Anda di halaman 1dari 31

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Saat ini perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat pada mendorong
para praktisi untuk mengembangkan cara baru agar pekerjaan analisa dapat dilakukan
dengan lebih baik dan lebih efektif. Persoalan yang melibatkan model matematika
banyak muncul dalamberbagai disiplin ilmu pengetahuan, seperti dalam bidang fisika,
kimia,ekonomi, atau pada persoalan rekayasa. Seringkali model matematika tersebut
muncul dalam bentuk yang sulit untuk dikerjakan secara analitik dimana analitik disini
adalah metode penyelesaian model matematika dengan rumus-rumus aljabar yang
sudah baku atau lazim digunakan.
Metode analitik unggul untuk sejumlah persoalan yang memiliki tafsiran
geometri sederhana. Misalnya menentukan akar penyelesaian dari menggunakan
rumus abc. Padahal persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari tidak selalu
dalam bentuk sederhanatetapi sangat kompleks serta melibatkan bentuk dan proses
yang rumit. Akibatnya nilai praktis penyelesaian metode analitik menjadi terbatas.
Bila metode analitik tidak dapat lagi digunakan, maka salah satu solusi yang dapat
digunakan adalah dengan metode Numerik. Metode Numerik adalah teknik yang
digunakan untuk memformulasikan persoalan matematika sehingga dapat dipecahkan
dengan operasi perhitungan atau aritmatika biasa (tambah,kurang, kali, dan bagi).
Dalam penyelesaian persoalan rumit fisika penggunaan metode numerik
sendiri sudah banyak diterapkan misalnya saja penyelesaian untuk mengetahui
hubungan kecepatan termal dengan koefisien kekentalan zat cair menggunakan
metode interpolasi,kemudian persoalan gerak peluru dengan spin yang bisa
diselesaikan menggunakan metode runge kutta,dan masih banyak contoh persoalan
rumit fisika yang dapat diselesaikan menggunakan metode numerik.
Dalam hal ini penulis akan membahas mengenai persoalan fisika mengenai
debit air yang dapat diselesaikan menggunakan Metode eliminasi gauss(Upper dan
Lower) dan LU Decomposition (Metode Doolittle). Untuk lebih jelasnya akan dibahas
pada bab-bab selanjutnya

1.2 Rumusan Masalah


Berapakah besar debit air pada sebuah pipa dengan menggunakan Sistem Persamaan
Linier yaitu menggunakan Metode eliminasi gauss (Upper) dan LU Decomposition
(Metode Doolittle).
1.3 Tujuan
Menentukan besar debit air pada sebuah pipa dengan menggunakan Sistem Persamaan
Linier yaitu menggunakan Metode eliminasi gauss (Upper) dan LU Decomposition
(Metode Doolittle)
1.4 Manfaat
Dengan adanya program yang telah disediakan pada MATLAB kita dapat
menggunakan metode secara tepat agar permasalahan fisika yang rumit dapat
terselesaikan dengan baik, misalnya pada persoalan yang akan dibahas dalam makalah
ini mengenai besar debit air pada sebuah pipa dengan menggunakan Sistem
Persamaan Linier yaitu menggunakan Metode eliminasi gauss (Upper dan lower) dan
LU Decomposition (Metode Doolittle)

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Eliminasi Gauss

Eliminasi Gauss adalah suatu metode untuk mengoperasikan nilai-nilai di


dalam matriks sehingga menjadi matriks yang lebih sederhana lagi. Dengan
melakukan operasi baris sehingga matriks tersebut menjadi matriks yang baris. Ini
dapat digunakan sebagai salah satu metode penyelesaian persamaan linear dengan
menggunakan matriks. Caranya dengan mengubah persamaan linear tersebut ke
dalam matriks teraugmentasi dan mengoperasikannya. Setelah menjadi matriks baris,
lakukan substitusi balik untuk mendapatkan nilai dari variabel-variabel tersebut.
Prosedur penyelesaian dari metode ini adalah dengan melakukan operasi baris
sehingga matriks tersebut menjadi matriks yang Eselon-baris. Ini dapat digunakan
sebagai salah satu metode penyelesaian persamaan linear dengan menggunakan
matriks. Caranya dengan mengubah persamaan linear tersebut ke dalam matriks
teraugmentasi dan

mengoperasikannya.

