Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN

PRAKTIKUM KIMIA FARMASI ANALISIS 1


IDENTIFIKASI GOLONGAN ANTIBIOTIK DAN
GOLONGAN ANTIHISTAMIN

Dame Ria Br. Silaban


31112066
Farmasi 3B

PRODI S1 FARMASI
STIKES BAKTI TUNAS HUSADA TASIKMALAYA
2014

I.

Judul Praktikum

: Indentifikasi sampel golongan Antibiotik dan


golongan Antihistamin

II.

Tujuan

: Untuk mengindentifikasi suatu sampel golongan


Antibiotik dan golongan Antihistamin.

III. Dasar Teori


Antibiotic adalah zat yang membunuh atau menghambat pertumbuhan
bakteri. Berdasarkan struktur kimianya, antibiotic dikelompokkan sebagai berikut:
1. Golongan aminoglikosida
Diantaranya amikasin, dibekasin, gentamisin, kanamisin, neomisin,
netilmisin, paromisin, sisomisin, streptomisin, tobramisin.
2. Golongan beta-laktam
Diantaranya golongan karbapenem (ertapenem, imipenem, meropenem),
golongan sefalosporin (sefaleksin, sefazolin, sefuroksin, seftazidim),
golongan beta-laktam monosiklik, dan golongan penisilin (penisilin,
amoksilin).
3. Golongan glikopeptida
Diantaranya vankomisin, teikoplanin, ramoplanin, dekaplanin.
4. Golongan poliketida
Diantaranya golongan makrolida (eritromisin, azitromisin, klaritomisin,
roksitomisin), golongan ketolida (telitromisin), golongan tetrasiklin
(doksisiklin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin).
5. Golongan polimiksin
Diantaranya polimiksin dan kolistin.
6. Golongan kinolon (fluorokinolon)
Diantaranya asam nalidiksat, siprofloksasin, norfloksasin, levofloksasin,
dan trovafloksasin.
7. Golongan streptogramin
Diantaranya prystinamisin, virginiamycin, mikamycin, dan kinupristindalfopristin.
8. Golongan sulfonamide
Diantaranya kotrimoksazol dan trimetropin.

Antibiotik Berdasarkan Mekanisme Kerja


Bakteriostatika :
1. Menahan pertumbuhan & replikasi bakteri pada kadar serum yang dapat
dicapai tubuh pasien.
2. Membatasi penyebaran infeksi saat sistem imun tubuh bekerja
memobilisasi & mengeliminasi bakteri patogen. Misalnya : Sulfonamid,
Kloramfenikol, Tetrasiklin, Makrolid, Linkomisin.
Bakterisid :
1. Membunuh bakteri serta jumlah total organisme yang dapat hidup &
diturunkan.
2. Pembagian :
- Bekerja pada fase tumbuh kuman, misalnya : Penisilin, Sefalosporin,
-

Kuinolon, Rifampisin, Polipeptida.


Bekerja pada fase istirahat, misalnya :

Aminoglikosid,

INH,

Kotrimoksazol, Polipeptida.
Antihistamin
Histamin adalah suatu senyawa amina yang didalam tubuh dibentuk dari
asam amino histidin oleh pengaruh enzim histidin dekarboksilase. Hampir semua
organ dijaringan tubuh mengandung histamin itu. Zat tersebut terdapat terutama
dalam sel-sel tertentu yaitu mastcell, dalam keadaan terikat dan tidak aktif.
Histamin dapat dibebaskan dari ikatan nya dalam bermacam-macam faktor
antara lain reaksi alergi, luka-luka berat, sinar UV dari matahari, racun ular dan
tawon, enzim proteolitik serta beberapa macam obat-obatan (opiat, tubokurarin,
klordiazepoksida).
Antihistamin adalah zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek
histamin yang berlebihan didalam yubuh, dengan jalan memblok reseptorny. Atas
dasar jenis reseptor histamin, dibedakan dua macam antihistaminika, yaitu :
1. Antihistaminika H1 ( H1 bloker)
Zat ni menekan reseptor H1 dengan efek terhadap penciutan bronchi, usus
dan uterus, terhadap ujung saraf dan untuk sebagian terhadap sistem

pembuluh darah ( vasodilatasi dan naiknya permeabilitas). Kebanyakan


antihistaminika termasuk kelompok ini.
2. Antihistaminika H2 (H2 bloker)
Menkan reseptor H2 dengan efek terhadap hipersekresi asam klorida dan
untuk sebagian terhadap vasodilatasi dan turunnya tekanan darah. Obat
yang termasuk golongan ini adalah simetidin dan ranitidin.
IV.

Alat dan Bahan


4.1 Alat :
a. Tabung reaksi
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Rak tabung reaksi


Gelas ukur
Batang pengaduk
Spirtus
Gelas kimia
Pipet tetes

4.2 Bahan :
a.

Aquades

b.

