Anda di halaman 1dari 137

400/2009

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA
2009

KEPUTUSAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 03/K/I-XIII.2/03/2009
TENTANG
PETUNJUK PELAKSANAAN SISTEM PEMEROLEHAN KEYAKINAN MUTU
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang

: a. bahwa untuk memberikan pedoman/acuan dalam rangka


memperoleh keyakinan yang memadai bahwa sistem
pengendalian mutu telah diatur BPK secara memadai dan
diselenggarakan secara tertib, efektif, dan sesuai dengan
dengan ketentuan, perlu menyusun suatu petunjuk
pelaksanaan;
b. bahwa untuk maksud tersebut pada huruf a perlu
menetapkan Petunjuk Pelaksanaan Sistem Pemerolehan
Keyakinan Mutu;

Mengingat

1. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang


Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4400);
2. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan
Pemeriksa Keuangan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2006 Nomor 85, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 4654);
3. Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 1 Tahun
2007 tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor
42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 4707);
4. Surat Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor
31/SK/I-VIII.3/8/2006 tanggal 31 Agustus 2006 tentang
Tata Cara Pembentukan Peraturan, Keputusan, dan
Naskah Dinas Pada Badan Pemeriksa Keuangan Republik
Indonesia;

5. Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 39/K/IVIII.3/7/2007 tanggal 13 Juli 2007 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Pelaksana Badan Pemeriksa Keuangan
Republik Indonesia;
6. Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 1/K/IXIII.2/2/2008 tanggal 19 Februari 2008 tentang Panduan
Manajemen Pemeriksaan;
7. Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 9/K/IXIII.2/7/2008 tanggal 31 Juli 2008 tentang Petunjuk
Pelaksanaan
Tata
Cara
Penyusunan
Atau
Penyempurnaan Pedoman Pemeriksaan dan Non
Pemeriksaan;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan

KEPUTUSAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN TENTANG


PETUNJUK PELAKSANAAN SISTEM PEMEROLEHAN
KEYAKINAN MUTU.
Pasal 1

Petunjuk Pelaksanaan Sistem Pemerolehan Keyakinan Mutu dimaksudkan sebagai


pedoman bagi para pelaksana BPK dalam melaksanakan sistem pemerolehan
pengendalian mutu atas hasil pemeriksaan BPK.
Pasal 2
Petunjuk Pelaksanaan Sistem Pemerolehan Keyakinan Mutu adalah sebagaimana
tercantum dalam Lampiran sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan
ini.
Pasal 3
Petunjuk Pelaksanaan Sistem Pemerolehan Keyakinan Mutu disusun dengan
sistematika sebagai berikut:
BAGIAN I
BAB I
BAB II

:
:

PENDAHULUAN
KERANGKA SISTEM PEMEROLEHAN KEYAKINAN MUTU
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

BAGIAN II
BAB III
BAB IV
BAB V
BAB VI

:
:
:
:

INDEPENDENSI DAN MANDAT


KEPEMIMPINAN DAN TATA KELOLA INTERN
MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
STANDAR DAN METEDOLOGI PEMERIKSAAN

BAB VII
BAB VIII
BAB IX
BAB X
BAB XI

:
:
:
:
:

DUKUNGAN KELEMBAGAAN
HUBUNGAN BPK DENGAN PEMANGKU KEPENTINGAN
PENYEMPURNAAN BERKELANJUTAN
HASIL
KINERJA PEMERIKSAAN

BAGIAN III
BAB XII

SISTEM PEMEROLEHAN KEYAKINAN MUTU BPK

Pasal 4
Petunjuk Pelaksanaan Sistem Pemerolehan Keyakinan Mutu, merupakan perangkat
lunak pelengkap dari Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) dan Panduan
Manajemen Pemeriksaan (PMP) yang wajib menjadi pedoman bagi pelaksana BPK
dalam memperoleh keyakinan mutu atas pemeriksaan BPK.

Pasal 5
Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di : J a k a r t a
Pada tanggal : 25 Maret 2009
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
KETUA,

Anwar Nasution
Tembusan Keputusan ini disampaikan kepada :
1. Para Anggota;
2. Para Pejabat Eselon I sampai dengan IV;

Lampiran : Keputusan BPK-RI


Nomor
: 3/K/I-XIII.2/03/2009
Tanggal : 25 Maret 2009

PETUNJUK PELAKSANAAN
SISTEM PEMEROLEHAN KEYAKINAN MUTU

Juklak SPKM

Daftar Isi

DAFTAR ISI
Hal
Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Nomor 13/K/IXIII.2/03/2009 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Sistem Pemerolehan Keyakinan Mutu
BAGIAN I
BAB I

PENDAHULUAN ..
A. Latar Belakang . .......
B. Tujuan Juklak SPKM ..... .........................
C. Lingkup Juklak SPKM .............................
D. Kedudukan Juklak SPKM Dalam Pedoman BPK ........................................
E. Referensi ......................................................................................................
F. Sistematika SPKM ...........................

1
1
2
2
2
3
4

KERANGKA SISTEM PEMEROLEHAN KEYAKINAN MUTU


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN ............................................................
A. Sistem Pemerolehan Keyakinan Mutu .............
B. Kerangka SPM .................................................
C. Kerangka SPKM ..............................................
D. Hubungan SPM dan Jenis Reviu ......................

5
5
6
8
8

INDEPENDENSI DAN MANDAT ...


A. Kondisi yang Diinginkan .........................
B. Lingkup ........................................................
C. Independensi ................................................
D. Mandat .........................................................

10
10
10
11
11

BAB IV

KEPEMIMPINAN DAN TATA KELOLA INTERN ............


A. Kondisi yang Diinginkan .........................
B. Lingkup ........................................................
C. Kepemimpinan dan Arahan .............................
D. Perencanaan Strategis dan Operasional ...........
E. Pengawasan dan Pertanggungjawaban .................
F. Kode Etik .................................................
G. Pengendalian Intern ..................................
H. Pemerolehan Keyakinan Mutu .........................................

13
13
13
14
15
17
18
18
19

BAB V

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA ................................................


A. Kondisi yang Diinginkan .........................
B. Lingkup ........................................................
C. Rekrutmen dan Penempatan ................................
D. Retensi .........................................................
E. Pelatihan dan Pembangunan Kapasitas ...........................
F. Penilaian dan Manajemen Kinerja ...................................
G. Kesejahteraan ...............................................
H. Pengembangan Karier ..................................

20
20
20
21
22
22
24
25
26

BAB VI

STANDAR DAN METODOLOGI PEMERIKSAAN ....................................


A. Kondisi yang Diinginkan .........................
B. Lingkup ........................................................
C. Standar Pemeriksaan ....................................
D. Metodologi Pemeriksaan ............ ....................

27
27
27
28
29

BAB II

BAGIAN II
BAB III

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Daftar Isi

BAB VII

DUKUNGAN KELEMBAGAAN .....................................................


A. Kondisi yang Diinginkan .................................
B. Lingkup ........................................................
C. Keuangan .....................................................
D. Infrastruktur .................................................
E. Teknologi .....................................................
F. Jasa Pendukung ...........................................

30
30
30
31
31
32
33

BAB VIII

HUBUNGAN BPK DENGAN PEMANGKU KEPENTINGAN ...................


A. Kondisi yang Diinginkan .................................
B. Lingkup ........................................................
C. Hubungan dengan Entitas yang Diperiksa ..........................
D. Hubungan dengan Lembaga Perwakilan .............................
E. Hubungan dengan Publik dan Media ...................................
F. Hubungan dengan BPK Negara Lain dan Asosiasinya ........
G. Hubungan dengan Organisasi Internasional dan Pemberi Bantuan .............
H. Hubungan BPK dengan Kantor Akuntan pubik dan Asosiasi Profesional ..
I. Hubungan BPK dengan Lembaga Pendidikan .....................

34
34
34
36
36
37
38
38
38
39

BAB IX

PENYEMPURNAAN BERKELANJUTAN ....................................................


A. Kondisi yang Diinginkan .................................
B. Lingkup ........................................................
C. Penelitian dan Pengembangan .........................
D. Pengembangan Organisasi ...............................
E. Manajemen Perubahan .....................................

40
40
40
41
41
42

BAB X

HASIL .................................................................................................................
A. Kondisi yang Diinginkan .................................
B. Lingkup ........................................................
C. Produk dan Hasil Kerja ................................
D. Dampak ........................................................

43
43
43
44
44

BAB XI

KINERJA PEMERIKSAAN ............................


A. Kondisi yang Diinginkan .................................
B. Lingkup ........................................................
C. Perencanaan Pemeriksaan ............................
D. Pelaksanaan Pemeriksaan ............................
E. Supervisi dan Reviu .....................................
F. Pelaporan Hasil Pemeriksaan .......................
G. Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan ...........
H. Evaluasi Pemeriksaan ..................................

46
46
46
47
49
51
52
54
55

SISTEM PEMEROLEHAN KEYAKINAN MUTU BPK .............................


A. Sistem Pemerolehan Keyakinan Mutu BPK ................................
B. Perencanaan Penilaian SPM ........................
C. Pelaksanaan Penilaian SPM .........................
D. Pelaporan Penilaian SPM .............................
E. Tindak Lanjut Hasil Penilaian SPM .............................
F. Pemantauan Tindak Lanjut ..........................
G. Pengevaluasian Tim Penilaian SPM ........................

56
56
57
59
61
61
62
62

BAGIAN III
BAB XII

LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR ISTILAH
Badan Pemeriksa Keuangan

ii

Juklak SPKM

Bagian I

BAGIAN I

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Bab I Pendahuluan

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
01 Sesuai dengan mandat Pasal 23 E, F, G UUD 1945 dan ketentuan
perundang-undangan, BPK memeriksa pengelolaan dan tanggung
jawab keuangan negara. Hasil pemeriksaan diserahkan BPK kepada
lembaga perwakilan sesuai dengan kewenangannya dan disampaikan
pula kepada pemerintah untuk ditindaklanjuti.

Mandat BPK
dalam pemeriksaan
keuangan negara

02 Untuk menjamin mutu pemeriksaan keuangan negara tersebut, BPK


menetapkan dan melaksanakan sistem pengendalian mutu (SPM)
atau quality control system. SPM merupakan unsur penting dalam
pemerolehan keyakinan yang memadai (reliable assurance) bahwa
pemeriksaan telah mematuhi ketentuan perundang-undangan serta
standar pemeriksaan dan pedoman pemeriksaan yang ditetapkan
BPK. Pedoman pemeriksaan tersebut meliputi kode etik, manajemen
pemeriksaan, serta petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis
(juknis) pemeriksaan.

SPM

03 Untuk memperoleh keyakinan yang memadai bahwa SPM tersebut


telah mengatur seluruh unsur pengendalian mutu yang diperlukan
dan telah dilaksanakan secara konsisten, BPK menetapkan dan
menyelenggarakan sistem pemerolehan keyakinan mutu (SPKM)
atau quality assurance system.

SPKM

04 SPKM perlu ditetapkan dan diselenggarakan oleh BPK untuk


memperoleh keyakinan yang memadai bagi BPK dan pimpinan
satuan kerja (satker) pelaksana BPK serta pemangku kepentingan
(stakeholders) BPK bahwa pemeriksaan dan hasil kerja BPK lainnya
memenuhi mutu yang memadai sesuai tujuan SPM yang telah
disebutkan di atas.

Manfaat
SPKM

05 Selain manfaat di atas serta untuk memenuhi ketentuan perundangundangan dan standar pemeriksaan, SPM yang telah ditetapkan dan
diselenggarakan BPK perlu ditelaah oleh badan pemeriksa keuangan
negara lain yang menjadi anggota organisasi pemeriksa keuangan
sedunia yang kompeten 1. Penelaahan atau peer review tersebut
merupakan bagian dari SPKM BPK.

Peer review &


SPKM

Pasal 33 Undang-Undang (UU) Nomor 15 Tahun 2006 dan Paragraf 34 Pernyataan Standar Pemeriksaan Nomor 1 Standar Umum,
Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN).

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Bab I Pendahuluan

06 Berdasarkan pertimbangan perlunya SPM dan SPKM serta


pelaksanaan peer review oleh badan pemeriksa keuangan negara lain
seperti telah disebutkan di atas, petunjuk pelaksanaan (juklak) sistem
pemerolehan keyakinan mutu ini perlu disusun dan ditetapkan.

Perlunya
Juklak SPKM

B. Tujuan Juklak SPKM


07 Tujuan Juklak SPKM adalah memberikan panduan untuk
memperoleh keyakinan yang memadai bahwa SPM telah diatur BPK
secara memadai dan diselenggarakan secara efektif.

Tujuan
Juklak SPKM

C. Lingkup Juklak SPKM


08 Juklak SPKM ini mengatur mengenai:

Lingkup
Juklak SPKM

1. Unsur-unsur SPM beserta elemen-elemennya; dan


2. Sistem pemerolehan keyakinan yang memadai bahwa SPM
tersebut telah diatur secara memadai dan diselenggarakan secara
efektif.

D. Kedudukan Juklak SPKM dalam Pedoman BPK


09 Juklak SPKM merupakan bagian dari pedoman pemeriksaan BPK
yang sama tingkatnya dengan petunjuk pelaksanaan pemeriksaan
BPK lainnya seperti Juklak Pemeriksaan Keuangan dan Juklak
Pemeriksaan Kinerja. Juklak merupakan pedoman pemeriksaan di
bawah pedoman umum pemeriksaan. Pedoman umum pemeriksaan
BPK terdiri dari Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN),
Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP), dan Kode Etik BPK.
Apabila juklak BPK perlu dijelaskan lebih rinci dan/atau teknis,
maka BPK mengatur penjelasan dan/atau rincian tersebut dalam
suatu petunjuk teknis (juknis). Gambar 1.1 berikut menunjukkan
kedudukan Juklak SPKM di dalam Kerangka Pedoman Pemeriksaan
BPK.

Badan Pemeriksa Keuangan

Kedudukan
Juklak SPKM

Juklak SPKM

Bab I Pendahuluan

Gambar 1.1
Kerangka Pedoman Pemeriksaan BPK

E. Referensi
10 Penyusunan Juklak SPKM dilakukan dengan memperhatikan
referensi sebagai berikut.
1. Peraturan perundang-undangan terkait.
2. Standar Pemeriksaan Keuangan Negara, BPK, 2007.
3. Kode Etik Badan Pemeriksa Keuangan, BPK, 2007.
4. Panduan Manajemen Pemeriksaan, BPK, 2008.
5. Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Keuangan, BPK, 2008
6. Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja, BPK, 2008.
7. Audit Quality Management System, Asian Organization of
Supreme Audit Institution (ASOASI), Oktober 2004.
8. International Standard on Quality Control, International
Federation of Accountants, Juni 2006.
9. Konsep Quality Assurance Handbook in Financial Auditing,
ASOSAI INTOSAI IDI.

Badan Pemeriksa Keuangan

Referensi

Juklak SPKM

Bab I Pendahuluan

F. Sistematika SPKM
10 Juklak SPKM ini meliputi tiga bagian dan dua belas bab. Juklak
SPKM diuraikan dalam tiga bagian yang terdiri dari bagian
pendahuluan serta konsep dasar dan kerangka kerja SPM, bagian
penjelasan elemen SPM, dan bagian penjelasan SPKM.

3 bagian dan
12 bab

11 Bagian I merupakan bagian yang menjelaskan pengantar dan konsep


SPM dan SPKM. Bagian I terdiri dari dua bab, yaitu pendahuluan
serta kerangka SPKM BPK. Uraian singkat bab tersebut sebagai
berikut.

Bagian I

1. Bab I Pendahuluan;
2. Bab II Kerangka Sistem Pemerolehan Keyakinan Mutu BPK.
12 Bagian II merupakan bagian yang menjelaskan SPM dan unsurunsurnya. Bagian II terdiri atas sembilan bab sebagai berikut:
1. Bab III Independensi dan Mandat.
2. Bab IV Kepemimpinan dan Tata Kelola Intern.
3. Bab V Manajemen Sumber Daya Manusia.
4. Bab VI Standar dan Metodologi Pemeriksaan.
5. Bab VII Dukungan Kelembagaan.
6. Bab VIII Hubungan BPK dengan Pemangku Kepentingan.
7. Bab IX Penyempurnaan Berkelanjutan.
8. Bab X Hasil.
9. Bab XI Kinerja Pemeriksaan.
13 Bagian III merupakan bagian yang menjelaskan SPKM, yaitu sistem
untuk menilai pengaturan dan penyelenggaraan SPM tersebut.
Bagian III terdiri dari satu bab, yaitu Bab XII Sistem Pemerolehan
Keyakinan Mutu (SPKM) BPK.

Badan Pemeriksa Keuangan

Bagian II

Bagian III

Juklak SPKM

Bab II Konsep Dasar SKM

BAB II
KERANGKA SISTEM PEMEROLEHAN KEYAKINAN MUTU
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
A. Sistem Pemerolehan Keyakinan Mutu (SPKM)
01 Dalam rangka memperoleh keyakinan yang memadai bahwa
pemeriksaan dan hasil kerja BPK memenuhi mutu, BPK mengatur
dan menyelenggarakan suatu sistem pemerolehan keyakinan mutu
(SPKM).

Keyakinan
mutu

02 SPKM merupakan sistem yang ditetapkan untuk memberikan


keyakinan yang memadai bahwa suatu badan pemeriksa telah
mengatur SPM secara memadai dan menyelenggarakannya secara
efektif. Dengan demikian, SPKM dan SPM merupakan dua hal
yang berbeda, tetapi memiliki hubungan atau keterkaitan di antara
keduanya. SPKM dan SPM merupakan unsur penting bagi badan
pemeriksa untuk memperoleh keyajinan yang memadai bahwa
pemeriksaan telah dilakukan sesuai dengan ketentuan perundangundangan dan standar yang ditetapkan.

SPKM &
SPM

03 SPM merupakan suatu sistem yang dirancang untuk memperoleh


keyakinan yang memadai bahwa BPK dan pelaksananya mematuhi
ketentuan peraturan perundang-undangan, standar pemeriksaan,
serta laporan yang dihasilkan sesuai dengan kondisi yang
ditemukan.

Pengertian
SPM

04 Sesuai dengan uraian mengenai SPKM dan SPM di atas, hubungan


antara keduanya dapat dilihat dari tujuan suatu SPKM, yaitu untuk
mengetahui apakah SPM BPK :

Tujuan SPKM

1) telah meliputi semua pengendalian yang diperlukan;


2) telah diterapkan secara tepat;
3) da pat memberikan keyakinan atas kualitas pemeriksaan

sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan


dan standar pemeriksaan; dan
4) dapat mengidentifikasi berbagai cara yang potensial
untuk memperkuat dan menyempurnakan SPM.

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Bab II Konsep Dasar SKM

B. Kerangka SPM
05 Untuk memenuhi tujuan dari SPKM dan SPM di atas, BPK
mengembangkan unsur-unsur terkait dengan pengendalian mutu
BPK. Unsur-unsur pengendalian mutu BPK tidak hanya unsur
pemeriksaan, tetapi juga meliputi unsur lain yang mempengaruhi
mutu pemeriksaan dan hasil kerja BPK. Berdasarkan standar dan
praktik yang lazim 1 terkait pengendalian mutu BPK, SPM BPK
meliputi unsur-unsur sebagai berikut:

Unsur SPM

1) Independensi dan Mandat (independence and mandate);


2) Kepemimpinan dan Tata Kelola Intern (leadership and internal
governance);
3) Manajemen Sumber Daya Manusia (human resource
management);
4) Standar dan Metodologi Pemeriksaan (auditing standard and
methodology);
5) Dukungan Kelembagaan (institution support);
6) Hubungan BPK dengan Pemangku Kepentingan (stakeholder
relation);
7) Penyempurnaan Berkelanjutan (continuous improvement);
8) Hasil (result); dan
9) Kinerja Pemeriksaan (audit performance).
06 Kesembilan unsur SPM BPK di atas dapat dikelompokkan menjadi
dua kelompok, yaitu unsur SPM tingkat kelembagaan (institutional
level) dan unsur SPM tingkat penugasan pemeriksaan (audit
engagement level). Unsur SPM tingkat kelembagaan meliputi unsur
SPM dari nomor 1) sampai dengan nomor 8) di atas. Unsur SPM
nomor 9) di atas merupakan unsur SPM tingkat penugasan
pemeriksaan. Seperti dijelaskan di atas, mutu pemeriksaan dan hasil
kerja BPK tidak hanya ditentukan oleh pemeriksaan, tetapi mutu
tersebut ditentukan oleh unsur SPM tingkat kelembagaan.

Unsur SPM
tingkat kelembagaan
& tingkat penugasan
pemeriksaan

07 Kerangka SPM BPK di atas digambarkan sebagai suatu tiang


penegak bangunan. Unsur-unsur SPM di atas terintegrasi dan terkait
dengan nilai inti (core value) BPK yang merupakan suatu
fondasi/dasar, serta visi dan misi BPK yang harus dicapai dan/atau
dilaksanakan. Hubungan antara SPM, nilai inti serta visi dan misi
dapat dilihat dalam Gambar 2.1 berikut.

Kerangka
SPM

Standar dan praktik yang lazim meliputi referensi yang digunakan untuk penyusunan juklak ini dan praktik
reviu suatu lembaga pemeriksa.
Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Bab II Konsep Dasar SKM

08 Fondasi atau dasar dari sembilan pilar unsur SPM adalah nilai inti
badan pemeriksa
seperti
integritas,
independensi, dan
profesionalitas. Ketiga nilai inti tersebut mendasari pembangunan
unsur-unsur SPM.

Nilai Inti

09 Atap dari sembilan pilar unsur SPM adalah visi dan misi badan
pemeriksa yang terdapat pada rencana strategisnya. Visi dan misi
tersebut menggambarkan capaian yang diinginkan badan pemeriksa
serta mandat yang dimiliki oleh badan pemeriksa yang diatur dalam
konstitusi dan/atau ketentuan perundang-undangan.

Visi & Misi

10 SPM merupakan tiang penegak dalam perolehan keyakinan yang


memadai bahwa pemeriksaan yang dilakukan berdasarkan nilai inti
dan dalam rangka mencapai visi dan misi tersebut telah dilakukan
sesuai dengan ketentuan perundang-undangan dan standar
pemeriksaan yang ditetapkan. Seperti telah disebutkan di atas, SPM
terdiri dari sembilan komponen SPM, yaitu independensi dan
mandat, kepemimpinan dan tata kelola intern, manajemen sumber
daya manusia, standar dan metodologi pemeriksaan, dukungan
kelembagaan, hubungan BPK dengan pemangku kepentingan,
penyempurnaan berkelanjutan, hasil, dan kinerja pemeriksaan.

SPM:
tiang penegak

11 Bagian II Juklak SPKM ini menjelasan secara rinci masing-masing


komponen SPM tersebut dalam setiap bab.

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Bab II Konsep Dasar SKM

C. Kerangka SPKM
12 Setelah SPM di atas diatur dan ditetapkan, BPK perlu menetapkan
suatu SPKM yang berisi berbagai prosedur untuk mereviu desain
SPM tersebut dan penyelenggaraannya. SPKM dilakukan untuk
memberikan keyakinan secara memadai bahwa tujuan SPKM yang
disebutkan dalam paragraf 04 dapat dicapai.

SKM dan
tujuannnya

13 Di dalam SPKM, reviu SPM dapat dilakukan oleh pelaksana BPK


terkait dengan pihak lain. Reviu oleh pelaksana BPK terkait
dilakukan oleh satker yang memiliki tugas dan fungsi melakukan
pengawasan intern dan/atau oleh pemeriksa lain yang tidak
ditugaskan pada objek pemeriksaan yang direviu dan/atau oleh
pimpinan satker pelaksana BPK di bidang pemeriksaan. Reviu SPM
oleh pihak lain dilakukan oleh pihak independen atau badan
pemeriksa negara lain anggota organisasi badan pemeriksa sedunia.
Reviu SPM oleh pemeriksa lain atau badan pemeriksa anggota
organisasi badan pemeriksa sedunia disebut sebagai reviu sejawat
(peer review).

Pereviu
SPM

14 Reviu terhadap SPM dapat dilakukan berdasarkan waktu dan pelaku


reviu sebagai berikut.

Jenis
Reviu
SPM

1) Berdasarkan waktu, reviu SPM meliputi:


(a) reviu yang dilakukan pada waktu pemeriksaan atau hot
review; dan
(b) reviu yang dilakukan setelah pemeriksaan atau pada waktu
yang tidak terkait dengan kegiatan pemeriksaan atau cold
review.
2) Berdasarkan pelaku, reviu SPM meliputi:
(a) reviu yang dilakukan oleh pereviu dari intern tim atau
badan pemeriksa;
(b) reviu yang dilakukan oleh pemeriksa lain yang tidak
memeriksa objek yang direviu atau cross review; dan
(c) reviu yang dilakukan oleh badan pemeriksa lain atau peer
review.

D. Hubungan SPM & Jenis Reviu


13 Seperti yang telah diuraikan di atas, hubungan unsur-unsur SPM
dan jenis reviu yang dilakukan dapat dilihat sebagai berikut.

Badan Pemeriksa Keuangan

SPM &
jenis reviu

Juklak SPKM

Bab II Konsep Dasar SKM

1). Unsur SPM pertama s.d. kedelapan direviu pada waktu yang
tidak terkait dengan pemeriksaan (cold review) oleh pengawas
intern dan/atau pemeriksa ekstern (peer review).
2). Unsur SPM kesembilan, yaitu kinerja pemeriksaan, direviu
pada saat pemeriksaan secara intern tim (hot review) dan pada
saat setelah pemeriksaan oleh pemeriksa lain dalam satu badan
pemeriksa atau oleh pengawas intern (cold and cross review)
dan/atau oleh pemeriksa ekstern (peer review).
No.

UNSUR SPM

JENIS REVIU

Independensi & Mandat

Kepemimpinan & Tata Kelola Intern

Manajemen SDM

Standar dan Metodologi Pemeriksaan

Dukungan Kelembagaan

Hubungan BPK dengan pemangku kepentingan

Penyempurnaan berkelanjutan

Kinerja pemeriksaan

Cold Review
Peer Review
Cold Review
Peer Review
Cold Review
Peer Review
Cold Review
Peer Review
Cold Review
Peer Review
Cold Review
Peer Review
Cold Review
Peer Review
Hot Review
Cross Review
Cold Review
Peer Review

Badan Pemeriksa Keuangan

PEREVIU
Pengawas intern
Pemeriksa ekstern
Pengawas intern
Pemeriksa ekstern
Pengawas intern
Pemeriksa ekstern
Pengawas intern
Pemeriksa ekstern
Pengawas intern
Pemeriksa ekstern
Pengawas intern
Pemeriksa ekstern
Pengawas intern
Pemeriksa ekstern
Intern Tim
Pemeriksa lain intern badan pemeriksa
Pengawas intern
Pemeriksa ekstern

Juklak SPKM

Bagian II

BAGIAN II

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Bab III Independensi & Mandat

BAB III
INDEPENDENSI & MANDAT
A. Kondisi yang Diinginkan
01 Independensi dan mandat BPK seharusnya komprehensif sesuai dengan
Deklarasi Lima organisasi BPK sedunia atau International
Organization of Supreme Audit Institution (INTOSAI) atas prinsipprinsip pemeriksaan.

Independensi &
mandat sesuai
Deklarasi Lima

B. Lingkup
02 Unsur pertama SPM adalah independensi dan mandat. Unsur SPM ini
terkait dengan kedudukan, fungsi, dan mandat BPK yang independen.
Independensi yang dimaksud adalah independensi sesuai dengan
Deklarasi Lima organisasi BPK sedunia (INTOSAI).

Unsur pertama
SPM

03 Independensi dan mandat tersebut diatur dalam konstitusi, undangundang, dan peraturan perundang-undangan lain yang terkait BPK.
Selain itu, lingkup SPM Independensi dan Mandat termasuk keyakinan
atas ketiadaan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
mengganggu independensi dan mandat BPK.

Independensi &
Mandat dalam
peraturan

04 Komponen dari unsur SPM Independensi dan Mandat meliputi:


1). Independensi; dan
2). Mandat

Komponen

05 Komponen unsur SPM tersebut dapat dilihat dalam Gambar 3.1 sebagai
berikut.

Badan Pemeriksa Keuangan

10

Juklak SPKM

Bab III Independensi & Mandat

C. Independensi
06 Sesuai dengan prinsip-prinsip pemeriksaan terkait independensi, badan
pemeriksa harus independen sesuai dengan Deklarasi Lima INTOSAI.
BPK harus merupakan suatu lembaga negara yang independen dalam
organisasi dan pelaksanaan tugas pemeriksaan. Independensi BPK
tersebut dijamin konsititusi atau UUD yang diatur lebih lanjut dalam
ketentuan peraturan perundang-undangan.
07 Independensi BPK meliputi independensi anggota BPK, kelembagaan,
pelaksana BPK, dan keuangan atau anggaran.
08 Independensi anggota BPK terkait dengan pengangkatan, pemberhentian,
dan perlindungan hukum. Pengangkatan dan pemberhentian anggota
BPK dilakukan secara independen, bebas dari intervensi Pemerintah atau
pejabat entitas yang diperiksa, untuk periode waktu tertentu, dan dengan
mekanisme yang jelas. Untuk memberikan independensi, anggota BPK
memiliki perlindungan hukum terhadap pelaksanaan tugasnya. Hal ini
diatur di dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.
09 Independensi BPK secara kelembagaan meliputi kebebasan menentukan
struktur organisasi dan fungsi BPK tanpa intervensi dari Pemerintah atau
entitas yang diperiksa.
10 Independensi pelaksana BPK terkait dengan penempatan, penugasan,
karier pelaksana BPK. Hal tersebut tidak tergantung pada Pemerintah
atau pejabat entitas yang diperiksa.
11 Di dalam pelaksanaan tugas pemeriksaan, pelaksana BPK yang
ditugaskan harus independen. BPK harus mengatur independensi
dimaksud di dalam standar dan pedoman pelaksana lainnya.
12 Independensi BPK secara keuangan atau anggaran meliputi
penganggaran BPK (pengajuan, pembahasan, dan persetujuan anggaran
BPK) dilakukan BPK dengan parlemen dan tidak dengan Pemerintah dhi
Menteri Keuangan, serta pengalokasian dan penggunaan anggaran untuk
pelaksanaan tugas BPK.