Setelah

menjadi

matriks Eselon-baris,

lakukan substitusi balik untuk mendapatkan nilai dari variabel-variabel tersebut.


Sebagai contoh berikut ada 3 persamaan dengan 3 bilangan tak diketahui :
a11x1 + a12x2 + a13x3 = b1

(1.a)

a21x1 + a22x2 + a23x3 = b3

(1.b)

a31x1 + a32x2 + a33x3 = b3

(1.c)

Persamaan pertama dibagi koefisien pertama dari persamaan kesatu a11 dan dikalikan
dengan koefisien pertama dari persamaan kedua a21 :
a12
a11

a21x1 + a21

a13
a11

x2 + a21

b1
a11

x3 = a21

(1.1)

Persamaan (4.1.b) dikurangi persamaan (4.2) didapat :


a12
a11

(a22 - a21
atau

a13
a11

) x2 + (a23 - a21

b1
a11

) x3 = (b2 - a21

a22 x2 + a23 x3 = b2

)
(1.2)

Langkah berikut, dengan cara yang sama dilakukan pada persamaan pertama dengan
persamaan ketiga, sehingga didapat persamaan :

a12
a11

a31x1 + a31

a13
a11

x2 + a31

b1
a11

x3 = a31

(1.3)

dan persamaan (1.c) dikurangi persamaan (1.3) didapat :


a12
a11

(a32 - a31
atau

a13
a11

) x2 + (a33 - a31

b1
a11

) x3 = (b3 - a31

a32 x2 + a33 x3 = b3

(1.4)

Langkah berikut mengeliminasi persamaan (1.3) dan (1.4) yaitu membagi persamaan
(1.2) dengan koefisien a22 dan dikalikan dengan koefisien pertama dari persamaan
(1.4) hasilnya :
a ' 23
a ' 22

a32 x2 + a32

b' 2
a ' 22

x3 = a33

(1.5)

Persamaan (4.5) dikurangi persamaan (4.6)


a ' 23
a ' 22

(a33 - a32
atau

b' 2
a ' 22

) x3 = (b3 - a33

: a33 x3 = b3

(1.6)

Dengan demikian terbentuk persamaan dalam bentuk matrix segitiga atas :


a11x1 + a12x2 + a13x3 = b1

(1.a)

a22 x2 + a23 x3 = b2

(1.2)

a33 x3 = b3

(1.6)

Maka hasilnya dapat diselesaikan dengan menyelesaikan persamaan (1.6) didapat nilai
x3 kemudian dengan memasukan nilai x3 ke persamaan (1.2) didapat x2 dan
selanjutnya dengan memasukan nilai x2 dan x3 pada persamaan (1.a) didapatkan nilai
x1 . dengan demikian sistim persamaan dapat diselesaikan .

2.1.1 Ciri-ciri Eliminasi Gauss


a. Jika suatu baris tidak semua nol, maka bilangan pertama yang tidak nol adalah 1 (1
utama)
b. Baris nol terletak paling bawah
c. 1 utama baris berikutnya berada dikanan 1 utama baris diatasnya
d. Dibawah 1 utama harus nol
2.1.2 Algoritma dasar metode eliminasi gauss
Algoritma dasar metode eliminasi gauss adalah sebagai berikut:
A

Ubahlah sistem persamaan linear tersebut menjadi matrik augment, yaitu suatu matrik

yang berukuran n x (n + 1). Jelas terlihat bahwa elemen-elemen yang menempati


kolom terakhir matrik augment adalah nilai dari bi; yaitu ai,n+1 = bi dimana i = 1,
2, ..., n.
B

Periksalah elemen-elemen pivot. Apakah ada yang bernilai nol? Elemen-elemen pivot
adalah elemen-elemen yang menempati diagonal suatu matrik, yaitu a11, a22,..., ann
atau disingkat aii. Jika aii _= 0, bisa dilanjutkan ke langkah no.3. Namun, jika ada
elemen diagonal yang bernilai nol, aii = 0, maka baris dimana elemen itu berada harus
ditukar posisinya dengan baris yang ada dibawahnya, (Pi) (Pj) dimana j = i + 1, i +
2, ..., n, sampai elemen diagonal matrik menjadi tidak nol, aii 0.
c. Proses triangularisasi.
d. Hitunglah nilai xn
e. Lakukanlah proses substitusi mundur untuk memperoleh xn-1 , xn-2 , ....,x2 , x1

