Anda di halaman 1dari 8

109

ISSN 2085-3548

Media SainS, Volume 4 Nomor 2, Oktober 2012

NILAI ENERGI METABOLIS DAN RETENSI NITROGEN MAGGOT


YANG BERASAL DARI BERBAGAI JENIS MANUR PADA BURUNG PUYUH
(Value of Metabolizable Energy and Nitrogen Retention of Maggot from Various
Type Manure in Quail)
Aam Gunawan, Neni Widaningsih, Muh. Syarif Djaya
Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Kalimantan Banjarmasin
Jl. Adhyaksa No. 2 Kayu Tangi Banjarmasin Telp. (0511) 3303880

ABSTRACT
Maggot meal black soldier fly (Hermetia illucens) contains a fairly high crude protein of
about 43.2% (Newton et al., 2009), nutrient composition contained in the BSF maggot meal
depends on the manure type used as feed. Quality protein and metabolizable energy content of
maggot meal has not been known, but important for poultry feed formulation. Therefore, this study
aims to determine the value of metabolizable energy and nitrogen retention maggot meal from
different sources that were attempted in the quail. Research using completely randomized design
with four treatments and six replications. The treatments tested consisted of P1: maggot fed quail
manure, P2: maggot fed ducks manure, P3: maggot fed broiler Manure, and P4: maggot fed Manure
laying hens. The results showed that treatment of origin / source of maggot meal from various of
manure types were not significant effect on the value of metabolizable energy and nitrogen
retention. Value of metabolizable energy (AMEn) BSF maggot meal range 3028-3373 kcal / kg and
nitrogen retention ranged from 63.96 to 75.84%.
Key words: Metabolizable energy, nitrogen retention, black soldier fly maggot meal
PENDAHULUAN
Keberhasilan usaha peternakan selain
ditopang oleh penguasaan manajemen
beternak dan pengadaan bibit yang baik, juga
harus diimbangi dengan penyediaan ransum
yang berkualitas dengan harga yang relatif
murah. Sedemikian pentingnya peranan
ransum pada usaha peternakan unggas
sehingga peran biaya tersebut mencapai 7080 % dari total biaya produksi. Untuk
mengurangi biaya pakan perlu dicari pakan
alternatif yang bisa dihasilkan dari limbah
industri peternakan.
Kotoran unggas (manure) merupakan
waste product dari industri peternakan, yang
saat ini pemanfaatannya banyak digunakan
sebagai pupuk tanaman melalui proses

composting,
padahal
kotoran
unggas
mempunyai nilai nutrisi yang baik untuk
dijadikan pakan maggot. Menurut North dan
Bell (1990) kotoran unggas mengandung
protein kasar 33,5%, serat kasar 10%, dan abu
26%.
Potensi manure yang berasal dari
unggas khususnya ayam ras petelur cukup
besar. Berdasarkan data populasi ternak di
Indonesia jumlah ayam ras petelur tahun 2007
mencapai
111.488.878
ekor
(Dirjen
Peternakan, 2008). Bila seekor ayam
menghasilkan manure 113 g/hari (North dan
Bell, 1990) maka diperkirakan dari total
populasi tersebut produksi manure segar
sebanyak 12.598 ton per hari, suatu jumlah
produksi manure yang cukup besar dan ini

Media SainS, Volume 4 Nomor 2, Oktober 2012

belum termasuk yang berasal dari ayam ras


pedaging, ayam kampung, burung puyuh, dan
itik.
Keberadaan manure di dalam industri
peternakan dapat menimbulkan masalah,
disamping menyebabkan pencemaran udara
akibat terlepasnya gas ammonium, hidrogen
sulfida, metan dan gas-gas lainnya, juga dapat
mengundang kehadiran lalat yang dapat
mengganggu kesehatan ternak. Sheppard et al
(1994) mencoba mengatasi masalah ini
dengan mengintroduksikan telur black soldier
fly (BSF) dibawah kandang cage tepat pada
lokasi jatuhnya manur. Cara ini cukup efektif
karena dapat mengurangi akumulasi manur
sampai
50%
dan
mengeliminasi
perkembangan lalat rumah.
Cara baru untuk mendapatkan sumber
bahan pakan yang berkualitas adalah melalui
proses biokonversi dengan memanfaatkan
kotoran ayam (manure) sebagai media
tumbuh maggot. Manure dapat dijadikan
media yang baik untuk pertumbuhan maggot,
baik maggot lalat rumah (Musca domestica),
lalat hijau (Lucilia sericata) atau maggot
black soldier fly (BSF) karena di dalam
manure terdapat substrat kaya nutrien yang
sangat istimewa untuk perkembangan
maggot. Begitu telur lalat menetas, maggot
segera makan nutrien yang terdapat di dalam
manure sehingga terjadi prosess biokonversi
manure menjadi biomassa maggot.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan
bahwa maggot layak digunakan sebagai
alternatif sumber pakan untuk unggas
(Despines dan Axtell, 1995). Zuidhof, et. al.
(2003) menyatakan bahwa larva lalat rumah
yang ditumbuhkan di media dedak gandum
mengandung apparent metabolizable energy
(AME) 17,9 MJ/kg dan protein kasar 593
g/kg (dry matter), dengan kandungan asam
amino yang lebih tinggi dari tepung kedelai
kecuali asam amino arginin sedikit lebih
rendah.
Rintangan penggunaan maggot BSF
sebagai bahan pakan unggas adalah belum
diketahuinya kandungan energi terutama
energi metabolis yang berguna untuk

