Anda di halaman 1dari 56

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Anggaran
Pendapatan
dan
Belanja
Desa
(APBDesa)adalah instrumen penting yang sangat
menentukan dalam rangka perwujudan tata pemerintahan
yang baik (good governance) di tingkat desa. Tata
pemerintahan yang baik diantaranya diukur dari proses
penyusunan
dan
pertanggungjawaban
APBDesa.
Memahami proses pada seluruh tahapan pengelolaan
APBDesa
(penyusunan,
pelaksanaan,
pertanggungjawaban) memberikan arti terhadap model
penyelenggaraan pemerintahan desa itu sendiri.
Proses pengelolaan APBDesa yang didasarkan
pada prinsip partisipasi, transparansi dan akuntabilitas
akan memberikan arti dan nilai bahwa pemerintahan desa
dijalankan dengan baik. APBDesa yang memadai juga
dapat mendorong partisipasi warga lebih luas pada
proses-proses
perencanaan
dan
penganggaran
pembangunan. APBDesa dapat menjawab partisipasi
warga yang bersifat mikro dan mampu ditangani pada
level desa.
Proses penguatan Pemerintahan Desa (Pemerintah
Desa dan Badan Permusyawaratan Desa) perlu dilakukan
dalam pengelolaan keuangan desa, khususnya tahap
penyusunan, pelaksanaan dan pertanggungjawaban
APBDesa, agar APBDesa yang disusun berorientasi
kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat desa dan
memenuhi prinsip-prinsip good governance seperti
transparansi, partisipasi, efektifitas dan akuntabilitas.
Berdasar pemikiran-pemikiran itulah modul ini dibuat

sebagai sumbangsih kami dalam mewujudkan Good


Village Governance (Kepemerintahan Desa yang Baik).
B.

Deskripsi Singkat
Mata diklat Keuangan Desa dimaksudkan untuk
meningkatkan pemahaman peserta dalampengelolaan
keuangan desa dengan baik dan benar. Ruang lingkup
pembahasan meliputi : prinsip penyusunan APBDesa dan
mekanisme pengelolaan keuangan desa.

C.

Tujuan Pembelajaran
1. Kompetensi Dasar
Peserta diharapkan mampu memahami pengelolaan
keuangan desa dengan baik dan benar.
2. Indikator Keberhasilan
Setelah mengikuti mata diklat Keuangan Desa, peserta
diharapkandapat :
a. Menjelaskan berbagai prinsip penyusunan
APBDesa;
b. Menjelaskan mekanisme pengelolaan keuangan
desa dengan benar.

D.

Materi/Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan


1. Prinsip Penyusunan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Desa (APBDesa):
a. Pengelolaan Sumber Pendapatan desa
b. Teknik Penganggaran Desa
c. Prinsip dasar Penyusunan APBDesa :
1) Anggaran Berbasis Kinerja
2) Keadilan Anggaran
3) Efisiensi dan Efektifitas Anggaran
4) Surplus dan defisit Anggaran

5)
6)
7)
8)
9)

Disiplin Anggaran
Taat Asas
Transparansi dan Akuntabilitas
Partisipasi masyarakat
Kemandirian

2. Mekanisme pengelolaan keuangan desa:


a. Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Desa
b. Struktur APBDesa
c. Penyusunan RAPBDesa
d. Pelaksanaan APBDesa
e. Perubahan APBDesa
f. Penatausahaan dan Pertanggungjawaban APBDesa
g. Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) dalam
APBDesa
E.

Petunjuk Belajar
1. Bacalah peraturandan bahan bacaan yang terkait
dengan masalah keuangan desa yang tersedia.
2. Pahami dari setiap rangkuman yang ada pada setiap
bab.
3. Cobalah melakukan latihan sendiri dengan butir-butir
kegiatan yang tertuang dalam modul/bahan ajar

BAB II
PRINSIP-PRINSIP PENYUSUNAN
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA
(APBDESA)
Setelah mengikuti mata diklat Keuangan Desa, peserta diharapkan
dapat menjelaskan berbagai prinsip penyusunan APB Desa

A.

Pengelolaan Sumber Pendapatan Desa


Sumber pendapatan desa terdiri atas:
1. Pendapatan asli desa, terdiri dari hasil usaha desa, hasil
kekayaan desa, hasil swadaya dan partisipasi, hasil
gotong royong, dan lain-lain pendapatan asli desa yang
sah;
2. Bagi hasil pajak daerah Kabupaten/Kota paling sedikit
10% untuk desa dan dari retribusi Kabupaten/Kota
sebagian diperuntukkan bagi desa;
3. Bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan
daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota untuk Desa
paling sedikit 10%, yang pembagiannya untuk setiap
Desa secara proporsional yang merupakan Alokasi Dana
Desa (ADD); Rasio penggunaan dana ADD adalah 30%
untuk biaya operasional Pemerintahan Desa dan 70%
untuk pemberdayan masyarakat.
4. Bantuan keuangan dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi,
dan Pemerintah Kabupaten/Kota dalam rangka
pelaksanaan urusan pemerintahan;
5. Hibah dan sumbangan dari pihak ketiga yang tidak
mengikat.
Sumber pendapatan desa yang telah dimiliki dan
dikelola oleh desa tidak dibenarkan diambil alih oleh

pemerintah atau pemerintah daerah.Sumber pendapatan


daerah yang berada di desa baik pajak maupun retribusi
yang sudah dipungut oleh Provinsi atau Kabupaten/Kota
tidak dibenarkan adanya pungutan tambahan oleh
Pemerintah Desa.Sumber pendapatan desadari perolehan
bagian pajak dan retribusi daerah ditetapkan dengan
Peraturan Daerah Kabupaten/Kota dan pengalokasiannya
ditetapkan dengan Peraturan Bupati/Walikota.
Bantuan keuangan kepada desa (dari Pemerintah,
Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota),
serta Alokasi Dana Desa disalurkan melalui kas
desa.Pemberian hibah dan sumbangan tidak mengurangi
kewajiban-kewajiban
pihak
penyumbang
kepada
desa.Sumbangan yang berbentuk barang, baik barang
bergerak maupun barang tidak bergerak dicatat sebagai
barang inventaris kekayaan milik desa sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.Sumbangan
yang berbentuk uang dicantumkan di dalam APBDesa.
Dalam
rangka
meningkatkan
pendapatan
masyarakat dan desa, Pemerintah Desa dapat mendirikan
Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) sesuai dengan
kebutuhan
dan
potensi
Desa.
Pembentukan
BUMDesaditetapkan dengan peraturan desa berpedoman
pada peraturan perundang-undangan. Bentuk BUMDesa
harus berbadan hukum. BUMDesa adalah usaha desa
yang dikelola oleh pemerintah desa. Kepengurusan
BUMDesa terdiri dari pemerintah desa dan masyarakat.
Permodalan BUMDesa dapat berasal dari:
1. Pemerintah desa;
2. Tabungan masyarakat;
3. Bantuan pemerintah, pemerintah provinsi
pemerintah kabupaten/kota;

dan

4. Pinjaman; BUMDesa dapat melakukan pinjaman sesuai


dengan peraturan perundang-undangan. Pinjaman
dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan BPD;
5. Penyertaan modal pihak lain atau kerja sama bagi hasil
atas dasar saling menguntungkan.
Kekayaan/aset desa merupakan bagian dari
keuangan desa, karena pembentukan kekayaan desa
dibiayai dari keuangan desa.Jenis-jenis kekayaan/aset
desa, antara lain:
1. Tanah kas desa;
2. Pasar desa;
3. Pasar hewan;
4. Tambatan perahu;
5. Bangunan desa;
6. Pelelangan ikan yang dikelola oleh desa; dan
7. Lain-lain kekayaan milik desa, yang dapat berupa:
a. Barang yang dibeli atau diperoleh atas beban
APBDesa atau APBD kabupaten/kota;
b. Barang yang berasal dari perolehan lainnya dan atau
hibah dan sumbangan dari pihak ketiga;
c. Barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan
perjanjian/kontrak sesuai peraturan perundangundangan;
d. Barang yang dihibahkan oleh pemerintah pusat,
provinsi dan/atau kabupaten/kota;
e. Barang yang diperoleh dari hasil kerjasama desa.
Pengelolaan kekayaan desa diarahkan untuk
meningkatkan pendapatan desa dengan mendapat
persetujuan BPD.Jenis pemanfaatan kekayaan desa,
dapat
berupa
sewa,
pinjam
pakai,
kerjasama
pemanfaatan,atau
bangun
guna
serah
yang
menguntungkan bagi kepentingan masyarakat desa dan
peningkatan
pendapatan
desa.Kepala
Desa

menyampaikan laporan hasil pengelolaan kekayaan desa


kepada Bupati/Walikota melalui Camat setiap akhir tahun
anggaran dan/atau sewaktu-waktu.
B.

