Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH HEMATOLOGI

PENDEKATAN DIAGNOSIS ANEMIA

Oleh:
Andri Arieska Wicaksana

0610710014

Ajeng Putih Sekarningrum

0610713003

Wan Zafirah binti Wan Yahya

0610710136

Rizqi Amalia Paramitha

0710710086

Pembimbing:

dr. Budi. D. Machsoos, SpPD-KHOM, FINASIM

BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM


RSUD SAIFUL ANWAR
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVRERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2011

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Taala Yang Maha
Pengasih dan Maha Penyayang. Hanya dengan rahmat serta petunjuk-Nya,
penulisan makalah dengan judul : Pendekatan Diagnosis Anemia ini dapat
diselesaikan.
Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Ilmu Penyakit Dalam. Dengan selesainya makalah ini, penulis mengucapkan
terima kasih kepada dr. Budi. D. Machsoos, SpPD-KHOM, FINASIM yang telah
memberikan bimbingan penulisan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan,
untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan. Semoga
referat ini dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi
pembaca.

November, 2011

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................iiii
DAFTAR ISI.......................................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN........................................................................................1
BAB 2 PEMBAHASAN..........................................................................................3
2.1 Definisi Anemia...........................................................................................3
2.2 Kriteria Anemia............................................................................................3
2.3 Etiologi dan Klasifikasi................................................................................4
2.4 Gejala Anemia.............................................................................................6
2.5 Pemeriksaan Untuk Diagnosis Anemia.......................................................7
2.5.1 Anamnesis.........................................................................................7
2.5.2 Pemeriksaan Fisik.............................................................................8
2.5.3 Pemeriksaan Laboratorium................................................................8
2.6 Pendekatan Diagnosis................................................................................9
BAB 3 KESIMPULAN.........................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................16

BAB I
PENDAHULUAN

Anemia merupakan masalah medik yang paling sering dijumpai di klinik di


seluruh dunia. Disamping sebagai masalah kesehatan utama masyarakat,
terutama di negara berkembang. Secara umum diperkirakan 24,8% dari populasi
di seluruh dunia atau sekitar 1,62 miliar orang menderita anemia. Kelainan ini
merupakan penyebab debilitas kronik (chronic debility) yang mempunyai dampak
besar terhadap kesejahteraan sosial dan ekonomi, serta kesehatan fisik. Oleh
karena frekuensinya yang demikian sering, anemia, terutama anemia ringan
seringkali tidak mendapat perhatian dan dilewati oleh para dokter di praktek
klinik.
Secara praktis anemia ditunjukkan oleh penurunan kadar hemoglobin,
hematokrit atau hitung eritrosit (red cell count). Tetapi yang paling lazim dipakai
adalah kadar hemoglobin, kemudian hematokrit. Harus diingat bahwa terdapat
keadaan-keadaan tertentu di mana ketiga parameter tersebut tidak sejalan
dengan massa eritrosit, seperti pada dehidrasi, perdarahan akut, dan kehamilan.
Permasalahan yang timbul adalah berapa kadar hemoglobin, hematokrit, atau
hitung eritrosit paling rendah yang dianggap anemia. Kadar hemoglobin dan
eritrosit sangat bervariasi tergantung pada usia, jenis kelamin, ketinggian tempat
tinggal serta keadaan fisiologis tertentu seperti misalnya kehamilan.
Anemia bukanlah suatu kesatuan penyakit tersendiri (disease entity),
tetapi merupakan gejala berbagai macam penyakit dasar (underlying disease).
Oleh karena itu dalam diagnosis anemia tidaklah cukup hanya sampai kepada
label anemia tetapi harus dapat ditetapkan penyakit dasar yang menyebabkan
anemia tersebut. Hal ini penting karena seringkali penyakit dasar tersebut
tersembunyi, sehingga apabila hal ini dapat diungkap akan menuntun para klinisi
ke arah penyakit berbahaya yang tersembunyi. Penentuan penyakit dasar juga
penting dalam pengelolaan kasus anemi, karena tanpa mengetahui penyebab
yang mendasari anemia tidak dapat diberikan terapi yang tuntas pada kasus
anemia tersebut.
Pendekatan terhadap pasien anemia memerlukan pemahaman tentang
patogenesis dan patofisiologi anemia, serta keterampilan dalam memilih,
menganalisis serta merangkum hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan

laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya. Tulisan ini bertujuan untuk


membahas pendekatan praktis dalam diagnosis anemia.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Anemia


Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa
eritrosit (red cell mass) sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk
membawa oksigen dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer (penurunan
oxygen carrying capacity). Secara praktis anemia ditunjukkan oleh penurunan
kadar hemoglobin, hematokrit atau hitung eritrosit (red cell count). Tetapi yang
paling lazim dipakai adalah kadar hemoglobin, kemudian hematokrit. Harus
diingat bahwa terdapat keadaan-keadaan tertentu di mana ketiga parameter
tersebut tidak sejalan dengan massa eritrosit, seperti pada dehidrasi, perdarahan
akut, dan kehamilan. Permasalahan yang timbul adalah berapa kadar
hemoglobin, hematokrit, atau hitung eritrosit paling rendah yang dianggap
anemia. Kadar hemoglobin dan eritrosit sangat bervariasi tergantung pada usia,
jenis kelamin, ketinggian tempat tinggal serta keadaan fisiologis tertentu seperti
misalnya kehamilan.
Dari sumber yang berbeda menyebutkan bahwa anemia merupakan
gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen
yang tak adekuat atau kurangnya nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel
darah merah, yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen
darah (Doenges, 1999). Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya
hitungan sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal
(Smeltzer, 2002 : 935). Anemia adalah berkurangnya hingga di bawah nilai
normal sel darah merah, kualitas hemoglobin dan volume packed red bloods
cells (hematokrit) per 100 ml darah (Price, 2006 : 256).
Dengan demikian anemia bukan merupakan suatu diagnosis atau
penyakit, melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau
gangguan fungsi tubuh dan perubahan patofisiologis yang mendasar yang
diuraikan melalui anamnesis yang seksama, pemeriksaan fisik dan informasi
laboratorium (Price, 2006 : 256).

2.2 Kriteria Anemia


Parameter anemia yang paling umum dipakai untuk menunjukkan
penurunan massa eritrosit adalah kadar hemoglobin, disusul oleh hematokrit dan
hitung eritrosit. Pada umumnya ketiga parameter tersebut saling bersesuaian.
Yang menjadi masalah adalah berapakah kadar hemoglobin yang dianggap
abnormal. Harga normal hemoglobin sangat bervariasi secara fisiologik
tergantung pada umur, jenis kelamin, adanya kehamilan dan ketinggian tempat
tinggal. Oleh karena itu perlu ditentukan titik pemilah (cut off point) di bawah
kadar mana kita anggap terdapat anemia. Di negara barat kadar hemoglobin
paling rendah untuk laki-laki adalah 14 g/dl dan 12 g/dl pada perempuan dewasa
pada permukaan laut. Peneliti lain memberikan angka yang berbeda yaitu 12 g/dl
(hematokrit 38%) untuk perempuan dewasa, 11 g/dl (hematokrit 36%) untuk
perempuan hamil, dan 13 g/dl untuk laki-laki dewasa. WHO menetapkan cut off
point anemia untuk keperluan penelitian lapangan seperti terlihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kriteria Anemia menurut WHO
Kelompok
Laki-laki dewasa
Wanita dewasa tidak hamil
Wanita hamil
Anak (0,5-5,0 tahun)
Anak (5-12 tahun)
Remaja (12-15 tahun)

Kriteria Anemia
< 13 g/dl
<12 g/dl
< 11 g/dl
< 11 g/dl
< 11,5 g/dl
< 12 g/dl

Untuk keperluan klinik (rumah sakit atau praktek dokter) di Indonesia dan
negara berkembang lainnya, kriteria WHO sulit dilaksanakan karena tidak praktis.
Apabila kriteria WHO dipergunakan secara ketat maka sebagian besar pasien
yang mengunjungi poliklinik atau dirawat di rumah sakit akan memerlukan
pemeriksaan work up anemia lebih lanjut. Oleh karena itu beberapa peneliti di
Indonesia mengambil jalan tengah dengan memakai kriteria hemoglobin kurang
dari 10 g/dl sebagai awal dari work up anemia, atau di India dipakai angka 10-11
g/dl.
2.3 Etiologi dan Klasifikasi
Anemia hanyalah suatu kumpulan gejala yang disebabkan oleh
bermacam penyebab. Pada dasarnya anemia disebabkan oleh karena gangguan
pembentukan eritrosit oleh sumsum tulang, kehilangan darah keluar dari tubuh