2.1.3 Kelebihan dan Kekurangan


Metode ini digunakan dalam analisis numerik untuk meminimalkan mengisi selama
eliminasi, dengan beberapa tahap
a.

menentukan apakah sistem konsisten.

b.

menghilangkan kebutuhan untuk menulis ulang variabel setiap langka.

c.

lebih mudah untuk memecahkan

kelemahan :
a.

memiliki masalah akurasi saat pembulatan decimal

Untuk function Metode eliminasi gauss yang dapat digunakan dalam menyelesaiakan
persoalan menghitung debit air dalam sebuah pipa dengan menggunakan Sistem
Persamaan Linier yaitu :

function x=gauss(A,b)
[n,n]=size(A);
k=1;
[n1,k]=size(b);
x=zeros(n,k);
for i=1:n-1;
m=-A(i+1:n,i)/A(i,i);
A(i+1:n,:)=A(i+1:n,:)+m*A(i,:);
b(i+1:n,:)=b(i+1:n,:)+m*b(i,:);
end
x(n,:)=b(n,:)./A(n,n);
for i=n-1:-1:1;
x(i,:)=(b(i,:)-A(i,i+1:n)*x(i+1:n,:))./A(i,i);
end

2.2 LU Dekomposisi
LU dekomposisi memiliki tempat dalam memecahkan persamaan linear.metode
dekomposisi LU komputasi ini memiliki kelebihan yakni lebih efisien daripada
eliminasi Gauss. Metode LU-decomposisi bisa dibilang merupakan modifikasi dari
eliminasi gauss, karena beberapa langkah yang mesti dibuang pada eliminasi gauss,
justru harus dipakai oleh LU decomposisi Pada LU dekomposisi ini persamaan linier
Ax=b mengubah matriks A menjadi matriks upper dan matriks lower, A=LU

A=

U 11
U 12
U 13
L21 U 11
L21 U 12+U 22
L21 U 13+U 23
L31 U 11 L31 U 12 + L32 U 22 L31 U 13 + L32 U 23 +U 33

metode LU-decomposition dilakukan dengan tiga langkah sebagai berikut:


Melakukan faktorisasi matrik A menjadi matrik L dan matrik U A = LU.
Menghitung vektor y dengan operasimatrik Ly = b. Ini adalah proses forwardsubstitution
atau substitusi-maju.

Menghitung vektor x dengan operasi matrik Ux = y. Ini adalah proses backwardsubstitution atau substitusi mundur.
Untuk function Metode LU Decomposition (Metode Doolittle) yang dapat
digunakan dalam menyelesaiakan persoalan menghitung debit air dalam sebuah pipa
dengan menggunakan Sistem Persamaan Linier yaitu :
function x=ludec(A,b)
n=size(A,1);
for k=1:n-1;
for i=k+1:n
if A(i,k)~=0.0
lambda=A(i,k)/A(k,k);
A(i,k+1:n)=A(i,k+1:n)-lambda*A(k,k+1:n);
A(i,k)=lambda;
end
end
end
if size(b,2)>1;b=b';end
for k=2:n
b(k)=b(k)-A(k,1:k-1)*b(1:k-1);
end
for k=n:-1:1
b(k)=(b(k)-A(k,k+1:n)*b(k+1:n))/A(k,k);
end
x=b;

2.3 Debit air


Volume suatu fluida yang mengalir melalui penampang dalam selang waktu
tertentu dikenal dengan Debit Air. Debit adalah besaran yang menyatakan banyaknya

air yang mengalir selama 1 detik yang melewati suatu penampang luas. Ambillah
sebuah selang dan nyalakan kran, air akan mengalir melalui penampang ujung selang
itu. Jika selama 6 detik air yang mengalir adalah lewat ujung selang adalah 12 m 3,
maka kita katakan debit air adalah (12/6) m3/detik = 2 m3/det.

