Anda di halaman 1dari 43

Konsep Stomatitis

1 Pengertian Stomatitis
Stomatitis merupakan inflamasi dan ulserasi pada membrane
mukosa mulut (Nursalam dkk, 2005)
Stomatitis merupakan gangguan di rongga mulut, berupa bercak
putih kekuningan dengan permukaan agak cekung (Rita Juniriani
Primisasiki, 2007)
Stomatitis merupakan luka membulat dan berwarna putih yang
dikelilingi oleh keadaan selaput lender yang memerah (Agus Susanto,
2007)
Stomatitis adalah radang rongga mulut (Ahmad Ramali, 2000)
2

Macam-macam Stomatitis
1.

Stomatitis AFTOSA (RECURRENT APTHTHAE)


Lesi stomatitis dimulai sebagai gelembung yang kemudian yang
kemudian pecah meninggalkan satu erosi / ulkus yang dangkal. Lesi yang
kecil ini menimbulkan rasa nyeri hebat. Tidak disertai demam.
Stomatitis aftosa akan sembuh sendiri dalam waktu kurang dari 4
minggu, tetapi mempunyai kecenderungan berulang, tepi stomatitis ini
adalah : ulkus dangkal, cekung dasar putih daerah sekitar hiperemis.

a.

Etiologi :
Etiologi yang pasti belum diketahui beberapa faktor predisposisi
memegang peranan yang penting :

1) Alergi

Biasanya stomatitis ini timbul setelah makan suatu jenis makanan tertentu
dan umumnya ini terjadi berulang-ulang jenis makanan ini berbeda untuk
tiap-tiap penderita.
2) Gangguan hormonal / endokrin
Menurut

penyelidikan

bahwa

ada

hubungan

yang

jelas

antara

ketidakseimbangan hormonal dan timbulnya stomatitis aftosa.


3) Emosi dan stress mental
4) Hipovitaminaosis
Kadar vitamin C dalam darah penderita stomatitis aftosa umumnya
rendah.
5) Virus
b. Gambaran klinis
1) Gejala subyektif : rasa nyeri yang tidak sesuai dengan besarnya
sariawan mulut. Rasa nyeri bila daerah mukosa oris sekitar afthae ini
tertarik oleh salah satu pergerakan sewaktu mengunyah rasa nyeri mulai
berkurang setelah 14 hari, bila erosi mulai tertutup oleh sel epitel baru.
Stomatitis aftosa ini tidak pernah menimbulkan gejala demam.
2) Gejal objektif : tampak beberapa erosi yang berwarna putih kekuningan,
dilihat dari samping cekung dengan diameter 2-10 mm, jika dilihat dari
atas bentuknya bulat lonjong. Sekitar erosi tersebut terlihat satu (zone)
yang berwarna lebih merah dari mukosa oris. Penyembuhan kira-kira satu
bulan dan hampir tidak meninggalkan jaringan parut.
c.

Penatalaksanaan :

Harus disertai dengan terapi penyakit penyebabnya.

Selain

diberikan emolien topical, seperti orabase, pada kasus yang ringan


dengan 2-3 lesi ulserasi minor. Pada kasus yang lebih berat dapat
diberikan kortikosteroid, seperti triamsinolon atau fluosinolon topical,
sebanyak 3 atau 4 kali sehari setelah makan dan menjelang tidur.
Pemberian tetrasiklin dapat diberikan untuk mengurangi rasa nyeri dan
jumlah ulserasi. (Arif Mansjur, 2000).
2.

Stomatitis HERPETIKA.
Stomatitis ini disebabkan oleh virus herpes simpleks. Mula-mula
timbul sebagai gelombang air yang kecil yang ditemukan disekitar mulut,
palatum, kadang-kadang lidah. Lesinya selalu multiple dan biasanya
berlangsung selama 8-10 hari. Gelembung air pecah sedang atap
gelembung menutupi erosi yang terjadi sebagai selaput putih sehingga
mirip stomatitis aftosa. Setelah atap gelembung hilang, daerah itu tidak
lagi putih.

a.

Manifestasi klinis :
Gejala yang muncul adalah gejala prodromal diikuti timbulnya
vesikel-vesikel kecil berdiameter 1-3 mm yang berkelompok sebesar 1-2
cm pada bibir, lesi pada intra oral sama dengan lesi yang muncul pada
bibir, tapi sangat cepat pecah sehingga membentuk ulserasi. Lesi akan
bertambah besar dan menyebar ke mukosa disekitarnya, pada daerah
yang mengandung sedikit keratin, seperti mukosa rongga mulut, mukosa

bibir, dan dasar rongga mulut, penyakit ini akan sembuh dalam 1-2
minggu. Biasanya stomatitis ini sering di sertai demam.
b.

Penatalaksanaan :
Tergantung keluhan pasien pemberian asiklovir 5 x 2 mg dapat
diberikan sebagai profilaksis bukan saat penyakit ini kambuh jika
pasiennya anak-anak maka jangan memberikan anak makanan yang
mengandung bumbu-bumbu dan asam. Misalnya, jus jeruk, dan hindari
pemakaian obat kumur. Ibu bisa memberikan petroleum jelly tau pasta
anastetikom yang dioleskan dengan kapas pada daerah yang sakit untuk
menghilangkan rasa sakit (Arif Mansjur, 2000).

3.

KANDIDIASIS ORAL
Kandidiasis oral sering disebut dengan oral trush atau moniliasis,
oral trush adalah adanya bercak putih pada lidah, langit-langit dan pipi
bagian dalam bercak tersebut sulit untuk dihilangkan dan bila di paksa
untuk di ambil maka akan mengakibatkan perdarahan, oral trush ini sering
terjadi pada masa bayi yang minum susu formula atau ASI (Nursalam
dkk, 2005)
Penyebab oral trush pada umumnya adalah candida albicans yang
di tularkan melalui vagina ibu yang terinfeksi selam persalinan (saat bayi
baru lahir), jamur ini terdapat dalam mulut sebagai flora saprofit dalam
jumlah kecil. Oleh sebab-sebab tertentu misalnya pemakaian antibiotika
spectrum luas, yang membasmi kuman lain dalam mulut, candida ini
dapat berkembang biak dengan memperbanyak diri dengan spora yang

tumbuh dari tunas dan lebih mudah mengadakan invasi dan memasuki
jaringan atau transmisi melalui botol susu dan puting susu yang tidak
bersih.
a.

Gambaran klinis :
Banyak terdapat pada bayi dan anak kecil, setelah pemberian
antibiotika peroral berupa bercak putih pada mukosa yang tampak seperti
sisa-sisa susu atau melg beslag. Mulanya berupa bintik-bintik putih yang
menyerupai stomatitis aftosa, kemudian berkonfluensi dan akhirnya
menjadi satu. Bercak kecil, putih dan bulat ini menyebabkan rasa sakit
terutama pada waktu makan. Moniliasis dapat menyebar ke esofagus
yang menimbulkan rasa sakit di dada dan sakit di waktu makan.

b.

Tanda tanda stomatitis

1) Tidak mau makan / minum


2) Ada bercak putih pada lidah
3) Ada bercak putih pada langit-langit
4) Ada bercak putih pada pipi bagian dalam
5) Timbul luka (ulserasi)
6) Nyeri

c.

Penatalaksanaan :

1) Cuci tangan sebelum dan sesudah merawat bayi


2)

Untuk perawatan mulut bayi, bersihkan lebih dulu dengan jari yang
dibungkus (kain bersih / kasa) yang telah dibasahi dengan larutan garam.

3)

Oleskan gentian violet 0,25 % pada mulut dengan kapas lidi atau
mycostatin (oral mycostatin) 4x sehari atau tiap 6 jam sebanyak 1cc
selama 1 minggu atau sampai gejala menghilang.

4)

Atau diberi obat oral nistatin 3 x 100.000 U untuk sehari, ditanam dalam
mulut baru ditelan, pemberian nistatin tidak boleh bersama dengan obat
lain (Ngastiyah, 1997).

d.

