Anda di halaman 1dari 10

Latar Belakang

Dewasa ini, karena tuntutan geometris dan metode konstruksi, kian banyak jembatan
yang menggunakan beton bermutu dan berkinerja sangat tinggi. Jembatan Akihabara di
Jepang menggunakan beton berkekuatan 120 Mpa. Bahkan, Jembatan Sakata Mirai juga
di jepang, menggunakan beron bermutu ultra tinggi dengan kekuatan mencapai 180 Mpa
(sekitar K2000). Meskipun begitu, teknologi beton di Indonesia tidaklah tertinggal terlalu
jauh. "Perkembangan teknologi beton di Indonesia dalam kurun waktu 20 tahun
belakangan ini sangat menggembirakan," kata Dr lr FX Supartono, pakar teknologi beton.
Satu yang dapat menjadi parameter adalah proyek jembatan cable stay di perumahan
Grand wisata Bekasi. Pylon jembatan terbuat dari beton mutu 60 Mpa (K700) yang dapat
memadat mandiri (self compacting concrete) dalam bentuk flowwable concrete. Jembatan
Megamall di Pluit adalah contoh lain yang menerapkan beton mutu tinggi balok gelagar
(girder) pracetak prategangnya, yaitu berkekuatan 80MPa (K900).
Pada dasarnya beton bermutu tinggi merupakan beton yang memiliki kekuatan tinggi,
namun parameter beton mutu tinggi sangat beragam, tergantung di mana berada. Di
Indonesia, beton dengan kekuatan di atas 50 Mpa sudah digolongkan beton mutu tinggi.
sementara di Australia, beton berkuatan 200 MPa merupakan hal biasa. Di China, dengan
'menggunakan agregat sintetik, telah ada beton hingga 300 Mpa. Dalam perkembangan
konstruksi beton modern, beton dituntut menjadi material konstruksi yang bermutu tinggi
sekaligus berkinerja tinggi. Pada beton segar, mudah dalam pengerjaan pengecoran
(workable), panas hidrat yang rendah (low heat of hydration), susut relatif rendah pada
saat pengeringan, memiliki tingkat waktu ikat awal (acceleration) atau penundaan
(retardation) yang baik, serta mudah dipompakan ke tempat yang lebih tinggi, merupakan
beberapa tuntutan yang harus dapat dipenuhi beton bermutu dan berkinerja tinggi, yang
salah satunya adalah ultra high performance concrete (UHPC).
Oleh karena itu penulisan makalah tentang beton dengan klasifikasi Ultra High
Performance Concrete (UHPC) sangat dibutuhkan untuk semakin meningkatkan
pengetahuan masyarakat sehingga dapat bersaing dengan beton produk luar negeri.
1.2 Permasalahan
Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
a) Apa yang dimaksud dengan Ultra High Performance Concrete (UHPC) ?
b) Apa saja bahan campuran yang digunakan dalam UHPC ?
c) Apa yang dimaksud dengan Packing Density ?
d) Bagaimana standar desain UHPC sebagai bahan struktur ?
e) Apa saja tantangan dalam pengembangan UHPC di Indonesia ?
1.3 Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah :
a) Mengetahui yang dimaksud dengan Ultra High Performance Concrete (UHPC)
b) Mengetahui bahan campuran yang digunakan dalam UHPC

c) Mengetahui yang dimaksud dengan Packing Density


d) Mengetahui standar desain UHPC sebagai bahan struktur
e) Mengetahui tantangan dalam pengembangan UHPC di Indonesia
1.4 Metode Penelitian
Penulisan makalah ini menggunakan metode browsing pada internet.

