Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM PROTOZOA

A. Tujuan Materi
1. Mengenal keanekaragaman hewan-hewan Protozoa.
2. Observasi morfologi dan struktur hewan-hewan Protozoa.
3. Mengelompokkan hewan-hewan Protozoa ke dalam classis yang berbeda berdasarkan
persamaan dan perbedaan ciri.
4. Observasi dan identifikasi ciri-ciri khas setiap classsis.
B. Dasar Teori Filum Protozoa
(Protos = pertama; Zoon = hewan)
Filum Protozoa merupakan hewan yang tubuhnya terdiri atas satu sel. Nama protozoa berasal
dari bahasa latin yang berarti hewan yang pertama. Hewan filum ini hidup di air tawar, air laut,
air payau, dan tanah, bahkan di dalam organisme lain. Protozoa ada yang hidup secara
individu( soliter) dan ada pula yang membentuk koloni.
1. Ciri-Ciri Umum
Ciri-ciri umum hewan yang tergolong Filum Protozoa dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Tubuh tersusun atas satu sel, ukurannya beberapa mikron sampai beberapa milimeter dan
umumnya bersifat mikroskopis.
b. Umumnya hidup secara individual, tetapi ada yang hidup secara koloni, ada yang hidup
bebas di dalam air, komensal, dan ada pula yang bersifat parasit pada hewan lain.
c. Umumnya berkembangbiak dengan cara membelah diri, tetapi ada pula yang mengadakan
konyugasi, dan ada pula yang membentuk spora.
d. Makanannya berupa : bakteri, hewan bersel satu lainnya atau sisa-sisa organisme. Cara
mengambil makanannya ada yang saprozoik ( memakan / menguraikan bangkai hewan ) dan
holozoik ( memakan hewan lain yang masih hidup ).
e. Cara bergeraknya ada yang menggunakan : flagela, silia, atau pseudopodia, bahkan ada
yang tidak memiliki alat gerak.
f. Tidak memiliki klorofil, kecuali Euglena.
g. Eukariota dan dapat membentuk sista ( lapisan pelindung ).
2. Struktur Tubuh
Tubuh protozoa ada yang hanya satu sel itu, bentuknya bermacam-macam, ada yang
tidak tetap dan ada yang tetap. Bentuk tetap ini karena telah memiliki pelliculus ( kulit )
dan beberapa mempunyai cangkang kapur.
Sitoplasma protozoa sebagian besar tidak berwarna, tetapi beberapa spesies kecil,
misalnyaStentor coereleus berwarna biru,dan Blepharia laterilia berwarna merah atau merah
muda. Dua bagian sitoplasma biasanya dibedakan atas bagian pinggiran yang disebut Ektoplasma
dan bagian sentral yang lebih padat dan bergranula yang disebut Endoplasma.
Nukleus protozoa umumnya hanya sebuah, tetapi ada juga yang lebih, misalnya Arcella
vulgaris atauOpalina ranarum. Cilliata secara umum mempunyai dua tipe nuklei dan ciri

nukleus umumnya bulat, tetapi ada juga yang oval, misalnya pada Paramecium . Bentuk seperti
ginjal terdapat pada Balantidium colli, sedang bentuk menasbih ( monilitiform ) terdapat
padaSpirostonum. Struktur nukleus pada prinsipnya ada yang vasikular dan granular. Pada
nukleus vasikuler, kromatin terkonsentrasi dalam sebuah massa atau butir (Arcella), sedang yang
granular berkhromatin tersebar secara merata dalm butir melalui seluruh nukleus (Amoeba).
Vakuola yang terdapat pada protozoa dapat dibedakan atas vakuola kontraktil, vakuola
makanan, dan vakuola stationeri. Vakuola yang terakhir ini mengandung cairan yang terdapat
dalam tubuh protozoa. Vakuola makanan dan vakuola kontraktil terdapat pada protozoa air tawar,
tetapi tidak terdapat pada sebagian besar protozoa yang hidup parasit dan hidup di dalam air laut.
Fungsi vakuola kontraktil kecuali sebagai alat ekskresi juga berfungsi sebagai pengatur tekanan
osmosis tubuh.
Mitokondria terdapat pada protozoa pada bagian yang melakukan pernafasan secara aerobik.
Pada sebagian besar mitokondria mempunyai tubulus pada bagian dalamnya. Mitokondria erat
hubungannya dengan penggunaan energi untuk alat gerak, dan vakuola kontraktil.
Pada umumnya protozoa paling sedikit terbungkus oleh membran yang mempunyai sedikit
granula seluas permukaannya. Membran memegang peranan dalam sistem pengangkutan enzim,
sehingga menimbulkan metabolisme yang efisien. Pada sebagian besar spesies, membran itu telah
dilapisi oleh lapisan lain, sehingga terbentuk kulit atau pelliculus yang tegar, sehingga protozoa
yang bersangkutan memiliki bentuk yang tetap .

