Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

Otak merupakan bagian tubuh yang bisa dikatakan paling vital. Sebab hampir sebagian
aktivitas yang dijalankan tubuh dikoordinasikan oleh organ ini. Ditambah lagi anggapan yang
menyatakan bahwa setelah lahir, otak kita tidak akan mengalami penambahan jumlah sel otak,
yang mengakibatkan kerusakan otak semakin sulit untuk sembuh secara sempurna seperti organorgan yang lainnya. Sistem Saraf pun demikian. Sistem saraf mengandung ratusan juta bahkan
milyaran sel yang siap mengantarkan seluruh pesan yang akan kita kirimkan ke bagian tubuh
yang lain, di samping pula hormon, namun bila dihantarkan oleh saraf, pesan akan lebih cepat
dikirim. Namun bagaimana apabila bagian-bagian vital tubuh ini diserang oleh berbagai
penyakit. Tentunya segalanya akan menjadi sangat repot. Manusia tidak lagi dapat bekerja
dengan baik.
Multipel sclerosis (MS) adalah salah satu penyakit saraf yang menyerang sel-sel saraf di
bagian sistem saraf pusat. Penyakit ini menyebabkan kerusakan pada selubung mielin saraf
manusia sehingga menyebabkan gangguan sistem hantaran impuls pada saraf tersebut.
MS mempengaruhi area dari otak dan syaraf tulang belakang yang dikenal sebagai substansi
alba. Sel-sel substansi alba membawa sinyal antara area substansi abu-abu, dimana pemrosesan
dilakukan, dan hasilnya dikirimkan ke tubuh. Lebih khususnya, MS menghancurkan
oligodendrocytes yang adalah sel-sel bertanggung jawab untuk membuat dan memelihara satu
lapisan lemak, yang dikenal sebagai sarung pelindung myelin, yang membantu neuron membawa
sinyal elektrik. MS menyebabkan penipisan atau kerusakan total myelin dan sering memotong
perluasan neuron atau axons. Ketika myelin hilang, neuron tidak bisa lagi secara efektif
menghantarkan sinyal elektrik. Nama multipel sklerosa mengacu pada jaringan parut (scleroses
lebih dikenal sebagai plak atau lesi) dalam substansi alba. Tingkat kerusakan myelin dalam lesi
ini menyebabkan sebagian dari gejala, bervariasi tergantung atas daerah yang mengalami
kerusakan. Hampir semua gejala neurologis bisa menyertai penyakit ini. Untuk lebih jelasnya
akan dijelaskan pada bab berikutnya.
1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI
Multipel sclerosis (MS) adalah satu kondisi autoimun dimana sistem kekebalan tubuh
menyerang sistem saraf pusat (SSP), yang mendorong ke arah terjadinya demielinisasi.
Menyebabkan banyak gejala fisik dan mental, dan sering juga berkembang menjadi cacat fisik
dan kognitif. Serangan Penyakit biasanya terjadi pada dewasa muda, umumnya terjadi pada
wanita, dan mempunyai prevalensi mencakup antara 2 sampai 150 setiap 100,000 tergantung
pada negara atau populasi spesifik. MS pertama digambarkan pada tahun 1835 oleh Jean-Martin
Charcot.1 Penyakit ini menyebabkan luka-luka pada sarung pelindung mielin (lemak yang
melingkupi aksons sel-sel saraf), oligodendrosit (sel-sel yang menghasilkan mielin), akson dan
sel-sel saraf. Gejala dari multipel sklerosis bervariasi, tergantung pada lokasi dari plak (area dari
jaringan parut) di dalam sistem saraf pusat. Gejala umum mencakup kelemahan dan kelelahan,
gangguan sensoris di dalam limbus, gangguan fungsi saluran kemih atau saluran pencernaan,
gangguan fungsi seksual, dan kehilangan keseimbangan. Walaupun penyakit ini tidak dapat
diobati atau dicegah pada saat ini, penanganannya adalah untuk mengurangi gejala dan
progresivitas.2
EPIDEMIOLOGI
Menurut National Multiple Sclerosis Society, kira-kira 400,000 orang Amerika tercatat
menderita MS, dan pada setiap minggunya sekitar 200 orang didiagnosis MS. Di seluruh dunia,
MS mungkin diderita 2.5 juta individu. Umumnya serangan terjadi dalam dekade ketiga dan
keempat, walaupun penyakit ini bisa mulai dalam masa kanak-kanak dan juga di atas usia 60
tahun. Secara keseluruhan, MS terjadi lebih sering pada wanita dibandingkan laki-laki, dengan
perbandingan adalah kira-kira 2:1.2 Multipel sklerosis lebih sering ditemukan pada daerah
2

dengan suhu sedang dibandingkan dengan daerah iklim tropis. Perbedaan etnis pada insidensi
penyakit merupakan argumen kerentanan genetik terhadap kondisi ini. Akan tetapi, variasi
geografis juga memperlihatkan peran faktor lingkungan, misalnya virus. Hal ini terutama terlihat
dari epidemi munculnya multipel sklerosis, misalnya pada Kepulauan Faroe dan Islandia.
Terdapat juga bukti bahwa orang yang dilahirkan pada daerah yang berisiko tinggi untuk
multipel sklerosis akan membawa risiko tersebut jika mereka pindah ke daerah dengan risiko
rendah dan sebaliknya, tetapi hanya jika perpindahan terjadi pada usia remaja. Hal ini
menunjukkan bahwa virus yang berdasarkan hipotesis bekerja pada dekade pertama atau kedua
kehidupan.3 Multipel sklerosis jarang terjadi pada khatulistiwa dan garis lintang 3035 utara
dan selatan. Pada umumnya multipel sklerosis meningkat secara proporsional dengan
meningkatnya jarak dari garis katulistiwa. Tidak ada penjelasanyang memuaskan mengenai
peristiwa ini, walaupun variabel tertentu telah diteliti. Hal ini karena meliputi faktor-faktor
lingkungan, seperti iklim, kelembaban, resistensi pada virus tertentu, konsumsi susu sapi.2
PATOLOGI
Penyakit ini terutama mengenai substansia alba otak dan medula spinalis, serta nervus
optikus. Ditemukan sel inflamasi kronik dan kerusakan mielin dengan akson yang relatif masih
baik. Pada substansia alba terdapat area yang relatif tampak normal yang berselang seling
dengan fokus inflamasi dan demielinisasi yang disebut juga plak, yang sering kali terletak dekat
venula. Demielinisasi inflamasi jalur Sistem Saraf Pusat (SSP) menyebabkan penurunan dan
gangguan kecepatan hantar saraf dan akhirnya hilangnya penghantaran informasi oleh jaras
tertentu.3
Plak inflamasi akan mengalami evolusi seiring dengan waktu. Pada tahap awal terjadi
perombakan lokal sawar darah otak, diikuti inflamasi dengan edema, hilangnya mielin, dan
akhirnya jaringan parut SSP yaitu gliosis. Hasil akhir akan menyebabkan daerah sklerosis yang
mengerut, yang berkaitan dengan defisit klinis minimal dibandingkan saat plak masih aktif. Hal
ini sebagian disebabkan oleh remielinisasi yang merupakan potensi SSP, dan juga memperjelas
kembalinya fungsi dengan resolusi inflamasi dan edema. Keadaan patologis ini berhubungan
dengan pola klinis relaps multipel sklerosis, yaitu terjadi gejala untuk suatu periode tertentu yang
selanjutnya membaik secara parsial atau total. Lesi inflamasi lebih lanjut yang terletak dekat
lokasi kerusakan yang sudah ada sebelumnya akan menyebabkan akumulasi defisit neurologis.
3