PEMBAHASAN ISI
2.1 Teknologi Beton Ultra High Performance Concrete (UHPC)
Beton konvensional yang pada saat ini digunakan dalam dunia konstruksi adalah beton
yang sebenarnya masih mempunyai potensi kekuatan yang sangat besar. Dengan
kekuatan beton normal sebesar 30 40 MPa, kita membutuhkan material yang cukup
banyak untuk satu proyek konstruksi. Apabila kita menaikkan kekuatan beton sehingga
dua kali lipat, maka volume material yang diperlukan akan berkurang hingga setengah
dari keadaan awal dan biaya untuk mendapatkan beton tersebut, pun tidak sampai dua
kali lipatnya.
Beton dengan kuat tekan tinggi sudah dapat dibuat dengan adanya teknologi bahan kimia
yaitu superplasticizer yang ditambahkan pada beton sehingga partikel semen yang
biasanya cenderung untuk mengumpul (flocculate) dapat terdispersi dengan seragam dan
kebutuhan air dapat dikurangi sehingga rongga udara dalam beton dapat dikurangi dan
kekuatan beton akan meningkat.
Pada saat ini dengan adanya penelitian di bidang teknologi beton, telah didapatkan
beton Ultra High Strength (UHS) dengan kekuatan yang lebih dari 150 MPa. Metode
untuk mendapatkan beton generasi terbaru dari beton dengan kinerja yang ultra tinggi
adalah dengan pembuatan beton extra padat dengan memberikan pengisi berupa partikel
yang berukuran mikro dan modifikasi material semen dengan polymer sehingga terjadi
material bebas cacat makro (Macro Defect Free (MDF)).
Pemadatan dengan menggunakan partikel mikro bersandar pada konsepparticle packing.
Pada konsep ini diterapkan bahwa untuk mendapatkan beton yang sekuat-kuatnya,
penyusunan partikel dalam campuran harus diatur agar didapatkan rongga yang paling
sedikit. Penggunaansuperplasticizer membuat partikel semen, dengan ukuran sekitar 10
micron, dapat terpadatkan dengan lebih seragam, mengurangi porositas yang biasanya
terdapat dalam beton konvensional dan meningkatkan kekuatannya.
Konsep particle packing ini dapat ditingkatkan dengan memberikan partikel dengan
ukuran yang lebih kecil dari 1 micron, untuk mengisi rongga yang masih tersisa,
misalnya dengan silica fume atau metakaolin. Dan jika partikel ini juga
bersifat pozzolanik, maka peningkatan kekuatan tambahan akan terjadi dengan adanya
air kapur bebas dalam campuran beton. Dengan peningkatan kepadatan yang terjadi,

porositas dalam beton yang saling terkoneksi akan berkurang dan menyebabkan beton
lebih kedap terhadap air dan material perusak lainnya sehingga beton ini menjadi lebih
tahan lama.
Ultra-high Performance concrete adalah beton generasi baru yang mempunyai
karakteristik sebagai material yang sangat padat dengan kuat tekannya bisa mencapai
antara 150 MPa sampai dengan 250 MPa. Beton baru ini memungkinkan diciptakannya
struktur beton yang ramping, ringan, disamping dapat menghemat energi dan bahan
alam. Kepadatan UHPC yang tinggi memberikan pula keuntungan bahwasanya UHPC
ini mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap serangan zat cair ataupun gas yang
berbahaya. Tidaklah mengherankan bahwa para peneliti lebih suka menggunakan istilah
ultra-high Performance dibandingkan ultra-high Strength.
Dasar ide pembuatan UHPC adalah meningkatkan apa yang disebut dengan term
Packing Density dari matrix semen dan mengurangi secara ekstrimwater cement
ratio sampai dengan 0.2. Untuk itu, campuran UHPC berbeda dengan campuran beton
normal, yaitu ditinggalkannya penggunaan agregat kasar dan halus berukuran makro,
sebagai gantinya digunakan agregat yang sangat halus dengan rentang ukuran
nanometer. Kuat tekannya yang tinggi berkorelasi dengan sifat UHPC yang getas
(brittle), tetapi dengan penulangan ataupun penambahan serat baja yang tepat akan tetap
dapat diperoleh struktur UHPC yang bersifat daktail dengan struktur yang ramping,
tetapi dapat memikul beban sekuat baja.
Perkembangan UHPC dimulai di Perancis, yang saat itu disebut sebagai Reactive
Powder Concrete (RPC), sekarang dikenal sebagai produk premix UHPC dari DUCTAL
atau DENSIT, dengan ukuran maksimal agregat 1mm. Kegiatan penelitian UHPC
diberbagai Negara selama satu dasawarsa ini menghasilkan diketemukannya
berbagai mix design yang menggunakan bahan-bahan lokal, tanpa bergantung pada
industri tertentu.
Pada Dasarnya prinsip teknologi beton UHPC adalah sama seperti pada beton normal,
dimana kita mencari susunan gradasi ukuran butiran yang dapat mengisi ruang kosong
pada matrix semen ini. Yang membedakannya adalah pada perencanaan campuran
UHPC berbasis Teknologi Nano, dimana ukuran butiran yang digunakan dalam rentang
nanometer (disingkat nm). Melalui pemilihan gradasi butiran halus ini akan diperoleh
kepadatan per satuan volume (Packing Density) sangat tinggi. Gambar 1 adalah contoh
dari gradasi ukuran butiran yang dipakai untuk mix design dengan kode M 1Q dan B 3Q
yang kembangkan oleh Prof. Schmidt di Universitas Kassel Jerman.

