Anda di halaman 1dari 7

TUGAS INDIVIDU

BLOK 17
UNIT PEMBELAJARAN 6

Trichinosis

Oleh :
Monica Kuswandari H.P
11/315854/KH/07138
Kelompok 13

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

A. Learning Objective
Mengetahui etiologi, patogenesis, gejala klinis, diagnosa, dan terapi pada Metritis,
Mastitis, Agalactiae
B. Pembahasan
1. Etiologi
MMA (Metritis, Mastitis, Agalactiae) merupakan sindrom kompleks pada babi
yang terjadi 12 jam sampai tiga hari setelah partus. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi
bakteri pada kelenjar susu (ambing) dan/atau saluran urogenital. MMA menyebabkan
kematian babi meningkat dan berat penyapihan berkurang.
Umumnya disebabkan oleh invasi bakteri ambing dan produksi berikutnya dari
endotoksin (dinding sel lipopolisakarida diproduksi oleh bakteri seperti E.
coli). Endotoksin terdapat pada plasma hewan. Bakteri di usus atau di endometritis
dapat menjadi sumber endotoksin dalam kasus ini.
(Subronto, 2004)
Agalaktia dapat disebabkan oleh:
a. Aplasia kelenjar mammae
b. Kegagalan milk let-down, yang disebabkan oleh beberapa faktor:
1) Inhibisi karena gelisah: terutama pada induk yang baru pertama kali melahirkan,

yang terlalu khawatir untuk rebah dan menyusui anaknya.


2) Inhibisi karena rasa sakit: terjadi terutama pada babi dengan anak babi yang

giginya panjang tidak dipotong.


3) Kurangnya stimulasi putting oleh anak: hipotermia, penyakit, hipoglikemia, dan

kelaparan dapat melemahkan anak babi sehingga tidak bisa menstimulir milk letdown
c. Induk sakit
Induk yang sakit menyebabkan ketidakstabilan fisiologis sehingga tidak mampu
memproduksi susu. Terutama pada penyakit yang berat, seperti metritis septika.
d. Luka pada ambing
Kerusakan pada kelenjar dapat mencegah produksi susu.
e. Penyakit kelenjar mammae
Mastitis berat yang disebabkan oleh Klebsiella segera setelah melahirkan.
(Jackson & Cockcroft, 2007)

Tiga faktor fisiologis yang menyebabkan kegagalan sistem laktasi :


1) Ketidakcukupan atau rendahnya perkembangan kelenjar mammari
2) Ketidakcukupan atau rendahnya sintesis susu
3) Ketidakcukupan adaptasi terhadap homeorhesis laktasional
(Jackson & Cockcroft, 2007)
2. Patogenesis
Mastitis yang disebabkan oleh E. coli atau Klebsiella sp. kemungkinan mirip
dengan mastitis pada sapi, infeksi masuk melalui teat canal dan menginvasi jaringan
mammari menyebabkan mastitis. Endotoksin lipopolisakarida bekerja pada level
hipotalamus dan hipofisis, menekan pelepasan prolaktin yang menyebabkan penurunan
produksi susu. Endotoksin dapat juga memiliki efek inhibitori langsung pada kelenjar
mammae. Terdapat prevalensi tinggi endotoksin bakteri pada darah babi yang terkena
dibandingkan hewan yang sehat. Endotoksin dapat dideteksi pada darah 33% babi yang
terkena mastitis coliform. Secara eksperimen, mastitis dapat terjadi pada babi melalui
kontaminasi kulit puting dengan K. pneumonie baik sebelum maupun sesudah parturisi.
Gejala klinis mirip seperti gejala MMA. Mastitis terjadi lebih dari 50% bagian kelenjar
mammae dan terjadileukopenia. Parturisi menyebabkan terjadinya penetrasi organisme
vaginal ke dalam saluran reproduksi dan absorpsi endotoksin mengurangi F2a di uterus
yang menstimulasi prolaktin, sehingga dapat menyebabkan hipogalaktia dan agalaktia
(Subronto, 2004).
Jika pembengkakan glandula mammae akut terjadi bersama agalaktia karena
faktor noninfeksius (Radostits, et al., 2006).
3. Gejala Klinis
Kejadian agalactiae timbul pada saat atau beberapa hari setelah melahirkan,
penderita tampak lesu, nafsu makan dan minum menurun, disertai demam. Produksi air
susu berkurang atau sama sekali tidak ada. Dapat pula terlihat salah satu kelenjar susu
sedikit membengkak atau semua kelenjar susu membengkak. Tidak jarang kelenjar
menjadi keras (udder caking). Induk babi menjadi segan bangun berdiri atau segan
menyusukan anaknya. Anak-anaknya menjadi kurus dan lemah, dan akhirnya mati.
Bila terdapat metritis, tanda-tanda jelas yang dapat dilihat adalah keluar banyak
lendir kotor dari vulva induk.
(Sihombing, 2006)