(perdarahan), dan proses penghancuran eritrosit dalam tubuh sebelum waktunya


(hemolisis).
Tabel 2. Klasifikasi Anemia Menurut Etiopatogenesis
A. Anemia karena gangguan pembentukan eritrosit dalam sumsum tulang
1. Kekurangan bahan esensial pembentuk eritrosit
a. Anemia defisiensi besi
b. Anemia defisiensi asam folat
c. Anemia defisiensi vitamin B12
2. Gangguan penggunaan besi
a. Anemia akibat penyakit kronik
b. Anemia sideroblastik
3. Kerusakan sumsum tulang
a. Anemia aplastik
b. Anemia mieloptisik
c. Anemia pada keganasan hematologi
d. Anemia diseritropoietik
e. Anemia pada sindrom mielodiplastik
Anemia akibat kekurangan eritropoietin : anemia pada gagal ginjal kronik
B. Anemia akibat hemoragi
1. Anemia pasca perdarahan akut
2. Anemia akibat perdarahan kronik
C. Anemia hemolitik
1. Anemia hemolitik intrakorpuskular
a. Gangguan membran eritrosit (membranopati)
b. Gangguan enzim eritrosit (enzimopati) : anemia akibat defisiensi
G6PD
c. Gangguan hemoglobin (hemoglobinopati)
- Thalassemia
- Hemoglobinopati struktural : HbS, HbE, dll
2. Anemia hemolitik ekstrakorpuskular
a. Anemia hemolitik autoimun
b. Anemia hemolitik mikroangiopatik
c. Lain-lain
D. Anemia dengan penyebab tidak diketahui atau dengan patogenesis yang
kompleks
Klasifikasi lain untuk anemia dapat dibuat berdasarkan gambaran
morfologik dengan melihat indeks eritrosit atau hapusan darah tepi. Dalam
klasifikasi ini anemia dibagi menjadi tiga golongan:
1). Anemia hipokrom mikrositer, bila MCV <80 fl dan MCH < 27 pg
1.1 Anemia kurang besi
1.2 Hemoglobinopati (misalnya: sickle sel anemia)
1.3 Thalassemia
1.4 Anemia karena penyakit kronik (penyakit infeksi/kolagen)

2). Anemia normokrom normositer, bila MCV 80-95 fl dan MCH 27-34 pg
2.1 Perdarahan akut
2.2 Anemia karena kanker
2.3 Anemia aplastik
2.4 Leukemia, myeloma multipel
3). Anemia makrositer, bila MCV >95 fl.
3.1 Anemia megaloblastik karena kurang vit. B12 atau asam folat
3.2 Anemia hemolitik (retikulositosis)
3.3 Anemia setelah perdarahan akut (retikulositosis)
3.4 Anemia karena penyakit hati kronik, hipotiroid, obs jaundice
Klasifikasi etiologi dan morfologi bila digabungkan akan sangat menolong
dalam mengetahui penyebab suatu anemia berdasarkan jenis morfologi anemia.
Tabel 3. Klasifikasi Anemia Berdasarkan Morfologi dan Etiologi
I.

II.

III.

Anemia hipokrom mikrositer


a. Anemia defisiensi besi
b. Thalassemia major
c. Anemia akibat penyakit kronik
d. Anemia sideroblastik
Anemia normokrom normositer
a. Anemia pasca perdarahan akut
b. Anemia aplastik
c. Anemia hemolitik didapat
d. Anemia akibat penyakit kronik
e. Anemia pada gagal ginjal akut
f. Anemia pada sindrom mieodiplastik
g. Anemia pada keganasan hematologic
Anemia makrositer
a. Bentuk megaloblastik
1. Anemia defisiensi asam folat
2. Anemia defisiensi B12, termasuk anemia pernisiosa
b. Bentuk non megaloblastik
1. Anemia pada penyakit hati kronik
2. Anemia pada hipotiroidisme
3. Anemia pada sindrom mielodiplastik

Berikut akan dibahas sedikit mengenai beberapa klasifikasi anemia berdasarkan


etiopatogenesis:
a. Anemia kurang besi
Anemia kurang besi adalah anemia yang disebabkan oleh kekurangan zat
besi dalam tubuh yang mengakibatkan gangguan pada sintesa
hemoglobin. Kejadian ini dapat terjadi apabila makanan kurang