110
ISSN 2085-3548

penyusunan ransum unggas, dan bagaimana


kualitas proteinnya yang ditunjukkan dengan
nilai retensi nitrogen. Oleh karena itu
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
sampai seberapa besar kandungan energi
metabolis tepung maggot yang berasal dari
berbagai media berupa jenis manur/kotoran
unggas dan bagaimana nilai retensi
nitrogennya.
METODE PENELITIAN
Bahan Penelitian
1. Bungkil inti sawit
Bungkil inti sawit digunakan untuk
menarik lalat supaya bertelur pada daun
pisang kering yang diletakan diatas media
campuran 1 bagian bungkil inti sawit dengan
2 bagian air.
2. Telur Lalat H. illucens
Telur lalat H. illucens diperoleh dengan
cara mengembangbiakkan lalat jantan dan
betina dalam suatu kandang tertutup. Telurtelur yang dihasilkan selanjutnya dimasukkan
dalam petri dish dan disimpan dalam lemari
es agar dapat menetas dalam waktu yang
bersamaan.
3. Manur Segar (fresh manure)
Manur yang digunakan terdiri dari
manur ayam petelur, manur ayam broiler
litter, manur itik dan manur puyuh. Manur
ayam petelur diperoleh dari peternakan rakyat
yang berlokasi di Kecamatan Arjasari
Kabupaten Bandung dan manur ayam broiler
diperoleh dari tempat pemotongan ayam yang
berlokasi di Jl. Kebon Gedang Kodya
Bandung, dan manur puyuh diperoleh dari
perusahaan
peternakan
milik
Bapak
Oyong/Roni yang berlokasi di Kabupaten
Kuningan. Komposisi nutrien manur dapat
dilihat pada Tabel 1.
4. Ternak Percobaan
Penelitian ini menggunakan puyuh
jantan umur 10 minggu sebanyak 24 ekor
dengan berat relatif seragam. Puyuh tersebut
dibagi secara acak ke dalam 24 unit kandang
cages. Masing-masing kandang diisi dengan
satu ekor burung puyuh.

111
ISSN 2085-3548

Media SainS, Volume 4 Nomor 2, Oktober 2012

Tabel 1.

Komposisi nutrien manur yang digunakan dalam penelitian (Hasil Analisis


Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas
Padjadjaran (2011)
Nutrien

Air (%)
Abu (%)
Protein kasar (%)
Serat kasar (%)
Lemak kasar (%)
Bahan ekstrak tanpa
nitrogen (%)
Kalsium (%)
Fosfor (%)
Energi bruto (Kkal/kg)

Manur
Puyuh
49,20
34,34
23,10
19,95
3,11
19,41

Itik
76,54
24,66
16,51
15,49
1,72
41,62

Broiler
84,81
27,51
31,57
28,36
2,51
26,45

Ayam petelur
60,08
8,18
34,65
12,36
3,92
40,89

5,35
3,91
2794

4,52
1,73
2428

2,75
1,09
3286

0,94
0,52
3194

Kandang dan Perlengkapan


Kandang yang digunakan dalam
penelitian adalah kandang individu dengan
ukuran 45 x 45 x 25 cm. Alas kandang terbuat
dari kawat ram ukuran 1 cm untuk
memudahkan penampungan ekskreta puyuh,
dan di bagian bawah kawat ram disediakan
baki penampung ekskreta. Tempat air minum
ukuran satu liter diisi separuhnya dan
diletakan di dalam kandang.

maggot dengan air hingga berbentuk


pasta.
9. Timbangan digital merek sigma kapasitas
100 g dengan tingkat ketelitian 0,01 g,
digunakan untuk menimbang tepung
maggot.
10. Blender, digunakan untuk menghaluskan
maggot hingga berbentuk tepung
11. Peralatan untuk analisis kandungan
protein dan energi bruto.