Sindrom biasanya terjadi dalam waktu 12-48 jam setelah kelahiran. Biasanya
tanda pertama diikuti oleh depresi, gelisah ketika sedang menyusui dan melemahnya
kondisi anak babi. Terjadi demam pada induk babi 39,5-41 C jika mastitis hadir.
Dalam banyak kasus, hanya satu kelenjar mastitic. Penyakit ini berlangsung selama
minimal 3 hari dan kemudian sembuh secara spontan. Kondisi dapat didahului oleh
penundaan dalam proses kelahiran (> 5 jam) dan dapat bervariasi dalam intensitasnya.
Dalam kasus susu tanpa disertai hypogalactia mastitis atau unsur-unsur lain yang
kompleks, akan berkurang berat badan pada anak-anak babi (<105 g / hari, normal
125g/day) mungkin satu-satunya indikasi dari masalah.
(Sihombing, 2006)
4. Diagnosa

a. Gejala Klinis
Diagnosis biasanya berdasar pada gejala klinis. Diagnosis klinis metritis pada
babi sulit tetapi umumnya terdapat cairan coklat gelap dan berbau busuk yang keluar
dalam jumlah besar beberapa kali dalam sehari, bersamaan dengan terjadinya
toksemia berat. Hal tersebut tidak umum pada babi (Radostits, et al., 2006).
b. Pemeriksaan Susu
Jumlah sel somatis pada susu babi mastitis berkisar antara 2-20 10 9/ml
sedangkan yang normal dibawah 2 10 9/ml. Sejumlah besar bakteria terdapat dalam
susu pada 80% babi yang menderita agalaktia. Susu dikirimkan untuk pemeriksaan
laboratorium dan dibuat kultur. Mastitis subklinis tidak mudah dideteksi jika selnya
tidak mencapai 2 109/ml (Radostits, et al., 2006).
c. Hematologi dan Biokimiawi Serum
Pada kasus mastitis infeksius berat, terjadi leukopenia dengan left
shift degeneratif. Kasus sedang terdapat leukositosis dan left shift regeneratif.
Perubahan biokimiawi serum yang terjadi secara alami saat kejadian penyakit telah
diketahui. Level kortisol plasma biasanya meningkat, mungkin karena kombinasi
stress saat parturisi dan mastitis infeksius. Rasio protein plasma fibrinogen lebih
rendah dari pada normal dan level fibrinogen biasanya meningkat pada kasus berat
yang terjadi 8-16 jam setelah parturisi (Radostits, et al., 2006).

f. Nekropsi
Tidak ada lesi yang konsisten pada ambing maupun saluran reproduksi. Jika
ditemukan, yang paling penting adalah lesi kelenjar mammae. Terdapat edema
ekstensif dan hemorrhagi ringan pada jaringan subkutan. Secara makroskopis,
potongan melintang kelenjar mammae ditemukan lesi kemerahan fokal maupun
difus dan biasanya hanya satu bagian kelenjar mammae yang terkena.
Secara histologis, mastitis bersifat fokal atau difus melihat distribusi dan
intensitas lesi, bervariasi dari inflamasi kataral ringan sampai mastitis purulen dan
nekrotik berat yang dapat mengenai lebih dari 50% kelenjar mammae. Tidak ada lesi
yang berarti pada uterus jika dibandingkan dengan uterus normal.
Kelenjar adrenal membesar dan lebih berat dari pada normal, diperkirakan
terjadi karena hiperaktifitas adrenokortikal. Pada rangkaian kasus spontan, E.
coli dan Klebsiella spp. sering dapat diisolasi dari jaringan mammae. Abses pada
kelenjar mammae yang ditemukan saat pemotongan babi tidak dapat dihubungkan
dengan mastitis coliform, tetapi kemungkinan terjadi karena luka-luka dan infeksi
sekunder (Radostits, et al., 2006).
g. Sampel untuk Konfirmasi Diagnosis
Pengambilan sampel untuk uji bakteriologi dari kelenjar mammari
dan limfonodus regional. Serta dengan pemeriksaan histologi dari kelenjar
mammari yang difiksasi dengan formalin (Radostits, et al., 2006).
5. Terapi dan pencegahan
a. Terapi
Pemberian air susu pengganti selekas mungkin atau dianjurkan mendapatkan air

susu dari induk lain (foster-mother) yang melahirkan anak bersamaan waktunya
dengan yang menderita agalaktia (Subronto, 2004)
Oxytocin secara IM/SC 30 50 IU.
Corticosteroid dengan interval 12-24 jam.
Antibakteria

diberikan setelah uji sensitivitas untuk menentukan jenis

antibiotika,terutama penicillin (Benzyl penicillin G, procain penicillin-G,


ampicilin), cephalosporin, erythromycin, neomycin, novobiosin, oksitetrasiklin,
dan streptomycin.

Estradiol benzoate digunakan menaikkan prolaktin dari pituitari untuk produksi

susu.
Infusi intravagina/intrauterina digunakan untuk refleks neurohormonal pada

pituitari posterior membantu pengeluaran oxytocin.


Feed supplement dan kandang hangat (Taylor, 2004).

b. Pencegahan
Perawatan yang baik saat babi bunting.
Menjaga kebersihan kandang babi.
Mencegah terjadinya pencemaran/kontaminasi tinja terhadap tanah.
Pemberian vaksin yang lengkap pada saat babi bunting.
Pemberian ransum pakan yang tidak berlebihan agar bobot babi tidak overweight.
Sanitasi yang baik disekitar kandang babi
(Taylor, 2004).

DAFTAR PUSTAKA
Jackson, P.G.G. and Cockcroft P. D. 2007. Handbook of Pig Medicine. Saunders Elsevier:
Philadelphia USA.
Radostits, O., Gay, C., Hinchcliff, K., Constable, P.2006. Veterinary Medicine 10th edition.
New York: Saunders Elsevier
Subronto.2004. Ilmu Penyakit Ternak II. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Sihombing. 2006. Ilmu Ternak Babi. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.
Taylor, R.E., 2004. Scientic Farm Animal Production. New Jersey: Pearson Prentice Hall