Anda di halaman 1dari 9

Nama peserta : dr.

Hemaliny Ananta Sipahutar


Nama wahana: RS TK IV Bratanata
Topik: Tuberculosis Paru dengan hydropneumothoraks dektra
Tanggal (kasus): 09 Januari 2015
Nama Pasien: Tn. DH
No. RM: 11. 79.49
Tanggal presentasi:
Narasumber : dr. Ikalius, Sp. P
Pendamping : dr. Irriane Dewi
Tempat presentasi:
Obyektif presentasi:
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi Anak
Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi: Tn. DH, 30 tahun sesak nafas sejak 2 hari SMRS
Tujuan: mengobati pasien TB Paru dengan hydropneumothoraks dektra
Bahan bahasan:
Tinjauan pustaka
Riset
Kasus
Audit
Cara membahas:
Diskusi
Presentasi
Email
Pos
Data pasien:
Pasien masuk dari IGD RS

dan diskusi
Nama: Tn. DH
Telp: -

Nomor RM: 11.79.49


Terdaftar: 09 Januari 2015

TK IV Bratanata
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis/ gambaran klinis:
Pasien datang dengan sesak nafas sejak 2 hari SMRS. Sesak nafas dirasakan terus
menerus dan tidak dipengaruhi dengan aktivitas. Tidak ada nyeri dada yang menjalar
ke tangan dan tidak ada bunyi ngiik saat sesak. Pasien juga mangatakan ada batuk
berdahak sejak 1 bulan SMRS kadang disertai lendir yang bercampur darah. Ada
demam tidak begitu tinggi yang dirasakan tiap malam hari dan disertai keringat dingin.
Nafsu makan berkurang dan pasien merasa berat badannya semakin menurun.
2. Riwayat pengobatan:
Pasien hanya meminum obat dari warung untuk meredakan batuknya namun tidak ada
perubahan.
3. Riwayat kesehatan/ penyakit:
Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini dan pasien perokok.
4. Riwayat keluarga:
Tidak ada keluarga pasien yang mengalami keluhan yang sama seperti pasien
5. Kondisi lingkungan sosial dan fisik :
Pasien mengatakan tidak tahu apakah dilingkungan tempat tinggalnya ada yang
mengalami keluhan seperti yang dirasakan pasien.

6. Lain-lain:
Pemeriksaan fisik
Kesadaran : compos mentis
Keadaan umum : tampak sakit sedang
Tanda vital: TD: 120/70 mmHg N: 100x/m RR: 40x/m S: 37,50C
Mata : sklera ikterik -/- conjungtiva anemis -/Thoraks :
Cor dalam batas normal
Pulmo : Inspeksi : pergerakan thorak kanan lebih lambat dari kiri
Palpasi : vokal fremitus tidak simetris, vocal fremitus kanan lebih lambat
Perkusi : thoraks kanan redup dan kiri sonor
Auskultasi : suara napas vesikuler -/+ , rh -/+ wh -/Abdomen : dalam batas normal
Ekstremitas : dalam batas normal
Pemeriksaan EKG
Sinus Rythim
Pemeriksaan Laboratorium
Hb : 10.2 gr/dl
Leukosit : 11.4 109/L
Eritrosit : 3.8 1012/L
Hematokrit : 30.50 %
Trombosit : 457 109/L
MCV : 82.6 fl
MCH : 26.9%
MCHC : 33 g/dl
LED : 12 mm/jam
Mixed : 9.3 %
Limfosit : 7.8 %
Neutrofil : 82.9 %
Glukosa : 163 mg/dl

Cholesterol : 130 mg/dl


As. Urat : 2.9 mg/dl
Urea : 17.5 mg/dl
Creatinin : 0.7 mg/dl
Rontgen Thoraks PA
Kesan : Tb paru kiri dengan hematopneumothoraks kanan

