal.

4) RECIPROCATING ROD LIFT SYSTEM


Perbedaannya dengan tipe BTPU terletak pada surface facilities, sedangkan
persamaannya terletak pada down hole pump.
Kelebihannya dibandingkan dengan BTPU :

Untuk pemasangan surface facilities hanya dibutuhkan ruangan yang relatif kecil

Mempunyai daya angkat yang besar dan cocok untuk dioperasikan di sumur yang
dalam (15,000 feet)

Kekurangannya dibandingkan dengan BTPU :

Tidak sesuai dipasang pada sumur yang mengandung gas (liquid/gas pound
problem)

Biaya pemeliharaan surface facilities sangat tinggi

Stroke length terbatas

5) JET PUMP
Fluida di pompakan kedalam sumur
bertekanan tinggi lalu disemprotkan lewat
nozzel kedalam kolom minyak.

6) PROGRESIVE CAVITY PUMP


PCP bergerak dengan putaran motor dari permukaan (dipasang di atas wellhead).
Kemudian putaran diteruskan ke single helical rotor melalui rangkaian sucker rod.

Keuntungan memakai PCP


Sangat cocok untuk high viscosity oil (kental)
Tidak bising
Maximum head capacity 9800 feet
Maximum pump capacity 3750 BPD
Cocok untuk directional well
2.5 Dampak Eksploitasi Minyak Bumi terhadap Lingkungan

Sumber daya alam (SDA) merupakan anugerah Tuhan yang harus kita syukuri dengan
memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya dan kita jaga kelestariannya. Eksploitasi sumber
daya alam secara berlebih-lebihan tanpa memperhatikan aspek peran dan fungsi alam ini
terhadap lingkungan dapat mendatangkan berbagai macam bencana alam seperti tanah
longsor, banjir, kabut asap, pemanasan global hingga bencana lumpur panas Sidoarjo yang
sangat merugikan masyarakat.
Eksploitasi hutan di daerah hulu yang dapat menghilangkan fungsi hutan di daerah hulu
sebagai penutup lahan terhadap tumpahan air hujan dan penghambat kecepatan aliran
permukaan juga dapat menyebabkan banjir.
Banyak sekali eksploitasi sumber daya alam yang membawa dampak terhadap kehidupan.
Segala kegiatan pembangunan yang berlangsung diharapkan tidak hanya mampu
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga harus mampu menjaga kelestarian
sumber daya alam. Sehingga alam tidak akan kehilangan fungsinya sebagai pengendali
keseimbangan kehidupan. Oleh karena itu setiap pembangunan yang dilakukan harus
berwawasan lingkungan mengenalisis mengenai dampak lingkungan yang akan terjadi.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1. KESIMPULAN
Eksploitasi adalah rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan Minyak dan Gas
Bumi dari Wilayah Kerja yang ditentukan, yang terdiri atas pengeboran dan penyelesaian
sumur, pembangunan sarana pengangkutan, penyimpanan, dan pengolahan untuk pemisahan
dan pemurnian Minyak dan Gas Bumi di lapangan serta kegiatan lain yang mendukungnya.
Indonesia merupakan negara yang kaya akan potensi alam seperti minyak bumi, gas batu
bara, dan lain sebagainya. Maka dari itu akan sangat menghasilkan sekali apa bila
sumberdaya tersebut di eksploitasi, namun bukan eksploitasi besar-besaran yang
dimaksudkan tetapi eksploitasi yang ber wawasan dengan lingkungan ekspolitasi yang
memperhatikan dampak sebab akibat serta cara menanggulanginya.
3.2. SARAN
Sebaiknya kepada mereka yang berkecimpung dalam dunia industri terutama dalam bidang
pengeksploitasian sumber daya alam agar lebih berhati-hati dalam mengeksploitasi dan
memperhatikan dampak dari eksploitasi yang dilakukanya itu.