mengandung zat besi, kebutuhan terhadap zat besi meningkat (pada


anak, kehamilan) atau karena mengalami perdarahan kronik (misalnya
hemoroid, mioma uteri, ankilostomiasis). Anemia kurang besi sering
menimpa anak-anak, wanita dan masyarakat miskin (Patologi Klinik,
2007).
b. Anemia megaloblastik
Anemia megaloblastik adalah anemia yang disebabkan oleh hematopoisis
abnormal yang ditandai asinkronisme maturasi inti sel dan sitoplasma
pada deret eritroid dan myeloid akibat gangguan sintesa DNA karena
kekurangan vit B.12 atau folat. Didalam sumsum tulang, tampak
hyperplasia dan perubahan megaloblastik terutama pada deret eritroid,
myeloid yang ditandai inti sel besar-besar dengan kromatin halus
(Patologi Klinik, 2007).
c. Anemia aplastik
Anemia aplastik adalah anemia yang di darh tepi ditandai oleh
pansitopenia disertai sumsum tulang hiposeluler baik pada deret eritroid,
granulosit maupun megakariosit. Pada dasarnya keluhan dan gejal-gejala
yang timbul disebabkan oleh anemia, netropenia dan trombositopenia.
Keluhan lemah, anoreksia, nafas pendek, disebabkan oleh anemia.
Gejala perdarahan gusi, epistaxis, purpura dan menorrhagia akibat dari
trombositopenia. Penderita sering mengalami panas (infeksi) dan ulserasi
pada pharing yang disebabkan oleh netropenia (Patologi Klinik, 2007).
d. Anemia hemolitik
Pada orang dewasa kira-kira 200milyar eritrosit baru dibuat setiap hari
untuk mempertahankan jumlah eritrosit yang beredar. Eritrosit yang baru
meninggalkan sumsum tulang adalah retikulosit dan dapat mencapai usia
120 hari. Pada peristiwa hemolitik terjadi pemecahan eritrosit yang
berlebih-lebihan. Pada proses hemolitik tidak selalu disertai gejala anemia
karena tergantung pada jumlah eritrosit yang rusak dan kemampuan
sumsum tulang mengganti sel-sel eritrosit yang rusak. Sumsum tulang
dapat meningkatkan aktifitasnya sampai 6-8 kali aktifitas normal, dan bila
jumlah kerusakan eritrosit sedemikian banyak sedangkan kompensasi
oleh sumsum tulang tidak memadai lagi, maka akan timbul gejala anemia
(Patologi Klinik, 2007).

2.4 Patofisiologi Anemia

Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sum-sum tulang


atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sumsum tulang dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, tumor, atau
kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. Sel darah merah dapat hilang
melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi) pada kasus yang disebut terakhir,
masalah dapat akibat efek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan
sel darah merah normal atau akibat beberapa faktor diluar sel darah merah yang
menyebabkan destruksi sel darah merah.
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sistem fagositik
atau dalam sistem retikuloendotelial terutama dalam hati dan limpa. Sebagai
hasil samping proses ini, bilirubin yang sedang terbentuk dalam fagosit akan
masuk dalam aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah
(hemolisis)

segera

direpleksikan

dengan

meningkatkan

bilirubin

plasma

(konsentrasi normalnya 1 mg/dl atau kurang, kadar 1,5 mg/dl mengakibatkan


ikterik pada sclera (Sjaifoellah, 1998).
Anemia merupakan penyakit kurang darah yang ditandai rendahnya
kadar hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit). Fungsi darah adalah
membawa makanan dan oksigen ke seluruh organ tubuh. Jika suplai ini kurang,
maka asupan oksigen pun akan kurang. Akibatnya dapat menghambat kerja
organ-organ penting, Salah satunya otak. Otak terdiri dari 2,5 miliar sel
bioneuron. Jika kapasitasnya kurang, maka otak akan seperti komputer yang
memorinya lemah, Lambat menangkap. Dan kalau sudah rusak, tidak bisa
diperbaiki (Sjaifoellah, 1998).
2.5 Gejala Anemia
Gejala umum anemia (sindrom anemia) adalah gejala yang timbul pada
setiap kasus anemia, apapun penyebabnya, apabila kadar hemoglobin turun di
bawah harga tertentu. Gejala umum ini timbul karena anoksia oksigen dan
mekanisme kompensasi tubuh terhadap berkurangnya daya angkut oksigen.
Gejala umum anemia menjadi jelas (anemia simtomatik) apabila kadar
hemoglobin telah turun di bawah 7 g/dl. Berat ringannya gejala umum anemia
tegantung

pada

derajat

penurunan

hemoglobin,

kecepatan

penurunan

hemoglobin, usia, dan adanya kelainan jantung atau paru sebelumnya.


Gejala anemia dapat digolongkan menjadi tiga jenis yaitu
1. Gejala umum anemia

Gejala umum anemia disebut juga sebagai sindrom anemia timbul


karena iskemia organ target serta akibat mekanisme kompensasi tubuh
terhadap penurunan kadar hemoglobin. Gejala ini muncul pada setiap kasus
anemia setelah penurunan kadar hemoglobin sampai kadar tertentu (Hb < 7
g/dl). Sindrom anemia terdiri dari rasa lemah, lesu, cepat lelah, telinga
mendengung (tinnitus), mata berkunang-kunang, kaki terasa dingin, sesak
napas, dan dispepsia. Pada pemeriksaan, pasien tampak pucat, yang mudah
dilihat pada konjungtiva, mukosa mulut, telapak tangan, dan jaringan di
bawah kuku. Sindrom anemia bersifat tidak spesifik karena dapat ditimbulkan
oleh penyakit di luar anemia dan tidak sensitif karena timbul setelah
penurunan hemoglobin yang berat (Hb < 7 g/dl).
2. Gejala khas masing-masing anemia
Gejala ini spesifik untuk masing-masing jenis anemia. Sebagai contoh :
o Anemia defisiensi besi : disfagia, atrofi papil lidah, stomatitis angularis,
dan kuku sendok (koilonychia), pica yaitu keinginan untuk memakan
o