Bila fluida mengalir dalam pipa yang mempunyai luas penampang A dan
mengalir sejauh L maka volume fluida yang ada di dalam pipa adalah Vol = A.L ,
karena selama fluida mengalir dalam pipa sepanjang L, fluida menempuh selang
waktu tertentu selama t.
Q = Volume / Waktu = A.L / t
v=L/t
maka Q = A.(vt) / t
Q = A.v ( Persamaan debit air)

Gbr.1
Gambar di atas menunjukkan aliran fluida dari kiri ke kanan ( fluida mengalir dari
pipa yang berdiameter besar menuju diameter yang kecil ). Garis putus-putus merupakan
garis arus. Jika dicermati, garis-garis pada aliran ini sama sekali tidak berpotongan satu
sama lainnya. Garis alir semacam ini dinamakan Garis alir (stream line) yang
didefinisikan sebagai lintasan aliran fluida ideal. Pada pipa alir, fluida masuk dan keluar
melalui mulut-mulut pipa. Air masuk dari ujung kiri dengan kecepatan v1 dan keluar di
ujung kanan dengan kecepatan v2. Jika kecepatan fluida konstan, maka dalam interval
waktu (t) fluida telah menempuh jarak L= v.t .

Keterangan gambar :
v1 = kecepatan aliran fluida pada bagian pipa yang berdiameter besar

(ms-1)

v2 = kecepatan aliran fluida pada bagian pipa yang berdiameter kecil

(ms-1)

A1 = luas penampang bagia pipa yang berdiameter besar

( m2 )

A2 = luas penampang bagian pipa yang berdiameter kecil

( m2 )

L = jarak tempuh fluida

( m )

t = selang waktu fluida

( s )

Selama selang waktu tertentu, sejumlah fluida mengalir melalui bagian pipa yang
berdiameter besar (A1) sejauh L1 (L1 = v1 t). Volume fluida yang mengalir adalah V1 =
A1L1 = A1v1t. Selama selang waktu yang sama, sejumlah fluida yang lain mengalir
melalui bagian pipa yang diameternya kecil (A2) sejauh L2 (L2 = v2 t). Volume fluida yang
mengalir adalah V2 = A2L2 = A2 v2 t
Massa fluida yang mengalir dalam pipa yang memiliki luas penampang A 1
(diameter pipa yang besar) selama selang waktu tertentu adalah sbb :
=

m
V

m1 = 1V1

m = V
V1 = A1 L1 = A1 v1 t

m1 = 1 A1 v1 t

Demikian juga, massa fluida yang mengalir dalam pipa yang memiliki luas
penamang A2 (diameter pipa yang kecil) selama selang waktu tertentu adalah :
m2 = 2V1
m2 = 2 A2 v2 t

V2 = A2 L2 = A2 v2 t

Untuk fluida yang tunak dimana kecepatan aliran fluida di suatu titik sama dengan
kecepatan aliran partikel fluida lain yang melewati titik itu, maka jumlah massa yang
menembus penampang 1 (A1) dan penampang 2 (A2) haruslah sama. Sehingga dapat dibuat
persamaan sbb :
m1

1 A1 v1 t
1 A1 v1

m2
= 2 A2 v2 t

2 A2 v2

Jika fluida tersebut tak termampatkan atau tidak bisa ditekan, maka 1 = 2 (
tidak berubah terhadap tekanan), maka :
Av
Q1
A1 v1

= tetap
= Q2
= A2 v2 (Persamaan kontinuitas)

Keterangan :
v1 = kecepatan aliran fluida pada bagian pipa yang berdiameter besar

(ms-1)

v2 = kecepatan aliran fluida pada bagian pipa yang berdiameter kecil

(ms-1)

A1 = luas penampang bagia pipa yang berdiameter besar

( m2 )

A2 = luas penampang bagian pipa yang berdiameter kecil

( m2 )

BAB 3
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Langkah Kerja

1. Membuka Program Matlab


2. Menuliskan persamaan dibawah ini dalam bentuk matrik
-2 v1+4 v2+5 v3=3
3 v1 +6 v2+12 v3=10
5 v1+4v2-8v3=2
3. Memanggil function dari gauss dan LU dekomposisi pada common window dimana
function tersebut telah ditulis sebelumnya pada M-File lalu disimpan.
4. Setelah mengetahui harga kecepatan (v1,v2,v3) maka selanjutnya kita dapat
menentukan besar debit air dengan memanggil function dari M-File sesuai dengan
rumus debit air (Q=A.v).
3.2 Metode Analisis data
Metode yang digunakan yakni metode eliminasi gauss (upper,lower) dan LU
decomposition(Dollite)

BAB 4
HASIL PENGAMATAN dan ANALISIS DATA
4.1 Hasil Pengamatan

v1

v2
A2

A1

v3

A3

A2

Dari gambar tersebut, sebuah fluida mengalir dalam pipa dimana diketahui pipa
tersebut memiliki luas penampang berturut-turut A1=2,9 m2, A2=2.7 m2, A3=2,5 m2
dengan persamaan kecepatan v dalam m/s sebagai berikut:
-2 v1+4 v2+5 v3=3
3 v1 +6 v2+12 v3=10
5 v1+4v2-8v3=2
Tentukan Debit air pada Q1,Q2,Q3 dalam m3/s!