Teknik Penganggaran Desa


Perencanaan dan penganggaran merupakan
proses yang terintegrasi sehingga output dari perencanaan
adalah penganggaran. Proses perencanaan arah dan
kebijakan pembangunan desa tahunan dan rencana
anggaran tahunan (APBDes) pada hakikatnya merupakan
perencanaan instrumen kebijakan publik sebagai upaya
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Oleh karena
pentingnya anggaran tersebut maka perencanaan
anggaran/penyusunan anggaran juga menjadi sesuatu
yang penting dalam penyelenggaraan pemerintahan desa.
APBDesa merupakan dokumen formal hasil
kesepakatan antara Pemerintah Desa dan Badan
Permusyawaratan Desa tentang belanja yang ditetapkan
untuk
melaksanakan
kegiatan
pemerintah
dan
pendapatan yang diharapkan untuk menutup keperluan
belanja tersebut atau pembiayaan yang diperlukan bila
diperkirakan akan terjadi defisit atau surplus.
Dalam proses perencanaan anggaran dikenal
adanya siklus anggaran yang meliputi tiga tahap sebagai
berikut.
1.

Tahap Persiapan Anggaran


Pada tahap persiapan anggaran dilakukan
taksiran pengeluaran atas dasar taksiran pendapatan
yang tersedia.Terkait dengan masalah tersebut, yang
perlu diperhatikan adalah sebelum menyetujui
taksiran pengeluaran hendaknya terlebih dahulu
dilakukan penaksiran pendapatan secara lebih
akurat.

2.

Tahap Pelaksanaan Anggaran


Setelah APBDes disetujui, tahap berikutnya
adalah
pelaksanaan
anggaran.Dalam
tahap
pelaksanaan anggaran, hal terpenting yang harus
diperhatikan oleh pemerintah desa adalah dimilikinya
sistem informasi akuntansi dan pengendalian
manajemen.

3.

Tahap Pelaporan dan Evaluasi


Tahap terakhir dari siklus anggaran adalah
pelaporan dan evaluasi anggaran.Tahap persiapan
dan pelaksanaan anggaran terkait dengan aspek
operasional anggaran, sedangkan tahap pelaporan
dan evaluasi terkait dengan aspek akuntabilitas.

APBDesa mengkoordinasikan aktivitas belanja


pemerintah dan memberi landasan bagi upaya perolehan
pendapatan dan pembiayaan oleh Pemerintah Desa untuk
suatu periode tertentu. Teknik dasar penganggaran dalam
penyusunan APBDesa sebagai berikut :
1. Semua penerimaan (baik dalam bentuk uang, maupun
barang dan/atau jasa) dianggarkan dalam APBDesa.
2. Seluruh pendapatan dan belanja dianggarkan secara
bruto.
3. Jumlah pendapatan merupakan perkiraan terukur dan
dapat dicapai serta berdasarkan ketentuan perundangundangan.
4. Penganggaran pengeluaran harus didukung dengan
adanya kepastian tersedianya penerimaan dalam
jumlah cukup dan harus didukung dengan dasar
hukum yang melandasinya.

C.

Prinsip Dasar APBDesa


APBDesa adalah rencana keuangan tahunan
pemerintahan desa yang dibahas dan disetujui bersama
oleh Kepala Desa dan BPD, dan ditetapkan dengan
Peraturan Desa.
Fungsi APBDesa adalah:
1. Fungsi otorisasi: APBDesa menjadi target fiskal yang
menggambarkan keseimbangan antara belanja,
pendapatan, dan pembiayaan yang diinginkansebagai
dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja
desa pada tahun yang bersangkutan.
2. Fungsi
perencanaan:
APBDesa
merupakan
pernyataan kebijakan publiksebagai pedoman bagi
manajemen dalam merencanakan kegiatan pada
tahun yang bersangkutan.
3. Fungsi pengawasan: APBDesa menjadi pedoman
pengendalian yang memiliki konsekuensi hukum untuk
menilai
apakah
kegiatan
penyelenggaraan
pemerintahan desa sesuai dengan ketentuan yang
telah ditetapkan.
4. Fungsi alokasi: APBDesa harus diarahkan utk
menciptakan
lapangan
kerja/mengurangi
pengangguran dan pemborosan sumber daya, serta
meningkatkan efisiensi dan efektivitas perekonomian
desa.
5. Fungsi
distribusi:
kebijakan
APBDesa
harus
memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan
masyarakat.
6. Fungsi akuntabilitas: APBDesa memberi landasan
penilaian kinerja pemerintah desa; Hasil pelaksanaan

anggaran dituangkan dalam laporan keuangan


pemerintah
desa
sebagai
pernyataan
pertanggungjawaban pemerintah desa kepada publik.
Penyusunan APBDesa harus berdasarkan pada
prinsip-prinsip berikut :
1.

Anggaran Berbasis Kinerja


Anggaran yang disusun dengan pendekatan
kinerja mengutamakan upaya pencapaian hasil
kerja (output/outcome) dari perencanaan alokasi
biaya atau input yang telah ditetapkan. Hasil
kerjanya harus sepadan atau lebih besar dari biaya
atau input yang telah ditetapkan. Selain itu harus
mampu menumbuhkan profesionalisme kerja di
setiap unit yang terkait.
Anggaran kinerja berorientasi pada efisiensi
pengelolaan
internal
program.
Anggaran
inimengkaitkan belanja dan pendapatan dengan
beban
kerja.
Kelebihan
penganggaran
kinerjamemperlihatkan
kegiatan
dan
tingkat
pelayanan yang diberikan. Anggaran kinerja
memberikaninformasi berkaitan dengan kualitas,
kuantitas dan produktivitas pelayanan yang
diberikan olehpemerintah atau lembaga lainnya.
Disisi lain, anggaran kinerja memberikan informasi
untukpengambilan keputusan prioritas pelayanan.
Anggaran berbasis kinerja memusatkan
perhatian pada pengukuran efisiensi hasil kerja
dengan tujuan memaksimumkan output yang dapat
dihasilkan dari input tertentu.

10

Ciri-ciri anggaran berbasis kinerja:


a. Klasifikasi anggaran didasarkan pada program
dan kegiatan.
b. Penekanan pada pengukuran hasil kerja.
c. Setiap kegiatan harus dilihat dari segi efisiensi
dengan memaksimalkanoutput
d. Memerlukan standar pengukuran hasil kinerja.
Keunggulan anggaran berbasis kinerja:
a. Memungkinkan pendelegasian wewenang dalam
pengambilan keputusan.
b. Merangsang partisipasi motivasi aktif unit-unit
operasional melaluiproses usul dari bawah dan
penilaian anggaran yang bersifat aktual.
c. Meningkatkan
fungsi
perencanaan
dan
mempertajam pembuatankeputusan pada setiap
tingkat eksekutif.
d. Memungkinkan alokasi dana secara optimal
karena setiap kegiatanselalu dipertimbangkan
dari segi efisiensi.
e. Dapat menghindarkan pemborosan.
Kelemahan anggaran berbasis kinerja:
a. Cenderung menurunkan peran badan legislatif
dalam proses perumusan kebijaksanaan dan
penentuan anggaran.
b. Tidak terdapat kejelasan tentang penanggung
jawab dan siapa yang menanggung dampak dari
setiap keputusan.
c. Tidak semua kegiatan dapat distandarkan dan
diukur secara kuantitatif.

11

2.

Keadilan Anggaran
Merencanakan
anggaran
bukan
saja
menentukan sumber pendapatan dan pengeluaran
untuk kepentingan pembangunan saja, tetapi
menetapkan komposisi dan beban yang harus
ditanggung langsung maupun tidak langsung oleh
masyarakat.Retribusi Desa, dan pungutan desa lain
yang dibebankan kepada masyarakat harus
mempertimbangkan tingkat kemampuan masingmasing warga masyarakat untuk membayar.
Sumber pendapatan melalui pungutan desa
jumlahnya sangat terbatas.Ditinjau dari kemampuan
relatif terbatas, maka anggaran harus ditetapkan
untuk hal-hal yang bersifat prioritas menyangkut
kepentingan
dan
kebutuhan
dasar
masyarakat.Komposisi
harus
menggambarkan
keseimbangan dan keadilan.Pengeluaran tidak
hanya untuk kepentingan individu, pemerintah atau
kelompok tertentu saja, tetapi harus proporsonal agar
dapat dinikmati masyarakat, terutama yang
berkemampuan terbatas.Dengan demikian, anggaran
harus mampu menggambarkan nilai rasionalitas
dalam menetapkan prioritas dan tingkat pelayanan
yang diterima masyarakat.
Untuk menyeimbangkan kedua kebijakan
tersebut, Pemerintah desa dapat melakukan
diskriminasi
tarif
secara
rasional
guna
menghilangkan rasa ketidakadilan. Selain itu dalam
mengalokasikan
belanja
desa
juga
harus
mempertimbangkan keadilan dan pemerataan agar
dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat
tanpa diskriminasi pemberian pelayanan.

12

3.