Independensi diatur
dalam konsitusi dan
UU

Independensi
BPK

Independensi
anggota BPK

Independensi
kelembagaan

Independensi
pelaksana BPK

Independensi
pelaksanaan tugas

Independensi
keuangan atau
anggaran

D. Mandat
13 Mandat BPK harus secara jelas dan eksplisit diungkapkan dalam
konstitusi dan peraturan perundang-undangan. Konsititusi dan peraturan
perundang-undangan tersebut mengatur kewenangan, tugas dan fungsi,
serta tanggung jawab BPK terkait dengan akses informasi, penentuan
entitas yang diperiksa, dan sifat-lingkup-waktu pemeriksaan.
Badan Pemeriksa Keuangan

Mandat dalam
konstitusi dan UU

11

Juklak SPKM

Bab III Independensi & Mandat

14 Konsitusi dan/atau peraturan perundang-undangan juga mengatur


penyampaian hasil pemeriksaan BPK kepada parlemen dan parlemen
memiliki tanggung jawab untuk menilai kinerja pencapaian mandat yang
ditetapkan dalam konstitusi dan peraturan perundang-undangan.
Parlemen dapat menggunakan pihak independen untuk menilai hal
tersebut.
15 Konstitusi dan/atau peraturan perundang-undangan mengatur
kewenangan BPK untuk memeriksa seluruh keuangan negara. BPK dapat
memeriksa aspek keuangan negara pada seluruh entitas yang mengelola
keuangan negara tersebut.
16 Konsititusi dan/atau peraturan perundang-undangan menjamin adanya
kebebasan akses terhadap informasi terkait dengan pelaksanaan mandat.
17 Konstitusi dan/atau peraturan perundang-undangan mengatur jenis
pemeriksaan yang dilakukan BPK dan entitas yang diperiksa yang terkait
dengan keuangan negara.
18 Apabila mandat BPK tidak dapat dilaksanakan karena suatu ketentuan
peraturan perundang-undangan, BPK harus melakukan berbagai upaya
untuk mengembalikan mandat tersebut seperti dengan mengajukan
judicial review, sengketa kewenangan lembaga negara (state organs
dispute), memberikan masukan kepada penyusun undang-undang untuk
mengubah atau menyesuaikan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang tidak sesuai dengan mandat BPK (legislative review).
19 Sehubungan dengan paragraf 18 di atas, BPK melakukan identifikasi
dan/atau analisis terhadap ketentuan perundang-undangan yang
mengganggu pelaksanaan mandat BPK.

Badan Pemeriksa Keuangan

Penyampaian laporan
dan penilaian kinerja
BPK

Kewenangan atas
seluruh aspek
keuangan negara

Kebebasan akses

Jenis dan entitas


yang diperiksa

Disharmonisasi
peraturan perundangundangan (legal
conflicts)

Identifikasi/
analisis

12

Juklak SPKM

Bab IV Kepemimpinan & Tata Kelola Intern

BAB IV
KEPEMIMPINAN DAN TATA KELOLA INTERN
A. Kondisi yang Diinginkan
01 BPK seharusnya memiliki keyakinan bahwa pengambilan keputusan
kelembagaan dan mekanisme pengendalian berfungsi secara hemat,
efisien, dan efektif sehingga BPK dapat menjadi model bagi organisasi
dalam perwujudan tata kelola yang baik (good governance).

BPK menjadi model


organisasi yang good
governance

B. Lingkup
02 Unsur kedua SPM adalah kepemimpinan dan tata kelola intern.
Kepemimpinan dan tata kelola intern merupakan unsur penting dalam
organisasi lembaga pemeriksa. Hal ini disebabkan unsur SPM ini
menentukan keberhasilan organisasi lembaga pemeriksa dalam
mewujudkan tata kelola yang baik (good governance).
03 Peran penting BPK dalam perbaikan kualitas pemeriksaan secara terusmenerus sangat dominan. Badan perlu memiliki keyakinan bahwa
pengendalian mutu telah memadai dalam rangka pencapaian visi, misi,
dan tujuan strategis sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan
standar pemeriksaan.
04 Komponen dari unsur SPM kepemimpinan dan pengelolaan intern
meliputi:

Unsur kedua SPM

Kepemimpinan
Badan

Komponen

1) Kepemimpinan dan Arahan (leadership and direction)


2) Perencanaan Strategis dan Operasional (strategic & operational
planning)
3) Pengawasan dan Pertanggungjawaban (oversight and accountability)
4) Kode Etik (code of conduct)
5) Pengendalian Intern (internal control)
6) Pemerolehan Keyakinan Mutu (quality assurance)
05 Komponen unsur SPM kepemimpinan tersebut dapat dilihat dalam
Gambar 4.1 sebagai berikut.

Badan Pemeriksa Keuangan

13

Juklak SPKM

Bab IV Kepemimpinan & Tata Kelola Intern

C. Kepemimpinan & Arahan


06 Badan harus menetapkan arah organisasi BPK. Hal tersebut menentukan
suatu indikator pencapaian hasil kerja dan pencapaian standar profesional
tertinggi. Arahan tersebut dapat berupa keputusan-keputusan BPK dan
sidang atau rapat yang menekankan capaian yang harus dipenuhi oleh
pelaksana BPK di bidang pemeriksaan serta penunjang dan pendukung.
07 Badan menetapkan kebijakan dan pedoman yang mendukung budaya
intern organisasi yang mengutamakan kualitas pelaksanaan pekerjaan.
Kebijakan dan pedoman tersebut menuntut seluruh pimpinan satker
pelaksana BPK untuk bertanggung jawab atas sistem pengendalian mutu
organisasi. Kepemimpinan BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK
yang konsisten sangat berpengaruh terhadap budaya intern organisasi
tersebut. Hal ini penting agar kepemimpinan BPK dan pimpinan satker
dapat memberikan keyakinan yang memadai bahwa kinerja BPK sesuai
dengan peraturan perundang-undangan dan mencapai standar
pemeriksaan.
08 Kebijakan dan pedoman tersebut meliputi pemberian penghargaan atas
pencapaian pekerjaan yang berkualitas, pemberian keterangan di dalam
berbagai hasil reviu pekerjaan atau nota dinas atau risalah rapat atau
bahan pelatihan dan seminar, atau pernyataan tertulis dalam dokumen
seperti rencana strategis atau ungkapan misi. Selain itu, penugasan atau
arahan atau hasil reviu tidak ada yang mengindikasikan pengorbanan
kualitas karena alasan keuangan, waktu, dan alasan lainnya.

Badan Pemeriksa Keuangan

Arah
organisasi

Budaya organisasi
atas kualitas

Bentuk budaya atas


kualitas

14

Juklak SPKM

Bab IV Kepemimpinan & Tata Kelola Intern

09 Kebijakan dan pedoman yang mengutamakan mutu dapat dilihat juga


dari berbagai kebijakan, pengaturan, dan prosedur terkait dengan
evaluasi kinerja, kompensasi, promosi dikaitkan dengan kualitas
pekerjaan. Hal ini dapat dilihat komitmen BPK dan pimpinan satker
pelaksana BPK atas alokasi anggaran dan realisasi serta penggunaan
sumber daya organisasi lembaga pemeriksaan untuk peningkatan
kualitas.

Kebijakan atas
kualitas

D. Perencanaan Strategis dan Operasional


10 BPK menetapkan rencana strategis yang merupakan capaian jangka
panjang yang diinginkan. Rencana strategis tersebut memiliki tiga
komponen, yaitu visi, misi, dan nilai inti. Visi, misi, dan nilai inti
merupakan hal mendasar bagi BPK selaku organisasi pemeriksa
keuangan negara dalam menetapkan rencana strategis (strategic
planning).
11 BPK menetapkan visi sebagai bentuk arahan dan target jangka panjang
yang ingin dicapai. Penetapan visi merupakan langkah awal dari
penyusunan rencana strategis. Di dalam penyusunan rencana strategis
tersebut, BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK harus memiliki
kejelasan visi BPK dalam periode tertentu serta arah dan fokus organisasi
ke depan terkait dengan sumber daya-teknologi, hasil kerja-klien/entitas
yang diperiksa. Dalam hal tersebut, BPK dan pimpinan satker pelaksana
BPK mempertimbangkan lingkungan intern seperti kemampuan dan
kebutuhan operasional BPK dalam pelaksanaan mandat, tugas, fungsi,
serta ekstern organisasi. Dengan demikian, penetapan visi tersebut akan
dipantau dan disempurnakan dari waktu ke waktu.
12 Penetapan visi di atas meliputi penyeleksian area-area operasional yang
terkait, peletakan tahapan strategis BPK, dan perolehan komitmen untuk
pencapaian tahapan strategis BPK tersebut. Dalam penetapan visi
tersebut, BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK perlu melakukan tiga
hal sebagai berikut:
1) menetapkan misi BPK atas kegiatan utama BPK dengan
mempertimbangkan kejelasan posisi organisasi (who we are), mandat
dan tugas pokoknya (what we do), serta status atau posisi organisasi
saat ini (where we are now);
2) menggunakan pernyataan misi sebagai landasan arah dan target yang
ingin dicapai (where we are going); dan

Badan Pemeriksa Keuangan

Rencana
strategis

Visi

Penetapan visi

15

Juklak SPKM

Bab IV Kepemimpinan & Tata Kelola Intern

3) menjelaskan visi dengan cara yang jelas dan menarik sehingga BPK
dan pimpinan satker pelaksana BPK memperoleh komitmen dari
seluruh pelaksana BPK. Komunikasi ini penting untuk menumbuhkan
kepercayaan seluruh pelaksana BPK kepada kepemimpinan BPK
terkait arah organisasi BPK ke depan dan perubahan intern dan
ekstern yang terjadi ke depan.
13 Penetapan misi BPK harus memperhatikan tiga unsur berikut:
1) jenis pemangku kepentingan (stakeholders) atau pihak yang harus
dipenuhi kebutuhannya secara memuaskan;
2) kebutuhan para pemangku kepentingan atau hal yang harus dipenuhi
oleh BPK secara memuaskan; dan
3) kegiatan, teknologi dan kompetensi SDM BPK, atau cara untuk
memenuhi semua kebutuhan dan harapan pemangku kepentingan.
14 Selain penetapan visi dan misi, BPK perlu menetapkan nilai inti (core
values) yang merupakan karakteristik organisasi dan SDM BPK. Nilai
inti yang perlu ditetapkan tersebut menggambarkan karakter dasar dan
menjadi kriteria atau pertimbangan penetapan visi dan misi organisasi.
Sebagai lembaga di bidang pemeriksaan seperti lembaga pemeriksaan
pada umumnya di berbagai negara, nilai inti yang dikembangkan dan
ditetapkan terkait dengan penjaminan kepentingan publik (public
interest) dan integritas, independensi, objektivitas, profesionalisme.
15 Selain visi, misi, dan nilai inti seperti disebutkan di atas, rencana
strategis tersebut mengungkapkan hal-hal sebagai berikut.
1) Tujuan strategis dan penanggungjawabnya;
2) Ukuran atau target dan waktu pencapaiannya;
3) Penjabaran pencapaian dan implementasinya;
4) Pengukuran kinerja pencapaian;
5) Pembentukan satker pelaksana yang memiliki tugas memantau
rencana strategis dan implementasinya;
6) Penggunaan tenaga ahli terkait; dan
7) Metodologi dan pedoman yang diperlukan;
16 Dengan mempertimbangkan rencana strategis, BPK menetapkan rencana
operasional sebagai bentuk penjabaran dari rencana strategis. Komitmen
penyediaan sumber daya dan kegiatan-kegiatan menjadi bagian dalam
rencana tersebut.
17 Salah satu bentuk komitmen adalah penetapan target atau indikator
sukses untuk satuan kerja pelaksana BPK dan individu yang bertanggung
jawab. Pejabat penanggung jawab pencapaian target memiliki
kewenangan untuk menyelesaikan permasalahan atau kesulitan yang
dihadapi.

Badan Pemeriksa Keuangan

Misi

Nilai inti

Substansi
rencana
strategis

Rencana
Operasional

Target/
indikator

16

Juklak SPKM

Bab IV Kepemimpinan & Tata Kelola Intern

18 BPK dan/atau pimpinan satuan kerja pelaksana BPK menetapkan dan


menyosialisasikan strategi organisasi serta menyusun laporan
perkembangan (progress report) secara periodik untuk memastikan
bahwa seluruh pegawai memahami dan terlibat serta memberikan
kontribusi. Dalam hal ini, strategi organisasi tersebut dijabarkan dalam
suatu sistem atau prosedur yang memungkinkan penyebaran secara luas
gagasan, informasi, dan praktik serta hasil terbaik di dalam
pelaksanaannya di lingkungan BPK.
19 BPK atau pimpinan satuan kerja pelaksana BPK menetapkan dan
mengatur tentang pengukuran kinerja atas satuan kerja pelaksana BPK
dan individu. Pimpinan satuan kerja pelaksana memantau dan
melaporkan secara periodik hasil pengukuran kinerja tersebut. Hasil
pengukuran kinerja tersebut harus dikaitkan dengan pemberian
penghargaan, sanksi/hukuman, dan/atau kesejahteraan pegawai. Di
dalam memantau dan menilai kinerja tersebut, BPK membentuk satuan
kerja pelaksana BPK tertentu dan/atau menetapkan suatu komite dengan
tanggung jawab dan tugas tersebut.

Strategi organisasi &


progress report

Pengukuran
kinerja

E. Pengawasan & Pertanggungjawaban


20

BPK menetapkan pedoman sistem pemerolehan keyakinan mutu (quality


assurance system) yang meliputi reviu intern atas desain dan
implementasi sistem pemerolehan keyakinan mutu (SPKM) tersebut
secara periodik oleh suatu satuan kerja pelaksana BPK atau oleh badan
pemeriksa negara lain anggota INTOSAI (peer review).

21

BPK melakukan sosialisasi pedoman SPKM tersebut kepada seluruh


pelaksana BPK, memantau dan mengevaluasi pelaksanaan, serta
menyempurnakan sesuai perkembangan dan kebutuhan.

Sosialisasi &
pementauan

22

BPK menetapkan satuan kerja pelaksana BPK yang berfungsi untuk


melakukan reviu intern SPM BPK. Satuan kerja pengawas intern tersebut
melaporkan hasil reviunya kepada BPK.

Satker
pereivu
intern

23

BPK menetapkan dan/atau melaksanakan ketentuan tentang peer review


oleh badan pemeriksa lain setingkat BPK anggota INTOSAI.

24

Selain penilaian kinerja BPK di atas, BPK harus memenuhi


pertanggungjawaban yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.
BPK menyusun laporan keuangan yang diperiksa oleh auditor
independen sebelum laporan keuangan dan hasil pemeriksaannya
disampaikan kepada DPR.

Badan Pemeriksa Keuangan

Pedoman
reviu
SPM

Peer review

Laporan
keuangan

17

Juklak SPKM

25

Bab IV Kepemimpinan & Tata Kelola Intern

Selain laporan keuangan, BPK menyampaikan laporan kinerja sesuai


dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Laporan
kinerja

F. Kode Etik
26 BPK menetapkan kode etik yang berisi aturan dalam rangka memperoleh
keyakinan atas integritas, kepercayaan, kerahasiaan, independensi,
kredibilitas, objektivitas, imparsial, netral, bebas dari konflik
kepentingan, kompetensi, dan profesionalisme.
27 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK menjelaskan atau
menyosialisasikan aturan kode etik tersebut kepada seluruh pelaksana
BPK.
28 BPK menetapkan kebijakan dan prosedur mengenai pemantauan dan
evaluasi kepatuhan terhadap kode etik yang ditetapkan BPK serta
pemrosesan pelanggaran kode etik tersebut oleh Majelis Kode Etik BPK.

Penetapan
kode etik

Penjelasan/sosialisasi
kode etik

Pemantauan
kepatuhan
kode etik

G. Pengendalian Intern
29 BPK menetapkan ketentuan mengenai sistem pengendalian intern yang
tepat untuk memperoleh keyakinan pencapaian tujuan organisasi.
30 BPK menyosialisasikan ketentuan mengenai sistem pengendalian intern
kepada seluruh pimpinan dan pegawai pelaksana BPK sehingga sistem
pengendalian intern tersebut dapat dipahami dan diimplementasikan di
dalam pelaksanaan tugas.
31 BPK mempertimbangkan kerangka pengendalian intern yang disusun
oleh Committee of Sponsoring Organization of the Treadway
Commission (COSO) yang telah diadopsi oleh INTOSAI Internal
Control Standard.
32 Setiap pimpinan satuan kerja pelaksana BPK bertanggung jawab untuk
memantau kepatuhan atas sistem pengendalian intern di lingkungannya.
33 BPK menetapkan suatu satuan kerja pelaksana BPK yang bertugas untuk
memantau kepatuhan sistem pengendalian intern pada seluruh satuan
kerja pelaksana BPK dan melaporkan hasilnya kepada BPK.

Badan Pemeriksa Keuangan

Penetapan ketentuan
pengendalian intern
Sosialisasi

Kesesuaian dengan
kerangka COSO

Tanggung jawab
pemantauan
Satuan kerja
pemantau

18

Juklak SPKM

Bab IV Kepemimpinan & Tata Kelola Intern

H. Pemerolehan Keyakinan Mutu


34 BPK menetapkan ketentuan mengenai sistem pemerolehan keyakinan
mutu untuk memperoleh keyakinan bahwa sistem pengendalian intern di
atas dan sistem pengendalian mutu telah diimplementasikan.
35 Sistem pemerolehan keyakinan mutu tersebut meliputi penilaian atau
reviu yang dilakukan secara intern oleh pimpinan satuan kerja pelaksana
BPK, oleh antarsatuan kerja pelaksana BPK atau antarpihak setingkat
(cross review), oleh satuan kerja pelaksana BPK yang dibentuk khusus
untuk tugas tersebut, dan oleh pihak lain yang independen (peer review).
36 Reviu independen sistem pengendalian intern dan sistem pengendian
mutu oleh satuan kerja pelaksana BPK yang khusus dibentuk dilakukan
secara periodik dan dilaporkan langsung kepada BPK.
37 Pada tahap awal penyusunan rencana strategis, BPK perlu melakukan
reviu sistem pengendalian mutu dan sistem pengendalian intern tingkat
kelembagaan secara umum. Hasil reviu tersebut dapat menjadi bahan dan
masukan pengembangan rencana strategis dan rencana implementasinya.

Badan Pemeriksa Keuangan

Penetapan sistem
keyakinan mutu

Lingkup
pemerolehan
keyakinan mutu

Reviu oleh
satker pengawas
intern

Reviu pada awal


penyusunan rencana
stratesis

19

Juklak SPKM

Bab V Manajemen Sumber Daya Manusia

BAB V
MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
A. Kondisi yang Diinginkan
01 BPK seharusnya memiliki kecukupan tenaga yang memiliki kompetensi
serta motivasi dalam melakukan tugasnya secara efektif.

Staf kompeten &


termotivasi

B. Lingkup
02 Unsur ketiga SPM adalah manajemen sumber daya manusia. Unsur SPM
tersebut dimaksudkan untuk memastikan bahwa pemeriksa memiliki
kemampuan, kompetensi yang cukup, serta dedikasi atau pengabdian
dalam melakukan tugasnya sehingga memenuhi mutu pemeriksaan yang
tinggi dan memenuhi tugas secara efektif. Dengan demikian, SDM
merupakan aset terpenting bagi organisasi BPK.
03 Manajemen SDM harus mampu menciptakan lingkungan yang kondusif
bagi pegawainya. Manajemen SDM tersebut menjadi bagian dalam
manajemen BPK secara umum yang meliputi kompetensi yang
dibutuhkan untuk memenuhi mandat dan harapan pemangku
kepentingan serta mencapai rencana strategis BPK. Kompetensi yang
dibutuhkan tersebut perlu ditetapkan karena akan berpengaruh terhadap
rekrutmen dan penempatan SDM, retensi SDM, pelatihan dan
pembangunan kapasitas, penilaian dan manajemen kinerja, serta
penyediaan kesejahteraan bagi pegawai.
04 Berdasarkan hal di atas, komponen unsur SPM Manajemen SDM
meliputi:

Unsur ketiga SPM


manajemen
sumber daya
manusia

Manajemen SDM

Komponen

1) Rekrutmen dan Penempatan;


2) Retensi;
3) Pelatihan dan Pembangunan Kapasitas;
4) Penilaian dan Manajemen Kinerja;
5) Kesejahteraan; dan
6) Pengembangan Karier.
05 Keenam komponen unsur SPM - Manajemen SDM dapat dilihat dalam
Gambar 5.1 berikut.

Badan Pemeriksa Keuangan

Gambar
Manajemen
SDM

20

Juklak SPKM

Bab V Manajemen Sumber Daya Manusia

C. Rekrutmen dan Penempatan


06

BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait harus menetapkan


strategi perekrutan dan penempatan pegawai sesuai dengan kompetensi
dan kualifikasi yang dibutuhkan. Unsur penting pertama dari strategi ini
adalah menetapkan persyaratan terbaik terkait dengan kualifikasi
kompetensi calon pegawai yang dibutuhkan. Perekrutan tersebut
merupakan perekrutan berbasiskan kompetensi, baik untuk tingkat
bawah atau yunior maupun untuk tingkat atas yang lebih senior dalam
organisasi BPK. Unsur kedua dari strategi tersebut adalah merekrut
pegawai sesuai kebutuhan berdasarkan suatu analisis kebutuhan
pegawai. Analisis kebutuhan tersebut dilakukan dengan memperhatikan
rencana strategis BPK, kebijakan dan perencanaan pemeriksaan
strategis, dan manajemen pemeriksaan dan risiko.

07

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan kualifikasi


dan kompetensi pemeriksa adalah sebagai berikut.
1) Merekrut pegawai dengan latar belakang disiplin ilmu dan
pengalaman sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan;

Rekrutmen
berbasis
kompetensi &
analisis kebutuhan

Faktor-faktor
penentuan
kualifikasi &
kompetensi
pemeriksa

2) Melengkapi kebutuhan SDM intern dan keahliannya melalui


penggunaan tenaga ahli yang kompeten dari luar sesuai dengan
kebutuhan BPK; dan
3) Menggunakan pemeriksa dari luar BPK (outsourcing) untuk
melakukan pemeriksaan untuk dan atas nama BPK, dengan reviu atau
evaluasi terhadap proses hasil pekerjaannya.
08

Penempatan pegawai dilakukan berdasarkan kebutuhan, kompetensi, dan


uraian pekerjaan atau uraian jabatan. Pegawai yang direkrut ditempatkan
berdasarkan kebutuhan pegawai tersebut pada satker pelaksana BPK
serta sesuai kompetensi yang diminta dan uraian jabatan.

Badan Pemeriksa Keuangan

Penempatan

21

Juklak SPKM

Bab V Manajemen Sumber Daya Manusia

D. Retensi
09 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait harus menciptakan
daya tarik bagi SDM berkualitas. Hal tersebut meliputi penawaran gaji
dan tunjangan, kesejahteraan, fasilitas lain, serta penciptaan lingkungan
kerja yang menarik dan kondusif.
10 Daya tarik dari pemberian gaji dan tunjangan, kesejahteraan, dan
fasilitas lain seringkali sulit diwujudkan apabila badan pemeriksa
memiliki kendala ketentuan penggajian di negaranya. Dalam kondisi
seperti itu, daya tarik diberikan dalam bentuk penciptaan lingkungan
kerja yang kondusif seperti peningkatan kapasitas melalui kesempatan
pendidikan dan pelatihan, pemberian penghargaan, dan pemberian
kesempatan pengalaman.
11 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait selalu
mempertimbangkan ke depan atas struktur atau pemberian gaji dan
tunjangan, kesejahteraan, dan fasilitas lain bagi pegawai sehingga BPK
dapat memperoleh dan mempertahankan SDM yang sesuai kompetensi
dan kualifikasi yang dibutuhkan.
12 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait menetapkan suatu
aturan mengenai penggunaan pemeriksan dan/atau tenaga ahli lain di
luar BPK sesuai dengan kebutuhan BPK termasuk pengaturan
penggajian dan penawaran lainnya yang menarik.

Daya tarik bagi SDM


berkualitas

Daya tarik non gaji


dan tunjangan

Pertimbangan ke
depan atas struktur
gaji dan tunjangan

Penggajian &
penawaran bagi
tenaga di luar BPK

E. Pelatihan dan Pembangunan Kapasitas


13 BPK menetapkan kebijakan peningkatan kapasitas pelaksana BPK
untuk mengikuti perkembangan pemeriksaan dan dapat mengantisipasi
serta menyelesaikan persoalan yang muncul akibat adanya
perkembangan lingkungan.
14 Kebijakan peningkatan kapasitas pelaksana BPK tersebut meliputi
identifikasi-analisis-penetapan kebutuhan pelatihan, pengukuran
keberhasilan pelatihan, adanya perencanaan SDM, adanya perencanaan
karier, tingkat pemanfaatan peserta pelatihan dalam tugas pemeriksaan,
tingkat pemanfaatan hasil pelatihan di lapangan, penggunaan pedoman
pemeriksaan, evaluasi tingkat pengetahuan pelaksana BPK, evaluasi
keefektivan pelatihan, perencanaan pelatihan untuk setiap pelaksana
BPK, magang (on the job training), secondment, dokumentasi pelatihan,
dan perancangan tim pemeriksa sesuai dengan kebutuhannya.

Badan Pemeriksa Keuangan

Penetapan
kebijakan
pengembangan
kapasitas pelaksana

Bentuk peningkatan
kapasitas pelaksana
BPK

22

Juklak SPKM

Bab V Manajemen Sumber Daya Manusia

15 BPK membentuk satker pelaksana BPK yang memiliki fungsi pelatihan


dan pembangunan kapasitas SDM. Fungsi pelatihan meliputi penetapan,
pengembangan, dan pemantauan kebijakan pelatihan, serta perencanaan
dan pelaksanaan kegiatan pelatihan. Fungsi pembangunan kapasitas
meliputi pengembangan pendidikan dan profesionalitas pegawai,
pengembangan karier pegawai, serta pengembangan kapasitas fungsi
pelatihan.
16 Pelatihan adalah proses bagi pegawai untuk memperoleh
kemampuan/keahlian yang diperlukan dalam melaksanakan tugasnya
sehingga ia dapat bekerja sesuai dengan standar yang ditetapkan. Mutu
pelatihan dan kegiatan pembangunan kapasitas lainnya sangat penting
dalam pencapaian mutu pemeriksaan dan hasilnya. Para pemeriksa
harus dibekali dengan pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang
lingkungan organisasi entitas yang diperiksa dan ketentuan peraturan
perundang-undangan, standar pemeriksaan, kode etik, manajemen
pemeriksaan, metodologi pemeriksaan, khususnya pemeriksaan berbasis
risiko, kebijakan dan prosedur, serta praktik terbaik, termasuk
penggunaan teknologi informasi dengan komputer.
17 Pelatihan merupakan proses yang berkelanjutan sehingga pegawai dapat
memperbarui pengetahuan dan menyesuaikan dengan perkembangan
teknologi, metodologi, teknik, dan alat (tools) yang mutakhir. Kegiatan
pelatihan meliputi antara lain:

Pembentukan satker
pelatian &
pembangunan
kapasitas

Pelatihan

Lingkup
pelatihan

1) pelatihan orientasi untuk membantu pegawai yang baru direkrut agar


dapat menyesuaikan diri dengan budaya dan metode kerja BPK;
2) pelatihan teknis untuk memberikan bekal pengetahuan dan keahlian
pegawai sesuai kebutuhan dan tuntutan pekerjaannya; dan
3) pelatihan manajerial untuk meningkatkan kemampuan manajerial
pimpinan satuan kerja pelaksana BPK dan/atau pemeriksa dengan
peran-peran yang membutuhkan kemampuan manajerial.
18 Pembangunan kapasitas tidak hanya merupakan pelatihan individu,
tetapi dimaksudkan untuk mendorong BPK menetapkan prioritas dan
mengidentifikasi prioritas perubahan dalam hal pendekatan dan
kebutuhan pelatihan. Pengembangan pelatihan tersebut selanjutnya akan
meningkatkan pengetahuan, keahlian dan kemampuan, serta karier
individu.
19 Selain pelatihan di atas, BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK
mendorong pegawainya untuk terlibat aktif dalam organisasi profesi
yang dapat mengembangkan kelembagaan dan pemeriksaan BPK.
Dorongan tersebut dilakukan melalui pemberian penghargaan atau
penilaian atas aktivitas tersebut.

Badan Pemeriksa Keuangan

Pembangunan
Kapasitas

Dorongan aktivitas
pada organisasi
profesi terkait

23

Juklak SPKM

Bab V Manajemen Sumber Daya Manusia

20 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK memberikan kesempatan


kepada pegawainya untuk memperoleh pengalaman bekerja pada
lembaga lain. Lembaga lain tersebut meliputi lembaga publik, nasional,
negara lain, atau internasional.
21 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK memberikan kesempatan
pegawai atau pemeriksa organisasi pemeriksa lain untuk membantu
membangun kapasitas. Hal ini dapat dilakukan melalui pertukaran
pengalaman, bantuan teknis dan/atau pelatihan, pembentukan badan
atau komite bersama, dan pembahasan hasil pemeriksaan.
22 BPK dan/atau pimpinan satker pelaksana BPK mengembangkan dan
menyelenggarakan pengelolaan database pelatihan dan pembangunan
SDM melalui sistem knowledge sharing.

Kesempatan magang
di tempat lain

Kesempatan untuk
membantu
mengembangkan
kapasitas

Knowledge sharing

F. Penilaian dan Manajemen Kinerja


23 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK menetapkan sistem penilaian
dan manajemen kinerja yang jelas.
Sistem manajemen kinerja
dikembangkan untuk memberikan umpan balik yang konstruktif dan
tepat waktu atas kinerja pegawai. Tujuan manajemen kinerja untuk
memaksimalkan kemampuan individual pegawai untuk perbaikan
organisasi ke depan.
24 Sistem manajemen kinerja dibangun dengan basis kinerja. Sistem
tersebut meliputi pemberian kompensasi dan pengukuran kinerja.
Pemberian kompensasi pegawai dilakukan berdasarkan kinerja. Pegawai
yang mempunyai kinerja yang baik memperoleh kompensasi yang lebih
baik dibandingkan dengan pegawai yang kinerjanya tidak baik. Oleh
karena itu, pemberian kompensasi tersebut memerlukan pengukuran
kinerja setiap individu pegawai.
25 Sistem manajemen kinerja tersebut juga harus memungkinkan pegawai
membicarakan tuntutan kinerjanya dengan penyelia atau atasan
langsungnya. Pembicaraan dimaksud untuk memperjelas unsur penting
dan standar/indikator kinerja yang harus dipenuhi pegawai,
mempersiapkan penilaian mandiri, dan memperoleh umpan balik dari
penyelia atau atasan langsungnya.
26 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK menetapkan standar atau
indikator kinerja setiap individu pegawai yang digunakan untuk
penilaian kinerja di atas. Indikator kinerja tersebut digunakan pula untuk
pengembangan karier berupa promosi pegawai.

