Anda di halaman 1dari 30

Pilihan Teknik Orbitomi

Dalam memilih teknik pembedahan yang terbaik pada lesi orbital, ahli bedah harus tahu lokasi
lesi dan struktur yang akan dilalui, serta memiliki diagnosis kerja yang tepat. Diagnosis dapat
mengantisipasi apakah lesi yang diharapkan berkapsul atau difus, benigna atau maligna, dan
apakah eksisi lengkap lebih dipilih atau biopsi yang diikuti dengan pengobatan non-bedah lebih
dianjurkan. Pemeriksaan orbital dan review pencitraan orbital biasanya menunjukkan apakah lesi
benigna atau maligna; pada banyak kasus, disarankan diagnosis yang lebih spesifik. Tumor
dengan pinggir yang difus dan bukti invasi ke jaringan sekitar, termasuk lemak orbital atau
tulang, biasanya cenderung maligna. Pengecualian terhadap aturan ini ada (misalnya, massa
licin, batas tegas sering ditemukan pada limfoma maligna, atau pinggir difus yang menginfiltrasi
ke lemak orbital ditemukan pada penyakit inflamasi idiopatik pada orbit posterior).
Biopsi Insisi versus Eksisi
Suatu pengetahuan yang menyeluruh mengenai gangguan orbital menuntun keputusan untuk
mengobati secara medikamentosa atau melakukan suatu biopsi insisi atau eksisi. Pada beberapa
kasus, seperti suspek ophtalmopathy Graves atau pseudotumor inflamasi idiopatik,
penatalaksanaan medikamentosa lebih dipilih dibandingkan pembedahan. Pada kasus lain,
orbitotomi

diperlukan

sebelum

penatalaksanaan

dapat

diinisiasi.

Diagnosis

banding

menunjukkan apakah lesi disetujui untuk bedah eksisi atau masih berupa proses dimana bedah
untuk suatu diagnosis lebih baik diikuti dengan manajemen obat obatan atau terapi radiasi.
Suatu biopsi insisi dilakukan saat bagian jaringan yang mewakili diangkat tetapi sebagian lesi
tetap ditinggalkan. Tipe biopsi ini digunakan untuk memastikan diagnosis klinis sebelum
melanjutkan dengan terapi obat atau radiasi (misal, limfoma, pseudotumor orbital,
rabdomiosarkoma) hal ini juga dilakukan untuk mendapatkan diagnosis jaringan sebelum
merencanakan pembedahan definitif seperti eksenterasi atau reseksi orbitokranial ekstensif
(missal, tumor kelenjar lakrimal malignan). Pada beberapa kasus, biopsi insisi menunjukkan
diagnosis jaringan dan juga digunakan untuk debulking tumor. Infiltrasi difus lesi orbital
biasanya membutuhkan biopsi insisi untuk memastikan diagnosis sebelum terapi lain dimulai.
Suatu biopsi eksisi dilakukan jika suatu massa orbital diangkat dari keseluruhannya. Biopsi
eksisi dilakukan pada lesi yang diyakini jinak, terlokalisasi dengan baik, dan mudah untuk

diangkat tanpa kerusakan terhadap jaringan orbital sekitar. Sebagai aturan umum, lesi yang
berbatas tegas dan berkapsul diobati dengan biopsi eksisi. Hal ini sangat penting pada kasus
tumor campuran yang jinak pada kelenjar lakrimalis atau kista dermoid orbital dimana insisi
melewati suatu kapsul intak yang meningkatkan kesempatan rekuren dan morbiditas orbital.
Ruang Pembedahan
Pertimbangan penting lainnya dalam merencanakan orbitotomi adalah posisi tumor di dalam
orbit. Lesi biasanya dikategorikan anterior (superfisial) atau posterior (dalam). Selanjutnya dapat
dikategorikan sesuai dengan hubungan mereka ke nervus optikus (medial, lateral, superior, atau
inferior terhadap nervus optikus). Hal ini cukup membantu untuk pengelompokan lokasi lesi
sehubungan dengan struktur anatomi yang berdekatan di dalam orbit. Banyak ahli bedah yang
memilih untuk memikirkan proses patologi orbital berlokasi di dalam satu atau lebih dari tujuh
ruang bedah di dalam atau di sekitar orbit. Ruang (space) ini meliputi :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Ruang sentral surgical (intrakonal)


Otot extraokular
Ruang peripheral surgical (extrakonal)
Ruang subperiosteal
Ruang preaponeurotic
Ruang tenon
Jaringan Periorbital

Ruang sentral surgical dibatasi oleh septum intermuscular, yang menghubungkan empat
muskulus rectus pada coronal plane. Ruang ini juga digambarkan sebagai ruang retrobulbar atau
intraconal, dan berisi nervus optikus, lemak intrakonal, dan berbagai struktur vaskuler dan
persarafan. Tumor orbital primer seperti hemangioma kavernosus atau meningioma nervus
optikus berasal dari ruang central surgical.
Kebanyakan proses orbital melibatkan otot extraokular, secara primer atau sekunder, sehingga
berguna untuk pengelompokan otot ekstraokular karena bertempat di ruang pembedahannya
sendiri secara terpisah. Kondisi yang mempengauhi otot ekstraokular meliputi orbitopati tiroid,
myositis, dan berbagai kondisi neoplastik.
Ruang peripheral surgical juga dikenal sebagai ruang ekstrakonal, berada diluar septum
intermuskular tetapi masih di dalam periorbita. Ruang ini berisi sejumlah lemak orbital,
musculus oblique superior dan trochlea, musculus oblik inferior, dan glandula lakrimalis.

Persarafan dan pembuluh darah penting lainnya terbentang di dalam ruang ini, seperti pembuluh
vena oftalmik superior. Suatu jenis proses patologi dapat mengganggu ruang peripheral surgical.
Ruang subperiosteal adalah ruang potensial yang berada di antara tulang orbita dan periorbita.
Periorbita menyediakan sawar terhadap ekstensi dari proses neoplastik dan infeksi yang berasal
dari sinus yang berdekatan atau cavum intrakranial. Biasanya, ruang subperiosteal dapat terisi
darah jika terjadi fraktur orbita atau infeksi yang berhubugan dengan sinusitis paranasal.
Ruang preaponeurotik adalah ekstensi anterior dari ruang ekstrakonal. Karena ruang ini
superfisial dan dapat diakses, kadang dinyatakan sebagai kompartmen orbital sendiri. Biasanya,
neoplasma yang mengenai glandula lakrimalis, seperti limfoma, terbentang hingga ke ruang
preponeurotic.
Ruang Tenon adalah ruang potensial antara sklera dan kapsul Tenon. Tumor yang berasal dari
mata, seperti melanoma koroidal, bisa berada sampai ke ruang Tenon.
Tumor orbital sekunder bisa muncul dari jaringan periorbita dan kemudian menginvasi orbit.
Malignansi kutaneus yang muncul dari kelopak mata atau kulit wajah bisa berada di posterior
hingga septum orbital, sedangkan tumor sinus nasal dan paranasal bisa tumbuh melewati tulang
orbital ke dalam atau melewati ruang subperiosteal. Tumor yang muncul di dalam kavum kranial,
seperti sphenoid wing meningioma, juga bias berdampak pada orbit.
Teknik Orbita Dalam versus Anterior
Secara umum, teknik orbit terbagi menjadi dua kategori: teknik dimana suatu lesi berada cukup
superfisial sehingga dapat diakses tanpa mengangkat dinding orbita, dan teknik pada lesi yang
lebih dalam dimana tulang orbital harus diangkat agar bisa diakses. Lokasi lesi terkait nervus
optikus selanjutnya membutuhkan teknik yang optimal. Hal ini selalu diinginkan untuk
menghindari melintasi saraf, yang dapat berakibat disfungsi visual.
Sejarahnya, suatu orbitotomi eksplorasi, sering dengan pengangkatan dinding lateral orbital,
dibutuhkan untuk mendapatkan diagnosis pasien dengan proptosis dan suspek massa orbital.
Untungnya, kecanggihan modern untuk pencitraan orbital memberikan kemudahan perbaikan
teknik bedah orbit. Sejumlah besar teknik bedah anterior yang inovatif telah berkembang dari
tahun ke tahun, dan jika mungkin, teknik anterior orbit lebih dipilih untuk menghindari waktu

tambahan dan potensi morbiditas pengangkatan tulang dan refiksasi. Walaupun lesi orbital yang
lebih dalam membutuhkan akses dengan orbitotomi lateral dengan pengangkatan dinding lateral,
orbitotomi transkranial dengan pengangkatan atap orbital, orbitotomi medial dengan
pengangkatan sinus etmoid (dinding orbital medial), atau orbitotomi inferior dengan
pengangkatan lantai orbital, obitotomi lateral dengan elevasi, dan insisi periorbita lateral,
memberikan akses orbital dalam tanpa harus mengangkat tulang dinding lateral.
Bisa saja terjadi tumpang tindih yang harus dipertimbangkan saat menandai lesi apakah berada di
dalam atau superfisial, dan tidak selalu mungkin untuk menentukan jika suatu teknik insisi
eksternal akan atau tidak akan membutuhkan pengangkatan tulang yang mendasarinya untuk
mencapai target prosedur. Walaupun tidak ada yang terlalu menekankan kebutuhan fleksibilitas
intraoperatif saat melakukan bedah orbital, untuk tujuan diskusi disini kami pisahkan deskripsi
teknik orbital dalam dan anterior.
Teknik Orbital Dalam
Orbitotomi lateral
Orbitotomi lateral awalnya dipopulerkan oleh Kronlein pada tahun 1888. Insisinya
dideskripsikan oleh Kronlein berupa kebalikan dari insisi C-shaped yang ditempatkan di atas rim
lateral dan terbentang superior ke arah garis rambut dan inferior ke arah telinga. Hal ini
menghasilkan scar yang tidak terlihat dan kemungkinan besar kerusakan pada nervus kranial
ketujuh. Selanjutnya, sejumlah insisi kulit superior telah dipersiapkan sehingga terdapat paparan
dinding orbital lateral dan akses ke ruang retrobulbar lateral. Saat ini, dinding lateral sering
dipelajari melalui insisi kantotomi (dimodifikasi oleh Berke) atau suatu insisi pada lipatan
kelopak mata atas hingga ke lateral garis tawa. Jarang suatu insisi korona pada garis rambut
dengan pembedahan subgaleal pada flap scalp yang dibawa turun ke rim lateral, yang berguna.
Walaupun pembedahan perkutaneus dan pengangkatan tulang orbital dapat dilakukan secara
memuaskan di bawah anestesi lokal, manipulasi orbital yang lebih dalam membutuhkan injeksi
retrobulbar, yang akan mengubah evaluasi pupil post operatif dan pemeriksaan visual. Karena
kehilangan penglihatan adalah komplikasi yang sudah diketahui untuk bedah orbital, kebanyakan
orbitotomi lateral diakukan di bawah anestesi umum agar dapat memantau visus post operatif.
Orbitotomi Lipatan Kelopak Mata Lateral