Efektivitas dan Efisiensi


Prinsip ini meliputi tindakan pengendalian
pembiayaan melalui optimalisasi pemanfaatan,
penghematan dan memperjelas kinerja program
dalam mempercepat target serta sasaran
pembangunan tahunan.
Proses yang benar dalam perencanaan
anggaran terlebih dahulu menetapkan pokok
kegiatan atau program yang akan dilaksanakan
berdasarkan rencana strategis desa, selanjutnya
ditetapkan jumlah biaya yang dibutuhkan untuk
mendukung pelaksanaan pembangunan.
Pada saat inilah, masyarakat harus mampu
menghitung rincian biaya yang diperlukan untuk
mencapai sasaran dengan mempertimbangkan
kondisi keuangan desa.Artinya dilakukan analisis
tentang
optimalisasi
anggaran
untuk
mempertemukan
tujuan
dan
kemampuan
pembiayaan desa, sehingga terhindar dari
pemborosan.
Tidak seluruh kepentingan dan kebutuhan
pembangunan
harus
dipenuhi
tanpa
mempertimbangkan keterbatasan pengelolaan dan
pembiayaan.
Penganggaran
yang
baik
akanmenetapkan jenis dan skala prioritas dalam
pencapaian
tujuan
dan
sasaran
pembangunan.Dana
yang
tersedia
harus
dimanfaatkan dengan sebaik mungkin untuk dapat
menghasilkan
peningkatan
pelayanan
dan
kesejahteraan yang maksimal guna kepentingan
masyarakat.
Oleh karena itu untuk dapat mengendalikan
tingkat efisiensi dan efektivitas anggaran, dalam
perencanaan perlu diperhatikan :

13

a.

b.

4.

Penetapan tujuan dan sasaran secara


jelas,hasil dan manfaat, serta indikator kinerja
yang ingin dicapai;
Penetapan prioritas kegiatan dan penghitungan
beban kerja, serta penetapan harga satuan
yang rasional.

Surplus Dan Defisit Anggaran


Paling tidak terdapat dua sistem penganggaran
desa yaitu sistem anggaran berimbang dan
defisit.Keduanya
diterapkan
sesuai
dengan
kemampuan desa bersangkutan.
Sistem anggaran berimbang artinya dalam
menetapkan
komponen
pendapatan
dan
pengeluaran atau belanja harus memperhatikan
keseimbangan antara pengeluaran rutin dan
pembangunan dengan penerimaan keuangan desa.
Sistem anggaran defisit dalam penerapannya
dilakukan dengan menetapkan pengeluaran atau
belanja
pembangunan
dengan
kemampuan
penerimaan desa secara realistis baik yang
bersumber dari pendapatan asli desa maupun
dukungan dari pemerintah kabupaten, provinsi dan
pusat.
Jika target anggaran tidak berhasil dicapai
sesuai kebutuhan rencana pembangunan, maka
perlu dilakukan perubahan yang bersifat taktis dan
strategis agar sasaran anggaran berjalan dapat
tercapai. Di sisi lain, kelebihan target penerimaan
tidak harus selalu dibelanjakan, sehingga antara
penerimaan dan belanja terjadi surplus atau defisit.
Apabila terjadi surplus, desa dapat membentuk

14

cadangan, sedangkan terjadi defisit anggaran, maka


harus
ditutup
sumber
lain
yang
dapat
dipertanggungjawabkan, misalnya melalui pinjaman
desa atau sumber lain di mana pemerintah desa
mampu mengembalikannya.
5. Disiplin Anggaran
Beberapa prinsip dalam disiplin anggaran yang
perlu diperhatikan antara lain :
a. Pendapatan
yang
direncanakan
merupakan
perkiraan yang terukur secara rasional dan dapat
dicapai untuk setiap sumber pendapatan sedangkan
belanja yang dianggarkan merupakan batas tertinggi
pengeluaran belanja yang diizinkan. Artinya tidak
dibenarkan
pemerintah
desa
atau
pelaksanamenggunakan biaya untuk pelaksanaan
proyek di luar batas pagu dan pos anggaran yang
telah ditetapkan.
b. Penganggaran pengeluaran harus didukung adanya
kepastian tersedianya penerimaan dalam jumlah
yang cukup dan tidak dibenarkan melaksanakan
kegiatan yang belum tersedia dan atau tidak
mencukupi
kredit
anggarannya
dalam
APBDesa/perubahan APBDesa; dan
c. Semua penerimaan dan pengeluaran daerah dalam
tahun
anggaran
yang
bersangkutan
harus
dianggarkan dalam APBDesa dan dilakukan melalui
rekening kas desa.

15

6.

Taat Asas
Penyusunan APBDesa sebagai kebijakan
desa yang ditetapkan dengan peraturan desa harus
mengikuti asas-asas :
1. Tidak
bertentangan
dengan
peraturan
perundang-undangan
yang
lebih
tinggi
mengandung arti bahwa apabila pendapatan,
belanja dan pembiayaan yang dicantumkan
dalam rancangan peraturan desa tersebut telah
sesuai dengan ketentuan perundang-undangan,
yang diakui keberadaannya dan mempunyai
kekuatan hukum yang mengikat sepanjang
diperintahkan
oleh
peraturan
perundangundangan
yang
lebih
tinggi.
Peraturan
perundang-undangan yang lebih tinggi yang
dimaksud mencakup kebijakan yang berkaitan
dengan keuangan daerah.
2. Tidak bertentangan dengan kepentingan umum
mengandung arti bahwa rancangan peraturan
desa tentang APBDes lebih diarahkan agar
mencerminkan keberpihakan kepada kebutuhan
dan kepentingan masyarakat (publik) dan bukan
membebani masyarakat. Peraturan desa tidak
boleh menimbulkan diskriminasi yang dapat
mengakibatkan
ketidakadilan,
menghambat
kelancaran arus barang dan pertumbuhan
ekonomi
masyarakat,
pemborosan
keuangan/memicu ketidakberdayaan masyarakat
kepada pemerintah desa dan menganggu
stabilitas keamanan serta ketertiban masyarakat
yang secara keseluruhan menganggu jalannya
penyelenggaraan pemerintahan di desa.

16

3. Tidak bertentangan dengan peraturan desa


lainnya mengandung arti bahwa apabila
kebijakan yang dituangkan dalam peraturan desa
tentang APBDesa tersebut telah sesuai dengan
ketentuan peraturan desa sebagai penjabaran
lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan
yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri
khas
masing-masing
desa.
Sebagai
konsekuensinya, rancangan peraturan desa
tersebut harus sejalan dengan pengaturannya
tentang pokok-pokok pengelolaan keuangan
desa.
7.

Transparansi dan Akuntabilitas Anggaran


APBDesa yang disusun harus dapat
menyajikan informasi secara terbuka, jelas dan
mudah diakses oleh masyarakat mengenai tujuan,
sasaran, sumber pendanaan pada setiap jenis
objek belanja serta hubungan antara besaran
anggaran dengan manfaat dan hasil yang ingin
dicapai dari suatu kegiatan yang dianggarkan.
Anggota masyarakat memiliki hak dan akses yang
sama untuk mengetahui proses anggaran karena
menyangkut aspirasi dan kepentingan masyarakat,
terutama pemenuhan kebutuhan masyarakat.
APBDesa yang disusun harus mampu menunjukkan
informasi
yanglengkap
untuk
kepentingan
pemerintah,
pelaksanaan
kegiatan,
dan
masyarakat.Penggunaan
anggaran
harus
dipertanggungjawabkan dan dikontrol melalui
mekanisme
pelaporan
yangtelah
ditetapkan.Masyarakat juga berhak untuk menuntut

17

pertanggungjawaban
atas
rencana
pelaksanaan anggaran tersebut.

ataupun

Transparansi dan pengetahuan masyarakat


yang memadai tentang prosespenyusunan dan
penetapan pos-pos anggaran akan mendorong
kinerja dan kontrol publikterhadap pelaksanaan
pembangunan.Anggaran yang telah ditetapkan dan
disetujui harus dilaksanakan melalui mekanisme
danprosedur yang jelas.Akuntabilitas perencanaan
danpelaksanaan anggaran merupakan keharusan
sebagai wujud pertanggungjawaban pemerintah
desa kepada masyarakat.
8.

Partisipasi Masyarakat
Hal ini mengandung makna bahwa
pengambilan keputusan dalam proses penyusunan
dan penetapan APBDesa sedapat mungkin
melibatkan
partisipasi
masyarakat
sehingga
masyarakat mengetahui hak dan kewajibannya
dalam pelaksanaan APBDes.Penyusunan dan
penetapan APBDesa bukan menjadi tanggung
jawab pemerintah desa dan BPD saja,melainkan
melalui
keterlibatan
masyarakat.Rencana
pembangunan dan kebutuhan biayapelaksanaan
sangat erat kaitannya dengan kepentingan
masyarakat, sehingga dalammenentukan sumber
pendapatan dan pengeluaran harus dilakukan
secara terbuka.Masyarakatharus mampu membaca
dan memahami fungsi anggaran dalam konteks
rencana jangkapanjang desa.

18

9.

D.

Kemandirian
Pada dasarnya rencana pembangunan desa
merupakan prakarsa masyarakat secara swadaya
untuk mencapai tujuan dan harapan yang dicitacitakan.Demikian halnya dalam menyusun anggaran,
prinsip kemandirian menjadi pilar utama agar desa
mampu
mewujudkan
visi,
misi
dan
tujuannya.Pemerintah
desa
harus
mampu
meningkatkan pendapatan asli desa secara rasional
dan
tidak
membebani
perekonomian
masyarakat.Menggali sumber pendapatan desa
secara optimal dan penerapan efisiensi pengeluaran
pembangunan, melaluistrategi pembiayaan yang
tepat,
sehingga
mengurangi
ketergantungan
terhadap bantuan pemerintah.