Badan Pemeriksa Keuangan

Tujuan sistem
manajemen kinerja

Sistem manajemen
kinerja berbasis
kompetensi

Pembicaraan kinerja
antara pegawai &
atasannya

Indikator
kinerja indvidu

24

Juklak SPKM

Bab V Manajemen Sumber Daya Manusia

27 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK membentuk satker pelaksana


yang memiliki fungsi menetapkan indikator kinerja, menilai pencapaian,
dan memantau pelaksanaannya, termasuk kebijakan dan prosedur
pengembangan pegawai serta penanganan keluhan atau permasalahan
pengembangan karir pegawai.
28 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait mengatur penilaian dan
manajemen kinerja, antara lain pemberian penghargaan pemeriksa yang
berprestasi, pemberian sertifikat pencapaian hasil terbaik, pemberian
tambahan remunerasi atau fasilitas lain bagi pegawai yang mencapai
kualitas pekerjaan yang tinggi, dan peningkatan karier.

Pembentukan
satker penilai,
pemantau &
penanganan komplain

Dampak pencapain
kinerja pada pegawai

G. Kesejahteraan
29 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK menetapkan suatu sistem
kesejahteraan pegawai yang menarik sehingga BPK memperoleh
dan/atau memiliki pegawai yang berkualitas dan berpengalaman. Bentuk
kesejahteraan yang menarik meliputi pemberian gaji dan tunjangan,
kesejahteraan dan fasilitas lain, dan lingkungan kerja yang menarik.
30 Struktur gaji dan tunjangan bagi pegawai harus menarik bagi pegawai
sehingga pegawai yang berkualitas dapat tetap bekerja di BPK. BPK dan
pimpinan
satker
pelaksana
BPK
terus
memantau
dan
mempertimbangkan struktur gaji dan tunjangan pegawai pada masa
depan sesuai dengan perkembangan.
31 Kesejahteraan dan fasilitas lain meliputi fasilitas kesehatan, kesempatan
dan fasilitas olah raga, rekreasi, dan bersosialilsasi, fasilitas perumahan
dan transportasi, fasilitas cuti, dan fasilitas penyuluhan (counceling).
Khusus untuk pegawai perempuan, fasilitas seperti pengasuhan dan
penitipan anak dan cuti melahirkan merupakan bentuk kesejahteraan
yang diperlukan.
32 Lingkungan kerja yang menarik dan kondusif dapat berupa penghargaan
dan fasilitas kerja. Penghargaan merupakan insentif bagi pegawai yang
memenuhi atau melebihi standar yang telah ditentukan secara
transparan. Insentif tersebut dapat berupa sertifikat dan penghargaan
bagi pemeriksa yang berprestasi, remunerasi tambahan bagi pemeriksa
yang memiliki kinerja yang berkualitas, pemberian remunerasi serta
promosi yang didasarkan pada penilaian kompetensi, kinerja dan
pengalaman serta pemberian kesempatan untuk mengikuti pelatihan
baik di dalam maupun di luar negeri.

Badan Pemeriksa Keuangan

Sistem
kesejahteraan
pegawai
yang atraktif

Gaji & tunjangan


yang menarik

Kesejahteraan &
fasilitas lain

Penghargaan

25

Juklak SPKM

Bab V Manajemen Sumber Daya Manusia

33 Fasilitas kerja meliputi ruang kerja yang memadai, penerangan, pengatur


suhu ruangan, peralatan rapat, peralatan proses kerja (komputer, printer,
scan, fotokopi, mesin penghancur kertas, alat tulis kantor), peralatan
komunikasi (telepon, faksimili, jaringan intra dan internet), dan toilet.

Fasilitas kerja

H. Pengembangan Karier
34 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait mengembangkan dan
menetapkan sistem pengembangan karier yang meliputi struktur karier,
dan pengembangan karier pegawai baik melalui struktur atau fungsi
yang lebih tinggi melalui pendidikan, pelatihan dan pembangunan
kapasitas, serta pengalaman kerja.
35 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait memberikan
kesempatan pengembangan karier melalui seminar dan workshop
mengenai berbagai topik yang memfokuskan pada pengembangan
profesional, kursus di berbagai lembaga pendidikan, magang di bawah
pengawasan pemeriksa yang berpengalaman, pendidikan keahlian
tertentu dan/atau sertifikasi profesional tertentu (spesialisasi) sesuai
kebutuhan BPK, rotasi jabatan, promosi berdasarkan prestasi kerja,
pendidikan profesional berkelanjutan, umpan balik atas kinerja
pekerjaan dan pelatihan, dan konseling karier.

Pengembangan karier

Bentuk
pengembangan
karier

36 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait mengidentifikasi,


mengevaluasi, dan menyelesaikan kesenjangan antara kemampuan
teknis, standar kompetensi, dan pengembangan karier.

Identifikasi, evaluasi,
dan penyelesaian
kesenjangan

37 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait mengembangkan karier


pegawai melalui promosi yang didasarkan atas kinerja pegawai.

Promosi
berdasarkan kinerja

Badan Pemeriksa Keuangan

26

Juklak SPKM

Bab VI Standar & Metodologi Pemeriksaan

BAB VI
STANDAR DAN METODOLOGI PEMERIKSAAN
A. Kondisi yang Diinginkan
01 Proses pemeriksaan BPK seharusnya didasarkan pada standar
pemeriksaan yang ditetapkan INTOSAI dan/atau praktik terbaik
internasional lainnya dengan mempertimbangkan kesesuaian dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku di negara masing-masing.

Kesesuaian dengan
standar INTOSAI
dan lainnya

B. Lingkup
02 Unsur SPM yang keempat adalah standar dan metodologi pemeriksaan.
Standar dan metodologi pemeriksaan merupakan ukuran dan pedoman
pemeriksaan yang menjadi dasar, pertimbangan, dan referensi
pemeriksa.
03 Standar pemeriksaan merupakan patokan untuk melakukan
pemeriksaan. Standar pemeriksaan mengatur patokan mengenai
kualifikasi pemeriksa, perencanaan dan pelaksanaan pemeriksaan, serta
pelaporan hasil pemeriksaan. Standar pemeriksaan digunakan sebagai
kriteria penilaian kualitas pemeriksaan pada saat evaluasi atau reviu.
04 Metodologi pemeriksaan merupakan pedoman yang mengatur prosedur
atau langkah pemeriksaan dari tahap perencanaan, pelaksanaan,
pelaporan termasuk dokumentasi dan evaluasi atau sistem pemerolehan
keyakinan mutu. Metodologi pemeriksaan diatur lebih lanjut di dalam
pedoman pemeriksaan.
05 Unsur SPM keempat tersebut terdiri atas dua komponen, yaitu:
1) standar pemeriksaan; dan
2) metodologi pemeriksaan.

Unsur SPM
keempat

Standar
pemeriksaan

Metodologi
pemeriksaan

Komponen

06 Gambar 6.1 berikut menunjukkan unsur SPM keempat, Standar dan


Metodologi Pemeriksaan, beserta dua komponennya.

Badan Pemeriksa Keuangan

27

Juklak SPKM

Bab VI Standar & Metodologi Pemeriksaan

C. Standar Pemeriksaan
07 BPK menetapkan standar pemeriksaan dalam rangka perolehan hasil
pemeriksaan yang bermutu tinggi. Penetapan standar pemeriksaan
tersebut juga dalam rangka memenuhi ketentuan perundang-undangan
dan sesuai dengan standar dan praktik terbaik internasional dalam
pemeriksaan. Standar pemeriksaan tersebut menjadi dasar penilaian atau
kriteria di dalam proses pemerolehan keyakinan yang memadai atas
mutu pemeriksaan (quality assurance) untuk kegiatan sebelum sampai
dengan setelah pemeriksaan dilakukan.
08 BPK menetapkan kebijakan atau aturan yang mengharuskan semua
pegawainya, khususnya pemeriksanya, untuk mematuhi standar
pemeriksaan yang ditetapkan sesuai dengan penugasan dan tanggung
jawabnya.
09 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait menyebarkan dan
memberikan sosialisasi atau pelatihan yang cukup bagi pemeriksa atas
suatu standar pemeriksaan yang ditetapkan. Penyebaran standar
pemeriksaan dilakukan baik secara manual maupun melalui jaringan
informasi (website atau intranet).
10 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK memantau kepatuhan atas
standar pemeriksaan tersebut dan memperoleh laporan atau dokumentasi
penyimpangan dari standar tersebut yang harus ditindaklanjuti.
Pemantauan dan tindak lanjut tersebut meliputi pengembangan dan/atau
penyempurnaan standar pemeriksaan, pendidikan dan pelatihan SDM,
pengembangan pedoman, serta penilaian dan pembinaan SDM.

Badan Pemeriksa Keuangan

Penetapan
standar pemeriksaan

Keharusan
kepatuhan pada
standar pemeriksaan

Sosialisasi standar
pemeriksaan

Pemantauan
kepatuhan pada
standar pemeriksaan

28

Juklak SPKM

Bab VI Standar & Metodologi Pemeriksaan

D. Metodologi Pemeriksaan
11 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait menetapkan pedoman
pemeriksaan yang rinci untuk semua jenis pemeriksaan yang menjadi
mandat dan tugas BPK. Penetapan petunjuk pemeriksaan tersebut
meliputi juga ketentuan keharusan pemeriksa untuk melaksanakan
pemeriksaan sesuai dengan petunjuk pemeriksaan.
12 Pedoman pemeriksaan yang ditetapkan BPK tersebut harus sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan dan standar pemeriksaan.

Penetapan
petunjuk
pemeriksaan

Kesesuaian dengan
peraturan dan standar
pemeriksaan

13 Pedoman pemeriksaan tersebut mengatur metodologi pemeriksaan yang


harus dilakukan pemeriksa disertai dengan langkah dan bentuk
dokumentasinya.
14 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait menyebarkan dan
memberikan sosialisasi atau pelatihan yang cukup bagi pemeriksa atas
suatu pedoman pemeriksaan yang ditetapkan. Penyebaran pedoman
pemeriksaan dilakukan baik secara manual maupun melalui jaringan
informasi (website atau intranet) agar setiap pegawai dapat mengakses
pedoman tersebut.
15 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait menetapkan kebijakan
dan melaksanakan pemantauan atas kepatuhan pemeriksa terhadap
pedoman pemeriksaan yang ditetapkan.
16 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait menetapkan kebijakan
dan melaksanakan reviu atau pemutakhiran atas petunjuk pemeriksaan
yang ditetapkan dengan mempertimbangkan pelaksanaannya di
lapangan dan perkembangan terakhir, serta praktik terbaik pemeriksaan.

Badan Pemeriksa Keuangan

Sosialisasi petunjuk
pemeriksaan

Kepatuhan atas
petunjuk
pemeriksaan

Pemutakhiran
petunjuk
pemeriksaan

29

Juklak SPKM

Bab VII Dukungan Kelembagaan

BAB VII
DUKUNGAN KELEMBAGAAN

A. Kondisi Yang Diinginkan


01 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK mengelola secara optimal
sumber dayanya untuk memberikan keyakinan bahwa pendukung
pemeriksaan dapat diberikan secara memadai dan tepat waktu.

Pengelolaan sumber
daya secara optimal

B. Lingkup
02 Unsur SPM yang kelima adalah dukungan kelembagaan. Unsur SPM
dukungan kelembagaan meliputi keuangan, infrastruktur, teknologi, dan
jasa pendukung yang diperlukan untuk pemeriksaan.
03 Unsur SPM keempat tersebut terdiri dari empat komponen, yaitu:
1)
2)
3)
4)

keuangan
infrastruktur
teknologi
jasa pendukung

04 Gambar 7.1 berikut menunjukkan unsur SPM kelima, Dukungan


Kelembagaan, beserta empat komponennya.

Badan Pemeriksa Keuangan

Unsur SPM
kelima

Komponen
dukungan
kelembagaan

Gambar
dukungan
kelembagaan

30

Juklak SPKM

Bab VII Dukungan Kelembagaan

C. Keuangan
05 BPK menyediakan anggaran yang cukup untuk melaksanakan
pemeriksaan sesuai dengan mandat, tugas, dan kewenangan yang diatur
di dalam peraturan perundang-undangan. Kecukupan anggaran dibahas
antara BPK dan DPR dengan mempertimbangkan kebutuhan dan
sumber daya yang tersedia.

Kecukupan
anggaran

06 BPK menetapkan kebijakan alokasi anggaran kepada satker pelaksana


BPK sesuai dengan rencana strategis, kebijakan dan strategi
pemeriksaan, dan rencana kerja atau kegiatan.

Alokasi
anggaran

07 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK menggunakan anggaran


secara optimal untuk kegiatan pemeriksaan dan untuk kegiatan
dukungan pemeriksaan yang diperlukan.

Penggunaan
anggaran

08 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK memastikan penggunaan


anggaran didukung dengan bukti yang cukup dan kompeten, dan
mempertanggungjawabkan
penggunaan
anggaran
dengan
menyampaikan laporan keuangan secara periodik sesuai dengan
ketentuan yang ditetapkan.

Pertanggungjawaban
penggunaan anggaran

09 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait memiliki jumlah staf di
bidang keuangan yang cukup secara kuantitas dan kompetensi.

Staf

10 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait mengevaluasi dan


memantau penggunaan dan pertanggungjawaban anggaran.

Evaluasi &
pemantauan

D. Infrastruktur
11 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait menetapkan standar
infrastruktur BPK dan pelaksananya sehingga memungkinkan
pelaksanaan pekerjaan secara memadai.

Penetapan
standar

12 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK menyediakan infrastruktur


yang cukup untuk memungkinkan pelaksana BPK melaksanakan
tugasnya sebaik-baiknya. Infrastuktur tersebut meliputi gedung dan
ruang kerja, inventaris kantor, listrik dan air bersih, toilet, fasilitas
pelatihan, perpustakaan, penyimpanan dokumen, dan transportasi.

Penyediaan
infrastruktur

13 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK menggunakan infrastruktur


yang tersedia secara optimal dan mempertanggungjawabkan sesuai
dengan tanggung jawab masing-masing dengan membuat laporan
pertanggungjawaban secara periodik sesuai dengan ketentuan.

Penggunaan &
pertanggungjawaban

Badan Pemeriksa Keuangan

31

Juklak SPKM

Bab VII Dukungan Kelembagaan

14 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait mengevaluasi dan


memantau secara periodik kecukupan infrastruktur tersebut serta
menindaklanjuti dengan penyiapan alokasi anggaran untuk infrastuktur
yang dibutuhkan dan pemanfaatan atau pelepasan untuk infrastuktur
yang tidak digunakan.

Evaluasi &
pemantauan

E. Teknologi
15 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait menyediakan
dukungan teknologi untuk melaksanakan tugas secara efisien dan
efektif. Dukungan teknologi meliputi telekomunikasi, sistem informasi
teknologi, internet dan intranet, perangkat lunak kegiatan perkantoran
(general office software), sistem pendukung pengambilan keputusan
(decision-making support system), dan peralatan pendukung
pemeriksaan yang telah dibahas sebelumnya.
16 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK mengembangkan
menggunakan teknologi secara optimal serta menyampaikan hambatan
dan kebutuhan teknologi sesuai dengan perkembangan. Pengembangan
teknologi tersebut dimaksudkan untuk mempercepat, mengefisienkan,
dan mengefektifkan pemeriksaan dan pekerjaan BPK lainnya melalui
otomatisasi kegiatan tersebut. Di dalam pengembangan tersebut, BPK
harus mengintegrasikan berbagai sistem yang dikembangkan sehingga
tujuan tersebut dapat tercapai. Misalnya, BPK mengembangkan sistem
manajemen pemeriksaan terkomputerisasi yang terintegrasi dengan
sistem informasi SDM, dan sebagainya.

Penyediaan
dukungan teknologi

Pengembangan,
Penggunaan, dan
Pelaporan, serta
Integrasi sistem

17 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait memantau dan


memberikan alokasi sumber daya keuangan serta SDM bagi kecukupan
dan keandalan dukungan teknologi. Hasil pemantauan penggunaan
dukungan teknologi diungkapkan dalam laporan periodik yang dibuat
oleh pimpinan satker pelaksana BPK terkait.

Alokasi anggaran &


SDM

18 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait menyebarkan,


menyosialisasikan, dan melatih pegawai untuk teknologi baru yang akan
digunakan.

Penyebaran,
sosialisasi, dan
pelatihan

Badan Pemeriksa Keuangan

32

Juklak SPKM

Bab VII Dukungan Kelembagaan

F. Jasa Pendukung
19 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait menyediakan jasa
pendukung berupa jasa kesekretariatan, keamanan, transportasi,
kebersihan, dan pengelola kegiatan.

Penyediaan
dukungan teknologi

20 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK menggunakan jasa pendukung


dan menyampaikan hambatan dan kebutuhan jasa pendukung dimaksud
sesuai dengan kondisi.

Penggunaan,
hambatan, dan
kebutuhan

21 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait mempertimbangkan


ketepatan waktu dan kehematan (cost-effective) dalam penyediaan jasa
pendukung tersebut. Apabila jasa pendukung tersebut lebih murah
disediakan pihak luar, maka BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK
terkait dapat mengadakan jasa tersebut dari pihak luar (outsourcing).

Pertimbangan
kehematan &
outsourcing

22 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait mengevaluasi dan


memantau kecukupan dan kebutuhan jasa pendukung secara periodik
serta mengalokasikan anggaran untuk kebutuhan baru atau
memanfaatkan atau menyelesaikan kelebihan jasa pendukung.

Evaluasi &
pemantauan

Badan Pemeriksa Keuangan

33

Juklak SPKM

Bab VIII Hubungan BPK Pemangku Kepentingan

BAB VIII
HUBUNGAN BPK DENGAN PEMANGKU KEPENTINGAN
A. Kondisi yang Diinginkan
01 BPK seharusnya menciptakan dan memelihara hubungan kerja dan
komunikasi dengan pemangku kepentingan (external stakeholders)
secara efektif untuk memperoleh keyakinan atas dampak signifikan dari
hasil pemeriksaan dan hasil kerja BPK pada umumnya.

Penciptaan &
pemeliharaan
hubungan dan
komunikasi

B. Lingkup
02 Hubungan BPK dengan pemangku kepentingan merupakan unsur
keenam SPM. Hubungan BPK dengan entitas yang diperiksa dan para
pemangku kepentingan merupakan unsur penting SPM. Hubungan
tersebut tidak terhindarkan terkait dengan pelaksanaan tugas BPK di
dalam pemeriksaan. Efektivitas BPK untuk peningkatan akuntabilitas,
ekonomi, efisiensi, dan efektivitas dalam pengelolaan sektor publik
sangat bergantung kepada hubungan yang telah dibangun dan dibina
dengan para pemangku kepentingan.
03 BPK harus mengomunikasikan rencana, pelaksanaan, dan pelaporan
hasil pemeriksaan, serta pemantauan tindak lanjut dan pemanfaatan
laporan hasil pemeriksaan BPK kepada para pemangku kepentingan
sesuai dengan peranan dan kepentingan masing-masing.
04 Pemangku kepentingan BPK meliputi entitas yang diperiksa, lembaga
perwakilan, masyarakat, BPK negara lain, pemberi bantuan (donor),
organisasi internasional, media, profesional, akademisi, kantor akuntan
publik (KAP), dan pihak lain yang dapat memanfaatkan dan
memerlukan hasil BPK.
05 Hubungan BPK dengan pemangku kepentingan mempunyai tujuh
komponen berikut.
1) hubungan dengan Entitas yang Diperiksa;
2) hubungan dengan Lembaga Perwakilan;
3) hubungan dengan Publik dan Media;
4) hubungan dengan BPK Negara Lain dan Asosiasinya;
5) hubungan dengan Organisasi Internasional & Pemberi Bantuan;
6) hubungan dengan Kantor Akuntan Publik dan Asosiasi Profesional;
dan
Badan Pemeriksa Keuangan

Hubungan &
komunikasi

Hal-hal yang
dikomunikasikan

Pemangku
kepentingan

Komponen

34

Juklak SPKM

Bab VIII Hubungan BPK Pemangku Kepentingan

7) hubungan dengan Lembaga Pendidikan


06 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait melakukan analisis
pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi signifikansi hubungan
dengan masing-masing pemangku kepentingan dan kepentingan serta
pengaruhnya terhadap BPK. Hal ini dilakukan BPK untuk menentukan
prioritas hubungan yang harus dilakukan BPK apabila waktu dan
sumber daya BPK untuk hal tersebut terbatas.
07 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait menentukan ukuran
untuk menilai usaha menciptakan dan memelihara hubungan dengan
para pemangku kepentingan tanpa mempengaruhi independensi dan
obyektivitas. Ukuran tersebut dapat berupa tingkat kepuasan hasil kerja
BPK atau pemeriksaan, tingkat manfaat hasil pemeriksaan BPK, dan
tingkat tindak lanjut.
08 BPK menetapkan peraturan tentang hubungan dengan para pemangku
kepentingan (external stakeholder protocol) untuk mengefektifkan
hubungan kerja. Hal tersebut akan memperjelas hubungan, menilai
implementasi, meningkatkan transparansi kebijakan serta pola hubungan
kerja BPK dan pemangku kepentingan, termasuk memperjelas harapan
BPK dan pemangku kepentingan atas masing-masing hasil kerjanya.
09 Gambar 8.1 berikut menunjukkan ketujuh komponen unsur SPM
Hubungan dengan Pemangku Kepentingan.

Badan Pemeriksa Keuangan

Analisis pemangku
kepentingan

Ukuran penilaian
hubungan

Aturan Hubungan

Gambar 8.1
Hubungan dengan
Pemangku
Kepentingan

35

Juklak SPKM

Bab VIII Hubungan BPK Pemangku Kepentingan

C. Hubungan dengan Entitas yang Diperiksa


10 BPK menetapkan pedoman mengenai laporan hasil pemeriksaan yang
jelas dan mudah dipahami entitas yang diperiksa serta proses
pembahasan atau pengomunikasiannya sebelum laporan tersebut
disampaikan.
11 BPK dan pimpinan satker
memantau pelaksanaan
perencanaan, pelaksanaan,
dilakukan oleh pemeriksa
pemeriksaan.

Pedoman pelaporan
hasil pemeriksaan

pelaksana BPK terkait mengevaluasi dan


komunikasi pemeriksaan dari proses
dan pelaporan hasil pemeriksaan yang
pada satker pelaksana BPK di bidang

Evaluasi &
pemantauan
komunikasi dengan
entitas yang diperiksa

12 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait mengembangkan


sistem penilaian kepuasan dari entitas yang diperiksa terhadap hasil
kerja BPK. Penilaian kepuasan tersebut dilakukan terhadap hasil
pemeriksaan BPK dan hasil pekerjaan BPK lainnya terkait dengan
manfaatnya bagi entitas yang diperiksa. Hasil penilaian tersebut
diungkapkan secara terbuka.

Sistem penilaian
kepuasan

13 BPK mengelola database hasil pemeriksaan yang memuat rekomendasi,


tindak lanjut oleh entitas yang diperiksa, dan pemantauan tindak lanjut
tersebut. Dalam rangka mengelola database tersebut, BPK menetapkan
pedoman pengelolaan database dimaksud dan mekanisme pemantauan
tindak lanjut tersebut.

Database hasil
pemeriksaan &
mekanisme
pemantauan tindak
lanjut

D. Hubungan dengan Lembaga Perwakilan


14 BPK melakukan survei kepuasan lembaga perwakilan yang merupakan
pemangku kepentingan atas hasil pemeriksaan BPK. Survei kepuasan
tersebut dilakukan oleh pihak luar yang kompeten dan independen
terhadap kinerja pemeriksaan BPK.
15 Selain survei kepuasan di atas, BPK melakukan penelitian tingkat
penggunaan hasil pemeriksaan oleh lembaga perwakilan. Penelitian
tersebut dilakukan dengan melihat penggunaan hasil pemeriksaan dalam
pembahasan dan pengambilan keputusan. Hal ini dapat diketahui dalam
bahan, agenda, risalah pertemuan, hasil pembahasan, konferensi pers,
keputusan yang dihasilkan, dan dokumentasi lain yang relevan.

Badan Pemeriksa Keuangan

Survei kepuasan
lembaga perwakilan

Penggunaan hasil
pemeriksaan BPK
oleh lembaga
perwakilan

36

Juklak SPKM

Bab VIII Hubungan BPK Pemangku Kepentingan

16 BPK meningkatkan komunikasi yang efektif dengan lembaga


perwakilan yang dapat diukur dari jumlah pertemuan konsultatif yang
dilakukan. BPK menetapkan satker pelaksana BPK yang bertugas untuk
melakukan
hubungan
dengan
lembaga
perwakilan
dan
mengomunikasikan hasil pekerjaan BPK

Pertemuan
konsultatif

17 BPK atau pimpinan satker pelaksana BPK terkait melakukan


komunikasi lembaga perwakilan di dalam perencanaan pemeriksaan.
Komunikasi dimaksud dilakukan melalui survei atau wawancara dengan
anggota lembaga perwakilan untuk mengetahui tingkat perhatian dan
kepentingan atas pemeriksaan BPK.

Komunikasi
perencanaan
pemeriksaan kepada
pemangku
kepentingan

18 BPK menciptakan aturan hubungan dengan lembaga perwakilan untuk


memperjelas hubungan kerja.

Aturan
Hubungan

E. Hubungan dengan Publik dan Media


19 BPK melakukan survei pemahaman dan pemanfaatan hasil pemeriksaan
kepada publik dan media yang merupakan pemangku kepentingan atas
hasil pemeriksaan BPK. Survei tersebut dilakukan oleh pihak luar yang
kompeten dan independen terhadap kinerja pemeriksaan BPK.

Survei pemahaman &


pemanfaatan hasil
pemeriksaan

20 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait menciptakan bentuk


komunikasi dengan publik dan media terkait dengan informasi atau
masukan untuk perencanaan dan pelaksanaan pemeriksaan, serta
penyebarluasan dan pemanfaatan hasil pemeriksaan.

Bentuk komunikasi

21 BPK menetapkan kebijakan dan prosedur bahwa hasil pemeriksaan


tersebut dapat diakses oleh publik sebagai bagian dari fungsi
pengawasan publik dalam rangka meningkatkan transparansi dan
akuntabilitas keuangan negara. Hal ini dapat dilakukan BPK setelah
laporan hasil pemeriksaan disampaikan kepada lembaga perwakilan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Akses publik

22 BPK
dapat
menyebarluaskan
hasil
pemeriksaan
melalui
penyelenggaraan seminar, konferensi, dan wawancara dengan media
serta melalui penulisan artikel. Melalui hal tersebut, BPK dapat
menjelaskan penetapan kebijakan pemeriksaan, pelaksanaan dan
hasilnya. Hal tersebut dimaksudkan agar publik memperoleh
pemahaman secara utuh atas hasil pemeriksaan yang disampaikan BPK.

Penyebarluasan hasil
pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

37

Juklak SPKM

Bab VIII Hubungan BPK Pemangku Kepentingan

23 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait melakukan analisis


kualitatif terhadap liputan media untuk mengetahui tingkat pemahaman
dan kesesuaian atas hasil pemeriksaan yang dilaporkan. Selain itu,
analisis tersebut meliputi tingkat pengungkapan hasil pemeriksaan oleh
media mengingat BPK merupakan sumber informasi yang dapat
dipercaya dan dapat diandalkan oleh media dan publik.

Analisis liputan media

F. Hubungan dengan BPK Negara Lain & Asosiasinya


24 BPK menciptakan dan memelihara hubungan dengan BPK negara lain
dalam rangka tukar-menukar informasi, pengetahuan, dan pengalaman,
serta kemungkinan peer review, kerja sama pemeriksaan dan pertukaran
pemeriksa dalam bentuk pelatihan, magang (secondment), dan jasa
konsultasi.

Bentuk hubungan

25 BPK menjadi anggota asosiasi BPK regional dan internasional serta


berpartisipasi aktif di dalam kegiatan maupun kelompok-kelompok kerja
yang dibentuk asosiasi tersebut.

Keterlibatan di
asosiasi

26 BPK memanfaatkan standar, pedoman, prosedur, dan hasil pemeriksaan


BPK negara lain dan asosiasi yang dapat diakses BPK. Hal ini termasuk
pemanfaatan informasi yang tersedia dalam website, yang diperoleh dari
studi banding, seminar, hasil kelompok kerja, dan jurnal serta media
komunikasi lainnya.

Pemanfaatan
pengetahuan dan
informasi

G. Hubungan dengan Organisasi Internasional dan Pemberi Bantuan


27 BPK melakukan hubungan dengan organisasi internasional dan pemberi
bantuan terkait dengan kesamaan kepentingan dan kebutuhan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Bentuk hubungan

H. Hubungan BPK dengan Kantor Akuntan Publik dan Asosiasi Profesional


28 BPK menetapkan aturan untuk dapat menggunakan pemeriksa dan/atau
tenaga ahli lain dari luar BPK termasuk penggunaan akuntan publik dan
kantor akuntan publik (KAP) sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Badan Pemeriksa Keuangan

Aturan penggunaan
pemeriksa KAP

38

Juklak SPKM

Bab VIII Hubungan BPK Pemangku Kepentingan

29 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait menyosialisasikan


aturan dan mengadakan pelatihan bagi pemeriksa KAP serta mengelola
pendaftaran dan database KAP terdaftar di BPK untuk melakukan
pemeriksaan keuangan negara.
30 BPK mengevaluasi pemeriksaan KAP sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Sosialisasi dan
pelatihan

Evaluasi pekerjaan
KAP

31 Laporan keuangan BPK diperiksa oleh KAP yang ditunjuk DPR.

Pemeriksaan laporan
keuangan BPK

32 BPK dapat melakukan kerja sama dengan akuntan publik dan


assosiasinya yang terkait dengan tugas BPK.

Hubungan dengan
Asosiasi Profesional

I. Hubungan BPK dengan Lembaga Pendidikan


33 BPK melakukan kerja sama dengan lembaga pendidikan untuk
pendidikan dan pelatihan serta penyebarluasan hasil pemeriksaan BPK
melalui seminar, diskusi, workshop, dan sebagainya.

Kerjasama pelatihan &


seminar

34 BPK dapat mengadakan pekerjaan penelitian dan pengembangan


pemeriksaan serta kelembagaan, dan survei-survei yang dibutuhkan
BPK kepada lembaga pendidikan dan jasa konsultasi.