Alat
1. Unit biokonversi, dengan diameter 50 cm
dan tinggi 30 cm sebanyak 20 buah yang
dibuat dari campuran pasir dan semen
dan digunakan untuk biokonversi manur.
2. Stoples plastik, digunakan untuk
menampung maggot yang keluar dari
unit biokonversi.
3. Timbangan digital merek oxone kapasitas
5 kg dengan ketelitian 1 g, digunakan
untuk menimbang maggot.
4. Oven, digunakan sebagai alat pengering
maggot.
5. Lemari es, digunakan untuk menyimpan
telur lalat H. illucens sebelum ditetaskan.
6. Petri dish, digunakan untuk menyimpan
telur lalat.
7. Spuit berukuran 1 ml, digunakan sebagai
alat untuk melakukan force feeding.
8. Mangkuk plastik, digunakan sebagai
tempat untuk mencampurkan tepung

Rancangan Percobaan dan Analisis


Statistik
Penelitian
dilakukan
secara
eksperimental di Laboratorium Ternak
Unggas. Rancangan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah rancangan acak lengkap
(RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dan
enam ulangan, secara terperinci keempat
perlakuan tersebut adalah:
P1 : Maggot yang diberi pakan manur puyuh
P2 : Maggot yang diberi pakan manur itik
P3 : Maggot yang diberi pakan manur broiler
P4 : Maggot yang diberi pakan manur ayam
petelur
Jika berdasarkan hasil analisis ragam
terdapat pengaruh yang signifikan, maka
pengujian dilanjutkan dengan menggunakan
uji wilayah berganda Duncan (Steel and
Torrie,1982).

Media SainS, Volume 4 Nomor 2, Oktober 2012

Prosedur Penelitian
(1) Produksi Telur
Pupa H. illucens dimasukan dalam
kandang lalat. Pada lantai kandang disediakan
media bungkil inti sawit yang telah dicampur
dengan air. Perbandingan bungkil inti sawit
dengan air adalah 1:2. Lalat dewasa akan
keluar dari pupa dalam tempo 2 minggu.
Selanjutnya lalat-lalat ini akan melakukan
proses perkawinan dan menghasilkan telur.
Telur lalat H. illucens yang diperoleh
dikumpulkan dan disimpan dalam lemari es.
(2) Penetasan Telur Lalat
Telur lalat H. illucens dikeluarkan dari
lemari es dan disimpan dalam suhu kamar
sebelum dimasukkan ke dalam unit
biokonversi.
(3) Pelaksanaan Biokonversi
Unit
biokonversi
(Lampiran
2)
sebanyak 24 buah masing-masing diisi
dengan 2 kg manur sesuai perlakuan dan
ulangan penelitian (4x6). Semua manur
tersebut dalam kondisi segar (umur 1-3 hari).
Telur sebanyak 0,15 g dimasukkan ke dalam
tiap unit biokonversi. Setelah empat hari
dilakukan pengamatan untuk memastikan
bahwa telur-telur tersebut telah menetas. Pada
hari ke 4, 8, dan 12 setelah menetas
ditambahkan 2 kg manur sehingga total
manur yang digunakan sebanyak 8 kg untuk
setiap unit biokonversi. Maggot prepupa yang
sudah berumur 2 minggu atau lebih akan
bergerak ke atas dan jatuh dalam lubang yang
terdapat dalam unit biokonversi dan
ditampung dengan menggunakan stoples
plastik.
(4) Pemanenan Maggot
Maggot yang sudah tertampung dalam
stoples plastik, selanjutnya ditimbang dan
dimasukkan ke dalam oven dengan
menggunakan suhu 50 0C agar tidak terjadi
denaturasi atau kerusakan protein. Maggot
yang masih berada di dalam manur dicuci,
kemudian dijemur untuk memudahkan
pemisahan maggot dari ampas manur.
(5) Analisis Kandungan Nutrien