Rangkuman
Sumber pendapatan desaterdiri dari pendapatan asli
desa, bagi hasil pajak daerah kabupaten/kota, bagian dari
dana perimbangan keuangan pusat dan daerah, bantuan
keuangan dari pemerintah, pemerintah provinsi, dan
pemerintah kabupaten/kota dalam rangka pelaksanaan
urusan pemerintahan, serta hibah dan sumbangan dari
pihak ketiga yang tidak mengikat.
Siklus APBDesa meliputi tiga tahapyaitu tahap
persiapan anggaran, tahappelaksanaan anggarandan
tahap pelaporan dan evaluasianggaran. Terdapat empat
teknik dasar penganggaran dalam penyusunan APBDesa.
Prinsip dasar penyusunan APBDesa terdiri dari
anggaran berbasis kinerja, keadilan anggaran, efektivitas
dan efisiensi,surplus dan defisit anggaran, disiplin
anggaran,taat asas, transparansi dan akuntabilitas
anggaran, partisipasi masyarakat dan kemandirian.

19

E. Latihan 1
Petunjuk: jawablah soal-soal berikut ini dengan
singkat, tepat dan jelas:
1. Jelaskan sumber-sumber pendapatan desa.
2. Jelaskan siklus APBDesa
3. Jelaskan empat teknik dasar penganggaran dalam
penyusunan APBDesa..
4. Jelaskan
prinsip
dasar
penyusunan
Anggaran
Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa).

20

BAB III
MEKANISME PENGELOLAAN KEUANGAN DESA
Setelah mengikuti mata diklat Keuangan Desa, peserta
diharapkan dapat menjelaskan mekanisme pengelolaan
keuangan desa dengan benar
A. Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Desa
Keuangan desa adalah semua hak dan kewajiban
desa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan desa
yang dapat dinilai dengan uang, termasuk didalamnya
segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak
dan kewajiban desa tersebut.
Pengelolaan keuangan desa adalah keseluruhan
proses kegiatan, yang meliputi perencanaan dan
penganggaran,
pelaksanaan
dan
penatausahaan,
pelaporan dan pertanggungjawaban, serta pengawasan
keuangan desa.Pengelolaan keuangan desa dilakukan
secara tertib dan terencana yang ditetapkan di dalam
Anggaran
Pendapatan
dan
Belanja
Desa
(APBDesa).Keuangan desa dikelola dalam masa 1 (satu)
tahun anggaran yakni mulai tanggal 1 Januari sampai
dengan tanggal 31 Desember.
Kepala desa sebagai kepala pemerintah desa
adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan desa
dan mewakili pemerintah desa dalam kepemilikan
kekayaan desa yang dipisahkan.Kepala desa mempunyai
kewenangan:
1. Menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan APBDesa;
2. Menetapkan kebijakan tentang pengelolaan barang
desa;

21

3. Menetapkan bendahara desadengan Keputusan Kepala


Desa;
4. Menetapkan petugas yang melakukan pemungutan
penerimaan desa; dan
5. Menetapkan petugas yang melakukan pengelolaan
barang milik desa.
Kepala Desa dalam melaksanakan pengelolaan
keuangan desa, dibantu oleh Pelaksana Teknis
Pengelolaan Keuangan Desa (PTPKD). Pelaksana Teknis
Pengelolaan Keuangan Desa (PTPKD) adalah Perangkat
Desa, terdiri dari : 1) Sekretaris Desa; dan 2) Perangkat
Desa lainnya. Kepala Desa menetapkan Bendahara Desa
dengan Keputusan Kepala Desa.
Sekretaris Desa bertindak selaku koordinator
pelaksanaan pengelolaan keuangan desa dan bertanggung
jawab kepada Kepala Desa. Sekretaris Desa mempunyai
tugas :
1. Menyusun dan melaksanakan Kebijakan Pengelolaan
APBDesa.
2. Menyusun dan melaksanaan Kebijakan Pengelolaan
Barang Desa.
3. Menyusun Rancangan Peraturan Desa Tentang
APBDesa,
perubahan
APBDesa
dan
pertanggungjawaban pelaksanaan APBDesa.
4. Menyusun Rancangan Keputusan Kepala Desa tentang
Pelaksanaan Peraturan Desa tentang APBDesa dan
Perubahan APBDesa.
B. Struktur APBDesa
APBDesa diatur secara rinci dalam Permendagri
No. 37 tahun 2007 tentangPedoman Pengelolaan
Keuangan Desa.Dalam Pemendagri tersebut dijelaskan
bahwa
Anggaran
Pendapatan
danBelanja
Desa,

22

selanjutnya
disingkat
APBDesa
adalah
rencana
keuangantahunan pemerintahan desa yang dibahas dan
disetujui bersama olehpemerintah desa dan Badan
Permusyawaratan Desa, dan ditetapkandengan peraturan
desa.
APBDesa
merupakan
rencanapembiayaan
pelaksanaan
pembangunan
dan
operasional
PemerintahanDesa, yang disetujui oleh masyarakat
desa.Lebih lanjut, Permendagri 37 tahun 2007 juga
mengatur struktur APBDesa,sebagai berikut :
1. Pendapatan Desa.
Pendapatan Desa meliputi semua penerimaan
uang melalui rekening desa yang merupakan hak desa
dalam 1 (satu) tahun anggaran yang tidak perlu dibayar
kembali oleh desa.
Pendapatan Desa terdiri dari:
a. Pendapatan Asli Desa (PADesa);
b. Bagi Hasil Pajak Kabupaten/Kota;
c. Bagian dari Retribusi Kabupaten/Kota;
d. Alokasi Dana Desa (ADD);
e. Bantuan Keuangan dari Pemerintah, Pemerintah
Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota dan Desa
lainnya;
f. Hibah;
g. Sumbangan Pihak Ketiga.
2. Belanja Desa.
Belanja desa meliputi semua pengeluaran dari
rekening desa yang merupakan kewajiban desa dalam 1
(satu) tahun anggaran yang tidak akan diperoleh

23

pembayarannya kembali oleh desa.


Belanja Desa terdiri dari:
a. Belanja langsung, terdiri dari :
1) Belanja Pegawai;
2) Belanja Barang dan Jasa;
3) Belanja Modal;
b. Belanja tidak langsung terdiri dari :
1) Belanja Pegawai/Penghasilan Tetap;
2) Belanja Subsidi;
3) Belanja Hibah (Pembatasan Hibah);
4) Belanja Bantuan Sosial;
5) Belanja Bantuan Keuangan;
6) Belanja Tak Terduga;
3. Pembiayaan Desa.
Pembiayaan desa meliputi semua penerimaan
yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang
akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang
bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran
berikutnya.
Pembiayaan Desa terdiri dari:
a. Penerimaan Pembiayaan, mencakup :
1) Sisa lebih Perhitungan Anggaran (SilPA) tahun
sebelumnya.
2) Pencairan Dana Cadangan.
3) Hasil penjualan kekayaan desa yang dipisahkan.
4) Penerimaan Pinjaman
b. Pengeluaran Pembiayaan, mencakup:
1) Pembentukan Dana Cadangan.

24

2) Penyertaan Modal Desa.


3) Pembayaran Utang.
Struktur APBDesasebagaimana diatur dalam
Peraturan Menteri Dalam NegeriNomor : 37 Tahun
2007Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa
dapat dilihat dalam Lampiran I modul ini.
C. Penyusunan RAPBDesa
Penyusunan RAPBDesa harus mengacu pada
dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Desa (RPJMDesa) dan Rencana Kerja Pembangunan
Desa (RKPDesa).Proses penyusunan RAPBDesa dapat
digambarkan sebagai berikut :

25

26

BAGAN 1. ALUR PENYUSUNAN APBDesa


Penjelasan
tentang
RPJMDesa
RKPDesasebagai berikut:

dan

1. Penyusunan
Rencana
Pembangunan
Jangka
Menengah Desa (RPJMDesa) dan Rencana Kerja
Pembangunan Desa (RKPDesa)
RPJMDesa untuk jangka waktu 5 (lima) tahun
merupakan penjabaran dari visi dan misi dari Kepala
Desa yang terpilih. Setelah berakhir jangka waktu
RPJMDesa, Kepala Desa terpilih menyusun kembali
RPJMDesa untuk jangka waktu 5 (lima) tahun.
RPJMDesa ditetapkan paling lambat 3 (tiga) bulan
setelah Kepala Desa dilantik.
Selanjutnya Kepala Desa bersama Badan
Permusyawaratan Desa (BPD) menyusun RKPDesa
yang
merupakan
penjabaran
dari
RPJMDesa
berdasarkan hasil Musyawarah Rencana Pembangunan
Desa.Penyusunan RKPDesa diselesaikan paling lambat
akhir bulan Januari tahun anggaran sebelumnya.
2. Penetapan Rancangan APBDesa
Sekretaris
Desa menyusun
Rancangan
Peraturan Desa tentang APBDesa berdasarkan pada
RKPDesa. Sekretaris Desa menyampaikan rancangan
Peraturan Desa tentang APBDesa kepada Kepala Desa
untuk memperoleh persetujuan. Selanjutnya Kepala
Desa menyampaikan rancangan Peraturan Desa
kepada BPD untuk dibahas bersama dalam rangka
memperoleh
persetujuan
bersama.Penyampaian
rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa diajukan
paling lambat minggu pertama bulan November tahun
anggaran
sebelumnya.
Pembahasannya
menitikberatkan pada kesesuaian dengan RKPDesa.
Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa yang