3. Habitat dan Ekologi


Protozoa hidup pada semua habitat yang memunginkan hewan itu untuk hidup, dan hubungan
hewan itu dengan alam sekitarnya memungkinkan kita mempelajari ekologinya. Protozoa secara
mutlak memerlukan lingkungan yang basah, misalnya dalam air baik air tawar, maupun air
beragam bahkan dalam tanah yang basah sampai kedalaman kurang lebih 20 cm, dalam tubuh
manusia atau hewan tingkat tinggi lainnya yang bercairan, atau di semua tempat yang basah
dimana saja. Tiap-tiap spesies mempunyai peranan dalam struktur trophik( makanan ), atau siklus
energi. Beberapa protozoa berflagel yang mengandung klorifil dapat menfiksasi dan menyimpan
energi dari matahari dalam bentuk bahan makanan tetapi sebagian besar Protozoa adalah sebagai
konsumen bahan makanan dari makhluk lain, baik sebagai konsumen primer, maupun konsumen
sekunder.
a. Superklas : Mastighopora / Flagelata
Superklas Mastighopora mencakup protozoa yang menggunakan flagela (bulu cambuk)
sebagai alat gerak dewasa (mastik = cambuk) dan dianggap sebagai protozoa yang paling
sederhana. Superklas ini dibagi menjadi dua, yaitu :
Kelas Phytomastighoporea
Mempunyai ciri-ciri : biasanya mempunyai satu atau dua flagela, chromoplas (chromatophor)
untuk fotosintesis (holophitik). Misalnya: Euglena, Chlamydomonas, Paranema.
Kelas Zoomastighoporea
Mempunyai ciri-ciri : flagelanya satu sampai beberapa buah, tidak mempunyai chromoplas,
holozoik atau saprozoik, beberapa jenis hidup bebas tetapi kebanyakan komensal, simbiosis atau

parasit
pada
hewan
lain
terutama
Misalnya Leishmania dan Trypanosoma.

golongan

artropoda

dan

vertebrata.

b. Superklas : Sarcodina / Rhizopoda


Protozoa ini menggunakan pseudopodia(kaki semu) sebagai organela gerak dan makan.
Sarcodina dibagi empat group, yaitu ;
Amoeba
Amoeba ada yang dibungkus cangkang atau tanpa selubung cangkang (telanjang). Amoeba
telanjang dari genus Amoeba dan Pelomyxa, bentuknya asimetris dan bentuk ini selalu berubah.
Sebaliknya amoeba bercangkang memperlihatkan simetris bagian luarnya (cangkangnya).
Sitoplasma terbagi dalam ekto dan endoplasma, pseudopodia ada yang tipe lobopodia (pada
amoeba telanjang) atau tipe filopodia (pada amoeba bercangkang). Pada lobofodia, penjuluran
lebih besar dan mengandung ekto dan endoplasma, sedang pada filopodia lebih kecil dan hanya
tersusun dari ektoplasma.
Cangkang berasal dari sekresi sitoplasma berupa silika atau khitin, atau materi dari luar yang
melekat. Amoeba melekat pada dinding dalam cangkang dengan perantaraan penjuluran
protoplasma. Cangkang selalu memiliki bidang terbuka untuk penjuluran sitoplasma, dan
karenanya bentuk cangkang sering mirip helm atau topi.
Hewan ini hidup di lumpur-lumpur di bagian dasar kolam, sawah, sungai, danau, atau tempattempat lain yang berair dan banyak mengandung sisa-sisa organisme.
Susunan tubuh amoeba bersifat moniselular, sedang bentuk tubuhnya tidak tetap, selalu
berubah-ubah menurut keadaan. Protoplasma terdiri dari beberapa lapisan yaitu :
a) Plasmolemma, yaitu lapisan luar sebagai membran sel.
b) Ektoplasma, yaitu lapisan protoplasma yang sifatnya bening
c) endoplasma, yaitu lapisan protoplasma yang sifatnya berbutir-butir.
Di dalam endoplasma ini didapatkan :
a) Nukleus yang berfungsi untuk mengatur kegiatan sel.
b) Vakuola berdenyut, berfungsi untuk mengatur kadar air dalam tubuhnya, berarti menjaga tekanan
osmosis sel agar konstan (osmoregulator).
c) Vakuola makanan, berfungsi untuk mencernakan makanan, karena mengeluarkan enzim. Sari
makanan diserap protoplasma, sisa makanan dibuang.
Hewan ini bernapas dengan cara mengambil oksigen secara difusi. Sari makanan
dioksidasikan dengan oksigen, yang akhirnya menghasilkan energi. Pergerakan Amoeba yaitu
bergerak dengan menjulurkan kaki semunya, dan geraknya disebut gerak amoeboid.
Perkembangbiakan Amoeba dengan cara membelah diri dan berlangsung jika keadaan memburuk
akan membentuk kista. Pembentukan kista ini dimaksudkan agar dapat hidup meskipun keadaan
memburuk. Keadaan hidup demikian disebut hidup laten.