4.2 Hasil Analisis Data


Hasil Perhitungan analitik
Metode Lower

|||

|||

| |

2 4 5 3
2 4
5 3
1,125 6.5 0 4.25
3 6 12 10 10.5 12 0 13 10.5
12
0 13
5 4 8 2
5
4 8 2
5
4
8 2

didapatkan

| |

4.55 0
0 2.783
10.5 12 0
13
5
4 8
2

12+a(-8)=0
a=1,5
6+(1.5)(4)=-12

3+(1.5)(5)=10.5
9+ (1.5)(13)=10.5

5+a(-8)=0
a=0,625
4+(0,625)(4)=6.5
2+(0,625)(5)=1.125
3+ (0,625)(13)=4.25

6.5+a(12)=0
a=-0.541
1.125+(-0.541)(10.5)=-4.55
4.25+(0.541)(13)=-2.783
A.v=b

| || |

1
0
0 v 1 0.610
0.875
1
0 v 2 = 1.083
0.625 0.5 1 v 3 0.25

v1= 0.610
0.875 v 1 +v 2 =1.083
v 2=0.549
0.625 v 0.5 v 2+ v 3=0.25
1

v 3=0.405

Selanjutnya menghitung debit air yang mengalir sesuai dengan hasil perhitungan analitik
yakni :
Q1=A1.v1= 2,9 m3. 0.610 m/s=1,769 m3/s
Q2=A2.v2= 2,7 m3.0.549 m/s = 1.4823 m3/s

Q3=A3.v3= 2,5 m3.0.405m/s= 1,0125 m3/s


Metode Upper

|||

| ||

| |

2 4 5 3
2 4
5
3
2 4
5 4.25
3 6 12 10 0 12 19.5 14.5 0 12 19.5 14.5
5 4 8 2
5
4 8 2
0 14 4.5 9.5

Didapatkan

| |

2 4
5
4.25
0 12
19.5
14.5
0
0 18.237 7.407

3+a(-2)=0
a= - 1.5
6+(1.5)(4)= - 12
12+(1.5)(5)=19.5
10+ (1.5)(13)=14.5

5+a(-2)=0
a=2.5
4+(2.5)(4)=14
-8+(2.5)(5)=4.5
2+ (2.5)(3)=9.5

14+a(12)=0
a=-1.166
4.5+(19.5)(-1.166)=-18.237
9.5+(14.5)(-1.166)=-7.407
A.v=b ,v=x

| |

1 4
5 1.5
0 1 19.5 1.208
0 0
1 0.406

v3= 0.610
v 2 +1.625 v 3=1.208
v 2 +0.66=1.083
v 2=0.548
v 12 v 22.5 v 3=1.5

v 1=0.611

Selanjutnya menghitung debit air yang mengalir sesuai dengan hasil perhitungan analitik
yakni :
Q1=A1.v1= 2,9 m3. 0,611 m/s=1,7719 m3/s
Q2=A2.v2= 2,7 m3.0,548m/s = 1,4796 m3/s
Q3=A3.v3= 2.5 m3.0.405m/s= 1,0125 m3/s
Metode LUDEC (dollite)

||

U 11
U 12
U 13
2 4 5
3 6 12 L21 U 11
L21 U 12 +U 22
L21 U 13 +U 23
5 4 8
L31 U 11 L31 U 12+ L32 U 22 L31 U 13+ L32 U 23+U 33