112
ISSN 2085-3548

Maggot yang telah dioven selanjutnya


dibuat tepung dengan cara diblender. Sampel
maggot dianalisis kandungan nitrogen dan
energi brutonya.
(6) Pengukuran Energi Metabolis dan Retensi
Nitrogen
Pengukuran energi metabolis mengacu
pada prosedur yang dilakukan oleh Sibbald,
1976a dan Sibbald,
1976b. Puyuh
dikandangkan pada kandang sangkar tunggal
(individual cage) diberi air minum dengan
cukup dan dipuasakan selama 24 jam. Tepung
maggot sebanyak 10 g dicampur dengan air +
5 ml atau sampai berbentuk pasta.
Dimasukkan ke dalam spuit berukuran 1 ml,
selanjutnya secara paksa (force feeding)
dimasukkan
lewat
esophagus.
Puyuh
dikembalikan pada kandangnya dan baki
penampung ekskreta dipasang. Ekskreta yang
tertampung disemprot dengan asam borat 5%
setiap 3 jam untuk menghindari penguapan
nitrogen. Penampungan ekskreta dilakukan
selama 24 jam. Ekskreta yang berhasil
ditampung dibersihkan dari bulu dan kotoran
lainnya, kemudian ditimbang dan selanjutnya
dikeringkan. Ekskreta yang sudah kering
dihaluskan untuk dianalisis kandungan
nitrogen dan energi brutonya.
Pengukuran Variabel Respon
1. Konsumsi maggot (kg), konsumsi
maggot dianggap sama untuk setiap ekor
puyuh yaitu 10 g, karena dilakukan
secara force feeding.
2. Energi bruto maggot (kkal/kg), diperoleh
dari
hasil
analisis
laboratorium
menggunakan alat bomb-calorimeter.
3. Kandungan nitrogen maggot (%),
diperoleh dari hasil analisis laboratorium
menggunakan metode kjeldahl.
4. Jumlah ekskreta (kg), jumlah ekskreta
dihitung berdasarkan bahan kering (dry
matter)
5. Energi metabolis (kkal/kg), dihitung
berdasarkan
persamaan
yang
dikemukakan oleh Zarei (2006) yaitu:

113
ISSN 2085-3548

Media SainS, Volume 4 Nomor 2, Oktober 2012

Keterangan:
AMEn
: Energi metabolis semu yang
dikoreksi dengan retensi
nitrogen (kkal/g)
Fi
: Banyaknya pakan yang
dikonsumsi (g)
E
: Jumlah ekskreta (g)
GEf
: Energi bruto pakan (kkal/g)
GEe
: Energi bruto ekskreta (kkal/g)
NR
: Retensi nitrogen (g) NR = (Fi x
Nf) (E x Ne)
( )

)
(

: Konstanta koreksi untuk nilai


energi nitrogen yang diretensi
(8,73 kkal/g untuk setiap gram
nitrogen)

6.

Retensi nitrogen (%),berdasarkan pada


rumus yang dikemukakan oleh Zarei
(2006), maka persentase nitrogen yang
diretensi
dapat
dihitung
dengan
menggunakan rumus:

)
)

Keterangan:
NR : Retensi nitrogen (%)
Nf : Nitrogen pakan (%)
Ne : Nitrogen ekskreta (%)
Fi
: Pakan yang dikonsumsi (g)
E
: Jumlah ekskreta (g)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Energi Metabolis
Nilai energi metabolis dalam penelitian
ini merupakan nilai energi metabolis semu
yang dikoreksi dengan nilai retensi nitrogen
yang
dilambangkan
dengan
AMEn.
Perhitungan kandungan energi metabolis
dalam penelitian ini berdasarkan kandungan
bahan kering (BK) 100%, sehingga tidak

dapat langsung digunakan untuk penyusunan


ransum ternak unggas yang umumnya
berdasarkan asfed. Dengan demikian perlu
dikonversi dulu dari bahan kering ke asfed
sebelum digunakan untuk penyusunan ransum
unggas.
Rata-rata kandungan energi
metabolis dan retensinitrogentepung maggot
yang diperoleh dari berbagai jenis manur
disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Rata-rata kandungan energi metabolis (kkal/kg) dan Retensi Nitrogen (%) tepung maggot
berdasarkan jenis manur yang digunakan sebagai pakan
Jenis manur
Puyuh
Itik
Broiler
Ayam petelur

Energi metabolis
(kkal/kg)
3.121
3.373
3.250
3.028

Rata-rata kandungan energi metabolis


tertinggi diperoleh pada perlakuan manur itik

Retensi nitrogen
(%)
75,84
63,96
74,48
70,63
yaitu sebesar 3.373 kkal/kg, kemudian diikuti
oleh perlakuan manur broiler (3.250 kkal/kg)