Foraminifera
Terutama hidup di laut. Pseudopodianya seperti benang, bercabang dan saling bersambungan
disebut reticulopodia. Foraminifera mensekresikan bahan cangkang yang komposisinya terutama
kalsium karbonat plus sedikit bahan organik seperti silikat dan magnesium sulfat.
Bentuk cangkang berbeda dengan pada amoeba bentuk bisa unicolar (cangkang beruang satu)
atau multicolar (cangkang beruang dua).Yang terakhir ini berasal dari pertumbuhan unicolar.
Karena penambahan ruang mengikuti pola simetris maka cangkang multicolar mempunyai
bentuk yang jelas ada yang berbentuk garis lurus, atau seperti dompol bawang, atau mungkin
bentuk spiral seperti pada siput.
Rongga-rongga cangkang saling berhubungan satu sama lain melalui lubang sehingga
protoplasma yang mengisi ruang juga berhubungan. Setiap rongga memiliki lubang kecil untuk
penjuluran reticulopodia.Yang penting multicolar bukanlah koloni tetapi satu individu yang
panjangnya dapat mencapai beberapa centimeter.
Sebagian besar Foraminifera adalah benthos( melekat pada dasar lautan ), tetapi ada juga
yang sebagai plankton seperti Globigerina. Cangkang yang hidup sebagai plankton lebih halus,
sedangkan cangkang plankton di kawasan berair dingin lebih kecil dan kurang porous( berlubang)
dibanding uang hidup di daerah tropis. Dengan demikian distribusi fosil spesies plankton
merupakan indikator iklim di zaman geologik yang telah silam.
Heliozoa
Lebih dikenal dikenal dengan binatang matahari. Terutama di air tawar, hidup bebas atau
melekat. Pseupodia lurus seperti jarus disebut axopodia, muncul dari permukaan tubuh.
Setiap axopodia mengandung benang axial sentral yang tertutup oleh ektoplasma yang
bergranular. Fungsi benang axial sebagai penopang sifatnya tidak permanen, tetapi sebagai
tabung protoplasma yang dapat memanjang dan memendek. Axopoda untuk menangkap
makanan, bukan alat gerak.
Tubuh heliozoa terbagi atas dua bagian: bagian luar (korteks sering berupa vakuola besar),
dan bagian dalam atau medula berisi protoplasma dengan satu sampai beberapa nukleus, dan
bonggol-bonggol axial. Walaupun tidak bercangkang, heliozoa mungkin mengandung pasir atau
diatome atau silika. Komponen rangka ini menempel pada bagian luar lapisan gelatin yang
menyelubungi sel heliozoa. Susunanny ungkin lurus seperti axopodia.
Radiolaria
Merupakan protozoa yang paling cantik. Sluruhnya hidup di laut dan terutama sebagai
plankton.Ukurannya cukup besar dengan diameter mulai dari beberapa milimeter sampai
beberapa centimeter.Seperti heliozoa, tutuh radiolaria bentuknya bulat dan terbagi menjadi bagian
luar dan bagian dalam.Bagian dalam yang mengandung satu sampai beberapa inti terbungkus
oleh kapsul sentral dari bahan kitin yang berlubang-lubang yang memungkinnkan sitoplasma
bagian dalam berhubungan dengan sitoplasma bagian luar (ekstra kapsula sitoplasma).yng
terakhir ini sering meluas dan disebut calymma yang menyelimuti/mengelilingi sentral kapsul.
Pseupodia mungkin bertipe filopodia, reticulapodia, atau axopodia, yang tumbuh dari sentral
kapsul.Ragka hampir selalu terdapat pada radiolaria, biasanya mengandung silika.Susunan rangka