Teknik ini memberikan paparan yang sangat baik untuk orbital rim lateral melalui suatu insisi
yang ditempatkan di antara lipatan kelopak mata bagian atas, yang memanjang ke lateral hingga
ke bagian temporal garis tawa (Gbr 6). Infiltrasi dengan anestesi lokal dengan epinefrin
(1:200,000) minimal 10 menit sebelum melakukan insisi kulit dapat meminimalisasi perdarahan.
Gbr 6. Orbitotomi lateral melewati lipatan kulit kelopak mata atas. A. Foto mendemonstrasikan
ptosis bola kanan yang ada sejak lebih dari 2 tahun. B. CT Scan axial menunjukkan suatu lesi
oval berbatas tegas pada fossa gland lacrimalis. C. CT scan corona menunjukkan lesi menekan
bola mata secara inferior. D. Eksisi kulit bagian lipatan ditandai untuk orbitotomi lateral. E.
Tampak orbital rim lateral. Sayatan tulang dibuat di atas sutura frontozigomatik dan pada lipatan
zigomatik. F. Dinding lateral diangkat. Ruang subperiosteal terlihat. Tumor keras harus dipalpasi
pada area glandula lakrimalis. G. Tumor benign campuran gland lakrimalis diangkat. H. Tulang
dijahit ke dalam tempatnya. I. Kulit pada lipatan ditutup.
Insisi dibuat pada kulit hingga kedalaman otot orbikularis, dan kulit serta otot dibedah superfisial
terhadap septum orbital. Elevasi flap kulit-otot secara superior dan lateral memberikan paparan
terhadap orbital rim superior dan lateral di bawahnya. Sayatan pada bidang ini, di dalam hingga
muskulus orbikularis, dapat dilakukan secara inferior ke tingkat orbital rim superior. Pada model
orbital rim superior dan lateral dapat terlihat dari suatu titik pada bagian lateral ke nervus
supraorbital, superior, turun ke pertemuan dinding lateral dan lantai orbital, secara inferior.
Kemudian periosteum diinsisi dengan kauter unipolar pada bagian posterior arcus marginalis
sepanjang orbital rim. Elevator Cottle periosteal dapat digunakan untuk menaikkan periosteum.
Jika rim lateral bertulang akan diangkat (lihat gbr 6), maka periosteum biasanya dinaikkan dulu
ke atas permukaan eksternal dari rim lateral untuk melihat tulang yang mendasarinya.
Periosteum rim lateral menyatu dengan fascia temporal superfisial pada pinggir posterior dari
orbital rim lateral. Dengan elevasi periosteal yang maju ke posterior, fascia temporal superfisial
ditemukan dan dibedah dengan kauter unipolar dan otot temporalis anterior dinaikkan untuk
melihat fossa temporal. Otot temporalis bisa disingikirkan secara tumpul dari fossa temporal
besar dengan menggunakan kasa yang dibungkus di sekitar jari telunjuk ahli bedah atau suatu
elevator periosteal yang besar. Elevasi otot periosteum dan temporalis dilakukan secara superior
ke suatu titik 1 cm di atas sutura zigomatikofrontal dan inferior ke tingkat lipatan zigomatik,
yang seimbang dengan lantai orbital (lihat gbr 6E).

Setelah permukaan luar dari rim lateral diekspos, periorbita dan permukaan medial dinding
lateral dielevasi serupa ke arah posterior antara orbit sehingga orbital rim lateral bertulang dapat
diperlihatkan secara lengkap sepanjang permukaan eksternal dan internal. Periorbita melekat
secara ketat pada orbital rim bagian dalam (arcus marginalis), terutama di atas tuberkel orbital
lateral. Elevasi periorbital pada daerah ini harus dilakukan secara hati hati untuk menghindari
terbentuknya lubang dan prolaps lemak orbital. Setelah elevasi dilakukan sepanjang permukaan
dalam posterior ke tuberkel orbital lateral, periorbita mengalami elevasi secara bebas dari tulang.
Bundel neurovaskular zygomaticotemporal dan zygomaticofacia ditemukan sekitar 1 cm
posterior ke rim (Gbr.7). Transeksi bundel neurovaskular mengakibatkan hipestesia postoperatif
pada area kecil di atas rim lateral. Bundel ini biasanya dibedah dengan kauter unipolar agar bisa
elevasi periorbital untuk berlanjut ke fissura orbital inferior. Periorbita masuk ke fisura orbital
inferior pada pertemuan dinding lateral dan antai serta merupakan penanda untuk mendapatkan
kedalaman sayatan sepanjang permukaan dalam rim lateral.
Gbr 7. Tampilan skema coronal menunjukkan pembuluh utama yang masuk ke periorbita dan
melintasi ruang ekstraperiosteal yang mungkin ditemui selama elevasi periorbita (A, arteri
zygomaticotemporal; B, arteri zygomaticofacial; C, cabang hubungan arteri infraorbital: D, arteri
supraorbital: E, arteri ethmoidal posterior: F, arteri ethmoidal anterior.)
Setelah periorbita dielevasi secara internal, dan periosteum dipantulkan lateral dan superior agar
terekspos secara lengkap ke rim lateral, retraktor lunak yang besar ditempatkan di antara isi
orbital dan permukaan mesial dari orbital rim lateral. Hal ini melindungi isi orbital sementara
suatu air-driven saw digunakan untuk membuat dua osteotomi. Satu ditempatkan superior sekitar
0.5 cm di atas sutura zygomaticofrontal.
Mensejajarkan pisau gergaji ke arah molar atas pada sisi yang berlawanan (sudut 45)
menghasilkan suatu pembukaan yang luas sambil menghindari pintu masuk yang tidak disengaja
ke dalam fossa frontal cranial oleh pisau gergaji. Palpasi jari pada atap orbital di bawah alis
mengingatkan ahli bedah akan lokasi lobus frontal dan membantu memastikan bahwa gergaji
tidak diarahkan dalam gaya untuk penetrasi intrakranial. Osteotomi kedua dibuat secara inferior
melewati rim lateral langsung pada lantai orbit atas lipatan zigomatik. Osteotomi bisa digeser
secara superior atau inferior tergantung pada lokasi pasti lesi orbital, tetapi suatu pembukaan
pada dinding lateral biasanya diinginkan sebesar 2.5 sampai 3 cm.

Setelah sayatan dibuat, suatu wire-passing drill digunakan untuk lubang drill di atas dan di
bawah masing masing dari osteotomi sehingga tulang dapat direfiksasi saat menyelesaikan
prosedur. Perhatikan sudut superior lubang drill untuk menghindari penetrasi intrakranial dan
untuk pelindungi isi orbital dengan retraktor lunak yang lebar. Rim lateral di-outfracured dengan
rongeur besar dengan menggoyang rim ke arah luar secara lembut, dan untaian yang tersisa dari
otot temporalis pada pinggir posterior fragmen tulang dapat dibedah dengan kauter unipolar. Rim
diangkat dari tempatnya dengan kasa yang lembab. Perhatian yang besar diperlukan untuk
menghindari kontaminasi rim lateral, tulang yang lebih tipis di belakang rim dapat diangkat
dengan rongeur untuk mendapatkan akses yang lebih baik ke apeks orbital. Pengangkatan tulang
biasanya dilakukan secara posterior ke pterion, tulang cancellous yang lebih tebal yang
membentuk badan sayap yang lebih besar pada sfenoid. Perdarahan dari tulang cancellous bisa
cepat dan memerlukan tamponade dengan wax tulang untuk kontrolnya. Fascia temporalis ditarik
posterior dengan retraktor lunak besar agar apikal periorbita dapat terlihat. Insisi relaks
dilakukan dengan kauter unipolar melalui musculus temporalis superior jika sulit untuk melihat
apeks secara adekuat.
Muskulus rektus lateral dan gland lacrimalis berada di bawah periorbita sepajang orbit lateral
(lihat gbr 6), dan kerusakan pada struktur ini dihindari dengan membuka periorbita dengan
gunting tip. Suatu jahitan traksi yang diletakkan secara transkonjungtiva di bawah insersi otot
dapat dimanipulasi untuk membantu mengidentifikasi rectus lateral secara posterior pada orbit.
Insisi periorbita longitudinal dimulai secara anterior dan terus ke belakang sampai ke apeks
orbita sehinga bisa retraksi ekstensif periorbita. Insisi vertikal relaks tambahan melewati
periorbita dapat dibuat secara anterior. Periorbita ditarik, dan musculus rectus lateral dan
glandula lakrimalis dapat dikenali. Jika lesi berada pada ruang intrakonal, sayatan tajam untuk
melepaskan septum intermuskular, baik dari atas atau bawah musculus rectus lateral, biasanya
dibutuhkan untuk mendapatkan akses ke ruang retrobulbar. Sewall orbital retractors
menyebabkan retraksi glandula lakrimal dan musculus rectus lateral. Tergantung kepada lokasi
lesi secara superior atau inferior di dalam orbit, sayatan dilakukan di atas pinggir superior atau
pinggir inferior dari muskulus rectus lateralis yang tertarik (retraksi). Sayatan orbital dalam
membutuhkan setidaknya iluminasi fiberoptik dan pembesaran lup, dan paling bagus dilakukan
dengan mikroskop operasi untuk membantu mengidentifikasi pembuluh darah penting dan
struktur neural di dalam orbit.