Media SainS, Volume 4 Nomor 2, Oktober 2012

lalu manur puyuh (3.121 kkal/kg)


dan
terendah pada perlakuan manur ayam petelur
sebesar 3.028 kkal/kg. Bila dilihat dari
kandungan energi brutonya manur itik
mempunyai kadar energi bruto sebesar 4.879
kkal/kg, manur broiler sebesar 4.960 kkal/kg,
manur puyuh sebesar 4.622 kkal/kg dan
manur ayam petelur sebesar 4.451 kkal/kg.
Nilai konversi dari energi bruto ke energi
metabolis berturut-turut untuk manur itik,
broiler, petelur dan puyuh adalah sebesar
69,13%, 65,52%, 68,03% dan 67,52% .
Kandungan energi metabolis yang tinggi pada
perlakuan manur itik disebabkan kadar lemak
yang lebih tinggi pada manur itik. Adeniji
(2007) menyatakan peningkatan kandungan
energi
metabolis
dengan
semakin
meningkatnya level maggot dalam ransum,
mungkin
disebabkan
oleh
tingginya
kandungan lemak dalam maggot. Lemak
banyak mengandung energi, bila lemak
Rata-rata angka retensi nitrogen
tertinggi diperoleh pada perlakuan manur
puyuh yaitu sebesar 75,84%, kemudian
diikuti oleh perlakuan manur broiler (74,48%)
lalu manur petelur (70,63%) dan terendah
pada perlakuan manur itik yaitu sebesar
63,96%. Tingginya nilai retensi nitrogen pada
manur puyuh disebabkan manggot yang
berasal dari manur puyuh mengandung
protein kasar yang lebih tinggi (46,15%) dari
tepung maggot yang berasal dari jenis manur
unggas lainnya. Hal ini sejalan dengan
penelitian de Coca-Sinova, et al. (2010) pada
kedelai yang berkadar protein rendah dan
tinggi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa
retensi nutrien termasuk retensi nitrogen
umumnya lebih tinggi pada kedelai berprotein
tinggi daripada tepung kedelai berprotein
rendah. Namun demikian hasil analisis ragam
terhadap retensi nitrogen menunjukkan bahwa
jenis manur berpengaruh tidak nyata terhadap
retensi nitrogen yang dihasilkan.
Nilai retensi nitrogen yang diperoleh
dalam penelitian ini tergolong tinggi, hal ini
menunjukkan bahwa tepung maggot yang
diberi pakan berbagai jenis manur memiliki
kualitas protein yang baik artinya dapat icerna

114
ISSN 2085-3548

tersebut
dioksidasi
maka
banyak
mengeluarkan energi.
Hasil analisis ragam terhadap data
kandungan energi metabolis menunjukkan
bahwa perlakuan jenis manur berpengaruh
tidak nyata terhadap kandungan energi
metabolis dari tepung maggot yang
dihasilkan. Hal ini membuktikan bahwa
kualitas tepung manggot yang dihasilkan dari
berbagai jenis manur relatif sama, dapat
dicerna dengan baik oleh burung puyuh.
Kandungan energi metabolis yang
diperoleh dari hasil penelitian ini berkisar
3.028 - 3.373 kkal/kg bahan kering hampir
mendekati kandungan energi metabolis
tepung ikan menhaden 2.820 kkal/kg (dasar
asfed 92% bahan kering) (NRC, 1994) atau
bila dihitung ke dasar bahan kering menjadi
3.065 kkal/kg.
Retensi Nitrogen
Nilai retensi nitrogen yang rendah
menunjukkan kualitas protein dari bahan
pakan tersebut rendah, dalam penelitiannya
(Awoniyi et al. 2003) menyatakan bahwa
makin tinggi level penggantian tepung ikan
oleh tepung maggot menyebabkan nilai
retensi nitrogen yang makin rendah, hal ini
menunjukkan kualitas protein dari tepung
maggot lebih rendah dari protein tepung ikan.
Berbeda dengan hasil penelitian Adeniji
(2007) bahwa dengan semakin meningkatnya
level maggot dalam ransum, nilai retensi
protein ransum tidak berbeda nyata berkisar
dari 64,17-72,22%.
Penggunaan tepung maggot pada ayam
broiler umur 9 minggu ternyata menurunkan
nilai retensi nitrogen. Nilai retensi nitrogen
menurun seiring dengan meningkatnya level
penggantian tepung ikan oleh tepung maggot
Awoniyi et al. (2003).
Perbedaan kandungan protein maggot
dapat disebabkan oleh perbedaan dalam
prosedur analisis dan perbedaan media yang
digunakan
untuk
produksi
maggot.
Selanjutnya Adeniji (2007) menjelaskan
bahwa protein yang diretensi berkaitan