ada dua tipe. Tipe yang pertama tipe radial, tersusun dalam bentuk seperti duri atau jarum yang
mencuat ke atas. Tipe kedua berupa kisi-kisi berbentuk bola.
c.

Subfilum Cilliophora, Classis Ciliatea/Ciliata


Subfilum Cilliophora hanya memiliki satu Kelas Cilliatea.Jenisnya terbesar dari semua Kelas
Protozoa.Semua anggotanya memiliki bulu getar( silia) sebagai alat gerak atau untuk menangkap
makanan, dan sebagian besar memiliki mulut atau sitostome.Satu ciri Cilliophora adalah
memiliki dua inti ; Makronukleus (vegetatif) adn Mikronukleus (generatif). Salah satu anggota
yang dikenal dan hidup di air tawar adalah Paramecium caudatum.
Paramecium caudatum memiliki bentuk tubuh yang sudah tetap karena adanya pelikel
sebagai selubung tubuhnya.Bentuk tubuhnya menyerupai terumpah( sandal).Tidak jauh dari
bagian depan terdapat suatu celah( oral groove) menuju lubang mulutnya (sitostome).hewan ini
mempunyai dua inti sel yaitu :
Makronukleus (inti besar) berfungsi mengatur kegiatan tubuh seperti bergerak, mencerna
makanan,dll.
Mikronukleus( inti kecil) yang berfungsi mengatur pembiakan.
Pergerakan hewan ini bergerak maju sambil mengadakan gerak rotasi yang arah
perputarannya bila dilihat dari belakang berlawanan dengan arah jarum jam.Pergerakan tersebut
terjadi karena perpaduan antara gerak cilia tubuh seperti sistem dayung dan gaerak cilia pada oral
groove yang sangat kuat.
d. Subfilum Sporozoa dan Cnidospora (Group Sporozoa)
Subfilum sporozoa dan Subfilum cnidospora semula memang dikelompokkan dalam satu
kelas sporozoa karena adanya tahap menyerupai spora yang infektif pada beberapa anggota kedua
kelompok tersebut.Pembagian yang sekarang menjadi dua subfilum merupakan usaha untuk
menentukan kedudukan yang lebih tua dari kedua kelompok tersebut, meskipun nama sporozoa
tetap digunakan pada kedua kelompok tersebut.
Subfilum protozoa mencakup parasit yang paling terkenal dari semua sporozoa, yaitu
golongan Gregarina dan Coccidia. Hospesnyan tersebar paling banyak pada invertebrata dan juga
vertebrata termasuk manusia.
Subfilum cnidospora berbeda dari subfilum sporozoa pada struktur sporanya yang
mengandung benang-benang polar. Dua kelompok utama pada cnidospora adalah myxosporidia
dan mikrosporidia.Mixosporidia adalah parasit pada vertebrata, ikan dengan menginfeksi insang,
kandung kencing, otot.
Subfilum sporozoa, Classis Telospora, Subklas Coccidia ; contohnya Plasmodium penyebab
penyakit malaria dan Subfilum sporozoa, Klas Telospora, Subklas Gregarina;
contohnya Monocystis lumbrici.

C.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Alat dan Bahan


CCTV
Mikroskop listrik
Objek glass dan cover glass
Larutan Ringers
Kapas dan jarum
Pisau bedah dan Bak bedah
Preparat awetan protozoa dari JICA
Air sungai, air sawah dan air kolam
Kultur jerami.

Cara Pembuatan Kultur Jerami :


a. 100 gr jerami dipanaskan dalam 1 liter air sumur sampai jerami lunak.
b. Setelah direbus 90 menit kemudian dinginkan.
c. Air jerami dipindahkan ke botol bekas ditambah dengan air sawah.
d. Kemudian dibiarkan terbuka selama 7-10 hari.
D.
1.
a.
b.
c.

