Anda di halaman 1dari 36

BAB 1

PENDAHULUAN
Penyelenggaraan

pelayanan

kesehatan

di

Indonesia

diharapkan

memenuhi faktor 3A, 2C, I, dan Q, yaitu available, accessible, affordable,


continue, comprehensive, integrated, dan quality. Untuk Hal ini bertujuan untuk
mewujudkan keadaan sehat semua pihak, tidak hanya perorangan atau
keluarga, tetapi juga kelompok dan seluruh anggota masyarakat. Sehat disini
adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, sosial, yang memungkinkan setiap
orang hidup produktif secara social dan ekonomi (UU No. 23 tahun 1992;
Wahyuni, 2003;Prasetyawati,2003).
Pelayanan kesehatan secara umum dibagi menjadi dua yaitu pelayanan
kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat (Wahyuni, 2003).
Dokter keluarga adalah dokter praktik umum yang menyelenggarakan pelayanan
primer yang komprehensif, kontinyu, mengutamakan pencegahan, koordinatif,
mempertimbangkan

keluarga,

komunitas,

dan

lingkungannya

dilandasi

keterampilan dan keilmuan yang mapan (Depkes, 2011). Pelayanan kedokteran


keluarga ini termasuk dalam pelayanan kedokteran yang memiliki karakteristik
tertentu dengan sasaran utamanya adalah keluarga (Wahyuni, 2003).
Pelayanan

dokter

keluarga

merupakan

salah

satu

upaya

penyelenggaraan kesehatan perorangan di tingkat primer untuk memenuhi


ketersediaan,

ketercapaian,

keterjangkauan,

kesinambungan

dan

mutu

pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Dokter keluarga diharapkan mampu


mengatasi permasalahan kesehatan yang hingga sekarang belum terselesaikan
karena belum jelasnya bentuk sub sistem pelayanan kesehatan dan terkait
dengan sub sistem pembiayaan kesehatan.
merupakan

antisipasi

perkiraan

Sistem

bergesernya

dokter

status

keluarga

puskesmas

menjadi sarana umum. Tugas puskesmas akan mengatur sanitasi dan


lingkungan atau yang bersifat Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM),
sedangkan dokter keluarga menjadi private good, dokter akan menjadi
bagian

dari

keluarga.

Kebutuhan

masyarakat

akan

pelayanan

kesehatan yang bermutu dan terjangkau merupakan sesuatu yang


esensial, dengan penyelenggaraan pelayanan kesehatan model dokter
keluarga diharapkan dokter keluarga sebagai ujung tombak dalam
pelayanan kedokteran tingkat pertama, yang dapat berkolaborasi

dengan pelayanan kedokteran tingkat kedua dan yang bersinergi


dengan sistem lain (Asmah,2008).
Karakteristik dokter keluarga di antaranya ialah sebagai berikut (Wahyuni,
2003)
1.

Yang melayani penderita tidak hanya sebagai orang per orang, tetapi juga
sebagai anggota satu keluarga dan bahkan sebagai anggota masyarakat

2.

sekitarnya.
Yang memberikan

pelayanan

kesehatan

secara

menyeluruh

dan

memberikan perhatian kepada penderita secara lengkap dan sempurna, jauh


3.

melebihi jumlah keseluruhan keluhan yang disampaikan.


Yang mengutamakan pelayanan kesehatan guna meningkatkan derajat
kesehatan seoptimal mungkin, mencegah timbulnya penyakit dan mengenal

4.

serta mengobati penyakit sedini mungkin.


Yang mengutamakan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan dan

5.

berusaha memenuhi kebutuhan tersebut sebaik-baiknya.


Yang menyediakan dirinya sebagai tempat pelayanan kesehatan tingkat
pertama dan bertanggung jawab pada pelayanan kesehatan lanjutan.
Tujuan pelayanan dokter keluarga ini dalam skala kecil ialah mewujudkan

keadaan sehat bagi setiap anggota keluarga dan mewujudkan keluarga yang
sehat sejahtera. Sedangkan dalam skala besar dokter keluarga bertujuan untuk
memeratakan pelayanan yang manusiawi, bermutu, efektif, efisien, dan merata
bagi seluruh rakyat Indonesia (Depkes, 2011). Dokter keluarga seharusnya lebih
menekankan upaya promotif dan preventif. Karena salah satu ciri pelayanan
kedokteran keluarga adalah mampu melihat masalah-masalah kesehatan dan
pembinaan kesehatan individu dan keluarga dalam rangka pengembangan
perilaku

sehat

anggota

dan

keluarganya.

Klinik

dokter

keluarga

bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan pelayanan five level of prevention


setiap anggotanya termasuk sistem surveillance faktor risiko dan penyakit
(Wiyadi, 2006).
.

BAB 2
BERKAS REKAM MEDIK DOKTER KELUARGA

2.1 KASUS TUBERCULOSIS


A. DATA PASIEN DAN KELUARGA
1. Identitas Pasien
Nama

: An. F

Usia

: 9 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Status Perkawinan : Belum menikah


Agama

: Islam

Suku Bangsa

: Jawa

Pendidikan

: MI

Pekerjaan

: Pelajar

Alamat

: Desa Pajaran RT14 / RW 9 Kec. Poncokusumo, Kab.


Malang

2. Identitas Anggota Keluarga


Tabel 2.1 Identitas Keluarga Pasien 1

Pekerjaan/
No

Nama

Usia

Pendidikan

Status
Kegiatan

Hubungan

Status

Keluarga

Kawin

Keterangan
Domisili Serumah
Ya

Tdk

Ket

Kadang

Tn S

38 th

SD

Petani

KK/ Ayah

Menikah

Ny. N

37 th

S1

Guru SMP1

Ibu

Menikah

9 th

MI

Pelajar

Anak

Belum

(Pasien)

menikah

Kakek

Menikah

Nenek

Menikah

An. F
(Px)

Tn. H

84 th

SR

Ny. K

70 th

SR

Pensiunan
TNI
-

3. Status Biomedis (Kesehatan) Anggota Keluarga


Tabel 2.2 Status Biomedis Keluarga Pasien 1

Riwayat

Anggota

Status Presens

Keluarga

Tn. S

Faktor Risiko

Sakit yang

Psikobiologi

Upaya Kesehatan
yang Telah

KU : baik

Penting
Diare

TD : 110/80 mmHg

ISPA

Puskesmas hanya

N : 72 x/mnt

Alergi debu

bila sakit

RR : 18 x/ mnt

bersin

TB : 168 cm

Riw. KLL

Dilakukan
-Berobat ke

BB : 65 kg

Ny. N

KU : baik

Hipotensi

TD : 100/60 mmHg

ISPA

-Berobat ke
Puskesmas hanya

: 84 x/mnt

bila ada keluhan

RR : 18 x/mnt
TB : 162 cm

An. F
(pasien)

BB : 50 kg
KU : baik

Sinusitis

TD : 100/70 mmHg

ISPA

ada keluhan

N : 92 x/mnt

Alergi dingin

Menjalani

RR : 22 x/mnt

bersin

pengobatan TB

TB : 118 cm

TB paru

(ambil obat /

BB : 30 kg

Tn. H

Ny. K

Berobat hanya bila

minggu)

KU : Baik

Alergi

ikan

TD : 130/80 mmHg

laut kulit

N : 94 x/mnt

gatal gatal

RR :20 x/ mnt

kemerahan

TB : 166 cm

OA

BB : 60 kg
KU : Baik

ISPA
Hipertensi

TD : 170/100 mmHg

Riw. TB 4 th

N : 98 x/mnt

lalu sembuh

RR :20 x/ mnt

Skarang

TB : 151 cm

mulai

BB : 45 kg

batuk

sering

ISPA
OA

Mencari obat
sendiri

Mencari obat
sendiri

4. Data

Faktor

Resiko

Lingkungan

Fisik,

Kimia,

Biologi,

Sosial

Ekonomi,Budaya Dan Ergonomi Keluarga


Tabel 2.3 Data Faktor Resiko Lingkungan Fisik, Kimia, Biologi, Sosial Ekonomi, Budaya Dan
Ergonomi Keluarga Pasien 1

1.