Gambar 1.
Grafik ukuran partikel dan kumulatip persentasi (% Vol) dari masing masing partikel untuk desain
campuran UHPC tipe M1Q dan B3 Q sesuai [1]

Campurannya

terdiri

dari

butiran-butiran

sangat

halus

terletak

pada

ukuran

submikroskopis, yaitu: mikrosilika berukuran antara 0.05 0.8 m, tepung Quartz dan
semen berukuran 10 m 60 m, pasir halus berukuran 500 m 1250 m.
Dalam merancang perencanaan campuran untuk UHPC yang dikembangkan oleh Prof.
Schmidt ada 5 hal pokok yang membedakan antara campuran UHPC dengan beton
konvensional, yaitu:
1. Ditinggalkannya penggunaan agregat kasar (10 mm - 35 mm) pada campuran
beton, sehingga hanya digunakan agregat halus, yaitu pasir halus (quartz sand)
dengan ukuran 0.125mm/0.50mm.
2. Digunakannya dalam campuran agregat yang sangat halus yaitu tepung Quartz
yang berukuran dalam rentang nanometer, antara 16 90 m
3. Seperti halnya penggunaan tepung reaktif mikrosilika pada beton mutu tinggi,
maka mikrosilica pun digunakan pada UHPC agar diperoleh CSH reaksi kedua.
4. Sama seperti halnya pada teknologi beton SCC (Self Compacted Concrete), maka
UHPC pun menggunakan superplatisizer terutama tipe Polycarboxylatether (PCE).
UHPC yang rasio air dan semennya ekstrim kecil, memerlukan superplastisizer agar
beton segar mudah dikerjakan.
5. Digunakannya serat baja halus mutu tinggi agar diperoleh sifat keruntuhan yang
daktail.
Pada tabel 1 dapat dilihat rencana campuran untuk berbagai tipe UHPC yang
dikembangkan Prof. Schmidt. Kuat tekan silinder tipe M1 mencapai 150 MPa dengan
pemanasan 90o C selama dua hari, sedangkan kuat tekan silinder tipe M1Q dan tipe M2Q
dapat mencapai 200 MPa. Saat ini campuran tipe M2Q disepakati untuk dipakai diseluruh
jaringan pusat penelitian UHPC di Jerman untuk pembuatan benda benda uji.

Tabel 1: Referensi Mix Design untuk UHPC [1]


UHPC

Einheit

M1

M 1Q

M 2Q

Zement

kg/m3

900

733

832

1016

1008

975

Basaltsand 0,125/0,50 mm

kg/m

Basalt 2/8

kg/m3

Microsilica

kg/m3

225

230

135

192

192

192

Quarz I

kg/m

183

207

Quarz II

kg/m3

l/m3

387

405

403

kg/m3

28,2

28,6

29,4

l/m3

185

161

166

(0,23)

(0,24)

(0,22)

Quarzsand 0,125/0,50 mm

Stahlfasern 2,5 Vol.-%

Vol.-% Feinststoff
<0,125>
Fliemittel
Wasser

kg/m

kg/m

Wasser- (w/z)
Feststoff-Verh. w/b1)

0,18

0,19

0,19

Vol.-% Wasser und


Feinststsoff <0,125>

l/m3

600

595

598

Ausbreitma

cm

55

55

65

Zyl. Druckfestigkeit 28d


in Wasser 20oC

N/mm2

148-152
(150)2
(163)3

Zyl. Druckfestigkeit nach


90oC Wrmebehandlung
(2Tage), Alter = 28d

N/mm2

152158
(155)2

184-206
(195)2

182-203
(189)2

2.2 Bahan Campuran UHPC


a) Semen
Dari penelitian didapat bahwa semen terbaik untuk UHPC adalah semen PC yang
mempunyai kandungan C3A (Tricalcium aluminate) paling sedikit. Hal ini
dimaksudkan untuk memudahkan terjadi pembentukan kristal CSH orde kedua. Tabel 2
adalah kandungan yang terdapat pada semen sesuai dengan klasifikasi pada DIN EN
197-1, dimana semen jenis CEM I 52, 5 R HS/NA mempunyai kandungan C3A yang
paling minimum, adalah semen yang paling baik untuk digunakan pembuatan UHPC.