Cara Kerja
Untuk Rhizopoda, Cilliata dan Flagellata :
Mikroskop dan perlengkapannya disiapkan terlebih dahulu.
Kultur Protozoa dari rendaman jerami, air kolam, air sawah dan air sungai disimpan di preparat.
Preparat diamati dan hewan-hewan yang terlihat diklasifikasi sesuai dengan kelasnya masingmasing.

2. Untuk Sporozoa :
a. Cacing tanah yang telah dibawa dicuci terlebih dahulu.
b. Lalu dibius dengan alkohol 70% di dalam gelas piala.
c. Cacing dibedah secara membujur mulai ujung anterior hingga batas akhir citellum (penebalan),
pada saat membedah cacing ditetesi dengan larutan Ringers.
d. Vesicula seminalisnya yang berupa dua pasang gumpalan/bulatan warna putih susu, diambil salah
satu dan ditempatkan pada kaca objek bersih yang telah ditetesi larutan Ringers.
e. Setelah ditutup cover glass, ditekan-tekan dengan ujung pensil secara perlahan-lahan kemudian
diamati.

G. PEMBAHASAN
1. Classis Sarcodina
Pada Classis Sarcodina hewan yang dapat kami temukan yaitu :
1.1 Amoeba proteus
Mempunyai bentuk yang tidak tetap, memiliki inti, vakuola makanan, vakuola kontraktil dan
iliauc plasma pada tubuh bagian luar yang berfungsi sebagai pelindung isi sel, pengatur
pertukaran zat misalnya zat makanan, dan ekskresi. Alat gerak yang digunakan adalah dengan
membentuk pseudopodiayang dapat menangkap rangsangan kimia dari luar tubuhnya. Bagian
dalam terdapat sitoplasma yang dibedakan menjadi ektoplasma (bagian luar) dan endoplasma
(bagian dalam). Amoeba berkembangbiak dengan cara membelah diri. Makanannya berupa
bakteri ataupun sisa-sisa organisme hewan bersel satu lainnya sehingga Amoeba juga dapat
digolongkan menjadi hewan holozoik dan saprozoik.
1.2 Ordo Foraminifera
Habitat di laut memiliki bentuk yang bermacam-macam. Memiliki cangkang yang tersusun
atas kalsium karbonat(CaCo3), silikat dan Magnesium Sulfat(MgSo4) yang bentuknya
unicolar/multicolar seperti garis lurus/spiral. Rongga-rongga cangkang saling berhubungan
melalui lubang, sehingga protoplasmanya juga berhubungan. Setiap rongga memiliki beberapa
lubang kecil untuk menjulurkan reticulopodia. Sebagian besar foraminifera termasuk
benthos(hidup di dasar laut). Namun ada pula yang berperan sebagai plankton, contohnya
adalah Globigerina.Yang memiliki cangkang lebih halus. Namun cangkang plankton di kawasan
berair dingin lebuh kecil dan kurang porus daripada yang hidup di daerah tropis. Keberadaan
Foraminifera dapat menjadi indikator adanya minyak bumi.
2. Classis Flagellata
Pada Classis Flagellata hewan yang dapat kami temukan yaitu :
2.1 Genus Euglena
Bentuk tubuhnya memanjang dengan flagella pada bagian atas tubuh, dapat bergerak maju
secara spiral rotasi dengan flagellumnya atau merayap tanpa menggunakan flagellumnya yang
disebut dengan gerak amoeboid. Selain itu Euglena memiliki inti, vakuola makanan, vakuola
kontraktil, bintik mata, pirenoid dan kloroplast. Namun yang dapat kami amati hanya adanya
flagella, vakuola makanan, vakuola kontraktil dan bintik mata saja.Eugleuna tergolong hewan
holofitik karena dapat melakukan proses fotosintentesis yang menghasilkan makanan,.
TapiEuglena dapat juga merupakan hewan saprozoik yang mana menyerap makanan dengan
seluruh permukaan tubuhnya. Dari hasil pengamatan, kami menemukan Euglena
viridis danEuglena intermedia. Perbedaan dua euglena ini yaitu pada bentuk tubuhnya. Euglena
intermedia bentuknya memanjang dan lebih kurus dari Euglena viridis.
Euglena berkembangbiak dengan cara membelah secara biner longitudinal (membelah kearah
mamanjang), dimulai dengan inti membelah menjadi dua kemudian diikuti oleh bagian tubuhnya
dari arah depan ke belakang.