Litbang & surve i

35 BPK melakukan kerja sama terkait dengan penyediaan sumber daya


manusia hasil lembaga pendidikan untuk menjadi pelaksana BPK
dengan memenuhi kualifikasi dan kompetensi yang dibutuhkan BPK.
36 BPK berpartisipasi aktif dalam pengembangan lembaga pendidikan
terkait dengan bidang pemeriksaan sektor publik melalui penyebaran
hasil pemeriksaan, penyampaian atau pengajaran, seminar, dan
sejenisnya.

Badan Pemeriksa Keuangan

Penyediaan SDM

Partisipasi
pengembanga n
lembaga pendidikan

39

Juklak SPKM

Bab IX Penyempurnaan Berkelanjutan

BAB IX
PENYEMPURNAAN BERKELANJUTAN
A. Kondisi yang Diinginkan
01

BPK seharusnya selalu siap untuk menyelesaikan permasalahan yang


muncul setiap saat secara efektif, mengantisipasi permasalahan potensial
yang akan timbul secara memuaskan, dan memanfaatkan peluang serta
tantangan baru.

Penyelesaian &
antisipasi masalah
serta pemanfaatan
peluan

B. Lingkup
02 Unsur SPM ketujuh adalah penyempurnaan berkelanjutan (continous
improvement). Unsur SPM ini merupakan unsur yang terkait dengan
kesiapan BPK di dalam menghadapi permasalahan, peluang, dan
tantangan kedepan.

Penyempurnaan
berkelanjutan

03

BPK terus meningkatkan kapasitas kelembagaan dan kompetensi


pelaksanannya untuk mengikuti perkembangan dunia pemeriksaan dan
mampu menghadapi permasalahan dalam situasi lingkungan pemeriksaan
yang cepat berubah.

Peningkatan kapasitas
kelembagaan &
kompetensi staf

04

BPK terus memutakhirkan rencana strategisnya secara periodik untuk


menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi atas lingkungan
pemeriksaan yang dihadapi.

Pemutakhiran rencana
strategis

05

Dalam rangka memperoleh keyakinan atas penyempurnaan berkelanjutan,


BPK harus mengembangkan dan mengimplementasikan strategi untuk
penelitian dan pengembangan, pengembangan organisasi, dan manajemen
perubahan.

Strategi
pengembangan

06 Komponen unsur SPM Penyempurnaan Berkelanjutan meliputi:


1) Penelitian dan pengembangan
2) Pengembangan organisasi
3) Manajemen perubahan
07

Komponen unsur SPM - penyempurnaan berkelanjutan dapat dilihat pada


Gambar 9.1 berikut

Badan Pemeriksa Keuangan

Komponen

Gambar 9.1

40

Juklak SPKM

C.

Bab IX Penyempurnaan Berkelanjutan

Penelitian & Pengembangan

08

BPK membentuk satuan kerja pelaksana BPK yang bertugas untuk


melakukan penelitian dan pengembangan pemeriksaan dan kelembagaan.

09

BPK menetapkan rencana jangka panjang dan jangka pendek terkait


dengan penelitian dan pengembangan.

Perencanaan
litbang

10

BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait penelitian dan


pengembangan melakukan studi dan/atau penelitian dalam rangka
peningkatan kinerja BPK secara efektif.

Studi penelitian
keefektivan kinerja
BPK

11

BPK menyediakan alokasi anggaran yang mencukupi untuk penelitian


dan pengembangan.

Anggaran

12

BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait menyediakan SDM yang
memadai secara kuantitas dan kualitas untuk kegiatan penelitian dan
pengembangan.

SDM

Satker litbang

D. Pengembangan Organisasi
13

BPK mengembangkan organisasi BPK melalui perancangan dan


penetapan organisasi BPK untuk menyesuaikan dengan rencana strategis
dan perubahan lingkungan.

14

BPK menetapkan organisasi yang secara jelas mengatur tugas, fungsi/


kewenangan, dan tanggung jawab sesuai dengan satuan kerja yang ada.

15

BPK melakukan evaluasi dan pemantauan organisasi yang ditetapkan


serta mengembangkan organisasi sesuai dengan perubahan lingkungan
dan rencana strategis.

16

BPK memberikan kesempatan dan dorongan bagi pelaksana BPK untuk


memperbaiki organisasi BPK.

Badan Pemeriksa Keuangan

Pengembangan
organisasi

Kejelasan
tupoksi
Evaluasi

Peran staf

41

Juklak SPKM

Bab IX Penyempurnaan Berkelanjutan

E. Manajemen Perubahan
17

BPK menetapkan satuan kerja pelaksana BPK yang berfungsi sebagai unit
yang bertanggung jawab terhadap manajemen perubahan. Manajemen
perubahan tersebut diperlukan sebagai dampak adanya perubahan dan
pengembangan di atas. Manajemen perubahan merupakan unsur penting
dalam rangka implementasi pengembangan dan perubahan yang
dirancang.

18

BPK dan satker pelaksana BPK terkait menetapkan rencana manajemen


perubahan yang disesuaikan dengan rencana strategis dan pengembangan
serta perubahan yang telah dirancang dan ditetapkan.

19

BPK dan satker pelaksana BPK terkait menetapkan ukuran atau indikator
untuk setiap kegiatan yang terkait dengan manajemen perubahan.

Indikator

20

BPK dan satker pelaksana BPK terkait menyediakan sumber daya yang
cukup untuk perencanaan dan implementasi manajemen perubahan.

Sumber daya

21

BPK dan satker pelaksana BPK terkait merancang dan


mengimplementasikan manajemen perubahan yang salah satunya meliputi
juga perubahan di bidang manajemen sumber daya manusia.

22

BPK dan satker pelaksana BPK terkait melakukan manajemen perubahan


salah satunya melalui perubahan dalam uraian pekerjaan.

23

BPK dan satker pelaksana BPK terkait memiliki rencana dan prosedur
atau mekanisme untuk menyelesaikan resistensi atas manajemen
perubahan yang telah ditetapkan.

Badan Pemeriksa Keuangan

Satker di bidang
manajemen perubahan

Rencana manajemen
perubahan

SDM

Uraian pekerjaan

Rencana untuk
mengatasi reistensi

42

Juklak SPKM

Bab X Hasil

BAB X
HASIL
A. Kondisi yang Diinginkan
01 BPK seharusnya menghasilkan laporan hasil pemeriksaan dan hasil
pekerjaan lain yang bermutu yang dapat meningkatkan transparansi dan
akuntabilitas di sektor publik, manajemen dan pemanfaatan sumber
daya publik yang efisien, serta mendorong terwujudnya tata kelola yang
baik (good governance).

Penyelesaian &
antisipasi masalah
serta pemanfaatan
peluan

B. Lingkup
02 Unsur SPM kedelapan adalah hasil yang merupakan unsur yang terkait
dengan produk akhir atau hasil kerja BPK dan dampaknya bagi
peningkatan transparansi dan akuntabilitas, efisiensi manajemen dan
pemanfaatan sumber daya, serta perwujudan tata kelola yang baik.

Hasil: output &


impact

03 BPK menetapkan suatu sistem yang secara obyektif dapat mengukur


produk atau hasil kerja dan dampak tersebut. Sistem tersebut dapat
memberikan keyakinan atas pengukuran kinerja yang sesuai dengan
mutu yang dapat diterima.

Sistem pengukuran
hasil

04 BPK menindaklanjuti hasil pengukuran kinerja tersebut.


05 Komponen unsur SPM - Hasil meliputi:
1) produk atau hasil kerja (output)
2) dampak (impact)

Tindak lanjut
Komponen

06 Komponen unsur SPM Hasil dapat dilihat pada Gambar 10.1 berikut

Badan Pemeriksa Keuangan

43

Juklak SPKM

Bab X Hasil

C. Produk atau Hasil Kerja


07 BPK menetapkan kebijakan mutu laporan hasil pemeriksaan dan hasil
kerja termasuk surat kepada manajemen dengan memperhatikan aspek
signifikansi, keandalan, obyektivitas, kejelasan, dan ketepatan waktu.

Mutu output

08 BPK menetapkan kebijakan bahwa laporan hasil pemeriksaan dan


hasil kerja lainnya telah sesuai dengan mandat BPK dalam konstitusi
dan peraturan perundang-undangan, standar pemeriksaan, dan
pedoman lainnya.

Kesesuaian output
dengan mandat,
standar, dan pedoman

09 BPK menetapkan aturan mengenai target terkait dengan jumlah


laporan, produk, atau hasil kerja dari setiap aktivitas atau kegiatan
sesuai rencana.

Target

10 BPK menetapkan target tersebut sebagai ukuran kinerja.

Target & Indikator

11 BPK menilai kualitas laporan hasil pemeriksaan atau hasil kerja BPK
dengan indikator pengukuran kinerja tersebut.

Penilaian kualitas
dengan indikator

12 BPK mengatur batas waktu penyampaian laporan hasil pemeriksaan


atau hasil kerja.

Batas waktu

13 BPK memiliki prosedur atau mekanisme untuk menilai atau


memantau pencapaian batas waktu penyampaian laporan hasil
pemeriksaan atau hasil kerja dan target yang ditetapkan.

Mekanisme penilaian
pencapatan batas
waktu dan target

D.

Dampak

14 BPK mempunyai mekanisme atau prosedur untuk mengukur dampak


dari hasil kerja BPK. Pengukuran dampak tersebut meliputi:

Satker litbang

1) penurunan jumlah kesalahan atau ketidakpatuhan yang ditemukan;


2) peningkatan persentase rekomendasi yang diterima oleh pihak
terperiksa;
3) peningkatan
persentase
rekomendasi
yang
dapat
diimplementasikan oleh pihak terperiksa ;
4) peningkatan persentase penggunaan hasil pemeriksaan oleh komite
akuntabilitas publik atau lembaga perwakilan untuk memberikan
arahan kepada pihak terperiksa;
5) peningkatan tingkat kepuasan komite akuntabilitas publik atau
lembaga perwakilan dan pihak terperiksa atas hasil kerja BPK.
15 BPK mempunyai ukuran kinerja untuk menilai dampak dari hasil
kerja BPK.

Badan Pemeriksa Keuangan

Ukuran kinerja

44

Juklak SPKM

Bab X Hasil

16 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait menilai dampak dari
hasil kerja BPK dan membandingkannya dengan ukuran kinerja
tersebut.

Penilaian

17 BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait menindaklanjuti


hasil penilaian tersebut.

Tindak lanjut

Badan Pemeriksa Keuangan

45

Juklak SPKM

Bab XI Kinerja Pemeriksaan

BAB XI
KINERJA PEMERIKSAAN
A. Kondisi yang Diinginkan
01 BPK merencanakan, melaksanakan, melaporkan hasil, memantau
tindak lanjut hasil, dan evaluasi pemeriksaan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan, standar pemeriksaan, kode etik, dan pedoman
pemeriksaan yang ditetapkan.

Kesesuaian dengan
peraturan, standar, kode
etik dan pedoman
pemeriksaan

B. Lingkup
02 Unsur SPM kesembilan adalah kinerja pemeriksaan (audit
performance). Kinerja pemeriksaan merupakan unsur penting dalam
rangka meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan.
Pengendalian mutu atas kinerja pemeriksaan meliputi pengendalian
mutu atas kegiatan pemeriksaan dari perencanaan sampai dengan
evaluasi pemeriksaan.

Kinerja pemeriksaan

03 BPK menetapkan pedoman pemeriksaan yang mengatur pemeriksaan


untuk setiap jenis pemeriksaan yang dilakukan. Pedoman tersebut
meliputi kode etik, standar pemeriksaan, manajemen pemeriksaan,
petunjuk pelaksanaan, dan petunjuk teknis pemeriksaan.

Pedoman
pemeriksaan

04 Komponen unsur SPM kinerja pemeriksaan meliputi:


1) perencanaan pemeriksaan;
2) pelaksanaan pemeriksaan;
3) supervisi dan reviu;
4) pelaporan hasil pemeriksaan dan pemantauan tindak lanjut;
5) pemantauan tindak lanjut pemeriksaan;
6) evaluasi pemeriksaan.

Komponen

05 Komponen unsur SPM kinerja pemeriksaan di atas dapat dilihat pada


Gambar 11.1 berikut:

Gambar 7.1

Badan Pemeriksa Keuangan

46

Juklak SPKM

Bab XI Kinerja Pemeriksaan

B. Perencanaan Pemeriksaan
06 Perencanaan pemeriksaan merupakan kegiatan dalam rangka
penyusunan program pemeriksaan (P2). BPK menugaskan pemeriksa
untuk menyusun P2 dalam rangka perencanaan pemeriksaan.
Kegiatan perencanaan pemeriksaan meliputi kegiatan sebagai berikut:

Kegiatan perencanaan
pemeriksaan

1) Pemahaman tujuan pemeriksaan dan harapan penugasan;


2) Pemahaman entitas yang diperiksa;
3) Penetapan dan penugasan;
4) Penentuan kriteria yang digunakan untuk menilai;
5) Pemantauan tindak lanjut hasil pemeriksaan sebelumnya;
6) Pemahaman sistem pengendalian intern (SPI);
7) Pemahaman dan penilaian risiko pemeriksaan;
8) Penetapan materialitas/signifikansi masalah;
9) Penentuan uji petik pemeriksaan (sampling); dan
10) Penyusunan program pemeriksaan dan program kerja perorangan
07 Tujuan pemeriksaan dan harapan penugasan harus didefinisikan
dan/atau diungkapkan dalam program pemeriksaan secara jelas serta
terukur dan didokumentasikan dalam kertas kerja pemeriksaan
(KKP). Hasil pemahaman tujuan pemeriksaan dan harapan penugasan
Tujuan pemeriksaan harus selaras dengan jenis pemeriksaan,
misalnya, tujuan pemeriksaan laporan keuangan adalah memberikan
opini kewajaran laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi
yang berlaku umum. Selain tujuan pemeriksaan, harapan penugasan
merupakan hal-hal yang harus dicapai terkait dengan pemeriksaan
dalam rangka mencapai tujuan pemeriksaan.

Tujuan pemeriksaan &


harapan penugasan

08 Perencanaan pemeriksaan harus meliputi pemahaman entitas yang


didokumentasikan di dalam kertas kerja pemeriksaan. Pemahaman
entitas meliputi:
1) faktor ektern seperti industri, peraturan perundang-undangan, dan
kerangka pelaporan keuangan;
2) sifat atau karakteristik entitas termasuk kebijakan akuntansi;
3) tujuan dan strategi serta risiko bisnis yang kemungkinan
berdampak salah saji material dalam laporan keuangan entitas;
dan
4) pengukuran dan reviu atas kinerja keuangan entitas.

Pemahaman entitas

Badan Pemeriksa Keuangan

47

Juklak SPKM

Bab XI Kinerja Pemeriksaan

09 BPK atau pimpinan satker pelaksana BPK yang diberikan kuasa oleh
BPK menetapkan dan menugaskan tim pemeriksa dengan
memperhatikan kebutuhan pemeriksaan, kompetensi yang
dibutuhkan, serta pemenuhan kode etik dan standar umum
pemeriksaan. Kebutuhan pemeriksaan diperoleh dari tahap
pemahaman tujuan dan harapan penugasan serta pemahaman entitas.
Kompetensi pemeriksa yang dibutuhkan meliputi kompetensi
keahlian yang dibutuhkan sesuai dengan database profil pemeriksa.
Pemenuhan kode etik dan standar umum pemeriksaan meliputi
pemenuhan integritas, independensi, benturan kepentingan,
kerahasiaan, dan kecakapan profesional. Apabila kebutuhan
pemeriksaan tersebut tidak dapat dipenuhi dari pelaksana BPK, BPK
menggunakan pemeriksa dan/atau tenaga ahli dari luar BPK yang
bekerja untuk dan atas nama BPK.
10 Perencanaan pemeriksaan harus menentukan kriteria yang digunakan
untuk menilai. Misalnya, pemeriksaan atas laporan keuangan
menggunakan kriteria standar akuntansi yang digunakan. Kriteria
tersebut diungkapkan dalam P2.
11 Perencanaan pemeriksaan harus menilai hasil pemantauan tindak
lanjut hasil pemeriksaan sebelumnya dan didokumentasikan di dalam
kertas kerja pemeriksaan. Apabila pemeriksaan merupakan
pemeriksaan yang pertama kali, maka pemeriksa dapat menggunakan
hasil pengawasan intern atau pemeriksaan dari pemeriksa lain untuk
mengidentifikasi permasalahan potensial.
12 Pemeriksa melakukan pemahaman sistem pengendalian intern (SPI)
entitas yang akan diperiksa dan didokumentasikan dalam KKP.
Pemahaman SPI entitas meliputi lima komponen SPI, yaitu
lingkungan pengendalian, penilaian risiko entitas, komunikasi dan
informasi, aktivitas pengendalian, dan monitoring.
13 Pemeriksa menilai risiko entitas baik pada tingkat entitas maupun
pada tingkat lebih rinci seperti untuk laporan keuangan pada tingkat
kelompok transaksi dan akun/perkiraan. Penilaian risiko tersebut
didokumentasikan dan digunakan pemeriksa untuk menentukan
lingkup dan prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan. Penilaian
risiko tersebut juga meliputi risiko keberlangsungan entitas
(khususnya untuk entitas berorientasi bisnis/usaha/ profit motives) dan
risiko salah saji karena kecurangan.
14 Pemeriksa menentukan batas materialitas dan/atau signifikansi
Kegiatan ini didokumentasikan dalam KKP.
15 Pemeriksa menentukan metode uji petik yang akan dilakukan setelah
mempertimbangkan langkah perencanaan pemeriksaan sebelumnya.
Penentuan teknik uji petik diungkapkan dalam KKP dan P2.

Badan Pemeriksa Keuangan

Penyusunan tim
pemeriksa sesuai
kebutuhan &
kompetensi, kode etik +
standar pemeriksaan

Penentuan kriteria

Pemantauan tindak
lanjut

Pemahaman
SPI

Penilaian risiko

Penentuan batas
materialitas/signifikansi
Penentuan metode
uji petik

48

Juklak SPKM

Bab XI Kinerja Pemeriksaan

16 Berdasarkan P2 yang telah disetujui, ketua tim menyusun jadwal


pemeriksaan yang memuat waktu tentatif yang dialokasikan untuk
melakukan pemeriksaan pada entitas yang bersangkutan. Jadwal
pemberitahuan tersebut disampaikan paling lambat tiga hari kerja
sebelum tim melaksanakan pemeriksaan lapangan.
17 Jadwal pemeriksaan yang disusun ketua tim menyatakan dengan jelas
jangka waktu pemeriksaan yang merupakan alokasi waktu yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan pemeriksaan mulai tahap
perencanaan hingga penyelesaian laporan untuk setiap pemeriksa.
18 Tortama atau Kalan menetapkan waktu penyampaian dan distribusi
Laporan Hasil Pemeriksaan dalam P2 yang telah disetujui. Waktu
penyampaian dan distribusi LHP tersebut dimuat dalam program
pemeriksaan.
19 BPK dan/atau pimpinan satker pelaksana BPK terkait menyetujui P2
dan menandatangani surat penugasan.

Jadwal pemberitahuan
pemeriksaan

Cakupan jadwal
pemeriksaan

Waktu penyampaian
dan distribusi laporan

Persetujuan P2 &
penugasan

20 Ketua tim pemeriksa membagi tugas dalam P2 kepada anggota tim


dengan menyetujui program kerja perorangan (PKP).

PKP

C. Pelaksanaan Pemeriksaan
21 Pemeriksa melaksanakan pemeriksaan di lapangan (audit fieldwork)
sebagai pelaksanaan P2 dengan melakukan pertemuan awal, prosedur
analitis, pengujian pengendalian (test of control), pengujian substantif,
penyusunan KKP, penyampaian temuan pemeriksaan (TP), dan
pertemuan akhir. Hal tersebut dilakukan dalam rangka pengumpulan
bukti yang cukup dan memadai untuk mendukung LHP.

Lingkup

22 Ketua tim pemeriksa melakukan pertemuan awal dengan pimpinan


entitas yang diperiksa. Dalam pertemuan tersebut, ketua tim
menjelaskan antara lain jenis, tujuan dan lingkup pemeriksaan, tim
pemeriksa, waktu pemeriksaan, dan dokumen yang diperlukan selama
pelaksanaan pemeriksaan. Ketua tim mendokumentasikan hasil
komunikasi awal dalam KKP berupa notulen pertemuan awal.

Pertemuan awal

23 Pemeriksa melakukan prosedur analitis atas data/informasi intern dan


ekstern yang relevan. Pengujian tersebut meliputi pengujian hubungan
perbandingan, tren, fluktuasi antardata/informasi yang tidak normal,
tidak lazim, dan kemungkinan terjadi penyimpangan. Hasil prosedur
analitis didokumentasikan pemeriksa dalam KKP.

Prosedur analitis

24 Pemeriksa melakukan pengujian pengendalian intern dan kepatuhan


terhadap ketentuan perundang-undangan. Hasil pengujian tersebut
didokumentasikan pemeriksa dalam KKP dengan didukung bukti-bukti
kompeten yang cukup.

Pengujian SPI &


kepatuhan

Badan Pemeriksa Keuangan

49

Juklak SPKM

Bab XI Kinerja Pemeriksaan

25 Pemeriksa melakukan pengujian substantif atas kelompok transaksi


atau akun/perkiraan atau kegiatan/program untuk menguji asersi atau
informasi yang dilaporkan atau dipertanggungjawabkan. Hasil
pengujian substantif didokumentasikan pemeriksa dalam kertas kerja
pemeriksaan dengan didukung bukti-bukti yang cukup.

Pengujian substantif

26 Pemeriksa menyusun konsep TP berdasarkan pelaksanaan pemeriksaan


yang dilakukannya yang telah didokumentasikan dalam KKP serta
reviu atau arahan dari ketua tim.

Penyusunan konsep
temuan pemeriksaan
oleh pemeriksa

27 Ketua tim menyusun konsep TP gabungan dan menyampaikannya pada


pimpinan entitas yang diperiksa untuk memperoleh tanggapan dari
pimpinan entitas yang diperiksa. TP merupakan bentuk komunikasi
awal atas hasil pemeriksaan (pekerjaan lapangan) dari ketua tim
pemeriksa kepada pimpinan entitas yang diperiksa.

Penyusunan konsep
temuan pemeriksaan
gabungan

28 TP tersebut mengungkapkan fakta atau kondisi dan kriteria serta akibat


dan sebab yang keseluruhannya mempunyai hubungan yang logis,
didukung bukti-bukti pemeriksaan, akurat, dan jelas

Isi temuan
pemeriksaan

29 TP yang diajukan harus memenuhi ketentuan mengenai materialitas


dan kesalahan yang dapat ditoleransi atau signifikansi masalah.

Pemenuhan
materialitas

30 Ketua tim dapat memperoleh tanggapan atas TP diberikan oleh


pimpinan entitas yang diperiksa secara tertulis. Tanggapan tersebut
digunakan sebagai pertimbangan ketua tim dalam penyusunan konsep
LHP.

Tanggapan

31 Ketua tim pemeriksa mengonsultasikan hasil pelaksanaan pemeriksaan


dengan tenaga ahli dari luar BPK apabila diperlukan, khususnya
terhadap bidang atau permasalahan di luar keahlian yang dimiliki oleh
pemeriksa. Kebutuhan tenaga ahli dari luar BPK tersebut dapat
direncanakan di dalam program pemeriksaan atau diusulkan di dalam
pelaksanaan pemeriksaan di lapangan kepada pemberi tugas melalui
pengendali teknis dan penanggung jawab. Apabila tenaga ahli dari luar
BPK telah disetujui dan ditugaskan, ketua tim mengonsultasikan hasil
pelaksanaan pemeriksaan kepada tenaga ahli tersebut yang hasilnya
didokumentasikan di dalam KKP.

Konsultasi dengan
tenaga ahli dari luar
BPK

32 Anggota tim pemeriksa mendokumentasikan hasil pelaksanaan


pemeriksaan dalam KKP secara sistematis sesuai dengan indeks dan
pedoman yang ditetapkan.

KKP

33 Kertas kerja pemeriksaan meliputi dokumentasi pelaksanaan P2 oleh


anggota tim pemeriksa, reviu oleh ketua subtim atau ketua tim, dan
bukti-bukti pendukung hasil kerja tersebut.

Isi KKP

34 Kertas kerja pemeriksaan harus memuat identitas BPK, nama dan


indeks KKP, waktu pelaksanaan, penyusun, tanggal dan paraf, pereviu,
tanggal dan paraf, hasil pelaksanaan pemeriksaan, dan simpulan serta
reviu.

Bentuk KKP

Badan Pemeriksa Keuangan

50

Juklak SPKM

Bab XI Kinerja Pemeriksaan

35 KKP dikelompokkan pemeriksa sesuai tahap pemeriksaan


(perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan) dan sifat dokumen
(current and permanent).

Pengelompokkan kertas
kerja pemeriksaan

36 KKP memiliki hubungan melalui referensi silang (cross reference)


terhadap informasi yang terkait terhadap TP dan LHP serta antartahap
pemeriksaan.

Cross reference
indeks KKP

37 Tim pemeriksa melaksanakan dan menyelesaikan pemeriksaan di


lapangan sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Hal tersebut dapat
dilihat pada penyampaian laporan atau dokumen sesuai dengan
pedoman pemeriksaan yang ditetapkan untuk pelaksanaan
pemeriksaan.

Pelaksanaan &
penyelesaian pekerjaan
lapangan

D. Supervisi & Reviu


38 Pekerjaan pemeriksaan disupervisi dan direviu yang mencakup
pengarahan kegiatan pemeriksa dan pihak lain yang terlibat dalam
perencanaan. Hasil supervisi dan reviu didokumentasikan dalam
KKP.

Supervisi dan reviu


perencanaan
pemeriksaan

39 Supervisi dan reviu juga dilakukan dalam pelaksanaan pemeriksaan di


lapangan. Supervisi dan reviu tersebut dilakukan secara berjenjang
oleh ketua tim, pengendali teknis, dan penanggung jawab
pemeriksaan. Hasil supervisi dan reviu tersebut didokumentasikan
dalam kertas kerja pemeriksaan.

Supervisi dan reviu


pelaksanaan
pemeriksaan

40 Ketua tim mensupervisi dan mereviu pekerjaan anggota tim


pemeriksa yang tertuang dalam KKP. Supervisi dan reviu yang
dilakukan ketua tim tersebut meliputi supervisi dan reviu pelaksanaan
P2, perolehan bukti pemeriksaan yang kompeten dan cukup,
kebenaran matematis dan akurasi angka, penyusunan KKP, dan
arahan ketua tim atas hasil kerja anggota tim. Hasil supervisi dan
reviu tertuang dalam KKP yang terkait.

Supervisi & reviu


ketua tim

41 Pengendali teknis mensupervisi dan mereviu pekerjaan ketua tim


terkait dengan pemenuhan unsur TP dan LHP, pemenuhan tujuan dan
lingkup pemeriksaan, serta aspek kebahasaan. Hasil supervisi dan
reviu tertuang dalam KKP terkait.

Supervisi & reviu


pengendali teknis

42 Penanggung jawab mensupervisi dan mereviu pekerjaan pengendali


teknis dan ketua tim pemeriksa terkait dengan pemenuhan terhadap
standar pemeriksaan (simpulan/opini, format, substansi), informasi
rahasia, dan unsur tindak pidana korupsi. Hasil supervisi dan reviu
tertuang dalam KKP terkait.

Supervisi & reviu


penanggungjawab

Badan Pemeriksa Keuangan

51

Juklak SPKM

Bab XI Kinerja Pemeriksaan

E. Pelaporan Hasil Pemeriksaan


43 Ketua tim menyusun konsep LHP berdasarkan TP dan pembahasan
dengan anggota tim pemeriksa atas TP tersebut serta reviu terhadap
pelaksanaan P2 dan KKP. Konsep LHP didokumentasikan dalam
KKP.

Penyusunan konsep
LHP

44 Ketua tim pemeriksa menyampaikan konsep LHP kepada pengendali


teknis untuk direviu. Konsep LHP yang telah direviu pengendali
teknis didokumentasikan ketua tim dalam KKP.

Konsep LHP &


pengendali teknis

45 Pengendali teknis menyampaikan konsep LHP kepada penanggung


jawab pemeriksaan untuk direviu dan disetujui.

Konsep LHP &


penanggung jawab

46 Penanggung jawab menyampaikan konsep LHP kepada pemberi tugas


untuk memperoleh persetujuan. Konsep LHP yang telah disetujui
disampaikan kepada pimpinan entitas yang diperiksa untuk
memperoleh tanggapan.

Konsep LHP &


pimpinan entitas

47

Tanggapan yang diperoleh dari pimpinan entitas ditelaah oleh ketua


tim dan diungkapkan dalam konsep LHP.

48 Apabila ketua tim pemeriksa tidak sependapat atas tanggapan, ketua


tim menyusun konsep ketidaksetujuan atas tanggapan tersebut dan
mengungkapkan dalam konsep LHP untuk direviu oleh pengendali
teknis dan penanggung jawab.
49 Khusus untuk laporan keuangan, penanggung jawab harus
memperoleh surat representasi yang dilampiri laporan keuangan dan
menggambarkan representasi resmi dan tertulis dari pimpinan entitas
atas berbagai keterangan, data, informasi, dan laporan keuangan yang
disampaikan selama proses pemeriksaan berlangsung. Surat tersebut
ditandatangani pimpinan entitas dan diberi tanggal yang sama dengan
tanggal pembahasan konsep LHP atau tanggal LHP.

Perolehan surat
representasi

50 LHP harus didistribusikan tepat pada waktu kepada pihak yang


berkepentingan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan dan/atau harapan penugasan atau kebijakan pemberi tugas
dan/atau P2. Jika hal yang diperiksa merupakan hal yang bersifat
rahasia, distribusi laporan tersebut dibatasi.

Penyampaian LHP
tepat waktu

51 LHP harus memuat informasi yang didukung oleh bukti yang cukup
dan kompeten serta relevan dalam kertas kerja. Pemeriksa harus
memastikan apakah bukti-bukti yang diperoleh telah dapat dijadikan
dasar yang memadai bagi penyusunan laporan hasil pemeriksaan agar
dapat memenuhi tujuan pemeriksaan. Keterampilan pemeriksa dalam
mendesain dan menerapkan metode yang dipilihnya merupakan kunci
untuk memastikan bahwa bukti yang diperoleh telah cukup,
kompeten, dan relevan. Bukti-bukti tersebut didokumentasikan dalam
KKP.

Bukti yang cukup dan


kompeten mendukung
LHP

Badan Pemeriksa Keuangan

52

Juklak SPKM

Bab XI Kinerja Pemeriksaan

52 LHP harus mudah dibaca dan dipahami. Laporan harus ditulis dengan
bahasa baku yang jelas dan sesederhana mungkin. Penggunaan
bahasa yang lugas dan tidak teknis sangat penting untuk
menyederhanakan penyajian. Selain itu, penggunaan bahasa laporan
yang menimbulkan adanya sikap membela diri dan menentang dari
entitas yang diperiksa juga harus dihindari.