LINGKUNGAN FISIK
Lingkungan rumah:

STATUS
Rumah pasien berada di pinggir jalan makadam.

Perumahan dan

Rumah bagian depan dan belakang tembok


bercat putih, lantai dari semen pada seluruh

fasilitas

dalam rumah, tidak berpagar dan beratap genting.


Dekat dengan kebun pribadi, serta halaman
depan dan belakang tidak terlalu lebar. Terdapat
gudang tembakau dan gudang kayu di sebelah
rumah. Rumah satu lantai, terdiri dari ruang tamu,
ruang keluarga, musholla, dapur, kamar mandi,
garasi, dan 3 kamar tidur. Ruang tamu terletak
pada bagian depan rumah. Ruang keluarga di
tengah berbatasan dengan 3 kamar, ruang
makan, dan garasi. Pada bagian belakang rumah
terdapat dapur dekat dengan kamar mandi dan
musholla. Garasi untuk menyimpan motor dan
bahan-bahan kebutuhan pertanian (pupuk, bibit,
dan kelapa). Hanya terdapat 1 kamar mandi yang
digunakan oleh seluruh anggota keluarga dengan
Luas bangunan

sumber air berasal dari air swadaya desa.


10x12 m2

Luas tanah

14x20 m2

Jenis dinding

Tembok

terbanyak
Jenis lantai terluas
Sumber

penerangan

Semen
Listrik dari PLN

utama
Ventilasi

Ventilasi pada rumah ini kurang baik

Sarana MCK

Kamar mandi di rumah untuk MCK dengan air


untuk mencuci dan mandi semuanya berasal dari
sumber air swadaya desa.

SPAL

Kotoran dialirkan ke septic tank buatan sendiri.


Limbah dialirkan ke jurang di belakang rumah
(ada sungai di bawah)
Sumber air swadaya desa yang direbus sendiri
Sampah dibuang ke tempat jeglongan di belakang

Sumber air minum


Pembuangan sampah

rumah.
2.

Lingkungan kerja (masingmasing anggota keluarga):


Tn. S

Petani (juragan)

Ny. N

Guru SMP

An. F (pasien)

Pelajar

Tn. H

Pensiunan TNI
Nenek rumah tangga

Ny. K
LINGKUNGAN SOSIAL
1. Kegiatan Sosial

STATUS
Seluruh anggota

keluarga

sering

mengikuti

pengajian di masjid dekat rumah.


Tn. S sangat aktif pada kegiatan desa (ketua
pembinaan pemuda & kerja bakti setiap minggu)
STATUS
14 x 20 m2

LINGKUNGAN EKONOMI
1. Luas lahan
2.

Status kepemilikan rumah Milik pribadi


Fasilitas dan pemilikan 1 set meja dan sofa tamu, 3 ranjang kayu, 3
barang rumah tangga

lemari kayu, 1 bufet, 1 set alat dapur dan


perlengkapan makan, meja dan kursi makan, 1

3.

Tingkat

televisi dan sofa keluarga


pendapatan Penghasilan pasien per bulan -

keluarga
Pengeluaran rata-rata
Bahan makanan:

Beras

Rp.

100.000,00

Lauk dan sayur

Rp.

400.000,00

jajanan

Rp.

100.000,00

Di luar bahan makanan :


Biaya listrik

Rp.

40.000,00

Pendidikan

Rp.

10.000,00

Pakaian

Rp.

25.000,00

Transport

Rp.

200.000,00

Rp.

100.000,00

Rp.

100.000,00

Kesehatan
Kegiatan sosial

Rp. +6.000.000,00 (per 3 bulan)


Modal usaha
Penghasilan
keluarga Rp. +3.500.000,00 4.000.000,00
(kalkulasi / bulan)
PERILAKU KESEHATAN
1. Pelayanan
promotif

STATUS
/ -

2.

preventif bayi dan balita


Pemeliharaan kesehatan Puskesmas

3.
4.

anggota keluarga lain


Pelayanan pengobatan
Puskesmas
Jaminan
pemeliharaan Askes (Tn. H & Ny. K)

kesehatan
Biaya sendiri (Tn. S, Ny. N, & An. F)
POLA MAKAN KELUARGA
STATUS
1. Kepala
keluarga
dan Karbohidrat: nasi, jagung
seluruh anggota keluarga

Protein dan lemak: daging ayam, telur, ikan


tongkol, tempe dan tahu
Vit : Buah/Sayur : kacang panjang, wortel, bayam,
daun pepaya, daun singkong, kangkung, sawi

AKTIVITAS KELUARGA
1. Aktivitas fisik

Tidak ada yang mengonsumsi rokok & kopi


STATUS
Pasien sebelum sakit biasanya bermain dengan
teman2 tetangga sepulang sekolah. Saat sakit
skarang istirahat di rumah sepulang sekolah
Ayah pasien (kepala keluarga) Bekerja sebagai
petani, biasanya pergi subuh, pulang siang.
Sangat aktif dalam kegiatan sosial di desa.
Ibu pasien (ibu rumah tangga) biasa mengajar
dan beraktivitas ringan serta membantu pekerjaan
rumah tangga.
Nenek pasien bersantai di rumah
Kakek pasien bersantai di rumah, kadang jalan
keliling desa

2.

Aktivitas mental

Keluarga pasien termasuk cukup jarang pergi


rekreasi

(berlibur).

Keluarga

mengikuti pengajian di desa.

pasien

rutin

5. Faktor Risiko Lingkungan Keluarga


Tabel 2.4 Faktor Risiko Lingkungan Keluarga Pasien 1

No

FaktorRisik

Fisik

Kimia

Biologi

Sosial

oSasaran
1.

Pasien

Ergonomi

Ekonomi /
-

Riwayat keluarga

Budaya
Kurangnya

Bagian belakang rumah yang

mengalami hipertensi

kepedulian

kotor dan ventilasi kurang baik

(nenek pasien).

terhadap

Riwayat keluarga

kesehatan;

mengalami alergi (ayah


dan kakek pasien)
Kemungkinan terpapar
kuman TB (dari nenek
2.

3.

Ayah pasien

Ibu pasien

Alat-alat

Sering kontak

pasien)
Riwayat keluarga alergi

Kurangnya

Bagian belakang rumah yang

pertanian

degan pupuk

(ayah dan diri sendiri)

kepedulian

kotor dan ventilasi kurang baik

yang berupa

kimia pabrik dan

Kemungkinan terpapar

terhadap

benda tajam

pestisida,

kuman TB (dari nenek

kesehatan

proteksi diri

px)

sederhana
-

Riwayat keluarga

Kurang
aktifitas dan

memiliki asma (ibu)

olahraga

Kemungkinan terpapar

Bagian belakang rumah yang


kotor dan ventilasi kurang baik

kuman TB (dari nenek


px)
4.