Setelah pengangkatan atau biopsi dari lesi yang dimaksud, orbital rim dimasukkan kembali dan
difiksasi dengan jahitan melewati lubang yang belum di drill, atau dengan screw rigid dan fiksasi
mikroplate (lihat gbr 6H). Biasanya, tidak penting atau tidak diinginkan untuk menutup
periorbita karena dapat mengakibatkan dekompresi pada perdarahan retro-orbital post operatif
apapun ke dalam fossa temporal. Setelah tulang dijahitkan kembali ke tempatnya, pinggir
sayatan anterior periorbita dan periosteum sepanjang rim lateral dapat diposisikan bersebelahan
secara longgar di atasnya untuk mencegah flap kulit orbikularis yang berlebihan, dari
perlengketan ke bagian rim bertulang. Insisi lipatan kelopak mata dapat ditutup dengan running
suture (lihat gbr 6I) seperti setelah blefaroplasti atas. Sebuah drain ditempatkan pada fossa
temporal dan diteruskan hingga aspek lateral dari insisi atau melewati luka tusukan yang terpisah
dan tersambung ke suction eksternal untuk 24 jam pertama post operatif jika terdapat pertanyaan
mengenai hemostasis lengkap.
Indikasi
Orbitotomi lateral memberikan akses yang sangat baik ke lesi dalam di subperiosteal, peripheral,
atau ruang intrakonal lateral dari nervus optikus.
Gbr 8. Tampak coronal (A) dan axial (B) pada suatu ilustrasi area yang diarsir, disetujui untuk
orbitotomi lateral.
Walaupun lesi intrakonal medial ke nervus kadang dapat diperoleh secara lateral, perhatian yang
besar untuk mengidentifikasi dan melindungi nervus optikus dibutuhkan selama pembedahan
orbital dalam. Karena insisi lipatan kelopak mata memberikan paparan orbit superolateral, sering
ada kemungkinan untuk pengangkatan lesi orbital besar tanpa membuang dinding orbital lateral
(gbr 9). Pembedahan pada kasus ini seperti digambarkan pada paparan terhadap orbital rim
bertulang superior dan lateral. Tidak perlu merefleksikan periosteum ke permukaan eksternal
rim. Sebaliknya, jika periosteum pada rim terlihat, maka dibedah dengan kauter dan kemudian
hanya periorbita mesial yang harus dielevasi secara internal untuk mengekspos isi orbital dengan
sayatan intra-orbital, selanjutnya dilakukan dengan rim lateral tetap di tempat. Cara ini sering
dipilih untuk mengangkat lesi intrakonal atau fossa lakrimal. Jika paparan terbukti tidak adekuat,
periosteum di atas pemukaan eksternal orbital rim lateral dapat dielevasi dan osteotomi serta
pengangkatan dinding lateral dapat dilakukan.

Gbr. 9 A,B. Gambar CT coronal dan axial dari neoplasma intrakonal luas. C. Karena dianggap
mewakili suatu well-encapsulated cavernous hemangioma, lesi ini menjadi kandidat untuk
pengangkatan melalui suatu orbitotomi lipatan kelopak mata tanpa pembuangan tulang. Insisi
kelopak mata ditandai. D. insisi dibuat dengan scalpel. E. musculus orbicularis diinsisi untuk
memaparkan septum yang mendasarinya. F. Sayatan flap otot-kulit ke orbikularis menunjukkan
septum orbital dan orbital rim superior bertulang. G. Kauter cutting digunakan untuk insisi
periosteum sepanjang rim lateral dan superior; palpasi jari pada tulang membantu mengarahkan
insisi. H. periorbita dielevasi sepanjang permukaan mesial dari rim orbital lateral agar
menunjukkan jaringan orbital dalam. I. hemangioma kavernosus tampak pada luka. Retraksi
diperoleh dari satu atau lebih retractor. J. Cryoprobe ditempel ke hemangioma untuk
memfasilitasi manipulasi lesi. Hemangioma kavernosa luas setelah pemngangkatan melalui insisi
lipatan kelopak mata yang diperoleh melalui pembuangan tulang. L. Periorbita dilekatkan
kembali di atas rim lateral. M. Insisi lipatan kelopak mata ditutup dengan running suture.
Teknik Kantotomi
Kebanyakan lesi orbital dalam membutuhkan pembuangan orbital rim lateral melalui insisi
canathotomy lateral yang lebih kecil. Walaupun Berke awalanya telah menggambarkan insisi
kantal lateral ekstensif yang meluas hingga ke belakang arkus zigomatikus sebesar 5-7 cm, insisi
yang lebih panjang ini sering meninggalkan jaringan parut yang tipis dan beresiko kerusakan
pada nervus cranial ke-7. Karena ekstensabilitas jaringan periokular, paparan orbital rim lateral
biasanya bisa diperoleh melalui insisi kantotomi lateral kecil berukuran 1 sampai 1.5 cm (gbr
10,11,12). Dengan meruntuhkan secara luas bidang suborbikularis dan retraksi kulit serta
orbikularis, osteotomi superior dan inferior dapat dilakukan walaupun dengan insisi eksternal
kecil. Insisi selalu bisa diperluas ke posterior jika paparan belum adekuat.
Gbr. 10. A. massa well-encapsulated intraconal yang besar pada MR scan. B. Insisi kantotomi
lateral kecil akan digunakan untuk melakukan orbitotomi lateral dan pengangkatan massa
intrakonal.
Gbr 11. A. insisi kantotomi lateral dibuat dengan gunting iris lurus. B. Periosteum dielevasi dari
orbital rim lateral. C. dengan meruntuhkan secara luas menyebabkan retraksi insisi kulit untuk
osteotomi superior dan inferior dibuat dengan gergaji air driven. D. rim bertulang telah di
outfractured. Karena distensibilitas kulit, kemungkinan untuk membuang flap tulang yang besar

melalui insisi kantotomi kecil. E. Massa intrakonal diekstraksi dengan bantuan cryoprobe. F.
fragmen tulang diposisikan untuk dijahit kembali.
Gbr.12 A. Insisi kantotomi lateral di perkirakan kembali dengan penutupan sederhana pada curra
inferior dan superior tendon kantal lateral. Sebuah drain dari fossa temporal dikeluarkan melalui
insisi tusukan terpisah secara posterior. 12B. kamuflase jaringan parut post operatif yang sangat
bagus diperoleh melalui teknik ini.
Prosedur
Kantotomi lateral dibuat dengan gunting iris lurus atau pisau no.15, dan kauter unipolar
kemudian bisa digunakan untuk memperluas insisi ke dalam melewati orbicularis untuk
memperlihatkan periosteum sepanjang rim lateral (lihat gbr 11A). Periosteum dibuka secara
vertikal sepanjang rim, dan elevator periosteal besar digunakan untuk mengelevasi periosteum
secara superior dan inferior untuk melengkapi paparan rim lateral bertulang. Crura inferior dan
superior pada tendon kantal lateral secara umum dibiarkan melekat pada periosteum selama
pembedahan. Jika paparan berikutnya dibutuhkan, kemudian bisa dimasukkan secara tajam. Jika
rim lateral bertulang sudah terlihat penuh, langkah berikutnya identik dengan insisi lipatan
kelopak mata seperti yang digambarkan.
Dalam melengkapi prosedur, kantus lateral diperkirakan dengan jahitan tunggal double-armed
yang dapat diserap melewati crura superior dan inferior dari tendon lateral kantal (lihat gb.12).
tidak penting untuk refixation kantus ke periosteum kecuali pada pasien lanjut usia dengan
kelemahan kelopak signifikan yang memang sudah ada sebelumnya. Kulit kemudian ditutup
dengan satu atau dua jahitan interrupted yang diserap. Jika suatu drain dibutuhkan pada fossa
temporal, maka dapat dikeluarkan melalui insisi tusukan terpisah posterior dari kantotomi atau
pinggir posterior dari insisi kantotomi.
Indikasi
Mayoritas lesi orbital lateral dapat diperoleh dengan insisi kulit yang terbatas. Namun, tumor
yang sangat besar, lesi apek orbital, dan lesi fossa lakrimalis membutuhkan pengangkatan
periosteal dan lapangan yang luas (misalnya, tumor campuran jinak pada gland lakrimalis; lihat
gbr 8) yang lebih baik diperoleh dengan insisi lipatan kelopak mata yang lebih besar.