AgNO3

c.

P. Nessler

d.

P. frohde

e.

P.marquis

f.

H2SO4 pekat

g.

HNO3

h.

K2Cr2O7

i.

Aqua brom

V.

Road Map / Cara kerja


IDENTIFIKASI GOLONGAN ANTIBIOTIK DAN
GOLONGAN ANTIHISTAMIN

Uji
organoleptik

Isolasi

Uji
identifikasi

Uji identifikasi
Sampel
.

Larut
air

Larut
etanol

Larut dalam
asam

Larut dalam
basa

+ H2SO4
+
1. Tetrasiklin = lar.
coklat
2. Neomisin dan
gentamisin = lar.
merah
3. Streptomisin = lar.
kuning lama- lama
biru hijau
4. Prometazin HCl=
lar. merah ungu
5. Difenhidramin
HCl=lar. kuning
terang jingga

(-)
CTM=
kuning
+ H2SO4
+ K2Cr2O7
+
CTM
=lar.Hijau

Larut etanol
+ H2SO4
(-)

+
Rifamfisin=
lar. Merah

Penisilin= lar.
Kuning

Eritromisin=
lar. Kuning
ungu

Kloramfenikol=
+HNO3
(-)

+
Penisilin = lar.
kuning coklat

Kloramfenikol= + KOH
+ Piridin
Kloramfenikol=
Merah ungu

Sampel larut
dalam pelarut
asam
+ H2SO4 pekat

Sampel larut
dalam pelarut
Basa
+ H2SO4 pekat
Amoksilin =
kuning

Oksitetrasiklin HCl=
Larutan ungu
kemerahan jika
ditambahkan air
menjadi kuning

identifikasi

+ Fehling A + B
Amoksilin=
hijau coklat
sampai

identifikasi

VI.

Data hasil pengamatan

NO

CARA PENENTUAN

ORGANOLEPTIK
1. Bentuk
2. Warna
3. Rasa
4. Bau
5. Kelarutan
a. Dalam air
b. Dalam asam
c. Dalam basa
d. Pelarut organik

UJI PENETAPAN
Identifikasi khusus

SAMPEL NO 7

SAMPEL NO 44

Tablet
Merah
Tidak berbau

Larutan
Kuning
Pahit
Tidak berbau

a.
b.
c.
d.

sukar larut

Larut

a.
b.
c.
d.

Larut
Larut
Tidak Larut

1. sampel+ H2SO4 p 1. sampel + H2SO4 p


(larutan warna
merah ungu)
2. Sampel + HCL
p
(larutan
merah)

warna

3. Sampel+ HNO3 P
Larutan bewarna
jingga
kecoklatan

(larutan bewarna
ungu)
2. sampel + p. marquis

(larutan
bewarna merah)
3. Sampel + p. nessler
larutan bewarna
coklat segera hitam.
4. Sampel+pereaksi
millon bewarna
jingga kekuningan

5. Sampel+aquabrom
endapan kuning

VII.

Pembahasan
No sampel 7 adalah Rifamfisin

Pada percobaan yang pertama dilakukan indentifikasi uji organoleptik dimana


sampel no 7 adalah sediaan tablet yang ketika digerus mempunyai bentuk serbuk
bewarna merah, mempunyai rasa yang pahit. Setelah itu diuji kelarutan, yang
melakukan tahap isolasi dimana serbuk yang dimasukan kedalam 2 bagian tabung
reaksi yang tabung 1 berisi etanol dan tabung 2 berisi air yang kemudian divorteks,
tujuan divorteks adalah untuk memperluas kontak pelarut dengan zat aktif yang
sejenis agar mudah ditarik. Bahwa ketika diamati sampel tersebut larut dalam etanol
dan sukar larut dalam air, selanjutnya dilakukan penyaringan dan diambil filtratnya
untuk dilakukan pengujian / identifikasi.
Setelah hasil filtrat yang didapat dilakukan uji identifikasi, pada pengujian
golongan antibiotik dan antihistamin dilakukan uji langsung. Dilakukan uji langsung
bahwa mengingat struktur kimia, tidak terdapat persamaan antara antibiotik yang satu
dengan yang lain maka sifat kimianya tidak menunjukkan persamaan pula, sehingga
tidak ada reaksi pengenalan umum secara kimia untuk golongan antibiotik maupun
golongan antihistamin. Selanjutnya sampel ditambah H 2SO4 berubah menjadi larutan
bewarna merah ungu. Reaksi pada asam sulfat

Reaksi asam sulfat


H
H

H
SO3
H

SO3-

+ H2SO4 (cepat)