bahan yang tidak lazim


Anemia megaloblastik : glositis, gangguan neurologik pada defisiensi

o
o

vitamin B12
Anemia hemolitik : ikterus, splenomegali, dan hepatomegali
Anemia aplastik : perdarahan (kulit, gusi, retina, hidung, saluran cerna,

vagina) dan tanda-tanda infeksi


3. Gejala penyakit dasar
Gejala yang timbul akibat penyakit dasar yang menyebabkan anemia
sangat bervariasi tergantung dari penyebab anemia tersebut. Misalnya gejala
akibat infeksi cacing tambang : sakit perut, pembengkakan parotis, dan
warna kuning pada telapak tangan. Pada kasus tertentu sering gejala
penyakit dasar lebih dominan seperti misalnya pada anemia akibat penyakit
kronik oleh karena artritis reumatoid.
Meskipun tidak spesifik, anamnesis dan pemeriksaan fisik sangat
penting untuk mengarahkan diagnosis anemia. Tetapi pada umumnya anemia
memerlukan pemeriksaan laboratorium.

2.6 Komplikasi Anemia


Anemia juga menyebabkan daya tahan tubuh berkurang. Akibatnya,
penderita anemia akan mudah terkena infeksi. Gampang batuk-pilek, gampang
flu, atau gampang terkena infeksi saluran napas, jantung juga menjadi gampang
lelah, karena harus memompa darah lebih kuat. Pada kasus ibu hamil dengan

anemia, jika lambat ditangani dan berkelanjutan dapat menyebabkan kematian,


dan berisiko bagi janin. Selain bayi lahir dengan berat badan rendah, anemia
bisa juga mengganggu perkembangan organ-organ tubuh, termasuk otak
(Sjaifoellah, 1998).
2.7 Pemeriksaan Untuk Diagnosis Anemia
2.7.1 Anamnesis
Menganamnesis secara teliti pada setiap pasien dengan anemia biasanya
memberikan petunjuk penting terhadap penyakit yang mendasari anemia.
Riwayat pemeriksaan darah sebelumnya, riwayat ditolak sebagai donor, atau
penggunaan

obat-obat

yang

berfungsi

meningkatkan

hemoglobin

darah

merupakan petunjuk penting bahwa anemia terdeteksi sebelumnya.


Riwayat keluarga yang menderita tidak hanya anemia, tetapi juga
jaundice, cholelithiasis, splenectomy, gangguan perdarahan, dan jumlah
hemoglobin yang abnormal. Mencari riwayat kehilangan darah (perdarahan)
sebelumnya perlu ditambahkan tentang kehamilan, aborsi, dan menstruasi.
Selain itu perubahan kebiasaan dalam buang air besar dengan warna fekal yang
lebih gelap atau merah segar perlu didata adanya hemorrhoid atau keganasan
pada colon dan munculnya komplain saluran pencernaan dapat mengarah pada
gastritis, peptic ulcer, hiatal hernia, dan diverticula. Perubahan warna urin dapat
terjadi pada penyakit ginjal dan liver serta anemia hemolitik.
Riwayat asupan makanan terkait dengan rendahnya asupan makanan
atau riwayat mengkonsumsi minuman yang berasal dari beras atau air cucian
beras yang dapat menghambat penyerapan besi. Perubahan berat badan terkait
asupan makanan dapat diperkirakan adanya malabsorbsi atau penyakit yang
mendasari seperti infeksi, kelainan metabolik, atau keganasan.
Defisiensi B12 awal ditandai dengan pucatnya warna rambut, sensasi
terbakar pada lidah, dan hilangnya propriosepsi. Parastesi dan sensai yang tidak
biasa yang dirasakan sebagai nyeri juga terjadi pada anemia pernisiosa.
Defisiensi asam folat kemungkinan memiliki nyeri pada lidah, cheilosis,
dan gejala berkaitan dengan steatorrhea.
Adanya demam atau riwayat demam karena infeksi, keganasan, atau
gangguan vaskular kolagen dapat menyebabkan anemia. Riwayat petekie,
ekimosis, dan purpura menandakan adanya trombositopeni atau gangguan
perdarahan.
2.7.2 Pemeriksaan Fisik
Penemuan pada pemeriksaan fisik kulit dan mukosa didapatkan
kepucatan, pigmentasi abnormal, ikterik, spider nevi, purpura, angioma, eritema

10

palmar, bengkak pada wajah, perubahan bentuk kuku, kepucatan warna rambut,
dan pola vena di abdomen. Pada konjungtiva dan sklera bisa

didapatkan

kepucatan, ikterik, atau petekie.