Orbitotomi transkoronal lateral


Akses ke dinding orbital lateral dapat diperoleh melalui suatu insisi yang diperluas yang
ditempatkan pada atau di belakang garis rambut pada scalp. Insisi dilakukan dengan tebal
melewati kulit dan jaringan subkutan turun ke perikranium dan pembedahan dilakukan menuju
ke dalam hingga galeaaponeuritka dan muskulus frontalis untuk memperlihatkan orbital rim
lateral dan muskulus temporalis yang mendasarinya. Raney clip dapat digunakan untuk
tamponade perdarahan pada pembuluh darah sepanjang insisi scalp yang diperpanjang. Ekstensi
inferior pada insisi koronal ke area preaurikular biasanya dibutuhkan agar flap koronal cukup
relaks sehingga bisa memperlihatkan rim lateral. Muskulus temporalis harus disinsersi sepanjang
anterior dan superior asal dan diretraksi secara ekstensif sehingga osteotomi biasa dapat
dilakukan melalui rim lateral. Jika rim telah terlihat, osteotomi dan pembuangan tulang dapat
dilakukan.
Indikasi
Teknik ini memberikan akses untuk pembuangan dinding lateral dan akses ke lesi orbital lateral.
Namun terdapat berbagai kerugian. Proses ini membutuhkan insisi panjang dan ekstensif dalam
meruntuhkan dengan kemungkinan kehilangan darah yang meningkat. Walaupun memberikan
kamuflase jaringan scar yang baik pada pasien dengan suatu garis rambut yang intak,
kemungkinan untuk kesalahan pola rambut resesi mengakibatkan kepuasan yang lebih sedikit
pada pasien laki laki. Terdapat juga kemungkinan kerusakan pada nervus cranial ke-7 jika
bidang sayatan menyimpang terlalu superfisial di atas otot temporalis. Elevasi ekstensif dan
retraksi muskulus temporalis biasanya dibutuhkan, dan mungkin dikaitkan dengan objek secara
kosmetik berupa atrofi temporalis pada periode post operatif. Walaupun teknik koronal ideal
untuk lesi lesi yang membutuhkan pengangkatan atap orbital atau rekonstruksi ekstensif pada
rim orbital superior bertulang, teknik ini jarang diindikasikan untuk orbitotomi lateral rutin,
dimana lipatan kelopak mata atas atau insisi kantotomi lateral meninggalkan skar yang dapat
terlihat sambil mencegah komplikasi komplikasi ini.
Orbitotomi transkranial
Orbit superior dapat diperoleh melalui sejumlah insisi orbitotomi; namun, apex orbital, canal
optic intrakanalikular, dan daerah khiasma dapat terlihat secara adekuat hanya dengan

penggunaan orbitotomi transkranial. Suatu orbitotomi anterior melewati kelopak atas dapat
digunakan untuk setengah anterior dari orbit superior. Suatu orbitotomi lateral dengan
pengangkatan tulang memberikan paparan orbit lateral superior, tetapi nervus dan pembuluh
darah pada fissure orbital superior membatasi perluasan paparan posterior. Suatu insisi
frontoetmoidal atau transkarunkular dengan pembuangan sinus ethmoid memberikan tampilan
apex orbital yang terbatas. Hanya suatu orbitotomi transkranial yang memberikan paparan
ekstensif pada apeks orbital terutama secara superior dan medial terhadap nervus optikus.
Prosedur
Transkranial orbitotomi menggunakan kraniotomi frontal dengan pembuangan sejumlah porsi
atap orbital untuk mengekspos apeks orbital atau orbit superior. Prosedur ini paling baik
dilakukan oleh ahli bedah saraf yang tahu dengan teknik pembedahan bersasarkan tengkorak.
Pada kebanyakan kasus, rim supraorbital di atas sisi yang terkena dipindahkan secara en bloc
dengan flap tulang frontal (gbr 13). Bagian anterior dari setengah atau dua pertiga atap orbital
bebas dengan pengangkatan rim dan flap tulang frontal, serta bagian posterior atap yang tersisa
dapat diangkat dengan rogeurs. Sejarahnya, telah diajukan bahwa seluruh tumor orbital dibuang
melalui kraniotomi, karena sebelum era pencitraan, sulit untuk mengantisipasi lokasi massa
intraorbital. Teknik transfrontal pertama kali digambarkan oleh Jones pada tahun 1970. Jane dan
kolega mengajukan teknik terkini pada tahun 1982. Perbaikan telah didiskusikan oleh Maroon
dan Kennerdell dan Housepian. Operasi telah dinamai panoramic orbitotomy oleh Rootman
karena area paparan yang luas ditawarkan oleh prosedur ini.
Gbr. 13 Diagram skematik untuk transkranialorbitotomi dimana rim supraorbital dibuang en bloc
dengan flap tulang frontal. Proses ini memberikan paparan ekstensif terhadap orbit superior dan
lateral.
Langkah langkah yang dipilih dalam prosedur ditunjukkan gbr.14. suatu insisi koronal kulit
dibuat lepas dari tulang frontal. Bidang subperiosteal diikuti di atas orbital rim superior,
mengelevasi periorbita dari atap orbital dan dinding orbital lateral. Otot temporalis dibedah
secara anterior keluar dari fossa temporalis untuk mengekspos tulang temporal. Jika jaringan
jaringan lunak ini telah dipisahkan dari tulang, suatu drill kecepatan tinggi digunakan untuk
memotong flap tulang.

Gbr. 14. A,B. intraorbital lymphangioma besar yang menyebabkan proptosis dan penekanan pada
nervus optikus pada seorang anak usia 2 tahun. C. Tampilan orbit kiri dari atas setelah
pengangkatan flap tulang frontal, termasuk rim supraorbital dan atap orbital. Suatu paparan
ekstensif pada keseluruhan orbit superior dan lateral dipenuhi. Kompleks rektus superior dan
levator diretraksi secara lateral dengan hook otot, sedangkan elevator Freer menaruk otot oblik
superior secara medial. Nervus frontal dapat dilihat berjalan dari posterior ke anterior di atas
orbit superior. Massa orbital ditunjukkan pada model ini. D. Flap tulang fronto-orbital dikaitkan
kembali ke tempatnya setelah prosedur selesai. E. Tampilan post operative pasien. F. CT scan
post operatif menunjukkan pembuangan lengkap limfangioma. Lesi besar dan difus ini
seharusnya sulit untuk dibuang jika menggunakan teknik lainnya.
Suatu lubang burr ditempatkan di garis tengah sedikit di atas rim orbital. Lubang ini biasanya
memasuki sinus frontal. Lubang kedua ditempatkan di anterior pada fossa temporalis di
pertemuan cranium dan orbit sehingga kedua kompartemen terlihat. Dua dari tiga lubang
tambahan dibuat di tulang frontal yang menghubungkan dua lubang pertama. Orbital rim
dipotong dari garis tengah secara inferior, dan rim orbital lateral dipotong dari fossa temporalis
secara anterior. Dura dibebaskan dari permukaan bawah flap tulang dan dielevasi secara superior,
dan atap orbital diretakkan. Tulang frontal, atap orbital, dan rim supraorbital pecah dalam satu
kepingan. Otak ditarik secara superior, dan atap orbital yang tersisa dibuang dengan bone
rongeurs (lihat gbr 14.c)
Setelah pembuangan atap bertulang, periorbita dapat dilihat. Biasanya, periorbita berbentuk tipis,
dan otot rectus levator dan nervus frontal terlihat dibawahnya. Jika paparan posterior nervus
optikus diinginkan, dura bisa dielevasi di atas kanal optic. Kanal bisa tidak beratap untuk
dekompresi atau eksplorasi nervus optikus, dan dura bisa terbuka untuk melihat nervus optikus
intracranial dan khiasma. Pada apeks orbital, annulus bisa dipotong agar bisa lebih banyak
sayatan anterior dan pembuangan nrevus optikus pada kasus seperti optic nerve glioma atau
meningioma. Karena fissura orbital superior dan isinya berada lateral dari nervus, ruang
intrakonal dimasuki pada sisi medial nervus optikus. Sayatan orbital bisa dilakukan dengan
jumlah retraksi otak yang minimal setelah pembuangan en bloc dari tulang frontal, rim
supraorbital, dan atap orbital.

Setelah pembedahan, dura ditutup dan flap tulang frontal dilapisi atau dikaitkan ke posisi (gbr
14.D). atap orbital dikembalikan secara fungsional dengan penggantian flap tulang. Sinus sinus
harus tertutup dengan otot, pericranium, atau jaringan lain. Flap koronal ditutup dalam lapisan
lapisan. Tampilan post operatif tidak berubah karena flap tulang diganti dalam satu bagian.
Masalah dengan ptosis bola mata, enoftalmus, proptosis pulsatil, atau meningitis jarang terjadi.
Namun, mobilisasi ekstensid pada temporalis bisa berakibat signifikan secara kosmetik berupa
atrofi temporal. Sayatan apeks orbital sering berakibat disfungsi motilitas ekstraokular sebagai
akibat traksi pada nervus cranial ke-3, 4, atau 6, tetapi fungsi nervus cranial biasanya kembali
kecuali nervus tersebut telah di transected.
Indikasi
Transkranial orbitotomi memberikan akses ke superior duapertiga dari keseluruhan kompartmen
orbital (gbr.15). Pada kebaanyakan kasus, kraniotomi digunakan hanya untuk memberikan akses
ke orbit yang sebaliknya tiddak mungkin, seperti biopsy massa apeks orbital. Penggunaannya
terutama untuk eksplorasi tumor yang melibatkan apeks orbital, atau tumor besar yang meluas di
atas dan medial ke nervus optikus. Transkranialorbitotomi juga digunakan sebagai bagian dari
prosedur yang dikombinasi untuk mendapatkan tumor yang melibatkan orbit serita bagian
anterior dan tengah fossa cranial. Seringnya, hal ini melibatkan reseksi sphenoid wing
meningioma.
Gbr. 15. Skema area disetujui untuk transkranialorbitotomi. Bagian Coronal (A) dan axial (B)
Tindakan transkranial orbitotomi membutuhkan ahli bedah orbital yang memiliki hubungan
kerjasama yang baik dengan ahli bedah saraf yang tertarik pada penyakit penyakit pertemuan
orbitokranial. Biasanya, ahli bedah yang bekerjasama pada prosedur ini merupakan bagian tim
kraniofasial yang lebih besar yang menggunakan ekspertise gabungan untuk mendapatkan
ekstirpasi tumor lainnya yang kompleks serta rekonstruksi wajah dan dasar tengkorak.
Orbitotomi transkranial menawarkan paparan yang sangat baik untuk orbit superior, apeks
orbital, dan khiasma. Biasanya morbiditas yang cenderung rendah menyebabkan prosedur
orbitotomi ini menjadi pilihan saat dibutuhkannya orbit posterosuperior yang aman serta paparan
luas. Hal ini tidak dindikasikan untuk lesi apeks orbital yang berada pada inferior dari nervus
optik, dimana orbitotomi lateral yang diperluas serta kraniotomi teporal dibutuhkan.

