Anda di halaman 1dari 4

D.

PEMBAHASAN
Pada tanggal 5 November 2014 merupakan praktikum Kimia Analitik II
bertema Titrasi Oksidasi-Reduksi (Reaksi Redoks) Metode Permanganometri,
didapatkan sampel nomor 40.
Hal yang pertama dilakukan adalah standardisasi KMnO4 menggunakan
asam oksalat. Asam oksalat yang digunakan sebesar 50 mg, sebenarnya ukuran
ini relatif bisa diubah, asalkan kita mengetahui beratnya dengan pasti. 50 mg
merupakan batas minimal penimbangan menggunakan timbangan analitik.
Titrasi dilakukan dengan titrat 50 mg asam oksalat dalam 50 ml aquadest
yang ditambahkan H2SO4 4 N, supaya keadaan menjadi asam dengan titran
KMnO4. Sebelum itu, larutan analit dipanaskan dahulu hingga suhu 60C. Titrasi
dilakukan sampai terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah muda
(pink). Bila sebelum mencapai titik akhir titrasi larutan menjadi dingin, titrasi
dihentikan sejenak untuk dilakukan pemanasan ulang hingga suhu 60C, setelah
itu titrasi dilanjutkan kembali.
Volume titran yang digunakan saat pembakuan KMnO4 adalah 7,8 ml; 7,6
ml; 7,5 ml. Data tersebut tidak langsung digunakan untuk menghitung kadar
KMnO4, tapi dilakukan uji Q terlebih dahulu untuk mengetahui data tersebut dapat
digunakan atau tidak. Setelah dilakukan uji Q dengan tingkat kepercayaan 90%,
ternyata ketiga data tersebut dapat digunakan dan didapatkan rata-rata sebesar
7,63 ml. Kemudian dilakukan menghitungan kadar KMnO4 dan didapatkan hasil
sebesar 0,1 N. Hasil ini sesuai dengan normalitas KMnO4 yang telah dipersiapkan
sebelumnya oleh piket.

Terakhir adalah penentuan kadar sampel (asam oksalat) dengan prosedur


yang sama dengan standardisasi KMnO4. Perbedaannya, sampel yang digunakan
sudah berbentuk larutan. Sampel yang didapat nomor 40, digunakan 10 ml dengan
menggunakan pipet volume, untuk meminimalisir kesalahan dalam pengukuran.
Setelah dilakukan titrasi, volume KMnO4 berkurang sebesar 7,8 ml; 7,9 ml; 7,9
ml. Data tersebut tidak langsung digunakan untuk menghitung kadar sampel, tapi
dilakukan uji Q terlebih dahulu untuk mengetahui data tersebut dapat digunakan
atau tidak. Setelah dilakukan uji Q dengan tingkat kepercayaan 90%, ternyata
ketiga data tersebut dapat digunakan dan didapatkan rata-rata sebesar 7,86 ml.
Kemudian dilakukan menghitungan kadar sampel dan didapatkan hasil sebesar
0,0786 N. Persentase kesalahan dalam praktikum sebesar 2,5 %.
Sesuai dengan namanya, yaitu permanganometri, titran yang digunakannya
adalah KMnO4. Akan tetapi, KMnO4 bukan merupakan larutan baku primer,
karena sifatnya yang tidak stabil. Oleh karena itu, KMnO 4 harus distandarisasi
atau dibakukan terlebih dahulu dengan menggunakan larutan baku primer, dalam
hal ini asam oksalat.
Pada titrasi permanganometri, tidak digunakan indikator tambahan, tapi
bukan berarti tidak menggunakan indikator. Selain titran, KMnO 4 bertindak pula
sebagai indikator. Dengan kata lain, KMnO4 menjadi indikator untuk reaksinya
sendiri (auto indikator). Hal ini karena bentuk teroksidasi dan tereduksi dari
kalium permanganat memiliki warna yang berbeda.
Titrasi permanganometri lebih baik dalam suasana asam, karena jika dalam
suasana basa, kalium permanganat tidak memiliki daya oksidasi, melainkan malah
mengendap menjadi Mn(OH)2 yang nantinya akan membentuk MnO2 yang

mengendap juga, sehingga sulit menentukan titik akhir titrasi. Supaya suasana
asam, maka ditambakan asam sulfat (H2SO4). Asam sulfat merupakan asam yang
paling cocok digunakan sebagai pelarutnya, karena jika digunakan asam klorida
(HCl), sebagian permanganat akan membentuk klorin sehingga akan mengganggu
dalam penentuan titik akhir titrasi.
Sebelum dilakukan titrasi, titrat atau sampel dipanaskan dahulu sampai
suhu

60C-70C.

Hal

ini

berfungsi

agar

KMnO4 dapat

mengoksidasi

H2C2O4 (asam oksalat) karena apabila suhu larutan dibawah 60C-70C maka
reaksi akan berjalan lambat dan akan mengubah MnO 4- menjadi MnO2 yang
berupa endapan cokelat sehingga titik akhir titrasi susah untuk dilihat. Sedangkan
apabila suhu larutan di atas 60C-70C maka akan merusak asam oksalat, dan
terurai menjadi CO2 dan H2O sehingga hasil akhir akan lebih kecil. Pemanasan
dalam praktikum adalah sampai 60C, merupakan minimal suhu yang diperlukan
untuk permanganometri.
Selain itu, KMnO4 mudah terurai membentuk MnO2 oleh cahaya, sehingga
buret yang digunakan adalah buret coklat, dan penyimpanannya dalam botol
coklat atau botol yang dilapisi penutup, seperti aluminium foil, sehingga menjadi
kedap cahaya.
Hasil yang didapatkan tidak sesuai keadaannya, sehingga persentase
kesalahan tidak 0 %. Kesalahan tersebut, terjadi karena beberapa faktor, seperti
kesalahan dalam takaran, pemanasan yang kurang dari 60C, ataupun karena
kesalahan menentukan titik akhir titrasi.

E. KESIMPULAN
Standarisai larutan KMnO4 dilakukan menggunakan larutan standar primer
asam oksalat tanpa penambahan indikator lain, tetapi KMnO4 yang bertindak
sebagai indikator (auto indikator). Didapatkan kadar KMnO4 sebesar 0,1 N.
Penentuan kadar asam oksalat dalam sampel nomor 40 didapatkan sebesar 0,0786
N dengan persentase kesalahan 2,5 %.

F. REFERENSI
Ganjar, Ibnu Gholib dan Abdul Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis.
Yogyakarta: Pustaka Belajar
Harjadi, W. 1993. Ilmu Kimia Analisis Dasar. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama
Keenan, Charles W. 1986. Ilmu Kimia Untuk Universitas. Jakarta: Erlangga
Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas
Indonesia Press
Petrucci, R.H. 1999. Kimia Dasar 3. Jakarta: Erlangga
R.A. Day, JR dan AL Underwood. 1992. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi
Keenam. Jakarta: Erlangga

Anda mungkin juga menyukai