U11= -2
U12= 4
U13= 5
U13= 5
L21. U11= 3
L21.= -1.5

L21 U12 + U22 = 6


U22=12

L31 U12 + L32 U22 = 4


L32 = 1.167

L21 U13 + U23

= 12

U23 = 19.5

L31 U13 + L32 U23 + U33 = -8


U33 = 18.256

A = L. U

||

2 4 5
1
0
0 2 4
5
3 6 12 = 1.5
1
0 0 12 19.5
5 4 8 2.5 1.167 1 0
0 18.256

LY= b

|| ||

1
0
0 Y1
1.5
1
0 Y2
2.5 1.167 1 Y 3

3
10
2

Y1= 3
-1.5 Y1+ Y2 = 10
Y2 = 14.5
-2.5 Y1+1.167 Y2+ Y3 = 2
Y3 = 7.421
Uv=Y

, v=x

| || |

v1
2 4
5
3
0 12 19.5 v 2 = 14.5
0
0 18.256 v 3 7.421

18.256 v 3=7.421

v 3=0.406

12 v 2+ 19.5 v 3=14.5
v 2=0.548

2 v1 + 4 v 2 +5 v3 =3
v 1=0.611

Selanjutnya menghitung debit air yang mengalir sesuai dengan hasil perhitungan analitik
yakni :
Q1=A1.v1= 2.9 m3. 0.611 m/s=1,7719 m3/s
Q2=A2.v2= 2.7 m3.0.548m/s = 1,4796 m3/s
Q3=A3.v3= 2.5 m3.0.406m/s= 1,015 m3/s

3.2.2 Hasil perhitungan MATLAB


Dengan menggunakan fungsi eliminasi gauss :
function x=gauss(A,b)
[n,n]=size(A);
k=1;
[n1,k]=size(b);
x=zeros(n,k);
for i=1:n-1;
m=-A(i+1:n,i)/A(i,i);
A(i+1:n,:)=A(i+1:n,:)+m*A(i,:);
b(i+1:n,:)=b(i+1:n,:)+m*b(i,:);
end
x(n,:)=b(n,:)./A(n,n);
for i=n-1:-1:1;
x(i,:)=(b(i,:)-A(i,i+1:n)*x(i+1:n,:))./A(i,i);
end
Eksekusi pada command window
Diary on
format long
A=[ -2 4 5; 3 6 12; 5 4 -8]
A =
-2
3
5
b=[3;10;2]
b =

4
6
4

5
12
-8

3
10
2
gauss(A,b)
ans =
0.611872146118722
0.547945205479452
0.406392694063927
ludec(A,b)
ans =
0.611872146118722
0.547945205479452
0.406392694063927

Untuk mendapatkan hasil Debit air dalam pipa, maka diperlukan fungsi pada mfile,kemudian eksekusi pada command window dengan klik run.
FLOW CHART menentukan debit air :

START

INPUT : Luas penampang


(A),
kecepatan(v)

Hitung: Q (debit
air)
OUTPUT: Q=A*v

STOP
M-File
function Q = debitair
A = input('luas penampang: ');
v = input('kecepatan: ');
Q = A*v
end

Hasil run dari M-File


format long
% Modify expression to add input arguments.
% Example:
%
a = [1 2 3; 4 5 6];
%
foo(a);
debit
luaspenampang: 2.9
kecepatan: 0.611
Q =
1.771900000000000

ans =
1.771900000000000
% Modify expression to add input arguments.
% Example:
%
a = [1 2 3; 4 5 6];
%
foo(a);
debit
luaspenampang: 2.7
kecepatan: 0.547
Q =
1.476900000000000

ans =
1.476900000000000
% Modify expression to add input arguments.
% Example:
%
a = [1 2 3; 4 5 6];
%
foo(a);
debit
luaspenampang: 2.5
kecepatan: 0.406
Q =
1.015000000000000

ans =
1.015000000000000
diary off

Sehingga diketahui debit air Q1= 1.7719 m3/s, Q2=1,4769 m3/s, Q3=1,015 m3/s

BAB 5
PEMBAHASAN
Pada penyelesaian soal berkaitan dengan menghitung debit air yang mengalir pada sebuah
pipa, menggunakan metode eliminasi Gauss dan LU dekomposisi dimana metode tersebut
digunakan untuk menyelesaikan persamaan dari kecepatan (v) yang diketahui memiliki
persamaan berikut :
-2 v1+4 v2+5 v3=3
3 v1 +6 v2+12 v3=10
5 v1 + 4v2 - 8v3 = 2
Dalam pengerjaan di MATLAB, langkah pertama yakni menuliskan persamaan tersebut
dalam bentuk matrik
>>A=[ -2 4 5; 3 6 12; 5 4 -8]
A=
-2