Orbitotomi Medial Dalam


Orbitotomi frontoethmoidal
Berbagai ruangan di dalam dan di sekitar orbit medial bisa dimasuki dengan menggunakan
orbitotomi frontoethmoidal. Ruangan ini meliputi ruang subperiosteal, periferal surgical, serta
sinus ethmoid dan sphenoid. Walaupun teknik ini termasuk disini dalam diskusi teknik orbital
dalam karena sering pada konjungsi dengan pengangkatan dinding medial orbital
(ethmoidectomi anterior), hal ini juga digunakan tanpa pengangkatan tulang untuk drain pus atau
darah dari ruang subperiosteal. Teknik ini telah diganti dengan transkarunkular orbitotomi, yang
dijelaskan berikutnya.
Prosedur
Insisi kulit frontoethmoideal atau Lynch ditandai pada setengah antara kantus medial dan batang
hidung. Insisi ini terbentang superior dan inferior dalam suatu kurva model kira kira 2-3 cm
(gbr 16). Batasan tepat insisi tergantung pada lokasi lesi yang mendasarinya. Injeksi anastesi
lokal dengan epinefrin menyebabkan vasokonstriksi, yang memperkuat hemostasis. Setelah kulit
diinsisi, kauter cutting unipolar digunakan untuk memperluas insisi ke dalam hingga periosteum.
Perdarahan bisa saja terjadi, terutama pada area arteri dan vena. Eksposur diperkuat dengan
jahitan 4-0 silk melewati otot orbicularis dan diklem ke drape.
Gbr 16. A. Pasien dengan selulitis orbital kanan. B. CT scan coronal menunjukan pembentukan
abses subperiosteal dari sinusitis frontal dan ethmoidal. C. Insisi frontoethmoideal orbitotomi
ditandai untuk drainase abses.
Periosteum terlihat dan diinsisi dengan elevator Freer dan kemudian direfleksikan dari tulang
secara posterior. Biasanya cukup mengikuti ke kontur kurva pada tulang kantal medial,
khususnya pada tendon kantal medial. Puncak lakrimal anterior dihadapi secara inferior. Hati
hati agar tidak merusak sac lacrimal dengan elevator. Puncak lakrimal posterior terlihat di
belakang sac. Mobilisasi yang adekuat pada hubungan periosteal dan crest lakrimal anterior
memberikan area paparan yang luas. Elevasi periosteal dilakukan superior pada area troklea.
Elevasi periosteum membuka ruang subperiosteal. Darah atau pus yang disebabkan oleh fraktur
atau infeksi, jika terdapat di ruang ini, harus dihadapi.

Elevasi periorbita sepanjang dinding orbital medial posterior dari sacus lakrimal berlangsung
mudah. Fraktur orbital yang melibatkan tulang tipis ethmoid terlihat pada titik ini. Arteri
etmoidal anterior terlihat pada pertemuan tulang ethmoid dan frontal dimana atap orbital bertemu
dengan dinding orbital medial (lihat gbr. 7). Biasanya ditemukan suatu garis yang terbentang
posterior dari pinggir superior tendon kantal medial. Arteri ini harus dikauter sepenuhnya dengan
kauter bipolar atau diklep dengan klep vaskular sebelum dibedah. Saat pembedahan pada ruang
subperioseal bergerak posterior, orbit menyempit. Arteri etmoidal posterior akan terlihat. Hal ini
merupakan penanda yang baik untuk foramen optik, yang berada kurang lebih 5 mm di belakang
arteri etmoidal.
Indikasi
Orbitotomi frontoetmoidal medial memberikan akses untuk berbagai prosedur pada ruang
subperiosteal dan periferal serta sinus sinus (gbr 17). Guna utamanya adalah untuk proses yang
melibatkan sinus frontal dan etmoid serta orbit. Pintu masuk ke ruang subperosteal dapat dibuat
dengan mudah. Drainase darah subperioseal atau pus terjadi saat ruang dimasuki.
Gbr 17. Demonstrasi skematik area yang disetujui untuk orbitotomi frontoetmoidal. Tampilan
coronal (A) dan aksial (B). Teknik ini dapat digunakan untuk menampilkan orbit medial, sinus
etmoid dan sfenoid, serta kanal optik.
Orbitotomi Transkaunkular
Ruang ekstrakonal periferal dan subperiosteal pada orbit medial dieksplorasi lebih sering dengan
insisi trankonjungtiva yang ditempatkan sedikit lateral dari karunkle, di dalam lipatan semilunar,
dan berlanjut superior dan inferior ke dalam fornices media. Teknik ini menawarkan akses ke
ruang subperiosteal medial tanpa membutuhkan insisi kutaneus.
Prosedur
Injeksi subkonjungtiva dengan Xylocain dan epinefrin atau tetesan topikal Neo-Synephrine 2.5%
biasanya digunakan untuk membantu vasokonstriksi. Jika dilatasi pupil sedang tidak diinginkan,
maka lampaui langkah ini. Kelopak mata atas dan bawah diretraksi dengan retraksi vena
Desmarres dan gunting Westcott digunakan untuk memotong konjungtiva antara karunkel dan
plica secara vertikal sejauh 1.5 hingga 2cm (gbr 18A). Insisi dibatasi superior oleh levator

aponeurosis medial, tetapi secara inferior bisa diteruskan ke lateral sepanjang pinggir inferior
tarsus hingga melewati orbital rim lateral. Eksplorasi lantai dan dinding medial diperkuat dengan
disinsersi otot oblik inferior pada asalnya di rim medial inferior sayatan dilakukan posterior ke
sacus lacrimal menggunakan gunting tenotomi Steven untuk melebarkan jaringan lunak di bawah
dinding orbital medial sedikit posterior dari puncak lakrimal posterior. Jika tulang sudah ditemui,
sayatan tajam melewati periosteum dilakukan dengan kauter cutting untuk menunjukkan dinding
orbital medial di atas sinus etmoid anterior. Periorbita dielevasi posterior untuk mengetahui dan
melindungi arteri etmoidal anterior dan posterior (lihat gbr 18B). Bidang sayatan ini melewati
medial hingga ke otot rectus medial, tetapi lateral dan kemudian posterior ke sacus lacrimal.
Paparan melalui insisi transkarunkular serupa dengan yang diperoleh melalui insisi
frontoetmoidal atau Lynch tetapi tidak meninggalkan scar kutaneus yang terlihat (gbr 18C).
Setelah prosedur lengkap, konjungtiva akan di reposisi tanpa membutuhkan perkiraan jahitan.
Gbr. 18 A. Insisi untuk orbitotomi medial transkarunkular. Insisi dilakukan sedikit lateral dari
karunkel dan medial dari plikasemilunaris. B. Skema diagramatik aksial pada rute bedah untuk
transkarunkular orbitotomi. Insisi pada forniks medial menyebabkan sayatan tetap ateral dari sac
lakrimal tetapi medial dari bola mata dan otot rectus medial. Posterior dari sac, sayatan dilakukan
hingga dinding medial bertulang, dimana periosteum kemudian bisa diinsisi dan dielevasi secara
posterior. C. Bola mata dan rectus medial ditarik secara lateral oleh retraktor lunak, dan kelopak
atas serta bawah di distraksi untuk melihat ruang orbital ekstraperiosteal medial.
Indikasi
Teknik transkarunkular dapat digunakan untuk mendapatkan ruang periferal medial atau
ekstraperiosteal sambil menghindari insisi kulit pada teknik frontoetmoidal untuk suatu
orbitotomi medial. Indikasi yang paling sering adalah untuk porsi etmoidektomi pada
dekompresi orbital tiroid dengan suatu kantotomi lateral, paparan medial, inferior, dan lateral
270 pada orbit dapat diperoleh.
Orbitotomi Inferior Dalam
Orbitotomi Transantral
Lesi lesi pada ruang subperiosteal yang melibatkan lantai orbital dan atap pada sinus maksila
bisa didapat melalui insisi intraoral pada sulkus buccal di atas incisor kaninus atas (gbr 19).

Sayatan dilakukan melalui mukosa dan jaringan lunak hingga periosteum di atas maksia. Sayatan
dilakukan secara superior pada bidang subperiosteal hingga sedikit di bawah rim orbital inferior.
Perhatikan dengan baik agar dapat mengetahui nervus infraorbital yang keluar dari foramen
sedikit di bawah rim. Osteotomi kemudian dilakukan pada maksila, dan sinus maksila di
bawahnya kemudian terlihat. Mukosa sinus dieksisi dan atap sinus terlihat. Pembuangan atap
sinus (dinding orbital) memberikan eksposur periorbita inferior. Perhatikan agar tidak merusak
nervus infraorbital yang berada pada tulang lantai. Otot rectus inferior dihadapi langsung di atas
periorbita, dan harus dilindungi dan diretraksi selama sayatan orbital yang lebih dalam.
Gbr 19. Orbitotomi inferior transantral. Lantai orbital (A) (atap sinus maksila) terlihat dengan
insisi pada sulcus buccal dan pembuangan bagian anterior tulang maksila. Nervus infraorbital
(B) traverses lantai orbit dan keluar dari maksila dari foramen infraorbital (C).
Indikasi
Teknik ini sering digunakan untuk dikompresi orbital pada oftalmopati Grave dan kasus kasus
patologi sinus primer dengan keterlibatan sekunder orbital. Bisa juga dikombinasikan dengan
teknik orbitotomi transkonjungtival inferior untuk memberikan elevasi dan proteksi dari isi
orbital sebelum pengangkatan lantai orbital dari bawah. Bisa juga digunakan untuk mendapatkan
lesi perifer inferior dekat apeks dimana suatu pendekaran orbital anterior-inferior tidak
memberikan akses dalam secara cukup. Akan tetapi, tampilan yang lebih baik bisa diperoleh
melalui orbitotomi lateral pada kasus kasus tersebut.
Teknik Orbital Anterior
Jika memungkinkan, akan lebih baik untuk mencapai lesi orbital tanpa peningkatan waktu
operasi dan kemungkinan morbiditas terkait dengan osteotomi dan pembuangan tulang. Lesi
lesi anterior dan lesi berkapsul yang lebih dalam di lateral, superior, medial ,atau orbit inferior
sering diperoleh tanpa perlu pembuangan tulang. Masing masing lokasi ini dilakukan secara
terpisah.
Orbitotomi Anterior Superior
Teknik Lipatan Kelopak Mata atas