Bahasa laporan :
bahasa baku

53 LHP harus memuat opini atau simpulan terhadap hasil pemeriksaan


tergantung pada jenis pemeriksaan yang dilakukan.

LHP memuat opini


atau simpulan

tujuan

Opini atau simpulan


menjawab tujuan

55 LHP memuat rekomendasi guna tindakan perbaikan sesuai dengan


jenis pemeriksaannya. Pimpinan entitas yang diperiksa bertanggung
jawab untuk menindaklanjuti rekomendasi serta menciptakan dan
memelihara suatu proses dan sistem informasi untuk memantau status
tindak lanjut atas rekomendasi tersebut.

LHP memuat
rekomendasi

56 Pemeriksa mempertimbangkan apakah sebab yang diungkapkan dapat


menjadi dasar pemberian rekomendasi. Dengan mengetahui sebab
suatu masalah, pemeriksa dapat membuat rekomendasi yang bersifat
membangun untuk perbaikan. Karena itu, pemeriksa dapat
menunjukkan dan menjelaskan kaitan antara masalah dan faktorfaktor yang diidentifikasi sebagai penyebab.

Rekomendasi
menghilangkan sebab

57 Cara yang paling efektif untuk menjamin bahwa suatu laporan hasil
pemeriksaan telah dibuat secara wajar, lengkap, dan objektif adalah
dengan mendapatkan reviu dan tanggapan dari pejabat yang
bertanggung jawab pada entitas yang diperiksa. Pemeriksa harus
meminta pejabat yang bertanggung jawab untuk memberikan
tanggapan secara tertulis. Tanggapan yang diperoleh tersebut harus
dievaluasi secara seimbang dan objektif.

Tanggapan pimpinan
entitas yang diperiksa

58 LHP harus menyatakan bahwa pemeriksaan telah dilakukan sesuai


standar pemeriksaan. Jika pemeriksa tidak dapat mengikuti standar
pemeriksaan, pemeriksa dilarang menyatakan hal tersebut. Dalam hal
demikian, pemeriksa harus mengungkapkan alasan tidak dapat
diikutinya standar pemeriksaan tersebut dan dampaknya terhadap
hasil pemeriksaan.

Pernyataan sesuai
standar pemeriksaan

59 LHP memuat gambaran umum pemeriksaan (dasar, tujuan, lingkup,


batasan, waktu, dan metodologi pemeriksaan), hasil pemeriksaan
rinci.

LHP memuat
gambaran umum
pemeriksaan

60 LHP memuat hasil pemeriksaan rinci yang memuat adanya kelemahan


dalam pengendalian intern, kecurangan, penyimpangan dari ketentuan
peraturan perundang-undangan, dan ketidakpatutan.

LHP memuat hasil


pemeriksaan rinci

54 Opini atau simpulan pemeriksaan harus menjawab


pemeriksaan berdasarkan prosedur yang disusun dalam P2.

Badan Pemeriksa Keuangan

53

Juklak SPKM

Bab XI Kinerja Pemeriksaan

61 BPK berperan dalam menyetujui dan menandatangani laporan hasil


pemeriksaan. BPK dapat memberikan atau mendelegasikan peran
tersebut kepada pejabat yang menerima atau mendapat kuasa secara
tertulis untuk menjadi penanggung jawab pemeriksaan sesuai dengan
kompetensi dan kualifikasi yang ditetapkan.

Penanda tangan LHP

62 Informasi rahasia yang dilarang oleh ketentuan peraturan perundangundangan untuk diungkapkan kepada umum tidak diungkapkan dalam
laporan hasil pemeriksaan. Namun, LHP harus mengungkapkan sifat
informasi tersebut dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
menyebabkan tidak dilaporkannya informasi tersebut.

Pengungkapan
informasi rahasia

63 Apabila berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh pemeriksa


menyimpulkan bahwa telah terjadi atau mungkin terjadi kecurangan
atau penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan
serta ketidakpatutan, pemeriksa harus melaporkan hal tersebut. Dalam
melaporkan kecurangan atau penyimpangan dari ketentuan peraturan
perundang-undangan, atau ketidakpatutan, pemeriksa harus
menempatkan temuan tersebut secara lugas dan jelas dalam perspektif
yang wajar.

Pengungkapan
kecurangan/penyimpan
gan/ketidakpatutan

64 Penyampaian laporan hasil pemeriksaan harus diadministrasikan


secara memadai baik secara manual maupun terkomputerisasi dengan
merekam data, nomor, dan tanggal LHP, tanggal LHP diterima
pemangku kepentingan dan pimpinan entitas.

Administrasi LHP

F. Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan


65 BPK dan/atau pempinan satker pelaksana BPK terkait
mengembangkan dan menyelenggarakan database pemantauan tindak
lanjut hasil pemeriksaan. Pengembangan database pemantauan tindak
lanjut dilakukan untuk mengelola data hasil pemeriksaan, tindak
lanjut oleh entitas yang diperiksa, dan pemantauan tindak lanjut
tersebut. Database tersebut digunakan untuk menyusun laporan
pemantauan tindak lanjut hasil pemeriksaan yang disampaikan BPK
kepada lembaga perwakilan. Database pemeriksaan tersebut dikelola
berdasarkan data berupa keterangan atau penjelasan tindak lanjut,
rencana tindak lanjut, hasil pembahasan tindak lanjut antara BPK dan
entitas yang diperiksa, hasil pemeriksaan tindak lanjut, dan hasil
pembahasan lembaga perwakilan dengan entitas yang diperiksa.

Database
pemantauan
tindak lanjut

66 Pimpinan satker pelaksana BPK terkait menyampaikan hasil


pemantauan tindak lanjut sebagai bahan penyusunan Ihktisar Hasil
Pemeriksaan Semesteran kepada Ditama Revbang dhi. Direktorat
Evaluasi dan Pelaporan Pemeriksaan.

Pelaporan pemantauan
tindak lanjut pada
Ditama Revbang

Badan Pemeriksa Keuangan

54

Juklak SPKM

Bab XI Kinerja Pemeriksaan

67 BPK melaporkan hasil pemantauan tindak lanjut kepada lembaga


perwakilan dan memuat laporan tersebut dalam website BPK.
Laporan pemantauan tindak lanjut disampaikan BPK dalam ikhtisar
hasil pemeriksaan semesteran kepada lembaga perwakilan. Setelah
laporan tersebut disampaikan kepada lembaga perwakilan, laporan
tersebut dimuat dalam website BPK sehingga laporan tersebut dapat
diakses oleh publik.

Penyampaian dan
pemuatan laporan hasil
pemantauan
tindak lanjut

68 Laporan hasil pemantauan tindak lanjut disampaikan tepat waktu


kepada pihak yang berkepentingan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan dan/atau harapan penugasan atau kebijakan
pemberi tugas dan/atau program pemeriksaan.

Waktu penyampaian
laporan

G. Evaluasi Pemeriksaan
69

Tim pemeriksa melakukan evaluasi secara mandiri pada setiap


pemeriksaan yang dilakukan. Evaluasi pemeriksaan secara intern tim
pemeriksa dilakukan berjenjang oleh ketua tim, pengendali teknis,
dan penanggung jawab. Hasil evaluasi tersebut harus
didokumentasikan dalam kertas kerja pemeriksaan.

Evaluasi intern tim


pemeriksa

70

Pimpinan satker pelaksana BPK di bidang pemeriksaan melakukan


evaluasi pemeriksaan secara silang (cross review) apabila diperlukan.
Evaluasi ini dilakukan oleh pemeriksa lain pada satker tersebut yang
tidak terlibat langsung pada pemeriksaan.

Pelaksanaan evaluasi
silang

71

Penilaian kinerja pemeriksaan juga dilakukan secara reguler oleh


pimpinan satker pelaksana BPK di bidang pemeriksaan dan
Inspektorat Utama (Itama). Di samping menilai kinerja pemeriksaan,
penilaian tersebut dilakukan untuk melihat pencapaian tujuan dan
harapan penugasan serta kesesuaian dengan standar dan pedoman
yang ditetapkan. Hasil penilaian tersebut harus didokumentasikan
dalam kertas kerja pemeriksaan dan digunakan untuk penyempurnaan
LHP, KKP, dan penilaian kinerja pemeriksa.

Penilaian kierja
pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

55

Juklak SPKM

Bagian III

BAGIAN III

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Bab XII SPKM

BAB XII
SISTEM PEMEROLEHAN KEYAKINAN MUTU BPK
A. Sistem Pemerolehan Keyakinan Mutu BPK
01

Seperti dijelaskan pada Bab I dan Bab II, Sistem Pemerolehan


Keyakinan Mutu (SPKM) BPK merupakan suatu sistem untuk mereviu
rancangan (desain) pengaturan SPM dan impelementasinya. Penilaian
SPM tersebut dapat dilakukan oleh Inspektorat Utama (Itama) selaku
satuan kerja pengawasan intern BPK, pihak lain yang ditunjuk untuk
melakukan peer review, atau oleh pemeriksa di dalam tim pemeriksa
dan/atau pejabat dalam satker pemeriksaan yang terkait dengan
penugasan pemeriksaan secara berjenjang sesuai dengan tugasnya.

02

Seperti dijelaskan sebelumnya pada Bab II, tujuan SPKM adalah


memperoleh keyakian yang memadai apakah SPM BPK:

Penilaian
SPM &
Tujuannya

Tujuan
SPKM

1) telah meliputi semua pengendalian yang diperlukan;


2) telah diterapkan secara tepat;
3) dapat memberikan keyakinan atas kualitas pemeriksaan

sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan


standar pemeriksaan; dan
4) dapat mengidentifikasi berbagai cara yang potensial untuk
memperkuat dan menyempurnakan SPM.
03 Sebagai suatu sistem, SPKM meliputi struktur, kebijakan, dan prosedur
untuk menilai pengaturan dan penyelenggaraan SPM. Struktur penilaian
atau reviu SPM adalah sebagai berikut:

Struktur
Penilaian
SPM

1) Badan selaku penilai secara umum SPM BPK.


2) Badan dapat menguasakan penilaian SPM tersebut kepada:
(a) Inspektur Utama (Irtama) BPK selaku pelaksana Badan di
bidang pengawasan intern terkait pelaksanaan SPM; dan
(b) Auditor Utama (Tortama) Keuangan Negara selaku pelaksana
Badan di bidang pemeriksaan terkait penilaian kinerja
pemeriksaan yang dilakukan pemeriksa.
3) Badan pemeriksa anggota organisasi badan pemeriksa dunia
melakukan penilaian atau peer review atas SPM BPK selama lima
tahun sekali.
04

Penilaian atau reviu terhadap SPM BPK meliputi kegiatan penilaian


reviu SPM dari perencanaan, pelaksanaan, pelaporan, pemantauan
tindak lanjut, dan evaluasi penilaian atau reviu SPM.

Badan Pemeriksa Keuangan

Prosedur kegiatan
penilaian SPM

56

Juklak SPKM

Bab XII SPKM

B. Perencanaan Penilaian SPM


05

Perencanaan penilaian SPM meliputi kegiatan-kegiatan sebelum


penilaian dilakukan. Perencanaan oleh Itama dilakukan sejak
penyusunan rencana kegiatan sebagai bagian dalam penyusunan
anggaran dan persiapan penilaian sampai dengan penetapan program
penilaian.

06

Rencana penilaian SPM oleh Itama atau oleh pihak luar dhi untuk peer
review diajukan sesuai dengan pengajuan anggaran Itama atau Ditama
Revbang. Rencana penilaian SPM kinerja pemeriksaan oleh
pimpinan satker pelaksana BPK bidang pemeriksaan (Auditorat
Keuangan Negara) dan/atau tim pemeriksa disesuaikan dengan
anggaran pemeriksaan masing-masing Auditorat Keuangan Negara
(AKN).

07

Rencana penilaian SPM meliputi kegiatan dan anggaran yang


dibutuhkan termasuk SDM dan prasarananya dengan memperhatikan
lingkup penilian. Lingkup penilaian meliputi keseluruhan unsur SPM
atau hanya salah satu atau beberapa unsur SPM, seperti kinerja
pemeriksaan. Di dalam setiap tahun, lingkup tersebut diusulkan oleh
Itama dan ditetapkan oleh Badan. Hal tersebut mempertimbangkan
ketentuan peer review sehingga dalam periode lima tahun, keseluruhan
unsur SPM dinilai paling tidak sekali.

08

Persiapan penilaian SPM oleh Itama meliputi kegiatan sebagai berikut:


1)
2)
3)
4)
5)
6)

pengumpulan data dan informasi obyek yang akan dinilai;


penetapan tim penilai dari penanggung jawab s.d anggota tim;
pemantauan tindak lanjut hasil penilaian sebelumnya;
pembicaraan awal dengan pimpinan objek yang akan dinilai;
penentuan kriteria penilaian;
pengidentifikasian risiko-risiko tidak terpenuhinya unsur SPM dan
implementasinya;
7) penentuan lingkup penilaian; dan
8) penyusunan program penilaian SPM.
09

Kualifikasi tim SPKM Itama adalah tim yang secara kolektif terdiri
dari orang yang memiliki:
1) pengalaman terhadap obyek yang direviu;
2) kemampuan analitis dan komunikasi; dan
3) kemampuan merancang dan mengelola (managerial).

Badan Pemeriksa Keuangan

Perencanaan
Penilaian
SPM

Pengajuan
rencana penilaian
SPM

Lingkup
Penilaian
SPM

Persiapan
Penilaian SPM
oleh Itama

Kualifikasi
tim SPKM

57

Juklak SPKM

Bab XII SPKM

10

Kualifikasi pengalaman terhadap obyek yang direviu dilihat dari


pengalaman pereviu sebelumnya, baik ketika melakukan reviu maupun
melakukan pekerjaan atas obyek yang direviu. Misalnya, tim reviu
yang ditugaskan untuk mereviu unsur SPM kinerja pemeriksaan secara
kolektif memiliki orang yang berpengalaman melakukan reviu tersebut
dan/atau melakukan pemeriksaan.

Kualifikasi
pengalaman

11

Kualifikasi kemampuan analitis dan komunikasi dilihat dari


kemampuan analitis dan komunikasi pada pelaksanaan reviu atau
tugas-tugas sebelumnya dan/atau rekomendasi dari atasan langsung
orang yang ditugaskan.

Kualifikasi
kemampuan analitis
& komunikasi

12

Kualifikasi kemampuan merancang dan mengelola (manajerial) dilihat


dari pengalaman dan pekerjaan sebelumnya baik di bidang fungsional
maupun di bidang struktural.

Kualifikasi
kamampuan
manajerial

13

Tim penilaian SPM yang dibentuk Itama terdiri dari penanggung


jawab, pengendali teknis, ketua tim, dan anggota tim. Setiap peran
tersebut memiliki tugas dan tanggung jawab yang berbeda-beda yang
disesuaikan dengan tugas dan tanggung jawab suatu tim pemeriksaan
pada umumnya.

Struktur
tim reviu Itama

14

Tim penilaian SPM yang dibentuk oleh Itama melakukan tugasnya


dengan terlebih dahulu menyusun suatu program penilaian SPM
disertai dengan konsep surat tugas penilaian SPM. Program penilaian
SPM ditandatangani oleh penanggung jawab dan disetujui oleh Irtama.
Kerangka program dapat dilihat pada Lampiran 12.1.

Program

15

Program yang telah disetujui Irtama disampaikan oleh Irtama kepada


Wakil Ketua beserta surat tugas untuk mendapatkan persetujuan.
Format surat tugas dapat dilihat pada Lampiran 12.2.

Pengajuan
program &
surat tugas

16 Persiapan penilaian SPM oleh pihak luar (peer review) dilakukan oleh
satker pelaksana BPK yang terkait dengan unsur-unsur SPM. Selain
itu, Itama menyiapakan anggaran, menyusun kerangka acuan kerja,
melakukan komunikasi dan hubungan dengan calon peer reviewer,
menyiapkan permintaan pertimbangan kepada Dewan Perwakilan
Rakyat, memproses pengadaan jasa, dan membentuk tim pendamping
peer review. Persiapan teknis peer review dilakukan secara independen
oleh pereviu dari badan pemeriksa yang ditunjuk.

Badan Pemeriksa Keuangan

Persiapan
Peer Review

58

Juklak SPKM

Bab XII SPKM

17 Persiapan penilaian SPM oleh pimpinan satker pelaksana BPK di


bidang pemeriksaan dan/atau tim pemeriksa terhadap unsur SPM
kinerja pemeriksaan dilakukan pada saat pemeriksaan (perencanaan
s.d. pemantauan tindak lanjut). Pimpinan satker pelaksana BPK di
bidang pemeriksaan atau penanggung jawab pemeriksaan dapat
menentukan bentuk penilaian kinerja pemeriksaan yang akan
dilakukan di dalam program pemeriksaan, seperti dilakukannya cross
review oleh pemeriksa lain di BPK dalam satu penanggung jawab atau
antar penanggung jawab.

Persiapan
Penilaian
Kinerja
Pemeriksaan

C. Pelaksanaan Penilaian SPM


18 Pelaksanaan penilaian SPM dilakukan dengan menilai pengaturan dan
penyelenggaraan SPM sesuai dengan petunjuk pelaksanaan yang
mengatur SPM dan program pemeriksaan untuk unsur SPM kinerja
pemeriksaan. Pelaksanaan penilaian SPM tersebut dapat dibedakan
antara pelaksanaan penilaian oleh Itama atau pihak lain dan oleh
pimpinan satker pelaksana BPK di bidang pemeriksaan atau tim
pemeriksaan.

Pelaksanaan
Penilaian SPM

19

Pelaksanaan pengujian SPM pada satker pelaksana BPK di bidang


pemeriksaan atau tim pemeriksa dilakukan dengan menguji KKP
dengan menggunakan kuesioner dan reviu dokumen. Setelah
pengujian KKP tersebut, maka KKP diberi tanda telah dilakukan
pengendalian mutu tingkat tim pemeriksa dan/atau pimpinan satker
pelaksana BPK di bidang pemeriksaan. Kuesioner dan tanda telah
dilakukan pengendalian mutu tingka tim pemeriksaan dan/atau
pimpinan satker pelaksana BPK di bidang pemeriksaan dapat dilihat
pada Lampiran 12.3 dan Lampiran 12.4.

Reviu tingkat
tim pemeriksa
dan/atau
tingka pimpinan
satker bidang
pemeriksaan

20

Pengujian pengaturan dan penyelenggaraan SPM dilakukan tim Itama


atau pihak lain melalui penyampaian kuesioner, wawancara, reviu
dokumen, dan pengamatan langung. Kuesioner unsur SPM yang perlu
diuji dapat dilihat pada Lampiran 12.5. Metode pengujian dan unsur
SPM dapat dilihat pada Lampiran 12.6. Reviu dokumen berupa KKP
harus memperoleh persetujuan pimpinan satker pelaksana BPK di
bidang pemeriksaan dan/atau penanggung jawab pemeriksaan terkait
sehingga tanda telah dilakukan pengendalian mutu tingkat tim
pemeriksa dan/atau pimpinan satker pelaksana BPK di bidang
pemeriksaan dapat dibuka. Setelah selesai reviu oleh tim Itama, KKP
dikembalikan, direviu, dan ditandai telah dilakukan pengendalian
intern tingkat tim pemeriksa, pimpinan satker pelaksana BPK di
bidang pemeriksaan, dan Itama.

Metode
pengujian

Badan Pemeriksa Keuangan

59

Juklak SPKM

Bab XII SPKM

21

Pelaksanaan penilaian SPM oleh Itama atau pihak lain dilakukan atas
seluruh atau sebagian unsur SPM tergantung pada program penilaian
atau kerangkan acuan kerja yang ditetapkan. Pelaksanaan penilaian
SPM tersebut meliputi antara lain keandalan desain SPM dan
keefektivan implementasi SPM. Pelaksanaan penilaian atas unsurunsur SPM secara rinci dapat dilakukan dengan mengidentifikasi
masing-masing unsur SPM. Hasil pelaksanaan penilaian SPM
didokumentasikan dalam kertas kerja penilaian SPM seperti terlihat
dalam Lampiran 12.7. Kertas kerja penilaian SPM tersebut direviu
secara berjenjang oleh ketua tim, pengendali teknis, dan penanggung
jawab. Kertas kerja yang terlah direviu penanggung jawab
disampaikan kepada Irtama dan diberikan tanda telah direviu.

Lingkup
pengujian

22

Hasil pelaksanaan penilaian berupa temuan-temuan penilaian SPM


yang memuat fakta atau kondisi, kriteria, akibat, dan sebab. Temuan
tersebut dibahas dengan pimpinan objek yang dinilai yang harus
memberikan tanggapan tertulis atas temuan dimaksud. Format temuan
dapat dilihat pada Lampiran 12.8.

Temuan

23

Pelaksanaan penilaian SPM oleh Itama atau pihak luar dimulai dan
diakhiri dengan diadakannya pertemuan resmi antara tim pereviu
berserta pimpinan objek yang dinilai. Setelah pertemuan awal, tim
penilaian SPM dari Itama melakukan pengumpulan bukti penilaian
melalui wawancara dan pereviuan dokumen yang diperoleh. Hasil
wawancara dan pereviuan dokumen tersebut digunakan untuk
penyusunan temuan penilaian SPM yang akan dibahas dengan
pimpinan objek yang direviu untuk memperoleh tanggapan.
Selanjutnya, pelaksanaan penilaian SPM diakhiri dengan pertemuan
akhir. Hasil pertemuan awal dan pertemuan akhir didokumentasikan
dalam suatu risalah yang ditandatangani oleh ketua tim.

Kegiatan
Pelaksanaan SPM

24

Pelaksanaan penilaian SPM kinerja pemeriksaan oleh pimpinan satker


pelaksana BPK di bidang pemeriksaan atau tim pemeriksa
dilaksanakan pada saat pemeriksaan. Hasil penilaian berupa hasil reviu
yang tertuang di dalam kertas kerja penilaian SPM. Pelaksanaan
penilaian kinerja pemeriksaan tersebut dilakukan dengan:

Pelaksaan
penilaian SPM

1) mengidentifikasi kinerja pemeriksaan melalui kuesioner seperti


Lampiran 12.3.
2) mereviu dokumentasi pemeriksaan atau kertas kerja pemeriksaan;
3) mewancarai pemeriksa yang ditugaskan.

Badan Pemeriksa Keuangan

60

Juklak SPKM

Bab XII SPKM

D. Pelaporan Penilaian SPM


25 Pelaporan hasil reviu dilakukan setelah tahap pelaksanaan baik oleh
Itama maupun oleh pihak luar yang melakukan peer review. Laporan
penilaian SPM oleh AKN atau tim pemeriksa tidak dibuat secara khusus,
tetapi terungkapkan hasil penilaiannya di dalam KKP.
26 Berdasarkan temuan dan tanggapan yang diperoleh, laporan hasil
penilaian SPM disusun oleh ketua tim penilaian SPM, dibahas dengan
pengendali teknis, dan disetujui oleh penanggung jawab, serta
disampaikan oleh penanggung jawab kepada Irtama.

Pelaporan
Penilaian SPM

Proses
Pelaporan
Penilaian
SPM

27 Laporan hasil penilaian SPM memuat simpulan keandalan desain SPM


dan keefektivan implementasi SPM. Apabila ditemukan permasalahan
terkait desain dan implementasi SPM, laporan memuat penjelasan
permasalahan tersebut dalam laporan setelah simpulan disertai dengan
tanggapan objek yang direviu dan saran perbaikannya.

Laporan

28

Laporan disampaikan oleh Irtama kepada pejabat setingkat eselon I


terkait obyek yang dinilai dengan tembusan kepada Wakil Ketua dan
Anggota Badan terkait. Laporan hasil penilaian SPM oleh Irtama dapat
disampaikan kepada pihak lain dengan persetujuan Badan. Kerangka
laporan dapat dilihat pada Lampiran 12.9.

Distribusi
Laporan
Penilaian
SPM

29

Laporan hasil peer review dari pihak luar disampaikan kepada Badan dhi
Ketua BPK. Penyampaian laporan tersebut kepada pihak luar BPK
seperti pimpinan DPR dilakukan berdasarkan persetujuan Badan.

Distribusi
Hasil Peer Review

E. Tindak Lanjut Hasil Penilaian SPM


30

Tindak lanjut hasil penilaian SPM menjadi tanggung jawab pimpinan


satuan kerja pelaksana BPK yang mengelola obyek yang dinilai atau tim
pemeriksa terkait penilaian kinerja pemeriksaan. Tindak lanjut tersebut
harus dijabarkan dengan rencana aksi dari pimpinan satker dimaksud
yang disetujui oleh pejabat eselon I dengan tembusan pada Anggota
Badan terkait. Tindak lanjut hasil penilaian dalam tim pemeriksa
langsung dilakukan dalam tahapan pemeriksaan dan terlihat pada KKP.

31

Tim pereviu Itama dapat memberikan penjelasan dan bantuan teknis


dalam pengembangan tindak lanjut yang akan dilakukan, baik hasil dari
penilaian oleh tim Itama maupun oleh pihak luar. Tindak lanjut penilaian
oleh pimpinan satker pelaksana BPK di bidang pemeriksaan atau tim
pemeriksa langsung dilakukan oleh tim pemeriksa dalam rangka
penyempurnaan KKP.
Badan Pemeriksa Keuangan

Tindak Lanjut

Bantuan
Tim Penilaian SPM

61

Juklak SPKM

Bab XII SPKM

F. Pemantauan Tindak Lanjut


31

Pemantauan tindak lanjut penilaian SPM dilakukan oleh Itama, Laporan


hasil pemantauan disampaikan oleh Irtama kepada Pejabat Eselon I
terkait dengan tembusan kepada BPK (Badan).

32

Pemantauan tindak lanjut oleh pimpinan satker pelaksana BPK di bidang


pemeriksaan atau tim pemeriksa dilakukan dalam proses pemeriksaan
yang tertuang di dalam kertas kerja pemeriksaan.

Pemantauan
Tindak Lanjut

G. Pengevaluasian Tim Penilaian SPM


33

Dalam rangka menilai kinerja tim penilaian SPM Itama maupun pihak
luar, pengevaluasan tim penilaian SPM dilakukan oleh Irtama dengan
laporan penilaian kinerja tim dari penanggung jawab dan meminta
pejabat setingkat Eselon I terkait umpan balik atas penilaian SPM yang
dilakukan oleh tim Itama dan pihak luar. Berdasarkan hal tersebut,
Irtama melakukan penilaian kinerja tim penilaian SPM yang bermanfaat
sebagai pertimbangan untuk penentuan tim penilaian SPM berikutnya.

34

Evaluasi penilaian SPM di dalam satker pelaksana BPK di bidang


pemeriksaan atau tim pemeriksa dilakukan selama proses pemeriksaan
sebagai bagian dari penilaian kinerja pemeriksaan.

Evaluasi
Kinerja
Penilaian
SPM

Evaluasi dalam
Proses Pemeriksaan

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA
KETUA,

Anwar Nasution

Badan Pemeriksa Keuangan

62

Juklak SPKM

Lampiran-lampiran

LAMPIRANLAMPIRAN

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Lampiran 12.1

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

PROGRAM REVIU INTERN


ATAS
SISTEM PENGENDALIAN MUTU1
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
PADA
AUDITORAT UTAMA KEUANGAN NEGARA I VII,
DIREKTORAT UTAMA BINBANGKUM DAN REVBANG,
SEKRETARIAT JENDERAL

DI
JAKARTA, DDDDDDDDDDDDDD

TAHUN ANGGARAN
YYYY
Nomor :

Tanggal :

Apabila reviu hanya dilakukan pada satu atau lebih unsur SPM, tulisan pada sampul disesuaikan oleh pereviu sesuai unsur SPM yang
direviu.
Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Lampiran 12.1

1. Latar Belakang
2. Tujuan Reviu
3. Dasar Hukum
4. Satuan Kerja Pelaksana yang Direviu
5. Lingkup Reviu
[unsur SPM yang direviu, kegiatan yang direviu, periode, dan batasan apabila ada]
6. Standar/Pedoman Reviu
7. Hasil Pemahaman Obyek yang Direviu
a. Organisasi & Tata Kerja
b. Unsur SPM Terkait
c. Hasil Reviu sebelumnya
d. Pemantauan Tindak Lanjut

8. Sasaran Reviu SPM

9. Kriteria Reviu SPM

10. Alasan Reviu SPM

11. Metodologi Reviu SPM


12. Pengarahan Reviu SPM

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Lampiran 12.1

13. Jangka Waktu Reviu SPM

JUMLAH HARI

NO.

URAIAN KEGIATAN

URUT

REVIU

PENANGGUNG
JAWAB

PENGENDALI
TEKNIS

KETUA TIM

1.

KETERANGAN

Pelaksanaan Reviu
a. Pertemuan awal
b. Penyebaran kuesioner
c. Wawancara
d. Reviu Dokumen
e. Pengamatan
f. Penyusunan temuan
g. Pembahasan
h. Penyampaian temuan
i. Pertemuan akhir

2.

Pelaporan Hasil Reviu:


a. Penyusunan konsep
b. Pembahasan
c. Penyusunan laporan
hasil reviu

Keterangan :
1.
Hari kerja
2.
Hari libur dan atau hari Minggu
3.
Perjalanan pergi atau pulang
Jumlah

=
=
=
=

hari
hari
hari
hari

Badan Pemeriksa Keuangan

ANGGOTA
TIM

Juklak SPKM

Lampiran 12.1

14. Susunan Tim dan Rincian Biaya Reviu SPM


SUSUNAN TIM REVIU
NO.
URUT

NAMA

GOLONGAN /

RINCIAN BIAYA
JUMLAH HARI

PANGKAT

LUMPSUM

TRANSPOR

LAINLAIN

JUMLAH

15. Kerangka Laporan Hasil Reviu SPM


16. Waktu Penyampaian Laporan Hasil Reviu
17. Distribusi Laporan Hasil Reviu
[Tempat, tanggal bulan tahun]
Penanggung Jawab,
[tandatangan]

[Nama]
[NIP]

Badan Pemeriksa Keuangan

KETERANGAN

Juklak SPKM

Lampiran 12.2

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

S U R A T

T U G A S

NOMOR : ....../ST/ ........../......../20.....

Berdasarkan Undang-Undang No. 15 Tahun 2006, Badan Pemeriksa Keuangan


memberi tugas kepada :
No.
1.
2.
3.
4.
5.