2.2 Trachelomonas volvocinopsis


Bentuk tubuh bulat, terdapat stigma, mengandung kloroplas, dan pada ujung tubuh terdapat
flagel.
3. Classis Cilliata
Pada Classis Cilliata kami menemukan 7 spesies hewan, yaitu:
3.1 Paramecium caudatum
Paramecium caudatum memiliki bentuk yang tetap karena terdapat pelikel, di sekeliling
tubuhnya di penuhi oleh ilia/bulu getar yang mana cilia ini berfungsi sebagai alat geraknya.
Seperti telah disebutkan bahwa Protozoa kelas Cilliata mempunyai dua macam inti, yaitu:
a. Makronukleus (inti besar), berfungsi untuk mengatur kegiatan tubuh seperti bergerak, mencerna
makanan dan lain-lain atau disebut juga sebagai fungsi vegetatif.
b. Mikronukleus (inti kecil), berfungsi untuk perkembangbiakan atau fungsi generatif.
Paramecium caudatum memiliki mulut sel, dua vakuola kontraktil yang terdapat di depan dan
belakang tubuh yang berfungsi untuk mengatur kadar air di dalam tubuh dan juga membantu
membuang sisa-sisa metabolisme dan vakuola makanan. Cara kerja vakuola ini adalah mula-mula
setelah vakuola makanan yang melekat pada kerongkongan itu penuh dengan makanan, segera
vakuola makanan itu lepas dan kemudian beredar ke seluruh tubuh. Sambil beredar sari makanan
diserap oleh protoplasmanya dan sisanya dilepas melalui tempat tertentu yang merupakan
anusnya.
Cara perkembangbiakannya dapat dengan membelah diri secara longitudinal (aseksual)
ataupun dengan melakukan konjugasi (seksual). Perkembangbiakan seksual dilakukan hanya
bila Paramecium telah sering membelah diri, ini bertujuan untuk meningkatkan vitalitasnya.
Berikut adalah penjelasannya.
Perkembangbiakan aseksual atau dengan cara membelah diri secara longitudinal yaitu
dengan pembelahan biner dimana sel membelah menjadi 2 kemudian menjadi 4, 8 dan 16 dst.
Pada saat konjugasi yang terjadi pertama yaitudua Paramecium caudatum bertemu dan
berpadu pada bagian mulut, kemudian mikroneukleus melakukan miosis sehingga dihasilkan
empat mikroneukleus. Tiga mikroneukleus lenyap dan satu mikronukleus yang tersisa membelah
menjadi dua, dimana yang satu lebih kecil (masing-masing disebut pronuklei). Terjadi pertukaran
pronuklei yang kecil kemudian dua individu memisahkan diri. Akhirnya tiapParamecium yang
baru mikronekleus membelah manjadi dua bagian diikuti pembelahan sitoplasmanya. Dengan
demikian dihasilkan dua Paramecium, masing-masing dengan dua makronukleus dan satu
mikronukleus.