Kakek

pasien

Riwayat keluarga alergi

Kurangnya

Bagian belakang rumah yang

(diri sendiri)

kepedulian

kotor dan ventilasi kurang baik

Kemungkinan terpapar

terhadap

kuman TB (dari nenek

kesehatan;

px)
5.

Usia tua
Hipertensi

Kurangnya

Bagian belakang rumah yang

aktifitas dan

Usia tua

kepedulian

kotor dan ventilasi kurang baik

olahraga

Riw. TB

terhadap

Nenek

Kurang

pasien

kesehatan;

10

6. Resume Faktor Risiko Lingkungan Keluarga


Tabel 2.5 Resume faktor Risiko Lingkungan Keluarga Pasien 1

No
1.
2.
3.
4.
5.

Faktor Risiko
Sasaran
Pasien
Ayah pasien
Ibu pasien
Nenek pasien
Kakek pasien

Fisik

Kimia

Biologi

+
+
+

+
-

+
+
+
+
+

Sosial Ekonomi /

Ergonomi

Budaya
+
+
+
+

+
+
+
+
+

B. DATA PEMERIKSAAN
Tabel 2.6 data Pemeriksaan Pasien 1

KELUHAN UTAMA
Batuk
ANAMNESIS
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien datang ke puskesmas poncokusumo dengan keluhan batuk sekitar satu
minggu. Batuk berdahak putih agak encer, tidak ada darah. Pasien juga
mengeluh meriang / sumer-sumer, turun dengan obat penurun panas. Kadang
terbangun malam hari dan berkeringat dingin. Nafsu makan turun, dan berat
badan dirasa berkurang. Setelah diberi obat dari puskesmas, pasien tidak
kunjung sembuh, batuk menetap. Satu minggu kemudian pasien disarankan
memeriksa sputum BTA SPS di puskesmas Poncokusumo dan foto ronsen dada
di RS Bakti Tumpang. Hasilnya dinyatakan positif TB. Pasien lalu menjalani
terapi TB dan rutin mengambil obat OAT di Puskesmas Poncokusumo setiap
minggu. Pasien sudah menjalani OAT selama 1 minggu.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Sinusitis, Alergi
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA (ORANG TUA / SAUDARA KANDUNG)
Ayah

: alergi debu

Ibu

:-

Nenek

: riw. TB 3 tahun lalu

Kakek : alergi makanan


HASIL PEMERIKSAAN FISIK
Kesadaran : GCS 456, compos mentis
KU

: Baik

Tanda vital: Tensi: 100/70 mmHg, Nadi 92 x/menit, reguler; RR 22


simetris, reguler; Tax: 36,8 C

x/menit,

Status Internistik
Kepala : konjungtiva pucat -/- sklera ikterik -/- palpebra edema -/- sianosis -/Leher

: pembesaran kelenjar limfe (-/-), pembesaran kelenjar tiroid (-)

Thorax : Pulmo: Inspeksi: D = S


Perkusi : sonor pada semua lapangan paru
Auskultasi: vesikuler pada semua lapangan paru

Cor:

Rh +

Wh -

Inspeksi: ictus tidak terlihat

Palpasi: ictus teraba di ICS V MCL S


Auskultasi: S1S2 single, murmur (-), HR 92 x/menit, kuat, reguler
Abdominal : flat, soefl, bising usus (+) normal, hepar/lien tak teraba, meteorismus
(-)
Ekstremitas : Hangat, kering, merah, sianosis (-), ikteris (-), edema (-)
HASIL EXPLORASI FAKTOR LINGKUNGAN
Fisik
Kimia

:: pasien terkadang membersihkan selokan di depan rumahnya

Biologis : riwayat alergi dalam keluarga (pasien, ibu dan nenek pasien).
Sosial ekonomi / budaya: kepedulian keluarga yang kurang terhadap masalah
kesehatan. Pasien riwayat pernah kontak dengan penderita TB cukup
lama (nenek pasien)
Ergonomis:Jeglongan untuk membuang sampah cukup dekat di belakang rumah
pasien. Ventilasi rumah kurang baik.
HASIL EXPLORASI UPAYA KESEHATAN
Kepedulian terhadap masalah kesehatan masih kurang. Pasien tidak segera
mencari pengobatan ketika batuk lebih dari 1 minggu. Pasien didiagnosis TB
setelah 2 minggu berobat ke puskesmas dengan batuk yang tidak sembuhsembuh
HASIL PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK TAMBAHAN
Foto Thorax PA: TB paru minimal lession; Sputum BTA SPS (+);
Tuberkulin test (+); Skor TB 9
DIAGNOSIS: TB paru
DIAGNOSIS PERMASALAHAN KESEHATAN (STATUS BIOMEDIS)
TB paru
DIAGNOSIS PERMASALAHAN LINGKUNGAN (FAKTOR RISIKO)
Kimia

:-

12

Biologis
-

Adanya riwayat alergi dalam keluarga (ayah dan kakek pasien), yang
meningkatkan resiko kecenderungan alergi pada pasien

Adanya riwayat kontak dengan pasien TB (nenek pasien)

Budaya
-

Kepedulian

yang

kurang

terhadap

masalah

kesehatan,

sehingga

pencegahan primer dan sekunder tidak terlaksana secara optimal


Ergonomis :
- Bagian belakang rumah yang kotor karena untuk pembuangan sampah dapat
menyebabkan sumber berbagai macam penyakit. Ventilasi rumah kurang baik
akan meningkatkan risiko airborne disease.
C. DIAGNOSIS KELUARGA (RESUME MASALAH KESEHATAN)
1. Status Kesehatan dan Faktor Risiko (Individu, Keluarga, dan
Komunitas)
Pasien An. F, didiagnosis menderita Tuberkulosis paru berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pasien datang ke
puskesmas poncokusumo dengan keluhan batuk sekitar satu minggu. Batuk
berdahak putih agak encer, tidak ada darah. Kadang terbangun malam hari
dan berkeringat dingin. Nafsu makan turun, dan berat badan dirasa
berkurang. Nenek pasien memiliki riwayat menderita TB 3 tahun lalu dan
sudah sembuh, namun akhir-akhir ini juga sering batuk-batuk lagi namun
belum bmemeriksakan diri. Pada pemeriksaan fisik, tidak ada kelainan berarti,
hanya didapatkan rhonki di dada kanan bagian atas.
Rumah pasien tidak terlalu besar dan dihuni oleh 5 orang, yaitu pasien,
ayah, dan ibu pasien, serta kakek dan nenek pasien. Lingkungan rumah
cukup ergonomis, kecuali jeglongan sampah di belakang rumah. Ventilasi
yang kurang baik akan meningkatkan risiko penyakit yang menular melalui
udara / droplet.
2. Status Upaya Kesehatan (Individu, Keluarga, dan Komunitas)
Kurangnya pengetahuan dan kesadaran pasien terhadap pentingnya
kesehatan, juga menjadi faktor yang memperparah penyakit yang timbul.
Pasien baru berobat ke puskesmas Poncokusumo 1 minggu setelah timbulnya
gejala.

13

Di samping itu, kepedulian anggota keluarga yang lain terhadap


masalah kesehatan juga masih kurang. Kakek pasien dan nenek pasien tidak
pernah memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, bahkan saat sakit, sehingga
kakek tidak tahu kalau menderita hipertensi dan dermatitis. Nenek juga tidak
mau memeriksakan diri lagi walau batuk-batuk sudah cukup lama dengan
alasan dulu sudah sembuh
D. URUTAN PRIORITAS MASALAH KESEHATAN
1. An. F Tuberkulosis paru
2. Ny. K batuk kronis dengan riwayat TB 3 tahun dan hipertensi stadium II
3. Tn. H dermatitis alergi
4. Kurangnya kesadaran keluarga pasien terhadap masalah kesehatan
E. INTERVENSI: YANKES DOKTER KELUARGA
1. Terhadap Permasalahan Kesehatan (Status Biomedis)
Tabel 2.7 Intervensi Yankes Dokter Keluarga terhadap
Permasalahan Kesehatan (Status Biomedis) Pasien 1

No
1.