115
ISSN 2085-3548

Media SainS, Volume 4 Nomor 2, Oktober 2012

dengan jumlah lemak tidak jenuh dalam


KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Jenis manur yang digunakan sebagai
pakan maggot memberikan efek tidak nyata
terhadap kandungan energi metabolis maggot
dan banyaknya nitrogen yang diretensi.
Kandungan energi metabolis maggot berkisar
3028-3373 kkal/kg dan retensi nitrogen
63,96-75,84%.
Tepung
maggot
yang
dihasilkan dari berbagai jenis manur unggas
memiliki kualitas protein yang baik.
Saran
Manur puyuh, itik, broiler dan ayam
petelur dapat dijadikan pakan untuk
perkembangan maggot BSF, selanjutnya
tepung maggot BSF yang dihasilkan dari
berbagai jenis kotoran tersebut dapat
dijadikan bahan pakan sumber protein untuk
penyusunan ransum unggas. Perlu penelitian
lebih lanjut untuk mengetahui komposisi
asam amino tepung maggot, sekaligus diamati
kuantitas dan kualitas asam aminonya.
DAFTAR PUSTAKA
Awoniyi, T.A.M., V.A. Aletor and J.M. Aina.
2003. Performance of BroilerChickens Feed on Maggot Meal in
Place of Fish Meal. International
Journal of Poultry Science 2(4):271274.
Adeniji, A.A. 2007. Effect of Replacing
Groundnut Cake with Maggot Meal
in the Diet of Broilers. International
Journal
of
Poultry
Science
6(11):822-825.
de Coca-Sinova, A., E. Jimenez-Moreno, J.
M. Gonzalez-Alvarado, M. Frikha , R.
Lazaro, and G. G. Mateos. 2010.
Influence of source of soybean meal
and lysine content of the diet on
performance and total tract apparent
retention of nutrients in broilers from 1

ransum.
to 36 days of age. Poultry Science
89:14401450.
Despines, J.L. and Axtell, R.C. 1995. Feeding
Behavior and Growth of Broiler Chicks
Fed Larvae of Darkling Beetle
Alphitobius diaperinus. Poult. Sci.
74:331-336.
Direktorat Jenderal Peternakan. 2008.
Populasi Ayam Ras Petelur Tahun
2004-2008 (per Propinsi). Melalui
http://www.ditjennak.go.id/bank%5C
Tabel_4_10.pdf. [01/05/09]
North, M.O. and D.D. Bell. 1990.
Commercial
Chicken
Production
Manual. New York:Van Nostrand
Reinhold.
NRC.

1994. Nutrient Requirements of


Poultry. Ninth Revised Edition.
Washington,D.C:National
Academy
Press.

Sheppard, D.C., G.L. Newton, S.A.


Thompson and S. Savage. 1994. A
Value Added Manure Management
System Using The Black Soldier Fly.
Bioresource Technology 50:275-279.
Sheppard, DC., J.K. Tomberlin, J.A. Joyce,
B.C. Kiser, A.M. Sumner. 2002.
Rearing methods for the black soldier
fly (Diptera: Stratiomyidae). Journal
Medical Entomology 39(4): 695698.
Steel, R.G.D. and J.H. Torrie. 1982. Prinsip
dan
Prosedur
Statistika:
Suatu
Pendekatan Biometrik. Edisi Kedua.
Terjemahan
Bambang
Sumantri.
Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.
Zarei,

A. 2006. Apparent and True


Metabolizable Energy in Artemia Meal.
International Journal of Poultry
Science 5(7)627-628.

Media SainS, Volume 4 Nomor 2, Oktober 2012

Zuidhof, M.J., C.L. Molnar, F.M. Morley,


T.L. Wray, F.E. Robinson, B.A. Khan,
L. Al-Ani, and L.A. Goonewardene.
2003. Nutritive Value of House Fly

116
ISSN 2085-3548

(Mucca domestica) Larvae as a Fed


Supplement for Turkey Poults. Anim.
Feed. Sci. Technol. 105:225-230.