Cara perawatan dot dan botol :


Botol dan dot bayi dicuci bersih dan diseduh dengan air mendidih
atau direbus mendidih (jika botol tahan direbus) sebelum dipakai atau
setelah dipakai dot dicuci bersih dan disimpan kering, selanjutnya jika
akan dipakai direbus diair yang telah mendidih selama 3 menit atau paling
tidak diseduh di air mendidih (Ngastiyah, 2005).
3 Komplikasi terjadinya oral trush :

1.

Pada bayi baru lahir jika stomatitis tidak diobati akan menyebabkan
kesukaran

minum

(menghisap

dot

putting

susu)

dan

dapat

mengakibatkan kekurangan makanan.


2.

Jika stomatitis tersebut disebabkan oleh jamur dapat menyebabkan bayi


diare karena jamur tertelan dan menimbulkan infeksi usus yang bila tidak
diobati dapat menjadi penyebab dehidrasi (Ngastiyah,1997).

Konsep Oral Hygiene


1 Pengertian
Oral hygiene (kebersihan mulut) adalah melaksanakan kebersihan
rongga mulut, lidah dari semua kotoran / sisa makanan dengan
menggunakan kain kasa atau kapas yang dibasahi dengan air bersih (Eni
Kusyati, 2006).
Oral hygiene (kebersihan mulut) merupakan salah satu upaya untuk
mencegah timbulnya berbagai masalah dimulut serta untuk menghindari
pertumbuhan bakteri dan jamur dimulut (Ngastiyah, 1997).
Oral hygiene merupakan tindakan untuk membersihkan dan
menyegarkan mulut, gigi dan gusi (Clark, 2005).
Prosedur untuk melakukan oral hygiene atau cara untuk menghindari
pertumbuhan bakteri dan jamur, dapat dilakukan perawatan pada mulut
bayi dengan cara sebagai berikut :
1.

Setiap bayi selesai minum susu, berikan 1 -2 sendok teh air matang
untuk membilas sisa susu tersebut.

2.

Sisa susu yang berupa lapisan endapan putih tebal pada lidah bayi ini
dapat dibersihkan dengan kapas lidi yang dibasahi dengan air hangat
(Nursalam dkk, 2005).
Tujuan dilakukan oral hygiene (kebersihan mulut) adalah sebagai
berikut:

1. Agar mulut tetap bersih / tidak berbau


2. Mencegah infeksi mulut, bibir dan lidah pecah pecah, stomatitis

3. Membantu merangsang nafsu makan


4. Meningkatkan daya tahan tubuh
5. Melaksanakan kebersihan perorangan
6. Merupakan suatu usaha pengobatan
2 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Oral Hygiene
Menurut Perry dan Potter, (2005) factor yang mempengaruhi
personal hygiene, adalah :
a.

Status social-ekonomi
Sumber daya ekonomi seseorang mempengaruhi jenis dan tingkat praktik
kebersihan yang digunakan. Hal ini berpengaruh terhadap kemampuan
klien menyediakan bahan-bahan yang penting seperti pasta gigi.

b. Praktik social
Kelompok-kelompok

sosial

wadah

seseorang

berhubungan

dapat

mempengaruhi praktek higiene pribadi. Selama masa kanak-kanak, anakanak mendapatkan praktik oral hygiene dari orang tua mereka.
c.

Pengetahuan
Pengetahuan yang kurang dapat membuat orang enggan memenuhi
kebutuhan hygiene pribadi. Pengetahuan tentang pentingnya oral hygiene
dan implikasinya bagi kesehatan mempengaruhi praktik oral hygiene.
Kendati demikian, pengetahuan itu sendiri tidaklah cukup. Klien juga
harus termotivasi untuk melakukan oral hygiene.

d. Status kesehatan

Klien paralisis atau memiliki restriksi fisik pada pada tangan mengalami
penurunan kekuatan tangan atau ketrampilan yang diperlukan untuk
melakukan hygiene mulut (Phipp, 1995).
e.

Cacat jasmani/mental bawaan.


Kondisi cacat dan gangguan mental menghambat kemampuan individu
untuk melakukan perawatan diri secara mandiri.
3 Akibat Tidak Dilakukannya Oral Higyene

a.

Masalah umum
1) Karries gigi
Karries gigi merupakan masalah umum pada orang muda, perkembangan
lubang merupakan proses patologi yang mellibatkan kerusakan email gigi
dikarenakan kekurangan kalsium.
2) Penyakit periodontal
Adalah penyakit jaringan sekitar gigi, seperti peradangan membran
periodontal.
3) Plak
Adalah transparan dan melekat pada gigi, khususnya dekat dasar
kepala gigi pada margin gusi.
4) Halitosis
Merupakan bau napas, hal ini merupakan masalah umum rongga mulut
akibat hygiene mulut yang buruk, makanan tertentu atau proses infeksi.
Hygiene mulut yang tepat dapat mengeliminasi bau kecuali penyebabnya
adalah kondisi sistemik seperti penyakit liver atau diabetes.

5) Keilosis
Merupakan gangguan bibir retak, terutama pada sudut mulut. Defisiensi
vitamin, nafas mulut, dan salivasi yang berlebihan dapat menyebabkan
keilosis.
b. Masalah mulut lain
1) Stomatitis
Kondisi peradangan pada mulut karena kontak dengan pengiritasi,
defisiensi vitamin, infeksi oleh bakteri, virus atau jamur atau penggunaan
obat kemoterapi.
2) Glosisitis
Peradangan lidah hasil karena infeksi atau cidera, seperti luka bakar atau
gigitan.
3) Gingivitis
Peradangan gusi biasanya akibat hygiene mulut yang buruk, defisiensi
vitamin, atau diabetes mellitus. Perawatan mulut khusus merupakan
keharusan apabila klien memiliki masalah oral ini. Perubahan mukosa
mulut yang berhubungan dengan mudah mengarah kepada malnutrisi.

4 Hubungan Oral Hygiene Dengan Stomatitis


Mulut merupakan rongga yang tidak bersih dan penuh dengan
bakteri oleh sebab itu harus selalu dibersihkan (Wahit Iqbal, 2008). Oral
hygiene (kebersihan mulut) merupakan salah satu upaya untuk
mencegah timbulnya berbagai masalah dimulut serta untuk menghindari

10

pertumbuhan bakteri dan jamur di mulut. Adanya sisa susu atau ASI
dalam mulut bayi setelah minum juga dapat menyebabkan masalah serta
berkembangbiaknya bakteri dan jamur (Ngastiyah, 2005).
Masalah mulut yang sering terjadi pada bayi adalah stomatitis (oral
trush) dimana oral trush itu disebabkan oleh candida albican yang bersifat
saprofit yang dapat berkembang biak dengan memperbanyak diri dengan
spora yang tumbuh dari tunas dan lebih mudah mengadakan invasi dan
memasuki jaringan terutama pada sudut mulut (Siregar, 2004).
Untuk itu kebersihan mulut pada bayi perlu dijaga karena untuk
menjaga infeksi berulang / stomatitis berulang yaitu dengan cara
melakukan oral hygiene pada bay
gfgnjfgmmnsss

11

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Pengertian Stomatitis


Stomatitis merupakan istilah untuk menerangkan berbagai macam lesi
yang timbul di rongga mulut. Gejalanya berupa rasa sakit atau rasa terbakar satu
sampai dua hari yang kemudian bisa timbul luka (ulser) di rongga mulut. Rasa
sakit dan rasa panas pada stomatitis ini membuat kita susah makan dan minum.
Sehingga pasien dengan stomatitis datang ke dokter gigi dalam keadaan lemas.
Stomatitis biasanya berupa bercak putih kekuningan dengan permukaan agak
cekung, dapat berupa bercak tunggal maupun bercak kelompok.1,2
Walaupun stomatitis memang bukan penyakit yang mematikan, namun
jika penyakit ini terjadi di dalam mulut, maka akan sangat menyiksa
penderitanya. Mulut terasa nyeri, tidak nyaman dan di dalamnya muncul lukaluka yang terbuka, sehingga sangat tidak nyaman jika luka tersebut disentuh oleh
makanan atau benda asing yang masuk ke dalam mulut. Kondisi tersebut
menyebabkan penderita sulit makan dan bicara. Apalagi, bila penyakit di rongga
mulut ini menimbulkan komplikasi berupa selulitis (radang sel) mulut akibat
infeksi bakteri sekunder sariawan, infeksi dental (abses gigi) dan kanker mulut.4
Stomatitis dikatakan sering kambuh jika dalam sebulan 2-3 kali. Proses
penyembunhannya juga cukup lama, rata-rata 7-9 hari atau sampai 2 minggu.
Masyarakat awam kebanyakan menganggap bahwa stomatitis diakibatkan
karena kekurangan vitamin C. Maka dari itu, ketika penyakit tersebut menyerang,