NAMA
XXXXXXXXX
YYYYYYYYY
ZZZZZZZZZZZ
AAAAAAAAA
BBBBBBBBBB

PERAN
Penanggung Jawab
Pengendali Teknis
Ketua Tim
Anggota Tim
Anggota Tim

WAKTU
(Hari)
X
Y
Z
A
A

untuk melakukan :
reviu atau penilaian desain dan implementasi sistem pengendalian mutu BPK pada satuan kerja
pelaksana BPK bidang pemeriksaan, penunjang, dan sekretariat jenderal yang terkait di Jakarta,
ddddddddddddd mulai tanggal .. s.d. tanggal
[tempat, tanggal bulan tahun]
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

Wakil Ketua,

..............................................
Tembusan :
1. Yth. Ketua;
2. Yth. Anggota I VII;
3. (Dst sesuai kebutuhan dan ketentuan)
.
Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Lampiran 12.3

LEMBAR SAMPUL

SISTEM PENGENDALIAN MUTU


KINERJA PEMERIKSAAN
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
ENTITAS PEMERIKSAAN
JENIS PEMERIKSAAN
TAHUN PEMERIKSAAN
TAHUN YANG DIPERIKSA

TIM PEMERIKSA
1. [nama penanggung jawab]
2. [nama pengendali teknis]

TANGGAL
[paraf masing-masing]

3. [nama ketua tim]

REVIU

Jika kesimpulan pada pertanyaan tertentu positif, tanda harus dimasukkan dalam
kolom Y (YA).
Jika kesimpulannya negatif, tanda harus dimasukkan pada kolom T (TIDAK), diikuti
dengan alasan/penjelasan yang tepat dalam kolom komentar. Misalnya, apabila ada
jawaban tidak, maka komentar harus diisi penjelasan yang masih dalam lingkup
memadai. Hal ini berarti ketua tim, pengendali teknis dan penganggung jawab
mengetahui dan menyadari adanya situasi seperti itu
Jika suatu pertanyaan tidak dapat diaplikasikan, tanda harus dimasukkan dalam
kolom Abstain (tidak dapat diaplikasikan), bersama dengan penjelasan yang memadai.
o

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

No

Lampiran 12.3

Unsur &
Komponen

1. Perencanaan
Pemeriksaan

Uraian

Instrumen yang
Digunakan
Untuk
Mengukur
- KKP

a.

Apakah pemeriksa
mendokumentasika tujuan &
harapan penugasan dalam
KKP?

b.

Apakah tujuan pemeriksaan


dan harapan penugasan telah
didefinisikan dan/atau
diungkapkan dalam P2 secara
jelas dan terukur?

- P2
- KKP

c.

Apakah tim pemeriksa telah


memenuhi kualifikasi yang
dibutuhkan sesuai dengan
tujuan & harapan penugasan?

- P2
- ST
- KKP

d.

Apakah pemeriksa
mendokumentasikan
pemahaman entitas yang
diperiksa dalam KKP?

- KKP

e.

Apakah kriteria yang


digunakan telah jelas?

- KKP
- P2

f.

Apakah kegiatan pemahaman


pengendalian intern
didokumentasikan di dalam
KKP?

- KKP

g.

Apakah kegiatan penilaian


risiko didokumentasikan dalam
KKP?

- KKP

h.

Apakah hasil pemahaman SPI


& penilaian risiko digunakan
untuk menyusun P2?

- KKP
- P2

i.

Apakah kegiatan penetapan


batas materialitas dan
signifikansi masalah
didokumentasikan dalam
KKP?

- KKP

j.

Apakah prosedur analitis awal


pemeriksaan keuangan
dilakukan & didokumentasikan
dalam KKP?

k.

Apakah P2 didokumentasikan
dalam KKP?

- KKP

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Abstain

Komentar

Juklak SPKM

No

Lampiran 12.3

Unsur &
Komponen

Uraian
l.

2. Pelaksanaan
Pemeriksaan

Apakah P2 memuat dasar,


tujuan, alasan, sasaran,
lingkup, metodologi, waktu,
biaya, tenaga pemeriksa,
kerangka dan distribusi laporan
hasil pemeriksaan, dan review
yang perlu dilakukan?

Instrumen yang
Digunakan
Untuk
Mengukur
- P2
- KKP

m. Apakah P2 yang disusun dan


ditetapkan oleh penanggung
jawab pemeriksaan?

n.

Apakah ada perubahan P2 dan


apakah perubahan tersebut
telah disetujui oleh
penanggung jawab dan
pemberi tugas?

P2
KKP

o.

Apakah fotokopi surat tugas


terdapat dalam KKP?

ST
KKP

a.

Apakah ketua tim pemeriksa


melakukan pertemuan awal
dengan pimpinan entitas yang
diperiksa?
b. Apakah ketua tim pemeriksa
melakukan pertemuan awal
dengan pimpinan entitas yang
diperiksa?

- Risalah
- KKP

c.

- KKP

Untuk pemeriksaan laporan


keuangan, apakah pemeriksa
melakukan prosedur analitis
rinci atas laporan keuangan
sebelum pengujian
pengendalian & substantif?

- Risalah
- KKP

d. Apakah tim pemeriksa


melakukan pengujian
pengendalian intern dan
kepatuhan terhadap ketentuan
perundang-undangan?

- KKP

e.

Apakah pemeriksa
mendokumentasikan hasil
pengujian pengendalian intern
dan kepatuhan dalam KKP?

- KKP

f.

Apakah pemeriksa melakukan


pengujian substantif atas
transaksi/saldo/kegiatan/obyek
yang diperiksa yang
didokumentasikan dalam
KKP?

- KKP

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Abstain

Komentar

Juklak SPKM

No

Lampiran 12.3

Unsur &
Komponen

Uraian
g.

Apakah KKP memuat hasil


pemeriksaan/pelaksanaan P2
dan kesimpulannya?

Instrumen yang
Digunakan
Untuk
Mengukur
- KKP

h. Apakah bukti pendukung yang


kompeten tersedia secara
cukup dalam KKP?

- KKP

i.

Apakah ketua tim pemeriksa


mengonsultasikan hasil
pelaksanaan pemeriksaan
dengan tenaga ahli dari luar
BPK apabila diperlukan
khususnya terhadap bidang
atau permasalahan di luar
keahlian yang dimiliki oleh
pemeriksa?

- P2
- Risalah
- KKP

j.

Apakah pemeriksa memeriksa


kewajiban kontijensi,
komitmen jangka panjang, dan
kejadian setelah tanggal neraca
pada pemeriksaan keuangan
sebelum menyusun TP?

- KKP

k.

Apakah tim pemeriksa


menyusun TP?

- TP
- KKP

l.

Apakah TP disusun
berdasarkan bukti yang
didokumentasikan dalam
KKP?

- KKP
- TP

m. Apakah pemeriksa
menggunakan referensi silang
dalam TP dan KKP?

- KKP
- TP

n. Untuk pemeriksaan keuangan,


apakah tim pemeriksa
menyusun skedul utama
laporan keuangan dan skedul
pendukungnya?

- KKP

o. Apakah pemeriksa membuat


penomoran indeks KKP?

p. Apakah pemeriksa
memberikan identitas KKP
yang jelas (nama
obyek/kegiatan, tahun yang
diperiksa?

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Abstain

Komentar

Juklak SPKM

No

Lampiran 12.3

Unsur &
Komponen

Uraian
q. Apakah pemeriksa
mengungkapkan identitasnya
sebagai penyusun KKP dan
tanggalnya?

3. Supervisi &
Reviu

Instrumen yang
Digunakan
Untuk
Mengukur
- KKP

r.

Apakah tim pemeriksa


memperoleh tanggapan dari
pimpinan entitas yang
diperiksa atas TP?

- Tanggapan
- KKP

s.

Apakah ketua tim pemeriksa


mendokumentasikan hasil
pelaksanaan pemeriksaan di
dalam kertas kerja
pemeriksaan secara sistematis
sesuai dengan indeks dan
pedoman yang ditetapkan?

- KKP
- Juklak KKP

t.

Apakah ketua tim pemeriksa


melakukan pertemuan akhir?

- KKP
- Risalah

u. Apakah tim pemeriksaan


melaksanakan dan
menyelesaikan pemeriksaan di
lapangan sesuai dengan waktu
yang ditetapkan?

- TP
- KKP

a.

- SPKN
- KKP

Apakah supervisi dan reviu


dilakukan terhadap
perencanaan pemeriksaan,
pelaksanaan program
pemeriksaan, pelaporan hasil
pemeriksaan dan hasilnya
didokmentasikan dalam KKP?

b. Apakah ketua tim melakukan


reviu terhadap KKP anggota
tim atas pelaksanaan P2?

- KKP

c.

- KKP

Apakah ketua tim mereviu


kebenaran matematis dan
akurasi angka?

d. Apakah ketua tim pemeriksa


memberikan persetujuan atau
arahan dalam KKP anggota
tim?

- KKP

e.

- KKP

Apakah pengendali teknis


mereviu pekerjaan tim terkait
unsur TP, tujuan, dan
kebahasaan?

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Abstain

Komentar

Juklak SPKM

No

Lampiran 12.3

Unsur &
Komponen

4. Pelaporan
Hasil
Pemeriksaan

Uraian
f.

Apakah penanggung jawab


mereviu pemenuhan SPKN
atas pekerjaan tim pemeriksa?

g.

Apakah hasil reviu ketua tim/


pengendali teknis/penanggung
jawab terlihat dalam KKP?

Instrumen yang
Digunakan
Untuk
Mengukur
- KKP

- KKP

h. Apakah ketua tim/pengendali


teknis/penanggung jawab
memberikan persetujuan
berupa paraf/lainnya dan
tanggal reviu dalam KKP?

- KKP

a.

Apakah ketua tim, pengendali


teknis, dan penanggung jawab
menyusun dan/atau mereviu
laporan hasil pemeriksaan
sesuai dengan peran yang
dimiliki berdasarkan temuan
pemeriksaan, bukti yang
diperoleh, dan tanggapan
pimpinan entitas?

- Reviu LHP
- KKP

b. Apakah penanggung jawab


pemeriksaan memperoleh
tanggapan dari pimpinan
entitas yang diperiksa atas
konsep laporan hasil
pemeriksaan? Khusus untuk
pemeriksaan atas laporan
keuangan, penanggung jawab
harus memperoleh surat
representasi atas laporan
keuangan yang disampaikan

- Tanggapan
pimpinan
entitas
- Surat
representasi
- KKP

c.

- LHP
- KKP

Apakah tanggapan pimpinan


entitas yang diperiksa dimuat
di dalam laporan hasil
pemeriksaan? Apakah apabila
penanggung jawab tidak
sepakat atas tanggapan
tersebut, penanggung jawab
telah menyampaikan
ketidaksetujuannya di dalam
laporan hasil pemeriksaan?

d. Apakah laporan hasil


pemeriksaan yang disampaikan
telah relevan (tepat waktu),
lengkap, akurat, obyektif,
meyakinkan, jelas, dan
seringkas mungkin, serta
menggunakan bahasa yang

- LHP
- Juklak
- Juknis

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Abstain

Komentar

Juklak SPKM

No

Lampiran 12.3

Unsur &
Komponen

Instrumen yang
Digunakan
Untuk
Mengukur

Uraian
sederhana, baku, dan mudah
dipahami pengguna laporan?

Pemantauan
Hasil Tindak
Lanjut
Pemeriksaan

e.

Apakah laporan hasil


pemeriksaan memuat opini
atau simpulan, pernyataan
bahwa pemeriksaan dilakukan
sesuai dengan standar
pemeriksaan, gambaran umum
pemeriksaan (dasar, tujuan,
lingkup, batasan, waktu, dan
metodologi pemeriksaan), hasil
pemeriksaan rinci?

LHP
SPKN
Juklak
Juknis

f.

Apakah hasil pemeriksaan


rinci antara lain meliputi hasil
pemeriksaan atas kelemahan
sistem pengendalian intern dan
ketidakpatuhan/penyimpanan
atau kecurangan terhadap
ketentuan perundangundangan, atau
ketidakpatutan?

LHP
SPKN
Juklak
Juknis
KKP

g.

Apakah laporan hasil


pemeriksaan ditandatangani
oleh Badan atau pemeriksa
yang ditugaskan Badan sebagai
penanggung jawab
pemeriksaan sesuai dengan
kompetensi dan kualifikasi
yang ditetapkan?

- Juklak
- Juknis
- LHP

h. Apabila ada informasi rahasia,


apakah laporan hasil
pemeriksaan mengungkapkan
sifat informasi dan ketentuan
yang mengatur hal tersebut?

LHP
SPKN
Juklak
Juknis

i.

Apakah BPK melaporkan hasil


pemeriksaan yang
mengandung kecurangan atau
penyimpangan ketentuan
perundang-undangan kepada
pihak yang berwenang?

- Juklak
- Juknis
- Bukti
pelaporan

a.

Apakah BPK dan pimpinan


satker pelaksana BPK terkait
mengembangkan dan
menyelenggarakan database
pemantauan tindak lanjut hasil
pemeriksaan?

- Database
pemantauan
tindak lanjut

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Abstain

Komentar

Juklak SPKM

No

Lampiran 12.3

Unsur &
Komponen

Uraian
b. Apakah BPK melaporkan hasil
pemantauan tindak lanjut
kepada lembaga perwakilan
dan pemuatan laporan tersebut
dalam website BPK?

Evaluasi
Pemeriksaan

a.

Apakah evaluasi pemeriksaan


secara intern tim pemeriksa
dilakukan oleh ketua tim,
sesuai dengan perannya?

Instrumen yang
Digunakan
Untuk
Mengukur
- Laporan
pemantauan
tindak lanjut
- Website BPK

SPKN
PMP
Juklak
Juknis
KKP

b. Apakah evaluasi pemeriksaan


secara intern tim pemeriksa
dilakukan oleh pengendali
teknis, sesuai dengan
perannya?
c.

Apakah evaluasi pemeriksaan


secara intern tim pemeriksa
dilakukan oleh penanggung
jawab sesuai dengan perannya?

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Abstain

Komentar

Juklak SPKM

Lampiran 12.4

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Lampiran 12. 5

LEMBAR SAMPUL

KUESIONER
SISTEM PENGENDALIAN MUTU
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
SATKER YANG DIREVIU

[tulis satker tingkat Es II pelaksana BPK]

PIMPINAN SATKER YANG DIREVIU

[tulis nama penanggung jawab]

TANGGAL REVIU

[tulis tanggal reviu dilakukan]

UNSUR SPM YANG DIREVIU

[tulis unsur SPM yang direviu]

TANDA TANGAN
PIMPINAN
SATKER
YANG DIREVIU

TANGGAL

PEREVIU,
1.

[nama penanggung jawab]

2.

[nama pengendali teknis]

3.

[nama ketua tim]

4.

[nama anggota tim yang bertugas]

[paraf masing-masing]

TANGGAL

Jika kesimpulan pada pertanyaan tertentu positif, tanda harus dimasukkan dalam
kolom Y (YA).
Jika kesimpulannya negatif, tanda harus dimasukkan pada kolom T (TIDAK), diikuti
dengan alas an/penjelasan yang tepat dalam kolom keterangan.
Jika suatu pertanyaan tidak dapat diaplikasikan, tanda harus dimasukkan dalam
kolom A (tidak dapat diaplikasikan), bersama dengan penjelasan yang memadai.

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Lampiran 12. 5

KUESIONER
INDEPENDENSI DAN KERANGKA HUKUM
No.
A.

Pertanyaan
Independensi

1 Apakah BPK (ketua, wakil ketua, dan anggota) dipilih oleh DPR?
Jika tidak, jelaskan.
2 Apakah terdapat pengaturan mengenai masa tugas BPK?
Jika ada, jelaskan berapa lama?
3 Apakah anggota BPK memiliki kekebalan hukum dalam melaksanakan
tugasnya?
Jika tidak, jelaskan
4 Apakah BPK mengajukan anggarannya langsung ke DPR tanpa melalui
Departemen Keuangan yang merupakan entitas yang diperiksa BPK
Independensi Keuangan?
5 Apakah BPK memiliki hak untuk menggunakan dan merealokasikan
dana yang diberikan kepada mereka kedalam suatu anggaran terpisah
sehingga dana tersebut dapat dianggap cukup pantas?
6 Apakah anggaran BPK direvi u dan disetujui oleh DPR?
Jika tidak, jelaskan
7 Apakah BPK memiliki kebebasan untuk menentukan bentuk struktur
organisasi dan proses fungsional tanpa intervensi pihak luar?
8 Apakah independensi Ketua BPK diatur dalam undang-undang atau
semacam hukum pemeriksaan?
Jika tidak, mohon berikan penjelasan tentang dasar independensi bagi
BPK
9 Apakah Ketua BPK dilindungi oleh hukum dalam kaitannya dengan
laporan pemeriksaan yang diterbitkannya?
Tolong sebutkan pasal hukum yang relevan tentang hal tersebut
10 Apakah prosedur penggantian Ketua BPK diatur dalam undang-undang
atau hukum?
11 Apakah Pemeriksa BPK independen dari entitas yang diperiksa (sebagai
contoh apakah pemeriksa BPK bekerja juga untuk entitas yang
diperiksa)?
12 Apakah penempatan, penugasan, dan jenjang karir pemeriksa BPK
dilaksanakan tanpa intervensi pihak luar?
B.

Mandat

13 Apakah terdapat ketentuan perundangan yang mengatur penunjukan


Ketua BPK?
14 Apa yang menjadi dasar hukum mandat BPK?
Badan Pemeriksa Keuangan

Komentar

Juklak SPKM

No.

Lampiran 12. 5

Pertanyaan
a.
b.
c.

Undang-Undang Dasar
Hukum khusus selain undang-undang
Lainnya (jelaskan)

15 Apakah BPK menyerahkan laporan periodik/tahunan ke DPR?


Jika tidak, jelaskan
16 Siapakah yang bertanggungjawab untuk menilai pencapaian mandat
BPK?
a. DPR
b. Presiden
c. Menteri Keuangan
d. Lainnya (jelaskan)
17 Apakah BPK memiliki kewenangan untuk memeriksa lembaga berikut
ini? (Beri tanda X pada lembaga yang diperiksa oleh BPK)
a. Pemerintah Pusat (termasuk kementerian negara/lembaga)
b. Legislatif/DPR
c. Mahkamah Agung
d. Badan Intelijen
e. Tentara Nasional
f. Kepolisian
g. Pemerintah Daerah (propinsi/kabupaten/kota)
h. Badan usaha milik negara/daerah
i. Lembaga bukan milik pemerintah, tetapi secara substansial didanai
oleh pemerintah
j. Lembaga asing yang memiliki kerjasama joint venture dengan
pemerintah
k. Lembaga swasta yang dikontrak pemerintah untuk melaksanakan
jasa publik
l. Lainnya ( sebutkan)
.
.
.
.
18 Apakah BPK memiliki kewenangan yang tak terbatas dalam mengakses
informasi?
19 Apakah terdapat ketentuan perundangan yang mengatur penunjukan
Ketua, Wakil Ketua dan Anggota BPK?
20 Apakah BPK memiliki mandat legislatif untuk melaksanakan
pemeriksaan berikut ini : (beri tanda X pada pemeriksaan yang
dilaksanakan oleh BPK)
a. Pemeriksaan terhadap laporan keuangan
b. Pemeriksaan Kepatuhan terhadap perundangan-undangan
c. Pemeriksaan kinerja
d. Pemeriksaan terhadap pelaksanaan suatu kegiatan yang sedang
berlangsung (misalnya, pemeriksaan dalam pelaksanaan suatu
proyek)
e. Pemeriksaan teknologi informasi
f. Pemeriksaan lingkungan
g. Pemeriksaan privatisasi
h. Lainnya (sebutkan)
.
.
.
.
Badan Pemeriksa Keuangan

Komentar

Juklak SPKM

No.

Lampiran 12. 5

Pertanyaan

21 Apakah pemeriksaan di atas secara khusus diatur dalam mandat BPK?


Jika tidak, jelaskan.
22 Apakah terdapat entitas yang tidak diperiksa oleh BPK?
Jika ada, sebutkan.
23 Apakah pemeriksa BPK memiliki wewenang yang tak terbatas atas
akses informasi?
Jika tidak,sebutkan.
24 Apakah terdapat peraturan perundang-undangan yang mengganggu
pelaksanaan mandat BPK?
25 Apakah BPK mengidentifikasi peraturan perundang-undangan yang
mengganggu pelaksanaan mandat BPK?
26 Apakah BPK melakukan upaya-upaya untuk menghilangkan atau
meminimalisasi gangguan pelaksanaan mandat tersebut oleh suatu
peraturan perundang-undangan? Sebutkan.
a. Judicial Review;
b. Sengketa kewenangan lembaga negara (state organs dispute);
c. Reviu undang-undang ke DPR (legislative review);
.
.

Badan Pemeriksa Keuangan

Komentar

Juklak SPKM

Lampiran 12. 5

KUESIONER
KEPEMIMPINAN & TATA KELOLA INTERN

No.
A.

Pertanyaan
Kepemimpinan dan Arahan

1 Apakah BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK telah menetapkan


arah yang tepat bagi organisasi seperti akuntabilitas, integritas, dan
keandalan?
2 Apakah BPK memiliki visi dan misi?
3 Apakah BPK memiliki tujuan jangka pendek dan jangka panjang?
Sebutkan.
.
.
.
.
.
4 Apakah BPK menekankan dan menjanjikan peningkatan
berkelanjutan?
5 Apakah BPK memiliki standar kualitas dan peningkatan
berkelanjutan?
6 Apakah BPK terus mengarahkan pegawai untuk mematuhi standar dan
prosedur yang telah ditetapkan dan memacu mereka memberikan
usaha terbaik demi mendapatkan kualitas terbaik?
B.

Perencanaan Strategis dan Operasional


7 Apakah BPK memiliki perencanaan strategis?
8 Apakah BPK memiliki standar operasional?
9 Apakah perencanaan tersebut mencapai tujuannya?

10 Apakah terdapat mekanisme untuk mengukur pencapaian tersebut?


11 Apakah para pegawai dari berbagai jenjang posisi peduli terhadap
perencanaan tersebut?
12 Apakah BPK dan/atau pimpinan satker pelaksana BPK memiliki suatu
sarana berupa pembinaan dan pemantauan untuk perolehan keyakinan
mutu dengan pejabat di bawahnya mengenai pelaksanaan pemeriksaan
di unitnya masing-masing?
13 Apakah BPK dan dan/atau pimpinan satker pelaksana BPK
memutuskan tema atau strategi pemeriksaan yang harus dilaksanakan?
14 Apakah BPK dan/atau pimpinan satker pelaksana BPK menentukan
persyaratan kualitas minimum dalam pelaksanaan pemeriksaan?

Badan Pemeriksa Keuangan

Komentar

Juklak SPKM

No.

Lampiran 12. 5

Pertanyaan

15 Apakah kepala satker pelaksana BPK bidang pemeriksaan di setiap


jenjang memelihara dan meningkatkan kualitas pekerjaan melalui
perencanaan peningkatan kualitas dengan mempertimbangkan faktorfaktor kualitas seperti :
a. Pelatihan
b. Implementasi pengetahuan baru
c. Manajemen tindak lanjut pemeriksaan
d. Rekrutmen/penempatan atau pembinaan pegawai baru
e. Penggunaan pejabat dan staff kompeten
f. Peningkatan kualitas rekomendasi pemeriksaan
g. Perencanaan peningkatan kemampuan individual pemeriksa
h. Perencanaan kompetensi untuk fungsi pemeriksaan
i. Sistem untuk pemahaman organisasi
16 Apakah BPK dan/atau pimpinan satker pelaksana BPK berusaha
membudayakan kualitas melalui alat sebagai berikut :
a. Dialog formal dan informal/pembinaan
b. Pernyataan misi
c. Buletin/majalah
d. Notulen Rapat
17 Apakah pimpinan satker pelaksana BPK di setiap jenjang melakukan
pembahasan perolehan keyakinan mutu dengan pimpinan masingmasing mengenai pekerjaan pemeriksaan yang telah dilaksanakan
dengan mmpertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
a. Diskusi yang dilakukan selama pekerjaan pemeriksaan
b. Diskusi mengenai temuan pemeriksaan
c. Keterlibatan tim dalam diskusi
18 Apakah kebijakan dan prosedur BPK tentang penilaian kinerja,
kompensasi, dan promosi telah didesain untuk menunjukkan bahwa
BPK mempunyai komitmen untuk meningkatkan kualitas?
C.

Pengawasan dan Pertanggungjawaban

19 Apakah terdapat mekanisme untuk menilai apakah BPK telah


melaksanakan kewajibannya sesuai ketentuan perundang-undangan
melalui mekanisme berikut:
a. Survei
b. Studi
c. Reviu Sejawat (peer review)
d. Umpan balik dari DPR
e. Penelitian
f. Pengawasan intern
20 Apakah BPK memiliki satker pengawasan intern?
21 Apakah uraian tugas satker pengawasan intern telah jelas diatur?
22 Apakah BPK mempunyai laporan tentang kinerja?
23 Apakah BPK menerbitkan laporan tahunan?
24 Apakah BPK menerbitkan laporan tahunannya kepada publik?
Badan Pemeriksa Keuangan

Komentar

Juklak SPKM

No.

Lampiran 12. 5

Pertanyaan

25 Jika ya, apakah penerbitan laporan di atas dilakukan melalui media


berikut:
a. Website
b. Surat kabar
c. Diedarkan kepada pemangku kepentingan (stakeholders).
26 Apakah laporan kinerja BPK diperiksa?
27 Apakah keuangan BPK diperiksa oleh pihak ekstern?
28 Apakah BPK secara sukarela berpartisipasi dalam peer review?
D.

Kode Etik

29 Apakah terdapat kode etik, yang disesuaikan dengan lingkungan BPK,


untuk menindaklanjuti issue dalam kode etik INTOSAI?
30 Apakah kode etik tersebut mengikat?
31 Apakah prosedur untuk menjamin kode etik tersebut mengikat?
32 Apakah BPK menjamin bahwa seluruh pemeriksa mematuhi
persyaratan BPK mengenai integritas, objektivitas, kompetensi
profesional, dan penggunaan keahlian secara profesional?
E.

Pengendalian Intern

33 Apakah BPK memiliki sistem pengendalian intern yang memadai?


34 Apakah BPK mengadopsi standar internasional dalam mendesain
sistem pengendalian intern tersebut?
Jika ya, sebutkan standar internasional yang diadopsi
............................................................................................
............................................................................................
............................................................................................
35 Apakah BPK telah mensosialisasikan sistem pengendalian intern
tersebut kepada para pelaksananya?
36 Apakah BPK dan/atau pimpinan satker pelaksana BPK melakukan
pemantauan terhadap kepatuhan pengendalian intern?
37 Apakah BPK memiliki unit khusus yang bertugas untuk memantau
kepatuhan pelaksanaan sistem pengendalian intern?
F.

Sistem Pemerolehan Keyakinan Mutu

38 Apakah BPK memiliki sistem pemerolehan keyakinan mutu?


39 Sejauh mana BPK mengimplementasikan sistem pemerolehan
keyakinan mutu dalam pelaksanaan tugas BPK?

Badan Pemeriksa Keuangan

Komentar

Juklak SPKM

No.

Lampiran 12. 5

Pertanyaan

40 Apakah terdapat unit khusus yang bertanggungjawab atas sistem


pemerolehan keyakinan mutu?
41 Apakah sistem pemerolehan keyakinan mutu tersebut mencakup
semua dimensi organisasi BPK?
42 Apakah hasil pemerolehan keyakinan mutu digunakan untuk
meningkatkan kinerja BPK?
43 Apakah BPK memiliki manual sistem pemerolehan keyakinan mutu?
44 Apakah rencana reviu pengendalian mutu diajukan tepat waktu?
45 Apakah rencana reviu tersebut sesuai dengan strategi pada file yang
telah dipilih (dengan pengamatan terhadap profil risiko pemeriksaan)?
46 Apakah rencana reviu tersebut telah sesuai dengan strategi yang telah
diidentifikasi dan dipilih oleh pereviu?
47 Apakah seluruh pereviu telah melalui pendidikan yang cukup?
48 Dapatkah seluruh pereviu membuktikan bahwa mereka telah
menjalani pendidikan berkelanjutan sehingga keahlian mereka dapat
dikatakan mutakhir?
49 Apakah area yang telah dipilih mencakup berbagai variasi file?
50 Apakah telah terdapat penanganan yang memadai dalam menjamin
kerahasiaan file yang telah dipilih?
51 Apakah reviu dilaksanakan sesuai dengan rencana?
52 Apakah reviu dilaksanakan menggunakan kuesioner yang telah
disiapkan sebelumnya?
53 Apakah hasil setiap reviu didiskusikan dengan pimpinan satker
pelaksana BPK yang direviu?
54 Apakah seluruh permasalahan yang ditemukan setelah reviu dapat
diselesaikan?
55 Apakah hasil dari reviu telah disiapkan rencana aksinya, yaitu
dimasukkan dalam rencana strategis unit?
56 Apakah bukti tindak lanjut dari hasil reviu periode sebelumnya dapat
ditunjukkan?
57 Apakah laporan tahunan yang disiapkan menjelaskan hal sebagai
berikut :
a. Deskripsi prosedur pengawasan yang dilaksanakan
b. Kesimpulan akhir
c. Deskripsi dari kekurangan yang berulang-ulang dan signifikan
Badan Pemeriksa Keuangan

Komentar

Juklak SPKM

No.

Lampiran 12. 5

Pertanyaan
d.

Tindak lanjut yang dilaksankan untuk mengatasi kekurangan


tersebut

58 Apakah terdapat lembaga independen yang melakukan evaluasi


tahunan terhadap program sistem pemerolehan keyakinan mutu BPK?

Badan Pemeriksa Keuangan

Komentar

Juklak SPKM

Lampiran 12. 5

KUESIONER
MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA

No.
A.

Pertanyaan
Umum

1 Apakah BPK memilik unit, seksi, atau orang yang bertanggungjawab


atas manajemen SDM?
2 Apakah BPK memiliki kebijakan manajemen SDM dalam proses
berikut ini : (Beri tanda X)
a. Rekruitmen
b. Retensi
c. Pelatihan dan pembangunan kapasitas
d. Penilaian dan manajemen kinerja
e. Kesejahteraan
f. Pengembangan karir
3 Apakah BPK memiliki tugas dan fungsi yang jelas untuk setiap posisi
dalam struktur organisasi?
4 Apakah tugas dan fungsi tersebut selalu dimutakhirkan?
B.