Tabel 2. Klasifikasi semen dan kandungannya sesuai DIN EN 197-1

CEM I 52,5 R

CEM I 42,5 R1)

CEM I 42,5 R

HS/NA

HS1)

C3S (M.-%)

61,0

58,0

62,0

C2S (M.-%)

15,1

15,0

13,0

C3A (M.-%)

1,5

12,0

C4(AF) (M.%)

17,0

7,0

19,0

b) Bahan tambahan
Untuk melakukan optimasi kepadatan maka digunakan mikrosilica dan tepung Quartz
dengan usuran butiran yang berbeda. Untuk mendapatkan penyebaran ukuran butiran
tidak dapat diperoleh dengan menggunakan saringan konvensional, tetapi untuk itu
digunakan alat ukur grain meter antara lain: Coulter Counter, laser grain meter.
c) Agregat
Seperti halnya beton normal, UHPC dapat pula direncanakan untuk berbagai variasi
penggunaan agregat. UHPC saat ini dikembangkan hanya menggunakan agregat halus
yaitu pasir ukuran 0.125 0.5 mm [DIN 4226 - 1] dengan analisa saringan seperti
pada gambar 2.

Gambar 2 : Superplastizer
Tipical Sieve analysis untuk pasir halus yang digunakan pada campuran UHPC

d) Superplastizer
UHPC mengandung antara 350 sampai 400 l/m3 campuran butiran sangat halus
0.125 mm, yang menjadikan kandungan airnya ekstrim sedikit, yaitu rasio air semen

antara 0.2 sampai 0.25. Oleh sebab itu diperlukan superplastisizer, agar beton segar
UHPC dapat dikerjakan. Dari hasil penelitian yang dilakukan maka superplastisizer
berbasis Polycarboxyltatehter (PCE) yang akan memberikan tingkat workabilityyang
terbaik.
e) Serat Baja
Serat baja digunakan terutama untuk meningkatkan daktilitas dari beton. Tanpa serat
baja, sifat keruntuhan UHPC akan sangat getas , karena energi yang terkumpul
sebelum keruntuhan sangat besar, dan dalam waktu seketika akan terlepas sebagai
ledakan pada saat UHPC mengalami keruntuhan. Serat baja yang digunakan
berdiameter 0.15 sampai 0.20 mm dengan panjang 40 sampai 60 mm. Penggunaan
serat baja dengan panjang 60 mm menunjukkan tingkat daktilitas yang lebih baik.
Serat baja yang digunakan mempunyai mutu yang sangat tinggi, dengan fy = 1500
MPa.Dengan memperhatikan orientasi serat pada saat pengecoran, penggunaan serat
baja akan pula meningkatkan kuat tarik lentur UHPC sampai mencapai 25 MPa.

2.3 Packing Density

Gambar 3 : Prinsip pengisian pori-pori pada material UHPC

Packing density adalah istilah yang digunakan pada rencana campuran UHPC agar
diperoleh campuran dengan kepadatan yang maksimum, yaitu dengan meminimalkan
rongga kosong antara butiran / partikel. Oleh sebab itu terjadi hubungan yang erat
antara gradasi ukuran partikel bahan campuran dan packing density. Untuk
penyerdehanaan menurunkan persamaan matematisnya, maka diasumsikan bahwa
semua partikel berbentuk bulat. Dari hasil penelitian Resche (R2) diusulkan bahwa
efek pengisian rongga kosong akan optimal bila kita menggunakan partikel-partikel
halus dan partikel kasar yang memenuhi perbandingan diantara keduanya sebagai
maksimal 0,315.