12

banyak yang langsung berusaha menyembuhkannya dengan mengkonsumsi


vitamin C. Baik vitamin C dalam bentuk tablet, hisap, telan, effervescent (tablet
yang dilarutkan), dan lain sebagainya dalam takar berlebih. Pemahaman semacam
ini tidak selamanya benar, sebab stomatitis bisa terjadi akibat beberapa faktor,
misalnya trauma. Trauma bisa terjadi pada saat makan, di mana proses
pengunyahan bahan makanan yang padat atau keras berikbat pada rusaknya
jaringan lunak rungga mulut. Stomatitis yang disebabkan karena trauma biasanya
sembuh sendiri tanpa pengobatan. Selain trauma, beberapa infeksi bisa menjadi
penyebab timbulnya stomatitis seperti herpes simpleks, tuberculosis (TBC),
hingga infeksi karena HIV/AIDS. Selain itu, stomatitis dapat juga diakibatkan
munculnya penyakit sistemik.4

II.2 Jenis-jenis Stomatitis


Setelah kita membahas pengertia dari stomatitis, selanjutnya kita akan
membahas tentang pembagian dari stomatitis. Secara garis besar stomatitis
terbagi atas:
1. Stomatitis Apthous
Yaitu sariawan yang terjadi akibat tergigit atau luka akibat benturan
dengan sikat gigi. Bila kuman masuk dan daya tahan tubuh anak sedang turun,
maka bisa terjadi infeksi, timbul peradangan dan melahirkan rasa sakit atau nyeri.
Stomatitis jenis ini dibagi atas dua jenis yaitu akut dan kronis.5,6
-

Stomatitis akut
Stomatitis akut adalah stomatitis yang disebabkan oleh trauma akibat sikat
gigi, tergigit, dan sebagainya. Bila dibiarkan saja stomatitis ini akan
sembuh dengan sednirinya dalam beberapa hari.

Stomatitis kronis

13

Stomatitis kronis adalah stomatitis yang disebabkan xerostomia (mulut


kering). Jenis ini jika dibiarkan akan sulit sembuh.5
Stomatitis

apthous

yang

sifatnya

rekuren

dapat

diklasifikasikan

berdasarkan karakteristik klinis yaitu ulser minor, ulser mayor, dan ulser
hipertiform:
-Rekuren Apthous Stomatitis Minor
Sebagian besar pasien (80%) yang menderita bentuk minor (MIRAS,
ditandai dengan ulser berbentuk bulat atau oval dan dangkal dengan diameter
yang kurang daro 5 mm serta pada bagian tepinya terdiri dari eritematous.
Ulserasi bisa tunggal ataupun merupakan kelompok yang terdiri atas empat atau
lima.

Gambar 1: Recurrent Apthous Stomatitis Minor


Sumber : http://bestpractice.bmj.com/bestpractice/monograph/564/resources/image/bp/1.html

Frekuensi RAS lebih sering pada laki-laki daripada wanita dan mayoritas
penyakit terjadi pada usia antara 10 dan 30 tahun. Pasien dengan MIRAS

14

mengalami ulserasu yang berulang dan lesi individual dpapat terjadi dalam
jangka waktu yang pendek dibandingkan dengan tiga jenis yang lain. Ulser ini
sering muncul pada mukosa non-keratin. Lesi ini didahului dengan rasa terbakar,
gatal, atau rasa pedih dan adanya pertumbuhan macula eritematous. Klasiknya,
ulserasi berdiameter 3 sampai 10 mm dan sembuh tanpa luka dalam 7 sampai 14
hari.
-

Rekuren Apthous Stomatitis Major


Rekuren aphtous stomatitis major (MARAS), yang diderita kira-kira 10%

dari penderita RAS dan lebih hebat dari MIRAS. Secara klasik, ulser ini
berdiameter kira-kira 1-3 cm dan berlangsung 4 minggu termasuk daerah-daerah
yang berkeratin. Tanda adanya ulser seringkali dilihat pada MARAS. Jaringan
parut terbentukkarena keparahan dan lamanya lesi terjadi.

Gambar 2: Recurrent Apthous Stomatitis Mayor


Sumber : http://dentosca.wordpress.com/2011/04/08/recurrent-aphthousstomatitis-ras/

15

Rekuren apthous stomatitis major lebih besar disbanding MIRAS dan


terjadi dalam jangkan waktu yang panjang. Awal dari MARAS terjadi setelah
masa puberty dan akan terus menerus hingga 20 tahun atau lebih.

Hipertiformis Apthous Stomatitis


Istilah herpertiformis digunakan karena bentuk klinis HU (yang dapat

terdiri dari atas 100 ulser kecil pada satu waktu) mirip dengan gingivostomatitis
herpetic primer tetapi virus-virus herpes tidak mempunyai peranan dalam
etioologi HU atau dalam setiap bentuk ulserasi aptosa.

Gambar 3: Herpertiformis Apthous Stomatitis


Sumber : http://dentosca.wordpress.com/2011/04/08/recurrent-aphthousstomatitis-ras/

Herpertiformis apthous stomatitis menunjukkan lesi yang besar dan


frekuensi terjadinya berulang. Pada beberapa individu, lesi berbentuk kecil dan
berdiameter rata-rata 1 sampai 3 mm.

16

Etiologi yang utama dari RAS adalah faktor keturunan. Faktor ini
mempunyai pengaruh yang cukup besar, karena itu bila dalam satu keluarga ada
yang memiliki sariwan maka anggota lainnya biasanya juga terkena. Adanya
peningkatan terjadinya RAS pada anak dengan orang tua yang positif RAS.

2. Oral thrush/moniliasis
Yaitu Sariawan yang disebabkan jamur candidas albican, biasanya
banyak dijumpai di lidah. Pada keadaan normal, jamur memang terdapat
dalam mulut. Namun, saat daya tahan tubuh anak menurun, ditambah
penggunaan obat antibiotika yang berlangsung lama atau melebihi jangka
waktu pemakaian, jamur Candida Albican tumbuh lebih banyak lagi.7

3. Stomatitis herpetic
Yaitu sariawan yang disebabkan virus herpes simplek dan berlokasi di
bagian belakang tenggorokan. Sariawan di tenggorokan boasanya langsung
terjadi jika ada virus yang sedang mewabah dan pada saat itu daya tahan
tubuh sedang rendah, sehingga system imun tidak dapat mentralisir /
mengatasi virus yang masuk sehingga terjadilah ulser.8
II.3 Faktor Penyebab Terjadinya Stomatitis
Sampai saat ini penyebab utama dari Sariawan belum diketahui. Namun
para ahli telah menduga banyak hal yang menjadi penyebab timbulnya sariawan
ini, diantaranya adalah :9
1. Faktor General antara lain :
-

Hormonal maupun penyakit sistemik

17

Stres

2. Faktor Lokal antara lain :


-

Overhang tambalan atau karies, protesa (gigi tiruan)