Daftar pustaka:
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 4
Hasil pembelajaran:
1. Subyektif : Pasien Tn. DH laki laki 30 tahun, datang dengan sesak nafas sejak 2 hari
SMRS. Ada batuk 1 bulan SMRS kadang disertai lendir yang bercampur darah.
Demam tidak begitu tinggi yang dirasakan tiap malam hari dan disertai keringat dingin.
Nafsu makan berkurang dan pasien merasa berat badannya semakin menurun. Pasien
porokok aktif.
2. Obyektif: Pada pemeriksaan fisik paru inspeksi pergerakan thoraks kanan lebih lambat
dari kiri, palpasi vokal fremitus tidak simetris, perkusi thoraks kanan redup dan kiri
sonor, suara napas vesikuler -/+ , rh -/+. Foto rontgen thoraks PA kesan Tb paru kiri
dengan hydropneumothoraks kanan
3. Assestment: Tuberkulosis Paru dengan hydropneumothoraks
4. Plan:
a. Rawat bangsal paru

b. Terapi IGD :
-

IVFD Ringer laktat 16 tetes per menit

Injeksi Ceftriaxone IV 1 x 1 gr

c. Terapi di bangsal
-

IVFD Ringer laktat 20 tetes per menit

Inj. Ceftriaxone 2 x 1 gr

d. Dan lain-lain: setelah menjalani 3 hari perawatan, pasien menunjukkan


perbaikan. Pasien tidak lagi mengeluh batuk dan sesak nafas.

TINJAUAN PUSTAKA
TB PARU
I. Definisi
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi bakteri menahun pada paru yang disebabkan oleh
Mycobakterium tuberculosis, yaitu bakteri tahan asam yang ditularkan melalui udara yang
ditandai dengan pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi. Mycobacterium
tuberculosis merupakan kuman aerob yang dapat hidup terutama di paru / berbagai organ tubuh
lainnya yang bertekanan parsial tinggi. Penyakit tuberculosis ini biasanya menyerang paru tetapi

dapat menyebar ke hampir seluruh bagian tubuh termasuk meninges, ginjal, tulang, nodus limfe.
Infeksi awal biasanya terjadi 2-10 minggu setelah pemajanan. Individu kemudian dapat
mengalami penyakit aktif karena gangguan atau ketidakefektifan respon imun.

II. Etiologi
TB paru disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis yang merupakan batang aerob tahan
asam yang tumbuh lambat dan sensitif terhadap panas dan sinar UV. Bakteri yang jarang sebagai
penyebab, tetapi pernah terjadi adalah M. Bovis dan M. Avium.

III. Gejala Klinis

Penurunan berat badan

Anoreksia

Dispneu

Sputum purulen/hijau, mukoid/kuning.

Demam biasanya menyerupai demam influenza. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh
daya tahan tubuh penderita dengan berat-ringannya infeksi kuman TBC yang masuk.

Batuk terjadi karena adanya infeksi pada bronkus. Sifat batuk dimulai dari batuk
kering kemudian setelah timbul peradangan menjadi batuk produktif (menghasilkan
sputum). Pada keadaan lanjut berupa batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang
pecah. Kebanyakan batuk darah pada ulkus dinding bronkus.

Sesak nafas sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut dimana
infiltrasinya sudah setengah bagian paru

Nyeri dada timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura (menimbulkan
pleuritis)

Malaise dapat berupa anoreksia, tidak ada nafsu makan, berat badan turun, sakit
kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam.

IV. Pemeriksaan Penunjang


Pada anak, uji tuberkulin merupakan pemeriksaan paling bermanfaat untuk menunjukkan
sedang/pernah terinfeksi Mikobakterium tuberkulosa dan sering digunakan dalam Screening
TBC. Efektifitas dalam menemukan infeksi TBC dengan uji tuberkulin adalah lebih dari 90%.
Pembacaan hasil tuberkulin dilakukan setelah 48 72 jam; dengan hasil positif bila terdapat
indurasi diameter lebih dari 10 mm, meragukan bila 5-9 mm. Uji tuberkulin bisa diulang setelah
1-2 minggu. Pada anak yang telah mendapat BCG, diameter indurasi 15 mm ke atas baru
dinyatakan positif, sedangkan pada anak kontrak erat dengan penderita TBC aktif, diameter
indurasi 5 mm harus dinilai positif. Alergi disebabkan oleh keadaan infeksi berat, pemberian
immunosupreson, penyakit keganasan (leukemia), dapat pula oleh gizi buruk, morbili, varicella
dan penyakit infeksi lain.
Gambaran radiologis yang dicurigai TB adalah pembesaran kelenjar nilus, paratrakeal, dan
mediastinum, atelektasis, konsolidasi, efusipieura, kavitas dan gambaran milier. Bakteriologis,
bahan biakan kuman TB diambil dari bilasan lambung, namun memerlukan waktu cukup lama.
Serodiagnosis, beberapa diantaranya dengan cara ELISA (Enzyime Linked Immunoabserben
Assay) untuk mendeteksi antibody atau uji peroxidase anti peroxidase (PAP) untuk
menentukan IgG spesifik. Teknik bromolekuler, merupakan pemeriksaan sensitif dengan
mendeteksi DNA spesifik yang dilakukan dengan metode PCR (Polymerase Chain Reaction).
Uji serodiagnosis maupun biomolekular belum dapat membedakan TB aktif atau tidak.