2.

3.

4.

Masalah Kesehatan
Pasien menderita

Pengobatan
OAT kategori

Prosedur terapi
- 2RHZ / 4RH

Tuberkulosis paru

anak (kombipak)

- kombipak 2(4tablet)/4(4tablet)

Nenek pasien batuk

Pemeriksaan BTA SPS dan foto thorax dada

kronis

Menutup mulut dengan siku saat batuk

Nenek pasien

Tidur di kamar tersendiri


Diuretik
- p.o HCT 1 x 25 mg tab

hipertensi stadium II
Kakek pasien

ACE inhibitor
Sistemik

dermatitis alergi

- p.o captopril 3 x 12,5 mg tab


- p.o CTM 3 x 4 mg tab
- p.o Prednison 3 x 5 mg tab

Diet modification

- menghindari makanan

pencetus alergi
2. Terhadap Masalah Kesehatan dan Lingkungan
Tabel 2.8 Intervensi Yankes Dokter Keluarga terhadap
Masalah Kesehatan dan Lingkungan Pasien 1

No
1.

Masalah Kesehatan
Pasien menderita
tuberkulosis paru

Intervensi (Health Education, Advokasi)


Memberikan pengetahuan mengenai penyakit,
faktor resiko, pengobatan & efek samping
pengobatan,

14

pencegahan,

prognosis

pada

keluarga

2.

Nenek pasien batuk

Memberikan pengetahuan mengenai penyakit,

kronis dan hipertensi

faktor resiko, pengobatan & efek samping

st II

pengobatan,

pencegahan,

prognosis,

serta

kemungkinan tuberkulosis yang kambuh


Memberikan motivasi untuk memeriksakan diri
3.

dan kontrol rutin ke fasilitas kesehatan


Memberikan pengetahuan mengenai penyakit,

Kakek pasien
dermatitis alergi

faktor resiko, pengobatan & efek samping


pengobatan, pencegahan, prognosis
Memberikan motivasi untuk memeriksakan diri

4.

Kesadaran keluarga

ke fasilitas kesehatan
Memberikan komunikasi, informasi, edukasi,

pasien dalam hal

dan motivasi dalam hal kesehatan kepada

kesehatan

keluarga pasien

3. Terhadap Perawatan Masalah Kesehatan (Status Upaya)


Tabel 2.9 Intervensi Yankes Dokter Keluarga terhadap
Masalah Kesehatan (Sttatus Upaya) Pasien 1

No

Masalah
Kesehatan

Tindakan Perawatan (Promotif, Preventif, Protektif)


Individu
Keluarga
Komunitas

15

1.

Tuberkulosis
paru

Menghindari

Keluarga

Masyarakat

kontak dengan

diberitahu

mendapatkan

penderita / suspek

mengenai

informasi

TB

kerentanan

tentang

terhadap infeksi

penyakit

dengan siku saat

TB pada pasien,

hipertensi,

batuk

faktor resiko,

terutama faktor

Istirahat cukup

dan cara

resiko dan cara

Menjaga

pencegahannya

pencegahannya

Menutup mulut

kebersihan
Makan dengan diet
2.

Hipertensi

seimbang
Mengurangi

Keluarga

konsumsi garam

diberitahu faktor

mendapatkan

resiko hipertensi

informasi

konsumsi kopi

dan cara untuk

tentang

Memperbanyak

mencegahnya

penyakit

Mengurangi

3.

Dermatitis
alergi

makan sayuran

hipertensi,

dan buah - buahan

terutama faktor

Menyarankan agar

resiko dan cara

olahraga teratur

pencegahannya

Menghindari

Keluarga

Kesadaran

Masyarakat

keterpaparan

diberitahu

mendapat

dengan alergen

mengenai

informasi

kerentanan

mengenai faktor

bila timbul gejala

terhadap alergi

resiko dan cara

serupa/ lebih berat

pada pasien,

pencegahan

faktor resiko,

terjadinya

dan cara

dermatitis

Segera berobat

4.

Masyarakat

pencegahannya
Edukasi

Edukasi individu

kontak alergi.
Edukasi

dan

dalam hal

keluarga dalam

terhadap

pengetahuan

kesehatan

hal kesehatan

masyarakat

dalam hal

dalam hal

kesehatan
16

kesehatan

F. PENYULUHAN KELUARGA
Tuberkulosis Paru
1. Definisi
Penyakit

menular

yang

disebabkan

oleh

bakteri

Mycobacterium

tuberculosis, yang biasanya menyerang paru-paru. Tuberkulosis paru


ditularkan dari orang ke orang melalui droplet dari tenggorokan dan paru-paru
penderita TB paru aktif
2. Penyebab
TB paru disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang merupakan
batang aerobik tahan asam yang tumbuh lambat dan sensitif terhadap panas
dan sinar UV. Bakteri Mycobacterium lain yang jarang sebagai penyebab,
adalah M. Bovis dan M.Avium
3. Gejala
1. Tanda
a. Penurunan berat badan
b. Anoreksia
c. Dispneu
d. Sputum purulen/hijau, mukoid/kuning.
2. Gejala
a. Demam
Biasanya menyerupai demam influenza. Keadaan ini sangat
dipengaruhi oleh daya tahan tubuh penderita dengan berat-ringannya
infeksi kuman TB yang masuk.
b. Batuk
Terjadi karena adanya infeksi pada bronkus. Sifat batuk dimulai
dari batuk keringkemudian setelah timbul peradangan menjadi batuk
produktif (menghasilkan sputum). Pada keadaan lanjut berupa batuk
darah karena terdapat pembuluh darahyang pecah. Kebanyakan batuk
darah pada ulkus dinding bronkus.
c. Sesak nafas
Sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut
yang infiltrasinya sudah setengah bagian paru.
17

d. Nyeri dada
Timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura (menimbulkan
pleuritis)
e. Malaise
Dapat berupa anoreksia, tidak ada nafsu makan, berat badan
turun, sakit kepala,meriang, nyeri otot, keringat malam
4. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan tanda dan gejala serta adanya
kontak dengan penderita TB atau suspek TB. Tuberkulosis didiagnosis secara
definitif jika organisme penyebab (Mycobacterium tuberculosis) teridentifikasi
dalam sampel klinis (misalnya, dahak atau pus). Bila hal ini tidak mungkin,
meskipun kadang-kadang tidak meyakinkan diagnosis dapat dilakukan
dengan menggunakan pencitraan (sinar-X atau scan), uji kulit tuberkulin
(Mantoux), atau Interferon Gamma Release Assay (IGRA).
Masalah utama diagnosis tuberkulosis adalah kesulitan dalam kultur
organisme ini, yaitu tumbuh lambat di laboratorium (sekitar 4 sampai 12
minggu untuk darah atau kultur dahak). Evaluasi medis yang lengkap untuk
TB harus mencakup riwayat medis, pemeriksaan fisis, ronsen dada, pap
mikrobiologi, dan budaya. Ini juga termasuk tes tuberkulin kulit dan tes
serologis. Interpretasi tes tuberkulin kulit tergantung pada faktor risiko
seseorang untuk infeksi dan pengembangan menjadi penyakit TBC, misalnya
pada kasus imunosupresi
5. Pencegahan
1. Primer
a. Promosi kesehatan
1. Penyuluhan kepada masyarakat tentang TB
2. Pemberitahuan baik melalui spanduk/iklan tentang bahaya TBC,
cara penularan, cara pencegahan, faktor resiko
3. Mensosialisasikan BCG di masyarakat.
4. Menjaga kebersihan dari lingkungan dari tempat yang kotor dan
lembab.
5. Menjaga diet teratur dan dengan kualitas dan kuantitas seimbang
b. Proteksi spesifik
1. Vaksinasi BCG
2. Menggunakan isoniazid (INH)
3. Menggunakan masker jika akan kontak dengan penderita TB
4. Sekunder
a. Deteksi dini
1. Bila ada tanda dan gejala TBC segera ke Puskesmas/RS