Luka pada bibir akibat tergigit/benturan

Defisiensi (kekurangan) vitamin B12 dan zat besi

Infeksi virus dan bkteri juga diduga sebagai pencetus timbulnya stomatitis
ini. Ada pula yang mengatakan bahwa stomatitis merupakan reakasi imunologik
abnormal pada rongga mulut. Sedangkan yang cukup sering terjadi pada kita,
terutama warga kota yang sibuk, adalah stres. Faktor psikologis ini (stres) telah
diselidiki berhubungan dengan timbulnya stomatitis.9
Selain itu, faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya stomatitis
adalah sebagai berikut :
1. Trauma
Terdapat beberapa fakta yang menunjukkan bahwa trauma pada bagian
dalam rongga mulut dapat menyebabkan RAS. Dalam banyak kasus, trauma ini
disebabkan masalah-masalah yang sangat sederhana. Trauma merupakan salah
satu faktor yang dapat menyebabkan ulser teruatama pada pasien yang
mempunyai kelainan tetapi kebanyakan RAS mempunyai daya perlindungan
yang rlatif dan mukosa mastikasi adalah salah satu proteksi yang paling umum.10
Faktor lain yang dapat menyebabkan trauma di dalam rongga mulut
meliputi :10
-

Pemakaian gigi tiruan


Rekuren apthous stomatitis disebabkan oleh pemasangan gigi palsu.
Seringkali, gigitiruan yang dipasang secara tidak tepat dapat mengiritasi

18

dan melukai jaringan yang ada di dalam rongga mulut. Masalah yang
sama sering pula dialami oleh porang-orang yang menggunakan gigitiruan
kerangka logam. Logam dapat melukai bagian dalam rongga mulut.
-

Trauma sikat gigi


Beberapa pasien berpikir bahwa ulser terjadi karena trauma pada mukosa
rongga mulut yang disebabkan oleh cara penggunaan dari sikat gigi yang
berlebihan dan cara menyikat gigi yang salah dapat merusak gigi dan
jaringan yang ada di dalam rongga mulut.

Trauma makanan
Banyak jenis makanan yang kita makan dapat menorah, menggores atau
melukai jaringan-jaringan yang ada di dalam rongga mulut dan
menyebabkan terjadinya RAS. Contohnya adalah keripik kentang, kue
kering yang keras, apel dan setelah mengunya permen keras.

Prosedur Dental
Prosedur dental dapat mengiritasi jaringan lunak mulut yang tipis dan
menyebabkan RAS. Terdapat informasi bahwa hanya dengan injeksi
novacaine dengan jarum dapat menyebabkan timbulnya RAS beberapa
hari setelah dilakukan penyuntikan.

Menggigit bagian dalam mulut


Banyak orang menderita luka di daam mulutnya karena menggigit bibir
dan jaringan lunak yang ada di dalam rongga mulut secara tidak sengaja.
Sering kali, hal ini dapat menjadi sebuah kebiasaan yang tidak disadari
atau dapat terjadi selama tidur dan luka juga disebabkan oleh tergigitnya
mukosa ketika makan dan tertusuk kawat gigi sehingga dapat
menimbulkan ulser yang mengakibatkan RAS. Luka gigit pada bibir atau
lidah akibat susunan gigi yang tidak teratur.

19

2. Infeksi
Tidak terdapat fakta yang menunjukkan bahwa stomatitis secara langsung
disebabkan oleh mikroba karena hanya sebagian kecil yang disebabkan oleh
infeksi silang dari Streptococci. Biasanya, untuk mencegah infeksi rongga mulut
dapat digunakan providone-iodine (obat kumur).11
Namun pada dasarnya, providone-iodine merupakan iodine kompleks
yang

berfungsi

sebagai

antiseptic.

Povidone-iodine

mapu

membunuh

mikroorganisme seperti jamur, bakteri, virus, protozoa, dan spora bakteri. Tak
heran agen ini berguna untuk terapi infeksi yang berkaitan dengan makhlukmakhluk renik tesebut. Selain sebagai obat kumur (mouthwash) yang digunakan
setelah gosok gigi, povidone-iodine gargle memang digunakan untuk mengatasi
infeksi-infeksi mulut dan tenggorokan, seperti gingivitis (inflamasi di gusi) dan
tukak mulut (sariawan).11

3. Abnormalitas Imunologi
Abnormalitas imonologi kemungkinan juga dapat menybabkan ulser.
Sirkulasi antibody diduga berhubungan dengan keadaan mukosa dari rongga
mulut. Dimana antibody tersebut bergantung pada mekanisme sitoksik atau
proses penetralisir racun yang masuk ke dalam tubuh. Sehingga jika system
immunologi mengalami abnormalitas, maka dengan mudah bakteri ataupun virus
menginfeksi jaringan lunak disekitar mulut.11

4. Penyakit Gastrointestinal
Walaupun diketahui bahwa ulser dapat menyebabakn penderitan sukar
mencerna makanan, namun hal tersebut jarang dihubungkan dengan penyakit
20

gastrointestinal. Tetapi lebih sering dihubungkan dengan defisiensi vitamin B12.


Akan tetapi, ditemukan bahwa 5% psien dengan penyakit tersebut disebabkan
oleh penyakit gastrointestinal.11

5. Defisiensi Hematologi
Pasien dengan RAS yang disebabkan oleh defisiensi vitamin B12, folat
atau besi mencapai 20%. Seperti frekuensi defisiensi pada pasien awalnya akan
menjadi lebih buruk pada pertengahan usia. Banyak pasien yang defisiensinya
tersembunyi, hemoglobin dengan batasan normal dan cirri utama adalah
mikrositosis atau makrositosis pada sel darah merah. Defisiensi hematologi juga
dapat disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 atau folat.11

6. Faktor Hormonal
Pada umumnya penyakit stomatitis banyak menyerang wanita, khususnya
terjadi pada fase stres dengan sirkulasi menstruasi. Dalam sebuah penlitian,
ditemukan kadar hormone progesterone yang lebih rendah dari normal pada
penderita RAS. Sementara kadar hormone Estradiol, LH, Prolaktin, FSH pada
kedua group adalah normal. Pada wawancara didapat adanya riwayat anggota
keluarga yang mengalami RAS pada kelompok penderita dibandingkan bukan
penderita RAS (5% versus 10%, p=0,002). Dari penelitian tersebut dapat
disimpukan bahwa penderita RAS pada umumnya mempunyai kadar hormone
progesterone yang lebih rendah dari normal dan ada salah satu keluarganya yang
menderita RAS.11
7. Stres
Faktor stres dapat memicu terjadinya stomatitis sebab stres

dapat

mengganggu proses kerja dari tubuh sehingga mengganggu proses metabolism

21

tubuh dan menyebabkan tubuh rentan terhadap serangan penyakit, tidak hanya
kejadian stomatitis bahkan gangguan-gangguan lainnya dapat dapat dipicu oleh
stres.11
Biasanya pasien mengalami ulser pada saat stres dan beberapa fakta
menunjukkan hal tersebut. Namun, stres sulit untuk diukur dan beberapa
penelitian belum dapat menemukan hubungan antara sters dengan munculnya
ulser. Faktor psikologis (seperti emosi dan stres) juga merupakan faktor penyebab
terjadinya stomatitis.12

8. Infeksi HIV
Stomatitis dapat digunakan sebagai tanda adanya infeksi HIV, dimana
stomatitis memiliki frekuensi yang lebih tinggi pada keadaan defisiensi imun,
seperti yang telah dibahas sebelumnya. Namun infeksi akibat virus HIV biasanya
menunjukkan tanda klinis yang sangat jelas. Dimana jaringan sudah parah.11
Infeksi oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan
infeksi kronik, yang memiliki 2 pola pada anak, yaitu :11
-

Pola pertama adalah yang didapati pada bayi dan anak-anak akibat
penularan prenatal.

Pola kedua adalah pada remaja melalui perilaku risiko tinggi seperti orang
dewasa.