27

telah disetujui bersama sebelum ditetapkan oleh


KepalaDesa paling lambat dalam 3 (tiga) hari kerja
disampaikan kepada Bupati/Walikota untuk dievaluasi.
Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa
ditetapkan paling lambat 1 (satu) bulan setelah APBD
Kabupaten/ Kota ditetapkan.
3. Evaluasi Rancangan APBDesa
Bupati/Walikota setelah menerima Rancangan
Peraturan Desa tentang APBDesa menetapkan
Evaluasi Rancangan APBDesa paling lama 20 (dua
puluh) hari kerja. Apabila hasil evaluasi melampaui
batas waktu tersebut, Kepala Desa dapat menetapkan
Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa menjadi
Peraturan Desa.
Dalam hal Bupati/Walikota menyatakan hasil
evaluasi Raperdes tentang APBDesa tidak sesuai
dengan kepentingan umum dan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi, Kepala Desa bersama BPD
melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari
kerja terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi.
Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh
Kepala Desa dan BPD, dan Kepala Desa tetap
menetapkan Rancangan Peraturan Desa tentang
APBDesa
menjadi
Peraturan
Desa,
maka
Bupati/Walikota
membatalkan
Peraturan
Desa
dimaksud dan sekaligus menyatakan berlakunya pagu
APBDesa tahun anggaran sebelumnya. Pembatalan
Peraturan Desa dan pernyataan berlakunya pagu tahun
anggaran sebelumnya tersebut harus ditetapkan
dengan Peraturan Bupati/Walikota.
Paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah
pembatalan Kepala Desa harus memberhentikan
pelaksanaan Peraturan Desa dan selanjutnya Kepala
Desa bersama BPD mencabut peraturan desa

28

dimaksud. Pencabutan peraturan Desa dilakukan


dengan Peraturan Desa tentang Pencabutan Peraturan
Desa tentang APBDesa. Pelaksanaan pengeluaran atas
pagu APBDesa tahun sebelumnya ditetapkan dengan
Keputusan Kepala Desa.
D. Pelaksanaan APBDesa
Semua pendapatan desa dilaksanakan melalui
rekening kas desa. Khusus bagi desa yang belum memiliki
pelayanan perbankan di wilayahnya maka pengaturannya
diserahkan kepada daerah.
Program dan kegiatan yang masuk desa merupakan
sumber penerimaan dan pendapatan desa dan wajib
dicatat dalam APBDesa. Setiap pendapatan desa harus
didukung oleh bukti yang lengkap dan sah. Kepala desa
wajib mengintensifkan pemungutan pendapatan desa yang
menjadi wewenang dan tanggungjawabnya. Pemerintah
desa dilarang melakukan pungutan selain dari yang
ditetapkan dalam peraturan desa.
Pengembalian atas kelebihan pendapatan desa
dilakukan dengan membebankan pada pendapatan desa
yang bersangkutan untuk pengembalian pendapatan desa
yang terjadi dalam tahun yang sama.Untuk pengembalian
kelebihan pendapatan desa yang terjadi pada tahun-tahun
sebelumnya dibebankan pada belanja tidak terduga.
Pengembaliannya harus didukung dengan bukti yang
lengkap dan sah.
Setiap Pengeluaran belanja atas beban APBDesa
harus didukung dengan bukti yang lengkap dan sah. Bukti
tersebut harus mendapat pengesahan oleh Sekretaris
Desa atas kebenaran material yang timbul dari
penggunaan bukti dimaksud.
Pengeluaran kas desa yang mengakibatkan beban
APBDesa tidak dapat dilakukan sebelum rancangan
peraturan desa tentang APBDesa ditetapkan menjadi

29

peraturan desa.
Namun demikian, dikecualikan bagi
belanja desa yang bersifat mengikat dan belanja desa
yang bersifat wajib yang ditetapkan dalam peraturan
kepala desa.
Bendahara desa sebagai wajib pungut pajak
penghasilan (PPh) dan pajak lainnya, wajib menyetorkan
seluruh penerimaan potongan dan pajak yang dipungutnya
ke rekening kas negara sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Jika dalam APBDesa terjadi Sisa lebih perhitungan
anggaran (SilPA) tahun sebelumnya, maka merupakan
penerimaan pembiayaan yang boleh digunakan untuk:
1. Menutupi
defisit
anggaran
apabila
realisasi
pendapatan lebih kecil dari pada realisasi belanja;
2. Mendanai pelaksanaan kegiatan lanjutan atas beban
belanjalangsung;
3. Mendanai kewajiban lainnya yang sampai dengan
akhir tahun anggaran belum diselesaikan.
Pengaturan tentang dana cadangan dalam
APBDesa sebagai berikut :
1. Dana cadangan dibukukan dalam rekening tersendiri
atau disimpan pada kas desa tersendiri atas nama
dana cadangan pemerintah desa.
2. Dana cadangan tidak dapat digunakan untuk
membiayai kegiatan lain diluar yang telah ditetapkan
dalam peraturan desa tentang pembentukan dana
cadanganapabila dana cadangan telah mencukupi
untuk melaksanakan kegiatan.

30

E.

Perubahan APBDesa
Tata cara pengajuan perubahan APBDesa sama
dengan
tata
cara
penetapan
pelaksanaan
APBDesa.Perubahan APBDesa dapat dilakukan apabila
terjadi:
1. Keadaan yang menyebabkan harus dilakukan
pergeseran antar jenis belanja. Dalam kondisi ini maka
perubahan APBDesa hanya dapat dilakukan 1 (satu)
kali dalam 1 (satu) tahun anggaran, kecuali dalam
keadaan luar biasa. Perubahan APBDesa terjadi bila
Pergeseran anggaran yaitu Pergeseran antar jenis
belanja dapat dilakukan dengan cara merubah
peraturan desa tentang APBDesa.
2. Keadaan yang menyebabkan sisa lebih perhitungan
anggaran (SilPA) tahun sebelumnya harus digunakan
dalam tahun berjalan. Dalam hal ini maka penggunaan
SiLPA tahun sebelumnya dalam perubahan APBDesa,
yaitu Keadaan yang menyebabkan sisa lebih
perhitungan anggaran (SilPA) tahun sebelumnya harus
digunakan dalam tahun berjalan.
3. Keadaan darurat yaitu pendanaan keadaan darurat,
dengan ketentuan :
a. Keadaan darurat sekurang-kurangnya memenuhi
kriteria sebagai berikut :
1) Bukan merupakan kegiatan normal dan aktivitas
pemerintah desa dan tidak dapat diprediksikan
sebelumnya;
2) Tidak diharapkan terjadi secara berulang;
3) Berada diluar kendali dan pengaruh pemerintah
desa;
4) Memiliki dampak yang signifikan terhadap
anggaran dalam rangka pemulihan yang
disebabkan oleh keadaan darurat.

31

b. Dalam Keadaan Darurat, pemerintah desa dapat


melakukan pengeluaran yang belum tersedia
anggarannya, yang selanjutnya diusulkan dalam
rancangan perubahan APBDesa.
c. Pendanaan keadaan darurat yang belum tersedia
anggarannya dapat menggunakan belanja tidak
terduga. Dalam hal belanja tidak terduga tidak
mencukupi dapat dilakukan dengan cara :
1) Menggunakan dana dan hasil penjadwalan ulang
kegiatan dalam tahun anggaran berjalan,
dan/atau
2) Memanfaatkan uang kas yang tersedia.
d. Pelaksanaan pengeluaran untuk mendanai kegiatan
dalam keadaan darurat terlebih dahulu ditetapkan
dengan keputusan Kepala Desa.
4. Keadaan luar biasa yaitu pendanaan keadaan luar
biasa,dengan ketentuan :
a. Keadaan Luar Biasa merupakan keadaan yang

menyebabkan estimasi penerimaan dan/atau


pengeluaran dalam APBDesa mengalami kenaikan
atau penurunan lebih besar dan 50%;
b. Persentase

50% di atas merupakan selisih


kenaikan atau penurunan antara pendapatan dan
belanja dalam APBDesa;

c. Dalam hal kejadian luar biasa yang menyebabkan

estimasi penerimaan dalam APBDesa mengalami


peningkatan lebih dan 50%, dapat dilakukan
penambahan kegiatan baru dan/atau peningkatan
capaian target kinerja kegiatan dalam tahun
anggaran berjalan;

32

d. Dalam hal kejadian luar biasa yang menyebabkan

estimasi penerimaan dalam APBDesa mengalami


penurunan lebih dan 50%, maka dapat dilakukan
pengurangan capaian target kinerja kegiatan dalam
tahun anggaran berjalan.

33

F.