12

-8

>> b=[3;10;2]
b=
3
10
2
Selanjutnya memanggil function dari gauss dan LU dekomposisi pada common window
dimana function tersebut telah ditulis sebelumnya pada M-File lalu disimpan. Setelah
memanggil fungsi gauss dan LU dekomposisi didapatkan hasil sebagai berikut:
format long
A=[ -2 4 5; 3 6 12; 5 4 -8]

A =
-2
3
5

4
6
4

5
12
-8

b=[3;10;2]
b =
3
10
2
gauss(A,b)
ans =
0.611872146118722
0.547945205479452
0.406392694063927
ludec(A,b)
ans =
0.611872146118722
0.547945205479452
0.406392694063927
Diary off

Sehingga dapat kita ketahui harga v1= 0.61m/s,v2=0.54 m/s,v3=30.40 m/s.


Jika v1,v2,v3 dimasukkan kedalam persamaan v maka akan didaptakan hasil yang sama.
Setelah mengetahui harga kecepatan (v) maka selanjutnya kita dapat menentukan besar
debit air dengan memanggil function dari M-File sesuai dengan rumus debit air (Q=A.v).
M-File
function Q = debitair
A = input('luas penampang: ');
v = input('kecepatan: ');
Q = A*v
end

Hasil run dari M-File


format long
% Modify expression to add input arguments.

% Example:
%
a = [1 2 3; 4 5 6];
%
foo(a);
debit
luaspenampang: 2.9
kecepatan: 0.611
Q =
1.771900000000000

ans =
1.771900000000000
% Modify expression to add input arguments.
% Example:
%
a = [1 2 3; 4 5 6];
%
foo(a);
debit
luaspenampang: 2.7
kecepatan: 0.547
Q =
1.476900000000000

ans =
1.476900000000000
% Modify expression to add input arguments.
% Example:
%
a = [1 2 3; 4 5 6];
%
foo(a);
debit
luaspenampang: 2.5
kecepatan: 0.406
Q =
1.015000000000000

ans =
1.015000000000000
diary off

Dari perhitungan tersebut diketahui besarnya debit air yang melalui sebuah pipa yakni:
-

Debit air saat A= 2,9 m2 dan v=0.611m/s adalah 1.7719 m3/s,

Debit air saat A= 2,7 m2 dan v=0.547 m/s adalah 1.4769 m3/s,

Debit air saat A= 2,5 m2 dan v=0.402 m/s adalah 1,015 m3/s,

Untuk perhitungan secara analitik maupun perhitungan matlab didapatkan hasil yang sama
baik dalam memecahkan persamaan kecepatan (v) maupun perhitungan debit(Q).

BAB 6
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Dari pembahasan sebelumnya, dapat diambil kesimpulan dimana dari perhitungan
tersebut diketahui besarnya debit air yang melalui sebuah pipa yakni:
-

Debit air saat A= 2,9 m2 dan v=0.611m/s adalah 1.7719 m3/s,

Debit air saat A= 2,7 m2 dan v=0.547 m/s adalah 1.4769 m3/s,

Debit air saat A= 2,5 m2 dan v=0.402 m/s adalah 1,015 m3/s,

Penyelesaian menggunakan MATLAB antara metode eliminasi gauss dengan LU


dekomposisi menghasilkan hasil data yang sama dalam menentukan kecepatan air
dalam pipa yang memiliki luas penampang berbeda.
6.2 Saran
Sebaiknya dalam pemecahan soal menghitung debit air ini lebih banyak
menggunakan variasi metode lainnya.

lampiran
LEMBAR PERHITUNGAN
Metode Lower

|||

|||

| |

2 4 5 3
2 4
5 3
1,125 6,5 0 4,25
3 6 12 10 10,5 12 0 13 10,5
12
0 13
5 4 8 2
5
4 8 2
5
4
8 2
(1)

(2

didapatkan

| |

4,55 0
0 2,783
10,5 12 0
13
5
4 8
2
(3

Perhitungan (1)
12+a(-8)=0
-8a=-12
a=1,5
6+(1,5)(4)=6+6=12
3+(1,5)(5)=3+7,5=10,5
10+ (1,5)(2)=10+3=13

Perhitungan (2)
5+a(-8)=0
-8a=-5
a=0,625
4+(0,625)(4)=4+2,5=6,5
-2+(0,625)(5)=-2+3,125=1,125
3+ (0,625)(13)=3+8,125=4.25