Tes tuberkulin positif, mempunyai arti :

1.

Pernah mendapat infeksi basil tuberkulosis yang tidak berkembang menjadi penyakit.

2.

Menderita tuberkulosis yang masih aktif

3.

Menderita TBC yang sudah sembuh

4.

Pernah mendapatkan vaksinasi BCG

5.

Adanya reaksi silang (cross reaction) karena infeksi mikobakterium atipik

V. Komplikasi
Komplikasi Penyakit TB paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan
komplikasi seperti: pleuritis, efusi pleura, empiema, laringitis,TB usus.
Menurut Dep.Kes (2003) komplikasi yang sering terjadi pada penderita TB Paru stadium
lanjut:
1. Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat mengakibatkan
kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas.
2. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial.
3. Bronkiectasis dan fribosis pada Paru.
4. Pneumotorak spontan: kolaps spontan karena kerusakan jaringan Paru.
5. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya.
6. Insufisiensi Kardio Pulmoner

VI. Penanganan
a. Promotif
1.

Penyuluhan kepada masyarakat apa itu TBC

2.

Pemberitahuan baik melalui spanduk/iklan tentang bahaya TBC, cara penularan, cara
pencegahan, faktor resiko

3.

Mensosialisasiklan BCG di masyarakat.


b. Preventif

1.

Vaksinasi BCG

2.

Menggunakan isoniazid (INH)

3.

Membersihkan lingkungan dari tempat yang kotor dan lembab.

4.

Bila ada gejala-gejala TBC segera ke Puskesmas/RS, agar dapat diketahui secara dini.
c. Kuratif
Pengobatan tuberkulosis terutama pada pemberian obat antimikroba dalam jangka waktu
yang lama. Obat-obat dapat juga digunakan untuk mencegah timbulnya penyakit klinis
pada seseorang yang sudah terjangkit infeksi. Penderita tuberkulosis dengan gejala klinis
harus mendapat minuman dua obat untuk mencegah timbulnya strain yang resisten

terhadap obat. Kombinasi obat-obat pilihan adalah isoniazid (hidrazid asam


isonikkotinat = INH) dengan etambutol (EMB) atau rifamsipin (RIF). Dosis lazim INH
untuk orang dewasa biasanya 5-10 mg/kg atau sekitar 300 mg/hari, EMB, 25 mg/kg
selama 60 hari, kemudian 15 mg/kg, RIF 600 mg sekali sehari. Efek samping etambutol
adalah Neuritis retrobulbar disertai penurunan ketajaman penglihatan. Uji ketajaman
penglihatan dianjurkan setiap bulan agar keadaan tersebut dapat diketahui. Efek samping
INH yang berat jarang terjadi. Komplikasi yang paling berat adalah hepatitis. Resiko
hepatitis sangat rendah pada penderita dibawah usia 20 tahun dan mencapai puncaknya
pada usia 60 tahun keatas. Disfungsi hati, seperti terbukti dengan peningkatan aktivitas
serum aminotransferase, ditemukan pada 10-20% yang mendapat INH. Waktu minimal
terapi kombinasi 18 bulan sesudah konversi biakan sputum menjadi negatif. Sesudah itu
masuk harus dianjurkan terapi dengan INH saja selama satu tahun.
Baru-baru ini CDC dan American Thoracis Societty (ATS) mengeluarkan pernyataan
mengenai rekomendasi kemoterapi jangka pendek bagi penderita tuberkulosis dengan
riwayat tuberkulosis paru pengobatan 6 atau 9 bulan berkaitan dengan resimen yang
terdiri dari INH dan RIF (tanpa atau dengan obat-obat lainnya), dan hanya diberikan
pada pasien tuberkulosis paru tanpa komplikasi, misalnya : pasien tanpa penyakit lain
seperti diabetes, silikosis atau kanker didiagnosis TBC setelah batuk darah, padahal
mengalami batu dan mengeluarkan keringat malam sekitar 3 minggu.