Lesi lesi anterior pada orbit anterior superior dapat diperoleh melalui insisi yang ditempatkan
pada lipatan kelopak mata, di antara atau di bawah alis, atau melalui suatu flap koronal.
Lipatan kelopak mata atas menawarkan kamuflase jaringan parut dan akses langsung dengan
sayatan minimal; hal ini lebih dipilih jika memungkinkan. Karena elastisitas yang ekstrim dan
distensibilitas dari jaringan lunak kelopak mata atas, insisi lipatan kelopak memberikan akses ke
orbital rim superior, orbit superior perifer, dan lesi lesi yang lebih superfisial yang mendasari
orbital rim medial dan lateral. Insisi ditempatkan di antara alis atau sedikit di bawah alis jarang
dilakukan karena rim supraorbital biasanya diperoleh lebih mudah dengan insisi lipatan kelopak.
Teknik lipatan kelopak untuk lesi orbital dalam tanpa pembuangan tulang digambarkan seperti
pada sebelumnya.
Prosedur
Insisi lipatan kelopak ditandai pada suatu titik kira kira 2 mm di bawah lengkung kelopak yang
sudah ada karena kecenderungan untuk retraksi scar post operatif untuk migrasi superior lipatan.
Untuk lesi superomedial, insisi medial ke unctum diarahkan superonasal menuju alis bagian
medial (gbr 20). Untuk lesi lesi lateral, insisi di bawah kantus lateral dapat diarahkan
superolateral ke arah ekor alis. (gbr 21).
Gbr 20. A. CT scan aksial pada kista orbital superonasal. B. Ekstensi nasal pada engkung
kelopak superior darahkan ke atas pada sudur yang tepat ke lipatan, menuju alis nasal. C. Insisi
melewati kulit dan sayatan orbikularis serta superior untuk memperlihatkan dan menginsisi
septum sehingga bisa mengangkat kista orbital anterior.
Gbr 21. Gambar MR sagital menunukkan ssuatu kista hematik besar pada orbit superior kanan.
B. Insisi lipatan kelopak mata ditandai melewati lebar kelopak mata atas kanan dan memanjang
lateral ke arah ekor alis. C. Bidang sayatan dalam ke kulit dan orbikularis dan superfisial ke
septum orbital sehingga memaparkan rim supraorbital. D.E. Periosteum di atas rim supraorbital
diinsisi dengan blade no.15 dan bedah dilakukan untuk memperlihatkan kista hematik ecara
penuh. (E). F. Setelah pembuangan kista, penutupan kulit sederhana dilakukan dengan jahitan
yang dapat diserap pada lipatan kelopak. Suatu drain dikeluarkan melalui pinggir temporal insisi.
G. Tampilan post operatif pasien. Kamuflase jaringan parut yang sangat bagus diperoleh dengan
menempatkan insisi di antara lipatan kelopak mata.

Suatu jahitan fiksasi kelopak dilakukan sepanjang tarsus marginal dan diklem ke drape di
bawahnya. Hal ini menstabilisasi kelopak dan mempermudah identifikasi bidang sayatan yang
tepat. Kulit diinsisi, dan sayatan dilakukan melewati orbicularis dasar ke bidang post
orbicularfacial. Bidang ini melampaui septum orbital dan levator-apoeurosis, dan sayatan secara
superior pada bidang ini menjaga orbital septum tetap intak.
Sayatan pada bidang postorbicular memberikan akses ke orbital rim superior dan paparan yang
baik untuk lesi intraorbital perifer anterior dan ekstraperiosteal. Jika suatu lesi berupa
ekstraperiosteal, periosteum yang mendasari rim orbital diinsisi dan ruang ekstraperiosteal
dimasuki dan periorbita dielevasi (gbr 21D). Perhatikan saat melokalisasi foramen supraorbital
atau notch sepanjang rim orbital superomedial utuk menghindari kerusakan pada bundel
neurovaskular. Lesi lesi yang berada di antara ruang orbital perifer membutuhkan pembukaan
septum orbital dan sayatan superfisial dari levator aponeurosis. Jika sayatan orbital telah selesai,
kulit ditutup dengan jahitan kutaneus yang dapat diserap. Septum orbital tidak boleh dijahit
tertutup karena bisa berakibat pemendekan septum dengan hasil lagoftalmos. Tidak perlu
membentuk ulang lipatan kelopak dengan fiksasi jaringan subkutaneus ke levator aponeurosis.
Lipatan kelopak akan terbentuk kembali secara alami di sekitar insisi dan bidang pembedahan,
serta fiksasi aponeurotik akan menyebabkan migrasi superior dari lipatan kelopak post operatif.
Indikasi
Teknik lipatan kelopak mata atas memberikan akses yang sangat baik ke lesi lesi di orbit
superior atau anterior hingga ekuator bola mata. Lesi berkapsul yang dalam di orbit bisa
dipindahkan melalui Teknik aterior ini memberikan permukaan superfisial yang membentang di
anterior hingga ekuator bola mata (gbr.22). Insisi lipatan kelopak mata juga memberikan paparan
simultan dan pembedahan pada levatoaponeurosis yang mendasarinya jika dibutuhkan. Teknik
ini juga terbukti berguna untuk kista dermoid superfisial yang berada di bawah rim orbital medial
dan lateral.
Gbr 22. A. Tampilan pasien dengan lesi supero nasal di ruang orbital perifer. B. Gambar MR
Aksial menunjukkan lesi berkapsul memanjang ke dalam hingga orbit. C.D. suatu inisi lipatan
kelopak digunakan untuk menunjukkan porsi anterior massa, yang diekstraksi dengan bantuan
cryoprobe (D). E. Tampilan post operatif pasien dengan kamuflase jaringan parut yang sangat
baik di insisi lipatan kelopak mata.

Ruang intrakonal medial juga bisa diakses melalui insisi lipatan kelopak mata atas. Hal ini
membutuhkan paparan pinggir medial dari levato aponeurosis dan otot levator serta sayatan
melalui septum intermuskular memanjang di antara otot rectus medial dan superior. Tendon oblik
superior harus diidentifikasi dan diretraksi secaara superior, sehingga ruang intraconal medial
bisa dimasuki (gbr 23)
Gbr 23. Ruang intraconal medial juga bisa diakses melalui insisi kelopak mata atas medial. B.
Hal ini membutuhkan paparan dan pinggir levatoaponeurosis dan otot levator dan sayatan
melalui septum intermuskular memanjang antara otot rectus medial dan superior. Tendon oblik
uperior harus dikenali dan diretraksi secara superior, sehingga ruang intrakonal medial bisa
dimasuki.
Jika lokasi lesi orbital superior lebih dalam, maka memungkinkan untuk menggunakan suatu air
drill untuk melubangi orbital rim superior untuk memberikan paparan yang lebih baik dan
memberikan akses yang lebih dalam ke orbit superior (gbr 24). Karena kontur alis dibentuk oleh
supraorbital, pengangkatn orbital rim superior bisa dilakukan tanpa defisiensi kosmetik. Namun,
hati hati dalam mengidentifikasi nervus supraorbital dan hindari kerusakan selama melakukan
manuver ini, atau bisa berakibat hipesthesi di atas dahi dan scalp. Jumlah pembuangan tulang
juga terbatas oleh derajat pneumatisasi dari sinus frontal yang mendasarinya, walaupun pintu
masuk yang tidak disengaja ke sinus biasanya bukanlah suatu masalah jika duktus nasofrontal
tidak terganggu.
Orbitotomi Vertical-Lid-Split Superior
Insisi lipatan kelopak mata atas memberikan akses yang sangat baik ke ruang orbital perifer
superior. Namun, lesi lesi yang berada intrakonal sulit untuk dicapai dengan insisi lipatan
kelopak transversal karena sayatan harus diakukan medial ke horn medial otot levator untuk
menghindari transeksi dan disinsersi levator aponeurosis dan otot Mller. Akan tetapi,
memisahkan kelopak atas secara vertikal memberikan pemisahan vertikal levatoaponeurosis dan
otot Mller dan tidak disinsersi dari insersi normalnya di tarsal plate. Teknik ini memberikan
paparan yang sangat baik untuk orbit superomedial dan berguna unk mencapai lesi yang berada
di medial nervus optikus. Pada kondisi ini, sering suatu alternatif menarik untuk suatu orbitotomi
superior transkranial akan dibutuhkan (gbr 25).