Plak tidak harus berhubungan dengan kejadian klinis spesifik, misalnya jika plak hanya
kecil saja dan terletak pada area SSP yang relatif tenang. 3 MS ditandai oleh fokus demielinisasi
(plak) dan berikutnya, pengrusakan dari badan sel akson dan neuronal. Perubahan ini bisa
tampak dimanapun dalam sistem saraf pusat tetapi mempunyai tempat predileksi di daerah
periaquaduktus, dasar ventrikel keempat, dan area subpial saraf tulang belakang.Neuron dalam
substansi abu-abu sering terlihat utuh dan astrosit sedikit meningkat jumlahnya. Plak di substansi
alba berwarna abu-abu dan keras, ditandai dengan proliferasi glial, fibrillary gliosis, dan
peningkatan kepadatan serat retikulin. Multipel dan fokus sklerotik inilahyang memberikan nama
pada penyakit ini.4,5
ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI
Penyebab dari multipel sklerosis tetap tidak diketahui, walaupun kegiatan penelitian
dibidang ini sudah banyak dilakukan. Hipotesis yang tidak terhitung banyaknya sudah diajukan.
Sebagian besar multipel sklerosis di Eropa adalah tipe HLA-A3, B7, DW2 dan DR2. Selama
serangan akut, jumlah sel-sel supresor dalam darah perifer berkurang. Penelitian eksperimental
mendukung teori dari infeksi slow virus atau reaksi autoimun. Inokulasi ke dalam domba berupa
jaringan saraf yang diambil dari pasien dengan multipel sklerosis memprovokasi serangan
penyakit Scrapie, suatu penyakit SSP yang dapat ditransmisikan pada domba setelah interval
laten kira-kira 18 bulan. Dua penyakit SSP progresif kronik lainnya pada manusia diketahui
dapat ditransmisikan pada simpanse yaitu penyakit Kuru dan penyakit Creutzfeldt-Jacob.
Walaupun titer campak yang meningkat sering terdapat pada pasien multipel sklerosis, tetapi
virus campak tidak dapat dianggap sebagai virus yang bertanggung jawab untuk penyakit ini.
Patogenesis dari multipel sklerosis sebagian komplemen dan sebagian berlawanan dengan
mekanisme autoimun, teori ini didukung oleh model percobaan ensefalomielitis alergika
eksperimental pada binatang. Pada tahun-tahun terakhir ini, perjalanan penyakit yang berulang
telah ditemukan pada binatang percobaan. Suatu sensitisasi yang terlambat terhadap protein
sensefalitogenik dari SSP telah diperlihatkan terjadi melalui reaksi imun seluler. Limfosit yang
tersensitisasi merupakan karier yang paling penting dari proses ini. 4 Peran mekanisme imun pada
patogenesis multipel sklerosis didukung beberapa temuan, seperti adanya sel inflamasi kronik
pada plak aktif dan hubungan kondisi ini dengan gen spesifik pada kompleks histokompatibilitas
mayor (major histocompatibility, MHC). Banyak gangguan autoimun yang ternyata berhubungan
4

dengan kelompok gen ini.3 Hubungan dengan MHC merupakan salah satu bukti pengaruh
komponen genetik dalam etiologi multipel sklerosis, begitu pula adanya kasus pada keluarga,
dan temuan peningkatan kejadian pada kasus kembar identik (monozigot) dibandingkan kembar
nonidentik (dizigot). Akan tetapi, belum ditemukan gen tunggal yang penting untuk terjadinya
multipel sklerosis.3 Fokal area dari destruksi mielin di dalam MS terjadi dengan latar belakang
suatu proses radang yang didominasi oleh penyusupan dari T-limfosit, hematogen makrofag,
aktivasi dari lokal mikroglia, dan adanya sedikit B-limfosit atau sel-sel plasma. Proses
peradangan ini berhubungan dengan peningkatan berbagai cytokines di dalam lesi MS,
mencakup interleukin-1,2,4,6,10,12, gamma-interferon (c-IFN), tumor necrosis alfa factor (TNFa), dan transforming growth beta faktor (TGF-b).6 Tanda patologik multipel sklerosis adalah
multisentrik, inflamasi SSP multifasik dan demielinisasi. Pada mulanya, setiap luka multipel
sklerosis kemungkinan melalui suatu peristiwa dari demielinisasi dan remielinisasi menuju ke
plak kronik dengan preserfasi relatif dari akson serta gliosis. Dengan begitu, terjadi disfungsi
neuropsikologikal, meskipun jaringan neural yang esensial utuh, sampai akhir perjalanan
penyakit. Bagaimanapun, penelitian saat ini telah menemukan axonal transections benar-benar
terjadi selama eksaserbasi akut; selanjutnya, kerusakan axonal, yang dilihat dengan magnetic
resonance spektroscopy, berhubungan dengan kelainan klinis. Jelas, diperlukan lebih banyak
usaha untuk memahami asosiasi antara peradangan-media demielinisasi, axonal injury, dan
kelainan klinis.7 Untuk alasan belum jelas, karakteristik luka mencakup saraf mata dan substansi
alba periventrikular serebelum, batang otak, ganglia fundamental, dan medula spinalis.
Mengidentifikasikan lesi multipel sklerosis dalam sejumlah besar spesimen adalah sulit, untuk
mengidentifikasikan lesi multipel sklerosis dalam substansi alba dengan pencitraan radiografis;
karenanya, tempat predileksi di dalam otak mungkin tidak berhubungan dengan gejalanya.
Sistem saraf perifer jarang terlibat.7
GAMBARAN KLINIS
Gambaran klinis yang khas:
Serangan yang berulang terjadi pada interval yang tidak teratur, dengan penyembuhan
sempurna atau parsial dari tanda dan gejalanya di antara setiap serangan pada kira-kira 60%
kasus.
5

Lokasi serangan tersebar di seluruh SSP, sehingga menimbulkan gambaran klinis yang sangat
bervariasi.
Pada saat yang sama, tanda-tanda penyakit dapat ditemukan, yang menunjukan fokus-fokus
demielinisasi

pada

berbagai

lokasi

misalnya

atrofi

optik

disertai

paraplegia.

Serangan yang berturut-turut dari penyakit ini dapat menyebabkan kelainan berbagai sistem
misalnya kelumpuhan okuler yang diikuti satu tahun kemudian dengan gangguan miksi.8
Manifestasi yang sering terjadi pada multipel sklerosis adalah :
1. Gangguan visual Neuritis optik (retrobulbar) merupakan gangguan visual khas yang
merupakan tanda onset multipel sklerosis. Patologi dasarnya adalah demielinisasi inflamasi pada
satu atau kedua nervus optik. Gejala neuritis optik unilateral meliputi :
Nyeri disekitar salah satu mata terutama saat mata bergerak
Penglihatan kabur dan dapat berlanjut menjadi kebutaan total monookular
Hilangnya penglihatan warna
Selain gangguan ketajaman penglihatan dan warna, pemeriksaan dapat menunjukan :
Diskus optikus membengkak, dan kemerahan pada funduskopi jika area demielinisasi inflamasi
terletak langsung dibelakang papil nervus optikus
Defek lapang pandang umumnya berupa skotoma sentral pada mata yang terkena
Defek pupil aferen relative
Neuritis optik biasanya akan membaik setelah beberapa minggu atau bulan, walaupun
pasien tetap memiliki ganggguan penglihatan pada mata yang terkena, dan funduskopi umumnya
menunjukkan diskus optikus yang pucat karena atrofi nervus optikus. Pembengkakan diskus
optikus pada fase akut, jika bilateral, harus dibedakan dari edema papil yang disebabkan oleh
peningkatan tekanan intrakranial walaupun kadang tampak serupa. Pada edema papil, biasanya
ketajaman penglihatan lebih baik, dan defek lapang pandang pada awal edema papil adalah
berupa pembesaran bintik buta fisiologis. Episode neuritis optik tidak selalu menunjukkan bahwa
pasien selanjutnya akan mengalami multipel sklerosis mungkin saja hanya merupakan penyakit
monofasik, terutama pada anak dan jika bilateral. Gangguan visual lainnya saat onset multipel
sklerosis meliputi diplopia yang sering disertai vertigo dan mual, sehingga merupakan indikasi