9. Kebiasaan merokok
Kelainan stomatitis biasanya terjadi pada pasien yang merokok. Bahkan
dapat terjadi ketika kebiasaan merokok dihentikan.11,12

22

II.2 Penanganan Stomatitis


Pada umumnya stomatitis dapat sembuh dengan sendirinya, kecuali
stomatitis yang disebabkan jamur karena harus diobati dengan obat anti jamur.
Biasanya butuh waktu penyembuhan sekitar seminggu. Jika tak diobati, bisa
berkelanjutan. Walaupun tidak sampai menyebar ke seluruh tubuh dan hanya
disekitar mulut, akan tetapi stomatitis

yang diakibatkan oleh jamur segera

diobati. Sebab jika jamur ikut tertelan, sangat mungkin terjadi diare.11,13
Pengobatan untuk menyembuhkan stomatitis secara umum ada dua,
yaitu :13
-

Dengan menghilangkan penyebabnya seperti anemia, avitaminosis


(kekurangan vitamin dan mineral) dan infeksi berat.

Dengan menghindarkan penyebab seperti kebiasaan merokok, bumbu


masak yang merangsang, makan makanan panas, serta selalu menjaga
kebersihan gigi dan mulut.
Pengobatan secara local di mulut biasanya dengan memakai obat-obatan

yang diminum atau yang dikumur sehingga mengurangi keluhan penderita. Ada
sifat unik dari jaringa mulut yang memudahkan proses penyembuhan stomatitis
tetapi juga rentan untuk kambuh kembali yakni banyaknya pembuluh darah.
Sering terkena trauma/ perlukaan, dan terdapat sel-sel yang daya regenerasinya
cepat.13
Dengan mengetahui penyebabnya, diharapkan kita dapat menghindari
timbulnya stomatitis ini, diantaranya dengan menjaga kebersihan rongga mulut
serta mengkonsumsi nutrisi yang cukup, terutama yang mengandung vitamin B12
dan zat besi. Juga selain itu, menghindari stres. Namun bila ternyata stomatitis
timbul, maka dapat mencoba denga kumur-kumur air garam dan pergi ke dokter

23

gigi untuk meminta obat yang tepat. Hal tersebut untuk menghindari kita dari
mengkonsumsi obat yang salah.13
Pengobatan sebaiknya diberika berdasarkan faktor penyebabnya. Dengan
tujuan menghindari efek samping dai obat tersebut, apakah obat tersebut bersifat
karsinogenik, atau merangsang kanker13.
Apabila telah diberi obat dan berkumur dengan obat kumur, anak tidak
juga sembuh, maka harus dicari penyebab lain. Mungkin karena jumlah kuman
bertambah, dosis pemakaian obat kurang, atau akibat mengunyah terjadi lagi
trauma baru di lidah. Bisa juga lantaran daya tahan tubuh anak memang randah
atau karena kebersihan mulut dan gigi tidak terjaga.13
Selain cara penanganan stomatitis yang telah dibahas diatas ada beberapa
bentuk penanganan lain yaitu sebagai berikut :13
-

Sebelum tidur, daerah yang mengalami stomatitis diolesi kenalog (sejenis


salep untuk sariawan) ditambah minum suplemen vitamin C cair.

Olesi bagian yang terkena stomatitis dengan madu, namun hati-hati dalam
mengkonsumsi madu, karena jika kelebihan madu dapat menyebabkan
panas dalam.

Timbulnya sariawan bisa jadi karena pertanda akan sakit flu, oleh karena
itu disarankan mengkonsumsi vitamin C 1000mg agar tidak terkena sakit
flu.

Gunakan pasta gigi yang dapat meringankan sariawan.

Perbanyaklah minum jus tomat, karena dapat mengurangi pembesaran


dari stomatitis dan mengurangi gejala klinisnya.

Minum the bunga teratai/chyrantenum, teh ini juga sangat efektif untuk
mengobati panas dalam.

24

Hindari gejala stres dan kecapekan, karena dapat menimbulkan dan


memperparah gejala stomatitis.

Gejala stomatitis dapat juga dihilangkan dengan berkumur air rebusan


daun saga.

Minumlah air kacang hijau setiap pagi. Kacang hijaunya tidak direbus tapi
hanya diseduh dengan air panas sampai airnya warna hijau baru diminum
ditambah denga gula sedikit agar rasanya lebih enak.

Gunakan obat-obatan yang dapat meredakan gejala stomatitis.

II.5 Pengertian Kebutaan


Ketajaman penglihatan (visus) seseorang dapat diukur, secara subjektif,
dengan Optotype, ialah lembar papan yang memuat / huruf atau tanda-tanda lain.
Bila seseorang tidak mampu menyebutkan huruf atau gambar pada papan
Optotype itu

maka dinyatakan orang itu tergolong low vision. Pengukuran

visusnya dengan cara mengenal jari (finger counting) dan tangan (hand
movement) dari pemeriksa, maka diminta mengenal pacuan sinar yang biasanya
digunakan lampus senter.14,16
Departemen Kesehatan telah menetapkan batasan dari kebutaan, ialah
golongan social blind bila visusnya finger counting jarak satu meter (visus =
1/60) dan medical ophthahmological blind bila tidak ada persepsi sinar. (visus =
nol)16
Tunanetra itu sendiri adalah seseorang yang memiliki hambatan dalam
penglihatan atau tidak berfungsinya indera penglihatan.16

II.6 Kondisi Psikologi Tunanetra

25

Seseorang yang mempunyai kecacatan biasanya disebut dengan kondisi


luar biasa. Pada umumnya, yang termasuk dalam kondisi luar biasa adalah
seseorang atau individu yang mengalami cacat baik jasmani maupun rohani, yang
berupa kelainan fisik, mental, ataupun sosial, sehingga mengalami hambatan
dalam mencapai tujuan-tujuan atau kebutuhan dalam hidupnya. 15
Seorang tunanetra, dalam kondisinya yang khusus atau luar biasa dengan
berbagai kesulitannya, sering menghadapi berbagai masalah karena hambatan
dalam fungsi penglihatannya.15
Menurut Sukini Pradopo (1976) terdapat beberapa gambaran sifat anak
tunanetra diantaranya ialah ragu-ragu, rendah diri, dan curiga pada orang lain.
Sedangkan Sommer(dalam Somantri, 2005) mengatakan bahwa anak tunanetra
cenderung memiliki sifat-sifat takut yang berlebihan, menghindari kontak sosial,
mempertahankan diri dan menyalahkan orang lain, serta tidak mengakui
kecacatannya.16
Hasil penelitian El-Gilany dan kawan-kawan (2002) terhadap 113 orang
dengan gangguan penglihatan di Mesir menunjukkan bahwa meskipun 90,3%
sampel mempersepsikan masyarakat sebagai suportif dan memuaskan, namun
mayoritas dari sampel memandang diri mereka sebagai tidak mampu/disable
(71,7%), meragukan kemampuan diri sendiri (78,8%), dan tidak puas dengan
kehidupan (88,5%).17
Sedangkan penelitian Rosa (1993) menunjukkan bahwa usia terjadinya
kebutaan atau gangguan penglihatan memiliki dampak yang signifikan terhadap
perkembangan afektif individu. Berdasarkan pengamatannya, seseorang yang
buta sejak lahir tetap merasa bahagia dengan ketunanetraannya karena mereka
tidak merasa kehilangan apapun seperti halnya mereka pun tidak punya harapan
tentang apa yang bisa diperoleh dengan melihat. Seseorang yang buta sejak lahir,
hampir secara otomatis menerima keadaan mereka. Sebaliknya dengan orang
yang mengalami kebutaan setelah pernah mampu melihat.19,20

26

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

III.1 Jenis Penelitian


Penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian observasional yaitu
suatu rancangan penelitian dimana mengamati objek tanpa melakukan intervensi
kepada objek tersebut.
III.2 Rancangan Penelitian
Rancangan peneltian berupa penelitian survey yang bersifat analitik yaitu
study retrospektif
III.3 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Panti Tunanetra Yukartuni, Panti Guna Yapti,
dan YPKCNI Makassar
III.4 Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan selama 2 hari, pada tanggal 27-28 Juli 2011.
III.5 Populasi Penelitian

27

Populasi yang ditetapkan adalah penderita tunanetra yang bermukim di


panti Yukartuni, Yapti, dan YPKCNI, Makassar
III.6 Metode Sampling
Total sampling atau quota sampling adalah metode pengambilan sampel
yang berdasarkan suatu jumlah unit sampel tertentu dari kategori berbeda dengan
ciri khas yang ada sehingga semua karakteristik yang ada di populasi diwakili.