18

2. Screening tuberkulin tes dan pemeriksaan sputum SPS


b. Penanganan yang tepat
Paduan OAT yang digunakan di Indonesia
Paduan

OAT

yang

digunakan

oleh

Program

Nasional

Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia:


Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3.
Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3.
Disamping kedua kategori ini, disediakan paduan obat sisipan
(HRZE)
Kategori Anak: 2HRZ/4HR
Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk
paket berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT), sedangkan
kategori anak sementara ini disediakan dalam bentuk OAT
kombipak.
Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam
satu tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien.
Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien.
Paket Kombipak.
Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu paket, yaitu Isoniasid,
Rifampisin, Pirazinamid dan Etambutol. Paduan OAT ini disediakan
program untuk mengatasi pasien yang mengalami efek samping OAT
KDT.
Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket, dengan tujuan untuk
memudahkan

pemberian

obat

dan

menjamin

kelangsungan

(kontinuitas) pengobatan sampai selesai.


Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan.
5. Tersier
a. Rehabilitasi medis
1. Latihan napas dan fisioterapi dada bila perlu
2. Istirahat cukup
3. Conditioning setelah bed rest
2.2 KASUS HIPERTENSI STADIUM II

19

B. DATA PASIEN DAN KELUARGA


1. Identitas Pasien
Nama

: Ny. K

Usia

: 57 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Status Perkawinan : Sudah menikah/Janda


Agama

: Islam

Suku Bangsa

: Jawa

Pendidikan

: SMP

Pekerjaan

: Pegawai Swasta

Alamat

: RT 01 RW 01 Wates, Poncokusumo Malang

2. Identitas Anggota Keluarga


Tabel 2.1 Identitas Keluarga Pasien 1

Pekerjaan/
No

Nama

Usia

Pendidikan

Status
Kegiatan

Ny. K /
pasien

57 th

SMP
SMA tidak

Ibu rumah

Hubungan

Status

Keluarga

Kawin

Swasta

Anak

Menikah

Swasta

Anak

Menikah

Swasta

Anak

Menikah

Swasta

Anak

Swasta

Anak

35 th

Ny. I

32 th

5.

Tn. R

30 th

6.

Tn. M

28 th

7.

Nn. U

26 th

8.

Tn. A

24 th

SMA

Swasta

Anak

9.

An. A

10 th

SD kelas V

Pelajar

Cucu

SMA tidak
lulus
Pesantren
SMA tidak
lulus

Menikah

Tn. W

lulus

Kadang

Anak

SMA tidak

Tdk

Swasta

37 th

lulus

Ya

Ket

Menikah

Tn. S

SMA tidak

Domisili Serumah

Ibu

tangga

lulus

Keterangan

20

Belum

Menikah
Belum
Menikah
Belum
Menikah
Belum
Menikah

3. Status Biomedis (Kesehatan) Anggota Keluarga


Tabel 2.2 Status Biomedis Keluarga Pasien 1

Riwayat

Anggota

Status Presens

Keluarga

Ny. K

Sakit yang

Faktor Risiko

Upaya Kesehatan

Psikobiologi

yang Telah Dilakukan

KU : baik

Penting
-Riwayat

TD : 220/130 mmHg

Hipertensi

terhadap

obat sudah habis, atau

- Kaki linu-

persoalan

mengalami keluhan

linu

keluarga

jika obat diganti

: 90 x/mnt

RR : 18 x/ mnt

- Stress

-Rutin berobat jika

TB : 155 cm
BB : 90 kg
Ny. I
Nn. U
Tn. A

Tidak ada di rumah

Berobat hanya bila

saat kunjungan
Tidak ada di rumah

ada keluhan
Berobat hanya bila

saat kunjungan
Tidak ada di rumah

ada keluhan
Berobat hanya bila

saat kunjungan

4. Data

Faktor

Resiko

ada keluhan

Lingkungan

Fisik,

Kimia,

Biologi,

Sosial

Ekonomi,Budaya Dan Ergonomi Keluarga


Tabel 2.3 Data Faktor Resiko Lingkungan Fisik, Kimia, Biologi, Sosial Ekonomi, Budaya Dan
Ergonomi Keluarga Pasien 1

1.

LINGKUNGAN FISIK
Lingkungan rumah :

STATUS
Rumah pasien berada di dalam gang dekat jalan

Perumahan dan

utama yang tidak terlalu lebar. Rumah bagian

fasilitas

depan dan belakang berupa tembok bercat


orange, lantai dari ubin pada sebagian besar
rumah, tidak berpagar dan beratap genting.
Didapatkan halaman samping yang tidak terlalu
lebar. Rumah tersebut terdiri dari satu lantai, yang
terdiri atas ruang tamu, ruang keluarga, dapur,
kamar mandi, tempat mencuci pakaian, tempat
menjemur, dan dua kamar tidur. Ruang tamu

21

terletak pada bagian depan rumah. Pada bagian


belakang rumah terdapat dapur yang langsung
berhubungan dengan rumah lama yang sudah
beralih

fungsi

menjadi

tempat

menaruh

kendaraan. Hanya terdapat 1 kamar mandi yang


digunakan oleh seluruh anggota keluarga dengan
Luas bangunan

sumber air berasal dari PDAM.


35x25 m2

Luas tanah

30x20 m2

Jenis dinding

Tembok

terbanyak
Jenis lantai terluas
Sumber

penerangan

Ubin
Listrik dari PLN

utama
Ventilasi

Ventilasi pada rumah ini cukup baik

Sarana MCK

Air untuk mencuci dan mandi semuanya berasal

SPAL

dari sumber air dekat rumah.


Kotoran dibuang ke tempat sampah RT yang
diangkut oleh petugas setiap pagi. Air limbah

Sumber air minum


Pembuangan sampah

rumah tangga dibuang melalui selokan.


Air ledeng rumah yang direbus sendiri
Sampah dikumpulkan di samping depan rumah
dan apabila sudah banyak sampah diambil oleh
pengangkut sampah

2.

Lingkungan kerja (masingmasing anggota keluarga):


Ny. K

Membuat bakso/makanan pesanan

Tn. M

Pedagang

Nn. U

Pegawai Counter

Tn. A

Pegawai toko swalayan

LINGKUNGAN SOSIAL
1. Kegiatan Sosial

STATUS
Seluruh anggota

keluarga

jarang

mengikuti

pengajian di mushola, maupun kegiatan sosial


LINGKUNGAN EKONOMI
1. Luas lahan

yang diadakan desa.


STATUS
30 x 20 m2

22

2.