Penatausahaan dan Pertanggungjawaban APBDesa


1. Penatausahaan
dan
Pertanggungjawaban
Keuangan Desa
Kepala
Desa
dalam
melaksanakan
penatausahaan keuangan desa harus menetapkan
Bendahara Desa.Penetapan Bendahara Desa
harus dilakukan sebelum dimulainya tahun
anggaran
bersangkutan
dan
berdasarkan
keputusan kepala desa.
Penatausahaan dan
keuangan desameliputi :

pertanggungjawaban

a. Penatausahaan Penerimaan;
Penatausahaan penerimaan wajib dilaksanakan
oleh
Bendahara
Desa.
Penatausahaan
penerimaan
sebagaimana
diatur
dalam
Peraturan Menteri Dalam NegeriNomor: 37
Tahun 2007Tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Desa menggunakan:
1) Buku kas umum; (dapat dilihat di Lampiran II
modul ini).
2) Buku kas pembantu perincian obyek
penerimaan;(dapat dilihat di Lampiran III
modul ini).
3) Buku kas harian pembantu;(dapat dilihat di
Lampiran V modul ini).
Bendahara
Desa
wajib
mempertanggungjawabkan penerimaan uang yang
menjadi
tanggungjawabnya
melalui
laporan
pertanggungjawaban penerimaan kepada Kepala
Desa paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya.

34

Laporan pertanggungjawaban penerimaan dilampiri


dengan:
1) Buku kas umum;
2) Buku
kas
penerimaan;

pembantu

perincian

obyek

3) Bukti penerimaan lainnya yang sah.


b. Penatausahaan Pengeluaran
Penatausahaan
pengeluaran
wajib
dilakukan oleh Bendahara Desa.Dokumen
penatausahaan pengeluaran harus disesuaikan
dengan Peraturan Desa tentang APBDesa atau
Peraturan Desa tentang Perubahan APBDesa
melalui
pengajuan
Surat
Permintaan
Pembayaran (SPP).Pengajuan SPP harus
disetujui oleh Kepala Desa melalui Pelaksana
Teknis
Pengelolaan
Keuangan
Desa
(PTPKD).Selanjutnya Bendahara Desa wajib
mempertanggungjawabkan penggunaan uang
yang menjadi tanggung jawabnya melalui
laporan
pertanggungjawaban
pengeluaran
kepada Kepala Desa paling lambat tanggal 10
bulan berikutnya. Dokumen yang digunakan
Bendahara
Desa
dalam
melaksanakan
penatausahaan pengeluaran meliputi:
1) Buku kas umum;
2) Buku kas pembantu perincian obyek
pengeluaran;(dapat dilihat di Lampiran IV
modul ini).
3) Buku kas harian pembantu.

35

c. Pertanggungjawaban Penggunaan Dana


Pertanggungjawaban penggunaan dana
berupalaporan
pertanggungjawaban
pengeluaran yang harus dilampiri dengan:
1) Buku kas umum
2) Buku kas pembantu perincian obyek
pengeluaran yang disertai dengan bukti-bukti
pengeluaran yang sah
3) Bukti atas penyetoran PPN/PPh ke kas
negara.
2. Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBDesa
a. Penetapan
Pertanggungjawaban
Pelaksanaan
APBDesa;
Sekretaris Desa menyusun Rancangan
Peraturan Desa tentang Pertanggungjawaban
Pelaksanaan APBDesa dan Rancangan Keputusan
Kepala Desa tentang Pertanggungjawaban Kepala
Desa.Selanjutnya
Sekretaris
Desa
menyampaikannya kepada Kepala Desa untuk
dibahas bersama BPD.Berdasarkan persetujuan
Kepala Desa dengan BPD maka Rancangan
Peraturan Desa tentang Pertanggungjawaban
Pelaksanaan APBDesa dapat ditetapkan menjadi
Peraturan Desa.Jangka waktu penyampaiannya
dilakukan paling lambat 1 (satu) bulan setelah
tahun anggaran berakhir.
b. Penyampaian
Laporan
Pertanggungjawaban
Pelaksanaan APBDesa
Peraturan
Desa
tentang
Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBDesa dan
Keputusan Kepala Desa tentang Keterangan
Pertanggungjawaban Kepala Desa disampaikan
kepada Bupati/Walikota melalui Camat. Jangka

36

waktu penyampaiannya paling lambat 7 (tujuh) hari


kerja setelah Peraturan Desa ditetapkan.
G.

Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) dalam


APBDesa
1. Sumber, Tujuan, danPola Pembagian ADD.
Pengelolaan ADD merupakan satu kesatuan
dengan pengelolaan keuangan desa.ADD berasal dari
APBD Kabupaten/Kota yang bersumber dari bagian
dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang
diterima oleh kabupaten/Kota untuk Desa paling
sedikit 10%.
Tujuan ADD adalah:
a. Menanggulangi kemiskinan dan mengurangi
kesenjangan;
b. Meningkatkan perencanaan dan penganggaran
pembangunan di tingkat desa dan pemberdayaan
masyarakat;
c. Meningkatkan
pembangunan
infrastruktur
perdesaan;
d. Meningkatkan pengamalan nilai-nilai keagamaan,
sosial budaya dalam rangka mewujudkan
peningkatan sosial;
e. Meningkatkan
ketenteraman
dan
ketertiban
masyarakat;
f. Meningkatkan pelayanan pada masyarakat desa
dalam rangka pengembangan kegiatan sosial dan
ekonomi masyarakat;
g. Mendorong peningkatan keswadayaan dan gotong
royong masyarakat;
h. Meningkatkan pendapatan desa dan masyarakat
desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa).

37

Kebijakan mengenai ADDdiatur dalam dua pola


sebagai kesatuan alokasi dengan berlandaskan dua
azas yakni:
a. Azas Merata adalah besarnya bagian ADD yang
sama untuk setiap desa, yang selanjutnya disebut
Alokasi Dana Desa Minimal (ADDM) atau Pola
Minimal, yakni sebesar 60% dari total ADD
dibagikan secara merata untuk seluruh Desa; dan
b. Azas Adil adalah besarnya bagian ADD
berdasarkan Nilai Bobot Desa (BDx) yang dihitung
dengan rumus dan variabel tertentu, selanjutnya
disebut Alokasi Dana Desa Proporsional (ADDP)
atau Pola Proporsional, yakni sebesar 40% dari
total Alokasi Dana Desa dibagikan secara
proporsional kepada desa-desa tertentu atau
seluruh desa sesuai tingkat kemampuan keuangan
desa yang bersangkutan (fiscal capacity) yang
berkenaan dengan variabel potensi ekonomi yang
mendukung peningkatan pendapatan asli desa,
serta constrain variabel yang dapat menghambat
perkembangan pembangunan desa (seperti tingkat
pendidikan
dan
kesehatan,
ketersediaan
infrastruktur, dan keterjangkauan wilayah desa).
Rasio penggunaan dana ADD adalah 30% untuk
biaya operasional Pemerintahan Desa dan 70%
untuk pemberdayan masyarakat.
Besarnya prosentase perbandingan antara azas
merata dan adil sebagaimana dimaksud di atas,
adalah besarnya ADDM yaitu 60% dari jumlah ADD
dan besarnya ADDP adalah 40% dari jumlah ADD.

38

2. Mekanisme Penyaluran dan Pencairan


Alokasi Dana Desa (ADD) dalam APBD
Kabupaten/Kota
dianggarkan
pada
Badan/Dinas/Kantor Pemberdayaan Masyarakat Desa
atau dengan sebutan lainyang memiliki tugas dan
fungsi tersebut. Pemerintah Desa membuka rekening
pada bank yang ditunjuk berdasarkan Keputusan
Kepala Desa. Kepala Desa mengajukan permohonan
penyaluran ADD kepada Bupatidalam hal ini
Badan/Dinas/Kantor Pemberdayaan Masyarakat Desa
atau dengan sebutan laindi Kabupaten melalui Camat
setelah dilakukan verifikasi oleh Tim Pendamping
Kecamatan.
Kepala
Badan/Dinas/Kantor
Pemberdayaan Masyarakat Desa atau dengan
sebutan lain akan meneruskan berkas permohonan
berikut lampirannya kepada Kepala Bagian Keuangan
Setda Kabupaten atau Kepala Dinas/Badan Pengelola
Keuangan dan KekayaanAset Daerah (D/BPKKAD)
atau dengan sebutan lain yang memiliki tugas dan
fungsi tersebut yang selanjutnya akan menyalurkan
ADD langsung dari kas daerah ke rekening desa.
Mekanisme pencairan ADD dalam APBDesa dilakukan
secara
bertahap
atau
disesuaikan
dengan
kemampuan dan kondisi daerah kabupaten/kota.
3. Pelaksanaan KegiatanBersumber dari ADD.
Pelaksanaan
kegiatan-kegiatan
yang
pembiayaannya bersumber dari ADD dalam APBDesa,
sepenuhnya dilaksanakan oleh Tim Pelaksana Desa
dengan mengacu pada Peraturan Bupati/Walikota.
Penggunaan Anggaran ADD adalah sebesar
30% untuk belanja aparatur dan operasional
pemerintah desa dan sebesar 70% untuk belanja