adanya plak batang otak. Pemeriksaan pada keadaan ini dapat menunjukkan oftalmoplegia
internuklear. Dapat juga terjadi ataksia serebelar. 3,4,5
2. Gejala dari gangguan batang otak
Trigeminal neuralgia terjadi pada 1.5% pasien MS dan 300 kali lebih banyak terjadi
dalam kelompok ini dibandingkan di dalam populasi umum. Trigeminal neuralgia, dua kali lipat
terjadi bilateral dalam pasien multipel sklerosis dibandingkan populasi pada umumnya.
Seringkali, nyeri muncul di antara serangan paroksismal, dan bisa saja nyeri terjadi diluar dari
distribusi syaraf trigeminal, kelumpuhan nervus fasialis, atau gejala lain yang menyertai tanda
gejala pada lesi pontine. MS dihubungkan dengan trigeminal neuralgia memberikan respon
terhadap pengobatan dengan prostaglandin E analog. Ketulian Mendadak atau serangan akut
vertigo dapat menyerupai suatu krisis vestibular akut, bisa juga merupakan tanda dari multipel
sklerosis yang kurang sering terjadi. 4,5
3. Gejala gangguan serebelar
Tanda dan gejala serebelar terdapat pada kasus. Gerakan ataksia sering kali merupakan
tanda yang menonjol yang terutama mengenai gaya berjalan pasien, yang tidak hanya spesifik
tetapi juga ataksik. Yang terutama berkesan dan sangat karakteristik pada multipel sklerosis
adalah tremor intensi yang menyertai gerakan volunter misalnya tes jari-hidung. Tremor
menunjukan suatu lesi dari nukleus dentatus yang mengenai serabut-serabut eferennya.
Disdiadokokinesia dan dismetria pada gerakan dapat ditemukan, biasanya disertai oleh tandatanda spastisitas dan refleks di tendon yang meningkat. Gangguan bicara dideskripsikan sebagai
irama yang tidak beraturan dan eksplosif.4,5
4. Gejala ekstrapiramidal
Lebih dari 80% dari pasien multipel sklerosis menderita gejala kejang paraparesis dengan
gejala bilateral traktus piramidal dan hiperrefleksi. Jika gejala kejang paraparesis muncul dalam
waktu yang lama, diagnosis dari multipel sklerosis harus dipertanyakan. Paraparesis progresif
mungkin saja hanya satu-satunya gejala multipel sklerosis, terutama sekali didalam onset akhir
penyakit, dan cenderung menjadi progresif dalam beberapa kasus. Tidak adanya refleks kulit
abdominal dapat menjadi tanda dari kejang paraparesis. Hal ini tidak memiliki nilai informatif

sebagai satu temuan terisolasi, refleks ini tidak dimiliki oleh 20% orang dewasa normal, tetapi
menjadi signifikan jika muncul bersama dengan refleks dinding abdominal yang berlebihan. 4,5
5. Fenomena mirip bangkitan
Timbulnya serangan epileptik pada multipel sklerosis sudah berulang-ulang diajukan dan
diabaikan. Pada kelompok pasien multipel sklerosis yang diteliti ternyata epilepsi 4 kali lebih
sering dibandingkan populasi umum. Serangan batang otak paroksismal harus membangkitkan
kecurigaan adanya multipel sklerosis terutama pada pasien muda. Kelainan ini dapat terjadi
sebagai tanda penyakit yang timbul, dengan cara yang sama seperti serangan berupa kehilangan
tonus otot yang menyebabkan pasien jatuh atau seperti distonia paroksismal. Sebagian serangan
berulang yang berlangsung selama 15-45 detik, disertai oleh disartria paroksismal dan ataksia.4,5
6. Gangguan mental
Pasien dengan multipel sklerosis tidak jarang memperlihatkan euforia yang tidak sesuai
kurangnya menyadari penyakitnya. Makin lama perjalanan penyakitnya, makin mungkin timbul
perubahan psikoorganik yang terutama pada kasus-kasus dengan perjalanan penyakit yang
panjang, dapat menimbulkan demensia pada pasien. Gangguan mental dapat merupakan gejala
dari MS, biasanya berkaitan dengan kelainan batang otak; tentu saja, gambaran psikotik dapat
merupakan tanda dini dari penyakit ini. Pada stadium yang lebih dini, tanda kelainan mental
dapat ditemukan pada kira-kira 3% kasus.4,5
7. Gangguan miksi
Pada saat pertama kali masuk rumah sakit, sekitar 20% pasien memperlihatkan gangguan
ini. Yang paling sering adalah dorongan yang tidak terkontrol untuk miksi, yang dapat
menimbulkan pasien mengompol. Bentuk lain dari inkontinensia kurang sering ditemukan.4,5
8. Gangguan Sensorimotorik
Manifestasi sensorik dan motorik umumnya menunjukkan lesi pada medula spinalis atau
hemisfer serebri. Contohnya, pasien mengalami paraparesis spastik asimetris dan atau parestesia,
anestesia suhu, dan disestesia pada anggota gerak. Lesi pada kolumna posterior medula spinalis
servikal dapat menyebabkan gejala yang hampir patognomonik yaitu sensasi kesemutan yang
menjalar ke lengan atau tungkai saat fleksi leher (Fenomena Lhermitte). Pada beberapa pasien,
8

gejala motorik, sensorik, atau visual terkadang lebih buruk setelah mandi air panas ( Fenomena
Uhthoff ).2,3,4,5 Gangguan sensorik terdapat kira-kira pada 50% pasien-pasien dengan penyakit
yang dini. Kadang-kadang gejala yang timbul berupa sensasi yang spontan abnormal (parestesia)
atau sebagai perasaan abnormal setelah menggores kulit dari ekstremitas (disestesia). Tangan
kadang-kadang dapat memperlihatkan astereognosia yang berat.4,5
PERJALANAN PENYAKIT
Pada waktu evolusi gejala yang umum terjadi adalah gambaran klinis memburuk selama
beberapa hari atau minggu, mencapai plateu dan kemudian membaik secara bertahap, sebagian
atau total, selama beberapa minggu atau bulan. Kemudian dapat terjadi rekurensi pada interval
yang tidak dapat diperkirakan, yang mengenai bagian yang sama atau berbeda dari SSP. Peran
cedera fisik, infeksi, kehamilan, dan stres emosional dalam menyebabkan relaps masih
kontroversial.3
Dapat terjadi resolusi simtomatik total atau hampir total, khususnya dengan episode
episode awal (penyakit relapsremisi, kurang lebih pada 80% pasien). Akan tetapi, episode
demielinisasi berikutnya dapat menyebabkan ketidakmampuan residu, sehingga pasien
memasuki fase sekunder progresi stabil tanpa resolusi (penyakit progresif sekunder). Beberapa
pasien (kira kira 10%), terutama pada kasus paraparesis spastik di usia pertengahan, tidak akan
mengalami relaps dan remisi yang jelas (penyakit progresif primer). 3 Perjalanan alamiah multipel
sklerosis pada tiap pasien amat bervariasi. Beberapa pasien dapat mengalami satu atau lebih
episode inisial kemudian tidak ada gejala untuk bertahuntahun (pola jinak terjadi pada 10%
kasus). Sebagian akan mengalami akumulasi disabilitas, walaupun tetap mampu bekerja selama
bertahuntahun. Akan tetapi, sekelompok pasien (hingga sepertiga kasus) terkenanya lebih
parah. Saat ini belum dapat diprediksi prognosis setiap pasien, walaupun biasanya keterlibatan
motorik dan serebelar mempunyai prognosis lebih buruk. 3 Gejala klinis pasien usia muda dengan
multipel sklerosis lanjut, sangat membebani keluarga dan orang yang merawat. Kadangkadang
penyakit bersifat hiperakut, dan terjadi kematian dalam beberapa bulan, tetapi harapan hidup
ratarata pasien dengan penyakit progresif adalah lebih dari 25 tahun setelah onset. Pasien
dengan penyakit progresif primer dapat mengalami akumulasi disabilitas perlahanlahan walau
dari definisi berarti tanpa ada remisi; sehingga prognosis jangka panjang biasanya buruk.3