Status kepemilikan rumah Milik pribadi


Fasilitas dan pemilikan 1 set meja dan kursi tamu, 4 buah ranjang kayu, 2
barang rumah tangga

3.

Tingkat

buah lemari kayu, 1 buah bufet, 1 set alat dapur

dan perlengkapan makan, 1 buah televisi


pendapatan Penghasilan pasien per bulan + Rp. 1.000.000

keluarga
Pengeluaran rata-rata
Bahan makanan:

Beras

Rp.

150.000,00

Lauk dan sayur

Rp.

300.000,00

Rp.

100.000,00

Biaya listrik

Rp.

60.000,00

Pendidikan

Rp.

Pakaian

Rp. -

Transport

Rp.

jajanan

Di luar bahan makanan :

Kesehatan
Kegiatan sosial
Penghasilan

keluarga

bulan
PERILAKU KESEHATAN
1. Pelayanan
promotif

200.000,00

Rp.

100.000,00

Rp.

50.000,00

/ Rp. 1.500.000,00
STATUS
/ -

2.

preventif bayi dan balita


Pemeliharaan kesehatan Puskesmas, posyandu lansia

3.
4.

anggota keluarga lain


Pelayanan pengobatan
Puskesmas
Jaminan
pemeliharaan Umum

kesehatan
POLA MAKAN KELUARGA
STATUS
1. Kepala
keluarga
dan Karbohidrat: nasi, jagung
seluruh anggota keluarga

Protein dan lemak: daging ayam, telur, daging


sapi, tempe dan tahu
Vit : Buah/Sayur : kacang panjang, wortel, bayam,
kangkung, sawi, pisang,

AKTIVITAS KELUARGA
1. Aktivitas fisik

Ibu rajin mengkonsumsi teh manis hangat.


STATUS
Pasien biasa membuat kemudian dijual oleh
anaknya

23

Anak pasien yang ke 4 menjualkan bakso yang


dibuatkan oleh ibu.
Anak pasien yang ke 6 bekerja sebagai pegawai
counter selular. Masuk kerja jam 9 pagi dan
pulang sekitar jam 10 malam
Anak pasien yang ke 7 bekerja sebagai pegawai
swalayan yang masuk kerja jam 9 pagi dan
2.

Aktivitas mental

pulang jam 1 malam.


Keluarga pasien termasuk cukup jarang pergi
rekreasi (berlibur). Di sela sela kesibukannya,
pasien lebih suka berada di rumah menonton
televisi bersama keluarga.

24

6. Faktor Risiko Lingkungan Keluarga


Tabel 2.4 Faktor Risiko Lingkungan Keluarga Pasien 1

No

FaktorRisiko

Fisik

Kimia

Biologi

Sasaran
1.

Pasien

Sosial

Ergonomi

Ekonomi /
Riwayat dahulu sering

Budaya
Pasien jarang

Pasien sering melakukan

istirahat saat siang

tidur saat pagi dan

bersosialisasi

pekerjaan mengangkat

dan malam hari.

bekerja saat malam,

dalam kegiatan

sesuatu dengan beban

Tidur rata-rata

sering minum kopi dan

lansia atau

bertumpu pada punggung.

setiap harinya 4

sudah berhenti tahun

kegiatan aktif

jam

yang lalu.

yang lain. Waktu

Riwayat pernah bekerja

lebih bbanyak

selama 15 tahun

dihabiskan

sebagai pemanggul apel

dirumah dengan

seberat 32 kg apel tiap

membuat bakso

harinya

dan merawat

Pasien jarang

cucu yang tinggal


bersamanya

7. Resume Faktor Risiko Lingkungan Keluarga


Tabel 2.5 Resume faktor Risiko Lingkungan Keluarga Pasien 1

No
1.

Faktor Risiko
Sasaran
Pasien

Fisik

Kimia

Biologi

Sosial Ekonomi /
Budaya
+

Ergonomi
+

Tabel 2.6 data Pemeriksaan Pasien 1

KELUHAN UTAMA
Pusing, linu-linu
ANAMNESIS
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien datang dengan keluhan pusing dan panas 2 hari yang lalu. Sudah rutin
mengkonsumsi captopril sebelumnya Karena tidak mengalami perbaikan kondisi
kemudian pasien memeriksakan diri di puskesmas. Selain itu ada keluhan pada
kaki yang terasa linu. Di wajah bagian kelopak mata juga terdapat bengkak,
namun ibu tidak pernah mengeluhkan. Terdapat bengkak pada kaki kanan dan
kiri.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA (ORANG TUA / SAUDARA KANDUNG)
Ayah

:-

Ibu

:-

Nenek

:-

Saudara : HASIL PEMERIKSAAN FISIK


Kesadaran: GCS 456, compos mentis
KU

: Tampak sakit ringan

Tanda vital: Tensi: 220/120 mmHg, Nadi 90 x/menit, simetris, reguler; RR 16


x/menit, simetris; Tax: 36,8 C
Status Internistik
Kepala : konjungtiva pucat -/- sklera ikterik -/- palpebra edema -/-sianosis -/Leher

: pembesaran kelenjar limfe (-/-), pembesaran kelenjar tiroid (-)

Thorax : Pulmo: Inspeksi: D = S


Perkusi: sonor pada semua lapangan paru
Auskultasi: vesikuler pada semua lapangan paru
Rh -

Wh -

Cor:

Inspeksi: ictus tidak terlihat

Palpasi: ictus teraba di ICS V MCL S


Auskultasi: S1S2 single, murmur (-), HR 90 x/menit, kuat, reguler
Abdominal : flat, soefl, bising usus (+) normal, hepar/lien tak teraba, meteorismus
(-)
Ekstremitas : edema (-), anemis (-), icteric (-)
HASIL EXPLORASI FAKTOR LINGKUNGAN
Fisik

:-

Kimia

:-

Biologis : Sosial ekonomi / budaya : Pasien merupakan pribadi yang tertutup dan jarang
bersosialisasi dengan tetangga serta lebih banyak menghabiskan
waktu luangnya di rumah karena terkait dengan usia.
Ergonomis: Saat melakukan kegiatan dari duduk ke berdiri
HASIL EXPLORASI UPAYA KESEHATAN
Pasien kurang peduli terhadap kesehatan, pasien hanya berobat kalau merasa
tidak enak badan saja, atau saat pusingnya tidak tertahan.
HASIL PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK TAMBAHAN
DIAGNOSIS: Hipertensi Urgensi state II
DIAGNOSIS PERMASALAHAN KESEHATAN (STATUS BIOMEDIS)
Hipertensi Urgensi State II
DIAGNOSIS PERMASALAHAN LINGKUNGAN (FAKTOR RISIKO)
Fisik

- Waktu istirahat yang kurang dan adanya permasalahan dalam keluarga memicu
kondisi yang dapat menyebabkan tensi pasien naik
Biologis

:-

Budaya

Kepedulian

yang

kurang

terhadap

masalah

kesehatan,

sehingga

pencegahan primer dan sekunder tidak terlaksana secara optimal


Ergonomis :
- pekerjaannya sebagai pembuat bakso, menyebabkan seringnya melakukan
aktivitas yang sama, terutama lebih banyak duduk, dan jarang berolahraga,
sehingga sering merasa linu di tubuhnya, terutama lutut.