Perhitungan 3
6,5+a(12)=0
12a=-6.5
a=-0,541
1,125+(-0,541)(10,5)=1,125-5,6805=-4.55
4,25+(-0,541)(13)=4,25-7,033=-2,783

A.v=b

| || |

1
0
0 v 1 0,610
0,875
1
0 v 2 = 1,083
0,625 0,5 1 v 3 0,25

v1= 0,610
0,875 v 1 +v 2 =1,083
0,875(0,610)+ v 2=1,083
0,533+ v 2=1,083
v 2=0,549
0,625 v 0,5 v 2+ v 3=0,25
1
0,625(0,610)0.5 v 2 + v 3=0,25
0,6555+ v3 =0,25
Metode Upper

v 3=0,405

0,3810,2745+ v 3=0,25

|||

| ||

| |

2 4 5 3
2 4
5
3
2 4
5 4,25

3 6 12 10
0 12 19,5 14,5
0 12 19,5 14,5
5 4 8 2
5
4 8 2
0 14 4,5 9,5
(1)

(2)

Didapatkan

| |

2 4
5
4,25
0 12
19,5
14,5
0
0 18,237 7,407
(3)

3+a(-2)=0
-2a=-3
a=1,5
6+(1,5)(4)=6+6=12
12+(1,5)(5)=12+7,5=19,5
10+ (1,5)(13)=10+4,5=14,5

5+a(-2)=0
-2a=-5
a=2,5
4+(2,5)(4)=4+10=14
-8+(2,5)(5)=-8+12,5=4,5
2+ (2,5)(3)=2+7,5=9,5

14+a(12)=0
12a=-14
a=-1,166
4,5+(19,5)(-1,166)=4,5-22,737=-18,237

9,5+(14,5)(-1,166)=9,5-16,907=-7,407
A.v=b

| |

1 4
5 1,5
0 1 19,5 1,208
0 0
1 0,406
v3= 0,610

v 2 +1,625 v 3=1,208
v 2 +1,625(0.610)=1,208
v 2 +0,66=1,083
v 2=0,548
v 12 v 22.5 v 3=1.5

v 12 ( 0,548 ) 2,5(0,406)=1,5

v 11,0961,015=1,5

v 12.111=1.5

v 1=0.611

Metode LUDEC (dollite)

||

U 11
U 12
U 13
2 4 5
3 6 12 L21 U 11
L21 U 12 +U 22
L21 U 13 +U 23
5 4 8
L31 U 11 L31 U 12+ L32 U 22 L31 U 13+ L32 U 23+U 33
U11= -2
U12= 4
U13= 5
U13= 5
L21. U11= 3
L21.= -1,5

L21 U12 + U22 = 6


-1,5(4)+ U22 = 6

U22=12

L31 U12 + L32.U22 = 4


-2,5(4)+ L32(12) = 4
12 . L32
=14
L32

L21 U13 + U23 = 12


-1,5 (5) + U23 = 12
-7,5+ U23 = 12
U23

= 1.167

= 19.5

L31 U13 + L32 U23 + U33 = -8


-2,5(5) + 1,167(19,5) + U33 = -8
-12,5 + 22,756 + U33
= -8
U33 = -10,256 -8
U33 = 18,256

A = L. U

||

2 4 5
1
0
0 2 4
5
3 6 12 = 1,5
1
0 0 12 19,5
5 4 8 2,5 1,167 1 0
0 18,256

LY= b

|| ||

1
0
0 Y1
1,5
1
0 Y2
2,5 1,167 1 Y 3

3
10
2

Y1= 3
-1.5 Y1+ Y2 = 10
Y2 = 14.5
-2.5 Y1+1.167 Y2+ Y3 = 2
-2.5 (3)+1.167 (14.5) + Y3 = 2
-7,5 + 16,921 + Y3
=2
Y3 = 7,421
U v = Y, x= v

| || |

v1
2 4
5
3
0 12 19,5 v 2 = 14,5
0
0 18,256 v 3 7,421

18.256 v 3=7.421

v 3=0.406

12 v 2+ 19.5 v 3=14.5
12 v 2+ 19.5(0,406)=14.5
v 2=0.548

2 v1 + 4 v 2 +5 v3 =3
v 1=0.611