Gbr 25 A.B Coronal (A) dan aksial (B) CT scan menunjukkan massa berkapsul posterior di
dalam orbit superonasal. Suatu alternatif yang sangat baik untuk transkranialorbitotomi untuk
lesi ini ini adalah melalui teknik anterior lewat insisi pemisahan kelopak secara vertical.
Prosedur
Suatu insisi vertikal pada kelopak dibuat tebal penuh melalui margin kelopak melintasi kulit
kelopak mata, otot orbikularis, tarsus, distal levatoraponeurosis, oto Mller dan konjungtiva
palpebral dengan straight iris scissors. Penting untuk tetap berada tegak lurus terhadap margin
kelopak (gbr 26). Insisi kemudian diperluas posterior melalui forniks konjungtiva dan
direfleksikan melalui forniks turun ke konjungtiva bulbar ke lius. Setelah melewati forniks dan
konjungtiva bulbar, sayatan dilakukan posterior ke dalam orbit medial. Tendon oblik superior
bisa diketahui melintas dari trochlea, secara medial, ke superior ekuator bola mata, secara lateral,
dan bisa diretraksi. Akses kemudian ke ruang intrakonal dan kemudian dipenuhi di dalam
kuadran superonasal di antara rectus medial dan otot rectus superior.
Gbr. 26. A. Straight iris scissors digunakan untuk membuat insisi vertikal ketebalan penuh pada
pertemuan medial dan sepertiga sentral dari kelopak atas kiri. B. Insisi diakukan melalui forniks
konjungtiva dan kemudian direfleksikan secara inferior melalui konjungtiva bulbar seperlunya.
C,D. Retraktor Sewall menarik otot oblik superior di atas dan bola mata secara lateral, sehingga
sayatan dapat dilakukan ke ruang perifer dan intrakonal dimana lesi diidentifikasi dan diangkat
dengan bantuan cryoprobe (D). E. Insisi kelopak ketebalan penuh diperkirakan kembali. F.
Tampilan post operatif pasien. Kamuflase scar yag sangat baik diperoleh dengan insisi vertikal
yang ditempatkan di antara kulit kelopak mata. Skema area orbit yang disetujui terhadap
pemisahan kelopak vertikal anterior. Tampilan coronal (G) dan aksial (H)
Setelah membuang lesi, repair dilakukan dengan cara yang sama seperti yang digunakan untuk
repair laserasi marginal kelopak. Konjungtiva bulbar, forniks, dan palpebral diperkirakan
kembali dan tarsal plate disejajarkan pada margin kelopak degan jahitan vertical mattress 7-0
Vicryl. Jahitan tambahan untuk mensejajarkan garis bulu mata diikuti dengan penutupan
orbikuaris dan kulit.
Indikasi

Prosedur ini memberikan kamuflase skar yang sangat baik dengan mempertahankan ketinggian
kelopak dan kontur yang tepat. Hal ini berguna untuk paparan lesi orbital superior yang berada
medial dari nervus optik (gbr 26G, H). Lesi perifer berkapsul dan intrakonal posterior ke bola
mata dapat diperoleh dengan baik melalui cara ini.
Orbitotomi Anterior Medial
Orbitotomi Medial Transconjunctival
Transconjunctival orbitotomi digunakan untuk memasuki ruang Tenon atau ruang intrakonal
medial melalui suatu insisi di medial perilimbal konjungtival bulbar. Jika ruang intrakonal akan
dimasuki, disinsersi otot rectus medial biasanya dibutuhkan. Fraktur luar atau pengangkatan rim
lateral melalui suatu kantotomi lateral dapat dilakukan dalam konjungsi dengan suatu teknik
transkonjungtival medial. Hal ini meningkatkan akses dengan cara membiarkan bola mata untuk
dipindahkan kemudian secara lateral.
Gbr. 27. A. Area orbit yang dapat diakses dengan orbitotomi transkonjungtival medial. B.
Paparan pada orbitotomi medial meningkat dengan mengkombinasikan dengan orbitotomi lateral
agar bisa dilakukan displacement bola mata ke lateral.
Prosedur
Suatu tetesan topikal Neo-Synephrine 2.5% atau injeksi subkonjungtiva lidokain dengan
epinefrin akan membantu hemostatis. Jika dilatasi pupil sedang tidak diinginkan, maka lampaui
langkah ini. Suatu spekulum kelopak ditempatkan dan suatu konjungtival peritomi 90 hingga
180 medial dilakukan berpusat di meridian jam 3. Peritomi bisa diperluas jika paparan
diperlukan. Dua insisi relaks dibuat secara radial di ujung peritomi. Stevens' tenotomy scissors
digunakan untuk membuka lebar dua kuadran medial ruang Tenon anterior, menunjukkan sklera
dan otot rectus medial. Otot rectus medial dapat disinsersi jika paparan ke dalam ruang
intrakonal dibutuhkan. Visualisasi bagian anterior nervus optik dapat diperoleh tanpa disinsersi
otot. Jika otot diangkat, jahitan standar von Pirquet harus dilakukan untuk memasukkan kembali
otot. Suatu jahitan dapat dilalui ke otot asal untuk retraksi mata. Jahitan tambahan atau hook otot
bisa dilingkarkan di bawah otot rectus superior dan inferior jika retraksi mata tambahan
dibutuhkan.

Sewall dan ribbon orbital retractor digunakan utuk retraksi mata dan kapsul Tenon (Gbr 28).
Ruang intrakonal bisa dimasuki sayatan tajam atau tumpul pada kapsul Tenon. Westcott scissors
atau Freer periosteal elevator dapat digunakan untuk tujuan ini. Retraktor orbital dapat direposisi
dengan neurosurgical cottonoids lembut untuk mencegah prolaps lemak orbital. Suatu mikroskop
operasi akan berguna untuk mendapatkan iluminasi dan pembesaran yang sesuai saat bekerja
pada ruang intrakonal medial.
Gbr 28. A. Pasien dengan massa orbital medial menyebabkan displacement lateral bola mata kiri.
B. CT scan coronal menunjukkan massa di ruang bedah periferal medial. C. Prosedur
transkonjungtival orbitotomi dengan insisi konjungtiva dan sayatan medal pada bola mata. Pada
kasus ini, otot rectus medial tidak disinsersi karena lesi berada di dalam ruang pembedahan
perifer di luar muscle cone. D. Tampilan post operatif pada pasien. Perhatikan perpindahan bola
mata telah diselesaikan. Insisi konjungtival tidak meninggalkan jaringan parut.
Indikasi
Penggunaan trankonjungtival orbitotomi yang paling sering adalah untuk menunjukkan bagian
anterior otot ekstraokular perifer dan ruang intrakonal. Khususnya, nervus optik bisa dibiopsi
atau fenestrated dengan menggunakan prosedur ini. Jika paparan terlalu terbatas untuk biopsi
dengan aman massa intrakonal, transkonjungtival orbitotomi bisa dikombinasikan dengan
orbitotomi lateral dengan removal tulang. Hal ini menyebabkan mata bisa digeser ke lateral,
membuat lebih banyak ruang untuk orbit medial (gbr 27B). Orbitotomi trankonjungtival medial
bisa diperluas secara vertikal ke dalam kelopak mata atas untuk memberikan paparan kuadran
superonasal.
Orbitotomi Frontoethmoidal Medial
Insisi frontoethmoidal atau insisi transkarunkular bisa digunakan untuk memasuki ruang
anteromedialekstraperiosteal tanpa melakukan pengangkatan tulang sepanjang dinding medial.
Prosedur ini didiskusikan di Orbitotomi Dalam Medial.
Orbitotomi Lateral Anterior
Penggunaan insisi lipatan kelopak mata dalam menunjukkan orbit lateral saat meninggalkan
orbital rim bertulang yang intak ditunjukkan sebelumnya. Suatu insisi kantotomi tanpa

pengangkatan rim lateral bertulang yang mendasarinya juga memberi akses ke ruang retrobulbar
anterior. Hal ini efektif khususnya untuk melakukan pembukaan selubung nervus optik dan bisa
dilakukan tanpa disinsersi otot rectus lateral.
Prosedur
Suatu insisi sepanjang 1-1.5 cm untuk kantotomi lateral dibuat, dan sayatan dengan kauter
unipolar dilakukan ke rim lateral (gbr 29A). Periosteum diinsisi sepanjang aksis panjang pada
rim lateral dari superior ke inferior dan elevasi dari orbital rim lateral. Periorbita kemudian
dielevasi dari aspek dalam orbital rim lateral dan insisi longitudinal dari anterior ke posterior
dibuat di periorbita yang sejajar dengan rectus lateral yang mendasarinya.
Gbr 29. A. Insisi kantotomi lateral digunakan untuk menunjukkan rim orbital lateral. (B).
Sayatan kemudian dilakukan melewati periorbita, memberi ruang masuk ke intrakonal dan
paparan ke nervus optik.(C)
Rim lateral bisa ditinggalkan di tempatnya dan sayatan diakukan anterior ke posterior pada
kantus lateral (lihat gbr 29B). Karena rim lateral recess posterior pada kantus, permukaan
posterior bola mata dan anterior ruang retrobulbar biasanya bisa diakses. Jka paparan terbatas,
rim lateral bisa ditipiskan secara terbagi dengan bone burr hingga bisa diakses ke ruang
retrobulbar. Sayatan tajam melewati septum intermuskular memberikan ruang masuk ke
retrobulbarintrakonal (lihat gbr 29C). Penutupan dilengkapi dengan memperkirakan ulang crura
superior dan inferior pada tendon kantal lateral dan menutup insisi kulit kantotomi.
Indikasi
Lesi anterior perifer dan intrakonal serta nervus optik retrobulbar bisa diperoleh dengan teknik
ini. Tidak perlu disinsersi otot rectus lateral karena bisa diretraksi keluar.
Orbitotomi Inferior Anterior
Akses ke orbit anterior inferior bisa diperoleh melalui insisi kutaneus yang ditempatkan di
lipatan kelopak bawah atau area subsiliar atau melalui insisi transkonjungtival ditempatkan di
forniks inferior atau di bawah tarsal plate (gbr 30). Dengan prosedur prosedur ini, sayatan bisa
dilakukan secara inferior untuk menunjukkan septum orbital dan rim onfraorbital, serta
eksplorasi bisa dilakukan secara posterior ke dalam orbit. Walaupun akses ke orbit anterior