III.7 Kriteria Sampel


Sampel adalah penderita kebutaan visual.

III.8 Data
1. Jenis data : Data Primer yaitu data yang diperoleh dari hasil yang diamati
langsung di lapangan.
2. Pengumpulan data : Pengumpulan data diperoleh dari hasil tanya jawab
antara pasien dengan operator berupa anamnesis yang dilakukan pada
pemeriksaan klinik.
3. Penyajian data : Tabel

III.9 Alat dan Bahan


Alat :
-

Alat diagnostic : Untuk melakukan pemeriksaan klinis oral


Neer Beckhen : Untuk menyimpan alat diagnostik
Senter kecil : Membantu jangkauan penglihatan pemeriksaan klinis oral
Alat tulis menulis : Untuk mencatat hasil penelitian

Bahan :

28

Alkohol / Betadine : Untuk sterilisasi alat


Kapas / kasa dan tissue : Untuk membersihkan dan mengeringkan alat

III.10 Definisi Operasional


Stomatitis adalah peradangan yang terjadi pada mukosa mulut, yang
ditandai dengan adanya gejala inflamasi seperti rubor (kemerahan), kalor (panas),
dolor (nyeri), tumor (pembengkakan). Function laesa, serta ditandai dengan
adanya bercak. Bercak dapat berupa bercak tunggal maupun jamak. Stomatitis
dapat menyerang selaput lender pipi bagian dalam, bibir bagian dalam, lidah,
gusi, serta langit-langit dalam rongga mulut.

III.11 Jalannya Penelitian


1. Populasi yang ada dianamnesis terlebih dahulu.
2. Setelah itu dilakukan pemeriksaan secara klinis keterpaparan stomatitis
dan kondisi oral hygiene nya.
3. Setelah data dari pemeriksaan sampel tersebut, sampel dibagi menjadi tiga
kelompok, yaitu:
a. Kelompok I : Usia kebutaan sejak lahir
b. Kelompok II: Usia kebutaan kurang dari satu tahun
c. Kelompok III: Usia kebutaan lebih dari satu tahun
4. Ketiga kelompok tersebut kemudian didata keterpaparan dan riwayat
stomatitisnya.
5. Data yang ada dianalisa berdasarkan pengelompokkannya kemudian
ditarik kesimpulan.

29

III.12 Bagan Rancangan Penelitian

POPULASI

Sampel
yang
Diteliti
Anamnesis
dan
Pemeriksa
an Klinis

Sampel
yang Buta
Sejak Lahir

Sampel
yang Usia
Buta
<1tahun

Sampel
yang Usia
Buta
>1tahun

Keterpapar
an dan
Riwayat
Stomatitis

Keterpapar
an dan
Riwayat
Stomatitis

Keterpapar
an dan
Riwayat
Stomatitis

Analisa

Skripsi

30

BAB IV
HASIL PENELITIAN

Penelitian dilakukan pada panti tunanetra yang terdapat di Makassar,


Sulawesi Selatan, yaitu Panti YPKCNI dan Panti Guna Yapti pada tanggal 27 Juli
2011, kemudian Panti Yukartuni pada tanggal 28 Juli 2011, dengan penyebaran
jumlah sampel yaitu 11 orang di Panti YPKCNI, 33 orang di Panti Guna Yapti,
dan 17 orang di Panti Yukartuni, totalnya menjadi 61 orang sampel. Kemudian
berdasarkan pemeriksaan oral klinis dan wawancara dengan sampel, maka
diperoleh data tabel sebagai berikut :

Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Usia Kebutaan


No

Usia Kebutaan

Jumlah
N

Sejak Lahir

34

55,74

0 < n < 1 tahun lalu

13,11

n >1 tahun lalu

19

31,15

61

100,0

Total
Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel 1 di atas, diketahui bahwa penderita tunanetra dengan


usia kebutaan sejak lahir sebanyak 34 orang, sedangkan yang usia kebutaannya
kurang dari setahun sebanyak 8 orang, dan yang lebih dari setahun sebanyak 19
orang.

31

Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Keterpaparan Stomatitis


Usia Kebutaan (tahun)
No

Sejak

Keterpaparan

Terpapar

Tidak Terpapar

Lahir

0<n<1

n>1

Jumlah

17,7

12,5

10,5

14,75

28 82,3

87,5 17 89,5

52

85,25

61

100

Total
Sumber : Data Primer

Pada tabel 2 dapat dilihat bahwa responden tunanetra yang buta sejak
lahir terpapar stomatitis sebanyak 6 orang, usia buta kurang satu tahun terpapar
sebanyak 1 orang, dan usia buta lebih dari satu tahun sebanyak 2 orang. Secara
keseluruhan, jumlah responden tunanetra yang terpapar stomatitis sebanyak 9
orang.

Tabel 3. Distribusi Keadaan Stomatitis


No

Keadaan Stomatitis

1
2

Jumlah
N

Tunggal

33,33

Multiple

66,67

100,0

Total
Sumber : Data Primer

Pada tabel 3, dapat diketahui bahwa keadaan stomatitis yang terpapar


pada saat penelitian dilakukan memiliki keadaan tunggal sebanyak 3 orang, dan
multipel sebanyak 6 orang.

32

Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Oral Higiene


Usia Kebutaan (tahun)
No

Sejak

Derajat OHIs

Lahir
N

0<n<1

Jumlah

n>1

Baik (0 - 1)

12 35,3

25

47,4

23

37,70

Sedang (1,1 - 3)

20 58,8

75 10 52,6

36

59,02

Buruk (3,1 - 6)

3,28

61

100

5,9

Total
Sumber : Data Primer

Pada tabel 4 dapat dilihat bahwa responden tunanetra yang buta sejak
lahir memiliki oral higiene baik sebanyak 12 orang, usia buta kurang satu tahun
sebanyak 2 orang, dan usia buta lebih dari satu tahun sebanyak 9 orang.
Responden

tunanetra yang buta sejak lahir memiliki oral higiene sedang

sebanyak 20 orang, usia buta kurang satu tahun sebanyak 6 orang, dan usia buta
lebih dari satu tahun sebanyak 10 orang. Responden tunanetra yang buta sejak
lahir memiliki oral higiene buruk sebanyak 2 orang, usia buta kurang satu tahun
tidak ada, dan usia buta lebih dari satu tahun tidak ada. Secara keseluruhan,
jumlah responden tunanetra yang memiliki oral higiene baik sebanyak 23 orang,
sedang sebanyak 36 orang, buruk sebanyak 2 orang.

Tabel 5. Distribusi Responden Berdasarkan Frekuensi Terjadinya Stomatitis


Usia Kebutaan (tahun)
No

Frekuensi Terjadinya

Sejak

Stomatitis

Lahir

Lebih dari sekali sebulan

0<n<1

Jumlah

n>1

5,9

50

9,84

33

Sebulan sekali

5,9

25

10,5

9,84

Setahun sekali

20,6

25

21,1

13

21,31

Saat tertentu saja

23 67,6

13 68,4

36

59,01

61

100

Total
Sumber : Data Primer

Pada tabel 5 dapat dilihat bahwa responden tunanetra yang buta sejak
lahir mengalami stomatitis lebih dari sekali dalam sebulan sebanyak 2 orang, usia
buta kurang satu tahun sebanyak 4 orang, dan usia buta lebih dari satu tahun tidak
ada. Responden tunanetra yang buta sejak lahir mengalami stomatitis sebulan
sekali sebanyak 2 orang, usia buta kurang satu tahun sebanyak 2 orang, dan usia
buta lebih dari satu tahun sebanyak 2 orang. Responden tunanetra yang buta sejak
lahir mengalami stomatitis setahun sekali sebanyak 7 orang, usia buta kurang satu
tahun 2 orang, dan usia buta lebih dari satu tahun sebanya 4 orang. Responden
tunanetra yang buta sejak lahir mengalami stomatitis saat tertentu

saja

( disebabkan oleh faktor eksternal) sebanyak 23 orang, usia buta kurang satu
tahun tidak ada, dan usia buta lebih dari satu tahun sebanya 13 orang. Secara
keseluruhan, jumlah responden tunanetra yang mengalami stomatitis lebih dari
sekali dalam sebulan sebanyak 6 orang, sebulan sekali sebanyak 6 orang, setahun
sekali sebanyak 13 orang, dan saat tertentu saja sebanyak 36 orang