39

pemberdayaan masyarakat.Belanja Pemberdayaan


Masyarakat digunakan untuk:
a. Biaya perbaikan sarana publik dalam skala kecil.
b. Penyertaan modal usaha masyarakat melalui
BUMDesa.
c. Biaya untuk pengadaan ketahanan pangan.
d. Perbaikan lingkungan dan pemukiman.
e. Teknologi Tepat Guna.
f. Perbaikan kesehatan dan pendidikan.
g. Pengembangan sosial budaya.
h. Dan sebagainya yang dianggap penting.
4. Pertanggungjawaban dan PelaporanADD.
Pertanggungjawaban ADD terintegrasi dengan
pertanggungjawaban
APBDesa,sehingga
bentuk
pertanggungjawabannya adalah pertanggungjawaban
APBDesa. Bentuk pelaporan atas kegiatan-kegiatan
dalam APBDesa yang dibiayai dari ADD, adalah
sebagai berikut:
a. Laporan Berkala, yaitu: Laporan mengenai
pelaksanaan penggunaan dana ADD dibuat secara
rutin setiap bulan. Adapun yang dimuat dalam
laporan ini adalah realisasi penerimaan ADD dan
realisasi belanja ADD;
b. Laporan akhir penggunaan alokasi dana desa
mencakup perkembangan pelaksanaan dan
penyerapan dana, masalah yang dihadapi dan
rekomendasi penyelesaian hasil akhir penggunaan
ADD.
Penyampaian Laporan dilaksanakan melalui
jalur struktural yaitu dari Tim Pelaksana Tingkat Desa
dan diketahui Kepala Desa ke Tim Pendamping
Tingkat Kecamatan secara bertahap.Tim Pendamping

40

Tingkat Kecamatan membuat laporan/rekap dari


seluruh laporan tingkat desa di wilayah secara
bertahap melaporkan kepada Bupati dalam hal ini Tim
Fasilitasi Tingkat Kabupaten/Kota.Pembiayaan Tim
Pendamping dalam rangka pelaksanaan tugas
pendampingan
dibebankan
pada
APBD
Kabupaten/Kota diluar dana ADD.
H.

Rangkuman
Kepala desa sebagai kepala pemerintah desa
adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan
desa dan mewakili pemerintah desa dalam kepemilikan
kekayaan desa yang dipisahkan.Sekretaris Desa
bertindak selaku koordinator pelaksanaan pengelolaan
keuangan desa dan bertanggung jawab kepada Kepala
Desa.
Anggaran
Pendapatan
dan
Belanja
Desa
(APBDesa)
adalah
rencana
keuangan
tahunan
pemerintahan desa yang dibahas dan disetujui bersama
oleh pemerintah desa dan Badan Permusyawaratan
Desa, dan ditetapkan dengan peraturan desa.Struktur
APBDesa terdiri dari pendapatan desa, belanja desa dan
pembiayaan desa.
Penyusunan APBDesa meliputi tiga tahap yaitu:
Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Desa (RPJMDesa) dan Rencana Kerja Pembangunan
Desa (RKPDesa), Penetapan Rancangan APBDesa, dan
Evaluasi Rancangan APBDesa.
Ruang lingkup pelaksanaan APBDesa meliputi
pengelolaan pendapatan desa dan belanja (pengeluaran)
desa yang dilaksanakan melalui rekening kas desa,
pengelolaan Sisa lebih perhitungan anggaran (SilPA) dan
pengelolaan dana cadangan.

41

Perubahan APBDesa dapat dilakukan jika terjadi


beberapa kondisi antara lain: Keadaan yang menyebabkan
harus dilakukan pergeseran antar jenis belanja, Keadaan
yang menyebabkan sisa lebih perhitungan anggaran
(SilPA) tahun sebelumnya harus digunakan dalam tahun
berjalan, keadaan darurat dan keadaan luar biasa.Tata
cara pengajuan perubahan APBDesa sama dengan tata
cara penetapan pelaksanaan APBDesa.
Penatausahaan dan Pertanggungjawaban APBDesa
terdiri dari Penatausahaan dan Pertanggungjawaban
Keuangan
Desa
(Penatausahaan
Penerimaan,
Penatausahaan Pengeluaran, dan Pertanggungjawaban
Penggunaan
Dana)
dan
Pertanggungjawaban
Pelaksanaan APBDesa.
Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) dalam
APBDesa meliputi pola pembagian ADD, mekanisme
penyaluran dan pencairan ADD, pelaksanaan kegiatan
dengan
pembiayaan
bersumber
dari
ADD,serta
pertanggungjawaban dan pelaporan ADD.

42

I.

Latihan 2
Petunjuk: jawablah soal-soal berikut ini dengan
singkat, tepat dan jelas:
1. Jelaskan tentang kekuasaan pengelolaan keuangan
desa.
2. JelaskanstrukturAPBDesa.
3. Jelaskan ruang lingkup pelaksanaan APBDesa.
4. Jelaskankondisi
yang
membolehkan
terjadinya
perubahan APBDesa.
5. Jelaskantentang kegiatan dalam penatausahaan dan
pertanggungjawaban APBDesa.
6. Jelaskan tentang pelaksanaan kegiatan desa dengan
pembiayaan bersumber dari ADD.

43

KUNCI JAWABAN
LATIHAN 1

1. Sumber-sumber pendapatan desa terdiri dari pendapatan asli


desa, bagi hasil pajak daerah kabupaten/kota, bagian dari dana
perimbangan keuangan pusat dan daerah, bantuan keuangan
dari

pemerintah,

kabupaten/kota

pemerintah
dalam

provinsi,

rangka

dan

pemerintah

pelaksanaan

urusan

pemerintahan, serta hibah dan sumbangan dari pihak ketiga


yang tidak mengikat.
2. Siklus APBDesa meliputi tiga tahap yaitu tahap persiapan
anggaran,
dan

tahap pelaksanaan anggaran dan tahap pelaporan

evaluasi

anggaran.

Terdapat

empat

teknik

dasar

penganggaran dalam penyusunan APBDesa.


3. Prinsip dasar penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Desa (APBDesa) terdiri dari anggaran berbasis kinerja, keadilan
anggaran,

efektivitas

dan

efisiensi,

surplus

dan

defisit

anggaran, disiplin anggaran, taat asas, transparansi dan


akuntabilitas anggaran, partisipasi masyarakat dan kemandirian.

44

LATIHAN 2

1.

Kekuasaan pengelolaan keuangan desa berada pada Kepala


desa sebagai kepala pemerintah desa yang pemegang dan
mewakili pemerintah desa dalam kepemilikan kekayaan desa
yang dipisahkan. Sekretaris Desa bertindak selaku koordinator
pelaksanaan pengelolaan keuangan desa dan bertanggung
jawab kepada Kepala Desa.

2.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) adalah


rencana keuangan tahunan pemerintahan desa yang dibahas
dan disetujui bersama oleh pemerintah desa dan Badan
Permusyawaratan Desa, dan ditetapkan dengan peraturan desa.
Struktur APBDesa terdiri dari pendapatan desa, belanja desa dan
pembiayaan desa.

3.

Ruang lingkup pelaksanaan APBDesa meliputi pengelolaan


pendapatan

desa

dan

belanja

(pengeluaran)

desa

yang

dilaksanakan melalui rekening kas desa, pengelolaan Sisa lebih


perhitungan anggaran (SilPA) dan pengelolaan dana cadangan.
4.

Perubahan APBDesa dapat dilakukan jika terjadi beberapa


kondisi antara lain: Keadaan yang menyebabkan harus dilakukan
pergeseran antar jenis belanja, Keadaan yang menyebabkan
sisa lebih perhitungan anggaran (SilPA) tahun sebelumnya harus
digunakan dalam tahun berjalan, keadaan darurat dan keadaan
luar biasa. Tata cara pengajuan perubahan APBDesa sama
dengan tata cara penetapan pelaksanaan APBDesa.

45

5.

Penatausahaan dan Pertanggungjawaban APBDesa terdiri dari


Penatausahaan

dan

Pertanggungjawaban

Keuangan

Desa

(Penatausahaan Penerimaan, Penatausahaan Pengeluaran, dan


Pertanggungjawaban

Penggunaan

Dana)

dan

Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBDesa.


6.

Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) dalam APBDesa meliputi


pola pembagian ADD, mekanisme penyaluran dan pencairan
ADD, pelaksanaan kegiatan dengan pembiayaan bersumber dari
ADD, serta pertanggungjawaban dan pelaporan ADD

46

DAFTAR PUSTAKA
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 Tentang Standar
Akuntansi Pemerintahan;
------------. Nomor 40 Tahun 2005 Tentang Tata Cara Penyusunan
Rencana Pembangunan Nasional;
------------. Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa;
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;
-----------. Nomor 35 Tahun 2007 Tentang Pedoman Umum Tata Cara
Pelaporan
Dan
Pertanggungjawaban
Penyelenggaraan
Pemerintah Desa;
-----------. Nomor 37 Tahun 2007 Tentang Pedoman Pengelolan
Keuangan Desa;
-----------. Nomor 66 Tahun 2007 Tentang Perencanan Pembangunan
Desa.
Mardiasmo, 2002, Otonomi & Manajemen Keuangan Daerah,
PenerbitAndi, Yogyakarta.