Adanya pembesaran kelenjar getah bening menandakan adanya infeksi
atau keganasan. Edema bilateral menandakan penyakit jantung, liver, atau ginjal
yang mendasari. Sedangkan edema unilateral menandakan adanya obstruksi
limfatik karena keganasan yang belum bisa diobservasi maupun palpasi.
Hepatomegali dan splenomegali yang khas pada anemia hemolitik.
2.7.3 Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium merupakan penunjang diagnostik pokok dalam
diagnosis anemia. Pemeriksaan ini terdiri dari pemeriksaan penyaring (screening
test), pemeriksaan darah seri anemia, pemeriksaan sumsum tulang, dan
pemeriksaan khusus.
a. Pemeriksaan Penyaring
Pemeriksaan penyaring untuk kasus anemia terdiri dari pengukuran kadar
hemoglobin, indeks eritrosit, dan hapusan darah tepi. Dari sini dapat dipastikan
adanya anemia serta jenis morfologik anemia tersebut yang sangat berguna
untuk pengarahan diagnosis lebih lanjut.
b. Pemeriksaan Darah Seri Anemia
Pemeriksaan darah seri anemia meliputi hitung leukosit, trombosit, hitung
retikulosit, dan laju endap darah. Sekarang sudah banyak dipakai automatic
hematology analyzer yang dapat memberikan presisi hasil yang lebih baik.
c. Pemeriksaan Sumsum Tulang
Pemeriksaan sumsum tulang memberikan informasi yang sangat
berharga mengenai keadaan sistem hematopoesis. Pemeriksaan ini dibutuhkan
untuk diagnosis definitif pada beberapa jenis anemia. Pemeriksaan sumsum
tulang mutlak diperlukan untuk diagnosis anemia aplastik, anemia megaloblastik,
serta pada kelainan hematologik yang dapat mensupresi sistem eritoid.
d. Pemeriksaan Khusus
Pemeriksaan ini hanya dikerjakan atas indikasi khusus, misalnya pada :
o Anemia defisiensi besi : serum iron. TIBC (total iron binding capacity), saturasi
transferin, protoporifin eritrosit, feritin serum, reseptor transferin, dan
o

pengecatan besi pada sumsum tulang Perls stain).


Anemia megaloblastik : folat serum, vitamin B12 serum, tes supresi

o
o

deoksiuridin, dan tes Schiling.


Anemia hemolitik : bilirubin serum, tes Coomb, dan elektroforesis hemoglobin.
Anemia aplastik : biopsi sumsum tulang.

11

Juga diperlukan pemeriksaan non hematologik tertentu seperti misalnya


pemeriksaan faal hati, faal ginjal, atau tiroid.
2.8 Pendekatan Diagnosis
Anemia hanyalah suatu sindrom, bukan suatu kesatuan penyakit (disease
entity) yang dapat disebabkan oleh berbagai penyakit dasar (underlying disease).
Hal ini penting diperhatikan dalam diagnosis anemia. Kita tidak cukup hanya
sampai pada diagnosis anemia, tetapi sedapat mungkin kita harus dapat
menentukan penyakit dasar yang menyebabkan anemia tersebut. Maka tahaptahap dalam diagnosis anemia adalah :
o
o
o
o

Menetukan adanya anemia


Menentukan jenis anemia
Menentukan etiologi atau penyakit dasar anemia
Menentukan ada atau tidaknya penyakit penyerta yang akan mempengaruhi
hasil pengobatan

2.8.1 Pendekatan Diagnosis Anemia


Pendekatan diagnosis anemia terdapat bermacam-macam cara, antara
lain adalah pendekatan tradisional, pendekatan morfologi, fungsional, dan
probabilistik, serta pendekatan klinis.
2.8.2 Pendekatan Tradisional, Morfologik, Fungsional, dan Probabilistik
Pendekatan

tradisional

adalah

pembuatan

diganosis

berdasarkan

anamnesis, pemeriksaan fisik, hasil laboratorium, setelah dianalisis dan disintesis


maka disimpulkan sebagai sebuah diagnosis, baik diagnosis tentatif ataupun
diagnosis definitif.
Pendekatan

lain

adalah

pendekatan

morfologi,

fungsional,

dan

probabilistik. Dari aspek morfologi maka anemia berdasarkan hapusan darah tepi
atau indeks eritrosit diklasifikasikan menjadi anemia hipokromik mikrositer,
anemia normokromik normositer, dan anemia makrositer. Pendekatan fungsional
bersandar pada fenomena apakah anemia disebabkan karena penurunan
produksi eritrosit di sumsum tulang, yang bisa dilihat dari penurunan angka
retikulosit, ataukah akibat kehilangan darah atau hemolisis, yang ditandai oleh
peningkatan angka retikulosit. Dari kedua pendekatan ini kita dapat menduga
jenis anemia dan kemungkinan penyebabnya. Hasil ini dapat diperkuat dengan
pendekatan probabilistik (pendekatan berdasarkan pola etiologi anemia) yang
bersandar pada data epidemiologi yaitu pola etiologi anemia di suatu daerah.