Subtipe-subtipe dari multipel sklerosis:


Relapsing remitting multiple sclerosa. Ini adalah tipe multipel sklerosis klasik dengan gejala
klinis ditandai oleh eksaserbasi, dengan peningkatan jumlah variasi antar serangan. Relapsingremitting menggambarkan keadaan awal 85% sampai 90% dari pasien dengan multipel sklerosis.
Ini adalah subtipe yang ditandai oleh serangan yang tidak dapat diramalkan (relaps) diikuti oleh
periode remisi dari beberapa bulan sampai beberapa tahun dengan atau tanpa gejala baru dari
aktivitas penyakit. Gejala neurologis selama serangan mungkin dapat menghilang atau mungkin
saja menjadi permanen. Jika gejala neurologis selalu menghilang antar serangan, hal inilah yang
disebut sebagai benign multipel sklerosis.1,8
Secondary progressive multiple sclerosa. Sekitar 80 persen kasus relapsing remitting multipel
sklerosis berkembang menjadi satu pola penyakit secondary progresif, secara perlahan-lahan dan
progresif meningkatkan serangan tanpa adanya suatu episode remisi kurang lebih 20 tahun
setelah serangan pertama. Hal ini menggambarkan suatu bentuk dari relapsing remitting multipel
sklerosis pada satu varian terpisah, walaupun tidak semua relapsing remitting multiple sclerosa
berlanjut menjadi secondary progressive multiple sclerosa.1,8
Primary progressive multiple sclerosa. Penyakit ini mempunyai pola serangan yang lambat,
biasanya terjadi setelah umur 40 tahun, dan dimulai dengan suatu kelainan yang samar dan
progresive terutama pada medula spinalis tanpa eksaserbasi ataupun remisi. Tidak seperti
penyakit eksaserbasi-remitting, dimana dua per tiga dari kasus adalah wanita, primary
progressive multiple sclerosis hanyalah sedikit lebih umum terjadi pada para wanita dengan
perbandingan sekitar 1.3:1. MRI otak dalam kasus ini kadang-kadang normal, dan MRI medula
spinalis dapat hanya memperlihatkan suatu penghentian pertumbuhan medula spinalis.
Secondary progressive adalah jenis paling umum dari multiple sklerosis dan menyebabkan
jumlah kecacatan terbesar.1,8
Progressive relapsing multiple sclerosa. Progresif relapsing menggambarkan pasien dari
serangan multipel sklerosis, yang mempunyai suatu kemunduran neurologis yang menetap tetapi
juga menderita serangan yang bertingkat-tingkat dan subtipe yang paling sedikit terjadi dari
semua subtipe.1
Devic syndrome (Neuromyelitis optica). Devic Syndrome adalah suatu kelainan akut dimana
neuritis optik dan radang saraf tulang belakang yang terjadi dalam waktu yang singkat, dengan
sedikit atau tidak ada keterlibatan dari bagian-bagian lain sistem saraf pusat. Hal ini secara
10

umum diperkirakan sebagai suatu penyakit monofasik tanpa kekambuhan setelah serangan;
bagaimanapun, banyak kasus yang dimulai dengan neuritis optik dan radang saraf tulang
belakang berkembang menjadi suatu bentuk relapsing-remitting serupa dengan bentuk relapsingremitting multiple sclerosis, tetapi dengan gejala sisa yang lebih berat dari serangan. MRI
didalam kasus ini menunjukan tidak ada lesi di dalam otak tetapi secara umum memperlihatkan
bukti adanya peradangan dari saraf tulang belakang biasanya tiga atau lebih segmen. Apakah hal
ini adalah suatu varian dari multipel sklerosis atau satu penyakit yang berbeda masih menjadi
suatu kontroversi. Mungkin saja suatu bentuk penyakit yang berbeda, atau tingkat dan perbedaan
intensitas yang dapat dihubungkan lebih kepada bentuk genetik dari pasien dibandingkan pada
etiologi.8
Marburg disease (Acute multiple sclerosis) adalah suatu kelainan akut dan fulminan
demielinisasi yang pertama kali digambarkan oleh Otto Marburg pada tahun 1906. Adalah suatu
bentuk yang berat dari suatu penyakit progresif demielinisasi yang secara tipikal dapat
menyebabkan kematian dalam beberapa bulan atau dalam satu tahun.8
Balo concentric sclerosis kemungkinan ini adalah suatu varian agresif yang biasanya berlanjut
ke arah kematian dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan. Bentuk ini ditandai oleh plak
besar dari demielinisasi dengan bentuk lapisan konsentris dari regenerasi mielin. Plak ini
kadang-kadang bisa terlihat di dalam MRI. Bukti-bukti yang ada saat ini, dari beberapa kasus
dengan Balo-like lesion pada gambaran MRI mempunyai satu bentuk tipikal dari relapsingremitting multiple sclerosis. Mungkin saja bahwa Balo-like lesion adalah satu macam bentuk
dari beberapa multipel sklerosis dini yang dengan sangat aktif mengalami remielinisasi, bentuk
lesi yang menghilang ketika perkembangan penyakit berjalan sedemikian rupa sehingga lesi
konsentris hanya dapat diamati secara patologis dalam individu yang meninggal segera setelah
serangan dari penyakit.8
Diffuse Sclerosis (Schilders Disease). Anak-anak dengan penyakit ini menderita suatu
kemunduran mental yang cepat dan kemunduran neurologis oleh karena ekstensif, simetris
demielinisasi terutama mempengaruhi pusat semiovale. Penyakit diperkirakan suatu jenis dari
leukodistrofi.5
Acut Disseminated Encephalomyelitis (ADEM). Penyakit ini diperkirakan menjadi suatu varian
yang akut progresif dari multipel sklerosis. Seperti di multipel sklerosis, ada fokus dari
demielinisasi dalam otak dan saraf tulang belakang dengan destruksi aksonal dan infiltrasi
11

perivaskular limfositik . Gejala mulai dengan akut, sering dengan gejala demam, leukositosis,
dan CSF pleositosis sampai 300 sel-sel setiap milimeter kubik, dan mungkin dapat secara
simultan mencakup sistem saraf perifer juga. Pembentukan yang tidak sempurna dari protein
dasar mielin tampaknya berperan penting dalam patogenesis ADEM. Penyakit ini kemajuannya
sering terjadi dengan cepat, mendorong ke arah kematian di dalam beberapa minggu, tetapi juga
bisa terjadi pemulihan sempurna.8
DIAGNOSIS
Selama bertahun tahun, diagnosis multipel sklerosis ditegakkan berdasarkan gejala
klinis, timbulnya paling sedikit dua lesi SSP dengan karakteristik klinis yang tepat, terpisah
waktu dan ruang. Saat ini sudah ada pemeriksaan spesialistik dan pemeriksaan laboratorium
untuk menunjang diagnosis. Tujuan pemeriksaan pasien dengan kecurigaan multipel sklerosis
adalah:
mengumpulkan bukti anatomis lesi yang terpisah pada SSP,
mendapatkan bukti gangguan imun SSP,
menyingkirkan kemungkinan diagnosis lainnya.3
Sehubungan dengan luasnya ruang lingkup dan gejala, maka multipel sklerosis tidak
boleh didiagnosis hanya setelah beberapa bulan sampai 1 tahun setelah serangan gejala. Dokter,
terutama sekali ahli saraf, harus mencatat secara rinci perjalanan penyakit dan melakukan
pemeriksaan fisik dan neurologis.2,9 Diagnosis dari multipel sklerosis biasanya dibuat pada
pasien dewasa muda dengan gejala relapsing-remitting yang dapat dijadikan acuan ke berbagai
area dari substansi alba dari sistem saraf pusat. Diagnosis lebih sulit dilakukan pada pasien saat
sedang