27

C. DIAGNOSIS KELUARGA (RESUME MASALAH KESEHATAN)


1. Status Kesehatan dan Faktor Risiko (Individu, Keluarga, dan
Komunitas)
Pasien Ny. K, didiagnosis menderita Hipertensi stadium II berdasarkan
anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pasien datang dengan keluhan sering
pusing terutama setelah aktivitas atau mempunyai masalah dengan
keluarganya. Riwayat keluarga hipertensi (-). Pada pemeriksaan fisik
didapatkan tekanan darah 220/130.
Rumah pasien tidak terlalu besar, namun cukup dihuni oleh pasien, dua
anak pasien, dan cucu pasien. Lingkungan rumah cukup ergonomis,
2. Status Upaya Kesehatan (Individu, Keluarga, dan Komunitas)
Kurangnya pengetahuan dan kesadaran pasienterhadap pentingnya
kesehatan, juga menjadi faktor yang memperparah penyakit yang timbul.
Pasien telah lama didiagnosis menderita hipertensi, tetapi tidak rutin minum
obat dan hanya kontrol ke puskesmas bila ada keluhan.
D. URUTAN PRIORITAS MASALAH KESEHATAN
5. Ny. K Hipertensi stadium II
6. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran pasien dan keluarganya terhadap
masalah kesehatan
E. INTERVENSI: YANKES DOKTER KELUARGA
1. Terhadap Permasalahan Kesehatan (Status Biomedis)
Tabel 2.7 Intervensi Yankes Dokter Keluarga terhadap
Permasalahan Kesehatan (Status Biomedis) Pasien 1

No
1.

Masalah Kesehatan
Pasien menderita

Pengobatan
Diuretik

Prosedur terapi
- p.o HCT 1 x 25 mg tab

hipertensi stadium II

ACE inhibitor

- p.o captopril 3 x 12,5 mg tab

2. Terhadap Masalah Kesehatan dan Lingkungan


Tabel 2.8 Intervensi Yankes Dokter Keluarga terhadap
Masalah Kesehatan dan Lingkungan Pasien 1

No
1.

Masalah Kesehatan
Pasien menderita
hipertensi

Intervensi (Health Education, Advokasi)


Memberikan pengetahuan mengenai penyakit,
faktor resiko, pengobatan & efek samping

28

pengobatan, pencegahan, prognosis

2.

Memberikan komunikasi, informasi, dan edukasi

Kesadaran dan
pengetahuan keluarga

dalam hal kesehatan kepada keluarga pasien

pasien dalam hal


kesehatan

3. Terhadap Perawatan Masalah Kesehatan (Status Upaya)


Tabel 2.9 Intervensi Yankes Dokter Keluarga terhadap
Masalah Kesehatan (Sttatus Upaya) Pasien 1

No
1.

Masalah
Kesehatan
Hipertensi

Tindakan Perawatan (Promotif, Preventif, Protektif)


Individu
Keluarga
Komunitas
Kuantitas dan

Keluarga

Masyarakat

Kualitas istirahat

diberitahu faktor

mendapatkan

yang cukup

resiko hipertensi

informasi

dan cara untuk

tentang

mencegahnya

penyakit

Mengurangi
konsumsi garam

hipertensi,

Mengurangi
konsumsi kopi

terutama faktor

Memperbanyak

resiko dan cara

makan sayuran

pencegahannya

dan buah - buahan


Menyarankan agar
4.

Kesadaran

olahraga teratur
Edukasi individu

Edukasi

Edukasi

dan

dalam hal

keluarga dalam

terhadap

pengetahuan

kesehatan

hal kesehatan

masyarakat

dalam hal

dalam hal

kesehatan

kesehatan

F. PENYULUHAN KELUARGA
HIPERTENSI
1. Pengertian

29

Hipertensi adalah desakan darah yang berlebihan dan hampir


konstan pada arteri. Hipertensi juga disebut dengan tekanan darah
tinggi, dimana tekanan tersebut dihasilkan oleh kekuatan jantung
ketika memompa darah sehingga hipertensi ini berkaitan dengan
kenaikan tekanan sistolik dan tekanan diastolik. Standar hipertensi
adalah

sistolik

140

mmHg

dan

diastolik

90

mmHg

(Sugiharto,2007).
2. Penyebab

Hipertensi

dibagi

menjadi

dua

Berdasarkan

penyebab

golongan yaitu hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak


diketahui penyebabnya dijumpai lebih kurang 90 % dan hipertensi
sekunder yang penyebabnya diketahui yaitu 10 % dari seluruh
hipertensi. Menurut Sunarta Ann dan peneliti lain, berdasarkan
penyebabnya hipertensi dapat dikelompokkan dalam dua kategori
besar, yaitu : (Sugiharto,2007)
a. Hipertensi Primer
Artinya hipertensi yang belum diketahui penyebabnya dengan
jelas. Berbagai faktor yang diduga turut berperan sebagai penyebab
hipertensi primer seperti bertambahnya umur, stress psikologis, dan
hereditas (keturunan). Sekitar 90 % pasien hipertensi diperkirakan
termasuk dalam kategori ini. Pengobatan hipertensi primer sering
dilakukan adalah membatasi konsumsi kalori bagi mereka yang
kegemukan (obes), membatasi konsumsi garam, dan olahraga. Obat
antihipertensi

mungkin

pula

digunakan

tetapi

kadang-kadang

menimbulkan efek samping seperti meningkatnya kadar kolesterol,


menurunnya kadar natrium (Na) dan kalium (K) didalam tubuh dan
dehidrasi.
b. Hipertensi Sekunder
Artinya penyebab boleh dikatakan telah pasti yaitu hipertensi
yang diakibatkan oleh kerusakan suatu organ. Yang termasuk
hipertensi sekunder seperti : hipertensi jantung, hipertensi penyakit
ginjal, hipertensi penyakit jantung dan ginjal, hipertensi diabetes

30

melitus,

dan

hipertensi

sekunder

lain

yang

tidak

spesifik

(Sugiharto,2007).
3. Gejala

Menurut Elizabeth J. Corwin, sebagian besar tanpa disertai


gejala

yang

mencolok

dan

manifestasi

klinis

timbul

setelah

mengetahui hipertensi bertahun-tahun berupa :


a. Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan

muntah, akibat tekanan darah intrakranium.


b. Penglihatan kabur akibat kerusakan retina karena hipertensi.
c. Ayunan langkah tidak mantap karena kerusakan susunan

syaraf.
d. Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi

glomerolus.
e. Edema dependen akibat peningkatan tekanan kapiler.

Peninggian tekanan darah kadang merupakan satu-satunya


gejala, terjadi komplikasi pada ginjal, mata, otak, atau jantung.
Gejala

lain

adalah

sakit

kepala,

epistaksis,

marah,

telinga

berdengung, rasa berat ditengkuk, sukar tidur, mata berkunangkunang dan pusing (Sugiharto,2007).
4. Diagnosis

Menurut Slamet Suyono, evaluasi pasien hipertensi mempunyai


tiga tujuan :
a. Mengidentifikasi penyebab hipertensi.
b. Menilai adanya kerusakan organ target dan penyakit

kardiovaskuler, beratnya penyakit, serta respon terhadap


pengobatan.
c. Mengidentifikasi adanya faktor risiko kardiovaskuler yang lain

atau penyakit penyerta, yang ikut menentukan prognosis dan


ikut menentukan panduan pengobatan.
Data yang diperlukan untuk evaluasi tersebut diperoleh
dengan

cara

anamnesis,

pemeriksaan

fisik,

pemeriksaan

laboratorium, dan pemeriksaan penunjang. Peninggian tekanan

31

darah

kadang

sering

merupakan

satu-satunya

tanda

klinis

hipertensi sehingga diperlukan pengukuran tekanan darah yang


akurat. Berbagai faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran
seperti

faktor

pasien,

faktor

alat

dan

tempat

pengukuran.