12

2.8.3 Pendekatan probabilistik atau Pendekatan Berdasarkan Pola Etiologi


Anemia
Secara umum jenis anemia yang paling sering dijumpai di dunia adalah
anemia defisiensi besi, anemia akibat penyakit kronik, dan thalassemia. Pola
etiologi anemi apada orang dewasa pada suatu daerah perlu diperhatikan dalam
membuat diagnosis. Di daerah tropis anemia defisiensi besi merupakan
penyebab tersering disusul anemia kakibat penyakit kronik dan thalassemia.
Pada perempuan hamil anemia karena defisiensi folat juga perlu mendapat
perhatian. Pada daerah tertentu anemia akibat malaria masih cukup sering
dijumpai. Pada anak-anak tampaknya thalassemia lebih memerlukan perhatian
dibandingkan dengan anemia akibat penyakit kronik. Sedangkan di Bali, mungkin
juga di Indonesia, anemia aplastik merupakan salah satu anemia yang sering
dijumpai. Jika kita menjumpai anemia di suatu daerah, maka penyebabnya yang
dominan di daerah tersebutlah yang menjadi perhatian kita pertama-tama.
Dengan

penggabungan

bersama

gejala

klinis

dan

hasil

pemeriksaan

laboratorium sederhana, maka usaha diagnosis selanjutnya akan lebih terarah.

2.8.4 Pendekatan Klinis


Dalam pendekatan klinis yang menjadi perhatian adalah kecepatan
timbulnya penyakit (awitan anemia), berat ringannya derajat anemia, dan gejala
yang menonjol.
2.8.5 Pendekatan Berdasarkan Awitan Penyakit
Berdasarkan awitan penyakit, kita dapat menduga jenis anemia tersebut.
Anemia yang timbul cepat

(dalam beberapa hari sampai minggu) biasanya

disebabkan oleh 1) Perdarahan akut, 2). Anemia hemolitik yang didapat seperti
halnya pada AIHA terjadi penuruna Hb > 1g/dl per minggu. Anemia hemolitik
intravaskular juga sering terjadi dengan cepat, seperti misalnya akibat salah
transfusi atau episode hemolisis pada anemia akibat defisiensi G6PD, 3) Anemia
yang timbul akibat leukimia akut, 4). Krisis aplastik pada anemia hemolitik kronik.
Anemia yang timbul pelan-pelan biasanya disebabkan oleh 1). Anemia
defisiensi besi, 2). Anemia defisiensi folat atau vitamin B12, 3). Anemia akibat
penyakit kronik, 4). Anemia hemolitik yang bersifat kongenital.

13

2.8.6 Pendekatan Berdasarkan Beratnya Anemia


Derajat anemia dapat dipakai sebagai petunjuk ke arah etiologi. Anemia
berat biasanya disebabkan oleh 1). Anemia defisiensi besi, 2). Anemia aplastik,
3). Anemia pada leukemia akut, 4). Anemia hemolitik didapat atau kongenital
seperti misalnya pada thalassemia major, 5). Anemia pasca perdarahan akut, 6).
Anemia pada gagal ginjal kronis stadium terminal.
Jenis anemia yang lebih sering bersifat ringan sampai sedang, jarang
sampai derajat berat ialah 1). Anemia akibat penyakit kronik, 2). Anemia pada
penyakit sistemik, 3). Thalassemia trait. Jika pada ketiga anemia tersebut
dijumpai anemia berat, maka harus dipikirkan diagnosis lain atau adanya
penyebab lain yang dapat memperberat derajat anemia tersebut.
2.8.7 Pendekatan Berdasarkan Sifat Gejala Anemia
Sifat-sifat gejala anemia dapat diapaki untuk membantu diagnosis. Gejala
anemia lebih menonjol dibandingka gejala penyakit dasar dijumpai pada anemia
defisiensi besi, anemia aplastik, anemia hemolitik. Sedangkan pada anemia
akibat penyakit kronik dan anemia sekunder lainnya (anemia akibat penyakit
sistemik, penyakit hati atau ginjal) gejala-gejala penyakit dasar sering lebih
menonjol.
2.8.8 Pendekatan Diagnostik Berdasarkan Tuntunan Hasil Laboratorium
Pendekatan diagnosis dengan cara gabungan hasil penilaian klinis dan
laboratorik merupakan cara yang ideal tetapi memerlukan fasilitas dan
keterampilan klinis yang cukup. Di bawah ini akan dipaparkan algoritma
pendekatan diagnostik anemia berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.
Gambar 1. Algoritme pendekatan diagnosis anemia
Anemia
Hapusan darah tepi dan indeks eritrosit (MCV,MCH,MCHC)