mengalami

keluhan

neurologis

atau

pada

bentuk

klinis

progresif

primer.9

Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan darah untuk menyingkirkan penyakit vaskuler


kolagen, infeksi (Penyakit Lyme, sipilis,dll), kelainan endokrin, kekurangan vitamin B-12,
sarcoidosis, dan vaskulitis. Pemeriksaan dari cairan serebro spinal (CSS) digunakan untuk
mendukung diagnosis dari multipel sklerosis. Adanya protein dasar mielin di dalam CSS pasien
multipel sklerosis mungkin saja benar-benar petunjuk aktivitas proses multipel sklerosis, tetapi
ketidakhadirannya tidak mengesampingkan aktivitas penyakit. 9 Sebuah teknik neuroimaging
terbaru, Magnetic Resonance Spechtroscopy (MRS), bermanfaat dalam mengamati jumlah NAA
(N-acetyl-aspartate) pada pasien dengan multipel sklerosis. NAA adalah suatu asam amino yang
12

ditemukan di dalam neuron dan aksons otak. Pada pasien dengan relapsing-remitting multiple
sclerosis, jumlah NAA menurun, menandakan adanya kerusakan axonal; bagaimanapun, pada
pasien dengan secondary progresive multiple sclerosis dengan banyak kelainan, jumlah NAA
berkurang secara signifikan. Pada fakta, pasien dengan multipel sklerosis mempunyai jumlah
yang lebih rendah NAA bahkan di area otak sebelumnya secara alami, ketika dibandingkan
dengan jumlah NAA di dalam orang normal.9
Pemeriksaan penunjang yang penting adalah:

CT scan dapat memperlihatkan plak-plak yang menunjukan peningkatan yang


abnormal setelah suntikan larutan yodium. MRI scan lebih sensitif memperlihatkan

lebih banyak plak daripada CT scan, begitu juga lesi-lesi sampai sekecil 43 mm.1
MRI otak dan medula spinalis, yang dapat menunjukkan lesi plak demielinisasi. Akan
tetapi, gambaran ini tidak spesifik untuk multipel sklerosis (penyakit pembuluh darah
kecil juga dapat menunjukkan gambaran serupa) dan beberapa pasien sklerosis
multipel mungkin mengalami negatif palsu pada MRI. Walaupun demikian, saat ini
telah dibuat suatu kriteria yang memungkinkan diagnosis multipel sklerosis setelah

serangan klinis pertama, berdasarkan gambaran MRI tertentu.3


Potensial bangkitan visual (visual evoked potentials), yang dapat menunjukkan
perlambatan konduksi sentral jalur visual, misalnya akibat neuritis optik subklinis

sebelumnya. 3
Pemeriksaan cairan serebrospinal, yang dapat menunjukkan perubahan nonspesifik
termasuk limfositosis dengan penyakit aktif, dan peningkatan protein (terutama
imunoglobulin).

Pemeriksaan

cairan

serebrospinal

yang

lebih

teliti

untuk

mendiagnosis multipel sklerosis adalah deteksi pita oligoklonal dengan elektroforesis


yang menunjukkan sintesis lokal imunoglobulin dalam SSP. Akan tetapi, tes ini masih
dapat menunjukkan positif palsu pada keadaan imunologis atau infeksi lainnnya, dan

pasien multipel sklerosis jarang mengalami negatif palsu.3


Pemeriksaan tambahan
Beberapa pemeriksaan penunjang lainnya biasa juga dilakukan. Elektroensefalografi
pada minimal sepertiga kasus memperlihatkan abnormalitas yang tidak spesifik yang
tidak memiliki korelasi dengan gambaran status mental pasien. Serum darah
memperlihatkan

kadar

gamaglobulin

yang

meningkat

dan

perubahan

imunoelektroforetik hanya selama serangan akut. Tes serologik tidak banyak gunanya
13

pada saat diagnosa klinis ditegakkan walaupun kenyataan bahwa antibodi otak yang
bersirkulasi dapat diperlihatkan pada seperempat sampai sepertiga pasien. Sayangnya
antibodi-antibodi ini adalah tidak spesifik, dapat ditemukan pada penyakit-penyakit
lain yang mana terjadi kerusakan jaringan otak. Sebagian besar dari pasien dengan
multipel sklerosis memperlihatkan titer antibodi yang tinggi terhadap virus campak
daripada yang ditemukan pada populasi umum. Limfosit dari pasien-pasien ini lebih
sering memperlihatkan pengelompokan roset daripada sel-sel epitelial yang disuntik
dengan virus campak.4
Karena pemeriksaan diatas tidak ada yang 100% sensitif atau spesifik untuk multipel
sklerosis, maka pemeriksaan ini harus dipertimbangkan dan dinilai dengan baik. Pada pasien
dengan gejala sensorik minor, biasanya pemeriksaan penunjang diatas dapat ditunda dulu. Jika
tidak ada tanda fisik yang definitif, pasien dapat mengalami gejala tersebut dan khawatir akan
kemungkinan dirinya mengalami multipel sklerosis padahal tidak ada penyakit neurologis yang
berarti. Selain itu, jika gejala mengarah multipel sklerosis tanpa adanya keterbatasan fungsi,
maka pemeriksaan dapat ditunda dulu, terutama karena hingga saat ini belum ada terapi kuratif. 3
Pemeriksaan penunjang lebih penting dilakukan pada pasien dengan penyakit primer progresif
dimana kriteria klasik diagnosis klinis tidak dapat digunakan. Pada pasien ini biasanya timbul
gejala paraparesis spastik progresif. Pemeriksaan penunjang kasus ini adalah pencitraan medula
spinalis dengan MRI untuk menyingkirkan lesi yang menekan medula spinalis (misalnya tumor),
suatu diagnosis banding utama yang dapat diterapi.3
DIAGNOSIS BANDING
Diagnosa banding utama untuk menjadi pertimbangan tergantung pada manifestasi
neurologis dalam kasus:
Defisit saraf kranial mungkin saja berhubungan dengan berbagai jenis lesi fokal, seperti sebuah
tumor dermoid basis kranii, suatu tumor dari serebelopontine angel, suatu tumor di foramen
magnum, suatu optik glioma atau sphenoid wing meningioma dengan atrofi saraf optik, suatu
brainstem astrocytoma, brainstem encephalitis, dan lain-lain.
Suatu hemiplegia mungkin saja berhubungan dengan suatu tumor otak atau stroke

14

Kejang paraparesis mungkin saja berhubungan dengan suatu tumor saraf tulang belakang atau
cervical spondylotic myelopathy.
Paraparesis berulang mungkin saja berhubungan dengan suatu malformasi vaskular pada saraf
tulang belakang.
Gejala dari serebellar dan traktus piramidal, dan mungkin juga gejala dari batang otak,
mungkin saja berhubungan dengan suatu massa atau bentuk malformasi batang otak atau
craniocervical junction. Beberapa gejala sering misdiagnosed sebagai multipel sklerosis. Bentuk
malformasi vaskuler batang otak, juga dapat menyebabkan gejala neurologis yang berubah-ubah
dengan onset usia pertengahan atau usia tua.
Keterlibatan dari berbagai area dari sistem saraf pusat mungkin saja berhubungan dengan
penyakit sistemik seperti sistemik lupus erythematosus, sarcoidosis, penyakit vaskuler, toxic
encephalomyelopathy, hypothyroidism, atau funicular myelosis.
Keterlibatan mata dan sistem saraf pusat mungkin saja berhubungan dengan suatu vaskulitis
atau intoksikasi. Uveitis ditemukan bersama-sama dengan kelainan neurologis dalam
uveoencephalomyelitis (Vogt-Koyanagi-Harada syndrom), suatu hal yang jarang, kiranya adalah
sindrom virus dimana terjadi uveitis, gangguan gaya berjalan, leukodermia, munculnya uban,
encephalitis, dan tanda meningeal yang berubah-ubah.
Behcets disease dapat menyebabkan apththous ulcer, manifestasi okular, dan manifestasi saraf
pusat, terutama brainstem encephalitis.5
PENATALAKSANAAN
Secara umum, bila diagnosis sklerosis multipel telah dipastikan, maka pasien harus
diberitahu. Beberapa pasien akan menanyakan apakah mereka mengalami multipel sklerosis
setelah suatu episode tunggal, ketika diagnosis multipel sklerosis masih berupa kemungkinan.
Pada keadaan ini, yang terbaik dilakukan adalah diskusi yang menyeluruh. Walaupun
kemungkinan multipel sklerosis tidak dapat disangkal, tetapi pasien harus disadarkan bahwa
mungkin penyakit yang dideritanya merupakan penyakit tunggal yang tidak akan relaps. Pasien
dapat memperoleh keuntungan dengan membaca mengenai multipel sklerosis atau kontak
dengan kelompok pendukung. Akan tetapi, dokter memiliki peran edukatif yang bersinambung,
terutama dalam mengarahkan pasien dalam terapi yang mahal tetapi belum tentu efektif, seperti
manipulasi diet dan penggunaan oksigen hiperbarik.3
15