3.2 Glaucoma scintillans


Glaucoma mempunyai bentuk tubuh seperti bulat telur/oval, seluruh permukaan tubuhnya di
penuhi cilia, juga mempunyai inti, vakuola makanan dan vakuola kontraktil. Di dalam tubuhnya
terdapat benang yang beraturan. Berkembangbiak dengan membelah diri atau konjugasi.
3.3 Prorodon teres
Bentuk seperti Paramecium hanya saja bentuk tubuhnya lebih lonjong, dan terkadang terlihat
seperti tabung.
3.4 Vorticella campanulata
Vorticella mempunyai bentuk yang unik yaitu menyerupai lonceng, silia berada di sekitar
tubuh bagian atas dan sebuah tangkai di bagian bawah yang berfungsi untuk melekatkan diri pada
suatu tempat, tangkai ini bias berbentuk memanjang ataupun separti spiral. Berikut bagianbagian tubuhVorticella sp:
Vorticella juga mempunyai dua inti, vakuola kontraktil, vakuola makanan, dan. Peristom
Namun yang dapat kami amati pada saat praktikum hanya terlihat cilia, vakuola kontraktil,
vakuola makanan dan tangkainya saja. Ini di sebabkan kami menggunakan awetan basah
sehingga hewan tidak dapat diamati secara seksama karena selalu bergerak aktif.
Cara perkembangbiakannya yaitu dengan membelah dari (aseksual) dan konjugasi (seksual),
seperti halnya Paramecium, Vorticella melakukan konjugasi hanya jika telah sering membelah
diri. Pada dasarnya cara pembelahan atau konjugasi prosesnya sama saja dengan yang terjadi
pada Paramecium. Berikut adalah gambar proses membelah diri padaVorticella.
3.5 Nassula gracillis
Berbentuk lonjong dengan vestibulum menjorok dan terdapat cilia mengelilingi tubuhnya.
Memiliki Vakuola kontraktil dan Vakuola makanan, serta memiliki inti.
3.6 Colpidium Campylum
Berbentuk seperti Paramaecium namun berukuran lebih kecil dan sedikit lebih ramping.
Memiliki vakuola makanan dan vakuola kontraktil. Berkembang biak dengan cara membelah diri.
3.7 Stylonychi mytilus
Berbentuk seperti Paramecium tapi ukurannya lebih kecil, ditandai dengan adanya cirri yaitu
cilia berkelompok yang tampak lebih panjang dan tebal diujung-ujung tubuhnya. Selain itu
spesies ini juga mempunyai inti, vakuola makanan dan vakuola kontraktil. Namun yang dapat
kami amati dari praktikum hanya tampak cilia, cirri dan vakuola makanannya saja. Hal ini di
sebabkan oleh perbesaran yang digunakan tidak terlalu besar sehingga gambar yang di dapat tidak
begitu jelas dan menyusahkan untuk diteliti setiap bagian-bagian tubuhnya. Cara
perkembangbiakannya yaitu dengan membelah diri atau konjugasi.

4. Classis Saprozoa
Dari hasil pengamatan, kami hanya menemukanMonocystis lumbric dari preparat vesikula
seminalis cacing tanah. Monocystis lumbrici ini hidup dalam tubuh cacing tanah, baik secara
uniselular maupun secara ekstraselular, tepatnya di dalam vasikula seminalis. Siklus hidupnya
adalah sebagai berikut; Sporanya berbentuk seperti gelendong yang didalamnya mengandung 8
buah sporozoit. Bila spora itu pecah maka masing-masing sporozoit akan tersebar ke luar dan
masuk ke dalam sel induk sperma dari hospesnya.Di tempat tersebut sporozoit-sporozoit tersebut
menjadi masak dan dewasa kemudian disebut trophozoit. Sesudah itu trophozoit itu mengadakan
pasangan berdua-dua dan setiap pasangan dibungkus dengan dua lapisan dinding, dinding luar
disebut epicyst sedang yang dalam disebut endocyst. Kemudian sesudah itu masing-masing
trophozoit membelah-belah membentuk sel-sel kecil yang sama besarnya yang disebut sel-sel
gamet atau isogamet. Setiap dua dari isogamet-isogamet tersebut mengadakan peleburan
sehingga terbentuklah zigot yang nantinya setiap zigot itu akan berubah menjadi spora dan
membentuk dinding yang keras.
H. KESIMPULAN
1. Protozoa adalah hewan yang bersel tunggal, biasanya mikroskopis dan sangat beraneka ragam
seperti Amoeba, Euglena, Paramecium dan Monocystis.
2. Berdasarkan alat geraknya Protozoa dapat dibedakan menjadi empat kelas yaitu Sarcodina (kaki
semu), Flagellata (buluh cambuk), Cilliata ( rambut getar) dan Sporozoa (tidak memiliki alat
gerak).
3. Dari hasil pengamatan kami di laboratorium, kami menemukan beberapa protozoa yang telah
kami kelompokan sesuai dengan alat geraknya, yaitu:
a. Classis Sarcodina :

Amoeba proteus

Hastigerina aequilateralis
b. Classis Flagelata :

Euglena intermedia

Euglena viridis

Trachelomonas Volvocinopsis
c. Classis Cilliata:

Paramecium caudatum

Glaucoma scintillans

Prorodon teres

Vorticella campanulata

Nassula gracillis

Colpodium campylum

Stylonychi mytilus
d. Classis Saprozoa, hanya Monocystis lumbric:Pada cacing tanah yang kami amati siklus
hidupMonocystis nya tidak lengkap hanya meliputi gametes, zigot, spora, sporozoit, dan
tropozoit., sedangkan fase tropozoit muda dan gametocyte tidak kami temukan.