Rekrutmen dan Penempatan


5 Dalam perekrutan pegawai, apakah BPK memiliki kualifikasi minimal
untuk setiap posisi/jabatan?
6 Apakah setiap posisi mensyaratkan standar pengetahuan tetentu?
7 Apakah BPK telah mangadopsi kebutuhan kualifikasi untuk setiap
level jabatan yang berbeda?
8 Apakah terdapat kompetensi dan kemampuan yang cukup untuk
melaksanakan mandat BPK?
9 Apakah rekrutmen dilaksanakan dengan cara yang memungkinkan
BPK mencukupi kebutuhan pemeriksaannya dengan
mempertimbangkan hal-hal seperti lowongan kerja, tingkat keahlian,
rotasi pegawai, dan sebagainya?

10 Dalam keadaan kekurangan tenaga pemeriksa, apakah BPK


memungkinkan menggunakan tenaga pemeriksa dari luar untak
bekerja dengan dan atas nama BPK?
C.

Retensi

11 Dalam kondisi BPK membutuhkan tenaga ahli yang tidak dapat


direkrut dengan menawarkan gaji standar, BPK dapat memberikan
penawaran gaji di atas standar kepada tenaga ahli tersebut?
12 Apakah merekrut tenaga ahli merupakan suatu permasalahan?
13 Apakah BPK memiliki mekanisme pemberian intensif untuk tenaga
ahli tersebut?
Badan Pemeriksa Keuangan

Komentar

Juklak SPKM

No.

Lampiran 12. 5

Pertanyaan

14 Manakah dari berikut ini jenis intensif yang disediakan oleh BPK:
a. Pemberian penghargaan Pemeriksa Terbaik Tahun Ini
b. Sertifikasi Kinerja Memuaskan
c. Remunerasi Keuangan
d. Insentif dan Promosi berdasarkan penilaian kinerja
e. Insentif lain (sebutkan)
.
.
.
D

Pelatihan & Pembangunan Kapasitas

15 Apakah BPK memiliki kebijakan untuk pelatihan dan pengembangan


kapasitas SDM untuk mengikuti perkembangan terkini terkait
pelaksanaan pekerjaannya, yang meliputi:
a. identifikasi-analisis-penetapan kebutuhan pelatihan,
b. pengukuran keberhasilan pelatihan,
c. perencanaan SDM,
d. perencanaan karir,
e. tingkat pemanfaatan peserta pelatihan dalam tugas pemeriksaan,
f. tingkat pemanfaatan hasil pelatihan di lapangan,
g. penggunaan pedoman pemeriksaan,
h. evaluasi tingkat pengetahuan pelaksana BPK,
i. evaluasi keefektivan pelatihan,
j. perencanaan pelatihan untuk setiap pelaksana BPK,
k. magang (on the job training/secondment)
l. dokumentasi pelatihan, dan
m. perancangan tim pemeriksa sesuai dengan kebutuhannya.
16 Apakah BPK telah membentuk satker pelaksana BPK yang memiliki
fungsi pelatihan dan pengembangan kapasitas SDM?
17 Apakah identifikasi-analisis-penetapan kebutuhan pelatihan
dikomunikasikan kepada satker pelaksana BPK di bidang pelatihan
dan pengembangan kapasitas SDM?
18 Apakah satker pelaksana BPK di bidang pelatihan dan pengembangan
kapasitas SDM merencanakan pelatihan di atas dalam rencana kerja
tahunannya?
19 Apakah satker pelaksana BPK di bidang pelatihan dan pembangunan
kapasitas telah memiliki dan menyelenggarakan program pelatihan
dan pengembangan kapasitas orientasi? Sebutkan.
............................................................................
............................................................................
............................................................................
20 Apakah satker pelaksana BPK bidang pelatihan dan pembangunan
kapasitas memiliki dan menyelenggarakan program pelatihan teknis?
Sebutkan.
............................................................................
............................................................................
............................................................................
21 Apakah satker pelaksana BPK bidang pelatihan dan pembangunan
kapasitas memiliki dan menyelenggarakan program pelatihan
manajerial? Sebutkan.
............................................................................
............................................................................
............................................................................
Badan Pemeriksa Keuangan

Komentar

Juklak SPKM

No.

Lampiran 12. 5

Pertanyaan

22 Apakah BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait menetapkan


ukuran kesuksesan rencana pelatihan?
23 Apakah BPK dan/atau pimpinan satker pelaksana BPK terkait dengan
pelatihan dan pembangunan kapasitas mengevaluasi tingkat
keefektivan program pelatihan dan pembangunan kapasitas untuk:
a. peningkatan pengetahuan dan keahlian
b. pemanfaatan pelaksanaan tugas
c. pengembangan karir
d. pemenuhan standar pendidikan profesional berkelanjutan
e. pemenuhan kebijakan pelatihan satker pelaksana BPK?
24 Apakah BPK dan/atau pimpinan satker pelaksana BPK mendorong
pegawainya untuk aktif dalam organisasi profesi?
25 Apakah BPK dan/atau pimpinan satker pelaksana BPK memberikan
kesempatan pegawainya untuk memperoleh pengalaman dengan
bekerja pada lembaga lain yang terkait dengan peningkatan
kapasitasnya?
26 Apakah BPK dan/atau pimpinan satker pelaksana BPK memberikan
kesempatan pegawainya untuk membangun kapasitasnya melalui
pertukaran pengalaman, pembahasan laporan, dan bantuan teknis atau
pelatihan dengan badan pemeriksa negara lain?
27 Apakah BPK dan/atau pimpinan satker pelaksana BPK terkait
mengembangkan dan menyelenggarakan pengelolaan database hasil
pelatihan dan pembangunan kapasitas SDM melalui sistem knowledge
sharing?
E.

Penilaian & Manajemen Kinerja

28 Apakah BPK memiliki sistem penilaian dan manajemen kinerja yang


berbasis kinerja?
29 Apakah sistem tersebut mengatur remunerasi dihubungkan dengan
kinerja?
30 Apakah sistem tersebut mengatur penilaian kinerja individual
pegawai?
31 Apakah sistem tersebut memungkinkan pegawai membicarakan
tuntutan kinerjanya dengan penyelia atau atasan langsungnya?
32 Apakah BPK menetapkan satker pelaksanan BPK yang berfungsi
menilai dan mengelola kinerja?
33 Apakah sistem penilaian kinerja dilaksanakan secara berkala?
34 Apakah sistem tersebut mengatur pemberian penghargaan bagi
pegawai yang berprestasi?

Badan Pemeriksa Keuangan

Komentar

Juklak SPKM

No.
F.

Lampiran 12. 5

Pertanyaan
Kesejahteraan

35 Apakah BPK memiliki sistem kesejahteraan pegawai dalam bentuk:


a. Gaji dan tunjangan
b. Kesejahteraan dan fasilitas lain:
1) Program kesehatan
2) Kegiatan sosial
3) Fasilitas rekreasi dan olahraga
4) Program kebugaran
5) Perumahan
6) Pelayanan konseling
7) Lainnya (jelaskan)
.
.
c. Lingkungan (kerja) kondusif
G.

Pengembangan Karir

36 Apakah BPK mengembangkan dan menetapkan sistem pengembangan


karir pegawainya?
37 Apakah sistem pengembangan karir tersebut terkait dengan hal-hal
berikut:
a. Pendidikan
b. Pelatihan dan pembangunan kapasitas
c. Pengalaman kerja
38 Apakah BPK menyediakan pengembangan karir yang disediakan BPK
bagi para pegawainya melalui hal-hal sebagai berikut:
a. Seminar dan lokakarya
b. Kursus profesional pada lembaga pendidikan
c. Umpan balik terhadap kinerja pekerjaan
d. Promosi berdasarkan prestasi kerja
e. Sertifikasi keahlian atau spesialisasi
f. Umpan balik kinerja dan pelatihan
g. Rotasi jabatan
h. Pendidikan profesional berkelanjutan
i. Pengembangan diri
j. Konseling karir mengenai penugasan yang menantang dan
kemungkinan untuk peningkatan dan penggunaan kemampuan
yang dimiliki.
k. Teknik dan program penilaian untuk membantu pegawai
mengetahui minat, bakat, dan kemampuan serta informasi yang
berhubungan dengan karir
39 Apakah BPKdan pimpinan satker BPK terkait mengidentifikasi dan
mengevaluasi kesenjangan kemampuan teknis, standar kompetensi,
dan pengembangan karir?
40 Jika jawaban atas pertanyaan di atas ya, apakah BPK dapat
menyelesaikan kesenjangan tersebut?
41 Apakah BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait memiliki
kriteria yang berbasis kinerja untuk mempromosikan pegawai?

Badan Pemeriksa Keuangan

Komentar

Juklak SPKM

Lampiran 12. 5

KUESIONER
STANDAR DAN METODOLOGI PEMERIKSAAN
No.
A.

Pertanyaan
Standar Pemeriksaan

1 Apakah BPK secara formal mengadopsi standar pemeriksaan


internasional?
2 Siapa yang menetapkan standar pemeriksaan
a. KetuaBPK
b. BPK
c. Organisasi Profesi
d. Menteri Keuangan
e. Lainnya (sebutkan)
.
3 Apakah standar tersebut sesuai dengan standar internasional (seperti
IFAC, INTOSAI, atau standar internasional lainnya)?
4 Apakah BPK memiliki kebijakan untuk mengharuskan penggunaan
standar pemeriksaan bagi setiap pemeriksa keuangan negara?
5. Apakah BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait
menyebarkan, men-sosialisasikan, dan melakukan pelatihan yang
cukup kepada pemeriksa atas standar pemeriksaan?
6. Apakah materi dan pelaksanaan standar tersebut dipantau, dievaluasi
dan diperbaharui setiap periode tertentu?
B.

Metodologi Pemeriksaan

7. Apakah BPK memiliki manual atau pedoman pemeriksaan untuk


memandu pemeriksa dalam lingkungan pemeriksaan yang berbedabeda :
a. Pemeriksaan keuangan
b. Pemeriksaan kinerja
c. Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu
8. Apakah manual tersebut sesuai dengan standar yang telah ditetapkan?
9. Apakah BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait
menyebarkan, men-sosialisasikan, dan melakukan pelatihan yang
cukup kepada pemeriksa atas pedoman pemeriksaan?
10. Apakah pedoman pemeriksaan tersebut menguraikan metodologi
pemeriksaan termasuk langkah dan bentuk dokumentasinya?
11. Apakah seluruh pegawai memiliki akses terhadap pedoman
pemeriksaan tersebut?
12. Apakah pedoman pemeriksaan tersebut selalu dipantau, dievaluasi,
dan diperbaharui setiap periode tertentu?

Badan Pemeriksa Keuangan

Komentar

Juklak SPKM

Lampiran 12. 5

KUESIONER
DUKUNGAN KELEMBAGAAN
No.
A.

Pertanyaan
Keuangan

1. Apakah BPK memiliki dukungan keuangan untuk melaksanakan


mandat, tugas, dan kewenangannya sesuai dengan peraturan
perundang-undangan?
2. Apakah BPK memiliki perencanaan keuangan jangka pendek yang
dialokasikan ke satker sesuai dengan rencana strategis, kebijakan dan
strategi pemeriksaan, dan rencana kerja atau kegiatan?
3. Apakah proses penganggaran terpadu dengan rencana kerja tahunan?
4. Apakah praktik keuangan di BPK merupakan gambaran praktik
keuangan ideal terkait dengan optimalisasi penggunaan anggaran dan
pertanggungjawabannya dalam laporan keuangan?
5. Apakah jumlah staf BPK yang berlatar manajemen keuangan telah
mencukupi secara kualitas dan kompetensi?
6 Apakah BPK melaksanakan pencatatan dan pembukuan keuangan?
7. Apakah laporan keuangan BPK digunakan untuk tujuan perencanaan
dan reviu?
8. Apakah BPK dan satker pelaksana BPK terkait melakukan reviu
secara periodik pelaksanaan anggaran dan pertanggungjawabannya?
B.

Infrastruktur

9. Apakah BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait menetapkan


standar infrastuktur yang memungkinkan pelaksanaan pekerjaan
secara memadai?
10. Apakah kantor BPK memiliki gedung sendiri?
11. Apakah gedung tersebut mencukupi kebutuhan BPK?
12. Apakah kondisi pencahayaan di gedung BPK cukup baik?
13. Apakah BPK memiliki fasilitas yang memadai?
a. Sistem Multimedia
b. Proyektor
c. Komputer
d. Telepon
e. Faksimili
f. Meja dan Kursi
g. Papan Tulis
h. Flip Chart
i. Mesin fotokopi
14. Apakah BPK memiliki ruang pelatihan yang memadai?

Badan Pemeriksa Keuangan

Komentar

Juklak SPKM

No.

Lampiran 12. 5

Pertanyaan

15. Apakah letak unit -unit BPK berdekatan?


16. Apakah BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait melakukan
evaluasi periodik mengenai ketersediaan dukungan infrastruktur?
C.

Teknologi

17. Apakah sistem BPK terkomputerisasi?


18. Manakah dari sistem di BPK berikut ini yang terkomputerisasi :
a. Gaji
b. Keuangan
c. Perencanaan Pemeriksaan
d. Manajemen Aset
e. Sistem Pengarsipan
f. Lain (sebutkan)
..
..
..
19. Apakah komputer (personal computer dan laptop) digunakan untuk
kegiatan sehari-hari?
20. Apakah tipe akses internet yang dimiliki oleh BPK?
a. Broadband
b. Dial-up
c. Lain (sebutkan)
..
..
..
21. Siapa yang memiliki akses ke internet?
a. Hanya manajemen senior
b. Manajemen senior dan tingkat menengah
c. Seluruh staf dan manajemen
22. Apakah BPK memiliki staf dukungan teknologi informasi (TI)?
23. Apakah personel TI memiliki kualifikasi profesional?
24. Apakah BPK memiliki pelatihan TI dan pengembangan program?
25. Apakah BPK memiliki Local Area Network?
26. Apakah BPK memiliki Wide Area Network?
27. Apakah teknologi BPK memenuhi kebutuhan pemeriksa?
D.

Layanan Dukungan

28. Apakah BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait


menyediakan dukungan sebagai berikut?
a. Keamanan
b. Perawatan
c. Transportasi
Badan Pemeriksa Keuangan

Komentar

Juklak SPKM

No.

Lampiran 12. 5

Pertanyaan
d.
e.

Sekretariat
Lain (sebutkan)
..
..

29. Apakah layanan tersebut ditayangkan tepat waktu dan hemat (cost
effectiveness)?
28 Apakah BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait memantau
dan mengevaluasi kecukupan dukungan jasa di atas?

Badan Pemeriksa Keuangan

Komentar

Juklak SPKM

Lampiran 12. 5

KUESIONER
HUBUNGAN DENGAN PEMANGKU KEPENTINGAN
No.
A.

Pertanyaan
Umum

1 Apakah BPK memiliki strategi dalam membangun dan memelihara


hubungan kerja yang efektif dengan pemangku kepentingan ekstern?
2 Apakah BPK memiliki mekanisme untuk menindaklanjuti tanggapan
formal maupun informal dari pemangku kepentingan atas kinerja
BPK?
B.

Hubungan dengan Entitas yang Diperiksa


3 Apakah BPK menetapkan pedoman pembahasan dan
pengkomunikasian hasil pemeriksaan dan tindak lanjutnya dengan
entitas yang diperiksa?
4 Apakah BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait
mengevaluasi dan memantau pelaksanaan hubungan dengan entitas
yang diperiksa dari tahap perencanaan sd pelaporan?
5 Apakah BPK mengembangkan sistem penilaian kepuasan
pemeriksaan yang dinilai oleh entitas yang diperiksa dan diungkapkan
secara terbuka?
6 Apakah entitas yang diperiksa diberikan kesempatan untuk
memberikan tanggapan terhadap konsep laporan hasil pemeriksaan?
7 Apakah tanggapan entitas yang diperiksa dipertimbangkan secara
objektif sebelum laporan hasil pemeriksaan diterbitkan?
8 Apakah BPK memberikan rekomendasi sebagai bahan bagi entitas
yang diperiksa untuk meningkatkan kinerjanya?
9 Apakah BPK mengembangkan database entitas pemeriksaan untuk
memutakhirkan informasi umum tentang entitas, hasil pemeriksaan,
serta tindak lanjut dan pemantauannya?

C.

Hubungan dengan Lembaga Perwakilan

10 Apakah BPK melakukan survei kepuasan lembaga perwakilan


terhadap hasil kerja BPK?
11 Apakah BPK melakukan penelitian terhadap tingkat penggunaan hasil
pemeriksaan BPK oleh lembaga perwakilan?
12 Apakah BPK meningkatkan hubungan dengan lembaga perwakilan
melalui peningkatan rapat atau dengar pendapat dengan lembaga
tersebut?
13 Apakah rapat atau dengar pendapat tersebut terbuka untuk publik?
14 Apakah rapat atau dengar pendapat tersebut menghasilkan laporan
serta rekomendasinya?
Badan Pemeriksa Keuangan

Komentar

Juklak SPKM

No.

Lampiran 12. 5

Pertanyaan

15 Apakah BPK secara teratur mencari umpan balik dari lembaga


tersebut untuk meningkatkan kinerja?
16 Apakah hubungan dengan lembaga tersebut diatur dalam peraturan
p erundang-undangan?
D.

Hubungan dengan Publik dan Media

17 Apakah BPK melakukan penelitian pemanfaatan hasil pemeriksaan


oleh publik dan media?
18 Apakah BPK menciptakan bentuk komunikasi dengan publik dan
media untuk menyebarluaskan hasil pemeriksaan?
19 Apakah BPK menetapkan kebijakan dan prosedur bahwa hasil
pemeriksaan dapat diakses oleh publik dan media?
20 Apakah BPK telah secara profesional berhubungan dengan media
dengan cara:
a. menghasilkan press release dan konferensi pers yang berkualitas
b. seminar atau lokakarya
c. Lain (sebutkan)?
..
..
..
21 Apakah BPK memiliki cara untuk meyakinkan bahwa publikasi yang
dilakukan BPK dapat diterima secara luas oleh masyarakat?
22 Apakah BPK menginformasikan kepada media mengenai rencana
pemeriksaan BPK di masa datang?
E.

Hubungan dengan BPK Negara Lain dan Asosiasi BPK

23 Apakah BPK memelihara hubungan dengan BPK negara lain dengan


berbagai bentuk berikut:
a. tukar menukar informasi, pengetahuan, dan pengalaman;
b. peer review
c. magang (job attachment/secondment)
d. studi banding
e. lain (sebutkan)?
..
..
..
24 Apakah BPK menjadi anggota asosiasi BPK di tingkat regional
maupun internasional?
25 Jika ya, apakah BPK berperan aktif dalam organisasi tersebut?
Sebutkan.
..
..
..
26 Apakah BPK memanfaatkan hasil hubungan dengan BPK negara lain
dan asosiasi berupa pemanfaatan standar, pedoman, dan informasi
lainnya?
Badan Pemeriksa Keuangan

Komentar

Juklak SPKM

No.
F.

Lampiran 12. 5

Pertanyaan
Hubungan dengan Lembaga Pemberi Bantuan

27 Apakah BPK memiliki hubungan dengan lembaga pemberi bantuan


sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan perjanjian dengan
suatu lembaga donor?
28 Apakah BPK secara reguler bertemu dengan lembaga donor untuk
mengidentifikasi apa dan kapan pemeriksaan perlu dilaksanakan?
29 Apakah terdapat mekanisme dimana BPK dapat melakukan usaha agar
menjadi pilihan pertama lembaga donor?
G.

Hubungan dengan Akuntan Publik dan Asosiasinya

30 Apakah BPK menetapkan aturan mengenai penggunaan akuntan


publik dan kantor akuntan publik yang memeriksa keuangan negara?
31 Apakah BPK dan satker pelaksana BPK terkait menyebarkan dan
mensosialisasikan aturan di atas?
32 Apakah BPK memiliki hubungan profesional dengan akuntan publik
dan kantor akuntan publik terkait dengan evaluasi pemeriksaan
akuntan publik tersebut atas keuangan negara?
33 Apakah terdapat pertemuan resmi secara teratur antara BPK dan/atau
pimpinan satker pelaksana BPK dengan asosiasi profesi yang terkait
dengan pemeriksaan?
34 Apakah terdapat perjanjian untuk menyelenggarakan kerja sama
antara BPK dan akuntan publik atau asosiasinya?
35 Apakah BPK menggunakan akuntan publik dan kantor akuntan publik
untuk pemeriksaan laporan keuangannya?
H.

Hubungan dengan Lembaga Pendidikan

36 Apakah BPK mengadakan kerja sama dengan lembaga pendidikan


untuk pendidikan dan pelatihan serta penyebaran hasil pemeriksaan
BPK?
37 Apakah BPK melibatkan lembaga pendidikan dalam penelitian,
survey, dan jasa konsultasi?
38 Apakah BPK mengadakan kerja sama untuk penyediaan tenaga hasil
pendidikan untuk menjadi pelaksana BPK dengan memenuhi
kualifikasi dan kompetensi yang ditetapkan BPK?
39 Apakah BPK berpartisipasi aktif dalam pengembangan lembaga
pendidikan melalui penyebaran hasil pemeriksaan, pengajaran,
seminar, dan sejenisnya?

Badan Pemeriksa Keuangan

Komentar

Juklak SPKM

Lampiran 12. 5

KUESIONER
PENYEMPURNAAN BERKELANJUTAN
No.
A.

Pertanyaan
Penelitian dan Pengembangan

1. Apakah BPK memiliki satker pelaksana di bidang penelitian dan


p engembangan (litbang)?
2. Apakah BPK telah merancang rencana jangka pendek dan jangka
panjang untuk litbang?
3. Apakah penelitian yang dilaksanakan telah meningkatkan efektivitas
kerja BPK?
4. Apakah pendanaan untuk penelitian BPK telah memadai?
5. Apakah SDM di bidang litbang telah mencukupi secara kuantitas dan
kualitas serta kompetensinya?
B.

Pengembangan Organisasi

6. Apakah BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait


mengembangkan organisasi menyesuaikan strategi dan perubahan
lingkungan?
7. Apakah BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait menetapkan
organisasi dengan uraian tugas, wewenang dan tanggung jawab yang
jelas?
8. Apakah BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait
mengevaluasi dan memantau organisasi dan tata kerja tersebut sesuai
dengan rencana strategis dan perubahan lingkungan?
9. Apakah BPK mengajak staf untuk berpartisipasi dalam perbaikan
organisasi?
C.

Manajemen Perubahan

10. Apakah BPK menetapkan satuan kerja pelaksana BPK yang berfungsi
sebagai unit yang bertanggung jawab terhadap manajemen perubahan?
11. Apakah BPK dan satker pelaksana BPK terkait menetapkan rencana
manajemen perubahan yang disesuaikan dengan rencana strategis dan
pengembangan serta perubahan yang telah dirancang dan ditetapkan?
12. Apakah BPK dan satker pelaksana BPK terkait menetapkan ukuran
atau indikator untuk setiap kegiatan yang terkait dengan manajemen
perubahan?
13. Apakah BPK dan satker pelaksana BPK terkait menyediakan sumber
daya yang cukup untuk perencanaan dan implementasi manajemen
perubahan?

Badan Pemeriksa Keuangan

Komentar

Juklak SPKM

No.

Lampiran 12. 5

Pertanyaan

14. Apakah BPK dan satker pelaksana BPK terkait merancang dan
mengimplementasikan manajemen perubahan yang salah satunya
meliputi juga perubahan di bidang manajemen SDM?
15. Apakah BPK dan satker pelaksana BPK terkait melakukan manajemen
perubahan salah satunya melalui perubahan dalam uraian pekerjaan?
16. Apakah BPK dan satker pelaksana BPK terkait memiliki rencana dan
prosedur atau mekanisme untuk menyelesaikan resistensi atas
manajemen perubahan yang telah ditetapkan?

Badan Pemeriksa Keuangan

Komentar

Juklak SPKM

Lampiran 12. 5

KUESIONER
HASIL
No.
A.

Pertanyaan
Umum

1 Apakah BPK memiliki sistem yeng secara objektif menjamin hasil


kerja BPK?
2 Apakah terdapat sistem yang dapat meyakinkan kinerja BPK
berkualitas?
3 Apakah pengukuran kinerja dilakukan oleh staf yang independen yang
bertanggungjawab menyampaikan laporan pemeriksaan?
4 Apakah BPK menindaklanjuti hasil pengukuran kinerja tersebut?
B.

Produk atau Hasil Kerja


5 Apakah BPK menetapkan mutu laporan hasil pemeriksaan dan hasil
kerja BPK dengan memperhatikan aspek signifikansi, keandalan,

obyektivitas, kejelasan, dan ketepatan waktu?


6 Apakah produk atau hasil kerja yang disampaikan oleh BPK sesuai
dengan mandat BPK?
7 Apakah BPK memiliki target dengan memperhatikan pada jumlah
setiap jenis produk?
8 Apakah BPK mengukur kinerja dengan membandingkan target?
9 Apakah BPK memiliki pengukuran kinerja untuk menilai kualitas
produk?
10 Apakah BPK menilai kualitas produk dengan membandingkan
pengukuran kinerja?
11 Apakah BPK menentukan batas akhir penyampaian produk?
12 Apakah BPK dapat memenuhi target waktu penyampaian produk?
13 Apakah BPK mengukur produk atau hasil kerja dengan yang
ditargetkan?
C.

Dampak

14 Apakah BPK memiliki pengukuran kinerja untuk menilai dampak dari


suatu produk?
15 Apakah BPK secara rutin menilai dampak dibandingkan dengan
ukuran yang ditetapkan?
16 Apakah BPK dan pimpinan satker pelaksana BPK terkait
menindaklanjuti hasil penilaian tersebut?
Badan Pemeriksa Keuangan

Komentar

Juklak SPKM

Lampiran 12. 5

KUESIONER
KINERJA PEMERIKSAAN
No
1.

Unsur &
Komponen
Perencanaan
Pemeriksaan

Instrumen yang
Digunakan
Untuk
Mengukur
- KKP

Uraian

a. Apakah pemeriksa
mendokumentasika tujuan &
harapan penugasan dalam
KKP?

b. Apakah tujuan pemeriksaan


dan harapan penugasan telah
didefinisikan dan/atau
diungkapkan dalam P2 secara
jelas dan terukur?

c. Apakah tim pemeriksa telah


memenuhi kualifikasi yang
dibutuhkan sesuai dengan
tujuan & harapan penugasan?

- P2
- KKP

- P2
- ST
- KKP

- KKP

d. Apakah pemeriksa
mendokumentasikan
pemahaman entitas yang
diperiksa dalam KKP?

e. Apakah kriteria yang


digunakan telah jelas?

f. Apakah kegiatan pemahaman

- KKP
- P2
- KKP

pengendalian intern
didokumentasikan di dalam
KKP?

g. Apakah kegiatan penilaian

- KKP

risiko didokumentasikan dalam


KKP?

h. Apakah hasil pemahaman SPI


& penilaian risiko digunakan
untuk menyusun P2?

i. Apakah kegiatan penetapan

- KKP
- P2

- KKP

batas materialitas dan


signifikansi masalah
didokumentasikan dalam KKP?

j. Apakah prosedur analitis awal

- KKP

pemeriksaan keuangan
dilakukan & didokumentasikan
dalam KKP?

k. Apakah P2 dan PKP

- KKP

didokumentasikan dalam KKP?

l. Apakah P2 memuat dasar,


tujuan, alasan, sasaran, lingkup,
metodologi, waktu, biaya,

- P2
- KKP

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Abstain

Komentar

Juklak SPKM

No

Unsur &
Komponen

Lampiran 12. 5

Instrumen yang
Digunakan
Untuk
Mengukur

Uraian
tenaga pemeriksa, kerangka dan
distribusi laporan hasil
pemeriksaan, dan review yang
perlu dilakukan?

m. Apakah P2 yang disusun dan

- P2

ditetapkan oleh penanggung


jawab pemeriksaan?

n. Apakah ada perubahan P2 dan


apakah perubahan tersebut
telah disetujui oleh penanggung
jawab dan pemberi tugas?

o. Apakah fotokopi surat tugas


terdapat dalam KKP?
2.

Pelaksanaan
Pemeriksaan

a. Apakah ketua tim pemeriksa


melakukan pertemuan awal
dengan pimpinan entitas yang
diperiksa?

b. Apakah ketua tim pemeriksa


melakukan pertemuan awal
dengan pimpinan entitas yang
diperiksa?

c. Untuk pemeriksaan laporan

P2
KKP

ST
KKP
- Risalah
- KKP

- Risalah
- KKP

- KKP

keuangan, apakah pemeriksa


melakukan prosedur analitis
rinci atas laporan keuangan
sebelum pengujian
pengendalian & substantif?

d. Apakah tim pemeriksa

- KKP

melakukan pengujian
pengendalian intern dan
kepatuhan terhadap ketentuan
perundang-undangan?
- KKP

e. Apakah pemeriksa
mendokumentasikan hasil
pengujian pengendalian intern
dan kepatuhan dalam KKP?

f. Apakah pemeriksa melakukan

- KKP

pengujian substantif atas


transaksi/saldo/kegiatan/obyek
yang diperiksa yang
didokumentasikan dalam
KKP?

g. Apakah KKP memuat hasil

- KKP

pemeriksaan/pelaksanaan P2
dan kesimpulannya?
Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Abstain

Komentar

Juklak SPKM

No

Unsur &
Komponen

Lampiran 12. 5

Uraian

h. Apakah bukti pendukung yang

Instrumen yang
Digunakan
Untuk
Mengukur
- KKP

kompeten tersedia secara


cukup dalam KKP?

i. Apakah ketua tim pemeriksa


mengkonsultasikan hasil
pelaksanaan pemeriksaan
dengan tenaga ahli dari luar
BPK apabila diperlukan
khususnya terhadap bidang
atau permasalahan di luar
keahlian yang dimiliki oleh
pemeriksa?

j. Apakah pemeriksa memeriksa

- P2
- Risalah
- KKP

- KKP

kewajiban kontijensi,
komitmen jangka panjang dan
kejadian setelah tanggal neraca
pada pemeriksaan keuangan
sebelum menyusun TP?

k. Apakah tim pemeriksa


menyusun TP?

l. Apakah TP disusun
berdasarkan bukti yang
didokumentasikan dalam
KKP?

m. Apakah pemeriksa
menggunakan referensi silang
dalam TP dan KKP?

n. Untuk pemeriksaan keuangan,

- TP
- KKP
- KKP
- TP

- KKP
- TP

- KKP

apakah tim pemeriksa


menyusun skedul utama
laporan keuangan dan skedul
pendukungnya?

o. Apakah pemeriksa membuat

penomoran indeks KKP?