47

Lampiran I StrukturAnggaranPendapatan Dan BelanjaDesa


ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA
DESA KECAMATAN .
TAHUN ANGGARAN

KODE
REKENI
NG
1.
1.1
1.1.1
1.1.1.1

1.1.2
1.1.2.1
1.1.2.1.1
1.1.2.1.2
1.1.2.2
1.1.2.3
1.1.2.4
1.1.2.5
1.1.2.6
1.1.2.7
1.1.2.8

1.1.3
1.1.3.1

TAHUN
TAHUN
KE
SEBELUMN BERJALA
T.
YA
N

URAIAN
PENDAPATAN
PendapatanAsliDesa
Hasil Usaha Desa
Dst

HasilPengelolaanKekaya
anDesa
Tanah KasDesa : (*)
Tanah Desa
Dst ..
PasarDesa
PasarHewan
TambatanPerahu
BangunanDesa
PelelanganIkan yang
dikelolaDesa
Lain-lain
KekayaanMilikDesa
Dst

HasilSwadayadanPartisip
asi
Dst
.

48

1.1.4
1.1.4.1

HasilGotongRoyong
Dst
.

1.1.5

Lain-lain
PendapatanAsliDesa
yang sah
Dst
..

1.1.5.1

1.2

BagiHasilPajak:
Bagihasilpajakkabupaten/
kota
Bagihasil PBB
Dst

1.3

BagiHasilRetribusi
Dst

1.4

Bagian Dana
PerimbanganKeuanganP
usatdan Daerah
ADD
Dst .

1.5

BantuanKeuanganPemeri
ntahProvinsi,
Kabupaten/Kota,
dandesalainnya
BantuanKeuanganPemeri
ntah:
Dst

1.2.1
1.2.2
1.2.3

1.3.1

1.4.1
1.4.2

1.5.1
1.5.1.1

1.5.2

BantuanKeuanganPemeri
ntahProvinsi

49

1.5.2.1

Dst

1.5.3

BantuanKeuanganPemeri
ntahKabupaten/Kota.
Dana
Tambahanpenghasilantet
apKepalaDesadanPerang
katDesa
Dst ..

1.5.3.1

1.5.3.2
1.5.4
1.5.4.1
1.6
1.6.1
1.6.2
1.6.3
1.6.4
1.6.5
1.6.6
1.7
1.7.1
1.7.2

2
2.1
2.1.1
2.1.1.1
2.1.1.2

BantuanKeuanganDesala
innya :
Dst
Hibah
Hibahdaripemerintah
Hibahdaripemerintahprovi
nsi
Hibahdaripemerintahkabu
paten/kota
Hibahdaribadan/lembaga/
organisasiswasta
Hibahdarikelompokmasya
rakat/ perorangan
Dst ..
SumbanganPihakKetiga
Sumbangandari ..
Dst .
JUMLAH PENDAPATAN
BELANJA
BelanjaLangsung
BelanjaPegawai/Honorari
um :
Honor tim/panitia
Dst ..

50

2.1.2
2.1.2.1
2.1.2.2
2.1.2.3

BelanjaBarang/Jasa :
Belanjaperjalanandinas
Belanjabahan/material
Dst

2.1.3
2.1.3.1
2.1.3.2
2.1.3.3

Belanja Modal
Belanja Modal Tanah
Belanja Modal jaringan
Dst

2.2
2.2.1
2.2.1.1

BelanjaTidakLangsung
BelanjaPegawai/Penghas
ilanTetap
Dst

2.2.3
2.2.3.1

BelanjaHibah
Dst

2.2.4
2.2.4.1

BelanjaBantuanSosial :
PendidikanAnakUsiaDini
(PAUD)
Dst

2.2.4.2
2.2.5
2.2.5.1

BelanjaBantuanKeuanga
n
Dst

2.2.6
2.2.6.1
2.2.6.2
2.2.6.3

Belanjatakterduga
Keadaandarurat
Bencanaalam
Dst

51

JUMLAH BELANJA
3
3.1
3.1.1

3.1.2
3.1.3
3.2
3.2.1
3.2.2
3.2.3

PEMBIAYAAN
PenerimaanPembiayaan
SisaLebihPerhitunganAn
ggaran (SILPA)
tahunsebelumnya.
Hasilpenjualankekayaan
Desa yang dipisahkan.
PenerimaanPinjaman
PengeluaranPembiayaan
Pembentukan Dana
Cadangan
Penyertaan Modal Desa
Pembayaranutang
JUMLAH PEMBIAYAAN

.,tanggal
KEPALA DESA
.
Catatan :
*
Tanah
KasDesaatauistilahlainnyaseperti
: Tanah Titi Sara, SuguhDayoh,
Bengkok, BondoDeso, kokoan,
Timbul,
Pangonan,
Tanah
PembelianDesa, dsb.

52

Lampiran II BukuKasUmumDesa
BUKU KAS UMUM
DESA KECAMATAN .
TAHUN ANGGARAN
No.

Tgl.

KODE REKENING

URAIAN

PENERIMAAN
(Rp.)
5

PENGELUARAN
(Rp.)
6

JUMLAH
Jumlahbulan/tanggal
Rp.
Jumlahsampaibulanlalu/tanggal
Rp.
Jumlahsemua s/d bulan /tanggal
Rp.
Sisakas
Rp.
Padahariinitanggal , 200..
Oleh kami didapatdalamkasRp. .
( .. denganhuruf)
Terdiridari :
Tunai
Rp. .
Saldo Bank
Rp. .
SuratBerharga
Rp. .
.,

MENGETAHUI
KEPALA DESA,

tanggal

BENDAHARA DESA,

..

Cara Pengisian :
Kolom1diisidengannomorurutpenerimakasataupengeluarankas
Kolom2 diisidengantanggalpenerimaankasataupengeluarankas
Kolom3 diisidengankoderekeningpenerimaankasataupengeluarankas
Kolom4 diisidenganuraianpenerimaankasataupengeluarankas
Kolom5 diisidenganjumlah rupiah penerimaankas
Kolom 6 diisidenganjumlah rupiah pengeluarankas

53

Lampiran III BukuKasPembantuPerincianObyekPenerimaan

BUKU KAS PEMBANTU


PERINCIAN OBYEK PENERIMAAN
DESA KECAMATAN .
TAHUN ANGGARAN
No.
URUT
1

NOMOR BKU
PENERIMAAN
2

TANGGAL
SETOR
3

Jumlahbulanini
Jumlah s/d bulanlalu
Jumlah s/d bulanini

NOMOR STS & BUKTI


PENERIMAAN LAINNYA
4

JUMLAH
(Rp.)
5

Rp.
Rp.
Rp.

.,tanggal....
MENGETAHUI
KEPALA DESA

BENDAHARA DESA,

..

Cara Pengisian :
Kolom1diisidengannomorurut
Kolom2 diisidenganNomor BKU penerimaan
Kolom3 diisidenganTanggalPenyetoran STS/BuktiPenerimaanlainnya
Kolom4 diisidenganNomor STS/Buktipenerimaanlainnya.
Kolom5 diisidenganjumlah rupiah setoran STS/Bukti penerimaan lainnya.

54

Lampiran IV BukuKasPembantuPerincianObyekPengeluaran
BUKU KAS PEMBANTU
PERINCIAN OBYEK PENGELUARAN
DESA KECAMATAN .
TAHUN ANGGARAN
No.
URUT
1

NOMOR BKU
PENGELUARAN
2

TANGGAL
PENGELUARAN
3

NOMOR SPP & BUKTI


PENGELUARAN LAINNYA
4

JUMLAH
Jumlahbulanini
Jumlah s/d bulanlalu
Jumlah s/d bulanini

JUMLAH
(Rp.)
5

Rp.
Rp.
Rp.

.,tanggal
MENGETAHUI
KEPALA DESA,

BENDAHARA DESA,

..

Cara Pengisian :
Kolom1diisidengannomorurut
Kolom2 diisidenganNomor BKU pengeluaran
Kolom3 diisidenganTanggalPengeluaran SPP/BuktiPengeluaranlainnya
Kolom4 diisidenganNomor SPP/Buktipengeluaranlainnya.
Kolom 5 diisi dengan jumlah rupiah Pengeluaran SPP/Bukti pengeluaran
lainnya.

55

Lampiran V BukuKasHarianPembantu
BUKU KAS HARIAN PEMBANTU
DESA KECAMATAN .
TAHUN ANGGARAN
No.
URU
T
1

TANGGAL

URAIAN

PENERIMAAN
(Rp.)

PENGELUARAN
(Rp.)

JUMLAH
(Rp.)
5

JUMLAH

.,tanggal

MENGETAHUI
KEPALA DESA,

BENDAHARA DESA,

..

Cara Pengisian :
Kolom1diisidengannomorurutpenerimaanataupengeluarankaspengeluaran
Kolom2 diisidengantanggalpenerimaanataupengeluarankaspengeluaran
Kolom3 diisidenganuraianpenerimaankasataupengeluarankas
Kolom4 diisidenganjumlah rupiah penerimaankas.
Kolom5 diisidenganjumlah rupiah pengeluarankas.
Kolom 6 diisidengansaldobukukasbendahara.

56