Pengobatan yang diakui terbaik, disamping pengobatan nonfarmakologik, saat ini adalah
dengan interferon beta berupa injeksi Betaseron 250 mcg subkutan selang sehari. Penelitian
Benefit yang dilaporkan awal oktober 2005 menunjukan, bahwa selama lima tahun terjadi
penurunan angka kejadian multipel sklerosis hingga 50% dengan dua tahun pengobatan pada
kasus yang sebelumnya adalah kemungkinan multipel sklerosis. 10 Walaupun belum ada terapi
kuratif untuk multiple sklerosis, namun terdapat tiga aspek penting dalam tatalaksana:
tatalaksana relaps akut,
modifikasi perjalanan penyakit,
kontrol gejala.3
Tatalaksana Relaps Akut
Relaps pada seorang pasien yang cukup berat dan mengakibatkan keterbatasan fungsi,
misalnya karena kelemahan anggota gerak atau gangguan visual, dapat diterapi dengan
kortikosteroid. Saat ini kortikosteroid diberikan dalam bentuk metilprednisolon dosis tinggi baik
secara intravena maupun oral (500 mg1 g per hari selama 35 hari ). Pengobatan ini dapat
memperbaiki penyembuhan tetapi bukan derajat penyembuhan dari eksaserbasi. Steroid jangka
panjang belum terbukti mempengaruhi keadaan perjalanan penyakit alamiah.3
Modifikasi Perjalanan Penyakit
Bukti adanya dasar autoimun pada multipel sklerosis telah menarik uji klinis obatobat
imunosupresan, seperti azatioprin, metotreksat, dan siklofosfamit, yang mencoba mengubah
prognosis jangka panjang penyakit. Akan tetapi, efek samping dari obat ini lebih banyak
daripada keuntungannya. Sekarang mulai digunakan obat imunoterapi yang lebih baru dengan
tujuan mengubah kecepatan progresivitas multipel sklerosis, atau setidaknya mengurangi
kecepatan relaps, tanpa efek samping yang berat, misalnya interferon beta dan glatiramer asetat.
Obat tersebut memberi harapan untuk memberikan proteksi terhadap relaps (setidaknya reduksi
frekuensi relaps sampai 30%) dan sedikit penurunan kecepatan progresi penyakit.3

Kontrol Gejala
16

Terapi simtomatik dengan obat untuk komplikasi multipel sklerosis adalah sebagai
berikut :
Spastisitas, spasme fleksor baklofen (oral atau intratekal), dantrolen, tizanidin, diazepam,
walaupun obat obat dapat meningkatkan kelemahan dan menyebabkan rasa kantuk. Pendekatan
lain meliputi injeksi toksin botulinum pada otot yang terkena.
Tremor serebelar jika ringan dapat berespons dengan pemberian klonazepam, isoniazid, atau
gabapentin.
Fatique (sering terjadi bersamaan dengan relaps) amantadin,selegilin, atau obat antinarkolepsi
modafinil.
Gangguan kandung kemih obat antikolinergik, misalnya oksibutinin atau tolterodin; pasien
harus pula dilatih untuk melakukan kateterisasi intermiten mandiri. Infeksi saluran kemih harus
ditangani segera.
Depresi obat trisiklik dan kelompoknya dalam dosis kecil, misalnya amitriptilin atau
dotiepin;selective serotonin reuptake inhibitor ( SSRI ), misalnya sertralin.
Impotensi inhibitor fosfodiesterase tipe 5, misalnya sildenafil, papaverin intrakavernosa, atau
prostaglandin. Prostaglandin dapat pula diberikan secara topikal melalui uretra.
Nyeri, gejala paroksismal termasuk kejang karbamazepin, gabapentin. Peran kanabis dalam
tatalaksana nyeri dan spastisitas pada multipel sklerosis masih kontroversial.3
Eksaserbasi adalah didefinisikan sebagai episode serangan gejala sementara, kadangkadang disebut juga sebagai serangan atau kambuh lagi. Sebagian besar episode relaps
menunjukan suatu derajat pemulihan secara spontan, tetapi pengobatan adalah ditujukan untuk
episode relaps yang mempunyai suatu dampak parah terhadap fungsi. Steroid merupakan
pengobatan pilihan untuk episode relaps, biasanya metil-prednisolon diberikan dengan oral atau
intravena. Sebelumnya steroid diberikan, infeksi harus disingkirkan karena steroid mempunyai
efek imunosupresan dan bisa memperburuk infeksi.2 Modifikasi pengobatan penyakit adalah
bertujuan untuk memperlambat progresivitas penyakit. Dua jenis imunomodulator agen yang
saat ini digunakan sebagai suatu pengobatan lini pertama adalah beta interferon dan glatiramer
asetat. Beta Interferon sudah dibuktikan efektif untuk Relapsing-Remitting multiple sclerosa dan
Secondary Progressive multiple sclerosa. Saat ini tidak ada bukti untuk peningkatan hasil
pengobatan terhadap Primary Progresive multiple sclerosa. Penghentian pengobatan mungkin

17

saja diperlukan oleh karena intoleran pada efek samping, seperti saat suatu kehamilan
direncanakan, atau ketika tidak lagi efektif. Glatiramer adalah pengobatan yang sesuai untuk
mengurangi frekuensi relaps pada pasien dengan Relapsing-Remitting multiple sclerosa dan
tidak digunakan untuk Primary Progresive Multiple Sclerosa dan Secondary Progressive
Multiple Sclerosa. Kriteria untuk menghentikan glatiramer adalah sama seperti beta interferon. 2
Sejumlah pengobatan tersedia untuk menangani gejala-gejala dan komplikasi multipel sklerosis
kronis, masing-masing dengan obat-obatan yang spesifik. Tentu saja, pengobatan gejala,
bersama-sama dengan pengobatan suportif dan rehabilitasi, adalah satu kesatuan bagian terbesar
penanganan multipel sklerosis.2
Interferon
Sejak 1993, pengobatan yang mempengaruhi sistem kekebalan, terutama interferon,
digunakan untuk penatalaksanaan multipel sklerosis. Interferon adalah suatu protein yang
membawa pesan ke tempat dimana sel-sel dari sistem kekebalan dibentuk dan untuk
berkomunikasi satu sama lain. Terdapat berbagai jenis yang berbeda dari interferon, seperti alfa,
beta, dan gamma. Semua interferon mempunyai kemampuan untuk mengatur sistem kekebalan
dan memainkan suatu peranan penting dalam melindungi tubuh dari infeksi virus. Setiap
interferon bekerja dengan cara yang berbeda, tetapi memiliki fungsi yang hampir sama. Beta
interferon ditemukan bermanfaat dalam penanganan dari multipel sklerosis. Interferon beta-1b
(Betaseron) adalah interferon pertama disetujui untuk mengelola Relapsing Remitting Multiple
Sclerosa pada tahun 1993. Pada tahun 1996, interferon beta-1a (Avonex) mendapatkan
persetujuan dari FDA untuk Relapsing Remitting Multiple Sclerosa.
Secara keseluruhan, pasien yang diterapi dengan interferon mengalami lebih sedikit
relaps atau suatu interval yang lebih panjang dari relaps. Uji klinis juga telah memperlihatkan
efek terhadap memperlambat akumulasi kerusakan. Efek samping paling umum adalah suatu
sindrom menyerupai-influensa meliputi demam, kelelahan, kelemahan, dan gangguan fungsi
otot. Sindrom ini cenderung menurun seiring dengan berjalannya terapi. Efek samping umum
yang lain adalah reaksi lokal tempat injeksi, perubahan dalam jumlah sel darah, dan kelainan dari
fungsi hati. Test fungsi hati dan hitung jumlah sel darah direkomendasikan untuk pasien yang
menerima interferon beta-1b.