Anemia hipokrom mikrositer


Anemia normokrom normositer
Anemia makrositer

14

Gambar 2. Algoritme pendekatan diagnosis pasien dengan anemia


hipokrom mikrositer
Anemia hipokrom mikrositer

Besi serum

Menurun

TIBC
Ferritin

Normal

TIBC
Ferritin N/

Ferritin N

Besi sumsum tulang


Besi sumsum
(-)
tulangElektroforesis
(+)
Ring sideroblas
Hb
dalam sumsum tulang

HbA2
akibat penyakit kronik
Anemia defisiensiAnemia
besi berat
HbF

Anemia sideroblastik

Thalassemia beta

15

Anemia normokrom normositer

Retikulosit
Normal/Menurun

Meningkat

Sumsum tulang

Riwayat perdarahan
Tanda
akuthemolisis positif
Hipoplastik

Displastik

Anemia aplastik Anemia pada sindrom mielodipla


Anemia pasca perdarahan akut
Gambar 3. Algoritme pendekatan diagnosis anemia normokrom
Test Coomb
normositer
Positif

Negatif

Infiltrasi

AIHA

Normal

Tumor ganas hematologi


(leukemia, mieloma)

Riwayat keluarga positif

Enzimopati
Membranopati
Hemoglobinopati

Anemia pada leukemia akut/mieloma

Anemia mikroangiopati
Obat/Parasit

Limfoma kanker

Anemia mielopsitik

Faal hati
Faal ginjal
Faal tiroid
Penyakit kronik

Anemia pada gagal ginjal kronik, penyakit hati kronik, h

16

Anemia makrositer
Retikulosit

Normal/Menurun

Meningkat

Sumsum tulang
Anemia defisiensi besi, asam folat

Megaloblastik
Non megaloblastik
Gambar 4. Algoritme pendekatan diagnostik anemia makrositer
B12 serum rendah

Anemia defisiensi besi

Asam folat serum rendah

Anemia defisiensi asam folat

Faal tiroid
Faal hati
Anemia pada hipotiroidisme

Displastik

Anemia pada penyakit hati kronik

17
Sindrom mielodisplastik

BAB III
KESIMPULAN

Sekitar 24,8% penduduk di seluruh dunia menderita anemia yang


merupakan masalah yang dijumpai pada negara kaya, berkembang, dan miskin.
Anemia berdampak besar terhadap kesejahteraan sosial dan ekonomi, serta
kesehatan fisik. Oleh karena frekuensinya yang sedemikian sering, anemia
terutama yang ringan seringkali tidak mendapat perhatian dan dilewati oleh para
dokter di praktik klinik.
Untuk kepentingan klinis dipakai kriteria Hb < 10 g/dl atau hematokrit
30%. Anemia dapat diklasifikasikan menurut etiopatogenesis maupun etiologi
dan morfologi. Di mana gabungan keua klasifikasi ini dapat sangat bermanfaat
untuk

kepentingan

diagnosis.

Dalam

pemeriksaan

anemia

diperlukan

pemeriksaan klinis an pemeriksaan laboratorium yang terdiri dari pemeriksaan


penyaring, pemeriksaan seri anemia, pemeriksaan sumsum tulang, dan
pemeriksaan khusus. Pendekatan diagnosis anemia dapat dilakukan secara

18

klinis, tetapi yang lebih baik adalah dengan menggabungkan pemeriksaan klinis
dan pemeriksaan laboratorium.

DAFTAR PUSTAKA

1. Bakta IM. 2006. Pendekatan Terhadap Pasien Anemia Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta : Departemen Ilmu Penyakit Dalam
FKUI.
2. Bakta IM, Suega K, Dharmayuda TG. 2006. Anemia Defisiensi Besi
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta : Departemen Ilmu
Penyakit Dalam FKUI.
3. Benoist dB, McLean E, Egli I, Cogswell M. 2008. Worldwide
Prevalence of Anaemia 19932005
4. Widjanarko A, Sudoyo AW, Salonder H. 2006. Anemia Aplastik Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta : Departemen Ilmu Penyakit
Dalam FKUI.
5. Marks PW, Glader B. Approach to anemia in the adult and child. In:
Hoffman R, Benz EJ, Shattil SS, et al, eds. Hematology: Basic
Principles and Practice . 5th ed. Philadelphia, Pa: Elsevier Churchill
Livingstone; 2008:chap 34.

19

6. Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman


untuk perencanaan dan pendokumentasian pasien. ed.3. EGC :
Jakarta
7. Noer, Sjaifoellah. 1998. Standar Perawatan Pasien. Monica Ester :
Jakarta.
8. Laboratorium Patologi Klinik FK Unibraw Malang. 2007: Malang.

20