diperoleh dengan insisi yang ditempatkan langsung di rim infraorbital, hal ini bisa
mengakibatkan scar dan limfedema dan tidak dianjurkan.
Gbr 30. Diagram sagittal kelopak bawah. Suatu insisi melewati kulit dan orbikularis bisa
dilakukan di area subsiliar (1) atau pada kelopak bawah mata (2). Pada kasus kasus tersebut,
sayatan dilakukan melewati orbikularis untuk masuk ke bidang fascia postorbikular pada
permukaan anterior septum orbital. Suatu insisi melewati konjungtiva ada pinggir inferior tarsal
plate juga mengarahkan ke bidang fascia postorbikular, tetapi dai Teknik posterior. (3). Suatu
insisi langsung melewati forniks memperoleh akses ke ruang retroseptal secara langsung.
Teknik Percutaneous
Suatu insisi bisa ditandai sedikit di bawah bulu mata kelopak ata bawah, atau pada beberapa
milimeter di bawah lipatan lekopak bawah. Insisi lipatan kelopak bawah mungkin lebih dipilih
dibandingkan insisi subsiliar karena band yang lebih lebar pada orbikularis pretarsal ditinggalkan
untuk melawan kecenderungan kontraktur ost operatif dan ektropion. Suatu jahitan traksi melalui
tarsus marginal memberikan traksi superior dan membantu mengenalo bidang sayatan. Insisi
dilakukan melewati kulit dan orbikularis ke dalam bidang fascia postorbikular. Suatu flap kulit
dan otot orbikularis di bawahnya kemudian dielevasi secara inferior oleh sayatan tumpul dan
tajam sambil menjaga septum orbital tetap intak. Pada cara ini, rim orbital bisa ditunjukkan. Dari
lokasi ini, periorbita lantai dapat diinsisi dan dielevasi untuk mengakses lesi ekstraperiosteal.
Lesi lesi pada ruang periferal inferior atau ruang intrakonal bisa diakses dengan membuka
septum orbital secara luas dan menyayat secara posterior di antara lemak orbital (gbr 31).
Gbr. 31. A. Anak dengan massa orbital inferior menyebabkan supraplacement bola mata kanan.
B. CT scan coronal menunjukkan massa difus yang melibatkan seluruh lantai orbital. C. Insisi
lipatan kelopak bawah melewati kulit dan orbikularis mengizinkan sayatan inferior ke rim orbital
dan kemudial melewati septum orbital untuk menunjukkan massa. D. Tampilan post operatif
pasien setelah debulking hemangioma kapiler dan injeksi steroid intralesi. E. Pasien yang sama 1
tahun kemudian. Perhatikan jaringan parut yang sangat bagus dibantu oleh insisi lipatan kelopak
bawah. F. CT scan post operatif menunjukkan respon pada hemangioma kapiler terhadap injeksi
steroid intralesi.

Berhati hatilah saat mengidentifikasi dan cegah kerusakan terhadap otot oblik inferior yang
muncul dari rim orbital medial inferior. Oblik inferior bisa dielevasi dari asalnya pada orbital rim
medial inferior untuk mmperkuat eksposur. Hal ini bisa dijahit kembali atau menetap setelah
sayatan orbital selesai.
Setelah sayatan orbital selesai, penutupan dilakukan engan jahitan sederhana pada kulit.
Biasanya tidak perlu menutup periosteum pada rim kecuali pada kasus kasus tertentu, seperti
saat menempatkan implan di subperiosteal untuk repair fraktur. Septum orbital tidak pernah
boleh ditutup karena resiko retraksi kelopak bawah dan pemendekan.
Indikasi
Teknik ini memberikan akses yagn sangat baik ke lesi ekstraperiosteal perifer atau intrakonal.
Kerugian utama pada insisi kelopak bawah perkutaneus adalah kemungkinan terbentuknya scar
yag terlihat dan kontraktur flap otot kulit, yang mungkin menyebabkan retraksi kelopak bawah,
menunjukkan sklera, atau ektropion pada hampir 10% kasus.
Teknik Transconjunctival
Teknik yang lebih dipilih untuk orbit inferior adalah melalui insisi transkonjungtival. Hal ini
mengeliminasi skar perkutaneus dan resiko retraksi kelopak bawah mata. Insisi transkonjungitval
bisa dibuat melalui konjungtiva dan retraktor kelopak bawah mata pada pinggir inferior tarsal
plate, atau insisi bisa dibuat langsung melalui forniks inferior. Pilihan penulis adalah untuk
menginsisi melalui konjungtiva dan retraktor sedikit inferior dari tarsal plate sehingga sayatan
bisa dilakukan pada bidang fascia postorbikular sambil; menjaga septum orbital tetap intak (gbr
32). Ahli bedah lainnya memilih insisi langsung melewati forniks. Hal ini meminimalisasi
sayatan di antara fascia postorbikular tetapi menyebabkan prolaps lemak orbital ke dalam
lapangan operasi karena sayatan terjadi posterior terhadap septum.
Gbr 32. A. Diagram skematik orbitotomi subtarsaltranskonjungtival kelopak bawah. Sayatan
awal menyebabkan septum orbital tetap intak untuk mencegah prolaps lemak orbital ke dalam
lapangan operasi. B. Setelah flap ditarik, orbit perifer bisa dimasuki degnan menginsisi septum
orbital, atau ruang subperiosteal bisa dimasuki dengan insisi dan elevasi periorbita pada rim
inferior.

Prosedur
Insisi transkonjungtival biasanya diikuti dengan kantotomi lateral dan kantolisis inferior agar
kelopak bawah menjauh dari rim dan memberikan akses yang lebih baik ke orbit inferior.
Straight iris scissor bias digunakan untuk kantotomi lateral; kemudian dirotasikan 90 untuk
memotong hingga crus inferior tendon kantal lateral (gbr 33). Insisi kemudian dilakukan
melewati kelopak bawah pada pinggir inferior tarsal plate, disinsersi konjungtiva dan retraktor
kelopak bawah. Suatu jahitan traksi melewati pinggir yang terpototng pada konjungtiva dan
ditarik secara superior menyebabkan identifikasi bidang sayatan sedikit superfisial dari septum
orbital. Bidang ini identik dengan yang ditemui pada insisi kelopak bawah. Hal yang
membedakan berupa masuk secara posterior bukan anterior. Tampilan saat mendekati rim orbital
melalui insisi subtarsal identik dengan teknik perkuaneus, dan sayatan bisa diproses
ekstraperiosteal sepanjang lantai atau septum orbital ke dalam jaringan intraorbital.
Gbr 33. A. Pasien dengan proptosis sisi kiri disebabkan oleh massa intrakonal berkapsil (B). C.
Kantotomi dan kantolisis inferior mengizinkan disinsersi keloak bawah dari rim orbital lateral.
D. Insisi subtarsal dengan iris scissor digunakan untuk disinsersi konjungtiva dan retraktor
kelopak bawah dari pinggir inferior tarsal plate. E. Sayatan kemudian dilakukan melewati
septum orbital untuk mengekspos dan membuang hemangioma kavernosus besar. F. Penutupan
dengan memperkirakan kembali konjungtiva ke pinggir inferior tarsal plate dan melekatkan
kembali crus inferior ke crus superior pada tendon kantal lateral. G. Tampilan post operatif
menunjukkan kmuflase scar yang sangat baik yang dibantu oleh teknik transkonjungtival.
Setelah sayatan orbital selesai, konjungtiva dan retraktor diperkirakan kembali ke pinggir inferior
tarsus dengan jahitan kontinyu dan dapat diserap. Crus inferior tendon kantal lateral kemudian
dijahit ke crus superior dengan jahitan yang dapat diserap, dan insisi kantotomi pada kulit ditutup
degan satu atau dua jahitan interupted.
Indikasi
Lesi ekstraperiosteal, periferal, dan intrakonal anterior bisa dicapai melalui insisi perkutaneus
atau transkonjungtival (gbr 34). Karena paparan yang sangat baik dibantu oleh kedua teknik,
pilihan penulis adalah untuk mencegah skar kutaneus dan potensi komplikasi retraksi kelopak
bawah atau ektropion dengan mencapai orbit inferior melalui insisi konjungtiva. Pada kondisi

kondisi jarang, bisa dikombinasikan dengan osteotomi rim orbital inferior untuk memberikan
akses lebih lebaw ke orbit inferior. Pada kasus ini, berhati hatilah agar tidak merusak bundel
neurovaskular infraorbital yang keluar dari foramen sedikit di bawah rim inferior.
Gbr. 34. Skema area orbital yang dapat diakses dengan orbitotomi inferior. (A) tampak coronal
(B) aksial
Teknik Kombinasi
Pada suatu kondisi, lebih dari satu teknik dibutuhkan untuk mengekspos lesi secara lengkap dan
membuangnya secara aman. Seorang ahli bedah orbital akan fleksibel sepanjang prosedur
pembedahan dan menggunakan kombinasi kreatif dari teknik teknik sesuai kebutuhan. Ahli
bedah juga harus mengenali saat spesialis dari disiplin ilmu lain, seperti THT atau bedah saraf,
bisa membantu dalam manajemen definitif proses patologi orbital dan tidak ragu untuk meminta
bantuan mereka.
Dengan mengkombinasi satu dari teknik anterior dengan kantotomi lateral dan pengangkatan
dinding lateral sering membantu memberikan akses ke struktur orbital yang lebih dalam.
Orbitotomi lateral dengan fraktur luar atau pengangkatan dinding lateral memberikan akses yang
lebih besar ke struktur orbital yang lebih dalam. Caranya adalah dengan mengizinkan
perpindahan yang lebih besar pada bola mata secara lateral. Hal yang serupa, orbitotomi lateral
bisa dikombinasikan dengan orbitotomi transkonjungtival inferior (gbr 35) atau suatu orbitotomi
superior untuk memberikan akses yang lebih. Orbitotomi transkonjungtival inferior bisa
diperpanjang ke dalam suatu orbitotomi transkarunkular medial untuk memberikan paparan yang
lebih pada orbit medial dan inferior. Lesi lesi yang mengelilingi nervus optik bisa dibagi dan
diangkat melalui teknik medial dan lateral terpisah sehingga porsi lesi yang terpisah bisa diakses
langsung tanpa melintasi nervus optik.
Gbr 35. A. Pasien dengan massa kistik multipel pada orbit lateral dan inferior. Hal ini
menyebabkan supraplacement pada bola dan ekspansi orbit bertulang seperti yang ditunjukkan
pada CT scan coronal (B). C. Teknik melalui kombinasi modifikasi orbitotomi lateral Berke dan
orbitotomi transkonjungtival inferior. Setelah rim orbital lateral diangkat, paparan luas pada orbit
lateral dan inferior dibantu (D). E. Tampilan postoperatif pasien, menunjukkan kamuflase scar

yang sangat baik yang dipenuhi oleh insisi kantotomi lateral kecil dan insisi transkonjungtival
yang tersembunyi.