+ H2SO4

H
SO3

+ H3O

SO3H

+ H2O

Sampel yang direaksikan dengan H2SO4 pekat, reaksi ini bisa disebut dengan reaksi
sulfonasi yang termasuk dalam reaksi substitusi, Pengunaan H 2SO4 pekat berasap
disini yaitu bertujuan untuk mempercepat jalannya reaksi.
Percobaan uji senyawa aromatis dengan H2SO4 berasap, warna sebelum
ditambahakan H2SO4 pekat berasap yaitu merah bata dan setelah direaksikan menjadi
merah ungu. Pada dinding tabung reaksi terasa panas ini menandakan larutan tersebut
mengalami reaksi isoterm, yaitu reaksi dari sistem ke lingkungan atau reaksi yang
menegeluarkan panas. Reaksi sulfonasi pada hidrokarbon aromatis berlangsung
secara cepat.
Dan uji selanjutnya untuk memastikan bahwa sampel tersebut sesuai
dugaanyang akan dipastikan ditambah dengan HCL p akan berubah menjadi warna
merah dan ketika ditambah dengan HNO3 pekat akan berubah menjadi jingga
kecoklatan dan diduga bahwa sampel tersebut rifamfisin. Pada sampel no 7 diduga
rifamfisin karena spesifik pada uji organoleptik yang bewarna merah dibanding
dengan antibiotik lain yang rata-rata bewarna putih. Rifampicin (Rifampin)
merupakan antibiotik bakterisidal yang bekerja dengan cara berikatan dengan subunit dari RNA polymerase sehingga menghambat transkripsi RNA dan pada
akhirnya sintesis protein. Bahwa ditarik kesimpulan bahwa sampel no 7 adalah
golongan antibiotik yaitu Rifamfisin.

Sampel no 44 adalah Tetrasiklin


CH3
CH3

OH

CH3
OH
NH2

OH
OH

OH

Pada sampel no 44 ketika diamati uji organoleptik sampel tersebut


mempunyai bentuk larutan bewarna kuning tidak memiliki bau khas dan mempunyai
rasa yang rasa yang pahit. Yang larut dalam air dan sukar larut dalam etanol sampel
tersebut tidak perlu melakukan isolasi karena sampel tersebut berbentuk dalam
larutan yang hanya ditambahkan pelarutnya saja. Sampel ditambah H 2SO4 berubah
menjadi larutan bewarna merah ungu dan ditambahkan air berubah menjadi kuning
dan ditambah FeCl3 berubah menjadi coklat kemerahan. Hasil ini positif diduga
bahwa sampel no 44 adalah tetrasiklin, tetapi untuk memastikan lebih lanjut bahwa
sampel tersebut adalah tetrasiklin sampel ditambah dengan pereaksi millon yang akan
berubah menjadi rosa tetapi hasilnya negatif menjadi warna jingga. Dimana pereaksi
millon terdiri dari raksa dan asam nitrat pekat. Reaksi millon yang terjadi :
OHHNO2

OH

N=O
Hg2+

O
N - OH

Hg
N

Pereaksi Millon adalah larutan merkuri dari ion merkurano dalam asam nitrat
dan asam nitrous. Warna merah atau disebut rosa dikarenakan garam merkuri dari zat
aktif yang tereksitasi. Biasanya milon spesifik positif terhadap golongan fenol karena
karena terbentuknya senyawa merkuri dengan gugus hidroksifenil yang berwarna.

Dan uji selanjutnya dengan pereaksi marquis untuk pemastian bahwa hasil yang
didapat pada reaksi warna positif untuk tetrasiklin bewarna merah anggur.
Reaksi yang terjadi pada pereaksi marquis :
HC

HO

HC
H2C

O
+

H- C - H

CH2 - OH

H3C

H2SO4

H3C

Pada pereaksi marquis, reaksi ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya


cincin aromatis. Analisanya ditandai dengan terbentuknya warna ungu dengan adanya
endapan. Mekanisme reaksi terjadinya warna dengan adanya reaksi substitusi
aromatik dimulai dengan serangan oleh elektrofil pada elektron dari cincin benzena.
Oleh karena itu, reaksi ini disebut reaksi substitusi elektrofil. Dimana sampel diikat
dalam molekul formalin dan asam sulfat dengan produk dimerik yang terprotonasi
dengan garam oksonium karbonium. Sehingga ditarik kesimpulan bahwa sampel no
44 adalah golongan antibiotik yaitu Tetrasiklin.
VIII. Kesimpulan
Sampel no 7 adalah golongan antibiotik Rifamfisin .
Sampel no 44 adalah golongan antibiotik Tetrasiklin.
IX.

Daftar Pustaka
Fessenden, Ralph J, dan Fessenden, Joan S. 1997. Dasar-dasatr Kimia
Organik. Bina Aksara. Jakarta.
Riawan, S. 1990. Kimia Organik Edisi 1. Binarupa Aksara. Jakarta.
Sitorus, marham.2010. kimia organik umum edisi pertama. Yogyakarta :
Graha ilmu.
Farmakope Indonesia Edisi Ketiga tahun 1979, Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.