.
Tabel 6. Penyebab Terjadinya Stomatitis
Usia Kebutaan (tahun)
No

Penyebab Terjadinya

Sejak

Stomatitis

Lahir

0<n<1

Jumlah

n>1

Defisiensi Nutrisi

Kebiasaan Buruk

Trauma

50

36,8

27

44,26

16 47,1

34

Alergi

11,8

10,6

9,84

Stress

5,9

25

15,8

11,48

Tidak Tahu

12 35,2

25

36,8

21

34,42

61

100

Total
Sumber : Data Primer

Pada tabel 6 dapat dilihat bahwa responden tunanetra yang buta sejak
lahir mengalami stomatitis karena trauma sebanyak 16 orang, usia buta kurang
satu tahun sebanyak 4 orang, dan usia buta lebih dari satu tahun sebanyak 7
orang. Responden tunanetra yang buta sejak lahir mengalami stomatitis karena
alergi sebanyak 4 orang, usia buta kurang satu tahun tidak ada, dan usia buta
lebih dari satu tahun sebanyak 2 orang. Responden tunanetra yang buta sejak
lahir mengalami stomatitis karena stres sebanyak 2 orang, usia buta kurang satu
tahun 2 orang, dan usia buta lebih dari satu tahun sebanya 3 orang. Responden
tunanetra yang buta sejak lahir dan tidak mengetahui penyebab biasanya mereka
mengalami stomatitis sebanyak 12 orang, usia buta kurang satu tahun 2 orang,
dan usia buta lebih dari satu tahun sebanya 7 orang. Secara keseluruhan, jumlah
responden tunanetra yang mengalami stomatitis karena trauma sebanyak 27
orang, karena alergi sebanyak 6 orang, karena stres sebanyak 7 orang, dan yang
tidak mengetahui penyebabnya sebanyak 21 orang
Tabel 7. Kesembuhan Stomatitis
Jumlah
No

Kesembuhan Stomatitis
N

Diobati

36

59,02

Tidak diobati

25

40,98

61

100

Jumlah
Sumber : Data Primer

Dari tabel 7 dapat diketahui bahwa responden tunanetra yang melakukan


perawatan pada saat mengalami stomatitis sebanyak 36 orang, sedangkan yang
tidak melakukan perawatan sebnayak 25 orang.
35

Tabel 8. Frekuensi Menyikat Gigi


Jumlah
No

Frekuensi Menyikat Gigi


N

1 kali

11,47

2 kali

43

70.49

3 Kali

11

18,03

Lebih dari 3 kali

Jumlah

61

100

Sumber : Data Primer


Dari tabel 7 dapat diketahui bahwa responden tunanetra yang melakukan
sikat gigi sebanyak 1 kali dalam sehari adalah 36 orang, 2 kali dalam sehari
sebanyak 43 orang, 3 kali dalam sehari sebnyak 11 orang, dan tidak ada yang
menyikat giginya lebih dari 3 kali dalam sehari;.

Tabel 9. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan


Jumlah
No

Tingkat Pendidikan
N

SD

29

47,54

SMP

20

32,79

SMA

14,75

Tidak Sekolah

4,92

Jumlah

61

100

Sumber : Data Primer


Dari tabel 9 dapat diketahui bahwa responden tunanetra memiliki
pendidikan terkahir di tingkat SD sebanyak 29 orang, tingkat SMP sebanyak 20

36

orang, tingkat SMA sebanyak 9 orang, dan yang tidak bersekolah sama sekali
sebanyak 3 orang.

BAB V
PEMBAHASAN

Penelitian dimulai dengan mengelompokkan usia dari kebutaan yang


diderita oleh responden. Hal ini berdasarkan kondisi dari psikologi tunanetra
yang sangat dipengaruhi oleh usia tunanetra yang dialaminya. Dari hasil
pengelompokkan tersebut, dapat diketahui bahwa jumlah penderita tunanetra
yang buta sejak lahir ternyata begitu dominan dibandingkan dengan yang baru
mengalami kebutaan. Hal ini menunjukkan bahwa kasus kebutaan sejak lahir
memang lebih sering terjadi dibandingkan kebutaan pada masa post natal.
Tingkat kejadian stomatitis pada penderita tunanetra secara umum tidak
menunjukkan hal yang signifikan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah
dilakukan, secara umum jumlah penderita tunanetra yang terpapar hanya sebesar
14,75%, yang kemudian dapat disimpulkan bahwa kondisi tunanetra yang dialami
responden tidak mengakibatkan mereka mengalami perbedaan konsisi fisik yang
signifikan dalam kesehatan mulut dibandingkan dengan individu dengan
penglihatan normal lainnya. Ini berdasarkan pembandingan denga hasil penelitian
sebelumnya 21. Begitupun dengan tingkat kejadian itu berdasarkan usia kebutaan
yang mereka alami, ternyata tidak menunjukkan hal yang signifikan. Penyebaran

37

yang terjadi berdasarkan penenelitian hampir merata di setiap tingkat kejadian


stomatitis.
Dalam hal kondisi stomatitis yang terjadi, ternyata cukup menunjukkan
hal yang siginifikan, dimana stomatitis yang terjadi di dominasi oleh stomatitis
multipel. Total stomatitis multiple yang terjadi mencapai 66,67% dibandingkan
dengan stomatitis tunggal yang hanya 33,33%. Hal ini menunjukkan pada
penyebab yang bersifat sistemik, kondisi tubuh yang lemah, kondisi psikologis
yang tidak menentu, atau trauma yang terjadi secara berulang-ulang.
Dilihat dari kondisi oral hygiene, ternyata kondisi dari tunanetra
berdasarkan peneletian yang dilakukan tidak menunjukkan hal yang signifikan.
Bahkan cenderung sama dengan individu normal yang lainnya. Hal ini dapat
disimpulkan bahwa dengan kondisi kebutaan yang dialami, tidak membuat
tunanetra tidak dapat menjaga kondisi mulutnya dengan baik. Adapun responden
yang memiliki kondisi oral hygiene buruk, berdasarkan penelitian lapangan
responden tersebut memiliki keterbelakangan mental,sehingga wajar jika tidak
mampu menjaga oral hygiene dengan baik.
Jika dilihat dari usia kebutaannya, ternyata penyebaran kondisi oral
hygiene nya cukup merata.
Pada frekuensi kejadian stomatitis pada penderita tunanetra, hal yang
cukup signifikan terjadi pada penderita tunanetra dengan usia kebutaan di bawah
satu tahun. Dimana kebanyakan respondennya mengalami stomatitis lebih dari
sebulan sekali. Menurut data, ada hingga 50% responden usia kebutaan kurang
dari satu tahun mengalami stomatitis lebih dari sebulan sekali. Bisa banyak faktor
yang mengakibatkan hal itu, tapi pastinya, berdasarkan referensi yang ada,
kondisi psikologi tunanetra yang baru mengalami kebutaan sangat tidak stabil.
Hal ini tentu akan berdampak pada pola hidup yang berubah, penyesuaian kondisi
fisik yang tentu akan berjalan agak sulit, hingga pola stres yang pastinya berbeda
dengan responden lainnya.