Gambar 4.
Grafik ukuran dari partikel campuran terhadap prosentasi volume (Vol.%) untuk
campuran yang optimal (-----) dan campuran yang sub optimal (-----)

Sebagai contoh gambar 4 menunjukkan campuran yang optimal dari 2 bahan


campuran yang terdiri dari bahan dasar dengan diameter rata-rata partikel 47 m dan
bahan pengisinya dengan diameter rata rata 3,0 m. Bila hanya terdiri dari bahan
campura satu macam maka hanya akan diperoleh tingkat sub optimal.
2.4 Standar Desain UHPC sebagai Bahan Struktur

UHPC sampai saat ini belum digunakan secara umum sebagai bahan struktur.Tetapi,
diberbagai negara maju UHPC telah diterapkan sebagai material strukturuntuk berbagai
bangunan, terbanyak untuk struktur jembatan, walaupun untuk proyek ini masih dalam
tahapan penelitian, yang pembangunannya diawasi sangat ketat.
Untuk penggunaan UHPC ini, dapat dijumpai pada berbagai sumber yang telahditerbitkan,
menyangkut berbagai aspek UHPC, seperti AFGC dan Setra di Perancis, JSCE (2004) di
Jepang dan DafStb 561 (2007) di Jerman. Tentu saja salah satu sifat fisik yang terpenting
pada UHPC adalah kuat tekannya yang bisa mencapai sekuat baja sebesar 200-250 Mpa. Dari
berbagai penelitian , secara umum disepakati UHPC perlu ditambahkan serat baja mutu tinggi
sebesar 2 2,5 % Volume, agar diperoleh sifat keruntuhan yang daktail. Hubungan tegangan
regangan UHPC tersebut adalah hampir linear sampai mencapai tegangan maksimumnya,
dengan Young Modulus 55 Gpa. Dengan penambahan serat baja, maka hubungan tegangan
regangan akan mempunyai grafik menurun setelah UHPC mencapai kuat maksimum sebelum
dia runtuh, menandakan terjadinya deformasi sebelum keruntuhan.

Gambar 5 : Grafik hubungan regangan dan tegangan UHPC tanpa serat baja

Gambar 6 : Grafik hubungan regangan dan tegangan UHPC berserat baja

Beberapa sifat fisik lainnya adalah :


a) Kuat tarik terletak antara 12 Mpa sampai 17 Mpa
b) Kuat Tarik lentur antara 35 Mpa sampai 40 Mpa.
c) Selain mempunyai kekuatan tinggi, UHPC sebagai material tanpa pori-pori
kapiler akan memberikan kinerja yang jauh lebih baik daripada beton
konvensional. Tingginya packing densitymenyebabkan UHPC mengalami
proses karbonisasi yang minimal, daya tahan terhadap abrasi zat-zat kimia
berbahaya sangat baik, memberi perlindungan terhadap korosi tulangan di
dalam kontruksi juga lebih baik. Berbagai keunggulan tersebut diataslah yang
menyebabkan para peneliti lebih suka menggunakan istilah Ultra High
Performance daripada istilahUltra High Strength.
2.5 Tantangan Pengembangan UHPC di Indonesia
Seperti halnya di berbagai negara maju, UHPC masih terus diteliti agar pada saat nya
dapat digunakan secara umum untuk berbagai struktur. Berbagai penelitian dasar
seperti kuat lentur, kuat geser , daktilitas, confinement dll masih perlu dilanjutkan,
agar UHPC dapat segera dicantumkan dalam standard peraturan desain ( design code).
Sedangkan di Indonesia, pertama tama kita harus mengembangkan rencana campuran

yang menggunakan bahan-bahan lokal yang ada. Beberapa hal yang perlu dilakukan
adalah antara lain tersedianya semen yang kandungan C3A nya rendah, industri yang
dapat menghasilkan tepung Quarz, peralatan untuk mengukur gradasi partikel
berukuran nano meter. Dengan tersedianya rencana campuran UHPC berbahan lokal,
maka pembuatan benda uji untuk penelitian selanjutnya dapat dibuat oleh masingmasing peneliti.
Sumber :

http://wiryanto.files.wordpress.com/2009/08/6-harianto-hardjasaputra-mak.pdf
http://www.untarconstruction.com/artikel%20perancangan%20konstruksi/beton
%20mutu%20tinggi.html
http://download.contecaps.com/uploads/tx_mpdownloadcenter/pp_fp_2005_003_eng_01.pdf
http://www.takenaka.co.jp/takenaka_e/news_e/pr0507/m0507_01.html
http://pustaka-ts.blogspot.com/2010/08/beton-uhpc-ultra-high-performance.html