Anamnesis yang dilakukan meliputi tingkat hipertensi dan lama


menderitanya, riwayat dan gejala-gejala penyakit yang berkaitan
seperti penyakit jantung koroner, penyakit serebrovaskuler dan
lainnya. Apakah terdapat riwayat penyakit dalam keluarga, gejala
yang berkaitan dengan penyakit hipertensi, perubahan aktifitas
atau kebiasaan (seperti merokok, konsumsi makanan, riwayat dan
faktor psikososial lingkungan keluarga, pekerjaan, dan lain-lain).
Dalam pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran tekanan darah dua
kali atau lebih dengan jarak dua menit, kemudian diperiksa ulang
dengan kontrolatera (Sugiharto,2007).
5. Pengobatan

Pendekatan nonfarmakologis merupakan penanganan awal


sebelum penambahan obat-obatan hipertensi, disamping perlu
diperhatikan
Sedangkan

oleh

seorang

pasien

yang

hipertensi

sedang
yang

dalam

terapi

terkontrol,

obat.

pendekatan

nonfarmakologis ini dapat membantu pengurangan dosis obat pada


sebagian

penderita.

Oleh

karena

itu,

modifikasi

gaya

hidup

merupakan hal yang penting diperhatikan, karena berperan dalam


keberhasilan

penanganan

hipertensi.

Menurut

beberapa

ahli,

pengobatan nonfarmakologis sama pentingnya dengan pengobatan


farmakologis, terutama pada pengobatan hipertensi derajat I. Pada
hipertensi derajat I, pengobatan secara nonfarmakologis kadangkadang dapat mengendalikan tekanan darah sehingga pengobatan
farmakologis tidak diperlukan atau pemberiannya dapat ditunda.
Jika obat antihipertensi diperlukan, Pengobatan
nonfarmakologis dapat dipakai sebagai pelengkap untuk
mendapatkan hasil pengobatan yang lebih baik (Sugiharto,2007).
Terapi nonfarmakologis diantaranya : berhenti merokok dan
minuman beralkohol, olahraga dan aktivitas fisik, perubahan pola
32

makan (mengurangi asupan garam, diet rendah lemak jenuh,


memperbanyak sayur dan buah-buahan), manajemen stress yang
baik (Sugiharto,2007).
Menurut

Arif

Mansjoer,

penatalaksanaan

dengan

obat

antihipertensi bagi sebagian besar pasien dimulai dengan dosis


rendah kemudian ditingkatkan secara titrasi sesuai umur dan
kebutuhan. Terapi yang optimal harus efektif selama 24 jam dan
lebih disukai dalam dosis tunggal karena kepatuhan lebih baik, lebih
murah dan dapat mengontrol hipertensi terus menerus dan lancar,
dan melindungi pasien terhadap risiko dari kematian mendadak,
serangan jantung, atau stroke akibat peningkatan tekanan darah
mendadak saat bangun tidur. Sekarang terdapat pula obat yang
berisi kombinasi dosis rendah 2 obat dari golongan yang berbeda.
Kombinasi

ini terbukti memberikan

mengurangi

efek

samping.

Setelah

efektifitas

tambahan

diputuskan

untuk

dan

untuk

memakai obat antihipertensi dan bila tidak terdapat indikasi untuk


memilih golongan obat tertentu, diberikan diuretik atau beta bloker.
Jika respon tidak baik dengan dosis penuh, dilanjutkan sesuai
dengan algoritma. Diuretik biasanya menjadi tambahan karena
dapat meningkatkan efek obat yang lain. Jika tambahan obat yang
kedua dapat mengontrol tekanan darah dengan baik minimal
setelah 1 tahun, dapat dicoba menghentikan obat pertama melalui
penurunan dosis secara perlahan dan progresif (Sugiharto,2007).
6. Pencegahan
Hipertensi terjadi karena berbagai faktor yang mempegahuri,
maka prinsip pencegahannya dengan mengatasi faktor resiko
tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi
dibagi dalam dua kelompok besar yaitu faktor yang melekat atau
tidak dapat diubah seperti jenis kelamin, umur, genetik dan faktor
yang dapat diubah seperti pola makan, kebiasaan olah raga dan
lain-lain. Untuk terjadinya hipertensi perlu peran faktor risiko
tersebut secara bersama-sama (common underlying risk factor),

33

dengan kata lain satu faktor risiko saja belum cukup menyebabkan
timbulnya

hipertensi. Saat

masyarakat
dibandingkan

perkotaan

ini

lebih

masyarakat

terdapat
banyak

pedesaan.

kecenderungan
menderita
Hal

ini

pada

hipertensi

antara

lain

dihubungkan dengan adanya gaya hidup masyarakat kota yang


berhubungan dengan risiko hipertensi seperti stress, obesitas
(kegemukan), kurangnya olah raga, merokok, alkohol, dan makan
makanan yang tinggi kadar lemaknya. Perubahan gaya hidup
seperti perubahan pola makan menjurus kesajian siap santap yang
mengandung banyak lemak, protein, dan garam tinggi tetapi
rendah serat pangan, membawa konsekuensi sebagai salah satu
faktor berkembangnya penyakit degeneratif seperti hipertensi
(Sugiharto,2007).

34

BAB 3
PENUTUP

3.1
3.1.1
1.

Kesimpulan
Kasus Tuberculosis
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisis, pasien An. F didiagnosis
menderita tuberkulosis paru.

2.

Health education dan advokasi terhadap masalah kesehatan dilakukan.

3.

Intervensi dokter keluarga meliputi intervensi status biomedis, status


lingkungan dan status upaya kesehatan dari pasien, keluarga, serta
masyarakat sekitarnya dengan mempertimbangkan semua aspek.

3.1.2
1.

Kasus Hipertensi
Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik, pasien Nn. K didiagnosis
menderita Hipertensi stadium II

2.

Dilakukan health education dan advokasi terhadap masalah kesehatan.

3.

Intervensi dokter keluarga meliputi intervensi status biomedis, status


lingkungan dan status upaya kesehatan dari pasien.

3.2

Saran

1.

Pihak pelayanan kesehatan harus meningkatkan penyuluhan kesehatan


tentang penyakit menular dan tidak menular dan menjelaskan dampak
buruknya kepada komunitas.

2.

Edukasi kepada komunitas tentang pentingnya higienisitas dan kesehatan


individu, keluarga serta masyarakat sekitar.

3.

Menunjukkan kegiatan yang nyata dalam menunjang penyuluhan tersebut.

35

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. DITJEN, PPM & PLP. 2008. Pendidikan Medik Pemberantasan Diare
(PMPD).
Depkes, IDI, UI. 2009. Pelayanan Dokter Keluarga dan JPKM. www.depkes.go.id
. Diakses tanggal 23September 2011.
Asmah N, Kristiani, Lutfan L. Dokter Keluarga Implementasi Pelayanan
Kesehatan Model Dokter Keluarga Di Kota Bontang.Working Paper Series
No. 1 April 2008, First Draft
Wahyuni AS.2003.Pelayanan Dokter Keluarga. FK USU digital library.
Prasetyawati EA.Kedokteran Keluarga dan Wawasannya. FK Universitas
Sebelas Maret
Sugiharto A.2007. Faktor-Faktor Risiko Hipertensi pada Masyarakat (Studi

Kasus di Kabupaten karanganyar). Tesis. Program Studi Magister


Epidemiologi Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro Semarang

36