18

Uji klinis dari obat beta interferon pada pasien dengan serangan pertama dari multipel
sklerosis menunjukkan bahwa dalam populasi pasien ini, obat-obatan ini dapat menunda dari
serangan kedua. Avonex diberikan secara intramuskuler sekali seminggu, Betaseron
diberikan secara subkutan setiap selang sehari, dan Rebif diberikan secara subkutan tiga kali
setiap minggunya.
Interferon beta yang ada meliputi:
Interferon beta-1b (Betaseron) digunakan untuk penatalaksanaan bentuk relaps dari multipel
sklerosis, untuk mengurangi frekuensi dari relaps klinis. Pasien dengan multipel sklerosis yang
telah menunjukan efektifitas meliputi pasien yang telah memiliki satu episode klinis pertama dan
yang mempunyai gambaran MRI yang konsisten dengan multipel sklerosis.
Interferon beta -1a(Rebif) digunakan untuk penatalaksanaan pasien dengan bentuk relaps dari
multipel sklerosis untuk mengurangi frekuensi klinis dari relaps dan menghambat akumulasi
kerusakan fisik. Keefektifan dari Rebif dalam kronis progresif multipel sklerosis belum dapat
dibuktikan.
IFN beta-1a (Avonex) digunakan untuk penanganan pasien dengan bentuk relaps dari
multipel sklerosis untuk memperlambat akumulasi kerusakan fisik dan mengurangi frekuensi
klinis dari relaps. Pasien dengan multipel sklerosis yang telah dibuktikan efektivitasnya adalah
meliputi pasien yang telah mengalami suatu episode klinis pertama dan mempunyai gambaran
MRI konsisten dengan multipel sklerosis. Keamanan dan efektivitas pada pasien dengan kronis
progresif multipel sklerosis belum dapat ditetapkan.9
Glatiramer Asetat
Glatiramer Asetat (Copaxone) adalah suatu obat yang bertujuan untuk mengurangi
frekuensi relaps dalam Relapsing Remitting Multiple Sclerosis. Glatiramer Asetat adalah suatu
bahan sintetis campuran asam amino yang menyerupai suatu komponen protein dari myelin. Hal
ini kemungkinan bahwa reaksi sistem imunologi yang merusak myelin dalam multipel sklerosa
dapat diblok oleh glatiramer asetat. Sebuah reaksi dapat terjadi dengan segera setelah injeksi dari
glatiramer asetat, dapat terjadi pada satu dari 10 pasien. Reaksi tersebut dapat meliputi
kemerahan, nyeri dada atau sesak, jantung berdebar-debar, kecemasan, hipoventilasi. Reaksi
biasanya muncul dalam 30 menit dan tidak memerlukan penanganan. Beberapa pasien mungkin
19

saja berhadapan dengan resiko lipoatrophi, inflamasi dan destruksi jaringan di bawah kulit di
tempat injeksi. Glatiramer Asetat adalah digunakan untuk mengurangi frekuensi dari relaps pada
pasien dengan Relapsing-Remitting Multiple Sclerosa.9
Natalizumab
Natalizumab (Tysabri) adalah suatu obat yang sudah disetujui oleh FDA untuk
pengobatan multipel sklerosis. Natalizumab adalah satu antibodi monoklonal yang melawan
VLA-4, suatu molekul yang memerlukan sel-sel imun untuk melekat pada sel-sel lain,
menembus sawar darah otak dan memasuki otak. Proses ini terjadi melalui pembuluh darah
dalam waktu bulanan. Ini memberikan suatu tanda peringatan untuk suatu penyakit yang
berpotensi berakibat fatal, Progresive Multifocal Leukoencephalopathy (PML), suatu infeksi
virus dari otak yang biasanya menyebabkan kematian atau cacat yang berat. Untuk alasan inilah
hanya pasien yang telah menandatangani inform konsen untuk pengobatan dengan program
pengobatan ini yang boleh menjalani pengobatan ini.
Natalizumab digunakan sebagai monoterapi untuk pengobatan dari pasien dengan relaps
multipel sklerosis untuk mencegah progresifitas penyakit dan mengurangi frekuensi relaps klinis.
Keamanan dan efektifitas natalizumab pada penggunaan lebih dari dua tahun tidak diketahui.
Karena natalizumab meningkatkan resiko dari PML, maka dari itu secara umum hanya
direkomendasikan untuk pasien yang tidak merespon, atau tidak mampu mentoleransi efek
samping bentuk pengobatan lain dari multipel sklerosis.9
Mitoxantrone
Mitoxantrone (Novantrone) juga disetujui oleh FDA untuk pengobatan dari multipel
sklerosis. Mitoxantrone adalah suatu obat kemoterapi yang memiliki resiko dari efek samping
yang berhubungan dengan jantung atau kanker berat. Oleh karena efek samping serius ini, dokter
cenderung untuk mencadangkan penggunaannya hanya untuk kasus yang buruk dari multipel
sklerosis.
Mitoxantrone adalah digunakan untuk mengurangi kerusakan saraf dan frekuensi relaps
klinis pada pasien dengan secondary, progresif, progresif relapsing, atau Relapsing-Remitting
Multiple sclerosa yang mengalami perburukan keadaan (sebagai contoh, pasien yang status
20

sarafnya secara signifikan abnormal atau sering relaps). Mitoxantrone tidak digunakan dalam
penanganan dari pasien dengan primer progresif multiple sclerosa.9
Pasien dengan multipel sklerosis tahap lanjut mungkin membutuhkan keterlibatan tim
neurorehabilitasi. Pasien dengan penyakit yang berat membutuhkan penanganan menyeluruh
yang sesuai untuk pasien paraplegia, terutama perawatan yang teliti pada daerah yang mengalami
tekanan. Perburukan gangguan berkemih mungkin memerlukan kateterisasi uretra atau
suprapubik.3
Tim dari berbagai multidisiplin biasanya meliputi spesialis penyakit saraf, urologi, ilmu
pengobatan mata, neuropsikologi, dan pekerjaan sosial.2
Perlunya pembedahan pada kasus ekstrem yaitu:
Tenotomi untuk terapi spastisitas dan spasme fleksor
Stimulasi kolumna dorsalis untuk rasa nyeri
Talamotomi stereotaktil untuk ataksia serebelar berat.3
PROGNOSIS
Prognosis untuk seseorang dengan multipel sklerosis tergantung pada subtipe penyakit;
jenis kelamin individu, ras, umur, gejala awal, dan derajat kerusakan. Harapan hidup dari
penderita multipel sklerosis, untuk tahun-tahun awal, saat ini hampir sama halnya dari pada
orang normal. Hal ini disebabkan terutama karena peningkatkan metoda dari pencegahan
progresif penyakit, seperti fisioterapi dan terapi bicara, bersama-sama dengan penanganan yang
menangani komplikasi umum, seperti radang paru-paru dan infeksi saluran kemih. Meskipun
demikian, setengah kematian dari pasien dengan multipel sklerosis adalah secara langsung
berhubungan dengan komplikasi dari penyakit, sementara 15% lebih berhubungan dengan bunuh
diri.1 Secara umum sangatlah sulit untuk meramalkan prognosis multipel sklerosis. Setiap
individu memiliki variasi kelainan, tetapi sebagian besar pasien dengan multipel sklerosis bisa
mengharapkan 95% harapan hidup normal. Beberapa penelitian telah menunjukankan pasien
yang mempunyai sedikit serangan di tahun pertama setelah diagnosis, interval yang lama antar
serangan, pemulihan sempurna dari serangan, dan serangan yang berhubungan dengan saraf
sensoris (misalnya., baal atau perasaan geli) cenderung untuk memiliki prognosis yang lebih
baik. Pasien yang sejak awal memiliki gejala tremor, kesukaran dalam berjalan, atau yang
mempunyai serangan sering dengan pemulihan yang tidak sempurna, atau lebih banyak lesi yang
21

terlihat oleh MRI scan sejak dini, cenderung untuk mempunyai suatu tingkat penyakit yang lebih
progresif.2