38

Berdasarkan pengakuan dari responden, diketahui tingkat penyebab


terjadinya stomatitis pada penderita tunanetra yang paling tinggi adalah trauma.
Hal ini tentu dipahami, bahwa dengan kondisi kebutaan yang dialami, sudah tentu
sering terjadi trauma yang mungkin berulang pada saat makan maupun sikat gigi.
Hal ini mungkin bisa menjawab mengapa kemudian, pada kondisi stomatitis yang
paling dominan pada tunanetra adalah multiple.
Adapun faktor berikutnya yang sering menyebakan stomatitis adalah
karena stres, kemudian faktor alergi. Namun ternyata, masih sangat banyak
responden yang tidak mengetahui apa saja yang menyebabkan stomatitis. Bahkan
jumlahnya terbesar kedua setelah faktor trauma. Hal ini menunjukkan
ketidaktahuan dan ketidakpedulian penderita tunanetra dengan stomatitis yang
mereka alami.
Berdasarkan hasil penelitian, ternyata mayoritas penderita tunanetra
sering melakukan perawatan

jika mengalami stomatitis. Dari data ini dapat

dilihat bahwa sikap tunanetra pada stomatitis ini tidak terlalu memperhatikan
bagaimana kejadian dari stomatitis ini, dan diyakini mereka tidak melakukan
perhatian khusus untuk mencegah terjadinya stomatitis. Tapi mereka justru
bereaksi ketika mengalami stomatitis dengan melakukan perawatan dan
pengobatan. Dalam kesimpulannya bahwa sikap preventif dari penderita
tunanetra tidak terlalu besar dibandingkan dengan sikap kuratif yang mereka
miliki dalam hal stomatitis.
Dilihat dari frekuensi responden melakukan sikat gigi, ternyata mayoritas
sudah cukup baik. Dimana mereka yang sikat gigi 3 kali dalam sehari. Dan hanya
sedikit kurang dari 2 kali dalam sehari. Hal ini menunjukkan bahwa perhatian
mereka dalam menjaga kebersihan mulut cukup baik. Tentunya ini berbanding
lurus dengan data sebelumnya tentang kondisi oral hygiene responden yang juga
cukup baik.
Dari segi pendidikan, ternyata mayoritas responden telah mengenyam
pendidikan di panti masing-masing. Sehingga seharusnya sudah lebih memahami

39

bagaimana pentingnya menjaga kesehatan diri, terkhusus kesehatan gigi dan


mulut.
Sekedar tambahan, berdasarkan informasi dari pihak panti, ternyata
penyuluhan akan penting kesehatan gigi dan mulut sudah sering dilakukan
dipanti tersebut. Sehingga tidak heran jika sudah banyak dari responden yang
memahami bagaimana merawat kondisi mulut dengan baik dan tepat.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

V.I Kesimpulan
1.

Jumlah penderita tunanetra yang buta sejak lahir ternyata begitu dominan
dibandingkan dengan yang baru mengalami kebutaan. Hal ini menunjukkan
bahwa kasus kebutaan sejak lahir memang lebih sering terjadi dibandingkan

2.

kebutaan pada masa post natal.


Tingkat kejadian stomatitis pada penderita tunanetra secara umum tidak
menunjukkan hal yang signifikan dibandingkan dengan individu dengan

3.

kondisi normal lainnya.


Penderita tunanetra dengan usia kebutaan dibawah satu tahun sangat rentan

4.

mengalami stomatitis , dibandingkan dengan usia kebutaan yang lebih lama.


Penyebab paling dominana dari stomatitis pada penderita tunanetra adalah

5.

trauma, diikuti oleh stres dan kemudian alergi.


Sikap kuratif dari penderita tunanetra ternyata lebih tinggi dibandingkan
sikap preventif dalam hal stomatitis.

40

VI.2 Saran
1. Pelayanan kesehatan gigi pada tunanetra hendaknya lebih intens
dilakukan pada setiap panti,karen kemungkinan penyakit mulut yang bisa
terjadi di kelompok masyarakat ini. Terutama kegiatan pengabdian yang
sangat membantu mereka yang kebanyakan mengalami kesulitan dalam
hal finansial.
2. Sebaiknya penelitian bisa dilakukan di daerah lain juga, agar data yang
terkumpul bisa memberikan gambaran yang lebih umum lagi.
3. Sebaiknya dalam aktivitas penelitian, bisa disertai dengan penyuluhan dan
pembagian paket alat kebersihan mulut, agar bisa memotivasi semangat
menjaga kebersihan gigi dan mulut para penderita tunanetra tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim.

2010.

Sariawan

dan

Stomatitis.

Diakses

dari

http://kesehatangigi.blogspot.com/208/01/sariawanstomstitis.html pada tanggal


10 Juli 2011.
2. Suwondo. 2010. Mengenali Sariawan. Diakses dari http://www.tabloid-wanitaindonesia.com/929/sehat.htm pada tanggal 10 Juli 2011.
3. Anis,Suarni. 2010. Sariawan Kecil tapi Menyengsarakan. Diakses dari
http://id.shvoong.com/medicine-and-health/1611761-sariawan-kecil-tapimenyengsarakan/ pada tanggal 10 Juli 2011.
4. Hartono,Rudi.

2010.

Jenis-jenis

Stomatitis.

Diakses

dari

http://www.wawasandigital.com/index.php?
option=com_content&task=view&id=17224&Itemid=32 pada tanggal 10 Juli
2011.
5. Policetyawati,Tridara.

Mengenal

Lebih

dekat

Sariawan.

http://www.republika.co.id/cetak_berita.asp?
id=236166&kat_id=105&edisi=Cetak pada tanggal 10 Juli 2011.

41

Diakses

dari

6. Uttiek.

2010.

Sariawan.

Diakses

dari

http://mail-archive.com/milis-

nikita@news.gramedia-majalah.com/msg03970.html pada tanggal 10 Juli 2011.


7. Cawson,R.A,et al. 2002, cawsons Essentials of Oral Pathology and Oral
Medicine, 7th edition,New York,Churchill Living Stone,13:192-193
8. Departemen Kesehatan. 2010. Data Tingkat Kejadian Stomatitis. Diakses dari
www.bmf.litbang.depkes.go.id/index.php?
option=content&task=view&id=130&ltemid=53 pada tanggal 10 juli 2011.
9. Anonim.

2010.

Penyebab

Terjadinya

Stomatitis.

Diakses

dari

www.smokingcard.info/?jdl=adt&bid=17 pada tanggal 10 Juli 2011.


10. Greenberg MS,Michael Glick. Burkets Oral Medicine Diagnosis and Treatment.
10th ed.Philadelpia: BC Decker Inc: 2003.pp.63-64
11. Lewis, M.A.o dan Lamey,P-J. Tinjauan Klinis Penyakit Mulut.Editor: Alih
Wirawan. Jakarta : 1998.pp.48-49
12. Neville, Damm DD, Allen CM, Bouquot JE. Oral and Maxillofacial Pathology.
2nd Ed.Philadelpia: WB Saunders Company: 1991.pp.287
13. Causon RA, Odell EW, Porter S. Causons Essentials of Oral Pathology and Oral
Medicine.7th ed.Edinburgh: Churchill Livingstone : 2002.pp.192-193
14. Creswell, W.J. 1994. Research Design. United Kingdom: Sage Publication, Inc.
15. Hall, C.S, & G. Lindzey. 2005. Psikologi Kepribadian 2 : Teori-teori Holistik.
Yogyakarta: Penerbit Kanisius
16. Mangunsong, F. 1998. Psikologi dan Pendidikan anak Luar Biasa. Jakarta :
LPSP3 Universitas Indonesia
17. Mappiare, A.1982. Psikologi Remaja. Surabaya : Usaha Nasional Mason,
Heather., & Stephen McCall. 1999. Visual Impairment, Access to Education for
18. Children and Young People. GB: David Fulton Publishers. PERDAMI. 2002.
Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Penerbit C.V Sagung Seto

42

19. Somantri, T. Sutjihati. 2006. Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung : Penerbit P.T
Refika Aditama
20. Sunanto, J. 2005.

Mengembangkan Potensi Anak Berkelainan Penglihatan.

Jakarta : Depdiknas-Dikti
21. Jayakusuma,Ardian. 2008. Tingkat Kejadian Stomatitis pada Anak Usia Sekolah
Dasar dan Penyebabnya Skripsi. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas
Hasanuddin.

43

Anda mungkin juga menyukai