-

p. Apakah pemeriksa
memberikan identitas KKP
yang jelas (nama
obyek/kegiatan, tahun yang
diperiksa?

q. Apakah pemeriksa
mengungkapkan identitasnya
sebagai penyusun KKP dan
tanggalnya?

r. Apakah tim pemeriksa


memperoleh tanggapan dari
pimpinan entitas yang

- Tanggapan
- KKP

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Abstain

Komentar

Juklak SPKM

No

Lampiran 12. 5

Unsur &
Komponen

Instrumen yang
Digunakan
Untuk
Mengukur

Uraian
diperiksa atas TP?

s. Apakah ketua tim pemeriksa


mendokumentasikan hasil
pelaksanaan pemeriksaan di
dalam kertas kerja
pemeriksaan secara sistematis
sesuai dengan indeks dan
pedoman yang ditetapkan?

t. Apakah ketua tim pemeriksa


melakukan pertemuan akhir?

u. Apakah tim pemeriksaan


melaksanakan dan
menyelesaikan pemeriksaan di
lapangan sesuai dengan waktu
yang ditetapkan?
3.

Supervisi &
Reviu

a.

Apakah supervisi dan review


dilakukan terhadap
perencanaan pemeriksaan,
pelaksanaan program
pemeriksaan, pelaporan hasil
pemeriksaan dan hasilnya
didokmentasikan dalam KKP?

- KKP
- Juklak KKP

- KKP
- Risalah
- TP
- KKP

- SPKN
- KKP

b. Apakah ketua tim melakukan


reviu terhadap KKP anggota
tim atas pelaksanaan P2?

- KKP

c.

Apakah ketua tim mereviu


kebenaran matematis dan
akurasi angka?

- KKP

d. Apakah ketua tim pemeriksa


memberikan persetujuan atau
arahan dalam KKP anggota
tim?

- KKP

e.

Apakah pengendali teknis


mereviu pekerjaan tim terkait
unsur TP, tujuan, dan
kebahasaan?

- KKP

f.

Apakah penanggung jawab


mereviu pemenuhan SPKN
atas pekerjaan tim pemeriksa?

- KKP

g. Apakah hasil reviu ketua tim/


pengendali teknis/penanggung
jawab terlihat dalam KKP?

- KKP

h. Apakah ketua tim/pengendali


teknis/penanggung jawab
memberikan persetujuan

- KKP

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Abstain

Komentar

Juklak SPKM

No

Lampiran 12. 5

Unsur &
Komponen

Instrumen yang
Digunakan
Untuk
Mengukur

Uraian
berupa paraf/lainnya dan
tanggal reviu dalam KKP?

4.

Pelaporan
Hasil
Pemeriksaan

a.

Apakah ketua tim, pengendali


teknis, dan penanggung jawab
menyusun dan/atau mereview
laporan hasil pemeriksaan
sesuai dengan peran yang
dimiliki berdasarkan temuan
pemeriksaan, bukti yang
diperoleh, dan tanggapan
pimpinan entitas?

- Reviu LHP
- KKP

b. Apakah penanggung jawab


pemeriksaan memperoleh
tanggapan dari pimpinan
entitas yang diperiksa atas
konsep laporan hasil
pemeriksaan? Khusus untuk
pemeriksaan atas laporan
keuangan, penanggung jawab
harus memperoleh surat
representasi atas laporan
keuangan yang disampaikan

- Tanggapan
pimpinan
entitas
- Surat
representasi
- KKP

c.

- LHP
- KKP

Apakah tanggapan pimpinan


entitas yang diperiksa dimuat
di dalam laporan hasil
pemeriksaan? Apakah apabila
penanggung jawab tidak
sepakat atas tanggapan
tersebut, penanggung jawab
telah menyampaikan
ketidaksetujuannya di dalam
laporan hasil pemeriksaan?

d. Apakah laporan hasil


pemeriksaan yang disampaikan
telah relevan (tepat waktu),
lengkap, akurat, obyektif,
meyakinkan, jelas, dan
seringkas mungkin, serta
menggunakan bahasa yang
sederhana, baku, dan mudah
dipahami pengguna laporan?

- LHP
- Juklak
- Juknis

e.

Apakah laporan hasil


pemeriksaan memuat opini
atau simpulan, pernyataan
bahwa pemeriksaan dilakukan
sesuai dengan standar
pemeriksaan, gambaran umum
pemeriksaan (dasar, tujuan,
lingkup, batasan, waktu, dan
metodologi pemeriksaan), hasil
pemeriksaan rinci?

f.

Apakah hasil pemeriksaan

- LHP

LHP
SPKN
Juklak
Juknis

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Abstain

Komentar

Juklak SPKM

No

Lampiran 12. 5

Unsur &
Komponen

Uraian
rinci antara lain meliputi hasil
pemeriksaan atas kelemahan
sistem pengendalian intern dan
ketidakpatuhan/penyimpanan
atau kecurangan terhadap
ketentuan perundangundangan, atau
ketidakpatutan?

Pemantauan
Hasil Tindak
Lanjut
Pemeriksaan

Evaluasi
Pemeriksaan

Instrumen yang
Digunakan
Untuk
Mengukur
- SPKN
- Juklak
- Juknis
- KKP

g. Apakah laporan hasil


pemeriksaan ditandatangani
oleh Badan atau pemeriksa
yang ditugaskan Badan sebagai
penanggung jawab
pemeriksaan sesuai dengan
kompetensi dan kualifikasi
yang ditetapkan?

- Juklak
- Juknis
- LHP

h. Apabila ada informasi rahasia,


apakah laporan hasil
pemeriksaan mengungkapkan
sifat informasi dan ketentuan
yang mengatur hal tersebut?

i.

Apakah BPK melaporkan hasil


pemeriksaan yang
mengandung kecurangan atau
penyimpangan ketentuan
perundang-undangan kepada
pihak yang berwenang?

- Juklak
- Juknis
- Bukti
pelaporan

a.

Apakah BPK dan pimpinan


satker pelaksana BPK terkait
mengembangkan dan
menyelenggarakan database
pemantauan tindak lanjut hasil
pemeriksaan?

- Data base
pemantauan
tindak lanjut

b. Apakah BPK melaporkan hasil


pemantauan tindak lanjut
kepada lembaga perwakilan
dan pemuatan laporan tersebut
dalam website BPK?

- Laporan
pemantauan
tindak lanjut
- Website
BPK

a.

Apakah evaluasi pemeriksaan


secara intern tim pemeriksa
dilakukan oleh ketua tim,
sesuai dengan perannya?
b. Apakah evaluasi pemeriksaan
secara intern tim pemeriksa
dilakukan oleh pengendali
teknis, sesuai dengan
perannya?
c. Apakah evaluasi pemeriksaan
secara intern tim pemeriksa
dilakukan oleh penanggung
jawab sesuai dengan perannya?

LHP
SPKN
Juklak
Juknis

SPKN
PMP
Juklak
Juknis
KKP

Badan Pemeriksa Keuangan

Ya

Tidak

Abstain

Komentar

Juklak SPKM

Lampiran 12.6

UNSUR SPM & METODE PENGUJIAN

No.

UNSUR & ELEMEN SPM

METODE PENGUJIAN

SUMBER DOKUMEN

1. INDEPENDENSI & KERANGKA KERJA HUKUM


Independensi

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Diskusi Kelompok (focus group)

UUD/Konstitusi & UU
UU dan peraturan khusus

Mandat

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Pencarian via websites (browsing)

UUD
UU
Kumpulan peraturan tersedia di websites

2. KEPEMIMPINAN & PENGELOLAAN INTERN


Kepemimpinan & arahan

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)

Peraturan & keputusan intern


Rencana strategis
Laporan pertanggungjawaban
Standar dan kode etik
Pedoman
Standar Operasi dan Prosedur
Notulensi rapat

Perancanaan strategis &


operasional

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)

Rencana strategis
Rencana implementasi rencana strategis
Panduan implementasi rencana strategis

Pengawasan &
pertanggungjawaban

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)
Pencarian via websites

Pedoman intern
Laporan pertanggungjawaban
Laporan hasil pengawasan intern

Kode etik

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)
Pencarian via websites

Peraturan kode etik


Referensi kode etik pemeriksa di berbagai
sumber (INTOSAI, IFAC, IAI/IAPI)

Pengendalian intern

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Pencarian via websites

Pedoman pengendalian intern


Organisasi & tata kerja
Laporan hasil pengawasan intern

Keyakinan mutu

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Pencarian via websites

Peraturan perundang-undangan
Standar pemeriksaan
Pedoman keyakinan mutu
Rencana strategis & implementasinya
Organisasi & tata kerja

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

No.

UNSUR & ELEMEN SPM

Lampiran 12.6

METODE PENGUJIAN

SUMBER DOKUMEN

3. MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA


Rekrutmen & penempatan

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)

Standar pemeriksaan
Peraturan & keputusan intern tentang
pengelolaan SDM
Rencana strategis & implementasinya

Retensi

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)
Pengamatan
Survei

Peraturan & keputusan intern tentang


pengelolaan SDM
Rencana strategis & implementasi
Ketentuan penggajian dan kesejahteraan
serta penghargaan dan sanksi

Pelatihan & pembangunan


kapasitas

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)

Peraturan & keputusan intern tentang


pengelolaan SDM
Rencana strategis & implementasi
Program pelatihan

Penilaian & manajemen kinerja Pengisian kuesioner


Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)
Pengamatan

Peraturan & keputusan intern tentang


pengelolaan SDM
Rencana strategis & implementasi
Ketentuan manajemen kinerja

Kesejahteraan

Peraturan & keputusan intern tentang


pengelolaan SDM
Rencana strategis & implementasi
Ketentuan penggajian dan kesejahteraan
serta penghargaan dan sanksi
Organisasi & tata kerja
Responden pegawai

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)
Pengamatan
Survei

4. STANDAR & METODOLOGI PEMERIKSAAN


Standar pemeriksaan

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara

Standar pemeriksaan
Referensi tentang standar pemeriksaan
(INTOSAI, IFAC, IAI/IAPI)

Petunjuk pemeriksaan

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)
Pengamatan
Survei

Peraturan & keputusan intern tentang


petunjuk pemeriksaan
Program pemeriksaan
Responden pegawai/pemeriksa

Peralatan dukungan
pemeriksaan

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)
Pengamatan

Peraturan & keputusan intern tentang


petunjuk pemeriksaan penggunaan peralatan
dukungan
Kertas kerja pemeriksaan
Responden pegawai/pemeriksa

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

No.

Lampiran 12.6

UNSUR & ELEMEN SPM

METODE PENGUJIAN

SUMBER DOKUMEN

5. DUKUNGAN KELEMBAGAAN
Keuangan

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)

Anggaran & rinciannya


Pedoman penyusunan dan alokasi anggaran

Infrastruktur

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)
Pengamatan
Survei

Laporan pertanggungjawaban & kegiatan


Responden pegawai

Teknologi

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)
Pengamatan
Survei

Laporan pertanggungjawaban & kegiatan


Responden pegawai

Jasa Pendukung

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)
Pengamatan
Survei

Laporan pertanggungjawaban & kegiatan


Responden pegawai

6. HUBUNGAN BPK DENGAN PEMANGKU KEPENTINGAN


Hubungan dengan entitas yang
diperiksa

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)
Survei
Pencarian via websites

Standar pemeriksaan
Pedoman pemeriksaan
Rencana strategis dan implementasinya
Laporan hasil pemeriksaan
Laporan kegiatan
Hasil survei
Notulen pertemuan
Korespondensi

Hubungan dengan lembaga


perwakilan

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)
Survei

Peraturan & keputusan terkait


Standar pemeriksaan
Pedoman pemeriksaan
Naskah kerja sama
Laporan kegiatan
Hasil survei
Notulen pertemuan
Korespondensi

Hubungan dengan publik &


media

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)

Peraturan & keputusan terkait


Standar pemeriksaan
Pedoman pemeriksaan
Laporan kegiatan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

No.

UNSUR & ELEMEN SPM

Lampiran 12.6

METODE PENGUJIAN

SUMBER DOKUMEN

Pencarian via websites


Survei

Hasil survei
Notulen pertemuan
Korespondensi
Hasil liputan media

Hubungan dengan BPK negara


lain dan asosiasinya

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)
Pencarian via websites

Laporan kegiatan
Notulen pertemuan
Korespondensi

Hubungan dengan organisasi


internasional & pemberi
bantuan

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)
Pencarian via websites

Laporan hasil pemeriksaan


Laporan kegiatan
Notulen pertemuan
Korespondensi

Hubungan dengan kantor


akuntan publik

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)
Pencarian via websites

Laporan hasil pemeriksaan


Laporan kegiatan
Naskah perjanjian
Notulen pertemuan
Korespondensi

Hubungan dengan lembaga


pendidikan

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)
Pencarian via websites

Laporan hasil pemeriksaan


Laporan kegiatan
Naskah perjanjian
Notulen pertemuan
Korespondensi

7. PENYEMPURNAAN BERKELANJUTAN
Pengembangan profesionalisme Pengisian kuesioner
pegawai
Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)
Survei
Pengamatan
Pencarian via websites

Standar pemeriksaan
Pedoman pemeriksaan
Rencana strategis dan implementasinya
Ketentuan pengembangan profesional
pegawai
Laporan kegiatan
Hasil survei
Responden pegawai

Penelitian & pengembangan

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)
Survei
Pengamatan
Pencarian via websites

Peraturan & keputusan terkait


Standar pemeriksaan
Pedoman pemeriksaan
Rencana strategis & implementasinya
Anggaran & realisasi
Organisasi & tata kerja
Produk litbang

Pengembangan organisasi

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara

Peraturan & keputusan terkait


Standar pemeriksaan
Pedoman pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

No.

UNSUR & ELEMEN SPM

Lampiran 12.6

METODE PENGUJIAN

SUMBER DOKUMEN

Diskusi Kelompok (focus group)


Survei
Pengamatan
Pencarian via websites

Rencana strategis & implementasinya


Anggaran & realisasi
Organisasi & tata kerja

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)
Survei
Pengamatan
Pencarian via websites

Rencana strategis & implementasinya


Laporan kegiatan
Ketentuan mengenai manajemen perubahan

Produk atau hasil kerja

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Pencarian via websites

Standar pemeriksaan
Pedoman pemeriksaan
Laporan hasil pemeriksaan
Laporan kegiatan
Laporan kinerja
Tanngapan lembaga perkakilan

Dampak

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Diskusi Kelompok (focus group)
Pengamatan
Survei

Peraturan & keputusan


Laporan hasil pemeriksaan
Laporan pemantauan tindak lanjut
Hasil survei
Tanggapan dari pimpinan entitas yang
diperiksa

Perencanaan pemeriksaan

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Pengamatan

Peraturan perundang-undangan
Standar pemeriksaan
Pedoman pemeriksaan
Progam pemeriksaan
Kertas kerja pemeriksaan

Pelaksanaan pemeriksaan

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Pengamatan

Peraturan perundang-undangan
Standar pemeriksaan
Pedoman pemeriksaan
Progam pemeriksaan
Kertas kerja pemeriksaan
Temuan pemeriksaan

Supervisi & Reviu

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Pengamatan

Peraturan perundang-undangan
Standar pemeriksaan
Pedoman pemeriksaan
Progam pemeriksaan
Kertas kerja pemeriksaan
Temuan pemeriksaan
Laporan hasil pemeriksaan

Manajemen perubahan

8. HASIL

9. KINERJA PEMERIKSAAN

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

No.

UNSUR & ELEMEN SPM

Lampiran 12.6

METODE PENGUJIAN

SUMBER DOKUMEN

Pelaporan hasil pemeriksaan

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Pengamatan

Peraturan perundang-undangan
Standar pemeriksaan
Pedoman pemeriksaan
Progam pemeriksaan
Kertas kerja pemeriksaan
Laporan hasil pemeriksaan

Pemantauan tindak lanjut

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Pengamatan

Peraturan perundang-undangan
Standar pemeriksaan
Pedoman pemeriksaan
Progam pemeriksaan
Kertas kerja pemeriksaan
Laporan hasil pemeriksaan
Kertas kerja pemeriksaan

Evaluasi pemeriksaan

Pengisian kuesioner
Reviu dokumen
Wawancara
Pengamatan

Peraturan perundang-undangan
Rencana kegiatan pemeriksaan
Standar pemeriksaan
Pedoman pemeriksaan
Progam pemeriksaan
Kertas kerja pemeriksaan
Temuan pemeriksaan
Laporan hasil pemeriksaan
Laporan pelaksanaan pemeriksaan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Lampiran 12.7

KERTAS KERJA PENILAIAN SPM


[unsur SPM pada satker pelaksana BPK]
Badan Pemeriksa Keuangan
Republik Indonesia

[tahun]

TUJUAN
[Uraian tujuan penilaian]

LANGKAH
[uraian langkah penilaian]

HASIL
[uraian hasil penilaian yang menjawab langkah penilaian]

SIMPULAN
[uraian simpulan yang menjawab tujuan]

REVIU & ARAHAN


[uraian reviu dan arahan]

Badan Pemeriksa Keuangan

Indeks no.
Penyusun
Tgl

:
:
:

Pereviu
Tgl

:
:

Juklak SPKM

Lampiran 12.8

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

KERANGKA
TEMUAN PENILAIAN
ATAS
SISTEM PENGENDALIAN MUTU
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
PADA
AUDITORAT UTAMA KEUANGAN NEGARA I VII,
DIREKTORAT UTAMA BINBANGKUM DAN REVBANG,
SEKRETARIAT JENDERAL
DI
JAKARTA, DDDDDDDDDDDDDD

TAHUN ANGGARAN
YYYY
Nomor :

Tanggal :

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Lampiran 12.8

1.
Daftar Isi
1. [judul temuan] .................................................................................................. [no.halaman]
2. [judul temuan] .................................................................................................. [no.halaman]
3. [judul temuan] .................................................................................................. [no.halaman]

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Lampiran 12.8

1. [judul temuan]
Kondisi
[uraian kondisi/fakta yang ditemukan]
Kriteria
[uraian kriteria]
Akibat
[uraian akibat langsung kondisi yang tidak sesuai kriteria]
Sebab
[uraian sebab]
Tanggapan pimpinan satker pelaksana BPK
[uraian tanggapan]

2. [judul temuan]
Kondisi
[uraian kondisi/fakta yang ditemukan]
Kriteria
[uraian kriteria]
Akibat
[uraian akibat langsung kondisi yang tidak sesuai kriteria]
Sebab
[uraian sebab]
Tanggapan pimpinan satker pelaksana BPK
[uraian tanggapan]

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Lampiran 12.9

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

KERANGKA
LAPORAN HASIL PENILAIAN
ATAS
SISTEM PENGENDALIAN MUTU
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

PADA
AUDITORAT UTAMA KEUANGAN NEGARA I VII,
DIREKTORAT UTAMA BINBANGKUM DAN REVBANG,
SEKRETARIAT JENDERAL
DI
JAKARTA, DDDDDDDDDDDDDD
TAHUN ANGGARAN
YYYY
Nomor :

Tanggal :

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Lampiran 12.9

Daftar Isi
[Ringkasan eksekutif] ............................................................................................ [no.halaman]
1. [Gambaran umum penilaian SPM] .................................................................. [no.halaman]
Latar Belakang ................................................................................................. [no.halaman]
Dasar Penilaian SPM dst
2. Hasil penilaian SPM
[judul temuan] .................................................................................................. [no.halaman]
[judul temuan] .................................................................................................. [no.halaman]
3. Simpulan Hasil Penilaian SPM

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Lampiran 12.9

Ringkasan eksekutif
[uraian tentang latar belakang, tujuan, lingkup, langkah, hasil, dan simpulan penilaian SPM
secara umum]
[tanggal]
[Penanggung Jawab}
[tanda tangan]
[nama]
[NIP]

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Lampiran 12.9

I. Gambaran Umum

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Latar Belakang
Dasar Penilaian SPM
Tujuan Penilaian SPM
Lingkup Penilaian SPM
Kriteria Penilaian SPM
Metodologi Penilaian SPM

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Lampiran 12.9

II. Hasil Penilaian SPM


1. [judul temuan]
[uraian kondisi/fakta yang ditemukan]
[uraian kriteria]
[uraian akibat langsung kondisi yang tidak sesuai kriteria]
[uraian sebab]
[uraian tanggapan]
[uraian saran]
2. [judul temuan]
[uraian kondisi/fakta yang ditemukan]
[uraian kriteria]
[uraian akibat langsung kondisi yang tidak sesuai kriteria]
[uraian sebab]
[uraian tanggapan]
[uraian saran]

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Lampiran 12.9

III. Simpulan
[uraian simpulan hasil penilaian]

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Daftar Istilah

DAFTAR ISTILAH
AKN

Auditorat Utama Keuangan Negara merupakan unsur pelaksana tugas


pemeriksaan

ASOSAI

Asian Organization of Supreme Audit Institutions merupakan organisasi


badan pemeriksa seluruh Asia.

Conflict of interest

adalah hubungan di mana individual mungkin memperoleh manfaat


(misal: dengan cara pemberian hadiah atau janji komisi, pekerjaan yang
akan datang) dari suatu penugasan terhadap entitas yang diperiksa yang
dapat mempengaruhi independensi pemeriksa .Benturan kepentingan bisa
terjadi juga tanpa adanya transaksi atau manfaat signifikan seperti
hubungan entitas yang diperiksa dengan pemegang saham atau pemilik
dan dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa.

Efisiensi

adalalah ukuran konvensional kinerja dalam bentuk standar yang


ditetapkan lebih dulu atau tujuan, yang dapat diterapkan pada operasi
mesin,individual atau organisasi atau rasio output (keluaran) terhadap
input (masukan)

Ekonomis

adalah kemampuan relatif untuk menghasilkan pada tingkat tertentu


dengan biaya yang lebih rendah atau dengan biaya yang sama dengan
menghasilkan tingkat produk yang lebih besar

Evaluasi

Proses analisis berdasarkan standar tertentu untuk menilai pelaksanaan


kegiatan atau proses yang telah dilakukan.

Independen

Tidak memiliki atau terhindar dari hubungan yang dapat mengganggu


sikap mental dan penampilan obyektif pemeriksa dalam melaksanakan
pemeriksaan.

INTOSAI

International Organization of Supreme Audit Institutions merupakan


organisasi badan pemeriksa keuangan sedunia.

Investigasi

adalah suatu pemeriksaan catatan pembukuan dengan tujuan untuk


mencari penyebab tertentu yang ruang lingkupnya berbeda dengan
pemeriksaan yang biasa.

Irtama

Inspektur Utama merupakan Pimpinan Inspektorat Utama

Itama

Inspektorat Utama merupakan salah satu unsur penunjang pelaksana tugas


penunjang BPK yang bertugas untuk melakukan pengawasan terhadap
pelaksanaan tugas dan fungsi seluruh unsur pelaksana BPK

Kebijakan (policy)

Serangkaian peraturan yang memberi pengarahan dan pedoman tindakan


yang dikaitkan dengan tujuan organisasi

Keuangan Negara

Semua hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang, serta segala
sesuatu baik berupa uang maupun barang yang dapat dijadikan milik
berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Daftar Istilah

Kecurangan (fraud)

Tindakan melawan yang dilakukan dengan sengaja untuk memperoleh


sesuatu dengan cara menipu sehingga merugikan pihak lain. Seperti
menyajikan fakta material/signifikan secara tidak benar dan atau dengan
menutupinya agar tidak mudah diketahui pihak lain.

Kode Etik BPK

Memuat standar perilaku dan atau norma-norma sebagai pedoman yang


harus dipatuhi oleh setiap anggota BPK dan pemeriksa selama
menjalankan tugasnya.

Kriteria

Standar ukuran untuk menilai kondisi/asersi/obyek yang diperiksa


berdasarkan apa yang seharusnya terjadi, praktik terbaik, dan benchmanrk

Lingkup atau
cakupan
pemeriksaan

Batas pemeriksaan dan harus terkait langsung dengan tujuan pemeriksaan.


Misalnya, lingkup pemeriksaan menetapkan parameter pemeriksaan
seperti periode yang direviu, ketersediaan dokumen atau catatan yang
diperlukan, dan lokasi pemeriksaan di lapangan yang akan dilakukan.

Manajemen

adalah otoritas eksekutif yang menggabungkan bidang-bidang kebijakan


keuangan, operasi dan administrasi yang biasanya mendelegasikan
wewenangnya kepada pejabat di bawahnya, tetapi tidak bisa
mendelegasikan tanggung jawabnya (responsibility)

Opini

Temuan dan simpulan tertulis pemeriksa setelah selesai proses


pemeriksaan apakah laporan keuangan yang diperiksa wajar tanpa
pengecualian, wajar dengan pengecualian, tidak wajar atau menolak
memberikan opini (disclaimer)

Pemeriksa

Orang yang melaksanakan tugas pemeriksaan pengelolaan keuangan dan


tanggung jawab keuangan negara untuk dan atas nama Badan Pemeriksa
Keuangan.

Pemeriksaan

Proses indentifikasi masalah, analisis, dan evaluasi yang dilakukan secara


independen, objektif, dan profesional berdasarkan standar pemeriksaan,
untuk menilai kebenaran, kecermatan, kredibilitas, dan keandalan
informasi mengenai pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara.

Pemeriksaan
Dengan Tujuan
Tertentu

Pemeriksaan atas hal-hal lain di bidang keuangan, pemeriksaan


investigatif, dan pemeriksaan atas sistem pengendalian intern bertujuan
untuk memberikan simpulan. Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu dapat
bersifat: eksaminasi (examination), reviu (review), atau prosedur yang
disepakati (agreed-upon procedures).

Pemeriksaan
Internal (internal
audit)

Kegiatan assurance dan konsultasi yang independen dan obyektif, yang


dirancang untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan kegiatan
operasi organisasi. Pemeriksaan internal membantu organisasi untuk
mencapai tujuannya, melalui suatu pendekatan yang sistematis dan teratur
untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas pengelolaan risiko,
pengendalian, dan proses governance.

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Daftar Istilah

Pemeriksaan atas laporan keuangan yang bertujuan untuk memberikan


keyakinan yang memadai (reasonable assurance) apakah laporan
keuangan telah disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia atau
basis akuntansi komprehensif selain prinsip akuntansi yang berlaku umum
di Indonesia

Pemeriksaan Kinerja :

Pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara yang dapat terdiri atas


pemeriksaan aspek ekonomi dan efisiensi serta pemeriksaan aspek
efektivitas yang dilakukan secara obyektif dan sistematik terhadap
berbagai macam bukti, untuk dapat melakukan penilaian secara
independen atas kinerja entitas atau program/kegiatan yang diperiksa.
Dalam melakukan pemeriksaan kinerja, pemeriksa juga menguji
kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang undangan serta
pengendalian intern.

Pengelolaan
Keuangan Negara

Keseluruhan kegiatan pejabat pengelola keuangan negara sesuai dengan


kedudukan dan kewenangannya, meliputi perencanaan, pelaksanaan,
pengawasan, dan pertanggungjawaban.

Pengukuran
(measurement)

Penerapan suatu sistem kepada hasil suatu tindakan apakah sesuai dengan
yang direncanakan, logik dan benar perhitungannya.

Pengungkapan
(disclosure)

Penggambaran atau penguuraian yang jelas atas suatu fakta atau kondisi
pada catatan atas laporan keuangan dan atau dalam simpulan laporan hasil
pemeriksaan.

Pertanggungjawaban :
(responsibility)

Kewajiban penyampaian laporan periodik yang harus hati-hati


dilaksanakan sesuai dengan tugas yang diberikan kepadanya dalam suatu
entitas

PMP

Panduan Manajemen Pemeriksaan merupakan panduan oleh BPK dan


pelaksananya dalam mengelola pemeeriksaan pengelolaan dan tanggung
jawab keuangan negara meliputi tahap penyusunan Rencana Kerja
pemeriksaan (RKP), perencanaan pemeriksaan, pelaksanaan pemeriksaan,
pelaporan pemeriksaan, pemantauan tindak lanjut hasil pemeriksaan, dan
evaluasi pemeriksaan.

Profesi

Keahlian yang umumnya diakui oleh kalangan akademisi yang


memerlukan pelatihan khusus sampai tingkat kompeten, menghendaki
sikap mental dan penampilan independen, mengakui kewajiban untuk
memberi layanan kepada publik dan melindungi kepentingan publik,
mempunyai asosiasi dan kode etik yang mengikat anggota-anggotannya.

Program
pemeriksaan

Dokumen rencana pemeriksaan yang harus disiapkan untuk setiap


pemeriksaan yang menguraikan serangkaian prosedur untuk mencapai
tujuan pemeriksaan dan memberikan dasar yang sistematis untuk
penentuan tim pemeriksa, persetujuan penugasan dan penyusunan
program kerja perorangan.

Pemeriksaan
Keuangan

Badan Pemeriksa Keuangan

Juklak SPKM

Daftar Istilah

SAI

Supreme Audit Institution Lembaga/Organisasi atau Badan Pemeriksa


Keuangan Negara lain yang dirancang dan dibentuk berdasarkan undangundang untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan
negaranya

SPKM

Sistem Pemerolehan Keyakinan Mutu merupakan sistem pemerolehan


keyakinan yang memadai bahwa SPM telah mengatur seluruh unsur
pengendalian mutu yang diperlukan dan telah dilaksanakan secara
konsisten

SPM

Sistem Pengendalian Mutu(SPM) merupakan suatu sistem yang dirancang


untuk memperoleh keyakinan yang memadai bahwa lembaga pemeriksa
dan pelaksananya mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan,
standar pemeriksaan, serta laporan yang dihasilkan sesuai dengan kondisi
yang ditemukan

Standar
Pemeriksaan

Patokan untuk melakukan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab


keuangan negara yang meliputi standar umum, standar pelaksanaan
pemeriksaan, dan standar pelaporan yang wajib dipedomani oleh BPK
dan/atau pemeriksa.

Signifikan

Besaran yang memadai sebagaimana diukur dengan standar yang


menimbulkan keraguan jika ada deviasi atau pentingnya suatu
pengungkapan atau perlakuan yang berkaitan dengan hal-hal besar atau
lebih penting yang dapat mempengaruhi pertimbangan atau keputusan
dam transaksi individual.

Tenaga ahli

Orang yang memiliki keahlian tertentu yang diperlukan dalam suatu


pemeriksaan sesuai dengan persyaratan dan kebutuhan BPK.

Tortama

Auditor Utama Keuangan Negara merupakan pimpinan AKN

Verifikasi

Prosedur dengan mana validitas diyakinkan dengan menyelidiki bukti


bukti terkait apakah akurat atau tidak

Badan Pemeriksa Keuangan

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia
Jl. Gatot Subroto No. 31
Jakarta Pusat 10210
Telp. : 021-5704395 Pes. 657/104
Fax. : 021-5705376
e-mail : staflitrik@bpk.go.id