22

BAB III
KESIMPULAN
Multipel sklerosis adalah satu kondisi autoimun dimana sistem kekebalan tubuh
menyerang sistem saraf pusat (SSP), mendorong ke arah terjadinya demielinisasi. Penyakit ini
menyebabkan luka-luka pada sarung pelindung mielin (lemak yang melingkupi akson sel-sel
saraf ), oligodendrosit (sel-sel yang menghasilkan mielin), akson dan sel-sel saraf. Gejala dari
multipel sklerosis bervariasi, tergantung pada lokasi dari plak (daerah dari jaringan parut) di
dalam sistem saraf pusat.
Menurut National Multiple Sclerosis Society, kira-kira 400,000 orang Amerika tercatat
menderita MS, dan pada setiap minggunya sekitar 200 orang didiagnosis MS. Di seluruh dunia,
MS mungkin diderita 2.5 juta individu. MS terjadi lebih sering pada wanita dibandingkan lakilaki, dengan perbandingan adalah kira-kira 2:1.
Penyakit ini terutama mengenai substansia alba otak dan medulla spinalis, serta nervus
optikus. Ditemukan sel inflamasi kronik dan kerusakan mielin dengan akson yang relatif masih
baik. Pada substansia alba terdapat daerah yang relatif tampak normal yang berselangseling
dengan fokus inflamasi dan demielinisasi yang disebut juga plak. Lesi inflamasi lebih lanjut yang
terletak dekat lokasi kerusakan yang sudah ada sebelumnya akan menyebabkan akumulasi defisit
neurologis. Plak tidak harus berhubungan dengan kejadian klinis spesifik, misalnya jika plak
hanya kecil dan terletak pada area SSP yang relatif tenang.
Penyebab dari multiple sklerosis tetap tidak diketahui, walaupun kegiatan penalitian
dibidang ini sudah banyak dilakukan. Penelitian eksperimental mendukung teori dari infeksi
slow virus atau reaksi autoimun. Peran mekanisme imun pada patogenesis sklerosis multipel
didukung beberapa temuan, seperti adanya sel inflamasi kronik pada plak aktif dan hubungan
kondisi ini dengan gen spesifik pada kompleks histokompatibilitas mayor (major
histocompatibility, MHC).
Tanda patologik multipel sklerosis adalah multisentrik, inflamasi SSP multifasik dan
demielinisasi. Pada mulanya, setiap luka multipel sklerosis kemungkinan melalui suatu peristiwa
dari demielinisasi dan remielinisasi menuju ke plak kronik dengan preserfasi relatif dari akson
serta gliosis.
23

Manifestasi yang sering terjadi pada multipel sklerosis adalah gangguan visual, gejala
dari gangguan batang otak, gejala gangguan serebelar, gejala ekstrapiramidal, fenomena mirip
bangkitan, gangguan mental, gangguan miksi, gangguan sensorimotorik. Pada waktu evolusi
gejala yang umum terjadi adalah gambaran klinis memburuk selama beberapa hari atau minggu,
mencapai plateu dan kemudian membaik secara bertahap, sebagian atau total, selama beberapa
minggu atau bulan.
Perjalanan alamiah multipel sklerosis pada tiap pasien amat bervariasi. Beberapa pasien
dapat mengalami satu atau lebih episode inisial kemudian tidak ada gejala untuk bertahuntahun.
Subtipe dari multipel sklerosis antara lain adalah relapsing remitting multiple sclerosa, secondary
progressive multiple sclerosa, primary progressive multiple sclerosa, progeressive relapsing
multiple sclerosa, devic syndrome, marburg disease, balo concentric sclerosa, diffuse sclerosa,
disseminated acute encephalomyelitis.
Selama bertahun tahun, diagnosis multipel sklerosis ditegakkan berdasarkan gejala
klinis, timbulnya paling sedikit dua lesi SSP dengan karakteristik klinis yang tepat, terpisah
waktu dan ruang. Sehubungan dengan luasnya ruang lingkup dan gejala, maka multipel sklerosis
tidak boleh didiagnosis hanya setelah beberapa bulan sampai 1 tahun setelah serangan gejala.
Pemeriksaan penunjang yang penting adalah CT scan, VEP, pemeriksaan cairan
cerebrospinal, elektroensefalografi, serum darah. Karena pemeriksaan diatas tidak ada yang
100% sensitif atau spesifik untuk multipel sklerosis, maka pemeriksaan ini harus
dipertimbangkan dan dinilai dengan baik. Pada pasien dengan gejala sensorik minor, biasanya
pemeriksaan penunjang diatas dapat ditunda dulu.
Walaupun belum ada terapi kuratif untuk multipel sklerosis, namun terdapat tiga aspek
penting dalam tatalaksana adalah tatalaksana relaps akut, modifikasi perjalanan penyakit,dan
kontrol gejala. Sejumlah pengobatan tersedia untuk menangani gejala-gejala dan komplikasi
multipel sklerosis kronis, masing-masing dengan obat-obatan yang spesifik. Beberapa jenis obat
yang sering digunakan pada pasien multipel sklerosis adalah interferon, glatiramer asetat,
natalizumab, mitoxantron.
Prognosis untuk seseorang dengan multipel sklerosis tergantung pada subtipe penyakit;
jenis kelamin individu, ras, umur, gejala awal, dan derajat kerusakan. Harapan hidup dari
penderita multipel sklerosis, untuk tahun-tahun awal, saat ini hampir sama halnya dari pada

24

orang normal. Secara umum sangatlah sulit untuk meramalkan prognosis multipel sklerosis
karena setiap individu memiliki variasi kelainan.

25

DAFTAR PUSTAKA
1.http://en.wikipedia.org/wiki/Multiple_sclerosis. Autoimmune diseases | Neurological disorders
| Neurobiological brain disorder | Multiple sclerosis. 10 june 2008. Diakses tanggal 30 Desember
2014
2. Chamberlin, Stacey L. Narins, Bringham. The Gale Encyclopedia of Neurological Disorders
vol.2. Detroit: Thompson Gale. 2005.
3. Ginsberg, Lionel. Lecture Notes Neurologi edisi ke-8. Jakarta: Erlangga Medical Series.2005.
4. Ali, Wendra. NEUROLOGI jilid 1. Jakarta: Binarupa Aksara.1995.
5. Mumenthaler, Mark. Mattle, Heinrich. Taub, Elsan. Neurology fourth edition. Switzerland:
Thieme.2004.
6. Cook, D Stuart. Handbook of Multiple Sclerosis Fourth edition. New Jersey: University of
Medicine and Dentistry of New Jersey. 2006.
7. http://www.emedicine.com. eMedicine Specialties >Emergency Medicine > NEUROLOGY.
Multiple Sclerosis. 3 March 2008. Diakses tanggal 31 Desember 2014
8. M. Herdon, M.D, Robert. Multiple Sclerosis Immunology, Pathology, and Pathophysiology.
New York: Demos.2002.
9. http://www.medicineNet.com. Home>Multiple Sclerosis index>Multiple Sclerosis. Article.2
June 2008. Diakses tanggal 30 Desember 2014

26